• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Tata Letak Pabrik

Tata letak pabrik merupakan salah satu langkah di dalam perencanaan suatu pabrik secara lebih luas. Perencanaan fasilitas pabrik dapat diartikan sebagai proses perancangan fasilitas, perencanaan, desain dan susunan fasilitas, peralatan fisik dan manusia yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan sistem pelayanan (Purnomo, 2004). Perancangan sistem fasilitas merupakan perancangan bangunan dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti sistem pencahayaan, kelistrikan, sistem komunikasi, suasana kerja, sanitasi, pembuangan limbah dan sebagainya. Selain itu, aspek yang perlu diperhitungkan secara matang dalam perencanaan tata letak antara lain peralatan-peralan yang digunakan, mesin- mesin, dan semua perabotan perusahaan. Sedangkan dalam perancangan sistem material handling meliputi mekaniasme yang dibutuhkan agar interaksi antara fasilitas yang ada seperti material, personal, informasi dan peralatan untuk mendukung produksi berjalan sempurna.

Tata letak pabrik atau tata letak fasilitas dapat didefinisikan sebagai tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi.

Pengaturan tersebut akan berguna untuk luas area penempatan mesin atau fasilitas penunjang produksi lainnya, kelancaran gerakan perpindahan material, penyimpanan material baik yang bersifat temporer maupun permanen, personel pekerja dan sebagainya (Wignjosoebroto, 2009). Tata letak pabrik terdapat dua hal pengaturan tata letak, yaitu pengaturan mesin (machine layout) dan pengaturan departemen (department layout). Pengaturan mesin (machine layout) merupakan pengaturan dari semua mesin dan fasilitas yang diperlukan untuk proses produksi dalam setiap departemen yang ada di dalam pabrik. Pengaturan departemen (department layout) merupakan pengaturan hubungan antar departemen satu dengan lainnya dalam sebuah pabrik.

(2)

7 2.2 Tujuan Tata Letak Pabrik

Secara garis besar tujuan utama dari perencanaan tata letak pabrik adalah mengatur area kerja dan segala fasilitas produksi yang paling ekonomis untuk operasi produksi aman, dan nyaman sehingga dapat menaikkan moral kerja dan performance dari operator. Adapun secara rinci tujuan perancangan tata letak diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Memanfaatkan area yang ada.

Perancangan tata letak yang optimal akan memberikan solusi dalam penghematan penggunaan area yang ada, baik untuk area produksi, gudang, dan departemen lainya.

2. Meminimumkan pemindahan bahan (material handling).

Susunan tata letak pabrik harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi material handling sampai batas minimum di dalam pemindahan bahan.

3. Mempersingkat proses manufaktur

Dengan memperpendek jarak antara operasi satu dengan operasi berikutnya, dengan demikian total waktu produksi juga dapat dipersingkat.

4. Mengurangi waktu tunggu dan mengurangi kemacetan.

Waktu tunggu dalam proses produksi yang berlebihan akan dapat dikurangi dengan pengaturan tata letak yang terkoordinasi dengan baik.

5. Mengurangi persediaan setengah jadi.

Persedian barang setengah jadi terjadi karena belum selesainya proses produksi dari produk yang bersangkutan. Persediaan barang setengah jadi yang tinggi tidak menguntungkan perusahaan karena biaya yang dikeluarkan untuk hal tersebut sangat besar.

6. Memelihara pemakaian tenaga kerja seefektif mungkin.

Tata letak pabrik yang tidak baik akan memboroskan sejumlah tenaga kerja yang ada dan sebaliknya tata letak yang baik akan meningkatkan efektifitas kerja yang ada.

Beberapa usaha yang dapat dilakukan sebagai berikut :

(3)

8 a. Mengurangi handling bahan-bahan yang dilakukan secara manual sampai

seminimal mungkin.

b. Mengurangi faktor-faktor yang mengakibatkan buruh banyak berjalanjalan di dalam pabrik.

c. Membuat keselarasan antara mesin-mesin sehingga baik mesin maupun operator tidak menganggur.

d. Memberikan pengawasan seefektif mungkin.

7. Menciptakan suasana kerja yang memberikan kenyamanan, kemudahan, dan keselamatan karyawan selama bekerja.

Untuk mencapai hal ini perlu diperhatikan seperti penerangan, suhu, sirkulasi udara, alat pembuangan uap air dan keselamatan kerja.

2.3 Jenis-jenis Tata Letak Pabrik

Tata letak pabrik terbagi menjadi empat bentuk dasar, yaitu process layout, product layout, fixed position layout, dan grup layout. Tipe tata letak yang sesuai akan memberikan efesiensi proses manufaktur dalam jangka waktu yang panjang.

Berikut uraian mengenai jenis-jenis tata letak pabrik.

2.3.1 Tata Letak Proses (process layout)

Tata letak proses adalah penyusunan tata letak dimana alat yang mempunyai fungsi yang sama atau sejenis ditempatkan dalam bagian yang sama. Misalnya, mesin-mesin bubut ditempatkan pada bagian yang sama. Mesin-mesin tidak dikhususkan untuk produk tertentu melainkan untuk berbagai jenis produk dan disusun menurut urutan proses produksi. Process layout dilakukan bila volume produksi kecil, dan terutama untuk jenis produk yang tidak standar, biasanya berdasarkan order (job shop). Gambar 2.1 berikut merupakan contoh dari tata letak proses.

(4)

9 Sumber : (Hadiguna, 2008)

Gambar 2.1 Process Layout Keuntungan tata letak proses adalah :

a. Memungkinkan utilisasi mesin yang tinggi.

b. Memungkinkan penggunaan mesin-mesin yang multiguna, sehingga dengan cepat mengikuti perubahan jenis produksi.

c. Memperkecil terhentinya produksi yang diakibatkan oleh kerusakan mesin.

Kerugian tata letak proses adalah :

a. Meningkatnya kebutuhan pemindahan bahan karena aliran proses yang beragam dan tidak dapat digunakannya ban berjalan.

b. Pengawasan produksi yang lebih sulit.

c. Meningkatnya persediaan barang dalam proses.

d. Total waktu produksi per unit yang lebih lama.

e. Memerlukan skill yang lebih tinggi.

f. Pekerjaan routing, penjadwalan dan akunting biaya yang lebih sulit, karena setiap ada order baru harus dilakukan perencanaan/perhitungan kembali.

2.3.2 Tata Letak Produk (product layout)

Tata letak produk dipilih apabila proses produksinya telah distandarisasi dan berproduksi dalam jumlah yang besar. Setiap produk akan melalui tahapan operasi yang sama sejak dari awal sampai akhir. Tataletak produk banyak digunakan

(5)

10 dalam industri otomotif, elektronika, dan tempat cuci mobil otomatis. Product layout akan digunakan bila volume produksi cukup tinggi dan variasi produk tidak banyak serta sangat sesuai untuk produksi yang bersifat kontinyu. Tujuan dari tata letak ini adalah untuk mengurangi proses pemindahan bahan dan memudahkan pengawasan di dalam aktivitas produksi, sehingga pada akhirnya terjadi penghematan biaya. Gambar 2.2 berikut merupakan contoh tata letak produk

Sumber : (Hadiguna, 2008)

Gambar 2.2 Product Layout Keuntungan tata letak produk adalah :

a. Aliran material yang sederhana dan langsung.

b. Persediaan barang dalam proses yang rendah.

c. Total waktu produksi per unit yang rendah.

d. Tidak memerlukan skill tenaga kerja yang tinggi.

e. Kebutuhan pemindahan bahan yang rendah.

f. Pengawasan produksi yang lebih mudah.

g. Dapat menggunakan mesin khusus atau otomatis.

h. Dapat menggunakan ban berjalan karena aliran material sudah tertentu.

i. Kebutuhan material dapat diperkirakan dan dijadwalkan dengan lebih mudah.

Kerugian tata letak produk adalah :

a. Kerusakan pada sebuah mesin dapat menghentikan produksi.

(6)

11 b. Perubahan desain produk dapat mengakibatkan tidak efektifnya tata letak

yang bersangkutan.

c. Apabila terdapat bottleneck dapat mempengaruhi proses keseluruhan.

d. Biasanya memerlukan investasi mesin/peralatan yang besar.

e. Karena sifat pekerjaannya yang monoton dapat mengakibatkan kebosanan.

2.3.3 Tata Letak Posisi Tetap (fixed position layout)

Tata letak posisi tetap dipilih apabila karena ukuran, bentuk ataupun karakteristik lain menyebabkan produknya tidak mungkin atau sukar untuk dipindahkan. Artinya, produk tetap berada di tempat, sedangkan peralatan dan tenaga kerja yang menuju produk. Tata letak seperti ini terdapat pada pembuatan kapal laut, pesawat terbang, lokomotif, atau proyek-proyek konstruksi. Pada proses perakitan tata letak tipe ini alat dan peralatan kerja lainnya akan cukup mudah dipindahkan. Gambar 2.3 berikut merupakan contoh tata letak posisi tetap

Sumber : (Hadiguna, 2008)

Gambar 2.3 Fixed Position Layout Kelebihan tata letak posisi tetap adalah :

a. Berkurangnya gerakan material.

b. Adanya kesempatan untuk melakukan pengayaan tugas.

c. Sangat fleksibel, dapat mengakomodasikan perubahan dalam desain produk, bauran produk, ataupun volume produksi.

Kerugian tata letak posisi tetap adalah : a. Gerakan personil dan peralatan yang tinggi.

(7)

12 b. Dapat terjadi duplikasi mesin dan peralatan.

c. Memerlukan tenaga kerja yang berketerampilan tinggi.

d. Memerlukan ruang yang besar dan persediaan barang dalam proses yang tinggi.

e. Memerlukan koordinasi lebih dalam penjadwalan produksi.

2.3.4 Tata Letak Berkelompok (group layout)

Tipe tata letak ini, biasanya komponen yang tidak sama dikelompokkan ke dalam satu kelompok berdasarkan kesamaan bentuk komponen, mesin atau peralatan yang dipakai. Pengelompokkan bukan didasarkan pada kesamaan penggunaan akhir. Mesin-mesin dikelompokkan dalam satu kelompok dan ditempatkan dalam sebuah manufacturing cell. Karena disini setiap kelompok produk akan memiliki urutan proses yang sama maka akan menghasilkan tingkat efisien yang tinggi dalam proses manufakturingnya. Gambar 2.4 berikut merupakan tata letak berkelompok.

Sumber : (Hadiguna, 2008)

Gambar 2.4 Group Layout Keuntungan tata letak berkelompok adalah :

a. Mengurangi pemborosan waktu dalam perpindahan antar kegiatan yang berbeda.

b. Mengurangi waktu set up, mengurangi ongkos material handling dan mengurangi area lantai produksi.

c. Apabila ada urutan proses yang terhenti maka dapat dicari alternatif lain.

d. Mudah mengidentifikasi bottlenecks dan cepat merespon perubahan jadwal.

(8)

13 Kerugian tata letak berkelompok adalah :

a. Utilisasi mesin yang rendah.

b. Memungkinkan terjadinya duplikasi mesin.

c. Biaya yang cukup tinggi untuk realokasi mesin.

2.4 Pola Aliran Bahan

Sebuah pola aliran bahan yang direncanakan dengan baik dan cermat akan membantu menuju pencapaian tujuan rancangan fasilitas. Pola aliran ini menggambarkan material masuk sampai pada produk jadi. Beberapa pola aliran umum serta fungsi dan kegunaannya sebagai berikut.

1. Garis lurus

Dapat digunakan jika proses produksi pendek, relatif sederhana dan hanya mengandung sedikit komponen atau beberapa peralatan produksi.

Gambar 2.5 Pola Aliran Bahan Garis Lurus 2. Bentuk S (zig-zag)

Dapat diterapkan jika lintasan lebih panjang dari ruangan yang dapat digunakan untuk ditempatinya, dan karenanya berbelok-belok dengan sendirinya untuk memberikan lintasan aliran yang lebih panjang dalam bangunan dengan luas, bentuk, ukuran yang lebih ekonomis.

Gambar 2.6 Pola Aliran Bahan Bentuk S 3. Bentuk U (U-Shaped)

(9)

14 Dapat diterapkan jika diharapkan produk jadinya mengakhiri proses pada tempat yang relatif sama dengan awal proses.

Gambar 2.7 Pola Aliran Bahan Bentuk U 4. Melingkar (Circulair)

Pola ini digunakan jika keluar masuknya material dan produk jadi pada satu tempat atau satu pintu yang sama. Kondisi ini memudahkan dalam pengawasan keluar masuknya barang.

Gambar 2.8 Pola Aliran Bahan Melingkar 5. Tak beraturan (Odd-Angle)

Tujuannya adalah untuk memperpendek lintasan aliran antar kelompok, pemindahan mekanis, dan lain sebagainya.

(10)

15 Gambar 2.9 Pola Aliran Bahan Tak Beraturan

2.5 Pemindahan Bahan (Material Handling)

Pemindahan bahan (material handling) menurut American Material Handling Society, yaitu sebagai suatu seni dari ilmu yang meliputi penanganan (handling), pemindahan (moving), pembungkusan / pengepakan (packaging), penyimpanan (storing) sekaligus pengendalian pengawasan (controlling) dari bahan atau material dengan segala bentuknya. Dalam hal pemindahan bahan, proses pemindahan bahan ini akan dilaksanakan dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Kegiatan pemindahan atau pengangkutan pada suatu perusahaan tertentu dapat mencapai sekitar 50% sampai 70% dari keseluruhan kegiatan produksi.

Dalam kegiatan manufaktur, pemindahan bahan mengambil porsi 25% dari jumlah pekerja, 55% dari luas lantai yang digunakan, dan 87% dari waktu yang digunakan. Hal ini menunjukkan bukti nyata pentingnya perancangan sistem pemindahan bahan yang mampu mereduksi kontribusi pekerja, pemakaian luas lantai, dan waktu produksi (Hadiguna, 2008).

Perencanaan material handling penting sekali untuk dipelajari karena kenyataan yang ada menunjukkan bahwa biaya material handling menyerap sebagian besar biaya produksi. Tujuan utama dari perencanaan material handling adalah untuk mnegurangi biaya produksi. Selain itu, material handling sangat berpengaruh terhadap operasi dan perancangan failitas yang diimlementasikan.

Perencanaan material handling juga berperan dalam meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki kondisi kerja, dan mengoptimalkan distribusi material dalam lantai produksi.

2.6 Perencanaan Kebutuhan Bahan, Mesin, dan Operator 2.6.1 Perencanaan Kebutuhan Bahan

Perencanaan jumlah kebutuhan bahan baku dilakukan berdasarkan banyaknya produk yang biasanya dipesan oleh pelanggan. Jumlah tersebut dikonversikan ke dalam satuan unit terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk menentukan jumlah produk yang akan diproduksi dalam suatu periode tertentu.

(11)

16 Untuk menghitung kebutuhan bahan baku untuk masing-masing komponen tersebut dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 =𝑖𝑛𝑝𝑢𝑡 𝑥 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑡𝑒𝑚 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛

………(2.1)

Dimana unit per bahan merupakan dimensi bahan baku dibagi dengan dimensi bahan jadi. Sedangkan jumlah input yang akan dihasilkan tergantung dari target produksi yang akan dihasilkan per waktu. Target produksi ini sama dengan jumlah output yang akan dihasilkan pada akhir produksi sehingga menghasilkan output per waktu.

Untuk menghitung jumlah input dapat digunakan rumus sebagai berikut : 𝑖𝑛𝑝𝑢𝑡 = 𝑜𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡

1 − %𝑠𝑐𝑟𝑎𝑝

………(2.2)

Penentuan scrap dilakukan melalui pertimbangan ukuran dan kualitas dari produk yang akan dihasilkan. Selain itu, rumus lain yang digunakan dalam perencanan kebutuhan bahan adalah :

𝑜𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡 = 𝑡𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑥 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎

………(2.3)

𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝑠𝑐𝑟𝑎𝑝 = 1 −𝑜𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡

𝑖𝑛𝑝𝑢𝑡 𝑥100% ………(2.4)

𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛

= 𝑑𝑖𝑚𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢 𝑑𝑖𝑚𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖

………(2.5)

2.6.2 Perencanaan Kebutuhan Mesin dan Operator

Perhitungan kebutuhan mesin dilakukan untuk memperoleh berapa luas area yang dibutuhkan sebagai sarana pendukung pada lantai produksi. Jumlah mesin yang dibutuhkan tergantung pada rencana produksi, target produksi yang telah ditentukan, kapasitas produksi, dan waktu yang dibutuhkan. Perhitungan jumlah mesin dan operator yang dibutuhkan dapat digunakan rumus sebagai berikut :

(12)

17 𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑚𝑒𝑠𝑖𝑛 = 1 −𝐷𝑇 + 𝑆𝑇

𝐷

………(2.6)

𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑠𝑖𝑛 = 𝑇 60𝑥 𝑃

𝐷 𝑥 𝐸

………(2.7)

𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑜𝑟 = 𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑠𝑖𝑛 𝑥 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑜𝑟 ……(2.8) Keterangan :

DT = waktu downtime ST = waktu set up.

D = jam operasi kerja mesin yang tersedia. Dimana 1 shift kerja D = 8 jam/hari P = jumlah produk yang harus dibuat oleh masing-masing mesin per periode

waktu kerja (unit produk).

E = faktor efesiensi kerja mesin yang disebabkan oleh adanya waktu set up, downtime, repair atau hal-hal lain yang menyebabkan terjadinya idle.

T = total waktu pengerjaan yang dibutuhkan untuk proses produksi (menit/unit produk).

2.7 Perencanaan Gudang

Dalam perencanaan tata letak fasilitas pabrik, gudang menjadi salah satu faktor penting dalam kegiatan pelayanan produksi. Gudang pada dasarnya terbagi atas 2 jenis gudang yaitu gudang bahan baku (storage) dan gudang produk jadi (warehouse). Storage pada umumnya akan memiliki fungsi yang cukup penting dalam menjaga kelancaran operasi produksi suatu pabrik. Ada 3 tujuan utama dari sebuah storage, yaitu:

1. Sebagai tempat pengawasan material yang keluar masuk.

2. Sebagai tempat pemilihan dan pemeliharaan material.

3. Sebagai tempat penyimpanan dan penimbunan metarial.

Sedangkan warehouse merupakan area yang digunakan untuk penempatan produk jadi. Warehouse sangat erat kaitannya dengan proses shipping atau pengiriman produk jadi ke konsumen. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan luas area warehouse adalah :

(13)

18 1. Karakteristik produk yang dikelola.

2. Jumlah pengiriman dan frekuensi pengiriman per periode.

3. Metode handling dan peralatan yang digunakan.

4. Lokasi dari area yang tersedia.

Adapun rumus yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah tumpukan dalam gudang yaitu :

𝑄 =𝑇𝑃 𝑆

………(2.9)

Sedangkan untuk menghitung kebutuhan luas tempat material rumus yang digunakan yaitu:

𝐿 =𝑄 𝑉

………(2.10)

Keterangan :

Q = Jumlah tumpukan yang diharapkan.

TP = Target produksi/ permintaan.

S = Tinggi tumpukan maksimum.

L = Luas area masing-masing material.

V = Dimensi kemasan atau tempat penyimpanan.

2.8 Teknik Identifikasi Aliran Material

Identifikasi aliran material dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik sebagai berikut :

2.8.1 Operation Process Chart (OPC)

Operation Process Chart atau Peta Proses Operasi merupakan suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang dialami oleh bahan baku, seperti urutan operasi dan inspeksi atau pemeriksaan dari awal hingga bahan baku tersebut manjadi produk jadi. Selain itu, peta proses operasi juga memuat informasi-informasi yang diperlukan untuk menganalisa lebih lanjut seperti waktu yang dibutuhkan dalam pengerjaan, material atau bahan yang digunakan, tempat

(14)

19 ataupun alat-alat yang digunakan, dan scrap yang dihasilkan dari pengerjaan.

Dalam pembuatan peta proses operasi, hanya terfokus pada kegiatan-kegiatan produktif saja. Hal-hal yang berkaian dengan kegiatan yang tidak produktif seperti idle/delay dan material handling tidak terdapat pada peta proses operasi, hal tersebut dapat lebih detail dijumpai pada pembuatan peta aliran proses. Kegunaan dari peta proses operasi adalah dapat mengetahui tingkat kebutuhan mesin dan bahan baku, serta dapat mengetahui pola tata letak fasilitas kerja dan pemindahan bahannya.

Gambar 2.10 Operation Process Chart Keterangan :

W = Waktu yang dibutuhkan untuk suatu proses operasi atau pemeriksaan (dinyatakan dalam unit menit atau jam).

O-N = Nomor urut untuk kegiatan operasi.

I-N = Nomor urut untuk kegiatan pemeriksaan.

M = Nama mesin atau lokasi kerja di mana kegiatan operasi atau pemeriksaan tersebut dilaksanakan.

2.8.2 Flow Process Chart (FPC)

Flow Process Chart atau Peta Aliran Proses adalah suatu peta yang menggambarkan semua aktivitas dalam proses produksi, baik aktivitas produktif ataupun aktivitas reduktif. Peta aliran proses menggambarkan urutan-urutan mulai dari operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu dan penyimpangan yang terjadi

(15)

20 selama suatau proses atau prosedur berlangsung, serta didalamnya memuat informasi-informasi yang diperlukan untuk analisa seperti waktu jarak yang diperlukan. Metode penggambaran hampir sama dengan OPC hanya saja pada FPC lebih lengkap dan detail. Berikut merupakan kegunaan peta aliran proses :

1. Menunjukan seluruh langkah dalam suatau proses

2. Digunakan untuk menganalisa proses seperti jumlah, aktivitas proses, jarak, peralatan, dan tenaga kerja.

3. Sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses atau metode kerja.

4. Digunakan sebagai perbandingan apabila ada metode pengganti.

Simbol-simbol yang digunakan dalam pembuatan peta proses dipergunakan berdasarkan American Society of Mechanical Engineering (ASME) tercantum pada tabel 2.1 sebagai berikut :

(16)

21 Tabel 2.1 Simbol ASME pada pembuatan peta proses

Aktivitas Simbol Deskripsi

Operasi Suatu kegiatan operasi apabila benda-benda kerja mengalamai perubahan fisik maupun kimiawi. Lambang ini juga bisa digunakan sebagai administrasi misalnya aktivitas perencanaan dan perhitungan.

Inspeksi Suatu kegiatan pemeriksaan baik segi kualitas maupun kuantitas. Lambang ini digunakan dengan perbandingan tertentu dengan suatu standar.

Transportasi Terjadi bila benda kerja (objek), pekerja atau perlengkapan mengalami perpindahan tempat yang bukan merupakan bagian dari proses operasi.

Menunggu (delay)

Terjadi bila benda kerja, pekerja, atau perlengkapan tidak mengalami apa-apa selain menunggu sampai mengalami suatu aktivitas Kembali.

Penyimpanan (storage)

Terjadi bila benda kerja disimpan untuk jangka waktu yang cukup lama.

Aktivitas Ganda

Terjadi bila antara aktivitas operasi dan pemeriksaan dilakukan bersamaan atau dilakukan pada satu tempat kerja.

2.8.3 Flow Diagram

Flow Diagram atau Diagram Alir merupakan bentuk grafis dari urutan- urutan proses yang dibuat di atas gambaran tata letak yang dibahas, diagram alir menunjukan lokasi aktivitas yang terjadi dalam peta aliran proses. Diagram Alir dapat digunakan sebagai rancangan kasar dari tata letak dimana rancangan tersebut memuat jarak dari lokasi-lokasi terpasang. Diagram alir pada dasarnya sama dengan peta aliran proses yang menggunakan simbol-simbol ASME dalam

(17)

22 penggambarannya. Diagram alir memberikan informasi lebih untuk menganalisa tata letak pabrik, karena diagram alir tidak hanya berbentuk peta proses tetapi juga layout sebenarnya dari pabrik yang ada. Adapun kegunaan dari diagram alir sebagai berikut :

1. Diagram alir memperjelas peta aliran proses dengan menunjukan arah aliran yang sesuai dengan aliran proses.

2. Membantu dalam proses perbaikan tata letak tempat kerja, dengan cara memindahkan tata letak apabila ada aliran material yang tidak sempurna sehingga dapat diperoleh tata letak yang lebih ekonomis ditinjau dari segi waktu dan jarak.

Gambar 2.11 Contoh Flow Diagram

(18)

23 2.9 Activity Relationship Chart (ARC)

Activity Relationship Chart atau Peta Hubungan Aktivitas merupakan suatu teknik dalam merencanakan tata letak fasilitas atau departemen berdasarkan derajat hubungan aktivitas. Peta hubungan aktivitas sering dinyatakan dalam penilaian ”kualitatif” dan cenderung berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang bersifat subjektif (Rijardi, 2014). Peta ini memiliki dapat digunaan untuk menunjukkan hubungan keterkaitan antar kegiatan beserta alasannya, sebagai masukan untuk menentukan penyusunan daerah selanjutnya, dan lokasi kegiatan dalam satu usaha pelayanan (Wignjosoebroto, 2009). Pada dasarnya diagram ini menjelaskan mengenai hubungan pola aliran bahan dan lokasi dari masing-masing departemen penunjang terhadap departemen produksinya. Activity Relatioship Chart ini hampir mirip dengan From To Chart, hanya saja disini analisanya bersifat kualitatif. Kalau pada from to chart analisis dilaksanakan berdasarkan angka-angka seperti berat/volume dan jarak perpindahan bahan dari satu departemen ke departemen lain, maka Activity relationship akan menggantikan kedua hal tersebut dengan kode huruf yang akan menunjukkan derajat hubungan aktivitas secara kualitatif dan juga kode angka yang akan menjelaskan alasan untuk pemilihan kode huruf tersebut

Secara garis besar cara membuat activity relationship chart adalah sebagai berikut :

1. Catat semua departemen pada peta hubungan aktivitas.

2. Lakukan wawancara atau survei pada tenaga kerja tiap-tiap departemen atau kepada pihak manajemen tentang aktivitas pada setiap departemen.

3. Masukkan alasan setiap pasangan departemen pada peta keterkaitan yang didasarkan pada informasi karyawan dan pihak manajemen atau pengetahuan tentang keterkaitan antar kegiatan.

4. Catat derajat kedekatan setiap pasangan pada peta keterkaitan sesuai dengan alasan yang dimasukkan.

5. Evaluasi peta keterkaitan kreativitas dengan meminta pertimbangan orang lain yang tahu tentang keterkaitan antar departemen.

(19)

24 Simbol-simbol yang digunakan untuk menunjukan derajat keterkaitan aktivitas ditunjukkan pada tabel 2.2 sebagai berikut :

Tabel 2.2 Derajat Kedekatan Hubungan Aktivitas Derajat

Kedekatan Deskripsi

A Mutlak perlu aktivitas-aktivitas tersebut didekatkan E Sangat penting aktivitas-aktivitas tersebut didekatkan

I Penting bahwa aktivitas tersebut didekatkan

O Cukup atau biasa kedekatannya dimana saja tidak masalah U Tidak penting, tidak perlu adanya kedekatan geografis X Tidak diinginkan aktivitas-aktivitas tersebut berdekatkan

Sedangkan kode dan deskripsi alasan dapat dilihat pada tabel 2.3 dibawah ini:

Tabel 2.3 Kode dan Deskripsi Alasan Hubungan Aktivitas

Kode Alasan Deskripsi

1 Penggunaan catatan secara bersamaan 2 Menggunakan tenaga kerja yang sama 3 Menggunakan space area yang sama

4 Derajat kontak personel yang sering dilakukan 5 Derajat kontak kertas kerja yang sering dilakukan 6 Urutan aliran kerja

7 Melaksanakan kegiatan kerja yang sama 8 Menggunakan peralatan kerja yang sama

9 Kemungkinan adanya bau yang tidak mengekan, ramai, dll.

(20)

25 Gambar 2.12 Contoh Activity Relationship Chart

2.10 Activity Relationship Diagram (ARD)

Activity Relationship Diagram merupakan diagram yang menjelaskan mengenai hubungan pola aliran bahan dan lokasi dan masing-masing departemen penunjang terhadap departemen produksinya. Untuk membuat Activity Relationship Diagram ini maka terlebih dahulu data yang diperoleh dari Activity Relationship Chart dimasukkan ke dalam suatu lembaran kerja (Work Sheet).

Activity Relationship Chart sangat berguna untuk perencanaan dan analisis hubungan aktivitas antar masing-masing departemen. Sebagai hasilnya maka data yang didapat selanjutnya akan dimanfaatkan untuk penentuan letak masing- masing departemen tersebut.

Teknik penyusunan ARD dilakukan berdasarkan data-data yang ada pada block template dimana apabila suatu aktivitas dengan yang lainnya mempunyai tingkat hubungan A, maka kedua sisi saling menempel. Untuk selanjutnya adalah tingkat hubungan E, I, O, U dan X biasanya untuk mendapatkan letak yang baik dari tiap-tiap block dilakukan secara trial, yaitu diulang beberapa kali sehingga diperoleh susunan yang harmonis. Pada dasarnya di sini semua kode yang tercantum dalam Work Sheet dimasukkan ke dalam Activity Block Diagram kecuali kode huruf U (Unimportant), karena dianggap tidak memberi pengaruh apa-apa dan aktivitas departemen satu terhadap departemen lainnya. Adapun ketentuan Tata Letak ARD sebagai berikut :

1. Dua departemen dengan kode kedekatan A harus diletakkan bersebelahan.

(21)

26 2. Dua departemen dengan kode kedekatan E boleh diletakkan bersebelahan,

atau bersentuhan pada titik sudutnya.

3. Dua departemen dengan kode kedekatan X sama sekali tidak boleh bersinggungan.

Gambar 2.13 Contoh Activity Relationship Diagram 2.11 From-To Chart (FTC)

From to chart adalah metode konvensional yang sering digunakan untuk perencanaan tata letak. Metode ini sangat berguna untuk perencanaan apabila barang yang mengalir pada suatu lokasi berjumlah banyak seperti bengkel- bengkel, mesin umum, kantor atau fasilitas-fasilitas lainnya. Peta dari-ke dilakukan dengan cara mengubah data dasar menjadi data yang siap dipakai pada peta dari-ke dilanjutkan dengan membuat matriks sesuai jumlah kegiatan, kemudian masukkan data sesuai dengan kegiatan tersebut. Adapun data yang dapat dimasukkan kedalam matriks dapat berbagai bentuk seperti :

1. Jumlah gerakan antar kegiatan.

2. Jumlah bahan yang dipindahkan tiap periode waktu.

3. Berat bahan yang dipindahkan tiap periode.

4. Kombinasi dari jumlah, waktu, dan berat tiap satuan waktu.

5. Persentase dari tiap kegiatan terhadap kegiatan-kegiatan sebelumnya.

Gambar 2.14 merupakan peta dari-ke yang menunjukkan jumlah material yang dipindahkan dari A ke B adalah komponen 1 dengan kapasitas 25.

(22)

27 Gambar 2.14 Contoh From-To Chart

2.12 Pengukuran Jarak

Pengukuran jarak digunakan untuk menentukan sejauh mana atau ukuran panjang juga lebar dari lokasi satu dengan yang lainnya. Ada beberapa ukuran yang digunakan untuk memperkirakan jarak dalam tata letak yaitu euclidean, square euclidean, rectilinear, aisle distance dan adjacency.

1. Jarak Euclidean

Jarak diukur lurus dari satu fasilitas ke fasilitas lainnya. Jarak ini akan menggambarkan jarak terpendek dua titik yang akan menjadi batas bawah jarak sesungguhnya. Rumus yang digunakan adalah :

𝐷𝑖𝑗 = √[(𝑋𝑖 − 𝑋𝑗)2+ (𝑌𝑖 − 𝑌𝑗)2] ………(2.11)

Keterangan : 𝐷𝑖𝑗 = Jarak antar pusat fasilitas i ke j Xi = Koordinat X pada pusat fasilitas i Yi = Koordinat Y pada pusat fasilitas i

2. Squared Euclidean

Jarak diukur dengan mengkuadratkan bobot terbesar suatu jarak antar dua fasilitas yang berdekatan, relatif untuk beberapa persoalan terutama menyangkut persoalan lokasi fasilitas diselesaikan dengan penerapan square euclidean. Rumus yang digunakan adalah:

(23)

28 𝐷𝑖𝑗= (𝑋𝑖 − 𝑋𝑗)2+ (𝑌𝑖 − 𝑌𝑗)2 ………(2.12) 3. Jarak Rectilinear

Jarak diukur sepanjang lintasan dengan menggunakan garis tegak lurus (orthogonal) satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh penggunaan perhitungan jarak antar fasilitas peralatan pemindahan bahan hanya dapat bergerak secara tegak lurus. Rumus yang digunakan adalah :

𝐷𝑖𝑗 = [𝑋𝑖 − 𝑋𝑗] + [𝑌𝑖 − 𝑌𝑗] ………(2.13) 4. Jarak Aisle

Aisle distance akan mengukur jarak sepanjang lintasan yang dilalui alat pengangkut pemindah bahan. Aisle distance pertama kali diaplikasikan pada masalah tata letak dari proses manufaktur. Gambar 2.15 (a) menunjukkan ukuran jarak aisle antara departemen K dan M merupakan jumlah dari a, b dan d. Sedangkan Gambar 2.15 (b) menunjukkan jarak aisle departemen 1

dengan departemen 3 merupakan jumlah dari a, c, f dan h.

Gambar 2.15 Contoh Aisle Distance 5. Adjacency

Adjacency merupakan ukuran kedekatan hubungan antara fasilitas-fasilitas atau departemen-departemen yang terdapat dalam suatu perusahaan. Dalam perancangan tata letak dengan metode SLP, sering digunakan ukuran

(24)

29 adjacency yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat kedekatan antara departemen satu dengan departemen lainnya. Kelemahan ukuran jarak adjacency adalah tidak dapat memberi perbedaan secara riil jika terdapat dua pasang fasilitas di mana satu dengan lainnya tidak berdekatan.

Sebagai contoh pada Gambar 2.16 jarak antara departemen K dan departemen N yang tidak saling berdekatan berjarak 40 m, dan jarak antara departemen M dan departemen N yang berjarak 75 m, hal ini bukan berarti antara departemen K dan departemen N mempunyai tingkat kedekatan yang lebih tinggi. Dalam hal ini kedua-duanya baik DKN (tingkat kedekatan departemen K dan N) dan DMN (tingkat kedekatan departemen M dan N) dalam adjacency akan sama-sama diberi nilai 0. Sebaliknya, meskipun departemen M dan departemen N masing-masing jika diukur dengan jarak rectilinear maupun jarak euclidean sama dengan departemen L, bukan berarti mempunyai nilai adjacency yang sama. Bisa saja antara departemen M dan departemen L mempunyai jarak adjacency yang lebih dibandingkan jarak adjacency antara departemen N dan departemen L. Misalkan antara departemen M dan L nilai adjacency sebesar 3, sedang antara departemen N dan L nilai adjacency sebesar 1 (Purnomo, 2004).

Gambar 2.16 Contoh Adjacency 2.13 Systematic Layout Planning (SLP)

Systematic Layout Planning merupakan suatu pendekatan sistematis dan terorganisir untuk perencanaan layout yang dibuat oleh Richard Muther (1973).

Langkah SLP ini banyak diaplikasikan untuk berbagai macam permasalahan

(25)

30 antara lain produksi, transportasi, pergudangan, supporting, service, perakitan, aktivitas-aktivitas perkantoran dan lain-lain.

Prosedur pelaksanaan SLP dapat dilihat pada gambar 2.17 berikut :

Gambar 2.17 Prosedur Pelaksanaan SLP

Pada dasarnya prosedur di atas dapat dikategorikan ke dalam 3 tahapan, yaitu tahap analisa mulai dari analisa aliran material, analisa aktivitas, diagram hubungan aktivitas, pertimbangan keperluan area. Tahapan kedua tahapan penelitian mulai dari perencanaan diagram hubungan ruangan sampai dengan perancangan alternatif tata letak. Sedangkan tahapan terakhir proses seleksi dengan mengevaluasi alternatif tata letak yang telah dirancang (Purnomo, 2004).

(26)

31 2.13.1 Data Masukan

Langkah awal dalam perancangan SLP adalah dengan melakukan pengumpulan data awal. Terdapat tiga sumber data di dalam perancangan tata letak yaitu :

1. Data yang berkaitan dengan rancangan produk.

Proses rancangan produk secara tidak langsung berpengaruh terhadap perancangan tata letak, karena perancangan tata letak di pengaruhi langkahlangkah proses pengerjaan produk atau urutan operasi perakitan yang telah dirancang.

Data yang berkaitan dengan rancangan produk seperti gambar kerja, peta perakitan, daftar komponen bahkan prototype dari produk yang akan dibuat dapat diperlukan.

2. Data rancangan proses.

Data mengenai proses menggambarkan tahapan-tahapan pembuatan komponen, peralatan dan mesin-mesin yang dibutuhkan untuk melakukan proses produksi, serta waktu yang dibutuhkan dalam proses produksi, data diatas disimpulkan dalam bentuk peta proses operasi.

3. Rancangan jadwal produksi.

Rancangan jadwal memberi pengaruh sangat besar dalam hal pemilihan jenis dan jumlah mesin-mesin yang diperlukan, jumlah karyawan dan shift, kebutuhan ruang, peralatan, dan sebagainya.

2.13.2 Analisis Aliran Material

Analisis aliran material sangat penting dilakukan untuk setiap gerakan perpindahan material diantara departemen-departemen atau aktivitas-aktivitas operasional bertujuan untuk memperlancar aliran kerja proses produksi mulai daari bahan baku sampai menjadi produk akhir. Menganalisis aliran material ini sering digunakan peta-peta atau diagram seperti Peta Aliran Proses, Diagram Alir, Peta Proses Produksi, dan sebagainya.

(27)

32 2.13.3 Analisis Hubungan Aktivitas

Dalam perancangan tata letak dapat digunakan ARC (Activity Relationship Chart). Analisis aliran material lebih cenderung untuk mengetahui biaya dari pemindahan material.

2.13.4 Diagram Hubungan Aktivitas

Dalam perancangan tata letak fasilitas derajat hubungan antar departemen dapat dilihat dari dua aspek, baik aspek kualitatif maupun aspek kuantitatif, perancangan tata letak fasilitas yang bersifat kualitatif akan lebih dominan dalam menganalisis derajat hubungan aktivitas dan biasanya ditunjukan oleh peta hubungan aktivitas.

Sedangkan kualitatif lebih dominan dalam menganalisis aliran material sehingga yang dibuat adalah suatau flow diagram atau diagram alir. Dalam systematic layout planning kedua aspek tersebut menjadi pertimbangan, kedua aspek tersebut dibuat dalam suatu diagram yang disebut relationship diagram atau diagram hubungan aktivitas.

2.13.5 Diagram Hubungan Ruang

Dalam proses pembuatan diagram hubungan ruang ini yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi luas area yang dibutuhkan untuk semua aktivitas perusahaan. Diagram hubungan ruang dapat dibuat setelah dilakukan analisis terhadap luas area yang dibutuhkan dan dikombinasikan dengan activity relationship diagram.

2.13.6 Perancangan Alternatif Tata Letak

Diagram hubungan ruang merupakan dasar dalam pembuatan rancangan alternatif tata letak dengan mempertimbangkan modifikasi dan batasan praktis.

Untuk membuat rancangan tata letak dapat dibuat suatu block layout yang merupakan diagram blok dengan sekala tertentu dan merupakan representasi bangunan. Block layout menggambarkan batasan-batasan ruang dengan adanya dinding-dinding yang memisahkan antara blok satu dengan blok lain, langkah selanjutnya perancangan detail layout berdasarkan block layout yang dibuat.

(28)

33 2.13.7. Evaluasi

Alternatif – alternatif tata letak yang telah dibuat, dipilih alternatif perancanganyang terbaik sesuai dengan tujuan organisasi. Ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mengevaluasi alternatif tata letak, dimana Sebagian kriteria tidak dapat dianalisis secara kuantitatif. Berikut ini adalah teknik – teknik untuk mengevaluasi perancangan tata letak.

1. Perbandingan Untung-Rugi.

Dalam teknik ini disusun daftarkeuntungan dan kerugian masing – masing alternatif yang ditawarkan. Alternatif yang dinilai mempunyai keuntungan yang relatif besar dipilih sebagai alternatif perancangan tata letak yang diusulkan. cara ini merupakan cara yang sederhana dan paling mudah dilakukan, namun dinilai kurang akurat.

2. Peringkat

Teknik dengan prosedur peringkat adalah dengan memilih faktor-faktor yang dinilai penting, kemudian dibuat daftar peringkat dari masing-masing alternatif untuk masing-masing factor.

3. Analisis Faktor

Cara ini hampir sama dengan peringkat dengan menetukan faktor-faktor yang dianggap penting dalam perancangan tata letak kemudian dilakukan pemberian bobot untuk tiap-tiap faktor. Faktor yang dianggap paling penting diberi bobot terbesar.

4. Perbandingan Biaya

Menentukan alternatif perancangan tata letak terbaik adalah dengan mengidentifikasi biaya-biaya untuk masing-masing alternatif perancangan baik biaya investasi, operasi dan pemeliharaan. Alternatif perancangan dengan biaya terkecil akan dipilih sebagai alternatif perancangan yang diusulkan.

Dengan menganggap rancangan tata letak telah diterima oleh para pengambil keputusan langkah selanjutnya melakukan instalasi sesuai dengan rancangan.

(29)

34 2.14 BLOCPLAN

Blocpan Merupakan sistem perancangan tata letak fasilitas yang berupa program untuk membuat dan mengevaluasi tipe-tipe tata letak dalam merespon data masukan. Blocplan mempunyai kemiripan dengan CRAFT dalam penyusunan departemen. Perbedanya adalah Blocplan dapat menggunakan peta keterkaitan sebagai inputan data sedangkan CRAFT hanya menggunakan peta dari-ke (from to chart). Blocplan memiliki kelemahan yaitu tidak akan menangkap initial layout secara akurat.selain peta keterkaitan. Blocplan kadang- kadang juga menggunakan inputan data lain yaitu peta from to chart, hanya saja kedua inputan tersebut hanya dapat digunakan salah satu saja saat melakukan evaluasi tata letak.

Dalam menjalankan program Blocpan untuk memudahkan pengolan data, maka inputan data-data yang dapat diterima berupa data kualitatif dan kuantitatif, pengguna mempuyai 3 cara menyediakan data :

a. Secara kualitatif dalam bentuk diagram activity relationship chart (ARC).

b. Secara kuantitatif dalam bentuk frekuensi aliaran material, luas masingmasing fasilitas dan luasan tata letak yang tersedia untuk penempatan semua fasilitas,

c. Informasi tentang produk apa saja yang diproduksi berseta rutenya.

Blocpan didalam menganalisa masalah serta mengembangkan tata letak mempuyai 3 pilihan yaitu :

a. Secara random : menghasilkan satu persatu tata letak dengan nilai R-score tertentu tanpa mempertimbangkan interaksi antar departemen.

b. Improvement algorithm, pertama tama dilakukan perubahan.

c. Automatic search ,secara otomatis pertama-tama dilakukan secara random, kemudian hasil yang diperoleh dilakukan improvement algorithm, namun interasi yang dapat dilakukan maksimal 20 kaliperubahan yang memberikan dan menghasilkan tataletak cepat dan optimal.

(30)

35 Data masukan untuk menjalankan progaram Blocplan dalam bentuk diagram keterkaitan ARC yang masing-masing nilai simbol keterkaitan antar departemen ditentukan oleh masing-masing pengguna Blocplan, namun nilai atau poin yang telah umum digunakan dalam pegolahan data pada program blocplan ditunjukkan sebagai berikut :

• Simbol A mempuyai nilai skor : 10 poin.

• Simbol E mempuyai nilai skor : 5 poin.

• Simbol I mempuyai nilai skor : 2 poin.

• Simbol O mempuyai nilai skor : 1 poin.

• Simbol U mempuyai nilai skor : 0 poin.

• Simbol X mempuyai nilai skor : -10 poin.

Progam Blocplan akan menampilkanl bentuk tata letak dengan 5 buah pilian rasio panjang lebar dari bentuk tata letak yang diinginkan. Rasio yang bisa di pilih masing- masing adalah : untuk pilihan pertama 1.35:1; pilihan kedua 2:1; pilihan kedua 1:1; pilihan ke empat 1:2, pilihan kelima pengguna menentukan sendiri panjang dan lebar yang dikehendaki.

Gambar

Gambar 2.1 Process Layout  Keuntungan tata letak proses adalah :
Gambar 2.2 Product Layout  Keuntungan tata letak produk adalah :
Gambar 2.3 Fixed Position Layout  Kelebihan tata letak posisi tetap adalah :
Gambar 2.4 Group Layout  Keuntungan tata letak berkelompok adalah :
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengujian ini dilakukan oleh ahli materi yaitu guru SMK. Dari hasil pengujian formatif didapatkan data sebagai berikut : 1) Aspek Substansi Efektifitas; hasil uji

Data client dan vendor merupakan data penting yang harus ada dalam suatu Event

Hasil pengamatan karakter agronomis menunjukkan bahwa umur 50% berbunga sebagian besar berada pada kisaran umur berbunga 61-80 hari (560 galur) dan hanya beberapa galur

Ha : bi ≠ 0, berarti variabel independen pekerjaan yang sebagai pedagang kaki lima memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen (keputusan

Unsur kesalahan yang dilakukan adalah tidak dapat menunjukan bukti kepemilikan obat psikotropika berupa resep dokter yang telah diatur dalam Pasal 62 yang diperjelas

Mengenal nama-nama peralatan sekolah dalam bahasa arab 3.1 Mendengar ungkapan tentang alat tulis dalam bahasa Arab 3.2 Menyebutkan benda-benda tentang alat tulis dalam bahasa Arab..

Pengeluaran pemerintah di sektor pendidikan dengan jumlah yang semakin besar akan meningkatkan kualitas human capital , karena pengeluaran tersebut akan menunjang

bahwa untuk melaksanakan Peraturan Daerah k a bupaten Ogan IIir Nomor 03 Tahun 2008 tentang pem b entukan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Ogan IIir m ak a untuk tertib