• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA KERJA TAHUN 2020 DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RENCANA KERJA TAHUN 2020 DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR

Jl. Kesehatan No. 3 Telp/Fax. (0251) 8331753 Kota Bogor Kode Pos 16161 website : www.dinkes.kotabogor.go.id, e-mail : [email protected]

RENCANA KERJA

TAHUN 2020

(2)

Rencana Kerja 2020

BAB I PENDAHULUAN

1. Latarbelakang

Salah satu tujuan dilaksanakannya desentralisasi pembangunan kesehatan adalah percepatan pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang optimal dengan salah satu caranya adalah mendekatkan pelayanan kepada masyarakat melalui upaya-upaya program yang efektif, efisien dan tepat sasaran dengan ditunjang penggunaan sumberdaya –sumberdaya yang dimiliki secara optimal.

Untuk mendukung pelaksanaan upaya program kesehatan yang efektif, efisien dan tepat sasaran tersebut dibutuhkan ketersediaan anggaran, data dan informasi kesehatan yang akurat sebagai bahan dalam penyusunan perencanaan program yang “evidence base” , diharapkan dengan anggaran yang cukup serta data dan informasi yang akurat maka upaya-upaya program yang direncanakan betul-betul dapat menyelesaikan permasalahan kesehatan yang muncul di masyarakat.

Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan adanya penyempurnaan sistem perencanaan dan penganggaran, baik pada aspek proses dan mekanisme serta tahapan pelaksanaan musyawarah perencanaan.

Sesuai Peraturan Walikota Nomor 32 Tahun 2017 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Daerah (RKPD) Tahun 2018 dan Permendagri No. 33 Tentang Penyusunan APBD Tahun 2018 sesuai dengan amat pasal 83 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Rencana Kerja Dinas Kesehatan memuat rumusan isu strategis pembangunan kesehatan, prioritas pembangunan kesehatan, rencana kerja dan anggaran kesehatan yang mengacu pada Reviuw Renstra Kota Bogor, RKPD Kota Bogor dan Renstra Dinas Kesehatan.

(3)

Rencana Kerja 2020

Rencana Kerja Dinas Kesehatan Tahun 2020 disusun dengan maksud menyediakan sebuah dokumen perencanaan tahunan yang digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA). Rencana Kerja Dinas Kesehatan memuat rumusan isu strategis pembangunan kesehatan, prioritas pembangunan kesehatan, rencana kerja dan anggaran kesehatan yang senantiasa mengacu pada subtansi yang tertuang dalam dokumen Renstra, baik yang berkenaan dengan pernyataan Visi, Misi, tujuan dan sasaran hingga kebijakan, program dan tolok ukur kinerja yang telah ditetapkan untuk dicapai pada tahun anggaran 2015

Hubungan Rencana Kerja Tahunan SKPD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya.

Renja/RKT merupakan dokumen perencanaan taktis-strategis yang menjabarkan potret permasalahan pembangunan untuk memecahkan

PERENCANAAN PENGANGGARAN

RPJP DAERAH (20 tahun)

RPJM DAERAH (5 tahun)

RENSTRA SKPD (5 th)

RKPD (1 th)

RENJA SKPD (1 h) diacu

Pedoman

Pedoman

dijabarkan Pedoman

KUA PPAS

Pedoman

RAPBD APBD

RKA SKPD Pedoman

Musrenbang Tahunan

DPA SKPD

PLATFOM WALIKOTA

RPJMD Renstra SKPD

RKPD Renja SKPD

APBD RKA SKPD

KEP. WALIKOTA RINCIAN APBD

DOK.

PELAKSANAAN ANGGARAN 5 Tahun

1 Tahun

1 Tahun

(4)

Rencana Kerja 2020

permasalahan daerah secara terencana dan bertahap melalui sumber pembiayaan APBD setempat, dengan mengutamakan kewenangan yang wajib disusun sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah.

2. Landasan Hukum

Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Kesehatan Kota Bogor Tahun 2020 disusun berdasarkan landasan hukum sebagai berikut :

a. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4010);

b. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 4421);

c. Undang Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Kesehatan Nasional;

d. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

e. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;

f. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063;

g. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

h. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan;

(5)

Rencana Kerja 2020

i. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;

j. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang - undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5357;

k. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah;

l. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah;

m. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2018 tentang Kerjasama Daerah;

n. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal;

o. Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

p. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019;

q. Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan / SDGs;

r. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang sudah didilakukan perubahan dengan permendagri Nomor 58 Tahun 2007 dan Permendagri No 21 Tahun 2011;

s. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang tata cara perencanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan daerah tentang rencana pembangunan jangka panjang daerah dan rencana pembangunan jangka menengah daerah serta tata cara perubahan rencana pembangunan jangka panjang daerah dan rencana pembangunan jangka menengah daerah dan rencana kerja pemerintah daerah;

t. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 100 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal;

u. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat;

(6)

Rencana Kerja 2020

v. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46 Tahun 2015 tentang Akreditasi Puskesmas, Klinik Pratama, Tempat Praktik Mandiri Dokter, Dan Tempat Praktik Mandiri Dokter Gigi;

w. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan pendekatan Keluarga;

x. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 04 Tahun 2019 tentang Pedoman Teknis Pelayanan Kesehatan Bidang Kesehatan;

y. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 Tahun 2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastuktur;

z. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2019 tentang Klasifikasi dan Perijinan Rumah Sakit;

å. Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat;

ä. Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 19 Tahun 2019 tentang Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM);

ö. Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 3 tentang 2005 Penyelenggaran Pembangunan Kesehatan Provinsi Jawa Barat;

aa. Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi Jawa Barat;

bb. Peraturan Intruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat;

cc. Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 3 Tahun 2010 tentang Organisasi Perangkat Daerah;

dd. Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 3 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Kesehatan;

ee. Peraturan Daerah Kota Bogor nomor 4 Tahun 2006 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan.

3. Tujuan, Sasaran dan Fungsi a. Tujuan

(7)

Rencana Kerja 2020

Tujuan Penyusunan Rencana Kerja Dinas Kesehatan Kota Bogor adalah untuk menciptakan sinergitas antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan daerah dan menciptakan efisiensi alokasi sumberdaya dalam pembangunan kesehatan di Kota Bogor b. Sasaran

Sasaran Rencana Kerja Dinas Kesehatan Kota Bogor adalah tersusunnya dokumen perencanaan tahunan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yang memuat prioritas pembangunan kesehatan, rencana kerja , program dan kegiatan yang tercermin dalam bentuk kerangka kegiatan dan anggaran.

c. Fungsi

Rencana Kerja Dinas Kesehatan Kota Bogor berfungsi sebagai pedoman dalam penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran dan Penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran.

4. Sistematika Penulisan Bab 1 Pendahuluan

1) Latar Belakang 2) Landasan Hukum

– UU, PP, Peraturan Perundangan Lainnya 3) Maksud dan Tujuan

– Tujuan penyunan Rencana Kerja SKPD 4) Sistematika Penulisan

Bab 2 Evaluasi Pelaksanaan Renja Tahun 2018

1) Evaluasi Pelaksanaan Renja Tahun lalu dan capaian Renstra SKPD

Bab ini memuat kajian terhadap hasil evaluasi pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu dan perkiraan capaian tahun berjalan

2) Analisa Kinerja Pelayanan SKPD

Bab ini menguraikan tentang capaian kinerja pelayanan berdasarkan indikator kinerja yang sudah ditentukan dalam SPM ataupun IKK

3) Isu Isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi SKPD Menjelaskan tentang :

(8)

Rencana Kerja 2020

a) Kinerja pelayanan dan hal kritis yang terkait dengan pelayanan SKPD

b) Permsalahan dan hambatan yang dihadapi dalam menyelenggarakan tugas dan fungsi SKPD

c) Dampak terhadap pencapaian RJPMD dan terhadap capaian program nasional

d) Tantangan dan peluang dalam meningkatkan pelayanan

Bab 3 Tujuan, Sasaran, Program dan Kegiatan

1) Telaah terhadap kebijakan Nasional dan Provinsi 2) Tujuan dan Sasaran Rencana Kerja

3) Program dan Kegiatan

Bab 4 Penutup Lampiran-lampiran

(9)

Rencana Kerja 2020

BAB II

EVALUASI PELAKSANAAN KINERJA TAHUN 2019 A. Program-program Dinas Kesehatan dan Capaian pada TA 2019

Dacin adalah alat utama dalam memantau pertumbuhan balita yang tersedia di Posyandu. Dari jumlah 969 Posyandu yang ada di Kota Bogor, dacin-dacin tersebut perlu dilakukan Tera/Kalibrasi agar dapat berfungsi dengan baik sehingga hasil ukurannya lebih valid dan dapat dijadikan acuan.

1) Pemberian makanan tambahan

a) Pemberian Makanan Tambahan untuk balita gizi buruk dan balita gizi kurang

1. Pengadaan Makanan Formula dan susu untuk Balita Gizi Buruk:

Diberikan untuk 65 balita gizi sangat Kurus dan 466 balita gizi kurus (kurang)

2. Pengadaan PMT berupa Formula 75, Formula 100, susu Balita dan biskuit MP-ASI, yang diberikan selama 6 bulan. 1 orang balita diberikan :

a) Formula 75 selama 7 hari sebanyak 7 sachet/hari.

b) Formula 100 selama 21 hari sebanyak 7 sachet/hari.

c) Mineral mix selama 28 hari sebanyak 1 sachet/hari.

d) Susu Formula 200 gr selama 4 bulan.

e) Biskuit MP-ASI selama 3 bulan.

3. Dari 531 balita ( 65 gizi sangat kurus dan 466 gizi kurus (kurang) yang diberi PMT selama 6 bulan pemberian hasilnya adalah sebagai berikut:

1) Balita sangat kurus menjadi baik :15 balita (23,0%) 2) Menjadi kurus : 23 balita (35 %)

3) Status Gizi Buruk tetap Gizi buruk : 27 balita (7,1 %) dengan penyakit penyerta ( Meningitis, Down Sindrom, Jantung, kelinan bawaan , TB Paru, dll).

4) Status gizi kurus menjadi baik : 340 balita (24,60%) 5) kurus tetap kurus : 126

a) Pemberian Makanan kepada PMT Bumil Kek

(10)

Rencana Kerja 2020

Dari 1209 ibu hamil KEK (Kurang Energi Kronis) yang mendapatkan PMT sebanyak 382 orang (32%) dimana pemberian ini lebih besar dari target kemenkes (18%, )sementara kasus yang tidak mendapatkan PMT ditanggulangi dengan penyuluhan dan pemantauan berkala selama ANC dan di bulan November ada bantuan PMT dari Kemenkes untuk semua bumil KEK.

Dasar pemberian PMT pada ibu hamil KEK adalah karena masih tingginya kasus bayi dengan BBLR yang bahkan menjadi penyebab kematian 30 % pada neonates. Dan BBLR disebabkan ibu hamil yang menderita KEK.

- PERSENTASE BALITA GIZI BURUK

Persentase jumlah balita yang menderita gizi buruk di Kota Bogor pada tahun 2018 adalah sebesar 0,47%. Besarnya persentase ini menunjukan adanya penurunan balita gizi buruk dari tahun 2014 yang mencapai 0,4. Penurunan persentase balita gizi buruk di Kota Bogor mengindikasikan adanya peningkatan kesehatan balita itu sendiri dan kesadaran ibu-ibu untuk memberikan makanan yang bergizi untuk anaknya.

Adapun perkembangan kondisi balita gizi buruk di dalam kurun waktu tahun 2014-2018

Tahun Proporsi Rasio

2015 0,53 0,3

2016 0,25 0,2

2017 0,15 0,1

2018 0,05 0

2019

b) Pemberian PMT pada TB MDR

PMT ini sangat memberikan kontribusi pada penyembuhan , hal ini terlihat dari semua penderita yang diberi PMT mengalami kenaikan BB.

Tabel

(11)

Rencana Kerja 2020

Pemantauan Status Pertumbuhan Balita di Posyandu

- D/S adalah balita yang ditimbang dibandingkan dengan jumlah Balita di Kota Bogor. Pada tahun 2018 rata-rata balita yang ditimbang sebanyak 77,6% balita, hal ini meningkat setiap tahunnya bila dilihat pada tahun 2016 74,09% dan 2017 74,64%.

- N/D adalah Balita yang naik Berat Badannya dibandingkan jumlah balita ditimbang di Kota Bogor. Pada tahun 2018 rata-rata balita yang naik berat badannya 80,2%.

- Pemberian Tablet Tambah darah (TTD).

1. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular. Kegiatan-kegiatannya sebagai berikut :

1) Kegiatan Imunisasi

Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah penyakit PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi) yang dilakukan melalui beberapa kegiatan yaitu:

a) Pemberian imunisasi Hepatitis B, BCG, DPT-Hb-Hib, Polio, dan Campak Sasarannya adalah 19.493 bayi, dilaksanakan pada bulan Januari – Desember 2018 bertempat di Puskesmas dan Layanan kesehatan swasta di Kota Bogor.

Tabel

Pemberian Imunisasi Tahun 2018 No Kriteria dan

Target Tahun 2016

(%) Tahun 2017

(%) Tahun 2018 (%)

1. D/S (85%) 74,09 74,64 77,60

2. N/D (85%) 79,91 80,10 80,20

No Uraian

Tahun 2018 Jumlah bayi yang

diimunisasi %

1. Imunisasi BCG 19.452 99,79%

2. Imunisasi DPT-

Hb- Hib3 18.976 97%

3. Imunisasi Polio-4 19.079 97,88%

4. Imunisasi

Campak 18.874 96,82%

(12)

Rencana Kerja 2020

2) Pemberantasan Penyakit TB

a) Evaluasi Distrik/Monev TB Paru

Dilakukan untuk evaluasi kegiatan pemberantasan TB Paru dan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan program tuberkulosis bagi petugas kesehatan di 32 institusi kesehatan (25 dokter, 25 perawat pengelola program TB, 25 petugas lab (dari seluruh puskesmas Kota Bogor) dan 14 orang petugas dari 5RS, lapas Paledang dan BP swasta (BP Melania)).

b) Pencegahan infeksi dan pengobatan TB MDR di puskesmas

Bertujuan untuk melakukan evaluasi kegiatan pemberantasan TB Paru dan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan Dokter Praktek Mandiri (DPM) dalam program tuberkulosis dengan strategi DOTS dengan sasaran 100 orang Dokter Paktek Mandiri (DPM).

Kasus TB paru baru BTA positif yang ditemukan sebanyak 1040 dari target 1092 kasus. Sehingga penemuan kasus baru TB paru BTA positif pada tahun 2018 mencapai 95,2%. Untuk angka kesembuhan, angka keberhasilan pengobatan TBC dan Angka notifikasi kasus TBC per 100.000 penduduk, belum mencapai target yaitu kesembuhan 85,6%

(target 86%), keberhasilan pengobatan TBC 86,3% (target 88%), dan angka notifikasi kasus TBC per 100.000 penduduk mencapai 219 (target 180).

Hambatan yang ditemui yaitu belum semua rumah sakit dan dokter praktek swasta melaksanakan pengobatan TB paru dengan pendekatan sistem DOTS , masih ada penderita ada yang drop out karena tidak patuh minum obat ataupun pindah, kemungkinan adanya resistensi obat pada penderita yang tidak patuh minum obat, dan belum semua PMO mendapat pelatihan.

3) Surveilans

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pengamatan terhadap penyakit dan faktor risikonya agar tidak terjadi kejadian luar biasa atau wabah dilakukan melalui beberapa kegiatan yaitu :

a) Pengelolaan surveilans secara online dan elektronik

(13)

Rencana Kerja 2020

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pengamatan 12 jenis penyakit menular berpotensi wabah agar dapat dilakukan keputusan secara cepat dan akurat oleh Petugas Surveilan Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan RS di Kota Bogor dari bulan Januari- Desember 2018. Keluaran : terlaksananya pengelolaan surveilans oleh petugas di 25 puskesmas dan 17 rumah sakit dalam bentuk pengamatan 12 jenis penyakit menular yang berpotensi wabah dan penyakit terpadu puskesmas melalui manual dan online, diperolehnya 100% kelengkapan laporan surveilans, dan diperolehnya 100% ketepatan laporan surveilans.

b) Monev software Surveilans on line dan EWARS bagi petugas Puskesmas dan RS

Dilakukan kepada 25 Pemegang Program Surveilans Puskesmas dan 17 Petugas Rekam Medis pengelola surveilans Rumah Sakit dengan tujuan meningkatkan keterampilan dalam penggunaan software surveilans on line dan SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon). Dilaksanakan di Hotel Permata Kota Bogor pada tanggal 08 – 09 November 2017.

Keluaran meningkatnya keterampilan 25 orang petugas surveilan Puskesmas dan 17 orang petugas surveilan RS dalam penggunaan software surveilans on line dan SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon) agar terlacaknya penyakit berpotensi KLB.

4) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit ISPA dan Diare

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit ISPA dan Diare pada balita dilakukan melalui kegiatan Evaluasi Program Diare dan ISPA. Hasil dari kegiatan ini adalah Terevaluasinya kegiatan program ISPA dan Diare di 25 Puskesmas dan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan petugas Puskesmas dalam tatalaksana ISPA dan Diare.

Dalam tahun 2017, pencapaian penemuan pneumonia pada balita baru mencapai 63 % (target 85%). Hambatan yang ditemui yaitu kepatuhan dalam penerapan manajemen terpadu balita sakit. Hambatan yang ditemui yaitu kepatuhan dalam penerapan Manajemen Terpadu Balita Sakit.

Sehingga perlu terus dilakukan upaya kegiatan evaluasi program bagi pengelola program P2 Diare, peningkatan pengetahuan kader posyandu

(14)

Rencana Kerja 2020

tentang penemuan dan tatalaksana diare, dan penyediaan sarana penyuluhan tentang diare.

Kasus malaria yang ditemukan di Kota Bogor sebanyak 15 kasus dan merupakan kasus malaria impor. Penderita telah mendapatkan penanganan oleh petugas kesehatan melalui pengobatan dan rujukan ke rumah sakit (penanganan kasus 100%).

5) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit HIV Tabel

Hasil Pencapaian Kegiatan

No Uraian Tahun

2016 (%)

Tahun 2017

(%)

Tahun 2018

(%) 1. Prevalensi HIV/AIDS (persen) dari total

populasi. 0,36 % 0,15 % 0,42%

2. Prevalensi HIV/AIDS (persen) dari total populasi usia 15 – 49 tahun.

0,63 % 0,54 % 0,40%

3. Presentase Konseling dan Test HIV

(VCT/PITC). 48,70 % 37,30 % 15%

4. Persentasi ibu hamil positif HIV dari total ibu hamil yang di test HIV.

0,31 % 0,15 % 0,37%

5. Presentase populasi perempuan usia 15- 24 tahun yang memiliki pengetahuan

komprehensif tentang HIV/AIDS. 84,56 % 75 % 37,9 % 6. Presentase populasi laki-laki usia 15-24

tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.

7. Proporsi penduduk terinfeksi HIV lanjut yang memiliki akses pada obat-obatan anti retroviral.

48,91 % 65,93 % 21,9%

Pada tahun 2018 yang diperiksa ke klinik VCT (Voluntary Counseling Testing) sebanyak 22.345 orang, dengan jumlah kasus baru HIV positif ditemukan sebanyak 433 orang. Ibu hamil yang positif HIV ada 43 orang dari total bumil yang diperiksa sebanyak 11.614 orang.

Sejak Tahun 2005 sampai dengan Tahun 2018 jumlah kumulatif penduduk yang dilakukan konseling dan test HIV sebanyak 165.295 orang, dan kasus HIV positif yang ditemukan di Kota

(15)

Rencana Kerja 2020

Bogor ada 4.597 orang. Sehingga persentase konseling dan test HIV sudah mencapai 15 % (dari target 35 %).

Prevalensi HIV / AIDS tahun 2018 yaitu 0,42 % masih memenuhi target prevalensi HIV / AIDS yang diharapkan yaitu <0,5%.

6) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit DBD

Hasil dari pelaksaan Program ini adalah Kasus DBD pada tahun 2017 sebanyak 855 dengan angka kesakitan/IR (Insidene Rate ) 82 per 100.000 penduduk dan jumlah kematian 6 penderita dengan angka kematian/CFR (Case Fatatliy Rate) 0,007. Jumlah ini melebihi angka kesakitan/ IR yang diharapkan pada tahun 2017 yaitu 50 per 100.000 penduduk dan melebihi angka kematian / CFR yang diharapkan pada tahun 2017 yaitu 0,006 . Apabila di bandingkan dengan tahun 2016 terjadi penurunan kasus sebanyak 370 penderita . Angka kesakitan akibat DBD pada tahun 2017 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2016 disebabkan Angka Bebas Jentik padatahun 2017 mengalami peningkatan dibandingkantahun 2016 yaitu 92,1% (Target 95%). Peningkatan Angka bebas jentik (ABJ) ini juga di dukung dengan beberapa upaya kegiatan diantaranya melalui program Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik mulai dari sosialisasi, pertemuan penguatan hingga supervisi, pelatihan juru penggerak PSN DBD, pendistribusian ovitrap di 20 kelurahan endemis DBD, penyuluhan penyakit DBD dan pencegahannya di Sekolah SD dan SMP, dan sistem pelaporan DBD berbasis web dan android.

2. Program Pengadaan, Peningkatan dan Perbaikan Sarana dan Prasarana Puskesmas / Puskesmas Pembantu dan Jaringannya

1) Revitalisasi Puskesmas dan Jaringannya

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan kesehatan, kemudahan akses pelayanan kesehatan dan sarana yang nyaman kepada masyarakat melalui pengadaan, peningkatan, perbaikan puskesmas dan jaringannya. Pada tahun 2017 jumlah puskesmas di Kota Bogor sebanyak 55 unit terdiri dari 25 puskesmas induk dan 30 puskesmas pembantu. Capaian ini belum sesuai dengan target tahun 2017 yaitu 62 unit. Kendala dalam penambahan puskesmas/puskesmas pembantu dikarenakan ketersediaan

(16)

Rencana Kerja 2020

lahan yang terbatas. Namun demikian pada tahun 2017 telah terdapat peningkatan status puskesmas yaitu Puskesmas pembantu Mulyaharja menjadi Puskesmas Induk disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan dan wilayah kerja. Sedangkan untuk puskesmas rawat inap sudah mencapai target yaitu 7 unit dengan target 6 unit. Terdapat penambahan 1 unit yaitu peningkatan Puskesmas Cipaku dari induk menjadi perawatan.

Bentuk kegiatan yang dilakukan pada tahun 2017 yaitu : a) Pembangunan Puskesmas Cipaku menjadi rawat inap.

b) Lanjutan pembangunan Puskesmas Merdeka menjadi rawat inap.

c) Revitalisasi Puskesmas PONED Bogor Tengah.

d) Rehabilitasi Puskesmas Sempur.

e) Rehabilitasi Puskesmas Pembantu Babakan.

f) Rehabilitasi Puskesmas Tanah Sareal.

g) Rehabilitasi Puskesmas Bogor Selatan.

h) Rehabilitasi Puskesmas Sindangbarang.

i) Rehabilitasi Labkesda.

j) Perbaikan pagar Puskesmas Warung Jambu.

k) Permbuatan pagar, paving blok dan garasi di Puskesmas Pulo Armyn.

2) Perencanaan Pengadaan Lahan Puskesmas Lawanggintung

Pada kegiatan ini telah dilakukan pembentukan tim yang terdiri dari unsur pemerintahan di Kota Bogor yaitu Dinas Kesehatan, Bagian Tapem, Bagian Hukum, Bappeda, BPKAD, Kecamatan, Kelurahan, dan Puskesmas dan pembuatan apraisal oleh pihak ke-3 untuk menaksir lahan tanah yang akan dipergunakan untuk relokasi Puskesmas Lawang Gintung. Lahan ini berada di RT.003 RW.005 No.12 Kelurahan Lawanggintung dengan luas tanah 779 M2.

Selanjutnya pada tahun 2018 telah diusulkan untuk tahap persiapan, pengadaan dan penyerahan lahan Puskesmas Lawanggintung pada Rencana Kegiatan Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2018 pada Dinas Kesehatan.

3) Sistem Informasi Kesehatan

Masalah/

(17)

Rencana Kerja 2020

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menunjang pembangunan kesehatan di Kota Bogor dalam rangka pengembangan Sistem informasi Kesehatan Daerah (SIKDA)

4) Peningkatan SDM

Kegiatan ini bertujuan untuk Meningkatkan pelayanan dasar kepada masyarakat di Puskesmas dan Labkesda melalui penyediaan operasional puskesmas dalam pengadaan bahan habis pakai, belanja bahan material, belanja jasa kantor dan pemeliharaan kendaraan serta pengadaan belanja modal.

5) Pelaksanaan DAK Kesehatan dan KB TA 2018 Bidang Pelayanan Dasar - Penyediaan Alat Kesehatan/Penunjang (DAK-2018)

Kegiatan ini merupakan dana bersumber anggara pusat yaitu Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik pada Bidang kesehatan Tahun 2018 dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan sarana pelayanan dasar yaitu penyediaan alat kesehatan/penunjang puskesmas. Kegiatan tersebut tidak bisa dilaksanakan karena terkait dengan aturan dari Kemenkeu bahwa semua pengadaan harus dilaporkan ke KPKN tanggal 31 Agustus 2017. Sedangkan semua proses pengadaan kontraknya di laksanakan di Bulan september sesuai dengan jadwal pada anggaran kas.

3. Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan Tabel

Capaian Indikator Kinerja Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan No Indikator

Kinerja Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Kendala

Target Capaian Target Capaian Target Capaian 1 Presentase

puskesmas dengan e- SIR/SIMPUS

25 25 64 64 80 88

SDM, Sarana ,Prasarana, Komitmen

(18)

Rencana Kerja 2020

Kinerja Program RPJMD tersebut dicapai melalui kegiatan sebagai berikut :

1) Kegiatan Pembinaan dan Pengendalian Sarana Kesehatan Swasta a) Pembinaan Sarana Kesehatan Swasta

Kegiatan ini betujuan untuk standarisasi pelayanan di sarana kesehatan pemerintah dan swasta di Kota Bogor. Kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan adalah Pertemuan sosialisasi peraturan perizinan dan pemantapan pemahaman keselamatan pasien, capaian pembuatan registrasi tenaga kesehatan dalam bentuk surat ijin praktek tenaga kesehatan, pembuatan rekomendasi perijinan sarana kesehatan di Kota Bogor, monitoring sarana kesehatan swasta dan pemerintah dalam bentuk survey pembinaan, pembinaan dan pengawasan RS, pemutakhiran data sarana kesehatan di Kota Bogor, pemetaan sarana kesehatan di kota Bogor, lomba bidan praktek mandiri dan pertemuan workshop pemahaman keselamatan pasien di RS.

b) Akreditasi Puskesmas

Kegiatan ini dilaksanakan melalui kegiatan Pendampingan Akreditasi Puskesmas dan Survey Akreditasi Puskesmas.

Tabel

Puskesmas yang telah Lulus Akreditasi Nasional

No Puskesmas Tanggal Survei

Akreditasi Strata 1. Puskesmas Bogor Utara 10 – 14 Agustus 2016 Madya 2. Puskesmas Pancasan 10 – 14 Agustus 2016 Dasar No Program

Kerja Indikator Sasaran Target

2018 Realisasi

2018 Ket 1. Program

Standarisa si

Pelayanan Kesehatan

Persentase Sarana Kesehatan Swasta yang Terakreditasi

90% (14) 78% (11) Dinkes Capaian Standar Pelayanan

Minimal RSUD Kota Bogor

72% 91,4%

Presentase sarana kesehatan pemerintah yang terkareditasi nasional (%)

76% 68% dari 25 sarana kesehatan Pemerintah

(19)

Rencana Kerja 2020

3. Puskesmas Bondongan 10 – 14 Agustus 2016 Dasar 4. Puskesmas Tanah Sareal 7 – 10 Desember 2016 Utama 5. Puskesmas Cipaku 22 -26 Maret 2017 Madya 6. Puskesmas Bogor Timur 29 Maret – 2 April 2017 Madya 7. Puskesmas Mekar

Wangi

6 – 10 September 2017 Madya 8. Puskesmas Bogor

Selatan

24 – 28 September 2017 Utama 9. Puskesmas Gang Kelor 28 September – 02 Oktober

2017 Utama

10. Puskesmas Kd. Badak 19 – 22 November 2017 Utama 11. Puskesmas Pulo Armyn 23 – 26 November 2017 Madya 12. Puskesmas Tegal

Gundil

29 November – 3 Desember

2017 Madya

13. Puskemas Sindang Barang

2018 Paripurna

14. Puskemas Pasirmulya 2018 Madya

15. Puskemas Merdeka 2018 Utama

16. Puskesmas Bogor Tengah

2018 Utama

17. Puskesmas Warung Jambu

2018 Madya

18. Puskesmas Semplak 2018 Utama

19 Puskesmas Sempur 2018 Madya

c) Pembinaan Laboratorium Puskesmas dan Labkesda Kegiatan- kegiatannya sebagai berikut :

1. Pertemuan Pemantapan Kualitas Eksternal dan Internal Laboratorium, yang diikuti oleh 24 petugas laboratorium / analis laboratorium puskesmas se-Kota Bogor dengan tujuan agar pelayanan Laboratorium di Puskesmas dapat sesuai dengan standar yang berlaku baik secara kualitas eksternal dan internal, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan pasien atas hasil yang dikeluarkan oleh Laboratorium Puskesmas di Kota Bogor.

2. Pertemuan Plebotomy bagi Petugas Laboratorium, diikuti oleh 24 Petugas laboratorium Puskesmas Kota Bogor. Pertemuan ini dilakukan sebagai bentuk pemantapan atas kompetensi

(20)

Rencana Kerja 2020

seorang analis laboratorium yang harus mampu melakukan tindakan plebotomy terhadap pasien.

Tabel

Laboratorium yang telah ter ISO

3. Peningkatan Pelayanan Laboratorium Kesehatan Daerah (LABKESDA) Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan berupa :

a) Pengadaan reagensia.

b) Kalibrasi peralatan laboratorium.

c) Pengadaan alat laboratorium HbA1c Analyzer.

d) Assesmen akreditasi ISO 17025 dan ISO 15189.

e) Peningkatan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan petugas.

f) Pelayanan laboratorium kepada pengunjung.

4. Peningkatan Kunjungan Rawat jalan

Berdasarkan data RSUD Kota Bogor bahwa Jumlah kunjungan Instalasi Rawat Jalan sampai dengan Desember tahun 2017 sebesar 252.681 atau meningkat sebesar 16.01% dari jumlah kunjungan tahun 2016 sebesar 218.067. Sedangkan peningkatan kunjungan Instalasi Rawat Jalan yaitu sebesar 66% dari target tahun 2017 sebesar 50%.

No Tahun Puskesmas Badan Sertifikasi

1 2016 Labkesda KAN

ISO 15189 (Lab Klinik) ISO 17025 (Lab Kesmas)

2 2011 Bogor Timur WQA

3 Bogor Selatan WQA

4 Bogor Tengah Sucofindo

4 Bogor Tengah Sucofindo

5 2012 TegalGundil WQA

6 KedungBadak WQA

7 Semplak WQA

8 2013 Sindang Barang Tuv Nord

9 Pasir Mulya Tuv Nord

10 Tanah Sareal Tuv Nord

11 2014 Cipaku TCL

12 Mekar Wangi TCL

13 Gang Kelor TCL

(21)

Rencana Kerja 2020

Jumlah pasien BPJS dari Kunjungan Rawat jalan mencapai 94,61%

(239.021 Pasien).

Jumlah kunjungan Instalasi Gawat Darurat sampai dengan Desember tahun 2017 sebesar 49.325 atau naik sebesar 11,65% dari jumlah kunjungan tahun 2016 sebesar 44.178. Sedangkan peningkatan kunjungan Instalasi Gawat Darurat yaitu sebesar 70% dari target 59%.

Dari Jumlah kunjungan IGD tahun 2017, pasien BPJS dari Kunjungan IGD mencapai 84,77% (41.813 Pasien). Sedangkan berdasarkan domisili pasien IGD, masih didominasi oleh pasien luar kota Bogor.

Jumlah kunjungan Instalasi Rawat Inap sampai dengan Desember tahun 2017 sebesar 22.805 pasien atau naik sebesar 32,53% dari jumlah kunjungan tahun 2016 sebesar 17.214 pasien. Sedangkan peningkatan kunjungan Instalasi Rawat Inap yaitu sebesar 48% dari target tahun 2017 sebesar 10%. Jumlah pasien BPJS dari Kunjungan Rawat Inap mencapai 84,84% (40.299 Pasien).

Realisasi jumlah Tindakan Kamar Operasi sampai dengan Desember tahun 2017 sebesar 6.194 Tindakan atau naik sebesar 13,23% dari jumlah kunjungan Tahun 2016 sebesar 5.470 Tindakan. Sedangkan peningkatan jumlah Tindakan Kamar Operasi yaitu sebesar 35% dari target tahun 2017 sebesar 30%. Berdasarkan jenis pembayarannya, 100% tindakan yang dilakukan menggunakan BPJS.

Indikator Kinerja BTO (Bed Turn Over) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Realiasasi BTO sampai dengan Desember tahun 2017 adalah 56,2 kali dari target 60 kali. Angka tersebut di dapatkan dari hasil perhitungan sebagai berikut :

Indikator Kinerja LOS (Length of Stay) adalah Rata-rata lamanya pasien dirawat di rumah sakit. Realisasi LOS RSUD Kota Bogor tahun hingga Desember 2017 adalah 4,86 Hari dari target 5 Hari. Nilai LOS ini dikatakan tercapai atau baik apabila capaiannya kurang dari target

(22)

Rencana Kerja 2020

yang ditentukan, Angka tersebut di dapatkan dari hasil perhitungan sebagai berikut :

Indikator Kinerja LOS (Length of Stay) adalah Rata-rata lamanya pasien dirawat di rumah sakit. Realisasi LOS RSUD Kota Bogor tahun hingga Desember 2017 adalah 4,86 Hari dari target 5 Hari. Nilai LOS ini dikatakan tercapai atau baik apabila capaiannya kurang dari target yang ditentukan, Angka tersebut di dapatkan dari hasil perhitungan sebagai berikut :

Indikator Kinerja Rawat Inap GDR (Gross Death Rate) adalah angka kematian kasar, untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar baik hidup/mati. Realisasi GDR RSUD Kota Bogor hingga September tahun 2017 adalah 39,71‰ dari target pada tahun 2017 yaitu < 45‰. Nilai GDR ini dikatakan tercapai atau baik apabila capaiannya kurang dari target yang ditentukan.

5. Angka Kelangsungan Hidup Bayi

Angka kelangsungan hidup bayi (AKHB) pada tahun 2018 di Kota Bogor sebesar 19.621 menggambarkan peluang bayi yang hidup usia di bawah satu tahun diantara 1.000 bayi yang lahir adalah sebanyak 19.621 bayi. Dari tahun 2015 ke tahun 2018 ada kenaikan positif sebanyak 160 poin.

Tabel

Angka kelangsungan Hidup Bayi Kota Bogor

No Uraian 2014 2015 2016 2017 2018

1. Jumlah Kelahiran

Hidup 19.729 19.729 19.081 20.502 19.669 2. Jumlah kematian

Bayi 55 65 53 74 59

3. Angka kematian Bayi

2,7 3,2 2,7 3,6 2,99 4. Angka kelangsungan

Hidup Bayi 997,3 996,8 997,3 996,4 9997,01

Rumus AKBH = (1000-AKB)

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Bogor : Data adalah dari SPD 6. Angka Kematian Bayi

(23)

Rencana Kerja 2020

Salah satu indikator utama derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian bayi (AKB) atau infant mortility rate (IMR) angka yang menunjukan banyaknya kematian bayi usia 0 tahun dari setiap 1000 kelahiran hidup pada tahun tertentu atau dapat di katakan juga sebagai probabilitas bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun (dinyatakan degan perseribu kelahiran hidup). Pada tahun 2018, Angka kematian bayi per 1.000 kelahiran di kota bogor mencapai 2.9 angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan propinsi Jawa Barat yaitu 3.39. upaya pemerintah Kota Bogor terus berupaya untuk menekan angka kesehatan masyarakat. Pencapaian kinerja pemerintah Kota Bogor selama kurun waktu 2015-2018 dalam menekan AKB dapat dilihat pada grafik berikut ini.

Tabel

Angka Kematian Bayi Kota Bogor

No Uraian 2014 2015 2016 2017 2018

1. Jumlah Kelahiran Hidup

19.729 19.729 19.081 20.502 19.669

2. Jumlah kematian bayi

55 65 53 74 59

3. Angka kematian bayi

2,7 3,2 2,7 3,6 2,99

Rumus AKB

Salah satu sasaran RPJMN 2015-2019 di bidang kesehatan adalah meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat dengan salah satu indikator adalah menurunkan angka kematian bayi mencapai 24 kasus per 1000 kelahiran hidup pada akhir tahun 2019. Sementara dalam RPJMD Kota Bogor 2015-2019 telah diterapkan bahwa pada akhir tahun 2019. Angka kematian bayi di kota bogor mencapai 3 kasus pe 1000 kelahiran hidup. Target tersebut jauh melebihi target yang telah diterapkan oleh pemerintah Pusat.

7. Angka Kelangsungan Hidup Ibu

Dalam penyelenggaran upaya kesehatan, Ibu dan anak Merupakan anggota keluarga yang perlu mendapatkan prioritas pelayanan

(24)

Rencana Kerja 2020

kesehatan. Penilaian terhadap status kesehatan dan pencapaian kerja upaya kesehatan ibu menjadi salah satu tolak ukur yang mengambarkan derajat kesehatan masyarakat yang sangat berkorelasi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu daerah.

Indikator yang di gunakan untuk mengukur status kesehatan dan pencapaian kinerja upaya kesehatan ibu adalah angka kematian ibu (AKI). Kematian ibu menurut definisi WHO adalah kematian selama kehamilan atau dalama priode 42 hari setelah akhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya. Tetapi bukan di sebabkan oleh kecelakaan/cidera.

Bedasarkan survei demografi kesehatan indonesia, (SDKI), sampai dengan tahun 2012. Angka kematian ibu di indonesia masih sangat tinggi yaitu sebesar 359 kematian per 100.000 kelahiran hidup.

Sementara itu anak data di kota bogor pada tahun 2018. Angka kematian ibu (AKI) mencapai 100 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan AKI di level nasional.

Berikut ini adalah gambaran performa AKI di indonesia bedasarkan hasil sensus demografi Kesehatan indonesia ( SDKI, 2012)

Tabel 2.19

Angka Kematian Ibu Kota Bogor

No Uraian 2014 2015 2016 2017 2018

1. Jumlah kelahiran hidup

19.729 19.729 19.081 20.502 19.669

2. Jumlah kematian Ibu

6 21 22 6 12

3. Angka kematain

Ibu 30 106 115 29,2 61

Rumus AKI x 100.000

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Bogor : Data Adalah Dari SIPD

Angka Kematian Ibu Per 100.000 Penduduk

2015 2016 2017 2018

Provinsi jawa barat 825 696 778 778

(25)

Rencana Kerja 2020

Reasilisasi RPJMD

Kota Bogor 105 110 30 45

Target RPJMD Kota

Bogor 105 110 105 60

Sumber: Dinas Kesehatan Januari 2019 dan rancangan RPJMD prop jabar 2018-2023 Hasil sensus kependudukan tahun 2010 menunjukan bahwa 90%

kematian ibu terjadi saat atau segera setelah peroses persalinan.

Persentase tertinggi sejak satu dekade terakir karena perdarahan walaupun aborsi hanya berkontribusi 1% terhadap kematian ibu data sesungguhnya mungkin lebih tingi. Bisa mencapai 11% -15% hal ini di sebabkan banyaknya kasus aborsi tidak aman tercatat sebagai infeksi dan perdarahaan akibat komplikasi persalinan.

Perbandingan Angka Kematian Ibu Per 100.000 Penduduk Di Kota Bogor,propinsi jawa barat

2012 2015 2016 2017 2018

Nasional 359 4999 4912 1712 1712

Provinsi jawa

barat 804 823 696 778 778

Kota bogor 105 105 110 30 60

Sumber: Dinas Kesehatan,2018

Tabel 2.20

Persalinan ditolong tenaga kesehatan

Tahun Jumlah ibu bersalin Jumlah yan ditolong

nakes

%

2014 20.663 18.981 91,85

2015 20.354 18.883 92,80

2016 20.354 18.992 93,30

2017 20.354 19.139 94,00

2018 20.148 19.357 96,10

Data diolah dari SIPD

8. Angka Usia Harapan Hidup

Angka harapan hidup (AHH) Merupakan rata-rata perkiraan banyaknya tahun yang dapat di tempuh seseorang selama hidupnya,indikator ini sering digunakan untuk kegiatan dalam mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk khususnya di bidang kesehatan.

(26)

Rencana Kerja 2020

Peningkatan AHH di kota bogor cukup baik walaupun peningkatan dari tahun ke tahun tidak begitu signifikan, untuk itu beberapa variabel yang memiliki hubungan terhadap angka harapan hidup perlu lebih diperhatikan lagi seperti persentase penolong persalinan medis jumlah dokter persentase angka kesakitan keadaan lingkungan perumahan dan penyedian air bersih sehingga peningkatan AHH di kota bogor lebih signifikan di tahun yang akan datang.

TAHUN KOTA

BOGOR

KOTA SUKA BUMI

KOTA BAND

UNG

KOTA CIREB

ON

KOTA BEKA

SI

KOTA DEPO

K

KOTA CIMAH

I

KOTA TASIK MALAY

A

KOTA BANJAR

JAWA BARAT

2014 72,58 71,76 73,8 71,77 74,18 73,96 73,56 70,96 70,24 72,23

2015 77,88 71,86 73,82 71,79 74,48 73,98 73,58 71,26 70,26 72,41

2016 72,95 71,9 73,84 71,83 74,55 74,01 73,59 71,37 70,33 72,44

2017 73,01 71,95 73,86 71,86 74,63 74,04 73,61 71,48 70,39 72,47

2018 73,21 72,11 74 71,99 74,76 74,17 73,75 71,7 70,59 72,66

Sumber : BPS Jawa Barat 2018

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

72,54 72,55 72,57 72,58 72,58 72,88 72,95 73,01 73,21 71,29 71,56 72,82 72,23 72,23 72,41 72,44 72,47 72,66

Mulai tahun 2015 – 2018 angka harapan hidup di Kota Bogor mengalami peningkatan walau agak lambat seiring dengan tren angka harapan provinsi jawa barat. Kota bogor masih berada di atas provinsi jawa barat sebesar 0,55

9. Rasio Penduduk yang Bekerja

Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) adalah bagian dari penduduk usia kerja 15 tahun ke atas yang yang mempunyai pekerjaan selama seminggu yang lalu baik yang bekerja maupun sementara tidak bekerja karena suatu sebab seperti menunggu panenan atau cuti. Disamping itu, mereka yang tidak mempunyai pekerjaan tetapi sedang mencari pekerjaan juga termasuk dalam kelompok angkatan kerja.

(27)

Rencana Kerja 2020

Indikator ini mengatur jumlah angkatan kerja usia 15 tahun ke atas perjumlah penduduk usia 15 – 64 tahun. Semakin tinggi nilai indikator ini, semakin tinggi kemampuan suatu daerah menyediakan akses bagi penduduk terhadap lapangan kerja, dan semakin tinggi pula kemampuan daerah tersebut.

4. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat 1) Peningkatan Promosi Kesehatan

Kegiatan yang dilakukan selama tahun 2018 untuk mendukung program promosi kesehatan adalah sebagai berikut :

a) Penguatan Puskesmas dalam Upaya Promosi Kesehatan

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan Kemampuan Programmer Promosi Kesehatan Puskesmas dalam melakukan promosi kesehatan baik di dalam gedung maupun diluar gedung puskesmas menuju masyarakat Kota Bogor sehat dan mandiri dilakukan melalui :

1. Rakor Program Promosi Kesehatan dengan Puskesmas se Kota Bogor dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2017 bertempat di Aula Dinas Kesehatan Kota Bogor dengan sasarannya 50 org Kepala Puskesmas dan Programer Promkes se-Kota Bogor.

2. Workshop Penguatan Kapasitas Programer Puskesmas tentang Kepromkesan dilaksanakan tanggal 16 dan 17 Maret 2017 bertempat di Hotel Agria dengan sasarannya 30 orang programer promosi kesehatan Puskesmas dan Programmer promosi kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bogor.

3. Workshop Penguatan Program Kehumasan bagi Tim Puskesmas dilaksanakan tanggal 27 Maret 2017 bertempat di Permata Convention Hotel dengan sasaran 50 orang yang terdiri dari Kepala TU Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Bogor.

4. Bimbingan teknis Pelaksana Promosi Kesehatan Puskesmas

Dilaksanakan pada rentang bulan Juni 2017 bertempat di 25 Puskesmas di Kota Bogor dengan sasaran 25 orang programer promosi kesehatan Puskesmas.

b) Pengadaan Media Promosi Kesehatan

(28)

Rencana Kerja 2020

Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat Kota Bogor tentang pentingnya berprilaku sehat dan dapat mengimplementasikan PHBS dalam kehidupan sehari-hari melalui dukungan media promosi kesehatan. Tersedia dan terdistribusikannya media promosi kesehatan sebanyak 2 (dua) paket kepada masyarakat Kota Bogor sebagai berikut, yaitu:

Tabel

Jenis Media Promkes

No Jenis Media Tema Jumlah

1 Spanduk Bilboard (6 x 4 M) GERMAS dan KTR 5 buah 2 Spanduk Promosi

Kesehatan

dalam rangka Hari-hari Kesehatan Nasional

HIV, Cancer, Diabetes, Kantin sehat, HKN,

Bahaya Rokok, dll.

11buah

c) Survey Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Kegiatan ini dilakukan untuk melihat hasil intervensi kegiatan- kegiatan yang telah dilakukan terhadap perubahan perilaku hidup bersih dan sehat di Kota Bogor. Hasil yang dicapai yaitu berdasarkan survey terhadap 174.660 RT tersebut diperoleh hasil bahwa capaian rumah tangga ber PHBS Kota Bogor Tahun 2018 adalah 65,5% (belum mencapai target yaitu 67%) dengan rincian :

Tabel

Pencapaian 10 indikator PHBS Tatanan Rumah Tangga Kota Bogor

No Indikator PHBS 2015

(%)

2016 (%)

2017 (%)

2018 (%) 1 Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 90,6 90,7 88,9 91,6 2 Memberi Bayi ASI Ekslusif (0-6 bulan) 69,1 70,0 70,1 81,7 3 Menimbang Bayi dan Balita (0-59 bulan) setiap bulan 90,0 92,4 89,8 90,5

4 Menggunakan air bersih 97,3 97,4 97,6 96,6

5 Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 93,5 93,8 81,2 94,1

6 Menggunakan jamban sehat 82,6 83,0 86,9 84,8

7 Memberantas jentik nyamuk 94,5 94,6 95,7 93,9

8 Makan sayur dan buah setiap hari 92,2 92,9 92,8 93,3 9 Melakukan aktifitas fisik setiap hari minimal 30

menit

92,9 93,0 93,5 92

10 Tidak merokok di dalam rumah 63,0 63,1 63,8 62,6

(29)

Rencana Kerja 2020

Pencapaian Rumah Tangga ber PHBS per Kecamatan adalah sebagai berikut:

Tabel

Pencapaian Rumah Tangga ber PHBS per Kecamatan

No. Kecamatan 2015

(%) 2016

(%) 2017

(%) 2018 (%)

1 Tanah Sareal 69,6 69,6 70,2 70

2 Bogor Tengah 50,0 50,5 52,4 50,7

3 Bogor Timur 64,5 64,5 65,7 60,1

4 Bogor Utara 66,4 66,1 67,4 67,1

5 Bogor Selatan 58,8 58,8 60,9 68,8

6 Bogor Barat 65,8 65,6 69,2 65,3

Kota Bogor 63,4 64 65,2 65,5

Target 63 65 67 67

Uraian capaian Rumah Tangga Sehat/ber PHBS Tahun 2018 menunjukkan bahwa :

1) Kesadaran masyarakat untuk ber PHBS di beberapa wilayah belum optimal terutama perilaku tidak merokok di dalam rumah (62,6%) yang capaiannya masih di bawah 80%. Pencapaian indikator PHBS setiap tahun selalu mengalami fluktuasi, karena perubahan perilaku sangat dipengaruhi banyak faktor.

2) Rumah Tangga ber PHBS ditentukan dari pencapaian 10 indikator, apabila ada indikator yang tidak terpenuhi (misalnya ada 1 atau 2 yang tidak terpenuhi) maka dikategorikan sebagai rumah tangga tidak/belum ber PHBS.

3) Beberapa wilayah pencapaian PHBS Tatanan Rumah Tangga masih rendah (PHBS I dan II, zona merah dan kuning) disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya sosialisasi dan pembinaan yang masih belum optimal dilakukan baik oleh petugas kesehatan maupun toma/kader yang sudah dilatih, kesadaran dan peran serta masyarakat masih rendah, sarana prasarana untuk ber PHBS di beberapa wilayah belum dimanfaatkan secara optimal (air bersih untuk cuci tangan, jamban sehat, dll), kurangnya contoh/keteladanan dari tokoh masyarakat/aparat (misalnya tentang perilaku merokok) dan kemungkinan karena faktor ekonomi.

(30)

Rencana Kerja 2020

4) Khusus untuk capaian ASI Ekslusif disebabkan karena pengetahuan dan kesadaran ibu menyusui beberapa masih rendah tentang pentingnya memberikan ASI ekslusif, kesulitan dalam manajemen laktasi (terutama ibu bekerja fulltime) untuk kelulusan ASI eksklusif, kurang dukungan dari keluarga, kurangnya pendampingan petugas/kader kesehatan sertakurang tersedianya sarana/ruangan untuk menyusui/memerah ASI di tempat-tempat umum dan tempat bekerja.

5) Masih rendahnya capaian tidak merokok di dalam rumah di beberapa wilayah disebabkan karena pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang bahaya asap rokok dan perlunya perlindungan bagi perokok pasif masih rendah selain itu komunitas warga tanpa rokok (KWTR) yang dibentuk di beberapa wilayah sebagai wujud peran serta masyarakat juga keberadaanya dalam mengajak masyarakat untuk tertib merokok belum dirasakan oleh masyarakat.

2. Kegiatan Peningkatan Peran Serta Masyarakat

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah dan mutu upaya masyarakat di bidang Kesehatan

Tabel

Capaian Indikator Program

No Indikator Kinerja

Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Masalah/Kendala Target Capaian Target Capaian Target Capaian

1 %

Kelurahan Siaga Aktif

70 13 75 25 75 100 - Minimnya

anggaran yang diprioritaskan untuk kegiatan kelurahan/rw siaga aktif - Adanya tugas

yang tumpang tindih bagi pengurus kelurahan/rw siaga

(31)

Rencana Kerja 2020

- Masih adanya orintasi pada program masing- masing

- Kader yang terpilih masih belum melakukan tugasnya seperti yang diharapkan sa;ah satunya merangkap tugas lain di kelurahan tersebut

- Kader, toma yang mngikuti pelathan tidak representatif , sehingga

beberapa kader ada yang berinisiatif adapula yang hanya menunggu dari pemegang kebijakan 2 %

Posyandu Mandiri

21 18 24 20 24 38 - Faktor kader,

idealnya 5 kader tetapi faktanya masih ada 3 kader diposyandu

sehingga perlu ada regenarasi kader - Strategi

perencanaan yang belum maksimal adalah menggaet CSR baik pihak swasta maupun CSR Perusahan untuk ikut berperan serta dalam pembinaan posyandu

(32)

Rencana Kerja 2020

5. Program Pengembangan Lingkungan Sehat 1) Kegiatan Peningkatan kesehatan lingkungan

Kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik fisik, kimia, biologi, udara, air, dan tanah serta peningkatan mutu makanan.

Tabel

Data Capaian Program Peningkatan Sanitasi Dasar

No Indikator Kinerja Tahun 2018 Masalah/

Kendala Target Realisasi

1. Prosentase rumah sehat

82,5 80,5

2. Prosentase akses jamban keluarga

82 80,42

3. Prosentase akses minum

98 98,65

4. Prosentase akses saluran pembuangan air limbah SPAL yang memenuhi syarat

31 35,35

5. Prosentase kelurahan STBM

80 100

6. Prosentase TTU yang memenuhi syarat

62 72,45

7. Prosentase TPM yang memenuhi syarat

66 66,96

8. Prosentase Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK) yang dibina.

100 100

Tabel

Data Capaian Program Peningkatan Sanitasi Dasar

No Indikator Kinerja Tahun 2017 Tahun 2018 Masalah /

Kendala Target Capaian Target Capaian

1.

2.

Presentase RS dan puskesmas dengan RTH

Presentase

puskesmas dengan sanitasi layak

40 %

30 %

65%

63 %

82,5%

82%

80,5%

80,42%

(33)

Rencana Kerja 2020

TTT

Tabel

Data Hasil Inspeksi Sanitasi Tempat Pengolahan Makanan

6. Program Pengawasan Obat dan Makanan Tabel 4.

Capaian Program Pengawasan Obat dan Makanan

No Indikator Kinerja 2018

Target Realisasi % 1

Persentase jenis obat dengan tingkat ketersediaan minimal 18

bulan 100 99,3 99,3

2

Persentase produk makanan dan farmasi yang diuji memenuhi syarat kesehatan

100 74 74

Program Pengawasan Obat dan Makanan memiliki dua indikator kinerja terkait ketersediaan obat dan pengawasan produk beredar. Indikator kinerja tersebut adalah persentase jenis obat dengan tingkat ketersediaan minimal 18 bulan dan Persentase produk makanan dan farmasi yang diuji memenuhi syarat kesehatan.

3.

4.

Presentase industri dengan sanitasi layak

Presentase pest control yang memenuhi syarat

30 %

60 %

70 %

60 %

1.

98%

31%

98,65 %

35,35 %

5

%

No Jumlah Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018

1. Jumlah TPM yg ada 7250 7250 1784

2. Jumlah TPM yg diperiksa 4120 (56.85%) 4854 1360 (76,23%) 3. Jumlah TPM yg memenuhi

syarat 3130 (75.97%) 3740 3740 (77,09%)

(34)

Rencana Kerja 2020

Capaian Indikator Kinerja Program diatas dilakukan melalui 4 kegiatan, dengan realisasi kegiatan sebagai berikut :

1) Kegiatan Pengadaan Obat-obatan a. Pengadaan Obat dan BMHP

Kegiatan ini dilaksanakan melalui Pengadaan Obat Medis Habis Pakai (BMHP). Persentase jenis obat dengan tingkat ketersediaan minimal 18 bulan tahun 2018 menurun dari tahun 2017 yaitu 99,3 % pada tahun 2018 sedangkan pada tahun 2017 sebanyak 100%, hal tersebut dikarenakan penyedia tidak dapat memenuhi 1 jenis obat yang telah dipesan

b. Pengelolaan Kefarmasian

Bertujuan untuk mendukung pengelolaan dan pelayanan kefarmasian Puskesmas yang rasional, bermutu, aman, efektif dan efisien. Upaya pengelolaan kefarmasian dilakukan dalam beberapa kegiatan yaitu :

a. Penerapan sistem e-logistik dalam pengelolaan obat.

b. Pengelolaan obat kedaluarsa.

2) Kegiatan Pengendalian Obat dan Makanan

Tujuan pada kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan produsen dan karyawan tentang pengolahan pangan dan peraturan perundang- undangan di bidang keamanan pangan, menumbuhkan kesadaran dan motivasi produsen dan karyawan tentang pentingnya pengolahan pangan yang higienis dan tanggung jawab terhadap keselamatan konsumen, dan meningkatkan daya saing dan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan produsen pangan industri rumah tangga. Pada tahun 2018 kegiatan yang dilaksanakan adalah:

1. Pemantauan terhadap sarana industry pangan rumah tangga sebanyak 175 sarana.

2. Sosialisasi GEMA CERMAT dilaksanakan bagi 25 orang kepala puskesmas, 25 orang penanggung jawab program kefarmasian puskesmas, 25 orang petugas promkes dan 75 orang pengurus PKK.

(35)

Rencana Kerja 2020

3. Pembinaan Cara Memilih Produk Kosmetik dan Obat Tradisional, pembinaan ditujuan kepada pelaku usaha di bidang kosmetik dan obat tradisional dan kader posyandu sebanyak 78 orang.

4. Pembinaan UP2K PKK di UP2K Kelurahan Mulyaharja

5. Pembinaan dan Pendataan Usaha Jamu Gendong (UJG) dan Usaha Jamu racikan (UJR)

6. Pembinaan Cara Meracik Jamu yang Benar

7. Pertemuan Pengembangan SDM tentang GEMA CERMAT

8. Kegiatan Pengujian Produk Makanan, Kosmetik dan Obat Tradisional, dilakukan terhadap 100 sampel produk, dengan hasil hanya 1 produk yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan. dari sejumlah sampel yang diuji, 89% produk pangan dan 70% produk farmasi memenuhi syarat kesehatan.

7. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia

Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia merupakan program kerja yang mendukung sasaran tercapainya sumber daya manusia yang berintegritas, fokus pada pelayanan prima, kerja tim dan inovasi.

1) Program Pengembangan Layanan Unggulan

Program Pengembangan Layanan Unggulan merupakan program kerja yang mendukung sasaran Terwujudnya produk Layanan Unggulan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bogor yaitu Jantung terpadu, Kanker terpadu, Ponek dan pusat Hemodialisa. Saat ini, RSUD Kota Bogor telah dapat menyediakan fasilitas kesehatan layanan unggulan sehingga 100%

pasien layanan unggulan dapat terlayani dengan baik.

Tabel

Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Program Pengembangan Layanan Unggulan

No Sasaran Indikator Sasaran Target 2018

Realisasi

2018 %

1 Meningkatnya jumlah

kunjungan pasien layanan

1 Jumlah kunjungan

Pasien jantung 26.000 15.529 59,73%

2 Jumlah kunjungan

Pasien kanker 7.200 10.154 135,39%

Referensi

Dokumen terkait

Dengan tersusunnya Rencana Kerja (Renja) Tahun 2020 yang terdiri dari 10 program dengan 345 kegiatan diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja Dinas Pendidikan

1 Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan Kesehatan bagi masyarakat diluar bagi masyarakat diluar Provinsi DKI Jakarta untuk Provinsi DKI Jakarta untuk Korban Bencana / KDRT / Korban Bencana

Dalam penyusunan Rencana Kerja Perubahan Dinas Kesehatan Kota Depok tahun 2020 ini mengacu kepada Peraturan Daerah Kota Depok nomor 21 tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan

Formulir RKAP SKPD RINGKASAN RENCANA KERJA ANGGARAN PERUBAHAN.. SATUAN KERJA

Rencana Kerja (Renja) Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2020 dimaksudkan untuk menetapkan dokumen perencanaan yang memuat program dan kegiatan pembangunan

Rencana Kerja Perubahan Dinas Penanaman Modal Dan pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2020 merupakan dokumen perencanaan kinerja dari

Rencana Strategis Dinas Kesehatan merupakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun, yang memuat

1.4 Sistematika Penulisan Rencana Kerja Dinas Kesehatan Kota Serang Tahun 2024 mengimplementasikan perencanan pembangunan dan penganggaran tahunan, yang disusun dengan sistematika