SEKRETARIAT DEWAN PERWAKILAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
TAHUN 2017
LAPORAN KAJIAN EVALUASI PERATURAN DAERAH PEMANTAUAN PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH
NOMOR 18 TAHUN 1954
TENTANG LARANGAN PELACURAN DI TEMPAT-TEMPAT UMUM
LAPORAN KAJIAN EVALUASI PERATURAN DAERAH
PEMANTAUAN PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH NOMOR 18 TAHUN 1954 TENTANG LARANGAN PELACURAN DI TEMPAT-TEMPAT UMUM
SEKRETARIAT DEWAN PERWAKILAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
TAHUN 2017
Sekretariat
DPRD
DIY
Sekretariat
DPRD
DIY
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. Maksud dan Tujuan ... 2
C. Waktu dan Tempat ... 2
D. Keluaran ... 2
E. Metode ... 2
BAB II PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT ... 5
A. Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 1954 tentang Larangan Pelacuran di Tempat-tempat Umum ... 5
B. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ... 6
C. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 jo. UU Nomor 35 Tahun 2014 jo. Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak . 9 D. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga ... 11
E. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang ... 12
F. Beberapa Peraturan Daerah di Daerah lain ... 13
1. Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum ... 13
2. Peraturan Daerah Kabupaten Indramayu Nomor 7 Tahun 1999 tentang Prostitusi ... 16
3. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pelarangan Pelacuran ... 18
BAB III PERUMUSAN IDENTIFIKASI MASALAH ... 19
A. Permasalahan Mendasar ... 19
B. Masalah yang Dihadapi Bukan Sekedar Gejala ... 19
1. Perda tidak lagi sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya ... 19
Sekretariat
DPRD
DIY
2. Tidak terdapat ketegasan pengaturan mengenai pelarangan
prostitusi di Indonesia ... 21
3. Pengaturan yang fokus hanya kepada Pelacuran dan melupakan esensi tindakan asusila ... 22
4. Pengaturan yang ditujukan hanya kepada larangan saja bukan kepada pencegahan ... 23
5. Ancaman pidana yang tidak lagi relevan ... 24
C. Penyebab Timbulnya Masalah dan Pihak yang Terpengaruh ... 25
BAB IV IDENTIFIKASI ALTERNATIF PENYELESAIAN MASALAH ... 33
BAB V ANALISIS BIAYA DAN MANFAAT ... 34
A. BASELINE (KONDISI SAAT INI) ... 35
B. RISK ASSESMENT (PENILAIAN RISIKO) ... 37
C. OPTION (PILIHAN) ... 38
BAB VI PENENTUAN ALTERNATIF KEBIJAKAN TERBAIK ... 41
BAB VII PERUMUSAN STRATEGI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ... 42
A. MEKANISME PENERAPAN YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK ALTERNATIF TERPILIH ... 42
1. Analisis Kemungkinan Alasan Munculnya Ketidakpatuhan terhadap Perda yang baru ... 42
2. Derajat Pengetahuan dan Pemahaman Target Regulasi terhadap Regulasi yang Akan Dijalankan ... 42
B. DERAJAT KEMAUAN TARGET UNTUK MEMATUHI KARENA INSENTIF EKONOMI, KESADARAN SEBAGAI WARGA NEGARA YANG BAIK, PENERIMAAN TERHADAP TUJUAN PERDA ... 42
C. DERAJAT KEMAMPUAN TARGET DALAM MEMENUHI TUNTUTAN NORMA UU ... 43
D. MEKANISME YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MEMAKSA ATAU MENDORONG TARGET MEMATUHI NORMA UU YANG AKAN DITERAPKAN ... 43
DAFTAR PUSTAKA ... 44
Sekretariat
DPRD
DIY
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Istilah pelacuran atau prostitusi berasal dari bahasa latin Prosituere atau Prosature yang berarti membiarkan diri berbuat zinah, melakukan persundalan, pencabulan, pergundikan. Sedang prostitusi adalah pelacur atau sundal. Dikenal 1
pula dengan istilah WTS atau wanita tuna susila. Tuna susila atau tidak susila diartikan sebagai kurang beradab karena keroyalan relasi seksual dalam bentuk penyerahan diri pada banyak lelaki untuk pemuasan seksual dan mendapat imbalan jasa atau uang bagi pelayanannya. Tuna susila itu juga bisa diartikan sebagai salah tingkah, tidak asusila atau gagal menyesuaikan diri terhadap norma.2
Pada dasarnya tidak lagi menjadi perdebatan bahwa prostitusi adalah pelanggaran terhadap norma kesusilaan. Namun, harus diakui dan disadari bahwa beberapa Peraturan Daerah memberikan legalisasi pelaksanaan prostitusi yang biasa dikenal dengan istilah lokalisasi. Peraturan Daerah Provinsi DIY Nomor 18 Tahun 1954 adalah salah satu contoh dimana pelarangan prostitusi hanya diberlakukan di tempat umum, sehingga jika ditafsirkan berbeda, maka terdapat legalisasi di tempat yang khusus. Di Yogyakarta sendiri menggunakan hukum yang berlaku sejak tahun 1954 adalah jelas tidak lagi relevan mengingat perkembangan peraturan perundang-undangan mengenai prostitusi sudah sangat berkembang dan berubah-ubah.
Pada dasarnya Pasal 295 dan 296 KUHP telah memberikan larangan seks komersial. Kedua pasal ini adalah dasar bagi para penegak hukum menindak prostitusi yang terjadi di tempat umum. Namun, pengaturan pada Pasal 295 dan Pasal 296 KUHP tidaklah cukup untuk melakukan control terhadap tindak asusila, bahkan bias dibilang tidak dapat memberantasan tindakan asusila. Namun, menjadi pertanyaan pertama adalah apakah kebijakan hukum yang ingin diambil pemerintah daerah untuk menindaklanjuti prostitusi yang sedang terjadi di daerah.
Prostitusi, telah dinyatakan dalam berbagai penelitian dan kajian, menimbulkan dan memancing masalah atau tindak pidana lain. Dinyatakan bahwa di berbagai lokasi prostitusi, seringkali menciptakan keresahan kepada masyarakat
1Fitri Rubiyanti, “Penegakkan Hukum dalam Pemberantasan Prostitusi di Wilayah Hukum Batam”, Jurnal Ilmu Hukum Litigasi, Juli 2016, hlm. 1.
2Ibid.
Sekretariat
DPRD
DIY
sekitar karena banyak permasalahan lain yang ditimbulkan . Di sekitar lokasi 3
prostitusi di Jalan Bayur Kelurahan Sempaja Utara, Samarinda, adanya warung- warung yang menjual minuman keras seperti anggur, wisky, bir bintang, robinson, dan vodka, Sering terjadi perkelahian antar pemuda yang bertamu atau berkunjung ke lokasi prostitusi tersebut akibat pengaruh alkohol, dan adanya perdagangan perempuan yang diperdagangkan oleh germo-germo yang kemudian dijadikan Pekerja Seks Komersial (PSK) di lokasi prostitusi tersebut. Hal ini menunjukkan 4
bahwa pengaturan mengenai prostitusi menjadi sangat penting untuk dikontrol dan bahkan dikurangi.
B. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari Evaluasi Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 1954 tentang Prostitusi di Tempat Umum adalah untuk mengkaji relevansi pengaturannya pada saat ini untuk kemudian diputuskan untuk mempertahankannya, mencabutnya, atau membuat Peraturan Daerah yang baru untuk menggantikannya.
C. Waktu dan Tempat
Penyusunan Kajian Evaluasi waktu pengerjaan selama 3 Bulan dari bulan April-Juli 2017. Bertempat di lingkungan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
D. Keluaran
Keluaran kegiatan adalah tersedianya hasil evaluasi Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 1954 tentang Larangan Pelacuran di Tempat-Tempat Umum.
E. Metode
Metode yang digunakan dalam melakukan Evaluasi Peraturan Daerah ini adalah Regulatory Impact Analysis (RIA) atau Analisis Dampak Regulasi yang dipelopori oleh Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). RIA dibentuk untuk mengkaji relevansi peraturan perundang-undangan yang ada di suatu daerah untuk menjawab apakah peraturan perundang-undangan tersebut masih relevan, perlu diubah, atau bahkan perlu diganti dengan aturan yang baru. 5
3Mariyadi, “Persepsi Masyarakat Tentang Prostitusi Liar Di Kelurahan Sempaja Utara Samarinda,”
Jurnal Vol II No. 4 Tahun 2013
4Ibid
5OECD, 2008, Introductory Handbook for Undertaking Regulatory Impact Analysis, OECD Publisher.
Sekretariat
DPRD
DIY
RIA dianggap sampai saat ini sebagai metode yang relevan untuk mengevaluasi peraturan.
Dalam menjalankan metode ini, dilakukan dengan beberapa tahapan:
1. Menelaah Peraturan Daerah Provinsi DIY Nomor 18 Tahun 1954
Langkah awal dalam melakukan evaluasi Perda adalah menjelaskan secara sederhana mengenai substansi dari Perda tersebut untuk mengambil poin-poin penting pengaturannya. Langkah awal ini sangat penting sebagai landasan evaluasi.
2. Keterkaitan antara Peraturan Daerah Provinsi DIY Nomor 18 Tahun 1954 dengan Peraturan Perundang-Undangan terkait
Dengan berlandaskan pada asas Lex Superiori derogate legi Inferiori yang berarti bahwa hukum yang lebih tinggi akan menderogasi hukum yang lebih rendah, maka melihat keterkaitan Perda dengan Peraturan Perundang-Undangan di atasnya adalah keniscayaan. Perda Tahun 1954 tentu akan sangat sulit mengimbangi Undang-Undang yang dibuat 10 tahun terakhir. Oleh karena itu, menjadi sebuah kewajiban dalam mengevaluasi Perda juga dikaji Undang- Undang terkait yang berhubungan dengan Perda yang tengah dievaluasi. Hasil kajian ini akan sangat berguna untuk menentukan relevansinya dari sudut pandang yuridis dan berguna untuk membentuk hukum yang baru.
3. Mengidentifikasi permasalahan yang ada terkait Perda tersebut
Setelah itu, perlu dikaji masalah-masalah apa saja yang sangat krusial dalam pemberlakukan Perda. Permasalahan-permasalahan ini juga didukung hasil focus group discussion dengan tema relevansi pemberlakukan Perda ini. Dalam hal ini, masalah-masalah yang ada dalam pemberlakukan Perda juga harus dijelaskan secara detail dan harus diperkuat bahwa permasalahan- permasalahan tersebut adalah akar permasalahan bukan gejala.
4. Melihat pilihan-pilihan penyelesaian permasalahan
Dari permasalahan-permasalahan tersebut, maka akan dicari solusi untuk mengurangi atau menghapus akar-akar masalah tersebut. Dalam hal ini disediakan tiga opsi, yakni tidak melakukan apa-apa, melakukan perubahan Perda, atau mengganti Perda. Opsi ini dijelaskan secara umum terlebih dahulu.
5. Analisis Cost-Benefit terkait opsi penyelesaian masalah
Tahapan ini merupakan tahapan yang sangat krusial dalam melakukan evaluasi.
Di tahapan ini, semua opsi akan melalui uji cost and benefit dan dikaitkan dengan stakeholder. Dalam hal ini akan dilihat seberapa untung dan rugi stakeholder
Sekretariat
DPRD
DIY
pada masing-masing opsi. Dalam tahapan ini akan terlihat secara objektif, opsi terbaik yang memiliki benefit paling tinggi dan resiko paling rendah.
6. Penentuan penyelesaian masalah
Pada tahapan ini, ditentukan opsi terbaik yang dapat diambil atas hasil evaluasi Peraturan Daerah ini.
Sekretariat
DPRD
DIY
BAB II
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT
Prostitusi diatur dalam skala nasional dan lokal, dalam pengaturannya tersebut ada yang bersifat melengkapi, namun ada juga yang menyimpang dengan pengaturan lainnya. Oleh karena itu akan dikaji peraturan-peraturan terkait prostitusi baik skala nasional dan skala daerah. Sebelum membahas peraturan perundang-undangan terkait, akan dibahas terlebih dahulu substansi pengaturan dari Perda DIY Nomor 18 Tahun 1954.
A. Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 1954 tentang Larangan Pelacuran di Tempat-tempat Umum
Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 1954 tentang Larangan Pelacuran di Tempat-tempat Umum (selanjutnya disebut “Perda DIY tentang Pelacuran”) yang di terbitkan pada November tahun 1954 ini hanya berisikan 6 Pasal sederhana. Pasal 1 dan Pasal 2 adalah berkaitan dengan definisi, sedangkan Pasal 3 dan Pasal 4 berisi perbuatan pidana nya, Pasal 5 mengatur mengenai ancaman pidananya, dan ditutup dengan Pasal 6 yang menerangkan keberlakukan Perda ini.
Pasal 1 mendefinisikan Pelacuran sebagai perbuatan orang menyerahkan badannya untuk berbuat zina dengan mendapatkan upah. Dalam hal ini perbedaan mendasar perbuatan ini dengan Perzinahan dalam Pasal 284 KUHP adalah adanya
“upah” dan tidak adanya persyaratan “ikatan perkawinan”. Sehingga secara sederhana dapat disimpulkan perbuatan zina tersebut dapat dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan pernikahan dan juga orang yang belum memiliki hubungan tersebut. Selain itu, konsep pelacuran ini tidak murni suka sama suka, tetapi terdapat kesepakatan berdasarkan upah yang berarti bersifat komersil. Definisi pelacuran ini bahkan lebih umum daripada pengaturan dalam KUHP yang bahkan mensyaratkan usia. Saking bersifat umum tidak ada pembatasan, apakah perzinahan ini melingkupi perbuatan cabul atau hanya terbatas kepada hubungan langsung kedua alat kelamin.
Kemudian, Pasal 2 Perda DIY tentang Pelacuran mengatur definisi tentang Tempat Umum yang melingkupi Jalan-jalan, tanah-tanah lapang, dan lain sebagainya yang mudah dilihat dan didatangi. Konsep ini bersifat sangat umum sehingga dapat berlaku dalam wilayah yang cukup luas. Namun, perlu diingat bahwa Perda DIY tentang Pelacuran hanya berlaku sebatas pada wilayah DI Yogyakarta.
Sekretariat
DPRD
DIY
Selain itu, Pasal 3 dan 4 Perda DIY tentang Pelacuran merumuskan delik dalam Perda ini. Pasal 3 mengatur “Barang siapa yang di tempat umum, dilarang membujuk orang lain, baik dengan perkataan, perbuatan, isyarat, maupun cara-cara lain untuk berbuat mesum”. Sedangkan, Pasal 4 mengatur “Barang siapa yang karena tingkah lakunya menurut pejabat yang berwenang diduga akan melakukan perbuatan mesum, setelah mendapat peringatan, dilarang berada di tempat umum tersebut. Terdapat beberapa kekurangan dalam pengaturan Perda tersebut.
Pertama, Judul dan Pasal 1 Perda menunjukkan kepada definisi PELACURAN.
Namun, dalam perbuatan pidananya mengandung rumusan PERBUATAN MESUM.
Dalam hal ini terdapat kesulitan penafsiran mengenai perbuatan mesum yang belum didefinisikan. Pertanyan terbesarnya adalah apakah perbuatan mesum tersebut harus mendapatkan upah atau tidak sebagaimana definisi pelacuran dalam Pasal 1 Perda DIY tentang Pelacuran. Kedua, Pasal 4 menunjukkan konsep ultimum remidium atau menempatkan pidana sebagai sarana terakhir. Hal tersebut ditunjukkan dengan kewajiban bagi pihak berwenang untuk menegur terlebih dahulu sebelum menindak. Namun, Pasal 4 ini tidak dikaitkan secara langsung dengan Pasal 3, sehingga akan sangat mungkin menimbulkan multi tafsir bagi kalangan penegak hukum. Kelemahan pengaturan perbuatan pidana dalam Pasal 3 dan Pasal 4 Perda ini menunjukkan kelemahan pengaturan. Ketidaksesuaian ini juga tidak memenuhi syarat lex certa yakni perumusan delik harus jelas.
Terlebih, Pasal 5 yang mengatur mengenai ancaman pidana juga terlihat sangat tidak relevan. Pasal 3 dan Pasal 4 tersebut diancam dengan Pidana 1 Bulan Kurungan dan Denda 100 rupiah. Berkaitan dengan denda yang terlalu kecil, sebenarnya terdapat Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 yang merubah ancaman pidana di KUHP untuk dikalikan 1000. Namun jumlah itu tetap saja kecil untuk delik ini dan Perma Nomor 2 Tahun 2012 tersebut juga tidak mengikat Perda. Dapat dikatakan dengan tegas dan pasti bahwa Pasal 5 ini menunjukkan ketidak relevansian antara Perda dengan perkembangan ancaman pidana dalam kebijakan hukum pidana di Indonesia.
B. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Jika kita membahas mengenai suatu hukum pidana yang tertulis, maka Indonesia sampai dengan waktu tulisan ini dibuat masihlah menggunakan Wetboek Van Strafrecht voor Nederlandsch Indies yang telah disederhanakan menjadi Wetboek van Strafrecht (KUHP) sebagai kodifikasi Hukum Pidananya. Dasar daripada 6
6Teguh Prasetyo, 2010, Hukum Pidana, hlm. 27.
Sekretariat
DPRD
DIY
berlakunya KUHP tersebut Indonesia dapat dilihat berdasarkan Pasal 1 Undang- Undang no. 1 tahun 1946 yang berbunyi: “Dengan Menyimpang Seperlunya dari 7
Peraturan Presiden Republik Indonesia tanggal 10 Oktober 1942 no.2, menetapkan bahwa hukum Pidana yang berlaku di Indonesia ialah Hukum Pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942.”
12 tahun Setelah dikeluarkannya Undang-Undang tersebut, Pemerintah Negara Republik Indonesia mengeluarkan lagi UU no. 73 tahun 1958 yang pada pokoknya menyatakan berlakunya UU no. 1 tahun 1946 ke seluruh wilayah di Indonesia. Hal tersebutlah yang menjadikan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana 8
(W.V.S.) sebagai sumber utama Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia.
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) lebih dikenal rumpun kejahatan terhadap kesusilaan. Menurut Adam Chazawi dalam bukunya yang berjudul “Tindak Pidana Mengenai Kesopanan” bahwa kata kesusilaan telah dipahami oleh setiap orang, sebagai suatu pengertian adab sopan santun dalam halyang berhubungan dengan seksual atau dengan nafsu berahi, atau yang 9
diistilahkan oleh Laden Marpaung, S.H. sebagai behaviour in relation to sexual matter. Tindak pidana yang berhubungan dengan kekerasan seksual dalam KUHP 10
antara lain pasal 285, 286, 287, 288. Lalu pasal-pasal lain yang termasuk dalam kategori behaviour in relation to sexual matter ant /ara lain pasal 289 hingga pasal 296 KUHP mengenai pencabulan.
Dalam KUHP berkaitan dengan tindak pidana kesusilaan terdapat beberapa jenis kejahatan, seperti Perkosaan, Perzinahan, dan perbuatan cabul.
Berkaitan dengan pelacuran atau prostitusi, paling tidak terkait dengan tiga pasal, yakni Pasal 295, 296, dan Pasal 297 KUHP.
Pasal 295 ayat 1 KUHP: Dihukum dengan hukuman penjara selama- lamanya lima tahun, barangsiapa yang dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul yang dikerjakan oleh anaknya, anak tirinya atau anak angkatnya yang belum dewasa, oleh anak yang dibawah pengawasannya, orang yang belum dewasa yang diserahkan kepadanya supaya dipeliharanya, dididiknya atau dijaganya atau bujagannya yang dibawah umur atau orang yang di bawahnya dengan orang lain.
Pasal 295 ayat 2 KUHP: Dihukum dengan hukuman penjara selama- lamanya empat tahun, barang siapa yang dengan sengaja di luar hal-hal yang
9Adami Chazawi, 2005, Tindak Pidana Mengenai Kesopanan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 2.
10Laden Marpaung, S.H.,2004, Kejahatan Terhadap Kesusilaan dan Masalah Prevensinya, Cetakan kedua, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 4.
Sekretariat
DPRD
DIY
tersebut pada (ayat) 1 menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain yang dikerjakan oleh orang belum dewasa yang diketahuinya atau patut disangkanya bahwa ia belum dewasa.
Kedua ayat dalam Pasal 295 KUHP berkaitan dengan statutory rape atau perbuatan asusila dengan anak di bawah umur. Dalam konsep ini terdapat perbedaan mendasar dengan Perda DIY tentang Pelacuran yang mengatur perbuatan mesum secara umum. Pasal 295 KUHP melarang adanya perbuatan mesum khusus bagi anak di bawah umur. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak di bawah umur adalah setiap orang yang berumur di bawah 18 tahun. Dalam konsep ini, baik di bayar maupun tidak di bayar setiap orang yang membuat anak di bawah umur berbuat mesum diancam dengan pidana. Dalam hal ini melingkupi tindakan pelacuran. Germo ataupun perantara lain yang membuat anak di bawah umur menjadi pelacur dapat dijatuhi pidana.
Pasal 296 KUHP: Barangsiapa yang pencahariaannya atau kebiasaannya yaitu dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain dihukum penjara selama-lemanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 15.000,-. Pasal 296 KUHP ini menunjukkan larangan yang mengarah kepada prostitusi. Dalam hal ini siapapun yang menjadi perantara tindakan pelacuran maka diancam dengan Pasal 296 KUHP tanpa melihat pelaku prostitusi di bawah umur atau tidak.
Pasal 297 KUHP: Memperniagakan perempuan dan memperniagakan laki-laki yang belum dewasa dihukum penjara selama-lamanya enam tahun. Pasal 297 bersifat lebih luas. Pasal tersebut menjerat pelaku yang memperdagangkan perempuan baik di bawah umur ataupun tidak, serta laki-laki di bawah umur.
Bersifat umum karena tujuan perniagaan itu tidak sekedar seksual, namun dapat juga berkaitan dengan perbudakan, pekerjaan paksa, atau sekedar untuk diadopsi.
Nilai yang terkandung dalam pasal ini berkaitan dengan perdagangan orang. Pasal ini masih bersifat terbatas karena tidak melarang perdagangan laki-laki yang sudah cukup umur. Oleh karena itu, pengaturan lebih lanjut mengenai hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Orang.
Kesimpulan dari pembahasan mengenai keterkaitan KUHP dengan Perda DIY tentang Pelacuran adalah Perda tersebut tidak lagi relevan. Pasal 295 dan Pasal 296 sudah dengan baik mengatur larangan pelacuran. Meskipun perbedaan mendasarnya adalah KUHP mengatur terbatas hanya kepada perantara atau germo nya saja. Sedangkan Perda DIY mengatur untuk pelakunya. Dalam hal ini menjadi penting Perda DIY mengatur nilai-nilai yang terkandung dalam KUHP dan
Sekretariat
DPRD
DIY
diberlakukan untuk pelakunya. Pengaturan mengenai “tempat umum” juga hanya akan mempersulit pembuktian. KUHP tidak mengatur mengenai tempat, namun hanya tindakannya saja. Hal ini yang perlu diatur lebih lanjut di Perda DIY.
C. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 jo. UU Nomor 35 Tahun 2014 jo.
Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak
Terry E. Lawson berpendapat bahwa kekerasan terhadap anak dapat digolongkan menjadi empat macam, yaitu; emotional abuse, verbal abuse, physical abuse, dan sexual abuse. Emotional abuse terjadi ketika orang tua/pengasuh dan 11
pelindung anak setelah mengetahui anaknya meminta perhatian, mengabaikan anak itu.Ibu atau pengasuh membiarkan anak basah atau lapar karena ibu terlalu sibuk atau tidak ingin diganggu pada waktu itu.Ibu boleh jadi mengabaikan kebutuhan anak untuk dipeluk atau dilindungi. Anak akan mengingat semua kekerasan emosional jika kekerasan emosional itu berlangsung konsisten. Orang tua yang secara emosional berlaku keji pada anaknya akan terus-menerus melakukan hal sama sepanjang kehidupan anak itu. Verbal abuse terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak, setelah mengetahui anaknya meminta perhatian, menyuruh anak itu untuk diam atau jangan menangis.Jika si anak mulai berbicara, ibu terus- menerus menggunakan kekerasan verbal seperti, “kamu bodoh”, “kamu cerewet”, dsb. Anak akan mengingat semua kekerasan verbal jika semua kekerasan verbal itu berlangsung dalam satu periode. Physical abuse terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak memukul anak (ketika anak sebenarnya memerlukan perhatian). Pukulan akan diingat anak itu jika kekerasan fisik itu berlangsung dalam periode tertentu. Sedangkan, sexual abuse biasanya tidak terjadi selama delapan belas bulan pertama dalam kehidupan anak.Eksploitasi seksual pada anak adalah ketergantungan, perkembangan seksual aktivitas yang tidak matur pada anak dan orang dewasa, dimana mereka tidak sepenuhnya secara komprehensif dan tidak mampu untuk memberikan persetujuan karena bertentangan dengan hal yang tabu di keluarga. Bentuk – bentuk kekerasan terhadap anak yang diatur dalam Undang – 12
Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak antara lain :
a. Diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami kerugian materiil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya (Pasal 77).
b. Penelantaran terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami sakit atau penderitaan fisik, mental, maupun sosial (Pasal 77).
11Abu Huraerah, 2007, Child Abuse : Kekerasan terhadap Anak, Nuansa, Bandung, hlm. 47.
12Dunia Psikologi, “Bentuk – Bentuk Kekerasan Anak (Child Abuse)”, http:// www.duniapsikologi .com, diakses 10 Juni 2017.
Sekretariat
DPRD
DIY
c. Membiarkan anak dalam situasi darurat, seperti dalam pengungsian, kerusuhan, bencana alam, dan/atau dalam situasi konflik bersenjata (Pasal 78).
d. Membiarkan anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, anak korban perdagangan, padahal anak tersebut membutuhkan pertolongan dan harus dibantu (Pasal 78).
e. Pengangkatan anak yang tidak sesuai dengan pasal 39 (Pasal 79). Melakukan kekejaman, kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak (Pasal 80).13
Pengaturan spesifiknya dapat dilihat dalam Pasal 66 yang menyatakan
“Perlindungan Khusus bagi Anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) huruf d dilakukan melalui:
a. penyebarluasan dan/atau sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Perlindungan Anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual; b. pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi; dan c.
pelibatan berbagai perusahaan, serikat pekerja, lembaga swadaya masyarakat, dan Masyarakat dalam penghapusan eksploitasi terhadap Anak secara ekonomi dan/atau seksual.”
Pasal ini dapat berkaitan dengan tindakan prostitusi atau pelacuran yang melibatkan anak-anak. Siapapun yang terlibat akan dikenakan ancaman pidana.
Pasal tersebut kemudian diperkuat Pasal 76D dan 76 I. Pasal 76D menyatakan “Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.”
Sedangkan, Pasal 76I menyatakan, “Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual terhadap Anak.” Dalam Pasal 76D adalah perbuatan persetubuhanyang dilakukan secara umum baik dengan upah atau tidak, memenuhi perbuatan ini. Namun terdapat unsur “memaksa”. Pasal 76I adalah berkaitan dengan eksploitasi seksual dimana dalam hal ini sangat dekat dengan pengaturan prostitusi.
Berkaitan dengan UU Perlindungan Anak, pemerintah dalam kondisi kegentingan yang memaksa mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti
13Pasal 77 – 78 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlidungan Anak. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109)
Sekretariat
DPRD
DIY
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Perlindungan Anak. Perppu ini fokus kepada Pasal 76D. Perppu ini merubah Pasal 81 menjadi:
“(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap Orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
Pada Pasal 81 ayat (1) ancaman pidananya dibuat semaksimal mungkin menjadi 15 tahun dan denda lima miliar rupiah. Selain itu, rumusan delik
“memaksa” diperlua menjadi serangkaian kebohongan dan membujuk sehingga sekalipun hubungan dilakukan atas dasar suka sama suka, perbuatan setubuh dengan anak di bawah umur dipidana dengan ancaman pidana yang cukup tinggi.
Selain itu, bagi pengulang tindak pidana juga diberi ancaman pidana kebiri. Dalam hal ini Perda DIY tentang Pelacuran telah tertinggal jauh dengan UU Perlindungan Anak. Perda DIY seharusnya membuat larangan prostitusi yang lebih tegas untuk menghindari potensi anak yang dieksploitasi dan anak yang terkena dampak prostitusi.
D. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Pasal 1 angka 1 menyatakan “Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.” Dalam hal ini ditegaskan bahwa lingkup tindakan asusila juga hanya berada dalam lingkup rumah tangga. Namun, potensi prostitusi itu tetap sangat besar.
Pasal 8 menyatakan “Kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c meliputi: a. pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut; b. pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.” Dalam Pasal tersebut terlihat ada dua bentuk kekerasan seksual. Bentuk kedua kekerasa seksual tersebut dapat saja
Sekretariat
DPRD
DIY
seorang suami memaksa atau menyuruh istrinya bekerja sebagai pekerja seks komersial atau membiarkan istrinya seperti itu, maka dapat memenuhi bentuk kedua. Dalam praktiknya karena kebutuhan ekonomi hal tersebut sangat mungkin terjadi. Pasal 47 mengatur ancaman pidananya sebagai berikut “Setiap orang yang memaksa orang yang menetap dalam rumah tangganya melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling sedikit Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) atau denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).” Dalam hal ini, tidak jauh berbeda dengan UU Perlindungan Anak, ancaman pidana prostitusi dalam lingkup rumah tangga juga cukup signifikan.
Dalam hal ini menjadi sangat penting bahwa Peraturan Daerah mengatur lebih lanjut lagi potensi-potensi prostitusi yang ada di daerahnya. Dalam hal ini, sama dengan UU Perlindungan anak, UU KDRT tidak mengatur mengenai orang yang dengan suka rela terlibat dalam seks komersial. Kekosongan hukum ini yang penting diatur dalam peraturan dalam lingkup daerah.
E. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang
Untuk menanggulangi TPPO, pemerintah membentuk UU TPPO. UU ini dibentuk atas beberapa pertimbangan. Salah satu landasan yuridis dibentuknya UU ini adalah Pasal 28B UUD NRI Tahun 1945 yang menyatakan setiap anak berhak untuk hidup, untuk tumbuh dan berkembang serta untuk dilindungi dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi. Terlebih, dinyatakan bahwa TPPO telah 14
dilakukan dengan berbagai modus operandi yang kompleks serta dilakukan secara internasional dan telah menjadi ancaman besar bagi Warga Negara Indonesia. 15
Selain itu juga ditekankan sebelum dibentuknya UU TPPO, pengaturan mengenai TPPO dalam peraturan perundang-undangan lain masih sangat lemah. Oleh karena itu, UU TPPO lahir untuk menanggulangi TPPO secara komprehensif.
UU TPPO mendefinisikan TPPO sebagai perbuatan merekrut, menempatkan, memindahkan, mengirim orang dengan berbagai bentuk, seperti pemaksaan dan penipuan dengan tujuan eksploitasi. Kemudian TPPO 16
14 Pasal 28B, UUD NRI 1945.
15Konsideran Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
16Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
Sekretariat
DPRD
DIY
didefinisikan lebih lanjut sebagai semua kejahatan yang diatur di dalam UU TPPO. 17
Eksploitasi adalah segala perbuatan baik ada persetujuan ataupun tidak dari korban dalam, namun tidak terbatas pada, seks komersial, pekerja paksa, perbudakan, dan bentuk lain yang dapat dipersamakan. Dapat dilihat secara jelas 18
bahwa pengaturan dasar dari UU TPPO juga sama dengan pengaturan dalam UN Protocol on Trafficking in persons.
Pasal 2 UU TPPO mengkonstruksikan TPPO yang duancam pidana penjara minimum 3 tahun dan maksimum 15 tahun penjara dan denda minimal 120 juta dan maksimal 600 juta rupiah. Ancaman pidana dalam UU TPPO yang menggunakan 19
indeterminate sentence atau minimum khusus serta maksimum khusus serta penggunaan sistem kumulatif menunjukkan seberapa berat ancaman pidana pada TPPO. Beberapa jenis TPPO lainnya juga diatur dari Pasal 3 sampai dengan Pasal 18 UU TPPO.20
Pasal 1 angka 8 UU Perdagangan Orang menyatakan “Eksploitasi Seksual adalah segala bentuk pemanfaatan organ tubuh seksual atau organ tubuh lain dari korban untuk mendapatkan keuntungan, termasuk tetapi tidak terbatas pada semua kegiatan pelacuran dan percabulan” Dalam Pasal ini, mengatur konsep yang lebih umum. Secara tegas juga dapat dipastikan bahwa pelacuran masuk ke dalam jenis perdagangan orang. Hal ini ditegaskan dalam rumusan “tidak terbatas pada pelacuran”. Dalam hal ini pada dasarnya UU Perdagangan Orang dengan ini menyatakan bahwa pelacuran adalah eksploitasi seksual. Salah satu ketentuan pidananya dapat dilihat pada Pasal 2 menyatakan “Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).”
17Pasal 1 angka (2) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
18Pasal 1 angka (7) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
19Pasal 2 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
20Pasal 3-18 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang..
Sekretariat
DPRD
DIY
Dalam ketentuan yang bersifat umu mini dapat termasuk eksploitasi seksual.
Selain itu, Pasal 12 juga menyatakan “Setiap orang yang menggunakan atau memanfaatkan korban tindak pidana perdagangan orang dengan cara melakukan persetubuhan atau perbuatan cabul lainnya dengan korban tindak pidana perdagangan orang, mempekerjakan korban tindak pidana perdagangan orang untuk meneruskan praktik eksploitasi, atau mengambil keuntungan dari hasil tindak pidana perdagangan orang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.” Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa eksploitasi seksual diancam dengan pidana yang cukup tinggi.
Berkaitan dengan pembahasan UU Perdagangan Orang ditemukan bahwa pelacuran masuk ke dalam Eksploitasi Seksual yang pada dasarnya juga dilarang dan diancam dengan pidana. Dalam hal ini Perda DIY mengenai Pelacuran yang melarang perbuatan mesum dalam hal tertentu saja tentu jauh tidak relevan dengan UU Perdaagangan Orang. Dalam kaitannya dengan hal tersebut sangat penting untuk diadakan perubahan.
F. Beberapa Peraturan Daerah di Daerah lain
Dalam melakukan analisa Peraturan Perundang-Undangan terkait prostitusi, penting untuk menggunakan metode perbandingan dengan Peraturan daerah di tempat lain yang pada dasarnya juga mengatur konten yang sama.
Sebagaimana Pasal 14 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan dinyatakan bahwa “Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.” Oleh karena itu, penting melihat bagaimana daerah menyelesaikan permasalahan prostitusi di daerahnya. Dalam hal ini Provinsi DIY dapat merujuk kepada daerah-daerah lain untuk menindaklanjuti prostitusi di DIY. Dalam hal ini, dirujuk tiga Perda, Perda DKI Jakarta sebagai perwakailan Provinsi terpadat di Indonesia, Perda Indramayu sebagai perwakilan Kabupaten yang tidak padat namun cukup denkat dengan dunia prostitusi, dan Perda Bantul sebagai salah satu wilayah kabupaten di dalam Daerah Istimewa Yogyakarta.
1. Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum
Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta pengaturan mengenai prostitusi atau
Sekretariat
DPRD
DIY
seks komersial diatur bersama-sama dengan berbagai pelanggaran lainnya yang masuk ke dalam Ketertiban Umum. Pasal 1 angka (5) Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum (Perda DKI) mendefinisikan Ketertiban umum sebagai kondisi dimana Pemerintah dan rakyat dapat melakukan kegiatan secara tertib dan teratur. Salah satu bagian 21
dari ketertiban umum adalah Tertib Sosial.
Pada Bab VIII mengenai Tertib Sosial Pasal 42 ayat (1) Perda DKI menyatakan “setiap orang dilarang bertingkah laku dan/atau berbuat asusila di jalan, jalur hijau, taman atau dan tempat-tempat umum lainnya.” Berbeda 22
dengan Perda DIY yang mengatur definisi pelacuran di ayat pertama, pejelasan mengenai tindakan asusila dalam Perda DKI dijelaskan dalam penjelasan yang menyatakan “yang dimaksud dengan bertingkah laku dan/atau berbuat asusila adalah perbuatan yang menyinggung rasa kesusilaan sesuai norma yang berlaku di masyarakat, misalnya: menjajakan diri di jalan, bercumbu, berciuman, dan aktivitas seksual lainnya.” Dalam hal ini, pengaturan tindakan asusila jauh lebih 23
luas daripada yang diatur dalam Perda DIY. Dalam Perda DIY, pengaturan pelacuran berkaitan dengan “upah” dimana definisi tersebut sangat sempit dan terbatas. Dalam Perda DKI tindakan asusila diartikan secara luas kepada aktivitas seksual dan tidak dibatasi dengan adanya upah atau tidak. Namun, memang perbuatan tersebut dibatasi dalam lingkungan umum, termasuk jalan, jalur hijau, dan tempat umum lainnya. Melihat bagaimana daerah yang sangat prural dan besar seperti DKI Jakarta memiliki pengaturan yang cukup detail mengenai hal ini.
Selain dari pengaturan di dalam Pasal 42 ayat (1) Perda DKI, kemudian diatur hal yang lebih spesifik pada Pasal 42 ayat (2) yang menyatakan: “Setiap orang dilarang: 24
a. menjadi penjaja seks komersial;
b. menyuruh, memfasilitasi, membujuk, memaksa orang lain untuk menjadi penjaja seks komersial;
c. memakai jasa penjaja seks komersial.
Dengan pengaturan yang ada pada Pasal 42 ayat (2) meliputi aktivitas seks komersial atau bisa dikatakan prostitusi. Pengaturan itu diperkuat Pasal 43
21Pasal 1 angka 5 Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007
22Pasal 42 ayat 1 Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007
23Penjelasan Pasal 42 Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007
24Pasal 42 ayat (2) Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007
Sekretariat
DPRD
DIY
Perda DKI yang menyatakan “Setiap orang atau badan dilarang menyediakan dan/atau menggunakan bangunan atau rumah sebagai tempat untuk berbuat asusila.” Dengan cukup jelas, penjelasan Pasal 43 menyatakan “yang dimaksud dengan bangunan atau rumah antara lain: hotel, losmen, barber shop, spa, panti pijat tradisional, salon kecantikan dan rumah kost.” Dengan pengaturan Pasal 43 mencegah adanya prostitusi yang dilakukan pada tempat-tempat legal seperti pemijatan maupiun hotel. Dalam hal ini, berarti larangan Prostitusi di DKI sangat kuat dan tegas.
Berkaitan dengan larangan tersebut, diterapkan juga ancaman pidana pada Pasal 61 ayat (2) Perda DKI yang menyatakan “Setiap orang atau badan yang melanggar ketentuan … Pasal Pasal 42 ayat (2) … dikenakan ancaman pidana kurungan paling singkat 20 (dua puluh) hari dan paling, lama 90 (sembilan puluh) hari atau denda paling sedikit Rp. 500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah) dan paling banyak Rp. 30.000.000,- (Tiga Puluh Juta Rupiah). Dalam pengaturan ini terlihat bahwa baik kepada penikmat seks komersial dan pelaku seks komersia diancam dengan pidana kurungan yang cukup tinggi dan kumulatif dengan denda maksimal tiga puluh juta rupiah. Namun, jika badan yang terlibat, Pasal 61 ayat (3) menyatakan “Setiap orang atau badan yang melanggar ketentuan … Pasal 43 dikenakan ancaman pidana kurungan paling singkat 30 (tiga puluh) hari dan paling lama 180 (Seratus delapan puluh) hari atau denda paling sedikit Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah) dan paling banyak Rp. 50.000.000,- (Lima Puluh Juta Rupiah). Ancaman pidana tersebut lebih besar ketika membuka prostitusi di tempat yang sah. Oleh karena itu terlihat cukup jelas, bahwa pengaturan pelarangan prostitusi di DKI Jakarta cukup tegas dan kuat.
Perbedaan mendasar antara Perda DKI dan Perda DIY mengenai prostitusi ini adalah kekurangan Perda DIY untuk mengatur mengenai hukum acara penindakannya. Pasal 60 Perda DKI mengatur secara tegas mengenai kewenangan penyidikan dari PPNS di Lingkungan Pemda DKI. 25
2. Peraturan Daerah Kabupaten Indramayu Nomor 7 Tahun 1999 tentang Prostitusi
Pasal 1 angka (4) Peraturan Daerah Kabupaten Indramayu Nomor 7 Tahun 1999 tentang Prostitusi mendefinisikan "Prostitusi" sebagai perbuatan mempergunakan badan sendiri sebagai Alat Pemuas Seksual untuk orang lain
25Pasal 60 Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007
Sekretariat
DPRD
DIY
dengan mencapai keuntungan. Definisi ini pada dasarnya sejalan dengan Perda DIY yang mengatur mengenai pelacuran karena ada “keuntungan”. Dapat disimpulkan bahwa Perda tidak mengatur tindakan asusila secara umum sebagaimana dapat ditemui pada Perda DKI. Dimana definisi tersebut didukung dengan definisi pelacuran sebagaimana dinyatakan pada Pasla 1 angka 5 Perda Indramayu yang menyatakan Pelacuran adalah suatu perbuatan dimana seorang perempuan menyerahkan dirinya untuk berhubungan Kelamin dengan lawan jenisnya dan menerima pembayaran baik berupa uang maupun bentuk lainnya.
Dalam hal ini Perda Indramayu membedakan antara Prostitusi dan Pelacuran dimana dapat ditangkap bahwa pelacuran adalah salah satu bentuk kegiatan dalam prostitusi. Dalam konsep ini dapat disimpulkan bahwa Perda DIY yang dibentuk tahun 1954 sudah tidak lagi sesuai dengan pemahaman masyarakat umum mengenai prostitusi dan pelacuran. Larangan dalam Perda Indramayu berturut-turut diatur dalam Pasal 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 sebagai berikut: Pasal 2 Siapapun dilarang mendirikan dan atau mengusahakan serta menyediakan tempat untuk melakukan Prostitusi; Pasal 3 Selain Larangan dalam Pasal 2 tersebut di atas, siapapun dilarang baik secara sendiri maupun kelompok, melakukan, menghubungkan, mengusahakan dan menyediakan orang untuk melakukan Perbuatan Prostitusi; Pasal 4 Larangan dimaksud pada Pasal 3 berlaku juga bagi siapapun yang karena Tingkah Lakunya patut diduga dapat menimbulkan atau mengorbankan Perbuatan Prostitusi; Pasal 5 Siapapun dijalan umum atau ditempat yang kelihatan dari jalan umum atau ditempat dimana umum dapat masuk dilarang dengan perkataan, isyarat, tanda atau cara lain membujuk atau memaksa orang lain untuk melakukan Perbuatan Prostitusi;
Pasal 6 Siapapun yang Kelakukannya/Tingkah Lakunya dapat menimbulkan dugaan bahwa ia Pelacur dilarang ada dijalan-jalan umum, dilapangan-lapangan, dirumah penginapan, losmen, hotel, asrama, rumah penduduk/kontrakan, warung-warung minum, tempat hiburan, di gedung tempat tontonan, disudut- sudut jalan atau lorong-lorong, berhenti atau berjalan kaki atau berkendaraan bergerak kian kemari; dan terakhir Pasal 7 Pelaku Prostitusi baik laki-laki maupun perempuannya dikenakan sanksi sesuai dengan Pasal 9 Peraturan Daerah ini. Dapat dilihat dari keseluruhan larangan-larangan tersebut, bahwa larangan terutama ditujukan kepada yang mengorganisasikan prostitusi tersebut dan baru kemudian menjerat para pelaku pelacuran. Ancaman pidana diatur pada Pasal 9 Perda Indramayu yang menyatakan “Barang siapa yang melanggar Pasal 2,3,4,5,6 dan 8 ayat (1) Peraturan Daerah ini diancam dengan Hukuman Kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau Denda sebanyak- banyaknya Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).” Perbedaan mendasar ancaman
Sekretariat
DPRD
DIY
pidana dari Perda Indramayu dan Perda DKI adalah Perda DKI menggunakan konsep minimum dan maksimum khusus dan menggunakan mekanisme kumulatif dimana Perda Indramayu menggunakan sistem maksimum khusus dan menggunakan sistem alternatif. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Perda Indramayu memiliki ancaman pidana yang jauh lebih kecil dibandingkan Perda DKI.
3. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pelarangan Pelacuran
Perda Bantul sekalipun berada dalam wilayah DIY, memiliki pengaturan yang lebih relevan dan sesuai perkembangan peraturan perundang-undangan dan perkembangan zaman. Pasal 1 angka 4 Perda Bantul menyatakan “Pelacuran adalah serangkaian tindakan yang dilakukan setiap orang atau badan hukum meliputi ajakan, membujuk, mengorganisasi, memberikan kesempatan, melakukan tindakan, atau memikat orang lain dengan perkataan, isyarat, tanda atau perbuatan lain untuk melakukan perbuatan cabul”. Definisi pelacuran ini jauh lebih luas daripada definisi pelacuran pada Perda DIY tentang Pelacuran. Dalam hal ini, definisi tersebut dapat dikenakan terhadap tindakan asusila. Pasal 1 angka 7 juga mendefiniskan “Perbuatan cabul adalah segala perbuatan yang tidak senonoh atau perbuatan yang melanggar kesusilaan, termasuk persetubuhan.” Sehingga bisa dikatakan ruang lingku Perda Bantul meliputi tindakan asusila.
Bab III Perda Bantul mengatur tentang larangan-larangan pelacuran. Pasal 3 Perda Bantul menyatakan, (1) Setiap orang dilarang melakukan pelacuran di wilayah Daerah dan (2) Setiap orang dilarang menjadi mucikari di wilayah Daerah. Berdasarkan larangan tersebut, dapat dikatakan ini adalah pasal yang jauh lebih luas daripada Perda DIY yang hanya melarang pada tempat umum. Dalam Perda Bantul pelarangan dari seluruh bentuk pelacuran. Bahkan Pasal 5 mengatur larangan bagi setiao orang untuk melindungi kegiatan prostitusi. Bab IV Perda Bantul mengatur tentang pengawasan yang dapat dilakukan masyarakat dan juga penegak hukum daerah. Pasal 8 Perda Bantuk mengatur ancaman pidana maksimal kurungan 3 (tiga) bulan atau denda maksimal Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah). Ancaman pidana dalam Perda Bantul jauh lebih relevan dibanding Perda DIY.
Sekretariat
DPRD
DIY
BAB III
PERUMUSAN IDENTIFIKASI MASALAH
A. Permasalahan Mendasar
Permasalahan mendasar dalam Perda DIY Nomor 18 Tahun 1954, antara lain:
1. Perda tidak lagi sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya.
2. Tidak terdapat ketegasan pengaturan mengenai pelarangan prostitusi di Indonesia.
3. Pengaturan yang fokus hanya kepada Pelacuran dan melupakan esensi tindakan asusila.
4. Pengaturan yang ditujukan hanya kepada larangan saja bukan kepada pencegahan.
5. Ancaman pidana yang tidak lagi relevan.
B. Masalah yang Dihadapi Bukan Sekedar Gejala
Terdapat masalah yang benar-benar nyata dalam Perda DIY Nomor 18 Tahun 1954:
1. Perda tidak lagi sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya.
Sebagaimana diatur dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan bahwa “Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.” Oleh karena itu pengaturan dalam Perda tidak dapat bertentangan dengan Peraturan Perundang-Undangan di atasnya.
Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan pada Pasal 296 KUHP yang menyatakan “Barangsiapa yang pencahariaannya atau kebiasaannya yaitu dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain dihukum”, sehingga dapat dinyatakan bahwa pelacuran telah diancam dengan pidana yang cukup tinggi di dalam KUHP. Perda DIY yang hanya merujuk pada pelacuran di tempat umum, sudah tidak relevan dengan KUHP yang bahkan tidak membatasi pada ruang lingkup yang umum.
Selain itu jika mengkaji pada UU Perlindungan Anak sebagaimana diatur pada Pasal 66 yang menyatakan
Sekretariat
DPRD
DIY
“Perlindungan Khusus bagi Anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) huruf d dilakukan melalui: a. penyebarluasan dan/atau sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Perlindungan Anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual; b. pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi; dan c. pelibatan berbagai perusahaan, serikat pekerja, lembaga swadaya masyarakat, dan Masyarakat dalam penghapusan eksploitasi terhadap Anak secara ekonomi dan/atau seksual.”
Pasal ini dapat berkaitan dengan tindakan prostitusi atau pelacuran yang melibatkan anak-anak. Siapapun yang terlibat akan dikenakan ancaman pidana.
Pasal tersebut kemudian diperkuat Pasal 76D dan 76 I. Pasal 76D menyatakan “Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.” Sedangkan, Pasal 76I menyatakan, “Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual terhadap Anak.” Dalam Pasal 76D adalah perbuatan persetubuhanyang dilakukan secara umum baik dengan upah atau tidak, memenuhi perbuatan ini. Namun terdapat unsur
“memaksa”. Pasal 76I adalah berkaitan dengan eksploitasi seksual dimana dalam hal ini sangat dekat dengan pengaturan prostitusi. Sehingga dalam hal ini, jika kita merujuk pada UU Perlindungan Anak, Perda DIY Tahun 1954 sudah tidak lagi relevan.
Terlebih jika kita juga merujuk pada UU TPPO dimana Pasal 1 angka 8 UU Perdagangan Orang menyatakan “Eksploitasi Seksual adalah segala bentuk pemanfaatan organ tubuh seksual atau organ tubuh lain dari korban untuk mendapatkan keuntungan, termasuk tetapi tidak terbatas pada semua kegiatan pelacuran dan percabulan” Dalam Pasal ini, mengatur konsep yang lebih umum.
Secara tegas juga dapat dipastikan bahwa pelacuran masuk ke dalam jenis perdagangan orang. Hal ini ditegaskan dalam rumusan “tidak terbatas pada pelacuran”. Dalam hal ini pada dasarnya UU Perdagangan Orang dengan ini menyatakan bahwa pelacuran adalah eksploitasi seksual. Salah satu ketentuan pidananya dapat dilihat pada Pasal 2 menyatakan “Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas
Sekretariat
DPRD
DIY
orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).” Dalam ketentuan yang bersifat umu mini dapat termasuk eksploitasi seksual. Berkaitan dengan pembahasan UU Perdagangan Orang ditemukan bahwa pelacuran masuk ke dalam Eksploitasi Seksual yang pada dasarnya juga dilarang dan diancam dengan pidana. Dalam hal ini Perda DIY mengenai Pelacuran yang melarang perbuatan mesum dalam hal tertentu saja tentu jauh tidak relevan dengan UU Perdaagangan Orang. Dalam kaitannya dengan hal tersebut sangat penting untuk diadakan perubahan.
Perda Bantul sebagai salah satu wilayah di DIY memiliki pengaturan larangan pelacuran yang lebih komprehensif. Pelarangan pelacuran juga diperluas ke dalam tataran perbuatan cabul. Ancaman pidana dalam Perda Bantul juga sangat relevan. Dalam hal ini sebagai wilayah Provinsi, DIY jauh tertinggal dengan Bantul.
Dari keterkaitan Perda DIY dengan Undang-Undang lain yang terkait serta Perda di wilayah DIY, dapat disimpulkan bahwa Perda DIY sudah tidak lagi sesuai dengan peraturan perundang-undangan di atasnya. Dalam hal ini Perda DIY Nomor 18 Tahun 1954 tidak lagi dapat dinyatakan kuat berlaku ketika bertentangan. Dorongan memperbaharui Perda tersebut juga terlihat dari pembahasan UU terkait.
2. Tidak terdapat ketegasan pengaturan mengenai pelarangan prostitusi di Indonesia.
Berdasarkan Pembahasan mengenai KUHP. Dapat dilihat bahwa Pasal 294 dan 296 KUHP memang hanya menjerat orang yang memaksa atau memudahkan perbuatan cabul dimana tertuju hanya pada karakter germo saja. Bahkan pengguna seks komersial tidak dapat dipidana. Ketidak tegasan pengaturan ini menimbulkan tetap adanya prostitusi yang dapat dilihat di beberapa tempat.
Pengaturan juga diatur secara terpisah dalam beberapa Undang-Undang.
Pada Undang-Undang Perlindungan Anak, pelarangan prostitusi hanya ditujukan kepada anak. Namun memang juga tidak menjerat pelaku penikmat prostitusi. Selain itu, dalam Undang-Undang KDRT pelarangan prostitusi hanya pada lingkup rumah tangga. Terakhir, pada Undang-Undang Perdagangan Orang juga hanya melingkup pada perbuatan eksploitasi. Hal ini tetap sulit menjerat pelaku seks komersial yang dengan suka rela melakukan pelacuran.
Sekretariat
DPRD
DIY
Atas ketidaktegasan pengaturan prostitusi di Indonesia, maka Daerah Kabupaten/Kota dan Provinsi diberikan kewenangan berdasarkan Otonomi Daerah untuk menciptakan peraturan daerah mengenai Prostitusi. Dalam hal ini merujuk pada Perda DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 yang mengatur mengenai Tindakan Asusila dalam Ketertiban Umum. Pasal 42 ayat (1) Perda DKI, kemudian diatur hal yang lebih spesifik pada Pasal 42 ayat (2) yang menyatakan:
“Setiap orang dilarang: 26
a. menjadi penjaja seks komersial;
b. menyuruh, memfasilitasi, membujuk, memaksa orang lain untuk menjadi penjaja seks komersial;
c. memakai jasa penjaja seks komersial.
Dengan pengaturan yang ada pada Pasal 42 ayat (2) meliputi aktivitas seks komersial atau bisa dikatakan prostitusi. Pengaturan itu diperkuat Pasal 43 Perda DKI yang menyatakan “Setiap orang atau badan dilarang menyediakan dan/atau menggunakan bangunan atau rumah sebagai tempat untuk berbuat asusila.” Dengan cukup jelas, penjelasan Pasal 43 menyatakan “yang dimaksud dengan bangunan atau rumah antara lain: hotel, losmen, barber shop, spa, panti pijat tradisional, salon kecantikan dan rumah kost.” Dengan pengaturan Pasal 43 mencegah adanya prostitusi yang dilakukan pada tempat-tempat legal seperti pemijatan maupiun hotel. Dalam hal ini, berarti larangan Prostitusi di DKI sangat kuat dan tegas. Perda DKI dapat menjadi rujukan bagaimana daerah menanggulangi ketidak tegasan peraturan tingkat nasional.
3. Pengaturan yang fokus hanya kepada Pelacuran dan melupakan esensi tindakan asusila.
Dalam Focus Group Discussion yang dilaksanakan pada 21 Mei 2017 di DPRD DIY, salah satu panelis, yang berasal dari Kepala Bidang Pol PP DIY menyatakan bahwa Perda tersebut memiliki kelemahan untuk mengatur hanya pada lingkup pelacuran dan bukan tindakan asusila.
Jika merujuk pada KUHP dimana termasuk perbuatan cabul tanpa menyangkut hal komersial, maka Pasal Pelacuran pada Perda DIY tidak lagi relevan. Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak, larangan tidak hanya terfokus pada lingkup komersial, namun juga melindungi anak dari tindakan seksual baik tanpa upah dan paksaan. Berkaitan dengan hal ini, tidak lagi relevan
26 Pasal 42 ayat (2)
Sekretariat
DPRD
DIY
hanya mengatur mengenai pelacuran tanpa mengatur mengenai perbuatan asusila.
Sebagai rujukan, kita dapat merujuk pada Perda DKI Nomor 8 Tahun 2007.
Pasal 42 ayat (1) Perda DKI menyatakan “setiap orang dilarang bertingkah laku dan/atau berbuat asusila di jalan, jalur hijau, taman atau dan tempat-tempat umum lainnya.” Berbeda dengan Perda DIY yang mengatur definisi pelacuran di 27
ayat pertama, pejelasan mengenai tindakan asusila dalam Perda DKI dijelaskan dalam penjelasan yang menyatakan “yang dimaksud dengan bertingkah laku dan/atau berbuat asusila adalah perbuatan yang menyinggung rasa kesusilaan sesuai norma yang berlaku di masyarakat, misalnya: menjajakan diri di jalan, bercumbu, berciuman, dan aktivitas seksual lainnya.” Dalam hal ini, pengaturan 28
tindakan asusila jauh lebih luas daripada yang diatur dalam Perda DIY. Dalam Perda DIY, pengaturan pelacuran berkaitan dengan “upah” dimana definisi tersebut sangat sempit dan terbatas. Dalam Perda DKI tindakan asusila diartikan secara luas kepada aktivitas seksual dan tidak dibatasi dengan adanya upah atau tidak. Namun, memang perbuatan tersebut dibatasi dalam lingkungan umum, termasuk jalan, jalur hijau, dan tempat umum lainnya. Melihat bagaimana daerah yang sangat prural dan besar seperti DKI Jakarta memiliki pengaturan yang cukup detail mengenai hal ini.
4. Pengaturan yang ditujukan hanya kepada larangan saja bukan kepada pencegahan.
Dalam Perda DIY tidak terlihat bentuk-bentuk pencegahan dan program- program untuk menurunkan pelacuran di DIY. Dalam Focus Group Discussion yang dilaksanakan pada 21 Mei 2017, Prof. Kuntjoro sebagai akademisi dari Fakultas Psikologi UGM, ditemukan bahwa pencegahan merupakan poin utama dari control terhadap masyarakat. Oleh karena itu, pelarangan prostitusi tanpa media kontrol yang baik maka akan menjadi sia-sia.
Sebagai rujukan, UU Perdagangan Orang mewajibkan pemerintah melakukan sosialisasi dan pencegahan perdagangan orang baik kepada masyarakat yang berpotensi menjadi korban maupun kepada para pelaku.
Dengan adanya mekanisme pencegahan tersebut tentu akan memaksimalkan larangan prostitusi.
27Pasal 42 ayat 1 Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007
28Penjelasan Pasal 42 Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007
Sekretariat
DPRD
DIY
Lebih singkatnya, mengutip definisi dari Marc Ancel, poltik kriminal merupakan suatu usaha yang rasional dari masyarakat dalam menanggulangi kejahatan. Dimana upaya untuk menaggulangi kejahatan tersebut dapat 29
dilakukan melalui upaya penal maupun non-penal. Upaya penal berarti kebijakan untuk menaggulangi kejahatan dengan sarana pemidanaan.
Sedangkan upaya non-penal adalah upaya menaggulangi kejahatan dengan tidak menggunakan hukum pidana.
Upaya penal maupun non-penal harus berjalan beriringan dalam rangka menanggulangi kejahatan secara rasional. Jika dilihat lebih dalam, poltik kriminal pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari politik sosial karena tujuan akhir dari politik kriminal maupun politik sosial adalah untuk melindungi masyarakat (social defence) dan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat (social welfare). Sehingga menjadi niscaya bahwa 30
pengaturan mengenai pencegahan atau non penal policy menjadi penting.
5. Ancaman pidana yang tidak lagi relevan.
Jika diperhatikan pada Pasal 5 Perda DIY mengatur mengenai ancaman pidana dimana Pasal 3 dan Pasal 4 Perda DIY diancam dengan Pidana 1 Bulan Kurungan dan Denda 100 rupiah. Jika merujuk pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana berupa ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Dalam batasan ini masih merupakan hal yang relevan dan tidak melewati patokan. Namun ancaman pidana berupa denda 100 rupiah sudah pasti tidak lagi relevan.
Pada dasarnya KUHP juga telah tertinggal mengenai jumlah dendanya.
Oleh sebab itu dikeluarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012.
Pada Pasal 3 Perma tersebut dinyatakan “Tiap jumlah maksimum hukuman denda yang diancamkan dalam KUHP kecuali pasal 303 ayat 1 dan ayat 2, 303 bis ayat l dan ayat 2, dilipatgandakan menjadi 1.000 (seribu) kali.” Dalam hal ini 31
kita melihat bahwa Perma hanya merujuk kepada KUHP. Oleh karena itu, Perma
29Sudarto, 1981, Hukum dan Hukum Pidana, BP UNDIP, Semarang, hlm. 38. Lihat juga Barda Nawawi, Arief, 2014, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana (Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru),cetakan ke-4, Kencana, Jakarta, hlm. 3
30Barda Nawawi, Arief, 2014, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana (Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru),cetakan ke-4, Kencana, Jakarta, hlm. 4
31Pasal 3 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012.
Sekretariat
DPRD
DIY
tersebut tidak berlaku untuk Perda sehingga denda dalam Perda tetao 100 rupiah. Oleh karena itu dapat dinyatak secara tegas dan lugas bahwa ancaman pidana dalam Perda DIY Nomor 18 Tahun 1954 tidak lagi relevan.
C. Penyebab Timbulnya Masalah dan Pihak yang Terpengaruh
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa aktor dalam pelarangan prostitusi di Daerah Istimewa Yogyakarta dibedakan menjadi 5 lingkup, yaitu: (1) DPRD DIY; (2) Pemerintah Provinsi DIY; (3) Pelaku Seks Komersial; (4) Masyarakat Umum; (5) Satuan Polisi Pamong Praja. Dari berbagai aktor tersebut tentu dapat diambil kesimpulan sebenarnya yang menjadi titik pangkal permasalahan bidang Prostitusi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam memperjelas konsep dan relevansi evaluasi Perda Nomor 18 Tahun 1954 maka dilaksanakan Focus Group Discussion dengan pihak-pihak terkait. Oleh karena itu, akan kami tampilkan hasil FGD tersebut.
Ringkasan Focus Group Discussion
Sekretariat
DPRD
DIY
A. PEMBUKAAN
Mengkaji mengenai Perda Nomor 18 Tahun 1954 tentang Pelacuran di tempat umum. Berkaitan dengan Perda tersebut, apakah perda yang sudah ada perlu dipertahankan atau tidak. Sebab bentuk-bentuk prostitusi hari ini sudah beragam.
Informasi mengenai pelacuran:
1. Istilah-istilah yang berkembang di masyarakat atau remaja, di antaranya mucikari/ germo, dan lain sebagainya
2. Aturan-aturan yang mengatur mengenai prostitusi, termasuk denda, dan lain- lain yang perlu untuk diperbaharui sebab aturan lama sudah tidak relevan dengan bentuk-bentuk prostitusi yang berkembang saat ini
B. PEMBAHASAN Topik Pembicaraan
Pembahasan aturan mengenai pelacuran sebaiknya tidak hanya berkutat pada ranah pelacuran itu saja namun juga berbicara mengenai tindakan asusila.
Pelacuran di DIY sangat marak dan memprihatinkan. Pelacuran dilakukan secara terang-terangan maupun dengan kedok tertentu.
Tempat-tempat pelacuran di DIY:
1. Pelacuran Terbuka yakni berada di selatan terminal Giwangan, Ngebong atau Bong Suwung di belakang Kecamatan Gedongtengen, Kampung Internasional; Pasar Kembang, Pantai Parangkusumo, dan lain-lain.
2. Pelacuran Tertutup; berkedok dan banyak bentuknya seperti kegiatan salon/ salon plus, panti pijat plus, melalui iklan facebook, whatsapp, twitter, dan lain-lain.
Terkait dengan keadaan DIY yang semakin memprihatinkan, satpol PP melakukan razia yang menyasar tempat kos, hotel, dan lain-lain. Dari beberapa operasi atau razia tersebut didapati praktik prostitusi di tempat umum, mereka—PSK yang terjaring razia mulai usia belasan hingga 60 tahun.
Langkah-langak yang telah dilakukan satpol PP setelah para PSK terjaring razia, yakni dibawa ke Pengadilan. Perda yang digunakan untuk mengadili yakni Perda Nomor 28 Tahun 1954, Lilik Hardi
Kabid Pol PP :
Sekretariat
DPRD
DIY
dalam perda memang disebutkan denda memang 100 rupiah namun di pengadilan diterapkan oleh hakim
Dasar Perda Nomor 18 tahun 1954, meski dengan 100 rupiah, tapi di Pengadilan ditetapkan denda:
1. Kabupaten Bantul mencapai 1 juta 2. Kabupaten Sleman mencapai 750 ribu 3. Kabupaten Kulomporogo mencapai …
4. Kota Yogyakarta sekitar 100 ribu hingga 300 ribu-an
Dalam suatu kasus, yakni di salon maupun panti pijat plus, maka jika ditemukan pasangan mesum; dua-duanya diajukan ke pengadilan. Di pengadilan hal itu dapat dijerat dengan Perda Nomor 18 tahun 1954 pasal 5 dan pasal 3. Namun di pengadilan jarang sekali diterapkan vonis kurungan, lebih banyak denda.
Pembinaan-pembinaan yang sudah dilakukan oleh Satpol PP:
1. Membawa pelaku ke pengadilan
2. Jika pelaku di bawah umur, sering orang tua dipanggil 3. Pelaku harus wajib lapor 8-10 kali
Dasar Perda yang dilaksanakan saat ini yakni Perda Nomor 18 Tahun 1954, meski sedikit dipaksakan. Kemudian, saran hakim terhadap Perda tersebut yakni:
1. Perda Nomor 18 Tahun 1954 darurat untuk direvisi
2. Alasannya yakni bentuk prostitusi tertutup seperti salon plus, panti pijat, dll tidak dapat diadili dengan Perda tersebut 3. Perda juga perlu mencakup pelacuran maupun tindakan
asusila
4. Denda dalam Perda juga tidak sesuai dengan kondisi saat ini 5. Sebaiknya segera dilakukan revisi terhadap Perda tersebut Tahun 2016, Satpol PP:
1. Pernah mengajukan revisi Perda ke Bappeda 2. Namun kewenangan Perda di Dinas Sosial
3. Tahun 2017 mengajukan kembali ke Sekda DIY aturan lama sudah tidak relevan dengan bentuk-bentuk prostitusi yang berkembang saat ini