• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH BELANJA BIDANG PENDIDIKAN DAN KESEHATAN TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI PROVINSI SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PENGARUH BELANJA BIDANG PENDIDIKAN DAN KESEHATAN TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI PROVINSI SUMATERA UTARA"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

1

SKRIPSI

ANALISIS PENGARUH BELANJA BIDANG PENDIDIKAN DAN KESEHATAN TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN

MANUSIA DI PROVINSI SUMATERA UTARA

OLEH

KING CLINTON NAGANEGARA 140501027

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)
(3)

3

(4)
(5)

5

ABSTRAK

ANALISIS PENGARUH BELANJA BIDANG PENDIDIKAN DAN KESEHATAN TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN

MANUSIA DI PROVINSI SUMATERA UTARA

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Pengaruh Belanja Bidang Pendidikan Dan Kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Sumatera Utara. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tahunan yang diubah menjadi data kuartalan dengan metode interpolasi yang diolah dengan aplikasi Eviews 9.0 yakni data Belanja Bidang Pendidikan, data Belanja Bidang Kesehatan dan data Indeks Pembangunan Manusia dengan kurun waktu 2008-2017 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan.

Analisis yang digunakan bersifat deskriptif kuantitatif dengan teknik analisis data Regresi Linier Berganda yaitu metode yang digunakan untuk melihat pengaruh Belanja Bidang Pendidikan, Belanja Bidang Kesehatan sebagai variabel bebas terhadap Indeks Pembangunan Manusia sebagai variabel terikat. Data penelitian ini diolah menggunakan Eviews 9.0.

Hasil penelitian menunjukkan variabel Belanja Bidang Pendidikan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Sumatera Utara dan variabel Belanja bidang Kesehatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Sumatera Utara.

Kata Kunci : Indeks Pembangunan Manusia, Belanja Bidang Pendidikan, Belanja Bidang Kesehatan

(6)

ABSTRACT

ANALYSIS OF EXPENDITURE EFFECT OF EDUCATION AND HEALTH AFFAIRS ON HUMAN DEVELOPMENT INDEX IN SUMATERA UTARA

PROVINCE

This study aims to analyze the effect of expenditureof education and health on the Human Development Index in Sumatera Utara Province. The data used in this study is the annual data that is converted into quarterly data with the interpolation method which is processed Education Sector Expenditures data, Health Sector Expenditure data and Human Development Index data by the 2008- 2017 period, obtained from the Statistics Indonesia (BPS) and Directorate General of Fiscal Balance, the Ministry of Finance.

The analysis used is descriptive quantitative with the data analysis technique of Multiple Linear Regression which is the method used to see the effect of Expenditure in Education Sector, Expenditurein Health Sector as an independent variable on the Human Development Index as the dependent variable. This research data is processed using Eviews 9.0.

The results showed that thevariable of Education Sector Expenditure had a positive and insignificant effect on the Human Development Index in Sumatera Utara Province and the variable of Health Expenditure had a positive and significant effect on the Human Development Index in Sumatera Utara Province.

Keywords: Human Development Index, Education Expenditure, Health Expenditure

(7)

7

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi yang berjudul“Analisis Pengaruh Belanja Bidang Pendidikan dan Kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Sumatera Utara”. Penulisan tugas akhir ini dimaksudkan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang membantu dalam penulisan tugas akhir skripsi ini. Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Kedua orang tua B F Sinaga dan R Simarmata dan kepada kedua kakak saya Coryzon Angelina Sinaga dan Meytha Monalisa Sinaga untuk doa serta dorongan dan semangat kepada penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini

2. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Coki Ahmad Syahwier Hsb, M.P selaku Ketua Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan dan Ibu Inggrita Gusti Sari Nasution, SE, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak DR. Rujiman, MA selaku Dosen Pembimbing saya yang telah meluangkan waktu dalam membimbing dan memberikan masukan dan saran baik dari awal penulisan hingga selesainya penulisan skrispi ini.

5. Ibu DR. Murni Daulay, SE, M.Si selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan saran dan kritik dalam penulisan tugas akhir skripsi ini.

6. Ibu Dra. Raina Linda Sari, M.Si selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan saran dan kritik dalam penulisan tugas akhir skripsi ini.

7. Seluruh Dosen Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, khususnya Departemen Ekonomi Pembangunan yang telah mengajar serta memberikan ilmu kepada penulis.

8. Seluruh staff Administrasi Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dalam penyelesaian administrasi yang dibutuhkan oleh penulis selama ini.

(8)

9. Kepada Adam, Johan, Trifena, Marlin, Erika, Trisartono dan rekan-rekan GMKI FEB USU yang selalu memberikan motivasi dan membantu penulis dalam penyelesaian tugas akhir ini.

Medan, September 2018

King Clinton Naganegara Sinaga 140501027

(9)

9

DAFTAR ISI

ABSTRAK i

ABSTRACT ii

KATA PENGANTAR iii

DAFTAR ISI v

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR GAMBAR viii

DAFTAR LAMPIRAN ix

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 8

1.3 Tujuan Penelitian 8

1.4 Manfaat Penelitian 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 LandasanTeori 10

2.1.1 Konsep Pembangunan Manusia 10

2.1.2 Indeks Pembangunan Manusia 11

2.1.3 Dimensi Indeks Pembangunan Manusia 12 2.1.3.1 Umur Panjang Hidup dan Hidup Sehat 12

2.1.3.2 Indeks Pengetahuan 13

2.1.3.3 Standar Hidup Layak 14

2.1.4 Penyusunan Indeks Pembangunan Manusia 14

2.2 Pengeluaran Pemerintah 17

2.2.1 Belanja Pemerintah Bidang Pendidikan 21 2.2.2 Belanja Pemerintah Bidang Kesehatan 25

2.3 Penelitian Terdahulu 26

2.4 Kerangka Konseptual 31

2.5 Hipotesis 33

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian 34

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 34

3.3 Batasan Operasional 34

3.4 Definisi Operasional 35

3.5 Jenis dan Sumber Data 35

3.6 Metode Pengumpulan Data 36

3.7 Teknik Analisis Data 36

3.7.1 Perhitungan Indeks Pembangunan Manusia 36

3.7.2 Interpolasi Data 37

3.7.3 Regresi Linear Berganda 38

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum 44

(10)

4.3 Belanja Bidang Pendidikan 47

4.4 Belanja Kesehatan 48

4.5 Analisis Data 51

4.5.1 Analisis Regresi Linear Berganda 51

4.5.2 Uji Kesesuaian 53

4.5.2.1 Analisis Koefisien Determinasi (R-Square) 53 4.5.2.2 Uji t-statistik (UjiParsial) 53

4.5.3 Uji Asumsi Klasik 55

4.5.3.1 Uji Normalitas 55

4.5.3.2 Uji Multikolinearitas 56

4.5.3.3 Uji Hetereskedastisitas 57

4.5.3.4 Uji Autokorelasi 59

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 62

5.2 Saran 62

DAFTAR PUSTAKA 64

LAMPIRAN

(11)

11

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

1.1 IPM Asia Tenggara Berdasarkan Ranking Dunia Tahun 2015 2 1.2 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi

Sumatera Utara dan Indonesia 3

1.3 Realisasi Belanja Bidang Pendidikan dan

Kesehatan Provinsi Sumatera Utara 5

2.1 Penentuan Nilai Maksimum dan Minimum 15

2.2 Diagram Perhitungan IPM 16

4.1 Hasil Regresi Linear Berganda Analisis Pengaruh Belanja

Bidang Pendidikan dan Kesehatan Terhadap Indeks Pembangunan

Manusia Di Provinsi Sumatera Utara 51

4.2 Hasil Uji Multikolinearitas 57

4.3 Uji Heterokedastisitas dengan White 58

4.4 Uji Autokorelasi 60

(12)

DAFTAR GAMBAR

No.Gambar Judul Halaman

2.1 Kerangka Konseptual 32

3.1 Kurva Distribusi Durbin – Watson 42

4.1 Grafik IPM Provinsi Sumatera Utara 46

4.2 Grafik Belanja Bidang Pendidikan di Provinsi Sumatera Utara 47 4.3 Grafik Belanja Bidang Kesehatan di Provinsi Sumatera Utara 49

4.4 Grafik Hasil Uji Normalitas 56

(13)

13

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I Data Variabel

Lampiran II Uji Regresi Linear Berganda Lampiran III Uji Asumsi Klasik

(14)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Secara sederhana pembangunan dapat dimaknai sebagai usaha atau proses untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Pembangunan secara harfiah digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan bangsa yang salah satunya untuk mensejahterakan masyarakatnya. Dalam pembukaan UUD 1945 tercantum tujuan bangsa Indonesia yakni memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.Terlaksananya pembangunan di daerah tercermin dari terwujudnya pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).Menurut Suparmoko (2000)Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah adalah anggaran yang memuat daftar pernyataan rinci tentang jenis dan jumlah penerimaan, jenis dan jumlah pengeluaraan negara yang diharapkan dalam jangka waktu satu tahun tertentu.Anggaran Pendapatan Belanja Daerah seharusnya dipergunakan sebagai alat untuk menentukan besarnya penerimaan/pendapatan dan pengeluaran/belanja daerah yang secara efektif dapat berperan dalam upaya peningkatan indeks pembangunan manusia.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikenal sebagai salah satu alat ukur untuk melihat kondisi sumber daya manusia pada suatu negara.Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI) diperkenalkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1990.

Pembangunan manusia berarti pertumbuhan yang positif dan perubahan dalam tingkat kesejahteraan, yang meliputi aspek sosial, ekonomi, budaya, politik dan

(15)

lingkungan.Oleh sebab itu fokus utama pembangunan manusia adalah pada manusia dan kesejahteraannya (Badan Pusat Statistik).

Pada Tahun 2015 UNDP mencatat Indonesia berada di urutan ke 113 dari 188 negara dalam pencapaian pembangunan manusia di dunia. Dari capaian Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia tergolong kategori dalam negara dengan pembangunan manusia level menengah.

Tabel 1.1

IPM Asia Tenggara Berdasarkan Ranking Dunia Tahun 2015 Ranking

Dunia

Negara Indeks

Pembangunan Manusia

4 Singapura 0,925

30 Brunei

Darussalam

0,865

59 Malaysia 0,789

88 Thailand 0,740

113 Indonesia 0,689

115 Vietnam 0,683

116 Filipina 0,682

133 Timor Leste 0,605

138 Laos 0,568

143 Kamboja 0.563

145 Myanmar 0.556

Sumber: UNDP, 2016

Dari tabel diatas Indonesia masih kalah bersaing dengan negara Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. Singapura sudah memasuki negara dengan pembangunan manusia di level sangat tinggi. Disusul dengan Malaysia dan Thailand di level pembangunan manusia tinggi.Indonesia tetap melakukan pembangunan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat misalnya

(16)

di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Dari penjelasan Indeks Pembangunan Manusia di asia tenggara, penting untuk melihat perkembangan Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia dan Provinsi Sumatera Utara. Sebagai perbandingaan apakah Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi SumateraUtara di atas ataupun dibawah Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia. Berikut data ditampilkan:

Tabel 1.2

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Sumatera Utara dan Indonesia dalam (Persen)

Tahun Indeks

Pembangunan Manusia Provinsi

Sumatera Utara (%)

Indeks Pembangunan

Manusia Indonesia (%)

2008 66,86 65,36

2009 67 65,90

2010 67,09 66,53

2011 67,34 67,09

2012 67,74 67,70

2013 68,36 68,31

2014 68,87 68,90

2015 69,51 69,55

2016 70 70,18

2017 70,57 70,81

Sumber: Badan Pusat Statistik

Dari tabel 1.2 dapat dilihat bahwa Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Sumatera Utara dan Indonesia mengalami pengingkatan setiap tahun. Jika dibandingkan di Sumatera Utara pada tahun 2008-2013 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Sumatera Utara diatas lndeks Pembangunan Manusia di Indonesia yaitu sebesar 66,86, 67,67,09, 67,74 dan 68,36. Sedangkan pada tahun 2014-2017 yaitu sebesar 68,87, 69,51, 70 dan 70,57 Indeks Pembangunan

(17)

Provinsi Sumatera Utara dibawah Indeks Pembangunan di Indonesia.Indeks Pembangunan Manusia pada tahun 2008-2017 Provinsi Sumatera Utara dan Indonesia tergolong kategori sedang.

Untuk melihat capaian Indeks Pembangunan Manusia antar wilayah dikelompokkan ke dalam beberapa kategori yaitu:

1. IPM <60 tergolong kategori rendah 2. 60 ≤IPM < 70 tergolong kategori sedang 3. 70 ≤ IPM < 80 tergolong kategori tinggi 4. IPM≥ 80 tergolong kategori sangat tinggi

Dengan adanya kategori ini dapat diukur sejauhmana tingkat pembangunan manusia di suatu wilayah.

Menurut UNDP, Indeks Pembangunan Manusia mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup dan dibangun 3 dimensi dasar yaitu: kesehatan (health), pendidikan (knowledge) dan standar hidup layak (decent standard of living). Ketiga variabel tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.Kesuksesan dalam pendidikan bergantung pada kecukupan kesehatan.Disamping itu kesehatan juga merupakan prasyarat bagi peningkatan produktivitas.Dengan demikian kesehatan dan pendidikan dapat juga dilihat sebagai komponen vital dalam pertumbuhan dan pembangunan, sehingga diperlukan peran pemerintah dengan pengalokasian belanja untuk peningkatan pembangunan melalui peningkatan pendidikan dan kesehatan (Todaro). Berikut

(18)

ditampilkan data Belanja Bidang Pendidikan dan Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.

Tabel 1.3

Realisasi Belanja Bidang Pendidikan dan Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (dalam Milyar Rupiah)

Tahun

Belanja Pendidikan (Logaritma Natural)

Perubahan Pengeluaran

Pendidikan (%)

Belanja Kesehatan (Logaritma

Natural)

Perubahan Pengeluaran

Kesehatan (%)

2009 q1 42.5 42.5

2009 q2 48.5 44.75

2009 q3 54.5 46.75

2009 q4 60.5 49

Total 206 88,99 183 24,49

2010 q1 64 38

2010 q2 69 35

2010 q3 74 32

2010 q4 79 29

Total 286 38,83 134 -26,78

2011 q1 88.75 36.5

2011 q2 95.75 37.75

2011 q3 102.25 38.75

2011 q4 109.25 40

Total 396 38,46 153 14,18

2012 q1 101.5 55.5

2012 q2 102.5 62.5

2012 q3 103.5 69

2012 q4 104.5 76

Total 412 4,04 263 71,90

2013 q1 81 71.25

2013 q2 72.25 73.25

2013 q3 63.75 75.25

2013 q4 55 77.25

Total 272 -33,98 297 12,93

2014 q1 77 90.5

2014 q2 68 97

2014 q3 96.5 103.5

2014 q4 87.5 110

Total 329 20,96 401 35,02

2015 q1 65.5 39.25

2015 q2 59 61.25

(19)

Tahun

Belanja Pendidikan (Logaritma Natural)

Perubahan Pengeluaran

Pendidikan (%)

Belanja Kesehatan (Logaritma

Natural)

Perubahan Pengeluaran

Kesehatan (%)

2015 q4 46 72.25

Total 223 -32,22 223 44,39

2016 q1 32 68

2016 q2 40.75 73

2016 q3 36.25 77.5

2016 q4 32 82.5

Total 141 -36,77 301 34,98

2017 q1 404 105.75

2017 q2 550.5 117.75

2017 q3 696.5 129.75

2017 q4 843 141.75

Total 2.494 1668,79 495 64,45

Rata-rata peningkatan

(%)

175,7 Rata-rata peningkatan

(%)

18,67

Sumber : data diolah dari www.djpk.depkeu.go.id

Dari tabel 1.3 perkembangan belanja bidang pendidikan pada tahun 2009 terjadi peningkatan anggaran dari tahun sebelumnya sebesar 88,98%, pada tahun 2013 mengalami penurunan anggaran dari sebelumnya sebesar 33,98%, dan pada tahun 2017 mengalami peningkatan anggaran dari sebelumnya sebesar 1668,79%.

Belanja bidang pendidikan mengalami peningkatan anggaran paling besar pada tahun 2017 sebesar 1668,79% dan mengalami penurunan anggaran paling besar pada tahun 2016 yakni sebesar 36,77. Sehingga belanja bidang pendidikan menunjukkan rata-rata meningkat sebesar 175,7%. Perkembangan belanja bidang kesehatan pada tahun 2009 terjadi peningkatan anggaran dari tahun sebelumnya sebesar 24.49%, pada tahun 2010 mengalami penurunan sebesar 26,78%, dan pada tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 64,45%. Belanja bidang kesehatan mengalami peningkatan anggaran paling besar pada tahun 2012 sebesar

(20)

71,90% dan mengalami penurunan anggaran paling besar pada tahun 2015 sebesar 44,39%. Sehingga belanja bidang pendidikan menunjukkan rata-rata meningkat sebesar 18,67%.

Provinsi Sumatera Utara merupakan Provinsi keempat jumlah penduduk yang paling banyak di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pada tahun 2016 jumlah penduduk yang terdapat di Sumatera Utara sebanyak 14.101.911 Jiwa. Provinsi Sumatera Utara dari segi jumlah penduduk menjadi salah satu provinsi yang dapat mendongkrak indeks pembangunan manusia di Indonesia. Untuk itu, tidak dapat dipungkiri bahwa kebijakan realisasi belanja pembangunan terutama di sektor pendidikan dan sektor kesehatan akan memberi pengaruh yang positif bagi perkembangan Indeks Pembanguan Manusia (IPM).

Berdasarkan uraian di atas menarik untuk dilakukan penelitian terhadap pengeluaran pemerintah provinsi Sumatera Utara untuk Pembangunan Manusia.Pengeluaran Pemerintah Provinsi yang diteliti terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan kesehatan pengaruhnya terhadap Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia. Sehingga penelitian itu berjudul: “Analisis Pengaruh Belanja Bidang Pendidikan dan Kesehatan Terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Di Provinsi Sumatera Utara tahun 2008-2017”.

(21)

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah adalah :

1. Apakah belanja bidang Pendidikan berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia tahun 2008-2017?

2. Apakah belanjabidang Kesehatan berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia tahun 2008-2017?

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah penelitian, maka tujuan penelitian adalah:

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh belanja bidang pendidikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia tahun 2008-2017.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh belanja bidang kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia tahun 2008-2017.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai pendalaman dan pemahaman materi yang didapatkan di perkuliahan dan mengaplikasikannya pada penelitian ini.

2. Bagi Akademisi

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai referensi dan bahan kajian terhadap perekonomian Provinsi Sumatera Utara.

(22)

3. Bagi Pemerintah

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan dan informasi bagi pemerintahdalam pengambilan keputusan dalam sektor pengeluaran pemerintah dalam rangka meningkatkan pembangunan manusia.

(23)

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Konsep Pembangunan Manusia

Manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Tujuan utama dari pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan rakyatnya untuk menikmati umur yang panjang, sehat serta dapat menjalankan kehidupan yang produktif (UNDP, Human Development Report, 1990). Pembangunan nasional merupakan pembangunan manusia Indonesia secara keseluruhan. Artinya dalam melakukan pembangunan nasional manusia merupakan bagian yang paling mendapat perhatian. Keberhasilan pembangunan manusia dapat dilihat dari seberapa besar permasalahan di masyarakat dapat diatasi. Permasalahan tersebut meliputi kemiskinan, gizi buruk dan buta huruf.

Peningkatan kemampuan dasar manusia adalah salah satu upaya untuk meningkatkan potensi bangsa, yang berdampak pada peningkatan kualitas manusia. Pendidikan dan kesehatan adalah modal yang harus dimiliki suatu bangsa untuk meningkatkan potensinya. Untuk itu dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dapat dimulai dari perbaikan aspek-aspek tersebut.

Menurut UNDP, dalam pembangunan manusia ada 4 hal pokok yang perlu diperhatikan yaitu:

1. Produktivitas, dimana masyarakat harus dapat meningkatkan produktifitas mereka dan berpartisipasi secara penuh dalam proses memperoleh penghasilan dan pekerjaan berupah. Oleh karena itu,

(24)

pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu bagian dari jenis pembangunan manusia.

2. Pemerataan, dimana masyarakat harus punya akses untuk memperoleh kesempatan yang adil. Semua hambatan terhadap peluang ekonomi dan politik harus dihapus agar masyarakat dapat berpartisipasi di dalam dan memperoleh manfaat dari kesempatan ini.

3. Kesinambungan, akses untuk memperoleh kesempatan harus dipastikan tidak hanya untuk generasi dimasa depan. Segala bentuk permodalan fisik, manusia, lingkungan hidup, harus dilengkapi

4. Pemberdayaan, pembangunan harus dilakukan oleh masyarakat dan bukan hanya untuk mereka. Masyarakat harus berpartisipasi penuh dalam mengambil keputusan dan proses-proses yang mempengaruhi kehidupan mereka

2.1.2 Indeks Pembangunan Manusia

Pengukuran pembangunan manusia pertama kali diperkenalkan oleh United Nation Development Program (UNDP) tahun 1990. Lalu UNDP memperkenalkan sebuah gagasan baru dalam pengukuran pembangunan manusia yang disebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sejak saat itu IPM dipublikasikan dalam Human Development Report setiap tahunnya.

Menurut UNDP, Indeks Pembangunan manusia dibangun melalui pendekatan 3 dimensi dasar:

1. Umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life) 2. Pengetahuan (knowledge)

(25)

3. Standar hidup yang layak(decent standard of living)

IPM merupakan salah satu indikator penting dalam melihat sisi lain pembangunan. Adapun beberapa manfaat IPM antara lain:

1. IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia.

2. IPM dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah/negara.

Berdasarkan besaran Indeks Pembangunan Manusia, negara-negara di dunia dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

1. Kelompok negara dengan tingkat pembangunan manusia yang rendah (low human development) jika memiliki nilai 0 sampai 0,50.

2. Kelompok negara dengan tingkat pembangunan manusia menengah (medium human development) jika memiliki nilai 0,50 sampai 0,79.

3. Kelompok negara dengan tingkat pembangunan manusia yang tinggi (high human development) jika memiliki nilai 0,80 sampai 1.

Arsyad, (2010) mengatakan bahwa konsep IPM memberikan gambaran tentang apa yang seharusnya dipandang sebagai ukuran keberhasilan pembangunan. Pembangunan berawal dan bertitik tolak dari manusia, dilakukan oleh manusia, dan sudah semestinya ditujukan kepada manusia.

2.1.3 Dimensi Indeks Pembangunan Manusia 2.1.3.1 Umur Panjang dan Hidup Sehat

Lanjouw, dkk dalam Ginting (2008) menyatakan pembangunan manusia di Indonesia adalah identik dengan pengurangan kemiskinan. Investasi di bidang

(26)

pendidikan dan kesehatan akan lebih berarti bagi penduduk miskin dibandingkan dengan bukan penduduk miskin. Adanya fasilitas kesehatan yang murah dan terajangkau akan sangat membantu dalam meningkatkan produktifitas dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Kesehatan merupakan salah satu faktor utama bagi pengembangan juga pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM). Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia. Pasal 28 H ayat 1 menyebutkan bahwa “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Kemudian di Pasal 34 ayat 3 ditegaskan bahwa “Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak”.

Kesehatan merupakan modal yang penting dalam menciptakan peluang- peluang untuk mampu beraktivitas secara normal. Kondisi kesehatan yang baik dapat menjamin manusia dalam berbagai kegiatan pada kehidupan sehari-harinya.

2.1.3.2 Indeks Pengetahuan

Salah satu tujuan yang diamanatkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.Untuk mendapatkan pengajaran, pendidikan, dan ilmu pengetahuan juga merupakan sebuah hak asasi manusia sesuai dengan yang tertulis pada UUD 1945 pasal 28C, pasal 28E, dan pasal 31.

Pendidikan memegang peranan penting sebagai penentu kualitas sumber daya manusia. Untuk mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan

(27)

memperoleh pendidikan yang bermutu, negara menyelenggarakan program wajib belajar untuk pendidikan dasar. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 47 tahun 2008 tentang Wajib Belajar menyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan minimal bagi warga negara Indonesia, serta untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagaimana yang tertera dalam UUD 1945, bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar, dan pemerintah wajib membiayainya.

2.1.3.3 Standar Hidup Layak

Dimensi lain dari ukuran kualitas hidup manusia adalah standar hidup layak. Standar hidup layak menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang dinikmati sebagai dampak dari semakin meningkatnya perekonomiaan masyarakat. UNDP mengukur standar hidup layak dengan menggunakan Produk Domestik Bruto rill yang disesuaikan, sedangkan BPS dalam menggunakan standar hidup layak menggunakan rata-rata pengeluaran per kapita rill yang disesuaikan.

2.1.4 Penyusunan Indeks Pembangunan Manusia

Sebelum perhitungan IPM, setiap komponen harus dihitung indeksnya.

1. Dimensi Kesehatan

𝐼𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 = AHH−AHHmin

AHHmaks−AHHmin (1) 2. Dimensi Pendidikan

𝐼𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑎𝑛 = IHLS+IRLS

2 (2)

Dimana:

(28)

𝐼𝐻𝐿𝑆 = 𝐻𝐿𝑆 − 𝐻𝐿𝑆𝑚𝑖𝑛

𝐻𝐿𝑆𝑚𝑎𝑘𝑠−𝐻𝐿𝑆𝑚𝑖𝑛

𝐼𝑅𝐿𝑆 = 𝑅𝐿𝑆−𝑅𝐿𝑆𝑚𝑖𝑛

𝑅𝐿𝑆𝑚𝑎𝑘𝑠−𝑅𝐿𝑆𝑚𝑖𝑛

3. Dimensi Pengeluaran

𝐼𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛= 𝐼𝑛 (𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛)−𝐼𝑛 (𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛𝑚𝑖𝑛)

𝐼𝑛 (𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛𝑚𝑎𝑘𝑠)− 𝐼𝑛 (𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛𝑚𝑖𝑛)…..(3)

Tabel 2.1

Penentuan Nilai Maksimum dan Minimum Indikator

Satuan Maksimum Minimum

Angka Harapan Hidup Saat Lahir

Tahun 85 20

Angka Harapan Lama Sekolah

Tahun 18 0

Rata-rata Lama Sekolah

Tahun 15 0

Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan 26.572.352 (Rp)

1.007.436 (Rp) Sumber: BPS (2015)

(29)

Tabel 2.2

Diagram Perhitungan IPM Dimensi Umur Panjang

dan Sehat

Pengetahuan Standar Hidup Layak

INDIKATOR Angka Harapan Hidup

Harapan Lama Sekolah & Rata-rata

Lama Sekolah

Pengeluaran Per Kapita Riil yang

Disesuaikan

INDEKS Indeks

Kesehatan

Indeks Pendidikan Indeks Pengeluaran

Indeks Pembangunan Manusia Sumber : BPS 2014

Dari diagram diatas dapat diketahui bahwa untuk menghitung IPM, terlebih dahulu harus dihitung Indeks Kesehatan, Indeks Pengetahuan, Indeks Pengeluaran.

Selanjutnya nilai IPM dihitung sebagai berikut:

IPM = 3√𝐼𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛× 𝐼𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑎𝑛× 𝐼𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛

× 100 Dimana:

𝐼𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 = Indeks Kesehatan 𝐼𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑎𝑛 = Indeks Pengetahuan 𝐼𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛 = Indeks Pengeluaran Sebagai contoh dapat dilihat di bab 3.

(30)

2.2 Pengeluaran Pemerintah

Pengeluaran pemerintah adalah semua pembelian barang atau jasa yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah-pemerintah daerah (Boediono 1993). Pengeluaran pemerintah mencerminkan kebijakan pemerintah. Apabila pemerintah telah menetapkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa, pengeluaran pemerintah mencerminkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan kebijakan tersebut.

Pemerintah berperan di dalam menyediakan kebutuhan akan barang dan jasa publik yang tak dapat disediakan sektor swasta. Menurut pendapat Keynes dalam Sadono Sukirno (2000) bahwa peranan atau campur tangan pemerintah masih sangat diperlukan yaitu apabila perekonomian sepenuhnya diatur oleh kegiatan pasar bebas, bukan saja perekonomian tidak selalu mencapai tingkat kesempatan kerja penuh tetapi juga kestabilan kegiatan ekonomi tidak dapat diwujudkan.

Pengeluaran pemerintah (Government expenditure) adalah bagian dari kebijakan fiskal (Sadono Sukirno, 2000) yaitu suatu tindakan pemerintah untuk mengatur jalannya perekonomiaan dengan cara menentukan besarnya penerimaan dan pengeluaran pemerintah setiap tahunnya, yang tercermin dalam dokumen Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk nasional dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk daerah atau regional..

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pengeluaran pemerintah Indonesia secara garis besar dikelompokkan ke dalam dua golongan yaitu:

(31)

1. Pengeluaran Rutin

Pengeluaran rutin adalah pengeluaran yang secara rutin dilakukan oleh pemerintah setiap tahunnya dalam rangka penyelenggaraan dan pemeliharaan roda pemerintahan. Pengeluaran rutin terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, subsidi, pembayaran angsuran dan bunga utang negara, belanja pemeliharaan, dan belanja perjalanan.

2. Pengeluaran Pembangunan

Pengeluaran pembangunan adalah pengeluaran yang dilakukan pemerintah untuk pembangunan fisik dan non fisik dalam rangka menambah modal masyarakat. Menurut Dumairy (1999) dalam skripsi Brilian (2016) Pemerintah memiliki 4 peran yaitu :

1. Peran alokatif, yakni peranan pemerintah dalam mengalokasikan sumber daya ekonomi yang ada agar pemanfaatannya bisa optimal dan mendukung efisiensi produksi.

2. Peran distributif, yakni peranan pemerintah dalam mendistribusikan sumber daya, kesempatan dan hasil-hasil ekonomi secara adil dan wajar

3. Peran stabilitatif, yakni peranan pemerintah dalam memelihara stabilitas perekonomian dan memulihkannya jika berada dalam keadaan disequilibrium.

4. Peran dinamisatif, yakni peranan pemerintah dalam menggerakkan proses pembangunan ekonomi agar lebih cepat tumbuh, berkembang dan maju.

(32)

Klasifikasi belanja publik menurut Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 27 menetapkan klasifikasi belanja sebagai berikut:

1. Belanja daerah diklasifikasikan menurut organisasi, fungsi, program dan kegiatan serta jenis belanja.

2. Klasifikasi belanja menurut organisasi disesuaikan dengan susunan organisasi pemerintahan daerah.

3. Klasifikasi Menurut Fungsi Terdiri Dari;

a. Klasifikasi berdasarkan urusan pemerintahan untuk tujuan manajerial pemerintahan daerah

b. Klasifikasi berdasarkan fungsi pengelolaan keuangan negara untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan dalam rangka pengelolaan keuangan negara.

Klasifikasi belanja publik dapat dikategorikan berdasarkan berbagai macam kriteria, salah satu diuraikan dalam Government Finance Statistics Manual (1986) dalam skripsi Brilian (2016) adalah sebagai berikut:

1. Belanja Jasa Publik Umum

Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah belanja operasi untuk organisasi eksekutif dan legislatif, belanja untuk jasa-jasa umum, belanja riset dasar, belanja transaksi hutang, dan belanja administrasi transfer antar unit pemerintah daerah.

(33)

2. Belanja Pertahanan

Belanja-belanja kategori ini antara lain adalah belanja pertahanan militer dan sipil, bantuan militer untuk asing, riset pertahanan dan sebagainya.

3. Belanja Perlindungan Umum

Belanja kategori ini dibedakan dengan belanja pertahanan, diantaranya adalah belanja jasa kepolisian, jasa pemadam kebakaran, jasa pengadilan, jasa rumah tahanan dan riset untuk perlindungan public.

4. Belanja Urusan Ekonomi

Belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja urusan ketenagakerjaan, belanja komersial, belanja energi dan bahan bakar dan belanja untuk perindustrian lainnya beserta risetnya.

5. Belanja Perlindungan Lingkungan

Belanja yang termasuk diantaranya adalah belanja pengolahan limbah dan polusi, serta tata kota.

6. Belanja Perumahan Dan Public Utilities

Belanja kategori ini diantaranya adalah pengembangan perumahan dan pemukiman, sistem penyediaan air bersih, belanja penerangan jalan, dan pekerjaan-pekerjaan umum lainnya.

7. Belanja Kesehatan

Belanja kesehatan diantaranya adalah perlengkapan dan peralatan kesehatan, jasa kepada pasien, jasa rumah sakit umum, dan risetnya.

(34)

8. Belanja Rekreasi, Budaya Dan Agama

Belanja ini antara lain adalah belanja jasa olahraga dan rekreasi, belanja jasa kebudayaan, jasa penyiaran, jasa urusan keagaman,

9. Belanja Pendidikan

Belanja pendidikan diantara lain adalah belanja pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, termasuk belanja pendukung pendidikan lainnya.

10. Belanja Perlindungan Sosial

Belanja perlindungan sosial diantara lain adalah belanja perlindungan terhadap manusia lanjut usia (manula), belanja perlindungan anak dan keluarga, belanja untuk mengatasi pengangguran, dan belanja sosial lainnya.

2.2.1 Belanja Pemerintah Bidang Pendidikan

Teori pertumbuhan ekonomi yang berkembang saat ini didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia didalam proses pembangunan atau disebut juga investment in human capital. Hal ini berarti peningkatan kemampuan masyarakat menjadi suatu tumpuan yang paling efisien dalam melakukan pembangunan disuatu wilayah. Asumsi yang digunakan dalam teori human capital adalah bahwa pendidikan formal merupakan faktor yang dominan untuk menghasilkan masyarakat berproduktivitas tinggi. Teori human capital dapat diaplikasikan dengan syarat adanya sumber teknologi tinggi secara efisien dan adanya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. Teori ini dipercaya bahwa investasi dalam hal pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan

(35)

produktivitas masyarakat (Bastias) dalam skripsi (Nur Azizah 2016). Senada dengan itu menurut Sulaiman Asang (2012) Teori pertumbuhan ekonomi yang berkembang saat ini didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia didalam proses pembangunan atau disebut juga investment in human capital. Hal ini berarti peningkatan kemampuan masyarakat menjadi suatu tumpuan yang paling efisien dalam melakukan pembangunan disuatu wilayah. Isu mengenai sumber daya manusia (human capital) sebagai input pembangunan ekonomi sebenarnya telah dimunculkan oleh Adam Smith pasca tahun 1776, yang mencoba menjelaskan penyebab kesejahteraan suatu negara, dengan mengisolasi dua faktor, yaitu pentingnya skala ekonomi dan pembentukan keahlian dan kualitas manusia.

Investasi dalam hal pendidikan mutlak dibutuhkan maka pemerintah harus dapat membangun suatu sarana dan sistem pendidikan yang baik. Alokasi anggaran pengeluaran pemerintah terhadap pendidikan merupakan wujud nyata dari investasi untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.

Menurut Todaro pendidikan memang memiliki pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi melalui 6 cara yaitu:

1. Meningkatnya secara umum kualitas angkatan kerja melalui penanaman pengetahuan kerja dan keterampilan.

2. Meningkatnya mobilitas tenaga kerja dan mempromosikan pembagian kerja.

3. Memungkinkannya penyerapan Infomasi baru secara lebih cepat dan penerapan proses baru dan input yang kurang dikenal menjadi lebih efisien.

(36)

4. Menghilangkan hambatan hambatan sosial dan kelembagaan bagi pertumbuhan ekonomi.

5. Beraninya wirausahawan untuk mempromosikan tanggung jawab individual, kemampuan organisasional, mengambil resiko yang moderat dan merencanakan dalam jangka panjang.

6. Meningkatnya kemampuan manajemen menjadi lebih sehingga alokasi sumber daya menjadi lebih efisien.

Dari berbagai studi tersebut sangat jelas dapat disimpulkan bahwa pendidikan mempunyai pengaruh terhadap pembangunan ekonomi melalui berkembangnya kesempatan untuk meningkatkan kesehatan, pengetahuan, dan keterampilan, keahlian, serta wawasan mereka agar mampu lebih bekerja secara produktif, baik secara perorangan maupun kelompok. Implikasinya, semakin tinggi pendidikan, hidup manusia akan semakin berkualitas.

Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 48 tahun 2008 Pasal 1 ayat ke (3) Anggaran Belanja Fungsi Pendidikan yang dianggarkan dalam APBD untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, termasuk gaji pendidik, namun tidak termasuk anggaran pendidikan kedinasan.

Anggaran pendidikan yang besar jika dikelola dengan baik dan dialokasikan secara tepat diharapkan mampu meningkatkan tingkat melek huruf dan tingkat lama sekolah. Dengan bertambahnya kapasitas seseorang akibat dari mengenyam pendidikan, maka diharapkan mampu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sehingga mendapatkan tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Selanjutnya dengan

(37)

tingkat pendapatan yang lebih baik, diharapkan bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik sehingga dengan demikian akan meningkatkan angka harapan hidup.

Belanja pendidikan merupakan jenis belanja daerah yang dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota dalam bidang pendidikan. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 pasal 49 ayat (1) tentang pengalokasian dana pendidikan disebutkan bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Besarnya pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan menjadi ukuran yang menunjukkan perhatian pada usaha pengembangan kualitas sumber daya manusia. Tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan karena pendidikan merupakan salah satu komponen utama dalam lingkaran setan kemiskinan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah melalui perbaikan kualitas pendidikan. Pemerintah hendak menjamin bahwa semua anak dapat bersekolah, sehingga diperlukan alokasi anggaran pendidikan yang besar.Dalam pemenuhan anggaran tersebut amanat amandemen UUD 1945 telah mensyaratkan alokasi anggaran pendidikan minimal sebesar 20 persen dari total anggaran. Pendidikan dapat dilihat sebagai komponen vital dalam pertumbuhan dan pembangunan, sehingga diperlukan peran pemerintah denganpengalokasian belanja untuk peningkatan pembangunan melalui peningkatan pendidikan (Todaro, 2006).

(38)

2.2.2 Belanja Pemerintah Bidang Kesehatan

Kesehatan merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap manusia, tanpa kesehatan masyarakat tidak dapat menghasilkan suatu produktivitas bagi negara.

Kegiatan ekonomi suatu negara akan berjalan jika ada jaminan kesehatan bagi setiap penduduknya. Terkait dengan teori human capital bahwa modal manusia berperan signifikan, bahkan lebih penting daripada faktor teknologi dalam memacu pertumbuhan ekonomi (Setiawan) dalam skripsi (Bambang Riski Syahputra 2016)

Belanja kesehatan merupakan jenis belanja daerah yang dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota dalam bidang kesehatan. Berdasarkan Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 pasal 171 ayat (1) menyebutkan besar anggaran kesehatan Pemerintah dialokasikan minimal sebesar 5% (lima persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji dan ayat (2) menyebutkan bahwa besar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dialokasikan minimal 10 persen dari APBD di luar gaji.

Pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan yang diselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan publik dan pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan penyelenggara pelayanan publik adalah instansi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Sedangkan pelayanan publik yang harus diberikan kepada masyarakat diklasifikasikan dalam dua kategori utama yaitu pelayanan kebutuhan dasar dan pelayanan kebutuhan pokok.

(39)

Pelayanan kebutuhan dasar yang harus diberikan oleh pemerintah meliputi kesehatan, pendidikan dasar, dan bahan kebutuhan pokok masyarakat. Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat, oleh karena itu kesehatan adalah hak bagi setiap warga masyarakat yang dilindungi Undang-Undang Dasar.

Perbaikan pelayanan kesehatan pada dasarnya merupakan suatu investasi sumber daya manusia untuk mencapai masyarakat yang sejahtera (welfare society).

Tingkat kesehatan masyarakat akan sangat berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat, karena tingkat kesehatan memiliki keterkaitan yang erat dengan kemiskinan. Sementara itu, tingkat kemiskinan akan terkait dengan tingkat kesejahteraan. Oleh karena kesehatan merupakan faktor utama kesejahteraan masyarakat yang hendak diwujudkan pemerintah, maka kesehatan harus menjadi perhatian utama pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan publik. Pemerintah harus dapat menjamin hak masyarakat untuk sehat (right for health) dengan memberikan pelayanan kesehatan secara adil, merata, memadai, terjangkau, dan berkualitas. Kesehatan dapat dilihat sebagai komponen vital dalam pertumbuhan dan pembangunan, sehingga diperlukan peran pemerintah dengan pengalokasian belanja untuk peningkatan pembangunan melalui peningkatan kesehatan (Todaro 2006).

2.3 Penelitian Terdahulu

1. Ginting (2008) dengan judul “Analisis Pembangunan Manusia di Indonesia”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pengeluaran rumah tangga untuk makanan, pengeluaran rumah tangga untuk bukan makanan, pengeluaran pemerintah bidang

(40)

pendidikan, rasio penduduk miskin, dan pengaruh krisis ekonomi terhadap pembangunan manusia di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data runtun waktu (time series) dan silang tempat (cross section) atas 26 Provinsi pada periode 1996, 1999, 2002, 2004, 2005, 2006. Penelitian ini menggunakan analisis data dengan menggunakan metode efek acak (random effect). Penggunaan metode ini dapat menjelaskan perbedaan karakteristik pembangunan manusia masing- masing Provinsi, sehingga lebih representatif. Hasil penelitain ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara konsumsi rumah tangga untuk makanan dan bukan makanan, pengeluaran pemerintah untuk pendidikan, (besarnya pengaruh tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien regresi variabel-variabel bebas, yaitu sebesar 0,9829 untuk variabel konsumsi rumah tangga untuk makanan, 1,2774 untuk konsumsi rumah tangga untuk bukan makanan, 26,6791 untuk pengeluaran pemerintah untuk pendidikan, dan -0,214 untuk rasio penduduk miskin.

2. Lubis (2015) dengan judul penelitiam “Analisis Pengaruh Desentralisasi Fiskal terhadap Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh desentralisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), realisasi Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH) terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. PAD, DAU, DAK, dan DBH dirasiokan dengan belanja modal. Hal ini berarti menunjukkan seberapa

(41)

besar kemampuan PAD, DAU, DAK, dan DBH dalam membiayai belanja modal daerah.Jenis penelitian ini dilakukan berdasarkan penelitian asosiatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan dua variabel atau lebih. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan menggunakan data panel dari tahun 2010-2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis model Generalized Least Square (GLS), dimana dalam metode ini dapat dianalisis dengan dua model pendekatan, yaitu Fixed Effect Model (FEM) dan Random Effect Model (REM). Selanjutnya dari kedua model tersebut dipilih model terbaik dengan Hausman Test.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rasio Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap belanja modal mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusi (IPM), sedangkan rasio Dana Bagi Hasil (DBH) terhadap belanja modal mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Sementara itu rasio Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) terhadap belanja modal mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Secara keseluruhan perkembangan IPM kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara mengalami peningkatan.

3. Aditya (2016) dengan judul “Pengaruh Indikator Komposit Indeks Pembangunan Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Lampung”. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui seberapa

(42)

besar pengaruh angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah, angka melek huruf dan daya beli terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan data runtun waktu (time series) pada periode 1999-2013. Data yang diambil dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diambil dari Badan Pusat Statisik Provinsi Lampung.Kemudian data ini diolah dan dianalisis dengan instrumenstatistik berupa regresi linier berganda, uji goodness of it, uji penyimpangan asumsi klasik dengan menggunakan program E-Views 9.1. Analisis regresi adalah studi ketergantungan dari variabel dependen pada satu atau lebih variabel yang lain yaitu variabel independen.Hasil penelitian ini menunjukkaan adanya pengaruh positif dan signifikan antara angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah, angka melek huruf dan daya beli terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung.

4. Pratowo (2013) dengan judul “Analisis Faktor-Faktor yang berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia”. Penelitian ini menggunakan analisis data sekunder mengenai variabel belanja daerah, gini rasio, pengeluaran non makanan, dan rasio ketergantungan yang diduga berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Jawa Tengah. Cakupan spasial studi adalah seluruh kabupaten/kota dengan series data 8 tahun sejak tahun 2002 sampai tahun 2009, dengan jumlah keseluruhan 280 data panel yang merupakan penggabungan data spasial dan time series. Data diambil dari beberapa publikasi yang di terbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah. Data yang diteliti

(43)

merupakan data panel yaitu gabungan antara time series dan spasial.

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia. Model regresi data panel dalam penelitian ini yaitu menggunakan variabel dependen Indeks Pembangunan Manusia (IPM), sedangkan variabel independennya adalah Belanja Daerah (BD), Rasio Gini (GR), Rasio Konsumsi non Makanan Oleh Masyarakat (PNM) dan Rasio Ketergantungan (RK).Persamaan estimasi model regresi yang sesuai untuk digunakan dalam penelitian ini berdasarkan hasil uji signifikansi model, uji asumsi klasik, dan uji kesesuaian model yang dilakukan adalah model regresi yang diestimasi dengan model random effect. Berdasarkan hasil regresi data panel pada penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut: variabel yang berpengaruh signifikan positif terhadap penelitian ini adalah variabel belanja daerah dan variabel proporsi pengeluaran non makanan, sedangkan variabel yang berpengaruh signifikan negatif adalah variabel gini rasio dan variabel rasio ketergantungan.

5. Kacaribu (2013) dengan judul “Analisis Indeks Pembangunan Manusia dan faktor-faktor yang mempengaruhi di Provinsi Papua”. Penelitian ini mempunyai 2 tujuan, yaitu pertama, menganalisis perkembangan Indeks Pembangunan Manusia dan komponennya pada setiap kabupaten di Provinsi Papua, Kedua, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan manusia di Provinsi Papua. Penelitian ini difokuskan pada pembangunan ekonomi daerah, khususnya pada kabupaten/kota di

(44)

Provinsi Papua, dengan menggunakan 29 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Papua, pada tahun 2009 sampai 2011. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif dan panel data dengan pendekatan Fixed Effect Model. Variabel terikat pada penelitian ini adalah Indeks Pembangunan Manusia, sedangkan variabel bebas yang digunakan adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pengeluaran pemerintah menurut fungsi pendidikan, rasio jumlah penduduk terhadap jumlah perawat, rasio kemiskinan terhadap jumlah penduduk, rasio murid SD terhadap guru, rasio SMP terhadap guru, rasio murid SMA terhadap guru. Hasil penelitian ini adalah bagwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pengeluaran pemerintah menurut fungsi pendidikan, rasio kemiskinan terhadap jumlah penduduk, rasio jumlah penduduk terhadap jumlah dokter, rasio jumlah penduduk terhadap jumlah bidan, rasio jumlah penduduk terhadap jumlah perawat, rasio murid SMA terhadap guru mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), sedangkan rasio murid SD terhadap guru, rasio murid SMP terhadap guru tidak mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Papua.

2.4 Kerangka Konseptual

Untuk menggambarkan pengaruh antara variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y) maka kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

(45)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual menunjukkan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Indeks Pembangunan Manusia (Y) sedangkan variabel independen terdiri dari Belanja Pendidikan(X1) dan Belanja Kesehatan (X2).

Pengeluaran pemerintah mencerminkan kebijakan pemerintah.Apabila pemerintah telah menetapkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa, maka pengeluaran pemerintah mencerminkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan kebijakan tersebut (Mangkoesoebroto 2001).

Banyak pertimbangan yang mendasari pengambilan keputusan pemerintah dalam mengatur pengeluarannya. Pemerintah tidak cukup hanya meraih tujuan akhir dari setiap kebijaksanaan pengeluarannya. Tetapi juga harus memperhitungkan sasaran antara yang akan menikmati kebijaksanaan tersebut.

Belanja Pemerintah dalam hal ini pengeluaran urusan pendidikan, dan urusan kesehatan merupakan kewajiban pemerintah sebagai bentuk pelayanan bagi

Indeks Pembangunan Manusia Belanja Kesehatan (Y)

(X2)

Belanja Pendidikan (X1)

(46)

prasarana pendidikan dan kesehatan dengan terjangkau dan berkualitas.Belanja pemerintah bidang pendidikan dapat meningkatkan indeks pengetahuan dan belanja pemerintah bidang kesehatan dapat meningkatkan umur panjang dan hidup sehat.Umur panjang dan hidup sehat merupakan salah satu faktor untuk menghitung Indeks Pembangunan Manusia.

Menurut para ahli mengenai kualitas pembangunan manusia dapat disimpulkan bahwa salah satu indikator untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam pembangunan ekonomi yaitu menggunakan Indeks Pembangunan Manusia. IPM merupakan ukuran keberhasilan pembangunan manusia.

2.5 Hipotesis

Menurut Sugiyono (2014) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam kalimat pernyataan. Dinyatakan jawaban sementara, karena jawaban yang diberikan hanya didasarkan pada teori yang relevan, dan belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh dalam pengumpulan data:

Adapun hipotesis yang didapat pada penelitian ini adalah:

1. Pengeluaran di bidang pendidikan berpengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Sumatera Utara tahun 2008-2017.

2. Pengeluaran di bidang kesehatan berpengaruh positif Terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Sumatera Utara tahun 2008-2017.

(47)

BAB III

METODE PENELITIAN

Menurut Hasan (2002) metode penelitian merupakan cara atau jalan yang ditempuh sehubungan dengan penelitian yang dilakukan, yang memiliki langkah- langkah sistematis. Metode penelitian menyangkut masalah kerjanya, yaitu cara kerja untuk dapat memahami yang menjadi sasaran penelitian yang bersangkutan, meliputi prosedur penelitian dan teknik penelitian.

3.1 Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Menurut Sugiyono (2014) penelitian deskriptif kuantitatif yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan antar variabel satu dengan variabel lainnya.

3.2 Tempat Penelitian

Tempat penelitian ini dilakukan di Provinsi Sumatera Utara, data penelitian diambil dari tahum 2008 sampai tahun 2017.

3.3 Batasan Operasional

Penelitian ini terdiri dari 2 variabel yaitu variabel independen (X) dan variabel dependen (Y).Variabel Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai Y, variabel Belanja Pendidikan (BP) sebagai X1 , Belanja Kesehatan (BK) sebagai X2 di Provinsi Sumatera Utara.

(48)

3.4 Defenisi Operasional

1. Indeks Pembangunan Manusia adalah ukuran pembangunan manusia di Provinsi Sumatera Utara tahun 2008-2017 (Logaritma Natural).

2. Belanja Pendidikan adalah realisasi pengeluaran pemerintah yang dialokasikan pada bidang pendidikan di Provinsi Sumatera Utara tahun 2008-2017 (Logaritma Natural).

3. Belanja Kesehatan adalah realisasi besarnya pengeluaran pemerintah yang dialokasikan pada bidang kesehatan di Provinsi Sumatera Utara tahun 2008-2017 (Logaritma Natural).

3.5 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.Menurut Ruslan (2006), data sekunder merupakan data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara atau dihasilkan pihak lain atau digunakan oleh lembaga lainnya yang bukan merupakan pengolahanya, tetapi dimanfaatkan pada suatu penelitian tertentu. Data sekunder ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik, UNDP, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan, buku, penelitian terdahulu dan literatur untuk melengkapi data-data yang diperlukan. Penelitian ini menggunakandata runtun waktu (time series) dalam bentuk triwulan. Data time series adalah sebuah kumpulan observasi terhadap nilai-nilai sebuah variable dari beberapa periode waktu yang berbeda.

(49)

3.6 Metode Pengumpulan Data

Penulis menggunakan teknik dokumentasi dalam pengumpulan data penelitian ini. Penulis mendokumentasikan data yang dikumpulkan dari Badan Pusat Statistik, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementrian Keuangan Republik Indonesia (DJPK Kemenkeu), buku, penelitian terdahulu maupun situs yang berkaitan dengan penelitian.

3.7 Teknik Analisis Data

3.7.1 Perhitungan Indeks Pembangunan Manusia

Adapun perhitungan IPM merupakan lanjutan dari Bab 2. Adapun contoh dari perhitungan IPM adalah sebagai berikut:

Pada Kabupaten Nias, Angka Harapan Hidup sebesar 67,70, Harapan Lama Sekolah sebesar 13,10, Rata-rata Lama Sekolah sebesar 9,85 dan Pengeluaran per Kapita sebesar Rp. 11.266.636. Maka, terlebih dahulu perlu mengukur masing- masing dimensi.

𝐼𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 = 67,70 − 20

85 − 20 = 0,733 (1) 𝐼𝐻𝐿𝑆 = 13,10 − 0

18 − 0 = 0,727 (2) 𝐼𝑅𝐿𝑆 = 9,85 − 0

15 − 0 = 0,656 (3) 𝐼𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑎𝑛 = 0,727 + 0,656

2 = 0,6918 (4)

𝐼𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛 = 11.266.636−1.007.436

26.572.352−1.007.436 =0,4014 (5)

(50)

IPM = 3√𝐼𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛× 𝐼𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑎𝑛× 𝐼𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛

= 3√0,734 × 0,692 × 0,4014 × 100

= 3√0,2038822992

= 0,588563 × 100 = 58,8563

3.7.2 Interpolasi Data

Dalam penelitian ini digunakan metode interpolasi untuk mengolah data.

Hal tersebut dilakukan karena data yang tersedia dalam bentuk tahunan sedangkan data yang dibutuhkan adalah data dalam bentuk kuartalan, sehingga akan dilakukan interpolasi data tahunan menjadi data kuartalan. Interpolasi adalah Interpolasi data merupakan metode pemecahan data menjadi data triwulan atau bentuk kuartalan, dimana data setahun dibagi menjadi empat data dalam bentuk kuartalan.

Pada umumnya interpolasi digunakan untuk mengubah data tahunan menjadi data bulanan ataupun data triwulan. Berikut rumus interpolasi untuk mengubah data tahunan menjadi data kuartalatau triwulan (eviews.com):

YtK1 =1/4{Yt –4,5/12(Yt –Yt-1 ) } YtK2 =1/4{Yt –1,5/12( Yt –Yt-1 ) } YtK3 =1/4{Yt +1,5/12( Yt –Yt-1 ) } YtK4 =1/4{Yt +4,5/12(Yt –Yt-1 )}

(51)

Keterangan:

YtK1,K2,K3,K4 : Data Kuartalan (triwulan) 1, 2, 3, 4 pada tahun t

Yt : Data pada tahun t

Yt-1 : Belanja Pendidikan, Kesehatan dan IPM tahun 𝑡−1

3.7.3 Regresi Linier Berganda

Untuk mengetahui besarnya pengaruh dari suatu variabel bebas (independent variable) terhadap variabel terikat (dependent variable) maka penelitian ini menggunakan model regresi linear berganda dengan metode kuadrat terkecil atau Ordinary Least Square (OLS). Analisis regresi adalah studi ketergantungan dari variabel dependen pada satu atau lebih variabel independen, dengan tujuan untuk mengestimasi dan/atau memprediksi nilai rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang diketahui (Gujarati, 2007).

Menurut Ghozali (2006) dalam analisis regresi, selain mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih, juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen.

Model yang digunakan dalam penelitian ini dijabarkan dalam fungsi sebagai berikut :

Y = 𝛃0+𝛃1X1+ 𝛃2X2+ 𝛍 Dimana :

Y =IPM

𝛃0 =Konstanta 𝛃1 =Koefisien X1

(52)

𝛃2 = Koefisien X2

X1 =Variabel pengeluaran publik pendidikan X2 =Variabel pengeluaran publik kesehatan 𝛍 =error term

Bentuk hipotesis diatas secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut:

- Jika terjadi kenaikan pada X1, maka Y mengalami kenaikan, ceteris paribus.

- Jika terjadi kenaikan pada X2, maka Y mengalami kenaikan, ceteris paribus.

Tahapan pengujian hipotesis menggunakan regresi linear berganda ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:

1. Uji Signifikan Parsial (Uji-t)

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh suatu variabel bebas secara parsial (individual) terhadap variasi variabel terikat.

Kriteria pengujiannya adalah:

- H0 : b1 = 0, artinya secara parsial tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.

- H0 : b1 ≠ 0, artinya secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.

a. Menentukan t (tabel)

(53)

Untuk menentukan t (tabel) pertama kali ditentukan Df. Dalam penelitian ini alfa yang ditentukan 5%. Df diperoleh dari rumus n – 1 atau jumlah data dikurang 1 (satu).

b. Menentukan t (hitung)

Untuk menetukan t (hitung) dilakukan pengolahan data menggunakan alat bantu program statistic EVIEWS version 9.0.

Kriteria pengambilan keputusan adalah:

- H0 diterima jika t hitung < t tabel pada α= 5% (Ha ditolak) - H0 ditolak jika t hitung > t tabel pada α= 5% (Ha diterima) 2. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik

Pengambilan keputusan dilakukan sesuai dengan hasil perbandingan t hitung dengan t tabel. Agar model regresi yang digunakan menunjukkan hubungan yang signifikan yang disebut BLUE (Best Linier Unbiased Estimator) harus memenuhi asumsi dasar klasik regresi, meliputi:

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linier variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak (Suliyanto). Dalam penelitian ini, untuk mendeteksi normalitas data dilakukan dengan pengujian Kolmogrov-Smirnov (Santoso).

Dalam uji ini, pedoman yang digunakan dalam pengambilan keputusan adalah:

a. Jika nilai signifikan > 0.05 maka distribusi normal, dan b. Jika nilai signifikan < 0.05 maka distribusi tidak normal.

(54)

b. Uji Multikolinearitas

Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi multikolinearitas antara lain dengan metode VIF (Variance Inflation Factor) untuk mendeteksi ada atau tidaknya gejala multikolinearitas. Melihat nilai VIF (Variance Inflation Factor).

1. Tidak terjadi Multikonieritas, jika nilai VIF lebih kecil 5,00.

2. Terjadi Multikonieritas, jika nilai VIF lebih besar atau sama dengan 5,00.

c. Heterokedastisitas

Heterokedastisitas adalah keadaan dimana faktor penggangu tidak memilki varian yang sama (Winarno 2007). Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk mengetahui masalah heterokedastisitas adalah dengan uji white. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedatisitas.

Dari hasil uji White Heteroskedastisity kriteria untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas (Winarno 2007).

 Bila Prob Obs*R- square < 0,05, = Maka terdapat heteroskedasitisitas (tolak Ho, terima Ha)

 Bila Prob Obs*R- square > 0,05,= Maka tidak terdapat

heteroskedasitas ( tolak Ha, terima Ho) d. Autokorelasi

Autokorelasi terjadi apabila term of error (µ) dari periode waktu yang berbeda berkorelasi.Dikatakan bahwa term of error berkorelasi atau mengalami korelasi serial apabila variabel (ei.ej) ≠ 0 untuk 1 ≠ j, dalam hal ini dapat

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka Konseptual
Grafik Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Sumatera Utara
Grafik Belanja Bidang Pendidikan di Provinsi Sumatera Utara
Grafik Belanja Bidang Kesehatan di Provinsi Sumatera Utara

Referensi

Dokumen terkait

terhadap variabel terikat, maka model yang digunakan adalah analisis data. regresi linier berganda dengan menggunakan uji asumsi klasik

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh belanja pemerintah bidang pendidikan dan kesehatan terhadap indeks pembangunan manusia di Indonesia. Populasi dalam

Metode analisis data menggunakan metode deskriptif dan metode kuantitatif yaitu dengan menggunakan Analisis Regresi linier berganda yang digunakan untuk mengukur pengaruh

Berdasarkan hasil estimasi regresi linier berganda, menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah bidang pendidikan (PPD) yang dikeluarkan oleh kabupaten/kota di Provinsi

Belanja ini merupakan semua pengeluaran pemerintah daerah yang berhubungan dengan aktivitas atau pelayanan publik. yang meliputi: a) Belanja Pegawai, merupakan pengeluaran

harga saham gabungan di bursa efek Jakarta tahun 2011 – 2013 adalah analisis.. deskriptif dan analisis kuantitatif dengan Metode Regresi Linier Berganda

Hasil pengolahan data melalui SPSS.22, terkait Persamaan regresi berganda dan estimasinya, dapat diketahui persamaan regresi berganda dalam penelitian ini adalah:

Model regresi berganda yang didapatkan yaitu: 𝑦𝑦 = 97,479−2,214𝑋𝑋1−0,258𝑋𝑋2+𝜀𝜀 Simpulan Dari hasil analisis dan pembahasan menggunakan metode analisis regresi berganda pada kasus