• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PERSEPSI AUDITOR MENGENAI KONDISI PENGENDALIAN INTERN TERHADAP KEPUTUSAN MENGUMPULKAN BUKTI AUDIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH PERSEPSI AUDITOR MENGENAI KONDISI PENGENDALIAN INTERN TERHADAP KEPUTUSAN MENGUMPULKAN BUKTI AUDIT"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PERSEPSI AUDITOR MENGENAI KONDISI

PENGENDALIAN INTERN TERHADAP KEPUTUSAN MENGUMPULKAN BUKTI AUDIT

(Survey Pada 5 Kantor Akuntan Publik di Bandung)

SKRIPSI

Untuk memenuhi salah satu syarat penyusunan skripsi guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

Disusun Oleh :

Mochamad Rizal Ridwansyah 044020065

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PASUNDAN

BANDUNG 2009

(2)

ABSTRAK

Penelitian yang telah penulis lakukan ini berjudul ” Pengaruh Persepsi Auditor Mengenai Kondisi Pengendalian Intern Terhadap Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit ”. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi auditor mengenai kondisi pengendalian intern auditee dan mengambil keputusan dalam mengumpulkan bukti audit.

Untuk mengetahui kondisi pengendalian intern, seorang auditor akan melakukan uji pengendalian dan subtantif. Hubungan antara uji pengendalian dengan uji substantif bervariasi, tergantung pada penilaian resiko auditor terkait atas perusahaan. Makin kuat sistem pengendalian internnya, makin rendah resiko pengendaliannya dan makin sedikit uji substantif yang harus dilaksanakan auditor.

Dengan sedikitnya uji substantif maka makin sedikit bukti audit yang diperlukan untuk diperiksa, dan hal ini memiliki implikasi terhadap biaya audit karena uji substantif membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif asosiatif dengan pendekatan survey. Pengumpulan data dilakukan dalam bentuk penyebaran kuesioner kepada responden yang berada pada 5 KAP di bandung. Selain menggunakan sampel dalam bentuk penyebaran kuesioner, studi kepustakaan untuk memperoleh data. Sementara untuk mengolah dan menganalisis data digunakan analisis korelasi rank spearman dan koefisien determinasi.

Dalam penelitian ini penulis menyebarkan kuisioner kepada 20 Auditor yang berada di 5 KAP dibandung. Dari hasil kuisioner tersebut penulis menyimpulkan bahwa kondisi pengendalian intern termasuk kategori memadai, sedangkan keputusan mengumpulkan bukti audit oleh auditor termasuk juga kedalam kategori memadai.

Selanjutnya untuk mencari besarnya pengaruh persepsi auditor mengenai kondisi pengendalian intern terhadap keputusan mengumpulkan bukti audit , penulis menggunakan analisis korelasi rank spearman dan koefisien determinasi (KD). Dari hasil uji r hitung >r table yaitu 0.78>0.450. sedangkan dari perhitungan tersebut dilakukan perhitungan koefisien determinasi (KD) diperoleh 60.84%, hal ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh antara persepsi auditor mengenai kondisi pengendalian intern terhadap keputusan mengumpulkan bukti audit. sedangkan sisanya sebesar 39.16% dipengaruhi oleh faktor lain yang peneliti tidak teliti.

(3)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat serta karunia-Nya karena penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“PENGARUH PERSEPSI AUDITOR MENGENAI KONDISI PENGENDALIAN INTERN TERHADAP KEPUTUSAN MENGUMPULKAN BUKTI AUDIT” (Survey pada 5 KAP di kota Bandung), sebagai salah satu syarat untuk memenuhi ujian sidang Sarjana Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan.

Dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan yang disebabkan karena keterbatasan kemampuan penulis. Namun demikian penulis tetap berharap, mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya serta bagi pengembangan ilmu akuntansi pada umumnya.

Pada kesempatan ini, dengan mengucap syukur penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu dan Bapak tercinta yang telah memberikan doa dan ridhonya, dukungan secara moril maupun materil, kesabaran, ketulusan, serta perhatian dan curahan kasih sayangnya kepada penulis, semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan perlindungan yang terbaik bagi keduanya.

Rasa hormat dan terima kasih penulis sampaikan kepada Prof. Dr. H. Tb Hasanuddin, MSc., Ak. Publik. Selaku dosen pembimbing I dan Ibu Justin Castelani

(4)

SE., MSi., Ak. selaku dosen pembimbing II yang dengan kesabaran hati dan ketelitiannya memberikan petunjuk dan pengarahan yang sangat bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Pada kesempatan ini pula, penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. H. Didi Turmudzi, SE., MSc. Selaku Rektor Universitas Pasundan Bandung.

2. Dr. H.R. Abdul Maqin, SE., MP. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung.

3. Dr. Liza Laila Nurwulan, SE., MSi., Ak. Selaku Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Pasundan Bandung.

4. Bapak Dadan Soekardan, SE., MSi. Selaku Sekretaris Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung.

5. Bapak H. Sasa. S. Suratman, SE., MSc. Selaku dosen wali yang telah banyak memberikan kesempatan, nasehat, serta bantuannya selama perkuliahan.

6. Seluruh dosen dan staf Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan yang telah memberikan Ilmu Pengetahuan yang sangat berguna bagi penulis.

7. Seluruh pimpinan dan para auditor pada 5 KAP di kota Bandung yang senantiasa memberikan izin dan meluangkan waktunya untuk penulis.

8. Buat kakak dan adikku yang selalu memberikan doa dan motivasi untuk keberhasilanku.

(5)

9. Yemmi Mutia Farida SE, atas segala perhatian, kasih sayang, waktu, pengorbanan, yang telah diberikan kepada penulis.

10. Sahabat-sahabatku di kampus, Ade SE, Poniman Ismail SE, Dhimas SE, Asep SE, Iman SE, Ivan SE, Tina SE, Erni, Amel, Nunik, Anti, Dewi, dan semua teman-teman Ak-L angkatan 2004 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Terima kasih kalian pernah mengisi hari-hari selama kuliah.

11. Buat Eko SE, Bayu, Eva, Ivan SE, Deni, Rian, Toni, Terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya.

12. Teman-teman angkatan 2002-2005, terima kasih atas persahabatannya.

13. Serta semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, penulis mengucapkan terima kasih atas segala dukungan dan bantuannya selama ini. Semoga Allah SWT melimpahkan pahala dan balasannya yang berlipat ganda. Amin.

Penulis berharap semoga segala kebaikan tersebut mendapat balasan dari Allah SWT lebih dari apa yang telah diberikan. Dan penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandung, Agustus, 2009 Penulis,

Muh Rizal Ridwansyah

(6)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN MOTTO

ABSTRAK ………... i

KATA PENGANTAR ………. ii

DAFTAR ISI ………... vi

DAFTAR TABEL ……….. x

DAFTAR LAMPIRAN ……….. xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian ………1

1.2. Identifikasi Masalah ……….4

1.3.Maksud Dan Tujuan Penelitian ………. ...4

1.4.Kegunaan Penelitian ……….. ...5

1.1.1. Kegunaan Praktis ……….5

1.1.2. Kegunaan Teoritis ………...5

1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis ………...6

1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian ………. ...10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Auditing………11

2.2. Kondisi Pengendalian Intern.………..12

2.2.1. Pengendalian Intern yang Kuat ………..16

2.2.2. Pengendalian Intern yang Lemah……. ………..16

(7)

2.2.3 Prosedur Pengoperasian Pengendalian Intern………….17

2.3. Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit…….………18

2.3.1. Pengertian Bahan Bukti Audit ………...18

2.3.2. Jumlah Bukti Audit……….………...20

2.3.3. Jenis-jenis Bukti Audit ………..21

2.4. Pengaruh Kondisi Pengendalin Intern Terhadap Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit …………. …………...23

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian ……… 25

3.1.1. Populasi Penelitian ………. 25

3.1.2. Ukuran Sampel ………... 26

3.1.3. Teknik Sampling ………. 27

3.1.4. Prosedur Pemilihan Objek Penelitian ………. 27

3.2. Metode Penelitian ……….. 28

3.2.1. Pendekatan Penelitian ………. 28

3.2.2. Operasionalisasi Variabel Penelitian ……….. 29

3.2.3. Teknik Pengumpulan Data ………. 32

3.2.4. Model Penelitian ………. 32

3.2.5. Analisis Data dan Rancangan………. …… 33

3.2.5.1. Pengujian Validitas dan Reliabilitas ………….33

3.2.5.2. Analisis Data ……… 35

(8)

3.2.5.3. Rancangan Pengujian Hipotesis ……….39

3.2.6. Proses Penelitian ………. 43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian ……….. 44

4.1.1. Sejarah Singkat Kantor Akuntan Publik ………... 44

4.1.2. Struktur Organisasi dan Uraian Tugas pada 5 Kantor Akuntan Publik di kota Bandung……... 46

4.1.3. Gambaran Umum Responden ………... 54

4.1.4 Kondisi Pengendalian Intern ……… ………… 54

4.1.5 Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit……… 73

4.2. Pembahasan ……….. 82

4.2.1. Pengujian Validitas dan Reabilitas……… 82

4.2.1.1 Hasil Pengujian Terhadap Validitas Variabel X. 82 4.2.1.2.Hasil Pengujian Terhadap Validitas Variabel Y. 83 4.2.1.3 Hasil Pengujian Reabilitas………. 84

4.2.2. Analisis data……… ……….. 85

4.2.2.1 Analisis Kondisi Pengendalian Intern…………. 85

4.2.2.2 Analisis Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit 89 4.2.2.3.Analisis Pengaruh Kondisi Pengendalian Intern Terhadap Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit ………... 93

(9)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ……… 98 5.2. Saran ……….. 99

DAFTAR PUSTAKA……… 100 LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(10)

DAFTAR TABEL

No Judul Tabel Hal

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel (X)……….. 30

Tabel 3.2 Operasionalisasi Variabel (Y)……….. 31

Tabel 3.3 Tabel Pertanyaan atau Pernyataan………. 36

Tabel 4.1 Pemisahan Fungsi yang Memadai (KAP Mansur dan Rekan)…….. 55

Tabel 4.2 Otorisasi yang sesuai dari transaksi dan aktivitas ……… 56

Tabel 4.3 Dokumen dan catatan yang memadai……… 56

Tabel 4.4 Pengendalian fisik atas aset dan catatan……… 57

Tabel 4.5 Pemeriksaan independen atau verifikasi internal……….. 58

Tabel 4.6 Pemisahan Fungsi yang Memadai (KAP La Midjan dan Rekan)…..59

Tabel 4.7 Otorisasi yang sesuai dari transaksi dan aktivitas ……… 60

Tabel 4.8 Dokumen dan catatan yang memadai……… 60

Tabel 4.9 Pengendalian fisik atas aset dan catatan……… 61

Tabel 4.10 Pemeriksaan independen atau verifikasi internal……….. 61

Tabel 4.11 Pemisahan Fungsi yang Memadai (KAP Drs Gunawan)…………...62

Tabel 4.12 Otorisasi yang sesuai dari transaksi dan aktivitas………. 63

Tabel 4.13 Dokumen dan catatan yang memadai………... 63

Tabel 4.14 Pengendalian fisik atas aset dan catatan……… 64

Tabel 4.15 Pemeriksaan independen atau verifikasi internal………...65

Tabel 4.16 Pemisahan Fungsi yang Memadai (KAP Dra Yati Ruhiyati)………66

(11)

Tabel 4.17 Otorisasi yang sesuai dari transaksi dan aktivitas………. 66

Tabel 4.18 Dokumen dan catatan yang memadai……… 67

Tabel 4.19 Pengendalian fisik atas aset dan catatan……… 68

Tabel 4.20 Pemeriksaan independen atau verifikasi internal……….. 68

Tabel 4.21 Pemisahan Fungsi yang Memadai (KAP Sanusi)……… … 69

Tabel 4.22 Otorisasi yang sesuai dari transaksi dan aktivitas ……… 70

Tabel 4.23 Dokumen dan catatan yang memadai……… 70

Tabel 4.23 Pengendalian fisik atas aset dan catatan……… 71

Tabel 4.25 Pemeriksaan independen atau verifikasi internal………. 72

Tabel 4.26 Jumlah Bukti Audit (KAP Mansur dan Rekan)………. 73

Tabel 4.27 Jenis Bukti Audit……….. 74

Tabel 4.28 Jumlah Bukti Audit (KAP La Midzan dan Rekan)………75

Tabel 4.29 Jenis Bukti Audit……….. 76

Tabel 4.30 Jumlah Bukti Audit (KAP Drs Gunawan)……… 77

Tabel 4.31 Jenis Bukti Audit……… 78

Tabel 4.32 Jumlah Bukti Audit (KAP Dra Yati Ruhiyati)………...79

Tabel 4.33 Jenis Bukti Audit………79

Tabel 4.34 Jumlah Bukti Audit (KAP Sanusi)……… 80

Tabel 4.35 Jenis Bukti Audit……….. 81

Tabel 4.36 Hasil Akhir Uji Validitas Variabel X……….83

Tabel 4.37 Hasil Akhir Uji Validitas Variabel Y……….84

Tabel 4.38 Hasil Akhir Pengujian Reliabilitas……… 85

(12)

Tabel 4.39 Hasil Kuesioner Variabel X ………. …….85 Tabel 4.40 Hasil Kuesioner Variabel Y ………. …….89 Tabel 4.41 Pengolahan Data Untuk Korelasi Rank Spearman ………….. …….94

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Tugas Membimbing Skripsi Lampiran 2 Surat Permohonan Survey

Lampiran 3 Kuesioner Penelitian

Lampiran 4 Pengolahan Data Uji Validitas Instrumen Variabel X Lampiran 5 Pengolahan Data Uji Validitas Instrumen Variabel Y Lampiran 6 Uji Reliabilitas Variabel X

Lampiran 7 Uji Reliabilitas Variabel Y

Lampiran 8 Tabel Nilai Rho (Rank Spearman) Lampiran 9 Tabel nilai-nilai dalam distribusi t Lampiran 10 Daftar Riwayat Hidup

(14)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Profesi auditor di suatu negara akan berkembang seiring dengan berkembangnya pasar modal dari negara tersebut. Hal ini dikarenakan stakeholder dari pasar modal tersebut membutuhkan suatu informasi yang berguna untuk membantu pengambilan keputusannya. Informasi yang dibutuhkan stakeholder tersebut merupakan informasi yang bebas dari salah saji material, oleh karena itu dibutuhkan jasa atestasi untuk memberikan keyakinan memadai atau wajar (reasonable assurance) atas laporan keuangan tersebut.

Auditor independen harus bebas (independence) dan tidak memihak terhadap (asersi) informasi yang disajikan oleh manajemen perusahaan, baik itu independence in fact ataupun in appearance, karena manajemenlah yang bertanggungjawab atas laporan keuangan perusahaan dan auditor hanyalah menilai atas kewajaran dari laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen perusahaan yang bersangkutan.

Profesi auditor haruslah mendapat kepercayaan dari klien untuk menguji atas kewajaran laporan keuangan yang disajikan kliennya. Untuk dapat mempertahankan kepercayaan dari klien dan para pemakai laporan keuangan auditan, maka auditor selain memiliki independensi, auditor juga wajib memiliki keahlian dan pelatihan

(15)

teknis yang cukup, serta menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama dalam menilai kewajaran atas laporan keuangan.

Dalam pelaksanaan audit, terdapat standar pekerjaan lapangan yang harus dilaksanakan oleh auditor, salah satunya adalah menilai resiko audit dan tingkat materialitas. Dalam menentukan suatu resiko yang dapat diterima terdapat hal-hal yang harus diperhatikan, diantaranya adalah menilai internal control, resiko bawaan serta resiko deteksi. Dengan menentukan penetapan resiko yang dapat diterima maka auditor dapat mengukur detection risk. Dalam menilai suatu resiko dapat menggunakan beberapa teknik diantaranya uji pengendalian dan substantif.

Uji pengendalian dan ujian substantif adalah berbagai teknik audit yang digunakan untuk mengurangi resiko audit total. Hubungan antara uji pengendalian dengan uji substantif bervariasi, tergantung pada penilaian resiko auditor terkait atas perusahaan. Makin kuat sistem pengendalian internnya, makin rendah resiko pengendaliannya dan makin sedikit uji substantif yang harus dilaksanakan auditor.

Dengan sedikitnya uji substantif maka makin sedikit bukti audit yang diperlukan untuk diperiksa, dan hal ini memiliki implikasi terhadap biaya audit karena uji substantif membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu.

Dari uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa kecukupan bukti audit dalam suatu proses audit sangat tergantung kepada penilaian dan pertimbangan profesional auditor selain faktor resiko, materialitas, dan jumlah populasi bukti audit, auditor juga perlu mempertimbangkan biaya dan manfaat bukti audit yang diperoleh. Sedangkan

(16)

kompensasi bukti dipengaruhi oleh faktor-faktor relevansi, sumber bukti dan ketepatan waktu serta keandalan sistem pengendalian intern.

Internal control pada PT Prima Alloy Steel Universal Tbk telah dilaksanakan sehingga manajemen PT Prima Alloy Steel Universal Tbk melalui Komite Auditnya berkewajiban meninjau laporan keuangan dan sistem pengendalian Internal Control, yang bertanggung jawab dan diawasi secara langsung oleh Dewan Direksi PT Prima Alloy Steel Universal Tbk. Dalam annual report PT Prima Alloy Steel Universal Tbk dilampirkan Ikhtisar Keuangan atas laporan keuangan perseroan yang menjadi dasar bahwa laporan keuangan telah wajar dan menunjukkan kondisi keuangan perseroan yang sebenarnya ( Menurut Ide Bagus dalam www.indoskripsi.com pada bulan November 2008 ).

Pada kasus PT. Kimia Farma, perusahaan yang merupakan salah satu produsen obat-obatan terbesar di Indonesia ini menyajikan laporan keuangan yang telah di manipulasi oleh manajemen, dan tidak terdeteksi oleh akuntan publik. Tidak terdeteksinya kesalahan ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, antara lain pembatasan ruang lingkup pemeriksaan oleh klien, waktu pemeriksaan yang terbatas, serta kurangnya jumlah bukti yang dikumpulkan dan dievaluasi oleh auditor.

( www.Republika .co.id pada hari senin 8 juli 2002 )

Dari beberapa pernyataan diatas bahwa kondisi pengendalian intern berpengaruh pada bukti audit yang dikumpulkan. Kuat lemahnya pengendalian intern merupakan faktor yang menetukan jumlah bukti yang dikumpulkan oleh auditor.

(17)

Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengkaji hal tersebut dalam skripsi yang berjudul :

“ PENGARUH PERSEPSI AUDITOR MENGENAI KONDISI PENGENDALIAN INTERN TERHADAP KEPUTUSAN MENGUMPULKAN BUKTI AUDIT “

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan diatas, maka penulis mengidentifikasikan pokok masalah adalah :

1. Bagaimana persepsi auditor mengenai kondisi pengendalian intern auditee.

2. Bagaimana auditor mengambil keputusan mengumpulkan bukti audit.

3. Berapa besar pengaruh persepsi auditor mengenai kondisi pengendalian intern terhadap keputusan mengumpulkan bukti audit.

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1. Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data yang diperlukan guna mengetahui pengaruh persepsi auditor mengenai kondisi pengendalian intern terhadap keputusan mngumpulkan bukti audit.

1.3.2. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

(18)

1. Untuk mengetahui bagaimana persepsi auditor mengenai kondisi pengendalian intern auditee

2. Untuk mengetahui bagaimana auditor mengambil keputusan mengumpulkan bukti audit

3. Untuk mengetahui berapa besar pengaruh persepsi auditor mengenai kondisi pengendalian intern terhadap keputusan mengumpulkan bukti audit.

1.4. Kegunaan Penelitian

Dengan dilakukannya penelitian ini, maka penulis mengharapkan agar hasil dari penelitian ini dapat berguna bagi pihak-pihak sebagai berikut :

1.4.1. Kegunaan Praktis 1.4.1.1. Bagi Penulis

Menambah pengetahuan penulis tentang pengaruh persepsi auditor mengenai kondisi pengendalian intern terhadap keputusan dalam mengumpulkan bukti audit oleh auditor.

 Sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan dalam melaksanakan tugas audit yang diperoleh dalam perkuliahan dan membandingkannya dengan keadaan di lapangan.

 Sebagai salah satu syarat dalam menempuh ujian sidang sarjana Ekonomi pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung.

(19)

1.4.1.2. Bagi Kantor Akuntan Publik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan tentang persepsi auditor mengenai kondisi pengendalian intern auditee dan untuk mengambil keputusan dalam mengumpulkan bukti audit, sehingga diharapkan dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi dan dapat menjadi sumbangan pemikiran yang akan membantu auditor diKantor Akuntan Publik dalam menjalankan praktiknya.

1.4.2. Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang auditing khususnya mengenai kondisi pengendalian intern terhadap keputusan mengumpulkan bukti audit.

1.5. Kerangka Pemikiran

Kantor akuntan publik memiliki bentuk hubungan dengan para pengguna laporan keuangan yang berbeda dengan bentuk hubungan antara kaum profesional lainnya dengan para pengguna jasa mereka. Kantor akuntan publik bertugas dan dibayar oleh perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan, tetapi manfaat utama dari proses audit ini didapat oleh para pengguna laporan keuangan.

(20)

Arens, Elder dan Beasley dialih bahasakan oleh Herman Wibowo dalam buku “Auditing dan Jasa Assurance pendekatan Terintegrasi jilid 1” (2008:380- 384) untuk menentukan kondisi pengendalian intern auditee terdapat 5 (lima) komponen yaitu :

1. Pemisahan fungsi yang memadai

2. Otorisasi yang sesuai dari transaksi dan aktivitas

3. Dokumen dan catatan yang memadai

4. Pengendalian fisik atas aset dan catatan

5. Pemeriksaan independen atas penampilan

Arens, Elder dan Beasley dialih bahasakan oleh Herman Wibowo dalam buku “Auditing dan Jasa Assurance pendekatan Terintegrasi jilid 1” (2008:517) adalah :

“Apabila kebijakan dan prosedur pengendalian dianggap telah dirancang secara efektif, auditor akan menilai risiko pengendalian pada tingkat yang mencerminkan keefektifan relatif pengendalian tersebut.

Untuk mendapatkan bukti yang tepat yang mencukupi guna mendukung penilaian itu, auditor melaksanakan pengujian pengendalian (test of control).”

Risiko pengendalian merupakan ukuran yang dipergunakan oleh auditor untuk menilai adanya kemungkinan bahwa terdapat sejumlah salah saji material yang melebihi nilai salah saji yang masih dapat ditoleransi atas segmen tertentu akan tidak terhadang atau tidak terdeteksi oleh pengendalian intern yang dimiliki klien.

Pengendalian Intern yang dibentuk dalam setiap kegiatan perusahaan dapat digunakan untuk mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi. Kesalahan yang timbul akan segera dan secara otomatis dapat diketahui dengan adanya pengecekan silang (cross check) dan cara-cara pembuktian (proof) yang dibentuk didalamnya.

(21)

Oleh karena itu, jika auditor mengetahui bahwa klien telah merancang pengendalian intern dan telah melaksanakannya dalam kegiatan usahanya setiap hari, hal ini merupakan bukti audit yang kuat bagi auditor mengenai keandalan informasi yang dicantumkan dalam laporan keuangan.

Auditor adalah seorang yang dianggap ahli oleh masyarakat untuk melakukan pemeriksaan keuangan sebuah perusahaan. Sebagai seorang ahli, auditor memiliki kemampuan yang memadai tentang tehnik pemeriksaan. Dalam melaksanakan tugas pemeriksaan, seorang auditor dituntut harus mempunyai kemampuan dalam melaksanakan tugas pemeriksaan tersebut. Bukti-bukti yang dikumpulkan harus cukup memadai untuk menyakinkan auditor dalam memberikan pendapatnya.

Disamping itu dia juga harus mempertimbangkan tingkat kesesuaian bukti-bukti tersebut, menentukan kriterianya sesuai dengan standar yang berlaku umum.

Arens, Elder dan Beasley dialih bahasakan oleh Herman Wibowo dalam buku “Auditing dan Jasa Assurance pendekatan Terintegrasi jilid 1” (2008:224- 227) adalah :

“Keputusan penting yang dihadapi para auditor adalah menentukan jenis dan jumlah bukti audit yang tepat, yang diperlukan untuk memenuhi keyakinan bahwa komponen laporan keuangan klien dan keseluruhan laporan telah disajikan secara wajar dan bahwa klien menyelenggarakan pengendalian intern yang efektif atas pelaporan keuangan”.

Adapun pengertian bukti audit didefinisikan oleh Arens, Elder, dan Mark Beasley dialih bahasakan oleh Tim Dejacarta dalam bukunya “Auditing dan pelayanan verifikasi” (2004:16) mendefinisikan bukti audit sebagai berikut :

(22)

“Bukti audit adalah setiap informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah informasi yang sedang diaudit tersebut telah disajikan sesuai dengan kriteria yang ada”.

Bukti audit terdapat beragam bentuk, termasuk pula pernyataan lisan dari klien auditee, komunikasi tertulis dengan pihak ketiga, serta observasi yang dilakukan oleh auditor. Merupakan hal yang sangat penting untuk memperoleh sejumlah bukti audit yang cukup berkualitas agar dapat mencapai tujuan audit.

Menentukan tipe serta banyaknya bukti audit yang harus dikumpulkan dan mengevaluasi apakah informasi tersebut sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan merupakan suatu bagian yang kritis dari setiap audit.

Auditor harus memiliki kualifikasi tertentu dalam memahami kriteria yang digunakan serta harus kompeten (memiliki kecakapan) agar mengetahui tipe dan banyaknya bukti audit yang harus dikumpulkan untuk mencapai kesimpulan yang tepat setelah bukti-bukti audit tersebut selesai diuji. Seorang auditor pun harus memiliki sikap mental yang independen. Kompetensi yang dimiliki seseorang dalam melaksanakan proses audit hanya bernilai sedikit saja jika ia tidak memiliki sikap objektif pada saat pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti audit ini.

Menurut Mulyadi dalam buku Auditing (2002:80) tentang Kondisi Pengendalian Intern dengan bukti audit :

“Kuat atau lemahnya Pengendalian Intern merupakan faktor utama yang menentukan jumlah bukti audit yang harus dikumpulkan oleh auditor dari berbagai sumber bukti audit. Semakin kuat pengendalian intern, semakin sedikit bukti audit yang harus dikumpulkan sebagai

(23)

dasar pernyataan pendapat auditor. Jika pengendalian intern lemah, auditor harus mengumpulkan jumlah bukti audit yang lebih banyak “.

Kepercayaan auditor terhadap jenis dokumen yang dibuat dan hanya digunakan dalam organisasi klien dipengaruhi oleh kekuatan pengendalian intern.

Jika suatu dokumen dibuat oleh seorang karyawan dan diperiksa oleh karyawan lain, serta mempunyai nomor urut tercetak dan urutan nomornya dipertanggungjawabkan, maka dokumenter yang mutunya tinggi. Di lain pihak, jika pengendalian intern dalam organisasi klien lemah, auditor tidak dapat meletakkan kepercayaannya atas bukti- bukti dokumenter yang dibuat dalam organisasi tersebut, yang tidak diperiksa oleh pihak luar.

Berdasarkan uraian diatas, penulis menetapkan hipotesis sebagai beikut :

“Terdapat pengaruh persepsi auditor mengenai kondisi pengendalian intern terhadap keputusan mengumpulkan bukti audit “.

1.6. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan survei pada 5 Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berlokasi di Bandung dengan waktu yang ditentukan.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Auditing

Arens, Elder, dan Beasley mengemukakan definisi auditing (2008:4) yaitu :

“Auditing is the accumulation and evalution of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and establisned criteria. Auditing should be done by a competent, independent person ”.

Menurut Sukrisno Agoes (2004 :3) menyatakan pengertian auditing sebagai berikut:

“Auditing adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut”.

Menurut Boynton, Johnson, dan Kell yang dialih bahasakan oleh Paul, Gina, dan Ichsan (2002:5) menyatakan pengertian auditing sebagai berikut :

“Suatu proses sistematik untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan peristiwa ekonomi, dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.”

(25)

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan akuntansi merupakan proses sistematis dan pengumpulan, pengevaluasian bukti serta laporan dengan cara membandingkan bukti-bukti yang ada dengan kriteria yang telah ditetapkan, yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen serta mengkomunikasikan hasil kepada pihak tertentu.

2.2. Kondisi Pengendalian Intern

Bahwa menurut Arens, Elder dan Beasley (2008:298) menyebutkan bahwa aktivitas pengendalian (control activities) mencakup :

1. Adequate separation of duties

2. Proper authorization of transactions and activities 3. Adequate documents and record

4. Physical control over assets and record 5. Independent checks on performance

Dan dialih bahasakan oleh Herman Wibowo (2008: 380) : 1. Pemisahan fungsi yang memadai

2. Otorisasi yang sesuai atas transaksi dan aktivitas 3. Dokumen dan catatan yang memadai

4. Pengendalian fisik atas aset dan catatan 5. Pemeriksaan independen

Kelima aktivitas pengendalian diatas dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Pemisahan fungsi yang memadai

Empat petunjuk umum pemisahan kewajiban untuk mencegah baik kecurangan dan kesalahan menjadi sangat penting bagi auditor yaitu : a. Pemisahan penjagaan aset dari akuntansi

Alasan untuk tidak mengijinkan seseorang yang mempunyai penjagaan permanen atau temporer dari suatu aset untuk bertanggung jawab untuk aset itu adalah untuk melindungi perusahaan terhadap defalkasi. Saat seseorang melaksanakan kedua fungsi itu, ada sesuatu kenaikan resiko bahwa orang tersebut

(26)

membuang aset itu untuk kepentingan pribadi dan menyesuaikan catatan untuk membebaskan dirinya dari tanggung jawab.

b. Pemisahan otorisasi transaksi dari penjagaan aset terkait

Jika mungkin diinginkan untuk mencegah orang yang mengesahkan transaksi dari mempunyai kendali atas aset terkait. Sebagai contoh, orang yang sama tidak boleh mengesahkan pembayaran faktur pemasok dan juga mendatangani cek pembayaran tagihan itu.

Otorisasi suatu transaksi dan penanganan aset terkait oleh orang yang sama meningkatkan kemungkinan defalkasi didalam organisasi.

c. Pemisahan tanggung jawab operasional dari tanggung jawab penyimpanan catatan.

Jika setiap departemen atau devisi dalam suatu organisasi bertanggung jawab untuk menyiapkan catatan dan laporan mereka sendiri, akan ada suatu kecenderungan penyimpangan hasil untuk memperbaiki prestasi yang dilaporkan. Untuk memastikan informasi yang tidak memihak, penyimpanan catatan biasanya dimasukkan dalam departemen terpisah dibawah kendali.

d. Pemisahan kewajiban TI dari departemen pemakai

Ketika kompleksitas sistem TI meningkat, seringkali pemisahan otorisasi, penyimpanan catatan, dan penjagaan menjadi kabur.

Sebagai contoh, agen penjualan boleh memasukkan pesanan online.

Komputer mengesahkan penjualan itu berdasarkan pada perbandingan dari batas kredit pelanggan dengan arsip induk dan memposkan semua penjualan yang disetujui ke dalam jurnal siklus penjualan. Oleh karena itu, komputer memainkan suatu peran yang penting dalam otorisasi dan penyimpanan catatan dari transaksi penjualan.

2. Otorisasi yang sesuai atas transaksi dan aktivitas

Setiap transaksi harus disahkan dengan benar jika kendali diharapkan untuk memuaskan. Bila ada orang dalam suatu organisasi yang bisa memperoleh atau membelanjakan aset dengan sesuka hati, akan dihasilkan kekacauan sepenuhnya. Otorisasi bisa umum atau khusus.

Otorisasi umum berarti bahwa manajemen menetapkan kebijakan untuk diikuti organisasi. Para bawahan diinstruksikan untuk menetapkan otorisasi umum ini dengan menyetujui semua transaksi di dalam batas yang ditetapkan oleh kebijakan itu. Contoh dari otorisasi umum adalah dikeluarkannya daftar harga tetap untuk penjualan produk, batas kredit untuk pelanggan, dan titik pemesanan ulang yang ditetapkan untuk membuat akusisi. Otorisasi khusus berlaku bagi transaksi individual.

Manajemen sering tidak menetapkan suatu kebijakan umum tentang otorisasi untuk beberapa transaksi sebagai gantinya mereka lebih suka membuat otorisasi dengan dasar kasus – perkasus.

(27)

3. Dokumen dan catatan yang memadai

Dokumen dan catatan adalah objek fisik di mana transaksi dimasukkan dan diringkaskan. Mereka meliputi materi yang berbeda seperti faktur penjualan, pesanan pembelian, catatan tambahan, jurnal penjualan, dan kartu catatan karyawan. Banyak dari dokumen dan catatan ini dipelihara dalam bentuk arsip komputer hingga mereka dicetak untuk tujuan yang spesifik. Dokumen dari entri dan catatan asli dimana transaksi dimasukkan adalah sama pentingnya, tetapi dokumen yang tidak memadai biasanya menyebabkan masalah yang lebih besar. Prinsip relevan tertentu mendikte rancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang sesuai, dokumen dan arsip haruslah :

a. Bernomor berurutan untuk memudahkan kendali atas dokumen yang hilang dan sebagai bantuan dalam mencari dokumen ketika mereka diperlukan dikemudian hari (sangat mempengaruhi sasaran kelengkapan audit yang terkait dengan transaksi).

b. Disiapkan pada waktu transaksi berlangsung, atau segera sesudah itu. Bila ada interval waktu yang lebih panjang, catatan menjadi kurang bisa diandalkan dan kesempatan salah saji makin meningkat (mempengaruhi sasaran penetapan waktu audit yang terkait dengan transaksi).

c. Cukup sederhana untuk memastikan bahwa mereka dipahami dengan jelas.

d. Dirancang untuk berbagai penggunaan ketika mungkin untuk memperkecil jumlah formulir yang berbeda.

e. Dibuat dengan cara yang mendorong persiapan yang benar. Ini bisa dilakukan dengan menyediakan pemeriksaan internal dalam formulir atau catatan.

4. Pengendalian fisik atas aset dan catatan

Untuk memelihara pengendalian internal yang memadai, adalah penting untuk melindungi aset dan catatan. Jika catatan tidak cukup terlindungi, mereka bisa dicuri, rusak, atau hilang. Dalam hal kejadian seperti itu, proses akuntansi dan operasional normal bisa sangat terganggu.

5. Pemeriksaan independen

Kebutuhan akan pemeriksaan independen timbul karena pengendalian internal cenderung untuk berubah seiring waktu kecuali jika ada suatu mekanisme untuk tinjauan ulang yang sering. Personil sangat mungkin melupakan atau dengan sengaja gagal mengikuti prosedur, atau mereka menjadi teledor kecuali jika seseorang mengamati dan mengevaluasi penampilan mereka.

(28)

Menurut Alvin A. Arens, Randal J. Elder, dan Mark Beasley dengan alih bahasa oleh Tim Dejacarta (2004:415) :

“Auditor mempertimbangkan pengendalian intern pertama-tama dengan memperoleh pemahaman dari pengendalian intern, yang kemudian digunakan untuk mengawali penilaian resiko pengendalian. Ketika penilaian auditor akan resiko pengendalian adalah dibawah maksimum, auditor melaksanakan pengujian dari pengendalian. Setelah hasil dari pengujian pengendalian itu diketahui, auditor mempertimbangkan bagaimana hasil itu mempengaruhi risiko deteksi dan pengujian subtantif yang telah direncanakan.”

Pengujian audit adalah prosedur audit untuk mendapatkan bukti. Suatu program audit terdiri dari pengujian audit yang dirancang untuk memenuhi salah satu atau kedua tujuan utama berikut :

1. Pegujian Pengendalian (test of control) menentukan efektifitas perancangan dan operasi pengendalian internal.

2. Pengujian Subtantif (subtantive test) menentukan apakah ada salah saji angka yang material atau pengungkapan dalam laporan keuangan.

Mutu dari sistem pengendalian internal klien mempengaruhi mutu laporan keuangan yang disiapkan klien dan karenanya juga mempengaruhi sifat, penetapan waktu, dan luas pengujian subtantif yang akan dilakukan auditor. resiko audit dan materialitas dalam melaksanakan audit, menyatakan hubungan ini dalam model risiko audit dengan konsep audit pengendalian. Jika pengendalian internal kuat ( risiko pengendalian rendah ), maka kecil kemungkinan laporan keuangan akan mengandung salah saji yang material ketimbang jika pengendalian intern lemah ( risiko pengendalian tinggi ).

(29)

Jika klien telah menetapkan pengendalian internal yang baik, maka auditor bisa memutuskan untuk membatasi pengujian subtantif karena pengendalian intern klien tampaknya dapat mencegah atau mendeteksi salah saji yang material. Hubungan ini adalah logis dan secara sederhana berarti bahwa jika kondisi pengendalian intern baik maka laporan keuangan kecil kemungkinannya mengandung salah saji yang material, maka auditor dapat melakukan pengujian subtantif yang kurang mendalam ketimbang jika laporan keuangan mengandung salah saji yang material. Dengan kata lain auditor dapat mengurangi jumlah bukti yang dikumpulkan.

2.2.1. Pengendalian Intern yang Kuat atau Efektif

Menurut Alvin A. Arens, Randal J. Elder, dan Mark Beasley dengan alih bahasa oleh Tim Dejacarta (2004:356) :

“ Jika auditor menyimpulkan bahwa pengendalian intern bersifat efektif, maka nilai risiko deteksi terencana dapat meningkat sehingga jumlah bukti audit yang direncanakan akan dikumpulkan akan turun.

Auditor dapat meningkatkan risiko deteksi terencana pada saat pengendalian intern bersifat efektif karena pengendalian intern yang efektif akan mengurangi kemungkinan hadirnya salah saji dalam laporan keuangan.”

2.2.2. Pengendalian Intern yang Lemah atau Tidak Efektif

Menurut Alvin A. Arens, Randal J. Elder, dan Mark Beasley dengan alih bahasa oleh Tim Dejacarta (2004:432) :

“Suatu kelemahan pengendalian intern adalah ketidakhadiran kendali yang cukup, yang meningkatkan risiko dari salah saji dalam laporan keuangan. Jika menurut penilaian auditor, pengendalian itu tidak cukup

(30)

untuk memenuhi salah satu dari sasaran hasil audit yang terkait dengan transaksi, harapan dari salah saji demikian untuk terjadi akan meningkat.”

2.2.3. Prosedur Pengoperasian Pengendalian Intern

Menurut Alvin A. Arens, Randal J. Elder, dan Mark Beasley dengan alih bahasa oleh Tim Dejacarta (2004:428) :

Ada 4 jenis prosedur digunakan untuk mendukung pengoperasian pengendalian intern. Mereka adalah :

1. Melakukan Wawancara dengan Personil Klien yang Sesuai.

Walaupun pemeriksaan secara umum bukanlah sumber bukti yang kuat mengenai operasional pengendalian yang efektif, itu adalah suatu format bukti yang sesuai. Sebagai contoh, auditor bisa menentukan personil tidak sah tidak diijinkan akses ke arsip komputer dengan wawancara dengan orang yang mengendalikan perpustakaan komputer dan dengan orang yang mengendalikan pemberian kata sandi keamanan akses yang online.

2. Menguji Dokumen, Arsip, dan Catatan.

Banyak kendali yang meninggalkan suatu jejak yang jelas atas bukti audit. Sebagai contoh, bahwa ketika sebuah pesanan pelanggan diterima, itu digunakan untuk membuat suatu pesanan penjualan pelanggan, yang disetujui untuk kredit. Pesanan pelanggan dilampirkan dengan pesanan penjualan sebagai otorisasi untuk proses selanjutnya. Auditor menguji dokumen itu untuk menyakinkan bahwa mereka lengkap dan benar- benar cocok dan tandatangan atau inisial yang dibutuhkan telah ada.

3. Mengamati Aktivitas yang Terkait dengan Pengendalian.

Jenis aktivitas lain yang terkait dengan pengendalian tidak meninggalkan suatu jejak bukti. Sebagai contoh, pemisahan kewajiban bersandar pada orang tertentu yang melakukan tugas tertentu, dan biasanya tidak ada dokumentasi dari prestasi / penampilan yang terpisah. Untuk pengendalian yang tidak meninggalkan bukti dokumentasi, auditor umumnya mengamati mereka diterapkan pada berbagai poin sepanjang tahun.

4. Melaksanakan Kembali Prosedur Klien.

Ada juga aktivitas yang terkait dengan pengendalian di mana terkait dokumen dan arsip, tetapi isi mereka adalah tidak cukup untuk tujuan auditor menilai apakah kendali beroperasi secara efektif. Sebagai contoh, asumsikan bahwa harga tersedia pada faktur penjualan akan dibuktikan dengan suatu daftar harga standar oleh personil klien sebagai suatu

(31)

prosedur verifikasi internal, tetapi tidak ada indikasi dari prestasi / penampilan yang dimasukkan pada faktur penjualan. Dalam kasus ini, adalah umum untuk auditor untuk benar-benar melaksanakan kembali aktivitas pengendalian untuk melihat apakah hasil yang sesuai telah diperoleh. Untuk contoh ini, auditor dapat melaksanakan kembali prosedur itu dengan menelusuri jejak harga penjualan kepada daftar harga yang sah yang berlaku pada tanggal transaksi tersebut. Jika tidak ditemukan kesalahan saji, auditor dapat menyimpulkan bahwa prosedur sedang operasi seperti yang diharapkan.

2.3. Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit

Menurut Alvin, Elder, dan Beasley yang dialih bahasakan oleh Herman wibowo dalam buku “Auditing dan jasa Assurance pendekatan Terintegrasi”

(2008 : 224-227) adalah :

“Keputusan penting yang dihadapi para auditor adalah menentukan jenis dan jumlah bukti audit yang tepat, yang diperlukan untuk memenuhi keyakinan bahwa komponen laporan keuangan klien dan keseluruhan laporan telah disajikan secara wajar dan bahwa klien menyelenggarakan pengendalian intern yang efektif atas pelaporan keuangan”.

Jadi keputusan mengumpulkan bukti ditentukan oleh jenis bukti audit dan jumlah bukti audit.

2.3.1. Pengertian Bahan Bukti Audit

Arens, Elder, dan Beasley mengemukakan definisi bukti audit dalam bukunya “Auditing and Assurance Services an Integrated Approach” (2008:5) yaitu :

“Evidence is any information used by the auditor to determine whether the information being audited is stated in accordance with the established criteria.”

(32)

Yang berarti bukti audit adalah setiap informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah informasi yang sedang diaudit tersebut telah disajikan dengan kriteria yang ada.

Menurut Mulyadi dan Kanaka Puradireja dalam bukunya “Auditing”

(1998 : 71) mendefinisikan bahan bukti audit sebagai berikut :

“Bahan bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka- angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar yang layak untuk menyatakan pendapatnya”.

Menurut Boynton, Johnson, dan Kell yang dialih bahasakan oleh Paul, Gina, dan Ichsan dalam bukunya “Modern Auditing” (2002:206) menyatakan pengertian bukti audit sebagai berikut :

“Bahan bukti kompeten yang mencukupi dapat diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi, yang digunakan sebagai dasar yang layak untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.”

Bukti audit terdapat berbagai bentuk, termasuk pula pernyataan lisan dari klien (auditee), komunikasi tertulis dengan pihak ketiga, serta observasi yang dilakukan oleh auditor. Merupakan hal yang sangat penting untuk memperoleh sejumlah bukti audit yang cukup berkualitas agar dapat mencapai tujuan audit.

Menentukan tipe serta banyaknya bukti audit yang harus dikumpulkan dan mengevaluasi apakah informasi tersebut sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan merupakan suatu bagian yang kritis dari setiap audit.

(33)

2.3.2 Jumlah Bukti Audit

Auditor seringkali menggunakan sampling atau penarikan sampel, yang biasanya dikombinasikan dengan prosedur audit lainnya, untuk memeriksa saldo akun atau kelompok transaksi. Sampling audit (audit sampling) merupakan aplikasi dari prosedur audit atas item-item yang jumlahnya kurang dari 100% dari seluruh item yang ada dalam saldo akun atau kelompok tersebut. Sesuai dengan SAS no 39, sampling audit (AU 350), terdapat tiga kondisi yang harus dipenuhi yang telah ditetapkan pada sampling audit :

1. Jumlah populasi yang harus diuji kurang dari 100%.

2. Hasil sampel harus diproyeksikan sebagai karakteristik populasi

3. Proyeksi hasil sampel harus dibandingkan dengan saldo akun klien yang ada dan telah ditetapkan untuk menentukan apakah menerima atau menolak saldo klien.

Proyeksi hasil sampel harus digunakan untuk mengevaluasi prosedur pengendalian apakah efektif atau tidak efektif.

Apabila auditor memberikan pendapatnya atas laporan keuangan klien, maka ia menyatakan suatu kepastian yang layak, dan bukan kepastian yang absolut atas reliabilitas laporan keuangan. Justifikasi untuk kepastian yang layak tetapi bukan kepastian yang mutlak, didasarkan atas standar ketiga dari pekerjaan lapangan :

“ Bukti kompeten yang mencukupi harus diperoleh agar dapat memberikan dasar yang layak bagi suatu pendapat “. Jika auditor tidak dapat membenarkan menerima beberapa resiko, maka biaya audit akan menjadi penghalang karena jumlah transaksi

(34)

yang harus diuji akan lebih besar. Penarikan sampel atau sampling tidak boleh dilakukan tanpa adanya konsep kepastian yang layak.

2.3.3 Jenis Jenis Bukti Audit

Dalam menentukan prosedur-prosedur audit mana yang akan digunakan, auditor dapat memilihnya dari ketujuh jenis-jenis bukti audit. Alvin arens, Randal, dan Mark Beasley dalam buku “Auditing dan pelayanan verifikasi” (2004 : 250) mengemukakan ketujuh jenis-jenis bukti audit sebagai berikut :

“ 1. Pengujian Fisik (physical examination) 2. Konfirmasi (confirmation)

3. Dokumentasi (documentation)

4. Prosedur Analitis (analytical procedures)

5. Wawancara kepada klien (Inquiries of the client) 6. Hitung uji (reperformance)

7. Observasi (observation)”.

Ketujuh jenis-jenis bukti diatas dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pengujian Fisik (physical examination)

Pengujian fisik adalah inspeksi atau perhitungan yang dilakukan oleh auditor atas aktiva yang berwujud. Jenis bukti ini sering berkaitan dengan persediaan dan kas, tetapi dapat pula diterapkan untuk berbagai verifikasi atas surat berharga, surat piutang, serta aktiva tetap yang berwujud. Pengujian fisik yang secara langsung berarti verifikasi atas aktiva yang benar-benar ada, dianggap sebagai salah satu jenis bukti audit yang paling terpercaya dan berguna. Pada umumnya, pengujian fisik merupakan sarana ke tujuan untuk meyakinkan kebenaran kuantitas maupun uraian aktiva.

2. Konfirmasi (confirmation)

Konfirmasi menggambarkan penerimaan tanggapan baik secara tertulis maupun lisan dari pihak ketiga yang independen yang memberikan keakuratan informasi sebagaimana yang diminta oleh auditor.

Permintaan ini ditujukan bagi klien, dan klien meminta pihak ketiga yang independen untuk memberikan tanggapannya secara langsung kepada auditor. karena konfirmasi-konfirmasi ini datang dari berbagai sumber yang independen terhadap klien, maka jenis bukti audit ini

(35)

sangatlah dihargai dan merupakan jenis bukti audit yang paling sering dipergunakan.

3. Dokumentasi (documentation)

Dokumentasi adalah pengujian auditor atas berbagai dokumen dan catatan klien untuk mendukung informasi yang tersaji atau seharusnya tersaji dalam laporan keuangan. Berbagai dokumen yang diuji oleh auditor adalah catatan-catatan yang dipergunakan oleh klien untuk menyediakan informasi bagi pelaksanaan bisnis suatu organisasi. Karena pada umumnya setiap transaksi dalam organisasi klien ini minimal didukung oleh selembar dokumen, maka jenis bukti audit ini tersedia dalam jumlah besar. Dokumen-dokumen secara sederhana dapat diklasifikasikan sebagai dokumen internal dan eksternal. Dokumen internal adalah dokumen yang dipersiapkan dan dipergunakan dalam organisasi klien sendiri serta tidak pernah disampaikan kepada pihak- pihak di luar organisasi seperti pelanggan atau pemasok klien. Contoh- contoh dari dokumen internal adalah : salinan faktur penjualan, laporan jam kerja karyawan. Dokumen eksternal adalah dokumen yang pernah berada dalam genggaman seseorang di luar organisasi yang mewakili pihak yang menjadi klien dalam melakukan transaksi, tetapi dokumen tersebut saat ini berada di tangan klien atau dengan segera dapat diakses oleh klien. Contoh dari dokumen eksternal ini adalah faktur-faktur dari pemasok.

4. Prosedur analitis (analytical procedures)

Prosedur analitis yaitu menggunakan berbagai perbandingan dan hubungan-hubungan untuk menilai apakah saldo-saldo akun atau data lainnya nampak wajar. Contoh atas hal ini adalah perbandingan presentase antara laba kotor yang diperoleh selama tahun berjalan terhadap laba kotor yang diperoleh pada tahun sebelumnya. Prosedur analitis digunakan secara luas dalam praktek dan penggunaan prosedur tersebut telah meningkat dengan tersedianya komputer untuk melakukan perhitungan. Prosedur analitis digunakan untuk tujuan berbeda atas sebuah audit dimulai dari memahami industri dan bisnis klien, menilai kemampuan dan keberlanjutan bisnis entitas, menunjukkan munculnya kemungkinan kesalahan penyajian dalam laporan keuangan, mengurangi pengujian audit secara rinci.

5. Wawancara dengan klien (inquiries of the client)

Wawancara adalah upaya untuk memperoleh informasi baik secara lisan maupun tertulis dari klien sebagai tanggapannya atas berbagai pertanyaan yang diajukan oleh auditor. Walaupun banyak bukti yang diperoleh dari klien berasal dari hasil wawancara ini, bukti tersebut tidak dapat dinyatakan sebagai bukti yang meyakinkan karena tidak diperoleh dari sumber yang independen dan barangkali cenderung mendukung pihak klien. Oleh karena itu, saat auditor memperoleh bukti

(36)

dari hasil wawancara ini, maka pada umumnya merupakan suatu keharusan bagi auditor untuk memperoleh bukti audit lainnya yang lebih meyakinkan melalui berbagai prosedur lainnya.

6. Hitung uji (reperformance)

Hitung uji melibatkan pengujian kembali berbagai perhitungan dan transfer informasi yang dibuat oleh klien pada suatu periode yang berada dalam periode audit pada sejumlah sampel yang diambil auditor.

pengujian kembali atas berbagai perhitungan ini terdiri dari pengujian atas keakuratan aritmatis klien. Hal ini mencakup sejumlah prosedur seperti pengujian perkalian dalam faktur-faktur penjualan, penjumlahan dalam jurnal-jurnal dan catatan-catatan pendukung, serta menguji perhitungan atas beban depresiasi dan beban dibayar dimuka.

7. Observasi (observation)

Observasi adalah penggunaan indera perasa untuk menilai aktivitas- aktivitas tertentu. Sepanjang proses audit, terdapat banyak kesempatan bagi auditor untuk mempergunakan indera penglihatan, pendengaran, perasa, dan penciumannya dalam mengevaluasi berbagai item yang sangat beraneka ragam. Contohnya, auditor dapat melakukan perjalanan ke ruang pabrik untuk memperoleh suatu pandangan umum akan berbagai fasilitas yang dimiliki klien, mengamati apakah peralatan yang ada masih layak untuk digunakan, serta mengamati para individu yang melaksanakan tugas-tugas akuntansi untuk memperoleh apakah individu yang diserahi tanggung jawablah yang melaksanakan tugas tersebut.

2.4. Pengaruh Kondisi Pengendalian Intern Terhadap Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit oleh Auditor

Bahwa kondisi pengendalian intern sebagai pengendalian dalam menentukan jumlah bukti yang di kumpulkan oleh auditor. Bukti-bukti harus sesuai data yang telah ada dilapangan. Bahwa kondisi disini sangat menentukan bahan bukti yang dikumpulkan oleh auditor.

Menurut Mulyadi dalam buku Auditing (2002:80) tentang Kondisi Pengendalian Intern dengan bukti audit :

(37)

“Kuat atau lemahnya Pengendalian Intern merupakan faktor utama yang menentukan jumlah bukti audit yang harus dikumpulkan oleh auditor dari berbagai sumber bukti audit. Semakin kuat pengendalian intern, semakin sedikit bukti audit yang harus dikumpulkan sebagai dasar pernyataan pendapat auditor. Jika pengendalian intern lemah, auditor harus mengumpulkan jumlah bukti audit yang lebih banyak.”

Arens, Elder, dan Beasley mengemukakan kondisi pengendalian intern dengan bukti audit yang telah diterjemahkan oleh Tim Dejacarta dalam bukunya

“Auditing dan Pelayanan Verifikasi” (2004:15) yaitu :

“Jika klien memiliki suatu pengendalian intern yang sangat baik, maka jumlah bukti audit yang harus dikumpulkan dapat dikurangi secara signifikan daripada jika pengendalian internnya tidak memadai.”

Dari pernyataan diatas bahwa kondisi pengendalian intern sangat berpengaruh terhadap bahan bukti yang dikumpulkan oleh seorang auditor. Pengendalian intern yang baik atau kuat dapat memberikan kemudahan oleh seorang auditor karena bukti audit yang dikumpulkan semakin sedikit. Dan sebaliknya jika pengendalian intern yang lemah dapat menyebabkan bukti audit yang banyak.

(38)

BAB III

OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1. Objek Penelitian

Objek penelitian dalam penelitian ini adalah kondisi pengendalian intern serta pengaruhnya terhadap keputusan mengumpulkan bukti audit oleh auditor.

Penelitian ini dilaksanakan pada 5 (lima) Kantor Akuntan Publik terdaftar dalam Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) yang merupakan KAP terbesar yang berada di kota Bandung.

3.1.1. Populasi Penelitian

Pengertian populasi menurut Sugiyono (2002:57) yaitu :

“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.”

Objek tersebut bisa merupakan manusia, file-file, atau dokumen-dokumen yang dipandang sebagai objek penelitian. Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi penelitian adalah para auditor eksternal atau akuntan publik yang bekerja pada 5 (lima) Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Bandung yang terdaftar pada Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Jawa Barat

(39)

Di mana populasinya dapat digambarkan pada tabel berikut ini.

Tabel 3-1

Rincian Jumlah Populasi .

Kantor Akuntan Publik Jumlah

populasi

KAP Mansyur dan Rekan 10

KAP Drs. Gunawan Sudrajat 11

KAP La Midjan dan Rekan, 9

KAP Dra Yati Rutiyah 9

KAP Sanusi, Supardi dan Soegiharto 11

Dari tabel di atas, maka jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 40 auditor dari 5 Kantor Akuntan Publik

3.1.2. Ukuran Sampel

Ukuran sampel merupakan besarnya sampel yang diambil untuk melaksanakan suatu penelitian dari populasi yang telah ditentukan. Besarnya sampel dapat ditentukan secara statistik atau melalui estimasi penelitian. Perlu diperhatikan bahwa sampel yang dipilih harus representatif, dalam arti segala karakteristik yang ada pada populasi dapat tercermin dalam sampel yang dipilih. Dengan berpedoman pada pendapat Winarto Surakhmat (2000 ; 100) yang menyatakan bahwa :

“Untuk pedoman umum dapat dilaksanakan bahwa bila populasi dibawah 100 orang, maka dapat digunakan sampel 50%. Dan jika diatas 100 orang, digunakan sampel 15%.”

(40)

Dengan demikian ukuran sampel yang diambil peneliti pada 5 Kantor Akuntan Publik di kota Bandung adalah sebanyak 40 responden. Sehingga jumlah responden yang akan menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 50% x 40 orang auditor = 20 orang auditor. Pengambilan sampel ini didasarkan karena keterbatasan waktu dan kemampuan peneliti. Diharapkan jumlah sampel tersebut dapat mewakili dari seluruh akuntan publik yang bekerja pada 5 Kantor Akuntan Publik tersebut.

3.1.3. Teknik Sampling

Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel. Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu probability sampling (pengambilan secara acak) dan non probability sampling (pengambilan sampel secara tidak acak atau sistematis). Metode pengambilan sampel secara acak meliputi simple random, proportionate stratified random, disproportionate stratified random dan area random. Sedangkan metode pengambilan sampel secara tidak acak meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidential, purposive sampling sampling jenuh, dan snowball sampling.

Dalam penelitian ini dipergunakan Purposive Sampling yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yaitu sudah pernah bekerja minimal 3 tahun, karena sudah memiliki banyak pengalaman dalam melaksanakan tugas audit.

(41)

3.1.4. Prosedur Pemilihan Objek Penelitian

Prosedur penelitian objek penelitian yang dilakukan penulis dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Penulis mempelajari beberapa buku yang berhubungan dengan akuntansi khususnya mengenai auditing untuk mendapatkan topik penelitian yang akan penulis tuangkan dalam bentuk skripsi.

2. Berdasarkan topik penelitian yang telah ditetapkan, penulis membuat batasan masalah, tujuan yang ingin dicapai, menyusun kerangka pemikiran dan lokasi penelitian.

3. Penulis menyampaikan rencana penelitian pada 5 Kantor Akuntan Publik yang telah ditentukan.

4. Penulis mengajukan judul dan membuat proposal penelitian kepada Ketua atau Sekretaris Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung untuk mendapat persetujuan.

5. Setelah mendapat persetujuan dari Ketua atau Sekretaris Program Studi Akuntansi, penulis kemudian mengajukan proposal penelitian untuk mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung mengenai penetapan dosen pembimbing yang ditunjuk untuk mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi.

(42)

3.2. Metode Penelitian 3.2.1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deksriptif asosiatif, adapun pengertian deskriftif asosiatif menurut Sugiyono (2007:8) adalah sebagai berikut :

“Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variable atau lebih. Data yang diperoleh akan diolah dan dianalisis lebih lanjut dengan alat Bantu berupa dasar-dasar teori yang dipelajari dan dapat digunakan untuk menarik kesimpulan.”

Dalam hal ini bagaimana pengaruh kondisi pengendalian intern terhadap keputusan mengumpulkan bukti oleh auditor.

Penulis menggunakan jenis ini karena merupakan suatu analisis yang bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai objek dengan melakukan survey. Data yang diperoleh selama penelitian akan diolah dan dianalisis serta dijadikan bahan pengujian dalam penelitian.

Hasil akhir penelitian ini merupakan hasil pengujian dari teori atau hipotesis melalui perhitungan statistik, di mana hasil yang keluar adalah diterima atau ditolak

3.2.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian

(43)

Sesuai dengan judul skripsi ini, maka penulis menggunakan dua variabel dalam penelitian, yaitu :

1)Variabel Bebas (independent variable) yaitu variabel yang mempengaruhi variabel lain yang tidak bebas. Pada penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X) adalah Kondisi Pengendalian Intern

2)Variabel Terikat (Dependent Variable) yaitu variabel yang dipengaruhi atau disebabkan oleh variabel lain. Pada penelitian ini yang menjadi variabel terikat (Y) adalah Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit

Untuk lebih jelasnya operasionalisasi variabel (X) dan operasionalisasi variabel (Y) dapat dilihat dibawah ini :

(44)

OPERASIONALISASI VARIABEL (X)

Variabel Sub Variabel Indikator Skala

Kondisi pengendalian intern (X)

1.Pemisahan fungsi yang memadai

a.Pemisahan penjagaan aset dari akuntansi

b.Otorisasi atas transaksi

c.Pemisahan tanggung jawab operasional dari tanggung jawab penyimpanan catatan

d.Pemisahan kewajiban TI dari departemen pemakai

Ordinal

2.Otorisasi yang sesuai dari transaksi dan aktivitas

a.Otorisasi umum b.Otorisasi khusus

Ordinal

3.Dokumen dan catatan yang memadai

a.Bernomor berurutan (prenumbered) b.Disiapkan tepat waktu

c.Sederhana

d.Dirancang untuk berbagai penggunaan yang berkaitan dengan transaksi.

e.Memuat seluruh prosedur transaksi.

Ordinal

4.Pengendalian fisik atas aset dan catatan

a. Pengendalian fisik aset b. Pengendalian fisik catatan

Ordinal

5.Pemeriksaan independen / verifikasi internal

a. Periode

b. Kualitas pemeriksaan

Ordinal

(45)

Menurut : Alvin A. Arens, Randal J. Elder, dan Mark Beasley dialih bahasakan oleh Herman Wibowo (2008:380-284)

OPERASIONALISASI VARIABEL (Y)

Variabel Sub Variabel Indikator Skala

Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit (Y)

1 Jumlah bukti audit

a. Jumlah populasi b. Jumlah sampel c. Proyeksi hasil sampel

Ordinal

2. Jenis bukti audit

a. Pengujian Fisik b. Konfirmasi c. Dokumentasi d. Prosedur Analitis

e. Wawancara kepada klien f. Hitung uji

g. Observasi

Ordinal

Menurut : Alvin A. Arens, Randal J. Elder, dan Mark Beasley dialih bahasakan oleh Herman Wibowo (2008:231-238)

3.2.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah merupakan cara-cara untuk memperoleh data yang diperlukan, adapun teknik pengumpulan data yang akan dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut:

(46)

1. Survey (kuisioner)

Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara survey, yaitu suatu penelitian yang dilakukan dari suatu populasi dengan menggunakan kuisioner (daftar pertanyaan) sebagai alat pengumpulan data. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

3.2.4. Model Penelitian

Model penelitian yang dimaksud adalah abstraksi dari fenomena-fenomena yang sedang diteliti dan model penelitian bertujuan untuk mempermudah menggambarkan masalah yang diteliti antara variabel X dan variabel Y. Model penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

GAMBAR 3.1 MODEL PENELITIAN

3.2.5 Analisis Data dan Rancangan

3.2.5.1 Pengujian Validitas dan Pengujian Reliabilitas 1) Pengujian Validitas

Menurut Sugiyono dalam buku “Metode Penelitian Bisnis” (2004 : 109) instrumen penelitian dikatakan valid apabila alat ukur yang digunakan untuk

KONDISI

PENGENDALIAN INTERN(X)

KEPUTUSAN MENGUMPULKAN BUKTI AUDIT OLEH AUDITOR(Y)

(47)

mendapatkan data tersebut valid. Oleh karena itu, untuk mendapatkan instrumen yang valid peneliti menggunakan pengujian validitas instrumen penelitian dengan metode pengujian validitas isi (content validity) dengan analisis item, yaitu dengan mengkorelasikan antara skor butir instrumen dengan skor total. Untuk menghitung korelasi pada uji validitas menggunakan korelasi product moment dengan rumus sebagai berikut :

( )( )

=

2

2 B

A AB r

Dimana :

A : Skor item pernyataan di kurang rata-rata skor item pernyataan B : Total skor item di kurang rata-rata total skor item pernyataan r : Korelasi antara skor item dengan total skor item pernyataan

2) Pengujian Reliabilitas

Pengunaan pengujian reliabilitas oleh peneliti adalah untuk menilai

konsistensi pada objek dan data, apakah instrumen yang digunakan beberapa kali

untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data yang sama. Untuk

menguji reliabilitas dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan metode

(48)

internal consistency dengan teknik belah dua / split half (Spearman Brown)

dengan rumus sebagai berikut :

AB AB

r r xr

= + 1

2

dimana : r = reliabilitas seluruh instrumen

r

AB

= korelasi rata-rata product moment

3.2.5.2 Analisis Data

Analisis data merupakan penyederhanaan data kedalam bentuk yang mudah dibaca, dipahami dan diinterprestasikan. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara sampeling, dimana yang diselediki adalah sampel yang merupakan sebuah sub himpunan dari pengukuran yang dipilih dari populasi yang menjadi perhatian dalam penelitian.

2. Setelah metode pengumpulan data ditentukan, kemudian ditentukan alat untuk memperoleh data dari elemen-elemen yang akan diselidiki. Alat yang

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan hasil belajar PKn antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran Kuantum dengan

Berdasarkan hasil analisis kuantitatif terhadap data kuesioner dapat disimpulkan bahwa: (1) Kinerja guru pasca sertifikasi, baik secara keseluruhan, maupun dilihat

Sering terjadi kekurangan P di dalam tanah yang disebabkan oleh jumlah P yang sedikit di tanah, sebagian besar terdapat dalam bentuk yang tidak dapat diambil oleh tanaman

pelaksanaan Learning Community sebagai pendidikan alternatif di Kampoeng Sinaoe Sidoarjo antara lain membantu penyelesaian tugas sekolah maupun membantu siswa memahami

Perencanaan pada klien satu dan dua pada diagnosa keperawatan intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri yaitu : kaji skala nyeri secara komprehensif mencatat

al., (2102), menunjukan bahwa interaksi antara perlakuan varietas dengan jenis pupuk tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun dikarenakan perbedaan

Kemajuan teknologi yang tidak dapat terbendung lagi, terutama dalam bidang media komunikasi massa khususnya televisi, peran televisi sangatlah strategis sebagai alat informasi

Nabi Musa perintahkan lelaki tersebut untuk pergi menadah air yang jatuh dari bumbung rumah orang yang meninggalkan solat dan minum air tu Lelaki itu pun senang hati, menjalankan apa