PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MI
Pratiwi Rahmah Hakim, M.Pd.
Seri Modul Mata Kuliah
PGMI – FITK – IAIN SURAKARTA
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah wa Syukurillah, penyusunan Modul Mata Kuliah Dosen di Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta ini bisa diselesaikan dengan baik.
Kami selaku pengelola Prodi, sangat mengapresiasi dan mengucapkan banyak terima kasih kepada para dosen di Prodi PGMI IAIN Surakarta, baik dosen tetap dalam Prodi dan di luar Prodi, yang sudah berkenan dan merelakan waktu serta pikiran guna terselesaikannya penyusunan Modul ini. Kepada mereka semua, kami hanya mampu mendo’akan semoga perjuangan dan pengorbanan mereka mendapatkan balasan yang lebih dari Allah Swt. Amin.
Penyusunan Modul Mata Kuliah ini berfungsi untuk menjadi panduan bagi dosen terkait khususnya dan bagi mahasiswa PGMI IAIN Surakarta pada umumnya. Hal ini dimaksudkan supaya proses perkuliahan berjalan dengan baik, mudah, terarah, terukur dan sesuai dengan visi-misi Prodi dan juga Visi-Misi Fakultas serta Institut.
Sekali lagi, kami ucapkan banyak terima kasih kepada para dosen penyusun, dan semoga modul ini bermanfaat dan mendapatkan ridla Allah Swt. Amin.
Surakarta, 10 Juni 2018
Kaprodi PGMI FITK IAIN Surakarta
Dr. Saiful Islam, M.Ag.
NIP. 19621024 199203 1 002
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR
Masalah umum:
Penentuan jenis materi
Ruang lingkup
Urutan penyajian
Kedalaman/keluasan
Perlakuan terhadap materi
Sumber bahan
Masalah guru:
Materi terlalu luas atau sempit/sedikit
Mendalam atau dangkal
Belum tentu sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai
Urutan penyajian tidak tepat
Buku pelajaran merupakan satu-satunya sumber
HAKIKAT BAHAN AJAR
Bahan ajar ( instructional materials ): sesuatu yang dipelajari siswa untuk mencapai
kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran
Jadi, bahan ajar adalah sarana untuk mencapai kompetensi
Bahan ajar terdiri atas:
pengetahuan ( knowledges )
keterampilan ( skills )
sikap ( aptitudes ), nilai-nilai (values)
Klasifikasi Bahan Ajar
Pengetahuan
:
Fakta: sesuatu yang ada dan terjadi (ada secara empirik);
misal: objek, peristiwa sejarah, lambang, penamaan, waktu, dll.
Konsep: pemahaman terhadap sesuatu seperti
pengertian/definisi, klasifikasi, komponen, ciri khusus, dll.
Prinsip: sebuah fakta pengetahuan yang terbangun atas prinsip lewat proses ontologi keilmuan atau hubungan tertentu, misalnya dalil, rumus, adagium, postulat,
teorema, hubungan antarkonsep (jika…, maka…)
Prosedur: materi yang berkenaan dengan langkah- langkah sistematis dalam melakukan sesuatu/tugas;
misal: langkah membuat/mengerjakan sesuatu
(mengembangkan bahan ajar, mengembangkan alat
evaluasi, mengerjakan soal statistik, dll)
Prinsip Pemilihan Bahan Ajar
Relevansi: keterkaitan, ada kaitan; artinya ada kaitan,
hubungan, atau bahkan ada jaminan bahwa bahan ajar yang dipilih itu menunjang tercapainya kompetensi yang
dibelajarkan (KD, SK)
Konsistensi: keajegan, ada kesesuaian (jumlah/banyaknya) antara kompetensi dan bahan ajar; jika kompetensi dasar yang ingin dibelajarkan mencakup keempat keterampilan berbahasa, bahan yang dipilih/dikembangkan juga
mencakup keempat hal itu
Kecukupan: memadai keluasannya, ketercukupannya;
bahan ajar yang dipilih/ dikembangkan ada jaminan
memadai/ mencukupi untuk mencapai kompetensi yang dibelajarkan; tidak terlalu sedikit sehingga kurang
menjamin tercapainya KD/SK
Langkah Pemilihan Bahan ajar
Identifikasi muatan aspek substansial yang tercakup dalam SK dan KD
SK dan KD adalah tujuan yang harus dikuasai siswa
Bahan pembelajaran apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai penguasaan itu
Dalam SK dan KD tercermin muatan dan cakupan bahan pembelajaran yang terkait/relevan
Bahan untuk tiap SK dan KD tidak sama, jadi menuntut bahan pembelajaran yang berbeda
Kecermatan memahami substansi muatan SK dan KD dalam banyak hal akan menjamin ketepatan pemilihan/pengembangan bahan
SK dan KD dikembangkan berdasarkan keempat kemampuan berbahasa, di dalamnya termuat berbagai aspek penguasaan kebahasaan sebagai prasyarat capaian kemampuan berbahasa
SK dan KD kemampuan bersastra juga tersalur lewat keempat kemampuan berbahasa, tetapi di dalamnya termuat
pengetahuan kesastraan sebagai prasyarat kemampuan bersastra
Identifikasi jenis bahan pembelajaran
Kognitif
Fakta, konsep, prinsip, prosedur
Materi kebahasaan (sistem bahasa: tata bunyi, tata bentukan, tata kalimat)
Materi kesastraan (pengetahuan kesastraan: teori sastra, sejarah sastra)
Afektif
Sikap, minat, motivasi, kecenderungan thd nilai-nilai
Motivasi berperilaku
Kinerja
Kinerja kebahasaan dan kesastraan
Keempat kemampuan berbahasa
Penggunaan bahasa dalam konteks sesungguhnya (ada pertimbangan faktor pragmatik)
Berbagai bentuk kegiatan apresiasi sastra (lewat saluran keempat kemampuan berbahasa)
Aspek kognitif tetap dominan
Pemilihan bahan untuk tiap SK dan KD
SK dan KD adalah acuan pertama dalam hal pemilihan dan pengembangan bahan ajar
Atau sebaliknya, pengembangan/pemilihan bahan pembelajaran tidak lain adalah memilih/mengembangkan bahan yang sesuai dengan masing-masing SK dan KD
Jadi, bahan yang dipilih/dikembangkan cocok dengan tuntutan SK dan KD, atau sebaliknya bahan ajar itu mempunyai jaminan dapat untuk mencapai SK dan KD
Secara lebih konkret pemilihan/pengembangan bahan itu terlihat dalam indikator
Bahkan tidak jarang indikator dikembangkan berdasarkan bahan ajar yang telah ditentukan sebelumnya
Bahan ajar untuk tiap indikator, KD, dan SK tidak sama, tetapi mesti saling berkaitan dan saling mendukung
Hal itu sesuai dengan prinsip pengembangan bahan:
berkesinambungan, berkelanjutan, berkesuaian, dll yang secara bersama untuk mencapai tujuan umum tiap mata pelajaran di tiap SP
Cakupan Bahan Pembelajaran
Cakupan: masalah keluasan, kedalaman, kecukupan
Keluasan: seberapa banyak bahan pembelajaran yang dipilih/dikembangkan dalam sebuah SK/KD
Kedalaman: seberapa detil bahan pembelajaran tsb yang harus dibelajarkan kpd siswa
Ada perbedaan masalah keluasan dan kedalaman pengembangan bahan berdasarkan:
jenjang pendidikan (SD, SMP/MTs, SMA)
jenis pendidikan (SMA, SMK; SMK: STM, SMEA, SMKK, dll)
Kecukupan (adequacy): cukup, memadai; dengan bahan
pembelajaran yang dipilih/dikembangkan itu mencukup atau memadai untuk menjamin capaian kompetensi (Sk, KD) yang dibelajarkan
Kecukupan: bahan pembelajaran tidak terlalu sedikit atau luas
Pemilihan dan pengembangan bahan pembelajaran harus juga memperhitungkan alokasi waktu yang tersedia (tidal kurang, tidak lebih)
Urutan Bahan Pembelajaran
Urutan penyajian (sequencing): bagaimana mengurutkan bahan ajar secara tepat agar dapat mempermudah siswa mempelajarinya
Masalah urutan bahan ajar menjadi lebih relevan terhadap pokok-pokok bahasan yang memiliki prasyarat
(prerequisite)
Bahan ajar ajar yang menjadi prasyarat bahan yang lain harus ditempatkan lebih awal
Misal: sebelum pembelajaran makna tersirat, harus terlenih dahulu makna tersurat (kalimat sederhana sebelum
kalimat kompleks)
Lazimnya, urutan bahan ajar mengikuti logika: dari yang
mudah ke sulit, dekat ke jauh, sederhana ke kompleks,
tunggal ke gabung, tersurat ke tersirat, actual meaning ke
intentional meaning, yang sudah dikenal ke belum dikenal,
dll yang sejenis
Pendekatan Urutan Bahan Ajar
Pendekatan prosedural:
Urutan bahan ajar menggambarkan sebuah prosedur, langkah- langkah tertentu
Misalnya, langkah memahami puisi, langkah mengkaji fiksi/puisi
Pendekatan hierarkhis:
Urutan bahan ajar menggambarkan sesuatu yang berjenjang
Misalnya, bahan-bahan ajar (atau: mata kuliah) yang menjadi prasyarat harus disajikan terlebih dahulu daripada bahan ajar yang menuntut prasyarat itu
Pemahaman sebuah wacana diawali dengan pemahaman tiap paragraf, dan pemahaman paragraf diawali dengan pemahaman tiap kalimat pendukungnya
Kedua pendekatan itu tsb bukan dalam pengertian terpisah karena pada kenyataannya akan saling
mendukung
Penentuan Sumber Bahan
Sumber bahan: tempat bahan pembelajaran diperoleh
Sumber bahan: bukan hanya tempat guru mengambil bahan pembelajaran, tetapi juga tempat siswa dapat mengakses sendiri bahan yang harus dipelajari
Sumber bahan tidak sekadar berupa buku teks, walau buku teks tetap penting, tetapi dapat berupa berbagai hal lain yang dapat membantu siswa belajar
Siswa harus dibiasakan mencari dan mengakses sendiri berbagai sumber bahan yang dibutuhkan untuk
menunjang kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi
Guru harus mampu mengembangkan bahan ajar sendiri dengan mengakses berbagai sumber yang relevan
KTSP tidak menyajikan bahan ajar, maka guru dan
siswa haruslah sama-sama aktif mencari dan mengakses
bahan ajar itu
Sumber Bahan Ajar
Buku Teks
Buku Literatur Terkait (Kebahasaan, Kesastraan, Teks-teks Kesastraan)
Laporan Hasil Penelitian
Jurnal Penelitian, Jurnal/Majalah Ilmiah dan jenis Majalah lain
Penerbitan Berkala: Harian, Mingguan
Internet
Media Audiovisual (TV, Video, Kaset Audio) dan Media Audio (Radio, Rekaman)
Narasumber (Pakar Bidang atau Tokoh Tertentu)
Lingkungan (Alam, Sosial, Senibudaya, dll)
Kantor tertentu (kantor lazimnya menyediakan daya-data tertentu yang dibutuhkan)
Dll.
Bentuk Pengembangan Bahan Ajar
KTSP memberi kebebasan kreativitas kepada setiap SP,
Kepsek, dan guru untuk mengembangkan sendiri kurikulum yang akan dilaksanakan di lingkungannya
Hal itu merupakan kesempatan baik bagi semua komponen pendidikan terkait untuk merealisasikan idealismenya
Misalnya, dengan memasukkan berbagai muatan tertentu yang dipandang penting ke dalam kurikulum (muatan lokal, nilai-nilai, bahan tertentu, dll), model pembelajaran, model penilaian, dll.
Guru merupakan salah satu komponen penting sekaligus
ujung tombak dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan lewat KBM yang diselenggarakan
Mereka memiliki kebebasan untuk mengkreasikan KBM:
mulai dari perumusan indikator, pengembangan bahan ajar, pemilihan strategi pembelajaran, strategi penilaian, dll.
Setiap pengajar idealnya mampu mengembangkan bahan ajar
sendiri
Lanjutan bentuk …
Pengembangan bahan ajar oleh guru dapat ditampilkan dalam bentuk:
Buku Teks, Diktat
Sebaiknya guru tidak hanya menggantungkan buku teks yang sudah ada karena mesti belum mencakup semua idealismenya
Guru yang baik mesti kreatif membuat buku teks sendiri (kalau perlu bersaing dengan penulis buku-buku yang sudah ada.
Mengapa tidak!!!)
Modul (misalnya untuk tiap SK, bahan ajar untuk bulanan/semesteran/tahunan)
Modul kemudian dapat dikembangkan menjadi sebuah buku teks.
Mengapa tidak!!!
Handout, tulisan-tulisan lepas, teks-teks ragam tertentu (misal: sastra)
Powerpoint