10 BAB II
LANDASAN TEORI A. Sikap
1. Pengertian Sikap
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata sikap dan memahaminya karena ia menjadi bagian dari kalimat atau ulasan yang kita pahami secara keseluruhan. Namun tidak demikian bila kita membahas sikap sebagai suatu konsep dalam psikologi sosial.
Pada permulaan abad ke 20, sikap merupakan konsep yang menjadi perhatian utama dalam psikologi sosial, sehingga ada yang menganggap bahwa psikologi sosial adalah bidang studi psikologi yang mempelajari sikap1. Sikap berasal dari kata latin “aptus” yang berarti dalam keadaan sehat dan siap melakukan aksi/tindakan atau dapat dianalogikan dengan keadaan seorang gladiator dalam arena laga yang siap menghadapi singa sebagai lawannya dalam pertarungan. Secara harfiah, sikap dipandang dalam kesiapan raga yang dapat diamati.
Menurut allport, sikap merupakan kesiapan mental, yaitu suatu proses yang berlangsung dalam diri seseorang, bersama dengan pengalaman individual masing-masing, mengarahkan dan menetukan respons terhadap berbagai objek dan situasi. Pada tahun sekitar 1930-1970an, sikap merupakan topik yang sangat penting dalam kehidupan manusia, menjadi bahasan dan fokus penelitian dengan menggunakan metode/tekhnik- tekhnik khusus untuk pengukuran sikap. Beberapa decade kemudian, pengertian mengenai sikap semakin berkembang dan mengalami perubahan, seperti yang dilihat pada kutipan definisi sikap menurut beberapa penulis berikut :
1 Thomas dan Zaniecki, Studi Konsep Psikologi, (Bandung : CV. Alfabeta, 1918), 135
11
a. Reaksi evaluative yang disukai atau tidak disukai terhadap sesuatu atau seseorang, menunjukan kepercayaan, perasaan, atau kecenderungan perilaku seseorang.
b. Sikap adalah tendensi psikologis yang diekspresikan dengan mengevaluasi entitas tertentu dengan beberapa derajat kesukaan atau ketidaksukaan.
c. Evaluasi terhadap beberapa aspek perkataan sosial
Berdasarkan batasan-batasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu proses penilaian yang dilakukan seseorang terhadap suatu objek.
Batasan sikap dalam psikologi sosial merujuk pada adanya penilaian terhadap objek sikap. Penilaian adalah proses mengolah dan menghubungkan suatu stimulus (objek sikap) dengan suatu respons tertentu. Stimulus dan respons merupakan hal yang dapat diamati. Sikap merupakan proses evaluasi yang sifatnya subjektif yang berlangsung dalam diri seseorang dan tidak dapat diamati secara langsung. Sikap dapat diketahui melalui pengetahuan, keyakinan, perasaan dan kecenderungan seseorang terhadap objek sikap.
Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpikir, berpersepsi, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukanlah perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara tertentu terhadap objek sikap. Sikap relatif lebih menetap atau jarang mengalami perubahan2.
Sikap merupakan salah satu konsep yang paling penting digunakan pemasar untuk memahami konsumen.3
2 Eagly dan Chaiken, Sikap dan Itensi, (Jakarta : IAIP Indonesia, 1988), 54
3 Etta & Sopiah, Perilaku Konsumen, (Yogyakarta :CV. Andi Offset 2005), 195
12
Sikap merupakan suatu yang terdapat pada diri individu akan memberi warna atau corak tingkah laku ataupun perbuatan individu yang bersangkutan4.
Sikap adalah konsep yang dibentuk oleh tiga komponen, yaitu kognitif, afektif, dan prilaku. Komponen kognitif berisi semua pemikiran serta ide-ide yang berkenaan dengan objek sikap. Isi pemikiran seseorang meliputi hal-hal yang berkenaan dengan objek sikap. Dapat berupa tanggapan atau keyakinan, kesan, atribusi dan penilaian tentang objek sikap tadi. Komponen afektif dari sikap meliputi perasaan atau emosi seseorang terhadap objek sikap. adanya komponen afeksi dari sikap, dapat diketahui melalui perasaan suka atau tidak suka, senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Isi perasaan atau emosi pada penilaian seseorang terhadap objek sikap inilah yang mewarnai sikap menjadi suatu dorongan atau kekuatan/daya.
Komponen perilaku dapat diketahui melalui respons subjek yang berkenaan dengan objek sikap. Respons yang dimaksud dapat berupa tindakan atau perbuatan yang dapat diamati dan dapat berupa intense atau niat untuk melakukan perbuatan tertentu sehubungan dengan objek sikap.
Intense merupakan predisposisi atau kesiapan untuk bertindak terhadap objek sikap. Jika orang mengenali dan memiliki pengetahuan yang luas tentang objek sikap yang disertai dengan perasaan positif mengenai kognisinya, maka ia akan cenderung mendekati (approach) objek sikap tersebut.
Ketiga komponen sikap menciptakan nuansa tertentu yang dapat menjelaskan perbedaan sikap orang-orang terhadap objek sikap yang
4 Kasmir, Kewirausahaan, (Jakarta : Rajawali Pers 1988), 75
13
sama. Begitu pula sikap orang tua sering berbeda dalam menghadapi anak- anaknya5.
2. Komponen Sikap
Ada tiga komponen yang secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh yaitu :
a) Komponen Kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu.
b) Komponen Afektif menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu.
c) Komponen Konatif komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi6.
3. Pembentukan Sikap
Proses pembentukan sikap berlangsung secara bertahap. Proses belajar dapat terjadi karena pengalaman-pengalaman pribadi dengan obyek tertentu (obyek, benda, peristiwa) dengan cara menghubungkan obyek tersebut dengan pengalaman-pengalaman lain.
a. Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi diperoleh dalam pembentukan sikap dengan melakukan kontak langsung dengan obyeknya. Pengalaman-
5 Eagly dan Chaiken, Sikap dan Itensi, (Jakarta, IAIP Indonesia, 1988), 60
6 Notoatmodjo, Penghantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku, (Jakarta : Rineka Cipta, 1997), 108
14
pengalaman pribadi biasanya memiliki dampak pertama pada komponen kognitif dari sikapnya
b. Asosiasi
Memindahkan obyek lama ke obyek yang baru sehingga obyek lama seluruhnya akan menuju ke obyek baru dan asosiasi akan membentuk sikap karyawan yang baru.
c. Proses belajar sosial
Sumber pembentukan sikap yang umum terjadi dan kuat sifatnya adalah proses belajar sosial. Sikap dapat dipengaruhi oleh informasi yang diberikan orang lain yang telah memiliki dan membentuk sikap tertentu terhadap obyek tersebut7.
4. Karakteristik Sikap
a) Sikap ekstrem (sulit berubah).
b) Multifleksitas : mudah berubah secara kongruen, namun sulit berubah secara inkongruen dan sebaliknya.
c) Konsistensi (sikap yang stabil).
d) Interconnectedness : keterikatan suatu sikap dengan sikap lain dalam suatu kluster.
e) Konsonan : sikap yang saling berderajat selaras akan lebih cenderung membentuk suatu kluster.
5. Fungsi Sikap
Untuk melihat lebih lanjut mengenai sikap belajar sebenarnya ada sesuatu yang melatarbelakangi mengapa siswa mengambil sikap. Hal ini berkaitan erat dengan fungsi sikap, sebagai berikut :
a. Sikap sebagai instrumen atau alat untuk mencapai tujuan (instrumental function). Seseorang mengambil sikap tertentu terhadap objek atas dasar pemikiran sampai sejauh mana objek sikap tersebut dapat digunakan sebagai alat atau instrumen untuk
7 Makmuri Muchlas, Perilaku Organisasi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005), 151-155
15
mencapai tujuan yang ingin dicapai. Kalau objek itu mendukung dalam pencapaian tujuan, maka orang akan mempunyai sikap yang positif terhadap objek yang bersangkutan, demikian pula sebaliknya. Fungsi ini juga sering disebut sebagai fungsi penyesuaian (adjustment), karena dengan mengambil sikap tertentu seseorang akan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya.
b. Sikap sebagai pertahanan ego. Kadang-kadang orang mengambil sikap tertentu terhadap sesuatu objek karena untuk mempertahankan ego atau akunya. Apabila seseorang merasa egonya terancam maka ia akan mengambil sikap tertentu terhadap objek demi pertahanan egonya. Misalnya orang tua mengambil sikap begitu keras (walaupun sikap itu sebetulnya tidak benar), hal tersebut mungkin karena dengan sikap keadaan ego atau aku- nya dapat dipertahankan.
c. Sikap sebagai ekspresi nilai. Yang dimaksud ialah bahwa sikap seseorang menunjukkan bagaimana nila-nilai pada orang tua.
Sikap yang diambil oleh seseorang mencerminkan sistem nilai yang ada pada diri orang tersebut.
d. Sikap sebagai fungsi pengetahuan. Ini berarti bahwa bagaimana sikap seseorang terhadap sesuatu objek akan mencerminkan keadaan pengetahuan dari orang tersebut. Apabila pengetahuan seseorang mengenai sesuatu belum konsisten maka hal itu akan berpengaruh pada sikap orang itu terhadap objek tersebut8.
e. Sikap Pribadi yang Menghambat Motivasi, Faktor-faktor yang menghambat motivasi bukan hanya berasal dari luar, tetapi juga dari dalam diri sendiri. Ada beberapa nilai keyakinan, budaya dan kebiasaan yang menghambat motivasi, diantaranya adalah
8 Saiman Leonardus, Kewirausahaan Teori, Praktek dan Kasus-kasus, (Jakarta: Salemba Empat, 2009), 29
16
khurafat dan takhayu, tak akan lari gunung dikejar, alo-alon asal kelakon, gampangan (bagaimana nanti sajalah)9.
Sikap dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat : 2
Artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari”.
Artinya bahwa: jangan mengangkat suaramu lebih tinggi (lebih keras) dari suara Nabi. Bagaimanakah maksud ayat ini, sedangkan kini Nabi sudah tidak ada?
Ada orientalis yang mengatakan, bahwa ada ayat-ayat di dalam Al- Qur’an yang tidak bisa diberlakukan lagi.Ia (orientalis) itu tidak memahami, bahwa ayat itu tujuannya bukan hanya untuk umat di zaman Nabi, tapi berlaku di sepanjang zaman.
Maksud pertama dari ayat di atas adalah, bahwa jangan mengeraskan suara kita jika sedang berziarah ke makam Nabi, termasuk juga untuk tidak menangis di makam Nabi.
9 Ishak Arep dan Hendri Tanjung, Manajemen Motivasi, (Jakarta: PT Gramedia, 2004), 147
17
Diriwayatkan, bahwa ketika Sayyidina Umar menjadi khalifah, ada orang di sekitar kuburan Rasulullah sedang bercengkerama dengan suara keras.Sayyidina Umar kemudian bertanya kepada orang itu, “Kamu dari mana?”
Dijawab oleh orang itu, “Dari luar kota.”
Lalu Sayyidina Umar berkata kepada orang itu,“Tidakkah kamu mengetahui, bahwa Al-Qur’an mengingatkan kita untuk jangan mengangkat suara lebih tinggi (lebih keras) dari suara Nabi?”
Orang itu kemudian terdiam dan berhenti berbicara, setelah itu keluar dari masjid setelah memberi salam kepada Rasulullah.
Diriwayatkan pula, bahwa Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar itu biasanya ketika berbicara dengan Nabi, maka suaranya lebih keras dari suara Nabi.Kemudian turun ayat ini, hingga semua orang ketika itu menjadi ketakutan. Setelah turunnya ayat ini, maka Sayyidina Umar jika berbicara kepada Nabi tidak lagi seperti biasanya. Karena takut bersuara keras, maka jika Sayyidina Umar sedang berbicara kepada Nabi, kadang- kadang Nabi mengangkat tangannya untuk mendengar suara Sayyidina Umar.
Maksud kedua yaitu, jangan mengangkat suara lebih keras jika ulama sedang berceramah. Ulama adalah pewaris Nabi. Sehingga mengganggu ulama yang sedang berceramah berarti sama saja dengan mengganggu Nabi. Bahkan jangan berbisik sekalipun atau bersikap yang itu dapat mengganggu.
Maksud ketiga yaitu, jangan mengangkat suaramu lebih tinggi dari suara orang yang lebih tua dari kamu.Di sini digambarkan, bahwa Rasulullah itu lebih tua, atau pemimpin, atau orang yang dituakan dan
18
dihormati, maka jangan mengangkat suara lebih keras daripada orang- orang yang dihormati.
Artinya: jangan memanggil Nabi seperti kamu memanggil sesamamu.
Sebenarnya Nabi tidak mau dikultuskan. Karena itu, ada seorang sahabat yang memberitahukan kepada Nabi, “Ya Rasulullah, kami ini memberi salam kepada sesama kami, bahkan kepada pembantu kami dengan kalimat: Assalamu’alaikum. Apakah kepada engkau juga diucapkan: Assalamu’alaikum?”
Rasulullah lalu berkata, “Tidak ada bedanya. Aku adalah makhluk Tuhan, aku adalah manusia yang mempunyai jiwa, orang lain pun sama denganku.”
Bedanya, jika kepada Nabi diucapkan shalawat, sedangkan kepada yang lain kita tidak mengucapkan shalawat. Jangankan manusia, Allah pun mengucapkan shalawat kepada Nabi.
Allah mengingatkan kita, bahwa janganlah memanggil nama Nabi seperti kita memanggil nama orang lain, misalkan hanya menyebut
“Muhammad”. Jika ditujukan kepada Rasulullah, maka bisa kita panggil dengan “Sayyidina Muhammad”, atau “Nabiyullah Muhammad shallallahu alayhi wa sallam”. Mengenai hal ini, ada dua pendapat di kalangan ulama:
ada yang mengatakan harus ada kata “Sayyidina”, namun ada juga yang mengatakan tidak perlu kata “Sayyidina”. Tapi yang jelas, jangan disamakan antara Muhammad yang lain dengan Nabi Muhammad SAW.
19
Ada dua keuntungan jika kita mengucapkan hal tersebut.Pertama, kita mendapat pahala, karena hal tersebut diperintahkan oleh Allah. Kedua, jika kita mendoakan Nabi, maka doa tersebut akan terpantul kepada kita.
Menurut suatu riwayat disebutkan, bahwa ada seorang sahabat yang suaranya itu keras. Setelah turunnya ayat ini, maka ia menjadi takut, dan kemudian menjauh dari Nabi. Pada suatu ketika Nabi bertanya, manakah sahabat tersebut. Sahabat yang lain mengatakan, bahwa sahabat yang dimaksud oleh Nabi itu takut karena suaranya keras. Nabi pun menjelaskan, bahwa bukan hal itu yang dimaksud.Suara keras yang dimaksud adalah “mengganggu”.
Jadi, apapun yang kita lakukan jika itu kemudian mengganggu orang lain, maka hal tersebut akan menghapus amal kita, dan itu biasanya tidak kita sadari. Dalam hal ini bukan hanya kepada Nabi, tetapi kepada siapa saja. Bahkan bukan hanya terhadap orang yang dituakan, kepada anak kecil sekalipun jika perbuatan kita itu mengganggu, maka akan terhapuslah amal kita.
Apakah yang dimaksudkan dengan terhapusnya amal perbuatan?Yang dimaksud di sini adalah pahalanya.Dalam hal ini, ketika shalat sekalipun.
Sebagian ulama mengatakan, bahwa jika shalat itu menganggu orang lain, maka pahala shalat itu tidak ia peroleh, melainkan hanya kewajiban shalatnyalah yang telah ia penuhi.10
10 https://thenafi.wordpress.com/2008/06/13/tafsir-al-hujurat-ayat-1-%E2%80%93-5/ 7 Desember 2018 pukul 17:00 WIB
20 B. Motivasi
1. Pengertian Motivasi
Motivasi berasl dari kata motif yang berarti “dorongan” atau rangsangan atau “daya penggerak” yang ada dalam diri seseorang.Motivas adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu.Motivasi dapat diartikan sebagai mengusahakan supaya seseorang dapat menyelesaikan pekerjaan dengan semangat karena ia ingin melaksanakannya. Manusia memiliki motivasi yang berbeda tergantung dari banyak faktor seperti kepribadian, ambisi, pendidikan dan usia11.
Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu.12
Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen.13
Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya; hasrat dan minat;
dorongan dan kebutuhan; harapan dan cita-cita; penghargaan dan penghormatan. Motivasi merupakan dampak dari interaksi seseorang dengan situasi yang dihadapinya14.
Motivasi merupakan suatu dorongan yang membuat orang bertindak atau berperilaku dengan cara-cara motivasi yang mengacu pada sebab munculnya sebuah perilaku, seperti faktor-faktor yang mendorong
11 Uno Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2007), 55
12 Buchari Alma, Kewirausahaan, (Bandung : Alfabeta, 2004), 65
13 Ujang Sumarwan, Perilaku Konsumen, (Ciawai-Bogor : Ghalia Indonesia, 2015), 35
14 Siagian, Sondang P., Teori Motivasi dan Aplikasinya, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), 56
21
seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.Motivasi adalah dorongan untuk bekerja.15
Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seprang anggota mau dan rela untuk menggerakkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan, tenaga, dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya.16
Motivasi intrinsik akan lebih menguntungkan. Motivasi ekstrinsik dijabarkan sebagai motivasi yang datang dari luar individu dan tidak dapat dikendalikan oleh individu tersebut. Dengan nilai, hadiah, dan / atau penghargaan yang digunakan untuk merangsang motivasi seseorang.
Misalnya, dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan daya penggerak yang menjamin terjadinya kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang diinginkan dapat terpenuhi. Dengan demikian motivasi sangat berpengaruh terhadap hasil belajar seseorang. Apabila seseorang tidak mempunyai motivasi untuk belajar, maka orang tersebut tidak akan mencapai hasil belajar yang optimal. Untuk dapat belajar dengan baik di perlukan proses dan motivasi yang baik, memberikan motivasi kepada pembelajar, berarti menggerakkan seseorang agar ia mau atau ingin melakukan sesuatu. 17
Motivasi merupakan sesuatu hal yang membangkitkan, mempertahankan, mengelola dan membawa tingkah laku pada suatu tujuan tertentu.
Motivasi adalah daya dorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan (dalam bentuk
15 RD. Jatmiko, Pengantar Bisnis, (Malang : Universitas Muhammadiyah Malang Press, 2004), 242
16 Sopiah, Perilaku Konsumen, Perilaku Konsumen, (Yogyakarta : CV. Andi Offset, 2013), 155
17 George Terry, Prinsip-Prinsip Manajemen, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), 131
22
keahlian / ketrampilan), tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya18. Motivasi merupakan keinginan yang terdapat pada seseorang individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan atau sesuatu yang menjadi dasar atau alasan seorang berperilaku19.
Motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu, oleh karena itu motivasi sering kali diartikan pula sebagai faktor pendorong perilsaku seseorang.20
2. Jenis-jenis Motivasi a. Motivasi positif
Memotivasi dengan memberikan hadiah kepada mereka ataupun diri sendiri yang termotivasi untuk berprestasi baik dengan motivasi positif. Semangat seseorang individu yang termotivasi tersebut akan meningkat, karena manusia pada umumnya senang menerima yang baik-baik.
b. Motivasi negatif
Memotivasi dengan memberikan hukuman kepada mereka ataupun diri sendiri yang berprestasi kurang baik atau berprestasi rendah.
Dengan memotivasi negatif ini semangat dalam jangka waku pendek akan meningkat, karena takut akan hukuman, tetapi untuk jangka waktu panjang dapat berakibat kurang baik.21
18 Sondang P. Siagian, Teori Motivasi dan Aplikasinya (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 1995), 138
19 Husaini Usman, Manajemen, (Jakarta : Bumi Aksara, 2006), 223
20 Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), 146
21 Hasibuan, Organisasi dan Motivasi Dasar Peningkatan Produktivitas, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), 178
23 3. Manfaat Motivasi
Manfaat motivasi yang utama adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas kerja meningkat.Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat.Artinya, pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang benar dan dalam skala waktu yang sudah ditentukan.
Sesuatu yang dikerjakan karena ada motivasi akan membuat orang senang mengerjakannya. Orangpun akan merasa dihargai atau diakui. Hal ini terjadi karena pekerjaannya itu betul-betul berharga bagi orang yang termotivasi. Orang akan bekerja keras karena dengan untuk menghasilkan suatu target sesuai yang telah mereka tetapkan.22
4. Pandangan tentang Motivasi
Terdapat berbagai macam tentang motivasi, diantaranya : a) Motivasi Tradisional
Model ini mengisyaratkan bahwa manajer menentukan bagaimana pekerjaan-pekerjaan harus dilakukan dan digunakannya sistem pengupahan insentif untuk memotivasi para pekerja.Lebih banyak berproduksi, lebih banyak menerima penghasilan.Model ini menganggap bahwa para pekerja pada dasarnya malas dan hanya dapat dimotivasi dengan penghargaan berwujud uang.
b) Model Hubungan Manusiawi
Kontak-kontak sosial pegawai pada pekerjaanny amerupakan hal penting, bahwa kebosanan dan tugas-tugas yang bersifat pengulangan adalah faktor-faktor pengurang motivasi.Manajer dapat memotivasi bawahan melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial mereka dan membuat mereka berguna dan penting.
22 Iskak Arep dan Hendri Tanjung, Manajemen Motivasi, (Jakarta: PT Gramedia, 2004), 26
24 c) Model SDM
Model ini menyatakan bahwa para karyawan dimotivasi oleh banyak faktor, tidak hanya uang atau keinginan untuk mencapai kepuasan, tetapi juga kebutuhan untuk berprestasi dan memperoleh pekerjaan yang berarti.Mereka beralasan bahwa kebanyakan orang telah dimotivasi untuk melakukan pekerjaan secara baik dan bahwa mereka tidak secara otomatis melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang tidak dapat menyenagkan.Jadi, para karyawan dapat diberi tanggung jawab yang lebih besar untuk pembuatan keputusan-keputusan dan pelaksanaan tugas- tugas.23
5. Sumber Motivasi
Sumber motivasi digolongkan menjadi dua, yaitu sumber motivasi dari dalam diri Iintrinsik) dan sumber motivasi dari luar (Ekstrinsik).
a. Motivasi Intrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.Itu sebabnya motivasi intrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas dimulai dan diteruskan berdasarkan suatau dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajarnya.
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanay perangsang dari luar.Motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak terkait dengan dirinya.
23 Bejo Siswanto, Manajemen Tenaga Kerja, (Bandung: Sinar Baru, Cetakan Baru, 1989), 243
25
Ada dua faktor utama di dalam organisasi (faktor eksternal) yang membuat karyawan merasa puas terhadap pekerjaan yang dilakukan, dan kepuasan tersebut akan mendorong mereka untuk bekerja lebih baik, kedua faktor tersebut antara lain:
1) Motivator, yaitu prestasi kerja, penghargaan, tanggung jawab yang diberikan, kesempatan untuk mengembangkan diri dan pekerjaannya itu sendiri.
2) Faktor kesehatan kerja, merupakan kebijakan dan administrasi perusahaan yang baik, supervisi teknis yang memadai, gaji yang memuaskan, kondisi kerja yang baik dan keselamatan kerja.24 Dilingkungan suatu organisasi atau perusahaan kecenderungan penggunaan motivasi ekstrinsik lebih dominan daripada motivasi instrinsik.Kondisi ini disebabkan tidak mudah untuk menumbuhkan kesadaran dari dalam diri karyawan, sementara kondisi kerja disekitarnya lebih banyak menggiringnya pada mendapatkan kepuasan kerja yang hanya dapat dipenuhi dari luar dirinya.25
6. Tujuan motivasi karyawan
Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil dan atau mencapai tujuan tertentu. Bagi seorang perawat, tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau memacu individu, kelompok, dan masyarakat agar timbul keinginan dan kemauannya untuk dapat berperilaku hidup bersih dan sehat, sehingga tercapai tujuan yang diharapkan dalam upaya meningkatkan peran, fungsi, dan kemampuan individu dalam membuat keputusan untuk memelihara kesehatan.
Setiap tindakan motivasi mempunyai tujuan, makin jelas tujuan yang diharapkan atau yang akan dicapai, maka semakin jelas pula bagaimana
24 Bejo Siswanto, Manajemen Tenaga Kerja, (Bandung: Sinar Baru, Cetakan Baru, 1989), 175-176
25 Hadari Nawawi, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2011), 359
26
tindakan memotivasi itu dilakukan. Tindakan memotivasi akan lebih dapat berhasil apabila tujuan jelas dan didasari oleh yang di motivasi. Oleh karena itu setiap orang yang akan memberikan motivasi harus mengenal dan memahami benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan serta keribadian orang yang akan dimotivasi.
Motivasi sangat penting artinya bagi parusahaan, karena motivasi merupakan bagian dari kegiatan perusahaan dalam proses pembinaan, pengembangan dan pengarahan manusia dalam bekerja. Dalam melaksanakan suatu pekerjaan seorang pegawai harus memiliki motivasi sehingga dapat memberikan dorongan agar pegawai dapat bekerja dengan giat dan dapat memuaskan kepuasan kerja.
Tujuan dari motivasi, diantaranya sebagai berikut : 1. Mendorong gairah dan semangat kerja
2. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja pegawai 3. Meningkatkan produktifitas kerja pegawai
4. Mempertahankan loyalitas dan kestabilan pegawai perusahaan 5. Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi pegawai 6. Mengefektifan pengadaan pegawai
7. Menciptakan hubungan kerja dan suasana yang baik 8. Meningkatkan kreatifitas dan partisipasi pegawai 9. Meningkatkan kesejahteraan pegawai.26
Sebagai dorongan untuk bekerja itu sendiri, motivasi kerja berpengaruh langsung terhadap semangat kerja seseorang. Orang yang memiliki motivasi untuk bekerja akan lebih berkomitmen didalam pekerjaan. Secara langsung, semangat kerja tersebut akan meningkatkan kinerja seseorang. Semakin besar kinerja seorang pekerja, maka produktivitas mereka akan meningkat. Hal ini tentu berpengaruh secara
26 Swatno, Asas-asas Manajemen Sumber Daya Manusia, (Bandung: Suci Press, 2001), 147
27
langsung terhadap kemampuan seseorang, terutama dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.27
7. Asas motivasi
Asas motivasi terdiri atas : a) Asas mengikutsertakan
Asas ini berusaha memberikan kesempatan kepada konsumen untuk mengajukan ide-ide dan rekomendasi dalam proses pengambilan keputusan.
b) Asas komunikasi
Asas komunikasi berarti menginformasikan secara jelas tujuan yang ingin dicapai, cara mengerjakannya, dan kendala yang dihadapi.
c) Asas pengakuan
Asas pengakuan berarti memberikan penghargaan dan pengakuan yang tepat serta wajar kepada konsumen atas prestasi yang dicapainya.
d) Asas wewenang yang di delegasikan
Maksudnya adalah memberikan kebebasan kepada konsumen untuk mengambil keputusan dan berkreativitas sebebas-bebasnya, namun tetap dengan beberapa aturan yang membatasi.
e) Asas perhatian timbal balik
Asas perhatian timbal balik memotivasi para konsumen dengan mengemukakan keinginan atau harapan perusahaan di samping berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan konsumen dari produsen
Dapat disimpulkan bahwa motivasi itu penting karena memengaruhi semangat kerja, produktivitas pekerja, pendapatan kerja, dan terjaminnya kesejahteraan pekerja.28
Motivasi dalam ayat Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d : 11
27 Sardiman, Interaksi dan Motivasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), 76
28 Sardiman, Interaksi dan Motivasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), 80
28
Artinya “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
Tafsir Ar-Ra’d Ayat 11 (versi Jalalain)
(Baginya) manusia (ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran) para malaikat yang bertugas mengawasinya (di muka) di hadapannya (dan di belakangnya) dari belakangnya (mereka menjaganya atas perintah Allah) berdasarkan perintah Allah, dari gangguan jin dan makhluk-makhluk yang lainnya. (Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum) artinya Dia tidak mencabut dari mereka nikmat- Nya (sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri) dari keadaan yang baik dengan melakukan perbuatan durhaka.
(Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum) yakni menimpakan azab (maka tak ada yang dapat menolaknya) dari siksaan- siksaan tersebut dan pula dari hal-hal lainnya yang telah dipastikan-Nya (dan sekali-kali tak ada bagi mereka) bagi orang-orang yang telah dikehendaki keburukan oleh Allah (selain Dia) selain Allah sendiri
29
(seorang penolong pun) yang dapat mencegah datangnya azab Allah terhadap mereka. Huruf min di sini adalah zaidah.29
C. Minat
1. Pengertian minat
Dalam kamus umum besar bahasa indonesia, minat diartikan sebagai sebuah kesukaan (kecenderungan hati) kepada suatu perhatian atau keinginan. Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian prasangka atau kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.
Minat (intention) merupakan suatu kecenderungan untuk melakukan tindakan terhadap obyek. Minat terkait dengan sikap dan perilaku. Minat dianggap sebagai suatu “penangkap” atau perantara antara faktor-faktor motivasional yang mempengaruhi perilaku, minat juga mengindikasikan seberapa keras seseorang mempunyai kemauan untuk mencoba. Minat menunjukkan seberapa banyak upaya yang direncanakan seseorang untuk melakukan sesuatu dan minat berhubungan dengan perilaku.
Minat adalah kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap orang, aktifitas, atau situasi yang menjadi objek tersebut dengan disertai perasaan senang30
Minat konsumen tumbuh karena suatu motif berdasarkan atribut- atribut sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya dalam menggunakan suatu pelayanan jasa, berdasarkan hal tersebut maka analisa mengenai bagaimana proses minat dari dalam diri konsumen sangat penting dilakukan.
Perilaku minat konsumen adalah hasil dari evaluasi terhadap merek atau jasa. Tahapan terakhir dari proses tersebut adalah pengambilan keputusan secara kompleks termasuk menggunakan merek atau jasa yang
29 https://islamedia.web.id/quran/ar-rad-ayat-11/ 7 Desember 2018 pukul 17 :30 WIB
30 Saleh, Abdul Rahman dan Abdul Wahab, Muhbib, Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam,(Jakarta : Prenada Media, 2004), 115
30
diinginkan, mengevaluasi merek atau jasa tersebut pada saat digunakan dan menyimpan informasi untuk digunakan pada masa yang akan dating.31
Bahwa pada saat seorang konsumen melakukan evaluasi terhadap merek atau jasa, konsumen cenderung akan menggunakan merek atau jasa yang memberikan tingkat kepuasan tertinggi.
Seorang pelaku di dunia pemasaran akan berusaha keras untuk mengukur minat dari konsumen, serta mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi minat tersebut. Minat konsumen merupakan perilaku konsumen yang menunjukkan sejauh mana komitmennya untuk melakukan tindakan pembelian atau kegiatan penggunaan suatu jasa.
Kebutuhan dan keinginan konsumen akan barang dan jasa berkembang dari masa ke masa dan mempengaruhi perilaku mereka, dalam istilah asing perilaku konsumen sering disebut consumer behaviour, perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan tersebut perilaku konsumen dalam mengambil keputusan, mempertimbangkan barang dan jasa apa yang akan di beli, dimana, kapan, bagaimana, berapa jumlah dan mengapa membeli produk tersebut.
Minat yang cenderung kurang kepada suatu pelayanan jasa terutama di bidang pendidikan menyebabkan berkurangnya jumlah konsumen yang akan menggunakan jasa tersebut. Pemecahan masalah hal tersebut bisa memiliki sumber masalah pada pencitraan yang buruk dari perusahaan tersebut, promosi yang dilakukan perusahaan sangatlah kurang sehingga informasi tentang jasa yang ditawarkan tidak sampai ke konsumen atau masalah kualitas pelayanan yang kurang memuaskan membuat konsumen cenderung enggan menggunakan jasa tersebut.32
Kecenderungan seseorang menunjukkan minat terhadap suatu produk atau jasa dapat dilihat berdasarkan ciri-ciri :
31 Dharmmesta, Manajemen Pemasaran Analisa Perilaku, (Jakarta, Rineka Cipta, 1998), 75
32 Basu Swastha, Manajemen Pemasaran Modern, (Yogyakarta: Liberty, 1990), 37
31
a. Kemauan untuk mencari informasi terhadap suatu produk atau jasa Konsumen yang memiliki minat, memiliki suatu kecenderungan untuk mencari informasi lebih detail tentang produk atau jasa tersebut, dengan tujuan untuk mengetahui secara pasti bagaimana spesifikasi produk atau jasa yang digunakan, sebelum menggunakan produk atau jasa tersebut.
b. Kesediaan untuk membayar barang atau jasa konsumen yang memiliki minat terhadap suatu produk atau jasa dapat dilihat dari bentuk pengorbanan yang dilakukan terhadap suatu barang atau jasa, konsumen yang cenderung memiliki minat lebih terhadap suatu barang atau jasa akan bersedia untuk membayar barang atau jasa tersebut dengan tujuan konsumen yang berminat tersebut dapat menggunakan barang atau jasa tersebut.
c. Menceritakan hal yang positif konsumen yang memiliki minat besar terhadap suatu produk atau jasa, jika di tanya konsumen lain, maka secara otomatis konsumen tersebut akan mencitrakan hal yang positif terhadap konsumen lain, karena konsumen yang memiliki suatu minat secara eksplisit memiliki suatu keinginan dan kepercayaan terhadap suatu barang atau jasa yang digunakan.
d. Kecenderungan untuk merekomendasikan Konsumen yang memiliki minat yang besar terhadap suatu barang, selain akan menceritakan hal yang positif, konsumen tersebut juga akan merekomendasikan kepada orang lain untuk juga menggunakan barang atau jasa tersebut, karena seorang yang memiliki minat yang besar terhadap suatu barang akan cenderung memiliki pemikiran yang positif terhadap barang atau jasa tersebut, sehingga jika ditanya konsumen lain, maka konsumen tersebut akan cenderung merekomendasikan kepada konsumen lain.33
Minat adalah suatu proses kejiwaan yang bersifat abstrak yang dinyatakan oleh seluruh keadaan aktivitas, ada objek yang dianggap
33 Basu Swastha, Manajemen Pemasaran Modern, (Yogyakarta: Liberty, 1990), 38
32
bernilai sehingga diketahui dan dinginkan. Sehingga proses jiwa menimbulkan kecenderungan perasaan terhadap sesuatu, gairah atau keinginan terhadap sesuatu. Bisa dikatakan pula bahwa minat menimbulkan keinginan yang kuat terhadap sesuatu. Keinginan ini disebabkan adanya rasa dorongan untuk meraihnya, sesuatu itu bisa berupa benda, kegiatan, dan sebagainya baik itu yang membahagiakan ataupun menakutkan.
Minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap orang, aktivitas atau situasi yang menjadi objek dari minat tersebut dengan disertai persamaan senang.minat adalah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri, semakin kuat atau semakin dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya34.
Minat merupakan unsur psikologis yang menjadi sumber motivasi.
Minat mendorong (memotivasi) seseorang dalam bertindak dan berbuat sesuai arah minatnya. Antara kebutuhan, minat dan motivasi terdapat hubungan yang erat. Minat muncul karena rasa kebutuhan dan kebutuhan menuntut adanya pemuasan. Pemuasan ini diperoleh dari perbuatan minat, minat inilah yang akhirnya memotivasi seseorang untuk berbuat sesuatu.
2. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi minat, yaitu:
a. Dorongan dari dalam individu, misalnya dorongan rasa ingin tahu. Dorongan rasa ingin tahu akan membangkitkan minat belajar, membaca, menuntut ilmu dan lain-lain.
b. Motif sosial, dapat menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Misalnya minat untuk belajar atau menuntut ilmu pengetahuan timbul karena ingin
34 Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 21
33
mendapat penghargaan dari masyarakat, karena biasanya yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup luas (orang pandai) mendapat kedudukan yang tinggi dan terpandang dalam masyarakat.
c. Faktor emosional, minat mempunyai hubungan yang erat dengan emosi. Bila seseorang mendapat kan kesuksesan pada aktivitas akan menimbulkan perasaan senang, dan hal tersenut akan memperkuat minat terhadap hal tersebut.35
3. Macam-macam Minat
Minat dapat dibagi menjadi tiga macam (berdasarkan timbulnya, berdasarkan arahnya, dan cara mengungkapkannya) yaitu sebagai berikut:
a. Berdasarkan timbulnya, minat dapat dibedakan menjadi minat primiti dan minat kultural. Minat primiti adalah minat yang timbul karena kebutuhan biologis atau jaringan-jaringan tubuh. Sedangkan minat kultural atau minat social adalah minat yang timbul karena proses belajar.
b. Berdasarkan arahnya, minat dapat dibedakan menjadi minat intrinsik dan ekstrinsik. Minat intristik adalah minat yang langsung berhubungan dengan aktivitas itu sendiri. Minat ekstrinsik adalah minat yang berhubungan dengan tujuan akhir dari kegiatan tersebut.
c. Berdasarkan cara mengungkapkan, minat dapat dibedakan menjadi empat yaitu:
1) Expressed interest, minat yang diungkapkan dengan cara meminta kepada subyek untuk kenyataan kegiatan yang disenangi maupun tidak, dari jawabannya dapat diketahui minatnya,
2) Manifest interest, minat yang diungkapkan dengan melakukan pengamatan langsung
35 Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 25
34
3) Tested interest, minat yang diungkapkan dengan cara menyimpulkan dari hasil jawaban tes objektif, dan 4) Inventoried interest, minat yang diungkapkan dengan
menggunakan alat-alat yang sudah distadarisasikan.
Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa minat terdiri dari tiga macam yaitu minat berdasarkan timbulnya, minat berdasarkan arahnya dan minat berdasarkan cara mengungkapkan36
4. Minat menjadi Nasabah
Minat menjadi Nasabah yaitu kecenderungan individu untuk bertindak sebelum keputusan untuk menjadi anggota di BMT Al-Falah bener-bener dilaksanakan.Indikator minat menjadi anggota meliputi ketertarikan, keinginan dan keyakinan. Ketertarikan ditunjukan dengan adanya pemusatan perhatian dan perasaan senang. Keinginan ditunjukan dengan adanya dorongan untuk engin memiliki. Dan keyakinan ditunjukan dengan adanya perasaan percaya diri individu terhadap kualitas, daya guna dan keuntungan dari produk yang akan dibeli.
Anggota ialah konsumen yang melakukan transaksi dengan lembaga keuangan yang menawarkan jasa-jasa keuangan. Adapun minat anggota dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan anggota sebagai konsumen lembaga keuangan untuk melakukan transaksi di tempat tersebut.37
Minat dalam Al-Qur’an Surah An-Najm : 39
Artinya :Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
36 Saleh, Abdul Rahman dan Abdul Wahab, Muhbib, Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, (Jakarta : Prenada Media, 2004), 130
37 Ratih Hurriyati, Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen Fokus Pada Konsumen Kartu Kredit Perbankan, (Bandung : Alfabeta, 2010), 80
35
Tafsir An-Najm Ayat 39 (versi Jalalain)
(Dan bahwasanya) bahwasanya perkara yang sesungguhnya itu ialah (seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya) yaitu memperoleh kebaikan dari usahanya yang baik, maka dia tidak akan memperoleh kebaikan sedikit pun dari apa yang diusahakan oleh orang lain.38
D. Hubungan Sikap dan Minat
Penulis menyimpulkan adanya hubungan sikap dengan minat yaitu adanya layanan yang berkualitas dapat diwujudkan dengan sikap yang jujur, baik, sopan santun melayani dengan rendah hati, tidak meremehkan nasabah, dalam pelayanan menggunakan pedoman islam, dengan sikap yang seperti ini bila diterapkan secara bersama dapat membangun BMT sehingga banyaknya minat nasabah untuk menabung.
Sikap mempengaruhi lewat suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan dan berdampak sebagai berikut: 1) perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap umum tapi oleh sikap yang spesifik terhadap sesuatu. 2) perilaku dipengaruhi tidak hanya oleh sikap tetapi juga oleh norma-norma subjektif yaitu keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita perbuat. 3) sikap terhadap suatu perilaku bersama norma-norma subjektif membentuk suatu intensi atau niat untuk berperilaku tertentu.
Sikap yang spesifik yang dapat mempengaruhi adalah sikap sosial yang dinyatakan dengan cara berulang-ulang pada kegiatan yang sama atau lebih lazimnya disebut kebiasaan, motif merupakan dorongan, keinginan dan hasrat yang berasal dari dalam diri, nilai-nilai merupakan norma-norma subjektif sedangkan kekuatan pendorong dan kekuatan penahan adalah berupa nasihat atau penyuluhan dan informasi.
38 https://islamedia.web.id/quran/an-najm-ayat-39/ 13 Desember 2018 pukul 20:30 WIB
36
Perilaku adalah segala tindakan atau reaksi manusia yang disebabkan oleh dorongan organisme kongkret yang terlihat dari kebiasaan, motif nilai-nilai kekuatan penahan sebagai reaksi atau respon seseorang yang muncul karena adanya pengalaman proses kerja dan rangsangan dari lingkungannya. Adapun indikatornya adalah respon terhadap lingkungan, ekspresi kongkret berupa sikap, kata-kata, dan perbuatan, dengan sikap karyawan seperni ini bisa menimbulkan minat nasabah, karena nasabah melihat, memperhatikan cara kerjanya gerak-geriknya, pembicaraanya, dan semua itu terlihat baik sehingga banyak peminat di BMT Al-Falah tersebut.
E. Hubungan Motivasi dan Minat
Hubungan motivasi dengan minat yaitu adanya suatu dorongan dari karyawan BMT Al-Falah tersebut. Karyawan BMT Al-Falah Rajawali Cirebon harus mampu memotivasi nasabah dengan cara mendorong nasabah agar ikut serta menabung di BMT Al-Falah Rajawali Cirebon, karyawan tersebut mencoba menawarkan, mepromosikan produk-produk yang ada di BMT Al-Falah Rajawali Cirebon.
Motivasi didefenisikan sebagai kondisi internal yang membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kita mencapai tujuan tertentu, dan membuat kita tetap tertarik dalam kegiatan tertentu yang telah mereka promosikan di BMT Al-Falah Rajawali Cirebon.
Motivasi disini dapat diartikan sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya; hasrat dan minat; dorongan dan kebutuhan; harapan dan cita-cita; penghargaan dan penghormatan.Motivasi menjadi suatu kekuatan, tenaga atau daya, atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak kearah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari.
Motivasi seseorang dapat ditimbulkan dan tumbuh berkembang melalui dirinya sendiri-intrinsik dan dari lingkungan-ekstrinsik. Motivasi intrinsik bermakna sebagai keinginan dari diri sendiri untuk bertindak tanpa adanya rangsangan dari luar.
37
Dengan timbulnya motivasi tersebut adanya suatu tindakan untuk melakukan tindakan yang ada pada karyawan melalui nasabah sehingga adanya minat nasabah dalam BMT Al-Falah Rajawali Cirebon tersebut.
Dengan adanya rasa keingintahuan nasabah terhadap BMT Al-Falah Rajawali Cirebon bisa dikatanya adanya minat nasabah untuk bergerak kearah tujuan tertentu karena di BMT Al-Falah Rajawali Cirebon mempunyai banyak produk-produk yang menarik sehingga banyak minat nasabah yang melakukan menabung, jual beli, simpan pinjam, pergi ketanah suci dll. Di BMT ini sudah mulai canggih untuk mempermudah dan membantu kebutuhan ekonomi anggota.
F. Kerangka Pemikiran
Pada permulaan abad ke 20, sikap merupakan konsep yang menjadi perhatian utama dalam psikologi sosial, sehingga ada yang menganggap bahwa psikologi sosial adalah bidang studi psikologi yang mempelajari sikap (Thomas dan Zaniecki, 1918, Watson, 1930, dalam Voughn dan Hoog, 2002). Sikap berasal dari kata latin“aptus” yang berarti dalam keadaan sehat dan siap melakukan aksi/tindakan atau dapat dianalogikan dengan keadaan seorang gladiator dalam arena laga yang siap menghadapi singa sebagai lawannya dalam pertarungan. Tingkatan dari sikap yaitu, menerima, merespon, menghargai, bertanggung jawab.39
Menurut Sondang P.Siagian mengartikan motivasi adalah daya dorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan (dalam bentuk keahlian/ketrampilan), tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya40. Menurut Husaini Usman berpendapat bahwa motivasi merupakan keinginan yang terdapat pada seseorang individu yang
39 Setiadi Nugroho, Perilaku Konsumen, (Jakarta: Kencana, 2003), 51
40 Sondang P. Siagian, Teori Motivasi dan Aplikasinya (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 1995), 138
38
merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan atau sesuatu yang menjadi dasar atau alasan sseorang berperilaku41.
Minat (intention) merupakan suatu kecenderungan untuk melakukan tindakan terhadap obyek (Assael 1998, dalam Ikhwan Susila dan Faturrahman 2004). (Dharmmesta 1998, dalam Ferrinadewi dan Pantja,2004) menjelaskan, minat terkait dengan sikap dan perilaku. Minat dianggap sebagai suatu “penangkap” atau perantara antara faktor-faktor motivasional yang mempengaruhi perilaku, minat juga mengindikasikan seberapa keras seseorang mempunyai kemauan untuk mencoba. Minat menunjukkan seberapa banyak upaya yang direncanakan seseorang untuk melakukan sesuatu dan minat berhubungan dengan perilaku.
Penulis menyimpulkan bahwa sikap dan dan motivasi sangat penting dan berpengaruh terhadap minat nasabah karena adanya karyawan yang memiliki sikap atau perilaku yang baik, sopan santun, ramah, dam memotivasi nasabah agar nasabah percaya apa yg diucapkan oleh karyawan tersebut sehingga nasabah berminat di BMT tersebut namun sebagai suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap nasabah, aktivitas atau situasi yang menjadi objek dari minat tersebut dengan disertai persamaan senang minat nasabah merasakan rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Adapun minat nasabah dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan nasabah sebagai konsumen lembaga keuangan untuk melakukan transaksi di tempat tersebut.
41 Husaini Usman, Manajemen, (Jakarta : bumi aksara,2008), 24
39 Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Dari kerangka pemikiran diatas dapat dijelaskan bahwa variabel sikap (X1), dan motivasi (X2) mempunyai pengaruh terhadap minat nasabah di BMT Al-Falah Rajawali Cirebon (Y)
G. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.42Hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sikap berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat nasabah di BMT Al-Falah Rajawali Cirebon
2. Motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat nasabah di BMT Al-Falah Rajawali Cirebon
3. Sikap dan motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat nasabah di BMT Al-Falah Rajawali Cirebon
H. Penelitian Terdahulu
1) Nurcahaya Agung Sulistya Budi, Universitas Negeri Yogyakarta, tahun 2015, “Pengaruh Motivasi, Persepsi Kualitas, Dan Sikap Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian Smartphone Android
42 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R &D, (Bandung: Alfabeta, 2007), 64
Sikap X1
Minat Nasabah Y
Cirebon Y Motivasi
X2
40
Samsung”43. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) motivasi konsumen berpengaruh signifikan 0,000<0,05dan koefisien regresi sebesar 0,282, (3) sikap konsumen berpengaruh signifikan terehadap keputusan pembelian smartphone android merek Samsung pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, dibuktikan dari nilai signifikan 0,000<0,05 dan koefisien regresi sebesar 0,386; (4) terhadap pengaruh motivasi, persepsi kualitas, sikap konsumen secara simultan terhadap keputusan pembelian smartphone android Samsung pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, dibuktikan dengan signifikan 0,000<0,05
2) Nur Muhammad Kaisar, Universitas Diponorogo Semarang, 2013,
“Analisis Pengaruh Motivasi Konsumen, Kepribadian Merek dan Persepsi Kualitas Terhadap Keputusan Pembelian Skutik Yamaha”44. Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa persamaan regresi yang terbentuk adalah
Y = 0,266 X1 + 0,356 X2 + 0,297X3 dimana keputusan pembelian (Y), variabel motivasi konsumen (X1), kepribadian merk (X2) dan variabel persepsi kualitas (X3). Karena nilai koefisien seluruhnya positif, maka hal ini berarti ketiga variabel tersebut mempunyai hubungan yang positif sejalan terhadap variabel dependen.Pengujian hipotesis menggunakan uji t menunjukan bahwa ketiga varibel independen yang di teliti terbukti secara signifikan mempengaruhi keputusan pembelian.Kemudian melalui uji F dapat diketahui bahwa secara bersama ketiga variabel tersebut mempengaruhi keputusan pembelian.
Angka adjusted R square sebesar 0,683 menunjukan bahwa variabel independen dapat menjelaskan 68,3% variasi keputusan pembelian.
43 Nurcahya Agung Sulistya Budi, “Pengaruh Motivasi, Persepsi Kualitas, Dan Sikap Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian Smartphone Android Samsung”, Skripsi, Fakultas Ekonomi, Program Studi Manajemen-Jurusan Manajemen, Universitas Negeri Yogyakarta, 2015.
44 Nur Muhammad Kaisar, “Analisis Pengaruh Motivasi Konsumen, Kepribadian Merek dan Persepsi Kualitas Terhadap Keputusan Pembelian Skutik Yamaha”, Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Manajemen, Universitas Diponorogo Semarang, 2013.
41
Sisanya 31,7% dijelaskan oleh variabel lain diluar ketiga variabel yang digunakan dalam penelitian ini.
3) Dewi Sulasa mahasiswi Nahdatul Ulama Jepara,tahun 2013, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Masyarakat Menabung”
(studi kasus pada BMT Al Mizan Mitra Mu’amalah Pekalongan batealit jepara)45. Dari hasil analisis dengan tingkat signifikasi 0,05 didapat nilai t hitung variabel sikap pelayanan (X1)10,146 dan lokasi (X2) 3,782 dengan nilai signifikan 0,000, artinya secara parsial mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap minat menabung (Y). sedangkan variabel keyakinan (X3) 1,889 memiliki nilai signifikan 0,062 artinya keyakinan memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap minat masyarakat dalam menabung. Hal tersebut menunjukan bahwa faktor sikap pelayanan (X1) merupakan faktor yang paling dominan dalam mendorong minat masyarakat dalam menabung Bmt Al Mizan Mitra Mu’amalah.
4) Imam Jalaludin mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon, tahun 2013, dengan judul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Nasabah Menabung” (Survey pada Nasabah Bank BRI Syari’ah Cabang Cirebon)46. Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel motivasi (X1) , variabel belajar (X2), variabel sikap (X3), variabel persepsi (X4), variabel nisbah/tingkat keuntungan (X5) dan perhitungan bisnis (X6), secara bersama-sama mempunyai hubungan dan pengaruh yang signifikan terhadap minat nasabah menabung (Y) dengan koefisien regresi linier berganda (R Square) 0,935 (0,935%) dan tingkat signifikan 0,000 serta nilai F hitung sebesar 16,805.
Variabel yang berpengaruh dominan tehadap minat nasabah menabung di BRI syari’ah cabang Cirebon (Y) yaitu variabel
45 Dewi Sulasa, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Masyarakat Menabung” (studi kasus pada BMT Al Mizan Mitra Mu’amalah Pekalongan Batealit Jepara)”, Skripsi, Program Studi Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdatul Ulama Jepara, 2013.
46 Imam Jalaludin, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Nasabah Menabung (Survey pada Nasabah Bank BRI Syari’ah Cabang Cirebon”, Skripsi, Fakultas Syariah, Jurusan Muamalat Ekonomi Perbankan Islam, IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2013.
42
nisbah/tingkat keuntungan (X5) dengan angka koefisien regresi (B) sebesar 0,531, nilaithitung sebesar 2,608 dan nilai faktor sebesar 0,881.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel nisbah/tingkat keuntungan (X6) mempunyai pengaruh yang dominan terhadap minat nasabah menabung di BRI syari’ah cabang Cirebon (Y).
Perbedaan dengan penelitian terdahulu mengenai pengaruh sikap dan motivasi terhadap minat. Suatu ciri khas yang berbeda dengan penelitian sebelumnya. Pengaruh sikap dan motivasi terhadap minat ini, penulis melakukan penelitian kepada anggota di BMT Al-Falah Rajawali Cirebon.