commit to user
i
PENGGAMBARAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN
DALAM TEATER
(Analisis Semiotik tentang Kekerasan terhadap Perempuan dalam Pementasan Teater “Wajah Sebuah Vagina” oleh Klompok Tonil
Klosed Surakarta tahun 2005)
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi
Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Ilmu Komunikasi
Oleh:
Dwi Retno Pusporini D0203063
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
ii
PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan panitia ujian skripsi
Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Pembimbing Skripsi
commit to user
iii
PENGESAHAN
Skripsi ini telah diuji dan disahkan oleh Panitia Ujian Skripsi
Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Hari : Jumat
Tanggal :29 April 2011
Panitia Ujian Skripsi
1. Ketua : Prof.Drs.H.Totok Sarsito,SU,MA,Ph.D (………)
NIP. 19490428 197903 1 001
2. Sekretaris : Nora Nailul Amal, S.Sos, MLMed, Hons (………)
NIP. 19810429 200501 2 002
3. Penguji : Prof. Drs. H. Pawito, Ph.D (………)
NIP. 19540805 198503 1 002
Mengetahui
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret Surakarta
commit to user
iv
MOTTO
commit to user
v
PERSEMBAHAN
commit to user
vi
UCAPAN TERIMA KASIH
Terimakasih yang tak terhingga untuk ALLAH Subh’annallahu Wa Ta’ala atas semua rahmat yang selalu di berikan pada hamba.yang akhirnya hamba dapat
menyelesaikan skripsi ini.
Ibuk dan Bapak, untuk segenap curahan kasih sayangnya, kesabaran, dan
ketulusan hati.
Mas Hendro, yang tak bosan menyemangatiku. Thanks bro.
Faturrohman, terima kasih untuk cinta, perhatian dan dukungannya.
Teman-teman Komunikasi 2003, Ajeng, Simon, Yan, Widi, Diah, Agni, Siska,
Budi, Yudha.
Keluarga di Kos Kinasih 2, Era, Anne, Winda, Dek Rahma, Rina.
Keluarga di Teater SOPO, Irawan, Rudy Gemphile, Niken, Mas Gharenk, Uni
Cempluk, Sari Wuryani, Mas Gondrong.
Teman-teman di Rumah Jeruk Semarang, Umam, Tambeng, Erna, Norma, Anton.
Sahabat dan teman-teman yang telah memberi warna tersendiri dalam
commit to user
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan, untuk memenuhi sebagian
persyratan mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Komunikasi.
Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian
penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan
yang timbul dapat teratasi. Untuk itu atas segala bentuk bantuannya, disampaikan
terima kasih kepada yang terhormat :
1. Drs. H. Supriyadi, S. U. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu
Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Dra. Prahastiwi Utari, M. Si, Ph. D selaku Ketua Jurusan Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
3. Prof. Pawito, Ph.D. selaku pembimbing atas arahan dan kesabaran beliau
membimbing penulis dalam menyelesaikan tulisan ini.
4. Bapak Sukatno dan Ibu Suwarsi, atas semua perjuangan dan kepercayaan
serta doa yang tak henti-hentinya untuk ananda.
5. Teman-teman Komunikasi 2003.
6. Pihak yang teramat banyak untuk disebutkan atas kesempatan yang
diberikan untuk memaknai arti kehidupan
Penulis sadar bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, maka dengan
segala kerendahan hati penulis mengharapkan sumbang saran agar skripsi ini
bermanfaat bagi seluruh pihak yang berkompeten.
Surakarta, Februari 2011
commit to user
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
UCAPAN TERIMA KASIH ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... viii
ABSTRAK ... x
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Kajian Pustaka ... 7
1. Penelitian Terdahulu ... 7
2. Kajian Teori ... 10
3. Teater ... 13
4. Teater sebagai Salah Satu Media Komunikasi ... 17
5. Perempuan dalam Media Teater ... 24
6. Kekerasan terhadap Perempuan ... 26
commit to user
ix
8. Terminologi dan Kategorisasi ... 42
E. Metodologi Penelitian... 43
1. Jenis Penelitian ... 43
2. Metode Penelitian ... 44
3. Sumber Data ... 46
4. Teknik Pengumpulan Data ... 46
5. Analisis Data ... 47
BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN A. Deskripsi Pentas Wajah Sebuah Vagina ... 49
B. Sinopsis ... 51
C. Alur Cerita ... 52
D. Konstruksi Dramatik Teater ... 59
E. Penataan Artistik Pentas Wajah Sebuah Vagina ... 61
1. Tata Rias ... 61
2. Kostum ... 62
3. Properti Pendukung ... 63
4. Setting dan Lighting ... 63
5. Musik ... 64
F. Para Tokoh ... 64
G. Profil Klompok Tonil Klosed... 65
1. Penulis dan Sutradara ... 66
commit to user
x
BAB III. SAJIAN DAN ANALISIS DATA ... 69
A. Analisis Bentuk Kekerasan Fisik yang Dialami Tokoh Sumira... 70
1. Kekerasan terhadap Perempuan Secara Seksual ... 70
2. Penganiayaan ... 74
B. Analisis Bentuk Kekerasan Non Fisik yang Dialami Tokoh Sumira ... 79
1. Human Traficking ... 79
2. Ancaman/ Intimidasi ... 83
3. Penghinaan ... 85
4. Pelecehan Seksual ... 86
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 89
B. Saran... 91
commit to user
xi
ABSTRAK
DWI RETNO PUSPORINI, D0203063, PENGGAMBARAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM TEATER (Analisis Semiotik tentang Kekerasan terhadap Perempuan dalam Pementasan Teater “Wajah Sebuah Vagina” oleh Klompok Tonil Klosed Surakarta Tahun 2005). Skripsi Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta 2011.
Teater merupakan media yang mampu menggambarkan berbagai keadaan sosial maupun budaya di mana suatu masyarakat tersebut tinggal. Sebagai media penyampai informasi, teater merupakan media massa yang menjangkau khalayak sebagai penerima pesan. Dalam pementasan teater terkandung pesan-pesan yang berupa simbol verbal maupun non verbal.
Pementasan teater Wajah Sebuah Vagina yang dipentaskan oleh Klompok
Tonil Klosed Surakarta menggambarkan tentang kekerasan terhadap perempuan yang dialami tokoh utama wanitanya yang bernama Sumira. Dalam pementasan ini sutradara mencoba mengkomunikasikan pesan-pesan tentang kekerasan terhadap perempuan melalui simbol-simbol teater yang ditampilkan melalui para pemain maupun desain artistik pendukung pementasan.
Penelitian ini mencoba untuk mengetahui bagaimana penggambaran kekerasan terhadap perempuan dalam pementasan teater Wajah Sebuah Vagina,
yang mana simbol-simbol di dalam pementasan teater tersebut disampaikan secara verbal dan non verbal. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan Teknis Analisis Semiotika Roland Barthes (denotasi, konotasi dan mitos) untuk meneliti simbol-simbol dalam pementasan teater tersebut. Metode pengumpulan data diperoleh melalui data dokumentasi pementasan teater
Wajah Sebuah Vagina. Sedangkan proses analisa data dilakukan dengan beberapa tahap yaitu: mengelompokkan adegan-adegan kunci ke dalam kategori yang telah ditentukan, menganalisanya kemudian menarik kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa penggambaran kekerasan terhadap perempuan dalam pementasan teater Wajah Sebuah Vagina
commit to user
xii
ABSTRACT
DWI RETNO PUSPORINI, D0203063, DWI RETNO PUSPORINI, D0203063, PENGGAMBARAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM TEATER (Semiotic Analysis of Violence against Women in Theatre Performance Wajah Sebuah Vagina by Klompok Tonil Klosed Surakarta Year 2005).
Theatre is a medium that is able to describe various social and cultural circumstances in which a society lives. As the medium in the information, theatre is mass media to reach audiences as a recipient of the message. In the theatrical performance contained the messages in the form of verbal and non verbal symbols.
Theatrical performance Wajah Sebuah Vagina that performed by Klompok Tonil Klosed Surakarta described on violence against women in the female main character named Sumira. The theatrical director tries to communicate the messages about violence against women through theater symbols displayed by those actors and supporters stage artistic design.
This study tries to find out how depiction of violence against women in
Wajah Sebuah Vagina, which the symbols in the theater was conveyed verbally and non verbally. The research method uses qualitative research methods with Technical Analysis Roland Barthes Semiotics (denotation, connotation and myth) to examine the symbols in the theater. Methods of data collection is obtained through data documentation theatre performance Wajah Sebuah Vagina. The data analysis process carried out by several steps: classifying the key scenes into predefined categories, analyze them and draw conclusions.
commit to user
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan
membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Sedangkan untuk
hidup berdampingan bermasyarakat, manusia sangat membutuhkan komunikasi.
Dengan melakukan komunikasi, manusia bisa saling tukar informasi dan
berinteraksi dengan orang lain. Komunikasi merupakan salah satu aktivitas
kehidupan yang tidak mungkin ditinggalkan. Setiap orang melakukan
berkomunikasi, baik secara individu maupun kelompok. Tanpanya, kehidupan
sosial tidak akan berjalan sehingga orang tidak bisa menyampaikan apa yang
menjadi pendapatnya kepada orang lain. Komunikasi pada dasarnya adalah
kegiatan pertukaran pesan dari satu individu atau kelompok dengan individu
atau kelompok lain. Dengan komunikasi, manusia dapat saling mengenal, saling
kontak dengan yang lain sehingga terjadi pertukaran informasi, ide, dan
pengalaman.
Dalam proses penyampaian pesan, komunikasi memerlukan sebuah
media sebelum akhirnya sampai pada penerima pesan. Zaman dahulu, sebelum
ditemukannya media elektronik, manusia menggunakan media tradisional untuk
menyampaikan pesan, antara lain seperti kentongan untuk memberitahukan
commit to user
xiv
untuk disampaikan kepada masyarakat, maupun bentuk drama yang disisipi
pesan sosial. Di Indonesia sendiri, Sunan Kalijaga menggunakan media wayang
kulit untuk penyebaran agama Islam. Kemudian seiring dengan perkembangan
teknologi, media komunikasi juga berkembang. Dimulai pada saat ditemukannya
mesin cetak yang membawa dampak besar bagi komunikasi, media cetak dan
perkembangan pers telah memberi pengaruh yang signifikan dalam proses
komunikasi. Dengan keberadaan mesin cetak tersebut maka munculnya surat
kabar yang semakin memperluas cakupan komunikasi massa. Lalu disusul
kehadiran film pada akhir abad ke-19 sebelum kemudian ditemukan radio dan
televisi.
Kini, di abad ke-21 dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat telah
muncul media komunikasi yang sangat beragam membuat orang semakin mudah
melakukan komunikasi. Munculnya internet, siaran streaming dari radio maupun
televisi, perkembangan teknologi telepon seluler yang semakin canggih, telah
mengubah cara manusia berkomunikasi. Dengan kata lain teknologi telah
mendekatkan jarak dan mempersempit waktu, sehingga komunikasi lebih efektif
dan efisien.
Namun diantara media komunikasi modern tersebut masih terdapat
media tradisional yang sampai sekarang masih dipakai, salah satunya adalah
teater. Teater yang keberadaannya telah ada sejak 1849 SM sampai sekarang
masih bisa eksis diantara gempuran perkembangan teknologi. Selain sebagai
commit to user
xv
juga berfungsi sebagai media kritik terhadap realitas sosial di masyarakat. Teater
yang merupakan media komunikasi tradisional dinilai masih mampu bersanding
di antara media-media komunikasi modern yang lainnya. Contoh penggunaan
media teater di saat ini antara lain digunakan oleh BKKBN dalam rangka
penyuluhan KB pada masyarakat yang dikemas dalam bentuk sandiwara teater,
sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat. Demikian juga dengan sebuah
partai politik yang menggunakan media teater saat melakukan kampanye di
suatu tempat untuk menjaring massa menjelang pemilihan umum.
Dengan kelebihannya, media teater yang mempunyai karakteristik
berbeda dengan media komunikasi lain, yaitu dengan pesan moral yang
disampaikan secara eksplisit melalui aktor dan unsur-unsur di dalamnya, teater
diharapkan mampu berkontribusi dalam perubahan sosial. Dalam hal ini, teater
mempunyai fungsi antara lain: fungsi propaganda, fungsi media kritik realitas
sosial dan penyampai pesan moral kepada audiensnya.
Dalam upayanya membangun dan memperlancar komunikasi, sebuah
pementasan teater menggunakan simbol dan lambang sebagai medianya. Setiap
unsur dalam pementasan merupakan sebuah simbol dari apa yang ingin
disampaikan oleh teater tersebut. Simbol diwujudkan melalui dialog, pemilihan
kostum, make up, setting panggung, tata cahaya, pilihan musik, maupun gerak
tubuh/ gesture dan mimik sang aktor. Kesemua unsur tersebut saling
commit to user
xvi
digunakan untuk penyampaian pesan kepada penonton agar dapat tersampaikan
dengan baik.
Seperti yang pernah diungkapkan Arifin C. Noer semasa hidupnya, bahwa
teater tak hanya merupakan masalah artistik saja, tetapi juga orientasi budaya,
panutan hidup, perilaku, bahkan juga latar belakang sosial-politik dan reformasi
estetika serta merupakan sarana penyaluran aspirasi sutradara kepada
masyarakat.
Dengan pertimbangan inilah media kesenian yaitu teater digunakan
sebagai salah satu cara untuk menyampaikan pesan-pesan mengenai fenomena
kehidupan masyarakat. Salah satunya yaitu mengenai kehidupan perempuan
yang mengalami kekerasan yang diungkapkan melalui pementasan teater
berjudul Wajah Sebuah Vagina. Melalui media teater, diharapkan pesan-pesan
mengenai kekerasan terhadap perempuan tersebut bisa sampai kepada khalayak
masyarakat.
Dikotomi perempuan dan laki-laki diciptakan oleh budaya, mitos dan
agama. Pandangan stereotype yang menempel pada perempuan adalah sifat
lemah, emosional, kurang cerdas, tidak rasional, tergantung pada laki-laki, dan
sebagainya. Sementara laki-laki distereotipkan sebagai sosok yang kuat, perkasa,
tidak emosional dan publik figur. Stereotype ini juga didukung oleh sikap
perempuan sendiri yang memposisikan diri sebagai makhluk yang lebih rendah
dari laki-laki. Kehidupan perempuan di Indonesia masih jauh di belakang
commit to user
xvii
pengetahuan dan rendahnya tingkat pendidikan menambah parah keadaan ini.
Tanggapan terhadap masalah ini disikapi dengan berbagai bentuk, salah satunya
dengan mengangkat tema tentang perempuan ini ke dalam sebuah pertunjukan
panggung, salah satunya pementasan teater di samping seni tari sebagai media
pertunjukan.
Pementasan teater bertema perempuan secara tidak langsung dapat
menggambarkan keadaan masyarakat saat ini, seperti misalnya pementasan
teater berjudul Wajah Sebuah Vagina yang dipentaskan oleh Klompok Tonil
Klosed Surakarta. Melalui pementasan tersebut, sutradara mencoba
mengkomunikasikan kondisi dan potret kehidupan seorang perempuan
Indonesia yang mengalami berbagai konflik dalam hidupnya terkait dengan
keadaannya sebagai perempuan.
Pementasan teater yang akan dikaji di sini berjudul Wajah Sebuah
Vagina. Awalnya berupa sebuah novel karya Naning Pranoto, kemudian
dialihtekskan menjadi sebuah naskah teater oleh Wijang Wharek. Dengan judul
yang sedemikian lugas, pementasan teater ini tidak melulu ingin menunjukkan
kevulgaran dari kata vagina, namun pementasan ini hendak membawa pesan
moral yang ingin disampaikan oleh penulis. Tema tentang kekerasan dan
diskriminasi terhadap perempuan yang sejak dulu ada dinilai masih relevan
hingga saat ini. Melalui garapan yang mengandung banyak komposisi gerak
commit to user
xviii
mengeksplorasi naskah pertunjukan secara gamblang dan khas garapan Klompok
Tonil Klosed.
Tema tentang perempuan telah banyak menginspirasi sejumlah penulis
untuk membuat karya tentang perempuan. Novel Nawal El Saadawi “Perempuan
di Titik Nol” yang bercerita tentang perempuan terpenjara, pementasan “Vagina
Monolog”, sampai pada novel “Perempuan Berkalung Sorban” yang telah
difilmkan. Tema perempuan tidak akan pernah habis, karena banyak sekali aspek
yang bisa digali tentang perempuan, tentang feminisme, tentang kekerasan
terhadap perempuan, diskriminasi perempuan maupun persoalan gender.
B. PERUMUSAN MASALAH
Teater sebagai media komunikasi berfungsi sebagai penyampai pesan
dari penulis maupun sutradara kepada penonton sebagai penerima pesan.
Teater dilihat sebagai sebuah bentuk media penyampai pesan mempunyai
karakteristik tersendiri yang berbeda dibandingkan dengan media pesan lainnya.
Dalam penyampaiannya, teater banyak menggunakan bahasa non-verbal untuk
menggambarkan pesan yang ingin disampaikan. Pesan yang terkandung dalam
sebuah pementasan teater diwujudkan melalui unsur-unsur teater, yang
mencakup: pemilihan kostum, pemilihan artistik panggung, dialog para pemain,
keaktoran pemain, tata cahaya, maupun dari cara penyutradaraan yang
commit to user
xix
Makna di sini berupa penginterpretasian oleh sutradara dengan benda-benda
atau unsur pementasan yang digunakan dalam penyampaian pesan tersebut.
Sebuah pementasan teater merupakan penyampaian pesan, begitu juga
dengan pementasan teater berjudul Wajah Sebuah Vagina yang mengandung
makna kompleks dan kaya akan tanda-tanda dan simbol mengenai kekerasan
terhadap perempuan.
Penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana kekerasan
terhadap perempuan digambarkan melalui tanda-tanda dalam pementasan
teater Wajah Sebuah Vagina?
C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui kekerasan terhadap
perempuan yang digambarkan melalui tanda-tanda dalam pementasan teater
Wajah Sebuah Vagina.
D. KAJIAN PUSTAKA
1. Penelitian Terdahulu
Sampai saat ini telah banyak penelitian yang meneliti tentang teater. Hal
ini disebabkan oleh sekup dan ruang lingkup teater sendiri yang amat luas, mulai
dari penelitian akademik yang bersifat sastra sampai pada penelitian mengenai
kehidupan sosial dalam komunitas teater. Teater bisa diartikan sebagai sarana
commit to user
xx
berkumpulnya orang-orang yang mempunyai kesamaan visi dan membentuk
sebuah komunitas maupun organisasi teater.
Salah satu penelitian terhadap teater pernah dilakukan oleh Yudho
Wahyanto pada tahun 2006 yang meneliti makna pesan dalam naskah teater
berjudul “Aib” karya Putu Wijaya. Dalam karya skripsinya yang berjudul
KEBOBROKAN BANGSA DALAM NASKAH TEATER, Yudho Wahyanto menggunakan
analisis semiotik Roland Barthes untuk meneliti lambang-lambang berupa teks
yang terdapat dalam naskah teater tersebut. Dalam pandangan peneliti, naskah
karya Putu Wijaya tersebut mengandung makna yang kompleks dan kaya akan
konstruksi tanda-tanda simbol dan lambang serta tersirat makna kebobrokan
yang digambarkan melalui tokoh-tokoh dan adegan. Selain itu naskah teater
“Aib” mempunyai kekuatan dalam menggambarkan kondisi bangsa Indonesia
(Yudho Wahyanto, 2006: 5).
Naskah tersebut menceritakan keadaan sebuah negara yang sedang
mengalami kemunduran moral seperti menggambarkan keadaan negara
Indonesia pada saat ini yang sedang dilanda kebobrokan. Dalam penelitiannya,
Wahyanto menentukan beberapa korpus yang digunakan sebagai fokus
penelitian yang dipandang sebagai representasi keadaan Bangsa Indonesia.
Terdapat 7 buah korpus yang ditemukan dalam naskah ini, yaitu: 1). Tentang
karakteristik bangsa Indonesia yang majemuk, 2). Tentang kebobrokan moral, 3).
Ketidakdisiplinan sebagai cermin masyarakat Indonesia, 4). Kesejahteraan dan
commit to user
xxi
tanggung jawab sebagai bentuk lemahnya mental masyarakat Indonesia, 6).
Penyelesaian masalah menggunakan kekerasan, dan 7). Perlawanan rakyat
sebagai bentuk usaha dalam mencari keadilan. Korpus-korpus tersebut diteliti
dengan menggunakan analisis semiotik Roland Barthes yaitu signifikasi 2 tahap
melalui makna denotasi dan konotasi. Korpus yang telah ditentukan tersebut
masing-masing diinterpretasi dengan penarikan makna denotatif kemudian
makna konotatif untuk mengetahui apa makna yang terkandung dalam korpus
tersebut. Dalam kajian Yudho Wahyanto yang berlatar belakang Ilmu Komunikasi
ini, dia menyebutkan bahwa sebuah naskah teater merupakan media penyampai
pesan kepada masyarakat yang memungkinkan adanya distribusi sebuah ideologi
teks naskah teater ke khalayak yang lebih luas maupun sebagai alat propaganda
penyebaran ideologi nasionalisme kapada masyarakat.
Dalam penelitian lain yang ditulis oleh Muchlis Daroini (2007) sedikit
banyak juga mengupas tentang kekuatan pesan dalam sebuah naskah teater.
Dalam skripsinya yang berjudul PESAN DAKWAH DALAM NASKAH PROFETIK
TEATER ESKA UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA tersebut, Muchlis Daroini
mengambil 3 judul naskah teater Eska yang menurutnya sarat akan pesan
dakwah yaitu Hingga Perbatasan Hari, Berdiri di Tengah Hujan dan Togh-Out.
Dalam penelitiannya tersebut, peneliti menggunakan analisis isi untuk mengupas
makna pesan profetik yang ada dalam ketiga naskah teater tersebut.
Penelitian ini menemukan ada 3 jenis pesan etik profetik yang terkandung
commit to user
xxii
unsur profetik yaitu humanisasi. Di dalamnya mengandung ajaran-ajaran
humanisme yaitu pentingnya ilmu bagi manusia, kesabaran, amanah, keikhlasan
dan kekuasaan yang adil serta berpihak kepada rakyat, 2). Pesan Syariah yang
dimaknai sebagai penegakan hukum dan keadilan sosial (Liberasi) seperti
dihapuskannya diskriminasi terhadap perempuan, terhapusnya
kesewenang-wenangan, terhapusnya hegemoni budaya dan anjuran dihentikanya perang
karena hanya akan menyengsarakan masyarakat sipil, dan 3). Pesan Aqidah
(Transendensi) yaitu perdamaian yang berakar pada essensi ketauhidan,
pluralisme dalam beragama dan bermasyarakat.
Menurut peneliti, media seni seperti naskah teater bukan hanya sebagai
sarana penyaluran ekspresi berkesenian saja namun bisa menjadi sarana dakwah
penyampaian pesan kebaikan. Di sisi lain, Teater ESKA merupakan komunitas
seni di sebuah universitas Islam yang tentu saja tetap mengemban misinya
sebagai sarana dakwah. Berkaitan dengan dakwah tersebut jika memakai teori
Kuntowijoyo; seni dalam konteks ini naskah teater sebagai karya sastra
diposisikan bukan hanya sebagai alat dakwah tetapi proses berkesenian – yang
bukan sekedar hasil, tapi adalah simbol dari sebuah peradaban. Sehingga pesan
dakwah dari sebuah karya seni dapat ditangkap karena merupakan ekspresi dari
keislaman itu sendiri (Daroini, 2007: 42).
Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah
pesan yang dikaji dari beberapa peneliti sebelumnya hanya sebatas teks saja,
commit to user
xxiii
telah dipentaskan. Selain itu pesan teater dapat lebih mudah ditangkap dalam
pementasan dibanding pada saat masih berupa teks naskah.
2. Kajian Teori
Teori adalah himpunan konstruk (konsep) definisi dan proposisi yang
mengemukakan pandangan sistematika tentang gejala dengan menjabarkan
relasi antara variabel untuk menjelaskan gejala tersebut (Jalaluddin Rahmat,
1996: 6).
Menurut istilah, komunikasi bermakna bersama-sama (common,
commones : Inggris). Istilah komunikasi (Indonesia) atau communication (Inggris)
itu berasal dari bahasa Latin—communicatio yang berarti pemberitahuan,
pemberian bagian, pertukaran di mana si pembicara (komunikator)
mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya. Kata sifatnya
communis mempunyai arti bersifat umum atau bersama-sama. Kata kerjanya
communicare, artinya berdialog, berunding atau bermusyawarah (Anwar Arifin,
1992: 19).
Komunikasi, menurut Carl I. Hovland (dalam Onong U. Effendy, 1981: 12)
yaitu “the process by which an individual (the communicator) transmits stimuli
(ussually verbal symbols) to modify the behaviour of other individuals
(communicates)” yang artinya “proses di mana seseorang (komunikator)
menyampaikan perangsang-perangsang (biasanya dalam bentuk kata-kata) untuk
commit to user
xxiv
Komunikasi bukan sekedar tukar-menukar pikiran serta pendapat saja,
akan tetapi kegiatan yang dilakukan untuk berusaha mengubah pendapat dan
tingkah laku orang lain. Definisi komunikasi kemudian juga digambarkan oleh
Harold Lasswell dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Who? Says
what? In which channel? To whom? With what effect? Atau “siapa”,
“mengatakan apa”, “dengan saluran apa”, kepada siapa”, dan “dengan akibat
atau hasil apa” (Deddy Mulyana, 2000: 30). Dari paradigma Lasswell tersebut
komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada
komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Melalui media yang
tepat maka kemudian gambaran mengenai komunikasi menurut Lasswell
tersebut dapat dijawab.
Kehidupan manusia tak pernah lepas dari apa yang dinamakan dengan
komunikasi. Dengan melakukan komunikasi, manusia bisa saling tukar informasi.
Karena bentuk jaringan interaksi yang kompleks bagi manusia. Komunikasi
merupakan salah satu aktivitas kehidupan yang tidak mungkin ditinggalkan.
Setiap orang berkomunikasi, baik secara individu maupun kelompok. Tanpa
komunikasi, kehidupan sosial tidak akan berjalan. Orang tidak bisa
menyampaikan apa yang menjadi pendapatnya kepada orang lain, karena
komunikasi pada dasarnya adalah kegiatan pertukaran pesan dari satu individu
atau kelompok dengan individu atau kelompok lain. Dengan komunikasi,
manusia dapat saling mengenal, saling kontak dengan yang lain sehingga terjadi
commit to user
xxv
Sebagai kegiatan pertukaran pesan dari sumber pesan (komunikator)
kepada penerima (komunikan), komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan
makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima
olah komunikan. Jadi antara komunikator dan komunikan harus memiliki frame
of reference yang sama (Jalaluddin Rahmat,1996:280).
Menurut Onong U. Effendy (1999: 11) proses komunikasi terbagi menjadi
dua tahap, yakni secara primer dan secara sekunder. Proses komunikasi secara
primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada
orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Komunikasi
berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang diterima oleh
komunikan. Dengan kata lain, komunikasi, adalah proses membuat pesan setala
(tuned) bagi komunikator dan komunikan. Yang kedua yaitu komunikasi secara
sekunder. Proses secara sekunder adaalah proses penyampaian pesan oleh
seseorang kepada orang lain, dengan menggunakan alat atau sarana sebagai
media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Penggunaan
media kedua ini dimaksudkan apabila seorang komunikator berkomunikasi
dengan komunikan sebagai sasarannya dan berada di tempat yang relatif jauh
atau jumlahnya banyak.
Akan halnya teater, juga merupakan media komunikasi sekunder, teater
menyampaikan pesan kepada khalayak dengan sajian yang dipentaskannya.
Media-media seperti televisi, surat kabar, radio, film maupun pertunjukan teater
commit to user
xxvi
satu kali saja dalam penyampaian pesan akan sudah dapat tersebar luas kepada
khalayak yang jumlahnya banyak (massive).
3. Teater
Menurut asal katanya teater berasal dari bahasa Yunani teatron, yang
berarti sebuah tempat pertunjukan yang sangat besar. Teater juga bisa diartikan
mencakup gedung, pekerja dan kegiatannya atau juga dapat diartikan sebagai
semua jenis dan bentuk tontonan baik yang di panggung atau area terbuka (N.
Riantiarno, 2003: 7).
Menurut pengertiannya, teater adalah salah satu bentuk kegiatan
manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk
menyatakan dirinya yang diwujudkan dalam suatu karya seni suara, bunyi dan
rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan kehidupan manusia.
Ada beberapa definisi tentang pengertian teater, ada yang mengartikan
teater sebagai “gedung pertunjukan”, ada yang mengartikan sebagai “panggung”
(stage). Namun secara etimologi/ asal katanya, teater adalah gedung
pertunjukan (auditorium) yang bisa menampung banyak orang. Dalam arti luas
teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang dipertunjukan di depan
orang banyak, misalnya wayang orang, ludruk, lenong, reog, sulapan. Sedangkan
dalam arti sempit teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang
diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, gerak,
percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layer) yang didasarkan pada
commit to user
xxvii
teater juga bisa diartikan mencakup gedung, pekerja (pemain dan kru panggung),
sekaligus kegiatannya (isi-pentas/ peristiwanya).
Teater merupakan aspek paling langsung dan bentuk paling tua dari
kesenian. Kendati merupakan cabang kesenian yang sederhana, teater mampu
menjadi penyalur inspirasi dan keinginan manusia untuk menyelaraskan diri
dengan lingkungannya. Dalam perkembangannya teater telah mengalami
perubahan-perubahan. Namun ada satu kecenderungan yang selalu tetap, yang
kemudian menempatkannya sebagai aspek langsung dari seni, yaitu
penggambaran kembali dan pencerminan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan
sehari-hari, dalam dimensi ruang dan waktu yang sama yang ditempati
penonton.
Unsur utama sebuah karya seni teater adalah lakon atau naskah cerita.
Menurut Aston (dalam Satoto, 1994: 7) ada empat unsur yang membangun
sebuah naskah drama/ teater yaitu: (1) wujud atau bentuk dramatik/dramatic
shape, (2) tokoh/character, (3) dialog/dialogue, dan (4) petunjuk
pementasan/stage directions.
Menurut Roedjito, teater merupakan pertunjukan dari serangkaian
peristiwa, dengan pemeran sebagai materi baku utama, dalam upaya
mengungkapkan pengalaman. Dengan demikian, impersonifikasi (peniruan) atau
peniruan peran (role playing) tidaklah penting. Seluruh aktifitas pertunjukan, dari
serangkaian peristiwa, dituntut untuk memenuhi logika peristiwa (Roedjito,
commit to user
xxviii
Dari rumusan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur-unsur teater
menurut urutannya adalah sebabagai berikut :
a. Tubuh, manusia sebagai unsur utama ( pemeran/ pelaku/ pemain)
b. Gerak, sebagai unsur penunjang.
c. Suara, sebagai unsur penunjang ( kata/untuk acuan pemeran)
d. Bunyi, sebagai unsur penunjang ( bunyi benda,efek dan musik).
e. Rupa sebagai unsur penunjang ( cahaya, rias dan kostum.).
f. Lakon sebagai unsur penjalin ( cerita, non cerita, fiksi dan narasi ).
Unsur-unsur tersebut merupakan bagian dari teater yang mutlak ada
dalam setiap pementasan teater. Karena dalam penyampaian pesannya
menggunakan teater sebagai sarana komunikasi kepada penontonnya.
Teater sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan modern memiliki
wilayah estetis yang eksklusif dan tertutup, dengan keterbatasan sekaligus
kelebihan yang sesungguhnya menjadi karakteristiknya yang membedakannya
dengan televisi, film, dan sebagainya.
Teater dapat dirumuskan dalam pengertian sebagai suatu kegiatan
berekspresi yang bertolak dari alur cerita yang dipertunjukkan, dengan
menggunakan tubuh sebagai media utama yang dalam proses penciptaannya
dengan menggunakan unsur gerak, suara, bunyi dan rupa (wujud) yang akan
commit to user
xxix
Berdasarkan pengertian tersebut, arti teater dapat dibagi menjadi 2 yaitu
tetaer dalam arti luas dan teater dalam arti sempit. Dalam arti luas teater adalah
segala macam tontonan yang dipertunjukan di depan banyak orang. Sedangkan
dalam arti sempit teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang
diceritakan dan diproyeksikan di atas pentas sebagai suatu bentuk kualitas
komunikasi, situasi, aksi, (dan segala apa yang terlihat dalam pentas baik secara
obyektif maupun subyektif) yang menimbulkan perhatian, kehebatan,
ketrenyuhan dan ketegangan perasaan pada pendengar atau penontonnya
dimana konflik sikap dan sifat manusia sebagai tulang punggungnya. Disajikan
dengan media percakapan, gerak dan laku. Dengan atau tanpa dekor, didasarkan
pada naskah tertulis (sebagai hasil sastra) atau secara lisan, improvisasi, dengan
atau tanpa musik, nyanyian maupun tarian.
Meluasnya teater yang bergerak di bidang penyadaran dan
pemberdayaan masyarakat di Indonesia mulai marak sejak tahun 1950-an, tetapi
dalam prosesnya berubah menjadi gerakan bawah tanah di tahun 1965. Baru
kemudian di awal tahun 1980-an generasi baru seniman teater dari Yogyakarta
kembali menyuarakan kritik-kritik politik di bidang kesenian. Proses tersebut
terinspirasi dari suksesnya pelatihan-pelatihan dan kerjasama yang dibangun di
Philipina, dengan berbagai kelompok macam kelompok teater yang
menyuarakan pembebasan.
Pementasan teater merupakan suatu bentuk pengembangan produk
commit to user
xxx
merupakan hasil kerja kolaboratif dari sejumlah pikiran kreatif, yang
menghasilkan suatu keutuhan, saling mendukung dan saling melengkapi.
Unsur-unsur yang terlibat dalam proses pembuatan sebuah pementasan teater antara
lain: sutradara, yang menemukan tema yang dimaksud kemudian
mengungkapkannya ke dalam bentuk garapan; para aktor, serta tim artistik yang
mengatur dan menentukan segala sesuatu yang berhubungan dengan keindahan
audio dan visual yang meliputi setting, lighting, make up dan kostum, serta musik
pengiring.
Seluruh unsur yang terlibat dalam proses pementasan teater memiliki
peranan yang sangat penting dan saling terkait satu sama lain. Apabila salah satu
unsur tersebut mengalami gangguan, maka isi proses produksi dari pementasan
tersebut juga akan mengalami gangguan. Oleh karena itu perlu adanya
kerjasama yang baik antar masing-maing unsur yang terlibat untuk menunjang
kelancaran suatu proses produksi sehingga dapat tercipta suatu hasil karya yang
memuaskan.
Seni pertunjukan teater sebagai suatu hasil kebudayaan selalu mengalami
perkembangan, mengikuti gerak kebudayaan. Kebudayaan muncul dan tumbuh
di masyarakat sehingga segala gerak dan dinamisasi yang terjadi di masyarakat
dapat mempengaruhi kebudayaan baik secara langsung maupun tidak langsung.
4. Teater sebagai Salah Satu Media Komunikasi
Teater merupakan salah saru media seni peran yang bisa berfungsi
commit to user
xxxi
tempat dari pengalaman manusia yang sudah diringkas-padatkan. Pengalaman
yang terjadi dalam suatu konteks, dari suatu situasi kebudayaan aktual, yaitu
saat di mana seseorang berada bersama yang lainnya dalam kehidupan yang kini
dan nyata.
Teater dapat dianggap sebagai gejala sosial karena ia mempresentasikan
situasi sosial, suatu persekutuan sosial, ia membangun suatu kerangka sosial
teretntu yang didalamnya para aktor merupakan bagian yang integral. Teater
merupakan gejala sosial karena teater tidak mungkin terbentuk tanpa adanya
sekelompok aktor. Kelompok aktor ini biasanya sangat menyatu, mereka begitu
aktif, hidup dan kohesif, namun juga penuh dengan konflik, persaingan, intrik
dan pertentangan.
Pada saat bersamaan, sebuah lakon yang dimainkan oleh aktor-aktor
tersebut merupakan serangkaian tindakan yang tokoh-tokohnya harus
dihidupkan. Hal ini menjadi tidak mungkin tanpa adanya beberapa kerangka
sosial bagi kelompok tersebut: mereka harus bertemu bersama, bersatu,
membentuk afiliasi, terpecah-pecah, serta saling menyesuaikan cara interaksi
dan lingkungan sosial bersama-sama.
Pada setiap pertunjukan teater selalu terdapat penonton yang
membentuk publik yang tidak jarang selera, kebutuhan, dan asal sosial mereka
cukup beragam. Publik teater ini mungkin membentuk kelompok-kelompoknya
sendiri yang anggotanya terdiri dari sekumpulan massa, mulai dari lingkungan
commit to user
xxxii
selalu membutuhkan komunitas sebagai penyangga eksistensinya. Bahkan dalam
teater tradisi, pertunjukan adalah bagian dari dinamika sosial komunitas atau
masyarakat pendukungnya. Di sinilah, fungsi sosial teater menjadi penting
karena dapat mengolah persoalan-persoalan sosial ke dalam pertunjukan.
Dalam hubungannya dengan komunikasi, teater berperan sebagai sarana/
media penyampai pesan kepada khalayak. Pesan yang disampaikan dalam
pementasan tersebut berupa pesan nonverbal yang diungkapkan dalam bentuk
simbol. Dale G. Leather menyebutkan beberapa alasan mengapa komunikasi
nonverbal sangat penting: pertama, faktor-faktor nonverbal sangat menentukan
makna dalam komunikasi interpersonal. Ketika terjadi komunikasi tatap muka,
gagasan dan pikiran lebih banyak tersampaikan melaui pesan-pesan nonverbal.
Kedua, perasaan dan emosi lebih cermat diampaikan lewat pesan nonverbal
daripada pesan verbal. Ketiga, pesan nonverbal menyampaikan makna dan
maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi dan kerancuan. Pesan
nonverbal jarang dapat diatur oleh komunikator secara sadar. Keempat, pesan
nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif (memberikan informasi
tambahan yang memperjelas makna dan pesan) yang sangat diperlukan untuk
mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. Kelima, pesan nonverbal
merupakan cara komunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan
verbal. Keenam, pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat
commit to user
xxxiii
Dalam sebuah proses penyampaian komunikasi, pesan merupakan hal
yang utama (Effendy, 1995: 1). Definisi pesan sendiri adalah segala sesuatu,
verbal maupun nonverbal yang disampaikan komunikator untuk mewujudkan
motif komunikasi (Vardiansyah, 2004: 23). Pesan pada dasarnya bersifat abstrak,
kemudian diciptakan lambang komunikasi sebagai media atau saluran dalam
menghantarkan pesan berupa suara, mimik, gerak–gerik, bahasa lisan dan tulisan
yang dapat saling dimengerti sebagai alat bantu dalam berkomunikasi.
Pertunjukan teater sebagai produk kebudayaan dapat digunakan sebagai
sarana untuk komunikasi menyampaikan pesan tertentu (tema cerita) yang
disampaikan secara eksplisit maupun implisit melalui isyarat, ekspresi, gerak
tubuh (gesture), sikap, dan tanda-tanda atau lambang-lambang serta secara
audio visual bertutur secara dramatik. Tanda dan lambang-lambang ini memiliki
makna.
Pada hakikatnya semua seni termasuk pertunjukan teater bermaksud
untuk dikomunikasikan kepada khalayak. Oleh karena itu, sebagai hasil
pengungkapan nilai maupun hasil ekspresi perasaan manusia, terdapat beberapa
hal yang perlu diperhatikan. Makna adalah balasan terhadap pesan, makna baru
timbul jika ada seseorang yang menafsirkan lambang atau tanda yang
bersangkutan dan berusaha memahami artinya. Tanpa ada penafsiran, lambang
tetaplah lambang tanpa ada makna khusus yang menyertainya. Pesan dalam
bentuk tanda atau lambang ini diharapkan dapat ditangkap dan diinterpretasikan
commit to user
xxxiv
penonton dapat menangkap arti dan isi dari suatu pertunjukan teater yang
dilihatnya, sangat tergantung dari latar belakang kebudayaannya, pengalaman
hidup, pendidikan, pengetahuan dan perasaan, kepekaan artistik dan kesadaran
sosial mereka.
Pada dasarnya, persepsi visual dan auditif itu bersifat subyektif. Dua
orang penonton teater yang mengamati sebuah pertunjukan teater yang sama
akan membuat persepsi yang berbeda. Kepekaan akan sisi dramaturgi dan
pengalaman serta sudut pandang sangat diperlukan untuk dapat mengenali dan
mencermati sebuah bentuk pementasan teater. Akan tetapi, ada kepekaan lain
yang lebih penting yaitu kepekaan untuk mengenali dan menemukan nilai-nilai
atau pesan-pesan yang terkandung di dalam sebuah karya.
Sebagai media komunikasi, teater menggunakan sarana panggung serta
unsur-unsur pendukung sebuah pementasan dalam penyampaian pesannya. Alat
tersebut dapat berupa media tubuh si aktor, cara berakting, setting properti yang
mendukung, ilustrasi musik, dan tentu saja kostum yang sangat menentukan.
Sebuah pertunjukan teater yang diselenggarakan di sebuah gedung kesenian
kemasannya mungkin akan berbeda dengan pertunjukan teater yang
diselenggarakan di sebuah kampung ataupun di sebuah pondok pesantren.
Dalam beberapa hal, teater atau yang dalam masyarakat kita lebih
dikenal dengan istilah drama; kadang kala juga digunakan sebagai alat
propaganda politik kepada masyarakat. Pada saat Indonesia mengadakan pesta
commit to user
xxxv
politik yang mengadakan kampanye di kampung dan mengemasnya sebagai
sebuah pertunjukan teater yang mengandung pesan politik. Teater atau drama
tersebut disisipi pesan-pesan tertentu yang dirasa akan mudah diterima oleh
masyarakat dan tidak terkesan semata-mata kampanye.
Seringkali juga dalam rangka memperingati hari-hari tertentu dan digelar
demonstrasi, aksi teatrikal tak ketinggalan turut ambil bagian di dalamnya.
Melalui aksi teatrikal, diharapkan pesan yang terkandung di dalamnya dapat
tersampaikan.
Menurut Vardiansyah (2004: 23) proses pengolahan pesan sendiri
merupakan bagian proses komunikasi yang terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:
1. Proses penginterpretasian pesan (interpreting) sebagai upaya mewujudkan motif komunikasi dalam diri komunikator.
2. Proses penyandian (encoding), yaitu usaha untuk mengubah pesan yang abstrak menjadi konkret, berupa proses pembentukan dan pemilihan lambang komunikasi yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan.
3. Proses pengiriman (transmitting) pesan dalam bentuk lambang komunikasi oleh komunikator.
4. Proses perjalanan pesan dalam bentuk lambang komunikasi oleh komunikator.
5. Proses penerimaan (receiving) dalam bentuk lambang komunikasi pada diri komunikan.
6. Prosen penguraian (decoding) dalam bentuk lambang komunikasi kembali kepada pesannya oleh komunikan.
7. Proses penginterpretasian pesan (interpreting) denotatif dan konotatif sebagaimana dimaksud komunikator yang terjadi dalam diri komunikan.
Jadi melalui teater, terjadilah suatu proses penyampaian pesan yang
kompleks mulai dari saat komunikastor menyampaikan pesan sampai pada
commit to user
xxxvi
komunikasi dipelajari tentang bentuk pesan itu sendiri, makna pesan dan
penyajian pesan kepada khalayak. Pola, isyarat maupun simbol dalam pesan itu
sendiri tidak mempunyai makna, karena hanya perubahan-perubahan wujud
perantara yang berguna untuk komunikasi, akal budi manusia penggunanya,
serta apa yang dilambangkan (Kincaid & Schramm, 1987: 55).
Dunia dalam kehidupan manusia adalah dunia yang ditafsirkan segala
sesuatunya menjadi sebuah makna: itulah sebabnya manusia berbahasa. Dalam
bahasa manusia menemukan dunianya dan dalam bahasa itulah manusia
berkomunikasi dan terjadilah pertukaran makna. Teater merupakan salah satu
media yang dapat mempertemukan manusia dengan dunianya melalui sebuah
pertunjukan di panggung dengan dengan bahasa dan maksud tertentu.
Dalam sebuah pertunjukan teater terdapat komunikasi verbal dan non
verbal. Komunikasi verbal ditandai dengan penggunaan bahasa sebagai dialog
yang diucapkan oleh para pemain. Bahasa adalah medium yang menjadi sarana
dalam memaknai sesuatu, memproduksi dan mengubah makna. Hal ini dapat
dilakukan bahasa karena bahasa beroperasi sebagai sistem representasi.
Sedangkan komunikasi non verbal dalam sebuah pertunjukan teater ditunjukkan
melalui adegan, termasuk di dalamnya adalah gerak tubuh, ekspresi wajah, cara
pengucapan, gaya berpakaian dan lain-lain (Pearson & Nelson, 2001: 75).
Teater bisa berperan sebagai bahasa, melalui pertunjukan yang disajikan
commit to user
xxxvii
berhubungan dengannya. Dengan bahasa yang mudah dimengerti maka pesan
yang tersirat akan dapat sampai kepada penonton.
Terdapat kesepakatan di kalangan manusia untuk memberikan makna
pada simbol-simbol yang mereka pakai. Namun seseorang yang tidak mengenal
sandi (kode) atau ketentuan-ketentuannya, hanya akan dapat menerka saja
makna simbol-simbol tersebut. Orang-orang tidak akan mempunyai makna yang
tepat sama untuk simbol atau tanda yang sama, tetapi masing-masing makna
yang dimiliki oleh mereka akan cukup mirip, dan mereka akan dapat
menggunakan pesan yang sama itu bersama-sama, dengan begitu mereka
berkomunikasi.
Makna sebagai penghubung bahasa dengan dunia luar sesuai dengan
kesepakatan para pemakainya sehingga dapat saling mengerti. Fatimah (1999: 6)
mengatakan bahwa makna memiliki tiga tingkat keberadaan, yakni: (1) makna
menjadi isi dari suatu bentuk kebahasaan, (2) makna menjadi isi dari suatu
kebahasaan, dan (3) makna menjadi isi komunikasi yang mampu membuahkan
informasi tertentu. Pada tingkat pertama dan kedua dilihat dari segi
hubungannya dengan penutur, sedangkan yang ketiga lebih ditekankan pada
makna di dalam komunikasi.
commit to user
xxxviii
Sebagai media komunikasi, teater merupakan sarana yang
menyampaikan gagasan seorang sutradara tentang suatu tema cerita tertentu
kepada masyarakat yang kebanyakan merupakan refleksi dari kehidupan
manusia. Penggambaran kehidupan masyarakat tersebut direpresentasikan
melalui sebuah pertunjukan teater yang sarat akan makna dan pesan. Sebuah
pertunjukan teater merupakan sebuah karya dari berbagai pihak yang terlibat di
dalamnya dan merupakan sebuah hasil karya bersama. Artinya dalam sebuah
proses menuju pementasan teater terdapat kerjasama di dalam satu tim yang
saling mendukung. Selain itu sebuah hasil pementasan teater sebagai media
massa juga dibuat untuk masyarakat umum, sehingga kebanyakan temanya tidak
jauh dari realitas di masyarakat.
Sebagai sebuah representasi dari realitas, sebuah pementasan teater juga
menyajikan potret hidup masyarakat dalam sistem budayanya yang kemudian
dikembangkan sesuai dengan ideologinya sehingga dapat diterima dan
memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat yang bersangkutan. Meskipun
teater merupakan sarana pemunculan realitas hidup masyarakat, namun teater
juga memiliki semacam rambu maupun peraturan untuk dipatuhi. Yaitu tanpa
menghilangkan unsur seni yang merupakan karakteristik dari sebuah karya
teater. Antara seni teater dan masyarakat merupakan hubungan yang saling
melengkapi, diantara keduanya terdapat interaksi dan menghasilkan mutualisasi.
commit to user
xxxix
melalui sifat refleksi tersebut dan seni teater dapat terus berkembang dengan
inovasi-inovasi baru mengangkat berbagai tema ke atas panggung pementasan.
Peristiwa teater tidak bisa ditakar hanya dari kacamata estetisme saja.
Lebih dari itu, teater adalah sebuah upaya untuk mengomunikasikan
gagasan-gagasan perubahan, yang dalam banyak hal muncul kritik sosial. Disana ide
dalam pertunjukan teater adalah ide yang tumbuh di masyarakat. Kegelisahan
dalam panggung teater adalah kegelisahan komunitas pendukungnya,
penontonnya, dan masyarakatnya. Dengan kata lain, teater sampai pada
fungsinya sebagai sebuah medium untuk menyampaikan kegelisahan sosial.
Tema-tema yang diangkat oleh teater sangat beragam, mulai dari kondisi
sosial, ekonomi, politik, kebudayaan maupun wacana keberagaman
(multikultural) yang posisinya dekat dengan masyarakat. Seperti yang
diungkapkan oleh Heather Godall bahwa media tidak dapat dipisahkan dari
masyarakat, tetapi sangat dekat dengan hubungannya, terutama dalam hal kaum
wanita dengan kaum pria, kelas, usia, ras dan kelompok etnik (Godall, 1994: 47).
Melalui karakter yang ditampilkan pada tokoh yang ada dalam sebuah
pementasan teater, hal ini merupakan cerminan dari kehidupan nyata
masyarakat.
Mengapa tema perempuan diangkat ke dalam pementasan teater?
Kegelisahan muncul karena banyak fenomena tentang perempuan yang
mengalami kekerasan baik itu dalam pengertian fisik maupun psikis. Tema ini
commit to user
xl
perempuan masih menarik untuk di bahas dan ingin menunjukkan kepada
khalayak bahwasanya isu tentang kekerasan terhadap perempuan masih terus
berlanjut. Sebagai media komunikasi teater juga berperan serta dalam rangka
sosialisasi terhadap masyarakat.
6. Kekerasan terhadap Perempuan
Berdasarkan sifatnya, kekerasan digunakan untuk menggambarkan
perilaku, baik yang terbuka (overt) maupun tertutup (covert) dan baik yang
bersifat menyerang (offensive) atau bertahan (deffensive) yang disertai
penggunaan kekuatan kepada orang lain. Kekerasan juga bisa diartikan sebagai
membawa kekuatan, paksaan dan tekanan. Menurut Johan Galtung kekerasan
adalah penyebab perbedaan antara yang potensial dan yang aktual (Windhu,
1992: 64).
Tindakan kekerasan menghasilkan perusakan terhadap emosi, psikologi,
seksual, fisik dan material. Tindakan kekerasan melibatkan penggunaan kekuatan
atau perlawanan yang dilakukan individu-individu, atas nama mereka sendiri
atau tujuan kolektif atau sanksi yang diberlakukan negara (Adam & Jessica Kuper,
2000: 1122).
Dalam bukunya Teori-teori Kekerasan, Thomas Santoso menuliskan
pendapat Johan Galtung, bahwa kekerasan terjadi bila manusia dipengaruhi
sedemikian rupa sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada di
bawah realisasi potensialnya. Pemahaman Galtung tentang kekerasan lebih
commit to user
xli
membedakan violence acts (tindakan-tindakan yang keras, keras sebagai kata
sifat) dengan acts of violence (tindakan-tindakan kekerasan). Galtung juga
menguraikan enam dimensi penting dari kekerasan yaitu sebagai berikut:
1. Kekerasan fisik dan psikologis; dalam kekerasan fisik, tubuh manusia
disakiti secara jasmani bahkan sampai pada pembunuhan. Sedangkan
kekerasan psokologis adalah tekanan yang dimaksudkan untuk meredusir
kemampuan mental dan otak.
2. Pengaruh positif dan negatif; sistem orientasi imbalan (reward oriented)
yang sebenarnya terdapat “pengendalian” tidak bebas, kurang terbua dan
cenderung manipulatif, meskipuin memberikan kenikmatan dan
euphoria.
3. Ada objek atau tidak; dalam tindakan tertentu tetap ada ancaman
kekerasan fisik dan psikologis meskipun tidak memakan korban tetapi
membatasi tindakan manusia.
4. Ada subjek atau tidak, kekerasan disebut langsung atau personal jika ada
pelakunya dan bila tidak ada pelakunya disebut struktural atau tidak
langsung. Kekerasan tidak langsung sudah menjadi bagian struktur itu dan
menampakkan diri sebagai kekuasaan yang tidak seimbang yang
menyebabkan peluang hidup tidak sama.
5. Disengaja atau tidak; bertitik tolak pada akibat dan bukan tujuan,
pemahaman yang hanya menekankan unsur sengaja tentu tidak cukup
commit to user
xlii
dan tidak disengaja dari sudut korban, sengaja atau tidak, kekerasan
tetap kekerasan.
6. Yang tampak dan tersembunyi; kekerasan yang tampak nyata (manifest),
baik yang personal maupun struktural, dapat dilihat meski secara tidak
langsung. Sedang kekerasan tersembunyi adalah sesuatu yang memang
tidak kelihatan (latent) tetapi bisa dengan mudah meledak. (Santoso,
2002: 168-169)
Perempuan identik dengan diskriminasi akan jenis kelamin dan menjadi
kaum yang kedudukannya di bawah kaum laki-laki. Budaya patriarki sendiri yang
dianut masyarakat secara langsung membatasi hak-hak yang dimiliki perempuan.
perempuan hanya dianggap mempunyai peranan rumah tangga saja dan tidak
berperan dalam urusan publik.
Dari pemaparan di atas, terdapat ketidakadilan di dalam masyarakat.
Ketidakadilan pemberian hak baik kepada kaum perempuan maupun laki-laki, di
sini sama sekali tidak ada pengakuan persamaan gender. Latar belakang
banyaknya hak-hak perempuan yang diabaikan dalam pola hidup masyarakat
sendiri yang tidak pernah mengakui persamaan gender.
Dalam hal ini yang dimaksud dengan kekerasan terhadap perempuan
adalah segala bentuk perlakuan baik fisik maupun mental yang membuat
perempuan menderita baik secara fisik maupun mental. Yang termasuk dalam
kekerasan terhadap perempuan dapat berupa penindasan, perlakuan tidak adil,
commit to user
xliii
Mengapa perempuan rentan pada tindak kekerasan? Menurut
Coomaraswany dalam bukunya Freedom from Violence (1992) ada beberapa
penyebab: 1). Karena kedudukan sosialnya dianggap lebih rendah, maka
perempuan menjadi sasaran pemerkosaan. 2). Karena berhubungan dengan
laki-laki, maka perempuan rentan terhadap penganiayaan dan perlakuan
sewenang-wenang. Ini berkaiatan dengan anggapan bahwa perempuan merupakan milik
laki-laki dan tergantung pada laki-laki, yaitu: ayah, suami, saudara laki-laki atau
anak laki-laki. 3). Karena posisinya di masyarakat, perempuan gampang menjadi
sasaran kemarahan, kebrutalan dan penghinaan pada komunitas di mana
perempuan berada.
Di Indonesia sendiri, terdapat budaya yang membentuk perempuan
sebagai sosok yang lemah lembut dan harus selalu menurut. Dalam hal ini
terdapat mitos bahwasanya perempuan hanyalah “warga kelas dua” dan
kedudukannya lebih rendah. Dalam pandangan Jawa, perempuan hanya
dianggap sebagai “konco wingking” yang berarti hanya sebagai pelengkap
seorang suami saja. Pandangan seperti inilah yang membuat posisi perempuan
lebih rendah dan memungkinkan untuk munculnya ketidakadilan dan kekerasan.
Isu kekerasan terhadap perempuan merupakan permasalahan global
yang dialami oleh perempuan di seluruh dunia dan telah menggugah lahirnya
tindakan yang nyata. Di tahun 1993 , melalui badan PBB telah menyetujui
penunjukan Pelaporan Khusus PBB mengenai masalah Kekerasan Terhadap
commit to user
xliv
Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada 20 desember 1993.
(Jurnal Perempuan edisi 45, 19-20). Kekerasan terhadap perempuan dinilai
sebagai salah satu bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Dengan adanya
deklarasi tersebut diharapkan dapat meminimalisir kekerasan terhadap
perempuan melalui tindakan tegas yang memberi sanksi kepada pelaku
kekerasan.
Kekerasan terhadap perempuan tidak melulu berupa tindakan yang
bersifat mencederai fisik namun juga bisa mengarah kepada munculnya gender
violence (kekerasan gender). Munculnya kekerasan gender ini menunjukkan
bahwa kekerasan tidak hanya terjadi di lingkungan strata bawah maupun
menengah saja akan tetapi meliputi seluruh strata. Kekerasan berbasis gender
merupakan sebuah bentuk diskriminasi yang secara serius menghalangi
kesempatan perempuan untuk menikmati hak-hak dan kebebasannya atas suatu
dasar kesamaan hak perempuan dan laki-laki. Hak-hak dan kebebasan tersebut
termasuk hak untuk hidup, hak untuk tidak mengalami penganiayaan,
kekejaman, hak untuk mendapat perlindungan yang sama sehubungan dengan
norma-norma kemanusiaan pada saat konflik bersenjata nasional atau
internasional, hak atas kebebasan dan keamanan seseorang, hak untuk
mendapatkan kesamaan atas perlindungan hukum di bawah Undang-undang,
dan hak untuk mendapatkan standard tinggi dalam hal kesehatan mental dan
fisik (Jurnal Perempuan/25: 21).
commit to user
xlv
Pementasan teater sebagai salah satu dari media komunikasi
mengandung pesan yang berbentuk tampilan secara audio visual di atas
panggung. Sajian ini memerlukan pemaknaan yang lebih dari penonton. Untuk
memberi kelengkapan atas proses pemaknaan terhadap pementasan tersebut,
maka akan dilibatkan unsur-unsur yang mendukungnya secara keseluruhan.
Dalam sebuah pementasan teater terhadap tanda yang memungkinkan untuk
diinterpretasikan oleh penonton. Tanda-tanda ini dapat bersifat audio visual atau
yang berhubunngan dengan indera lain. Setiap tanda dalam komunikasi harus
memiliki 3 ciri khas, yaitu:
a. Harus memiliki bentuk fisik, karena indra harus mampu menerimanya.
b. Harus menunjukkan sesuatu yang lain di luar dirinya.
c. Harus digunakan dan dikenal oleh orang lain sebagai suatu tanda.
Jika suatu tanda tidak dapat dikenal dan dimengerti oleh orang lain maka
tanda itu tidak dapat memberikan makna, sebab itu tidak bisa menjadi unsur
dalam komunikasi (Eilers, 2001: 29).
Di sini, teater merupakan media komunikasi yang sarat akan makna.
Sedangkan penonton yang menyaksikan pementasan teater juga mempunyai
apresiasi dan bebas untuk menafsirkan simbol-simbol yang terdapat dalam
medium teater tersebut. Seperti dikemukakan oleh John Fiske dalam jurnal yang
ditulis oleh Sonia Katyal yang berjudul Semiotic Disobedience:
commit to user
xlvi
Semiotika atau semiologi secara etimologis berasal dari kata semeion
yang dalam bahasa Yunani berarti ‘tanda’. Sehingga sebagai suatu disiplin ilmu,
semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda dan segala yang
berhubungan dengannya: caranya berfungsi, hubungannya dengan tanda–tanda
yang lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang
mempergunakannya (Sudjiman dan Zoest, 1996: 5).
Semiotik bukan hanya hal mengkaji tanda-tanda di sekitar kita. Namun
juga telah menjadi sistem tanda pada kegiatan komunikasi. Seperti yang ditulis
oleh Pamela Nilan dalam jurnal komunikasi massa dengan judul Applying
Semiotic Analysis to Social Data in Media Studies:
“Semiotics is now a field of study involving many different theoretical stances and methodological tools. Semiotics involves the study not only of ‘signs’ in everyday speech, but of anything which ‘stands for’ something else. In a semiotic sense, signs take the form of words, images, sounds, gestures and objects. Contemporary semioticians study signs not in isolation but as part of semiotic ‘sign systems’ (such as a medium or genre), and are thereby concerned not only with communication but also with the construction and maintenance of reality.”
Mengemukakan simbol-simbol dalam seni teater berarti menjelaskan
bagaimana hubungan antar unsur tersebut sehingga mencapai makna
keseluruhan. Metode analisis semiotika dalam aplikasinya untuk penelitian ini
adalah berorientasi pada pesan-pesan yang muncul dan melalui simbol-simbol
commit to user
xlvii
beranjak keluar dari tata bahasa dan yang mengatur arti teks yang rumit dan
tersembunyi serta bergantung pada kebudayaan.
Hal ini kemudian menimbulkan perhatian pada makna tambahan
(connotative) dan arti penunjukkan (denotative) atau kaitan dan kesan yang
ditimbulkan dan diungkap melalui penggunaan dan kombinasi tanda (Sobur,
2002:126-127).
Tanda (sign) merupakan pusat perhatian dalam pendekatan semiotik.
Menurut John Fiske (1990: 40), terdapat 3 area penting dalam studi semiotik,
yaitu:
1. The Sign itself. This consists of the study of different varieties of signs, of the different ways they have of conveying meaning, and of the way they relate to the people who use them. For signs are human construct and can only be understood if terms of the uses people put them to. (Tanda itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan beragam tanda yang berbeda, seperti cara mengantarkan makna serta cara menghubungkannya dengan orang yang menggunakannya. Tanda adalah buatan manusia dan hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang menggunakannya.
2. The codes or systems into which signs are organized. This study covers the ways that a variety of codes have developed in order to meet the needs of a society of culture. (Kode atau sistem di mana lambang-lambang disusun. Studi ini meliputi bagaimana beragam kode yang berbeda dibangun untuk mempertemukan dengan kebutuhan masyarakat dalam sebuah kebudayaan).
3. The culture within which these codes and signs operate.
(Kebudayaan di mana kode dan lambang itu beroperasi).
Istilah semiotika pertama kali diajukan pada akhir abad ke sembilan belas
oleh seorang filsuf pragmatis Amerika yang bernama Charles Sanders Peirce
(1839-1941) untuk merujuk kepada “doktrin formal tanda-tanda”. Peirce
commit to user
xlviii
harus mempelajari bagaimana orang bernalar. Penalaran ini menurut hipotesis
teori Peirce yang mendasar dilakukan melaui tanda-tanda. “Tanda-tanda
memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain, dan memberi
makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. Kita mempunyai
kemungkinan yang luas dalam keanekaragaman tanda, diantaranya tanda-tanda
linguistik merupakan kategori yang penting, tetapi bukan satu-satunya kategori.”
Peirce membatasi semiotika sebagai ilmu tentang tanda dan segala hal
yang berhubungan dengan tanda-tanda lain, pengirimanya dan penerimaannya
oleh mereka yang menggunakanya. Dasar pemikiran teori ini adalah: bahwa
individu menggunakan tanda (sign) untuk menunjukkan suatu obyek tertentu.
1. Tanda (sign) diberikan untuk menggambarkan sesuatu gambaran dari
sesuatu itu disebut makna (meaning).
2. Makna (meaning) akan bervariasi dari individu yang satu dengan yang lain
tergantung dari referensi mereka.
Tanda yang digunakan oleh pengguna tanda adalah yang diketahui secara
kultural oleh penggunanya. Pengetahuan tentang hal tersebut diperoleh melalui
interaksi sosial sebagai anggota suatu masyarakat atau kultur budaya tertentu,
berupa suatu bentuk pengalaman dalam menghadapi peristiwa. Suatu tanda
dapat dipahami dan ditafsirkan secara berbeda-beda oleh orang yang sama di
tampat dan pada waktu yang berbeda.
Menurut Peirce, salah satu bentuk tanda adalah kata. Sedangkan obyek