Medan Pos Edis Oktober 2018)
SKRIPSI Oleh:
Siti Halimah 150904054
Program Studi Public Relations
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
Medan Pos Edis Oktober 2018)
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Komunikasi
Siti Halimah 150904054
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
LEMBAR PERSETUJUAN
Skripsi ini disetujui untuk diseminarhasilkan oleh:
Nama : Siti Halimah NIM : 150904054
Judul Skripsi : Pembentukan Citra Kota Medan Dalam Media Cetak
(Analisis Isi Kuantitatif Pembentukan Citra Kota Medan Dalam Media Cetak Harian Umum Medan Pos Edisi Oktober 2018)
Dosen Pembimbing, Ketua Program Studi,
Haris Wijaya, S.Sos., M.Comm Dra. Dewi Kurniawati, M.Si,Ph.D NIP: 197711062005011001 NIP: 196505241989032001
Dekan
Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si NIP: 197409302005011002
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan dengan benar. Jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Nama : Siti Halimah
NIM : 150904054
Tanda Tangan :
Tanggal : 05 Agustus 2019
Puji syukur Alhamdulillah peneliti ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayat- Nya yang telah memberikan nikmat ilmu, kesehatan dan kemudahan sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dilakukan guna memenuhi salah satu syarat untuk menggapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Suamtera Utara (FISIP USU). Peneliti berharap skripsi ini dapat menjadi referensi bagi mahasiswa dalam mengembangkan penelitian. Skripsi ini peneliti persembahkan kepada Ayah dan Ibu tercinta yang selalu setia mendukung dan mendoakan saya untuk menyegerakan gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Bapak Sukatno dan Ibu Asmawati. Peneliti juga menyadari bahwa tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak dari awal masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini. Maka skripsi ini mungkin tidak akan terselesaikan dengan baik, oleh karena itu peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara beserta jajarannya.
2. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si, Ph.D selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Emilia Ramadhani, M.A, Selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dra. Mazdalifah, M.Si., Ph.D selaku dosen penasehat akademik peneliti.
5. Bapak Haris Wijaya, S.Sos., M.Comm selaku dosen pembimbing skripsi peneliti.
6. Kak Maya dan Kak Yanti, yang selalu membantu peneliti dalam mengurus segala hal yang peneliti butuhkan selama masa perkuliahan. Baik dalam surat menyurat maupun dalam pengurusan KRS dan KHS.
7. Seluruh dosen serta jajaran staff di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik khususnya Program Studi Ilmu Komunikasi.
8. Surat Kabar Harian Umum Medan Pos yang telah membantu penelian ini.
9. Kepada Nenek, Ibu-ibu saya serta Umi, dan Buya yang senantiasa membantu saya.
10. Teman-teman semasa SMA yang telah menempati hati sebelah kanan saya yakni Siti Habibah Safina, Indah Rodiyah, Sri Rezeki.
dan Lismardiah.
12. Kakak-kakak Pijar Putri Nadya Hutagalung, Dita Andriani, Mutia Rahma, dan Novita Arum, serta abang Pijar Lucky Andriansyah yang memberi pengalaman hidup dan semangat bagi saya
13. Seluruh kawan seangkatan di Pijar dan Adik-adik Pijar serta USU Kom FM yang senantiasa menanyakan perihal skripsi saya dan mendoakan agar terselesaikannya skripsi saya.
Serta semua pihak yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan penelitian dan proses penyusunan skripsi ini.
Sekali lagi peneliti mengucapkan banyak terimakasih. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna, apabila terdapat kesalahan/kekhilafan dalam bentuk kata, bahasa penyampaikan, dan tekhnik penulisan, dengan rendah hati peneliti mengharapkan agar para pembaca memberi saran ataupun kritik yang membangun demi kesempurna skripsi ini. Akhir kata, peneliti berharap Allah SWT berkenan membalas semua kebaikan, doa serta dukungan yang diberikan.
Medan, Peneliti
Siti Halimah NIM. 150904054
Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Siti Halimah
NIM :150904054 Program Studi : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Universitas Sumatera Utara Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non Exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
“PEMBENTUKAN CITRA KOTA MEDAN DALAM MEDIA CETAK”
(Analisis Isi Kuantitatif Pembentukan Citra Kota Medan Dalam Media Cetak Harian Umum Medan Pos Edisi Oktober 2018)
Dengan Hak Bebas Royalti Non Ekslusif ini Universitas Sumatera Utara Berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Medan
Pada Tanggal : 05 Agustus 2019 Yang Menyatakan,
Siti Halimah
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana perhatian surat kabar Medan Pos dalam memberitakan Kota Medan, mengetahui jenis isi berita tentang Kota Medan di surat kabar Medan Pos, mengetahui sumber berita yang diberitakan surat kabar Medan Pos, mengetahui kebijakan dari surat kabar Medan Pos. Teori yang menjadi pendukung dalam penelitian ini antara lain Komunikasi, Komunikasi Massa, Surat Kabar, Berita dan teori Citra. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi yang bersifat kuantitatif, yaitu bertujuan untuk mengetahui perhatian surat kabar Medan Pos dalam memberitakan Kota Medan.
Dalam penelitian ini peneliti meneliti halaman depan surat kabar Harian Umum Medan Pos Edisi 01 Oktober-31 Oktober 2018 yang memberitakan seputar Kota Medan. Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan coding manual dan coding sheet. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan tabel deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan berita- berita mengenai pembentukan citra Kota Medan dalam media cetak Harian Umum Medan Pos, terdapat 5 tone berita bersifat negatif, 2 tone bersifat netral, dan 24 tone bersifat positif. Hasil uji reliabilitas terdapat berita negatif mendapatkan hasil 0,9, berita netral mendapatkan hasil 0,2, dan berita positif mendapatkan hasil 0,9, dapat dikatakan berita negatif dan positif dapat diterima karena hasil yang didapat di atas 0,7, sedangkan untuk berita netral ditolak karena mendapatkan hasil di bawah 0,7.
Kata kunci : Pembentukan Citra, Medan Pos, Berita,
Print Media’. The purpose of this study was to find out how the attention of this Medan post newspaper in reporting Medan city, Find out the type of news content about the cityof Medan in the postal field newspaper, find out the source of the news reported by the field postal newspaper, know the policies of the postal field newspaper. Theories that support this research include communication, mass communication, newspaper, news and image theory.This research uses quantitative content analysis method, wich aims ti find out the attention of the Medan post newspaper in reporting Medan city. In this study, researchers examined the front page of Medan post daily newspaper, 01 October-31October 2018nedition which reported about Medan city. Data collection techniques in this research are using manual coding and coding sheet. Data analysis techniques in this study used descriptive tables. The results of the research show that news about the formation of the image of the city of Medan in the daily print media of the postal terrain, there are 5 negative news tone, 2neutral tones news tones, and 24 positive news tone. The reliability test results contained negative news getting 0,9 results, neutral news getting 0,2 result, and positive news getting 0.9results, it can be said that negative and positive news can be accepted because the results obtained above 0.7, while for neutral news rejected because it gets results below 0.7.
Keywords : Image Formation, Medan Pos, News
HALAMAN JUDUL.
LEMBAR PERSETUJUAN ... i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 ManfaatPenelitian ... 6
BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Paradigma ... 8
2.1.1 Paradigma Positivisme ... 8
2.2 Penelitian Terdahulu ... 10
2.3 Kerangka Teori ... 11
2.3.1 Komunikasi ... 12
2.3.1.1 Pengertian Komunikasi ... 12
2.3.1.2 Fungsi Komunikasi ... 15
2.3.1.3 Tujuan Komunikasi ... 19
2.3.2 Komunikasi Massa ... 20
2.3.3 Surat Kabar ... 24
2.3.3.1 Pengertian Surat Kabar ... 24
2.3.3.2 Fungsi Surat Kabar ... 25
2.3.3.4 Ciri Surat Kabar ... 29
2.3.3.5 Sifat Surat Kabar ... 30
2.3.4 Berita ... 31
2.3.4.1 Pengertian Berita ... 31
2.3.4.2 Nilai Berita ... 33
2.3.4.3 Rumus Berita ... 37
2.3.5 Analisis Isi Kuantitatif ... 38
2.3.5.1 Pendekatan Analisis Isi ... 39
2.3.5.2 Kelebihan Dan Keterbatasan Analisis Isi ... 40
2.3.5.3 Tipe-Tipe Unit Analisis ... 41
2.4 Kerangka Konsep ... 44
2.5 Variabel Penelitian ... 45
3.3 Populasi dan Sampel ... 48
3.4 Hipotesis ... 49
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 49
3.6 Teknik Analisis Data ... 50
3.7 Reliabilitas Data ... 50
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 51
4.1.1 Tahapan Awal ... 51
4.1.2 Penelitian Dokumentasi ... 51
4.1.3 Penelitian Kepustakaan ... 51
4.2 Proses Pengolahan Data ... 52
4.2.1 Pengumpulan Data ... 52
4.2.2 Penyusunan Kategori ... 52
4.2.3 Proses Pengkodingan ... 52
4.2.4 Uji Reliabilitas ... 53
4.3 Hasil Penelitian ... 53
4.3.1 Berita Yang Bersifat Negatif ... 53
4.3.2 Berita Yang Bersifat Netral ... 55
4.3.3 Berita Yang Bersifat Positif ... 56
4.3.4 Hasil Uji Reliabilitas ... 62
4.4 Pembahasan ... 63
BAB V SIMPULAN 5.1 Simpulan ... 69
5.2 Saran ... 70
5.2.1 Saran Dalam Kaitan Akademis ... 70
5.2.2 Saran Dalam Kaitan Praktis ... 70
DAFTAR REFERENSI ... 71 LAMPIRAN
No Judul Halaman
4.1 Berita Yang Bersifat Negatif ... 54
4.2 Berita Yang Bersifat Netral ... 55
4.3 Berita Yang Bersifat Positif ... 57
4.4 Hasil Uji Reliabilitas ... 63
Nomor Judul Halaman
2.1 Kerangka Konsep Variabel Penelitian 21
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Konteks Masalah
Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu beradaptasi dengan lingkungannya, manusia membutuhkan informasi untuk memulai komunikasi dengan manusia lainya, informasi yang dibutuhkan manusia sangat beragam, mulai dari informasi olahraga, kuliner, tempat-tempat menarik dan juga informasi mengenai lingkungan yang ditinggalnya. Manusia perlu mencari informasi tersebut agar mengetahui bagaimana lingkungannya saat ini, bagaimana perkembangannya, dan apa saja permasalahan yang ada kotanya.
Komunikasi merupakan kebutuhan manusia yang sangat penting. Komunikasi dibutuhkan untuk memperoleh atau memberi informasi dari atau kepada orang lain.
Kebutuhan untuk mendapatkan informasi sangat meningkat, sehingga manusia membutuhkan alat komunikasi yang dapat digunakan kapanpun dan dimanapun mereka berada.
Komunikasi merupakan salah satu cara membuka pikiran untuk melangkah ke dalam dunia yang lebih maju dan kaya akan informasi. Informasi tersebut menjadi kebutuhan yang sangat esensial untuk berbagi tujuan. Dengan adanya informasi masyarakat dapat mengikuti peristiwa-peristiwa yang terjadi di seluruh dunia sehingga wawasan masyarakat bertambah, memperluas opini dan pandangan, serta dapat meningkatkan kedudukan dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Salah satu konteks komunikasi antar-manusia yang sangat besar peranannya dalam perubahan sosial atau masyarakat adalah komunikasi massa, komunikasi antar manusia yang memanfaatkan media (massa) sebagai alat komunikasi. Komunikasi massa tak dapat dilepaskan dari media massa dan massa sebagai kumpulan masyarakat yang jumlahnya banyak. Oleh karena itulah, peranan media massa sebagai penyalur pesan dan informasi menjadi objek kajian yang tak terhindarkan.
Komunikasi massa melibatkan jumlah komunikan yang banyak, tersebar dalam area
geografis yang luas, namun punya perhatian dan minat terhadap isu yang sama. Oleh karena itu, agar pesan dapat diterima serentak pada waktu yang sama, digunakan media massa, seperti surat kabar, majalah, radio, atau televisi.
Dengan media massa penyebaran informasi tidak hanya sangat luas, tetapi juga cepat dan serentak, selain itu media juga mempunyai kekuatan untuk membuat opini publik.
Salah satunya seperti media cetak, media cetak merupakan media dalam komunikasi massa. Meskipun industri media mengalami perkembangan, media cetak masih mendapat perhatian yang cukup besar dari khalayak hingga saat ini. Agar tidak kehilangan pembacanya, media cetak akan menyajikan berita-berita yang akurat dan mendalam dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Tidak semua peristiwa yang terjadi dalam masyarakat akan diberitakan oleh media. Hanya peristiwa-peristiwa yang menarik dan memiliki news value (nilai berita) yang akan diliput dan diberitakan oleh media.
Koran adalah medium massa utama bagi orang untuk memperoleh berita. Di sebagian besar kota, tak ada sumber berita yang bisa menyamai keluasan dan kedalaman berita koran. Koran mengandung isi yang amat beragam berita, saran, komik, opini, teka-teki silang, dan data. Semuanya ada untuk dibaca sekehendak hati.
Orang menyukai koran. Beberapa orang bersantai-santai atau berbincang-bincang di minggu pagi ditemani koran.
Di kota Kota Medan sendiri memiliki 10 jenis media cetak, seperti : Harian suara sumut, Harian Batak pos, Harian umum Medan Pos, Koran Profil, Harian umum Portibi, Harian Analisa, harian Hao bao daily,Harian Pos Kota Sumut, Pt. Media Warta Kencana (Analisa), Harian Umum Medan Pos (pemkomedan.go.id)
Kota Medan memiliki luas sekitar 26.510 hektar atau setara dengan 265,10 km².
Dengan kata lain, Kota Medan memiliki wilayah 3,6% dari keseluruhan Sumatera Utara. Bahasa yang kerap digunakan penduduk sehari-hari adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Batak, dan Bahasa Mandailing. Islam dan Kristen Protestan adalah agama yang dominan di kota ini. Setelahnya, secara berurutan adalah agama Katholik, Budha dan Hindu. Kota Medan, seperti halnya Indonesia secara umumnya,
memberikan kebebasan kepada setiap masyarakat untuk dapat melakukan ibadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
Dalam membangun suatu kota seperti halnya kota Medan dilakukan oleh banyak orang yang bekerja mebangun kota Medan seperti Pemerintah Kota Medan yang mempunyai visi: “Menjadi kota masa depan yang multikultural, berdaya saing, humanis, sejahtera dan religius”.
Dalam prestasi sendiri ditahun 2018 kota Medan mendapat tujuh prestasi/penghargaan:
1. Wali Kota Medan Drs. H.T Dzulmi Eldin S.MSi raih Anugerah Sahabat Waspada 2017. Anugerah ini dalam bentuk piagam penghargaan yang diserahkan langsung oleh Menteri Kominfo RI Rudiantara S.Stat., MBA, dalam rangka Hut ke 71 Harian Umum Waspada, di Hotel Arya Duta Medan.
(Rabu, 14/02).
2. Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan menerima penghargaan Anugerah Sumut Hebat versi harian Sumut24 di Ballroom Hotel Santika Dyandra.
(25/03)
3. Wali Kota Medan, Drs. H.T. Dzulmi Eldin S, M.Si menerima Piagam Penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia atas rekor menggelar Lomba Hias Poskamling Terbanyak. Penyerahan piagam dilakukan di lapangan eks Bandara Polonia,Selasa (4/9) pagi.
4. Pemerintah Kota Medan terima penghargaan dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara sebagai kota dengan Kinerja Kemandirian Fiskal Tertinggi tahun 2017 . (Jumat, 19/10)
5. BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Sumbagut beri penghargaan pada Wali Kota Medan. (Selasa, 23/10)
6. Wali Kota Medan terima penghargaan TOP 25 Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik diserahkan oleh Deputi Bidang Pelayanan Publik Prof.
DR. Diah Natalisa, MBA. Di Hotel Harmoni One Kota Batam. (Senin, 10/12)
7. Wali Kota Medan menerima penghargaan Gerakan Menuju 100 Smart City 2018 melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika RI di Tangerang Selatan. (14/12).
Pemerintah Kota Medan harus lah giat membangun sebuah citra agar masyarakat tau bagaimana kota tempat yang mereka tinggalkan saat ini, citra sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, citra berarti 1) rupa, gambar, gambaran; 2) gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi atau produk; 3) kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan. Sedang definisi kota sangat beragam berdasarkan sudut pandangnya. Namun secara umum kota adalah tempat bermukimnya warga kota, tempat bekerja, tempat kegiatan dalam bidang ekonomi, pemerintah dan lain-lain. Dengan demikian citra kota dapat diartikan sebagai kesan mental atau bayangan visual atau gambaran yang ditimbulkan oleh sebuah kota.
(Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diakeses dari http://kbbi.web.id/)
Penentuan citra untuk sebuah kota pada dasarnya dibentuk melalui proses mental masyarakat, dengan demikian citra kota tidak sepenuhnya direncanakan. Sekalipun direncanakan, citra yang dibentuk pada dasarnya untuk memperkuat atau memperjelas citra suatu kota. Tujuan dari dibentuknya citra kota adalah untuk mendukung peranan dan fungsi sebuah kota sebagai pelaksana utama untuk melakukan integrasi geografis sistem ekonomi, sosial, dan budaya suatu bangsa (Adisasmita, 2007).
Pemerintah merupakan sorotan utama bagi media. Masyarakat ingin pemerintah transparan dalam memberikan informasi. Tidak heran bila hampir setiap hari media massa menampilkan berita yang berhubungan dengan pemerintah. Rasa ingin tahu manusia terhadap hal-hal yang ada disekitarnya sangatlah besar. Meningkatnya kecerdasan masyarakat berarti meningkat pula sistem kritis dari masyarakat. Sikap itu ditandai dengan makin tumbuhnya keinginan masyarakat untuk mengetahui berbagai data dan informasi mengenai segala sesuatu yang mereka lihat melalui media yang ada.
Pemerintah Kota Medan merupakan kelompok sosial yang berhubungan erat dengan masyarakat. Segala kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Kota Medan
berdampak pada masyarakat, sebagai penentu kebijakan Pemerintah Kota Medan dalam menentukan kebijakan juga harus mempertimbangkan dampak kebijakan tersebut terhadap masyarakatnya. Disamping itu, sangat penting bagi Pemerintah Kota Medan untuk mendaptkan rasa kepercayaan dari publiknya.
Media massa sangat berperan dalam kehidupan masyarakat luas. Media massa bertumpu pada andalan teknologi pembagi pesan dengan menggunakan jasa industri untuk memperbanyak dan melipatgandakan pesan yang ada tersebut. Bantuan industri mengakibatkan berbagai pesan akan menjangkau khalayak dengan cara yang cepat serta tepat secara terus-menerus. Hal ini akan berfungsi mengatur hubungan antara komunikator dengan komunikan yang dilakukan secara serempak dan menjangkau berbagai titik-titik pemukiman manusia di muka bumi ini pada waktu yang sama.
Media massa terbagi dari media cetak dan media elektronik. Media cetak merupakan media massa pertama yang muncul, salah satu media cetak adalah surat kabar. Pada penelitian ini, penulis akan lebih membahas mengenai isi media massa tersebut, terkhusus surat kabar dalam menampilkan berita-berita mengenai Kota Medan.
Adapun disini peneliti, meneliti surat kabar Harian Umum Medan Pos yang merupakan salah satu surat kabar lokal di Kota Medan, terletak dijalan Perdana No.
107-109, Medan. Harian Umum Medan Pos mempunyai visi “Membela kebenaran dan keadilan”. Untuk rubric Harian Umum Medan Pos terdapat tujuh rubrik diantaranya: Rubrik Kota, Ragam ,Ekonomi,Daerah Politik,Infotainment dan sport, surat kabar ini terbit setiap hari.
Disini peneliti meneliti surat kabar Harian Umum Medan Pos periode Oktober 2018 dikarenakan pada bulan tersebut Kota Medan sendiri menjadi tuan rumah untuk acara MTQ musabaqah tilawatil quran Nasional yang di buka pada tanggal 07 Oktober 2018, karena acara ini pastilah banyak media yang akan memberitakan acara tersebut serta mengaitkan Kota Medan dalam pemberitaannya mengingat Kota Medan sebagai tuan rumah. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana pembentukan citra kota Medan di media Cetak surat kabar Harian Umum Medan Pos.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan konteks masalah yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah yang diteliti adalah :
1. Bagaimana perhatian surat kabar Harian Umum Medan Pos dalam memberitakan kota Medan edisi Oktober 2018 ?
2. Apa saja berita tentang kota Medan yang dimuat di surat kabar Harian Umum Medan Pos edisi Oktober 2018 ?
3. Siapakah yang menjadi sumber berita yang memberitakan kota Medan dalam surat kabar Harian Umum Medan Pos edisi Oktober 2018 ?
4. Apa kebijakan dari surat kabar Medan pos dalam memuat berita tentang Kota Medan ?
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan paparan yang sudah diuraikan di atas, adapun tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui perhatian surat kabar Medan Pos dalam memberitakan Kota Medan
2. Mengetahui jenis-jenis isi berita tentang Kota Medan yang dimuat di surat kabar Medan Pos
3. Mengetahui sumber berita yang diberitakan oleh surat kabar Medan Pos dalam memberitakan Kota Medan
4. Mengetahui kebijakan dari surat kabar Medan Pos dalam memuat berita Kota Medan.
1.4 Manfaat penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan peneliti dan pembaca mengenai pembentukan citra Kota Medan dalam media massa surat kabar Medan Pos edisi oktober 2018, melalui analisis isi.
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi refrensi bagi pembaca Medan pos, serta bagi mahasiswa mengenai analisis isi media massa
3. Secara Akademis penelitian ini dapat menjadi sumbangsih kepada program studi Ilmu Komunikasi FISIP USU beserta praktisi Ilmu Komunikasi lainnya, dalam bidang kajian pembentukan citra dimedia massa.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Paradigma
Paradigma Ilmu Sosial Paradigma merupakan kekuatan dasar yang mampu mempertahankan keberadaan sebuah ilmu pengetahuan. Paradigma pada wilayah riset penelitian sebenarnya merupakan seperangkat konstruksi cara pandang dalam menetapkan nilai-nilai dan tujuan penelitian serta memberikan arah tentang bagaimana pengetahuan harus didapat dan teori-teori apa yang seharusnya digunakan dalam sebuah penelitian. Pada hakikatnya, paradigma memberikan batasan-batasan tertentu apa yang harus dikerjakan, dipilih dan diprioritaskan dalam sebuah penelitian. Pada aspek lain, paradigma akan memberikan rambu-rambu tentang apa yang harus dihindari dan tidak digunakan dalam penelitian. Menurut sebuah analisis yang dikutip dari Bogdan dan Biklen (1982), paradigma meupakan kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian (dalam Narwaya, 2006: 110).
Paradigma ilmu komunikasi berdasarkan metodologi penelitiannya, menurut Dedy N. Hidayat (1999) yang mengacu pada pemikiran Guba dan Lincoln (1994) ada tiga paradigma: (1) paradigma klasik yang mencakup positivisme dan postpositivisme (2) paradigma kritis dan (3) paradigma konstruktivisme (dalam Bungin, 2008: 237)
2.1.1 Paradigma Positivisme
August Comte (1798-1857) adalah filsuf yang mempelopori kemunculan aliran filsafat postivisme. Positivisme mendominasi wacana ilmu pengetahuan pada awal abad 20-an dengan menetapkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh ilmu- ilmu manusia ataupun alam untuk disebut sebagai ilmu pengetahuan yang benar.
Demi terpenuhinya, kriteria-kriteria tersebut, maka ilmu-ilmu harus memiliki pandangan dunia positivistik sebagai berikut: pertama, objektif. Teori-teori tentang semesta haruslah bebas nilai.
Kedua, fenomenalisme. Ilmu pengetahuan hanya membicarakan tentang semesta yang teramati. Ketiga, reduksionisme. Semesta direduksi menjadi fakta-fakta keras yang dapat diamati. Keempat, naturalisme. Alam semesta adalah objek-objek yang bergerak secara mekanis seperti bekerjanya jam. Positivisme memiliki pengaruh yang amat kuat terhadap berbagai disiplin ilmu bahkan sampai dewasa ini (Bungin, 2008:10).
Ketika para peneliti komunikasi pertama kali berkeinginan meneliti dunia sosial secara sistematis, mereka menggunakan ilmu pengetahuan fisik sebagai model.
Kelompok ilmu yang tergolong dalam ilmu pengetahuan fisik meyakini positivisme sebagai suatu pandangan bahwa ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui fenomena yang empiris, dapat diamati dan diukur serta diuji dengan metode ilmiah.
Akan tetapi, manusia bukanlah seperti gelas kimia yang berisi air. Akibatnya, para ilmuwan sosial berkomitmen dengan praktik metode ilmiah yang menggunakan teori postpositivis, yaitu teori yang didasarkan pada pengamatan empiris yang diarahkan oleh metode ilmiah, tetapi menyadari bahwa manusia dan perilaku manusia tidak sekonstan elemen yang ada didunia fisik (Davis dkk, 2010 :14).
Dalam memandang suatu wacana dari segi bahasa menurut Moh. A.S. Hikam, paradigma positivisme dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa dan pengertian bersama dan diukur kebenaran/ketidakbenarannya terhadap sintaksis dan semantik. Selain itu pandangan positivisme juga menganggap bahwa media adalah saluran pertukaran pesan dan berita adalah cerminan dan refleksi dari kenyataan. Karena itu berita haruslah sama dan sebangun dengan fakta yang dipilihnya, opini dan pandangan subjektif dari pembuat berita harus disingkirkan.
Wartawan berperan sebagai pelapor sehingga berita yang diterima pada tangan pembaca sama dengan apa yang dimaksudkan dengan pembuat berita (Eriyanto, 2001: 60 )
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian-penelitian terdahulu sangat penting dan menjadi acuan bagi peneliti dalam melakukan penelitian yang dilakukan. Penelitian terdahulu menjadi salah satu sumber informasi sejauh mana perkembangan penelitian yang telah dilakukan terkait topik yang diteliti. Peneliti mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi untuk memperkaya bahan penelitian, antara lain:
Sebuah penelitian yang dilakukan. Oleh Rika Ni‟matussholikhah pada tahun 2017 dengan judul keberimbangan berita dalam media siber analisis isi berita konflik pilkada Lampung periode Desember 2015 di saibumi.com. penelitian ini bertujuan untuk Penelitian ini berusaha mengungkap bagaimana keberimbangan diterapkan dalam berita di media siber. Dengan mengambil sampel 21 berita konflik Pilkada Lampung selama Desember 2015, peneliti memilih Saibumi.com sebagai media yang diteliti. Adapun penelitian ini menggunakan metode analisis isi kuantitatif dengan menggunakan uji validitas expert. Sementara, uji reliabilitas dilakukan dengan formula uji reliabilitas antarkoder dari Ole R Holsty.
Hasil yang didapat dari penelitian tersebut menunjukkan, diketahui terdapat tiga kelompok berita dengan tingkat keberimbangan tinggi dan satu kelompok berita dengan tingkat keberimbangan rendah. Di sisi lain, dari tujuh kategori keberimbangan yang ditetapkan, ada lima kategori yang diterapkan dengan baik. Sementara, dua kategori lainnya seringkali tidak muncul di dalam kelompok-kelompok berita di Saibumi.com. Sehingga berdasarkan temuan tersebut, disimpulkan bahwa sebagian besar berita-berita di Saibumi.com sudah berimbang, namun masih terdapat beberapa berita yang belum cukup berimbang.
Berikutnya adalah penelitian dari Chairul Shaleh Hutabarat pada tahun 2017 dengan judul analisis isi pemberitaan harian Tribun Medan tentang menjaga lingkungan hidup di Kota Medan. Penelitian ini bertujuan, mendeskripsikan profil isi pemberitaan lingkungan pada surat kabar Tribun Medan tentang lingkungan di Kota Medan. Mendeskripsikan intensitas dan kualitas pemberitaan pada surat kabar Tribun Medan tentang lingkungan di Kota Medan. Mendeskripsikan implikasi berita terhadap kebijakan pengelolaan lingkungan di Kota Medan. Penelitian mengenai
analisis isi pemberitaan media massa tentang lingkungan hidup dan implikasinya terhadap kebijakan pengelolaan lingkungan di Kota Medan ini dilakukan dengan strategi triangulasi yaitu menggabungkan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif dengan cara mengintegrasikan metode analisis isi (content analysis) kuantitatif dengan teknik wawancara mendalam. Menggunakan metode analisis isi kuantitatif yang bersifat ex post facto, data dikumpulkan dari kejadiankejadian yang telah berlangsung atau sudah terjadi. Dalam hal ini yang diteliti adalah berita-berita yang telah diterbitkan berkaitan dengan lingkungan yang ditulis di surat harian Tribun Medan di Kota Medan.
Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukkan surat kabar Tribun Medan sangat tertarik dengan isu-isu lingkungan yang bertemakan dampak lingkungan.
Tulisan-tulisan ini mendominasi berita-berita yang ditulis Tribun Medan. Sementara itu Tribun Medan juga lebih menyukai berita lingkungan bertema kebijakan lingkungan. Pada urutan berikutnya berita lingkungan yang paling sering muncul adalah yang bertemakan hukum lingkungan. Secara umum berita yang mengangkat isu dampak lingkungan menunjukkan trend paling diminati oleh surat kabar Tribun Medan.
2.3 Kerangka Teori
Setiap penelitian/riset membutuhkan keabsahan landasan berfikir sebagai pemandu atau tolak ukur dalam memecahkan persoalan. Untuk itu, perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana masalah penelitian akan dikemukakan (dalam Nawawi, 2001:39). Teori merupakan salah satu instrumen penting dalam suatu penelitian ilmiah, kegunaan teori menurut Littlejhon dan Foss adalah untuk membantu peneliti memahami sebuah fenomena.
2.3.1 Komunikasi
2.3.1.1 Pengertian Komunikasi
Komunikasi terjadi sejak manusia hidup lebih dari seorang karena komunikasi merupakan sarana interaksi manusia. Tidak mungkin ada interaksi tanpa komunikasi, baik dengan cara sederhana maupun dengan sarana canggih, bahkan kelompok hewan juga berkomunikasi dengan sesamanya menggunakan bahasa yang mereka mengerti.
Sebagai contoh di masa lalu, suku Indian memakai asap sebagai saran komunikasi jarak jauh, sedangkan beberapa suku di berbagai belahan dunia meniru suara yang ada di sekitarnya, seperti suara burung untuk memberi tanda tentang sesuatu. Sistem komunikasi seperti itu sering dikatakan sebagai bahasa isyarat (Mondry, 2008: 1).
Istilah komunikasi (communication) berasal dari kata: common, yang berarti
“sama”, dengan maksud sama makna, sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa komunikasi merupakan proses menyamakan persepsi, pikiran dan rasa antara komunikator dengan komunikan (Mondry, 2008:1).Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Ia ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini memaksa manusia perlu berkomunikasi (Cangara, 2006:1).
Banyak pakar menilai bahwa komunikasi adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Sebuah definisi yang dibuat oleh kelompok sarjana komunikasi yang mengkhususkan diri pada studi komunikasi antarmanusia (human communication) bahwa:
“Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (1) membangun hubungan antarsesama manusia (2) melalui pertukaran informasi (3) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain (4) serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu” (Cangara, 2006:18-19).
Seperti pendapat Everett M. Rogers seorang pakar Sosiologi Pedesaan Amerika dalam (Cangara, 2006:19) yang telah banyak memberi perhatian pada studi riset komunikasi, khususnya dalam hal penyebaran inovasi membuat definisi bahwa:
Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
Dalam suatu komunikasi harus ada unsur komunikasi di dalam nya. Supaya proses komunikasi berlangsung baik, setiap unsur harus berperan dengan baik. Salah satu saja dari unsur komunikasi tersebut tidak berjalan dengan baik, tentu komunikasi tersebut akan terganggu. Unsur-unsur komunikasi tersebut adalah (Cangara 2006: 22- 27) :
a. Sumber
Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Sumber sering disebut pengirim, komunikator, atau source, sender, atau encoder.
b. Pesan
Pesan (message, content, atau information) yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima.
Pesan dapat disampaikan melalui tatap muka atau melalui media komunikasi.
c. Media
Media yang dimaksud disini adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Dalam komunikasi antarpribadi pancaindra dianggap sebagai media komunikasi. Selain pancaindra manusia, telepon, surat, telegram juga digolongkan sebagai media komunikasi antarpribadi. Dalam komunikasi massa media komunikasi dapat dibedakan kedalam dua macam, yakni media cetak dan media media elektronik. Media cetak bisa berupa surat kabar, majalah, buku, leaflet, brosur, stiker, buletin, hand out, poster, spanduk, dan sebagainya. Sementara media elektronik dapat berupa radio, film, televisi, video recording, komputer, dan sebagainya.
d. Penerima
Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber.
Penerima bisa terdiri satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok,
partai, atau negara. Penerima biasa disebut dalam berbagai istilah seperti khalayak, sasaran, komunikan, audience atau reciever.
e. Pengaruh
Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap, dan tingkah laku seseorang.oleh karena itu, pengaruh bisa juga diartikan perubahan atau penguatan keyakinan pada pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang sebagai akibat penerima pesan.
f. Tanggapan balik
Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah salah satu bentuk daripada pengaruh yang berasal dari penerima. Akan tetapi sebenarnya umpan balik bisa juga berasal dari unsur lain seperti pesan dan media, meski pesan belum sampai pada penerima.
g. Lingkungan
Lingkungan atau sesuatu ialah faktor-faktor tertentu yang dapat memengaruhi jalannya komunikasi. Faktor ini dapat digolongkan atas empat macam, yakni lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya, lingkungan psikologis, dan dimensi waktu.
Komunikasi antarmanusia hanya bisa terjadi jika ada seseorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan tertentu, artinya komunikasi hanya bisa terjadi kalau didukung oleh adanya sumber, pesan, media, penerima dan efek. Unsur-unsur ini bisa juga disebut komponen atau elemen komunikasi (Cangara, 2006:21)
Terdapat beberapa macam pandangan tentang banyaknya unsur atau elemen yang mendukung terjadinya komunikasi. Ada yang menilai bahwa terciptanya proses komunikasi, cukup didukung oleh tiga unsur, sementara ada juga yang menambahkan umpan balik dan lingkungan selain kelima unsur yang telah disebutkan (Cangara, 2006:21).
2.3.1.2 Fungsi Komunikasi
Menurut Verderber (1978) dalam (Mondry, 2008:9) mengemukakan:
“Komunikasi itu memiliki dua fungsi; meliputi fungsi sosial dan pengambilan keputusan. Fungsi sosial bertujuan untuk kesenangan, menunjukkan ikatan, membangun dan memelihara hubungan dengan orang lain. Pengambilan keputusan adalah berupa memutuskan melakukan atau tidak melakukan sesuatu pada saat tertentu, misalnya apakah dirinya harus kuliah atau bekerja di pagi ini, bagaimana mempersiapkan diri menghadapi ujian di kampus atau tes promosi pekerjaan dikantor. Keputusan yang diambil seseorang sebagian ditetapkannya sendiri, sebagian lagi diputuskan setelah orang itu berkonsultasi/ membicarakannya dengan orang lain”
Menurut Zimmerman (1978) dalam (Mondry, 2008:10) membagi komunikasi menjadi empat fungsi yang tidak saling meniadakan, meliputi komunikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual dan komunikasi instrumental. Fungsi komunikasi menurut (Effendy, 2003:55) adalah menginformasikan (to inform), mendidik (to educate), menghibur (to entertaint) dan mempengaruhi (to influence).
William I. Gorden (dalam Deddy Mulyana, 2005:5-30) mengkategorikan fungsi komunikasi menjadi empat, yaitu:
1. Sebagai komunikasi sosial
Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang bersifat menghibur, dan memupuk hubungan hubungan orang lain. Melalui komunikasi kita bekerja sama dengan anggota masyarakat (keluarga, kelompok belajar, perguruan tinggi, RT, desa,negara secara keseluruhan) untuk mencapai tujuan bersama.
a. Pembentukan konsep diri. Konsep diri adalah pandangan kita mengenai diri kita, dan itu hanya bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Melalui komunikasi dengan orang lain kita belajar
bukan saja mengenai siapa kita, namun juga bagaimana kita merasakan siapa kita. Anda mencintai diri anda bila anda telah dicintai; anda berpikir anda cerdas bila orang-orang sekitar anda menganggap anda cerdas; anda merasa tampan atau cantik bila orang-orang sekitar anda juga mengatakan demikian. George Herbert Mead (dalam Jalaluddin Rakhmat, 1994) mengistilahkan significant others (orang lain yang sangat penting) untuk orang-orang disekitar kita yang mempunyai peranan penting dalam membentuk konsep diri kita. Ketika kita masih kecil, mereka adalah orang tua kita, saudara-saudara kita, dan orang yang tinggal satu rumah dengan kita. Richard Dewey dan W.J. Humber (1966) menamai affective others, untuk orang lain yang dengan mereka kita mempunyai ikatan emosional.
Dari merekalah, secara perlahan-lahan kita membentuk konsep diri kita.
Selain itu, terdapat apa yang disebut dengan reference group (kelompok rujukan) yaitu kelompok yang secara emosional mengikat kita, dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Dengan melihat ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan dirinya dengan ciri- ciri kelompoknya. Kalau anda memilih kelompok rujukan anda Ikatan Dokter Indonesia, anda menjadikan norma-norma dalam Ikatan ini sebagai ukuran perilaku anda. Anda juga meras diri sebagai bagian dari kelompok ini, lengkap dengan sifat-sifat doketer menurut persepsi anda.
b. Pernyataan eksistensi diri. Orang berkomunikasi untuk menunjukkan dirinya eksis. Inilah yang disebut aktualisasi diri atau lebih tepat lagi pernyataan eksistensi diri. Fungsi komunikasi sebagai eksistensi diri terlihat jelas misalnya pada penanya dalam sebuah seminar. Meskipun mereka sudah diperingatkan moderator untuk berbicara singkat dan langsung ke pokok masalah, penanya atau komentator itu sering berbicara panjang lebarm mengkuliahi hadirin, dengan argumen-argumen yang terkadang tidak relevan.
c. Untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan, dan memperoleh kebahagiaan. Sejak lahir, kita tidak dapat hidup sendiri untuk
mempertahankan hidup. Kita perlu dan harus berkomunikasi dengan orang lain, untuk memenuhi kebutuhan biologis kita seperti makan dan minum, dan memnuhi kebutuhan psikologis kita seperti sukses dan kebahagiaan.
Para psikolog berpendapat, kebutuhan utama kita sebagai manusia, dan untuk menjadi manusia yang sehat secara rohaniah, adalah kebutuhan akan hubungan sosial yang ramah, yang hanya bisa terpenuhi dengan membina hubungan yang baik dengan orang lain. Abraham Moslow menyebutkan bahwa manusia punya lima kebutuhan dasar: kebutuhan fisiologis, keamanan, kebutuhan sosial, penghargaan diri, dan aktualisasi diri. Kebutuhan yang lebih dasar harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum kebuthan yang lebih tinggi diupayakan. Kita mungkin sudah mampu kebuthan fisiologis dan keamanan untuk bertahan hidup. Kini kita ingin memenuhi kebutuhan sosial, penghargaan diri, dan aktualisasi diri.
Kebutuhan ketiga dan keempat khususnya meliputi keinginan untuk memperoleh rasa lewat rasa memiliki dan dimiliki, pergaulan, rasa diterima, memberi dan menerima persahabatan. Komunikasi akan sangat dibutuhkan untuk memperoleh dan memberi informasi yang dibutuhkan, untuk membujuk atau mempengaruhi orang lain, mempertimbangkan solusi alternatif atas masalah kemudian mengambil keputusan, dan tujuantujuan sosial serta hiburan.
2. Sebagai komunikasi ekspresif
Komunikasi berfungsi untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan tersebut terutama dikomunikasikan melalui pesan-pesan nonverbal. Perasaan sayang, peduli, rindu, simpati, gembira, sedih, takut, prihatin, marah dan benci dapat disampaikan lewat kata-kata, namun bisa disampaikan secara lebih ekpresif lewat perilaku nonverbal.
Seorang ibu menunjukkan kasih sayangnya dengan membelai kepala anaknya.
Orang dapat menyalurkan kemarahannya dengan mengumpat, mengepalkan tangan seraya melototkan matanya, mahasiswa memprotes kebijakan penguasa negara atau penguasa kampus dengan melakukan demontrasi.
3. Sebagai komunikasi ritual
Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dan sepanjang hidup, yang disebut para antropolog sebagarites of passage, mulai dari upacara kelahiran, sunatan, ulang tahun, pertunangan, siraman, pernikahan, dan lain-lain. Dalam acara-acara itu orang mengucapkan kata-kata atau perilaku-perilaku tertentu yang bersifat simbolik.
Ritus-ritus lain seperti berdoa (salat, sembahyang, misa), membaca kitab suci, naik haji, upacara bendera (termasuk menyanyikan lagu kebangsaan), upacara wisuda, perayaan lebaran (Idul Fitri) atau Natal, juga adalah komunikasi ritual. Mereka yang berpartisipasi dalam bentuk komunikasi ritual tersebut menegaskan kembali komitmen mereka kepada tradisi keluarga, suku, bangsa.
Negara, ideologi, atau agama mereka.
4. Sebagai komunikasi instrumental
Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum, yaitu:
menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap, menggerakkan tindakan, dan juga menghibur. Sebagai instrumen, komunikasi tidak saja kita gunakan untuk menciptakan dan membangun hubungan, namun juga untuk menghancurkan hubungan tersebut. Studi komunika membuat kita peka terhadap berbagai strategi yang dapat kita gunakan dalam komunikasi kita untuk bekerja lebih baik dengan orang lain demi keuntungan bersama.
Komunikasi berfungsi sebagi instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan, baik tujuan jangka pendek ataupun tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendek misalnya untuk memperoleh pujian, menumbuhkan kesan yang baik, memperoleh simpati, empati, keuntungan material, ekonomi, dan politik, yang antara lain dapat diraih dengan pengelolaan kesan (impression management), yakni taktik-taktik verbal dan nonverbal, seperti berbicara sopan, mengobral janji, mengenakankan pakaian necis, dan sebagainya yang pada dasarnya untuk menunjukkan kepada orang lain siapa diri kita seperti yang kita inginkan.
Sementara itu, tujuan jangka panjang dapat diraih lewat keahlian komunikasi, misalnya keahlian berpidato, berunding, berbahasa asing ataupun keahlian menulis. Kedua tujuan itu (jangka pendek dan panjang) tentu saja saling berkaitan dalam arti bahwa pengelolaan kesan itu secara kumulatif dapat digunakan untuk mencapai tujuan jangka panjang berupa keberhasilan dalam karier, misalnya untuk memperoleh jabatan, kekuasaan, penghormatan sosial, dan kekayaan.
Berkenaan dengan fungsi komunikasi ini, terdapat beberapa pendapat dari para ilmuwan yang bila dicermati saling melengkapi. Misal pendapat Onong Effendy (1994), ia berpendapat fungsi komunikasi adalah menyampaikan informasi, mendidik, menghibur, dan mempengaruhi.
Sedangkan Harold D Lasswell (dalam Nurudin, 2004 dan Effendy, 1994:27) memaparkan fungsi komunikasi sebagai berikut:
1. Penjajagan/pengawasan lingkungan (surveillance of the information) yakni penyingkapan ancaman dan kesempatan yang mempengaruhi nilai masyarakat.
2. Menghubungkan bagian-bagian yang terpisahkan dari masyarakat untuk menanggapi lingkungannya .
3. Menurunkan warisan sosial dari generasi ke generasi berikutnya.
2.3.1.3 Tujuan Komunikasi
Manusia berkomunikasi untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, membangun kontak sosial dengan orang-orang di sekitarnya, juga untuk memengaruhi orang lain, untuk merasa, berpikir atau berperilaku seperti yang diinginkan. Akan tetapi, secara individu, tujuan seseorang berkomunikasi adalah guna mengendalikan lingkungan fisik dan psikologis dirinya (Mondry, 2008:9).
Dalam berkomunikasi, tidak hanya untuk memahami dan mengerti satu dengan yang lainnya tetapi juga memiliki tujuan dalam berkomunikasi. Pada umumnya komunikasi mempunyai beberapa tujuan antara lain (Effendy, 1992:8) :
a. Untuk mengubah sikap (to change attitude), yakni memberikan berbagai informasi kepada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat akan mengubah sikapnya. Misalnya, memberikan informasi mengenai bahaya narkoba pada masyarakat dan remaja khususnya dengan tujuan agar masyarakat dan remaja menjadi tahu bahaya narkoba.
b. Untuk mengubah opini (to change the opinion), yakni memberikan berbagai informasi kepada mayarakat agar masyarakat mau mengubah pendapat dan persepsinya terhadap tujuan informasi yang disampaikan, misalnya informasi mengenai pemilu.
c. Untuk mengubah perilaku (to change the behavior), yaitu memberikan berbagai informasikepada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat akan mengubah perilakunya. Misalnya informasi yang diberikan oleh Pihak Kepolisian kepada masyarakat pengguna sepeda motor agar selalu menggunakan helm selama berkendara untuk keselamatan pengguna itu sendiri.
d. Untuk mengubah masyarakat (to change the society), yaitu memberikan berbagai informasi kepada masyarakat, yang pada akhirnya bertujuan agar masyarakat mau mendukung dan ikut serta terhadap tujuan informasi yang disampaikan.
2.3.2 Komunikasi Massa
Pengertian komunikasi massa, merujuk kepada pendapat Tan dan Wright dalam Liliweri 1991, merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu (Ardianto, 2004:3). Komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi melalui media massa modern, yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi yang luas, siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum, dan film yang dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop (Effendy, 2003:79).
Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak dan elektronik). Komunikasi massa berasal dari pengembangan kata media of mass communication (media komunikasi massa). Massa dalam arti komunikasi massa lebih menunjuk pada penerima pesan yang berkaitan dengan media massa. Massa di sini menunjuk kepada khalayak, audience, penonton, pemirsa atau pembaca. Beberapa istilah ini berkaitan dengan media massa (Nurudin, 2004:2- 3).
Meskipun berbeda-beda, ternyata komunikasi massa memiliki kesamaan, walau terdapat perbedaan antara ahli psikologi sosial dengan ahli komunikasi dalam masalah komunikasi tersebut. Ahli psikologi sosial mengatakan, komunikasi massa tidak selalu dengan menggunakan media massa. Berpidato di lapangan yang disaksikan banyak orang, asal dapat menunjukkan perilaku massa (mass behaviour), sudah dapat dikatakan komunikasi massa. Namun, ahli komunikasi juga berpendapat bahwa komunikasi massa (mass communication) merupakan komunikasi melalui media massa (cetak dan atau elektronik).
Jelasnya, komunikasi massa bagi ahli komunikasi merupakan singkatan dari komunikasi media massa (mass media communication) (Mondry, 2008:13).
“Ketika menjelaskan pendapat Harold Lasswell tentang fungsi komunikasi massa, Severin dan kawan-kawannya mengatakan begini; Harold Lasswell adalah seorang pakar komunikasi, dan sebagai seorang profesor hukum di Universitas Yale telah menunjukkan adanya tiga fungsi komunikasi massa yaitu, pertama adalah fungsi pengawasan lingkungan; yang kedua adalah fungsi korelasi atau hubungan berbagai bagian di dalam masyarakat dalam menanggapi lingkungannya; sedangkan ketiga adalah fungsi transmisi/pewarisan-pewarisan sosial dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Sementara itu, Charles R. Wright menambahkan satu lagi fungsi komunikasi massa yaitu fungsi hiburan (entertainment) (Fajar, 2009: 238)”.
Seperti pendapat Devito yang dikutip oleh Marhaeni Fajar, mengatakan popularitas dan pengaruh yang merasuk dari media massa hanya dapat dipertahankan apabila mereka menjalankan beragam fungsi pokok. Enam di antara fungsi yang paling penting yang dibahasnya adalah sebagai berikut:
1. Fungsi Menghibur
Devito menyebutkan, bahwa media mendesain program-program mereka untuk menghibur khalayak. Tentu saja, sebenarnya mereka memberi hiburan untuk mendapatkan perhatian dari khalayak sebanyak mungkin sehingga mereka dapat menjual hal ini kepada para pengiklan. Inilah sebab utamanya adanya komunikasi massa.
2. Fungsi Meyakinkan
Meskipun fungsi media yang paling jelas adalah menghibur, namun fungsinya yang terpenting adalah meyakinkan (to persuade). Persuasi dapat datang dalam banyak bentuk, misalnya: a) Mengukuhkan atau memperkuat sikap kepercayaan atau nilai seseorang, b) mengubah sikap, kepercayaan atau nilai seseorang; c) Menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu, dan d) Memperkenalkan etika atau menawarkan sistem nilai tertentu.
3. Menginformasikan
Menurut Devito, sebagian besar informasi, kita dapatkan bukan dari sekolah, melainkan dari media. Kita belajar musik, politik, seni, film, sosiologi, psikologi, ekonomi dan masih banyak lagi subjek lainnyadari media.
4. Menganugerahkan Status
Daftar seratus orang terpenting di dunia bagi kita hampir boleh dipastikan berisi nama-nama orang yang banyak dimuat dalam media. Tanpa pemuatan orang-orang tersebut tentulah tidak penting, setidak-tidaknya di mata masyarakat. Paul Lazarsfeld dan Robert Merton, dalam karya mereka yang berpengaruh “Mass Communication, Popular Taste, and Organized Social Action” (1951), mengatakan;
“jika Anda benar-benar penting, Anda akan menjadi pusat perhatian massa dan jika Anda menjadi pusat perhatian massa, berarti Anda memang penting”.
Sebaliknya tentu saja, jika Anda tidak mendapatkan perhatian massa, maka Anda tidak penting.
5. Fungsi Membius
Salah satu fungsi media yang paling menarik dan paling banyak dilupakan adalah fungsi membiusnya (narcotizing). Ini berarti bahwa apabila media menyajikan informasi tentang sesuatu, penerima percaya bahwa tindakan tertentu telah diambil.
6. Menciptakan Rasa Kebersatuan
Salah satu fungsi komunikasi massa yang tidak banyak orang menyadarinya adalah kemampuannya membuat kita merasa menjadi anggota suatu kelompok bayangkanlah seorang pemirsa televisi yang sedang sendirian, duduk dikamarnya menyaksikan televisi sambil menikmati makan malam.
Program-program televisi membuat orang yang kesepian ini merasa menjadi anggota sebuah kelompok yang lebih besar (Fajar, 2009: 238-243).
Banyak pakar yang mengemukakan tentang sejumlah fungsi komunikasi, kendati dalam setiap item fungsi terdapat persamaan dan perbedaan. Fungsi komunikasi massa bagi masyarakat menurut Dominick (dalam Ardianto, 2004:15) terdiri dari surveillance (pengawasan), interpretation (penafsiran), linkage (keterkaitan), transmission of values (penyebaran nilai) dan entertainment (hiburan).
Komunikasi massa berfungsi untuk menyebarluaskan informasi, meratakan pendidikan, merangsang pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan kegembiraan dalam hidup seseorang. Selaku ketua komisi masalah-masalah\ komunikasi UNESCO (1980), Sean MacBride mengemukakan bahwa komunikasi tidak bisa diartikan sebagai pertukaran berita dan pesan, tetapi juga sebagai kegiatan individu dan kelompok mengenai pertukaran data, fakta, dan ide. Komunikasi memiliki banyakk fungsi (Cangara, 2006 :57-58), diantaranya adalah :
1. Informasi 2. Sosialisasi 3. Motivasi 4. Bahan diskusi 5. Pendidikan
6. Memajukan kebudayaan