• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatkan motivasi dan hasil belajar materi ekosistem pada siswa kelas VII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Picture and Picture.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Meningkatkan motivasi dan hasil belajar materi ekosistem pada siswa kelas VII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Picture and Picture."

Copied!
170
0
0

Teks penuh

(1)

x Abstrak

Adela Natalia Ambon. 2014. Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Materi Ekosistem pada Siswa Kelas VII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture and Picture. Skripsi. Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru IPA SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan, didapatkan adanya permasalahan yaitu motivasi dan hasil belajar yang rendah. Permasalahan ini disebabkan oleh faktor penggunaan metode pembelajaran yang kurang memotivasi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII A SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe

Picture and Picture pada materi pembelajaran ekosistem.

Penelitian tidakan kelas dilakukan selama dua siklus pembelajaran. setiap siklus dalam penelitian ini melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta refleksi yang merupakan model gabungan Sanford dan Kemmis. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta. Data hasil belajar dikumpulkan dengan metode tes tertulis, sedangkan motivasi belajar diperoleh dari hasil kuisioner dan observasi. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari rata-rata nilai 78,08 dengan ketuntasan klasikal 73,08% menjadi 81,54 dengan ketuntasan 100%. Motivasi belajar siswa juga tinggi yaitu 72,95%.

Kesimpulan yang diperoleh adalah penerapan pembelajaran kooperatif tipe

picture and picture dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII

A SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta pada materi Ekosistem.

Kata Kunci : Motivasi Belajar, Hasil Belajar, Materi Ekosistem, Picture and

(2)

xi ABSTRACT

Adela Natalia Ambon. 2014. Improving Motivation and Learning Outcomes Ecosystem Material On Students Class VII Junior High School of Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Using Cooperative Learning Picture and Picture Style. Thesis. Biology Education Study Program, Education and Educational Science Faculty, Sanata Dharma University, Yogyakarta.

Based on observationsand interviews with Science teacher at SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan, it was found that the lowness of the motivation and learning outcomes. This problem was caused by the use of learning methods that are less motivated students.

This study aimed to improve motivation and learning outcomes of students class VII A Junior High School of Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta using cooperative learning picture and picture style on ecosystem learning material.

Class action research was done during two teaching cycles. Every cycle in this research passed through planning step, action implementation, observation and evaluation, and reflection that is a mixed model from Sanford and Kemmis. The subjects in this research were students class VII A Junior High School of Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta. The Data of learning result were collected using written test method, whereas learning motivation was acquired from questionnaire and observation. The data analysis was commited using descriptive quantitative analysis.

Study result showed that the average of students’ learning result

improved from 78,08 with classical completeness 73,08 % to 81,54 with completeness 100%. Students’ learning motivation is high too, that is 72,95%.

The conclusion acquired is implementation of cooperative learning picture and picture style could increase motivation and learning outcomes of students class VII A Junior High School of Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta on Ecosystem material.

Keywords: learning motivation, learning result, acosytem material, picture and

(3)

MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATERI EKOSISTEM PADA SISWA KELAS VII SMP TAMAN DEWASA IBU PAWIYATAN DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN

KOOPERATIF TIPE PICTURE AND PICTURE

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Biologi

Oleh :

Adela Natalia Ambon NIM :101434038

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(4)
(5)
(6)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

“SEGALA SESUATU ADA WAKTUNYA”

(Pengkhotbah 3)

Kupersembahkan karyaku ini untuk :

Bapa, Mama, Sulung, Nana, dan Onchu, untuk cinta tanpa batas

Pricil dan Aurel, peri kecil yang menjadi penyemangat

Sahabat dan Teman-teman, untuk setiap kebersamaan kita

(7)
(8)
(9)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan berkat-Nya, sehingga penulisan skripsi dengan judul “Meningkatkan

Motivasi dan Hasil Belajar Materi Ekosistem pada Siswa Kelas VII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe

Picture and Picture” dapat terselesaikan dengan baik.

Skripsi ini dapat tersusun dengan baik atas bantuan, dukungan, serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada:

1. Bapak Johanes Eka Priyatna, M.Sc, Ph.D. selaku Rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan FKIP dan Bapak Dr. M. Andi Rudhito S.Pd. selaku Ketua Jurusan PMIPA Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis

3. Drs. A. Tri Priantoro, M.For.Sc., selaku Kepala Program Studi Pendidikan Biologi serta Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis selama menyelesaikan pendidikan

4. Drs. Soetardhi Sumartodwiatmodjo, M.Pd, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, motivasi, dan koreksi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan lancar.

(10)

viii

6. Nyi Ir. Sri Yudi Astuti selaku guru mata pelajaran IPA yang telah membantu selama pelaksanaan penelitian

7. Siswa dan siswi kelas VII A SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan yang telah bersedia membantu selama penelitian

8. Segenap dosen Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan ilmu dan wawasannya.

9. Kedua orang tua tercinta, bapak Agustinus Ambon dan Ibu Maria Elyana Yeni yang telah memberikan cinta, kasih sayang, doa dan motivasi selama penulis menempuh pendidikan

10. Kak Yona dan Ka Obi, Nana Oden, Ade Oncu, Ade Veni dan semua keluarga besar yang telah memberikan doa serta dukungannya kepada penulis

11. Sahabat-sahabat tercinta Inuk Chyka, Inuk Lely, Oyen, Koko, Nikop, Sem, Lia, Indah, Vita, Ivana atas kebersamaan dan cerita yang kita alami bersama.

12. Teman-teman mahasiswa Pendidikan Biologi 2010 untuk kebersamaan yang kita alami bersama, semoga tetap kompak.

13. Mba Tina, Mba Ina, Ade Ria, dan teman-teman kos pink atas kebersamaan, dukungan serta motivasi

(11)

ix

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa mendatang. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca . Terima kasih.

Yogyakarta, 20 Oktober 2014

(12)

x Abstrak

Adela Natalia Ambon. 2014. Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Materi Ekosistem pada Siswa Kelas VII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture and Picture. Skripsi. Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru IPA SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan, didapatkan adanya permasalahan yaitu motivasi dan hasil belajar yang rendah. Permasalahan ini disebabkan oleh faktor penggunaan metode pembelajaran yang kurang memotivasi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII A SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe

Picture and Picture pada materi pembelajaran ekosistem.

Penelitian tidakan kelas dilakukan selama dua siklus pembelajaran. setiap siklus dalam penelitian ini melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta refleksi yang merupakan model gabungan Sanford dan Kemmis. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta. Data hasil belajar dikumpulkan dengan metode tes tertulis, sedangkan motivasi belajar diperoleh dari hasil kuisioner dan observasi. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari rata-rata nilai 78,08 dengan ketuntasan klasikal 73,08% menjadi 81,54 dengan ketuntasan 100%. Motivasi belajar siswa juga tinggi yaitu 72,95%.

Kesimpulan yang diperoleh adalah penerapan pembelajaran kooperatif tipe

picture and picture dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII

A SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta pada materi Ekosistem.

Kata Kunci : Motivasi Belajar, Hasil Belajar, Materi Ekosistem, Picture and

(13)

xi ABSTRACT

Adela Natalia Ambon. 2014. Improving Motivation and Learning Outcomes Ecosystem Material On Students Class VII Junior High School of Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Using Cooperative Learning Picture and Picture Style. Thesis. Biology Education Study Program, Education and Educational Science Faculty, Sanata Dharma University, Yogyakarta.

Based on observationsand interviews with Science teacher at SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan, it was found that the lowness of the motivation and learning outcomes. This problem was caused by the use of learning methods that are less motivated students.

This study aimed to improve motivation and learning outcomes of students class VII A Junior High School of Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta using cooperative learning picture and picture style on ecosystem learning material.

Class action research was done during two teaching cycles. Every cycle in this research passed through planning step, action implementation, observation and evaluation, and reflection that is a mixed model from Sanford and Kemmis. The subjects in this research were students class VII A Junior High School of Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta. The Data of learning result were collected using written test method, whereas learning motivation was acquired from questionnaire and observation. The data analysis was commited using descriptive quantitative analysis.

Study result showed that the average of students’ learning result improved from 78,08 with classical completeness 73,08 % to 81,54 with

completeness 100%. Students’ learning motivation is high too, that is 72,95%.

The conclusion acquired is implementation of cooperative learning picture and picture style could increase motivation and learning outcomes of students class VII A Junior High School of Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta on Ecosystem material.

Keywords: learning motivation, learning result, acosytem material, picture and

(14)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... x

ABSTRACT ... xi

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Batasan Masalah... 5

D. Tujuan Penelitian ... 6

E. Manfaat ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7

(15)

xiii

1. Pengertian Motivasi ... 7

2. Peran Motivasi dalam Belajar dan Pembelajaran... 9

B. Hasil Belajar... 10

C. Pembelajaran Ekosistem ... 14

D. Pembelajaran Kooperatif... 14

E. Metode Picture and Picture ... 18

F. Hasil Penelitian yang Relevan ... 21

G. Kerangka Berpikir ... 22

H. Hipotesa... 23

BAB III METODE PENELITIAN ... 24

A. Jenis Penelitian... 24

B. Setting Penelitian ... 25

C. Rancangan Penelitian ... 25

D. Instrumen Penelitian... 33

E. Analisis Data ... 37

F. Indikator Keberhasilan ... 43

BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN ... 44

A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian... 44

1. Perencanaan Penelitian... 44

2. Pelaksanaan Penelitian Siklus I... 46

(16)

xiv

B. Analisis Hasil Penelitian ... 61

1. Analisis Motivasi Siswa... 61

2. Tes Kognitif ... 65

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 67

1. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa... 67

2. Hasil Belajar Kognitif ... 69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 72

A. Kesimpulan ... 72

B. Saran... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 74

(17)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kriteria Ketuntasan Individu... 38

Tabel 3.2 Kategorisasi Hasil Observasi ... 40

Tabel 3.3 Penetapan Skor Kuisioner ... 42

Tabel 3.4 Kategori Motivasi ... 43

Tabel 3.5 Indikator Keberhasilan Penelitian ... 43

Tabel 4.1 Hasil Analisis Pretest Siswa ... 47

Tabel 4.2 Hasil Analisisis Postest Siklus I... 51

Tabel 4.3 Tingkat Aktivitas Siswa Siklus I... 52

Tabel 4.4 Hasil Analisis Postest Siklus II... 57

Tabel 4.5 Tingkat Aktivitas Siswa Siklus II ... 58

Tabel 4.6 Kategori Respon Siswa ... 59

Tabel 4.7 Perbandingan Hasil Observasi Kelompok ... 62

Tabel 4.8 Prosentase Hasil Kuisioner Siswa setelah Mengikuti Pembelajaran dengan Menggunakan Metode Kooperatif Tipe Picture and Picture 64 Tabel 4.9 Perbandingan Hasil Pretest dan Postest 1 ... 66

(18)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Siklus PTK Sanford and Kemmis ... 24

Gambar 2 Siswa mengerjakan pretest... 46

Gambar 3 Siswa menyelesaikan LKS 1 ... 49

Gambar 4 Siswa melakukan presentasi LKS 1 ... 50

Gambar 5 Siswa menyelesaikan LKS 2 ... 55

Gambar 6 Siswa melakukan presentasi LKS 2 ... 56

Gambar 7 Grafik Peningkatan Aktivitas Siswa dalam Kelompok dari Siklus I ke Siklus II ... 69

(19)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

A. Instrumen Pembelajaran

A.1 Silabus ... 76

A.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 78

A.3 Lembar Kerja Siswa ... 87

A.4 Kartu Gambar ... 94

B. Instrumen Pengambilan Data B.1 Kisi-kisi, Soal Pretest, Kunci Jawaban dan Rubrik Penilaian .... 97

B.2 Kisi-kisi, Soal Postest I, Kunci Jawaban dan Rubrik Penilaian . 104 B.3 Kisi-kisi, Soal Postest II, Kunci Jawaban dan Rubrik Penilaian 108 B.4 Lembar Observasi ... 113

B.5 Kisi-kisi dan Lembar Kuisioner Reflektif ... 115

C. Hasil Penelitian C.1 Hasil Pretest ... 119

C.2 Daftar Anggota Kelompok ... 124

C.3 Hasil Postest 1 ... 125

C.4 Hasil Postest 2 ... 126

C.5 Hasil Observasi ... 128

C.6 Hasil Kuisioner Reflektif ... 132

(20)

xviii

C.8 Tabel Hasil Postest 1 ... 137

C.9 Tabel Hasil Postest 2 ... 138

C.10 Tabel Hasil Observasi Kelompok ... 139

C.11 Tabel Tingkat Aktivitas Siswa dalam Kelompok Siklus 1 ... 141

C.12 Tabel Tingkat Aktivitas Siswa dalam Kelompok Siklus 2 ... 143

C.13 Perbandingan Hasil Observasi Kelompok Siklus 1 dan Siklus 2 145 C.14 Tabel Skor Jawaban Kuisioner Reflektif ... 147

D. Administrasi Penelitian D.1 Surat Izin Penelitian ... 149

(21)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Biologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari tentang makhluk hidup. Pembelajaran biologi menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Tujuan pembelajaran Biologi adalah agar siswa mampu melakukan pengamatan, percobaan sederhana dan diskusi untuk memahami konsep, mampu menginterprestasikan data yang dikumpulkan dan melaporkannya serta meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan (Departemen Pendidikan Nasional, 2003).

Salah satu materi dalam pembelajaran Biologi pada jenjang pendidikan SMP adalah ekosistem. Pembelajaran ekosistem merupakan pembelajaran mengenai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya (Suyitno, 2009). Pembelajaran ekosistem didasarkan pada Standar Kompetensi 7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem dengan Kompetensi Dasar 7.1 Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem. Pembelajaran ekosistem bertujuan agar siswa dapat menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem serta dapat mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman organisme dan pelestarian ekosistem.

(22)

tersebut, seyogyanya dalam pembelajaran ekosistem dihadirkan benda nyata atau tiruannya. Dengan demikian siswa dapat mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dengan kehidupan nyata (Umniyatie, 2010).

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran ekosistem masih menggunakan metode ceramah aktif, dimana pada saat pembelajaran berlangsung guru menyampaikan informasi kepada siswa sedangkan siswa mendengarkan informasi yang disampaikan guru kemudian mencatat apa yang dituliskan guru di papan tulis. Metode ini kurang memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Untuk dapat mencapai kompetensi dasar yang diharapkan, maka diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi serta hasil belajar dari peserta didik. Motivasi adalah penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai tujuan tertentu. Pengertian ini bermakna jika seseorang melihat suatu manfaat dan keuntungan yang akan diperoleh, maka ia akan berusaha keras untuk mencapai tujuan tersebut (Winkels dalam Siregar dan Nara, 2010).

(23)

memiliki motivasi belajar rendah akan rendah pula hasil belajarnya (Sanjaya, 2010).

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas VII A SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan, proses pembelajaran umumnya masih berpusat pada guru dan metode pembelajaran yang digunakan guru masih berupa metode ceramah aktif. Pada saat pembelajaran, partisipasi siswa masih sangat kurang. Aktivitas siswa lebih banyak mendengarkan informasi dari guru, mencatat apa yang dituliskan guru di papan tulis dan menjawab pertanyaan apabila ditunjuk oleh guru. Selama pelajaran berlangsung masih banyak siswa yang ramai dan tidak memperhatikan penjelasan guru. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran IPA, nilai rata-rata kelas untuk mata pelajaran IPA siswa kelas VII A pada pokok bahasan ekosistem adalah 60 atau dibawah KKM IPA SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan yaitu 68.

Berdasarkan hasil observasi terhadap aktivitas guru dan siswa di kelas, ditemukan bahwa rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa terjadi karena penggunaan metode yang kurang memotivasi siswa untuk berperan aktif. Metode yang biasa digunakan adalah metode ceramah. Metode ini kurang memberi kesempatan bagi siswa untuk ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

(24)

kooperatif tipe picture and picture merupakan suatu metode pembelajaran yang menggunakan gambar yang dipasang atau diurutkan menjadi urutan yang logis. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima pendapat orang lain dan meningkatkan kemampuan berpikir dalam memecahkan masalah. Metode ini menarik karena terdapat gambar-gambar sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran tanpa merasa jenuh atau bosan.

Dengan adanya penyusunan gambar guru dapat mengetahui kemampuan siswa dalam memahami konsep materi dan melatih berpikir logis dan sistematis, dapat melihat kemampuan siswa dalam menyusun gambar secara berurutan, menunjukkan gambar, memberi keterangan dan menjelaskan gambar, Sehingga siswa dapat menemukan konsep materi sendiri dengan membaca gambar. Adanya gambar-gambar yang berkaitan dengan materi belajar siswa lebih aktif dan dapat tercapai tujuan akhir dari proses pembelajaran yaitu hasil belajar akan meningkat.

Berdasarkan uraian di atas, akan dilakukan penelitian dengan judul

“Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Materi Ekosistem pada Siswa Kelas VII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture And Picture.

B. Rumusan Masalah

(25)

pembelajaran kooperatif tipe picture and picture dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam mempelajari materi ekosistem?”

C. Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut. 1. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah siswa kelas VII-A SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta tahun pelajaran 2013/1014.

2. Motivasi Belajar

Motivasi belajar berkaitan dengan segala aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Dalam penelitian ini motivasi belajar siswa berkaitan dengan kesiapan, keseriusan, ketertarikan, partisipasi serta penguasaan materi. 3. Hasil Belajar

Hasil belajar berkaitan dengan perubahan atau peningkatan pemahaman kognitif siswa. Peningkatan hasil belajar siswa dilihat dari hasil pretest dan

postest.

4. Materi Pembelajaran

(26)

5. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode kooperatif tipe picture

and picture. Pada penelitian ini tipe picture and picture yang digunakan

adalah mengelompokkan gambar dan mennyusun gambar.

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pembelajaran kooperatif tipe Picture and picture terhadap motivasi dan hasil belajar materi ekosistem pada siswa SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan.

E. Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. 1. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran kooperatif tipe picture and

picture untuk diterapkan dimasa mendatang sebagai pendidik.

2. Bagi guru /sekolah

Manfaat penelitian ini bagi guru adalah dapat menambah informasi mengenai metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

3. Bagi Siswa

(27)

7 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Motivasi

1. Pengertian Motivasi

Motivasi berasal dari bahasa Latin “movere”, yang berarti menggerakkan (Siregar dan Nara, 2010). Berdasarkan pengertian ini, makna motivasi menjadi berkembang. Wlodkowski dalam Siregar dan Nara (2010) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah serta ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Motivasi juga dapat dijelaskan sebagai tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu (Cropley, 1985 dalam Siregar dan Nara, 2010).

Hampir senada, Winkels dalam buku yang sama mengemukakan bahwa motif adalah adanya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai tujuan tertentu. Menurut Mc. Donald (dalam Rohmah, 2012) motivasi adalah perubahan dalam diri seseorang yang ditandai

dengan munculnya “felling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang diungkapkan Mc Donald ini, motivasi memiliki tiga elemen penting.

1. Motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia.

(28)

3. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi yakni tujuan.

Motivasi dapat dibedakan menjadi motivasi intrinsik dan motivasi

ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri

individu tanpa adanya rangsangan dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar misalnya pemberian hadiah dan faktor-faktor eksternal lainnya yang memiliki daya dorong motivasional (Siregar dan Nara, 2010). Motivasi intrinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsi tanpa rangsangan dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Siswa yang mempunyai motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar simbol atau seremonial (Rohmah, 2012).

Sementara itu, motivasi ekstrinsik menurut Rohmah (2012) yaitu motif-motif yang aktif atau berfungsi karena adanya rangsangan dari luar. Motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar.

(29)

2. Peran Motivasi dalam Belajar dan Pembelajaran

Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai (Rohmah, 2012).

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa sangat membutuhkan adanya motivasi, baik motivasi internal maupun motivasi eksternal. Hasil belajar akan tercapai menjadi optimal kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, maka makin berhasil pula pelajaran yang dipelajarinya. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi peserta didik (Rohmah, 2012).

Secara umum, terdapat dua peran penting motivasi dalam belajar.

Pertama, motivasi merupakan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang

menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar demi mencapai satu tujuan. Kedua, motivasi memegang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar, sehingga siswa yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar (Siregar dan Nara, 2010).

(30)

a. mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan seperti belajar

b. sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan

c. sebagai penggerak. ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

B. Hasil Belajar

Belajar merupakan proses dalam individu yang berinteraksi dengan lingkungannya untuk mendapatkan perubahan dalam perilakunya. Proses belajar pada dasarnya meliputi tiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Pada belajar kognitif, prosesnya mengakibatkan perubahan dalam aspek kemampuan berpikir (cognitive), pada belajar afektif mengakibatkan perubahan dalam aspek kemampuan merasakan (afective), sedang belajar psikomotorik memberi hasil belajar berupa keterampilan (psychomotoric).

Menurut Purwanto (2013) hasil belajar dapat dijelaskan dengan

memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”.

(31)

perubahan perilaku pada individu yang belajar. Perubahan perilaku ini merupakan perolehan yang menjadi hasil belajar.

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2010). Bloom (dalam Winkel, 2004) secara garis besar membaginya dalam tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotirik. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Sedangakan, ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek psikomororik, yakni gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah, dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. Dalam penelitian ini hasil belajar ranah kognitif menjadi fokus karena berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menguasai isi bahan pengajaran.

1. Tipe hasil belajar: Pengetahuan

(32)

kognitif tingkat rendah yang paling rendah. Namun, tipe hasil belajar ini menjadi prasyarat bagi pemahaman (Sudjana, 2010).

2. Tipe hasil belajar: Pemahaman

Pemahaman mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan; mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain, seperti rumus matematika ke dalam bentuk kata-kata (Winkel, 2004). Tipe hasil belajar pemahaman lebih tinggi dari tipe hasil belajar pengetahuan.

Pemahaman dapat dibedakan kedalam tiga kategori. Tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari terjemahan dalam arti yang sebenarnya. Tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yakni menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya, atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan kejadian, membedakan yang pokok dan yang bukan pokok. Pemahaman tingkat ketiga atau tingkat tertinggi adalah pemahaman ekstrapolasi. Dengan ekstrapolasi, diharapkan seseorang mampu membuat ramalan tentang konsekuensi atau dapat memperluas persepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus atau masalahnya.

3. Tipe hasil belajar: Aplikasi

(33)

baru. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi daripada kemampuan pemahaman, karena memahami suatu kaidah belum tentu membawa kemampuan untuk menerapkannya terhadap suatu kasus atau problem baru.

4. Tipe hasil belajar: Analisis

Analisis mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik (Winkel, 2004). Kemampuan analisis setingkat lebih tinggi daripada kemampuan aplikasi atau penerapan. Analisis merupakan kecakapan yang kompleks, yang memanfaaatkan kecakapan dari ketiga tipe sebelumnya (Sudjana, 2010)

5. Tipe hasil belajar: Sintesis

Sintesis mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan satu sama lain, sehingga tercipta suatu bentuk baru (Winkel, 2004). Berpikir sintesis merupakan salah satu terminal untuk menjadikan orang lebih kreatif. Berpikir kreatif merupakan salah satu hasil yang hendak dicapai dalam pendidikan (Sudjana, 2010)

6. Tipe hasil belajar: Evaluasi

(34)

C. Pembelajaran Ekosistem

Dalam penelitian ini Standar Kompetisi (SK) yang digunakan adalah SK 7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem. Kompetensi Dasar yang dipakai adalah KD 7.1 Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem.

Untuk dapat mencapai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar seperti yang telah ditetapkan di atas, digunakan beberapa indikator yang dapat membantu siswa antara lain.

1. Mengidentifikasi satuan-satuan dalam ekosistem dan menyatakan bahwa matahari merupakan sumber energi utama.

2. Menggambarkan dalam bentuk diagram rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan berdasarkan hasil pengamatan suatu ekosistem

Indikator-indikator di atas dapat dicapai siswa melalui metode yang tepat dengan adanya tujuan pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai salah satu media pembelajarannya. Materi ekosistem yang dipelajari dalam penelitian ini adalah tentang komponen penyusun ekosistem, hubungan antara komponen ekosistem, dan pola interaksi antar organisme dalam ekosistem.

D. Pembelajaran Kooperatif

(35)

Cooperative learning adalah suatu model pembelajaran di mana dalam

sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar (Taniredja, dkk., 2011). Hampir senada, Suyatno (2009) juga mengungkapkan model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelaesaikan persoalan, atau inkuiri.

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Metode belajar yang menekan belajar dalam kelompok heterogen saling membantu satu sama lain, bekerja sama menyelesaikan masalah, dan menyatukan pendapat untuk memperoleh keberhasilan yang optimal baik kelompok maupun individual.

Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri atas 4-5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karakter), ada kontrol dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi (Suyatno, 2009).

Langkah pembelajaran kooperatif menurut Suyatno (2009), adalah sebagai berikut:

a. menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa; b. menyampaikan informasi;

(36)

e. evaluasi;

f. memberikan penghargaan.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Elemen-elemen pembelajaran kooperatif menurut Lie (dalam Sugiyanto, 2010) adalah saling ketergantungan secara positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, dan keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan. Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri antara lain:

- belajar bersama teman,

- selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman - saling mendengarkan pendapat diantara anggota kelompok, - belajar dari teman sendiri dalam kelompok,

- belajar dalam kelompok kecil,

- produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat, - keputusan tergantung pada siswa sendiri,

- siswa aktif (Stahl, 1994 dalam Taniredja, dkk 2011).

Metode pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa tipe dengan langkah yang berbeda-beda (Suyatno, 2009). Beberapa tipe metode pembelajaran kooperatif menurut Suyatno adalah sebagai berikut.

1) Tipe STAD (Student Teams Achievement Division)

(37)

pembelajaran tipe STAD, yaitu: mengajar, belajar dalam tim, tes, dan penghargaan tim.

2) Tipe NHT (Numbered Head Together)

Tipe NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif yang pada dasarnya merupakan varian dari diskusi kelompok. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi gagasan dan mempertimbangkan gagasan yang paling tepat (Huda, 2013).

3) Tipe Jigsaw

Tipe Jigsaw termasuk pembelajaran kooperatif dengan sintak seperti berikut ini. Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yan terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. Tiap kelompok bertugas membahas bagian tertentu, bahan belajar tiap kelompok adalah sama. Buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. Kembali ke kelompok asal, pelaksana tutorial pada kelompok asal oleh anggota kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

4) TPS (Think Pair Share)

(38)

5) TGT (Team Games Tournament)

TGT merupakan metode yang berkaitan dengan STAD, dimana siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin untuk skor tim mereka.

E. Metode Picture and Picture

Menurut Suprijono (dalam Huda, 2013), picture and picture merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Gambar-gambar menjadi perangkat utama dalam pembelajaran. Untuk itu, sebelum pembelajaran, guru sudah menyiapkan gambar yang akan digunakan dalam bentuk kartu gambar maupun charta.

Dalam metode Picture and picture, langkah-langkah pelaksanaannya adalah sebagai berikut (Huda, 2013), adalah sebagai berikut.

Tahap 1: Penyampaian Kompetensi

Pada tahap ini guru menyampaikan kompetensi dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian, siswa dapat mengukur sampai sejauh mana kompetensi yang harus dikuasai. Disamping itu, guru juga harus menyampaikan indikator-indikator ketercapaian kompetensi tersebut untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam mencapainya.

Tahap 2: Presentasi Materi

(39)

Tahap 3: Penyajian Gambar

Pada tahap ini, guru menyajikan gambar dan mengajak untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati setiap gamabr yang ditunjukkan. Dengan gambar, pengajaran akan hemat energi, dan siswa juga akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan.

Tahap 4: Pemasangan Gambar

Pada tahap ini, guru menunjuk/ memanggil siswa secara bergantian untuk memasang gambar-gambar secara berurutan dan logis. Guru juga bisa melakukan inovasi, karena penunjukkan secara langsung kadang kurang efektif sebab siswa cenderung merasa tertekan. Salah satu caranya adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus benar-benar siap untuk menjalankan tugas yang diberikan.

Tahap 5: Penjajakan

Tahap ini mengharuskan guru untuk menanyakan pada siswa tentang alasan/dasar pemikiran di balik urutan gambar yang disusunnya. Setelah itu, siswa bisa diajak untuk menentukan rumus, jalan cerita, atau tuntutan kompetensi dasar berdasarkan indikator-indikator yang ingin dicapai. Guru juga bisa mengajak sebanyak mungkin siswa untuk membantu sehingga proses diskusi menjadi semakin menarik.

Tahap 6: Penyajian Kompetensi

(40)

tersebut. Disini guru bisa mengulangi, menuliskan, atau menjelaskan gambar-gambar tersebut agar siswa mengetahui bahwa sarana tersebut penting dalam pencapaian kompetensi dasar dan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Tahap 7: Penutup

Di akhir pembelajaran, guru dan siswa saling berefleksi mengenai apa yang telah dicapai dan dilakukan. Hal ini dimaksud untuk memperkuat materi dan kompetensi dalam ingatan siswa.

Pembelajaran kooperatif tipe picture and picture memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan strategi pembelajaran picture and picture (Huda, 2013) antara lain.

a. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa b. Siswa dilatih berpikir logis dan sistematis

c. Siswa dibantu belajar berpikir berdasarkan sudut pandang suatu subjek bahasan dengan memberikan kebebasan siswa dalam praktik berpikir

d. Motivasi siswa untuk belajar semakin dikembangkan e. Siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas.

Sementara itu, kekurangan strategi picture and picture (Huda, 2013) bisa mencakup hal-hal berikut.

a. Memakan banyak waktu b. Membuat sebagian siswa pasif

c. Munculnya kekhawatiran akan terjadi kekacauan di kelas

(41)

e. Kebutuhan akan dukungan fasilitas, alat, dan biaya yang cukup memadai.

F. Hasil Penelitian yang Relevan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Maria Rosa Ketane Lasar

dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture and

Picture Sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Pada

Pokok Bahasan Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan Kelas VIII SMP

Joannes Bosco Yogyakarta”. Hasil penelitian meunjukkan bahwa motivasi

belajar memiliki presentasi kelas sebasar 82,57% dan berada pada kategori sangat tinggi. Nilai rata-rata ketuntasan hasil belajar ranah kognitif pada siklus I sebesar 72% kemudian meningkat menjadi 93% pada siklus II, nilai rata-rata ketuntasan hasil belajar ranah afektif pda siklus I sebesar 75,86% dan meningkat menjadi 100% pada siklus II, sedangkan pada ranah psikomotorik nilai rata-rata ketuntasan hasil belajar sebesar 62,06% pada siklus I meningkat menjadi 79,31% pada siklus II. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran picture and picture dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi.

Selain penelitian yang dilakukan oleh Maria Rosa Ketane Lasar, peneitian lain yang dilakukan oleh Rahmat Fauzi,Sri Dwiastuti, dan Harlita dengan judul

“Penerapan Metode Pembelajaran Picture And Picture untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Biologi Siswa Kelas VIII D SMP Negeri 14 Surakarta Tahun

(42)

biologi siswa SMP Negeri 14 Surakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan motivasi belajar siswa, dimana berdasarkan hasl angket motivasi belajar siswa pra siklus adalah 72,09% meningkat menjadi 74,09% pada siklus I dan 79,96% pada siklus II. Sedangkan berdasarkan hasil observasi, motivasi belajar siswa pra siklus adalah 50,9% meningkat menjadi 74,06% pada siklus I dan 86,87% pada siklus II. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode picture and picture dapat meningkatkan motivasi belajar biologi siswa SMP Negeri 14 Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012.

G. Kerangka Berpikir

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang terjadi di SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta yaitu kurangnya motivasi belajar siswa yang berdampak pada hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata kelas untuk mata pelajaran IPA siswa kelas VII A pada pokok bahasan ekosistem adalah 60 atau dibawah KKM IPA SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan yaitu 68. Hasil belajar yang diperoleh siswa ini menunjukkan belum berhasilnya proses pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran karena indikator keberhasilan belajar di SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta, ditetapkan minimal 70% hasil belajar siswa harus mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

(43)

kooperatif tipe picture and picture untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII-A SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan pada materi ekosistem. Hal ini karena pembelajaran kooperatif tipe picture and picture terbukti dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa seperti yang dapat dilihat pada penelitian yang dilakukan oleh Maria Rosa Ketane Lasar.

H. Hipotesa

(44)

24

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaborasi antara peneliti dengan pengamat dalam upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar melalui pembelajaran kooperatif tipe

picture and picture.

Penelitian tindakan ini dilakukan dengan mengikuti model gabungan Sanford dan Kemmis. Siklus dalam model ini menggambarkan aktivitas dalam Penelitian Tindakan Kelas diawali dengan perencanaan tindakan (planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation and evaluation), melakukan refleksi (reflection) dan seterusnya sampai dicapai kualitas pembelajaran yang diinginkan (Taniredja dkk, 2010). Adapun proses siklus kegiatan dalam penelitian tindakan ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Siklus PTK Sanford dan Kemmis

(45)

B. Setting Penelitian 1. Obyek Penelitian

Objek penelitian ini adalah peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa materi ekosistem pada siswa kelas VII SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan dengan menggunakan metode picture and picture.

2. Subyek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIA SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 29 siswa terdiri dari 18 siswa putra dan 11 siswa putri.

3. Tempat Penelitian

Tempat dilaksanakannya penelitian ini adalah di kelas VIIA SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta Jl. Tamansiswa 25F, Yogyakarta. 4. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2014.

C. Rancangan Penelitian

Rancangan tindakan yang dilakukan oleh peneliti yaitu rancangan penelitian menurut Sanford dan Kemmis. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Dalam tiap siklus terbagi dalam beberapa tahapan, yaitu: tahapan

Planning (perencanaan), Action (pelaksanaan tindakan), Observation and

Evaluation (mengobservasi dan mengevaluasi proses dan tindakan), dan

(46)

1. Pra Tindakan

a. Idetifikasi masalah, langkah ini diawali dengan pendekatan kepada pihak sekolah melalui guru mata pelajaran dan meminta beberapa informasi dan menganalisis hasil belajar siswa berdasarkan hasil ulangan harian pada materi ekosistem tahun ajaran 2012/2013.

b. Observasi, kegiatan ini dilakukan untuk mendapat gambaran awal mengenai kegiatan belajar mengajar Biologi di SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta

c. Analisis studi pustaka disesuaikan dengan permasalahan dan judul penelitian.

d. Menyelesaikan rancangan penelitian dengan bimbingan dosen, hingga memperoleh izin untuk melakukan penelitian.

e. Permintaan pembuatan surat kepada sekretariat Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

f. Menghubungi pihak SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta, dengan menemui kepala sekolah, bagian kurikulum dan guru mata pelajaran biologi dan menyerahkan surat izin penelitian dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta beserta proposal yang telah disetujui oleh dosen pembimbing.

2. Siklus I

(47)

Pada tahap ini, peneliti merencanakan pelaksanaan penelitian. Adapun tahap perencanaan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1) menganalisis materi untuk menyusun perangkat pembelajaran yang dibutuhkan

2) membuat silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang akan digunakan pada saat penelitian

3) mempersiapkan materi pembelajaran

4) membuat instrumen pengumpulan data yaitu:

- membuat soal evaluasi (pretest dan postest) untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa ranah kognitif melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe picture and picture - membuat lembar observasi untuk mengetahui perkembangan

aktivitas siswa dalam kelompok dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe picture and picture

- membuat kuisioner untuk mengukur motivasi belajar siswa 5) membuat media pembelajaran berupa kartu bergambar dan kartu

konsep terkait pokok bahasan ekosistem

6) membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) yang akan digunakan dalam diskusi kelompok.

b. Tahap Pelaksanaan (Acting) dan Pengamatan (Observing)

(48)

Adapun kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap pelaksanaan atau proses pembelajaran antara lain:

1) mengadakan tes awal (pre test) untuk mengetahui kemampuan awal siswa

2) mengkondisikan kelas dalam suasana belajar

3) memotivasi siswa dengan memberikan apresepsi menggunakan gambar dan beberapa pertanyaan

4) menyampaikan indikator dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai

5) menjelaskan materi pembelajaran yang akan secara singkat

6) membagi siswa dalam kelompok – kelompok kecil (terdiri dari 4 orang)

7) menjelaskan instruksi kegiatan yang akan dilakukan dan memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya tentang instruksi yang belum jelas

8) membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) beserta kartu bergambar pada setiap kelompok

9) siswa berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing 10) guru membimbing siswa dalam kelompok diskusi

(49)

12) setiap anggota kelompok dapat membantu menjawab pertanyaan yang diajukan kelompok lain

13) mengkonfirmasi konsep-konsep dari LKS 14) menanamkan konsep sesuai materi ajar 15) memberikan test akhir (post tes) siklus I 16) menyimpulkan pembelajaran bersama siswa 17) melakukan refleksi bersama siswa.

c. Tahap Pengamatan (Observing) dan Evaluasi (Evaluation)

Pada tahap pengamatan kegiatan yang dilakukan meliputi observasi aktivitas siswa di kelas baik pada kegiatan diskusi kelompok, kegiatan bertanya dan menjawab pada proses pembelajaran dan proses presentasi. Kegiatan observasi delakukan oleh observer.

Selain melakukan observasi, pada tahap ini juga dilakukan evaluasi. Peneliti mengevaluasi seluruh proses siklus I dengan mengolah hasil belajar siswa dan hasil observasi. Hasil ini dibandingkan dengan target yang harus dicapai pada dalam penelitian.

d. Tahap Refleksi (Reflecting)

(50)

3. Siklus II

a. Tahap Perencanaan (Planning)

Sebelum melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas siklus II, peneliti terlebih dahulu merencanakan pelaksanaan berdasarkan refleksi siklus I. Perencanaan pelaksanaan siklus II sebagai berikut.

1) Membuat silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan dipakai pada saat melakukan penelitian.

2) Mempersiapkan materi pelajaran.

3) Membuat instrumen pengumpulan data, antara lain:

- membuat soal tes akhir (post test) untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe picture and picture

- membuat lembar observasi untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa ranah psikomotorik dan afektif dalam kelompok dengan menggunaan pendekatan kooperatif tipe

picture and picture

- membuat kuisioner untuk mengukur motivasi belajar siswa. 4) Membuat media ajar berupa gambar dan kartu konsep terkait

materi ekosistem.

(51)

b. Tahap Pelaksanaan (Acting)

Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan skenario pembelajaran sesuai dengan yang telah direncanakan dalam rancangan pelaksanaan pembelajaran. Adapun tahap pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

1) mengkondisikan kelas dalam suasana belajar

2) memotivasi siswa dengan memberikan apresepsi menggunakan gambar dan beberapa pertanyaan

3) menyampaikan indikator dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai

4) menjelaskan materi pembelajaran yang akan secara singkat

5) membagi siswa dalam kelompok – kelompok kecil (terdiri dari 4 orang)

6) menjelaskan instruksi kegiatan yang akan dilakukan dan memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya tentang insturksi yang belum jelas

7) membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) beserta kartu bergambar pada setiap kelompok

8) siswa berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing 9) guru membimbing siswa dalam kelompok diskusi

(52)

11) setiap anggota kelompok dapat membantu menjawab pertanyaan yang diajukan kelompok lain

12) mengkonfirmasi konsep-konsep dari LKS 13) menanamkan konsep sesuai materi ajar 14) memberikan test akhir (post tes) siklus II 15) menyimpulkan pembelajaran bersama siswa 16) melakukan refleksi bersama siswa.

c. Tahap Pengamatan (Observing) dan Evaluasi (Evaluation)

Pada tahap pengamatan kegiatan yang dilakukan meliputi observasi aktivitas siswa di kelas baik pada kegiatan diskusi kelompok, kegiatan bertanya dan menjawab pada proses pembelajaran dan proses presentasi. Kegiatan observasi dilakukan oleh observer.

Selain melakukan observasi, pada tahap ini juga dilakukan evaluasi. Peneliti mengevaluasi seluruh proses siklus II dengan mengolah hasil belajar siswa lembar observasi serta lembar kuisioner motivasi. Hasil ini dibandingkan dengan target yang harus dicapai pada dalam penelitian.

d. Tahap Refleksi (Reflecting)

(53)

meningkat atau tidaknya motivasi dan hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe picture and picture.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen adalah alat pada waktu penelitian menggunakan suatu metode (Arikunto, Supardi, dan Suhardjono, 2006). Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi perangkat pembelajaran dan instumen pengumpulan data.

1. Perangkat Pembelajaran a. Silabus

Silabus pada dasarnya merupakan garis besar program pembelajaran (Akbar, 2013). Dalam silabus memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

Silabus dapat dilihat pada lampiran A.1

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berisi tentang rancangan pembelajaran yang akan dilakukan guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung karena di dalamnya juga memuat skenario pelaksanaan pembelajaran yang akan diterapkan.

(54)

c. Lembar Kerja Siswa

Lembar kerja siswa merupakan lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Lembar kerja siswa ini merupakan salah satu sarana untuk membantu dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar terutama dalam menggunakan media gambar. Dengan adanya lembar kerja siswa, interaksi efektif antara siswa dan guru dapat terjalin. Selain itu, lembar kerja siswa membantu kerjasama dalam kelompok, sehingga meningkatkan motivasi belajar siswa.

Lembar kerja siswa dapat dilihat pada lampiran A.3

d. Media Gambar

Media gambar merupakan media pembelajaran yang berisi gambar-gambar yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan. Media gambar merupakan instrumen penting dalam pembelajaran kooperatif tipe Picture and picture.

Media gambar dapat dilihat pada lampiran A.4

2. Instrumen Pengumpulan Data a. Tes

(55)

responden yang dalam hal ini adalah peserta didik. Hasil belajar yang diukur menggunakan tes adalah hasil belajar ranah kogntif.

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa pada ranah kognitif digunakan tes tertulis. Pengajar menggunakan tes tertulis berupa pilihan ganda. Tes awal (pre test) pada awal pembelajaran terdiri dari 20 soal pilihan ganda. Sebelum membuat test tertulis, pengajar terlebih dahulu membuat kisi-kisi soal yang mengacu pada indikator pembelajaran yang telah dibuat pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kisi-kisi soal bertujuan untuk menentukan ruang lingkup dan sebagai petunjuk dalam menulis soal. Adapun kisi-kisi soal tes awal (pre test) dapat dilihat pada lampiran B.1. Selain tes awal, pada setiap akhir pelajaran akan diberikan tes akhir (post test) yang terdiri dari 10 soal untuk masing-masing siklus. Adapun kisi-kisi soal tes akhir siklus I dapat dilihat pada lampiran B.2 dan kisi-kisi dan soal tes akhir siklus II dapat dilihat pada lampiran B.3.

Selain kisi-kisi soal dan soal tes, panduan skoring juga merupakan instrumen penting dalam mengoreksi hasil pekerjaan siswa.

b. Lembar Observasi

(56)

melihat peningkatan aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Lembar observasi dapat dilihat pada lampiran B.4.

c. Kuisioner/ Angket Motivasi Belajar

Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Dalam penelitian ini kuisioner digunakan untuk mengetahui motivasi belajar siswa pada pokok bahasan ekosistem dengan menggunakan pembelajaran cooperative learning tipe

picture and picture. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah

angket tertutup. Angket tertutup adalah angket dengan jawaban yang sudah disediakan sehingga responden tinggal memilih (Suparno, 2010).

(57)

E. Analisis Data

Pengolahan dan analisis data pada dasarnya dilakukan selama pelaksanaan penelitian secara terus menerus dari awal hingga akhir pelaksanaan tindakan. Oleh karena itu, data yang diperoleh baik dari hasil tes maupun non-tes perlu diolah dan dianalisis agar data tersebut menjadi bermakna. Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis data secara kualitatif dan kuantitatif.

1. Analisis kualitatif

Data atau informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan, dianalisis secara kualitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan cara deskripsi kata-kata dari hasil pengamatan selam proses pembelajaran dengan menggunakan model

picture and picture.

2. Analisis kuantitatif

Selain dianalisis dengan cara kualitatif, data hasil pengamatan juga dianalisis secara kuantitatif. Analisis kuantitatif merupakan analisis menggunakan rumus.

a. Analisis Hasil Belajar

Data hasil belajar dalam penelitian ini merupakan data hasil belajar ranah kognitif. Untuk mengetahui tingkat belajar siswa pada ranah kognitif berpedoman pada hasil tes tertulis.

(58)

menentukan tingkat kebenaran jawaban berdasarkan tingkat kebenaran jawaban ditentukan skor berdasarkan bobot soalnya untuk setiap soal atau setiap aspek dan menentukan skor total.

Adapun teknik penskoran adalah sebagai berikut: 1) Pemberian skor

Skor untuk setiap jawaban benar adalah 1. 2) Ketuntasan Individu

Siswa dikatakan tuntas apabila memperoleh nilai ≥ 68 berdasarkan

Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Tes kognitif dilaksanakan pada setiap akhir siklus yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.

Untuk mengetahui ketuntasan individual dapat menggunakan rumus berikut:

= 100

Tabel 3.1.Kriteria Ketuntasan Individu Nilai Individu Keterangan

≤ 68 (KKM) Tidak tuntas

≥ 68 (KKM) Tuntas

Untuk mengetahui skor rata-rata kelas digunakan rumus sebagai berikut:

(59)

3) Ketuntasan Klasikal

Ketuntasan klasikal dikatakan telah tercapai apabila siswa melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan target ideal 60 % dari jumlah siswa dalam kelas.

Untuk mengetahui ketuntasan secara klasikal menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan :

KK = Ketuntasan klasikal

n1 = Jumlah siswa yang memperoleh nilai≥ 68

n = Jumlah siswa yang ikut tes/ banyaknya siswa

b. Analisis Lembar Observasi

Analisis lembar observasi dilakukan secara induktif artinya peneliti mempelajari, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan dari fenomena yang terjadi di lapangan (Margono, 2007). Lembar observasi digunakan untuk melihat peningkatan aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Langkah-langkah analisis data hasil observasi meliputi:

1) Merangkum data hasil observasi/reduksi data

Aspek-aspek yang dinilai dalam lembar observasi yang telah diisi oleh observer digabung dan diklasifikasi untuk mengetahui data kelas secara keseluruhan.

(60)

Tabel 3.2. Kategorisasi Hasil Observasi No Aspek yang Diamati

Kategori siswa Keseluruhan Tinggi Sedang Rendah 1. Kemampuan menggunakan alat

dan sikap kerja

2. Kemampuan membaca gambar dan atau simbol

3. Kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan mengurutkan proses pengerjaan

4. Kecepatan pengerjaan tugas 5. Keserasian bentuk dengan yang

diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan

Keterangan kategori:

Kategori tinggi (T) : jika 3 atau lebih siswa dalam kelompok memenuhi

aspek penilaian

Kategori sedang (S) : jika 2 orang siswa dalam kelompok memenuhi aspek

penilaian

Kategori rendah (R): jika tidak ada atau hanya 1 orang dalam kelompok

yang memenuhi aspek penilaian

Setiap aspek di atas dijabarkan kembali dalam poin-poin aspek pengamatan yang lebih spesifik yang bisa dilihat pada lampiran B.4. Kategori yang didapatkan dari hasil observasi selanjutnya diubah dalam bentuk skor ketentuan:

- Kategori Tinggi (T) mendapat skor 3 - Kategori sedang (S) mendapat skor 2 - Kategori rendah (R) mendapat skor 1

(61)

Tabulasi data hasil penilaian aspek-aspek yang diamati kemudian dibuat bentuk prosentase untuk mengetahui tingkat aktivitas siswa di dalam proses pembelajaran.

Perhitungan prosentase tiap poin penjabaran aspek:

=

ℎ 100%

Perhitungan prosentase rata-rata aktivitas siswa secara klasikal:

=

ℎ 100%

3) Menarik kesimpulan/verifikasi

Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah menyusun kesimpulan semantara (tentatif) pada awal siklus. Ketika diperoleh data-data baru yang didapat dari hasil observasi pelaksanaan siklus I dan siklus II, dilakukan proses verifikasi data dan peer-debriefing. Verifikasi data dan peer-debriefing dari observer dilakukan untuk menarik kesimpulan akhir mengenai tingkat motivasi siswa selama proses pembelajaran.

c. Analisis Motivasi Belajar Siswa

Motivasi belajar siswa diukur menggunakan kuisioner motivasi reflektif. Data yang diperoleh dari kuisioner dianalisis dengan tahap-tahap sebagai berikut :

(62)

2) Masing-masing kategori jawaban tersebut diberi skor. Penetapan skor untuk pernyataan positf dan negatif seperti pada tabel 3.3 berikut.

Tabel 3.3. Penetapan Skor Kuisioner

Pilihan Jawaban

Skor Pernyataan

Positif

Pernyataan Negatif

Sangat setuju 4 1

Setuju 3 2

Tidak setuju 2 3

Sangat Tidak Setuju 1 4

Skor yang telah diperoleh siswa dalam kuisioner dijumlahkan dan skor ini digunakan sebagai skor motivasi belajar siswa.

3) Selanjutnya adalah menghitung presentase skor motivasi belajar siswa.

Selain menghitung skor motivasi belajar siswa, peneliti juga menganalisis persentase pada setiap pernyataan pada kuisioner dengan rumus :

Presentase (%) = 100%

Prosentase tiap indikator:

Presentase (%) = 100%

4) Mengkategorikan motivasi siswa

(63)

Tabel 3.4. Kategori Motivasi

Skor Kriteria

81-100% Sangat Tinggi

61-80% Tinggi

41-60% Sedang

21-40% Rendah

0-20% Sangat Rendah

F. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan yang diharapkan dapat tercapai pada penelitian ini dijelaskan pada tabel 3.5 berikut.

Tabel 3.5. Indikator Keberhasilan Penelitian

No. Variabel Data

1. Hasil Belajar Kognitif 60% siswa dapat memenuhi KKM 68

(64)

44 BAB IV

PELAKSANAAN PENELITIAN, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian 1. Perencanaan Penelitian

Sebelum melaksanakan penelitian, dilakukan beberapa persiapan meliputi observasi awal, menyiapkan materi dan media yang akan digunakan dalam pembelajaran, menyiapkan instrumen pembelajaran dan instrumen pengumpulan data, serta mengurus perizinan penelitian.

Observasi awal dilakukan terhadap kondisi kegiatan pembelajaran di kelas VII-A. Observasi awal dilaksanakan pada Kamis, 27 Februari 2014 pada jam pelajaran ke-3 (08.20-09.00) dan jam pelajaran ke-4 (09.15-09.55). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru mata pelajaran Biologi jumlah siswa kelas VII-A tahun pelajaran 2013/2014 adalah 29 siswa dengan jumlah siswa putra adalah 18 siswa dan 11 siswa putri. Pada kenyataannya, jumlah siswa yang masuk kelas seringkali tidak sesuai dengan jumlah tersebut karena beberapa siswa seringkali tidak masuk sekolah dengan berbagai alasan.

(65)

yang diselingi dengan menuliskan poin-poin pokok pembelajaran di papan tulis. Pada sesi ceramah, aktivtas siswa beragam, sebagian siswa terlihat memperhatikan penjelasan guru dengan saksama, beberapa mencatat poin-poin yang dituliskan guru di papan tulis.

Selain kegiatan ceramah, dilakukan pula kegiatan tanya-jawab. Pada sesi tanya-jawab, guru memberikan pertanyaan kepada siswa kemudian memberikan kesempatan siswa untuk memikirkan jawaban atau mencari jawaban dari buku paket. Beberapa siswa berani menjawab pertanyaan guru dengan inisiatif sendiri, sedangkan siswa lainnya hanya mencari jawaban dari buku tetapi tidak berani untuk menjawab pertanyaan dari guru. Siswa tertentu juga terkadang berani mengajukan pertayaan kepada guru yang kemudian ditanggapi dengan baik oleh guru, namun demikian guru belum memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk menjawab pertanyaan atau mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

(66)

2. Pelaksanaan P

aan Penelitian Siklus I sanaan Proses Pembelajaran

us I dilaksanakan pada Senin, 12 dan 19 Me n pertama kegiatan diawali dengan perkena

masikan kegiatan yang akan dilakukan sisw beri kesempatan mengerjakan pretest selama 15

kan pretest, kegiatan selanjutnya adalah menja hadap pretest. Siswa menyatakan kesulitan dala

rena beberapa sebab antara lain siswa belum umnya dan materi ekosistem yang belum diajarka

Gambar 2. Siswa mengerjakan pret a yang hadir mengikuti pretest sebanyak 26 si innya yang termasuk dalam subyek penelitian

ata pretest digunakan untuk mengetahui peng hadap materi. Data pretest dapat dilihat pada ta

(67)

Tabel 4.1 Hasil Analisis Pretest Siswa

No. Jenis Data yang Diamati Hasil yang Diperoleh

1. Nilai tertinggi 75

2. Nilai terendah 35

3. Jumlah siswa dengan nilai mencapai KKM

5 4. Jumlah siswa dengan nilai belum

mencapai KKM

21

5. Rata-rata nilai 60

6. Ketuntasan klasikal 19.23%

Tabel hasil analisis pretest siswa menunjukkan bahwa rata-rata nilai kelas adalah 60 dan hanya 5 orang siswa yang telah mencapai KKM. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman siswa mengenai materi ekosistem masih sangat rendah. (Data hasil pretest dapat dilihat pada

lampiran C.7)

Pada pertemuan pertama, selain memberikan pretest juga mulai dilakukan kegiatan pembelajaran. Peneliti yang bertindak sebagai pengajar dengan menerapkan prinsip dan strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture and Picture. Peneliti dibantu oleh mitra peneliti yakni rekan mahasiswa yang bertindak sebagai observer yang akan mengobservasi aktivitas siswa. Observer melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah disediakan oleh peneliti.

(68)

pembelajaran dan kegiatan yang akan dilakukan. Kegiatan pendahuluan berlangsung selama 10 menit.

Kegiatan inti diawali dengan kegiatan informasi interaktif singkat yaitu guru memberikan pemahaman awal mengenai berbagai komponen penyusun ekosistem, satuan-satuan yang terdapat dalam ekosistem, dan jenis ekosistem secara umum. Selanjutnya guru menyampaikan proses pembelajaran berdasarkan Pembelajaran Kooperatif tipe Picture and

Picture yang akan dilaksanakan siswa. Guru membagi siswa dalam

kelompok yang terdiri dari 4 siswa sehingga terbentuk 6 kelompok dengan 2 kelompok yang terdiri dari 5 siswa. (Daftar anggota kelompok

dapat dilihat pada lampiran C.2)

Pada kegiatan inti, siswa diberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman dalam setiap pembelajaran seperti kegiatan diskusi dan menanggapi presentasi. Setelah siswa berkelompok, guru kemudian membagikan LKS I dan kartu gambar. Siswa diminta untuk mengamati gambar yang terdapat dlam LKS I serta kartu gambar yang telah dibagikan. Kemudian berdasarkan gambar yang ada pada LKS I siswa menuliskan komponen ekosistem apa saja yang terdapat pada gamabr LKS I. Selanjutnya siswa mengelompokkan kartu gambar berdasarkan satuan-satuan dalam ekosistem serta jenis-jenis ekosistem

Gambar

Gambar 1. Siklus PTK Sanford dan Kemmis
Tabel 3.1.Kriteria Ketuntasan Individu Nilai Individu Keterangan
Tabel 3.2. Kategorisasi Hasil Observasi No Aspek yang Diamati
Tabel 3.3. Penetapan Skor Kuisioner
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Penelitian Peran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Dalam Mendorong Persaingan Usaha Yang Sehat Di Sektor Motor Skuter Matic 1. Kriteria Persaingan Usaha Yang Sehat

[r]

Hasil ini bertentangan terhadap trading range theory yang menyatakan bahwa manajemen melakukan stock split di dorong oleh perilaku praktisi pasar yang konsisten

Meskipun kuantitas sampah B3 rumahtangga (SB3-RT) di Kabupaten Sleman hanya 2,44 g/orang/hari atau sekitar 0,488% dari sampah domestik, tetapi karena memiliki karakteristik

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembentukan kepribadian siswa dapat dilakukan melalui pembiasaan membaca asmaul husna dan surat yasin secara terus- menerus. Dengan

Sistem penggajian karyawan staff dan karyawan harian dilakukan dengan cara ((presensi karyawan/per hari x gaji karyawan/per hari) – potongan..

[r]

Tamis- Lemonda (2013) yang bertajuk ‘Reciprocal influences between maternal language and children’s language and cognitive development in low- income families’. Namun