1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pergaulan anak muda di era zaman sekarang sangat memprihatinkan padahal mereka adalah generasi muda untuk suatu bangsa. Tidak dipungkiri, banyak anak muda yang terjerumus dalam pergaulan yang negatif salah satunya adalah obat-obatan penenang yang seharusnya tidak dikonsumsi secara legal. Pergaulan anak muda sangat berperan penting terhadap perilaku dan tindakan para remaja, karena kebanyakan remaja lebih mengikuti teman bergaulnya dibandingkan dengan orang tua.
Di jaman yang semakin modern sekarang ini tidak hanya narkoba dengan media obat atau suntikan, tetapi ada media yang digunakan yaitu dengan media lem sintetis
“Ngelem”. Narkoba dengan media lem ini digunakan sebagai media narkoba dengan cara menghisap lem kuning atau lem sintetis. “Ngelem” merupakan istilah jalanan untuk membahasakan penyalahgunaan zat hirup. Pilihan zat yang paling populer adalah lem sintetis. Istilah “Ngelem” ini lebih menonjol atau populer untuk bagi anak-anak jalanan, karena narkoba dengan media lem ini lebih ekonomis dari segi harga.
Faktor yang menyebabkan anak jalanan terjerumus dalam kehidupan di jalanan, seperti kesulitan keuangan keluarga atau tekanan kemiskinan, ketidak harmonisan rumah tangga orangtua dan masalah khusus yang menyangkut hubungan anak dengan orangtua.
Kadangkala pengaruh teman atau kerabat juga ikut menentukan keputusan untuk hidup di jalan. Padahal tak dapat dipungkiri bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa untuk masa mendatang. Maka tidak jarang anak jalanan cenderung untuk terjerumus dalam tindakan menyimpang. Salah satu perilaku yang popular menyimpang adalah
“ngelem”, yang secara harafiah berarti menghirup lem. Dalam lem terdapat berbagai jenis bahan kimia diantaranya volatile hidrokarbon, toluene aceton, alifatik acetat, benzine, petroleum naftat, perklorethylen, trikloretane, karbontetraklorida. Selain berisi volatile hidrokarbon, juga mengandung diethyleter, kloroform, nitrous oxyda, macam-macam aerosol, insektiside.
2
(Muhammad Khalid dalam koran padek, Merusak Kecerdasan Otak dan Kematian, Padang, http://www.koran.padek.co/read/detail/7960, diunduh Rabu 29 April 2015 pukul, 13:05 WIB)
Efek inhalasi ether atau mitrous oxyda (obat anastesi atau bius umum) yang berupa euphoria ringan, mabuk, pusing kepala tapi masih dapat mengontrol pendapatnya.
Sesudah itu ia akan merasa bahwa dirinya tenang, namun pada akhirnya tidak jarang melakukan tindakan anti-sosial dan tindakan impulsif dan agresif.
Hal tersebut di atas menjelaskan bahwa “ngelem” merupakan suatu masalah yang sangat serius karena tidak hanya dapat berakibat buruk bagi kesehatan, tetapi juga menimbulkan masalah sosial bagi kehidupan anak-anak jalanan yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat luas,
Dari pemaparan di atas, terdapat beragam dampak negatif dari “ngelem”, hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk membuat sebuah karya dalam bentuk program liputan investigasi yang berjudul “Telusur”, dengan harapan program liputan ini dapat memberi informasi kepada masyarakat mengenai penyalahgunaan lem sebagai salah satu bentuk obat penenang.
Telusur merupakan sebuah program berita investigasi, dimana berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media televisi, atau media online internet. Penulis mengambil sebuah cerita tentang bagaimana penyalahgunaan lem sebagai sarana obat penenang yang terjadi di kalangan anak jalanan. Karena penulis banyak menemukan anak jalanan di sekitar kota Semarang yang memakai lem sebagai media narkoba dengan cara menghirup lem.
Pembuat berita investigasi dengan durasi pendek di tuntut selektif dalam memilih apa saja yang pantas untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan berita investigasi, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat termuat dalam waktu singkat. Dari ide yang telah ada makan dapat di kembangkan dalam bentuk produksi TV dengan format program berita investigasi yang di dalamnya banyak terkandung informasi yang bermanfaat bagi pemirsa.
Agar dalam proses produksi pembuatan program berita investigasi berjalan secara lancar, dibutuhkan team yang solid, konsep yang matang dan juga persiapan mental dan materi saat produksi berlangsung. Dari ide yang telah ada maka dapat di kembangkan dalam bentuk produksi TV dengan format program berita investigasi yang di dalamnya
3
banyak terkandung pelajaran hidup yang dapat dijadikan manfaat bagi pemirsa terutama generasi muda.
Dalam pembuatan program berita investigasi ini pengarah acara (PD) dapat menginterpretasikan naskah seorang produser, menjadi suatu bentuk suasana gambar dan suara, memiliki tanggung jawab menyusun rencana kerja jangka pendek dan menengah, mengarahkan dan mengelola pengembangan dan penerapan rencana kerja tersebut serta mengawasi dan mengevaluasi kinerja dengan memperhatikan efektifitas dan efisiensi operasional. Pembuat berita investigasi dengan durasi pendek di tuntut selektif dalam memilih apa saja yang pantas untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan berita investigasi, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat termuat dalam waktu singkat. Dari ide yang telah ada makan dapat di kembangkan dalam bentuk produksi TV dengan format program berita infestigasi yang di dalamnya banyak terkandung informasi yang bermanfaat bagi pemirsa.
1.2 PERUMUSAN MASALAH
Dari alasan tersebut, penulis mengulas permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana bentuk penyalahgunaan lem sintetis dan dampak negatif yang terjadi pada anak jalanan.
2. Bagaimana menjadi pengarah acara dalam program yang berformat investigasi agar dapat memberikan yang menarik dan sekaligus memberikan informasi yang aktual.
1.3 TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini:
1. Untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang penyalahgunaan lem sintetis dan dampak negatifnya serta menciptakan sebuah karya berformat investigasi yang berjudul “Telusur”
2. Untuk mengetahui bagaimana menjadi seorang pengarah acara dalam program berita dengan format berita investigasi.
4 1.4 BATASAN MASALAH
Penulis memiliki batasan–batasan yang digunakan untuk memfokuskan arah program ini, baik dari segi tema maupun job decription yang akan lebih ditekankan, yaitu sebagai berikut :
1. Penyalahgunaan lem sintetis dan dampak negatifnya yang terjadi pada kalangan anak jalanan.
2. Penulis menitikberatkan job description selaku pengarah acara (PD) dalam program “Telusur” sebagai kompetensi pilihan yang dikuatkan dalam berkarya.
Pemilihan kompetensi ini dirasa sesuai, untuk menghasilkan sebuah karya investigasi yang baik dan aktual.
1.5 MANFAAT
1.5.1 Manfaat Akademis
1. Sebagai dokumen dan arsip dalam bentuk karya audio visual
2. Sebagai referensi untuk pembelajaran mahasiswa di Universitas Dian Nuswantoro Semarang
3. Sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan mutu dan kualitas belajar di Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
1.5.2 Manfaat Praktis
1. Menambah ilmu pengetahuan tentang pembuatan program berita khususnya yang berformat investigasi.
2. Sebagai sarana kepedulian sosial dari masyarakat terhadap lingkungan sekitar.
3. Mengaplikasikan ide kreatif menjadi sebuah karya berita investigasi.
1.5.3 Manfaat Sosial
1. Sebagai sarana media pembelajaran bagi masyarakat yang melihat program ini.
2. Sebagai sarana media informasi tentang berita ivestigasi
1.6 METODE PENGUMPULAN DATA
1.6.1 Metode Yang Digunakan Dalam Menyelesaikan Proyek Akhir a. Observasi
Mengumpulkan data dengan cara melihat dan mengamati langsung penyalahgunaan lem serta dampak negatifnya.
5 b. Wawancara
Mengumpulkan data dengan melakukan wawancara langsung kepada pemakai dan seorang pakar kesehatan.
c. Studi pustaka
Mengumpulkan data dengan survei dan mencari referensi terkait dengan program berita investigasi yang baik dan berkualitas serta mempelajari literatur program televisi.
1.6.2 Pemilihan Target 1.6.2.1 Target Audien
Program acara “Telusur” memilih target audiens segala umur, karena dalam program ini banyak terkandung informasi mengenai jenis-jenis lem yang disalahgunakan, dampak psikologis. Informasi tersebut dapat dijadikan sumber informasi bagi masyarakat yang menonton agar lebih berhati-hati.
1.6.2.2 Pemilihan Narasumber Objek Liputan
Program acara “Telusur” memilih target Narasumber yaitu : a. Narasumber anak jalanan yang berumur 8-19 tahun.
b. Narasumber seorang pakar kesehatan.
1.6.3 Pemilihan Lokasi
Dalam memproduksi program liputan investigasi ini penulis memilih lokasi pengambilan gambar di sekitar kota Semarang, seperti Pasar Johar, Stasiun Tawang, jembatan penyebrangan Pasar Bulu, penulis juga mengambil beberapa lokasi lain sebagai penunjang.
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 INHALANSIA/SOLVEN/LEM
Inhalan atau solven (LEM) merupakan kimia yang menghasilkan pengaruh psikoaktif (mengubah perasaan dan pikiran seseorang) yang kuat pengaruhnya jika dihirup atau bahan yang mudah menguap yang dihirup. Inhalansia contohnya antara lain aerosol, aica aibon, isi korek api gas, cairan dry cleaning, tinner, uap bensin. Umumnya digunakan oleh anak di bawah umur atau golongan kurang mampu /anak jalanan
Gambar 2.1 Lem sintetis (Sumber : google)
Penggunaan menahun toluen yang terdapat pada lem sintetis dapat menimbulkan kerusakan fungsi kecerdasan otak. Banyak jenis inhalan atau lem yang digunakan anak jalanan yang sering disebut anak jalanan “ngelem” mirip senyawa organik berupa gas dan pelarut yang mudah menguap. Zat yang ada dalam lem bisa merusak sel-sel otak menjadi tidak normal bahkan bisa menyebabkan kematian. Salah satu zat yang terkandung di dalam lem tersebut adalah Lysergic Acid Diethyilamide (LSD).
Selain itu lem sintetis juga mengandung berbagai jenis bahan kimia diantaranya; volatile hidrokarbon, toluene aceton, alifatik acetat, benzine, petroleum naftat, perklorethylen, trikloretane, karbontetraklorida. Selain berisi volatile hidrokarbon, lem juga mengandung diethyleter, kloroform, nitrous oxyda, macam-macam aerosol, dan insektiside yang merupakan bahan berbahaya.
7
Efek penggunaan lem pada awalnya akan menjadi nikmat yang luar biasa, sangat tenang dan mendorong perasaan nyaman. Sering kali ada perubahan pada persepsi, pada penglihatan, suara, penciuman, perasaan serta tempat.
Namun efek negatif lem dapat menyebabkan hilangnya kendali emosi, disorientasi, depresi, kepeningan, perasaan panik yang akut serta perasaan tak terkalahkan, yang mengakibatkan pengguna menempatkan diri dalam bahaya fisik. Jika ini berkelanjutan maka akan timbul gejala psikotik akut seperti eksitasi, dis-orientasi, halusinasi dengan kesadaran berkabut, bahkan amnesia.
Dengan menghirup lem ini, seseorang bisa kehilangan kesadaran kurang lebih 15 menit, bahkan sampai beberapa jam. Jika dosisnya petroleum dan toluene besar, maka akan menimbulkan kejang-kejang, koma, dan bahkan kematian. Selain itu kematian bisa terjadi kerena kecelakaan, seperti kesulitan bernapas sewaktu menghirup lem yang berada di kantong plastik. Zat toluen yang masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata dan saluran pernapasan.Selain itu, zat ini juga dapat menyebabkan keracunan sistemik dengan efek pada susunan saraf pusat. (Moci, http://ciricara.com/2013/05/13/bahaya- menghirup-uap-lem/, diakses Senin 22 juni 2015, 20:21)
2.1.1 Sejarah Singkat
Berlangsung selama abad ke 19 di Eropa dan di AS. Eter digunakan sebagai narkoba untuk rekreasi selama masa Prohibition dalam tahun 1920-an, ketika alkohol menjadi bahan ilegal.Dalam tahun 1940-an, pengunaan bahan-bahan pelarut, khususnya bensin, untuk tujuan rekreasi, menjadi populer. Penyalahgunaan Inhalansia di Amerika Serkat meningkat pada tahun 1950-an dan saat ini digunakan luas di antara orang-orang dewasa.
Pada tahun 1960-an, menghirup zat pelarut telah menyebar hingga berbagai jenis produk komersial termasuk bahan cat, pelarut pernis, penghapus cat kuku, semir sepatu, lem, bahan cairan penyelut rokok, semprotan cat dan lain-lain.
Di tahun-tahun belakangan ini, menghirup bahan perekat dan gas menjadi masalah yang luas pada anak-anak jalanan tanpa rumah di Asia Selatan, Meksiko, Eropa Timur, Kenya dan di wilayah lain di seluruh dunia. Menghirup gas dan zat penyemprot juga secara umum dilakukan di daerah-daerah terpencil di Kanada, Amerika, Australia, Selandia Baru
dan beberapa kepulauan Samudera Pasifik.
(http://id.drugfreeworld.org/sites/default/files/truth-about-inhalants/, diakses Rabu 23 Juni 2015, 11:18 WIB)
8
Beberapa hal yang sering dilakukan berkaitan dengan penggunaan inhalansia pada anak jalanan adalah :
1. Faktor Ekonomi
Bagi mereka para anak jalanan, masalah ekonomi sudah menjadi masalah utama yang tidak berhujung. Pada waktu tertentu, ketika pikiran mereka merasa lelah akan kesulitan yang terus mereka hadapi, mereka mencoba menghirup lem (ngelem) untuk merelaksasi pikiran mereka.
2. Meredam Rasa Lapar
Ngelem menjadi alternatif para anak jalanan untuk meredam rasa lapar yang kerap mereka hadapi. Dengan ngelem, mereka akan tertidur atau hilang kesadaran, sehingga rasa lapar dapat teratasi sementara waktu.
3. Kedinginan
Tidur beratapkan langit sudah menjadi hal yang lumrah bagi para anak jalanan.
Acapkali mereka menggigil kedingingan, mereka ngelem untuk menghilangkan rasa kedinginan mereka, mengingat efek jangka pendek ngelem yaitu mati rasa.
4. Meredam Rasa sakit
Sama halnya dengan ketika mereka menghilangkan rasa kedinginan. Mereka ngelem untuk meredam rasa sakit akibat terluka.
2.1.2 Efek Jangka Pendek
Efek jangka pendek yang dirasakan saat menghirup uap solven meliputi gejala-gejala sebagai berikut:
1. Denyut jantung meningkat 2. Mual – muntah
3. Halusinasi
4. Mati rasa atau hilang kesadaran 5. Susah bicara atau cadel
6. Kehilangan koordinasi gerak tubuh
(Widya Farmati dalam buku Napza Ditinjau dari Segi Kesehatan, https://yosefw.wordpress.com/2011/10/05/waspadalah-terhadap-inhalansia/, diunduh Jumat 31 Juli 2015)
9 2.1.3 Efek Jangka Panjang
Karena uap solven tersebut bisa terakumulasi di jaringan tubuh, dalam jangka panjang jika terhirup terus menerus bisa memberikan efek jangka panjang. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Kerusakan otak (bervariasi, mulai dari cepat pikun, parkinson dan kesulitan mempelajari sesuatu)
2. Otot melemah 3. Depresi
4. Sakit kepala dan mimisan
5. Kerusakan saraf yang memicu hilangnya kemampuan mencium bau dan mendengar suara
6. Toksis pada hepar, otak, jantung & ginjal 7. Cepat lelah
8. Kelainan pada paru seperti asma dan pneumonitis hipersensitif 9. Kulit membiru
10. Kematian mendadak jika sampai melewati batas ambang toleransi tubuh
2.1.4 Ciri-ciri Pemakai Inhalansia
1. Mata merah, berkaca – kaca atau berair
2. Pengucapan kata – kata yang lambat, bergumam kental dan tidak jelas 3. Terlihat seperti orang mabuk
4. Bau bahan kimia di dalam ruangan
2.1.5 Bahaya Pemakaian Inhalansia
1. Merasa dirinya dapat terbang, sehingga dapat terjun dari tempat tinggi tanpa mati
2. Keracunan akut, dapat mati mendadak akibat menghirup inhalansia 3. Kejang saluran nafas
4. Keracunan kronis, merusak organ tubuh otak, ginjal, paru – paru, jantung, sum – sum tulang
5. Kulit dapat mengelupas karena keracunan terpentine (zat mudah menguap).
(http:// Kidshealth.org/, diakses 22 Juni 2015, 20:21)
10
2.2 PENGERTIAN PROGRAM BERITA INVESTIGASI
Berita adalah laporan tentang fakta atau ide yang termasa ( baru ), yang dipilih oleh staff redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca. Entah karena luar biasa, entah karena pentingnya, atau akibatnya, entah pula karena ia mencakup segi – segi human interest seperti humor, emosi dan ketegangan.
(Dja’far H. Assegaff, Jurnalistik Masa Kini (Pengantar Ke Praktek Kewartaan) Cetakan Pertama, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983, hal. 88.)
Investigasi adalah aktifitas atau proses pencarian dan pengumpulan data (menggali dan menganalisis) informasi tentang fakta yang menyangkut suatu masalah dengan menggunakan metode tertentu.
Menurut Atmakusumah reportase diambil dari kata latinReporting berasal dari kata reportare, yang berarti “membawa pulang sesuatu dari tempat lain”. Bila dikaitkan dalam dunia jurnalisme, hal itu menjelaskan seorang wartawan yang membawa laporan kejadian dari sebuah tempat di mana telah terjadi sesuatu.Sementara, investigative berasal dari kata Latin vestigum, yang berarti “jejak kaki”.Pada sisi ini, hal itu menyiratkan berbagai bukti yang telah menjadi suatu fakta, berbentuk data dan keterangan, dari sebuah peristiwa. Dengan demikian, bila digabungkan reportase investigative, secara harfiah, mengartikan kegiatan orang yang melaporkan adanya “jejak-jejak kaki” peristiwa tertentu dari tempat kejadian perkara. Dalam kaitan kegiatan pers, hal itu bisa mengkonotasikan berbagai bukti yang dapat dijadikan fakta, yang sengaja dicari dan diselidiki. Untuk melaporkan adanya kesalahan atau pelanggaran, atau kejahatan yang telah dilakukan seseorang atau pihak-pihak tertentu.
(http://www.dedot.info/2014/10/tentang-reportase-dan-wawancara-dalam.html/.22, diunduh Jumat 31 Juni 2015 pukul, 20:12 WIB)
Tahap awal ialah tahap pelaksanaan kegiatan riset. Dalam proses ini, dikerjakan upaya- upaya penelitian seperti pendefinisian isu, pencarian acuan literature teori, pengolahan dan pembahasan akumulasi fakta.
Tahapan selanjutnya setelah informasi diperoleh adalah melakukan penyelidikan tentang kebenaran informasi tersebut yang harus dapat memberikan keyakinan bahwa itu semua dapat dijadikan bukti yang tidak terbantahkan.
Tahap kedua merupakan tahapan kerja peulisan.Berbagai informasi hasil liputan penelitian sebelumnya di format kedalam wacana pelaporan. Pelaporan jurnalistik merupakan kerja penyampaian pesan yang memakai kaidah penulisan berita, yang menekankan pelaporan yang mengandung nilai-nilai seperti pemberian kelengkapan atribut narasumber,
11
keseimbangan melaporkan pihak yang berkonflik, keobjektifan fakta-berita, dan kejelasan, keringkasan serta kesederhanaan penyajian berita.
Tahap akhir adalah mengemas semua bukti-bukti yang diperoleh dari hasil investigasi kedalam laporan yang singkat namun padat untuk dapat disampaikan dan di pahami oleh pihak-pihak lain yang menerima laporan investigasi tersebut
Adapun metode investigasi terdiri dari :
1. Pengamatan lapangan atau lokasi tempat terjadinya investigasi.
2. Penggalian informasi untuk mendukung investigasi.
3. Pendokumentasian investigasi dalam bentuk foto, film, rekaman suara.
Jenis-jenis Investigasi dibagi menjadi dua, yaitu ;
1. Langsung : Investigator menjadi bagian secara langsung penyebab masalah (karyawan pabrik, buruh, pengusaha kayu, dll).
2. Tidak Langsung : Investigator merupakan pihak lain dalam persoalan yang terjadi.
Dalam penggalian data, apabila kita sudah ditolak, jangan bicara lagi. Kita harus lakukan improfisasi bagaimana agar orang tersebut mau berkata dan gali pengakuannya. Bangun hubungan emosional dulu, jangan langsung kepada pembicaraan, hal ini merupakan tekhnik yang perlu dipraktekkan. Jika menggunakan pendekatan etnis susah, gunakan pendekatan agama atau ikuti style masyarakat setempat, yang penting lakukan improvisasi. (Santana,S.
(2009), Jurnalisme Investigasi,(edisi revisi). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia)
3. 2.2.1 Teknik Penggalian Data Investigasi Pengumpulan Data
1. Dari dokumentasi berupa surat, laporan, peta, kliping.
2. Wawancara yang bersifat terbuka, terfokus, terstruktur.
3. Untuk wawancara terstruktur biasanya pertanyaan telah disediakan terlebih dahulu.
4. Observasi dilapangan (lanjutan tehnik pengumpulan data).
5. Menggunakan perangkat fisik teknologi seperti foto audio visual.
12 2.3 Jurnalisme Investigasi
Jurnalisme investigasi merupakan salah satu bagian penting dalam dunia keilmuan jurnalistik. Jurnalisme investigasi tidak hanya sekedar meliput, mencatat jawaban who, what, where, when, how dan why, kemudian merekamnya dan membuatnya menjadi berita. Wartawan yang menggeluti dunia investigasi harus bisa mencari data dan fakta yang lebih mendalam yang berhubungan dengan kasus yang sedang digelutinya. Mulai dari data dan fakta yang tampak di hadapan publik hingga data dan fakta yang belum terungkap di depan publik.
Kasus investigasi meliputi hal-hal yang memalukan, penyalahgunaan kekuasaan, dasar faktual dari hal-hal aktual yang tengah menjadi pembicaraan publik, keadilan yang korup, manipulasi laporan keuangan, bagaimana hukum dilanggar, perbedaaan antara profesi dan praktisi, hal-hal yang disembunyikan, dan lain-lain.
Wartawan investigasi mencoba mendapatkan kebenaran yang tidak jelas, samar, atau tidak pasti. Topik-topik investigasi mereka mengukur moralitas benar atau salah, dengan pembuktian yang tidak memihak yang didapat melalui riset atau penelitian.Tidak hanya sekedar menolak kesepakatan melainkan juga menyatakan apakah sesuatu yang terjadi itu sesuai dengan moral atau tidak.
Robert Greene dari newsday memberikan devinisi bahwa investigasi adalah karya sesorang atau tim untuk menguak sesuatu yang disembunyikan dari publik demi kepentingan masyarakat. Kegiatan investigasi sendiri memiliki tiga elemen dasar.
Pertama, kegiatan ini merupakan ide orisinil dari investigatornya, bukan merupakan hasil investigasi orang lain yang dilanjutkan oleh sebuah media. Kedua, subjek investigasi merupakan kepentingan bersama yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Serta yang ketiga adalah bahwa ada pihak-pihak yang mencoba menyembunyikan kasus tersebut dari publik.
Sedangkan Goenawan Mohammad menyatakan bahwa kegiatan jurnalistik investigasi merupakan jurnalisme “membongkar investigasi”. Secara umum investigasi bisa diartikan sebagai upaya pencarian dan pengumpulan data, informasi dan temuan lainnya untuk mengetahui kebenaran atau bahkan kesalahan sebuah fakta.
Umumnya memang hanya kalangan-kalangan tertentu saja yang bisa melakukan investigasi akan tetapi tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat untuk bisa melakukannya sehingga kegiatan investigasi ini bisa diperluas menjadi kegiatan publik.
13
Aktifitas jurnalisme investigasi mencakup fungsi-fungsi to describe, to explain, and to persuade.Reporter investigasi mengumpulkan akumulasi materi faktual ke dalam gambaran pengisahan yang utuh.Banyak dari berbagai materi itu yang perlu diperjelas dengan mengurutkan kembali letaknya pada sebuah konteks, kemudian menunjukkan keterkaitannya, sebab dan akibatnya, serta konsekuensinya.
Pada akhirnya, pekerjaan jurnalisme investigasi justru mengajak masyarakat untuk memerangi pelanggaran yang tengah berlangsung dan dilakukan oleh pihak- pihak tertentu.Kerja jurnalisme investigasi masuk ke dalam berbagai wacana publik yang tengah bergejolak atau berkonflik.Pada saat-saat tertentu, para juranalis investigasi ikut terlibat di dalam alur perkembangan politik nasional. (Santana,S.
(2009), Jurnalisme Investigasi,(edisi revisi). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia)
2.4 Cara Kerja Jurnalis Investigasi
Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya bahwa investigasi tidak hanya sekedar mengumpulkan data kemudian mengolahnya menjadi berita.namun ada tahapan-tahapan tertentu yang harus dilakukan oleh wartawan investigasi untuk mensukseskan laporan investigasinya. seperti cara kerja investigasi menurut Paul N Williams, seorang wartawan investigasi mengidealisasikan gambaran reportase investigasi secara lengkap melalui bukunya “Investigative Reporting and Writing”
dalam menjelaskan langkah Investigative Reporting, yaitu : 1. Conception
Unsur awal dari kerja investigasi ini berkaitan dengan apa yang disebut sebagai pencarian ide. Dan menurut Williams sebuah ide atau gagasan ide bisa didapat melalui saran dari seseorang, menyimak dari berbagai sumber, membaca, kepekaan dalam suatu peristiwa, dan bisa melalui observasi secara langsung.
2. Feasibility Study
Hasil dari mengkonsep suatu gagasan atau ide yaitu dengan mengukur kemampuan dan perlengkapan yang diperlukan yang bisa menghambat terhadap jalan kerjanya suatau kegiatan investigasi seperti jumlah anggota investigasi atau tim investigasi, tekanan-tekanan yang didapat baik secara personal maupun intansi media lain, dan menjaga kerahasiaan tema atau usulan investigasi dari individu atau intansi media lain.
3. Go – No – Go Decision
14
Langkah ini merupakan pengukuran dari hasil investigasi yang akan dilakukan.
Setiap liputan investigasi harus dapat memperhitungkan hasil akhir dari proyek investigasi atau penyelidikan yang akan dilakukan, dengan kesepakatan melanjuti peliputan atau menghentikan peliputan investigasi.
4. Basebuilding
Langkah ini berkaitan dengan upaya dari wartawan untuk mencari dasar pijakan atau dasar teori dalam menganalisis suatu kasus atau peristiwa yang akan dikupas secara lebih mendalam.
5. Planning
Langkah perencanaan yang berkaitan dengan langkah kerja yang akan dilakukan baik peliputan yang berawal dari perencanaan, pengumpulan data, penyusunan, dan pemilihan orang yang akan melakukan tugas-tugas tertentu.
6. Original Reseach
Kegiatan ini umumnya terbagi menjadi dua, papers trails dan people trails.
Papers trails adalah pencarian berbagai keterangan yang bersifat tekstual. Ini meliputi penggalian terhadap sumber-sumber skunder seperti surat kabar, majalah, selebaran, naskah-naskah, buku referensi, desertasi, tesis, database komputer, internet dan lain- lain.
Di samping itu yang lebih penting adalah dokumen-dokumen primer seperti, naskah, perjanjian, catatan administrasi, pajak, data-data kelahiran, kematian, keuangan, sampai database pemerintah. Sementara itu, people trails meliputi pekerjaan mencari dan mewawancarai sumber-sumber terkait. (Santana,S. (2009), Jurnalisme Investigasi,(edisi revisi). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia)
2.5 Karakteristik Jurnalisme
Dari keseluruhan kerja peliputan yang dilakukan jurnalisme investigasi, pada umumnya, ditemukan beberapa unsur yang dapat dikenali yang menjadi karakteristik wacana reportase investigasi. Weinberg memberikan unsur – unsur tersebut, sekaligus menunjukkan langkah – langkah kerja reportase investigative biasanya dilakukan.
Yakni sebagai berikut ; 1. Subjek Investigasi
Jurnalisme Investigasi memerlukan pengenalan terhadap subjek – subjek liputan.Sebelum melakukan kerja investigasinya wartawan-investigator mesti mengukur ketepatan subjek investigasinya.
15 2. Hipotesis Riset
Bantuan bagaimana yang dibutuhkan, dan bagaimana mengaktualisasikannya?
Siapa menang siapa kalah ?Mengapa ?Bagaimana?Beberapa pertanyaan ini mendasari pengembangan keja jurnalisme investigasi
3. Sumber Sekunder
Informasi yang telah di publikasikan atau disiarkan merupakan informasi yang telah menjawab pertanyaan – pertanyaan mendasar (answering basic questions).Berbagai informasi tersebut disebut materi keterangan dari sumber sekunder.Bagi jurnalisme investigasi, bila bahan keterangan tersebut telah layak periksa (independently verified), dapat menjadi petunjuk.Pemakaian metode penyelidikan polisi dan peralatan anti kriminalitas.Termasuk metode penyamaran serta memakai kamera tersembunyi.
4. Narasumber
Tiap dokumen sebenarnya menunjukkan kepada lokasi keberadaan narasumber (human sources) yang hendak di invetigasi keterangannya.
5. Teknik Riset
Dalam buku Get the Facts on Anyone : How You Can Use Public Sources to Check the Background of Any Person or Organization, wartawan Dennis King menyatakan istilah paper and people trails untuk pencarian informasi data parallel backgrounding and indirect backgrounding, Latar belakang parallel dan latar belakang tak langsung. Hal ini mengondisikan upaya pengumpulan informasi yang memisahkan, sekaligus menggabungkan, latar belakang informasi yang bersifat parallel dan tak langsung.
6. Mengorganisir Informasi dan Menulis – ulang
Bahan yang terkumpul dari secondary sources, primary document dan human sources, kerap menjadi terlalu banyak dan luas. Untuk itu, diperlukan langkah pengevalusian secara berkala (mingguan misalnya), membuat pilihan pendahuluan mengenai bahan/ keterangan/ informasi yang paling bernilai (valuable).
Jurnalisme investigasi berbeda dengan kegiatan jurnalisme investigasi lainnya.Liputan jurnalisme investigasi tidak berdasarkan pada agenda pemberitaan yang terjadwal.Peliputannya pun tidak dibatasi pada tekanan-tekanan waktu.Wartawan investigasi memaparkan kebenaran yang mereka temukan,
16
melaporkan adanya kesalahan-kesalahan serta menyentuh dan mengafeksi masyarakat terhadap persoalan yang ditemukan.
Jurnalisme investigasi tidak terikat dengan deadline, yang artinya seorang reporter infestigasi tidak diminta untuk membuat laporan harian.Ia memiliki rentan waktu yang lebih lama sehingga ada kebebasan mengembangkan bahan-bahan yang sudah diperoleh. Ia harus menelusuri kasus tersebut sampai benar-benar tuntas serta membuat masyarakat mengetahui akan kebenaran dari kasus tersebut. (Santana,S.
(2009), Jurnalisme Investigasi,(edisi revisi). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia)
2.6 Ciri Jurnalisme Investigasi
Jurnalisme Investigasi memang berbeda dengan kegiatan jurnalistik pada umumnya. Hugo De Burgh (2000) mengutip Boyd, Lylod, Edwards, Pilger, Tuchman, dan lainnya menjelaskan beberapa unsur dari jurnalisme investigative di dalam campuran bahasan antara teori dan praktek.
Dunia Jurnalisme mengenal perangkat nilai berita, seperti unsur-unsur poksimitas, relevansi, kecepatan, drama dan lainnya (Boyd, 1994).Para wartawan membuat berita berdasarkan sumber-sumber yang terkait, teragenda dan menjadi langganan informasi mereka. Selain itu, mereka juga menyeleksi, apa sumber informasi mereka layak atau tidak, mengandung kebenaran atau tidak. (Santana,S. (2009), Jurnalisme Investigasi,(edisi revisi). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia)
2.7 PENGARAH ACARA
2.7.1 Pengertian Pengarah Acara
Pengarah Acara adalah orang yang bertugas menginterpretasikan naskah seorang produser, menjadi suatu bentuk, suasana gambar dan suara, dalam menginterpretasikan harus selalu mengingat akan kepentingan penontonnya, dengan demikian pola pemikirannya harus sejalan dengan produser, hal demikian dimaksudkan agar hasil karyanya menjadi tontonan yang benar-benar dapat dinikmati.
2.7.2 Kriteria Menjadi Pengarah Acara
Seorang yang mempunyai profesi untuk bertanggung jawab terhadap kreativitas dan kwalitas gambar yang nampak di layar dimana di dalamnya ia bertugas mengontrol teknik sinematik, mempelajari dan meliput jalannya
17
acara, dan memimpin kerabat kerja berbagai bidang televisi seperti penata kamera, penata lampu, penata audio dan lain-lain, hingga menjadi tontonan yang berbobot dan dapat dinikmati. (Rukmananda Naratama. (2004), Menjadi Sutradara Televisi. Jakarta: Grasindo Santana)
Beberapa kompetensi atau kriteria orang yang layak dijadikan Pengarah Acara itu antara lain :
1. Memiliki pengetahuan yang cukup tentang perencanaan dan produksi acara televisi
2. Memiliki wawasan yang luas (sehingga memiliki kemampuan konseptual
3. Mampu menterjemahkan naskah kedalam bentuk visual 4. Memahami Philosofis Gambar / Visual
5. Memahami Grammer of Edit
6. Berjiwa seni (pekerja televisi adalah perpaduan antara pekerja teknis dan artistik)
7. Mampu berkomunikasi dengan kelompok produksi (tentunya sesuai kaidah-kaidah pertelevisian)
8. Memiliki ketegasan
9. Memiliki Komitment yang jelas
2.7.3 Peranan Pengarah Acara 1. Peranan Presentasional
Peranan Pengarah Acara pada tingkat ini terbatas pada teknik penyuguhan acara televisi yang bersifat merangkai gambar dan suara, dari hasil pemikiran seorang perencana acara atau producer.Acara yang ditangani masih bersifat umum, misalnya: Siaran Berita, Panel diskusi, Wawancara dan sejenisnya.
2. Peranan yang selektif
Pengarah Acara di sini akan memimpin suatu kelompok kerja produksi, di mana anggotanya merupakan tenaga ahli di bidangnya. Pada saat pertemuan pertama kerabat kerjanya akan memberikan saran, pemikiran dan pendapat atas pemikiran dan rencana yang disampaikan Pengarah Acara, di sini Pengarah Acara akan meneliti berbagai saran dan
18
pendapat dari kerabat kerjanya untuk kemung-kinannya dapat diterapkan pada saatnya nanti.
Pada akhirnya Pengarah Acara akan berkonsentrasi pada tugasnya, sedangkan anggota kerabat kerjanya telah mempersiapkan segala kemampuannya, agar acara yang akan ditangani bersama dapat berhasil sebaik-baiknya.
Karena dinamika acara yang ditangani cukup tinggi maka masalah kordinasi di antara anggota kerabatnya merupakan masalah yang mutlak, sehingga setiap anggota dapat mencurahkan ke bidang tugas masing- masing dengan penuh rasa tanggungjawab.
3. Peranan sebagai organisator
Sebagai organisator Pengarah Acara akan merancang dan memikirkan seluruh konsep produksi acara yang ditangani, sedangkan pada hal-hal tertentu akan menulis pula naskahnya, merancang staging treatmentnya.
Pengarah Acara akan bertindak sebagai pimpinan di dalam melaksanakan produksi, baik dilakukan di dalam studio maupun di luar studio.
Segala pemikiran Pengarah Acara yang tertuang di dalam konsep, akan direalisasikan menjadi suatu kenyataan oleh seluruh anggota kerabat kerjanya, sehingga akhirnya acara televisi bisa menjadi kenyataan dan yang lebih penting lagi sesuai dengan selera, keinginan serta kebutuhan khalayak. (Lalu Hendri Bagus. (2013). Crew Produksi Program Televisi Dan Tugasnya. Institut Seni Indonesia Yogyakarta).
19
BAB III
METODE PENCIPTAAN KARYA
3.1. Deskripsi Karya
Penulis memilih format berita investigasi dalam produksi ini, dekskripsi program sebagai berikut:
1. Nama Program : TELUSUR
2. Media : TV
3. Kategori Program : Berita Investigasi 4. Format Program : Investigasi 5. Format Produksi : Outdoor 6. Sifat Produksi : Tapping 7. Sasaran/ Segmantasi : Semua Umur 8. Durasi : ± 15 menit 9. Hari tayang : Minggu
10. Jam tayang :16.00-16.15 WIB
3.2. Obyek Karya dan Analisa Obyek
Dalam karya ini penulis mengangkat tema berita investigasi, mengenai penyimpangan sosial dalam penyalahgunaan lem sintetis sebagai obat penenang dan dampak negatifnya dikalangan anak jalanan. Penyalahgunaan ini kerap terjadi di sekitar masyarakat membuat penulis mengangkat tema penyimpangan sosial dalam berita investigasi. Semarang dipilih karena di kota ini juga sudah mulai banyak yang menggunakan inhalen, kebanyakan dari mereka adalah kalangan anak jalanan.
Lem sintetis termasuk dalam zat adiktif yang ternyata memang paling banyak di konsumsi kalangan anak jalanan di Semarang. Penulis memilih lokasi di daerah sekitar pasar Bulu karena di daerah tersebut penulis menemukan banyak anak jalanan yang sedang melakukan inhalen “ngelem”, kemudian penulis mencari tahu apa sebenarnya yang menjadi Alasan sehingga mereka sampai mengkonsumsi zat adiktif tersebut, dan terakhir penulis juga tidak lupa untuk menginformasikan efek samping juga bahaya yang ditimbulkan jika terus menerus mengkonsumsi zat adiktif tersebut.
20 3.3. Komparasi Program
Setiap program pasti memiliki ciri khas atau kekuatan program sebagai daya tarik, baik menciptakan konsep baru maupun memodifikasi program yang sudah ada, begitu pula program news investigasi Telusur yang terinspirasi dari beberapa program, diantaranya :
a) Reportase Investigasi
Reportase Investigasi adalah salah satu acara televisi dari stasiun televisi Trans TV. Reportase Investigasi berisikan materi berita untuk menguak suatu kejadian yang ada di sekitar masyarakat yang dikemas secara investigasi.
Reportase Investigasi ini dikemas secara santai dan berada di dalam program Reportase Sore.
b) SIGI
Sigi investigasi merupakan salah satu program investigasi yang ditayangkan disalah satu TV Swasta yaitu SCTV. Program ini mencoba memotret kejadian yang terdapat unsur - unsur kecurangan terhadap kepentingan masyarakat atau yang berdampak besar bagi masyarakat. Dalam hal ini SCTV dalam program Sigi Investigasi menggunakan Strategi pelaksanaan atau eksekusi dalam investigasi meliputi beberapa tahapan, metode dan teknik. Bagian dari tahapan adalah membentuk tim, melakukan riset, observasi awal, menentukan angle (fokus) dan merumuskan hipotesis, merancang strategi eksekusi, dan menyiapkan skenario pasca publikasi. Dengan memenuhi tiga syarat strategi pelaksanaan investigative reporting tersebut, maka liputan ini termasuk kedalam kategori peliputan investigative reporting.
3.4. Perencanaan Konsep Kreatif dan Konsep Teknis 3.4.1. Konsep Kreatif
“Telusur” adalah program televisi yang berformat news investigasi.
Program “Telusur” dikemas secara investigatif untuk menguak berbagai masalah yang ada di sekitar masyarakat, supaya menjadi sumber informasi dan masyarakat lebih waspada. Program acara “Telusur” di bawakan oleh seorang pembawa acara. Konsep yang penulis tuangkan dalam proyek akhir ini adalah sebuah investigasi gaya penyajian yang ringan dan menarik serta menggunakan struktur penuturan secara runtut.
a.) Dalam segi penyajian program acara Telusur menghadirkan
21
presenter (host) yang dianggap dapat menjadi daya tarik kemasan acara (Ayawaila, Gerzon R.2008).
Implementasi dari karya ini yaitu adanya presenter (host) yang memiliki karakter atraktif, gaya tutur bahasa yang ringan dan tegas. Alur cerita di setiap segmennya di tuturkan tahap demi tahap di sesuaikan dengan realita, disajikan dengan karakter presenter (host) serta narasi yang mendukung, misalnya adegan presenter (host) membawakan acara setiap segmennya dengan mimik dan intonasi yang jelas, sehingga dapat memperkuat keaslian dari program Telusur yang membahas mengenai penyalahgunaan lem sintetis serta dampak negatifnya. Segmen yang di sajikan di tiap alurnya di buat sedetail mungkin sehingga dapat menjadi sumber informasi bagi penonton khususnya di kalangan masyarakat, agar lebih berhati – hati dan waspada di lingkungan pergaulannya.
b.) Gaya Penyajian
Gaya penyajian yang penulis konsep adalah ringan, tegas dan menarik namun tetap memberikan knowledge kepada penonton. Gaya ini dipilih untuk menghindarkan acara yang bersifat membosankan atau bersifat menggurui.
Dalam penyajian program Telusur akan menyelipkan vox pop (kumpulan opini atau suara masayarakat) mengenai apa itu ngelem atau inhalen untuk mengetahui sejauh mana masyarakat tahu mengenai penyalahgunaan lem sebagai obat penenang.
Serta ilustrasi gambar yang menjelaskan isi cerita atau narasi untuk memperjelas isi sebuah cerita.
3.4.1.1. Sinopsis
Program yang berdurasi kurang lebih 20 menit ini menginformasikan lebih detail mengenai penyimpangan sosial mengenai inhalen yaitu penyalahgunaan lem sintetis sebagai obat penenang dan dampaknya.
Di program “Telusur” kali ini penulis mengambil objek ngelem di kalangan anak jalanan serta dampak negatifnya, karena banyak faktor yang menyebabkan anak jalanan terjerumus dalam kehidupan di jalanan, seperti: kesulitan keuangan keluarga atau
22
tekanan kemiskinan, ketidak harmonisan rumah tangga orangtua dan masalah khusus yang menyangkut hubungan anak dengan orangtua.
Kadangkala pengaruh teman atau kerabat juga ikut menentukan keputusan untuk hidup di jalan. Tidak jarang anak jalanan cenderung untuk terjerumus kedalam tindakan menyimpang. Salah satu perilaku yang popular menyimpang adalah “ngelem”, yang secara harafiah berarti menghirup lem.
Adapun lem yang digunakan oleh anak-anak jalanan untuk melakukan aktifitas “ngelem” tersebut adalah lem sintetis, lem perabotan atau lem alat rumah tangga. Umumnya efek akut bahan ini serupa dengan inhalasi ether atau mitrous oxyda (obat anastesi / bius umum) yang berupa euphoria ringan, mabuk, pusing kepala tapi masih dapat mengontrol pendapatnya. Sesudah itu ia akan merasa bahwa dirinya tenang, namun pada akhirnya tidak jarang melakukan tindakan anti-sosial dan tindakan impulsif dan agressif.
Di segmen pertama “Telusur” menayangkan vox pop dan menjelaskan kegunaan lem sintetis yang sebenarnya, lalu menjelaskan sedikit tentang kehidupan anak jalanan, kemudian di segmen kedua
“Telusur” akan mengungkap lebih dalam mengenai penyalahgunaan lem sintetis dengan menghadirkan narasumber anak jalanan dan menampilkan ilustrasi.
kemudian dilanjutkan memberi informasi mengenai apa saja jenis inhalasia yang biasa disalahgunakan sebagai penenang oleh kalangan anak jalanan, lalu di segmen terakhir Telusur akan lebih menjelaskan apa sebenarnya efek samping dan bahaya yang akan ditimbulkan jika menghirup lem dalam jangka waktu panjang, lalu di segmen terakhir host menutup acara serta memberikan kesimpulan.
23 3.4.1.2. Treatment
3.1 Treatment
NO VISUAL AUDIO
1 Color bar 2 Identitas karya 3 Count down SEGMEN 1
4 Opening program SFX
5 Opening host
(Lokasi: Wisma Perdamaian, Semarang)
LIVE
6 Establish
(Lokasi: Tugu Muda Semarang, Jembatan penyebrangan Pasar Bulu Semarang)
SFX
7 Voxpop masyarakat
(Pertanyaan: Taukah apa itu ngelem / inhalasia ?)
LIVE
8 Host in frame
(Menjebatani dari segmen 1 menuju segmen 2)
LIVE
9 Video teaser
(kehidupan anak jalanan, fungsi lem sebenarnya, penjelasan mengenai inhalasia)
NARASI
10 Bumper out SFX
SEGMEN 2
11 Bumper in SFX
12 Insert narasumber inhaler NARASI
13 Wawancara narasumber inhaler LIVE (SPYCAM)
14 Ilustrasi inhalasia
(Cara mendapatkan lem sampai mabuk)
NARASI
15 Video Teaser
(Jenis inhalasia: thinner, bensin, lem, Aseton, cat kuku)
NARASI
16 Bumper out SFX
SEGMEN 3
24
17 Bumper in SFX
18 Host in frame
(Mencari tahu kandungan zat yang terkandung dalam lem sintetis dan dampak negatifnya)
LIVE
19 Establish
(Lokasi: RSUP Dr. Kariadi)
SFX
20 Insert Dr. Avissena Dutha Pratama, Sp.P
(Penjelasan zat yang terkandung dalam lem sintetis dan bahayanya)
LIVE
21 Bumper out SFX
SEGMEN 4
22 Bumper in SFX
23 Host closing LIVE
24 Credit title SFX (crew)
25 LOGO UDINUS DAN BROADCASTING COPYRIGHT @2015
3.4.1.3 Naskah
Tabel 3.2: Naskah Program Telusur
NO VISUAL AUDIO
1 Color bar 2 Identitas karya
3 Count down SFX
SEGMEN 1
4 Opening program SFX
5 Opening host
(Lokasi: Wisma
Perdamaian, Semarang)
SELAMAT SORE PEMIRSA / APA KABAR ANDA HARI INI? / KEMBALI BERSAMA SAYA SOIB
TIARA DALAM BERITA
INVESTIGASI TELUSUR / YANG
MENGANGKAT FENOMENA
25
YANG TIDAK BIASA DI
MASYARAKAT / UNTUK KAMI
BAHAS DAN KAMI ULAS
SECARA TERBUKA / DAN TAJAM //
BERAWAL DARI PENASARAN
KEMUDIAN MENJADI
KEBIASAAN DAN SUATU
KEBUTUHAN / BANYAK REMAJA
YANG TERJERUMUS DALAM
PERGAULAN NEGATIF //
KENAKALAN REMAJA YANG
SERING TERJADI NAMUN
JARANG DISADARI / DAN DIKETAHUI OLEH ORANGTUA
SALAH SATUNYA ADALAH
INHALASIA / ATAU YANG
SERING DISEBUT DENGAN
MABUK LEM //
6 Establish
(Lokasi: Tugu Muda, Jembatan penyebrangan Ps. Bulu)
SFX
7 Voxpop masyarakat
(Pertanyaan: Taukah apa itu ngelem / inhalasia?)
LIVE
8 Host in frame
(Menjebatani dari segmen 1 menuju segmen 2)
TERDENGAR ASING MEMANG / BANYAK MASYARAKAT YANG TIDAK TAHU / BAHWA UAP LEM
JENIS TERTENTU DAPAT
BERDAMPAK NEGATIF APA
BILA TERHIRUP SECARA
BERLEBIHAN //
26
JENIS LEM SINTETIS YANG
SEJATINYA DIGUNAKAN
SEBAGAI PEREKAT LOGAM / FIBER / MAUPUN SEPATU / AKAN SANGAT BERGUNA JIKA
DIGUNAKAN DENGAN
SEMESTINYA //
NAMUN / BAGAIMANA JADINYA JIKA LEM JENIS TERSEBUT DISALAH GUNAKAN ? //
KAMI AKAN MEMBAHAS LEBIH
DALAM MENGENAI
PENYALAHGUNAAN LEM
SINTETIS / DAN DAMPAK NEGATIFNYA / BERSAMA SAYA SOIB TIARA INILAH TELUSUR //
9 Video teaser
(kehidupan anak jalanan, fungsi lem sebenarnya, penjelasan tentang inhalasia)
ANAK JALANAN KAMI
MENYEBUTNYA / KERASNYA KEHIDUPAN DI KOTA BESAR SEPERTI SEMARANG MEMBUAT
ANAK JALANAN HARUS
MELUPAKAN MIMPI DAN
MENINGGALKAN BANGKU
SEKOLAH //
BANYAK FAKTOR YANG
MENYEBABKAN ANAK
JALANAN TERJERUMUS DALAM KEHIDUPAN DI JALANAN /
SEPERTI KESULITAN
KEUANGAN KELUARGA ATAU TEKANAN KEMISKINAN DAN KETIDAK HARMONISAN RUMAH TANGGA //
27
TIDAK JARANG ANAK JALANAN BANYAK YANG TERJERUMUS
DALAM TINDAKAN
MENYIMPANG/
SALAH SATUNYA YAITU MABUK LEM //
LEM SINTETIS YANG LAZIMNYA DIGUNAKAN SEBAGAI PEREKAT
SEPATU / SERING DI
SALAHGUNAAKAN OLEH ANAK- ANAK JALANAN //
KANDUNGAN ZAT KIMIA DALAM LEM SINTETIS YANG MUDAH
MENGUAP / DAPAT
MENGHASILKAN PENGARUH
DALAM MENGUBAH EMOSI DAN PIKIRAN PEMAKAI / ATAU YANG SERING DI SEBUT INHALASIA DALAM ILMU KEDOKTERAN //
10 Bumper out SFX
SEGMEN 2
11 Bumper in SFX
12 Insert narasumber inhaler MABUK LEM MEMANG MURAH / KEBANYAKAN MEREKA YANG
MENGKONSUMSI ADALAH
ANAK-ANAK JALANAN //
DALAM SITUASI INI/ KAMI TIM TELUSUR / MENCOBA MENCARI TAU / DAN MENYELIDIKI APA
YANG MEMBUAT MEREKA
TERJERUMUS DALAM
PENYIMPANGAN SOSIAL
TERSEBUT //
28 13 Wawancara narasumber
inhaler
LIVE (SPYCAM)
(P: PERTANYAAN, J: JAWABAN) P: MULAI NGELEM SEJAK KAPAN
MBAK?
J: SAYA NGELEM SEJAK UMUR 12 TAHUN
P: TAU NGELEM DARI MANA MBAK?
J: DARI TEMEN TERUS SAYA COBA- COBA MALAH JADI KETAGIHAN P: YANG MEMBUAT KETAGIHAN
ITU APA?
J: BAUNYA
P: WANGI APA GIMANA?
J: IYA BAUNYA WANGI
P: SETELAH NGELEM YANG DI RASAIN ITU APA SIH?
J: YA GAK ADA RASANYA TOH MBAK
P: MAKSUDNYA JADI PUSING ATAU MUAL?
J: OH AKU KALO GAK NGELEM MALAH PUSING
P: SAYA PERNAH LIAT MBAK NYA
WAKTU NGELEM DAN
NGOMONGNYA AGAK CADEL, KALO HABIS NGELEM RASANYA KAYA MELAYANG YA?
J: IYA KAYA ORANG SUWUNG, ORANG YANG LAGI NGOBAT
P: KALAU HABIS NGAMEN
UANGNYA SERING BUAT BELI LEM DARI PADA BUAT BELI MAKAN YA MBAK?
29
J: YA KADANG MAKAN TOH MBAK, YA PALING BUAT BELI LEM NANTI NGAMEN LAGI TERUS SISANYA DI SETORIN KE IBU SAYA BUAT BANTU BAYAR KOS
KAN IBU SAYA NGEKOS
P: TERUS KENAPA MILIH MABUK LEM BUKAN MABUK PAKAI OBAT-OBATAN?
J: SAYA TAKUT KALAU PAKAI OBAT-OBATAN KAN DI AWASIN SAMA POLISI, TAPI KALAU NGELEM JUGA BIASANYA DI TANGKAP, SAYA GAK PERNAH DI TANGKAP TAPI PACARKU
PERNAH MASUK PENJARA
GARA-GARA MABUK LEM
TERUS SEMINGGU KEMUDIAN
KELUAR. DI PENJARANYA
GARA-GARA WAKTU LAGI
MABUK TERUS MELEMPAR
BATU KE IBU-IBU SAMPAI MATANYA IBU ITU CACAT. TAPI
SEKARANG NGURANGIN
MABUK LEMNYA, DULU SEHARI 3 KALENG SEKARANG KADANG 1 KALENG AJA SISA
P: TAU GAK MBAK KALO NGELEM BISA MERUSAK PARU-PARU DAN OTAK?
J: SEBENARNYA SAYA TAU
MAKANNYA SYA KURANGIN P: BERARTI TAU JUGA KALO
30
NGELEM BISA BERDAMPAK
KEMATIAN?
J: YO TAU MBAK, SOALNYA TEMAN SAYA JUGA ADA YANG MATI GARA-GARA NGELEM
P: ADA NIATAN BERHENTI NGELEM GAK MBAK?
J: ADA MBAK, TAPI
LINGKUNGANNYA BANYAK
YANG NGELEM JUGA JADI SUSAH
14 Ilustrasi inhalasia
(Cara mendapatkan lem sampai mabuk)
PADA KENYATAANNYA INHALASIA
MASIH BANYAK
DISALAHGUNAKANN //
BUKAN OBAT YANG DIHIRUP /
MELAINKAN ZAT ADIKTIF
DALAM BENTUK CAIR YANG DIHIRUP AROMANYA / KARENA ZAT ADIKTIF JENIS INI
MEMILIKI SIFAT MUDAH
MENGUAP //
NGELEM KERAP KALI DI LAKUKAN
OLEH SEBAGIAN ANAK
JALANAN UNTUK MELEPASKAN DIRI DARI BEBAN HIDUP YANG MEREKA JALAN I//
MEREKA DAPAT MENEMUKAN
KENIKMATAN SESAAT /
KENIKMATAN INI DIPEROLEH
DENGAN CARA MENGHISAP
ATAU MENGHIRUP AROMA
LYSERGIC ASID DIETHILAMIDE /
YANG JIKA DI GUNAKAN
31
DALAM DOSIS KECIL AKAN MENIMBULKAN EFEK SEPERTI ZAT PSIKOTROPIKA LAINNYA /
SEPERTI EUPORIA DAN
HALUSINASI //
SEMENTARA JIKA DIGUNAKAN DENGAN DOSIS TINGGI DAPAT
MENIMBULKAN EFEK
KETAKUTAN //
BAHKAN LEBIH DARI ITU / ZAT
INHALEN DAPAT
MENIMBULKAN KERUSAKAN
SERIUS PADA ORGAN TUBUH LAINNYA / TERUTAMA PADA PARU-PARU DAN LIVER / SEDANGKAN AKIBAT PALING
PARAH DARI
PENYALAHGUNAAN ZAT
INHALEN INI ADALAH
KEMATIAN //
15 Video teaser
(Jenis inhalasia: thinner, bensin, lem, aseton, cat kuku)
INHALEN YANG SERING
DISEBUT ANAK JALANAN
“NGELEM” / MERUPAKAN
SENYAWA ORGANIK BERUPA
GAS DAN PELARUT YANG
MUDAH MENGUAP //
INHALEN BANYAK TERDAPAT DI PRODUK-PRODUK SEPERTI BENSIN / ASETON / THINNER / DAN LEM SINTETIS //
LEM SINTETIS SERING DI PAKAI OLEH ANAK JALANAN KARENA
HARGANYA YANG CUKUP
32 MURAH //
16 Bumper out SFX
SEGMEN 3
17 Bumper in SFX
18 Host in frame
(Mencari tahu kandungan zat yang terkandung dalam lem sintetis dan dampak negatifnya)
SETELAH MENGETAHUI APA ITU INHALEN / KAMIPUN SEGERA MENCARI TAHU ZAT APA SAJA
YANG TEKANDUNG DALAM
LEM SINTETIS DAN DAMPAK NEGATIFNYA //
19 Establish
(Lokasi: RSUP Dr. Kariadi)
SFX
20 Insert Dr. Avissena Dutha Pratama, Sp.P
(Penjelasan efek samping dan bahaya inhalasia)
LIVE
ZAT YANG DIHIRUP ATAU INHALASIA DAPAT BERISI OBAT YANG BIASA DIGUNAKAN DI DUNIA KEDOKTERAN YAITU
UNTUK PELEGA SALURAN
NAFAS ATAU PENGENCER DA
HAK / ADA JUGA ZAT
BERBAHAYA YAITU ASAM
LISERGAT DIETILAMIDA ATAU LSD / YAITU ZAT SINTETIS YANG TERKANDUNG DI DALAM LEM //
ZAT INI JIKA MASUK KE TUBUH
MANUSIA DAPAT
MENYEBABKAN SUATU REAKSI HALUSINASI.
NAH DIA MEMPUNYAI EFEK PSIKO AKTIF SETELAH ADA DI DALAM BADAN SEKITAR 20 SAMPAI 30 MILIGRAM //
33
PADA SAAT PENGGUNA MENGHIRUP MEMPUNYAI EFEK HALUSINASI SETELAH SATU JAM PEMAKAIAN DAN DAPAT BERTAHAN SAMPAI DELAPAN JAM //
EFEK JANGKA PENDEK JADI
PADA PENGGUNA YANG
MENGHIRUP SELAIN
HALUSINASI DAPAT PULA RASA MUAL ATAU MUNTAH / DAPAT JUGA KARENA ITU MASUK
PEMBULUH DARAH SEL
PEMBULUH DARA AKHIRNYA
MENGGANGGU / IRAMA
JANTUNG AKAN BERDEBAR- DEBAR LALU NYERI KEPALA SEPERTI ITU //
NAH PADA PENGGUNA YANG
MEMAKAI TERUS DALAM
WAKTU DELAPAN JAM LALU MEMAKAI LAGI DAN MEMAKAI
LAGI AKHIRNYA AKAN
TERAKUMULASI DALAM
PEMBULUH DARAH YANG
DAPAT MENYEBABKAN EFEK
JANGKA PANJANG SALAH
SATUNYA ADALAH KELAINAN
SYARAF / KELAINAN
MOTORIKNYA / KELAINAN
OTAK TENTUNYA / KARENA
MEMPENGARUHI SISTEM
SUSUNAN SYARAF PUSAT
34
SERTA GANGGUAN EMOSI
SEPERTI DEPRESI / MUDAH
MARAH SEPERTI ITU //
TERIMAKASIH
21 Bumper out SFX
SEGMEN 4
22 Bumper in SFX
23 Host closing DARI LIPUTAN TADI KITA BISA MELIHAT BAHWA / PERHATIAN
DAN KEIKUT SERTAAN
ORANGTUA DALAM
MENGAWASI / DAN MENDIDIK
ANAKNYA SANGATLAH
PENTING / BEGITU JUGA
DENGAN LINGKUNGAN DI
SEKITARNYA //
SAKSIKAN KAMI DALAM
EPISODE YANG BERBEDA
MINGGU DEPAN HANYA DI TELUSUR //
24 Credit title SFX (crew)
25 LOGO UDINUS DAN BROADCASTING COPYRIGHT @2015
35 3.4.2. Konsep Teknis
3.4.2.1. Pemilihan Alat dan Bahan (Software)
Dalam membuat sebuah program acara hendaklah terlebih dahulu memperhatikan alat dan bahan yang akan digunakan, agar nantinya tidak menghambat proses kerja produksi. Begitu juga dalam pembuatan Proyek Akhir ini, yang menggunakan beberapa peralatan yang digunakan selama proses produksi. Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :
Tabel 3.3: Alat dan Bahan
JENIS PERALATAN JMLH
NAMA TIPE MEREK
SPY Kamera
BPR 6 1
Kamera 1. DSLR 660D SD memory 2. DSLR D5200 SD memory 3. SONY DCR-PJ5E
.Canon .Nikon SONY
1 1 1
Clip on Clip on 1
Tripod VCT-D680RM WT330B
Sony
Lightweight 1 1 Perekam
Audio
NP355V4X-A021D Samsung 1
Komputer Editing
1. Processor Intel Core i3 2,1 Ghz
2. Kartu Grafis nvidia ge force gt 540 2gb discrate graphic,
3. Ram 2gb 4. HDD 640gb Software :
1. Video 1. Adobe Premier Pro CS 6 dan
36 2. Gambar
visual 3. Audio
2. Adobe After Effects CS 6 1. Adobe photoshop
1. Nero Wive Edition
3.4.2.2.Set Desain atau Strategi Desain a) Setting
Setting tempat program berita investigasi Proyek Akhir ini adalah out door. Karena konsep program ini adalah menampilkan sebagian besar kalangan anak jalanan yang menggunakan lem sintetis sebagai obat penenang.
b) Looks, Mood, Tone and Manner
(1) Atraktif (2) Tegas (3) Knowledge (4) Modern c) Strategi Verbal
Sesuai konsep program berita investigasi dalam Proyek Akhir ini adalah bercerita mengenai investigasi obat penenang yang dipakai anak jalanan. Host di program ini sebagai penghubung ke segmen berikutnya supaya masyarakat lebih mudah untuk mengerti tiap alur di setiap segmen
d) Strategi Audio-Visual
(1) Ilustrasi musik yang digunakan adalah instrument musik yang tegas supaya lebih menyakinkan penonton mengenai berita investigasi. (2) Tipografi huruf teks di opening tune, menggunakan huruf yang tegas.
3.4.2.3. Sistem Kerja atau Produksi
Sistem kerja yang digunakan saat produksi berlangsung adalah :
a. Pengambilan gambar dengan berpegang pada treatmen, meskipun ada pengembangan adegan dilapangan.
b. Menggunakan sistem multi cam (menggunakan lebih dari satu kamera). Satu kamera DCR menjadi kamera master, satu kamera DSLR untuk insert-insert close up maupun detail-detail, dan satu
37
kamera DSLR untuk pengambilan establish dan back up insert dan pengambilan detail.
c. Berkoordinasi dengan narasumber. Karena ini adalah berita investigasi pengambilan sesuai dengan keadaan. Maka kami mengikuti narasumber meskipun kami mengarahkan sesuai sinematografi yang baik tapi tidak merubah keadaaan atau realita sebenarnya.
d. Dalam beberapa adegan obrolan atau secara tidak langsung adalah wawancara, menggunakan Teknik In-action, yaitu wawancara yang dilakukan saat subjek sedang melakukan kegiatan (In-action).
3.4.2.4. Teknik Berkarya
Sebagai program director dalam pembuatan berita investigasi Proyek Akhir ini, ada beberapa langkah atau teknik yang dilakukan, yaitu :
a. Ide atau gagasan, menentukan ide apa yang akan dibuat. Disini ide yang ditemukan adalah penyalahgunaan lem dan dampak negatifnya.
b. Setelah ide telah ditentukan, kemudian melakukan riset atau pengumpulan data sesuai dengan ide yang akan dibahas. Karena yang akan dibahas adalah penyalahgunaan lem dan dampaknya, maka pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dengan pengguna dan dokter, mencari di daerah Semarang tentang kalangan anak jalanan yang menggunakan lem sebagai obat penenang. Setelah data telah terkumpul, tahap selanjutnya adalah mentranskrip hasil-hasil wawancara dan merekap data-data pustaka yang telah didapat. Kemudian memilah-milah bahan atau data mana yang akan digunakan dan bahan mana yang tidak digunakan.
c. Tahap selanjutnya adalah penentuan konsep program akan dibuat seperti apa. Dalam berita investigasi ini konsep yang digunakan adalah bercerita tentang investigasi tentang penyalahgunaan lem dan dampak negatifnya.
d. Setelah konsep telah ditentukan, sinopsis dibuat.
38
e. Dari sinopsis kemudian lebih diperjelas lagi setiap adegannya dalam treatment.
f. Dari treatmen dibuat outline naskah (rancangan naskah). Karena jalan cerita atau naskah bisa saja berubah saat dilapangan.
g. Setelah produksi selesai, akan masuk tahap editing, dibuat full naskah untuk memudahkan editor dalam mengedit. Dalam full naskah dijelaskan bentuk narasi dan hasil wawancara yang akan dipakai.
3.5. Proses Berkarya
Suatu produksi program berita investigasi yang melibatkan peralatan, orang dan juga biaya yang tidak sedikit, selain memerlukan suatu organisasi yang rapi juga diperlukan suatu tahap pelaksanaan produksi yang jelas dan efisien. Setiap tahap harus jelas kemajuannya dibandingkan dengan tahap sebelumnya. Proses produksi meliputi tiga bagian yaitu pra produksi, produksi dan pasca produksi. Berikut riciannya:
3.5.1. Pra Produksi
a. Pengumpulkan semua data-data yang diperlukan (riset) untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang lem sebagai obat penenang.
b. Membuat sinopsis, treatmen dan perencanaan naskah sebagai landasan saat produksi nanti, kemudian dianalisa dan dipahami.
c. Menyusun team work yang akan membantu dari proses pra produksi, produksi dan pasca produksi, berikut susunannya:
Tabel 3.4 : Crew Program Telusur
NO NAMA JOBDESK
1. Daniar Dian Saputri Fauziyah Amrina Rosyada Ghufriyati
Produser
2. Ghufriyati PD/ Director
3. Daniar Dian Saputri Kameraman 4. Fauziyah Amrina Rosyada Penulis Naskah
5. Ghufriyati Peralatan
39
6. Jefri yanto Editor
7. Fauziyah Amrina Rosyada Unit Manager & Make up 8. Daniar Dian Saputri Dubber
9. Soib Tiara Presenter (Host)
d. Melakukan hunting lokasi.
e. Pengaturan semua jadwal kegiatan sebagai berikut:
Tabel 3.5: Working Schedule Program Telusur
N O
Taha pan
Aktifit as
Target Per Minggu
Okt Apr Mei Juni Juli 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 1 2 1
Pra Produksi
Penemu an ide
V
2 Riset V V
3 Huntin
g
V V V
4 Meetin
g Produk si
V V V
5
Produksi Shootin
g
V V V V
6
Pasca Produksi
Loggin g
V
7 Dubing V
9 Editing V
40
f. Perencanaan budget, berikut rinciannya:
Tabel 3.6: Perencanaan Budget Program Telusur NO JENIS BARANG JUMLAH HARGA 1. Perlengkapan
Produksi : 1. Clip On 2. Spy Cam
Rp 300.000,00 Rp 120.000,00 2. Konsumsi 3 orang Rp 100.000,00
3. Transportasi Rp 30.000,00
4. Biaya Lain-Lain Rp 100.000,00
Total Pengeluaran Rp 650.000,00
g. Perencanaan Jadwal Shooting
Rencana jadwal produksi dibuat supaya penulis dapat mengetahui estimasi waktu yang dibutuhkan untuk produksi Program Telusur ini, adapun rencana produksi yang telah ditentukan:
Tabel 3.7: Perencanaan jadwal shooting Program Telusur
TANGGAL LOKASI KEGIATAN
17-19 Feb 2015
Pasar Bulu Mengambil gambar Anak jalanan yang sedang menghirup lem (inhelen)
25-27 Feb 2015
Daerah Sampangan
Pengambilan gambar gaya hidup anak jalanan 3 Maret 2015 RSUP Dr. Kariadi Pengambilan statemen dari dokter mengenai kandungan dan dampak dari lem.
5 Maret 2015 sekitar Tugu Muda
pengambilan gambar vox pop
7 Maret 2015 Jembatan penyebrangan
Pengambilan gambar ilutrasi dan establish
41 bulu semarang 18-20 Mei
2015
Wisma perdamaian
Take host dan retake host
h. Pertemuan Tim Produksi
Dalam roduksi ini penulis melakukan tiga kali pertemuan. Pertemuan pertama menjelaskan mengenai konsep acara kepada tim produksi serta penyusunan job desk masing-masing. Pertemuan kedua persiapan tiap-tiap jobdesk dan sharing tentang program acara yang akan dibuat. Dan yang terakhir persiapan final menuju proses produksi.
i. Mempersiapkan segala sesuatu hal mulai dari peralatan, transportasi, akomodasi dan lain-lain.
3.5.2. Produksi
Proses pengambilan gambar dalam pembuatan investigasi Proyek Akhir ini dilakukan beberapa penggambilan gambar dengan rentan waktu yang berbeda supaya tidak menimbulkan rasa curiga terhadap target, wawancara narasumber dan pengambilan adegan presenter (host).
Pengambilan gambar dilakukan sesuai dengan treatmen yang telah dibuat walaupun ada pengembangan saat produksi. Berikut proses pengambilan gambar investigasi Telusur “penyalahgunaan lem sebagai obat penenang”
Tabel 3.8: Proses shooting Program Telusur
TANGGAL SHOOTING KE- KEGIATAN
17 Feb 2015 Ke satu Pengambilan gambar anak jalanan menggunakan handy cam
19 2015 feb Ke dua Pengambilan gambar
kehidupan anak jalanan menggunakan handycam.
4 Mei 2015 Ke tiga Take narasumber 12 Mei 2015 Ke empat Take vox pop 20 Mei 2015 Ke lima Take host 20 Mei 2015 Ke enam Take dokter 25 Mei 2015 Ke tujuh Retake host
42 3.5.3. Pasca Produksi
Pada proses pasca produksi ini terdiri dari proses editing. Disini semua crew sangatlah penting. Adapun proses pasca produksi antara lain :
a. Logging
Sebelum pelaksanaan editing, terlebih dahulu melakukan pendataan dengan logging untuk membuat editing list. Logging ini merupakan pendataan timecode yaitu dengan melihat hasil gambar yang telah diambil dan mencatat mana saja yang dipakai maupun yang tidak dipakai.
b. Dubbing
Sebelum video diedit, terlebih dahulu melakukan proses dubing. Ini dilakukan agar dalam proses edit nanti memudahkan editor untuk menyelaraskan gambar dengan narasi. Narasi dibacakan oleh seorang dubber, dalam berita investigasi ini adalah Daniar dian saputri.
c. Offline Editing
Proses menyatukan beberapa gambar yang sudah dipastikan akan dipakai. Proses ini hanya sekedar mengurutkan gambar, namun sudah mulai terlihat runtutan ceritanya dari awal hingga akhir.
d. Transisi
Pemberian transisi antar gambar baik itu cut, dissolve, dip to white maupun dip to black agar lebih sistematis dan dinamis.
e. Online Editing
Yang meliputi pemberian efek warna, efek suara, dan efek gambar serta memberikan title seperti judul, nama pemain, nama kru. Selain itu diberikan tambahan grafis pada gambar.
f. Preview
Melihat hasil editing dan melakukan koreksi-koreksi yang diperlukan untuk menambah sempurna hasil gambar dan suara.
g. Rendering
Proses menyatukan hasil editing video ke dalam sebuah video yang utuh.