RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN. Gusti Ayu Putu Sri Susanti, S.Pd.

15  Download (0)

Teks penuh

(1)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Gusti Ayu Putu Sri Susanti, S.Pd.

Satuan Pendidikan : SMP Negeri 2 Tabanan Kelas / Semester : VIII / 2

Tema : Buku Fiksi dan Nonfiksi

Sub Tema : Menelaah unsur buku/teks fiksi dan menyajikan tanggapan terhadap buku/teks fiksi yang dibaca

Pembelajaran ke : 3

Alokasi Waktu : 1 x pertemuan

A. Tujuan Pembelajaran

1. Melalui kegiatan berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik mampu menelaah unsur-unsur dalam buku fiksi dengan rasa ingin tahu, berpikir kritis, bekerja sama, dan penuh tanggung jawab.

2. Melalui kegiatan berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik mampu menyajikan tanggapan

terhadap buku fiksi yang dibaca, baik secara lisan maupun tertulis dengan rasa ingin tahu, berpikir kritis, bekerja sama, dan penuh tanggung jawab.

B. Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan Pendahuluan (2 Menit)

Guru mengucapkan salam pembuka dan bersama peserta didik berdoa sebelum memulai pembelajaran.

Guru memeriksa kehadiran peserta didik

Guru memberi apersepsi dengan mengaitkan materi/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman peserta didik dan materi/kegiatan sebelumnya

Guru menyampaikan KD, tujuan pembelajaran, dan manfaat pembelajaran pertemuan hari ini.

Guru menyampaikan garis besar cakupan materi dan langkah pembelajaran.

Kegiatan Inti (6 Menit)

Kegiatan Literasi Peserta didik melakukan kegiatan literasi, yakni membaca materi berupa sebuah teks fiksi berjudul Persahabatan Semut (Stimulation)

Critical Thinking Peserta didik diharapkan mendata dan mengemukakan pertanyaan yang berkaitan dengan unsur-unsur buku/teks fiksi dan menyajikan tanggapan terhadap buku/teks fiksi yang dibaca melalui media teks fiksi berjudul Persahabatan Semut yang dibaca (Problem Statement)

Collaboration Peserta didik diberikan kesempatan untuk mendiskusikan, mengumpulkan informasi, dan saling bertukar informasi di bagian diskusi mengenai unsur-unsur buku/teks fiksi dan unsur buku/teks fiksi Persahabatan Semut serta mengenai menyajikan tanggapan terhadap buku/teks fiksi yang dibaca bersama dengan rekan sebangkunya. (Data Collection and Data Proceessing)

Communication Peserta didik dapat mengomunikasikan jawaban pada bagian Diskusi secara lisan dengan efektif mengenai unsur-unsur buku/teks fiksi dan unsur-unsur buku/teks fiksi dalam Teks Cerita Fiksi Persahabatan Semut serta menyajikan tanggapan terhadap buku/teks fiksi yang dibaca (Verification)

Creativity Guru dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari terkait unsur buku/teks fiksi. Peserta didik kemudian diberi kesempatan untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami (Generalization)

Kegiatan Penutup (2 Menit)

Guru bersama peserta didik melakukan refleksi untuk mengevaluasi seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil- hasil yang diperoleh.

Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.

Melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian tugas individual.

Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.

Menutup pembelajaran dengan berdoa dan mengucapkan salam.

C. Penilaian Pembelajaran

Aspek Penilaian Teknik Penilaian Bentuk Instrumen

Sikap Observasi Lembar observasi

Pengetahuan Tes tertulis Pilihan ganda

Keterampilan Tes tertulis Tugas uraian

Mengetahui, Tabanan, 18 April 2022

Kepala SMP Negeri 2 Tabanan, Guru Mata Pelajaran,

Gusti Ayu Nyoman Kamayani, S.Pd., M.Pd. Gusti Ayu Putu Sri Susanti, S.Pd.

NIP. 19690403 199412 2 004 NIP.

(2)

Lampiran

I. Materi pembelajaran

UNSUR BUKU/TEKS FIKSI

BUKU/TEKS FIKSI

Fiksi merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Inggris fiction yang berarti rekaan atau khayalan. Cerita fiksi berarti cerita yang tidak sebenarnya terjadi. Secara lebih luas, pengertian cerita fiksi adalah sebuah karya satra yang bersifat imajinasi atau khayalan dari penulis dan bukan kejadian yang sebenarnya. Dengan kata lain cerita fiksi tidak terjadi secara sebenarnya di dunia nyata tetapi hanya berdasarkan imajinasi, pikiran, atau khayalan seseorang.

Buku atau teks fiksi merupakan sebuah karya yang dihasilkan oleh penulis berdasarkan imajinasinya.

Berdasarkan pengertian cerita fiksi di atas, maka kita dapat mengenali sebuah karya fiksi dengan ciri-ciri sebagai berikut:

 Fiksi sifatnya rekaan atau imajinasi dari pengarang

 Dalam fiksi terdapat kebenaran yang relatif atau tidak mutlak

 Umumnya fiksi menggunakan bahasa yang bersifat konotatif atau bukan sebenarnya

 Karya fiksi tidak memiliki sistematika yang baku

 Umumnya karya fiksi menyasar emosi atau perasaan pembaca, bukan logika

 Dalam karya fiksi terdapat pesan moral atau amanat tertentu

Karya fiksi terdiri atas berbagai jenis, diantaranya novel, roman, cerpen, drama, puisi, fabel, hikayat, dan sebagainya. Beberapa akan dijelaskan secara ringkas seperti di bawah ini.

1. Novel

Novel merupakan sebuah cerita fiksi yang menceritakan seorang tokoh utama yang penuh dengan pro dan kontra di dalam ceritanya. Mulai dari awal hingga akhir, novel memiliki klimaks atau ending.

Ciri-ciri novel adalah

• Tidak dibaca sekali duduk

• Plot mengarah ke insiden atau kejadian jamak

• Watak tokoh dilakukan pengembangan secara penuh.

• Dimensi ruang dan waktu yang lebih luas, cerita lebih luas 2. Roman

Roman adalah karya fiksi yang menceritakan kehidupan seorang atau beberapa tokoh mulai dari lahir hingga kematiannya. Cerita roman biasanya banyak mengandung hikmah dan cenderung mengarah pada cerita klasik.

Roman juga banyak jenisnya seperti Roman petualangan, Roman Psikologis, Roman percintaan, dan lain-lain.

3. Cerpen

Cerpen adalah karya fiksi dengan cerita yang lebih pencdek dan lebih padat dibanding novel dan roman.

Ciri-ciri cerpen adalah:

• Bisa dibaca dalam sekali duduk

• Plotnya mengarah hanya kepada suatu insiden atau kejadian tunggal

• Watak tokoh tidak dikembangkan secara penuh apabila tokoh itu baik maka hanya kebaikan saja yang diceritakan sedangkan sifat lainnya tidak

 Dimensi ruang dan waktunya terbatas, cerita lebih berisi, memusat dan mendalam

UNSUR BUKU/TEKS FIKSI

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun dari dalam karya itu sendiri. Unsur intrinsik kita jumpai dalam buku atau teks fiksi.

(3)

Unsur intrinsik terdiri atas :

 Tema, yaitu gagasan atau ide dasar yang menjadi landasan suatu karya sastra yang terkandung dalam teks.

 Penokohan, terdiri atas tokoh dan penokohan (perwatakan). Tokoh yaitu pelaku dalam cerita, berdasarkan peranannya dalam cerita diantaranya tokoh protagonist/berwatak baik, tokoh antagonis/berwatak jahat, tokoh tritagonis/penengah, ada juga figuran/pendukung.

Watak tokoh dapat digambarkan melalui teknik analitik dan teknik dramatik.

Teknik analitik adalah penggambaran watak atau karakter tokoh dilakukan secara langsung oleh pengarang.

Teknik dramatik merupakan penggambaran watak atau karakter tokoh melalui penggambaran tertentu (seperti baik hati, penyabar, ceroboh, jahat, iri hati, dan sebagainya) yang disampaikan dengan penggambaran dari kata/kalimat yang diungkapkan tokoh (misalkan melalui dialog dengan tokoh lain), penggambaran fisik dan perilaku tokoh, atau melalui jalan pikiran tokoh.

 Alur/plot, yaitu urutan kejadian atau rangkaian cerita. Misalnya alur maju, alur mundur, dan alur campuran.

 Latar, yaitu tempat, waktu dan suasana yang menjadi tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

 Amanat adalah pesan moral yang disampaikan oleh pengarang melalui cerita yang ia buat.

 Sudut pandang, yakni cara pandang pengarang dalam menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita tersebut kepada pembaca.

Sudut pandang dapat berupa sudut pandang orang pertama yang ditandai dengan kata “aku” dan sudut pandang orang ketiga yang ditandai dengan kata “dia atau mereka atau penyebutan nama tokoh”.

 Gaya bahasa, yaitu penggunaan kata atau kalimat dalam penyusunan suatu karya fiksi. Gaya bahasa terkait erat dengan penggunaan bahasa tertentu, seperti penggunaan majas maupun ungkapan, adanya penggunaan unsur bahasa asing dan bahasa daerah dalam karya.

MENYAJIKAN TANGGAPAN TERHADAP BUKU/TEKS FIKSI

Di samping itu, dapat pula kita temukan unsur menarik lainnya dari suatu fiksi, seperti tema yang khas, penggambaran latar yang menakjubkan, karakter tokoh yang memesona, ataupun amanat yang menyentuh relung hati.

(4)

Contoh teks fiksi yang digunakan dalam pembelajaran.

PERSAHABATAN SEMUT

Pada suatu hari semut merah mengeluh. Ia sedih karena berusaha mencari makan tetapi belum mendapatkannya. Semut hitam datang membawa makanan cukup banyak. Karena kikir, semut hitam tidak memberikan makanan itu seedikit pun kepada semut merah yang kelaparan itu.

Semut merah berjalan dari satu pohon ke pohon lainnya. Akhirnya ia menemukan makanan yang cukup banyak. Ia santap makanan itu sampai kenyang. Semut hitam datang. Ia tampak kelaparan. Sebelumnya, makanan yang dibawanya terjatuh ke sungai sewaktu ia meniti ranting pohon yang berada di atas sungai.

Semut merah merasa kasihan. Ia memberikan sisa makanannya kepada semut hitam. Atas pemberian itu, semut hitam berterima kasih dan menyesali sifatnya yang selama ini kikir. Sambil berjabat tangan, semut merah bergumam dalam hati, “Akhirnya terbukalah juga matanya melihat kesalahan yang dibuatnya selama ini.”

Kedua semut itu mulai bersahabat. Sampai pada suatu hari mereka pergi ke hutan mencari makanan karena persediaan makanan mereka sudah habis. Di tengah jalan mereka dihadang burung pelatuk yang akan memangsa mereka. Cepat- cepat semut merah menyuruh semut hitam masuk ke dalam lubang tanah di dekat mereka. Dulu lubang itu dibuat oleh semut merah. Setelah semut hitam masuk terlebih dulu, barulah semut merah menyusulnya sambil menutup pintu lubang. Burung pelatuk pun gagal memangsa mereka.

Setelah dirasa aman, semut merah dan semut hitam keluar dari lubang tanah dan melanjutkan perjalanan menuju hutan.

Di hutan mereka mencari dan mengumpulkan makanan. Makanan yang telah terkumpul itu mereka bawa pulang. Di tengah perjalanan pulang mereka dihadang lagi oleh burung pelatuk.

Dengan gerak cepat semut hitam melepaskan makanan yang dibawanya, kemudian berlari cepat menuju lubang tanah dan langsung menutup pintunya. Ia telah melupakan semut merah. Ia tidak mempedulikan semut merah yang minta dibukakan pintu.

Untuk menyelamatkan diri dari keganasan burung pelatuk, terpaksa semut merah mencebur ke sungai kecil yang aliran airnya cukup deras. Burung pelatuk tidak dapat mengejarnya, kemudian pergi tidak menghiraukan lagi semut merah.

Akhirnya semut merah tersangkut pada sebatang kayu yang turut hanyut di sungai kecil itu. Ia berhasil naik ke batang kayu itu. Dalam hatinya ia bergumam, “Semut hitam, kau telah mengkhianatiku, tetapi aku tidak akan membencimu!”

(Rudi Hartoyo, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2002)

(5)

II. Lembar Kerja Peserta Didik

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester : VIII/Genap

A. Kompetensi Dasar

4.5 Menyajikan tanggapan terhadap buku fiksi dan nonfiksi yang dibaca secara lisan/tertulis

B. Tujuan

1. Melalui kegiatan berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik mampu menyajikan tanggapan terhadap buku fiksi yang dibaca secara lisan/tertulis dengan rasa ingin tahu, berpikir kritis, bekerja sama, dan penuh tanggung jawab.

C. Petunjuk Belajar

1. Peserta didik mengerjakan LKPD ini secara individu.

2. Peserta didik membaca dengan cermat teks fiksi berupa cerpen yang berjudul Hanya Sebuah Kejujuran.

3. Peserta didik menggali informasi terkait menyajikan tanggapan terhadap buku/teks fiksi yang dibaca.

4. Peserta didik menjawab pertanyaan terkait teks fiksi berupa cerpen yang berjudul Hanya Sebuah Kejujuran.

5. Peserta didik menuliskan jawaban di buku latihan.

D. Tugas

1. Bacalah dengan cermat teks fiksi di bawah ini!

Hanya Sebuah Kejujuran

Oleh : Bintang Nurul Hidayati

Niken hanya bisa berdiam diri dan menelan ludah waktu melihat Sasha berbuat curang. Teman sebangkunya itu diam-diam menghapus jawaban yang salah di kertas ulangannya. Lantas menggantinya dengan jawaban benar yang ditulis Bu Aisyah di papan tulis. Bu Aisyah, wali kelas 5A, sangat mempercayai murid-muridnya.

Setiap kali selesai ulangan, murid-murid diajak memeriksa hasil kerja mereka sendiri. Menurut Bu Aisyah, ini untuk membantu agar murid-murid bisa lekas mengetahui di mana letak kesalahan mereka. Setelah kertas ulangan itu selesai dijumlahkan berapa yang salah dan berapa yang benar, semuanya ditumpuk di meja guru.

Bu Aisyah pun memeriksanya dengan cepat. Senyuman lebar tersungging di wajah cantiknya. Matanya berbinar, mendapati bahwa kertas ulangan murid-muridnya tidak banyak memuat tanda silang. Kertas ulangan Sasha bahkan bersih, tanpa tanda silang sama sekali.

“Ibu senang melihat cara belajar kalian di kelas lima ini. Secara bertahap, kalian mulai mengalami peningkatan....” Kalimat bu guru belum selesai, tapi anak-anak sudah menyambutnya dengan tepuk tangan tanda gembira. “Yeeaayy!” seru mereka. Setelah kelas kembali tenang, Bu Aisyah pun melanjutkan. “Seperti teman kalian, Sasha, yang Ibu lihat semua jawabannya benar. Nah, untuk selanjutnya, kalian harus lebih giat lagi belajar.” Anak-anak pun memandang ke arah Sasha dengan kagum. Sementara itu, dari bangkunya yang tidak jauh dari bangku Sasha, seorang anak bernama Wulan tampak diam termangu. Wulan tadi juga sempat

LKPD

SMP NEGERI 2 TABANAN

Nama :

Kelas :

No. :

(6)

melihat bahwa Sasha berbuat curang. Tapi mulutnya terkunci rapat, tidak berani menegur. Dia juga melihat bahwa Niken pun mengetahui kecurangan Sasha. Wulan berharap Bu Aisyah mengetahui hal ini, lantas menegur Sasha. Sayang sekali, tadi gurunya itu sedang sibuk memasukkan nilai ulangan IPA murid-murid ke buku besar.

Sejak dulu Wulan sangat mengagumi Sasha. Temannya itu cantik, ramah dan datang dari keluarga kaya yang sangat dihormati di daerah mereka. Keluarga Sasha juga terkenal sangat baik dan pemurah. Wulan ingat benar, betapa sedih dan bingung keluarganya, tiga bulan yang lalu. Saat itu, Bapaknya di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja. Tapi Ayah Sasha menyelamatkan keluarga mereka dari kesulitan ekonomi. Bapak diberi pekerjaan baru, menjadi sopir pribadi Pak Darma, Ayahnya Sasha.

“Mengapa Niken tidak menegur Sasha, ya?” pikir Wulan heran. Tak lama kemudian, sesuatu terlintas di benaknya. “Hm, mungkin karena itu,” bisiknya kepada diri sendiri. Wulan menduga, Niken segan menegur teman sebangkunya itu, karena merasa berhutang budi kepada keluarga Sasha. Ia pernah mendengar cerita dari Bapaknya, Pak Darma rutin memberikan santunan kepada anak-anak yatim, termasuk Niken dan adik-adiknya.

Berkat Pak Darma, anak-anak yatim yang tidak mampu di daerah mereka dapat terus bersekolah sampai saat ini.

Selama ini, baik Wulan maupun Niken merasa lebih berterima kasih lagi kepada Sasha. Anak yang kaya itu tidak pernah berbicara satu patah kata pun tentang bantuan keluarganya saat mereka di sekolah. Di luar sekolah juga tidak. Tak ada teman lain yang tahu. Wulan, Niken, dan anak-anak lain yang seperti mereka, tidak perlu merasa malu atau rendah diri karena dibantu. Hari demi hari berlalu. Wulan dan Niken merasa gelisah dan serba salah karena kecurangan Sasha terus berlanjut. Tiap kali mereka diberi kesempatan memeriksa kertas ulangan masing-masing, Sasha mengganti jawaban yang salah di kertas miliknya. Perbuatan curang itu tak kunjung ketahuan. Tak ada yang menyangka, bahwa Sasha bisa berbuat curang.

Pagi itu, Bu Aisyah masuk ke dalam kelas dengan wajah ceria. “Anak-anak, dua minggu lagi akan diadakan lomba cerdas cermat antar kelas 5 di sekolah kita ini. Masing-masing kelas harus memilih satu orang untuk perwakilan,” ucap Bu Aisyah. “Sebenarnya Ibu sudah menyiapkan beberapa calon. Tetapi, kali ini Ibu ingin mendengar pendapat dari kalian.” Seorang anak di bangku paling belakang mengangkat tangannya. “Dini saja, Bu. Dia kan yang sejak kelas satu selalu mewakili kelas untuk lomba,” usulnya. “Wah, jangan Dini lagi, Dini lagi, Bu. Cari yang paling pintar saja. Saya usul Sasha, Bu. Akhir-akhir ini dialah yang sering dapat nilai tertinggi,” celetuk seorang murid bernama Iwan. “Ya, Sasha juga bagus sekarang,” gumam yang lain.

Ternyata ada dua pilihan yang sama-sama kuat, yaitu Dini dan Sasha. Mereka pun sepakat untuk melakukan pemungutan suara seperti ketika memilih ketua kelas. Saat penghitungan suara, Dito, ketua kelas 5A membantu Bu Aisyah. Murid-murid duduk dengan tenang di bangku masing-masing, menunggu dengan rasa penasaran.

Ternyata, yang mendapat suara paling banyak adalah Sasha. Ini hal baru buat kelas mereka. Juga buat Dini, anak perempuan berkacamata yang selama ini selalu mendapat peringkat pertama di kelas. “Kok Sasha yang terpilih, ya? Biasanya kan Dini,” bisik seseorang dari belakang bangku Wulan. “Ssssttt..! Jangan keras-keras, nanti Sasha dengar,” balas Wulan sambil berbisik. Sedangkan Dini, Si Juara Kelas, menarik napas dalam-dalam.

“Harus bagaimana ini?” tanyanya dalam hati. Sungguh tidak enak rasanya, dikalahkan oleh anak yang tidak pernah mendapat peringkat tiga besar, seperti Sasha. Dadanya mendadak menjadi sesak, matanya terasa panas.

Sementara itu, mendengar pengumuman Bu Guru, Wulan dan Niken jadi merasa gelisah. Saat jam istirahat dan kelas sudah sepi, mereka berdua menghampiri bangku tempat duduk Dini. “Seharusnya kamu yang dipilih mewakili kelas kita, Din,” ucap Wulan pelan. Dini hanya tersenyum, meski hatinya terasa sedikit sakit. “Kamu kan sudah sering ikut lomba, pasti nanti enggak grogi. Kalau Sasha kan..,” Wulan menghentikan ucapannya dan kelihatan ragu untuk meneruskan. Niken merendahkan suaranya, lantas berbisik kepada Dini. “Tahu tidak?

Sebenarnya Sasha masih banyak salah waktu mengisi ulangan. Tapi, ia curang. Mengganti jawaban yang salah dengan jawaban yang di papan tulis.” Dini terbelalak kaget. “Apa kalian melihatnya?” tanyanya gugup. Kedua temannya mengangguk. “Aku khawatir, kalau Sasha yang maju lomba nanti kelas kita kalah. Tolong dong, kamu bilang ke Bu Aisyah. Selama ini kamu kan murid kesayangannya. Kamu sudah banyak mengharumkan nama sekolah,” kata Wulan serius. Dini terlihat bingung. Di satu sisi, ia ingin sekali terpilih lomba cerdas cermat seperti biasa. Tapi, tidak enak rasanya melaporkan keburukan teman kepada guru. Ia bukan anak yang suka mengadu. Bagaimana kalau nanti Bu Aisyah tidak mempercayai laporannya?

“Kami bersedia menjadi saksi bila diperlukan,” tambah Niken, seakan memahami keraguan Dini. Dini makin bingung. Ia belum pernah melihat Sasha berbuat curang. Dalam hati, ia ingin membicarakan masalah ini dengan Bu Aisyah. Tapi, yang paling membuat hatinya berat hanya satu hal. Dini masih ingat betul masa-masa pahit saat Ayahnya menderita sakit parah. Ayahnya yang bekerja sebagai tenaga pembukuan di kantor Pak Darma, harus dirawat sampai berbulan-bulan di rumah sakit. Di perusahaan lain, mungkin pegawai yang seperti itu akan dipecat atau dipotong gaji. Tapi gaji yang diterima Ayah Dini tetap utuh. Malahan, Pak Darma sering menghadiahi Ayah dengan obat-obatan herbal untuk mempercepat kesembuhannya. Dini teringat bagaimana tadi kegembiraan terpancar di wajah Sasha. Dini tidak mau merusak semua itu. “Biarlah. Mungkin kali ini tidak apa-apa. Biar Sasha senang,” pikirnya dalam hati. “Toh selama ini Sasha dan keluarganya juga sudah banyak membahagiakan orang lain.”

Pagi-pagi sekali, Wulan dan Niken sudah datang di sekolah. Mereka begitu bersemangat untuk menyaksikan lomba cerdas cermat ini. Mereka segera naik ke lantai dua, yang sekarang sudah diubah menjadi semacam aula.

Aula itu sehari-harinya adalah ruang kelas 5A, B, dan C yang saling terpisah. Jadi, di lantai dua itu sebenarnya hanya ada sebuah ruangan yang besar dan memanjang, tetapi disekat menjadi tiga ruang terpisah yang sama besar. Setiap kali dibutuhkan, sekat ruangan yang terbuat dari papan-papan kayu bisa dibongkar dengan mudah.

Di bagian depan aula, disusun tiga meja secara sejajar. Masing-masing mempunyai sebuah kursi. Berhadapan dengan tiga meja tadi, terdapat sebuah meja besar untuk para juri. Sementara bangku-bangku penonton disusun rapi, memanjang ke belakang. Saat mereka berdua sampai di dalam ruang lomba, beberapa bangku sudah terisi.

Bangku-bangku yang berada di dua barisan paling depan sengaja dikosongkan untuk tempat duduk para guru.

Tak lama kemudian, para peserta, juri, dan guru-guru memasuki ruangan lomba. Sorak-sorai memenuhi ruangan tersebut. Murid-murid dari kelas 5A, 5B dan 5C meneriakkan yel-yel untuk menyemangati wakil dari kelas mereka masing-masing. Setelah sorak-sorai dan tepuk tangan mulai mereda, Pak Guru kelas 6, yang menjadi salah satu juri lomba, mulai memberikan pertanyaan. Pertanyaan itu berisi soal matematika. Para peserta berusaha menghitung dengan cepat di kertas yang sudah disediakan di atas meja. Saat Sasha masih berkutat dengan hitungannya, wakil dari kelas 5B mengangkat tangan kanannya. “Jawabannya adalah 75,” ucap anak laki-laki yang menjadi wakil kelas 5B. Pak Guru terdiam sebentar. Kemudian ia mengangguk. “Ya, benar!”

jawabnya. Wakil dari kelas 5B itu tersenyum bangga. Para murid yang menonton memberi tepukan tangan

(7)

meriah. Sedangkan Guru lainnya menuliskan sebuah garis pada kolom kelas 5B di papan tulis. Pertanyaan lain diajukan oleh juri yang berbeda. Sasha belum mengangkat tangannya saat wakil dari kelas 5B mengangkat tangan, lantas menjawab pertanyaan dengan benar. Satu poin lagi untuk kelas 5B.

Perlombaan ini berjalan dengan seru dan menegangkan. Wakil dari kelas 5B dan wakil dari kelas 5C bersaing ketat memperebutkan juara. Nilai mereka saling mengejar di papan tulis. Sedangkan Sasha tertinggal sangat jauh. Wulan, Niken, Dini, dan murid-murid dari kelas 5A tercengang. Kelas-kelas lainnya sudah mendapat belasan poin. Sementara Sasha sama sekali belum mengangkat tangan untuk menjawab. Mereka bertiga hampir meneteskan airmata, karena bisa melihat dengan jelas bahwa Sasha gemetar. Tangannya meremas ujung seragamnya. Keringat bercucuran dari dahinya. Ia terlihat gugup karena selalu tertinggal dalam menjawab. Aula yang dijadikan ruangan lomba kini dipenuhi dengan suara berbisik-bisik. Sementara wakil dari kelas 5B dan 5C menjawab pertanyaan dengan lantang. “Wah, kalau begini kelas 5A yang mendapat juara terakhir,” bisik seorang murid yang duduk di depan Wulan dan Niken. “Iya. Padahal kelas 5A itu kan, kelas unggulan,” tambah murid yang lain, sambil berbisik juga. Niken, Wulan, dan Dini yang duduk bersebelahan, saling berpandangan dengan sorot mata cemas. Mereka hanya bisa berdoa dalam hati. Para juri masih memberikan beberapa pertanyaan lagi. Sasha berhasil menjawab 3 pertanyaan dengan benar sebelum lomba ini berakhir. Tetapi, tentu saja itu belum cukup untuk menyaingi poin yang sudah didapatkan oleh kelas-kelas lain. Lomba pun berakhir.

Para juri memberi selamat kepada ketiga anak yang mewakili kelas mereka masing-masing. Semua tersenyum, tapi Sasha terlihat sangat murung.

Dari tempat duduk mereka, Wulan, Niken dan Dini yakin bahwa sebenarnya Sasha merasa malu sekali.

Kepalanya menunduk dan kedua pipinya memerah, seperti ingin menangis. Ketiga temannya tidak tahu harus berbuat apa. Mereka merasa tidak enak hati, dan terlebih lagi mereka merasa sangat bersalah. Sedih dan tertekan sekali rasanya, melihat Sasha yang sebetulnya begitu baik, hari ini terlihat menderita. Saat itulah rasa sesal yang begitu kental terasa membanjiri rongga dada Wulan, Niken dan Dini. Ah, seandainya saja mereka mempunyai keberanian untuk menegur Sasha jauh sebelum hari ini. Seandainya saja mereka bisa melawan perasaan sungkan karena telah banyak dibantu oleh keluarga Sasha. Pastilah Sasha tidak perlu menanggung malu seperti itu. Sasha diam-diam menyesali kecurangannya. Seandainya saja ia jujur sejak awal, tentu wajahnya akan terselamatkan dari rasa malu. Seandainya ia tidak terlena dengan kebanggaan semu, tentu hatinya tidak akan tersayat oleh kesedihan.

2. Setelah membaca secara cermat teks fiksi di atas, jawablah pertanyaan berikut ini!

a. Apakah tema pada teks fiksi (cerpen) berjudul Hanya Sebuah Kejujuran di atas?

b. Apakah yang terjadi pada awal, tengah/puncak konflik, dan akhir cerita?

c. Bagian manakah dari alur yang paling menarik menurut kalian?

d. Jelaskanlah latar tempat, waktu dan suasana yang terdapat dalam teks fiksi (cerpen) berjudul Hanya Sebuah Kejujuran!

e. Jelaskanlah mengenai cara pengarang menggambarkan watak tokoh dalam ceritanya!

f. Jelaskanlah berdasarkan hasil pengamatan kalian mengenai bukti bahwa kisah dalam teks fiksi di atas menggunakan sudut pandang orang ketiga!

g. Nilai didik atau pesan moral apa yang dapat kita petik dari cerita tersebut?

h. Bagaimana pendapat kalian mengenai tokoh Sasha pada cerita di atas?

III. Rubrik Penilaian 1. Teknik Penilaian

a. Sikap Spiritual

No. Teknik Bentuk Instrumen Waktu

Pelaksanaan Keterangan

1. Observasi Lembar observasi (catatan jurnal)

Saat

pembelajaran berlangsung

Penilaian untuk dan pencapaian pembelajaran (assessment for and of learning)

Jurnal Sikap Spiritual

Nama Sekolah : SMP Negeri 2 Tabanan Kelas/Semester : VIII/Semester II Tahun pelajaran : 2021/2022 No Waktu Nama Siswa Catatan

Perilaku

Nilai Karakter

Tanda tangan

Tindak lanjut

NB: Perilaku yang dinilai adalah perilaku yang menonjol/ekstrem

(8)

b. Sikap Sosial

No. Teknik Bentuk instrumen Waktu

Pelaksanaan Keterangan

1. Observasi Lembar observasi (catatan jurnal)

Saat

pembelajaran berlangsung

Penilaian untuk dan pencapaian pembelajaran (assessment for and of learning)

Jurnal Sikap Sosial

Nama Sekolah : SMP Negeri 2 Tabanan Kelas/Semester : VIII/Semester II Tahun pelajaran : 2021/2022 No Waktu Nama Siswa Catatan

Perilaku

Nilai Karakter

Tanda tangan

Tindak lanjut

NB: Perilaku yang dinilai adalah perilaku yang menonjol/ekstrem

c. Pengetahuan

No. Teknik Bentuk

Instrumen Waktu Pelaksanaan Keterangan 1. Tes Tertulis Pilihan

ganda

Saat pembelajaran berlangsung

penilaian untuk

pembelajaran (assessment for learning) dan sebagai pembelajaran (assessment as learning)

 Kisi-kisi penilaian pengetahuan Kompetensi Dasar

Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)

Materi Indikator Soal Level Kognitif

No.

Soal

Bentuk Soal 3.5 Menelaah

unsur buku fiksi dan nonfiksi yang dibaca

3.5.1 Menelaah unsur-unsur buku/teks fiksi

Unsur- unsur buku fiksi

Disajikan kutipan teks fiksi, peserta didik menentukan tema yang menjadi landasan dalam teks fiksi Disajikan kutipan teks fiksi, peserta didik dapat menentukan alur yang digunakan dalam teks Disajikan kutipan teks fiksi, peserta didik dapat menentukan watak/karakter tokoh

Disajikan kutipan teks fiksi, peserta didik dapat menentukan latar yang terdapat dalam teks fiksi Disajikan kutipan teks fiksi, peserta

C3

C3

C3

C3

1

2, 3

4

5, 6, 7

8

PG

(9)

didik dapat menentukan sudut pandang yang

digunakan dalam kutipan teks.

Disajikan kutipan teks fiksi, peserta didik dapat menentukan nilai didik yang terdapat dalam kutipan teks

C3

C3 9,

10

Soal dan Kunci Jawaban

1. Bacalah dengan cermat kutipan teks di bawah ini!

Tema cerita dalam kutipan teks di atas adalah...

a. Kehidupan pegawai b. Kejujuran

c. Menghargai sesama

d. Kehati-hatian pegawai dalam bertugas Kunci jawaban : B

2. Pernyataan berikut yang benar tentang alur adalah....

a. Urutan kejadian atau rangkaian peristiwa dalam cerita b. Gagasan yang melandasi cerita

c. Cara pengarang atau posisi pengarang dalam menceritakan kisahnya d. Tempat serta waktu terjadinya peristiwa saat dikisahkan

Kunci jawaban : A

3. Alur yang digunakan dalam kutipan teks pada soal nomor 1 adalah....

a. Alur campuran b. Alur mundur c. Alur maju d. Alur sorot balik

Kunci jawaban : C

4. Watak atau karakter tokoh nona pegawai sesuai dengan kutipan di atas adalah....

a. Jujur b. Baik hati c. Cerdas d. Ceroboh

Kunci jawaban : D Di Kantor Pos

Oleh: Muhammad Ali

“Tadi agaknya telah terjadi suatu kekeliruan ketika Nona membayarkan uang pos wesel kepada saya, sebab ….”

“Mana bias keliru?” si pegawai menyela dengan cepat.

“Seharusnya saya terima tiga ratus rupiah, bukan? Kalau tak salah, sekian itulah angka yang tertulis dalam pos wesel saya.”

“Coba saya liat dulu, Saya masih ingat nomor pos wesel Saudara.” Si pegawai lalu memeriksa salah satu lajur dalam daftar yang terkembang di hadapannya, kemudian katanya,”Nah ini, wesel nomor satu empat tujuh dengan tanda C. Jumlah uang:tiga ratus rupiah. Apa yang keliru? Bukankah tadi Saudara terima dari saya tiga ratus rupiah?”

“Tidak,”jawab laki-laki itu.” Nona tadi memberikan kepada saya bukan tiga lembar kertas ratusan, tapi empat lembar. Jadi, empat ratus rupiah yang saya terima tadi.”

“Oh,, kalau begitu saya keliru. Benar-benar keliru,” kata si pegawai malu-malu.”Maklum banyak kerja.

Lagi pula lembaran-lembaran uang itu masih baru hingga mudah saja terlengket karenanya. Jadi, Saudara mau kembalikan uang yang seratus rupiah kepada saya, sekarang?”

“Betul, Saya akan mengembalikannya kepada Nyonya ….”

“Nona!” sela si pegawai cepat.

(10)

5. Bacalah dengan cermat kutipan teks di bawah ini!

Latar suasana yang melingkupi cerita dalam kutipan teks di atas adalah....

a. Menegangkan b. Meresahkan c. Menyedihkan d. Mengharukan

Kunci jawaban : D

6. Latar waktu pada kutipan teks soal nomor 5 adalah....

a. Malam hari b. Sore hari c. Siang hari d. Pagi hari

Kunci jawaban : B

7. Tempat terjadinya peristiwa dalam kutipan teks soal nomor 5 di atas adalah....

a. Di rumah ibu b. Di stasiun kereta c. Di sebuah kantor

d. Di rumah dekat stasiun kereta Kunci jawaban : B

8. Sudut pandang yang ditampilkan pada kutipan teks soal nomor 5 tersebut adalah....

a. Sudut pandang orang ketiga b. Sudut pandang orang kedua c. Sudut pandang orang pertama d. Sudut pandang orang serba tahu

Kunci jawaban : C

9. Pernyataan yang tepat mengenai amanat adalah....

a. Nilai didik atau pesan moral yang disampaikan pengarang b. Cara pengarang menyampaikan ceritanya

c. Cara pengarang menggambarkan karakter tokoh

d. Hal yang disampaikan oleh pengarang melalui dialog antar tokoh 10. Bacalah kutipan teks berikut dengan cermat!

Amanat dari cerita pada kutipan teks di atas yakni....

a. Kejujuran adalah sikap yang harus senantiasa kita lakukan dalam menjalani kehidupan b. Kita harus berani dengan lantang menyuarakan keslahan orang lain

c. Tidak boleh ragu dalam melakukan sebuah pekerjaan d. Selalu berhati-hati dalam menilai orang lain

Kunci jawaban : A

Senja merayap pada dinding stasiun kereta. Aku tidak dapat mengalihkan pandanganku dari sosok wanita paruh baya yang berdiri tak jauh menatap pada gerbong kereta yang sedang diam tak bergerak.

Kulihat matanya sesekali bergerak, tampak mencari kehadiran seseorang. Meski dari jauh, aku dapat mengenali dengan baik sosok itu. Tidak banyak yang berubah dari raut wajah dan tatapan matanya yang sendu. Selalu kuingat kebaikan dan kelembutan hatinya. Aku sangat merindukannya. Setelah sekian lama tak berjumpa, akhirnya aku akan bisa kembali ke pelukan hangatnya. Pelukan ibuku.

Di Kantor Pos Oleh: Muhammad Ali

“Tadi agaknya telah terjadi suatu kekeliruan ketika Nona membayarkan uang pos wesel kepada saya, sebab ….”

“Mana bias keliru?” si pegawai menyela dengan cepat.

“Seharusnya saya terima tiga ratus rupiah, bukan? Kalau tak salah, sekian itulah angka yang tertulis dalam pos wesel saya.”

“Coba saya liat dulu, Saya masih ingat nomor pos wesel Saudara.” Si pegawai lalu memeriksa salah satu lajur dalam daftar yang terkembang di hadapannya, kemudian katanya,”Nah ini, wesel nomor satu empat tujuh dengan tanda C. Jumlah uang:tiga ratus rupiah. Apa yang keliru? Bukankah tadi Saudara terima dari saya tiga ratus rupiah?”

“Tidak,”jawab laki-laki itu.” Nona tadi memberikan kepada saya bukan tiga lembar kertas ratusan, tapi empat lembar. Jadi, empat ratus rupiah yang saya terima tadi.”

“Oh,, kalau begitu saya keliru. Benar-benar keliru,” kata si pegawai malu-malu.”Maklum banyak kerja.

Lagi pula lembaran-lembaran uang itu masih baru hingga mudah saja terlengket karenanya. Jadi, Saudara mau kembalikan uang yang seratus rupiah kepada saya, sekarang?”

“Betul, Saya akan mengembalikannya kepada Nyonya ….”

“Nona!” sela si pegawai cepat.

Nilai peserta didik =

𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ

𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 (10)

𝑥 100

(11)

d. Keterampilan

No. Teknik Bentuk

Instrumen

Waktu

Pelaksanaan Keterangan 1. Tes Tulis Tugas uraian

(keterampilan)

Saat

pembelajaran berlangsung

Penilaian untuk, sebagai, dan/atau pencapaian pembelajaran (assessment for, as, and of learning)

 Kisi-Kisi Penilaian Keterampilan

Kompetensi Dasar

Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)

Materi Indikator Soal No.

Soal

Bentuk Soal 4.5 Menyajikan

tanggapan

terhadap buku fiksi dan nonfiksi yang dibaca secara lisan/tertulis

3.5.1 Menyajikan tanggapan atau komentar terhadap isi buku/teks fiksi yang dibaca secara tertulis

Tanggap an terhadap buku fiksi

Disajikan teks fiksi, peserta didik menentukan tema yang menjadi landasan dalam teks fiksi Disajikan teks fiksi, peserta didik dapat menjelaskan hal yang terjadi pada awal, tengah/puncak konflik, dan akhir cerita

Disajikan teks fiksi, peserta didik dapat menjelaskan hal yang paling menarik dalam alur cerita Disajikan teks fiksi, peserta didik dapat menjelaskan latar yang terdapat dalam teks fiksi Disajikan teks fiksi, peserta didik dapat menjelaskan cara pengarang menggambarkan watak tokoh dalam cerita Disajikan teks fiksi, peserta didik dapat menjelaskan bukti bahwa cerita dalam teks fiksi menggunakan sudut pandang orang ketiga Disajikan teks fiksi, peserta didik dapat menentukan nilai didik atau pesan moral dalam cerita Disajikan teks fiksi, peserta didik dapat menjelaskan

1

2

3

4

5

6

7

8

Uraian

(12)

pendapatnya mengenai salah satu tokoh dalam cerita

 Butir Soal Penilaian Keterampilan (Pembelajaran kedua)

1. Bacalah dengan cermat teks fiksi di bawah ini!

Hanya Sebuah Kejujuran

Oleh : Bintang Nurul Hidayati

Niken hanya bisa berdiam diri dan menelan ludah waktu melihat Sasha berbuat curang. Teman sebangkunya itu diam-diam menghapus jawaban yang salah di kertas ulangannya. Lantas menggantinya dengan jawaban benar yang ditulis Bu Aisyah di papan tulis. Bu Aisyah, wali kelas 5A, sangat mempercayai murid-muridnya.

Setiap kali selesai ulangan, murid-murid diajak memeriksa hasil kerja mereka sendiri. Menurut Bu Aisyah, ini untuk membantu agar murid-murid bisa lekas mengetahui di mana letak kesalahan mereka. Setelah kertas ulangan itu selesai dijumlahkan berapa yang salah dan berapa yang benar, semuanya ditumpuk di meja guru.

Bu Aisyah pun memeriksanya dengan cepat. Senyuman lebar tersungging di wajah cantiknya. Matanya berbinar, mendapati bahwa kertas ulangan murid-muridnya tidak banyak memuat tanda silang. Kertas ulangan Sasha bahkan bersih, tanpa tanda silang sama sekali.

“Ibu senang melihat cara belajar kalian di kelas lima ini. Secara bertahap, kalian mulai mengalami peningkatan....” Kalimat bu guru belum selesai, tapi anak-anak sudah menyambutnya dengan tepuk tangan tanda gembira. “Yeeaayy!” seru mereka. Setelah kelas kembali tenang, Bu Aisyah pun melanjutkan. “Seperti teman kalian, Sasha, yang Ibu lihat semua jawabannya benar. Nah, untuk selanjutnya, kalian harus lebih giat lagi belajar.” Anak-anak pun memandang ke arah Sasha dengan kagum. Sementara itu, dari bangkunya yang tidak jauh dari bangku Sasha, seorang anak bernama Wulan tampak diam termangu. Wulan tadi juga sempat melihat bahwa Sasha berbuat curang. Tapi mulutnya terkunci rapat, tidak berani menegur. Dia juga melihat bahwa Niken pun mengetahui kecurangan Sasha. Wulan berharap Bu Aisyah mengetahui hal ini, lantas menegur Sasha. Sayang sekali, tadi gurunya itu sedang sibuk memasukkan nilai ulangan IPA murid-murid ke buku besar.

Sejak dulu Wulan sangat mengagumi Sasha. Temannya itu cantik, ramah dan datang dari keluarga kaya yang sangat dihormati di daerah mereka. Keluarga Sasha juga terkenal sangat baik dan pemurah. Wulan ingat benar, betapa sedih dan bingung keluarganya, tiga bulan yang lalu. Saat itu, Bapaknya di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja. Tapi Ayah Sasha menyelamatkan keluarga mereka dari kesulitan ekonomi. Bapak diberi pekerjaan baru, menjadi sopir pribadi Pak Darma, Ayahnya Sasha.

“Mengapa Niken tidak menegur Sasha, ya?” pikir Wulan heran. Tak lama kemudian, sesuatu terlintas di benaknya. “Hm, mungkin karena itu,” bisiknya kepada diri sendiri. Wulan menduga, Niken segan menegur teman sebangkunya itu, karena merasa berhutang budi kepada keluarga Sasha. Ia pernah mendengar cerita dari Bapaknya, Pak Darma rutin memberikan santunan kepada anak-anak yatim, termasuk Niken dan adik-adiknya.

Berkat Pak Darma, anak-anak yatim yang tidak mampu di daerah mereka dapat terus bersekolah sampai saat ini.

Selama ini, baik Wulan maupun Niken merasa lebih berterima kasih lagi kepada Sasha. Anak yang kaya itu tidak pernah berbicara satu patah kata pun tentang bantuan keluarganya saat mereka di sekolah. Di luar sekolah juga tidak. Tak ada teman lain yang tahu. Wulan, Niken, dan anak-anak lain yang seperti mereka, tidak perlu merasa malu atau rendah diri karena dibantu. Hari demi hari berlalu. Wulan dan Niken merasa gelisah dan serba salah karena kecurangan Sasha terus berlanjut. Tiap kali mereka diberi kesempatan memeriksa kertas ulangan masing-masing, Sasha mengganti jawaban yang salah di kertas miliknya. Perbuatan curang itu tak kunjung ketahuan. Tak ada yang menyangka, bahwa Sasha bisa berbuat curang.

Pagi itu, Bu Aisyah masuk ke dalam kelas dengan wajah ceria. “Anak-anak, dua minggu lagi akan diadakan lomba cerdas cermat antar kelas 5 di sekolah kita ini. Masing-masing kelas harus memilih satu orang untuk perwakilan,” ucap Bu Aisyah. “Sebenarnya Ibu sudah menyiapkan beberapa calon. Tetapi, kali ini Ibu ingin mendengar pendapat dari kalian.” Seorang anak di bangku paling belakang mengangkat tangannya. “Dini saja, Bu. Dia kan yang sejak kelas satu selalu mewakili kelas untuk lomba,” usulnya. “Wah, jangan Dini lagi, Dini lagi, Bu. Cari yang paling pintar saja. Saya usul Sasha, Bu. Akhir-akhir ini dialah yang sering dapat nilai tertinggi,” celetuk seorang murid bernama Iwan. “Ya, Sasha juga bagus sekarang,” gumam yang lain.

Ternyata ada dua pilihan yang sama-sama kuat, yaitu Dini dan Sasha. Mereka pun sepakat untuk melakukan pemungutan suara seperti ketika memilih ketua kelas. Saat penghitungan suara, Dito, ketua kelas 5A membantu Bu Aisyah. Murid-murid duduk dengan tenang di bangku masing-masing, menunggu dengan rasa penasaran.

Ternyata, yang mendapat suara paling banyak adalah Sasha. Ini hal baru buat kelas mereka. Juga buat Dini, anak perempuan berkacamata yang selama ini selalu mendapat peringkat pertama di kelas. “Kok Sasha yang terpilih, ya? Biasanya kan Dini,” bisik seseorang dari belakang bangku Wulan. “Ssssttt..! Jangan keras-keras, nanti Sasha dengar,” balas Wulan sambil berbisik. Sedangkan Dini, Si Juara Kelas, menarik napas dalam-dalam.

“Harus bagaimana ini?” tanyanya dalam hati. Sungguh tidak enak rasanya, dikalahkan oleh anak yang tidak pernah mendapat peringkat tiga besar, seperti Sasha. Dadanya mendadak menjadi sesak, matanya terasa panas.

Sementara itu, mendengar pengumuman Bu Guru, Wulan dan Niken jadi merasa gelisah. Saat jam istirahat dan kelas sudah sepi, mereka berdua menghampiri bangku tempat duduk Dini. “Seharusnya kamu yang dipilih mewakili kelas kita, Din,” ucap Wulan pelan. Dini hanya tersenyum, meski hatinya terasa sedikit sakit. “Kamu kan sudah sering ikut lomba, pasti nanti enggak grogi. Kalau Sasha kan..,” Wulan menghentikan ucapannya dan kelihatan ragu untuk meneruskan. Niken merendahkan suaranya, lantas berbisik kepada Dini. “Tahu tidak?

Sebenarnya Sasha masih banyak salah waktu mengisi ulangan. Tapi, ia curang. Mengganti jawaban yang salah dengan jawaban yang di papan tulis.” Dini terbelalak kaget. “Apa kalian melihatnya?” tanyanya gugup. Kedua temannya mengangguk. “Aku khawatir, kalau Sasha yang maju lomba nanti kelas kita kalah. Tolong dong, kamu bilang ke Bu Aisyah. Selama ini kamu kan murid kesayangannya. Kamu sudah banyak mengharumkan

(13)

nama sekolah,” kata Wulan serius. Dini terlihat bingung. Di satu sisi, ia ingin sekali terpilih lomba cerdas cermat seperti biasa. Tapi, tidak enak rasanya melaporkan keburukan teman kepada guru. Ia bukan anak yang suka mengadu. Bagaimana kalau nanti Bu Aisyah tidak mempercayai laporannya?

“Kami bersedia menjadi saksi bila diperlukan,” tambah Niken, seakan memahami keraguan Dini. Dini makin bingung. Ia belum pernah melihat Sasha berbuat curang. Dalam hati, ia ingin membicarakan masalah ini dengan Bu Aisyah. Tapi, yang paling membuat hatinya berat hanya satu hal. Dini masih ingat betul masa-masa pahit saat Ayahnya menderita sakit parah. Ayahnya yang bekerja sebagai tenaga pembukuan di kantor Pak Darma, harus dirawat sampai berbulan-bulan di rumah sakit. Di perusahaan lain, mungkin pegawai yang seperti itu akan dipecat atau dipotong gaji. Tapi gaji yang diterima Ayah Dini tetap utuh. Malahan, Pak Darma sering menghadiahi Ayah dengan obat-obatan herbal untuk mempercepat kesembuhannya. Dini teringat bagaimana tadi kegembiraan terpancar di wajah Sasha. Dini tidak mau merusak semua itu. “Biarlah. Mungkin kali ini tidak apa-apa. Biar Sasha senang,” pikirnya dalam hati. “Toh selama ini Sasha dan keluarganya juga sudah banyak membahagiakan orang lain.”

Pagi-pagi sekali, Wulan dan Niken sudah datang di sekolah. Mereka begitu bersemangat untuk menyaksikan lomba cerdas cermat ini. Mereka segera naik ke lantai dua, yang sekarang sudah diubah menjadi semacam aula.

Aula itu sehari-harinya adalah ruang kelas 5A, B, dan C yang saling terpisah. Jadi, di lantai dua itu sebenarnya hanya ada sebuah ruangan yang besar dan memanjang, tetapi disekat menjadi tiga ruang terpisah yang sama besar. Setiap kali dibutuhkan, sekat ruangan yang terbuat dari papan-papan kayu bisa dibongkar dengan mudah.

Di bagian depan aula, disusun tiga meja secara sejajar. Masing-masing mempunyai sebuah kursi. Berhadapan dengan tiga meja tadi, terdapat sebuah meja besar untuk para juri. Sementara bangku-bangku penonton disusun rapi, memanjang ke belakang. Saat mereka berdua sampai di dalam ruang lomba, beberapa bangku sudah terisi.

Bangku-bangku yang berada di dua barisan paling depan sengaja dikosongkan untuk tempat duduk para guru.

Tak lama kemudian, para peserta, juri, dan guru-guru memasuki ruangan lomba. Sorak-sorai memenuhi ruangan tersebut. Murid-murid dari kelas 5A, 5B dan 5C meneriakkan yel-yel untuk menyemangati wakil dari kelas mereka masing-masing. Setelah sorak-sorai dan tepuk tangan mulai mereda, Pak Guru kelas 6, yang menjadi salah satu juri lomba, mulai memberikan pertanyaan. Pertanyaan itu berisi soal matematika. Para peserta berusaha menghitung dengan cepat di kertas yang sudah disediakan di atas meja. Saat Sasha masih berkutat dengan hitungannya, wakil dari kelas 5B mengangkat tangan kanannya. “Jawabannya adalah 75,” ucap anak laki-laki yang menjadi wakil kelas 5B. Pak Guru terdiam sebentar. Kemudian ia mengangguk. “Ya, benar!”

jawabnya. Wakil dari kelas 5B itu tersenyum bangga. Para murid yang menonton memberi tepukan tangan meriah. Sedangkan Guru lainnya menuliskan sebuah garis pada kolom kelas 5B di papan tulis. Pertanyaan lain diajukan oleh juri yang berbeda. Sasha belum mengangkat tangannya saat wakil dari kelas 5B mengangkat tangan, lantas menjawab pertanyaan dengan benar. Satu poin lagi untuk kelas 5B.

Perlombaan ini berjalan dengan seru dan menegangkan. Wakil dari kelas 5B dan wakil dari kelas 5C bersaing ketat memperebutkan juara. Nilai mereka saling mengejar di papan tulis. Sedangkan Sasha tertinggal sangat jauh. Wulan, Niken, Dini, dan murid-murid dari kelas 5A tercengang. Kelas-kelas lainnya sudah mendapat belasan poin. Sementara Sasha sama sekali belum mengangkat tangan untuk menjawab. Mereka bertiga hampir meneteskan airmata, karena bisa melihat dengan jelas bahwa Sasha gemetar. Tangannya meremas ujung seragamnya. Keringat bercucuran dari dahinya. Ia terlihat gugup karena selalu tertinggal dalam menjawab. Aula yang dijadikan ruangan lomba kini dipenuhi dengan suara berbisik-bisik. Sementara wakil dari kelas 5B dan 5C menjawab pertanyaan dengan lantang. “Wah, kalau begini kelas 5A yang mendapat juara terakhir,” bisik seorang murid yang duduk di depan Wulan dan Niken. “Iya. Padahal kelas 5A itu kan, kelas unggulan,” tambah murid yang lain, sambil berbisik juga. Niken, Wulan, dan Dini yang duduk bersebelahan, saling berpandangan dengan sorot mata cemas. Mereka hanya bisa berdoa dalam hati. Para juri masih memberikan beberapa pertanyaan lagi. Sasha berhasil menjawab 3 pertanyaan dengan benar sebelum lomba ini berakhir. Tetapi, tentu saja itu belum cukup untuk menyaingi poin yang sudah didapatkan oleh kelas-kelas lain. Lomba pun berakhir.

Para juri memberi selamat kepada ketiga anak yang mewakili kelas mereka masing-masing. Semua tersenyum, tapi Sasha terlihat sangat murung.

Dari tempat duduk mereka, Wulan, Niken dan Dini yakin bahwa sebenarnya Sasha merasa malu sekali.

Kepalanya menunduk dan kedua pipinya memerah, seperti ingin menangis. Ketiga temannya tidak tahu harus berbuat apa. Mereka merasa tidak enak hati, dan terlebih lagi mereka merasa sangat bersalah. Sedih dan tertekan sekali rasanya, melihat Sasha yang sebetulnya begitu baik, hari ini terlihat menderita. Saat itulah rasa sesal yang begitu kental terasa membanjiri rongga dada Wulan, Niken dan Dini. Ah, seandainya saja mereka mempunyai keberanian untuk menegur Sasha jauh sebelum hari ini. Seandainya saja mereka bisa melawan perasaan sungkan karena telah banyak dibantu oleh keluarga Sasha. Pastilah Sasha tidak perlu menanggung malu seperti itu. Sasha diam-diam menyesali kecurangannya. Seandainya saja ia jujur sejak awal, tentu wajahnya akan terselamatkan dari rasa malu. Seandainya ia tidak terlena dengan kebanggaan semu, tentu hatinya tidak akan tersayat oleh kesedihan.

2. Setelah membaca secara cermat teks fiksi di atas, jawablah pertanyaan berikut ini!

a. Apakah tema pada teks fiksi (cerpen) berjudul Hanya Sebuah Kejujuran di atas?

b. Apakah yang terjadi pada awal, tengah/puncak konflik, dan akhir cerita?

c. Bagian manakah dari alur yang paling menarik menurut kalian?

d. Jelaskanlah latar tempat, waktu dan suasana yang terdapat dalam teks fiksi (cerpen) berjudul Hanya Sebuah Kejujuran!

e. Jelaskanlah mengenai cara pengarang menggambarkan watak tokoh dalam ceritanya disertai dengan bukti pendukung!

f. Jelaskanlah berdasarkan hasil pengamatan kalian mengenai bukti bahwa kisah dalam teks fiksi di atas menggunakan sudut pandang orang ketiga!

g. Nilai didik atau pesan moral apa yang dapat kita petik dari cerita tersebut?

h. Bagaimana pendapat kalian mengenai tokoh Sasha pada cerita di atas?

Kunci jawaban :

(14)

a. Tema cerita adalah kejujuran b. Pada cerita yang terjadi :

- Pada awal adalah Sasha berbuat curang dengan memperbaiki dan mengganti jawabannya yang salah sehingga menjadi benar saat memeriksa hasil kerja

- Pada tengah/puncak konflik adalah lomba cerdas cermat akhirnya berlangsung dan Sasha mengikutinya karena hasil pilihan teman-temannya

- Pada akhir cerita yakni Sasha merasa tertekan dan malu karena tidak dapat mengikuti lomba cerdas cermat dengan baik

c. Disesuaikan dengan jawaban siswa. Contoh alternatif jawaban bagian yang paling menarik bagi saya pada alur cerita yakni, saat puncak konflik atau masalah terjadi. Sasha memang berhasil menjadi peserta lomba cerdas cermat tetapi dia tidak dapat menampilkan penampilan yang gemilang hingga menyebabkan Sasha sedih, tertekan, dan malu.

d. Penjelasan mengenai latar :

- Tempat : di kelas dan aula sekolah - Waktu : pada saat jam sekolah

- Suasana : menegangkan, yakni pada saat lomba cerdas cermat berlangsung

e. Cara pengarang dalam menggambarkan watak tokoh dalam ceritanya adalah melalui teknik analitik, yakni

pengarang secara langsung menyebutkan watak/karakter tokoh. Misalnya, melalui kutipan ini Temannya itu cantik, ramah dan datang dari keluarga kaya yang sangat dihormati di daerah mereka. Keluarga Sasha juga terkenal sangat baik dan pemurah.

f.

Pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga tampak dari penggunaan atau penyebutan nama tokoh dalam penceritaan kisahnya, seperti kutipan Niken hanya bisa berdiam diri dan menelan ludah waktu melihat Sasha berbuat curang. Teman sebangkunya itu diam-diam menghapus jawaban yang salah di kertas ulangannya. Lantas menggantinya dengan jawaban benar yang ditulis Bu Aisyah di papan tulis. Bu Aisyah, wali kelas 5A, sangat

mempercayai murid-muridnya. Setiap kali selesai ulangan, murid-murid diajak memeriksa hasil kerja mereka sendiri.

Menurut Bu Aisyah, ini untuk membantu agar murid-murid bisa lekas mengetahui di mana letak kesalahan mereka.

Setelah kertas ulangan itu selesai dijumlahkan berapa yang salah dan berapa yang benar, semuanya ditumpuk di meja guru. Bu Aisyah pun memeriksanya dengan cepat. Senyuman lebar tersungging di wajah cantiknya. Matanya berbinar, mendapati bahwa kertas ulangan murid-muridnya tidak banyak memuat tanda silang. Kertas ulangan Sasha bahkan bersih, tanpa tanda silang sama sekali.

g.

Nilai didik atau pesan moral yang dapat kita ambil dari kisah dalam teks fiksi berjudul Hanya Sebuah Kejujuran adalah kita harus menjadikan kejujuran sebagai dasar dalam setiap tindakan kita sehingga kita dapat bertemu dengan segala kebaikan dalam hidup, bukan sebaliknya.

h.

Disesuaikan dengan jawaban siswa. Contoh alternatif jawaban tokoh Sasha memegang peran penting dalam cerita karena dari sikapnya yang tidak jujur hingga dia menemui kesulitan dan kegagalan kita dapat mengambil pelajaran bahwa kejujuran adalah hal utama bagi kta dalam melakukan setiap hal dalam hidup kita ini.

 Rubrik Penilaian dan Pedoman Penskoran

No Aspek Penilaian Deskripsi Skor

1 Menentukan tema teks fiksi - Tepat - Kurang tepat - Tidak tepat

3 2 0 2 Menjelaskan cerita yang terjadi di awal,

tengah/puncak konflik, dan di akhir cerita

- Tepat dan lengkap - Tepat, tetapi tidak lengkap - Kurang tepat, tidak lengkap - Tidak tepat, tidak lengkap

3 2 1 0 3 Memberikan tanggapan bagian alur yang

paling menarik

(Disesuaikan dengan jawaban siswa)

- Tepat menunjukkan salah satu bagian alur yang paling menarik menurut siswa dan lengkap dengan alasan - Tepat, tetapi tidak lengkap

dengan alasan - Kurang tepat, tidak

dilengkapi alasan

- Tidak tepat, tidak lengkap

3

2

1 0

4 Menjelaskan latar tempat, waktu, dan - Tepat dan lengkap 3

(15)

suasana - Tepat, tetapi tidak lengkap - Kurang tepat, tidak lengkap - Tidak tepat, tidak lengkap

2 1 0

5 Menjelaskan cara pengarang menggambarkan watak tokoh

- Tepat menjelaskan cara pengarang menggambarkan watak tokoh dan lengkap dengan bukti pendukung - Tepat, tetapi tidak lengkap

dengan bukti pendukung - Kurang tepat, tidak

dilengkapi bukti

- Tidak tepat, tidak lengkap

3

2

1 0 6 Menjelaskan bukti penggunaan sudut

pandang orang ketiga pada teks fiksi

- Tepat dan lengkap - Tepat, tetapi tidak lengkap - Kurang tepat, tidak lengkap - Tidak tepat, tidak lengkap

3 2 1 0 7 Menjelaskan nilai didik atau pesan moral

yang dapat dipetik dari cerita

- Tepat dan lengkap - Tepat, tetapi tidak lengkap - Kurang tepat, tidak lengkap - Tidak tepat, tidak lengkap

3 2 1 0 8 Memberikan tanggapan tentang salah satu

tokoh dalam cerita (Sasha)

(Disesuaikan dengan jawaban siswa)

- Memberikan tanggapan tentang tokoh dan lengkap dengan alasan

- Memberikan tanggapan, tetapi tidak lengkap dengan alasan

- Kurang tepat, tidak dilengkapi alasan

- Tidak tepat, tidak lengkap

3

2

1

0

Jumlah Skor maksimal 40

Nilai peserta didik =

𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ

𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 (24)

𝑥 100

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di