4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Penelitian Terdahulu
1. Sumurung et al., (2015) analisis pengendalian penerimaan dan pengeluaran kas pada PT. Manado Media Grafika. Hasil penelitian menyatakan penerimaan dan pengeluaran kas pada PT. Manado Media Grafika telah dilaksanakan sesuai dengan fungsi yang ditetapkan dengan adanya pembagian tugas pada masing- masing bagian, dalam penerimaan dan pengeluaran kas telah telah menggunakan prosedur-prosedur yang di buat sesuai dengan kegiatan usaha yang dilakukan perusahaan.
2. Esteria et al., (2016) meneliti tentang analisis sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas pada PT Hasjrat Abadi Manado, hasil penelitian menjelaskan sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas pada PT Hasjrat Abadi Manado dilaksanakan secara sistematis, semua proses penerimaan dan pengeluaran kas harus mendapat otoritas dari pihak yang berwenang. Karena sudah ada pemiahan fungsi akuntansi, keuangan dan kas yang telah didukung dengan sistem komputasi untuk mencatat semua transaksi.
3. Salasa et al., (2016) meneliti tentang evaluasi sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas dalam upaya peningkatan pengendalian internal pada PG Kebon Agung Malang, hasil penelitian menjelaskan sistem pengendalian internal penerimaan dan pengeluaran kas belum sesuai standart, karena dalam struktur organisasi logistik melakukan fungsi perangkapan tugas yaitu melakukan penagihan kepada petani sebetulnya tugas tersebut dilakukan oleh fungsi penagihan. Dengan kurang sempurnanya fungsi yang terkait, dokumen yang digunakan maupun catatan akuntansi yang digunakan dalam sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan tersebut maka prosedur penerimaan maupun pengeluaran kasnya harus dilakukan perbaikan.
4. Aisyah (2017) meneliti tentang sistem pengendalian internal atas fungsi penerimaan dan pengeluaran kas pada PT. Sarana Hachery abadi, hasil penelitian menyatakan pengendalian internal telah berjalan sesuai dengan sistem pengendalian internal atas penerimaan dan pengeluaran kas menurut mulyadi (2016). Hal ini dapat dilihat dari organisasi, sistem otorisasi dan prosedur pencatatan, praktik yang sehat dan karyawan yang bermutu yang telah sesuia.
5. Pradana (2017) analisis sistem pengendalian intern penerimaan dan pengeluaran kas pada koperasi unit desa (KUD) seririt, hasil penelitian menyatakan bahwa pengendalian intern pada koperasi unit desa (KUD) seririt sudah cukup tersistem ini dapat dilihat dari apa yang disampaikan ketua pengurus koperasi unit desa (KUD) seririt yang mengatakan bahwa sistemnya sudah ditetapkan masing bagian sudah ada pemisahan.
6. Ogi et al., (2020) Analisis pengendalian internal atas penerimaan dan pengeluaran kas pada PT. Mandala Multifinance, Tbk cabang Manado, hasil penelitian menyatakan sistem pengendalian internal yang diterapkan pada PT. Mandala Multifinance sudah baik dengan adanya struktur organisasi yang dimiliki perusahaan menunjukan adanya lingkungan pengendalian yang diterapkan perusahaan. Untuk penafsiran resiko dalam melakukan transaksi terlihat dari cara pembayaran konsumen hingga pengendalian untuk piutang. Diterapkannya aktivitas pengendalian terlihat dari adanya prosedur yang mencakup perancangan penerimaan kas yaitu Kebijakan Intern perusahaan (KIP). Serta adanya sistem informasi akuntansi yang membantu perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya dan aktivitas pengawasan dari setiap bagian yang mempunyai bawahan sehingga setiap bagian ada pengawasannya.
B. Landasan teori 1. Pengertian sistem
Menurut Romney (2015), sistem adalah serangkaian dua atau lebih komponen yang saling terkait dan berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Hall (2009), sistem adalah merupakan sekelompok dari dua atau lebih komponen atau subsistem yang saling berhubungan yang berfungsi dengan tujuan yang sama.
Menurut Mulyadi (2016), sistem adalah sekelompok unsur yang erat berhubugan suatu dengan suatu yang lainnya, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan sistem adalah sekelompok yang berhubungan dan bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
2. Pengertian pengendalian
Menurut Handoko (2014), pengendalian adalah sebagai proses untuk menjamin bahwa tujuan-tujuan organisasi dan manajemen tercapai.
Menurut Hasibuan (2009), pengendalian adalah sebagai proses penentu, apa yang harus dicapai yaitu standar, apa yang sedang dilakukan, yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan apabila perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana yaitu selaras dengan standar.
Menurut Usman (2009), pengendalian adalah kegiatan yang memantau, menilai dan melaporkan kemajuan proyek disertai tindak lanjut.
Jadi pengendalian dapat disimpulkan sebagai suatu kegiatan untuk mengawasi, mengontrol, memperbaiki demi mencapai tujuan dengan standar yang telah ditetapkan.
3. Pengertian sistem pengendalian internal
Menurut Mulyadi (2016), sistem pengendalian internal meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikordinasikan untuk menjaga aset organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen. Definisi sistem pengendalian internal tersebut menekankan tujuan yang hendak dicapai, dan bukan pada unsur-unsur yang membentuk sistem tersebut.
Menurut Krismiaji (2010), pengendalian internal adalah rencana dan organisasi metode yang digunakan untuk menjaga atau melindungi aktiva, menghasilkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya, memperbaiki efisiensi, dan untuk mendorong ditaatinya kebijakan manajemen.
Menurut Reeve (2012), pengendalian internal adalah prosedur-prosedur serta proses-proses yang digunakan perusahaan untuk melindungi aset perusahaan, mengolah informasi secara akurat, serta memastikan kepatuhan pada hukum dan peraturan yang berlaku.
4. Tujuan Sistem Pengendalian Internal
Dalam suatu perusahaan mempunyai tujuan diperlukan agar perusahaan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan peraturan dan rencana yang ditetapkan, sehingga mampu meminimalisir kesalahan yang dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.
Menurut Mulyadi (2016), tujuan sistem pengendalian internal yang efektif diantaranya:
a. Menjaga keamanan harta perusahaan dan juga catatan organisasi.
Stuktur pengendalian internal yang baik akan mampu mengurangi kemungkinan penyalahgunaan, pencurian dan kecurangan-kecurangan yang dapat timbul terhadap aktivitas perusahaan.
b. Memeriksa ketelitian atas kecermatan dan kebenaran data akuntansi.
Manajemen mempunyai kepentingan terhadap informasi keuangan yang diteliti dan yang diandalkan. Informasi akuntansi digunakan oleh manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan, karena data akuntansi mencerminkan perubahan kekayaan perusahaan, maka ketelitian dan keandalan data akuntansi merefleksikan pertanggungjawaban penggunaan kekayaan perusahaan.
c. Memajukan efisiensi perusahaan.
Pengendalian dalam sebuah organisasi adalah alat untuk mencegah kegiatan pemborosan yang tidak perlu dalam segala aspel usaha untuk mengurangi penggunaan sumber data yang tidak efisien.
d. Membantu agar tidak ada penyimpangan dari kebijakan-kebijakan manejemen yang ada.
Untuk mencapai tujuan perusahaan, manajemen menetapkan kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur. Struktur pengendalian internal dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa kebijakan serta prosedur yang ditetapkan perusahaan akan dipatuhi oleh seluruh karyawan.
Sedangkan tujuan pengendalian menurut Tunggal (2013) yaitu:
a. Keandalan dan intergritas informasi. Komponen pengendalian “informasi dan komunikasi” secara utuh menjelaskan dan mencakup tujuan tersebut.
b. Ketaatan dengan kebijakan rencana dan prosedur organisasi. Komponen pengendalian “aktivitas pengendalian” menunjukan bahwa penetapan dan ketaatan yang diperkuat terhadap kebijakan dan prosedur untuk mempertahankan organisasi dalam jalur terhadap mencapai tujuan.
c. Mengamankan harta, pemakaian sumber daya yang ekonomis dan efisiensi untuk mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan.
d. Kepatuhan terhadap hukum, regulasi dan kontrak.
Menurut Romney (2016), tujuan pengendalian internal adalah sebagai berikut:
a. Mengamankan aset agar terhindar dari kecurangan.
b. Mengelolah catatan dengan detail yang baik untuk melaporkan aset perusahaan secara wajar dan akurat.
c. Memberikan informasi yang akurat dan reliable.
d. Menyimpan laporan keuangan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
e. Mendorong dan memperbaiki efisiensi operasional.
f. Mendorong ketaatan terhadap kebijakan manajerial yang telah ditetapkan.
g. Mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku.
5. Unsur-unsur sistem pengendalian internal
Menurut Mulyadi (2016), unsur pengendalian adalah sebagai berikut:
a. Struktur organasasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas.
Struktur organisasi merupakan kerangka pembagian tanggung jawab fungsional kepada unit-unit dalam organisasi yang dibentuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pokok perusahaan. pembagian tanggung jawab fungsional perusahaan didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
1) Harus dipisahkan fungsi-fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi akuntansi.
Fungsi operasi adalah fungsi yang memiliki wewenang untuk melaksanakan suatu kegiatan misalnya pembelian. Sedangkan fungsi penyimpan adalah yang memiliki wewenang untuk menyimpan aktiva perusahaan. fungsi akuntansi adalah yang memiliki wewenang untuk mencari peristiwa keuangan perusahaan.
2) Suatu fungsi tidak boleh diberi tanggung jawab penuh untuk melaksanakan semua tahap transaksi.
b. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya. Dalam organisasi setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otoritas dari pejabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi tersebut. Oleh karena itu, dalam organisasi harus dibuat sistem yang mengatur pembagian wewenang untuk otoritas atas terlaksananya setiap transaksi.
c. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap organisasi.
Pembagian tanggung jawab fungsional dan sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang telah ditetapkan tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak diciptakan cara-cara untuk menjamin praktik yang sehat dalam pelaksanaannya.
Adapun cara-cara yang ditempuh oleh perusahaan dalam menciptakan praktik yang sehat adalah:
1) Penggunaan formulir bernomor urut cetak yang pemakaiannya harus dipertanggungjawabkan oleh yang berwenang.
2) Pemeriksaan yang mendadak. Pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa memberitahu terlebih dahulu kepada pihak yang akan diperiksa, dengan jadwal yang tidak teratur.
3) Transaksi tidak boleh dilaksanakan dari awal hingga akhir oleh satu orang atau satu unit organisasi, tanpa campur tangan dari organisasi lain.
4) Perputaran jabatan. Perputaran jabatan akan diadakan secara rutin akan dapat menjaga indepedensi pejabat dalam melaksanakan tugasnya.
5) Keharusan mengambil cuti bagi karyawan yang berhak. Selama cuti, jabatan karyawan yang bersangkutan digantikan oleh pejabat lain.
6) Secara periodic diadakan pencocokan fisik kekayaan dengan catatannya. Untuk menjaga kekayaan organisasi dan mengecek ketelitian dan keandalan catatan akuntansinya.
7) Pembentukan unit organisasi yang bertugas untuk megecek efektivitas unsur- unsur pengendalian internal yang lain.
d. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya. Seluruh unsur sebelumnya semua sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang melaksanakannya. Karyawan yang jujur dan ahli dalam bidang yang menjadi tanggung jawabnya akan dapat melaksanakan pekerjaannya dengan efisiensi dan efektif. Untuk mendapatkan karyawan yang kompeten dan dapat dipercaya dapat ditempuh dengan cara berikut:
1) Seleksi calon karyawan berdasarkan persyaratan yang dituntut pekerjaannya.
2) Pengembangan pendidikan karyawan selama menjadi karyawan perusahaan, sesuai dengan tuntutan perkembangan pekerjaannya.
Menurut Jusup (2014), menyebutkan bahwa terdapat lima komponen utama pengendalian internal yang semuanya harus ada dan harus berfungsi untuk menyimpulkan bahwa pengendalian internal efektif dalam setiap kategori tujuan.
a. Merupakan lingkungan pengendalian
Merupakan tanggung jawab manajemen untuk menegaskan bahwa integritas merupakan nilai suatu organisasi dan bahwa aktivitas tidak etis tidak dapat ditoleransi.
b. Penilaian resiko
Perusahaan harus mengidentifikasi dan menganalisis sebagai faktor yang bisa menimbulkan resiko bagi perusahaan dan harus menentukan bagaimana mengelolah resiko tersebut.
c. Aktivitas pengendalian
Manajemen harus merancang kebijakan dan prosedur untuk mengurangi terjadinya penyelewengan serta menghadapi resiko tertentu yang dihadapi perusahaan.
d. Informasi dan komunikasi
Sistem pengendalian internal harus mengomunikasikan semua informasi penting ke semua lapisan dalam organisasi dan ke pihak luar organisasi.
e. Monitoring
Sistem pengendalian internal harus memonitoring secara periodik dengan memadai. Penyimpangan yang signifikan harus dilaporkan kepada manajemen puncak dan atau dewan komisaris.
6. Prosedur Pengendalian Internal
Dalam sebuah perusahaan diperlukan prosedur pengendalian internal yang menurut Horngren and Harrison (2010) sebagai berikut:
a. Karyawan yang kompeten, dapat diandalkan dan etis.
b. Pemberian tanggung jawab yaitu, dalam sebuah perusahaan yang memiliki pengendalian yang baik, tidak ada tugas penting yang terlewatkan. Setiap karyawan memiliki tanggung jawab tertentu.
c. Pemisah tugas yaitu, manajemen yang cerdas akan membagi tanggung jawab diantara dua atau lebih orang. Pemisahan tugas akan membatasi penipuan dan meningkatkan keakuratan catatan akuntansi.
d. Audit yaitu, untuk memvalidasi catatan akuntansinya sebagai besar perusahaan melakukan audit. Audit adalah pemeriksaan laporan keuangan dan sistem akuntansi perusahaan.
e. Dokumen yaitu, menyediakan rician transaksi bisnis. Dokumen meliputi faktur dan pesanan. Dokumen harus diberi nomor urut untuk mencegah pencurian dan tidak efisiensi.
f. Perangkat elektronik yaitu, sistem akuntansi semakin berkurang bergantung pada dokumen dan lebih mengandalkan pada perangkat penyimpangan digital.
g. Pengendalian lainnya yaitu, perusahaan menyimpan dokumen dalam brangkas tahan api. Alaram anti pencuri akan melindungi bangunan, kamera keamanan akan melindungi property lainnya. Cuti wajib dan rotasi tugas akan memperbaiki pengendalian internal.
7. Prinsip-Prinsip Dan Keterbasan Sistem Pengendalian Internal
Untuk dapat mencapai tujuan pengendalian akuntansi, suatu sistem harus memenuhi prinsip pengendalian internal menurut (Jusup, 2014) yaitu:
a. Penetapan tanggung jawab secara jelas.
b. Penyelenggaraan pencatatan yang memadai.
c. Pengasuransian kekayaan dan karyawan perusahaan.
d. Pemisahaan pencatatan dan penyimpanan aktiva.
e. Pemisahan tanggung jawab atas transaksi berkaitan.
f. Pemakaian peralatan mekanis.
g. Pelaksanaan pemisahan secara independent.
Kemudian keterbatasan menurut Mulyadi (2010), terdapat lima keterbasan atas pengendalian internal yaitu sebagai berikut:
a. Kesalahan dalam pertimbangan.
Manajemen dan personel lain sering kali salah paham dalam mempertimbangkan keputusan bisnis yang dalam melaksanakan tugas rutin karena tidak memadainya informasi, keterbatasan waktu atau tekanan lain.
b. Gangguan.
Gangguan dalam pengendalian yang telah ditetapkan dapat terjadi karena personel keliru memahami perintah atau membuat kesalahan karena kelalaian, tidak adanya perhatian atau kelelahan.
c. Kolusi.
Tindakan bersama dalam individu untuk tujuan kejahatan tersebut disebut sebagai kolusi. Kolusi mengakibatkan bobolnya pengendalian internal yang dibangun untuk melindungi kekayaan entitas dan tidak terdeteksinya kecurangan oleh sistem pengendalian internal yang dirancang.
d. Pengabaian oleh manajemen.
Manajemen dapat mengabaikan kebijakan atau prosesur yang telah ditetapkan untuk tujuan yang tidak sah seperti keuntungan pribadi manajer, penyajian kondisi keuangan yang berlibahan atau kepatuhan semu. Contohnya adalah manajer melaporkan jumlah laba yang lebih tinggi dari jumlah sebenarnya untuk mendapat bonus lebih tinggi.
e. Biaya lawan manfaat.
Biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan struktur pengendalian internal tidak boleh melebihi manfaat yang diharapkan dari pengendalian tersebut. Karena pengukuran secara tepat baik biaya maupun manfaat biasanya tidak mungkin dilakukan, manajemen harus memperkirakan dan mempertimbangkan secara kuantitatif dan kualitatif dalam mengevaluasi biaya dan manfaat suatu struktur pengendalian internal.
8. Kas
a. Pengertian
Kas adalah suatu alat pertukaran yang dapat diterima untuk pelunasan utang, dan dapat diterima sebagai suatu setoran ke bank dengan jumlah sebesar nominalnya, juga dapat disimpan dalam bank atau tempat-tempat lain yang dapat sewaktu-waktu diambil (Baridwan, 2008).
Menurut Soemarso (2010), kas adalah segala sesuatu baik yang berbentuk uang atau bukan, yang dapat tersedia dengan segera dan dapat diterima sebagai pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya.
Menurut Harahap (2010), kas adalah uang dan surat berharga lainnya yang dapat diuangkan setiap saat serta surat berharga lainnya yang sangat lancer yang memiliki syarat yaitu setiap saat dapat ditukar menjadi kas, tanggal jatuh temponya sangat dekat, kecil kemungkinan resiko perubahan nilai yang disebabkan perubahan tingkat harga.
b. Komposisi Kas
Menurut Baridwan (2008), kas adalah alat pertukaran yang dapat diterima sebagai pelunasan utang dan sebagai suatu setoran bank dengan jumlah sebesar nominalnya, juga dapat disimpan dalam bank atau tempat-tempat lainnya yang dapat sewaktu-waktu dapat diambil. Komposisi kas yaitu:
1) Kas yang ada di perusahaan a) Mata uang kertas dan logam b) Dana kas kecil
c) Cek yang disetorkan ke bank ( personal check, traveler check, chaser bank, draft and money order)
2) Kas yang ada di bank, meliputi semua setoran yang sewaktu-waktu dapat diambil serta bukti setoran yang sewaktu-waktu dapat diambil.
c. Tujuan Pengendalian Internal Kas
Menurut Baridwan (2008), tujuan pengendalian internal kas yaitu:
1. Menggunakan dana perusahaan secara efektif.
2. Menyediakan kas perusahaan yang cukup untuk keperluan operasional perusahaan.
3. Untuk memastikan bahwa pengeluaran kas hanya untuk tujuan yang terotorisasi.
4. Keandalan dalam pencatatan akuntansi.
5. Melindungi saldo kas dari penyelewengan, manipulasi dan pencurian.
9. Sistem Pengendalian Internal Penerimaan Kas a. Pengertian
Menurut Mulyadi (2016), sistem penerimaan kas adalah kas yang diterima perusahaan baik yang berupa uang tunai maupun surat-surat berharga yang mempunyai sifat dapat segera digunakan, yang berasal dari transaksi perusahaan maupun penjualan tunai, pelunasan piutang atau transaksi lainnya yang dapat menambah kas perusahaan. sumber penerimaan kas terbesar suatu perusahaan dagang berasal dari transaksi penjualan.
b. Prosedur Penerimaan Kas
Penerimaan kas perusahaan berasal dari dua sumber utama yaitu penerimaan kas dari penjualan tunai dan penerimaan kas dari piutang (Mulyadi, 2010).
Prosedur penerimaan kas dari penjualan tunai. Berdasarkan sistem pengendalian yang baik, sistem penerimaan kas dari penjualan tunai mengharuskan:
1. Penerimaan kas dari penjualan tunai harus segera disetor ke bank dalam jumlah penuh dengan cara melibatkan pihak lain selain kasir untuk melakukan internal check.
2. Penerimaan kas dari penjualan tunai dilakukan dengan menggunakan kartu kredit yang melibatkan bank penerbit kartu kredit dalam pencatatan transaksi penerimaan kas.
Prosedur penerimaan kas dari piutang. Untuk menjamin diterimanya kas oleh perusahaan, prosedur penerimaan kas dari piutang mengharuskan:
1. Debitur melakukan pembayaran dengan cek atau dengan cara pemindahan buku melalui rekening bank.
2. Kas yang diterima dalam bentuk cek dari debitur harus segera disetor ke bank dalam jumlah penuh.
c. Unsur-Unsur Pengendalian Internal Penerimaan Kas
Unsur pengendalian yang seharusnya yang ada dalam sistem penerimaan kas dari penjualan tunai dan piutang menurut (Mulyadi, 2010) yaitu:
Penjualan tunai:
1. Oraganisasi
a) Fungsi penjualan harus terpisah dari fungsi kas.
b) Fungsi kas harus terpisah dari fungsi akuntansi.
c) Transaksi penjualan tunai harus dilaksanakan oleh fungsi penjualan.
2. Sistem otorisasi dan prosedur pencatatan
a) Penerimaan order dari pembeli diotorisasi oleh fungsi penjualan dengan menggunakan formulir faktur penjualan tunai.
b) Penerimaan kas diotorisasi oleh fungsi kas dengan cara membubuhkan cap
“lunas” pada faktur penjualan tunai dan penempelan pita register kas pada faktur tersebut.
c) Penjualan dengan kartu kredit bank didahului dengan permintaan otorisasi dari bank penerbit kartu kredit.
d) Penyerahan barang diotorisasi fungsi pengiriman dengan cap “sudah diserahkan” pada faktur penjualan tunai.
e) Pencatatan kedalam buku jurnal diotorisasi oleh fungsi akuntansi dengan cara memberikan tanda pada faktur penjualan tunai.
3. Praktek yang sehat
a) Faktur penjualan tunai nomor urut tercetak dan pemakaiannya dipertanggungjawabkan oleh fungsi penjualan.
b) Jumlah kas yang diterima dari penjualan tunai disetor seluruhnya ke bank pada hari yang sama dengan traksaksi penjualan tunai atau hari kerja berikutnya.
c) Perhitungan saldo kas yang ada ditangan fungsi kas secara periodik dan secara mendadak oleh fungsi pemeriksa internal.
Unsur pengendalian internal dalam sistem penerimaan kas dari piutang adalah:
1. Organisasi
a) Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi penagihan dan fungsi penerimaan kas.
b) Fungsi penerimaan kas harus terpisah dari fungsi akuntansi.
2. Sistem otorisasi dan prosedur pencatatan
a) Debitur diminta untuk melakukan pembayaran dalam bentuk cek atas nama atau dengan cara pemindah pembukuan.
b) Fungsi penagihan melakukan penagihan hanya atas dasar daftar piutang yang harus ditagih yang dibuat oleh fungsi akuntansi.
c) Pengkreditan rekening pembantu piutang oleh fungsi akuntansi (bagian piutang) harus didasarkan atas surat pemberitahuan yang berasal dari debitur.
10. Sistem Pengendalian Internal Pengeluaran Kas a. Pengertian
Pengertian sistem pengendalian internal pengeluaran kas menurut Mulyadi, (2016), sistem akuntansi pengeluaran kas pada umumnya didefinisikan sebagai organisasi formulir, catatan dan laporan yang dibuat untuk melaksanakan kegiatan pengeluaran baik dengan cek maupun dengan uang tunai untuk mempermudah setiap pembiayaan pengelolaan perusahaan.
b. Unsur-Unsur Pengendalian Internal Pengeluaran Kas
Sistem pengendalian internal pengeluaran kas yang efektif dalam perusahaan harus memiliki unsur-unsur pokok agar tujuan dapat tercapai, menurut Mulyadi, (2016) unsur sistem pengendalian internal pengeluaran kas adalah sebagai berikut:
1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas.
Merupakan kerangka untuk membagi tanggung jawab fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pokok perusahaan. pembagian tanggung jawab fungsional dalam organisasi didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Fungsi penyimpanan kas harus terpisah dari fungsi akuntansi.
b) Transaksi penerimaan dan pengeluaran kas tidak boleh dilaksanakan oleh bagian kas sejak awal sampai akhir transaksi, tanpa campur tangan dari fungsi yang lain
2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapat dan biaya. Setiap transaksi yang terjadi di perusahaan harus mendapat otorisasi dari pejabat yang mempunyai wewenang untuk memberikan persetujuan. Maka dari itu perusahaan harus membuat sistem yang bisa mengatur pembagian wewenang untuk otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi.
3. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi.
Pembagian tanggung jawab fungsional dan sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang telah ditetapkan tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak diciptakan cara-cara untuk menjamin praktik yang sehat dalam pelaksanaannya.
Adapun cara-cara yang umumnya ditempuh perusahaan untuk menciptakan prkatik yang sehat adalah:
a) Penggunaan formulir bernomor urut tercetak yang pemakaiannya harus dipertanggungjawabkan oleh yang berwenang.
b) Pemeriksaan mendadak dilaksanakan tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak yang akan diperiksa.
c) Perputaran jabatan untuk menghidari terjadinya persengkongkolan.
d) Secara periodik diadakan pencocokan fisik kekayaan dengan catatannya.
e) Keharusan pengambilan cuti bagi karyawan yang berhak.
f) Pembentukan unit organisasi yang bertugas untuk mengecek efektivitas unsur- unsur sistem pengendalian internal.
4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawab pekerjaannya.
Bagaimanapun baiknya struktur dalam perusahaan, sistem otorisasi prosedur pencatatan, serta berbagai cara yang diciptakan untuk mendorong praktik yang sehat, semua sangat tergantung kepada sumber daya manusia untuk melaksanakannya. Berikut ini adalah cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan karyawan yang kompeten dan dapat dipercaya:
a) Seleksi calon karyawan bedasarkan persyaratan yang dituntut pekerjaanya.
b) Pendidikan karyawan selama menjadi karyawan perusahaan, sesuai dengantuntutan perkembangan pekerjaannya.