commit to user
i
PERAN BOARD OF DIRECTORS DALAM PRAKTIK RISKDISCLOSURE
PADA PERBANKAN INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta
OLEH:
FIRAZONIA MEIVITASARI NIM. F0307051
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET
commit to user
iicommit to user
iii
commit to user
ivcommit to user
v
MOTTO
Sesungguhnya bersama kesulitan
ada kemudahan, (QS. Al Insyiroh: 6)
Jika kamu mendapat kesusahan,
ingatlah menyimpan kesabaran (Horatius)
Orang yang paling tidak bahagia ialah
mereka yang paling takut pada perubahan (Mognon Me Lauhlin)
Agama tanpa ilmu adalah buta.
commit to user
vi
PERSEMBAHAN
I dedicated my ordinary paper
to
all extraordinary people in
commit to user
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat,
karunia, segala nikmat, dan kekuatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul “Peran Board of Directors dalam Praktik Risk Disclosure
pada Perbankan Indonesia”, sebagai tugas akhir guna memenuhi syarat-syarat
untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Sebelas
Maret.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini tidak terlepas
dari dorongan dan bantuan banyak pihak. Oleh karenanya, penulis dengan ini
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Bambang Sutopo, M.Com., Ak., selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sebelas Maret.
2. Drs. Jaka Winarna M.Si., Ak., selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Sebelas Maret.
3. Bapak Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com (Hons), Ph.D, Ak. selaku
pembimbing skripsi atas semua kritik, saran, nasihat, dan perhatianya yang
sangat membantu penulis untuk mencapai hasil yang terbaik.
4. Bapak-bapak dan ibu-ibu dosen, serta karyawan FE UNS, terimakasih atas
commit to user
viii
5. Papa dan mama tercinta atas semua doa dan dukungannya, terima kasih
sudah memberikan yang terbaik selama ini yang tak mungkin terbalas
dengan apapun. Papa mama yang tak pernah lelah mendengar keluhan
anaknya, I love you ma, I love you pa.
6. Ega Krisma/mubi/popo si alien dari planet Pluto, very special and
extraordinary man i’ve ever met. Beberapa langkah lagi menuju cita-cita
kita ke Emirates Stadium. Makasih juga buat vario biru dan helm tawon
yang sudah mengantarkan kita kemana-mana selama ini.
7. The big family of Sri Mulyono (bapak, alm. Ibu, alm. om erik, tante nana,
mama lin, tante nik, om kembar, om wawan, dan adek2ku semua, kalian
harus sukses), kel. Hasan Basri (alm. nenek, kakek, om om, tante tante,
kakak kakak, dan adik adikku), and Soegeng Band (bunda, bapak, mas
edo, eyang, dan semunya, you rocks!)
8. My MDM (mademoisseless) ira, ichie, hilda, dea, dinna, kiki, reny, tania,
lia, dania and also four brothers andrie, eci, pape, iwak. FE ga menarik
tanpa kalian. Bakal sangat merindukan saat saat muda dulu.
9. The Djs Community especially erna, umi, ane, and mas sawit. Temen
seperjuangan selama beberapa bulan terakhir untuk menyelesaikan skripsi
ini. Terima kasih buat sharing dan koreksiannya.
10.Keluarga besar AGEN 007 FE UNS (andin, diana, ayus, endah, adu, dee,
silvy, nani, dewok, ana, meldhan, sari, eva, rini, ria, bimo, bolang, sepep,
neesya, made ayu, rina, sanda, asmara, sofi, tia, irma, cuiy, ichie, nia, erna,
commit to user
ix
ndok, moyo, fitrah, angga, iwak, mek, timo, andri, tafik, fat, mimin,
murdiani, aniz, suci, dela, novi, dewilis, mba sri, puspa, dewi indrias, dina,
miol, mba opi, ery, ajeng, mike, aninda, adikur, ragil, dedi, spirtuz, peka,
tri, fariz, awang, herman, smuanya.. thx for all..
11.Temen2 di BAPEMA (mas hevy, mb warih, boy, mba lita, adhi, ega,
deniz, agung, arif, ciput, angga, dj, fa, nila, eva, ofa, nunu, intan, mas anip)
12.Keluarga besar kos salita (ira, tantiw, ndok, niken, korek, donat, mba je,
mba ayu, indul, mba una, dimi, fany, tetua2 dan adek2 kos yang lain).
13.Mas mas dan mba mba yang baik banget, telah memberikan banyak
bantuan dan sering aku repotin (mas bes, mas rofi, mba putri, mas denny
dhuwur, mas panji, mas alfin, mas denis, mba reisya, mas iok, mas bo, dll)
14.Pak man & pak pur, makasih buat doa2 yang diberikan tiap kali ketemu
dan juga perhatian bapak, dan juga pak timin, makasih pak.
15.Temen temen yang belum disebutkan di sini karena keterbatasan tempat,
maaf dan terima kasih.
Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu
kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak, penulis harapkan
demi perbaikan yang berkelanjutan.
Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak
yang membutuhkan di kemudian hari. Terima kasih.
commit to user
x PenulisDAFTAR ISI
Halaman ABSTRAKSI ………. ABSTRACT ………...HALAMAN PERSETUJUAN ………...
HALAMAN PENGESAHAN ………...
HALAMAN MOTTO ………...
HALAMAN PERSEMBAHAN ………...
KATA PENGANTAR ………...
DAFTAR ISI ………...
DAFTAR TABEL ………..
DAFTAR GAMBAR ………...
DAFTAR LAMPIRAN………...
BAB I. PENDAHULUAN ………...
A. Latar Belakang ...………...
B. Rumusan Masalah ………...
C. Tujuan Penelitian ………....
D. Manfaat Penelitian ………...
E. Sistematika Laporan ………...
commit to user
xi
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA...
A. Telaah Literatur..………...
1. Risk Disclosure………...
2. Corporate Governance ...
3. Board of Directors .…..………...
B. Kaitan Board of Directors dengan Risk Disclosure …………
C. Skema Konsep Penelitian ...
D. Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis...
BAB III. METODE PENELITIAN ………...
A. Desain Penelitian...
B. Populasi, Sampel dan Teknik Sampel...
C. Data dan Metode Pengumpulan Data ...
D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ...
E. Metode Analisis Data ...
BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN ………...
A. Deskriptif Data...
1. Seleksi Sampel...
2. Statistik Deskriptif ...
B. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan ...
Analisis Regresi Berganda ...
BAB V. PENUTUP ...
A. Kesimpulan ...
B. Saran ...
commit to user
xii
C. Keterbatasan ...
D. Rekomendasi ...
DAFTAR PUSTAKA ...
LAMPIRAN
71
71
72
commit to user
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1
2.2
3.1
4.1
4.2
4.3
4.4
Ketentuan yang mengatur Pengungkapan Risiko...
Perbandingan Klasifikasi Risiko...
Nilai Durbin-Watson ……….
Jumlah Populasi dan Sampel Penelitian ...…...
Statistik Deskriptif Pengungkapan Risiko ……...
Tingkat Pengungkapan Risiko …………...
Statistik Deskriptif Variabel Independen ...
12
15
44
45
46
49
51
4.5 Latar Belakang Pendidikan Dewan Komisaris ………….. 54
4.6 Latar Belakang Etnis Komisaris Utama ………. 56
commit to user
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Skema Klasifikasi Risiko yang Digunakan... 16
2.2 Struktur Board of Directors dalam One Tier System …… 19
2.3 Struktur Board of Commissioner dan Board of Directors
dalam Two Tier System yang Diadopsi Belanda ………...
20
2.4 Struktur Board of Directors dalam Two Tiers System
yang Diadopsi Indonesia ………
21
commit to user
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Summary Item Pengungkapan Risiko
Lampiran 2 Daftar Perusahaan dengan Tingkat Risk Disclosure
Lampiran 3 Descriptive Statistic
Lampiran 4 Uji Asumsi Klasik
Lampiran 5 Analisis Regresi Berganda
Lampiran 6 Uji T-Test
commit to user
PERAN BOARD OF DIRECTORS DALAM PRAKTIK RISKDISCLOSURE
PADA PERBANKAN INDONESIA
ABSTRAKSI
FIRAZONIA MEIVITASARI F0307051
Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran board of directors dalam praktik risk disclosure pada perbankan Indonesia. Board of directors
direpresentasikan dengan ukuran dewan komisaris, proporsi komisaris independen, latar belakang pendidikan dewan komisaris, dan latar belakang etnis komisaris utama. Penelitian ini menggunakan leverage dan profitabilitas sebagai variabel kontrol.
Pengukuran tingkat risk disclosure dalam penelitian ini menggunakan teknik scoring sesuai penelitian Oorschot (2009) dengan menggunakan item yang terdapat dalam Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No.5/21/DPNP/2003. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 73 perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2009. Sampel tersebut dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling.
Rerata tingkat risk disclosure sebesar 42,12%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan pengungkapan risiko pada perbankan di Indonesia ternyata masih rendah mengingat risk disclosure adalah salah satu pengungkapan wajib (mandatory disclosure) sesuai dengan PSAK No. 50 (2006), PBI Nomor: 5/8/PBI/2003, dan P3LKEPPBANK (2008). Sesuai dengan tujuan penelitian, hasil pengujian regresi berganda menunjukkan bahwa board of directors mempengaruhi tingkat risk disclosure. Variabel independen (board of directors) yang mempengaruhi tingkat risk disclosure yaitu ukuran dewan komisaris (board size). Peran dewan komisaris dalam menjalankan dua fungsi utamanya (fungsi servis dan fungsi kontrol) telah dilaksanakan dengan baik pada perbankan. Dewan komisaris melakasanakan fungsi servis dengan memberikan jasa konsultasi dan konseling yang berkualitas bagi manajemen. Fungsi kontrol dilakukan dengan memberikan pengawasan yang optimal terhadap proses pelaksanaan corporate governance.Variabel lainnya yaitu komposisi komisaris independen, latar belakang pendidikan dewan komisaris, dan latar belakang etnis komisaris utama tidak berpengaruh terhadap risk disclosure.
commit to user
PERAN BOARD OF DIRECTORS DALAM PRAKTIK RISKDISCLOSURE
PADA PERBANKAN INDONESIA
ABSTRACT
FIRAZONIA MEIVITASARI F0307051
The purpose of this study is to investigate impact of board of directors to risk disclosure of Indonesian banks. Board of directors are identified as board size, proportion of independent directors, educational background of directors, and cultural background of president director. This study also uses leverage and profitability as control variable.
The level of risk disclosure is measured based on items identified on Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No.5/21/DPNP/2003. Under purposive sampling, secondary data of 73 annual reports year 2007-2009 of banks listed in Indonesian Stock Exchange are selected.
The average level of risk disclosure is 42,12%. This number indicates that Indonesian banks are not fully compliance to PSAK No. 50 (revised 2006) PBI Nomor: 5/8/PBI/2003, and P3LKEPPBANK (2008) since risk disclosure is as mandatory matters. In accordance to the purpose of the study, the result of multiple regression shows that board of directors affect the level of risk disclosure through the variable board size. Board of directors do their both service and controll function well. The greater board of directors not only serve quality consulting service to management, but also give the optimal control to ensure that companies implement corporate governance. Other variables, proportion of independent directors, educational background of directors, and cultural background of president director are not good predictors for level of risk disclosure.
Key words: risk disclosure, board of directors, corporate governance, Indonesian banks
commit to user
1
BAB I PENDAHULUAN
Bab yang pertama ini akan menjelaskan mengenai latar belakang
dilakukannya penelitian, rumusan masalah, tujuan, manfaat, dan sistematika dari
penulisan penelitian ini.
A. Latar Belakang
Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran board of directors dalam risk
disclosure pada perbankan Indonesia. Peran board of directors direpresentasikan
oleh ukuran dewan komisaris, proporsi komisaris independen, latar belakang
pendidikan dewan komisaris, dan latar belakang etnis komisaris utama.
Menurut Meek, Roberts, dan Gray (1995) informasi yang diungkapkan
dalam laporan tahunan dikelompokkan menjadi 2 (dua) jenis yaitu pengungkapan
wajib (mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure).
Pengungkapan wajib merupakan pengungkapan informasi yang diharuskan oleh
peraturan yang berlaku. Pengungkapan sukarela merupakan pilihan bebas
manajemen perusahaan untuk pembuatan keputusan oleh para pengguna laporan
tahunannya.
Di Indonesia, ketentuan mengenai persyaratan pengungkapan risiko dalam
laporan tahunan secara eksplisit dapat ditemukan pada (1) PSAK No. 50 (Revisi
2006) tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan, dan (2)
Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor: Kep-134/BL/2006 tentang Kewajiban
commit to user
2
wajib dinilai adalah risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional,
risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategi, dan risiko kepatuhan. Ketentuan
tersebut diperkuat oleh Surat Edaran Ketua Bapepam dengan Nomor:
SE-02/BL/2008 tentang Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan
Emiten atau Perusahaan Publik Industri Perbankan (P3LKEPPBANK, 2008).
Dengan kata lain, pengungkapan atas risiko yang dilakukan oleh perbankan di
Indonesia, bukan merupakan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) lagi,
tetapi merupakan pengungkapan wajib (mandatory disclosure).
Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (2006), bank adalah
lembaga intermediasi yang dalam menjalankan kegiatan usahanya bergantung
pada dana masyarakat dan kepercayaan baik dari dalam maupun luar negeri.
Kegiatan operasional bank yang berhubungan dengan aktivitas pendanaan dan
investasi mengakibatkan bank dihadapkan pada risiko yang besar. Oleh karena itu,
perlu adanya pengungkapan yang dapat memberikan informasi mengenai risiko
yang terkait dengan kegiatan operasional bank tersebut.
Risiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa (events)
tertentu (Peraturan Bank Indonesia Nomor: 11/25/PBI/2009). Manajemen risiko
adalah serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk
mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul
dari seluruh kegiatan usaha bank (Peraturan Bank Indonesia Nomor:
11/25/PBI/2009). Untuk mengawal pelaksanaan strategi dalam mengendalikan
commit to user
3
pengimplementasian strategi tersebut. Manajemen risiko dianggap sebagai bagian
integral dari pengendalian internal dan tata kelola perusahaan.
Pengungkapan informasi tentang risiko dan ketidakpastian telah menjadi
bagian yang penting dari pelaporan keuangan (Linsmeier dan Peason, 1997).
Pengungkapan risiko yang baik dapat mengurangi ketidakpastian investasi
sehingga investor dapat menggunakan informasi ini agar dapat mengambil
keputusan dengan tepat.
Forum for Corporate Governance in Indonesia atau FCGI (2002)
menyatakan corporate governance bertujuan menciptakaan nilai tambah bagi
semua pihak yang berkepentingan. Pihak tersebut adalah pihak internal yang
meliputi dewan komisaris, direksi, karyawan, dan pihak eksternal yang meliputi
investor, kreditur, pemerintah, masyarakat, dan pihak lain yang berkepentingan
(stakeholders). Kelengkapan pengungkapan risiko yang dilakukan oleh
perusahaan merupakan salah satu nilai tambah bagi stakeholder, sehingga
corporate governance yang baik diharapkan dapat menambah kualitas
pengungkapan risiko.
Menurut Organization for Economic Corporation and Development
(OECD) yang diuraikan di dalam FCGI (2002), prinsip dasar corporate
governance adalah kewajaran (fairness), akuntabilitas (accountability),
transparansi (transparency), dan responsibilitas (responsibility). Praktik yang
diharapkan muncul dalam menerapkan akuntabilitas diantaranya pemberdayaan
commit to user
4
pengendalian terhadap manajemen guna memberikan jaminan perlindungan
kepada pemegang saham dan pembatasan kekuasaan yang jelas di jajaran direksi.
Board of directors atau dewan komisaris memiliki dua fungsi utama di
dalam sebuah perusahaan (Wahyudi, 2010). Fungsi servis menyatakan bahwa
dewan komisaris dapat memberikan konsultasi dan nasihat kepada manajemen.
Fungsi kontrol yang dilakukan oleh dewan komisaris (dalam teori agensi)
mewakili mekanisme internal utama untuk mengontrol perilaku oportunistik
manajemen sehingga dapat membantu menyelaraskan kepentingan pemegang
saham dan manajer (Wahyudi, 2010). Board of directors atau dewan komisaris
merupakan inti dari corporate governance (FCGI, 2002). Terdapat empat faktor
penting board of directors yaitu ukuran dewan komisaris, proporsi komisaris
independen, latar belakang pendidikan dewan komisaris, dan latar belakang etnis
komisaris utama.
Pertama adalah ukuran dewan komisaris. Ukuran dewan komisaris adalah
banyaknya jumlah anggota dewan komisaris dalam suatu perusahaan (Wahyudi,
2010). Semakin besar ukuran dewan komisaris semakin efektif dalam
pengendalian perusahaan (Dalton, Daily, Johnson, dan Ellstrand, 1999). Collier
dan Gregory (1999), menyatakan semakin besar jumlah dewan anggota dewan
komisaris, semakin mudah untuk mengendalikan chief executif officer (CEO) dan
semakin efektif dalam memonitor aktivitas manajemen.
Komisaris independen memiliki peran yang kuat untuk mempengaruhi
perusahaan dalam pengambilan keputusan dan mereka harus memelihara
commit to user
5
Cox (2007) menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara proporsi
komisaris independen dengan pelaporan/pengungkapan risiko perusahaan.
Proporsi komisaris independen merupakan perbandingan jumlah komisaris
independen dengan jumlah komisaris secara keseluruhan. Komisaris independen
mengacu pada dewan sebagai pengawas internal atas pengambilan keputusan yang
dilakukan oleh perusahaan dan berkewajiban melindungi kepentingan dari
pemegang saham (Fama, 1980).
Latar belakang pendidikan dewan komisaris dinilai mempengaruhi kualitas
keputusan dan masukan yang diberikan kepada direksi. Suhardjanto dan Afni
(2009) menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan komisaris utama
merupakan faktor yang menentukan diungkapkan atau tidaknya social disclosure
pada annual report perusahaan. Apabila dewan komisaris memiliki latar belakang
pendidikan sesuai dengan bidang pekerjaannya, diharapkan dewan komisaris lebih
memahami dan mengerti mengenai bisnis yang dikelolanya. Oleh karena itu, latar
belakang pendidikan dewan komisaris diharapkan dapat mendukung keluasan
pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan.
Kusumastuti, Supatmi, dan Sastra (2007) menunjukkan adanya pengaruh
antara nilai perusahaan dengan faktor etnis komisaris utama. Penelitian
Suhardjanto dan Anggitarani (2010) menunjukkan bahwa latar belakang etnis
komisaris utama berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Nurudin
(2004) mengungkapkan Tionghoa sebagai etnis minoritas memiliki kebudayaan
ulet, hemat, serta gigih sehingga hal ini memungkinkan mereka dapat bertahan
commit to user
6
Fokus pemilihan perbankan sebagai objek penelitian karena bank
merupakan lembaga yang dikenal sebagai risk taking entities (Oorschot, 2009).
Dalam menjalankan aktivitas operasinya, bank lebih banyak berhubungan dengan
risiko jika dibandingkan dengan perusahaan manufaktur dan perusahaan lainnya.
Perbankan memiliki aturan khusus yang berbeda dengan non-perbankan.
Perbankan dianggap memiliki tingkat regulasi yang tinggi (Nasution dan
Setiawan, 2007) seperti yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (highly
regulated). Perbankan juga merupakan industri kepercayaan, apabila tidak ada
kepercayaan masyarakat terhadap laporan keuangan dimungkinkan akan
terjadinya penarikan dana oleh nasabah yang dikhawatirkan menimbulkan
terjadinya rush (Nasution dan Setiawan, 2007). Sejak terjadinya krisis keuangan
tahun 2007, perhatian terhadap pengungkapan risiko sebagai bentuk pengawasan
dan transparansi informasi dalam industri perbankan mengalami peningkatan
sehingga penelitian ini menjadi relevan untuk dilakukan karena dapat memberikan
kontribusi untuk penelitian selanjutnya terkait dengan risk disclosure di Indonesia.
Kasus skandal laporan keuangan ganda Bank Lippo menjadi salah satu
contoh keengganan perbankan untuk mengungkapkan berapa besar laba yang
diperoleh oleh perusahaan yang sesungguhnya. Kasus Bank Lippo muncul setelah
bank itu diketahui mengeluarkan tiga laporan keuangan per 30 September 2002
yang berbeda, yaitu yang diiklankan di surat kabar pada 28 Nopember 2002, yang
disampaikan ke BEI pada 27 Desember 2002, dan yang disampaikan ke
commit to user
7
Kurangnya transparansi yang dilakukan pihak manajemen bank kepada
stakeholder, merupakan salah satu penyebab utama maraknya kasus bank
bermasalah yang terjadi di Indonesia. Penyebab lainnya, yaitu tugas dan tanggung
jawab dewan komisaris selaku pengawas pelaksanaan corporate governance pada
perbankan belum dilaksanakan dengan baik (http://www.tempointeraktif.com, 2009). Beberapa kasus lain dengan penyebab yang serupa yaitu likuidasi 16 bank1
pada tahun 1997, kasus kredit macet yang menyebabkan likuidasi Bank Summa
pada tahun 1992, kasus L/C (letter of credit) fiktif Bank BNI tahun 2006, kasus
pembekuan usaha Bank Global pada tahun 2004, kasus Bank Century tahun 2008,
dan pembobolan dana melalui anjungan tunai mandiri (ATM), seperti yang terjadi
di Bank BCA tahun 2010 (http://grundelanbankcentury.wordpress.com, 2010). Helbok dan Wagner (2006) meneliti laporan keuangan dari 59 bank
komersial di Amerika Utara, Asia, dan Eropa pada rentang waktu tahun
1999-2001. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa lembaga keuangan dengan
profitabilitas yang lebih rendah mengungkapkan penilaian dan pengelolaan risiko
operasional dengan lebih luas. Hossain (2008) melakukan penelitian tentang luas
pengungkapan laporan tahunan bank di India. Hasil dari penelitian tersebut
menunjukkan bahwa board compositions yang diukur dengan proporsi komisaris
independen berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan. Penelitian lainnya
dilakukan oleh Oorschot (2009) pada perbankan di Jerman. Di Indonesia,
penelitian terkait pengungkapan risiko pada perbankan belum pernah dilakukan.
1
commit to user
8
Penelitian ini menarik untuk dilakukan karena belum pernah ada penelitian
yang menghubungkan antara peran board of directors dalam praktik risk
disclosure dengan menggunakan variabel seperti yang telah disebutkan
sebelumnya. Berdasarkan uraian tersebut di atas, peneliti akan melakukan
penelitian2 dengan judul “Peran Board of Directors dalam Praktik Risk Disclosure pada Perbankan Indonesia”.
B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang dan judul penelitian, maka yang menjadi
permasalahan pada penelitian ini adalah apakah board of directors yang
direpresentasikan dengan ukuran dewan komisaris, proporsi komisaris
independen, latar belakang pendidikan dewan komisaris, dan latar belakang etnis
komisaris utama berpengaruh terhadap praktik risk disclosure pada perbankan
Indonesia.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan penelitian di atas, penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui apakah board of directors yang direpresentasikan dengan ukuran
dewan komisaris, proporsi komisaris independen, latar belakang pendidikan
dewan komisaris, dan latar belakang etnis komisaris utama berpengaruh terhadap
praktik risk disclosure pada perbankan Indonesia.
2
commit to user
9
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap
berbagai pihak di bawah ini:
1. Dapat memberikan kontribusi terhadap literatur penelitian akuntansi
khususnya mengenai peran board of directors dalam praktik risk
disclosure di perbankan.
2. Bagi investor, dapat memberikan tambahan informasi mengenai peran
board of directors dalam praktik risk disclosure di perbankan, sehingga
investor dapat lebih memahami tentang risiko yang ada. Investor
diharapkan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
3. Bagi perusahaan, dapat memberikan gambaran kepada perusahaan
mengenai penerapan PSAK No. 50 (Revisi 2006) Instrumen Keuangan:
Penyajian dan Pengungkapan sehingga perusahaan dapat menerapkan
standar tersebut dengan lebih baik. Penelitian ini diharapkan memberikan
gambaran sebagai bahan pertimbangan dalam membantu pengambilan
keputusan di masa mendatang dan memberikan wacana mengenai
pentingnya pengungkapan risiko dalam laporan keuangan.
4. Bagi akademis, penelitian ini dapat menambah wawasan bagi kalangan
akademisi mengenai peran board of directors dalam praktik risk disclosure
di perbankan Indonesia. Dengan bertambahnya referensi mengenai ini,
diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan lain apabila
commit to user
10
E. Sistematika Penulisan
BAB I : Pendahuluan
Berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan Pustaka
Bab ini menguraikan tinjauan pustaka yang memuat literatur
terkait dengan topik penelitian; kaitan variabel independen
dengan variabel dependen; kerangka konseptual; dan
pengembangan hipotesis.
BAB III : Metode Penelitian
Bab ini berisi tentang desain penelitian; populasi, sampel, dan
teknik pengambilan sampel; data dan metode pengumpulan
data; variabel penelitian dan pengukurannya; dan metode
analisis data yang terdiri dari statistik deskriptif dan pengujian
hipotesis.
BAB IV : Analisis Data
Bab ini menguraikan analisis deskriptif data; pengujian
hipotesis dan pembahasan hasil analisis.
BAB V : Penutup
Bab ini membahas kesimpulan mengenai objek yang diteliti
berdasarkan hasil analisis data, menjelaskan mengenai
keterbatasan penelitian, dan memberikan saran bagi pihak yang
commit to user
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Setelah membahas pendahuluan di Bab I, pada Bab II ini menjelaskan
mengenai telaah literatur, kaitan board of directors dengan risk disclosure, skema
konsep penelitian, serta pengembangan hipotesis dalam penelitian ini.
A. Telaah Literatur
Pada telaah literatur dalam penelitian ini dijabarkan mengenai risk
disclosure, corporate governance, dan board of directors termasuk standar dan
aturan terkait dengan masalah tersebut.
1. Risk Disclosure
Pengungkapan risiko merupakan hal baru dalam pengungkapan dan
pelaporan keuangan sehingga konsepnya masih belum berkembang dengan baik.
Pentingnya pengungkapan risiko telah diusulkan selama bertahun-tahun, namun
relatif baru sekarang ini hal tersebut mulai muncul dalam literatur akedemis
maupun kebijakan regulator (Devilin, 2009). Perdebatan mengenai pentingnya
pengungkapan risiko dimulai sejak tahun 1998 ketika Institute of Chartered
Accountants in England and Wales (ICAEW) menerbitkan Financial Reporting of
Risk-Proposals for A Statement of Business Risk yang menyarankan perusahaan
untuk menyajikan pengungkapan mengenai risiko bisnisnya dalam laporan
keuangan (Amran, Bin, dan Hassan 2009).
Pengungkapan risiko penting karena membantu stakeholder dalam
commit to user
12
bagaimana manajemen mengelola risiko. Pengungkapan risiko juga bermanfaat
untuk memonitor risiko dan mendeteksi potensi masalah sehingga dapat
melakukan tindakan lebih awal agar masalah tersebut tidak terjadi (Linsley dan
Shrives, 2006). Informasi risiko juga berguna bagi investor karena dapat
membantu menentukan profil risiko perusahaan, mengurangi asimetri informasi,
memperkirakan nilai pasar, dan menentukan keputusan investasi portofolio
(Abraham dan Cox, 2007 dan Hassan, 2009).
Seiring dengan perkembangan praktik pengungkapan risiko, terdapat
sejumlah persyaratan bagi perusahaan untuk menyediakan informasi tentang
risiko dalam laporan tahunannya. Beberapa contoh mengenai persyaratan
pengungkapan risiko dalam laporan tahunan yang disediakan oleh badan regulator
di beberapa negara masih terlalu umum dan belum mengembangkan kerangka
kerja terintegrasi secara memadai (Devilin, 2009).
Tabel 2.1
Ketentuan yang Mengatur Pengungkapan Risiko
Negara Peraturan Sifat Keterangan
USA Financial
Reporting Release
No.48, 1997
Wajib FRR 48 mensyaratkan perusahaan yang terdaftar di bursa untuk mengungkapkan informasi kualitatif maupun kuantitaif tentang risiko pasar.
UK Operating and
Financial Review, 1992
Combined Code and Corporate Governance, 1998
Sukarela
Sukarela
OFR merekomendasikan perusahaan terdaftar untuk mengikutsertakan tinjauan risiko kunci.
Mensyaratkan perusahaan terdaftar untuk mengelola sistem pengendalian internal dan bagaimana sistem tersebut berjalan. Menekankan pada kebutuhan manajemen risiko internal dan mendorong perusahaan melaporkan risiko kuncinya.
Germany German Accounting
Standard (GAS)
No. 5
Wajib GAS 5 mensyaratkan agar informasi risiko disajikan dalam bagian terpisah dari laporan manajemen yang menyertai laporan keuangan konsolidasi.
commit to user
13 Australia ASX Corporate
Governance
Principle and Recommendations (Principle 7)
- Berisikan tentang pengakuan dan manajemen risiko.
UAE - Sukarela Emirates Securuties and Comodities Market
(ES&CM) melalui persyaratan pendaftarannya mendorong perusahaan terdaftar untuk secara penuh mengungkapkan informasi yang berhubungan dengan risiko pada tingkat yang memadai.
Sumber: Berreta dan Bozzolan (2004); Abraham dan Cox (2007); Amran et al (2009); Hassan (2009)
Di Indonesia, ketentuan mengenai persyaratan pengungkapan risiko dalam
laporan tahunan secara eksplisit dapat ditemukan pada (1) PSAK No. 50 (Revisi
2006) tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan, dan (2)
Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor: Kep-134/BL/2006 tentang Kewajiban
Penyampaian Laporan Tahunan bagi Emiten atau Perusahaan Publik. Menurut
PSAK No. 50 (Revisi 2006), perusahaan yang melakukan transaksi menggunakan
instrumen keuangan disyaratkan untuk menyediakan pengungkapan informasi
risiko dan juga tujuan serta kebijakan manajemen risiko keuangannya. Dalam
Keputusan Bapepam LK Nomor: Kep-134/BL/2006, menyatakan bahwa
manajemen wajib mengungkapkan uraian singkat mengenai tata kelola
perusahaan yang meliputi:
“Penjelasan mengenai risiko-risiko yang dihadapi perusahaan serta upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengelola risiko tersebut, misalnya: risiko yang disebabkan oleh fluktuasi kurs atau suku bunga, persaingan usaha, pasokan bahan baku, ketentuan negara lain atau peraturan internasional, dan kebijakan pemerintah”.
Peraturan tersebut diperkuat oleh Surat Edaran Ketua Bapepam dengan
Nomor: SE-02/BL/2008 tentang Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan
Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Perbankan (P3LKEPPBANK,
commit to user
14
Pedoman tersebut mewajibkan bank untuk mengungkapkan kebijakan bagi
masing-masing jenis risiko, faktor yang mempengaruhi risiko tersebut, dan
strategi manajemen dalam menanggulangi faktor tersebut, termasuk manajemen
risiko, dan pelaporan profil risiko mereka. Menurut P3LKEPPBANK (2008)
pengungkapan risiko dibagi menjadi dua, yaitu pengungkapan risiko umum dan
pengungkapan risiko khusus.
Risiko yang harus tercakup dalam pengungkapan laporan keuangan menurut
Peraturan Bank Indonesia Nomor: 11/25/PBI/2009 adalah:
a. Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan/atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank.
b. Risiko pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga option.
c. Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank.
d. Risiko operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional bank.
e. Risiko kepatuhan adalah risiko akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.
f. Risiko hukum adalah risiko akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis.
g. Risiko reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan
stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank.
h. Risiko strategi adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan strategi serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.
Regulasi mengenai pengungkapan risiko bagi perbankan secara umum di
Indonesia diatur dalam PBI Nomor: 5/8/PBI/2003, P3LKEPPBANK (2008), dan
commit to user
15
selanjutnya direvisi menjadi PSAK 60 (2010) Instrumen Keuangan:
Pengungkapan. Perbandingan klasifikasi risiko tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 2.2
Perbandingan Klasifikasi Risiko
PBI Nomor: 5/8/PBI/2003
PSAK 50 (2006) Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan P3LKEPPBANK (2008) Risiko kredit Risiko likuiditas Risiko pasar Risiko operasional Risiko hukum Risiko reputasi Risiko strategik Risiko kepatuhan Risiko kredit Risiko likuiditas Risiko pasar:
- Risiko suku bunga - Risiko mata uang
asing/ risiko nilai kurs
- Risiko harga lainnya
Risiko umum:
Risiko kepanikan masyarakat Risiko pemogokan karyawan Risiko kerusuhan dan penjarahan Risiko operasional
Risiko investasi
Risiko penanganan masalah litigasi Risiko persaingan
Risiko khusus: Risiko kredit Risiko likuiditas Risiko pasar:
-Risiko suku bunga -Risiko nilai tukar rupiah Risiko solvabilitas
Risiko obligasi rekapitalisasi pemerintah Risiko bank penggabungan
Risiko teknologi sistem informasi Risiko ketergantungan kepada pemerintah Risiko tidak dilanjutkannya program penjaminan pemerintah
Risiko ketergantungan pada deposito berjangka
Risiko agunan kredit
Risiko pemulihan krisis sektor perbankan Risiko fidusia
Sumber: PBI Nomor: 5/8/PBI/2003, PSAK 50 (2006), dan P3LKEPPBANK (2008)
Berdasarkan klasifikasi di atas, pada penelitian ini, klasifikasi risiko yang
digunakan mengacu pada PBI Nomor: 5/8/PBI/2003 yang dimodifikasi dengan
beberapa peraturan lainnya. Skema pengklasifikasian risiko yang digunakan pada
[image:32.612.127.508.196.524.2]commit to user
[image:33.612.138.504.107.460.2]16 Gambar 2.1
Skema Klasifikasi Risiko yang Digunakan
Klasifikasi ini dipilih karena sampel yang digunakan dalam penelitian
adalah perbankan, sehingga peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia
dianggap sebagai regulasi utama. Klasifikasi risiko menurut PBI Nomor:
5/8/PBI/2003 dipilih juga sebagai acuan utama karena sampel yang digunakan
dalam penelitian ini berada pada periode 2007-2009, sehingga PBI Nomor:
5/8/PBI/2003 dianggap relevan terkait dengan sampel sebagai aturan yang
dipakai.
Dalam beberapa peraturan yang ada tidak dijelaskan mengenai item
pengungkapannya. Hal tersebut didukung oleh Devilin (2009) yang menyatakan
bahwa Bapepam maupun IAI belum menyediakan kerangka kerja konseptual
pengungkapan risiko. Oleh karena itu, item pengungkapan dalam penelitian ini
menggunakan item pada Pedoman Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank
commit to user
17
No.5/21/DPNP/2003. Pengungkapan risiko pada penelitiaan ini mencakup (1)
pengawasan aktif dewan komisaris dan direksi, (2) kecukupan kebijakan,
prosedur, dan penetapan limit manajemen risiko, (3) kecukupan proses
identifikasi, (4) pengukuran, (5) pemantauan dan pengendalian risiko, (6) sistem
informasi manajemen risiko, dan (7) sistem pengendalian intern yang menyeluruh.
Untuk item pengungkapan risiko yang lebih detail dapat dilihat di Lampiran 1.
Agar pengungkapan risiko dalam laporan tahunan mencukupi kebutuhan
informasi para stakeholders dan sesuai dengan peraturan yang ada, maka
diperlukan adanya corporate governance. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Solomon, Solomon, Norton, dan Joseph (2000) yang menyatakan bahwa
pengungkapan risiko merepresentasikan perbaikan praktik corporate governance.
Salah satu aspek penting dalam tata kelola perusahaan (corporate governance)
adalah adanya board of directors.
2. Corporate Governance
Corporate governance dipandang sebagai cara yang efektif untuk
menggambarkan hak dan tanggung jawab masing-masing kelompok stakeholder
dalam sebuah perusahaan di mana transparansi merupakan indikator utama
standar corporate governance dalam sebuah ekonomi (Ho dan Wong, 2001).
Forum for Corporate Governace in Indonesia (2002: 1) mendefinisikan
corporate governance sebagai:
commit to user
18
Tujuan corporate governance pada intinya adalah menciptakan nilai tambah
bagi semua pihak yang berkepentingan. Dalam praktiknya corporate governance
berbeda di setiap negara dan perusahaan karena berkaitan dengan sistem ekonomi,
hukum, struktur kepemilikan, sosial, dan budaya. Perbedaan praktik ini
menimbulkan beberapa versi yang menyangkut prinsip corporate governance,
namun pada dasarnya mempunyai banyak kesamaan (Arifin, 2005).
Menurut Organization for Economic Corporation and Development
(OECD) yang diuraikan di dalam FCGI (2002), terdapat empat prinsip dasar
dalam penerapan corporate governance. Prinsip-prinsip tersebut digunakan untuk
mengukur seberapa jauh corporate governance telah diterapkan dalam
perusahaan. Penjelasan keempat prinsip dasar di atas adalah sebagai berikut:
a. Kewajaran (fairness). Prinsip kewajaran menekankan pada adanya perlakuan dan jaminan hak-hak yang sama kepada pemegang saham minoritas maupun mayoritas, termasuk hak-hak pemegang saham asing serta investor lainnya.
b. Akuntabilitas (accountability). Prinsip akuntabilitas berhubungan dengan adanya sistem yang mengendalikan hubungan antara unit-unit pengawasan yang ada di perusahaan. Akuntabilitas dilaksanakan dengan adanya dewan komisaris, direksi independen, dan komite audit. Praktik-praktik yang diharapkan muncul dalam menerapkan akuntabilitas diantaranya pemberdayaan dewan komisaris untuk melakukan
monitoring, evaluasi, dan pengendalian terhadap manajemen guna
memberikan jaminan perlindungan kepada pemegang saham dan pembatasan kekuasaan yang jelas di jajaran direksi.
c. Transparansi (transparency). Prinsip dasar transparansi berhubungan dengan kualitas informasi yang disajikan oleh perusahaan. Kepercayaan investor akan tergantung dengan kualitas informasi yang disampaikan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan dituntut untuk menyediakan informasi yang jelas, akurat, tepat waktu, dan dapat dibandingkan dengan indikator-indikator yang sama. Dengan kata lain prinsip transparansi ini menghendaki adanya keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam penyajian (disclosure) informasi yang dimiliki perusahaan.
commit to user
19
peraturan dan hukum yang berlaku serta pemenuhan terhadap kebutuhan-kebutuhan sosial. Responsibilitas menekankan pada adanya sistem yang jelas untuk mengatur mekanisme pertanggungjawaban perusahaan kepada pemegang saham dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Struktur governance diatur oleh Undang-Undang sebagai dasar legalitas
berdirinya sebuah entitas (Arifin, 2005). Terdapat dua macam struktur board
dalam corporate governance yang digunakan oleh perusahaan, pertama model
Anglo-Saxon dan yang kedua model Continental Europe (Arifin, 2005).
Dalam model Anglo-Saxon, perusahaan hanya mempunyai satu dewan
direksi yang pada umumnya merupakan kombinasi antara manajer atau pengurus
senior (direktur eksekutif) dan direktur independen yang bekerja dangan prinsip
paruh waktu (non-direktur eksekutif). Model Anglo-Saxon ini disebut dengan
single-board system yaitu struktur corporate governanance yang tidak
memisahkan keanggotaan dewan komisaris dan dewan direksi. Biasanya
single-board system ini digunakan pada perusahaan yang berada di Amerika dan Inggris
(Arifin, 2005). Gambar 2.1 di bawah ini adalah skema yang menunjukkan struktur
single-board system.
Gambar 2.2
Struktur Board of Directors dalam One Tier System (sumber: FCGI, 2002) General Meeting of the Shareholders
(GMoS)
Boards of Directors
Executive Director
[image:36.612.131.511.223.458.2]commit to user
20
General Meeting of The Shareholders (GMoS)
Board of Commissioner (BoC)
Board of Directors (BoD)
Dalam model Continental Europe, struktur governance terdiri dari RUPS
dan badan yang terpisah, yaitu dewan komisaris dan dewan direksi (FCGI, 2002).
Struktur semacam ini disebut two-tier board system, di mana struktur corporate
governance memisahkan fungsi dewan komisaris sebagai fungsi pengawas dan
dewan direksi sebagai eksekutif perusahaan (Arifin, 2005). Dalam hal ini dewan
komisaris tidak boleh melibatkan diri dalam tugas manajemen dan tidak boleh
mewakili perusahaan dalam transaksi dengan pihak ketiga. Anggota dewan
komisaris diangkat dan diganti dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Dalam sistem ini, anggota dewan direksi diangkat dan setiap waktu dapat diganti
oleh badan pengawas (dewan komisaris). Dewan direksi harus memberikan
informasi kepada dewan komisaris dan menjawab hal yang diajukan oleh dewan
komisaris. Negara dengan two tiers system adalah Denmark, Jerman, Belanda, dan
Jepang.
Gambar 2.3
Struktur Board of Directors dalam Two Tiers System yang diadopsi oleh Belanda (sumber: FCGI, 2002)
Menurut Arifin (2005), perusahaan di Indonesia, menerapkan two-board
system atau two-tier board system seperti kebanyakan diterapkan pada perusahaan
[image:37.612.131.509.221.578.2]commit to user
21
Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa anggota dewan direksi
diangkat dan diberhentikan oleh RUPS (pasal 94 ayat 1 dan pasal 105 ayat 1),
demikian juga anggota dewan komisaris diangkat dan diberhentikan oleh RUPS
(pasal 111 ayat 1 dan pasal 119). Dengan adanya struktur yang demikian, maka
baik dewan komisaris maupun dewan direksi bertanggung jawab terhadap RUPS.
Dalam model ini hanya ada perbedaan dalam kedudukan dewan komisaris yang
tidak langsung membawahi dewan direksi.
[image:38.612.140.494.219.541.2]Gambar 2.4
Struktur Board of Directors dalam Two Tiers System yang Diadopsi Indonesia (sumber: Undang-Undang Perseroan Terbatas tahun 2007)
Keterangan gambar:
: pengangkatan dan pemberhentian anggota dewan : tanggung jawab terhadap RUPS
: supervisi/pengawasan
Forum for Corporate Governance in Indonesia (2002) menyatakan bahwa
dewan komisaris merupakan inti dari corporate governance yang mengawal
pelaksanaan strategi, mengawasi manajemen, serta mewajibkan terlaksananya
akuntabilitas. Dewan komisaris merupakan suatu mekanisme mengawasi dan
mekanisme untuk memberikan petunjuk dan arahan pada pengelola perusahaan.
Dewan Komisaris Dewan Direksi
commit to user
22
3. Board of Directors
Dewan komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan
pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta
memberi nasihat kepada Direksi (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40
Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas). Pengertian yang sama mengenai dewan
komisaris juga diungkapan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor:
11/25/PBI/2009.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007
Tentang Perseroan Terbatas, Pasal 108 menyebutkan bahwa:
a. Dewan Komisaris melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai perseroan maupun usaha perseroan, dan memberi nasihat kepada direksi.
b. Pengawasan dan pemberian nasihat dilakukan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.
c. Dewan komisaris terdiri atas 1 (satu) orang anggota atau lebih.
d. Dewan komisaris yang terdiri atas lebih dari 1 (satu) orang anggota merupakan majelis dan setiap anggota dewan komisaris tidak dapat bertindak sendiri-sendiri, melainkan berdasarkan keputusan dewan komisaris.
e. Perseroan yang kegiatan usahanya berkaitan dengan menghimpun dan/atau mengelola dana masyarakat, perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang kepada masyarakat atau perseroan terbuka wajib mempunyai paling sedikit 2 (dua) orang anggota dewan komisaris.
Komisaris sebuah perusahaan diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS). Mereka diangkat untuk suatu periode tertentu, dan apabila
dimungkinkan, mereka bisa diangkat kembali. Dalam Anggaran Dasar diatur tata
cara pencalonan, pengangkatan, dan pemberhentian anggota dewan komisaris,
tanpa mengurangi hak pemegang saham dalam pencalonan tersebut. Akhirnya,
UUPT menetapkan bahwa anggota dewan komisaris dapat diberhentikan atau
commit to user
23
penting dalam melakukan pengawasan, salah satunya adalah pengawasan terhadap
transparansi pengungkapan terhadap stakeholders. Tugas utama dewan komisaris
menurut FCGI (2002: 5) sebagai berikut:
a. Menilai dan mengarahkan strategi perusahaan, garis besar rencana kerja, kebijakan pengendalian risiko, anggaran tahunan dan rencana usaha, menetapkan sasaran kerja, mengawasi pelaksanaan dan kinerja perusahaan, serta memonitor penggunaan modal perusahaan, investasi dan penjualan aset.
b. Menilai sistem penetapan penggajian pejabat kunci dan penggajian anggota dewan direksi, serta menjamin suatu proses pencalonan anggota dewan direksi secara transparan dan adil.
c. Memonitor dan mengatasi masalah benturan kepentingan di tingkat manajemen, anggota dewan direksi dan anggota dewan komisaris, termasuk penyalahgunaan aset perusahaan dan manipulasi transaksi perusahaan.
d. Memonitor pelaksanaan governance dan mengadakan perubahan jika diperlukan.
e. Memantau proses keterbukaan dan efektifitas komunikasi dalam perusahaan.
Menurut Herwidayatmo (2000), berdasarkan kerangka hukum yang ada,
fungsi komisaris independen pada single board system dapat direpresentasikan
dengan fungsi dewan komisaris pada two-board system. Oleh karena itu sistem
pengawasan yang ada pada perusahaan di Indonesia terletak di dewan komisaris.
Peran board of directors di sini menjadi penting terkait dengan terwujudnya tata
kelola perusahaan (corporate governance) yang efektif.
Keefektifan peran pengawasan oleh dewan komisaris ini didukung dengan
keberadaan komisaris independen dalam komposisi dewan komisarisnya (John
dan Senbet, 1998). Keberadaan komisaris independen diatur dalam ketentuan
Peraturan Pencatatan Efek Bursa Efek Indonesia (BEI) Nomor I-A tentang
Ketentuan Umum Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas di Bursa yang berlaku sejak
commit to user
24
independen yang jumlahnya proporsional sebanding dengan jumlah saham yang
dimiliki oleh bukan pemegang saham pengendali dengan ketentuan jumlah
komisaris independen 30% dari jumlah seluruh anggota komisaris. Kriteria dewan
komisaris independen seperti disebutkan dalam FCGI (2002: 9) adalah:
a. Komisaris independen tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan pemegang saham mayoritas atau pengendali perusahaan tersebut.
b. Komisaris independen tidak mempunyai hubungan dengan direktur, dan/atau komisaris perusahaan tersebut.
c. Komisaris independen tidak mempunyai kedudukan ganda di perusahaan lain yang memiliki afiliasi dengan perusahaan yang bersangkutan.
d. Komisaris independen harus mengerti peraturan undang-undang dalam hal pasar modal.
e. Komisaris independen diusulkan dan dipilih dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) oleh pemegang saham minoritas yang bukan pemegang saham pengendali.
B. Kaitan Board of Directors dengan Risk Disclosure
Fama dan Jensen (1983) menyatakan bahwa dewan komisaris merupakan
mekanisme penting dalam memonitor kinerja manajemen dan melindungi
kepentingan pemegang saham. Che Haat, Rahman, dan Mahenthiran (2008)
menyatakan bahwa dewan komisaris memiliki kekuatan untuk memantau
keputusan manajemen dan keputusan penting lainnya. Abraham dan Cox (2007)
menunjukkan jumlah komisaris independen mempengaruhi tingkat risk
disclosure. Penelitian tersebut menyelidiki hubungan antara kuantitas informasi
risiko dengan kepemilikan, governance, dan status listing di UK. Penelitian yang
dilakukan oleh Abraham dan Cox (2007) ini mengungkapkan perusahaan yang
listing di UK cenderung memberikan disclosure yang lebih lengkap. Dengan
demikian, board of directors yang efektif berdampak terhadap luasnya
commit to user
25
Penerapan corporate governance memiliki pengaruh terhadap luas
pengungkapan informasi perusahaan (Ho dan Wong, 2001). Kaitan dewan
komisaris dan pengungkapan risiko juga didukung oleh Khomsiyah (2003) yang
menyatakan semakin baik implementasi corporate governance, semakin banyak
informasi yang diungkapkan oleh perusahaan dalam laporan tahunan. Selain itu, ia
juga menyatakan bahwa perusahaan yang melaksanakan corporate governance
memberikan lebih banyak informasi untuk mengurangi asimetri informasi.
Cheng dan Courtenay (2006) menunjukkan pengaruh antara board
monitoring dengan tingkat voluntary disclosure, penelitian ini membuktikan
bahwa semakin tinggi proporsi komisaris independen, semakin tinggi juga tingkat
voluntary disclosure. Cheung, Conelly, dan Limpaphayom (2002) menemukan
bahwa karakteristik corporate governance seperti ukuran dewan komisaris dan
board composition menunjukkan pengaruh yang signifikan dengan tingkat
corporate disclosure pada perusahaan yang listing di Thailand.
Lajili dan Zeghal (2005) melakukan penelitian tentang praktik
pengungkapan risiko di Kanada. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki
keadaan, karakteristik, dan jumlah pengungkapan risiko dengan menggunakan
jumlah kata dan kalimat untuk mengidentifikasi pengungkapan risiko. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan umumnya informasi risiko yang diungkapkan
bersifat kualitatif, kurang spesifik, dan mendalam. Namun, dari hasil yang
diperoleh mengindikasikan bahwa telah terdapat intensitas pengungkapan
commit to user
26
Studi mengenai pengungkapan risiko di negara berkembang dilakukan oleh
Hassan (2009) yang menyelidiki tingkat pengungkapan risiko pada perusahaan di
UAE. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh antara karakteristik
perusahaan dengan tingkat pengungkapan risiko perusahaan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tingkat leverage dan jenis industri secara signifikan
menjelaskan variabilitas tingkat pengungkapan risiko perusahaan.
Amran et al (2009) juga melakukan penelitian mengenai pengungkapan
risiko pada negara berkembang. Penelitian yang mengambil sampel perusahaan di
Malaysia ini bertujuan untuk menguji hubungan antara tingkat risiko perusahaan
dengan luas pengungkapan risiko. Hasilnya menunjukkan bahwa secara signifikan
ukuran perusahaan dan jenis industri memiliki pengaruh positif dengan luas
pengungkapan.
Ukuran dewan komisaris mempengaruhi aktivitas pengendalian dan
pengawasan (Andres, Azofra, dan Lopez, 2005) termasuk pengawasan terhadap
pengungkapan. Proporsi komisaris independen secara signifikan berpengaruh
positif terhadap tingkat pengungkapan (Hossain, 2008). Suhardjanto dan Afni
(2009) menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan komisaris utama
merupakan faktor yang menentukan pengungkapan social disclosure pada annual
report perusahaan. Suhardjanto dan Anggitarani (2010) menunjukkan pengaruh
commit to user
27
C. Skema Konsep Penelitian
Kerangka mengenai hubungan antar masing-masing variabel dapat dilihat
dalam gambar di bawah ini:
Variabel Independen Variabel Dependen
v
[image:44.612.157.479.187.480.2]
Variabel Kontrol
Gambar 2.5 Skema Konsep Penelitian
Berdasarkan konsep di atas, dapat diketahui bahwa model penelitian ini
hanya terdiri dari satu tahap yaitu untuk menjelaskan pengaruh board of directors
yang direpresentasikan dengan ukuran dewan komisaris, proporsi komisaris
independen, latar belakang pendidikan dewan komisaris, dan latar belakang etnis
komisaris utama. Selain menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel
dependen, penelitian ini juga menyertakan leverage dan profitabilitas sebagai
variabel kontrol.
Board of Directors:
1. Ukuran dewan komisaris
2. Proporsi komisaris independen 3. Latar belakang
pendidikan dewan komisaris
4. Latar belakang etnis komisaris utama
Risk Disclosure
1. Leverage 2. Profitabilit
H1 +
H2 +
H3 +
commit to user
28
D. Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan untuk menguji implementasi board of
directors (ukuran dewan komisaris, proporsi komisaris independen, latar belakang
pendidikan dewan komisaris, dan latar belakang etnis komisaris utama) terhadap
risk disclosure, dengan leverage dan profitabilitas sebagai variabel kontrol.
Berikut ini merupakan pengembangan hipotesis yang dilakukan:
1. Pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap tingkat risk disclosure
Dewan komisaris merupakan inti dari corporate governance yang
ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi
manajemen dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya
akuntabilitas (FCGI, 2002). Dikaitkan dengan pengungkapan informasi oleh
perusahaan, kebanyakan penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif antara
berbagai karakteristik dewan komisaris dengan tingkat pengungkapan informasi
oleh perusahaan (Sembiring, 2005).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Abeysekera (2008) jumlah dewan
komisaris yang dinilai efektif berada pada rentang lebih dari lima orang dan
kurang dari 14 orang. Dalton, Daily, Johnson, dan Ellstrand (1999) menyatakan
bahwa jumlah anggota dewan komisaris yang optimum lebih efektif dibanding
jumlah yang kecil. Collier dan Gregory (1999) menyatakan bahwa semakin besar
jumlah anggota dewan komisaris, maka semakin mudah untuk mengendalikan
CEO dan monitoring yang dilakukan semakin efektif karena jumlah anggota
dewan komisaris mempengaruhi aktivitas pengendalian dan pengawasan (Andres
commit to user
29
Ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan wajib
(Akra, Eddie, dan Ali, 2010).Semakin besar jumlah dewan komisaris diharapkan
dapat meningkatkan pengungkapan risiko. Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis
dapat dinyatakan adalah
H1: Ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap tingkat risk disclosure.
2. Pengaruh proporsi komisaris independen terhadap tingkat risk disclosure
Keberadaan anggota komisaris independen dapat mendorong agar
perusahaan mengungkapkan informasi kepada investor dengan lebih luas (Eng
dan Mak, 2003). Komisaris independen lebih efektif dalam melakukan
pengawasan terhadap perusahaan karena kepentingan mereka tidak terganggu oleh
ketergantungan pada organisasi (Ayuso dan Argondana, 2007). Hossain (2008)
melakukan penelitian pada perbankan di India menunjukkan bahwa board
compositions yang diukur dengan proporsi komisaris independen secara signifikan
berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan.
Khan (2010) yang menggunakan sampel perbankan komersial di
Bangladesh menemukan bahwa proporsi komisaris independen memberikan
pengaruh signifikan dalam memaparkan pelaporan corporate social responsibility
(CSR). Ezat dan El-Masry (2008) mengemukakan adanya pengaruh yang
signifikan antara proporsi komisaris independen dengan ketepatan waktu
corporate internet reporting (CIR). Penelitian yang dilakukan oleh Huafang dan
Jianguo (2007) menunjukkan pengaruh antara proporsi komisaris independen
commit to user
30
Ajinkya, Bhojraj, dan Sengupta (2005) menemukan bukti bahwa perusahaan
yang memiliki lebih banyak komisaris independen lebih banyak menyediakan
ramalan pada laporan tahunan mereka. Chen dan Jaggi (2000) menyatakan
pengaruh proporsi komisaris independen terhadap pengungkapan (termasuk
mandatory disclosure). Hasil yang sama juga ditunjukkan dalam penelitian yang
dilakukan oleh Abraham dan Cox (2007). Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis
dapat dinyatakan adalah
H2: Proporsi komisaris independen berpengaruh positif terhadap tingkat risk disclosure.
3. Pengaruh latar belakang pendidikan dewan komisaris terhadap tingkat risk
disclosure
Anggota dewan yang berlatar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis
menjadi hal yang cukup penting dalam perusahaan. Ada kemungkinan latar
belakang pendidikan anggota dewan yang sesuai dengan jenis usaha perusahaan
yang dapat menunjang kelangsungan bisnis perusahaan lebih diperlukan.
Sehingga dalam hal ini anggota dewan yang memiliki latar belakang pendidikan
yang diistilahkan dengan “disiplin ilmu” diperlukan dalam menjalankan bisnis
perusahaan (Kusumastuti, Supatmi, dan Sastra, 2007).
Suhardjanto dan Afni (2009) menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan
komisaris utama merupakan faktor yang menentukan diungkapkan atau tidaknya
social disclosure pada annual report perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut,
hipotesis dapat dinyatakan adalah
commit to user
31
4. Pengaruh latar belakang etnis komisaris utama terhadap tingkat risk disclosure
Karakteristik personal komisaris utama yang berasal dari etnis yang
memiliki sifat ulet dan gigih, seperti Tionghoa menjadi faktor penentu dalam
kinerja perusahaan (Suhardjanto dan Anggitarani, 2010). Branco dan Rodrigues
(2008) menjelaskan keterlibatan anggota komisaris asing meningkatkan kausalitas
pelaporan. Fields dan Keys (2003) menemukan heterogenitas pengalaman, ide,
dan inovasi individu dengan latar belakang budaya yang berbeda berdampak
terhadap kinerja perusahaan. Erhardt, James, dan Charles (2003) berpendapat
bahwa representasi etnis di jajaran dewan komisaris dapat meningkatkan kinerja
keuangan bisnis. Pernyataan ini diperkuat oleh Ayuso dan Argandona (2007) yang
menggambarkan bahwa komisaris asing diasumsikan memainkan peran penting
dalam mendukung strategi pelaporan CSR.
Haniffa dan Cooke (2005) yang menggunakan sampel perusahaan di
Malaysia menunjukkan bukti empiris mengenai pengaruh positif antara proporsi
komisaris yang berasal dari Malaysia di jajaran dewan komisaris dengan tingkat
pengungkapan sukarela oleh perusahaan. Khan (2010) yang menggunakan sampel
perbankan komersial di Bangladesh menemukan bahwa eksistensi etnis asing
memberikan pengaruh signifikan dalam memaparkan pelaporan CSR.
Suhardjanto dan Anggitarani (2010) menunjukkan pengaruh latar belakang
etnis komisaris utama terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hasil ini serupa
dengan penelitian yang dilakukan oleh Kusumastuti et al (2007). Berdasarkan
uraian tersebut, hipotesis dapat dinyatakan adalah
commit to user
32
Variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini adalah leverage dan
profitabilitas. Jika perusahaan memiliki leverage yang tinggi, kreditur dapat
memaksa perusahaan untuk mengungkapkan informasi terkait risiko dengan lebih
luas (Amran et al, 2009). Haniffa dan Cooke (2005) menunjukkan bahwa
perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi mengungkapkan informasi
commit to user
33
BAB III
METODE PENELITIAN
Setelah membahas landasan teori dan pengembangan hipotesis di Bab II,
maka pada Bab III menjelaskan mengenai desain penelitian, populasi, sampel, dan
teknik pengambilan sampel, data dan metode pengumpulan data, definisi
operasional dan pengukuran variabel, dan metode analisis data yang dilakukan
dalam penelitian ini.
A. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian pengujian hipotesis (hypothesis testing) yang
bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan oleh peneliti mengenai pengaruh
board of directors yang direpresentasikan dengan ukuran dewan komisaris,
proporsi komisaris independen, latar belakang pendidikan dewan komisaris, dan
latar belakang etnis komisaris utama terhadap risk disclosure. Menurut Sekaran
(2006), pengujian hipotesis harus dapat menjelaskan sifat dari hubungan tertentu
dan memahami perbedaan antar kelompok atau independensi dua variabel atau
lebih.
B. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perbankan
yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2009. Tahun 2007 dipilih
karena meningkatnya perhatian mengenai pengungkapan risiko di perbankan
commit to user
34
28 perbankan yang listing, pada tahun 2008 terdapat 28 perbankan, dan pada
tahun 2009 terdapat 28 perbankan, sehingga total populasi secara keseluruhan
adalah 84 perusahaan.
Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Teknik purposive
sampling adalah pengambilan sampel yang dilakukan dengan mengambil sampel
berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan tujuan penelitian (Hartono, 2005).
Kriteria perbankan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah:
1. Perbankan yang menerbitkan laporan keuangan tahun 2007 sampai
2009.
2. Perbankan yang menyediakan data jumlah anggota dewan komisaris,
proporsi komisaris independen, latar belakang pendidikan dewan
komisaris, dan latar belakang etnis komisaris utama.
Berdasarkan kriteria tersebut, pada tahun 2007 terdapat empat perbankan
yang tidak memenuhi kriteria, tahun 2008 sebanyak tiga perbankan, dan tahun
2009 sebanyak empat perbankan, sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 73
annual report perbankan.
C. Data dan Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan data sekunder
yang diambil dari laporan tahunan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia
pada tahun 2007-2009. Laporan tahunan dipilih karena memiliki kredibilitas yang
tinggi (Zeghal dan Ahmed, 1999), selain itu laporan tahunan digunakan oleh
commit to user
35
Rankin, 1997). Data sekunder yang dikumpulkan diperoleh dari situs
www.idx.co.id, www.google.com, dan dari situs masing – masing perusahaan sampel.
D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Berikut ini dijelaskan mengenai definisi variabel penelitian dan
pengukurannya:
1. Variabel Independen
Variabel independen direpresentasikan dengan ukuran dewan komisaris,
proporsi komisaris independen, latar belakang pendidikan dewan komisaris, dan
latar belakang etnis komisaris utama.
a. Ukuran dewan komisaris
Ukuran dewan komisaris merupakan jumlah anggota dewan komisaris
(yang dinilai paling efektif) dalam melakukan fungsinya pada sebuah
perusahaan. Namun, sampai saat ini terdapat perdebatan mengenai jumlah
tersebut.
Jumlah anggota dewan komisaris mempengaruhi aktivitas pengendalian
dan pengawasan (Andres et al, 2005). Menurut Collier dan Gregory (1999),
semakin besar jumlah dewan anggota dewan komisaris, semakin mudah untuk
mengendalikan chief executive officer (CEO) dan semakin efektif dalam
memonitor aktivitas manajemen. Indikator yang digunakan sesuai dengan
penelitian Dalton et al (1999), Nasution dan Setiawan (2007), dan Abeysekera
(2008) yaitu jumlah keseluruhan anggota dewan komisaris yang dimiliki
commit to user
36 b. Proporsi komisaris independen
Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak
terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang
saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya
yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau
bertindak semata-mata demi kepentingan perusahaan (Komite Nasional
Kebiijakan Governance, 2006).
Keberadaan komisaris independen telah diatur Bursa Efek Indonesia
melalui peraturan BEI tanggal 1 Juli 2000. Dalam peraturan ini, persyaratan
jumlah minimal komisaris independen adalah 30% dari seluruh anggota dewan
komisaris.
Indikator yang digunakan Eng dan Mak (2005) adalah persentase anggota
dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan dari seluruh anggota dewan
komisaris perusahaan.
c. Latar belakang pendidikan dewan komisaris (LBPDK)
Menurut Suhardjanto dan Afni (2009), latar belakang pendidikan
komisaris utama mempengaruhi keputusan dan masukan yang diberikan
kepada dewan direksi. Dewan komisaris lebih efektif apabila dewan komisaris
commit to user
37
Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah persentas