• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER KEDISIPLINAN MELALUI MUATAN PELAJARAN PPKN PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI SLEMAN III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER KEDISIPLINAN MELALUI MUATAN PELAJARAN PPKN PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI SLEMAN III"

Copied!
223
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

KEDISIPLINAN MELALUI MUATAN PELAJARAN PPKN PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI SLEMAN III

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Raden Rara Rizki Reni Mahanani NIM: 171134234

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2021

(2)
(3)
(4)

iv

PERSEMBAHAN

Ucapan rasa syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan berkah, serta memberikan kelancaran kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi dan penelitian ini.

Bismillahirrahmanirrahim, skripsi ini peneliti persembahkan untuk;

1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas ridho dan hidayah-Nya.

2. Kedua orangtua peneliti, R. Widi Priyanto dan Suwartini yang telah mendoakan, menyayangi, menasehati, membimbing, dan menyemangati peneliti agar dapat menyelesaikan skripsi dengan baik.

3. Semua kakak saudara kandung peneliti, Tanti, Retno, Erna, dan Erina yang selalu memberikan semangat serta kekuatan kepada peneliti.

4. Semua kakak ipar laki-laki peneliti, Joko, Tarman, Wahyudi, dan Ahmadi yang selalu memberikan semangat kepada peneliti.

5. Semua keponakan peneliti, Reza, Mita, Dea, Fendi, Syakira, Syakuntala, Rumi, Runa yang selalu menghibur dan menyemangati peneliti.

6. Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menuntut ilmu dan menjadi mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar angkatan 2017.

7. Dosen pembimbing Drs. Paulus Wahana, M.Hum. dan Maria Melani Ika Susanti, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing I dan dosen pembimbing II skripsi yang telah membimbing dan membantu selama melaksanakan penelitian dan penyusunan skripsi ini.

(5)

v MOTTO

Bekerja keraslah sesuai dengan kemampuan diri sendiri, jangan hiraukan omongan orang lain yang menyakiti hati. Percaya, semua usaha yang telah dilakukan tidak akan mengingkari hasil akhir. Percaya, optimis, berusaha, kerja keras itu kuncinya. Keep Strong and Smile, walaupun banyak rintangan yang harus dihadapi.

Jangan pernah merasa iri dengan pencapaian orang lain, karena pencapaian seseorang itu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Berusaha, bekerja keras untuk melakukan pencapaian sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tetap optimis.

-By Me-

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 18 Mei 2021 Peneliti

Raden Rara Rizki Reni Mahanani

(7)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Raden Rara Rizki Reni Mahanani Nomor Mahasiswa : 171134234

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: Implementasi Pendidikan Karakter Kedisiplinan melalui Muatan Pelajaran PPKn pada Siswa Kelas IV SD Negeri Sleman III beserta perangkat yang diperlukan.

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 18 Mei 2021 Yang menyatakan

Raden Rara Rizki Reni Mahanani

(8)

viii ABSTRAK

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER KEDISIPLINAN MELALUI MUATAN PELAJARAN PPKN PADA SISWA KELAS IV SD

NEGERI SLEMAN III Raden Rara Rizki Reni Mahanani

Universitas Sanata Dharma 2021

Implementasi pendidikan karakter kedisiplinan adalah penerapan karakter kedisiplinan siswa yang memiliki fungsi untuk membentuk karakter bernilai, moral yang berkualitas. Muatan pelajaran PPKn memiliki sarana yang mendukung untuk mengimplementasikan pendidikan karakter kedisiplinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan, penilaian implementasi pendidikan karakter kedisiplinan melalui muatan pelajaran PPKn.

Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif ex post facto.

Pengumpulan data penelitian melalui dokumentasi, kuesioner, dan wawancara.

Subjek penelitian adalah kepala sekolah, guru kelas IVA, guru kelas IVB, 1 siswa kelas IVA dan 1 siswa kelas IVB di SD Negeri Sleman III pada tahun ajaran 2019/2020. Objek penelitian adalah implementasi pendidikan karakter kedisiplinan melalui muatan pelajaran PPKn.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru kelas IVA dan IVB telah merencanakan, dan melaksanakan pembelajaran, serta melalui penilaian implementasi pendidikan karakter kedisiplinan. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan soal evaluasi merupakan perencanaan yang dilakukan oleh guru kelas IVA dan IVB dalam merencanakan implementasi pendidikan karakter kedisiplinan. Dalam perencanaan guru kelas IVA dan guru kelas IVB menentukan KD, indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran yang mendukung untuk mengimplementasikan karakter kedisiplinan.

Pelaksanaan implementasi pendidikan karakter kedisiplinan melalui muatan pelajaran PPKn yang dilakukan oleh guru kelas IVA dan IVB belum 100% sesuai dengan perencanaan dalam RPP karena terdapat kendala-kendala yang terjadi selama proses pembelajaran sehingga implementasi karakter kedisiplinan belum terealisasi dengan baik. Penilaian dan hasil implementasi pendidikan karakter kedisiplinan melalui muatan pelajaran PPKn dilaksanakan oleh guru kelas IVA dan IVB dengan menggunakan rubrik penilaian yang telah dibuat dalam RPP, dan mencatat kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran dalam catatan anekdot serta hasil implementasi pendidikan karakter kedisiplinan siswa kelas IVA dan IVB belum sesuai dengan harapan dari guru kelas IVA dan IVB.

Kata kunci: karakter kedisiplinan, PPKn

(9)

ix

ABSTRACT

IMPLEMENTATION OF DISCIPLINE CHARACTER EDUCATION THROUGH THE CONTET OF PANCASILA AND CITIZEN EDUCATION

LESSON FOR GRADE IV STUDENT OF SLEMAN III ELEMENTARY SCHOOL

Raden Rara Rizki Reni Mahanani Sanata Dharma University

2021

The implementation of discipline characters education is the application of students discipline character taht has a funcition to form a valauble charactres, dan quality morals. Pancasila and citizen education lesson’s content has supporting facilities to implement discipline character education in the classroom.

This research to aimed know the planning, the implementation, the assessment dan the results of the implementation of discipline character education through the content of Pancasila and citizen education lesson. The data of this research were collected through documentations, questionnaires, dan interviews.

The subjects of the study were the principal, grade IVA teacher, grade IVB teacher, 1 grade IVA student and 1 grade IVB student at Sleman III Elementary school in the 2019/2020 academic year. The object of the research was the implementation of discipline character education through the contet of Pancasila and citizen education lesson.

The results showed that grade IVA and IVB teachers had planned, implemented, and assessed the implementation of discipline character education.

The Lesson Plan, The Students Worksheet and evaluation questions were the plannings carried out by grade IV A and grade IV B teachers in planning the implementation of discipline character education. In the planning, grade IVA and grade IVB teachers determined basic competencies, indicators, learning objectives, learning materials, learning methods, and supporting learning activities to implement the character of discipline. The implementation of discipline character education throught the content of Pancasila and citizen education lesson conducted by grade IVA and grade IVB teachers had not been 100% in accordance with the planning in the Lesson Plan because there were obstacles that occrured during the learning process so that the implementation of discipline character had not benn realized properly. The assessment and the results of the implementation of discipline character value education through the content of Pancasila and citizen education lesson were carried out by grade IVA and IVB teachers by using the assessment rubrics that had been made in the Lesson Plan, and recording the activities carried out of the students during the learning process in anecdotal records and the results of the implementation of discipline character education of grade IVA and IVB students had not been in accordance with the expectations of grade IVA and IVB teachers.

Keyword: Character discipline, Pancasila and citizen education lesson.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur peneliti panjatkan atas ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER KEDISIPLINAN MELALUI MUATAN PELAJARAN PPKN PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI SLEMAN III”.

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Dalam penyusunan skripsi ini, peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangan karena dengan segala keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki oleh peneliti. Namun peneliti telah berusaha untuk mempersembahkan skripsi ini dengan sebaik-baiknya agar dapat memiliki manfaat bagi banyak orang. Oleh karena itu, peneliti akan menerima segala kritik dan saran yang dapat membangun dalam perbaikan skripsi ini.

Dalam penyusunan skripsi ini, peneliti banyak mendapatkan bimbingan, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada;

1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

2. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

3. Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan dosen pembimbing Akademik.

4. Drs. Paulus Wahana, M.Hum. dan Maria Melani Ika Susanti, S.Pd., M.Pd.

selaku dosen pembimbing I dan dosen pembimbing II skripsi yang telah membimbing, mengarahkan, dan membantu peneliti selama melaksanakan penelitian dan penyusunan skripsi ini.

5. Para validator yang bersedia melakukan validasi instumen penelitian ini.

6. Kepala Sekolah SD Negeri Sleman III yang telah memberikan ijin kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian di SD Negeri Sleman III.

(11)

xi

7. Guru kelas IV A dan IV B SD Negeri Sleman III yang sudah membantu peneliti untuk memperoleh data.

8. Kedua orangtua peneliti, Bapak R. Widi Priyanto dan Ibu Suwartini yang telah memberikan kasih sayang, mendoakan, menasehati, membimbing, dan menyemangati peneliti.

9. Kakak kandung, kakak ipar dan ponakan peneliti yang tidak bisa penliti sebutkan satu persatu yang selalu mendukung, menyayangi, dan sebagai panutan bagi peneliti

10. Teman-teman satu payung bimbingan skripsi yang bernama Riza, Etrin, Nanda, Suster Yulia, Suster Sisilia yang selalu memberikan dukungan, menyemangati dan mengingatkan peneliti.

11. Fauzia, Ika, Fellita, Bella, Ayuk, Kikik, Galuh, Anton, Reza, Riza, Siska, Vio yang selalu memberikan semangat, motivasi, dukungan, menguatkan dikala peneliti sedang mengerjakan skripsi.

12. Teman-teman Prodi PGSD angkatan 2017, terutama kelas A yang selalu memberikan dukungan dan motivasi dalam perjuangan ini.

13. Keluarga bimbingan belajar “BUMS” yang memberikan semangat, dukungan, dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini.

14. Segenap keluarga SD Negeri Sleman III

Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih banyak kekurangannya.

Semoga skripsi yang telah dibuat oleh peneliti ini dapat berguna bagi pembaca dan dapat memperluas wawasan.

Yogyakarta, 18 Mei 2021 Peneliti

Raden Rara Rizki Reni Mahanani

(12)

xii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 10

E. Asumsi Penelitian ... 10

F. Definisi Operasional ... 10

BAB II LANDASAN TEORI ... 12

A. Kajian Pustaka ... 12

B. Penelitian yang Relevan... 41

C. Kerangka Berpikir ... 44

BAB III METODE PENELITIAN ... 47

A. Jenis Penelitian ... 47

B. Setting Penelitian ... 48

(13)

xiii

Halaman

C. Desain Penelitian ... 50

D. Teknik Pengumpulan Data ... 52

E. Instrumen Penelitian ... 55

F. Kredibilitas dan Transferabilitas ... 61

G. Teknik Analisis Data ... 62

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 64

A. Deskripsi Penelitian ... 64

B. Hasil Penelitian ... 67

C. Pembahasan ... 101

BAB V PENUTUP ... 112

A. Kesimpulan ... 112

B. Keterbatasan Penelitian ... 113

C. Saran ... 113

DAFTAR PUSTAKA ... 114

LAMPIRAN ... 117

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 207

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Teknik Pengumpulan Data dan Sumber Data ... 55

Tabel 3.2 Indikator Wawancara Kepala Sekolah ... 56

Tabel 3.3 Indikator Wawancara Guru Kelas IV ... 58

Tabel 3.4 Kisi-kisi Kuesioner untuk guru ... 59

Tabel 3.5 Kisi-kisi Kuesioner untuk siswa ... 60

Tabel 4.1 Status Guru dan Tenaga Non Pendidik ... 64

Tabel 4.2 Status Sertifikasi Guru dan Tenaga Non Pendidik ... 65

Tabel 4.3 Golongan Guru dan Tenaga Non Pendidik ... 65

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Filosofi Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara... 18

Gambar 2.2 Kristalisasi Nilai Utama Karakter dalam PPK ... 21

Gambar 2.3 Literatur Map dari Penelitian Terdahulu ... 44

Gambar 3.1 Bagan Desain Penelitian ... 50

Gambar 3.2 Trianggulasi Teknik Pengumpulan Data ... 61

Gambar 3.3 Model Interaktif Miles dan Huberman ... 63

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Surat Izin Penelitian... 118

Lampiran 2 Surat Izin Validasi ... 119

Lampiran 3 Validasi Permukaan InstrumenValidator Guru ... 120

Lampiran 4 Validasi Isi Instrumen Validator Guru ... 124

Lampiran 5 Validasi Permukaan Instrumen Validator Dosen ... 132

Lampiran 6 Validasi Isi Instrumen Validator Dosen ... 136

Lampiran 7 Reduksi Hasil Dokumentasi ... 144

Lampiran 8 Perangkat Pembelajaran ... 145

Lampiran 9 Lembar Kuesioner ... 167

Lampiran 10 Hasil Lembar Kuesioner ... 172

Lampiran 11 Pedoman Wawancara ... 181

Lampiran 12 Reduksi Hasil Wawancara ... 184

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

Uraian dari bab ini terdiri atas latar belakang, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, asumsi penelitian, definisi operasional.

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas. Pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan oleh setiap individu yang di didik untuk mengembangkan karakter yang baik berdasarkan nilai-nilai yang baik atau nilai-nilai yang positif untuk diwujudkan dalam bentuk kebiasaan karakter dan perilaku seseorang baik secara individu maupun dalam kehidupannya. Meskipun demikian sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pemerintah memiliki kepentingan untuk membangun karakter kedisiplinan yang cerdas dan berkualitas. Hal tersebut tertera dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) yang menyebutkan tujuan nasional yaitu (1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; (2) memajukan kesejahteraan umum; (3) mencerdaskan kehidupan bangsa; (4) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Usaha-usaha tersebut telah dilakukan melalui pendidikan formal yang terdiri dari budi pekerti, Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai yang baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia yang insan kamil (Sudrajad, dalam Wuryandani, 2018: 9). Pendidikan karakter penting, terutama bagi anak-anak yang masih dalam dunia pendidikan, karena dijadikan sebagai wadah atau proses untuk

(18)

2

membentuk pribadi anak agar menjadi pribadi yang baik. Seorang tenaga pendidik juga perlu memberikan contoh perilaku yang baik kepada siswa, karena guru adalah teladan bagi anak didiknya. Dalam dunia pendidikan, pendidikan karakter ini sangat dibutuhkan oleh siswa untuk menjadi pribadi yang baik, bijaksana, jujur, bertanggung jawab, disiplin dan dapat menghargai orang lain. Pendidikan karakter memang penting bagi siswa sebagai bekal ketika mereka terjun dalam dunia kerja atau dunia politik nantinya.

Indonesia tengah berupaya untuk menghasilkan generasi-generasi unggul yang mampu bersaing di era yang kompetitif seperti sekarang ini, dan pendidikan karakter menjadi salah satu kunci utama untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan juga unggul. Dalam hal ini pendidikan karakter sebagai poros utama kecerdasan seorang anak dan pendidikan karakter diharapkan sebagai acuan kehidupan sosial anak di masa sekarang dan masa mendatang. Pendidikan karakter secara psikologis membutuhkan peran semua pihak. Segala sesuatu yang dilakukan di rumah, di sekolah, bahkan di masyarakat, merupakan bagian pendidikan untuk anak.

Masyarakat yang berkarakter adalah masyarakat yang dapat mewujudkan nilai-nilai di kehidupan nyata.

Dalam pendidikan formal di Indonesia, kasus-kasus pendidikan karakter masih sering terjadi yaitu tindakan moral yang dilakukan oleh siswa seperti contohnya membolos, mencontek ketika ujian, berperilaku tidak sopan kepada guru, dan lain sebagainya (Rohmawati, dalam Sumani, 2019: 910).

Dari tindakan moral tersebut dapat di indikasi bahwa pendidikan karakter secara formal kurang terlaksana dengan baik sehingga menyebabkan perilaku dan tindakan moralitas yang rendah. Moralitas yang rendah ini disebabkan oleh pendidikan karakter secara formal di sekolah yang kurang efektif (Sinulingga, 2016: 222). Pendidikan karater menjadi penting untuk dilaksanakan dalam rangka memberikan solusi untuk masalah mengenai penyimpangan moral yang banyak terjadi akhir-akhir ini (Wurdayani, 2018:

10). Dengan adanya beberapa pelanggaran pendidikan karakter ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Program

(19)

3

Gerakan Penguatan Pendidikan karakter untuk mendukung pembangunan karakter di Indonesia.

Penguatan Pendidikan Karakter diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017, Penguatan Pendidikan karakter adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetis), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat (Kemendikbud, 2018: 2). Fokus Gerakan Penguatan Pendidikan karakter (PPK) mendorong siswa memiliki karakter dan kompetensi adab ke-21 (berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi, dan berkolaborasi) dengan lebih memfokuskan pada struktur program, struktur kurikulum dan struktur kegiatan. Gerakan PPK ini dapat diterapkan melalui 3 basis, yaitu berbasis pada kelas, berbasis budaya sekolah, dan berbasis masyarakat.

Penguatan Pendidikan Karakter berbasis kelas dilakukan dengan cara sebagai berikut: a) mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran secara tematik atau terintegrasi dalam mata pelajaran sesuai dengan isi kurikulum; b) merencanakan pengelolaan kelas dan metode pembelajaran atau pembimbingan sesuai dengan karakter siswa; c) melakukan evaluasi pembelajaran atau pembimbingan; d) dan mengembangkan kurikulum muatan lokal dengan kebutuhan dan karakteristik daerah, satuan pendidikan dan siswa sesuai dengan pasal 6 ayat 2 (Kemendikbud, 2018: 5). Penerapan PPK berbasis kelas ini dengan melakukan analisis telaah nilai-nilai karakter dalam Kompetensi Dasar mata pelajaran dengan mengintegrasikan nilai karakter yang akan dinilai dalam perencanaan pembelajaran selanjutnya melakukan penilaian dan evaluasi pembelajaran. PPK dapat diterapkan untuk mewujudkan pendidikan karakter melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

Salah satu pendidikan karakter yang dapat diwujudkan melalui mata pelajaran PPKn yaitu karakter kedisiplinan.

Pendidikan karakter kedisiplinan melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan salah satu konsep

(20)

4

pendidikan yang dapat berfungsi untuk membentuk karakter kedisiplinan siswa untuk menjadi warga negara yang mempunyai nilai dan karakter yang baik sehingga memiliki moral yang berkualitas. Tujuan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di sekolah dasar ini untuk membekali siswa ke jenjang selanjutnya untuk memiliki nilai dan karakter yang baik sehingga penanaman moral dapat terlaksana dengan baik. Dengan muatan pelajaran PPKn diharapkan guru dan sekolah dapat mengembangkan karakter siswa (Wuryandani, 2018: 79). Salah satu karakter yang dapat dibangun melalui muatan pelajaran PPKn yaitu karakter kedisiplinan.

Kedisiplinan merupakan hal yang penting untuk diperlukan dalam membina karakter seseorang. Karakter disiplin dapat mendorong tumbuhnya nilai-nilai karakter yang lain seperti contohnya tanggungjawab, kejujuran, kerjasama dan lain sebagainnya. Disiplin adalah ketaatan pada aturan dan tata tertib yang berlaku (Poerwadarminta, dalam Wuryandani, 2018: 98).

Pendapat lain menyatakan bahwa disiplin merupakan suatu ukuran bagi tindakan-tindakan yang menjamin suatu kondisi moral yang diperlukan sehingga proses pendidikan dapat berjalan dengan lancar dan tanpa adanya gangguan (Foerster, dalam Wuryandani, 2018: 98). Nilai karakter kedisiplinan ini perlu dibangun sejak dini karena menjadi suatu pondasi yang kuat bagi anak untuk taat pada aturan atau norma yang berlaku dan menjadi landasan mental yang baik untuk siswa menghadapi masa tumbuh kembang anak di jenjang pendidikan yang lebih lanjut. Kedisiplinan adalah ketaatan pada aturan dan tata tertib (Poerwadarminta, dalam Wuryandani, 2018: 98).

Penanaman karakter kedisiplinan ini merupakan salah satu cara untuk mengajarkan moral kepada anak, karena dengan pendidikan moral inilah dapat digunakan sebagai alat unuk mengajarkan anak tanggungjawab.

Pendidikan moral disiplin diperlukan untuk membentuk siswa mengembangkan kemampuan hormat terhadap peraturan dan menghormati hak-hak orang lain dan tanggung jawab atas perilakunya sendiri, serta mengajarkan kepada siswa untuk bertanggung jawab terhadap moralnya (Lickona, dalam Wuryandani, 2018: 100).

(21)

5

Dalam pelaksanaan kedisiplinan di sekolah dapat diukur dengan beberapa indiktor kedisiplinan. Indikator kedisiplinan belajar yaitu: (1) ketaatan terhadap tata tertib sekolah, (2) ketaatan terhadap kegiatan pembelajaran di sekolah, (3) melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggungjawab, dan (4) disiplin untuk belajar di rumah (Daryono, dalam Yudha, 2018: 26). Pendapat lain menyatakan bahwa indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat disiplin belajar siswa yaitu (1) disiplin waktu meliputi: tepat waktu dalam belajar, datang dan pulang sekolah tepat waktu, tepat waktu dalam mulai dan selesai belajar di rumah, tidak kelur dan membolos saat pelajaran, menyelesaikan tugas tepat waktu, (2) disiplin perbuatan meliputi: disiplin belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intrinsik yang terdapat pada diri siswa berupa keyakinan moral, dan faktor ekstrinsik yang terdapat diluar diri siswa berupa ketaatan pada sebuah aturan atau tata tertib yang adapat mewujudkan kehidupan yang bernilai.

Berdasarkan teori yang ditelah dikemukakan maka dapat di tarik kesimpulan bahwa karakter kedisiplinan adalah perilaku yang positif yang dimiliki seorang siswa terhadap ketaatan pada aturan dan tata tertib yang ada dengan indikator kedisiplinan sebagai berikut: 1) ketaatan terhadap tata tertib di sekolah, 2) ketaatan terhadap kegiatan pembelajaran, 3) melaksanakan tugas yang sudah menjadi tanggung jawab, dan 4) disiplin belajar di rumah.

Muatan pelajaran PPKn adalah perubahan nama yang berawal dari Pendidikan Kewarganegaraan menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan karena dengan berkembangnya kurikulum yang ada di Indonesia. Pada tahun 2014 dengan berlakunya kurikulum 2013 mata pelajaran PKn di sekolah berganti nama menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Pada jenjang sekolah dasar PPKn dikenal dengan istilah muatan pelajaran PPKn karena berlakunya kurikulum tematik integratif (Wuryandani, 2018: 73). Tujuan dari pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah mewujudkan warga negara yang cerdas dan baik yaitu warga negara yang bercirikan tumbuh kembangnya kepekaaan, ketanggapan, kritisasi dan kreativitas sosial dalam konteks kehidupan bermasyakarat, berbangsa, dan bernegara secara tertib, damai,

(22)

6

kreatif sebagai cerminan dan pengetahuan nilai, norma, dan moral pancasila.

Dengan muatan pelajaran PPKn ini diharapkan guru dan sekolah dapat mengembangkan karakter siswa (Wuryandani, 2018: 79). Salah satu karakter yang dapat dikembangkan yaitu karakter kedisiplinan. Karakter kedisiplinan ini memiliki keterhubungan yang erat dengan muatan pelajaran PPKn karena karakter disiplin siswa dimulai dengan pembentukan karakter disiplin siswa terlebih dahulu. Disiplin pribadi ini dapat dibentuk melalui muatan pelajaran PPKn dengan mengkondisikan siswa untuk berperilaku disiplin setiap saat (Wuryandani, 2018: 81).

Dalam menerapkan pendidikan karakter ini dapat menggunakan salah satu model integrasi (terpadu) di dalam pembelajaran yang dilakukan dengan pengenalan nilai-nilai, memfasilitasi kesadaran yang diperolehnya tentang pentingnya nilai-nilai, dan internalisasi nilai-nilai ke dalam tingkah laku atau perilaku siswa sehari-hari melalui proses pembelajaran baik secara diluar dan didalam semua mata pelajaran termasuk PPKn (Zubaedi, dalam Wuryandani, 2018: 81). Berdasarkan teori yang ditelah dikemukakan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa muatan pelajaran PPKn adalah studi atau wahana edukatif tentang kehidupan sehari-hari untuk mengajarkan bagaimana menjadi warga negara yang baik, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia, dan mengembangkan potensi siswa untuk menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air berdasarkan nilai-nilai pencasila, UUD RI 1945, semangat Bhineka Tunggal Ika. Melalui muatan pelajaran PPKn diharapkan guru dan sekolah dapat mengembangkan beberapa karakter, salah satunya nilai karakter kedisiplinan. Karakter kedisiplinan ini dapat diimplementasikan melalui muatan pelajaran PPKn dengan menggunakan mengintergrasikan (terpadu) karakter pada pembelajaran sesuai dengan perilaku yang dilakukan selama proses pembelajaran PPKn.

Implementasi pendidikan karakter kedisiplinan ini dapat dilihat dari guru dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menyisipkan karakter kedisiplinan dalam proses pembelajaran. Dalam implementasi pendidikan karakter di sekolah, Kementerian Pendidikan dan

(23)

7

Kebudyaan Republik Indonesia mendukung pendidikan karakter dengan program Penguatan Pendidikan Karakter. Program Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dukungan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Program penguatan pendidikan karakter ini memiliki pengembangan nilai-nilai karakter dari 4 filosofi pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara yaitu olah hati (etika), olah raga (kinestetik), olah pikir (literasi), olah rasa (estetika) untuk membentuk 18 nilai karakter sesuai dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan mengkristalisasi nilai utama yaitu religius, nasionalis, integritas, gotong royong, mandiri (Kemendikbud, 2018: 2-3). Dengan adanya Penguatan Pendidikan Karakter ini semakin mendorong penguatan ekosistem pendidikan (Kepala sekolah, guru, komite sekolah, dan masyarakat) dalam menerapkan pendidikan karakter di sekolah. Penguatan Pendidikan karakter ini dapat dilaksanakan melalui pembelajaran integrasi di sekolah dan di luar sekolah sesuai dengan pengawasan guru. Penguatan Pendidikan Karakter dapat dilaksanakan secara berbasis kelas dengan mengintegrasi proses pembelajaran di dalam kelas melalui isi kurikulum dalam mata pelajaran baik secara tematik maupun terintegrasi dengan melibatkan salah satu muatan pelajaran PPKn (Kemendikbud, 2018: 6).

Adanya pendukung Program PPK seharusnya menjadikan siswa lebih semangat untuk mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah maupun di luar sekolah. Tetapi pada kenyataanya, masih ada beberapa siswa yang belum mengimplementasikan pendidikan karakter dapat dilihat melalui ketidaktaatan siswa pada tata tertib dan peraturan yang berlaku di sekolah seperti contohnya terlambat datang ke sekolah, tidak memakai aktribut lengkap, memakai seragam tidak sesuai dengan ketentuan dari sekolah, memakai sepatu tidak berwarna hitam pada hari senin. Kesadaran siswa untuk mengimplementasikan pendidikan karakter belum terbangun dalam diri masing-masing siswa sehingga masih ada siswa yang melanggar peraturan

(24)

8

dan tata tertib yang ada di sekolah walaupun sudah ada sanksi yang diberikan oleh sekolah untuk membangun rasa tanggungjawab siswa akan perbuatan yang dilakukannya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah SD Negeri Sleman III menyatakan bahwa implementasikan pendidikan karakter kedisiplinan di SD Negeri Sleman III sudah diimplementasikan melalui kegiatan yang ada di lingkungan sekolah, maupun di lingkungan kelas. Keunikan dari SD Negeri Sleman III adalah telah melaksanakan berupaya untuk mengimplementasikan pendidikan karakter sebelum adanya kurikulum 2013 dan setelah adanya kurikulum 2013 diperkuat dengan Program Penguatan Pendidikan karakter (PPK), hal ini di dukung dengan adanya kesiapan sekolah dalam untuk merencanakan implementasi pendidikan karakter melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan sekolah untuk menumbuhkan 5 nilai karakter yaitu nasionalisme, religiusitas, mandiri, gotong royong, dan integritas.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan seperti upacara bendera, mengikuti penyuluhan tata tertib berlalu lintas, melaksanakan sholat berjamahan, mengikut kegiatan ekstrakurikuler sehingga implementasi pendidikan karakter berjalan dengan baik di lingkungan sekolah ataupun di lingkungan kelas.

Beberapa penelitian terdahulu mengatakan bahwa SD Negeri Kliteran menerapkan pendidikan karakter kedisiplinan siswa dengan menerapkan beberapa aturan di sekolah sehingga siswa menjalankan aturan tersebut untuk mendapatkan hadiah dan hukuman ketika dilanggar (Nugroho, 2020).

Implementasi pendidikan karakter sudah dilaksanakan melalui mata pelajaran PPKn oleh guru dengan tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan penilaian (Suardi, 2019). Karakter disiplin dalam pendidikan dapat mengubah karakter dan perilaku guru dan siswa SD Negeri 7 Tanjung Raja menjadi lebih baik, misalnya guru dan siswa akan berjabat tangan ketika guru dan siswa datang dan meninggalkan sekolah, berpakaian rapi sesuai dengan hari yang ditentukan, tidak ada siswa yang datang terlambat atau membolos sekolah (Hartati, 2017). Implementasi pendidikan karakter kedisiplinan dan kejujuran pada siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Semarang sudah

(25)

9

terlaksana sesuai dengan tata tertib yang ada melalui kegiatan ekstrakulikuler (Chomsatun, 2017).

Penelitian terdahulu lebih banyak meneliti implementasi pendidikan karakter berbasis kelas, budaya sekolah, dan masyakarat sehingga penelitian terdahulu belum banyak meneliti Implementasi Pendidikan karakter kedisiplinan berbasis kelas melalui muatan pelajaran PPKn. Karena itu, penelitian ini dibatasi hanya pada implementasi pendidikan karakter kedisiplinan melalui muatan pelajaran PPKn pada siswa kelas IV SD Negeri Sleman III. Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif.

Penelitian ini akan menggunakan penelitian ex post facto, karena meneliti fakta yang sudah berlalu terjadi pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana implementasi pendidikan karakter kedisiplinan direncanakan pada muatan pelajaran PPKn pada siswa kelas IV SD Negeri Sleman III pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020?

2. Bagaimana implementasi pendidikan karakter kedisiplinan dilaksanakan dalam muatan pelajaran PPKn pada siswa kelas IV SD Negeri Sleman III pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020?

3. Bagaimana proses penilaian dan hasil implementasi pendidikan karakter kedisiplinan melalui muatan pelajaran PPKn pada siswa kelas IV SD Negeri Sleman III pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui perencanaan implementasi pendidikan karakter kedisiplinan pada muatan PPKn pada siswa kelas IV SD Negeri Sleman III pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020.

2. Mengetahui pelaksanaan implementasi pendidikan karakter kedisiplinan dalam muatan PPKn pada siswa kelas IV SD Negeri Sleman III pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020.

(26)

10

3. Mengetahui proses penilaian dan hasil implementasi pendidikan karakter kedisiplinan melalui muatan PPKn pada siswa kelas IV SD Negeri Sleman III pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti

Mengetahui gambaran tentang pendidikan karakter kedisiplinan yang dapat menjadi modal untuk tugas mendampingi siswa.

2. Bagi siswa

Mendapatkan pengarahan yang benar dalam membangun karakter kedisiplinan.

3. Bagi guru

Menemukan cara untuk melaksanakan pendidikan karakter kedisiplinan dengan baik dan benar.

E. Asumsi Penelitian

1. Sekolah sudah mendapatkan sosialisasi dan melaksanakan kurikulum 2013 (K-13) yang memiliki muatan pelajaran PPKn.

2. Sekolah sudah memperoleh sosialisasi program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

F. Definisi Operasional

1. Pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan oleh setiap individu yang di didik untuk mengembangkan karakter yang bermoral baik berdasarkan nilai-nilai yang baik atau nilai-nilai yang positif untuk diwujudkan dalam bentuk kebiasaan karakter dan perilaku seseorang baik secara individu maupun masyarakat.

2. Penguatan Pendidikan Karakter adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetis), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk mendorong siswa memiliki karakter dan kompetensi abad ke-21

(27)

11

(berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi, dan berkolaborasi). Nilai karakter yang baik dapat menuntun siswa untuk berperilaku baik dalam kehidupan sehari-hari melalui pendidikan nilai karakter yang ditanamankan dan dikembangkan secara individual dengan berdasarkan pengembangan berbagai aspek.

3. Kedisiplinan perilaku yang positif yang dimiliki seorang siswa terhadap ketaatan pada aturan dan tata tertib yang ada dengan indikator kedisiplinan sebagai berikut: 1) ketaatan terhadap tata tertib di sekolah, 2) ketaatan terhadap kegiatan pembelajaran, 3) melaksanakan tugas yang sudah menjadi tanggung jawab, dan 4) disiplin belajar di rumah.

4. Muatan pelajaran PPKn adalah studi atau wahana edukatif tentang kehidupan sehari-hari untuk mengajarkan bagaimana menjadi warga negara yang baik, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia, dan mengembangkan potensi siswa untuk menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air berdasarkan nilai-nilai pencasila, UUD RI 1945, semangat bhineka tunggal ika.

(28)

12 BAB II

LANDASAN TEORI

Uraian dari bab ini terdiri atas kajian pustaka, teori yang mendukung, penelitian yang relevan, dan kerangka berpikir.

A. Kajian Pustaka 1. Karakter

a. Pengertian karakter

Karakter adalah individu yang mempunyai kepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat atau bertakwa yang berbeda pada setiap individunya. Dalam bahasa Indonesia “Karakter” diartikan sebagai tabiat, sifat-sifat kejiwaaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain (Suyadi, 2013: 5). Orang yang karakter adalah orang yang memiliki kepribadian, perilaku, sifat, tabiat, atau takwa yang membedakan dirinya dengan orang lain (Suyadi, 2013: 5).

Karakter juga mengacu pada suatu serangkaian pengetahuan, karakter, dan motivasi, serta perilaku dan keterampilan pada orang itu sendiri (Marzuki, dalam Suyadi, 2013: 5). Karakter adalah suatu kondisi yang diterima tanpa kebebasan yang berarti, dan karakter yang diterima sebagai kemampuan seseorang untuk menentukan pelaksanaan kebebasan yang dimiliknya. Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi sebuah ciri khas seseorang untuk hidup, bekerja sama baik dalam lingkungan keluarga, masyakarat, bangsa dan Negara (Suyanto, dalam Maksudin, 2013: 3).

Karakter berasal dari bahasa yunani yang berarti to mark (menandai) dan memfokuskan pada perilaku yang nyata dalam kehidupan sehari hari (Wynne, dalam Wuryandani, 2018: 1).

Karakter selalu berhubungan dengan perilaku manusia yang positif.

Karakter terkait dengan tiga hal, yaitu pengetahaun moral, perasaan moral, dan perilaku moral (Lickona, dalam Wuryandani, 2018: 1).

Karakter yang baik terdiri atas mengetahui yang baik,

(29)

13

mengingingkan yang baik dan melakukan kebiasaan baik dari pikiran, kebiasaan hati dan kebiasaan tindakan.

Berdasarkan pendapat dari beberapa para ahli di atas, peneliti berpendapat bahwa karakter adalah perilaku, budi pekerti, akhlak yang positif dan baik dalam kehidupan sehari-hari yang dimiliki seseorang untuk membedakan dengan orang lain sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Karakter menjadi sebuah ciri khas seseorang karena karakter adalah cara berpikir dan berperilaku seseorang yang membedakan satu orang dengan orang lain.

b. Komponen karakter yang baik

Karakter yang baik pasti memiliki komponen yang terdiri dari moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (perilaku moral). Moral knowing terdiri atas moral awareness, knowing moral value, perspective taking, moral reasoning, decision-making, self knowledge. Moral feeling terdiri atas conscience atau hati nurani, self esteem atau harga diri, empathy atau empati, loving the good atau mencintai kebaikan, self control atau kontrol diri, humility atau kerendahan hati. Moral action terdiri atas competence atau kompetensi, will atau keinginan, habit atau kebiasaan (Wuryandani, 2018: 3-6). Komponen-komponen tersebut merupakan komponen karakter yang baik yang dimiliki setiap orang.

Seseorang akan dikatakan memiliki karakter yang baik apabila antara pengetahuan, perasaan, dan perilaku moral akan bekerja bersama dan saling mendukung satu dengan yang lain (Wuryandani, 2018: 6). Karakter dapat mencerminkan suatu perilaku yang dilakukan oleh seseorang. Seseorang dikatakan memiliki karakter yang baik apabila dirinya memiliki aspek pengetahuan, perasaan, dan perilaku moral (Wuryandani, 2018: 6).

Berdasarkan pendapat dari beberapa para ahli di atas, peneliti berpendapat bahwa karakter yang baik harus memiliki komponen-komponen yang saling bekerja sama antara pengetahuan

(30)

14

moral, perasaan moral, dan perilaku moral yang tentunya saling mendukung komponen yang lain dan dapat mencerminkan dari perilaku yang dilakukan oleh orang tersebut.

2. Pendidikan Karakter

a. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh seseorang baik secara pribadi maupuan sosial untuk membantu menciptakan sebuah lingkungan yang dapat membantu pertumbuhan kebebasan menjadi pribadi yang individualitas dan memiliki keunikan yang semakin dihargai (Koesoema, 2010: 194). Suatu kehendak atau niat merupakan langkah awal terjadinya akhlak atau karakter pada diri seseorang dan jika kehendak tersebut diwujudkan dalam bentuk kebiasaan karakter dan perilaku (Amin, dalam Suyadi, 2013: 6).

Pendidikan karakter adalah usaha yang disengaja yang dilakukan oleh seseorang untuk mengembangkan karakter yang baik berdasarkan nilai-nilai yang baik untuk individu maupun masyarakat (Yaumi, dalam Suyadi, 2013: 6). Pendidikan karakter mencakup tiga unsur yaitu mengetahui sebuah kebaikan, mencintai kebaikan, dan melakukan sebuah kebaikan (Lickona, dalam Suyadi, 2013: 6).

Pendidikan karakter berkaitan dengan bagaimana individu menghayati suatu kebebasan dalam relasi diri tiap individu dengan orang lain (Koesoema, 2010: 194). Pendidikan karakter yang dimiliki seseorang memiliki sebuah dimensi secara individual yang berkaitan sangat erat dengan pendidikan nilai dan pendidikan moral seseorang (Koesoema, 2010: 195).

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nili-nilai yang baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama lingkungan, maupun kebangsaan sehingga

(31)

15

menjadi manusia yang insan kamil (Sudrajad, dalam Wuryandani, 2018: 9). Dalam pendidikan karakter tentunya harus menanamkan nilai-nilai karakter yang bermoral baik sebagai pendidikan nilai.

Penanaman nilai-nilai karakter dari dalam diri siswa adalah tujuan dari pendidikan nilai.

Dalam mengembangkan seseorang untuk menjadi manusia yang berkarakter diperlukan tiga komponen yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral acting (Lickona, dalam Wuryandani, 2018: 9).

Dengan ketiga komponen itu diperoleh melalui proses pendidikan karakter. Pendidikan karakter memiliki makna yang lebih luas dibandingkan dengan pendidikan moral. Pendidikan karakter ini tidak hanya mengajarkan akan hal benar atau salah tetapi lebih kepada menanamkan kebiasaan tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan sehingga siswa memiliki kesadaran dan pemahaman yang tinggi untuk menerapkan karakter kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan pendapat dari beberapa para ahli di atas, peneliti berpendapat bahwa pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan oleh setiap individu untuk mengembangkan karakter yang bermoral baik berdasarkan nilai-nilai yang baik atau nilai-nilai yang positif untuk diwujudkan dalam bentuk kebiasaan karakter dan perilaku seseorang baik secara individu maupun masyarakat.

b. Tujuan pendidikan karakter

Pelaksanaan pendidikan karakter ini adalah tanggung jawab bersama baik di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Pendidikan karakter ini menjadi penting untuk dilaksanakan dalam rangka mengatasi-mengatasi masalah mengenai penyimpangan moral yang banyak terjadi akhir-akhir ini (Wuryandani, 2018: 10).

Pelaksanaan pendidikan karakter yang baik di dalam tiga lingkungan pendidikan maka akan mampu mempersiapkan siswa menjadi generasi muda yang berkarakter (Wuryandani, 2018: 12).

(32)

16

Pelaksanaan pendidikan karakter ini memiliki tujuan yang dijelaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Wuryandani, 2018:

12) yaitu (1) mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif, (2) mengembangkan kebiasaan dan perilaku, (3) menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab, (4) mengembangkan kemampuan siswa menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan, (5) mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, dan penuh kreativitas.

The purpose of character education to assist students in becoming positive and self-directed in their live and education and striving toward future goals (Zubaedi, dalam Wuryandani, 2018:

13). Pernyataan dapat di maknai bahwa tujuan pendidikan karakter adalah membantu siswa agar menjadi lebih positif dan mampu mengarahkan dirinya dalam pendidikan dan kehidupan serta berusaha keras untuk mencapai tujuan masa depannya.

Tujuan pendidikan karakter yaitu menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting sehingga menjadi pribadi siswa yang memiliki khas untuk mengembangkan nilai-nilai, mengkoreksi perilaku siswa sesuai dengan nilai yang akan dikembangkan di sekolah, serta membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga, masyakarat, dan bertanggung jawab dengan karakter (Kesuma, dalam Wuryandani, 2018: 13). Tujuan pendidikan karakter adalah untuk pengembangan karakter yang bermoral baik dan berkualitas bagi siswa.

Berdasarkan pendapat dari beberapa para ahli di atas, peneliti berpendapat bahwa tujuan pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan, menguatkan, memfasilitasi perilaku yang positif bagi siswa untuk membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab sesuai dengan karakter baik dan mengimplementasikan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari.

(33)

17 3. Penguatan Pendidikan Karakter

a. Pengertian Penguatan Pendidikan Karakter

Penguatan Pendidikan Karakter yang biasanya disingkat dengan PPK adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetis), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat (Kemendikbud, 2018: 2). Dimensi pengolahan karakter melalui olah hati (etik) dapat dilihat dari individu yang memiliki kerohanian mendalam, beriman, dan bertakwa. Olah rasa (estetis) dapat dilihat dari individu yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian dan berkebudayaan. Olah pikir (literasi) dapat dilihat dari individu yang memiliki keunggulan akademis sebagai hasil pembelajaran dan pembelajaran sepanjang hayat. Olah raga (kinestetik) dapat dilihat dari individu yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif sebagai warga negara.

Gerakan Penguatan Pendidikan karakter memiliki tujuan yaitu:

1) mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan makna dan nilai karakter sebagai jiwa atau penggerak utama penyelenggaraan pendidikan; 2) membangun dan membekali generasi emas pada tahun 2045 mendatang untuk menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad ke-21;

3) mengembalikan pendidikan karakter sebagai pondasi pendidikan melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetis), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik); 4) menggiatkan kembali dan memperkuat kapasitas ekonomi pendidikan untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter; 5) membangun jaringan perlibatan masyarakat sebagai sumber-sumber belajar di dalam atau di luar sekolah, 6) melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia melalui gerakan yang mendukung yaitu Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Berikut adalah gambar filosofi pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara:

(34)

18

Gambar 2.1 Filosofi Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara Keempat harmonisasi ini saling berkaitan sehingga antara satu harmonisasi dengan harmonisasi yang lain mendukung untuk mengimplementasikan pendidikan karakter karena dapat menjadi pondasi yang kuat dalam pendidikan karakter.

Berdasarkan pendapat dari beberapa para ahli di atas, peneliti berpendapat bahwa program penguatan pendidikan karakter perlu diterapkan dengan tujuan untuk membangun, memperkuat karakter dan membekali siswa dengan jiwa pancasila dan berkarakter baik dan bermoral sehingga siap dalam menghadapi perubahan di masa depan.

b. Nilai-nilai Utama dalam Penguatan Pendidikan karakter

Nilai-nilai karakter yang baik akan menuntut seseorang untuk berperilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari (Wuryandani, 2018: 11). Melalui pendidikan karakter akan menanamkan nilai-nilai karakter yang baik didalam diri individu. Pendidikan nilai karakter bagi siswa adalah penanaman dan pengembangan nilai-nilai dari dalam diri siswa yang tidak mengharuskan sebagai program atau pelajaran khusus (Maksudin, 2013: 36).

Penanaman dan pengembangan nilai ini merupakan suatu dimensi dari semua usaha pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu, keterampilan maupun teknologi tetapi pengembangan aspek-aspek yang lain seperti kepribadian, etik-moral

(35)

19

(Maksudin, 2013: 36). Tujuan pendidikan nilai karakter ini adalah menciptakan individu yang cerdas secara keseluruhan (Maksudin, 2013: 38). Sekolah harus menyediakan lingkungan moral yang dapat mendukung sehingga ketercapaian nilai-nilai karakter yang baik yang akan dikembangkan, sehingga memungkinkan siswa untuk selalu berperilaku sesuai dengan nilai karakter yang akan dikembangkan.

Keberhasilan pendidikan karakter di sekolah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain. Implementasi pendidikan karakter di sekolah dapat dikatakan berhasil dengan syarat utama yaitu guru, karyawan, pimpinan sekolah, dan para pemangku kebijakan sekolah. Tidak hanya itu saja pendidikan karakter harus dilakukan secara konsisten dan terus menurus, serta penanaman nilai-nilai karakter menjadi keutamaan (Wibowo, dalam Wuryandani, 2018: 15).

Berdasarkan Permendikbud No. 20 Tahun 2018 pasal 2 yang berbunyi sebagai berikut Penguatan Pendidikan Karakter dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Penguatan Pendidikan Karakter berfokus pada 5 nilai utama karakter yang menjadi prioritas PPK yaitu religius, integritas, nasionalis, mandiri dan gotong royong (Kemendikbud, 2018: 3). PPK ini memiliki 5 nilai utama karakter berubah menjadi religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas diatur dalam Permendikbud No. 20 Tahun 2018 pasal 1 sebagai berikut:

1) Religiusitas

Nilai ini dapat mencerminkan keberimanaan siswa terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dalam karakter

(36)

20

seseorang dengan menjalankan agama dan kepercayaan yang dianutnya, menghargai perbedaan agama, hidup secara rukun, menjunjung tinggi karakter toleransi dalam beragama. Dalam nilai religius ini meliputi tiga dimensi yaitu hubungan individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan lingkungan (alam). Subnilai religiusitas adalah toleransi, cinta damai, persabahatan, teguh pada pendirian, ketulusan, percaya diri, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, kerja sama antarpemeluk agama dan kepercayaan, menghargai perbedaan agama, disiplin dalam beribadah.

2) Integritas

Nilai integritas merupakan nilai yang mendasari suatu perilaku seseorang yang didasarkan pada upaya menjadikan diri sendiri sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perkataan, perbuatan, tindakan, dan memiliki komitmen pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral.

Karakter integritas memiliki karakter tanggung jawab sebagai warga negara, dan aktif dalam kehidupan bersosial, serta konsisten pada tindakan atau perkataan yang didasarkan pada sebuah kebenaran. Subnilai integritas adalah kejujuran, keadilan keteladanan, kesetiaan, menghargai martabat, anti korupsi, komitmen moral, bertanggung jawab, cinta kebenaran, menghargai martabat indivisu.

3) Nasionalisme

Nilai nasionalisme merupakan cara berpikir, berkarakter dan berbuat yang menunjukkan kesetian, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pada bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri sendiri dan kelompok. Subnilai nasionalisme adalah taat hukum, disiplin, cinta tanah air, menghormati keragaman, rela berkorban, unggul dan berprestasi, menjaga lingkungan.

(37)

21 4) Kemandirian

Nilai kemandirian merupakan karakter dan perilaku yang tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran dan waktu untuk merealisasikan sebuah harapan, mimpi, dan cita-cita. Subnilai kemandirian adalah etos kerja (kerja keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, tidak mudah putus asa.

5) Gotong Royong

Nilai gotong royong merupakan cerminan tindakan yang menghargai semangat kerja sama dan saling membantu menyelesaikan sebuah persoalan kelompok, menjalin komunikasi dan persahabatan, saling tolong menolong kepada orang yang membutuhkan. Subnilai gotong royong adalah menghargai, inklusif, kerja sama, musyawarah mufakat, tolong menolong, anti diskriminasi.

Berikut adalah gambar mengenai nilai keutamaan karakter dalam PPK:

Gambar 2.2 Kristalisasi nilai utama karakter dalam PPK Kelima nilai keutamaan karakter prioritas PPK ini menunjang dan mendukung manfaat dari PPK. Penguatan Pendidikan karakter (PPK) memiliki beberapa manfaat sebagai berikut: penguatan karakter siswa dalam mempersiapakan daya saing antarsiswa dengan kompetensi abad 21 (berpikir kritsi, kreatif, mampu berkomunikasi dan berkolaborasi); pembelajaran dapat dilakukan secara integrasi di

(38)

22

sekolah maupun di luar sekolah dengan pengawasan guru;

revitalisasi peran kepala sekolah sebagai manager dan guru sebagai inspirator PPK; revitalisasi komite sekolah sebagai badan gotong royong sekolah dan partisipasi masyakarat; penguatan peran keluarga melalui kebijakan pembelajaran lima hari; kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga masyarakat, pegiat pendidikan, pegiat kebudayaan, dan sumber-sumber belajar lainnya (Kemendikbud, 2018: 4).

Fokus gerakan PPK mendorong siswa memiliki karakter dan kompetensi abad ke-21 (berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi dan berkolaborasi) dengan lebih memfokuskan pada struktur program, struktur kurikulum dan struktur kegiatan (Kemendikbud, 2018: 5). Struktur program difokuskan pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menegah Pertama (SMP) dengan memanfaatkan ekosistem pendidikan yang ada di lingkungan sekolah serta penguatan kapasitas kepala sekolah, guru, orang tua, komite sekolah dan pemangku kepentingan lain yang relevan. Struktur kurikulum tidak mengubah kurikulum yang sudah ada melainkan optimalisasi kurikulum pada satuan pendidikan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, serta nonkurikuler di lingkungan sekolah. Struktur kegiatan mengajak masing-masing sekolah untuk menemukan ciri khasnya sehingga sekolah menjadi sangat kaya dan unik serta mewujudkan kegiatan pembentukan karakter empat dimensi pengolahan karakter yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara meliptui olah rasa, olah hati, olah pikir dan olah raga.

Gerakan PPK ini dibagi menjadi 3 basis yaitu berbasis kelas, berbasis budaya, dan berbasis masyarakat (Kemendikbud, 2018: 6).

Dalam berbasis kelas dilaksanakan integrasi proses pembelajaran di dalam kelas melalui isi kurikulum dalam mata pelajaran baik secara tematik maupun terintegrasi, memperkuat manajemen kelas dan pilihan metodologi dan evaluasi pengajaran, dan mengembangkan

(39)

23

muataan lokal sesuai dengan kebutuhan daerah. PPK dalan berbasis budaya sekolah dilaksanakan dengan melakukan pembiasaan nilai-nilai dalam keseharian sekolah, keteladanan orang dewasa di lingkungan pendidikan, melibatkan ekosistem sekolah, ruang yang luas pada segenap potensi siswa melalui kegiatan ko-kurikuler dan ekstra-kurikuler, memberdayakan manajemen sekolah, mempertimbangkan norma, peraturan dan tradisi sekolah. PPK dalam berbasis masyarakat dilaksanakan dengan melihat potensi lingkungan sumber pembelajaran seperti keberadaan serta dukungan pegiat seni dan budaya, tokoh masyarakat, dunia usaha dan dunia industri, sinergi PPK dengan berbagai program yang ada dalam lingkup akademis, pegiat pendidikan dan LSM, dan sinkronisai program dan kegiatan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan juga masyarakat serta orang tua siswa.

Berdasarkan pendapat dari beberapa para ahli di atas, peneliti berpendapat bahwa PPK adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetis), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk mendorong siswa memiliki karakter dan kompetensi abad ke-21 (berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi, dan berkolaborasi). Nilai-nilai karakter yang baik dapat menuntun siswa untuk berperilaku baik dalam kehidupan sehari-hari melalui pendidikan karakter yang ditanamankan dan dikembangkan secara individual dengan berdasarkan pengembangan berbagai aspek.

4. Kedisiplinan

Karakter disiplin ini jika dikaitkan dengan 5 nilai utama karakter dalam prioritas PPK maka akan berkaitan dengan nilai integritas, nasionalisme, dan kemandirian. Karakter disiplin menjadikan siswa menjadi seseorang yang dapat dipercaya oleh orang lain dalam perbuatan

(40)

24

atau tindakan sesuai dengan moral dan lebih menghargai waktu untuk berproses menjadi seseorang yang memiliki perilaku, moral yang baik, serta bertanggung jawab sesuai dengan perilaku yang dilakukan .

Kedisiplinan merupakan hal yang penting untuk diperlukan dalam membina karakter seseorang. Karakter disiplin dapat mendorong tumbuhnya nilai-nilai karakter yang lain seperti contohnya tanggung jawab, kejujuran, kerjasama dan lain sebagainya. Disiplin diri berhubungan dengan nilai-nilai karakter yang lain seperti ketekunan, kerja sama, hemat, kemampuan untuk menunda kepuasaan, kehati-hatian dan moderasi (Krishenbaum, dalam Wuryandani, 2018: 97). Ada tiga dimensi dalam disiplin yaitu disiplin untuk mencegah masalah, disiplin untuk memecahkan masalah agar tidak semakin memburuk dan disiplin untuk mengatasi siswa yang berperilaku di luar kontrol (Curvin &

Mindler, dalam Wuryandani, 2018: 97). Kedisiplinan di sekolah merupakan salah satu hal yang penting dan perlu diperhatikan di sekolah karena persoalan disiplin di sekolah ini banyak menjadi sorotan karena dapat berpengaruh pada tegaknya nilai-nilai karakter lainnya.

Disiplin merupakan suatu ukuran bagi tindakan-tindakan yang menjamin suatu kondisi moral yang diperlukan sehingga proses pendidikan dapat berjalan dengan lancar dan tanpa adanya gangguan (Foerster, dalam Wuryandani, 2018: 98). Disiplin ini dapat menjadi sebuah upaya untuk menyingkirkan hal-hal yang membahayakan bagi siswa. Disiplin adalah suatu kebiasaan dan tindakan yang konsisten terhadap segala bentuk peraturan atau tata tertib yang sudah berlaku atau sedang berlaku. Disiplin adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan (Wuryandani, 2018: 7).

Disiplin adalah ketaatan pada aturan dan tata tertib yang berlaku (Poerwadarminta, dalam Wuryandani, 2018: 98). Aturan dan tata tertib di sekolah ini berlaku tidak hanya untuk siswa tetapi bagi guru dan komunitas yang ada di sekolah juga. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidakdisiplinan yang terjadi di sekolah. Faktor penyebab

(41)

25

ketidakdisiplinan yang berasal dari dalam sekolah yaitu siswa yang mengalami kebosanan, kurangnya suatu kekuasaan, pembatasan yang tidak jelas, kurangnya perasaan untuk diterima, dan tidak dihargainya martabat siswa (Curvin & Mindler, dalam Wuryandani, 2018: 99).

Disciplne is not simple device for securing superficial peace in the classroom, it is morality of the classroom as a small society (Durkheima, dalam Wuryandani, 2018: 99). Untuk menciptakan kondisi kedisiplinan di dalam kelas merupakan hal yang paling penting karena kelas merupakan ruang lingkup yang paling kecil.

Di dalam kelas juga perlu ditegakkan aturan yang berlaku bagi semua warga kelas. Aturan ini berfungsi sebagai standar perilaku yang harus ditaati oleh semua warga kelas. Aturan atau norma di kelas ini berfungsi untuk mengatur dan menilai perilaku. Dengan adanya norma manusia, manusia dapat membedakan mana yang benar atau salah yang dapat membantu siswa untuk memiliki argumen moral (Wuryandani, 2018: 104).

Penanaman nilai kedisiplinan di dalam kelas merupakan salah satu cara untuk mengajarkan moral kepada siswa. Pendekatan pendidikan moral melalui disiplin merupakan alat yang digunakan untuk mengajarkan tanggung jawab dan nilai-nilai yang hormat kepada siswa (Lickona, dalam Wuryandani, 2018: 100). Pendidikan moral disiplin diperlukan untuk membentuk siswa agar dapat berkembang kemampuan hormat terhadap suatu peraturan, menghormati hak-hak orang lain, dan bertanggung jawab atas perilakunya sendiri serta mengajarkan kepada siswa untuk bertanggung jawab terhadap moralnya (Lickona, dalam Wuryandani, 2018: 100).

Dalam mengembangkan disiplin siswa ini harus mendukung beberapa komponen yaitu (1) membuat hubungan antara guru dan siswa yang lebih hangat, saling percaya dan mendukung, (2) ruang kelas sebagai komunitas yang peduli terhadap demokrasi, setiap anak akan rasa memiliki, otonomi terpenuhi, (3) memberikan kesempatan anak untuk berdiskusi tentang nilai dan moral dan cara berperilaku dalam kehidupan

(42)

26

sehari-hari, (4) guru menggunakan teknik kontrol yang proaktif dan reaktif untuk membantu anak agar bertindak sesuai dengan nilai-nilai sosial (Wuryandani, 2018: 106).

Indikator kedisiplinan belajar yaitu: (1) ketaatan terhadap tata tertib sekolah, (2) ketaatan terhadap kegiatan pembelajaran di sekolah, (3) melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab, dan (4) disiplin untuk belajar di rumah (Daryono, dalam Yudha, 2018: 26). Pendapat lain menyatakan bahwa indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat disiplin belajar siswa yaitu (1) disiplin waktu meliputi: tepat waktu dalam belajar, datang dan pulang sekolah tepat waktu, tepat waktu dalam mulai dan selesai belajar di rumah, tidak keluar dan membolos saat pelajaran, menyelesaikan tugas tepat waktu, (2) disiplin perbuatan meliputi: disiplin belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intrinsik yang terdapat pada diri siswa, dan faktor ekstrinsik yang terdapat diluar diri siswa.

Berdasarkan pendapat dari beberapa para ahli di atas, peneliti berpendapat bahwa kedisplinan adalah perilaku yang positif yang dimiliki seorang siswa terhadap ketaatan pada aturan dan tata tertib yang ada dengan indikator kedisiplinan sebagai berikut: 1) ketaatan terhadap tata tertib di sekolah, 2) ketaatan terhadap kegiatan pembelajaran, 3) melaksanakan tugas yang sudah menjadi tanggung jawab, dan 4) disiplin belajar di rumah.

5. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas

Penguatan Pendidikan Karakter pada satuan pendidikan formal diselenggarakan dengan mengoptimalkan fungsi kemitraan tripusat pendidikan yang meliputi sekolah, keluarga dan masyakarat sesuai dengan pasal 5 ayat 1. Berdasarkan pasal 6 ayat 1 Penguatan Pendidikan Karakter ini berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi kemitraan tripusat pendidikan yang dilaksanakan dengan pendekatan berbasis kelas, budaya sekolah dan masyarakat (Kemendikbud, 2018: 5).

Jenis-jenis program Penguatan Pendidikan Karakter (TIM PPK Kemendikbud, 2017: 27) sebagai berikut:

(43)

27

a. Pengintegrasian PPK dalam Kurikulum

Pengintegrasian PPK dalam kurikulum mengandung arti bahwa pendidik atau guru mengintegrasikan nilai-nilai utama pada PPK ke dalam proses pembelajaran dalam setiap mata pelajaran.

Pembelajaran yang mengintegrasikan nilai utama ini bertujuan untuk menumbuhkan dan menguatkan pengetahuan, menanamkan kesadaran dan mempraktikkan nilai-nilai uatama PPK. Pendidik atau guru dapat memanfaatkan secara optimal dalam materi yang tersedia di dalam kurikulum secara kontekstual dengan penguatan pada nilai-nilai utama PPK.

Langkah-langkah menerapkan PPK melalui pembelajaran terintegrasi dalam kurikulum dapat dilaksanakan dengan cara : 1) Melakukan analisis KD melalui identifikasi nilai yang

terkandung dalam materi pembelajaran

2) Mendesain RPP yang memuat fokus penguatan karakter dengan memilih metode pembelajarn dan pengelolaan atau manajemen kelas yang relevan

3) Melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan skenario dalam RPP

4) Melaksanakan penilian otentik atas pembelajaran yang telah dilaksanakan dan

5) Melakukan refleksi dan evaluasi terhadap keseluruhan dalam proses pembelajaran

b. PPK melalui Manajemen Kelas

Manajemen kelas adalah momen pendidikan yang menempatkan para guru sebagai individu yang berwenang dan memiliki otonomi dalam proses pembelajaran untuk mengarahkan, membangun kultur pembelajaran, mengevaluasi dan mengajak seluruh komunitas yang ada di dalam kelas untuk membuat komitmen bersama agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan berhasil. Pendidik atau guru memiliki kewenangan dalam mempersiapkan mengajar, dan

Gambar

Gambar 2.1 Filosofi Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara  Keempat  harmonisasi  ini  saling  berkaitan  sehingga  antara  satu  harmonisasi  dengan  harmonisasi  yang  lain  mendukung  untuk  mengimplementasikan  pendidikan  karakter  karena  dapat  men
Gambar 2.2 Kristalisasi nilai utama karakter dalam PPK  Kelima  nilai  keutamaan  karakter  prioritas  PPK  ini  menunjang  dan  mendukung  manfaat  dari  PPK
Gambar 2.3 Literatur Map dari Penelitian Terdahulu
Table 3.1 Teknik Pengumpulan Data dan Sumber Data
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pendidikan karakter mempunyai tugas yang penting untuk mendidik seseorang. Pendidikan karakter religius dan disiplin, diharapkan dapat mendidik siswa agar memiliki

Kedisiplinan belajar yang diteliti mencakup disiplin belajar di rumah dan di sekolah pada siswa kelas tinggi SD Negeri Saripan Jepara tahun pelajaran

lama. Diharapkan dengan menggunakan model pembelajaran koopertif tipe Make A Match siswa dapat mengerjakan tugas dengan tepat waktu karena dalam indikator kedisiplinan salah

Oleh karena itu fokus dari masalah penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar siswa pada muatan pelajaran matematika kelas IV SD

Kelima indikator tersebut digunakan sebagai acuan untuk mengukur sikap belajar yang dilakukan siswa pada pembelajaran IPS menggunakan pendekatan pembelajaran scientific hasil

berkembang ke berikutnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pendidikan karakter disiplin dapat merubah sikap dan tingkah laku guru maupun siswa-siswa SD Negeri 7

Untuk mengukur kebiasaan belajar digunakan skala yang disusun oleh peneliti berdasarkan tiga aspek menurut pendapat Gie (1995) yaitu: (1) keteraturan yang meliputi dari

Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri 93 Cabbeng Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone adalah pada indikator : 1 datang tepat waktu, 2