Journal Economic Insights
Journal homepage: https://jei.uniss.ac.id/
ISSN Online : 2685-2446
85 Upaya Meningkatkan Kinerja Keuangan Di Perusahaan Manufaktur
Sektor Aneka Industri Tahun 2017-2019
Eka Kurnia Patmasari
Universitas Selamat Sri [email protected]
INFOARTIKEL
Riwayat Artikel:
Diterima pada 29 Juni 2022 Disetujui pada 29 Juni 2022 Dipublikasikan pada 30 Juni 2022
Kata Kunci:
Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Penjualan, Struktur Modal, dan Kinerja Keuangan (ROA)
ABSTRAK
Eka Kurnia Patmasari. Upaya Meningkatkan Kinerja Keuangan Di Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri Tahun 2017-2019. Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Program Studi Manajemen. Universitas Selamat Sri (UNISS) Kendal.
2022. Jumlah perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang dijadikan sampel penelitian ini sebanyak 27 perusahaan dengan periode pengamatan selama 3 tahun. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, dengan menggunakan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial Pertumbuhan Penjualan berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan (ROA). Sedangkan Ukuran Perusahaan dan Struktur Modal tidak berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan (ROA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Perusahaan, dan Struktur Modal berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA).
PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi akhir-akhir ini terus mengalami peningkatan, perusahaan pun berlomba-lomba menunjukkan kemampuan terbaiknya baik secara internal maupun eksternal di mata masyarakat secara luas. Terlebih sekarang ini, dunia industri telah memasuki jaman revolusi industri 4.0, dimana pemerintah beramai- ramai mendeklarasikan jaman masuknya perkembangan teknologi ini agar
86 masyarakat dapat beradaptasi dengan kemajuan dunia teknologi ke depannya.
Isu fenomena yang saat ini masih hangat diperbincangkan adalah laporan World Economic Forum menyatakan bahwa ke depannya akan ada 75 juta pekerjaan yang mengalami perubahan dan 133 juta jenis pekerjaan baru yang akan dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dunia. Satu wilayah yang akan mengalami dampak besar dari perubahan ini adalah Asia Tenggara (https://edukasi.kompas.com). Indonesia sebagai salah satu negara yang berada di dalam Asia Tenggara, harus bersiap dalam menghadapi dampak tersebut. Berdasarkan kenyataan ini maka perusahaan- perusahaan yang ada di Indonesia diisyaratkan agar meningkatkan kinerja dalam suatu perusahaan.
Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan pasar modal untuk berbagai instrument keuangan jangka panjang yang dapat diperjual-belikan, baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri. BEI berperan besar bagi perekonomian negara karena memberikan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan.
Dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena BEI sebagai pasar modal menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan, yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana dan pihak yang membutuhkan dana. Sedangkan dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena BEI memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih. Sehingga diharapkan dengan adanya pasar modal aktivitas perekonomian menjadi meningkat, karena pasar modal merupakan salah satu cara dalam pendanaan bagi perusahaan-perusahaan untuk dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dan pada akhirnya memberikan kemakmuran bagi masyarakat yang lebih luas.
Perusahaan manufaktur adalah sebuah cabang industri yang mengaplikasikan peralatan dan suatu medium proses untuk mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi untuk dijual. Proses ini melibatkan semua komponen suatu produk. Beberapa industri menggunakan istilah pabrikasi dalam produksinya. Sektor industri ini sangat erat kaitannya dengan rekayasa teknologi. Menurut Heizer, manufaktur memiliki arti membuat dengan tangan atau dengan mesin sehingga menghasilkan suatu barang.
Sehingga perusahaan manufaktur adalah sebuah perusahaan yang membuat sesuatu dengan tangan atau dengan mesin untuk menghasilkan suatu barang. Di dalam menghasilkan suatu barang tentunya membutuhkan bahan baku lainnya. Manufaktur dapat diartikan juga sebagai kegiatan memproses suatu atau beberapa bahan menjadi bahan jadi sehingga memiliki nilai tambah yang besar. Bisa juga diartikan manufaktur adalah kegiatan proses pengolahan yang menghasilkan sesuatu. Sehingga perusahaan manufaktur adalah kelompok usaha yang mengolah bahan mentah
87 menjadi bahan jadi yang memiliki nilai tambah lebih besar.
Menurut BPS, Perusahaan manufaktur merupakan peringkat tertinggi perusahaan penopang perekonomian yang memberikan kontribusi yang sangat baik bagi perekonomian Indonesia. Berikut merupakan data kontribusi dalam setiap lapangan usaha terhadap produk domestic, yang masing-masing jenis perusahaan berdasarkan BPS (Badan Pusat Statistik) dari tahun 2017-2019 :
Tabel 1.1
Kontribusi Setiap Lapangan Usaha terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia Tahun 2017-2019
Sumber : Katalog Produk Domestik Bruto Indonesia (www.bps.go.id), data diolah
Perusahaan manufaktur terbagi menjadi beberapa sektor sesuai jenis pekerjaan yang mereka jalani, fokus penelitian ini pada perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019.
88 Alasan perusahaan manufaktur sektor aneka industri digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah aneka industri merupakan perusahaan yang berhubungan dengan kecepatan perubahan pada revolusi industri 4.0 dikemukakan oleh Kagermann dan kawan-kawan (2013) bahwa Revolusi Industri 4.0 ialah integrasi dari Cyber Physical System (CPS) & Internet of Things and Services (IoT dan IoS) ke dalam proses industri yang mencakup proses manufaktur, logistik dan proses- proses lainnya. Alasan lain penggunaaan aneka industri adalah dapat melihat setiap perubahan kondisi perusahaan baik laba atau rugi dalam setiap tahunnya dan lebih kompleksnya sistem pada perusahaan manufaktur.
Sektor Aneka Industri merupakan salah satu bagian dari sektor perusahaan manufaktur yang berada di Indonesia. Seluruh sub sektor yang ada pada sektor aneka industri merupakan para produsen dari produk-produk kebutuhan mendasar konsumen. Produk-produk yang dihasilkan tersebut bersifat konsumtif dan disukai orang sehingga para produsen dalam industrti ini memiliki tingkat penjualan yang tinggi yang berdampak pula pertumbuhan sektor industri ini, namun dalam Tabel 1.1 dapat dilihat bahwa ada penurunan industri manufaktur dari tahun ke tahun, yaitu tahun 2017 sebesar 20.16%, tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 0.30%
menjadi 19.86%, dan tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 0.16% menjadi 19.70%, maka jika dilihat persentase mengalami penurunan tren dalam waktu tiga tahun yaitu dari tahun 2017 sampai tahun 2019 sebesar 0.46% yaitu 20.16% menjadi 19.70%.
Berdasarkan Bursa Efek Indonesia, terdapat 51 perusahaan yang terdaftar di bidang Manufaktur Sektor Aneka Industri. Dimana terdapat 7 perusahaan yang tidak konsisten melaporkan laporan keuangannya pada tahun 2017-2019. Sedangkan 17 perusahaan lainnya mengalami kerugian sehingga terdapat 27 perusahaan yang konsisten melaporkan laporan keuangan dari tahun 2017-2019 dan tidak mengalami kerugian. Berikut merupakan daftar kinerja keuangan 27 perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang dapat diketahui.
Tabel 1.2
Daftar Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri Tahun 2017-2019
No Kode
Perusahaan Nama Perusahaan ROA
2017 2018 2019 1 AMIN Ateliers Mecaniques D Indonesi 0.128 0.080 0.024
2 ASII Astra International Tbk. 0.064 0.063 0.062
89
3 AUTO Astra Otoparts Tbk. 0.037 0.038 0.046
4 BATA Sepatu Bata Tbk. 0.063 0.077 0.027
5 BELL Trisula Textile Industries Tbk 0.032 0.047 0.039 6 BIMA Primarindo Asia Infrastructure 0.177 0.024 0.012
7 BOLT Garuda Metalindo Tbk. 0.078 0.057 0.039
8 BRAM Indo Kordsa Tbk. 0.072 0.056 0.048
9 IKBI Sumi Indo Kabel Tbk. 0.015 0.022 0.022
10 INDR Indo-Rama Synthetics Tbk. 0.002 0.076 0.055
11 INDS Indospring Tbk. 0.047 0.045 0.036
12 JECC Jembo Cable Company Tbk. 0.043 0.043 0.054
13 JSKY Sky Energy Indonesia Tbk. 0.052 0.042 0.026
14 KBLI KMI Wire & Cable Tbk. 0.12 0.077 0.118
15 KBLM Kabelindo Murni Tbk. 0.036 0.031 0.03
16 LPIN Multi Prima Sejahtera Tbk 0.716 0.109 0.092
17 PBRX Pan Brothers Tbk. 0.016 0.031 0.031
18 PTSN Sat Nusapersada Tbk 0.007 0.041 0.004
19 RICY Ricky Putra Globalindo Tbk 0.009 0.008 0.011
20 SCCO Supreme Cable Manufacturing & 0.067 0.063 0.069
21 SMSM Selamat Sempurna Tbk. 0.205 0.199 0.186
22 SRIL Sri Rejeki Isman Tbk. 0.056 0.061 0.056
23 STAR Buana Artha Anugerah Tbk. 0.001 0.000 0.003
24 TRIS Trisula International Tbk. 0.003 0.009 0.001
25 UNIT Nusantara Inti Corpora Tbk 0.002 0.001 0.002
26 VOKS Voksel Electric Tbk. 0.079 0.042 0.069
27 ZONE Mega Perintis Tbk. 0.093 0.102 0.095
TOTAL ROA 2.22 1.444 1.257
Sumber: BEI, 2020
Dari tabel 1.2 Perusahaan manufaktur sektor aneka industri dengan total profitabilitas dari tahun 2017-2019 mengalami penurunan drastis berturut-turut yaitu sebesar (96.3)% dari tahun 2017 sampai tahun 2019. Pada tahun 2017 ke 2018 mengalami penurunan sebesar (77.6)% dan pada tahun 2018 ke 2019 mengalami penurunan lagi sebesar (18.7)%. Maka dari hasil tersebut dapat dibuat tren market sehingga kinerja keuangan menurun, melihat pada total profitabilitas di ROA untuk perusahaan manufaktur sektor aneka industri cenderung mengalami penurunan.
90 Berikut adalah grafik perkembangan tingkat profitabilitas sektor aneka industri :
Grafik 1.1
Tingkat Profitabilitas Sektor Aneka Industri Tahun 2017-2019
Dalam penelitian ini rasio profitabilitas mengalami penurunan drastis dari tahun 2017 ke 2019 sebesar -0.963 (dalam miliar Rp) dari total profit 2.22 (dalam miliar Rp) ke 1.257 (dalam miliar Rp). Pada tahun 2017 ke 2018 mengalami penurunan sebesar -0.776 (dalam miliar Rp) dari total profit 2.22 (dalam miliar Rp) ke 1.444 (dalam miliar Rp) dan pada tahun 2018 ke 2019 mengalami penurunan sebesar -0.187 (dalam miliar Rp). Maka jika di analisa dengan tren market maka mengalami penurunan yang bisa dilihat dari tahun ke tahun secara berturut-turut selama tiga tahun.
Memaksimalkan laba merupakan tujuan hampir setiap perusahaan. Ini terkait dengan pentingnya keuntungan atau laba tersebut sebagai cerminan keberhasilan dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Kelangsungan hidup perusahaan dipengaruhi oleh banyal hal, antara lain oleh profitabilitas perusahaan itu sendiri.
Profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk mendapatkan laba (keuntungan) dalam suatu periode tertentu. Menurut Agus Sartono (2008 : 122)
“Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri”.
Profitabilitas adalah rasio dari efektivitas manajemen berdasarkan hasil pengembalian yang dihasilkan dari penjualan dan investasi. Profitabilitas merupakan aspek fundamental perusahaan yang cukup penting, karena selain memberikan daya tarik yang besar bagi investor yang akan menanamkan dananya pada perusahaan juga
1 2 3
TOTAL ROA 2.22 1.444 1.257
2.22
1.444
1.257
0 0.5 1 1.5 2 2.5
TOTAL ROA
(1) TAHUN 2017 (2) TAHUN 2018 (3) TAHUN 2019
PROFITABILITAS (ROA)
91 sebagai alat ukur terhadap efektivitas dan efisiensi penggunaan semua sumber daya yang aka nada di dalam proses operasional perusahaan.
Apabila keuntungan suatu perusahaan mengalami penurunan atau tidak efektif maka kinerja perusahaan bisa dikatakan buruk, begitu pula dengan sebaliknya apabila keuntungan mengalami peningkatan atau efektif maka kinerja perusahaan dapat dikatakan bagus.
Kinerja perusahaan merupakan faktor penting untuk melihat keefektifan performa yang telah dicapai oleh manajemen pada periode tertentu dalam menghasilkan laba (Al-matari, Al-Swidi dan Hanim, 2014). Memperoleh laba yang optimal dan meningkatkan kesejahteraan pemegang saham merupakan tujuan didirikannya perusahaan, maka tercapainya tujuan tersebut merupakan standar dari keberhasilan kinerja perusahaan. Semakin besar kemampuan perusahaan menghasilkan laba bagi pemegang saham, maka kinerja perusahaan akan semakin baik. Salah satu ukuran kinerja perusahaan dengan menggunakan rasio Return On Assets (ROA), yang digunakan untuk mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan adalah ukuran perusahaan, yang mana dapat dilihat dari besar kecilnya ukuran perusahaan yang dapat diukur dengan total asset yang dimiliki oleh perusahaan. Kemampuan perusahaan dalam mengelola dan memanfaatkan asset tersebut dengan baik akan menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Perusahaan besar terlihat jelas memiliki total asset yang besar, sehingga perusahaan mampu mengoptimalkan kinerja perusahaan dengan asset yang dimilikinya.
Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Agrestya (2013), Nurfitriana (2012), Mahardika dan Salim (2019) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin besar total aktiva maka semakin besar pula ukuran perusahaan maka semakin besar modal yang ditanam dan semakin banyak perputaran uang dalam perusahaan yang dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Lain halnya penelitian yang dilakukan oleh Fachrudin (2011) dan Murdiansyah et al (2020) yang menemukan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Faktor lain yang mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan adalah pertumbuhan penjualan perusahaan. Pertumbuhan penjualan digunakan untuk melihat keberhasilan perusahaan di masa lalu guna memprediksikan pertumbuhan
92 perusahaan di masa akan datang (Maurien dan Ardana, 2019). Profitability dan growth merupakan hal penting bagi suatu perusahaan agar mampu bersaing dan menarik bagi investor serta guna menganalisis dimana adanya kesempatan untuk perusahaan bertumbuh karena hal tersebut akan memberikan dampak yang baik bagi kinerja perusahaan di masa akan datang (Sanjaya dan Jayasiri, 2015).
Pernyataan tersebut didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Coban (2014) serta Dada dan Ghazali (2016) yang menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hal tersebut bermakna bahwa meningkatnya pertumbuhan penjualan, maka semakin baik kinerja keuangan perusahaan. Hasil berbeda dikemukan oleh Sanjaya dan Jayasiri (2015) serta Mappanyuki dan Sari (2017) yang menemukan bahwa pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Selain itu, pengelolaan sumber daya modal oleh manajemen merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh stakeholder. Struktur modal mempresentasikan asset perusahaan yang terdiri dari ekuitas dan hutang perusahaan. Sheikh dan Wang (2013) menyampaikan bahwa struktur modal memiliki pengaruh yang cukup material bagi perusahaan, karena itu perusahaan harus mempertimbangkan dengan baik mengenai pengaruh yang akan diterimanya sebelum melakukan penyesuaian terhadap level hutang yang akan dilakukan. Keputusan tersebut perlu dipertimbangkan dengan seksama terkait risiko yang mungkin dapat terjadi. Fadhilah (2012) menyampaikan bahwa para pemilik perusahaan sangat concern terhadap keputusan struktur modal tersebut karena akan berpengaruh pada kinerja perusahaan yang pada akhirnya akan menentukan tingkat pengembalian atas modal yang diinvestasikannya. Penyataan tersebut didukung oleh hasil penelitian Taani (2013) yang menemukan bahwa struktur modal berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Begitu pula hal penelitian yang dilakukan oleh Fadhilah (2012) serta Dawar (2014), Akeem, et. al. (2014), Agrestya (2013), Fachrudin (2011) Mahardhika dan Salim (2019) yang menemukan bahwa struktur modal berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Lain halnya hasil penelitian yang dilakukan oleh Stephanie dan Yanti (2020) menyatakan bahwa struktur modal tidak berpengaruh berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Pernyataan tersebut didukung hasil penelitian Murdiansyah et. al. (2020).
Dalam penelitian ini mengidentifikasi adanya perbedaan hasil penelitian terdahulu (research gap) yang dapat berupa ketidak konsistensi hasil penelitian sebelumnya atau perbedaan perspekti atau paradigma dari beberapa teori yang berkaitan dengan penurunan laba pada perusahaan manuaktur sektor aneka industri
93 yang terdaftar di BEI tahun 2017-2019. Berikut hasil penelitian terdahulu dapat dilihat pada Tabel 1.3 :
Tabel 1.3 Research Gap
NO Issue Hasil Peneliti
1.
Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap
Kinerja Keuangan
Berpengaruh
Agrestya (2013) Nurfitriana (2012)
Mahardika dan Salim (2019) Tidak berpengaruh Fachrudin (2011)
Murdiansyah et. al. (2020)
2
Pengaruh Pertumbuhan Penjualan terhadap
Kinerja Keuangan
Berpengaruh Coban (2014)
Dada dan Ghazali (2016) Tidak berpengaruh Sanjaya dan Jayasiri (2015)
Mappanyuki dan Sari (2017)
3
Pengaruh Struktur Modal terhadap Kinerja
Keuangan
Berpengaruh
Taani (2013)
Mahardika dan Salim (2019) Fadhilah (2012)
Dawar (2014) Akeem, et. al. (2014) Agrestya (2013) Fachrudin (2011)
Tidak berpengaruh Stephanie dan Yanti (2020) Murdiansyah et. al. (2020) Sumber: Beberapa jurnal penelitian disajikan 2022
Dari tabel 1.3 adanya perbedaan hail penelitian terdahulu (research gap) yang dapat berupa ketidak konsistensi hasil penelitian sebelumnya atau perbedaan perspekti atau paradigma dari beberapa teori yang berkaitan terdapat tiga variabel yang mempengaruhi kinerja keuangan yang diukur dengan profitabilitas yaitu ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, dan struktur modal.
Berdasarkan penjelasan fenomena bisnis mengenai penurunan profitabilitas pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di BEI pada tahun 2017-2019 dan research gap tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian atas yang berjudul “Upaya Meningkatkan Kinerja Keuangan Di Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri Tahun 2017-2019”.
METODE
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder dan berupa data panel (atau time-series cross-sectional), yang terdiri dari data laporan keuangan publikasi tahunan (annual report) periode 2017-2019. Sumber data dipergunakan dalam penelitian ini diperoleh dari situs resmi Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id).
94 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar dan aktif di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2017 – 2019 dengan jumlah perusahaan sebanyak 174 perusahaan.
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2016). Pemilihan dan pengumpulan data sampel yang diperlukan dalam penelitian ini dilakukan secara purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan suatu kriteria tertentu dan kriteria yang digunakan dapat berdasarkan pertimbangan (judgement) atau berdasarkan kuota tertentu.
Adapun kriteria-kriteria pengambilan sampel adalah sebagai berikut:
a. Perusahaan manufaktur sektor aneka industri terdaftar di Bursa Efek Indonesia secara berturut-turut selama periode penelitian yaitu dari tahun 2017 sampai dengan 2019.
b. Perusahaan memperoleh laba secara kontiniu selama periode penelitian yaitu dari tahun 2017 sampai dengan 2019
c. Data laporan keuangan yang diperlukan untuk penelitian tersedia berturut-turut selama periode penelitian yaitu dari tahun 2017 sampai dengan 2019.
Metode Analis. Menurut Ardhana12 (dalam Lexy J. Moleong 2002:103) menjelaskan bahwa analisa data adalah poses mengatur urutan data, mengorganisasikannya dalam suatu pola, kategori, dan satu uraian dasar. Metode analisis data adalah suatu metode yang digunakan untuk mengolah hasil penelitian guna memperoleh suatu kesimpulan. Dengan melihat kerangka pemikiran teoritis, maka teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuatitatif. Dalam penelitian ini analisis yang digunakan untuk mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Penjualan, dan Struktur Modal terhadap Kinerja Keuangan dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana. Model analisis berganda merupakan teknik analisis regresi yang menjelaskan hubungan antara variabel dependent dengan variabel independent. Dalam penggunaan persamaan regresi terdapat beberapa asumsi-asumsi dasar yang harus terpenuhi, yaitu uji normalitas, uji multikolinieritas, uji autokorelasi dan uji heteroskedastisitas setelah persamaan regresi terbebas dari asumsi dasar tersebut maka selanjutnya dapat dilakukan pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji parsial (uji t) dengan kriteria nilai sig kurang dari 0.01; 0.05; dan 0.10 sehingga hipotesis bisa diterima.
95 Analisis Deskriptif
Analisis Deskriptif dilakukan agar dapat memberikan gambaran terhadap variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian. Analisis ini digunakan untuk memberikan deskriptif data setiap variabel yang ada dalam penelitian. Data tersebut meliputi jumlah data (N), nilai minimum (Min), nilai maksimum (Max), nilai mean (Mean), dan standard deviasi (Std. Dev).
Statistik deskriptif didefinisikan merupakan suatu metode dalam menganalisis data, sehingga diperoleh gambaran yang teratur mengenai suatu kegiatan. Ukuran yang digunakan dalam deskriptif antara lain: frekuensi, tendensi sentral (mean, median dan modus), dispersi (standar deviasi dan varian) dan koefisien korelasi antara variabel penelitian. Ukuran yang digunakan dalam statistik deskriptif tergantung pada tipe skala pengukuran construct yang digunakan dalam penelitian (Ghozali, 2005).
Tabel 2.1
Descriptive Statistics
N Range Minimum Maximum Sum Mean Std. Deviation Variance
Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic
Std.
Error Statistic Statistic
Y 27 .31 .00 .31 1.66 .0615 .01235 .06419 .004
X1 27 2.87 -.48 2.39 23.09 .8552 .13474 .70014 .490
X2 27 5.19 -.14 5.05 13.74 .5089 .22221 1.15463 1.333
X3 27 7.84 25.59 33.43 763.28 28.2696 .31203 1.62137 2.629
Valid N (listwise)
27
Sumber : Data diolah melalui SPSS 26.00 for windows, 2022
Hasil Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik ini dimaksudkan untuk membuktikan bahwa model regresi penelitian telah memenuhi asumsi klasik, tidak terdapat masalah-masalah regresi yang tidak diperbolehkan dalam pengolahan data regresi secara statistik, karena data yang digunakan adalah data sekunder, maka untuk menetapkan ketepatan model perlu dilakukan pengujian atas beberapa asumsi klasik yang mendasari model regresi. Penyimpangan asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi. Uji asumsi klasik akan diketahui hasilnya dengan batuan software SPSS versi 14. Ghozali (2005) mengungkapkan bahwa uji ini terdiri atas empat bagian, yaitu:
96 Hasil Uji Normalitas
Hasil Uji Normalitas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 2.2
Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 24
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation .06972454 Most Extreme Differences Absolute .122
Positive .122
Negative -.117
Test Statistic .122
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Sumber : Data diolah melalui SPSS 26.00 for windows, 2022
Di dalam penelitian ini uji normalitas mengujikan uji kolmogorov-smirnov yang diolah menggunakan SPSS. Kriteria pengujian adalah mempunyai nilai signifikan diatas 0,05. Sehingga data yang terdistribusikan normal. Hal tersebut mengidentifikasi bahwa variabel independent dan variabel dependent yang digunakan dalam penelitian ini tidak terdapat data yang ekstrim.
Pengujian menggunakan uji normalitas menunjukkan bahwa Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Penjualan, dan Struktur Modal terhadap Kinerja Keuangan dengan tingkat signifikansi sebesar 0,200 > 0,05, dengan demikian data dinyatakan sudah berdistribusi normal.
Hasil Uji Multikolinieritas
Hasil Uji Multikolinearitas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 2.3
Uji Multikolinieritas
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) .252 .208 1.211 .238
X1 -.027 .017 -.299 -1.630 .117 .950 1.052
X2 -.024 .010 -.428 -2.338 .028 .955 1.047
X3 -.005 .007 -.138 -.741 .466 .914 1.094
97
a. Dependent Variable: Y
Sumber : Data diolah melalui SPSS 26.00 for windows, 2022
Multikolinieritas dapat dilihat dengan Variance inlation factor (VIF) bila nilai VIF < 10 dan nilai tolerance > 0,10 maka tidak ada gejala Multikolinieritas (Ghozali, I. 2011:105). Berdasarkan hasil uji tabel 2 menunjukkan bahwa nilai tolerance lebih besar dari > 0,10 maka artinya tidak terjadi multikolinieritas, sedangkan nilai VIF lebih kecil dari < 10,00 maka artinya tidak terjadi multikolinieritas.
Hasil Uji Autokorelasi
Hasil Uji Autokorelasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 2.4
Uji Autokorelasi
Runs Test
Unstandardized Residual
Test Valuea -.01230
Cases < Test Value 13
Cases >= Test Value 14
Total Cases 27
Number of Runs 15
Z .007
Asymp. Sig. (2-tailed) .994
a. Median
Sumber : Data diolah melalui SPSS 26.00 for windows, 2022
Berdasarkan hasil pada tabel 2.4 diatas menunjukkan bahwa hasil uji autokorelasi menunjukkan nilai Asymp. Sig. (2-tailled) sebesar 0.994 maka H0 diterima dan Ha ditolak, karena lebih besar dari 0.05 atau lebih besar dari 5%.
Run test merupakan bagian dari statistic non-parametik yang dapat digunakan untuk melakukan pengujian, apakah antar residual terjadi korelasi yang tinggi.
Apabila antar residual tidak terdapat hubungan korelasi, dapat dikatakan bahwa
98 residual adalah random atau acak. Dengan hipotesis sebagai dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut (Ghozali, 2016) :
a) Apabila nilai Asymp. Sig. (2-tailled) kurang dari 5% atau 0,05 maka untuk H0 ditolak dan Ha diterima. Hal tersebut berarti data residual terjadi secara tidak acak (sistematis).
b) Apabila nilai Asymp. Sig. (2-tailled) lebih dari 5% atau 0.05 maka untuk H0 diterima dan Ha ditolak. Hal tersebut berarti data residual terjadi secara acak (random).
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Hasil Uji Heteroskedastisitas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 2.5
Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 1.954 1.316 1.485 .153
X1 -.101 .110 -.204 -.912 .372
X2 -.026 .346 -.016 -.074 .941
X3 -.049 .047 -.225 -1.045 .309
a. Dependent Variable: Abs_RES
Sumber : Data diolah melalui SPSS 26.00 for windows, 2022
Berdasarkan tabel 2.5 bahwa Uji heteroskedastisitas pada penelitian ini melalui uji Glejser dengan taraf signifikansi 0,05 atau 5%, menunjukkan bahwa nilai signifikansi Ukuran Perusahaan sebesar 0,372, Pertumbuhan Penjualan sebesar 0,941, dan Struktur Modal sebesar 0,309, maka penelitian ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi diatas > 0,05 yang artinya tidak adanya masalah pada heteroskedastisitas.
Hasil Uji Hipotesis
Hasil Analisis Koefisien Determinasi (R2)
Hasil Uji Analisis Koefisien Determinasi (R2) dalam penelitian ini sebagai berikut :
99 Tabel 2.5
Uji Koefisien Determinasi (R2)
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .515a .265 .170 .05850
a. Predictors: (Constant), X3, X2, X1 b. Dependent Variable: Y
Sumber : Data diolah melalui SPSS 26.00 for windows, 2022
Pada tabel 2.5 dapat diketahui bahwa nilai koefisien determinasi (R2) atau R Square diperoleh 0.170 atau sebesar 17% adanya pengaruh terhadap Kinerja Keuangan (ROA) yaitu Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Penjualan, Struktur Modal, sedangkan sisanya yaitu 0,83 atau 83% dipengaruhi variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Hasil Uji Secara Parsial (t)
Hasil Uji t (Secara Parsial) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 2.6
Uji t
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) .252 .208 1.211 .238
X1 .027 .017 .299 1.630 .117
X2 .024 .010 .428 2.338 .028
X3 .005 .007 .138 .741 .466
a. Dependent Variable: Y
Sumber : Data diolah melalui SPSS 26.00 for windows, 2022
Dari tabel uji t diatas yang menggunakan tingkat signifikansi 5%, variabel yang berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan ada satu variabel yaitu Pertumbuhan Penjualan. Maka variabel yang berpengaruh adalah Pertumbuhan Penjualan, Sedangkan variabel yang tidak berpengaruh adalah Ukuran Perusahaan, dan Struktur Modal dikarenakan tingkat signifikansi lebih dari 10%. Dari tabel diatas diperoleh
100 persamaan sebagai berikut :
�= a + B1.X1 +B2.X2 + B3.X3 + �
Y = 0,252 + 0,027.X1 + 0,024.X2 + 0,005.X3 + �
Dari tabel 2.6 hasil dari regresi berganda dapat dianalisis sebagai berikut:
Dari hasil pengujian hipotesis pertama dapat diketahui bahwa Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA).
Hal ini dapat dilihat dari nilai t hitung sebesar 1.630 sedangkan nilai t table sebesar 1.990, artinya t hitung 1.630 < t table 1.990 , dengan tingkat signifikansi sebesar 0,117 > 0,05. Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan bahwa Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA). Sehingga Hipotesis H1 ditolak.
Dari hasil pengujian hipotesis kedua dapat diketahui bahwa Pertumbuhan Penjualan berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA). Hal ini dapat dilihat dari nilai t hitung sebesar 2.338 sedangkan nilai t table sebesar 1.990, artinya t hitung 2.338 > t table 1.990, dengan tingkat signifikansi sebesar 0,028 < 0,05. Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan Penjualan berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA). Sehingga Hipotesis H2 diterima.
Dari hasil pengujian hipotesis ketiga dapat diketahui bahwa Struktur Modal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA). Hal ini dapat dilihat dari nilai t hitung sebesar 0.741 sedangkan nilai t table sebesar 1.990, artinya t hitung 0.741 < t table 1.990 , dengan tingkat signifikansi sebesar 0,466 > 0,05. Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan bahwa Struktur Modal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA). Sehingga Hipotesis H3 ditolak.
Hasil Uji Statistik Secara Simultan (F)
Hasil Uji F (Secara Simultan) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 2.7
Uji F
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression .028 3 .009 2.769 .065b
Residual .079 23 .003
Total .107 26
a. Dependent Variable: Y
b. Predictors: (Constant), X3, X2, X1
101
Sumber : Data diolah melalui SPSS 26.00 for windows, 2022
Berdasarkan tabel Uji F menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan, dengan menggunakan nilai signifikan 10% yaitu nilai Sig. 0,065 < 0,1. Maka dengan demikian H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Penjualan, dan Struktur Modal secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA) di Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel independen Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Penjualan, dan Struktur Modal berpengaruh signifikan secara bersama- sama terhadap Kinerja Keuangan (ROA) sehingga hipotesis yang diajukan diterima.
Hipotesis H4 diterima.
PEMBAHASAN
Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan (ROA)
Berdasarkan hasil uji t-statistik pada tabel 2.6 diketahui bahwa variabel Ukuran Perusahaan menunjukkan nilai t-hitung sebesar 1.630 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,117 dimana tingkat signifikansi tersebut lebih besar dari taraf signifikan 𝛼=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan. Hal tersebut disebabkan karena penentuan ukuran perusahaan pada penelitian ini didasarkan kepada total aset perusahaan (Ozkan, 2011). Aset adalah harta kekayaan atau sumber daya yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Semakin besar aset yang dimiliki, perusahaan dapat melakukan investasi dengan baik dan memenuhi permintaan produk. Hal ini semakin memperluas pangsa pasar yang dicapai dan akan mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Ukuran perusahaan sangat bergantung pada besar kecilnya perusahaan yang juga berpengaruh terhadap struktur modal, terutama berkaitan dengan kemampuan memperoleh pinjaman. Perusahaan besar lebih mudah memperoleh pinjaman karena nilai aktiva yang dijadikan jaminan lebih besar dan tingkat kepercayaan bank atau lembaga keuangan jauh lebih tinggi (Wiliandri, 2011).
Ukuran perusahaan adalah suatu skala atau nilai dimana perusahaan dapat diklasifikasikan besar kecilnya berdasarkan total aktiva, log size, nilai saham, dan lain-lain. Ukuran perusahaan atau firm size menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh dana (Tambunan dan Prabawani, 2018). Menurut Mulyawan (2015) ukuran perusahaan mengisyaratkan bahwa semakin besar suatu perusahaan,
102 semakin besar pula tingkat hutangnya. Perusahaan yang lebih besar yang mana sahamnya tersebar sangat luas akan lebih berani mencabut saham baru dalam mencukupi kebutuhannya untuk membiayai pertumbuhan penjualannya dari pada perusahaan yang skala kecil. Sehingga semakin tinggi ukuran perusahaan, kecenderungan perusahaan untuk menggunakan dana eksternal juga semakin tinggi.
Ukuran perusahaan adalah suatu skala yang dapat mengklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara, antara lain total aset, total penjualan, nilai pasar saham, dan lain-lain. Semakin besar total aktiva maupun penjualan maka semakin besar pula ukuran suatu perusahaan. Semakin besar aktiva maka semakin besar modal yang ditanam, sementara semakin banyak penjualan maka semakin banyak juga perputaran uang dalam perusahaan. Dengan demikian, ukuran perusahaan merupakan ukuran atau besarnya aset yang dimiliki oleh perusahaan (Ardyansah dan Zulaikha, 2014).
Ukuran perusahaan merupakan suatu pengukuran yang dikelompokkan berdasarkan besar kecilnya perusahaan, dan dapat menggambarkan kegiatan operasional perusahaan dan pendapatan yang diperoleh perusahaan. Semakin besar ukuran dari sebuah perusahaan, kecenderungan perusahaan membutuhkan dana akan juga lebih besar dibandingkan perusahaan yang lebih kecil, hal ini membuat perusahaan yang besar cenderung menginginkan pendapatan yang besar, dengan kata lain semakin besar aktiva maka semakin banyak modal yang ditanam dan semakin besar perputaran uang. Penelitian ini menggunakan istilah Size untuk menyebutkan variabel ukuran perusahaan.
Dengan ini yang menyatakan bahwa Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA) sesuai dengan penelitian Fachrudin (2011) dan Murdiansyah et. al. (2020).
Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan (ROA) Berdasarkan hasil uji t-statistik pada tabel 2.6 diketahui bahwa variabel Pertumbuhan Perusahaan menunjukkan nilai t-hitung sebesar 2.338 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,028 dimana tingkat signifikansi tersebut lebih kecil dari taraf signifikan 𝛼=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh secara signifikan. Hal ini disebabkan pertumbuhan penjualan memiliki dampak yang positif terhadap kinerja keuangan perusahaan, namun tidak terlalu penting bagi peningkatan kinerja keuangan perusahaan.
Pertumbuhan penjualan merupakan tren analisis dalam segmen penjualan yang berguna dalam menilai profitabilitas perusahaan dan biasanya digunakan untuk
103 memprediksi perkembangan perusahaan kedepannya oleh manajemen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sales growth tidak mempengaruhi Return on Asset (ROA) perusahaan secara signifikan, hal tersebut dikarenakan terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan seperti pengelolaan asset perusahaan agar mendapat profit yang tinggi. Perusahaan yang memproduksi melalui hutang dapat menurunkan profitabilitas perusahaan walaupun penjualannya mengalami kenaikan, maka pertumbuhan penjualan bukan menjadi tolak ukur utama dalam meningkatkan profibalitas perusahaan.
Pertumbuhan penjualan merupakan suatu perhitungan yang digunakan untuk melihat keberhasilan perusahaan di masa lalu secara operasional yang digunakan untuk memprediksi pertumbuhan dan pencapaian perusahaan di masa yang akan dating (Maurien dan Ardana, 2019). Emanuel dan Rasyid (2019) menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan merupakan tren analisis dalam segmen penjualan yang berguna dalam menilai profitabilitas. Pertumbuhan penjualan sering digunakan sebagai hasil dari satu atau lebih faktor, termasuk perubahan harga, volume, akuisisi atau divestiture, dan perubahan dalam kurs. Maka dapat dikatakan pertumbuhan penjualan merupakan suatu analisis yang digunakan oleh manajemen dalam menilai kinerja perusahaannya dan biasanya digunakan oleh manajemen dalam memprediksi perkembangan dan pencapaian perusahaan kedepannya.
Maurien dan Ardana (2019) menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan merupakan perhitungan yang digunakan untuk melihat keberhasilan perusahaan di masa yang lalu secara operasional yang digunakan untuk memprediksi pertumbuhan dan pencapaian perusahaan di masa yang akan datang. Sama halnya dengan pendapat (Barton et al.1989 dalam Utama, 2014) pertumbuhan penjualan mencerminkan keberhasilan investasi periode masa lalu dan dapat dijadikan sebagai predeksi pertumbuhan masa yang akan datang. Sedangkan menurut Emanuel dan Rasyid (2019) mengatakan bahwa pertumbuhan penjualan merupakan tingkat analisis dalam segmen penjualan yang berguna dalam menilai profitabilitas.
Perhitungan tingkat pertumbuhan penjualan adalah dengan membandingkan antara penjualan akhir periode dengan penjualan yang dijadikan tahun sebelumnya (Kennedy, et. al. 2013). Apabila presentase perbandingannya semakin besar, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan penjualan semakin baik atau lebih baik dari peride sebelumnya. Perusahaan yang baik dapat dilihat dari penjualannya dari tahun ke tahun yang terus mengalami kenaikan, hal tersebut berimbas pada meningkatnya keuntungan perusahaan sehingga pendanaan internal perusahaan juga meningkat.
104 Pertumbuhan penjualan juga sering digunakan sebagai hasil dari satu atau lebih faktor, termasuk perubahan harga, volume, akuisisi atau divestiture, dan perubahan dalam kurs (Stephanie dan Yanti, 2020). Maka dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan penjualan merupakan suatu analisis yang dapat digunakan oleh manajemen dalam menilai kinerja perusahaannya dan biasanya digunakan oleh manajemen untuk memprediksi perkembangan dan pencapaian perusahaan kedepannya.
Kegiatan penjualan banyak dipengaruhi oleh faktor tertentu yang dapat meningkatkan aktivitas perusahaan, maka manajer penjualan perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi penjulan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kegiatan penjualan yaitu Kondisi dan kemampuan penjualan, Kondisi pasar, Modal, Kondisi organisasi perusahaan, dan Faktor-faktor lain seperti periklanan, peragaan, kampanye, dan pemberian hadiah, sering mempengaruhi penjualan.
Data penjualan perusahaan sektor aneka industri selama tahun penelitian (2017- 2019) menunjukkan penurunan secara signifikan yang dapat dijadikan sebagai salah satu factor lain yang mengakibatkan penurunan profitabilitas perusahaan. Dengan ini yang menyatakan bahwa Pertumbuhan Penjualan berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA) sesuai dengan penelitian Coban (2014), Dada dan Ghazali (2016).
Pengaruh Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan (ROA)
Berdasarkan hasil uji t-statistik pada tabel 2.6 diketahui bahwa variabel Struktur Modal menunjukkan nilai t-hitung sebesar 0,741 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,466 dimana tingkat signifikansi tersebut lebih besar dari taraf signifikan 𝛼=0,05. Variabel Struktur Modal dalam penelitian ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Keuangan. Berarti hal ini mengindikasikan bahwa Penggunaan struktur modal dalam perusahaan harus sesuai dengan kebijakan yang diambil oleh pihak manajemen dalam memperoleh sumber dana, sehingga dapat digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan. Sumber dana yang diperoleh berasal dari dalam maupun luar perusahaan. Sumber dana internal berasal dari dana yang terkumpul dari laba ditahan yang berasal dari kegiatan perusahaan. Sedangkan sumber dana eksternal berasal dari pemilik yang merupakan komponen modal sendiri dan dana yang berasal dari para kreditur yang berupa modal pinjaman atau hutang.
Struktur modal adalah perimbangan atau perbandingan antara jumlah hutang jangka panjang dengan modal sendiri. Oleh karena itu, struktur modal diukur dengan debt to equity ratio (DER). DER merupakan rasio yang digunakan untuk
105 mengukur tingkat leverage (penggunaan hutang) terhadap total shareholder’s equity yang dimiliki perusahaan. Total debt merupakan total liabilities (baik hutang jangka pendek maupun jangka panjang) sedangkan total shareholder’s equity merupakan total modal sendiri (total modal saham yang disetor dan laba yang ditahan) yang dimiliki perusahaan (Sheikh dan Wang, 2012).
Dengan ini yang menyatakan bahwa Struktur Modal tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA) sesuai dengan penelitian Stephanie dan Yanti (2020) dan Murdiansyah et. al. (2020).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat diambil keputusan bahwa Ukuran Perusahaan dan Struktur Modal tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA), sedangkan Pertumbuhan Penjualan berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan (ROA) pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI Sektor Aneka Industri pada tahun 2017-2019.
SARAN
1. Memperluas obyek penelitian dengan mengambil semua perusahaan Go Public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Memperluas periode pengamatan dengan harapan semakin banyak sampel yang didapatkan, sehingga hasil penelitian semakin lebih akurat dan semakin mendekati kondisi yang sebenarnya (reliable).
3. Untuk penelitian mendatang sebaiknya menambah atau mengganti variabel independen agar dapat memberi gambaran yang lebih luas.
DAFTAR PUSTAKA
Agrestya, W. 2013. Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan Dan Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI. Jurnal Akuntansi & Keuangan, 1–26.
Akeem, L. B., K., T. E., Kiyanjui, W.A., Kayode, M. A. 2014. Effects Of Capital Structure On Firm’s Performance: Empirical Study Of Manufacturing Companies In Nigeria, Journal Of Finance And Investment Analysis, 3(4).
39-57.
Al-Matari, Ebrahim Mohammmed . Al-Swidi, Abdullah Kaid . Hanim, Faudziah . 2014. The Measurements Of Firm Performance’s Dimensions. Asian Journal Of Finance & Accounting 6(1):24
Coban, Serap. 2014. The Interaction Between Firm Growth And Profitability:
106 Evidence From Turkish (Listed) Manufacturing Firms. Bilgi Ekonomisi Ve Yonetimi Dergisi, 4(2).
Dada, Ajayi Oziomobo. Ghazali, Zahiruddin. 2016. The Impact Of Capital Structure On Firm Performance: Empirical Evidence From Nigeria. Journal Of Economics And Finance (Iosr-Jef) Vol.7
Emanuel, R. & Rasyid, R. 2019. Pengaruh Firm Size, Profitability, Sales Growth, Dan Leverage Terhadap Firm Value Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI Pada Tahun 2015-2017. Jurnal Multiparadigma Akuntansi, 1(2), 468-476.
Febria, Ririind Lahmi. 2013. Pengaruh Leverage Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Profitabilitas. Sanjaya, R.A.A, & Jayasari, N.K. (2015). The Cause-Effect Relationship Between Growth And Profitability; Evidence From Listed Manufacturing Companies In Sri Lanka. University Of Otago. New Zealand.
https://edukasi.kompas.com/read/2018/11/20/16085431/indonesia-diprediksi-paling- terdampak-revolusi-industri-40
http://www.idx.co.id/
Kesuma, Ali. 2010.Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal Serta Pengaruhnya Terhadap Harga Saham Perusahaan Real Estate Yang Go Public Di Bursa Efek Indonesia.Universitas Darwin Ali Sampit Kalimantan Tengah
Lumbantoruan, B. Wulandari, V., Naibaho, J. Regina, W., Zufriansyah, R. C. &
Okto, F. 2020. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Struktur Aset, Pertumbuhan Penjualan, Profitabilitas Dan Current Ratio Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Costing : Journal Of Economic, Business And Accounting, 4(1).
Majali, Amal. Alamro, Sameer Ahmed. Al-Soub, Yahya Zakarea. 2012. Factors Affecting The Financial Performance Of Jordanian Insurance Companies Listed At Amman Stock Exchange. Journal Of Management Research 4(2) Murdiansyah, Isnan, Et. Al. 2020. Pengaruh Struktur Modal, Ukuran Perusahaan Dan
Agency Cost Terhadap Kinerja Keuangan Manufaktur Terdaftar Di BEI.
Jurnal Ilmiah Akuntansi Peradaban, 4 (1), 108-123. Universitas Islam Negeri Malang.
Nugrahani. 2012. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Likuiditas, Profitabilitas, Dan Risiko Bisnis Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Farmasi. Jurnal Manajemen Unud, Vol. 4, No.7 2015.
Pradana, H., Fachrurrozie, F., & Kiswanto, K. 2013. Pengaruh Risiko Bisnis, Struktur Aset, Ukuran Dan Pertumbuhan Penjualan Terhadap Struktur Modal. Accounting Analysis Journal, 2(4).
Sanjaya, Rivkal Sukma. Jayasiri, Nuradhi. 2015. The Cause-Effect Relationship Between Growth And Profitability; Evidence From Listed Manufacturing Companies In Sri Lanka. Department Of Finance And Accountancy,
107 Faculty Of Business Studies, Vavuniya Campus Of The University Of Jaffna, Sri Lanka
Stephanie, Jessica. Yanti. 2020. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI. Jurnal Paradigma Akuntansi. Vol 2 No 2
Taani, Khalaf. 2013. The Relationship Between Capital Structure And Firm Performance: Evidence From Jordan, Global Advanced Research Journal Of Management And Business Studies, 2(11), 542-546.
Tambunan, J. And Prabawani, B. 2018. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage Dan Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri Tahun 2012-2016), Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis, Vol. 7, No. 2.
Utama, I Made Karya dan Wijaya, I Putu Andre Sucita. 2014, Pengaruh Profitabilitas,Struktur Aset, Dan Pertumbuhan Penjualan Terhadap Struktur Modal SertaHarga Saham, E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 2014:514-530.