1 Evaluasi Tandan Buah Segar dan Hasil Minyak Sawit Rakyat di Provinsi Sumatera Utara, Jambi, Kalimantan Utara dan Sulawesi Tenggara
Donald Siahaan1:Agnes Imelda Manurung2; Elisa Julianti3; Jenni Elisabeth4; Edison Purba3; and Bilter Sirait5
Corresponding Author: [email protected]
1Staf of PPKS Medan/Department of Graduate Program of Darma Agung University, Medan, Sumatera Utara 20153, Indonesia
2Department of Agriculture, Darma Agung University, Medan, Sumatera Utara 20153, Indonesia
3Department of Agriculture, North Sumatera University, Medan, Sumatera Utara 20155, Indonesia
4Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia
5LLDikti Wil. I Employed of Darma Agung University, Medan, Sumatera Utara 20153, Indonesia
ABSTRAK
Latar Belakang dan Tujuan: Sampai saat ini informasi mengenai karakteristik tandan buah segar (TBS) dan hasil minyak sawit dari petani sawit di masing-masing provinsi di Indonesia belum lengkap, sehingga harga produk sawit sulit untuk digeneralisasikan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bobot TBS, rasio buah terhadap tandan, dan rasio mesokarp terhadap minyak sawit serta rendemen minyak sawit di Provinsi Sumatera Utara, Jambi, Kalimantan Utara dan Sulawesi Tenggara. Bahan dan Metode: Penelitian ini dibagi dalam 4 tahap, tahap pertama tahun 2012 di Provinsi Sumatera Utara, tahap kedua tahun 2014 di Provinsi Jambi, tahap ketiga tahun 2017 di Kalimantan Utara dan tahap keempat tahun 2018 di Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian dimulai dari bulan September hingga November untuk di setiap provinsi. Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi kelapa sawit yang berumur 3,4, 5,6,7,8,9, 10-13, 14-16 dan 17-20 tahun di semua provinsi. Metode pengumpulan data adalah purposive sampling. Hasil: Secara umum rata-rata bobot buah per tandan di Provinsi Sumatera Utara lebih tinggi dibandingkan di Provinsi Jambi, sedangkan rasio buah per tandan kelapa sawit pada umur 3 sampai 20 tahun sangat fluktuatif. Variabel rendemen CPO di laboratorium, rendemen CPO dengan faktor koreksi, dan variabel rendemen kernel di Sumatera Utara berbeda dengan Jambi, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tenggara.
Kesimpulan: Terdapat perbedaan rerata bobot tandan, nisbah buah / tandan dan nisbah mesokarp / buah sawit serta rendemen CPO dan kernel di semua provinsi.
Kata kunci: evaluasi, tandan buah segar, minyak sawit,
INTRODUCTION
Terdapat risiko dan ketidakpastian yang timbul dari ketidakstabilan harga minyak sawit mentah (CPO )1, oleh karena itu untuk harga CPO harus dievaliasi secara berkala rata-rata bobot buah segar, rasio buah per tandan, rasio mesokarp per buah, rendemen minyak sawit mentah di lab, rendemen minyak sawit mentah dengan koreksi, dan rendemen minyak inti sawit di beberapa provinsi penghasil minyak sawit di Indonesia. Pohon kelapa sawit secara teratur menghasilkan TBS dari tahun ketiga hingga tahun ke-24 2. Minyak sawit bersifat multiguna dan dapat menjadi faktor kunci penting, misalnya dalam pembuatan cocoa butter equivalent (CBE) yang mengandung omega 3 dan omega 6 dengan mencampurkan hard palm oil mid-
2 fraction (PMF) dengan minyak kanola3,4,5, oleh karena itu bahan bakunya harus murni. Bahkan baru-baru ini, berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa campuran fraksi kelapa sawit / minyak inti sawit / palm stearin menunjukkan komposisi palmitat, oleat, dan POP yang menghasilkan pengganti cocoa butter dengan menggunakan interesterifikasi enzimatik4. Selanjutnya telah ditemukan pengganti cocoa butter dari beberapa minyak nabati termasuk minyak sawit6. Demikian sederet contoh manfaat kelapa sawit di era kekinian yang membuat kelapa sawit tidak terlepas dari kehidupan manusia7,8. Oleh karena itu, penentuan harga bobot buah dinilai signifikan.Terdapat tiga subsistem utama dalam kegiatan pasca panen, yaitu pemanenan, pengangkutan dan pengolahan. Di antara ketiganya terdapat keterkaitan, satu kendala dalam satu subsistem mempengaruhi kinerja sub sistem yang lain. Iklim agroklimat terkait erat dengan pemanfaatan, pemanenan dan pemuatan kelapa sawit, transportasi berkontribusi terhadap kualitas buah kelapa sawit.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dibagi dalam 4 tahap, tahap pertama tahun 2012 di Sumatera Utara dan tahun 2014 di Jambi. Kemudian pada tahun 2017 dilakukan penelitian di Kalimantan Utara (Kaltara) dan tahun 2018 di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sulteng). Penelitian pada bulan September hingga November untuk setiap provinsi. Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi kelapa sawit yang berumur 3,4, 5,6,7,8,9, 10-13, 14-16 dan 17-20 tahun di semua provinsi. Metode pengumpulan data diawali dengan survei dan pengambilan sampel secara purposive sampling, serta pencatatan data pada tahun 2012, 2014 dan 2017 dan 2018. Pada akhir survei ditetapkan bahwa data Provinsi Sumatera Utara diambil dari wilayah utara, wilayah tengah, dan wilayah selatan. Data dari Provinsi Jambi diambil dari Kabupaten Muaro Jambi, Tebo dan Bungo. Selanjutnya pada tahun 2017 dilakukan penelitian yang sama di Kalimantan Utara dengan sampel diambil dari berbagai perkebunan kelapa sawit rakyat yaitu dari Kabupaten Malinau, TanaTidung, Bulungan dan Nunukan Kutai. Tahun 2018, penelitian kembali dilakukan di Sulawesi Tenggara meliputi Kabupaten Buol, Morowali Utara dan Banggai. Pengambilan sampel tandan buah segar juga menggunakan purposive sampling. Pengujian rendemen minyak sawit khususnya CPO dan PK dilakukan dengan pendekatan desk study, pengambilan sampel dan analisis laboratorium. Pendekatan studi pustaka dilakukan untuk menginventarisasi data awal dan data pendukung lainnya terkait dengan pengukuran rendemen kelapa sawit, sebaran lokasi pengambilan sampel, prosedur teknis pengukuran rendemen, evaluasi tabel rendemen, peraturan atau regulasi dari Dinas Pertanian-Kementerian pertanian tentang perkebunan plasma. Penelusuran studi awal ini dilakukan melalui data sekunder. Pendekatan survei dimaksudkan untuk mengumpulkan sampel TBS di kabupaten terpilih dengan purposive sampling sebagai sentra produksi kelapa sawit. Dalam pelaksanaan pengambilan sampel
3 ini diperlukan teknik pengambilan sampel TBS sesuai dengan umur tanaman, jenis (varietas DxP) dan jumlah, lokasi survei dan kualifikasi pengumpul data. Pada setiap unit usaha plasma dipilih tanaman dengan berbagai umur secara purposive, berdasarkan: status kepemilikan usaha yaitu perkebunan plasma, tingkat keragaman tumbuh tanaman pada umur 3-10 tahun dan 11-20 tahun. Pengambilan sampel di berbagai lokasi dilakukan di beberapa unit usaha yang masing-masing dikoordinasi oleh Koperasi Unit Desa, untuk setiap sampel TBS yang diambil dari lapangan untuk setiap umur tanaman masing-masing berjumlah 3 sampel. Tanaman yang diambil sampelnya adalah tanaman berumur 3,4,5,6,7,8,9, 10-13, 14-17, 18-20 tahun. Data sekunder diambil dari berbagai referensi mengenai tabel pengukuran sebelumnya. Semua data yang terkumpul diolah secara statistik menggunakan uji t.
HASIL
Secara umum rata-rata bobot tandan buah per tandan di Provinsi Sumatera Utara lebih tinggi dibandingkan di Provinsi Jambi kecuali yang berumur 10 sampai 16 tahun, sedangkan rasio Buah per Tandan Kelapa Sawit pada umur 3 sampai 20 tahun sangat volatile di dua provinsi yang agroklimatnya berbeda ( Gambar 1 dan Gambar 2).
Gambar 1. Rata-rata Berat Tandan Buah Segar Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera Utara dan Jambi dari umur 3 tahun sampai dengan 20 tahun
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000
Fresh Fruit Bunch Weight Average (g)
Palm Oil Age (Years)
Sumatera Utara Jambi
4 Gambar 2. Rasio Buah per Tandan Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera Utara dan
Jambi dari umur 3 tahun sampai dengan 20 tahun
Gambar 3. Rasio Mesocarp per Buah Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera Utara dan Jambi dari umur 3 tahun sampai dengan 20 tahun
Di sisi lain, rasio mesocarp per buah kelapa sawit (Gambar 3) di Provinsi Jambi lebih tinggi dari provinsi Sumatera Utara pada berbagai umur kecuali pada umur 17-20 tahun. Dari Tabel 1 diketahui bahwa rerata bobot tandan (g) tertinggi diperoleh pada umur 10-13 tahun yang berbeda nyata dengan umur 3 sampai 5 tahun sedangkan pada umur 14-16 tahun dan 17-20 tahun tidak berbeda nyata.
Berbeda dengan Provinsi Jambi, rata-rata bobot tandan (g) tertinggi diperoleh pada umur 10-13 tahun dan hanya berbeda nyata pada umur 3 tahun. Rasio buah / tandan tertinggi di Sumatera Utara pada umur 9 tahun dan terus menurun hingga umur 20 tahun, sedangkan di Propinsi Jambi tertinggi pada umur 14-16 tahun. Nisbah mesocarp / buah di Sumatera Utara paling tinggi pada umur 14-16 tahun, sedangkan di Jambi pada umur 9 tahun.
58 60 62 64 66 68 70
Ratio Fruit per Bunch
Palm Oil Age (Years)
Sumatera Utara Jambi
60 65 70 75 80 85
Mesocarp/Fruit Ratio
Palm Oil Age (Years)
Sumatera Utara Jambi
5 Tabel 1. Rerata Bobot Tandan, Rasio Buah / Tandan dan Rasio Mesokarph / Buah pada
Budidaya Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera Utara dan Jambi
Oil palm plant age (years)
Mean Bunch Weight (g) Ratio Fruit / Bunch Ratio Mesocarp/fruit
North
Sumatra Jambi North
Sumatra Jambi North
Sumatra Jambi
3 5600d 5130c 67.92a 58.85 70,12abc 71.13c
4 8500cd 9090abc 62.55ab 59.55 71.2abc 78.51ab
5 10100bcd 9870abc 64.38ab 61.87 72.35abc 77.77abc
6 13600abcd 10500abc 59.51b 61.21 74.29abc 78.94ab
7 14800abcd 12116abc 65.07ab 61.75 65.07c 77.45abc
8 17200abcd 11815abc 64.41ab 64.14 64.41c 79.18ab
9 20000abc 10600abc 66.62a 60.86 66.53b 82.81a
10-13 22400a 28283a 65.93a 64.08 77.18ab 81.17a
14-16 19300abc 26685ab 64.86ab 68.68 78.47a 77.77bc
17-20 21800ab 19910abc 60.17b 66.53 77.89a 73.98bc
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata dengan uji t pada taraf 5%
Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa rendemen minyak sawit mentah (setelah dianalisa di lab) terus meningkat seiring dengan bertambahnya umur kelapa sawit baik di Sumatera Utara maupun Jambi, Sumatera Utara lebih unggul dalam hal rendemen minyak sawit mentah di laboratorium dibandingkan di Jambi, yang menarik adalah pada umur 9,14-16 tahun hasil minyak sawit mentah di laboratorium di kedua provinsi meningkat tajam dan kemudian menurun tajam..
Gambar 4. Hasil Minyak Sawit Mentah di Lab. Provinsi Sumatera Utara dan Jambi dari 3 tahun sampai 20 tahun
19 20 21 22 23 24 25 26 27
Yield of Crude Palm Oil in The Lab
Palm Oil Age (Years)
Sumatera Utara Jambi
6 Dari Gambar 5, pola peningkatan rendemen minyak sawit mentah dengan koreksi (%) di Sumatera Utara dan Jambi adalah sama.
Gambar 5. Hasil Minyak Sawit dengan Koreksi (%) di Provinsi Sumatera Utara dan Jambi dari Umur 3 tahun sampai 20 tahun
Gambar 6. Hasil Inti Sawit Provinsi Sumatera Utara dan Jambi dari umur 3 tahun sampai dengan 20 tahun
Jambi menghasilkan hasil inti sawit lebih tinggi (%) pada umur 10-13 sampai 17-20 tahun (Gambar 6). Dalam analisis rendemen sawit, rendemen CPO lab di Provinsi Sumatera Utara paling tinggi pada umur 14-16 tahun, polanya sama dengan Jambi. Begitu pula dengan hasil CPO dengan faktor koreksi baik di Sumatera Utara maupun Jambi memiliki pola tertinggi pada umur 14-16 tahun.
16 17 18 19 20 21 22 23 24
Yield of Crude of Palm Oil with Correction (%)
Palm Oil Age (Years)
Sumatera Utara Jambi
3 3,5 4 4,5 5 5,5 6
Palm Kernel Yield (%)
Palm Oil Age (Years)
Sumatera Utara Jambi
7 Untuk variabel hasil kernel (%) tertinggi pada umur 9 tahun di Sumatera Utara, sedangkan di Jambi umur 14-16 tahun (Tabel 2).
Tabel 2. Hasil CPO di Lab, Hasil CPO dengan faktor koreksi dan Hasil Kernel
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata dengan uji t pada taraf 5%
Secara umum rata-rata bobot tandan segar terus meningkat seiring dengan pertambahan umur tanaman (Gambar 7)..
Gambar 7. Berat Tandan Rata-rata Kelapa Sawit di Provinsi Sulawesi Tenggara dari 3 tahun sampai dengan 20 tahun
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000
3 4 5 6 7 8 9 10-20
Mean Bunch Weight (g)
Palm Oil Plant Age (years)
Sulteng Plant
age (years)
CPO yield in lab CPO yield with
correction factor (%) Kernel yield (%)
North
Sumatra Jambi North
Sumatra Jambi North
Sumatra Jambi
3 20.47c 20.51b 17.5c 17.53b 3.67b 3.48C
4 22.3bc 22.91ab 19.07bc 19.59ab 4.13ab 4.37bc
5 24.15ab 23.58ab 19.93abc 20.16ab 4.7a 4.52abc
6 24.44ab 23.68ab 20.48abc 20.24ab 4.85a 4.67abc
7 24.27ab 23.91a 20.75ab 20.45a 4.79a 4.78abc
8 24.82ab 24.89a 21.22ab 21.28a 5.02a 4.94ab
9 25.37aa 24.95a 21.69ab 21.33a 5.03a 5.00ab
10-13 25.4ab 25.5a 21.72ab 21.8a 5.02a 5.07ab
14-16 26.57a 26.04a 22.72a 22.26a 4.45ab 5.78a
17-20 25.04a 24.05a 21.41ab 20.56a 4.95a 5.42ab
8 Untuk rasio buah per tandan (Gambar 8) dan rendemen minyak inti sawit tertinggi (Gambar 11) dihasilkan oleh Kalimantan Utara, sedangkan Sulawesi Tenggara lebih unggul dalam hal rasio mesocarp per buah dan rendemen minyak sawit mentah di lab.
Dari Tabel 3 berdasarkan uji t ternyata setelah umur 10-20 tahun rata-rata bobot tandan berbeda nyata pada umur 3-6 tahun. Nisbah buah / tandan tertinggi di Sulawesi Tenggara pada umur 3 tahun, sedangkan di Provinsi Kalimantan Utara pada umur 4 tahun, nisbah mesocarp / buah tertinggi di Sulawesi Tenggara pada umur 4 tahun dan di Provinsi Kalimantan Utara pada umur 7 tahun.
Tabel 3. Rata-rata Bobot Tandan (g), Rasio Buah / Tandan dan Rasio Mesocarp / buah
Oil palm plant age (years))
Mean bunch weight (g), fruit / bunch ratio Mesocarp / fruit ratio
Sulawesi Tenggara
Kalimantan Utara
Sulawesi Tenggara
Kalimantan Utara
Sulawesi Tenggara
Kalimantan Utara
3 5715 b pm 67.07 a 66.3 ab 65.18 b 75.7 a
4 5129 b pm 60.96 b 69.8 a 84.02 a 71.7 a
5 7877 b pm 61.11 b 65.3 ab 83.01 a 73.6 ab
6 8253 b pm 61.62 b 69.4 a 81.17 a 69.5 b
7 16426 ab pm 62.27 ab 62.9 ab 81.91 a 76.9 a
8 15768 ab pm 66.2 ab 65.6 ab 76.18 ab 72.8 ab
9 17832 ab pm 64.7 ab 65.6 ab 75.97 ab 72.8 ab
10-20 23990 a pm 61.7 b 59.55 b 76.31 ab 75.81 a
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata dengan uji t pada taraf 5%
9 Gambar 8. Rasio Buah per Tandan Kelapa Sawit di Provinsi Sulawesi Tenggara
dan Kalimantan Utara dari 3 tahun sampai dengan 20 tahun
Secara umum, rasio mesocarp per buah kelapa sawit di Sulawesi Tenggara lebih unggul dibandingkan dengan Provinsi Kalimantan Utara pada umur 4-20 tahun (Gambar 9).
Gambar 9. Rasio Mesocarp per Buah Kelapa Sawit di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Utara dari umur 3 tahun sampai dengan 20 tahun
Pola yang sama ditemukan pada hasil minyak sawit mentah di laboratorium kelapa sawit di Sulawesi Tenggara lebih unggul dibandingkan dengan Kalimantan Utara (Gambar 10).
56 58 60 62 64 66 68 70 72
3 4 5 6 7 8 9 10-20
Fruit/ Bunch Ratio
Palm Oil Plant Age (years)
Sulteng Kaltara
60 65 70 75 80 85 90
3 4 5 6 7 8 9 10-20
Mesocarp/ Fruit Ratio
Palm Oil Plant Age (years)
Sulteng Kaltara
10 Gambar 10. Hasil Minyak Sawit Mentah di Lab. Kelapa Sawit di Provinsi Sulawesi
Tenggara dan Kalimantan Utara dari umur 3 tahun sampai dengan 20 tahun Selain itu, hasil minyak inti sawit di Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Utara terus meningkat mulai dari umur 3 tahun hingga 20 tahun (Gambar 11).
Gambar 11. Produksi Minyak Inti Sawit Kelapa Sawit di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Utara dari 3 tahun hingga 20 tahun Dari Tabel 4 diketahui bahwa hasil CPO di lab tertinggi di Sulawesi Tenggara pada umur 9 tahun, sedangkan di Kalimantan Utara pada umur 10-20 tahun. Selanjutnya, baik di Sulawesi Tenggara maupun Kalimantan Utara, hasil kernel tertinggi dihasilkan pada umur 10-20 tahun.
15 17 19 21 23 25 27
3 4 5 6 7 8 9 10-20
Yield of Crude Palm Oil in the lab.(%)
Palm Oil Plant Age (years)
Sulteng Kaltara
3 3,5 4 4,5 5 5,5
3 4 5 6 7 8 9 10-20
Palm Kernel Oil Yield (%)
Palm Oil Plant Age (years)
Sulteng Kaltara
11 Tabel 4. Hasil CPO di Lab dan Hasil kernel (%)
Oil palm plant age (years)
CPO yield in the lab Kernel yield (%)
Sulawesi Tenggara
Kalimantan utara
Sulawesi Tenggara
Kalimantan utara
3 21.36 b 19.43 c 3.54 c 4.22 b
4 22.24 ab 19.94 bc 3.65 bc 4.33 b
5 23.25 ab 20.5 abc 3.67 bc 4.21 b
6 24.07 ab 20.87 abc 3.88 abc 4.37 b 7 24.32 ab 21.04 ab 3.93 abc 4.46 ab
8 25.00 a 21.13 ab 4.25 abc 4.55 ab
9 25.12 a 21.23 ab 4.35 ab 4.64 ab
10-20 21.75 b 21.46 a 4.48 a 4.91 a
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata dengan uji t pada taraf 5%
PEMBAHASAN
Secara umum hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot tandan di Sumatera Utara lebih tinggi dibandingkan di Jambi dan Sulawesi Tenggara. Begitu pula rasio buah / tandan Sumatera Utara lebih unggul, sedangkan rasio mesocarp / buah tertinggi dihasilkan oleh Provinsi Jambi. Selain itu, Sumatera Utara juga menghasilkan rendemen CPO di lab tertinggi dibandingkan provinsi lain, sedangkan rendemen CPO dengan faktor koreksi dan rendemen inti tertinggi terdapat di Provinsi Jambi, harga TBS berbeda di tiap provinsi. Rata-rata bobot tandan segar dan buah per tandan di Provinsi Sumatera Utara lebih tinggi dibandingkan di Provinsi Jambi kecuali pada berumur 10 sampai 16 tahun, sedangkan rasio buah per tandan kelapa sawit pada umur 3 sampai 20 tahun sangat fluktuatif di dua provinsi yang agroklimatnya jelas berbeda. Minyak sawit adalah minyak yang dihasilkan dari minyak inti sawit. Minyak sawit terutama dikenal sebagai bahan baku minyak dan lemak yang digunakan untuk memproduksi minyak goreng, shortening, margarin dan minyak nabati lainnya. Dengan kandungan karotennya yang tinggi, minyak sawit merupakan sumber provitamin A yang murah dibandingkan bahan baku lainnya. Kondisi pengolahan yang optimal pada formulasi berbahan dasar minyak sawit diperlukan untuk menghasilkan kualitas hasil yang diinginkan9,10. Setelah proses awal, kandungan asam lemak serta perbandingan antara asam lemak tak jenuh dan asam lemak jenuh merupakan parameter penting untuk penentuan nilai gizi minyak tertentu. Hal ini harus diperhatikan oleh semua pihak11,12, termasuk mengembangkan produk bungkil antioksidan tinggi dengan kandungan minyak sawit merah (RPO) untuk menggantikan penggunaan margarin sebagai pangan fungsional yang potensial13.
Minyak sawit dihasilkan dari proses ekstraksi sabut dan inti sawit. Minyak yang dihasilkan dari kulit atau sabutnya dikenal dengan minyak sawit mentah (CPO) dan inti buahnya disebut minyak inti sawit (PKO). Data standar mutu CPO;
12 kadar asam lemak bebas (FFA) <3,25%, kadar air <0,10 (%) dan rendemen> 23 (%). Minyak sawit dan minyak inti sawit yang diekstraksi secara tradisional diperoleh dari Elaeis guineensis (Jacq.). Kedua minyak tersebut telah digunakan di Nigeria Tenggara untuk pengobatan berbagai penyakit dan infeksi kulit14. Minyak sawit adalah minyak alami yang mengandung senyawa penting dan asam lemak yang siap dieksploitasi dalam formulasi berbasis lipid dan pemberian obat. Minyak sawit dan minyak inti sawit masing-masing mengandung trigliserida rantai panjang dan rantai menengah, termasuk fitonutrien seperti tocotrienol, tokoferol, dan karoten. Eksploitasi senyawa ini dalam formulasi berbasis lipid akan mampu mengatasi hidrofobisitas dan lipofilisitas15. Tokoferol dan tokotrienol mewakili 2 subkelompok yang membentuk senyawa vitamin E, tetapi hanya tokotrienol yang menunjukkan aktivitas antikanker yang kuat. Penelitian terbaru sekarang telah mengklarifikasi alasan perbedaan yang diamati antara penelitian in vitro dan in vivo16. Minyak memainkan peran penting dalam nutrisi manusia. Selain menghasilkan energi, juga menyediakan asam lemak esensial yang mengatur kandungan lemak darah dan merupakan pelarut vitamin yang larut dalam lemak serta pembawa senyawa lain bersama dengan lemak termasuk pigmen karotenoid dan sterol17. Tandan buah segar (TBS) pohon kelapa sawit mengandung dua jenis minyak: minyak inti sawit (CPKO) yang diekstrak dari biji atau inti, dan minyak sawit mentah (CPO) yang diekstrak dari daging buah (mesocarp) 1,18. Harga minyak sawit sangat dipengaruhi oleh stok minyak sawit19. Sudah saatnya Indonesia menyelesaikan intervensi publik di pasar minyak sawit petani kecil sebagai respon terhadap sinyal harga internasional20.
KESIMPULAN
1. Pola pertambahan bobot tandan (g), nisbah mesocarp / buah sawit dan nisbah buah / tandan di Provinsi Sumatera Utara, Jambi, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tenggara relatif sama, terus meningkat dari waktu ke waktu.
2. Pola rendemen CPO di lab, rendemen CPO dengan faktor koreksi (%) kelapa sawit di Sumatera Utara juga sama dengan di Provinsi Jambi. Sumatera Utara menghasilkan rendemen CPO di lab tertinggi dibandingkan provinsi lain, sedangkan rendemen CPO dengan faktor koreksi dan rendemen inti tertinggi terdapat di Provinsi Jambi.
3. Harga tandan buah segar tidak sama di seluruh Indonesia, tergantung daerahnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Rahim, N.F., Mahmod, O., Rajalingam, S., and Evizal, A.K., 2018.
Forecasting Crude Palm Oil Prices Using Fuzzy Rule-Based Time Series
Method. IEEE Access, volume 6, 2018. DOI:
10.1109/ACCESS.2018.2846809.
2. Hidayat, S. 2019. Calculation of Raw Material Costs for The Palm Oil Supply Chain Value Added Using Modified Hayami Method. ISIEM 2018 IOP Conference Series: Materials Science and Engineering Paper 012083.
doi:10.1088/1757-899X/528/1/012083
13 3. Mutia R., D. N. A. Zaide, I. I. Muhamad, 2014. Synthesis of Cocoa Butter Equivalent from Formulated Hard Palm Oil Mid-fraction and Canola Oil Blends. Conference Paper. August 2014. DOI: 10.13140/2.1.3156.5601 4. Biswas, N., Y.L. Cheow, C. P. Tan, L. F. Siow. Physicochemical properties
of Enzymatically Produced Palm Oil-Based Cocoa Butter Substitute (CBS) with Cocoa Butter Mixture. European Journal of Lipid Science and Technology. DOI: [10.1002/ejlt.201700205].
5. Biswas, N., Y. L. Cheow, C.P. Tan, S. Kanagaratnam, L.F. Siow. 2017.
Cocoa Butter Substitute (CBS) Produced from Palm Mid fraction/Palm Kernel Oil/Palm Stearin for Confectionary Fillings. J Am oil ChemSoc (2017). January 2017, 94:235-245. DOI 10.1007/s11746-016-2940-4 6. Hashem, A. H., M.M. Abdul-fadl, S.M. Arafat, and B. M. Aboulhoda. 2018.
Producing Cocoa Butter Substitutes by Blending Process of Some Vegetable oils. J. Biol. Chem. Environ. Sci., 2018, Vol. 13(3): 133-154.
http://biochemv.sci.eg/
7. Ramli, S., N. Norhman, N. Zainuddin, S. M. Ja’afar, I. A. Rahman. 2017.
Nanoemulsion Based Palm Olein as Vitamin E Carrier. Malaysian Journal of Analytical Sciences. Vol. 21 No. 6 (2017): 1399-1408. ISSN 1394-2506.
DOI: https://doi.org/10.17576/mjas-2017-2106-22
8. Mukherjee, S., and A. Mitra. 2009. Health Effects of Palm Oil. Journal of Human Ecology, 26(3): 197-203. June 2009. DOI:
10.1080/09709274.2009.11906182
9. Miskandar, M. S., Y. C. Man, M. S. A. Yusoff, and R. A. Rahman. 2005.
Quality of Margarine:fats selection and Processing Parameters. Asia Pas J
ClinNutr 2005;14 (4):387-
395http://apjcn.nhri.org.tw/server/APJCN/14/4/387.pdf
10. Norlida, H.M., A.R. Md. Ali, and I. Muhadhir. 1996. Blending of Palm Oil, Palm Stearin and Palm Kernel Oil in the Preparation of Table and Pastry Margarine. International Journal of Food Sciences and Nutrition (1996) 47, 71-74. https://doi.org/10.3109/09637489609028563
11. Kostik, V., S. Memeti, and B. Bauer. Fatty Acid Composition of Edible Oils and Fats. Journal of Hygienic Engineering and Design, 4. pp. 112-116. ISSN
978-608-4565-03-1. UDC 664.3:577.115.3.
http://eprints.ugd.edu.mk/id/eprint/11460
12. Mancini, A., E. Imperlini, E. Nigro, C. Montagnese, A. Daniele, S. Orrù, and P. Buono. 2015. Biological and Nutritional Properties of Palm Oil and Palmitic Acid: Effects on Health. Molecules 2015, 20, 17339-17361. ISSN
1420-3049. doi:10.3390/molecules200917339.
www.mdpi.com/journal/molecules
13. Harianti, R., S. A. Marliyati, Rimbawan, D. Sukandar. 2018. Development of High Antioxidant Red Palm Oil Cake as a Potential Functional Food. J.
Gizi Pangan. July 2018, 13(2):63-70. ISSN 1978-1059, E-ISSN 2407-0920.
DOI: 10.25182/jgp.2018.13.2.63-70
14. Akwenye, U. N., and C.A. Ijeomah. 2005. Antimicrobial Effects of Palm Kernel Oil and Palm Oil. KMITL Sci. J. Vol. 5 No. 2 Jan-Jun 2005.http://www.thaiscience.info/journals/Article/KLST/10424455.pdf
14 15. Goon, D. E., S. H. S. A. Kadir, N. Ab. Latip, S. Ab. Rahim, and M. Mazlan.
2019. Palm Oil in Lipid-Based Formulations and Drug Delivery Systems- Review. Biomoleculs 2019, 9, 64. doi:10.3390/biom9020064
16. Sylvester, P. W., A. Kaddoumi, S. Nazzal, K.A. El Sayed. The Value of Tocotrienols in The Prevention and Treatment of Cancer-Review. Journal of American College of Nutrition, Vol. 29, No. 3, 324S-333S (2010). DOI:
10.1080/07315724.2010.10719847.
17. Zaeromali, M., L. Nateghi, and M. Yousefi. 2014. Production of Industrial Margarine with Low Tran’s Fatty Acids and Investigation of Physicochemical Properties. European Journal of Experimental Biology, 2014, 4(1):583-586. ISSN: 2248-9215. www.pelagiaresearchlibrary.com 18. Japir, A. A., J. Salimon, D. Derawi, M. Bahadi, S. Al-shuja’a, and M. R.
Yusop. 2017. Physicochemical Characteristics of High Free Fatty Acid Crude Palm Oil. OCS-Oilseeds & fats Crops and Lipids.DOI:
10.1051/ocl/2017033
19. Khalid, N., Hakimah, N.A.H., Sharmila, T., Nur, F.M. 2018. Crude Palm Oil Price Forecasting in Malaysia: An Econometric Approach (Peramalan Harga Minyak Sawit Mentah Malaysia: Satu Pendekatan Ekonometrik).
Jurnal Ekonomi Malaysia 52(3), 2018, 263-
278.http://doi.org/10.17576/JEM-2018-5203-19
20. Donald, F.L. 1996. Indonesia’s Palm Oil Subsector. Policy Research Working Paper. The World Bank International Economics Department Commodity Policy and Analysis Unit.