1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Konsinyasi banyak diadopsi oleh para pelaku bisnis karena untuk memulai bisnis menggunakan model ini tidak membutuhkan modal yang besar. Pelaku bisnis hanya perlu menggandeng supplier untuk bisa membantu menjual produk supplier untuk mendapatkan komisi sesuai kesepakatan. Adapun sistem bisnis konsinyasi secara definisi adalah perjanjian antara dua pihak dengan satu pihak yang disebut Consignor akan memberikan barangnya ke pihak kedua yang disebut Consignee untuk menjualnya dan kemudian Consignor akan memberikan komisi tertentu sesuai kesepakatan kepada Consignee [1]. Meskipun sudah banyak jenis usaha yang menggunakan sistem bisnis konsinyasi, belum banyak aplikasi dan perangkat lunak penunjang yang memang dikembangkan khusus untuk sistem bisnis ini. Sistem Point of Sales (POS) yang digunakan pada sistem bisnis konsinyasi masih menggunakan sistem POS yang biasa dipakai di bisnis konvensional padahal bisnis konsinyasi memiliki proses bisnis yang berbeda. Adapun Point Of Sales (POS) merupakan sistem yang menunjang aktifitas transaksi yang di dalamnya juga meliputi mesin kasir, manajemen stok barang hingga perhitungan akuntantsi [2]. Penelitian ini mengambil studi kasus pada BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Amadanom untuk mengembangkan sistem Point of Sales pada bisnis konsinyasi. BUMDes Amadanom adalah badan usaha dari Desa Amadanom, Kec. Dampit, Malang yang menyediakan berbagai macam produk kopi dari para supplier petani kopi setempat dengan sistem bagi hasil.
Untuk mengembangkan sistem Point of Sales ada beberapa metode pengembangan perangkat lunak yang bisa digunakan salah satunya adalah metode Waterfall. Waterfall merupakan metode pengembangan perangkat lunak yang menggunakan pendekatan sekuensial dan terurut mulai dari analisis, desain, pengkodean, pengujian hingga tahapan pendukung [3]. Karena bersifat sekuensial, kelebihan dari metode Waterfall adalah setiap prosesnya terurut sehingga tidak ada proses yang tumpeng tindih. Akan tetapi karena sifat sekuensial tersebut dalam penerapannya setiap proses/fase pada metode Waterfall harus benar-benar sudah selesai, karena ketika sudah berpindah dari proses satu ke proses selanjutnya maka
tidak bisa kembali ke proses sebelumnya. Metode Waterfall cocok digunakan pada proyek dengan klien yang memang sudah professional sehingga mampu mendefinisikan kebutuhan sistemnya dengan jelas dan tidak berubah rubah. Seperti pada penelitian yang dilakukan Rosita [4] metode Waterfall digunakan dalam pengembangan dengan klien yang professional dari franchise restoran cepat saji. Oleh sebab itu metode Waterfall kurang cocok jika diterapkan dalam pengembangan sistem Point of Sales pada BUMDes Amadanom karena dimungkinkan adanya perubahan kebutuhan sistem, mengingat klien dari BUMDes Amadanom merupakan awam di bidang teknologi informasi sehingga belum memahami kebutuhan sistem dengan jelas.
Metode pengembangan kedua adalah metode Prototyping. Prototyping adalah metode pengembangan perangkat lunak yang didasarkan pada prototype sistem yang sesuai dengan kebutuhan klien yang dihasilkan dari proses iteratif [5]. Untuk itu pada prototyping peran klien sangat aktif pada proses pengembangan. Merujuk pada penelitian Tri Buana [5], Prototyping memiliki kelebihan pada komunikasi dengan klien yang lebih baik sehingga akan cocok bila digunakan pada klien yang masih belum memahami kebutuhannya dengan jelas, dimana pada penelitian tersebut pengembang memberikan Prototype ke klien kemudian semua Prototype yang di setujui oleh klien harus dikembangkan oleh pengembang. Hal tersebut menjadi kekurangan dari Prototyping karena yang ditunjukkan ke klien dan disetuji tersebut masih berbentuk Prototype, ada kemungkinan Prototype tersebut tidak mengakomodir kebutuhan klien yang sesungguhnya. Metode Prototyping ini kurang cocok diterapkan pada studi kasus BUMDes Amadanom. Karena pada penelitian ini proses pengembangan perangkat lunak dilakukan oleh pengembang tunggal, jika semua Prototype yang disetujui klien harus diimplementasikan tanpa adanya penentuan prioritas maka proses pengembangan bisa jadi akan memakan waktu yang lama.
Metode pengembangan lainnya adalah metode Scrum. Metode Scrum adalah pengembangan perangkat lunak yang bertumpu pada kekuatan kolaborasi tim untuk mewujudkan hasil akhir dengan menggunakan prinsip-prinsip pendekatan Agile Development [6]. Agile Development adalah kelompok metode pengembangan perangkat lunak yang memiliki konsep incremental dan iteratif [7]. Merujuk pada penelitian Bayu [8] kelebihan dari metode Scrum adalah proses identifikasi masalah
3
dilakukan pada pertemuan harian sehingga pemecahan masalahnya pun lebih cepat.
Karena proses pengembangan dilakukan banyak orang pendefinisian tiap tugas harus jelas, karena dapat mengganggu estimasi biaya dan waktu pengerjaan proyek. Hal tersebut menjadi kekurangan dari metode Scrum. Metode Scrum kurang cocok untuk digunakan pada pengembangan sistem Point of Sales BUMDes Amadanom, karena proses pengembangan dilakukan oleh pengembang tunggal.
Selain metode Scrum, metode pengembangangan perangkat lunak yang menggunakan prinsip Agile Development adalah metode Personal Extreme Programming (PXP). Metode PXP adalah metode pengembangan perangkat lunak oleh pengembang tunggal yang fokusnya pada pemrograman perangkat lunak, dan komunikasi dengan klien untuk mendapatkan feedback sehingga cocok digunakan pada proyek skala kecil hingga menengah apabila klien tidak mengetahui kebutuhan sistem secara detail serta waktu pengembangan terbatas [9]. Selain bisa digunakan oleh pengembang tunggal, merujuk pada penelitian Ulfi [10] kelebihan dari PXP adalah sebelum diimplementasikan setiap kebutuhan klien diestimasi waktu dan prioritasnya terlebih dahulu berdasarkan aspek risk dan business value, sehingga akan mengoptimalkan proses pengembangan agar bisa selesai tepat waktu. Kekurangannya adalah karena proses estimasi dan penentuan prioritas kebutuhan dilakukan bersama klien, antara pengembang dan klien harus bisa berkomunikasi dengan baik. Apabila proses penentuan prioritas tersebut tidak optimal maka berdampak pada waktu penyelasaian yang tidak sesuai. Metode PXP akan cocok jika diterapkan pada pengembangan sistem POS di BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Amadanom di Kec. Dampit, Kab. Malang. Pengembangan perangkat lunak pada penelitian ini dikerjakan oleh pengembang tunggal serta pengurus BUMDes sebagai klien tidak memiliki latar belakang teknologi informasi sehingga tidak memahami secara jelas kebutuhan sistem POS yang akan dibangun. Selain itu proses penentuan prioritas kebutuhan yang ada pada metode PXP juga menjadi faktor krusial. Dengan adanya proses penentuan prioritas kebutuhan akan memaksimalkan pengembangan sistem POS karena kebutuhan yang didapatkan dari klien akan dianalisa terlebih dahulu prioritasnya sebelum masuk ke tahap pengkodean.
Untuk mengoptimalkan proses penentuan prioritas kebutuhan, pada penelitian ini metode PXP akan dikombinasikan dengan metode MoSCoW untuk penentuan prioritas kebutuhan klien. MoSCoW adalah metode penentuan prioritas kebutuhan
dengan melakukan pengelompokan kebutuhan ke dalam empat kategori mulai dari Must have, Should have, Could have, hingga Won’t have [7]. MoSCoW merupakan metode yang cukup sederhana untuk bisa dipahami oleh klien dalam mengurutkan fitur (atau user stories) ke dalam urutan prioritas bersama pengembang. Akan cocok bila diterapkan pada klien yang masih awam seperti pada studi kasus BUMDes Amadanom. Metode MoSCoW memberikan fleksibilitas apabila waktu pengembangan menjadi lebih lama dari waktu yang direncanakan. Jika sebuah proyek hanya memiliki 'Must Have', segala sesuatunya tidak dapat diubah. Oleh karena itu adanya kategori lain seperti 'Could Have’' secara efektif meringankan tugas pengembang, karena pengembang hanya perlu menambahkan fitur-fitur yang kurang penting hanya jika waktunya memungkinkan.x
Merujuk penelitian terdahulu [11] sistem Point of Sale (POS) yang dikembangkan untuk bisnis konvensional memiliki batasan akses. Batasan akses yang dimaksud yaitu sistem yang hanya bisa diakses oleh pihak pertama atau pemilik usaha.
Bagi jenis bisnis konsinyasi, batasan akses ini membuat supplier tidak bisa memantau penjualan produk mereka secara langsung. Hal tersebut membuat proses bisnis konsinyasi seperti pembagian hasil menjadi kurang efisien karena tidak adanya transparansi data penjualan antara pemilik usaha dan pemilik produk (supplier).
Seperti pada studi kasus BUMDes Amadanom, supplier membutuhkan data penjualan klien secara real time untuk menyusun strategi produksi dari produk kopinya. Data ini akan menjadi acuan bagi supplier dalam menentukan mana yang akan menjadi prioritas produksi berdasarkan angka penjualan produk.
Berdasarkan masalah tersebut, sistem Point of Sales yang dikembangkan untuk bisnis konsinyasi akan diimplementasikan sistem pendukung yang dalam penelitian ini disebut dengan Sales Management System (SMS). SMS ini bisa diakses oleh pemilik usaha dan juga Supplier. Sehingga baik pemilik usaha maupun supplier bisa mengecek laporan penjualan dan stok produk secara real time. Supplier juga bisa mengecek total tagihan penjualan produk dari sistem. Sistem yang dikembangkan juga akan di-integrasikan dengan perangkat keras POS seperti thermal printer dan barcode scanner guna menunjang aktifitas transaksi dan pencatatan produk. Sistem POS
dibuat berbasis web dengan menggunakan paradigma Model View Controller (MVC).
Sistem yang dikembangkan diharapkan mampu membantu mempermudah pihak BUMDes Amadanom dan supplier produknya dalam proses penjualan produk,
5
monitoring transaksi, monitoring stok produk. Penelitan ini juga diharapkan bisa menjadi salah satu rujukan dalam penerapan PXP untuk pengembangan perangkat lunak maupun pengembangan sistem Point of Sales bisnis konsinyasi lain dengan pengembangan lebih lanjut maupun perbaikan di masa mendatang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan, rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Apakah model metodologi pengembangan Personal Extreme Programming (PXP) yang digabungkan dengan MoSCoW mampu mengoptimalkan proses penentuan prioritas kebutuhan pada pengembangan sistem Point of Sales BUMDes Amadanom?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah dijelaskan, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu :
a. Mengoptimasi penentuan prioritas kebutuhan metode Personal Extreme Programming pada pengembangan sistem Point of Sales BUMDes Amadanom menggunakan metode MoSCoW.
1.4 Batasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini dibuat dengan mengacu beberapa parameter berikut ini :
1 Sistem POS yang dirancang untuk diimplementasikan di BUMDes Amadanom 2 Sistem POS dibangun berbasis web menggunakan bahasa pemrograman PHP
dengan framework Laravel dan database MySQL
3 Proses pengembangan perangkat lunak menggunakan metode PXP dan metode MoSCoW untuk menentukan prioritas kebutuhan.
4 Sistem POS hanya di-integrasikan dengan perangkat barcode scanner untuk identifikasi produk dan thermal printer sebagai perangkat untuk mencetak struk