HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Timor Barat Letak Geografi
Timor Barat termasuk daerah di daratan Timor, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan luas wilayah 47 350 Km terletak antara 12-180 Lintang Selatan (LS) dan 118-1250 Bujur Timar (BT). Propinsi ini merupkan wilayah kepulauan yang terdiri atas 156 pulau dengan tiga buah pulau besar yakni pulau Timor, Flores, Sumba dan terdapat pulau-pulau kecil di sekitarnya. Timor Barat khususnya terdapat di pulau Timor dengan batas-batasnya sebagai berikut: sebelah utara dan barat berbatasan dengan laut Sawu, sebelah selatan berbatasan dengan samudera Hindia dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan negara Timor Leste. Permukaan tanah umumnya berbukit-bukit, bergunung-gunung dan sebagian terdiri atas dataran rendah dengan tingkat kemiringan rata-rata mencapai 450 dan berada pada ketinggian 0-500 meter dari permukaan laut (Kabupaten Kupang Dalam Angka 2007).
Timor Barat mempunyai tiga fisiografi perbukitan dengan kelerengan lahan melebihi 8% yakni permukaan berbukit sampai bergunung yang meliputi 85.6%, fisiografi alluvial dengan kelerengan lahan 0-8%, fisiografi pasang surut dengan kelerengan lahan < 3%. Oleh karena sebagian besar lahan di Timor Barat mempunyai kelerengan sebesar 8% maka prioritas pemanfaatan lahan dan alternatif komoditas diarahkan untuk pengembangan kehutanan, tanaman tahunan dan wanatani termasuk pakan ternak.
Iklim
Timor Barat memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Hal ini disebabkan karena arah angin yang berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan terjadinya musim kemarau pada bulan Juni - September, sebaliknya pada bulan Desember-Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari samudera Asia dan Pasifik sehingga terjadi musim hujan. Keadaan ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April-Mei dan Oktober-Nopember. Timor Barat sangat dekat dengan Australia, dimana arus angin yang banyak mengandung uap air
berasal dari Asia dan Samudera Pasifik, kandungan uap airnya sudah berkurang, sehingga Timor Barat tergolong sebagai wilayah yang kering dimana hanya terdapat 3-4 bulan basah dan 8 bulan sisanya relatif kering. Pada umumnya wilayah bagian selatan (Pulau Timor dan Sumba) lebih kering dari bagian utara (Pulau Flores) (Kabupaten Kupang dalam Angka 2007). Nulik dan Bamualim (1998) mengemukakan bahwa pada umumnya NTT mempunyai pola curah hujan tunggal dimana puncak musim hujan hanya terjadi sekali dalam setahun.
Suhu udara maksimum berkisar antara 30-360 Celcius (C), minimum antara 210-24.50 C dan curah hujan rata-rata adalah 1.164 mm/tahun. Tingkat
curah hujan ini berbeda-beda antara daerah yang satu dengan yang lain, seperti wilayah Flores bagian barat, yang meliputi Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Ngada, merupakan daerah yang cukup basah, hal ini disebabkan curah hujan rata-ratanya lebih tinggi dari rata-rata total, yaitu 3.849 mm/tahun. Daerah dengan kondisi demikian dapat dikatakan sebagai daerah yang sangat cocok untuk pengembangan kawasan pertanian dan perkebunan karena salah satu unsur penting pembentuk iklim adalah curah hujan. Curah hujan di Timor Barat sangat bervariasi dan umumnya sulit untuk diramalkan datangnya hujan dan mulainya bulan kering, kadang-kadang terlalu cepat dan juga terlalu lambat (Kabupaten Kupang dalam Angka 2007).
Sebagian besar wilayah di NTT adalah lebih cocok untuk padang penggembalaan ternak dibanding dengan usaha pertanian lainnya (Bamualim dan Wirdahayati 2001). Selanjutnya dikatakan bahwa tipe tanah di NTT adalah tipe bobonaro clay tidak cocok untuk mengembangkan sistem pertanian yang intensif namun tanah tersebut cocok untuk dijadikan sebagai padang penggembalaan ternak.
Usaha Peternakan Sapi Bali di Timor Barat
Sapi Bali telah di kembangkan di Timor Barat sejak tahun 1915 yang diimpor dari Pulau Bali. Sapi Bali terus berkembang hingga saat ini dan menempati populasi terbanyak, dengan demikian Timor Barat dikenal sebagai sentra produksi sapi potong. Timor Barat sebagai sentra produksi sapi potong pernah mengekspor ternak sapi Bali ke negara tetangga seperti Hongkong dan Singapura pada tahun 1960-1970 an, namun setelah melewati masa tersebut ada
larangan dari pemerintah untuk tidak lagi mengekspor sapi Bali ke negara tetangga karena terjadi peningkatan permintaan dalam negeri, seleksi negatif, serta pola peternakan yang ada di masyarakat yang didominasi oleh sistem pemeliharaan ekstensif tradisional sehingga laju peningkatan suplay lebih kecil dibanding dengan laju permintaan pasar (Kondi 2004). Penyebab lain adalah terjadinya pengurasan terhadap populasi ternak di mana ternak betina dipotong untuk konsumsi pasar lokal. Peternakan merupakan bagian penting dari perekonomian regional, beberapa alasan yang mendasari petani untuk beternak sapi yaitu status sosial, tenaga kerja, tabungan dan penghasil uang (Bamualim dan Wirdahayati 2001).
Manajemen Pemeliharaan Ternak sapi Bali di Timor Barat Sistem Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan ternak sapi di pulau Timor khususnya Timor Barat bervariasi namun didominasi oleh pemeliharaan secara ekstensif dan semi-ekstensif. Hal ini dilakukan karena Timor Barat memiliki padang penggembalaan yang relatif luas. Hasil penelitian Lawa (2006) bahwa ternak sapi Bali dipelihara oleh masyarakat hampir di semua desa, hal ini disebabkan tersedianya sumber daya alam yang cukup menunjang diantaranya ketersediaan pakan yang beragam seperti lamtoro, turi, gamal, dan hijauan lainnya sebagai sumber pakan yang tersedia secara lokal. Selain itu juga disebabkan kondisi sosial budaya masyarakat tani yang sudah terbiasa memelihara ternak secara turun-temurun. Hasil penelitian Sobang (1997) bahwa usaha penggemukkan sapi di kawasan Timor Barat umumnya dan kabupaten Kupang khususnya dikenal dengan sistem paronisasi, telah berkembang sebagai suatu usaha yang mampu meningkatkan pendapatan petani/peternak di daerah ini. Sistem ini juga dilakukan oleh sebagian peternak di Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU) dan Belu.
Ngera (2004) mengemukakan bahwa sistem pemeliharaan yang umum dilakukan oleh peternak di kabupaten TTU adalah bersifat tradisional dan belum berorentasi bisnis. Ternak sapi yang dipelihara hanya sebagai usaha sampingan yang dapat dijual sewaktu-waktu untuk memenuhi kebutuhan yang terdesak. Perhatian peternak terhadap ternaknya juga masih sangat rendah, hal ini terlihat dari sistem peternakan yang dilakukan dimana ternak sapi digembalakan pada
siang hari di padang penggembalaan yang terletak di daerah perbukitan atau lembah. Padang penggembalaan ini biasanya milik bersama dan digunakan oleh beberapa peternak untuk menggembalakan ternaknya.
Pakan Ternak Sapi Bali
Pakan adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi kelangsungan hidup dari ternak. Peternakan sapi Bali di Timor Barat umumnya dilakukan sebagai usaha semi intensif dengan pola penyediaan pakan yang dilakukan oleh peternak adalah memanfaatkan sumber pakan yang tersedia di sekitar peternak. Hasil penelitian Sobang (1997) bahwa penyediaan pakan ternak oleh peternak bersumber dari lahan peternak sendiri seperti turi, lamtoro, king grass dan dari luar lahan peternak seperti daun kabesak dan gewang (Choripha gebanga) yang digunakan sebagai pakan penggemukkan terutama pada musim kemarau. Selanjutnya dikatakan bahwa peternak tidak memberikan pakan konsentrat walaupun pada musim kemarau
Menururt Fattah (2002), jenis pakan yang mendominasi padang penggembalaan di Timor adalah Andropogan timorensis, Heteropogan contortus, Botricolla sp, sedangkan jenis leguminosa pohon adalah gamal (Gliricidia sepium), lamtoro (Leucaena leucocephala), serta padang penggembalaan ditumbuhi pepohonan seperti Gewang (Corypha gebanga), Lontar (Borrasus flabelifer) dan bidara.
Pola Pemberian Pakan dan Air Minum
Pada umumnya pakan yang diberikan pada ternak adalah hijauan dalam bentuk yang sudah dipotong-potong. Peternak memberi makan pada ternak sapi 2-3 kali sehari. Pakan yang diberikan berupa hijauan dan rumput yang ada di sekitar peternak. Ada juga pemberian putak, terutama pada musim kemarau di saat ternak kekurangan pakan. Bagi sapi yang dilepas atau dipelihara secara ekstensif, pakan sangat tergantung pada padang penggembalaan terutama rumput alam, dan untuk mencegah terjadinya penurunan berat badan, peternak akan memberikan pakan tambahan seperti daun kapok, lamtoro, turi pada sore hari ketika ternak dikandangkan kembali.
Pemberian air minum untuk ternak-ternak yang digembalakan adalah pada siang hari ternak sapi digiring oleh peternak menuju sumber-sumber air minum yang dekat dengan padang penggembalaan seperti sungai, ataupun sumur yang jaraknya berkisar antara 100-700 m. Setelah ternak minum maka digiring lagi ke padang penggembalaan. Bagi peternak yang ternaknya dikandangkan, air minum diberikan oleh peternak satu sampai dua kali sehari.
Hasil penelitian Ratnawaty et al. (2002) bahwa peternak sapi di kawasan Timor Barat (Belu-Besikama) memberikan pakan pada ternak sapi yang dipelihara dengan perbandingan 97% rumput dan sisanya adalah legum. Selanjutnya dikatakan bahwa sistem pemeliharaan ternak sapi di kawasan tersebut masih sangat tradisional baik pada sapi yang dilepas maupun bagi sapi yang dikandangkan, dengan mengandalkan pakan rumput alam yang ada di padang penggembalaan dan legum hanya sebagai pakan tambahan.
Pertambahan Bobot Badan
Pada musim hujan, bobot badan ternak akan meningkat dan sebaliknya pada musim kemarau bobot badan akan menurun, hal ini berkaitan dengan ketersediaan pakan sesuai dengan musim. Produktivitas ternak juga dipengaruhi oleh berbagai sumberdaya alam yang digunakan dengan demikian proses produksi atau outputnya bergantung pada input dan proses produksi tersebut. Input dapat dilihat dari ternak, pakan, fasilitas kandang, penanganan kesehatan, tenaga kerja serta waktu, sedangkan output dapat dilihat dari pertambahan bobot badan, jumlah ternak yang dijual dan kotoran ternak yang dihasilkan. Sobang (1997) mengemukakan bahwa pada sistem pemeliharaan penggemukan secara tradisional atau paronisasi, pertambahan bobot badan harian sapi Bali 0.33-0.35 kg/hari. Sistem Perkawinan
Umumnya sistem perkawinan ternak sapi adalah kawin secara alamiah, hal ini berkaitan dengan tingkat pengetahuan petani peternak dalam hal mengetahui umur yang tepat untuk dikawinkan, tanda-tanda berahi dan lama berahi. Pejantan yang digunakan untuk mengawini betina biasanya diperoleh dari luar peternak maupun bantuan pemerintah, bahkan ada juga petani yang menggunakan ternak jantannya sendiri untuk mengawini ternak betina.
Hasil penelitian Ngera (2004) menyebutkan bahwa bagi ternak-ternak yang digembalakan maka sistem perkawinan dilakukan secara alami sehingga jarak beranak tidak menentu. Setelah sapi betina beranak ternak sapi dapat kawin lagi pada saat birahi. Pejantan yang mengawini ternak betina berasal dari kelompok ternak yang ada di padang penggembalaan tersebut, dan ternak betina akan beranak lagi dalam jangka waktu satu tahun. Pada sistem ini peternak tidak memilih ternak betina yang akan dikawinkan dengan pejantan.
Perkandangan
Pada umumnya kandang yang dipakai untuk memelihara ternak masih sangat sederhana atau dikenal dengan kandang tradisional yaitu terbuat dari bahan-bahan yang tersedia secara lokal seperti kayu, bambu, yang diikat dengan tali. Ada juga kandang yang biasanya dibuat di bawah pohon sekaligus berfungsi sebagai atap kandang yang dapat melindungi ternak dari hujan, panas atau sinar matahari. Luasan kandang ternak untuk sapi penggemukkan biasanya dibuat kandang individu berbentuk petak persegi empat panjang dan tidak ada ukuran yang pasti namun disesuaikan dengan besarnya tubuh ternak sapi. Pada sistem kandang kelompok ini biasanya sapi-sapi dimasukkan bersama-sama tanpa adanya pemisahan antara ternak muda dan dewasa, sedangkan untuk ternak jantan dewasa dipisahkan pada petak kandang yang lain, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kecelakaan di antara ternak. Atap kandang mengggunakan daun gewang atau alang-alang yang diambil dari lahan peternak atau di sekitar tempat tinggal, sedangkan untuk ternak sapi yang dilepas dan akan dikandangkan pada malam hari dibuatkan kandang kelompok berbentuk lingkaran yang dipagar dengan menggunakan kayu dan diikat dengan tali ataupun dipaku. Kandang yang dibuat ini biasanya terpisah dari tempat tinggal peternak kurang lebih 0.5-1 Km. Bagi petani dengan adanya kandang, petani dapat mengontrol ternaknya dari penyakit atau mudah dalam penanganan.
Penanganan Limbah
Limbah dari ternak hanya digunakan sebagai pupuk untuk tanaman sayuran dan tanaman pakan ternak di sekitar kebun. Pemanfaatan limbah oleh sebagian besar masyarakat masih sangat sederhana, umumnya peternak hanya
memanfaatkan limbah sebagai pupuk tanaman, hingga saat ini belum ada teknologi yang dilakukan oleh peternak dalam menangani limbah ternak.
Penanganan Kesehatan
Penanganan kesehatan oleh peternak biasanya dilakukan dengan pembersihan kandang dan vaksinasi. Bagi peternak yang memiliki ternak sapi dalam jumlah yang banyak atau lebih dari sepuluh ekor biasanya dilakukan vaksinasi setiap tahun oleh petugas kesehatan yang ditempatkan di setiap kecamatan dan bagi petani yang memiliki ternak kurang dari 5 ekor dilakukan penyuntikan sendiri terhadap ternak yang dipelihara. Penyakit yang biasa menyerang ternak sapi Bali seperti penyakit ingusan (Septicaemia epizootica), diare dan cacingan. Apabila penyakit ini menyerang ternak sapi dilakukan penyuntikan oleh petugas atau tenaga kesehatan hewan, bagi petani yang sudah berpengalaman dan memiliki ternak dalam jumlah yang banyak penanganan kesehatan/penyuntikan dilakukan oleh peternak. Untuk sapi-sapi yang digemukan apabila penanganan kesehatan dilakukan dengan baik, dalam jangka waktu 6 bulan sampai dengan satu tahun ternak sapi sudah bisa dijual.
Pemasaran Ternak Sapi Bali
Suatu produk pertanian membutuhkan saluran pemasaran dalam menyalurkan produksinya sampai ke konsumen. Umumnya hasil-hasil pemasaran peternakan seperti sapi, babi dan ayam dijual oleh petani dalam keadaan hidup dan kebanyakan pedagang perantara atau pedagang pengumpul langsung mendatangi tempat peternak.
Pelaksanaan jual beli ternak sangat berhubungan dengan penentuan harga dalam pemasaran produk sehingga pihak pertama (pembeli) sangat berperan sebagai penentu harga, dilanjutkan ke pedagang perantara selanjutnya oleh pedagang perantara diteruskan ke petani peternak. Untuk penentuan harga jual pedagang perantara langsung ke peternak dan melihat kondisi sapi berdasarkan penampilannya. Penentuan harga jual selalu saja dikaitkan dengan kebutuhan uang tunai yang diterima oleh peternak dan apabila peternak sangat membutuhkan uang tunai maka ia akan bertindak sebagai penerima harga. Pada daerah-daerah tertentu dengan prasarana jalan yang belum memadai dimana jarak pelabuhan
antar pulau yang cukup jauh dari tampat tinggal peternak, akan berpengaruh terhadap harga sapi yang akan dijual dibanding dengan uang tunai yang diterima oleh peternak.
Jalur pemasaran Sapi Bali di Kawasan Timor Barat digambarkan pada Gambar 1.
Petani Peternak
Pedagang pengumpul
Pedagang antar pulau Pedagang Pengumpul
Penjagal
Dikirim ke luar daerah Dipotong di RPH
Gambar 1 Jalur pemasaran sapi Bali di Timor Barat
Sistem pemasaran yang dilakukan oleh petani peternak dalam menjual ternaknya adalah sapi dari peternak dibeli oleh pedagang perantara, dari pedagang perantara dijual ke pedagang antar pulau yang akan dikirim keluar daerah dan kepada tukang jagal yang akan dipotong di rumah potong hewan untuk memenuhi kebutuhan konsumen lokal. Pemasaran ternak sapi Bali di Kawasan Timor Barat mulai dari petani peternak dilanjutkan ke pedagang perantara, dari pedagang perantara dilanjutkan ke pedagang antar pulau untuk dikirim ke luar daerah dan kepada tukang jagal.
Hasil penelitian Lalus (1999) bahwa perbedaan jarak yang dinyatakan dengan biaya transportasi mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap harga yang diterima oleh peternak, hal ini sangat berhubungan dengan cara pembayaran dimana berpengaruh juga terhadap harga. Apabila pembayaran dilakukan di tempat tinggal peternak maka harga yang diterima oleh peternak lebih rendah dibandingkan dengan pembayaran yang dilakukan di tempat penimbangan ternak khusunya bagi ternak yang diantarapulaukan.
Produktivitas Karkas Sapi Bali
Dari uraian di atas sistem pemeliharaan sapi Bali di Timor Barat dengan pemberian pakan yang beragam maka nilai produktivitas karkas dapat dikemukakan dalam hasil penelitian ini. Produktivitas karkas sapi Bali diantaranya bobot karkas panas, persentase karkas, bobot karkas dingin, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk disajikan pada Tabel 3.
Bobot Karkas Panas
Bobot karkas merupakan salah satu faktor yang diperhatikan dalam penilaian karkas. Rataan bobot karkas panas dapat dilihat pada Tabel 3. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara jenis kelamin dan kelompok bobot potong terhadap bobot karkas panas, namun terdapat pengaruh yang nyata antara masing-masing faktor terhadap bobot karkas panas. Bobot karkas panas sangat berhubungan erat dengan bobot potong, semakin tinggi bobot potong, bobot karkas panas semakin tinggi pula. Kelompok bobot potong I, II dan III secara nyata meningkatkan bobot karkas panas, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi bobot potong, bobot karkas panas semakin tinggi.
Tabel 3 Rataan produktivitas karkas sapi Bali
Kelompok bobot potong (kg) <190 191-220 >220 Peubah Jenis kelamin X ± SD X ± SD X ± SD Rataan Jantan 105.83±6.86 108.78±9.36 133.75 ±17.20 116.12a Betina 89.24 ±15.37 101.19±6.65 114.87 ±11.53 101.77b Bobot karkas panas (kg) Rataan 97.54a±11.12 104.99b±8.00 124.31c ±14.37 Jantan 56.59 ± 3.62 53.38 ±3.83 54.80 ±3.88 54.92a Betina 53.50 ± 6.50 50.64 ±3.05 48.34 ±0.56 50.83b Persentase karkas (%) Rataan 55.05 ± 5.06 52.01 ± 3.44 51.57 ± 2.22 Jantan 103.43±7.42 106.72±9.39 131.40 ±17.09 113.85a Betina 87.11 ±15.32 98.97 ±6.53 112.93 ±11.19 99.67b Bobot karkas dingin (kg) Rataan 92.27a±11.37 102.85b±7.96 122.17c±14.14 Jantan 0.11±0.06 0.09 ± 0.05 0.15 ±0.10 0.12 Betina 0.11±0.12 0.09 ± 0.07 0.14 ±0.15 0.11 Tebal lemak punggung (cm) Rataan 0.11 ± 0.09 0.09 ± 0.06 0.15 ± 0.13 Jantan 52.89 ±4.51 47.67 ± 5.51 52.52 ±4.89 51.03a Betina 42.21 ±6.47 43.06 ± 6.17 49.88 ±13.05 45.05b Luas urat daging mata rusuk (cm2) Rataan 47.55a±5.49 45.37a ± 5.84 51.20b±8.97
Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05), X=rataan, SD=standar deviasi.
Forrest et al. (1975) mengemukakan bahwa bobot karkas semakin tinggi dengan meningkatnya bobot potong, demikian juga dengan faktor jenis kelamin, berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap bobot karkas panas dimana bobot karkas panas dari ternak jantan lebih tinggi dari betina. Hal ini disebabkan ternak jantan memiliki bobot potong yang lebih tinggi dibanding dengan ternak betina. Jika dilihat dari pertumbuhan, ternak jantan mempunyai pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding ternak betina, hal ini berhubungan dengan hormon steroid kelamin ternak jantan yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada ternak jantan. Soeparno (2005) mengemukakan bahwa laju pertumbuhan jenis kelamin jantan lebih besar dibanding dengan betina.
Hasil penelitian Rosnah (2002) pada sapi Bali di dataran rendah dan dataran tinggi dengan kelompok bobot potong 243 dan 210 kg berpengaruh terhadap bobot karkas panas yang dihasilkan, bobot potong yang tinggi menghasilkan bobot karkas panas tinggi pula. Selanjutnya dikatakan bahwa ternak sapi Bali yang mempunyai bobot karkas yang tinggi mempunyai pertambahan berat badan harian yang tinggi pula.
Persentase Karkas
Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara jenis kelamin dan kelompok bobot potong terhadap persentase karkas, demikian juga kelompok bobot potong, namun terdapat perbedaan yang nyata (P<0.05) antara jenis kelamin terhadap persentase karkas dimana jenis kelamin jantan dengan persentase karkas (54.92%) lebih tinggi dari betina (50.83%), hal ini disebabkan ternak jantan memiliki bobot potong yang lebih tinggi dibanding betina. Tidak adanya perbedaan yang nyata di antara kelompok bobot potong disebabkan perbedaan bobot potong yang tidak sesuai dengan peningkatan bobot karkas. Ngadiono (1995) mengemukakan bahwa perbedaan rataan persentase karkas juga disebabkan perbedaan ukuran saluran pencernaan dan organ-organ penting non-karkas serta kondisi ternak. Selanjutnya dikatakan bahwa kondisi penimbangan ternak dan karkas, metode pengulitan, ukuran saluran pencernaan dan organ-organ penting serta kodisi finish (akhir) dari ternak juga berpengaruh terhadap persentase karkas. Hasil penelitian Rosnah (2002) pada sapi Bali di daerah dataran rendah dan tinggi diperoleh persentase karkas 47.75 dan 53.11%.
Bobot Karkas Dingin
Bobot karkas dingin adalah bobot karkas setelah dilakukan pelayuan terhadap karkas selama 24 jam. Nilai bobot karkas dingin disajikan pada Tabel 3. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara jenis kelamin dan kelompok bobot potong terhadap bobot karkas dingin, namun masing-masing faktor memberikan pengaruh yang nyata (P<0.05) terhadap bobot karkas dingin. Bobot karkas dingin pada ternak jantan (113.85kg) lebih tinggi dari sapi betina (99.67kg). Hal ini disebabkan bobot potong ternak jantan lebih tinggi dibanding ternak betina.
Bobot karkas dingin meningkat dengan peningkatan kelompok bobot potong, bobot karkas dingin pada masing-masing kelompok bobot potong adalah kelompok I (92.27 kg), kelompok II (102.85 kg) dan III (122.17 kg). Hal ini berarti semakin tinggi bobot potong, bobot karkas dingin semakin tinggi. Berg dan Butterfield (1976) mengemukakan bahwa bobot potong yang tinggi menghasilkan bobot karkas karkas dingin yang tinggi.
Tebal Lemak Punggung
Tebal lemak punggung pada rusuk 12-13 disajikan pada Tabel 3. Banyaknya lemak yang menutupi karkas merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan nilai karkas. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara jenis kelamin dan kelompok bobot potong terhadap tebal lemak punggung, demikian juga dengan masing-masing faktor tidak berpengaruh terhadap tebal lemak punggung. Hal ini berarti jenis kelamin dan kelompok bobot potong tidak berpengaruh terhadap tebal lemak punggung. Soeparno (2005) mengemukakan bahwa pakan akan mempengaruhi proporsi kenaikan lemak karkas dan proporsi daging, pakan yang mengandung energi tinggi akan dapat meningkatkan persentase karkas dan perlemakan pada depot-depot lemak. Selanjutnya dikatakan bahwa nutrisi adalah salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap proporsi kenaikan lemak pada karkas. Tebal lemak sub kutan sebagai indikator dalam menentukan kualitas karkas (persentase daging dan persentase lemak) lebih dipengaruhi oleh variasi bangsa, nutrisi dan jenis kelamin.
Luas Urat Daging Mata Rusuk
Luas urat daging mata rusuk disajikan pada Tabel 3. Luas urat daging mata rusuk merupakan indikator dalam menduga besarnya proporsi urat daging dari suatu karkas. Semakin luas urat daging mata rusuk, semakin besar proporsi urat daging dari karkas. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara jenis kelamin dan bobot potong terhadap luas urat daging mata rusuk, namun masing-masing fakor berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap luas urat daging mata rusuk.
Luas urat daging mata rusuk meningkat dengan semakin meningkatnya kelompok bobot potong. Luas urat daging mata rusuk yang lebih besar adalah kelompok bobot potong III, diikuti kelompok bobot potong II dan I. Luas urat daging mata rusuk yang mempunyai ukuran lebih besar menunjukkan proporsi daging yang besar pula. Demikian juga dengan jenis kelamin, berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap luas urat daging mata rusuk, jenis kelamin jantan mempunyai luas urat daging lebih tinggi (50.66 cm2)dari betina (43.25 cm2). Ngadiono (1995) mengemukakan bahwa semakin tinggi bobot hidup ternak, luas urat daging mata rusuk semakin besar. Selanjutnya dikatakan bahwa sapi jantan mempunyai urat daging yang lebih luas dibanding dengan sapi betina.
Potongan Komersial Karkas Sapi Bali
Rataan persentase potongan komersial karkas sapi Bali pada penelitian ini disajikan pada pada Tabel 4. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara jenis kelamin dan kelompok bobot potong terhadap masing-masing potongan komersial karkas, namun masing-masing-masing-masing faktor berpengaruh nyata terhadap setiap bobot potongan komersial karkas. Untuk masing-masing potongan komersial karkas mempunyai perbedaan yang nyata diantara jenis kelamin jantan dan betina (P<0.05), kecuali pada potongan karkas rusuk belakang tidak berbeda nyata.
Tabel 4 Rataan bobot potongan komersial karkas sapi Bali Kelompok bobot potong (kg) <190 191-220 >220 Potongan karkas (kg) Jenis kelamin X ± SD X ± SD X ± SD Rataan Jantan 39.91 ± 4.29 38.99±2.71 51.20±6.09 43.37a Betina 31.94 ± 5.95 36.76±2.85 42.89±4.08 37.20b Karkas depan Rataan 35.93a ± 5.12 37.88a±2.78 47.05b±5.09 Jantan 36.45 ± 1.30 37.45 ±2.17 45.62±4.45 39.84a Betina 31.44 ± 4.46 35.50 ±2.86 39.39±4.21 35.44b Paha belakang Rataan 33.95a±2.88 36.48a±2.52 42.51b±4.33 Jantan 14.24±1.85 12.88 ±8.94 16.87 ±13.10 14.66a Betina 11.71±8.64 13.32 ±1.63 14.51±1.41 13.18b Punggung Rataan 12.98a±5.25 13.10b±5.29 15.69c±7.26 Jantan 5.20 ±0.66 6.35±0.75 7.41 ±2.22 6.32a Betina 4.93 ±1.37 6.15±1.46 6.52 ±1.04 5.87b Flank Rataan 5.07a ±1.02 6.25b±1.11 6.97c±1.63 Jantan 4.46±0.42 4.32±0.54 5.61±1.63 4.80 Betina 4.04±1.35 4.58±0.48 5.86±0.69 4.83 Rusuk Belakang Rataan 4.25a±0.89 4.45a±0.51 5.74b±1.16 Jantan 2.28±0.11 2.28 ±0.38 2.79±0.55 2.45a Betina 2.17±0.60 2.35 ±0.21 2.50±0.48 2.34b Fillet Rataan 2.23a±0.36 2.31a±0.30 2.65b±0.51
Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05) X = rata-rata, SD = standar deviasi
Nilai rataan dari masing-masing potongan karkas lebih besar pada jenis kelamin jantan dibanding dengan betina. Hal ini disebabkan ternak jantan memiliki bobot potong yang lebih tinggi dibanding dengan betina. Selanjutnya hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P<0.05) antara kelompok bobot potong terhadap potongan komersial karkas.
Untuk nilai rataan potongan karkas depan pada kelompok bobot potong III (47.05kg) nyata lebih tinggi dibanding dengan kelompok bobot potong I (35.93kg) dan II (37.88kg). Nilai rataan potongan paha belakang pada kelompok bobot III (42.51kg) nyata lebih tinggi dari kelompok bobot potong I (33.95 kg) dan II (36.48 kg). Untuk potongan punggung berbeda nyata pada kelompok bobot potong III (15.69kg) mempunyai nilai yang lebih tinggi dibanding kelompok bobot potong I (12.98 kg) dan II (13.10 kg). Flank mempunyai nilai yang berbeda nyata diantara kelompok bobot potong yaitu untuk kelompok bobot potong III (6.97 kg) lebih tinggi dibanding kelompok I (5.07 kg) dan II (6.15 kg).
Untuk rusuk belakang, mempunyai nilai yang nyata berbeda antara kelompok bobot potong I (4.25 kg) dan II (4.45 kg) dibanding dengan kelompok bobot potong III (5.74 kg), demikian juga potongan fillet berbeda nyata antara kelompok bobot potong I (2.23 kg) dan II (2.31 kg) dengan bobot potong III (2.65 kg). Dengan demikian dikatakan bahwa semakin tinggi bobot potong, bobot potongan komersial karkas juga semakin tinggi. Swatland (1982) mengemukakan bahwa bobot potong akan berpengaruh terhadap bobot potongan komersial karkas yang dihasilkan. Berg dan Butterfield (1968) mengemukakan bahwa perbedaan bagian-bagian potongan komersial karkas dipengaruhi oleh distribusi jaringan pada tiap-tiap potongan komersial karkas. Selanjutnya dikatakan bahwa pola pertumbuhan otot, lemak dan tulang diketahui sangat mempengaruhi komposisi karkas dan konformasi. Forrest at al. (1975) mengemukakan bahwa bobot hidup akan berpengaruh terhadap bobot karkas dan bobot karkas akan berpengaruh terhadap bobot potongan karkas.
Jika masing-masing potongan komersial ini dinyatakan dalam persentase terhadap bobot karkas dingin pada jenis kelamin dan masing-masing kelompok bobot potong akan terlihat seperti pada Tabel 5. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara jenis kelamin dan kelompok bobot potong terhadap masing-masing potongan komersial karkas sapi Bali. Untuk potongan komersial karkas depan, rusuk belakang dan fillet mempunyai nilai persentase lebih tinggi pada sapi jantan dibanding betina, namun tidak ada pengaruh yang nyata dari jenis kelamin terhadap potongan komersial paha belakang, punggung dan flank.
Hasil analisis menunujukkan pada masing-masing kelompok bobot potong, terlihat pengaruh yang nyata terhadap potongan komersial karkas depan dan fillet, namun tidak terlihat pengaruh yang nyata terhadap potongan paha belakang, punggung, flank dan rusuk belakang. Dengan demikian dikatakan bahwa sapi jantan mempunyai distribusi daging yang lebih tinggi pada potongan karkas depan dan fillet dibanding dengan betina, sedangkan pada potongan komersial karkas paha belakang, punggung, flank dan rusuk belakang mempunyai distribusi daging yang sama.
Tabel 5 Persentase potongan komersial karkas sapi Bali Kelompok bobot potong (kg) <190 191-220 >220 Potongan karkas (%) Jenis kelamin X ± SD X ± SD X ± SD Rataan Jantan 38.87 ± 1.74 38.11 ± 1.22 39.59 ± 1.71 38.93a Betina 37.12 ± 1.26 37.19 ± 1.29 38.44 ± 1.09 37.27b Karkas depan Rataan 37.99a ± 1.5 37.65a ± 1.25 39.02 b ± 1.40 Jantan 35.63 ± 2.02 37.45 ±2.17 45.62 ± 4.45 35.87 Betina 36.53 ± 1.84 35.50 ±2.86 39.39 ± 4.21 35.98 Paha belakang Rataan 36.46 ± 1.93 36.93 ± 2.51 35.32 ± 4.33 Jantan 13.85 ± 0.89 12.58 ± 1.57 12.95 ± 1.06 13.13 Betina 13.57 ± 1.14 13.47 ± 1.29 13.00 ± 0.28 13.34 Punggung Rataan 13.71± 1.02 13.03 ± 1.43 12.97 ± 0.67 Jantan 5.06 ± 0.35 6.23 ± 0.87 5.66 ± 1.04 5.65 Betina 5.67 ± 0.98 6.11 ± 1.43 5.82 ± 0.31 5.87 Flank Rataan 5.36 ± 0.67 6.17± 1.15 5.74 ± 0.68 Jantan 4.35 ± 0.14 4.23 ± 0.50 4.30 ± 0.85 4.29a Betina 4.61 ± 0.74 4.66 ± 0.40 5.24 ± 0.08 4.83b Rusuk belakang Rataan 4.48 ± 0.44 4.44 ± 0.45 3.18 ± 0.47 Jantan 2.24 ± 0.25 2.23 ±0.33 2.14 ± 0.21 2.20a Betina 2.48 ± 0.48 2.41 ± 0.18 2.22 ± 0.19 2.37b Fillet Rataan 2.36 a ± 0.36 2.32ab ± 0.20 2.18b ± 0.20
Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05) X=rata-rata, SD= standar deviasi
Secara berurutan nilai persentase potongan komersial tertinggi adalah karkas depan, diikuti paha belakang, punggung, flank, rusuk belakang dan fillet. Terlihat juga variasi diantara potongan-potongan komersial karkas, hal ini disebabkan karena terdapat variasi komponen penyusun karkas. Hasil penelitian Ngadiono (1995) pada sapi ACC diperoleh persentase masing-masing potongan komersial karkas yaitu tenderloin (1.69%), sirloin (3.24%), topside (5.95%), inside (3.71%), silverside (5.92%), rump (5.03%), flank (3,73%), flank steak (0.50%), chuck tender (0.89%), shank (5.31%), blade (7.60%), brisket (5.88%), rib meat (5.84%) dan oxtail (0.93%).
Mutu Daging Sapi Bali
Sifat fisik daging sapi Bali yang diukur pada penelitian ini yaitu keempukan, pH, susut masak, daya mengikat air, warna daging dan warna lemak. Sifat fisik daging sapi Bali disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Rataan mutu daging sapi Bali
Umur I2 I3 I4 Peubah Jenis kelamin X ± SD X ± SD X ± SD Rataan Jantan 3.32 c±0.76 4.37 b±1.15 4.61 b±0.37 4.10 Keempukan (kg/cm2) Betina 2.90 c±0.49 4.01b ±0.48 5.37a ±0.59 4.09 Jantan 5.48±0.23 5.37±0.26 5.52±0.09 5.46 Betina 5.45±0.32 5.22±0.28 5.01±1.37 5.34 pH Rataan 5.46 ±0.28 5.30±0.27 5.27±0.73 Jantan 39.33±1.94 36.39±4.15 35.36±1.16 37.03 Betina 33.75±3.90 38.08±3.73 37.11±6.61 36.31 Susut masak (%) Rataan 36.54±2.92 37.24±3.94 36.24±3.89 Jantan 36.72±2.89 33.97±.02 30.96±5.72 33.88a Betina 27.26±1.19 29.61±4.59 28.59±4.87 28.49b Daya mengikat air(%) Rataan 31.99±2.04 31.79±3.81 29.78±5.30
Warna daging Jantan 2.33±0.81 3.67±1.21 5.00±0.89 3.67
Betina 2.83±0.98 2.67±0.52 4.67±1.51 3.39
Rataan 2.58ª±0.90 3.17ª±0.87 4.84b±1.20
Warna lemak Jantan 2.17±1.33 3.17±1.17 3.83±0.75 3.07
Betina 2.83±0.41 3.17±1.60 4.00±2.28 3.33
Rataan 2.50±0.87 3.17±1.39 4.42±1.52
Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05) X= rataan, SD=standar devíasi
Keempukan daging
Keempukan merupakan salah satu faktor penentu kualitas daging. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara jenis kelamin dan umur terhadap nilai keempukan daging. Ternak jantan pada umur 2 tahun mempunyai nilai keempukan yang rendah, dan nilai keempukan ini meningkat dengan semakin meningkatnya umur ternak, demikian juga pada ternak betina memiliki nilai keempukan yang rendah pada umur 2 tahun, selanjutnya nilai keempukan meningkat dengan semakin meningkatnya umur ternak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keempukan akan semakin rendah dengan meningkatnya umur ternak. Hal ini disebabkan kadar kolagen dalam jaringan ikat yang mengalami perubahan-perubahan molekuler dan mempengaruhi keempukan daging dengan semakin bertambahnya umur ternak. Oleh karena itu ternak yang tua akan
cenderung menghasilkan daging yang relatif alot daripada ternak yang muda. Perbedaan ini juga kemungkinan lain karena perbedaan jumlah ikatan silang serabut-serabut kolagen. Hubungan antara jenis kelamin dan umur dikemukakan pada Gambar 2. Nilai 5.5- keempukan (kg/cm2) 5.0- 4.5- 4.0- 3.5- 3.0- I2 I3 I4 Umur Keterangan: = Jenis kelamin jantan
= Jenis kelamin betina
Gambar 2 Hubungan antara jenis kelamin dan umur terhadap keempukkan daging Forrest et al. (1975) mengemukakan bahwa pada umumnya keempukan daging menurun dengan meningkatnya umur ternak, hal ini berhubungan dengan jaringan ikat ternak muda mengandung retikulin dan ikatan silang yang lebih rendah daripada kolagen jaringan ikat ternak yang lebih tua. Selanjutnya bahwa komponen utama yang mempengaruhi keempukan daging adalah jaringan ikat terutama kolagen dengan jumlah ikatan silangnya yang mempunyai peranan yang besar dalam keempukan daging. Perubahan struktur jaringan ikat daging akan lebih keras dengan semakin bertambah tuanya umur ternak. Soeparno (2005) mengemukakan bahwa keempukkan daging berhubungan dengan umur, jenis kelamin, nutrisi dan stress.
Hasil uji lanjut kontras polinomial orthogonal untuk melihat kecenderungan grafik interaksi, diperoleh grafik yang cenderung kubik. Dengan demikian dikataknkan bahwa nilai keempukan daging akan cenderung naik, selanjutnya turun sesuai dengan dengan grafik. Hal ini disebabkan karena pengaruh lingkungan misalnya pakan, apabila pakan yang diberikan pada ternak sapi berkualitas baik, nilai keempukan akan rendah dan kualitas daging lebih baik
dan sebaliknya apabila lingkungan tidak mendukung maka nilai keempukan daging akan rendah.
Nilai pH daging
Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara jenis kelamin dan umur terhadap pH. Demikian juga dengan masing-masing faktor berpengaruh tidak nyata terhadap pH. Pada hasil penelitian ini diperoleh nilai pH pada kisaran 5.2-5.4, dengan demikian dikatakan bahwa jenis kelamin dan umur tidak berpengaruh terhadap pH. Soeparno (2005) mengemukakan bahwa pH lebih dipengaruhi oleh stress sebelum pemotongan, pemberian injeksi hormon atau obat-obatan, individu ternak, macam otot, stimulasi listrik, dan aktivitas enzim yang mempengaruhi glikolisis. Penurunan pH otot post morteem lebih ditentukan oleh laju glikolisis post morteem serta cadangan glikogen otot. Hasil penelitian Amril (2000) pada sapi Brahman Cross dengan 3 kelompok bobot potong diperoleh nilai pH dengan kisaran 5.0-5.2. Pada hasil penelitian ini diperoleh nilai pH yang masih berada pada batas toleransi yang normal.
Forrest et al. (1975) mengemukakan bahwa pH ultimate daging 5.4-5.8, pH ultimat daging tergantung pada besarnya cadangan glikogen otot pada saat sapi dipotong, semakin banyak glikogen pada saat sapi dipotong maka pH ultimat yang dicapai akan semakin rendah. Setelah ternak dipotong glikogen dalam otot akan berubah menjadi asam laktat dalam keadaan anaerob.
Susut masak
Susut masak dapat diartikan sebagai air yang keluar dari daging karena ada pengaruh dari luar seperti pada saat pemasakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada interaksi yang nyata (P<0.05) antara jenis kelamin dan umur terhadap nilai susut masak, demikian juga dengan masing-masing faktor tidak berpengaruh terhadap susut masak daging. Hal ini berarti jenis kelamin dan umur tidak berpengaruh terhadap susut masak.
Soeparno (2005) mengemukakan bahwa nilai susut masak dipengaruhi oleh pH, panjang sarkomer serabut otot, panjang potongan serabut otot, status kontrakasi miofibril, ukuran dan berat sampel daging. Daging dengan nilai susut masak yang rendah, mempunyai kualitas yang relatif lebih baik dibanding dengan
daging yang mempunyai nilai susut masak yang lebih tinggi, hal ini mempunyai hubungan dengan kehilangan nutrisi selama pemasakan yang relatif sedikit. Daya mengikat air
Daya mengikat air oleh protein daging adalah kemampuan daging untuk mengikat airnya atau air yang ditambahkan selama ada pengaruh kekuatan dari luar seperti pemotongan daging, pemanasan, penggilingan dan tekanan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara jenis kelamin dan umur terhadap daya mengikat air, demikian juga dengan faktor umur, namun faktor jenis kelamin memberikan pengaruh yang nyata (P<0.05) terhadap daya mengikat air. Ternak jantan memiliki nilai daya mengikat air yang lebih tinggi dibanding ternak betina, hal ini disebabkan tingkat kematangan (maturitas) dari ternak jantan dan betina dimana ternak betina lebih cepat mencapai tingkat kedewasaan dibanding jantan, dan pada ternak jantan dengan semakin meningkatnya umur terjadi pertambahan jumlah dan ukuran serat otot, dengan demikian kemungkinan terjadi peningkatan kadar protein di antara otot sehingga menyebabkan daya mengikat air pada jantan lebih tinggi. Hasil penelitian Te Pas et al. (2004) dikemukakan bahwa jumlah dan ukuran serabut otot lebih tinggi pada ternak jantan dibanding dengan ternak betina dengan semakin meningkatnya umur ternak. Pada hasil penelitian ini diperoleh nilai rataan daya mengikat air dari 3 kelompok umur ternak yaitu 36.72%, 33.97% dan 30.96%.
Soeparno (2005) mengemukakan bahwa daya mengikat air dipengaruhi oleh bangsa, proses rigormortis, temperatur, kelembaban, pelayuan daging, tipe dan lokasi otot, fungsi otot, pakan dan lemak intramuskuler. Hasil penelitian Paoe (1999) pada sapi Bali jantan yang digemukan dengan 3 macam perlakuan pakan diperoleh nilai daya mengikat air pada otot longissimus dorsi berturut-turut 36.55%, 39.71% dan 45.31%. Lawrie (1995) mengemukakan bahwa otot dengan kandungan lemak yang lebih tinggi cenderung mempunyai daya mengikat air yang lebih tinggi daripada otot yang kurang berlemak karena lemak akan melonggarkan mikrostruktur dari serat otot sehingga memberikan ruang yang cukup bagi protein untuk mengikat air.
Warna daging
Warna daging merupakan salah satu faktor penentu kualitas daging secara fisik. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara jenis kelamin dan umur terhadap warna daging, faktor jenis kelamin juga tidak memberikan pengaruh yang nyata, namun faktor umur berpengaruh nyata terhadap warna daging (P<0.05), dengan demikian dikatakan bahwa umur berpengaruh terhadap warna daging dimana semakin tua umur ternak, warna daging semakin gelap atau nilai skor daging semakin tinggi. Hal ini disebabkan semakin tinggi umur ternak, kandungan mioglobin dalam daging semakin tinggi, dengan demikian menyebabkan warna daging semakin gelap. Lawrie (1995) mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi warna daging diantaranya pakan, spesies, umur, tingkat aktivitas dan tipe otot. Selanjutnya dikatakan bahwa warna daging juga berhubungan dengan tipe molekul mioglobin, status kimia mioglobin, kondisi kimia serta fisik dari komponen dalam daging. Semakin bertambah umur ternak konsentrasi mioglobin semakin meningkat.
Warna lemak
Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada interkasi antara jenis kelamin dan umur terhadap warna lemak. Demikian juga dengan masing-masing faktor tidak berpengaruh terhadap warna lemak daging, dengan demikian dapat dikatakan bahwa jenis kelamin dan umur ternak tidak berpengaruh terhadap warna lemak. Nilai rataan warna lemak pada penelitian ini berkisar 2-4. Fowler (1961) mengemukakan bahwa warna lemak lebih dipengaruhi oleh pakan, apabila pakan yang dikonsumsi adalah rumput maka warna lemak cenderung kuning, sedangkan apabila pakan yang dikonsumsi adalah konsentrat maka warna lemak cenderung putih. Selanjutnya dikatakan bahwa warna lemak tidak dipengaruhi oleh bobot potong dari ternak.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa:
1. Jenis kelamin jantan menghasilkan produktivitas karkas lebih tinggi dibanding jenis kelamin betina.
2. Bobot potongan komersial karkas semakin tinggi pada ternak jantan dengan semakin tingginya bobot potong. Persentase potongan komersial karkas yang tinggi adalah potongan komersial karkas depan, diikuti oleh paha belakang, punggung, flank, rusuk belakang dan fillet.
3. Mutu daging sapi Bali jantan dan betina adalah sama, baik sapi jantan maupun betina mempunyai nilai keempukan daging yang sama pada umur kurang lebih 3 tahun.
SARAN
Untuk mendapatkan produktivitas karkas yang tinggi sebaiknya dipilih ternak jantan karena menghasilkan produktivitas karkas yang tinggi.