Kliping Berita Online
Tanggal : 02/07/2020 Penulis :
Sumber : Okezone .com
7 Langkah Protokol Kesehatan Pengguna Moda Transportasi Umum
Muhamad Rizky, Okezone · Kamis 02 Juli 2020 02:00 WIB
JAKARTA – Masyarakat yang telah kembali bekerja di kantor perlu
mengutamakan aman Covid-19, khususnya mereka yang menggunakan moda transportasi umum. Penularan virus SARS-CoV-2 masih berlangsung hingga kini.
Gugus Tugas Nasional meminta setiap individu untuk mengutamakan protokol kesehatan untuk mengurangi risiko terpapar Covid-19.
Pencegahan diri dan perlindungan terhadap sesama dapat dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan. Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional dr. Reisa Broto Asmoro membagikan tujuh langkah protokol kesehatan bagi calon penumpang kendaraan umum. Ia mengatakan, pertama, memastikan diri dalam kondisi yang sehat.
“Jika mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek atau nyeri tenggorokan atau bahkan sesak napas, tetaplah di rumah,” ujarnya saat konferensi pers di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Rabu (1/7/2020) melalui rilis yang diterima media.
Kedua, calon penumpang disarankan menggunakan kendaraan umum yang berpenumpang tebatas apabila benar-benar memerlukan transportasi umum.
Ketiga, calon penumpang wajib menggunakan masker saat melakukan perjalanan dan selama berada di moda transportasi.
“Keempat, menjaga kebersihan tangan dengan sering cuci tangan atau minimal menggunakan hand sanitizer,” lanjutnya.
Pada langkah kelima, calon penumpang menghindari untuk menyentuh area wajah, seperti mata hidung dan mulut, terutama kalau tangan kotor. “Keenam, tetap
perhatikan jaga jarak aman minimal 1 meter dengan orang lain,” tambah dr. Reisa.
Selanjutnya, ia mengatakan, “jika kondisi kendaraan umum padat, penerapan jaga jarak sulit diterapkan, penggunaan pelindung wajah atau face shield bersama masker sangat direkomendasikan sebagai perlindungan tambahan.”
Langkah-langkah tersebut sangat beralasan. Berdasarkan survei sosial demografi dampak Covid-19, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, sebanyak 82,5%
responden memilih opsi selain transportasi umum. Sementara, sisanya masih aktif menggunakan transportasi umum.
“Namun, baru sebanyak 38,11 persen yang telah menjaga jarak atau social
distancing setidaknya satu meter dari orang lain. Bahkan, sebagian masih mengaku tidak melakukan jaga jarak fisik. Nah, inilah yang harus kita semua perbaiki,”
tegas Reisa.
pengguna moda transportasi baik darat, laut, maupun udara.
Pada masa adaptasi kebiasaan baru sekarang ini, setiap individu diharapkan untuk memastikan keamanan dalam bertransportasi.
“Patuhi protokol kesehatan, dan pastikan kita aman dari Covid-19. Disiplin adalah
kunci dari berhasilnya adaptasi ini dan keberhasilan adaptasi kebiasaan baru
menentukan berhasilnya kita tetap produktif dan aman Covid-19," tutup Reisa.
Kliping Berita Online
Tanggal : 02/07/2020 Penulis :
Sumber : pikiran rakyat.com
April-Mei, Nihil Wisman ke Sumatera Selatan
Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatra Selatan mencatat pada April dan Mei 2020 tidak ada wisatawan mancanegara datang berkunjung ke Sumsel. Hal ini terjadi karena pandemi Covid-19 membuat semua penerbangan langsung internasional di Bandara Sultan Mahmud Badarudin
Hal itu diungkapkan Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih, Rabu (1/7).
Sejak Januari 2020, tercatat hanya 2.297 wisman yang datang ke Sumsel, sebagian besar berasal dari Malaysia.
Endang menambahkan, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) atau okupansi hotel bintang di Sumsel pada Mei 2020 tercatat sebesar 18,94 persen atau turun 0,49 poin dibanding TPK hotel pada April 2020 yang sebesar 19,43 persen. TPK hotel tertinggi yakni terdapat di hotel bintang satu sebesar 29,05 persen dan yang terendah adalah hotel bintang dua yang sebesar 15,00 persen. Rata-rata lama menginap tamu di Sumsel pada Mei 2020 pada hotel bintang selama 1,73 hari atau turun 0,31 hari dibanding April 2020.
"Dengan rincian 2,59 hari rata-rata lama menginap tamu asing dan 1,73 hari rata- rata lama menginap tamu domestik. Rata-rata lama menginap tamu yang paling lama ada pada hotel bintang satu yaitu 4,33 hari dan yang paling singkat 1,22 hari pada hotel bintang dua," ujar Endang.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel Aufa
Syahrizal mengakui, pascadicanangkan untuk melakukan aktivitas kenormalan baru, otomatis pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah memberikan kemudahan kepada para pelaku pariwisata.
"Karena harus jujur kita akui, dengan adanya pandemi covid-19 ini, pariwisata
adalah industri yang paling terpuruk, karena adanya pelarangan pendatang baik dari dalam maupun luar negeri. Namun, secara bertahap kita sudah mulai izinkan pelaku pariwisata untuk melakukan aktivitas dengan tetap patuhi protokol kesehatan," kata Aufa.
Menurut Aufa, pihaknya bersama Dinas Pariwisata Kota Palembang dan PHRI Provinsi Sumsel sudah melakukan monitoring terkait penerapan protokol kesehatan ke sejumlah hotel, restoran dan tempat-tempat pariwisata yang ada di Kota
Palembang.
"Semuanya sudah siap dengan penerapan protokol kesehatan, sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing pelaku industri pariwisata," imbuhnya.
Ia menerangkan, saat ini pihaknya sedang berupaya untuk memotivasi para pelaku industri pariwisata dengan cara memberikan penghargaan kepada pelaku-pelaku industri pariwisata, yang betul-betul sudah menerapkan protokol kesehatan di masa kenormalan baru. "Artinya, betul-betul mereka memberikan keyakinan dan
kepercayaan kepada pengunjung yang datang," tandasnya. (R-1)
Penulis :
Sumber : matabanua.com
Ayam Ras, Penyumbang Terbesar Inflasi
PEMICU INFLASI – Harga ayam potong ras selama satu bulan terakhir pasca Lebaran tetap tinggi. Padahal ditingkat peternak harga berada pada titik terendah. Kondisi ini menjadi penyumbang utama inflasi, dimana kontribusinya mencapai 0,14 persen terhadap inflasi Juni yang sebesar 0,18 persen. mb/web
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi bulan lalu. Kontribusinya mencapai 0,14 persen terhadap inflasi Juni yang sebesar 0,18 persen.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pergerakan harga daging ayam ras selama Juni terus mengalami kenaikan di 86 kota Indeks Harga Konsumen (IHK). Kenaikan tertinggi terjadi di Sitoli, Nias, yakni 41 persen, dan Lhokseumawe, Aceh yang naik 37 persen.
“Sehingga, pada bulan ini, daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi pada Juni 2020,”
katanya dalam konferensi pers live streaming, Rabu (1/7).
Komoditas lain yang juga dominan memberikan andil pada inflasi adalah telur ayam ras dengan andil 0,04 persen. Kenaikan harga dua komoditas tersebut turut menyebabkan volatile food atau harga bergejolak menjadi penyebab utama inflasi Juni. Inflasi komponen ini mencapai 0,77 persen dengan kontribusinya 0,13 persen.
Sebaliknya, terdapat sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga, sehingga
memberikan andil deflasi. Di antaranya, bawang putih yang memberikan andil pada deflasi 0,04 persen. Selain itu, harga cabai merah yang turun berkontribusi 0,03 persen terhadap deflasi.
“Dan juga beberapa bumbu-bumbu seperti cabe rawit, minyak goreng, gula pasir yang masing- masing memberikan andil deflasi 0,01 persen,” tutur Suhariyanto.
Komoditas-komoditas tersebut termasuk dalam kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi 0,47 persen pada Juni. Andilnya terhadap inflasi adalah 0,12 persen yang sekaligus menjadi kontributor terbesar.
Kontributor terbesar kedua pada inflasi bulan lalu adalah transportasi. Inflasinya mencapai 0,41 persen dengan andil 0,05 persen. Suhariyanto mengatakan, kenaikan tarif angkutan udara memberikan inflasi 0,02 persen. Sementara itu, kenaikan tarif angkutan antar kota dan tarif roda dua oline masing-masing memberikan andil 0,01 persen.
Sementara itu, kelompok makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi 0,28 persen dan memberikan andil 0,02 persen pada inflasi Juni. “Karena di sana ada kenaikan untuk sub
kelompok jasa pelayanan makanan dan minuman,” ujar Suhariyanto. Sisanya, kelompok- kelompok lain hampir tidak memberikan andil terhadap inflasi. rep/mb06
Kliping Berita Online
Tanggal : 02/07/2020 Penulis :
Sumber : CNBC Indonesia.com
BPS Laporkan Inflasi Juni Cuma 0,18%
Kepala BPS Suhariyanto (Dok. BPS)
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data inflasi periode Juni 2020. Hasilnya lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar.
Inflasi Juni 2020 berada di 0,18% secara bulanan (month-to-month/MtM). Ini membuat inflasi tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 1,96% dan inflasi tahun kalender 1,09%. Demikian disampaikan oleh Suhariyanto, Kepala BPS, dalam jumpa pers pada Rabu (1/7/2020).
Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia menghasilkan median inflasi bulanan sebesar 0,025%. Sementara inflasi tahunan ada di 1,805% dan inflasi inti tahunan 2,42%.
"Harga berbagai komoditas pada Juni 2020 secraa umum menunjukkan kenaikan meski tipis," katanya.
Penulis :
Sumber : kontan.com
BPS: Ada pergeseran puncak inflasi di tahun 2020 gara-gara Covid-19
ILUSTRASI. Kepala BPS Suhariyanto
Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Covid-19 yang merebak di dunia tak hanya menyerang kesehatan, tetapi juga merubah pola indikator di seluruh dunia. Salah satunya, pergeseran terjadinya puncak inflasi di Indonesia.
"Berbagai indikator menunjukkan pola tidak biasa. Inflasi Indonesia cenderung lemah, bahkan negara-negara lainnya juga lemah, menjurus ke deflasi karena ada penurunan daya beli masyarakat," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, Rabu (1/7).
Di tahun-tahun sebelumnya, puncak inflasi biasanya jatuh pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Sementara di tahun ini, inflasi pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri malah cenderung flat.
Pada bulan Ramadan atau bulan April 2020, inflasi tercatat 0,08% mom. Angka ini bahkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan inflasi Ramadan di 17 tahun terakhir, alias sejak 2004 silam yang tercatat 1,21% mom.
Sementara pada bulan Idul Fitri atau bulan Mei 2020, tercatat 0,07% mom yang dipengaruhi oleh turunnya permintaan akibat adanya pembatasan aktivitas yang menggerus pendapatan masyarakat dan permintaan.
Untuk itu, Suhariyanto mengaku kalau dirinya tidak bisa memprediksi kapan akan terjadi puncak inflasi pada tahun 2020 ini.
"Saya tidak bisa menjawab karena masih ada 6 bulan lagi di tahun 2020. Selain itu, BPS juga tidak buat proyeksi. Tapi di tahun ini polanya memang beda dari tahun-tahun sebelumnya akibat Covid-19," tandasnya.
Penulis :
Sumber : CNBC Indonesia.com
BPS: Inflasi Juni 2020 Capai 0,18% (mom)
Jakarta, CNBC Indonesia- Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi Juni 2020 yang tercatat sebesar 0,18% (mom) atau 1,96% (yoy). Kepala BPS, Suhariyanto menyebutkan dari 90 kota IHK, BPS mencatat ada 76 kota mengalami inflasi dan 14 kota mengalami deflasi.
Seperti apa kinerja inflasi Juni 2020? Selengkapnya saksikan Breaking News, CNBC Indonesia (Rabu, 01/07/2020)
Kliping Berita Online
Tanggal : 02/07/2020 Penulis :
Sumber :
REPUBLIKA
.comBPS: Nilai Ekspor Sumatra Utara Turun 4,85 Persen
Nilai ekspor Sumut Januari-Mei hanya sebesar 3,03 miliar dolar AS
REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Nilai ekspor Sumatra Utara pada bulan Januari sampai Mei 2020 turun 4,85 persen daripada periode sama tahun 2019 atau
menjadi 3,032 miliar dolar AS akibat pandemi COVID-19.
"Nilai ekspor Sumut periode 2020 masih 3,032 miliar dolar AS dari periode sama pada tahun 2019 yang sudah 3,186 miliar dolar AS," ujar Kepala Badan Pusat
Statistik (BPS) Sumut Syech Suhaimi di Medan, Rabu ().Penurunan ekspor sudah mulai terjadi pada bulan Maret, khususnya ke Republik Rakyat China (RRC), dampak pandemi COVID-19."Pada bulan Januari sampai Mei 2020, nilai ekspor Sumut ke RRC turun 21,06 persen atau menjadi 317,46 juta dolar AS," katanya.
Ia menyebutkan penurunan ekspor terbesar dari golongan industri walau secara total kontribusi devisa terbesar ekspor Sumut tetap berasal dari sektor itu. Menurut Syech, ekspor Sumut sebenarnya sudah naik, termasuk ke RRC, Amerika Serikat, dan Jepang.
Tiga negara itu tercatat merupakan pangsa ekspor terbesar Sumut masing-masing
84,97 juta dolar AS, 59,01 juta dolar AS, dan 31,34 juta dolar AS pada bulan Mei
2020."Ekspor Sumut ke Myanmar, Malaysia, dan Rusia juga naik. Diprediksi ke
depannya, nilai ekspor naik karena memasuki normal baru," katanya.
Penulis :
Sumber : 24berita.com
BPS: Nilai Tukar Petani Naik Tipis 0,13 Persen Pada Juni
JAKARTA, - Badan Pusat Statistik ( BPS) menyatakan, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2020 naik tipis 0,13 persen menjadi 99,60.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kenaikan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,23 persen, lebih tinggi dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,11 persen.
"Tapi angka 99,60 ini masih berada di titik impas yaitu angka 100," kata Suhariyanto dalam konferensi video, Rabu (1/7/2020).
Dilihat secara sektoral, semua sektor mengalami kenaikan kecuali sektor holtikultura dan tanaman perkebunan rakyat. Tanaman pangan (NTTP) naik 0,04 persen menjadi 100,42, peternakan naik 1,69 persen menjadi 98,29, dan perikanan naik 0,38 persen menjadi 99,48.
Kenaikan tanaman pangan terjadi karena adanya kenaikan indeks harga yang
diterima petani lebih besar dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani. Indeks harga yang diterima petani ini naik karena adanya kenaikan harga gabah, jagung, dan beberapa komoditas pertanian lainnya.
Sedangkan turunnya NTP holtikultura sebesar 1,15 persen karena indeks harga yang diterima turun. Tercatat ada penurunan harga bawang merah, cabai rawit, juga ada beberapa komoditas lainnya.
"Sementara untuk tanaman perkebunan rakyat sebetulnya masih naik, tapi kenaikan ini lebih kecil dibanding indeks yang dibayar petani karena ada penurunan harga karet, harga tebu, dan
komoditas perkebunan lainnya seperti kopi dan kulit kayu manis," jelas Suhariyanto.
Selanjutnya untuk Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) pada Juni 2020 naik 0,08 persen menjadi 100,25.
"Bila dirinci, ada 3 sub-sektor yang mengalami penurunan NTUP, yaitu tanaman pangan, holtikultura, dan perkebunan rakyat," pungkas Kecuk.
Kliping Berita Online
Tanggal : 02/07/2020 Penulis :
Sumber : alinea.com
Bursa Asia menguat, IHSG ikut terkerek
Rilis data manufaktur China yang lebih tinggi dari estimasi memberikan sentimen positif bagi pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,07% ke level 4.905 pada penutupan Selasa (30/6). Investor asing tercatat melakukan penjualan sebesar Rp489 miliar di seluruh pasar.
Tercatat sebanyak 8,2 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp6,9 triliun. Sektor agrikultur yang naik 1,23% dan sektor industri dasar yang naik 1,13%
menjadi pendorong penguatan IHSG hari ini.
Pada perdagangan hari ini, bursa Asia juga ditutup menguat. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Nico Demus mengatakan pelaku pasar saham Asia kali ini fokus pada rilis data manufaktur dan nonmanufaktur China yang lebih tinggi dari estimasi. Hal tersebut dinilai menjadi pemicu penguatan bursa saham Asia kali ini.
Selain itu, pelaku pasar juga fokus pada strategi Korea Selatan yang saat ini akan menyiapkan dana mata uang asing kepada perusahaan keuangan lokal, melalui perjanjian pembelian kembali.
Hal ini dilakukan untuk mencegah kekurangan likuiditas dari berkembangnya risiko sistemik pandemi Covid-19.
Sementara sentimen dari dalam negeri, pelaku pasar saat ini masih menunggu dan memastikan data fundamental Indonesia mampu memberikan gambaran jelas mengenai perekonomian dalam negeri. Rencananya, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data inflasi dan indeks
manufaktur PMI pada hari Rabu (1/7).
"Hal tersebut tentunya cukup ditunggu oleh investor, di mana investor perlu melakukan kalkulasi terhadap dampak pelonggaran kebijakan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) sepanjang bulan Juni 2020," ujar Nico.
Berdasarkan konsensus yang dihimpun oleh tradingeconomics, data manufaktur PMI Indonesia bulan Juni diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan pada bulan Mei. Hal tersebut dinilai mampu menjadi pelatuk positif bagi pergerakan indeks saham.
Penulis :
Sumber : NAWACITA .com
Dampak Pandemi Covid-19, Pedagang Pasar Tradisional Harus Melek Teknologi
Jakarta, NAWACITA – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai 14 ribu lebih pasar tradisional yang tersebar di berbagai wilayah sebagai jantung kehidupan ekonomi tak boleh mati beraktifitas akibat pandemi Covid-19.
Terhentinya aktifitas pasar tradisional sama saja dengan memberhentikan detak denyut ekonomi rakyat.
Agar aktifitas perdagangan di pasar tradisional tak terhenti, harus ada terobosan baru dari pemerintah. Strategi jangka pendek, misalnya, dengan membatasi aktifitas kunjungan. Sedangkan di jangka panjang, mendorong para pedagang pasar tradisional untuk melek teknologi melalui digitalisasi perdagangan secara virtual.
“Strategi jangka pendek sudah diberlakukan di berbagai daerah dengan membatasi para pedagang pasar tradisional dengan memberlakukan sistem ganjil genap. Di tanggal ganjil, lapak dengan nomor urut ganjil bisa
berjualan. Di saat tanggal genap, gantian lapak dengan nomor urut genap yang berjualan. Begitupun dengan para pembeli yang dibatasi jumlahnya.
Dengan demikian pasar tradisional tak perlu ditutup total, melainkan cukup membatasi aktifitas agar tidak menjadi kluster terbesar dalam penyebaran Covid-19,” ujar Bamsoet saat menerima Aliansi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSINDO), di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Selasa (30/6/20).
Pengurus APPSINDO yang hadir antara lain Ketua Majelis Pertimbangan Zainal Bintang, Pembina Khairil Hamzah, Ketua Umum Hasan Basri, Sekjen Irwansyah, Sekretaris I Maiya Bella, dan Sekretaris II Rini Ali.
Mantan Ketua DPR RI ini menjelaskan, data survei Badan Pusat Statistik pada tahun 2019 mencatat, dari 16.021 pusat perdagangan yang ada di Indonesia, 88,52 persen atau sekitar 14.182 merupakan pasar tradisional.
Sementara sisanya terdiri dari toko modern sebesar 7,06 persen dan pusat perbelanjaan sebesar 4,42 persen. Jumlah pedagang di pasar tradisional di Indonesia lebih dari 12 juta. Hal ini menandakan besarnya pengaruh pasar perdagangan terhadap geliat perdagangan ekonomi nasional.
“Pandemi Covid-19 telah memaksa seluruh aktifitas pertemuan tatap muka berkurang drastis. Digitalisasi menjadi sebuah keniscayaan. Begitupun terhadap para pedagang pasar tradisional. Pemerintah pusat dan daerah harus mulai menggalakan strategi jangka panjang membina para pedagang pasar agar melek teknologi,” jelas Bamsoet.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menilai, inisiatif APPSINDO membentuk Lembaga Ketahanan dan Pengembangan Pasar (LEMHASAR) sebagai wadah yang akan mengembangkan potensi para pedagang pasar menuju digitalisasi, patut diapresiasi. Jika berbagai aliansi maupun asosiasi pedagang pasar bisa mencontoh langkah serupa, akan semakin
mempercepat kemajuan para pedagang pasar tradisional menatap globalisasi dan persaingan dengan ritel modern.
“Pemerintah pusat dan daerah harus hadir memberikan dukungan sehingga bisa bergotongroyong memajukan para pedagang tradisional. Jangan sampai aliansi maupun asosiasi pedagang pasar yang jumlahnya sangat banyak, malah berjalan sendirian tak didampingi pemerintah,” tandas Bamsoet.
Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga mendorong pemerintah pusat dan daerah bersama Gugus Tugas Covid-19 untuk memperbanyak swab test di berbagai pasar tradisional. Hal ini seharusnya tak terlalu sulit untuk
dilakukan, mengingat hampir sebagai besar pasar tradsional dikelola oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN maupun BUMD.
“Membentengi pasar tradisional dari penyebaran Covid-19 harus dilakukan dengan memperbesar swab test, sekaligus mendisiplinkan pemberlakuan protokol kesehatan kepada para pedagang maupun pembeli. Di pasar tradisional semuanya bisa ditawar, dari mulai harga hingga ketersediaan jumlah barang. Yang tak boleh ditawar adalah pemberlakukan protokol kesehatan,” tegas Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menerangkan, berbeda dengan mall maupun aktifitas perkantoran, aktifitas di pasar tradisional merupakan yang paling pertama ramai di masa pola hidup baru atau new normal. Orang bisa menahan diri ke mall, maupun tetap mengerjakan berbagai tugas kantor dari rumah. Namun tak bisa menunda berkunjung ke pasar tradisional, karena disanalah berbagai kebutuhan hidup sehari-hari tersedia.
“Pandemi Covid-19 juga telah mengajarkan kepada kita semua, baik dari sisi pedagang maupun pembeli di pasar tradisional, agar lebih memperhatikan aspek kesehatan. Pasar tradisional yang selama ini identik dengan kumuh, kotor, tak tertata, perlahan harus mulai dibenahi menjadi bersih, rapi dan teratur,” pungkas Bamsoet. (*)
Penulis :
Sumber : koranjakarta.com
Daya Beli Masyarakat Masih Rendah
Meskipun naik dibandingkan bulan sebelumnya, inflasi pada Juni lalu tercatat lebih rendah dibandingkan periode setelah Lebaran tahun lalu.
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Juni 2020 mencapai 0,18 persen secara bulanan atau month to month (mtm), di atas catatan pada Mei lalu sebesar 0,07 persen.
Namun, secara agregat inflasi tercatat masih lebih rendah dibandingkan periode setelah Lebaran pada 2019 sebesar 0,33 persen.
“Kalau melihat indikator data tahunan juga menunjukkan pola yang sama. Artinya, daya beli masyarakat jauh berkurang dibandingkan tahun lalu,” ujar Ekonom Centre of Reform on Economic (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, kepada Koran Jakarta, Rabu (1/7).
Dia menambahkan tercapainya target inflasi dalam asumsi makro 2020 akan sangat bergantung terhadap seberapa cepat daya beli bisa pulih setelah mendapat tekanan begitu dalam akibat pandemi Covid -19.
“Jika dengan asumsi daya beli bisa pulih, target inflasi 3,10 persen sepanjang tahun bisa tercapai,”
tambahnya.
Sebelumnya, Kepala BPS, Suhariyanto, mengatakan pola inflasi pada 2020 sangat berbeda dengan tahun sebelumnya di mana selama Januari–Juni 2020 inflasi tercatat hanya 1,09 persen, sedangkan secara tahunan (year on year/ yoy) sebesar 1,96 persen.
“Pergerakan inflasi bulan ke bulan posisi ini bulanan polanya agak beda. Biasanya Lebaran puncak inflasi lalu menurun, tapi tidak terjadi tahun ini karena Covid-19. Inflasi tahun ini, flat tapi naik tipis di Juni 2020,” ujar Suhariyanto dalam konfrensi pers virtual, Jakarta, Rabu (1/7).
Suhariyanto menambahkan lonjakan harga daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi pada Juni 2020 dengan andil sebesar 0,14 persen, kemudian telur ayam ras dengan andil sebesar 0,04 persen.
Bukan hanya itu, lanjutnya, inflasi pada Juni lalu turut disumbangkan oleh kenaikan tarif angkutan udara dengan andil sebesar 0,02 persen dan juga tarif angkutan antarkota serta kendaraan roda dua online masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen.
Sememtara itu, terdapat beberapa komiditas yang menahan laju inflasi pada Juni 2020 karena adanya penurunan harga di antaranya bawang putih derngan andil deflasi sebesar 0,04 persen.
Disusul cabai merah dengan andil deflasi sebesar 0,03 persen, serta bumbu-bumbuan atau sembako seperti cabai rawit, minyak goreng, dan gula pasir yang masing-masing memberikan andil pada deflasi sebesar 0,01 persen.
Ekonomi Menggeliat
Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan tingginya permintaan masyarakat terhadap bahan makanan telah memicu terjadinya inflasi pada Juni 2020 sebesar 0,18 persen. Airlangga Hartarto dalam pernyataan di Jakarta, Rabu (1/7), mengatakan
permintaan yang mulai pulih tersebut memperlihatkan aktivitas ekonomi mulai berjalan dalam suasana normal baru.
“Membaiknya aktivitas ekonomi juga ditunjukkan semakin meningkatnya domestic demand, seperti ditandai dengan inflasi daging ayam ras 0,14 persen dan telur ayam ras 0,04 persen,” kata Airlangga.
Airlangga mengatakan pembukaan kantor-kantor pada normal baru telah mendorong pembukaan warung atau rumah makan serta mendorong permintaan atas daging ayam dan telur ayam ras.
Kondisi itu yang menyebabkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi tinggi 0,47 persen pada Juni 2020.
Selain itu, pembukaan kegiatan ekonomi juga mempengaruhi sektor transportasi yang mulai menggeliat, terlihat dari inflasi tarif angkutan udara, tarif angkutan antarkota, dan kendaraan roda dua online.
Penulis :
Sumber : Medanbisnisdaily.com
Di Tengah Pandemi Corona, Ekspor Perikanan Masih Moncer
Medanbisnisdaily.com - Jakarta - Di tengah pandemi Corona, kinerja ekspor komoditas perikanan tangkap perikanan masih tercatat positif. Komoditas ini diyakini menjadi penopang ekspor di tengah Corona yang masih mewabah.
Wakil Ketua Umum Kadin bidang Kelautan dan Perikanan Kadin, Yugi Prananto mengatakan, komoditas tersebut cukup menjanjikan untuk menopang kinerja ekspor.
"Udang, tuna, tongkol, cakalang, cumi sotong, gurita, rajungan, kepiting dan rumput laut adalah komoditas yang ideal", sebut Yugi dalam keterangannya, Selasa (30/6/2020).
Berdasarkan Badan Pusat Statistik triwulan pertama tahun 2020, ekspor dari budidaya perikanan komoditas tersebut sangat menjanjikan. Udang mendominasi ekspor dengan nilai mencapai US$ 466,24 juta (37,56%). Tuna-tongkol-cakalang (TTC) dengan nilai US$ 176,63 juta (14,23%). Kemudian cumi-sotong-gurita dengan nilai US$ 131,94 juta (10,63%). Disusul rajungan-kepiting dengan nilai US$ 105,32 Juta (8,48%) dan rumput laut dengan nilai US$ 53,75 Juta (4,33%).
"Budidaya bagus untuk penciptaan lapangan kerja, meningkatkan taraf hidup petambak, dan menjaga kelestarian" kata dia.
Kadin berharap, sektor Kelautan dan Perikanan dapat menjadi ujung tombak perekonomian nasional dalam masa pemulihan pasca COVID-19. "Selama PSBB (pembatasan sosial berskala besar) berlangsung, aktivitas produksi perikanan tetap berjalan dengan memperhatikan protokol kesehatan dan ekspornya cukup baik," kata Yugi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) volume ekspor Januari-Maret 2020 mencapai 295,13 ribu ton atau meningkat 10,96% dibanding periode yang sama tahun 2019. Sementara nilai ekspor Indonesia selama Januari-Maret 2020 mencapai US$ 1,24 miliar atau meningkat 9,82% dibanding periode yang sama tahun 2019. Pada April 2020 volume ekspor tercatat mencapai 119,65 ribu ton atau meningkat 29,84% apabila
dibanding April 2019, dengan nilai ekspor perikanan mencapai US$ 438,02 juta.
Meningkatnya produktivitas perikanan dan peningkatan ekspor itu merupakan andil dari adanya dukungan regulasi. Kadin menilai KKP berhasil melakukan gebrakan melalui reformasi perizinan dengan efektifnya Sistem Informasi Izin Layanan Cepat (SILAT) berbasis online. Sistem yang dikelola Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (Ditjen PT) ini mampu memangkas pengurusan izin dari 14 hari menjadi satu jam saja.
"Banyak dari rekan pelaku usaha juga nelayan sangat terbantu dengan ini. Permohonan izin kapal perikanan di atas 30 GT dapat dengan mudah didapatkan, sehingga tidak ada hambatan untuk melaut," kata Yugi.
Dewan Kehormatan Kadin Nusa Tenggara Barat (NTB), Herry Prihatin mengatakan komunikasi dan sinergi yang terjalin antara KKP dan Kadin daerah turut menjadi andil dalam memajukan usaha di sektor perikanan, utamanya terkait budidaya dan tangkap, juga polemik bibit lobster.
"Dengan terbitnya aturan Menteri KKP (PermenKP No. 12 Tahun 2020) yang
membolehkan bibit lobster untuk dibudidayakan dan diekspor kembali hal ini menjadi titik tolak bangkitnya usaha bagi pembudidaya dan nelayan, seperti oase di tengah situasi sulit seperti saat pandemi covid 19 sekarang ini," kata Herry. dtc
Penulis :
Sumber : JawaPos.com
Gunakan Transportasi Umum, Ini Langkah Cegah Penularan Covid-19
JawaPos.com – Dalam era new normal seperti sekarang ini, disiplin
masyarakat akan kesehatan haruslah tinggi. Apalagi, untuk masyarakat yang telah kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa, terlebih bagi yang menggunakan moda transportasi umum.
Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional dr. Reisa Broto Asmoro mengatakan, setiap individu harus mengutamakan protokol kesehatan untuk mengurangi risiko terpapar Covid-19.
Pencegahan diri dan perlindungan terhadap sesama dapat dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan. Dia pun membagikan tujuh langkah protokol kesehatan bagi calon penumpang kendaraan umum.
Pertama, memastikan diri dalam kondisi sehat.
“Jika mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek atau nyeri tenggorokan atau bahkan sesak napas, tetaplah di rumah,” ujarnya melalui siaran pers, Rabu (1/7).
Kedua, calon penumpang disarankan menggunakan kendaraan umum yang berpenumpang terbatas apabila benar-benar memerlukan
transportasi umum. Kemudian, calon penumpang juga wajib menggunakan masker saat melakukan perjalanan dan selama berada di moda
transportasi.
“Keempat, menjaga kebersihan tangan dengan sering cuci tangan atau minimal menggunakan hand sanitizer,” lanjutnya.
Selanjutnya, calon penumpang pun harus menghindari untuk menyentuh area wajah, seperti mata hidung dan mulut, terutama kalau tangan kotor.
“Keenam, tetap perhatikan jaga jarak aman minimal satu meter dengan orang lain,” tambah dr. Reisa.
Terakhir adalah menjaga jarak dengan para penumpang yang lain. “Jika kondisi kendaraan umum padat, penerapan jaga jarak sulit diterapkan, penggunaan pelindung wajah atau face shield bersama masker sangat direkomendasikan sebagai perlindungan tambahan,” kata dia.
Langkah-langkah tersebut sangat beralasan. Berdasarkan survei sosial
demografi dampak Covid-19, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan,
sebanyak 82,5% persen responden memilih opsi selain transportasi umum.
Sementara, sisanya masih aktif menggunakan transportasi umum.
“Namun, baru sebanyak 38,11 persen yang telah menjaga jarak atau social distancing, setidaknya satu meter dari orang lain. Bahkan, sebagian masih mengaku tidak melakukan jaga jarak fisik. Nah, inilah yang harus kita semua perbaiki,” tegasnya.
Berada di ruang publik, seperti saat menggunakan angkutan umum, individu, sebisa mungkin harus melakukan upaya pencegahan dan perlindungan diri. Perlindungan kesehatan individu juga merupakan
tanggung jawab semua pihak, termasuk para pengguna moda transportasi baik darat, laut, maupun udara.
“Patuhi protokol kesehatan, dan pastikan kita aman dari Covid-19. Disiplin adalah kunci dari berhasilnya adaptasi ini dan keberhasilan adaptasi
kebiasaan baru menentukan berhasilnya kita tetap produktif dan aman
Covid-19,” tutup Reisa.
Penulis :
Sumber : INDONEWS.com
Hadapi Pandemi COVID-19, Pedagang Pasar Tradisional Harus Melek
Teknologi
INDONEWS.ID -- Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai 14 ribu lebih pasar tradisional yang tersebar di berbagai wilayah sebagai jantung kehidupan ekonomi tak boleh mati beraktifitas akibat pandemi Covid-19. Terhentinya aktifitas pasar tradisional sama saja dengan memberhentikan detak denyut ekonomi rakyat.
Agar aktifitas perdagangan di pasar tradisional tak terhenti, harus ada terobosan baru dari pemerintah. Strategi jangka pendek, misalnya, dengan membatasi aktifitas
kunjungan. Sedangkan di jangka panjang, mendorong para pedagang pasar tradisional untuk melek teknologi melalui digitalisasi perdagangan secara virtual.
"Strategi jangka pendek sudah diberlakukan di berbagai daerah dengan membatasi para pedagang pasar tradisional dengan memberlakukan sistem ganjil genap. Di tanggal ganjil, lapak dengan nomor urut ganjil bisa berjualan. Di saat tanggal genap, gantian lapak dengan nomor urut genap yang berjualan. Begitupun dengan para pembeli yang dibatasi jumlahnya. Dengan demikian pasar tradisional tak perlu ditutup total, melainkan cukup membatasi aktifitas agar tidak menjadi kluster terbesar dalam penyebaran Covid- 19," ujar Bamsoet saat menerima Aliansi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia
(APPSINDO), di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Selasa (30/6/20).
Pengurus APPSINDO yang hadir antara lain Ketua Majelis Pertimbangan Zainal Bintang, Pembina Khairil Hamzah, Ketua Umum Hasan Basri, Sekjen Irwansyah, Sekretaris I Maiya Bella, dan Sekretaris II Rini Ali.
Mantan Ketua DPR RI ini menjelaskan, data survei Badan Pusat Statistik pada tahun 2019 mencatat, dari 16.021 pusat perdagangan yang ada di Indonesia, 88,52 persen atau sekitar 14.182 merupakan pasar tradisional. Sementara sisanya terdiri dari toko modern sebesar 7,06 persen dan pusat perbelanjaan sebesar 4,42 persen. Jumlah pedagang di pasar tradisional di Indonesia lebih dari 12 juta. Hal ini menandakan
besarnya pengaruh pasar perdagangan terhadap geliat perdagangan ekonomi nasional.
"Pandemi Covid-19 telah memaksa seluruh aktifitas pertemuan tatap muka berkurang drastis. Digitalisasi menjadi sebuah keniscayaan. Begitupun terhadap para pedagang pasar tradisional. Pemerintah pusat dan daerah harus mulai menggalakan strategi jangka panjang membina para pedagang pasar agar melek teknologi," jelas Bamsoet.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menilai, inisiatif APPSINDO membentuk Lembaga Ketahanan dan Pengembangan Pasar (LEMHASAR) sebagai wadah yang akan mengembangkan potensi para pedagang pasar menuju digitalisasi, patut diapresiasi. Jika berbagai aliansi maupun asosiasi pedagang pasar bisa mencontoh langkah serupa, akan semakin mempercepat kemajuan para pedagang pasar tradisional menatap globalisasi dan persaingan dengan ritel modern.
"Pemerintah pusat dan daerah harus hadir memberikan dukungan sehingga bisa
bergotongroyong memajukan para pedagang tradisional. Jangan sampai aliansi maupun asosiasi pedagang pasar yang jumlahnya sangat banyak, malah berjalan sendirian tak didampingi pemerintah," tandas Bamsoet.
Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga mendorong pemerintah pusat dan daerah bersama Gugus Tugas Covid-19 untuk memperbanyak swab test di berbagai pasar tradisional. Hal ini seharusnya tak terlalu sulit untuk dilakukan, mengingat hampir sebagai besar pasar tradsional dikelola oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN maupun BUMD.
"Membentengi pasar tradisional dari penyebaran Covid-19 harus dilakukan dengan memperbesar swab test, sekaligus mendisiplinkan pemberlakuan protokol kesehatan kepada para pedagang maupun pembeli. Di pasar tradisional semuanya bisa ditawar, dari mulai harga hingga ketersediaan jumlah barang. Yang tak boleh ditawar adalah pemberlakukan protokol kesehatan," tegas Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menerangkan, berbeda dengan mall maupun aktifitas perkantoran, aktifitas di pasar tradisional merupakan yang paling pertama ramai di masa pola hidup baru atau new normal. Orang bisa menahan diri ke mall, maupun tetap mengerjakan berbagai tugas kantor dari rumah. Namun tak bisa menunda
berkunjung ke pasar tradisional, karena disanalah berbagai kebutuhan hidup sehari-hari tersedia.
"Pandemi Covid-19 juga telah mengajarkan kepada kita semua, baik dari sisi pedagang maupun pembeli di pasar tradisional, agar lebih memperhatikan aspek kesehatan. Pasar tradisional yang selama ini identik dengan kumuh, kotor, tak tertata, perlahan harus mulai dibenahi menjadi bersih, rapi dan teratur," pungkas Bamsoet. (*)
Penulis :
Sumber : antaranews.com
IHSG BEI menguat jelang rilis data inflasi Juni
Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi menguat menjelang rilis data inflasi Juni 2020 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Rabu siang.
IHSG menguat 11,04 poin atau 0,23 persen ke posisi 4.916,43. Sementara
kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 2,61 poin atau 0,35 persen menjadi 758,81.
"Dari dalam negeri, hari ini diperkirakan investor akan menunggu rilis data ekonomi seperti inflasi dan indeks keyakinan konsumen. IHSG kami perkirakan akan
bergerak menguat namun terbatas, menunggu data-data ekonomi tersebut," tulis Tim Riset Samuel Sekuritas dalam laporan yang dikutip ANTARA di Jakarta, Rabu.
Inflasi Juni diprediksi akan cenderung rendah sehingga membuat adanya potensi penurunan suku bunga acuan kembali oleh Bank Indonesia pada Juli ini.
Dari eksternal, bursa saham AS pada perdagangan semalam ditutup menguat.
Penguatan bursa AS di akhir semester I 2020, selain akibat aksi window dressing di penghujung kuartal, juga didukung berbagai faktor.
Window dressing adalah strategi yang dilakukan oleh manajer investasi maupun perusahaan terbuka untuk mempercantik portofolio atau performa laporan keuangan sebelum ditampilkan kepada para pemegang saham.
Salah satu faktor lainnya adalah Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin yang
menyatakan ekonomi AS cukup kuat untuk pulih dari pandemi COVID-19. Serta ada harapan pada beberapa penelitian vaksin yang menunjukkan hasil tes yang positif.
Selain itu, stimulus yang diberikan pemerintah juga membuat bursa AS mengakhiri kuartal II 2020 dengan penguatan yang cukup tinggi.
Dari pasar komoditas, harga minyak dunia turun tipis pada perdagangan semalam.
Turunnya harga akibat kekhawatiran terus meningkatnya kasus COVID-19 terutama di AS.
Selain itu, Organisasi Kesehatan Internasional (WHO) juga memberikan pernyataan bahwa mungkin saja hal terburuk akibat wabah COVID-19 belum terjadi.
Serta keinginan Libya untuk mengekspor kembali minyaknya setelah tidak diperbolehkan akibat adanya perang di negara tersebut sejak Januari.
Bursa saham regional Asia pagi ini antara lain indeks Nikkei menguat 21,56 poin atau 0,1 persen ke 22.309,7, indeks Shanghai naik 9,16 poin atau 0,31 persen ke 2.993,83, dan indeks Straits Times menguat 22,49 poin atau 0,87 persen ke 2.612,4.
Kliping Berita Online
Tanggal : 02/07/2020 Penulis :
Sumber : KONTAN.com
IHSG Hari Ini Bakal Melanjutkan Penguatan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat tipis 0,18% ke level 4.914,39 pada perdagangan Rabu (1/7). Sebanyak 161 saham menguat, 242 saham melemah dan 165 saham bergeming.
Seiring pergerakan IHSG, tercatat juga lima indeks sektor menguat dan lima indeks sektor turun. Indeks sektor tambang mencatat kenaikan terbesar, yakni 1,08%. Sektor keuangan naik 1,03% dan sektor perkebunan naik 0,59%. Sedang sektor industri dasar menguat 0,38% dan sektor aneka industri naik tipis 0,09%.
Sejumlah analis memperkirakan hari ini IHSG masih bisa melanjutkan
penguatan. Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menuturkan, sentimen data-data ekonomi akan mendukung pergerakan IHSG.
Sejumlah data ekonomi terlihat membaik. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) meningkat ke level 96 di periode Juni dari 77,8 di Mei. Valdy menilai, perbaikan data tersebut dapat menjadi sinyal pemulihan pertumbuhan ekonomi ke depan.
Meski IHSG berpeluang menguat, kecenderungan net sell investor asing diperkirakan masih akan berlanjut. "Ini berpotensi membayangi penguatan IHSG," terang Valdy, Rabu (1/7). Dengan demikian, Valdy memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang perdagangan 4.800-4.950 pada hari ini.
Senada, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG akan lanjut menguat pada perdagangan hari ini. IHSG akan bergerak
antara support 4.862 dan resistance di level 4.950.
IHSG kemarin terkerek respons positif pasar pada realisasi inflasi Indonesia di Juni. Kemarin, Badan Pusat Statistik mengumumkan inflasi Juni 2020
mencapai 0,18% secara bulanan. Inflasi ini lebih tinggi dibandingkan inflasi periode Mei 2020 yang sebesar 0,07%.
Tapi Aria Santoso, Presiden Direktur CSA Institute, memperkirakan IHSG akan melemah terbatas. Sebab, IHSG masih dibayangi oleh sentimen global, yakni kekhawatiran gelombang kedua pandemi Covid-19.
Karena itu, menurut dia, kekhawatiran akan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi belum hilang. "Proyeksi besok IHSG melanjutkan pelemahan terbatas dengan area support di 4.850 dan resistance di 4.964," ujar Aria, Rabu (1/7).
Tanggal : 02/07/2020 Penulis :
Sumber : KONTAN.com
IHSG berpotensi menguat, simak
rekomendasi saham untuk perdagangan Kamis (2/7)
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat sebesar 0,18% ke level 4.914,39 pada penutupan perdagangan Rabu (1/7). Penguatan IHSG ini didorong oleh sektor tambang yang mengalami kenaikan terbesar yaitu 1,08%. Sektor keuangan naik 1,03%, sektor perkebunan naik 0,59%, sektor industri dasar menguat 0,38%
dan sektor aneka industri naik 0,09%.
Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper mengatakan, pergerakan IHSG juga mengekor penguatan bursa secara global. "Meskipun begitu pergerakan masih cukup terbatas setelah rilis data inflasi Indonesia yang sedikit di bawah ekspektasi," katanya, Rabu (1/7).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada bulan Juni 2020 sebesar 0,18% mom.
Secara tahun kalender, inflasi bulan lalu tercatat 1,09% year to date dan secara tahunan, inflasi sebesar 1,96% yoy.
Adapun untuk perdagangan Kamis (2/7), ia memprediksi IHSG berpotensi kembali menguat.
Secara teknikal, IHSG masih bergerak dalam tren konsolidasi sehingga pergerakan akan cenderung terbatas namun ada potensi penguatan seiring menguatnya bursa global didorong oleh optimisme pemulihan ekonomi.
Selain itu, sambungnya, investor juga akan mencermati beberapa data perekonomian. Dalam hitungannya, level support IHSG berada di 4.866 sementara resisten di 4.952.
Kliping Berita Online
Tanggal : 02/07/2020 Penulis :
Sumber : 24berita.com
Indeks Harga Perdagangan Besar Juni 2020 Naik 0,16 Persen
JAKARTA, - Badan Pusat Statistik ( BPS) melaporkan, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) pada Juni 2020 naik sebesar 0,16 persen dibanding Mei 2020.
Perubahan IHPB di tahun kalender 2020 adalah sebesar 0,77 persen dan perubahan IHPB tahun ke tahun sebesar 0,83 persen.
Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, kenaikan IHPB tertinggi berada pada sektor pertanian, yang menyumbang inflasi pada Juni 2020.
IHPB pada sektor pertanian sebesar 0,22 persen (month to month/mtm) dan memberikan andil 0,12 persen pada Juni 2020. Dengan begitu, HPB sektor pertanian secara tahunan deflasi 2,60 persen dan secara tahun kalender deflasi 0,80 persen.
"Komoditas yang terjadi kenaikan adalah komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, ayam buras, dan tepung terigu," kata Suhariyanto dalam konferensi video, Rabu (1/7/2020).
Sementara itu, IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Juni 2020 naik sebesar 0,02 persen terhadap bulan sebelumnya.
Berdasarkan kelompok bangunan, tiga di antaranya mengalami deflasi, salah satunya yakni bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal sebesar 0,09 persen yang memberikan andil 0,03 persen.
"Ada kenaikan untuk beberapa kelompok bahan bangunan, seperti solar industri, batu split, kayu lapis, lantai, dan barang dari logam alumunium. Komoditas lainnya yang mencatat penurunan adalah atap dan sejenisnya 1,44 persen, kayu gelondongan 1,16 persen, dan beberapa komoditas lainnya," pungkasnya.
Penulis :
Sumber : TIMESINDONESIA.com
Inflasi di Kota Cirebon Naik Hingga 0,45 Persen pada Juni 2020, Ini
Penyebabnya
7 kota pantauan IHK di Jawa Barat yang mengalami inflasi.(Foto: BPS Kota Cirebon) Pewarta: Muhamad Jupri | Editor: Faizal R Arief
TIMESINDONESIA, CIREBON – Badan Pusat Statistik Kota Cirebon (BPS Kota Cirebon) mencatat, Kota Cirebon mengalami inflasi sebesar 0,45 persen selama Juni 2020. Jumlah ini mengalami kenaikan setelah sebelumnya di bulan Mei 2020,
mengalami deflasi sebesar 0,09 persen.
Kepala BPS Kota Cirebon, Joni Kasmuri menjelaskan, inflasi sebesar 0,45 persen ini dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 103,11. Inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran.
Joni melanjutkan, beberapa komoditas yang mengalami peningkatan harga pada Juni 2020, antara lain daging ayam ras, jeruk, kolam renang, susu cair kemasan, bumbu masak jadi, tarif kendaraan travel, pasir, jagung manis, pengharum cucian/pelembut, dan biaya foto kopi.
"Di bulan Juni 2020, banyak yang mengalami kenaikan harga, yang mengakibatkan naiknya inflasi di Kota Cirebon," jelasnya, Rabu (1/7/2020).
Bahkan dari 7 kota pantauan IHK di Provinsi Jawa Barat, Kota Cirebon masuk urutan kedua yang mengalami inflasi tertinggi setelah Kota Bekasi.
Untuk Kota Bekasi sendiri, inflasi mencapai 0,48 persen, Kota Cirebon 0,45 persen, Kota Bandung 0,41 persen, Kota Bogor 0,27 persen, Kota Sukabumi 0,16 persen, Kota Tasikmalaya 0,15 persen, dan terendah di Kota Depok 0,10 persen. "Hampir semua wilayah mengalami inflasi," ungkapnya. (*)
Kliping Berita Online
Tanggal : 02/07/2020 Penulis :
Sumber : okezone.com
Inflasi Juni Diprediksi 0,04%
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) bakal mengumumkan inflasi Juni pada hari ini. Adapun inflasi Juni diprediksi berada di kisaran 0,04%.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah mengatakan, rendahnya inflasi ini harus diwaspadai. Mengingat hal ini bukan sesuatu yang bagus melainkan karena daya beli melemah.
"Penyebabnya daya beli yang menurun. Jadi inflasi yang rendah bukan good news," ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (1/6/2020).
Menurut Pieter, ada beberapa hal yang menyebabkan inflasi pada bulan Juni. Pertama adalah karena harga sejumlah komoditas pangan mengalami penurunan.
"Penurunan harga sejumlah komoditas pangan seperti beras, bawang putih, gula dan cabai," kata Pieter.
Sementara itu, pada kelompok sandang justru mengalami deflasi karena sudah lewat masa lebarannya.
Sebab setiap tahunnya, komponen sandang selalu minus saat lebaran usai.
"Deflasi pada sandang karena sudah lewat masa lebaran. secara pattern tahunan, komponen sandang minus setelah lebaran," ucapnya.
Meskipun deflasi, namun ada beberapa komponen pengeluaran yang mengalami kenaikan. Seperti pengeluaran perumahan seperti listrik, kesehatan dan perawatan pribadi.
"Meski terjadi deflasi pada beberapa komponen, namun untuk komponen pengeluaran perumahan, listrik (kenaikan TDL), kesehatan dan perawatan pribadi tetap naik, sehingga tetap terjadi inflasi namun rendah hanya 0.04%," kata Pieter.
Penulis :
Sumber : CNBC Indonesia.com
WHO Sarankan Lockdown Lagi vs Vaksin Pfizer, Mana Lebih Kuat?
SHARE 1. WHO Sarankan Lockdown Lagi vs Vaksin Pfizer, Mana Lebih Kuat?
Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan ini sudah hampir berakhir, tetapi pasar keuangan dalam negeri masih bergerak tak kompak. Kemarin pasar finansial RI ditutup variatif, aset berupa saham dan pendapatan tetap mengalami apresiasi, sedangkan rupiah harus kembali melemah di hadapan dolar AS.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terbenam di zona merah hampir di sepanjang perdagangan sebelum akhirnya reli saat injury time. IHSG akhirnya berhasil melenggang ke zona hijau dengan penguatan 0,18%.
Kendati demikian, investor asing masih melepas kepemilikan saham-sahamnya dengan membukukan aksi jual bersih sebesar Rp 377,8 miliar di seluruh pasar.
Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi saham yang paling banyak dilego asing.
Beralih ke pasar surat utang negara (SUN), obligasi rupiah pemerintah RI untuk tenor panjang yakni 10,15 dan 20 tahun mengalami kenaikan harga. Hal ini tercermin dari penurunan imbal hasilnya (yield).
Seri acuan yang paling menguat kemarin adalah FR0080 yang bertenor 15 tahun dengan penurunan yield 3,90 basis poin (BPS) menjadi 7,621%. Imbal hasil yang menarik membuat instrumen pendapatan tetap yang lebih tidak berisiko ketimbang saham juga dilirik investor sehingga mendongkrak harganya.
Pasar keuangan RI mendapat kabar yang cukup baik kemarin, sehingga menjadi lebih bertenaga untuk mencatatkan apresiasi. Kabar baik datang dari rilis data ekonomi Indonesia yang mulai menunjukkan tanda bahwa roda perekonomian RI sedang bergerak menuju ke fase pemulihan.
IHS Markit mengumumkan PMI manufaktur Indonesia periode Juni 2020 berada di angka 39,1. Posisi ini menujukan adanya perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di 28,6.
Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data inflasi periode Juni 2020 sebesar 0,18% secara bulanan (month-to-month/MtM). Ini membuat inflasi tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 1,96%.
Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia menghasilkan median inflasi bulanan sebesar 0,025%. Sementara inflasi tahunan ada di 1,805%.
Membaiknya sektor manufaktur (meski masih terkontraksi) serta inflasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan konsensus menjadi kabar baik bagi pasar keuangan.
Kabar baik lainnya juga datang dari China. Biro Statistik China (NBS) melaporkan angka PMI manufaktur China bulan Juni berada di 50,9. Angka ini jauh lebih baik dari bulan sebelumnya di 50,6 dan konsensus pasar yang memperkirakan berada di 50,4.
Data PMI manufaktur China versi Caixin juga mengkonfirmasi hal tersebut. Secara tak terduga PMI manufaktur Negeri Panda bulan Juni mengalami ekspansi tercermin dari angkanya yang berada di 51,2. Posisi ini membaik dari bulan sebelumnya 50,7 dan lebih tinggi dari konsensus pasar di 50,5.
Namun kabar baik tersebut tak membuat nilai tukar rupiah mengalami penguatan.
Rupiah sah mengalami pelemahan lima hari beruntun. Kemarin di pasar spot nilai tukar rupiah kembali terdepresiasi di hadapan dolar AS dengan pelemahan tipis sebesar 0,07%.
Rupiah memang sempat sangat perkasa setelah mencatatkan level terendah pada 23 Maret lalu di Rp 16.550/US$ di pasar spot. Kini rupiah mulai 'dibuang' oleh investor. Hal ini tercermin dari survei dua mingguan Reuters yang menunjukkan bahwa para pelaku pasar mulai meningkatkan posisi jual (short) terhadap rupiah.
Menurut survei tersebut, adanya risiko penyebaran pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19) menjadi penyebab investor kembali melepas aset-aset
negara emerging market, salah satunya Indonesia. Apalagi, menurut Reuters pelaku pasar melihat Bank Indonesia (BI) akan kembali memangkas suku bunga acuannya.
Saat BI kembali memangkas suku bunga, maka yield obligasi juga akan ikut menurun, sehingga daya tariknya akan berkurang. Aliran modal ke dalam negeri berisiko tersendat, rupiah menjadi kekurangan bahan bakar untuk kembali menguat.
Penulis :
Sumber : kompasiana.com
Uang Tidak Pernah Hilang, Hanya Berpindah dari Satu Bisnis ke Bisnis Lainnya
Pandemi Covid-19 belum juga berakhir hingga akhir semester pertama tahun 2020 ini. Data worldometer mengungkap, hingga hari ini sebanyak 10,4 juta orang di seluruh dunia positif terinfeksi virus Corona di mana 508 ribu di antaranya meninggal dunia. Di Indonesia sendiri terdapat 56.385 orang yang terinfeksi dengan jumlah korban jiwa 2.876.
Perekonomian jelas terdampak oleh pandemi ini. Tingkat pertumbuhannya bahkan negatif.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia merosot tajam pada kuartal II tahun 2020, bahkan terjadi pada negara maju yang perekonomiannya kuat.
"AS mendekati -10%, Inggris -15%, Jerman -11%, Perancis -17%, Jepang -8%,
bahkan India yang dianggap negara berkembang seperti Indonesia yang tumbuh cukup tinggi diperkirakan -12%," ungkap Sri Mulyani yang dikutip oleh Merdeka.com
(30/6).
Indonesia yang selama ini menerapkan PSBB untuk menangani pandemi Covid-19, juga terdampak. Pada kuartal II 2020, Indonesia diprediksi mengalami pertumbuhan ekonomi - 3,8%. Angka resmi untuk kuartal II ini akan dirilis BPS bulan Agustus 2020 nanti.
Dampak buruk Covid-19 terhadap perekonomian bisa kita lihat pada sejumlah perusahaan yang mengurangi bahkan menghentikan aktivitasnya. Lebih lanjut, banyak karyawan yang terpaksa dirumahkan hingga diberhentikan. Hal tersebut berpotensi menyebabkan krisis ekonomi, sehingga perlu antisipasi dari pemerintah, para pelaku usaha, dan masyarakat.
Kebijakan Makroprudensial
Bank Indonesia sebagai pengambil kebijakan moneter di Indonesia membuat kebijakan untuk menjamin stabilitas sistem keuangan. Salah satu langkah yang dilakukan Bank Indonesia yaitu menerapkan kebijakan makroprudensial untuk mencegah dan mengurangi risiko
sistemik, mendorong fungsi intermediasi yang seimbang dan berkualitas, serta meningkatkan efisiensi sistem keuangan dan akses keuangan.
Jika sistem keuangan dianalogikan sebagai sistem lalu lintas, maka kebijakan
makroprudensial berfungsi menjaga agar arus lalu lintas berjalan lancar. Jangan sampai ada kendaraan yang berjalan terlalu kencang atau terlalu lambat. Kendaraan yang mengebut bisa membahayakan kendaraan yang lain, sementara yang berjalan terlalu lambat juga akan menghambat kendaraan lainnya.
Sistem keuangan tersebut melibatkan lembaga keuangan, pasar keuangan, infrastruktur keuangan (sistem pembayaran), perusahaan non keuangan, dan rumah tangga. Saat
perekonomian bagus atau sedang booming, lembaga keuangan biasanya menggenjot kredit dan melakukan ekspansi. Kebijakan makroprudensial mengantisipasinya untuk meredam risiko dari aksi ekspansif ini. Misalnya dengan menurunkan LTV (loan to value), sehingga down payment kredit naik. Dengan demikian laju perkreditan bisa dikendalikan.
Sebaliknya saat perekonomian lesu di mana banyak lembaga keuangan mengerem kredit, kebijakan makroprudensial dipakai untuk memacu perekonomian. Misalnya dengan cara menaikkan LTV sehingga down payment kredit lebih kecil, untuk menstimulus pelaku usaha melakukan kredit.
Peran Masyarakat dalam Menjaga Stabilitas Keuangan
Kita sebagai masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Saat keadaan ekonomi yang sedang kurang baik sekarang ini, kita bisa ikut menjaga stabilitas tersebut misalnya dengan tidak menarik uang besar-besaran (rush) dan menyimpan uang tunai dalam jumlah besar, yang akibatnya dapat menciptakan gangguan terhadap
perekonomian.
Selain rush dan menyimpan uang tunai dalam jumlah banyak, perilaku menimbun masker dan beberapa barang lainnya seperti yang terjadi beberapa waktu lalu juga bisa menimbulkan keresahan. Aksi tak terpuji tersebut bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dengan cara menjual kembali dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga normal.
Kita perlu berperilaku cerdas di masa pandemi. Hal ini memungkinkan kita tetap bertahan di masa kesukaran ekonomi saat ini, dengan cara-cara yang tidak mengganggu orang lain dan sistem keuangan yang ada.
Uang Tak Pernah Hilang, Hanya Berpindah dari Satu Bisnis ke Bisnis Lainnya
Seperti yang disinggung pada bagian sebelumnya, Covid-19 membuat sejumlah perusahaan mengurangi bahkan menghentikan aktivitasnya sehingga banyak karyawan yang terpaksa dirumahkan hingga diberhentikan.
Ada sebuah ungkapan menyebutkan bahwa uang tidak pernah benar-benar hilang, tetapi hanya berpindah dari satu bisnis ke bisnis yang lainnya. Pun di masa sekarang saat banyak bisnis mengalami kelesuan, ada bisnis tertentu yang mengalami booming.
Misalnya yang terjadi pada pabrik sepeda. Ketika banyak pabrik mengurangi jumlah karyawan, salah satu pabrik yang memproduksi sepeda malah kebanjiran order. Untuk meningkatkan kemampuan produksinya, pabrik tersebut mau tidak mau menambah jumlah karyawannya.
Saat ini memang kegemaran masyarakat untuk bersepeda sedang meningkat. Salah satu penyebabnya yaitu dorongan untuk hidup sehat dengan berolahraga. Beberapa olahraga tidak bisa dilakukan saat pandemi karena melibatkan orang banyak dan menciptakan kerumunan, misalnya futsal, sepakbola, atau bulutangkis. Masyarakat kemudian beralih bersepeda.
Mereka yang sebelumnya tidak memiliki sepeda, mulai merogoh kantong untuk membeli sepeda.
Bisnis lainnya yang ikut mengalami perkembangan di masa pandemi misalnya IT dan telekomunikasi. Perubahan perilaku masyarakat terjadi, di mana mereka kini lebih banyak melakukan aktivitas di dalam rumah. Kegiatan bisnis yang sebelumnya dilakukan secara
Jeli Melihat Peluang
Perilaku cerdas di masa krisis ini perlu dimiliki agar perekonomian keluarga tetap terjaga.
Perubahan perilaku masyarakat yang lebih banyak melakukan kegiatan secara online adalah peluang yang perlu dimanfaatkan.
Kita bisa memanfaatkan internet dan media sosial untuk menunjang bisnis kita. Misalnya jika saat ini kita memiliki usaha warung atau toko, mulailah mempromosikan usaha kita melalui jaringan pertemanan di dunia maya (media sosial).
Selain itu, kita juga bisa mendaftarkan bisnis ke marketplace untuk memperluas jaringan usaha. Masyarakat kini mulai melakukan belanja online. Selain lebih praktis, hal ini juga menghindarkan masyarakat untuk datang langsung ke toko offline. Perilaku konsumen tersebut dimanfaatkan oleh penjual dengan mulai membuka lapaknya di marketplace seperti Lazada, Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dan yang lainnya.
Profesi lainnya yang juga tetap bertahan di masa krisis adalah influencer atau bloger, seperti yang saya lakukan. Banyak brand yang memanfaatkan jasa influencer tersebut untuk
mempromosikan produknya melalui tulisan di blog atau postingan di media sosial (Instagram, Facebook, dan yang lain).
Promosi melalui internet, blog atau media sosial adalah langkah yang tepat untuk
menjangkau pelanggan. Wajar saja, saat ini penggunaan internet oleh masyarakat semakin meningkat. Aktivitas membuka media sosial, membaca berita online atau blog, dan sebagainya, mengalami kenaikan saat ini.
Untuk itu, influencer atau bloger perlu meningkatkan kapasitasnya. Lakukan optimasi blog dan media sosial yang dimiliki, dan tambah jaringan pertemanan di dunia maya. Hal tersebut menjadi aset penting bagi influencer atau bloger untuk tetap mendapatkan penghasilan di masa krisis.
Jadi, mulailah untuk membaca peluang bisnis di sekitar kita. Uang tidak pernah benar-benar hilang, tetapi hanya berpindah dari satu bisnis ke bisnis yang lainnya. Jika kita melihat banyak bisnis mengalami kelesuan, carilah bisnis lain yang mengalami booming di masa krisis ini.
Kliping Berita Online
Tanggal : 02/07/2020 Penulis :
Sumber : aktual.com
Solo Alami Inflasi Bulan Juni
Solo, Aktual.com – Kota Solo pada bulan Juni 2020 mengalami inflasi pascadeflasi pada bulan lalu akibat terjadinya penurunan harga sejumlah komoditas pokok.
“Pada bulan Juni terjadi inflasi sebesar 0,29 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 103,82,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta Totok Tavirijanto di Solo, Rabu (1/7).
Untuk inflasi kali ini, kata dia, disebabkan adanya kenaikan harga-harga yang ditunjukkan oleh naiknya angka indeks harga konsumen.
BPS mencatat kelompok pengeluaran yang mengalami penaikan indeks harga, salah satunya kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 0,41 persen.
Selain itu, kelompok pakaian dan alas kaki naik 0,09 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 0,10 persen; kelompok kesehatan naik 0,07 persen; dan kelompok transportasi naik 0,06 persen.
Dari sisi komoditas, lanjut dia, yang mengalami kenaikan harga sehingga
memberikan sumbangan terhadap inflasi, di antaranya telur ayam ras, daging ayam, dan bawang merah.
Selanjutnya, BPS mencatat dari enam kota di Provinsi Jawa Tengah yang dihitung angka inflasinya pada bulan Juni 2020 tercatat semua kota mengalami inflasi.
Ia menyebutkan inflasi tertinggi terjadi di Kota Tegal sebesar 0,42 persen, berikutnya Kota Purwokerto sebesar 0,40 persen, Kota Surakarta sebesar 0,29 persen, Kota Cilacap sebesar 0,28 persen, Kota Semarang sebesar 0,16 persen, dan Kota Kudus 0,09 persen.
Sebelumnya, tepatnya pada bulan Mei 2020 Kota Solo mengalami deflasi sebesar 0,20 persen dengan indeks harga konsumen sebesar 103,52.
“Deflasi ini disebabkan adanya penurunan harga-harga yang ditunjukkan oleh turunnya angka indeks harga konsumen, salah satunya kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 1,11 persen,” katanya.
Untuk jenis komoditas yang mengalami penurunan harga pada kelompok tersebut, di antaranya bawang putih, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, dan cabai merah. (Antara)
Kliping Berita Online
Tanggal : 02/07/2020 Penulis :
Sumber : yahoo.com
Semester satu 2020, Kadin apresiasi capaian dan sinergitas KKP
Meski mendapat tantangan dengan adanya pandemi COVID-19, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengapresiasi kinerja dan sinergitas antara dunia usaha dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Semester Satu 2020.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Kadin, Yugi Prayanto, menilai Pemerintah dalam hal ini KKP cukup jeli membangun kerja sama dengan pihak swasta untuk melakukan observasi dan eksploitasi budidaya yang potensinya demikian besar sehingga menjadi salah satu program prioritas.
"Sinergi program pemerintah dan dunia usaha selama ini sangat baik. Pemerintah cukup terbuka dengan usulan-usulan dari pelaku usaha, bahkan mau mendengar suara
nelayan dan mau mengkoordinir berbagai kepentingan di sektor ini," kata Yugi di Jakarta, Selasa.
Yugi berpendapat bahwa selain perikanan tangkap, perikanan budidaya menjadi sektor yang sangat menjanjikan untuk menopang kinerja ekspor kelautan dan perikanan.
Sejumlah komoditas seperti udang, tuna, tongkol, cakalang, cumi sotong, gurita, rajungan, kepiting dan rumput laut menjadi komodtas yang ideal untuk meningkatkan kinerja ekspor.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik triwulan pertama tahun 2020, ekspor dari budidaya perikanan komoditas tersebut sangat menjanjikan.
Udang mendominasi ekspor dengan nilai mencapai 466,24 juta dolar AS (37,56 persen);
tuna-tongkol-cakalang (TTC) dengan nilai 176,63 juta dolar AS (14,23 persen).
Kemudian cumi-sotong-gurita dengan nilai 131,94 juta dolar AS(10,63 persen), serta disusul rajungan-kepiting dengan nilai 105,32 juta dolar AS (8,48 persen) dan rumput laut dengan nilai 53,75 juta dolar AS (4,33 persen).
Kadin berharap sektor kelautan dan perikanan dapat menjadi ujung tombak perekonomian nasional dalam masa pemulihan pasca COVID-19.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) volume ekspor Januari–Maret 2020 mencapai 295,13 ribu ton atau meningkat 10,96 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.
Sementara nilai ekspor Indonesia selama Januari–Maret 2020 mencapai 1,24 miliar dolar AS atau meningkat 9,82 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.
Pada April 2020, volume ekspor tercatat mencapai 119,65 ribu ton atau meningkat 29,84 persen apabila dibanding April 2019, dengan nilai ekspor perikanan mencapai 438,02 juta dolar AS.
Kadin juga menilai KKP berhasil melakukan gebrakan melalui reformasi perizinan dengan efektifnya Sistem Informasi Izin Layanan Cepat (SILAT) berbasis online.
"Banyak dari rekan pelaku usaha juga nelayan sangat terbantu dengan ini. Permohonan izin kapal perikanan di atas 30 GT dapat dengan mudah didapatkan, sehingga tidak ada hambatan untuk melaut," kata Yugi.
Ke depan, sektor perikanan dan kelautan sangat membutuhkan pemulihan jaringan logistik untuk penyerapan hasil produksi yang lebih cepat dan menekan biaya logistik yang masih relatif tinggi.
Kliping Berita Online
Tanggal : 02/07/2020 Penulis :
Sumber : VIVAnews .com
Sektor Kelautan dan Perikanan Bisa Jadi Ujung Tombak Pemulihan Ekonomi
VIVAnews – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkapkan