PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE, ETNIS, DAN LATAR BELAKANG PENDIDIKAN TERHADAP ENVIRONMENTAL DISCLOSURE: STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN LISTING DI
BURSA EFEK INDONESIA
Skripsi
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret
Disusun oleh:
NOVITA DIAN PERMATASARI NIM. F0305014
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi dengan judul
PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE, ETNIS, DAN LATAR BELAKANG PENDIDIKAN TERHADAP ENVIRONMENTAL DISCLOSURE: STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN LISTING DI
BURSA EFEK INDONESIA
Telah disetujui dan diterima oleh pembimbing untuk diajukan kepada tim penguji
skripsi.
Surakarta, 27 Mei 2009
Disetujui dan diterima oleh
Pembimbing
HALAMAN PENGESAHAN
Telah disetujui dan diterima dengan baik oleh tim penguji skripsi Fakultas
Ekonomi Universitas Sebelas Maret guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi
syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi.
Surakarta, 13 Juni 2009
Tim Penguji Skripsi
1. Sri Suranta, SE, M.Si, Ak.
NIP 13216300
Ketua (………..)
2. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com (Hons),
Ph.D, Ak
NIP 131 843 290
Pembimbing (………..)
3. Drs. Santoso Tri Hananta, M.Si, Ak.
NIP 132086156
MOTTO
Tak Ada Rahasia untuk Menggapai Sukses,
Sukses itu Dapat Terjadi Karena Persiapan,
PERSEMBAHAN
Aku Persembahkan Skripsi ini untuk:
”My Lovely Family”
Trimakasih untuk Semangat, Motivasi dan Kasih
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas limpahan
rahmat, karunia dan ridho-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik.
Skripsi ini disusun dan diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan
memenuhi syarat-syarat guna mencapai gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Penulis menyadari dalam proses penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari
bantuan banyak pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis
dengan ini mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak sebagai
berikut :
1. Prof. Dr. Bambang Sutopo, M.Com., Ak., selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Drs. Jaka Winarna M.Si., Ak., selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com (Hons), Ph.D, Ak. selaku pembimbing skripsi atas semua kritik dan sarannya yang sangat membantu penulis
4. Kedua Orangtuaku, kalian adalah satu-satunya alasan kenapa aku bisa bertahan sampai sejauh ini. Trimakasih untuk semua do`a, kasih sayang,
dan dukungannya selama ini.
5. Keluargaku (kedua kakakku, mbah `ung, mbah putri, bu end, sepupu-sepupuku, bu `dhe, pak `dhe, om dan tante), trimakasih untuk dukungan
dan do`a dari kalian. Especcially for my nice, Via...jangan nakal ya, cepet
gede dan ga nyusahin mbah uti lagi.
6. Temen-temenku yang slalu buatku betah di kos, para kawanan Rotterdam: Dede, Gata, Fika, Mbak Widhie, Nita, Hana, Puri, Lala, Pipit, Ayu..I will
miss you all.
7. Temen-temen seperjuanganku, The DjoKo`s Family: Laras, Anggi, Uli, Mari. Akhirnya slese juga kita melewati hari-hari penuh dengan revisi,
revisi, dan revisi. Bersama kalian skripsi yang terlihat sangat sulit pada
awalnya, jadi menyenangkan dan terasa mudah saat menjalaninya.
8. Sahabatku, del, yan, ndien, thanks 4 everythings.
9. Buat `Fee, ga lupa juga ni aku ucapin trimakasih untuk semuanya. Tanpa kamu, aku ga mungkin jadi seperti ini, tangguh dan ga cengeng. Ayo cepet
wisuda ya, jangan lama-lama di Kampus.
10.Para Urgent Kempong, mas bagus, mas bayu, mas eko, mas havids, mas agus, mba novita, dina, trijun, yoga, arif, cahya, hendrawan, sapto,
trimakasih untuk kebersamaannya, aku bisa melewatkan masa-masa
terburukku saat ga lulus kompre dengan kalian dan bergelut dengan
11.Temen-temen Akuntansi `05, especially dian “mio”, trimakasih untuk gosip-gosipnya selama ini..hehehe...semoga kita bisa jadi akuntan handal
dan bermoral. Amien.
12.Dosen-dosen favoritku, Pak Hanung, Pak Lardi, Pak Djoko, Trimakasih bapak-bapak sudah berbagi ilmu dengan kami. Tapi ga ketinggalan juga,
seluruh dosen-dosen akuntansi, trimakasih untuk semuanya.
13.Buat “temennya” Laras, trimakasih untuk download-anannual reportnya.
14.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu (Thanks a lot)
Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu
penulis meminta maaf atas kekurangan yang terjadi dan demi kesempurnaan
skripsi ini penulis mengharap kritik dan saran yang membangun demi terciptanya
karya yang sempurna.
Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak
yang membutuhkan di kemudian hari.
Surakarta, Mei 2009
2. Latar Belakang dan Faktor Pendorong Tanggung Jawab
C. Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis...
BAB III. METODE PENELITIAN ………...
A. Desain Penelitian...
B. Populasi dan Sampel...
C. Data dan Metode Pengumpulan Data...
D. Variabel Penelitian dan Pengukurannya...
E. Metode Analisis Data...
BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN ………...
A. Kesimpulan...
B. Saran ...
C. Keterbatasan...
D. Rekomendasi...
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
61
62
63
DAFTAR TABEL
Indonesian Environmental Reporting Indeks (IER)... Keterangan Persamaan Regresi Berganda...
Populasi dan Klasifikasi Industri...
Sampel dan Klasifikasi Industri...
Perusahaan dengan Environmental Disclosure... Statistik Deskriptif Variabel-Variabel Penelitian...
Hasil Logistic Regression... Hasil Analisis Regresi Berganda...
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR Halaman
2. 1
2. 2
Model Stakeholder... Hubungan antara Corporate Governance dan
Environmental Disclosure...
10
ii
PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE, ETNIS, DAN LATAR
BELAKANG PENDIDIKAN TERHADAP ENVIRONMENTAL
DISCLOSURE: STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN LISTING DI BURSA EFEK INDONESIA
ABSTRAKSI Novita Dian Permatasari
F 0305014
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh corporate governance terhadap environmental disclosure. Variabel corporate governance yang digunakan adalah proporsi dewan komisaris independen, latar belakang belakang culture atau etnis presiden komisaris, latar belakang pendidikan presiden komisaris, jumlah rapat dewan komisaris, proporsi komite audit independen, dan jumlah rapat komite audit. Penelitian ini juga menggunakan tipe industri dan ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol. Pengungkapan informasi lingkungan hidup diukur dengan menggunakan Indonesian Environmental Reporting Index yang dikembangan oleh Suhardjanto, Tower, dan Brown (2007).
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 90 perusahaan untuk semua industri pada periode 2007. Metode pemilihan sampel menggunakan metode random berbasis alokasi porposional. Berdasarkan sampel, terdapat 48% perusahaan yang melakukan pengungkapan informasi lingkungan hidup. Pengujian dilakukan dengan menggunakan logistic regression, regresi berganda, uji beda t, ANOVA.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi environmental disclosure adalah proporsi dewan komisaris independen, latar belakang culture presiden komisaris. Ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol juga mempengaruhi environmental disclosure.
iii THE EFFECT OF CORPORATE GOVERNANCE, ETHNIC, AND EDUCATIONAL BACKGROUND ON ENVIRONMENTAL DISCLOSURE:
(An Empirical Study on Public Companies Listed in Indonesian Stock Exchange)
ABSTRACT Novita Dian Permatasari
F 0305014
The purpose of this study is to examine relationship between corporate governance and its environmental disclosures. Corporate governance aspect uses the proportion of independent commissioner, the commissioner president`s ethnic background, the commissioner president`s educational background, the number of commissary chamber meeting, the proportion of independent audit committee, and the number of audit committee meeting as the independent variable. This study also investigates industry type and firm size as control variable. Companies’ environmental disclosures are measured by using the Indonesian Environmental Reporting index that developed by Suhardjanto, Tower and Brown (2007).
Under proportional random sampling method, 90 Indonesian listed companies’ annual reports are selected. From the sample, there is fourty eight percent (48%) disclosed environmental information. This study employed a hypothesis test using logistic regression, multiple regression, t-test, and ANOVA.
Analysis of statistical results the proportional of independent commissioner, the commissioner president`s ethnic background are as significant predictors to environmental disclosure. The firm size as control variable also effects to environmental disclosure.
BAB I
PENDAHULUAN
Pada Bab I berikut ini akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah,
perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika
pembahasan.
A. Latar Belakang Masalah
Pada beberapa tahun terakhir ini, Indonesia mengalami permasalahan
pencemaran lingkungan seperti halnya negara-negara yang lain (Suratno, Darsono,
dan Mutmainah, 2006). Perusahaan dan industri lebih mengutamakan konsep
maksimalisasi laba yang berorientasi pada kepentingan pemilik modal yang
menyebabkan perusahaan melakukan eksploitasi sumber daya alam dan manusia
sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan yang pada akhirnya mengganggu
kehidupan manusia (Anggraini, 2006).
Gejala-gejala pencemaran lingkungan ini dapat dilihat dari berbagai
bencana yang terjadi akhir-akhir ini, seperti banjir bandang di beberapa daerah di
Jawa Tengah dan Jawa Timur, tanah longsor di Desa Sijeruk Jawa Tengah dan
daerah-daerah lainnya di Jawa dan Sumatera, serta kebakaran hutan di beberapa
hutan lindung Kalimantan. Bahkan munculnya banjir lumpur bercampur gas
sulfur di daerah Sidoarjo Jawa Timur merupakan bukti rendahnya perhatian
perusahaan terhadap dampak lingkungan dari aktifitas industrinya (Ja`far, 2006).
Permasalahan lingkungan menjadi perhatian yang serius, baik oleh
tertarik pada perusahaan yang menerapkan manajemen lingkungan yang baik dan
tidak mengabaikan masalah pencemaran lingkungan (Ja`far, 2006). Adanya
kepentingan bisnis untuk menunjukkan reputasi, kredibilitas, dan value added
bagi perusahaan dimata stakeholder menjadi dorongan perusahaan untuk mengungkapkan tanggung jawab sosialnya terhadap lingkungan dalam annual report mereka. Eipstein dan Freedman (1994) menemukan bahwa investor individual tertarik terhadap informasi lingkungan yang dilaporkan dalam annual report.
Penerapan pengungkapan lingkungan hidup memberikan keuntungan yang
lebih. Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Pflieger, Fischer,
Kupfer, dan Eyerer (2005) yang menunjukkan bahwa usaha-usaha pelestarian
lingkungan oleh perusahaan dapat mendatangkan sejumlah keuntungan,
diantaranya adalah ketertarikan pemegang saham dan stakeholder terhadap keuntungan perusahaan akibat pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab
dimata masyarakat. Dengan pertanggungjawaban itu pula dapat memberikan
informasi mengenai sejauh mana perusahaan memberikan konstribusi positif
maupun negatif terhadap kualitas hidup manusia dan lingkungannya (Belkoui,
2000).
Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan pelaporan lingkungan hidup
(environmental disclosure) telah mengalami peningkatan secara signifikan sejak empat dekade terakhir (Bates, 2002; Welford, 1998). Secara umum,
Gamble, 1995; Belal, 2000), hubungan environmental disclosure dengan strategi perusahaan (Niskanen dan Terhi Nieminen, 2001; Solomon dan Linda Lewis,
2002; Elkinton, 1994), dan perbandingan pelaporan environmental disclosure
antar negara (Nyquist, 2003; Atkinton, 1999).
Standar akuntansi keuangan di Indonesia belum mewajibkan perusahaan
untuk mengungkapkan informasi lingkungan hidup (Suhardjanto, 2008),
akibatnya banyak perusahaan yang tidak mengungkapkan aktivitas lingkungan
hidupnya (Anggraini, 2006). Corporate governance yang baik menjadi salah satu faktor pendorong yang memunculkan akuntansi pertanggungjawaban lingkungan
hidup (Eng dan Mak, 2003). Corporate governance merupakan kunci atau alat untuk mengawasi kinerja perusahaan oleh stakeholder termasuk investor. Adanya
corporate governance yang baik akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan, sehingga tanggung jawab lingkungan hidup akan
diungkap dalam annual report.
Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk menguji keterkaitan antara
mekanisme corporate governance terhadap pengungkapan informasi lingkungan hidup, yaitu Eipstein dan Freedman (1994), Belkoui (2000), Komar (2004),
Simon dan Wong (2001), Eng dan Mak (2003), serta Haniffa dan Cooke (2005).
Proporsi dewan komisaris independen merupakan variabel yang sering
Karakteristik personal presiden komisaris juga mempengaruhi
environmental disclosure. Hal ini dijelaskan oleh penelitian Haniffa dan Cooke (2005), yang menunjukkan adanya hubungan antara pengungkapan informasi
lingkungan dengan faktor dominan presiden komisaris pribumi yang menduduki
jabatan tersebut.
Latar belakang pendidikan presiden komisaris yang berasal dari bisnis
(keuangan) juga menjadi variabel penentu. Presiden komisaris yang mempunyai
latar belakang pendidikan keuangan atau bisnis biasanya berpengaruh terhadap
pengetahuan yang dimiliki, meskipun bukan menjadi suatu keharusan bagi
seseorang yang akan masuk dunia bisnis untuk berpendidikan bisnis, akan lebih
baik jika anggota dewan memiliki latar belakang pendidikan bisnis dan ekonomi
(Kusumastuti, Supatmi, dan Sastra, 2006).
Kinerja dan tugas dewan komisaris untuk mengawasi jalannya perusahaan
akan efektif bila masing-masing anggota dewan aktif hadir dalam pertemuan
dewan komisaris (corporate governance guidelines, 2007). Pertemuan dewan komisaris ini dilakukan baik secara internal maupun eksternal sesuai dengan
kebutuhan dan tujuannya.
Keberadaan komite audit dalam suatu perusahaan berfungsi untuk
meningkatkan kualitas laporan keuangan (Forker, 1992). Dengan adanya komite
audit, perusahaan akan lebih meningkatkan kualitas laporan keuangan sehingga
pengungkapan dalam annual report akan diperluas sesuai dengan aktivitas perusahaan (Simon dan Wong, 2001). Dalam menjalankan tugasnya, komite audit
guidelines, 2007). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kinerja komite audit sehingga hasilnya dapat maksimal.
Penelitian ini mengacu pada penelitian Haniffa dan Cooke (2005).
Perbedaannya adalah aspek corporate governance yang digunakan dalam penelitian ini ditambahkan dengan variabel jumlah rapat dewan komisaris dan
keberadaan komite audit serta jumlah rapat komite audit. Hal ini dilakukan
dengan alasan bahwa komite audit merupakan komite yang membantu peran
dewan komisaris dalam perusahaan. Perbedaan lainnya yaitu, proksi variabel
dependen yang digunakan dalam penelitian ini hanya menggunakan 1 ukuran,
yaitu skor indeks, sedangkan dalam penelitian sebelumnya menggunakan indeks
dan content analysis.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh corporate governance
dalam hal ini mengenai proporsi dewan komisaris independen, latar belakang
etnis (culture) dan latar belakang pendidikan presiden komisaris serta komite audit dengan environmental disclosure. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, peneliti akan melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Corporate Governance, Etnis, dan Latar Belakang Pendidikan terhadap Environmental Disclosure: Studi Empiris Pada Perusahaan Listing di Bursa Efek Indonesia”.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah
belakang pendidikan presiden komisaris, (4) jumlah rapat dewan komisaris, (5)
proporsi komite audit independen, dan (6) jumlah rapat komite audit
mempengaruhi environmental disclosure.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan memperoleh bukti empiris
mengenai hubungan antara corporate governance, budaya serta latar belakang pendidikan dan environmental disclosure.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat termasuk:
1. Dapat memberikan kontribusi terhadap literatur penelitian akuntansi
khususnya mengenai corporate governance dengan environmental disclosure
di Indonesia.
2. Bagi perusahaan, dapat memberikan masukan dalam perbaikkan dalam
penerapan corporate governance dan pelaporan aktivitas lingkungan hidup dalam annual report.
3. Bagi stakeholder seperti investor, kreditor dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya, dapat menjadi acuan tambahan dalam menganalisis
informasi yang disajikan oleh perusahaan berkenaan dengan corporate governance dan environmental disclosure dalamannual report.
4. Bagi regulator, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam
5. Bagi kalangan akademisi, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
tambahan literatur dalam bidang ilmu akuntansi.
E. Sistematika Pembahasan
Bab I : Pendahuluan
Dalam bab ini diuraikan latar belakang masalah; rumusan
masalah; tujuan penelitian; manfaat penelitian; dan sistematika
pembahasan.
Bab II : Tinjauan Pustaka
Dalam bab ini diuraikan tinjauan pustaka yang memuat
landasan teori yang terkait dengan topik penelitian; kerangka
teoritis; serta penelitian terdahulu dan pengembangan hipotesis.
Bab III : Metode Penelitian
Berisi tentang desain penelitian; populasi, sampel, dan teknik
pengambilan sampel; variabel penelitian dan pengukurannya;
dan metode analisis data yang terdiri dari statistik deskriptif
dan pengujian hipotesis.
Bab IV : Analisis dan Pembahasan
Bab ini menguraikan analisis deskriptif data; pengujian
hipotesis; dan pembahasan hasil analisis.
Bab V : Penutup
Berisi tentang kesimpulan hasil penelitian; saran; dan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Setelah kita membahas pendahuluan di Bab I, pada Bab II ini akan
diterangkan mengenai landasan teori, kerangka teoritis, serta penelitian terdahulu
dan pengembangan hipotesis dalam penelitian ini.
A. Landasan Teori
Pada landasan teori dalam penelitian ini akan dijabarkan mengenai peran
laporan tahunan, latar belakang dan faktor pendorong tanggung jawab lingkungan
hidup, definisi pengungkapan, environmental disclosure, dan corporate governance.
1. Peran Laporan Tahunan
Tujuan utama suatu laporan tahunan adalah memberikan informasi yang
relevan bagi pembuatan keputusan (Naim dan Rakhman, 2000). Informasi yang
diungkap dalam laporan tahunan dapat berupa informasi akuntansi yaitu informasi
yang berkaitan dengan laporan keuangan dan informasi non-akuntansi yaitu
informasi yang tidak berkaitan dengan laporan keuangan. Ciri-ciri dasar informasi
akuntansi adalah informasi tersebut tersedia untuk umum dengan sedikit atau
sama sekali tanpa biaya bagi mereka yang ingin memperoleh dan menggunakan
informasi tersebut.
Karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat informasi
dalam laporan tahunan berguna bagi pemakai. Terdapat tujuh karakteristik
Da pat Dipahami
Informasi harus dapat dipahami dan dimengerti oleh pemakainya, dan dinyatakan dalam bentuk dan dengan istilah yang disesuaikan dengan batas pengertian pemakai.
Rel
evan
Relevansi suatu informasi harus dihubungkan dengan maksud penggunaanya.
Ke
andalan
Informasi harus dapat diuji kebenarannya oleh para pengukur yang independen dengan metode pengukuran yang sama.
Da
pat diperbandingkan
Informasi dalam laporan keuangan akan lebih berguna bila dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya dari perusahaan yang sama, maupun dengan laporan keuangan perusahaan-perusahaan lainnya pada periode yang sama.
Te
pat waktu
Informasi harus disampaikan sedini mungkin untuk dapat digunakan sebagai dasar untuk membantu dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi dan untuk menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut.
Net
ral
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan tidak bergantung kebutuhan dan keinginan pihak-pihak tertentu.
Le
ngkap
Informasi akuntansi yang lengkap meliputi semua data akuntansi keuangan yang dapat memenuhi secukupnya enam tujuan kualitatif diatas dan memenuhi standar pengungkapan yang memadai dalam laporan keuangan.
Menurut Standar Akuntansi Keuangan, tujuan laporan tahunan adalah
memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan
yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka
(stewardship) manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
Adapun pihak-pihak yang berkepentingan terhadap annual report: 1. Para pemilik perusahaan,
2. Manajer perusahaan,
3. Para kreditor, bankir, investor, dan
4. Instansi pemerintah.
Menurut Donaldson (1995:68) pihak-pihak yang berkepentingan terhadap
laporan tahunan perusahaan dapat dijelaskan dengan gambar berikut ini:
Gambar 2.1 Model Stakeholder
Dalam model stakeholder ini dijelaskan bahwa pihak-pihak yang
diperhatikan oleh perusahaan tidak hanya orang-orang atau kelompok-kelompok yang dipengaruhi atau mempengaruhi perusahaan dalam hal transaksi ekonomi,
FIRM
Political Group
Customer
Community Supplier
Employees Investor
akan tetapi juga orang-orang atau kelompok-kelompok yang mempengaruhi atau
dipengaruhi oleh keputusan, kebijakan, dan operasi perusahaan secara tidak
langsung.
Laporan tahunan memiliki keunggulan dibandingkan dengan sumber
informasi lain (Astuti, 1999), yaitu:
a. Memberikan informasi tentang sebuah perusahaan secara spesifik. b. Memuat laporan keuangan yang pada umumnya telah diaudit oleh
auditor independen dan memperoleh jaminan kewajaran. Informasi dari sumber lain tidak diperiksa oleh pihak yang independen dan diberi pendapat sehingga informasi tersebut mempunyai tingkat keandalan yang lebih rendah.
c. Laporan yang dipublikasikan bisa diperoleh dengan biaya yang rendah mengingat perusahaan yang go public wajib memberikan laporan tahunan.
d. Bapepam mempunyai peraturan tentang kewajiban menerbitkan laporan tahunan dengan batas waktu tertentu, sedangkan sumber lain tidak ada peraturan yang pasti.
Keunggulan lainnya, bahwa annual report mempunyai kredibilitas tinggi (Zeghal dan Ahmed, 1999) sehingga banyak digunakan oleh stakeholder dalam pembuatan keputusan. Hal lain menyebutkan bahwa, laporan tahunan merupakan
sumber informasi yang pasti bagi para stakeholder (Deegan dan Rankin, 1997), memiliki potensi yang besar untuk mempengaruhi penyebaran distribusi secara
luas (Adams and Harte, 1998), menawarkan deskripsi menajemen pada suatu
periode tertentu (Neimark, 1992), dan lebih banyak dapat diakses untuk tujuan
penelitian (Woodward, 1998).
Laporan tahunan merupakan media bagi manajemen perusahaan untuk
memberikan informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan merupakan
sarana pertanggungjawaban kepada publik atas sumber daya yang dikelolanya
membahas hubungan antara pemberi kerja (prinsipal) dengan penerima
mandat/kerja (agen). Prinsipal memberi fasilitas dan dana untuk menjalankan
operasi perusahaan, sedangkan manajemen berkewajiban mengelola dana dan
fasilitas tersebut. Prinsipal memperoleh hasil berupa pembagian laba, sedangkan
manajemen memperoleh gaji, bonus, dan kompensasi lainnya (Astuti, 1999).
Selain itu, sebagai pertanggungjawaban agen terhadap prinsipal, agen wajib
memberikan laporan hasil kinerja dan pengelolaan sumber daya perusahaan
kepada prinsipal.
2. Latar Belakang dan Faktor Pendorong Tanggung Jawab Lingkungan Hidup
Dekade 1960-an dipandang sebagai kebangkitan aktivis lingkungan hidup.
Pada masa ini, orang-orang menjadi lebih peduli kepada kelestarian lingkungan
hidup. Dampak industri terhadap kualitas udara, air, dan tanah menjadi sorotan
masyarakat. Peraturan Pemerintah untuk melindungi sumber daya dan mengawasi
pelepasan limbah berbahaya. Berbagai standar ditetapkan untuk mengawasi
operasi dan usaha. Dunia usaha diminta untuk mengendalikan emisi karbon dan
merencanakan, mengembangkan serta mengimplementasikan rencana
pengurangan polusi (Freedman, 1989).
Untuk konsep akuntansi lingkungan sendiri, sebenarnya sudah mulai
berkembang sejak tahun 1970-an di Eropa. Akibat tekanan lembaga-lembaga
bukan pemerintah dan meningkatnya kesadaran lingkungan di kalangan
masyarakat yang mendesak agar perusahaan-perusahaan menerapkan pengelolaan
Banyak perusahaan industri dan jasa berskala besar di dunia yang kini
menerapkan akuntansi lingkungan. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi
pengelolaan lingkungan dengan melakukan penilaian kegiatan lingkungan dari
sudut pandang biaya (environmental costs) dan manfaat atau efek (economic benefit). Akuntansi lingkungan diterapkan oleh berbagai perusahaan untuk menghasilkan penilaian kuantitatif tentang biaya dan efek perlindungan
lingkungan (environmental protection) (Djogo, 2006).
Berry dan Rondinelly (1998), mengungkapkan ada beberapa kekuatan
yang mendorong perusahaan untuk melakukan tindakan manajemen lingkungan.
Faktor-faktor tersebut adalah:
1. Regulatory demand
Tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan muncul sejak 30 tahun terakhir ini, setelah masyarakat meningkatkan tekanannya kepada pemerintah untuk menetapkan peraturan pemerintah sebagai dampak meluasnya polusi. Sistem pengawasan manajemen lingkungan menjadi dasar untuk skor lingkungan, seperti program-program kesehatan dan keamanan lingkungan. Perusahaan merasa penting untuk bisa mendapatkan penghargaan di bidang lingkungan, dengan berusaha menerapkan prinsip-prinsip TQM secara efektif, misalnya dengan penggunaan teknologi pengontrol polusi melalui penggunaan clean technology.
2. Cost Factors
Adanya komplain terhadap produk-produk perusahaan, akan membawa konsekuensi munculnya biaya pengawasan kualitas yang tinggi, karena semua aktivitas yang terlibat dalam proses produksi perlu dipersiapkan dengan baik. Hal ini secara langsung akan berdampak pada munculnya biaya yang cukup tinggi, seperti biaya sorting bahan baku, biaya pengawasan proses produksi, dan biaya pengetesan. Konseksensi perusahaan untuk mengurangi polusi juga berdampak pada munculnya berbagai biaya, seperti penyediaan pengolahan limbah, penggunaan mesin yang clean technology, dan biaya pencegahan kebersihan.
3. Stakeholders Forces
untuk memuaskan kepentingan stakeholder yang bervariasi dengan menemukan berbagai kebutuhan akan manajemen lingkungan yang proaktif.
4. Competitive requirements
Semakin berkembangnya pasar global dan munculnya berbagai kesepakatan perdagangan sangat berpengaruh pada munculnya gerakan standarisasi manajemen kualitas lingkungan. Persaingan nasional maupun internasional telah menuntut perusahaan untuk dapat mendapatkan jaminan dibidang kualitas, antara lain seri ISO 9000. Sedangkan untuk seri ISO 14000 dominan untuk standar internasional dalam sistem manajemen lingkungan. Keduanya memiliki perbedaan dalam kriteria dan kebutuhannya, namun dalam pelaksanaannya saling terkait, yakni dengan mengintegrasikan antara sistem manajemen lingkungan dan sistem manajemen perusahaan.
Untuk mencapai keunggulan dalam persaingan, dapat dilakukan dengan menerapkan green alliances (Hartman dan Stafford, 1995). Green alliances merupakan partner diantara pelaku bisnis dan kelompok lingkungan untuk mengintegrasikan antara tanggungjawab lingkungan perusahaan dengan tujuan pasar.
Menurut Gray, Kouhy, dan Lavers (1995), latar belakang perlunya
pengungkapan informasi sosial dan lingkungan hidup adalah: (1) munculnya
masalah-masalah sosial di lingkungan perusahaan karena ketidakpuasan terhadap
kebijakan masyarakat sosial; (2) untuk meminimalisasi munculnya masalah
lingkungan perusahaan yaitu dengan cara meningkatkan kepedulian perusahaan
terhadap lingkungan sosial dan dengan menggunakan salah satu media yang bisa
digunakan untuk pengungkapan sosial adalah laporan tahunan.
Alasan dan motif perusahaan melakukan pengungkapan informasi
lingkungan juga diungkapkan De Villers (1998) dalam penelitiannya mengenai
environmental disclosure, yaitu:
1. Jika perusahaan tidak mengungkapkan secara sukarela, dikhawatirkan akan menjadi kebijakan pemerintah yang bersifat wajib. 2. Sebagai legitimasi atas kegiatan yang telah dilakukan perusahaan. 3. Untuk mengalihkan perhatian dari isu lain.
4. Untuk meningkatkan citra publik.
6. Untuk meningkatkan keuntungan kompetitif.
7. Adalah hak bagi para shareholders dan stakeholders. 8. Keuntungan politik.
9. Dorongan untuk mengkomunikasikan kepada khalayak tentang hal-hal yang dilakukan perusahaan.
10. Untuk menjelaskan pola pengeluaran.
Berkembangnya wacana business and society telah menyingkirkan paradigma lama bahwa organisasi adalah mesin, sebagaimana disimpulkan oleh
Morgan (1987). Evan dan Freedman (dalam Triyuwono, 1997) melontarkan
paradigma baru, bahwa organisasi (sebagaimana halnya dengan manusia), selain
memiliki hak juga memiliki kewajiban terhadap lingkungan.
3. Definisi Pengungkapan
Pengungkapan secara sederhana dapat diartikan sebagai pengeluaran
informasi (Naim dan Rakhman, 2000). Sedangkan menurut Hendriksen (1990),
pengungkapan adalah penyediaan sejumlah informasi yang dibutuhkan untuk
pengoperasian pasar modal secara optimal. Pengungkapan laporan tahunan dapat
dilakukan dalam bentuk penjelasan mengenai kebijakan akuntansi yang ditempuh,
metode persediaan, jumlah saham yang beredar dan sebagainya. Suwardjono
(2005), pengungkapan berkaitan dengan cara pembeberan atau penjelasan hal-hal
informatif yang dianggap penting dan bermanfaat bagi pemakai selain apa yang
dinyatakan melalui statementkeuangan utama.
Secara umum, tujuan pengungkapan adalah menyajikan informasi yang
dipandang perlu untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan dan untuk melayani
berbagai pihak yang mempunyai kepentingan berbeda-beda. Guthrie dan
ketersediaan informasi keuangan dan non-keuangan berkaitan dengan lingkungan
fisik dan lingkungan sosialnya yang dapat dibuat dalam laporan tahunan
perusahaan atau laporan pertanggungjawaban terpisah.
Berdasarkan tujuan Securities Exchange Commission (SEC) membagi pengungkapan dalam 2 kategori, yaitu protective disclosure yang dimaksudkan sebagai upaya perlindungan terhadap investor dan informative disclosure yang bertujuan memberikan informasi yang layak kepada pengguna laporan (Walk,
Francis, dan Tearney, 1989).
Terdapat 4 prinsip dalam akuntansi: (1) historical cost principle, (2)
revenue recognition principle, (3) matching principle, dan (4) full disclosure principle. Full disclosure diartikan sebagai penyediaan semua informasi yang dianggap cukup penting dalam mempengaruhi penilaian dan keputusan yang
diambil pemakai laporan keuangan.
Hendriksen dan Breda (2001), konsep full disclosure mewajibkan agar laporan tahunan didesain dan disajikan sebagai kumpulan potret dari kejadian
ekonomi yang mempengaruhi perusahaan untuk suatu periode dan berisi cukup
informasi, sehingga stakeholder paham dan tidak salah tafsir terhadap laporan tahunan tersebut. Selanjutnya, dikatakan pula bahwa pengertian full disclosure
harus mencakup prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Cukup (Adequate)
Artinya bahwa informasi minimum laporan tahunan harus disajikan.
Pengungkapan menjelaskan bahwa ada aturan etis tentang perlakuan
sama kepada semua pemakai annual report. 3. Penuh (Full)
Laporan tahunan harus mencakup semua kelengkapan penyajian
informasi.
Ada 2 sifat dari pengungkapan, yaitu: pengungkapan yang didasarkan pada
ketentuan atau standar (required/regulated/mandatory disclosure) dan pengungkapan yang bersifat sukarela (voluntary disclosure). Perusahaan bersedia melakukan pengungkapan sukarela, meski menambah cost perusahaan, untuk memenuhi tekanan masyarakat (misalnya dalam kasus lingkungan) atau untuk
meningkatkan citra publiknya.
Oleh karena sifatnya yang masih sukarela, maka banyak perusahaan yang
enggan untuk menambah luas disclosure. Alasan-alasan mengapa perusahaan enggan menambah disclosure menurut Hendriksen (2001) adalah sebagai berikut:
1. Disclosure akan membantu para pesaing dan merugikan pemegang saham.
2. Disclosure yang lengkap akan memberikan keuntungan kepada serikat pekerja dalam hal tawar menawar upah.
3. Adanya keraguan terhadap kemampuan investor dalam memahami kebijakan dan prosedur akuntansi sehingga full disclosure akan menyesatkan mereka.
4. Tersedianya sumber-sumber informasi lain selain annual report yang tersedia dengan biaya yang lebih mahal.
5. Kurangnya pengetahuan kebutuhan investor juga merupakan alasan disclosure terbatas.
Meskipun demikian, pengungkapan akan tetap dilakukan oleh perusahaan
karena manfaat yang diterima melebihi biaya yang dikeluarkan perusahaan. Selain
investor dan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dengan perusahaan
tersebut.
4. Environmental Disclosure
Akuntansi sebagai alat pertanggungjawaban mempunyai fungsi sebagai
alat kendali utama terhadap aktivitas perusahaan. Tanggung jawab manajemen
tidak terbatas pada pengelolaan dana ke dalam perusahaan kepada investor dan
kreditor, tetapi juga meliputi dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan terhadap
lingkungan.
Environmental disclosure adalah pengungkapan informasi yang berkaitan dengan lingkungan di dalam laporan tahunan perusahaan (Suratno dkk, 2006).
Zhegal dan Ahmed (1990) mengidentifikasi pelaporan lingkungan meliputi
pengendalian terhadap polusi, pencegahan atau perbaikan terhadap kerusakan
lingkungan, konservasi alam dan pengungkapan lain yang berhubungan dengan
lingkungan.
Pengungkapan informasi lingkungan hidup perusahaan bertujuan sebagai
media untuk mengkomunikasikan realitas untuk pengambilan keputusan ekonomi,
sosial, dan politis (Hayuningtyas, 2007). Pertangggungjawaban lingkungan hidup
juga merupakan respon terhadap kebutuhan informasi dari kelompok-kelompok
Environmental disclosure merupakan wujud pertanggungjawaban sosial perusahaan (Hadi, 2006). Melalui pengungkapan lingkungan hidup pada laporan
tahunan, masyarakat dapat memantau aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh
perusahaan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosialnya. Dengan cara
demikian, perusahaan akan memperoleh perhatian, kepercayaan dan dukungan
dari masyarakat sehingga perusahaan dapat tetap eksis (Parsons, 1996).
Pengungkapan informasi lingkungan hidup perusahaan masih bersifat
voluntary, unaudited dan unregulated (Mathews, 1984). Namun demikian,
beberapa institusi telah menawarkan model yang bisa dijadikan pedoman.
1) Institute of Chartered Accountants in England and Walls (ICAEW)
Merupakan organisasi profesi para akuntan di Inggris dan Wales ini
mengeluarkan rekomendasi pada tema lingkungan yang perlu diungkap dalam
annual report, yaitu:
a. Kebijakan lingkungan oleh perusahaan.
b. Identitas para direktur dilengkapi dengan rincian tanggung jawab
mereka pada lingkungan.
c. Tujuan lingkungan perusahaan.
d. Informasi aksi lingkungan yang telah dilakukan, termasuk rincian
asal dan jumlah pengeluaran dalam aktivitas lingkungan.
e. Dampak utama bisnis terhadap lingkungan, dan bila memungkinkan
disertai dengan pengukuran kinerja lingkungan terkait.
f. Kepatuhan terhadap aturan dan petunjuk industri yang berkaitan
dari masyarakat Eropa dan rincian yang berkaitan dengan
pendaftaran dan persetujuan Standar Inggris tentang “SM
Lingkungan 7750”.
g. Risiko lingkungan yang signifikan yang tidak disyaratkan untuk
diungkap dalam kewajiban kontinjensi.
h. Laporan audit eksternal pada aktivitas lingkungan yang dilakukan
oleh perusahaan termasuk yang terkait dengan tempat-tempat
tertentu.
2) Global Reporting Initiative’s (GRI)
GRI merekomendasikan beberapa aspek lingkungan yang harus diungkap
dalam annual report. Ada 30 item yang direkomendasikan oleh GRI dan terdiri dari 9 aspek. Kesembilan aspek tersebut adalah:
a. Material b. Energi c. Air
d. Keanekaragaman hayati e. Emisi dan limbah f. Produk dan jasa
g. Ketaatan pada peraturan h. Transportasi
i. Keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk menjaga lingkungan.
Pentingnya pengungkapan informasi lingkungan (environmental disclosure) berkaitan dengan adanya kontrak (perjanjian) sosial (social contract). Kontrak antara perusahaan dengan masyarakat, baik yang sifatnya eksplisit
maupun implisit yang timbul karena interaksi perusahaan dengan lingkungan,
kesejahteraan pemegang saham, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial, yaitu
tanggung jawab untuk menjaga kelangsungan lingkungan hidup (Belkaoui, 2000).
Banyak kasus yang telah terjadi berkenaan dengan lingkungan hidup yang
belum diungkap dalam annual report perusahaan-perusahaan di Indonesia. Diantaranya adalah kasus pencemaran Teluk Buyat oleh PT Newmont. PT
Newmont, Nusa Tenggara menggunakan teknologi yang berbahaya di laut, yaitu
pembuangan tailing ke laut (Submarine Tailing Disposal), yang terbukti telah mengakibatkan pencemaran di Teluk Buyat, Sulawesi Utara. Bahkan hasil survei
KLH yang dilakukan bulan September 2004 di daerah Tongo Sejorong, Benete
dan Lahar, Nusa Tenggara Barat, menunjukkan sekitar 76 – 100% responden
nelayan menyatakan bahwa pendapatan mereka menurun setelah Newmont
membuang tailingnya ke Teluk Senunu, yang besarnya mencapai 120.000 ton
tailing perhari, atau 60 kali besarnya tailing Newmont di Teluk Buyat (WALHI, 2005). Itulah sebabnya mengapa perusahaan perlu melakukan pengungkapan
informasi lingkungan.
5. Corporate Governance
Ada dua teori utama yang terkait dengan corporate governance, yaitu
stewardship theory dan agency theory (Chinn, 2000). Stewardship theory
dibangun atas asumsi filosofis mengenai sifat manusia yakni bahwa manusia pada
hakekatnya dapat dipercaya, mampu bertindak dengan penuh tanggungjawab,
stewardship theory memandang manajemen dapat dipercaya untuk bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan publik maupun stakeholder.
Sementara itu, agency theory yang dikembangkan oleh Michael Johnson (2000), memandang bahwa manajemen perusahaan sebagai ”agents” bagi para pemegang saham, akan bertindak dengan penuh kesadaran bagi kepentingannya
sendiri, bukan sebagai pihak yang arif dan bijaksana serta adil terhadap pemegang
saham. Dalam perkembangan selanjutnya agency theory menjadi tumpuan dalam
corporate governance, hal ini disebabkan pengelolaan dilakukan dengan penuh
kepatuhan kepada berbagai peraturan dan ketentuan yang berlaku.
Corporate governance secara definitif merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan yang menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder (Monks, 2003). Ada dua hal yang ditekankan dalam konsep ini. Pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh
informasi dengan benar dan tepat pada waktunya. Kedua, kewajiban perusahaan
untuk melakukan pengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat waktu, transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan dan
stakeholder(Kaihatu, 2006).
Prinsip-prinsip corporate governance menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) adalah: (1) perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham, (2) persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham,
Salah satu aspek penting dalam corporate governance adalah Dewan Pengurus Perseroan atau Board of Directors. Indonesia menganut two board system, yang berarti bahwa komposisi dewan pengurus perseroan terdiri dari fungsi eksekutif yaitu dewan direksi, dan fungsi pengawasan yaitu dewan
komisaris (Herwidayatmo, 2000). Berdasarkan kerangka hukum yang ada, fungsi
independent directors pada single-board system dapat direpresentasikan dengan fungsi dewan komisaris pada two-board system. Oleh karena itu, sistem pengawasan yang ada pada perusahaan-perusahaan di Indonesia terletak pada
dewan komisaris. Keefektifan peran pengawasan oleh dewan komisaris ini
didukung dengan keberadaan komisaris independen dalam komposisi dewan
komisarisnya. Barry (1999) menyatakan bahwa komisaris independen dapat
membantu memberikan kontinuitas dan objektivitas yang diperlukan bagi suatu
perusahaan untuk berkembang dan makmur. Selanjutnya, komisaris independen
membantu merencanakan strategi jangka panjang perusahaan dan secara berkala
melakukan review atas implementasi strategi tersebut.
Keberadaan komisaris independen diatur dalam ketentuan Peraturan
Pencatatan Efek Bursa Efek Indonesia (BEI) Nomor I-A tentang Ketentuan
Umum Pencatatan Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas di Bursa yang berlaku sejak
tanggal 1 Juli 2000. Perusahaan yang tercatat di BEI wajib memiliki komisaris
independen yang jumlahnya secara proporsional sebanding dengan jumlah saham
yang dimiliki oleh bukan pemegang saham pengendali dengan ketentuan jumlah
komisaris independen 30% dari jumlah seluruh anggota komisaris. Keberadaan
keefektifan dewan komisaris (John dan Senbet, 1998). Dalam menjalankan
tugasnya, dewan komisaris biasanya mengadakan pertemuan rutin baik itu internal
maupun eksternal dengan pihak lain. Hal ini tentu saja agar kelangsungan
perusahaan dapat terjaga (corporate governance guidelines, 2007)
Karakteristik personal seorang presiden komisaris mempengaruhi praktek
disclosure (Alhabsi, 1994). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Chuah (1995), pemikiran seorang presiden komisaris dipengaruhi oleh latar belakang ras dan
culture, serta latar belakang pendidikan dan tipe organisasi dimana dia bekerja.
Peran pengawasan yang dilakukan dewan komisaris
perusahaan-perusahaan di Indonesia belum memadai (Herwidayatmo, 2000). Untuk itu
diperlukan suatu komite untuk membantu tugas dan fungsi dewan komisaris.
Komite ini disebut Komite Audit. Pada bulan Mei tahun 2000 telah diterbitkan
surat edaran oleh Bapepam kepada para emiten/perusahaan untuk memiliki
komite audit. Tugas dan fungsi komite audit adalah membantu dewan komisaris
dalam meningkatkan akuntabilitas dan transparansi perusahaan. Berdasarkan
strukturnya, komite audit sekurang-kurangnya terdiri dari tiga anggota dan salah
satu diantaranya adalah komisaris independen sekaligus merangkap sebagai ketua,
sedangkan anggota lainnya merupakan pihak independen. Dalam tugasnya
membantu dewan komisaris untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi
perusahaan, maka komite audit dituntut harus independen. McMullen (1996),
keberadaan anggota komite audit independen dalam komite audit akan
dan tanggung jawabnya berjalan dengan baik, komite audit harus rutin
mengadakan pertemuan atau rapat internal.
B. Kerangka Teoritis
Penelitian ini menggunakan environmental disclosure dengan proksi skor IER sebagai variabel dependen, dan corporate governance sebagai variabel independen, serta tipe industri dan ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol. Di
bawah ini adalah kerangka mengenai hubungan antar masing-masing variabel.
V. Independen
Hubungan antara corporate governance dan environmental disclosure
C. Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis
Proporsi Dewan
Ukuran perusahaan (X7)
Tipe Industri (X8)
Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menguji hubungan
antara corporate governance dengan environmental disclosure. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara corporate governance dengan
environmental disclosure. 1
Variabelcorporate governance yang digunakan dalam penelitian ini ada 6, yaitu proporsi dewan komisaris independen, latar belakang culture atau etnic
presiden komisaris, latar belakang pendidikan presiden komisaris, jumlah rapat
dewan komisaris, proporsi anggota komite audit independen, dan jumlah rapat
komite audit. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan 2 variabel kontrol,
yaitu : ukuran perusahaan dan tipe industri. Berikut adalah hipotesis yang
dikembangkan dalam penelitian ini :
1. Proporsi dewan komisaris independen dan environmental disclosure
Peran utama dewan komisaris adalah terkait dengan fungsi kontrol (Pound,
1995). Dewan komisaris independen merupakan alat untuk mengawasi perilaku
manajemen untuk meningkatkan pengungkapan informasi sukarela dalam laporan
tahunan perusahaan (Rosenstein dan Wyatt, 1990). Dalam penelitian Chen dan
Jaggi (1998), menyatakan bahwa proporsi dewan komisaris independen
berpengaruh positif terhadap environmental disclosure. Hasil yang sama juga diperoleh dalam penelitian yang dilakukan oleh Leftwich, Watt dan Zimmerman
(1981), Fama dan Jansen (1983), Forker (1992). Berdasarkan uraian tersebut,
maka dapat dikembangkan hipotesis:
1
H1 : Terdapat hubungan positif antara proporsi dewan komisaris
independen dan environmental disclosure.
2. Latar belakang culture atau etnic presiden komisaris dan environmental disclosure
Latar belakang etnis (culture) presiden komisaris direpresentasikan dengan loyalitas kelompok etnik yang berada pada kelompok yang terdiri dari kumpulan
orang-orang yang mempunyai pola tingkah laku normatif (Cohen, 1974). Hal ini
penting untuk mengakui bahwa nilai yang mungkin berbeda antara
kelompok-kelompok yang ada dalam suatu negara (Spector dan Solomon, 1990), terutama
ketika beberapa kelompok etnik memilih untuk menjaga identitas kelompoknya
(Sendut, 1991).
Indonesia merupakan negara dengan banyak ras dan salah satu yang
mempunyai kontribusi besar dalam dunia bisnis di Indonesia adalah etnis
Tionghoa (Kusumastuti dkk, 2006). Etnis Tionghoa dinilai memiliki etos kerja
tinggi, memiliki filosofi bisnis yang menjadi ciri khasnya, yaitu hemat dan
disiplin bila dibandingkan dengan orang pribumi sendiri (Sugiyono, 2007).
Dengan adanya budaya dan etos kerja yang tinggi dapat meningkatkan kinerja
dalam hal ini adalah kinerja presiden komisaris (Setyawan, 2005). Berdasarkan
H2 : Terdapat hubungan antara latar belakang etnis atau budaya
(etnic/culture) presiden komisaris dan environmental disclosure.
3. Latar belakang pendidikan presiden komisaris dan environmental disclosure
Latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh presiden komisaris
berpengaruh terhadap pengetahuan yang dimiliki (Ahmed and Nicholls, 1994).
Akan lebih baik jika seorang presiden komisaris memiliki latar belakang
pendidikan bisnis dan ekonomi karena seorang presiden komisaris harus memiliki
kemampuan untuk mengelola bisnis dan mengambil keputusan bisnis (Bray,
Howard, dan Golan, 1995).
Santrock (1995) menyatakan bahwa pendidikan universitas membantu
seseorang dalam kemajuan karirnya, di mana seseorang berpendidikan tinggi akan
memiliki jenjang karir lebih tinggi dan lebih cepat. Dari uraian di atas, maka dapat
dikembangan hipotesis sebagai berikut:
H3 : Terdapat hubungan antara latar belakang pendidikan presiden
komisaris dan environmental disclosure.
4. Jumlah rapat dewan komisaris dan environmental disclosure
dan dapat dilakukan rapat tambahan sesuai dengan kebutuhan serta dilakukan
pada saat yang tepat. Hal ini untuk mengetahui apakah operasi perusahaan telah
sesuai dengan kebijakan dan strategi perusahaan. Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Brick dan Chidambaran (2007), menunjukkan bahwa semakin
banyak rapat yang diselenggarakan dewan komisaris akan meningkatkan
kinerjanya. Dari argumen tersebut di atas, maka dapat dikembangkan hipotesis:
H4 : Terdapat hubungan positif antara jumlah rapat dewan komisaris
dan environmental disclosure.
5. Proporsi komite audit independen dan environmental disclosure
Komite Audit mempunyai fungsi untuk meningkatkan kualitas laporan
keuangan dan sebagai sistem pengendalian (Collier, 1993). Komite audit
indepeden tidak terafiliasi dengan perusahaan atau komite lainnya, sehingga
kinerjanya dapat dipercaya (McMullen, 1996).
Penelitian Forker (1992) menyatakan bahwa keberadaan komite audit
independen meningkatkan kualitas kontrol perusahaan. Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Simon (2001) bahwa komite audit independen
berpengaruh positif terhadap luasnya disclosure. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H5 : Terdapat hubungan positif antara proporsi komite audit
independen dan environmental disclosure.
Dalam menjalankan tugasnya, komite audit minimal mengadakan rapat 4
kali dalam satu tahun (corporate governance guidelines, 2007). Hal ini dilakukan untuk dapat meningkatkan kinerjanya agar sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Selain tercantum dalam corporate governance guidelines, dalam audit committee charter tahun 2005 dinyatakan bahwa semakin banyak rapat komite audit yang dilakukan akan meningkatkan kinerja komite audit. Dari uraian tersebut, maka
dapat dikembangkan hipotesis seperti berikut:
H6 : Terdapat hubungan positif antara jumlah rapat komite audit dan
BAB III
METODE PENELITIAN
Pada Bab III berikut ini akan dijelaskan mengenai metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian.
A. Desain Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan macam hubungan tertentu,
pengaruh atau menetapkan perbedaan kelompok atau independensi dari dua atau
lebih faktor dalam subjek yang diteliti (Sularso, 2003). Tujuan dalam penelitian
ini adalah menguji pengaruh antara corporate governance, etnis, dan latar belakang pendidikan terhadap environmental disclosure dalam annual report
perusahaan-perusahaan yang telah listing di Bursa Efek Indonesia periode 2007.
B. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode 2007, yaitu sebesar 380 perusahaan.
Penggunaan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai populasi
karena perusahaan tersebut mempunyai kewajiban untuk menyampaikan laporan
tahunan kepada stakeholders, sehingga memungkinkan data laporan tahunan tersebut diperoleh dalam penelitian ini.
Teknik pengambilan sampel dilakukan secara random berbasis alokasi
proporsional untuk meyakinkan sampel representatif dari semua sektor industri
mining. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebesar 90 perusahaan. Rosche (1975) dalam Sekaran (2003:295) menyatakan bahwa dalam analisis
regresi berganda ukuran sampel hendaknya minimal sepuluh kali variabel dalam
penelitian.
C. Data dan Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang
diambil dari laporan tahunan perusahaan tahun 2007. Laporan tahunan dipilih
karena memiliki kredibilitas yang tinggi, selain itu laporan tahunan digunakan
oleh sejumlah stakeholder sebagai sumber utama informasi yang pasti (Deegan dan Rankin, 1997), memiliki potensial yang besar untuk mempengaruhi
penyebaran distribusi secara luas (Adams and Harte, 1998), menawarkan
deskripsi menajemen pada suatu periode tertentu (Neimark, 1992) dan dapat
diakses untuk tujuan penelitian (Woodward, 1998).
Data sekunder yang dikumpulkan diperoleh dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD), IDX dan dari situs masing-masing perusahaan sampel.
D. Variabel Penelitian dan Pengukurannya
Berikut ini akan dijelaskan mengenai definisi variable-variabel penelitian
dan pengukurannya.
a. Variabel Independen
Variabel independen terdiri dari proporsi dewan komisaris independen,
presiden komisaris, jumlah rapat dewan komisaris, proporsi komite audit
independen, dan jumlah rapat komite audit.
1. Proporsi dewan komisaris independen
Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak
terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang
saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang
dapat mempengaruhi kemampuanya untuk bertindak independen atau bertindak
semata-mata demi kepentingan perusahaan (Herwidayatmo, 2000). Indikator yang
digunakan adalah indikator yang digunakan dalam penelitian Eng dan Mak (2005),
yaitu persentase anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan dari
seluruh ukuran anggota dewan komisaris perusahaan.
2. Latar belakang culture atau etnicpresiden komisaris
Latar belakang culture presiden komisaris diukur dengan menggunakan
dummy variable. Indikator yang digunakan adalah dengan mengadopsi dari penelitian yang telah dilakukan oleh Kusumastuti, Supatmi, dan Sastra (2006),
yaitu untuk presiden komisaris yang berasal dari pribumi dikode 1, etnis Tionghoa
dikode 2, dan berasal dari negara lainnya dikode 3.
3. Latar belakang pendidikan presiden komisaris
Indikator yang digunakan untuk latar belakang pendidikan presiden komisaris adalah apabila presiden komisaris mempunyai latar belakang
pendidikan keuangan atau bisnis dikode 1, sedangkan yang lain dikode 0.
4. Jumlah rapat dewan komisaris
Jumlah rapat dewan komisaris merupakan rapat yang dilakukan antara
dewan komisaris dalam suatu perusahaan. Indikator yang digunakan adalah
jumlah rapat yang dilakukan oleh dewan komisaris dalam waktu satu tahun. Hal
ini sesuai dengan corporate governance guidelines (2007) dan penelitian Brick dan Chidambaran (2007).
5. Proporsi komite audit independen
Komite audit independen merupakan anggota komite audit yang tidak
terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang
saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang
dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak
semata-mata demi kepentingan perusahaan. Indikator yang digunakan adalah
persentase anggota komite audit yang berasal dari luar perusahaan dari seluruh
ukuran komite audit perusahaan, yaitu sesuai dengan penelitian Forker (1992),
dan Simon (2001).
6. Jumlah rapat komite audit
Jumlah rapat komite audit merupakan rapat yang dilakukan oleh komite
audit dalam perusahaan. Indikator yang digunakan adalah jumlah rapat komite
audit yang diselenggarakan dalam jangka satu tahun, dan sesuai dengan audit committee charter (2005) dan corporate governance guidelines (2007).
b. Variabel Dependen
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
diproksikan dengan menggunakan skor pengungkapan environmental disclosure
pada annual report perusahaan sampel. Skor diberikan pada tiap-tiap item pengungkapan aktivitas lingkungan hidup yang terdapat dalam annual report. Bobot skor yang digunakan adalah menggunakan Indonesian Environmental Reporting Index (IER) yang merupakan hasil penelitian dari Suhardjanto, Tower dan Brown (2007). Penggunaan skor ini dipilih karena bobot yang diberikan
sesuai dengan pengungkapan informasi lingkungan hidup pada
Berikut adalah tabel IER:
1 Impact of Using Water 3.25 2 Incidents and Fines 3.05 10 Withdrawals of Ground Water 1.44 11 Land Information 1.43 12 Volume of Water Use 1.41 13 Energy Consumption 1.29 14 Performance of Supplier 1.25 15 Impact of Discharges Water 1.05 16 Impacts of Transportation 1.05 27 Affected Red List Species 0.30 28 Impact of Activities on Protected Areas 0.28 29 Wastes of Material 0.20
30 Direct Energy 0.19
31 Greenhouse Gas Emissions (GGEs) 0.14 32 Recycling Materials 0.10 33 Emissions of Ozone Depleting Substances 0.08 34 Other Indirect GGEs 0.02 35 Operations in Protected Areas 0.02
c. Variabel kontrol
Variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan dan tipe industri.
1. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan menggunakan proksi yang sama dengan penelitian
Suhardjanto (2008); Freedman dan Jaggi (2005), yaitu log total aset perusahaan.
Total aset digunakan karena total aset berisi keseluruhan aktiva yang dimiliki
perusahaan baik yang lancar maupun tidak lancar, sehingga lebih menunjukkan
ukuran perusahaan yang sebenarnya.
2. Tipe Industri
Perusahaan memberikan informasi sesuai dengan tipe industri yang
menjadi usaha mereka (Dye dan Sridhar 1995). Klasifikasi industri yang
digunakan didalam penelitian ini sesuai dengan penelitian Suhardjanto (2008),
yaitu:
1. Service dikode 1.
2. Finance dikode 2.
3. Manufacture (termasuk Mining) dikode 3.
E. Metode Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan statistik deskriptif,
dan pengujian hipotesis. Pengujian dilakukan dengan menggunakan bantuan
1. Statistik Deskriptif
Pengujian ini terdiri dari penghitungan mean, median, standar deviasi,
maksimum, dan minimum dari masing-masing data sampel. Pengujian ini
dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai distribusi dan perilaku data
sampel tersebut.
2. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan logistic regression,
analisis regresi berganda, uji beda t dan ANOVA.
a. Logistic Regression
Logistic regression merupakan analisis untuk menguji apakah probabilitas terjadinya variabel dependen dapat diprediksi dengan variabel independennya
(Ghozali, 2003).
b. Analisis Regresi Berganda
Untuk pengujian hipotesis, penelitian ini menggunakan analisis regresi
berganda. Sebagai prasyarat pengujian regresi berganda dilakukan uji asumsi
klasik untuk memastikan bahwa data penelitian valid, tidak bias, konsisten, dan
penaksiran koefisien regresinya efisien (Gujarati, 2003). Pengujian asumsi klasik
meliputi:
1) Uji Normalitas
Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah data yang digunakan
dalam penelitian ini bersifat normal atau tidak. Hasil pengujian
normalitas data dilakukan dengan uji Kolmogorov-Sminorv. Kriteria
normal, sedangkan apabila value < 0.05 data tidak berdistribusi
normal. Hal ini didukung juga dengan tampilan grafik histogram dan
normal probability plot.
2) Uji Multikolineritas
Multikolineritas merupakan suatu keadaan dimana terdapat hubungan yang sempurna antara beberapa semua variabel
independen dalam model regresi. Pendeteksiannya dilakukan dengan
menggunakan toleransi value VIF (variance inflation factor). Jika nilai tolerance value 0,1 dan VIF < 10 maka tidak terjadi
multikolineritas.
3) Uji Autokorelasi
Uji ini untuk mengetahui apakah terdapat korelasi yang sempurna
antara anggota-anggota observasi. Untuk mengetahui apakah data
yang digunakan dalam model regresi terdapat autokorelasi atau tidak, dapat diketahui melalui uji Durbin-Watson. Apabila nilai DW lebih besar dari batas atas (du) dan kurang dari 4-du, maka dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi.
4) Uji Heteroskedastisitas
Heterokedastisitas berarti terdapat varian yang tidak sama dalam
kesalahan pengganggu. Untuk menentukan heteroskedastisitas
dengan grafik scatterplot, titik yang terbentuk harus menyebar secara acak, baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Bila
Persamaan regresi berganda untuk pengujian hipotesis dalam penelitian
ini adalah:
Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 + b7X7 + b8X8 + e
Tabel 3.2
Keterangan Persamaan Regresi Berganda
Simbol Keterangan
Y : Skor IER (environmental disclosure) X1 : Proporsi dewan komisaris independen
X2 : Latar belakang culture atau etnic presiden komisaris, 1 = Pribumi, 2 = Tionghoa, 3 = Lainnya
X3 : Latar belakang pendidikan presiden komisaris, 1 = bisnis / keuangan, 0 = lainnya
X4 : Jumlah Rapat dewan komisaris X5 : Proporsi komite audit independen X6 : Jumlah Rapat komite audit X7 : Ukuran perusahaan
X8 : Tipe Industri, 1= Service, 2= Finance, 3= Manufacture
b0 : Konstan
b1– b8 : Koefisien regresi
e : Error
c. Uji Beda T dan ANOVA
Uji beda t digunakan untuk menentukan apakah dua sampel yang tidak berhubungan memiliki nilai rata-rata yang berbeda, sedangkan anova digunakan
untuk menguji hubungan antara satu variabel dependen (skala metrik) dengan satu
atau lebih variabel independen (skala nonmetrik atau kategorikal dengan kategori
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Bab IV dalam penelitian ini akan membahas analisis data dan pembahasan
hasil analisis.
A. Analisis Deskriptif Data
Analisis deskriptif data terdiri dari seleksi sampel dan statistik deskriptif.
1. Seleksi Sampel
Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa annual report tahun 2007. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang tercatat di
Bursa Efek Indonesia tahun 2007. Pada tabel di bawah ini akan ditunjukkan
mengenai jumlah populasi menurut klasifikasi industrinya:
Tabel 4.1
Populasi dan Klasifikasi Industri
Perusahaan
No Klasifikasi Industri Jumlah Persentase (%)
1 Industri Jasa 66 17.36
2 Industri Keuangan 67 17.63 3 Industri Manufaktur dan lainnya 247 65.00 Total 380 100.00
Berdasarkan teknik pengambilan sampel dalam BAB III, maka jumlah
sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 90 perusahaan,
nama-nama perusahaan sampel dapat dilihat pada (lampiran 1). Jumlah sampel