Pemeriksaan Setempat (Gerechtelijke Plaatsopneming) dalam Pembuktian Tindak Pidana Kehutanan dan Korelasinya dengan Pembaharuan Hukum Acara Pidana
Indonesia
Roli Pebrianto
Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum, Universitas Samawa (LKBH UNSA) Jalan By Pass Sering, Sumbawa Besar-Nusa Tenggara Barat.
e-mail: [email protected] Abstrak
Persoalan mendasar dalam pemeriksaan setempat adalah dasar yuridis mengenai pengaturan dan mekanisme pemeriksaan setempat yang tidak diatur dalam KUHAP, sehingga pemeriksaan setempat dalam praktek sebagaimana diuraikan dalam beberapa putusan tersebut hanya berdasarkan subjektifitas majelis hakim. Artikel membahas mengenai konsep pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) dihubungkan dengan pembuktian dalam hukum acara pidana.
Keyword: Pemeriksaan setempat, Pidana Kehutanan, Hukum Acara
PENDAHULUAN
Pembaharuan hukum di Indonesia sudah dimulai sejak awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana ditentukan dalam Pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945 menentukan bahwa: “segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut undang-undang dasar ini.”
Diadakannya peraturan peralihan ini menurut Roeslan Saleh dimaksudkan untuk menghindari kekosongan hukum. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa peraturan- peraturan yang telah ada sejak zaman penjajahan masih tetap dinyatakan berlaku, dimana pemberlakuan peraturan-peraturan tersebut disesuaikan dengan kedudukan Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka.1
Dalam perkembangannya, hukum dapat kita lihat sebagai hasil dari suatu proses yang dinamis, hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa hukum itu terjadi sebagai suatu perencanaan dari situasi tertentu menuju kepada suatu tujuan yang akan dicapai.2 Dalam memaknai adanya pembaharuan hukum tersebut, Roeslan Saleh mengemukakan bahwa:
“Pembaharuan hukum adalah diadakannya perubahan-perubahan terhadap hukum yang hingga kini masih berlaku, namun dipandang tidak sesuai dengan jiwa dan pandangan falsafah bangsa Indonesia atau dilihat dari alasan kelahirannya, semangat dan jiwanya, kemajuan-kemajuan yang terjadi, yang dijadikannya tidak dapat lagi memenuhi tuntutan
1 Roeslan Saleh, Stelsel Pidana Indonesia, (Jakarta: Aksara Baru, 1983), hlm. 9-10.
2 Roeslan Saleh, Pembinaan Cita Hukum dan Asas-Asas Hukum Nasional, (Jakarta: Karya Dunia Fikir, 1996), hlm. 1.
2
kehidupan masyarakat Indonesia, dan terlebih lagi mengenai kemampuannya mengantisipasi segala kehidupan yang disebut dengan “memodernkan” Indonesia.”3 Selanjutnya mengenai pentingnya pembaharuan hukum, Satjipto Rahardjo menyatakan bahwa:
“Perubahan hukum merupakan masalah penting, antara lain disebabkan karena hukum itu dewasa ini memakai bentuk tertulis. Dengan pemakaian bentuk ini memang kepastian lebih terjamin, namun ongkos yang dibayarnya pun cukup mahal juga, yaiu berupa kesulitan untuk melakukan adaptasi yang cukup cepat terhadap perubahan di sekelilingnya. Karena tertulis itu, hukum lalu menjadi kaku.”4
Dalam konteks pembaharuan hukum pidana, menurut Barda Nawawi Arief, latar belakang dan urgensi diadakannya pembaharuan hukum pidana dapat ditinjau dari aspek sosiopolitik, sosiofilosofis, sosiokultural, atau dari berbagai aspek kebijakan (khususnya kebijakan sosial, kebijakan kriminal, dan kebijakan penegakan hukum).5 Lebih lanjut Barda Nawawi Arief mengemukakan bahwa:
“Pembaharuan hukum pidana pada hakikatnya mengandung makna, suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi hukum pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosiopolitik, sosiofilosofis, dan sosiokultural masyarakat Indonesia yang melandasi kebijakan sosial, kebijakan kriminal, dan kebijakan penegakan hukum di Indonesia.
Secara singkat, dapatlah dikatakan pembaharuan hukum pidana pada hakikatnya harus ditempuh dengan pendekatan yang berorientasi pada kebijakan (policy-oriented approach) dan sekaligus pendekatan yang berorientasi pada nilai (value-oriented approach).6
Selanjutnya, Beccaria memberi pernyataan bahwa: “hanya undang-undanglah yang boleh menentukan perbuatan mana sajakah yang dapat dipidana, sanksi-sanksi apakah dan atas perbuatan-perbuatan mana pula yang dapat dijatuhkan, dan bagaimana tepatnya peradilan pidana harus terjadi.”7 Dengan demikian, maka hukum pidana tidak hanya dimaknai sebagai hukum yang mengatur dan menentukan bentuk-bentuk tidak pidana dan sanksinya (hukum pidana formil), melainkan mengatur juga tentang bagaimana penegak hukum bekerja menegakkan hukum (hukum pidana formil).
Secara menyeluruh pembaharuan hukum pidana dan hukum acara pidana juga tidak dapat dipisahkan dari upaya tercapainya kepastian hukum (Rechtssicherheit), kemanfaatan (Zweckmasigheit), dan keadilan (Gerechttigheit).8 Dengan demikian maka berbagai pembaharuan yang dilakukan dapat sejalan dengan tujuan dari penegakan hukum secara menyeluruh, termasuk penegakan hukum dalam tindak pidana kehutanan.
Salah satu kajian dalam upaya pembaharuan hukum pidana untuk mencapai kepastian hukum, kemanfaatan, dan keadilan terutama dalam penegakan hukum terhadap tindak pidana kehutanan ialah mengenai pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming).
3 Roeslan Saleh, Perkembangan Pokok-Pokok Pemikiran Dalam Konsep KUHP, (Pekanbaru: IUR Press, 1992), hlm. 12.
4 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Cet. Ke-4, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006), hlm. 191.
5 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana; Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru, Cet. Ke-III, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 29.
6 Ibid.
7 Beccaria dalam Chairul Huda, Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Kepada Tiada Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan, Cet. Ke-V, (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 20-21.
8 Sudikno Mertokusumo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2013), hlm.
1.
3
Dalam kenyataan pada praktek peradilan di Indonesia, proses pemeriksaan setempat digunakan oleh hakim untuk membuktikan dakwaan Jaksa/Penuntut Umum, meskipun didalam KUHAP tidak mengenal pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming). Hal ini dilihat dalam beberapa putusan diantaranya Putusan Nomor: 1598 K/Pid.Sus/2014 dan Putusan Nomor: 1764 K/PID.SUS.LH/2016.
Pada Putusan Nomor: 1598 K/Pid.Sus/2014 pada kasus penggunaan kawasan hutan untuk kegiatan perkebunan tanpa izin menteri. Dalam putusan Mahkamah Agung tersebut menolak Permohonan Kasasi Terdakwa H. Rahmad bin H. Budiman.
Dalam persidangan pada judex facti PN Bintuhan, Jaksa diperintahkan untuk diadakannya Pemeriksaan Setempat yang kemudian disetujui oleh Tim Penasehat Hukum Terdakwa dan dicatatkan dalam berita acara persidangan. Akan tetapi kemudian perintah tersebut diabaikan oleh Jaksa Penuntut Umum dan oleh Majelis Hakim a quo sendiri dengan alasan, Jaksa pada waktu yang telah ditentukan tidak dapat melakukan pemeriksaan setempat dikarenakan ada tugas lain, pun Majelis Hakim a quo juga telah menilai bahwa Jaksa Penuntut Umum “Tidak Serius” dalam menangani perkara ini.
Kemudian pada kasus “perbantuan pengrusakan hutan” yang melibatkan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Luwu H. Basir, S.Sos, MP bin Paguling, dimana Terdakwa menerbitkan Surat Rekomendasi untuk pemanfaatan kayu milik masyarakat Desa Mappetajang seluas 700 Ha kepada saksi Sinar bekerja sama dengan PT.Panply, namun berdasarkan keterangan ahli S. Alham Assegaf, S.Hut setelah dilakukan lacak balak/pemeriksaan, perbuatan Terdakwa tidak memiliki mekanisme perizinan pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan alam dari kepala Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Selatan ataupun dari Terdakwa dimana sesuai Peraturan Menteri Kehutanan No.: P.14/Menhut-II/2011 jo. Peraturan Menteri Kehutanan No.: P.20/Menhut-II/2013, tentang izin pemanfaatan kayu, di mana hanya berupa Surat Rekomendasi dari Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Luwu (dalam hal ini adalah Terdakwa) kepada Kepala Desa Mappetajang yaitu saksi Sinar, oleh karena Terdakwa menganggap lokasi dimaksud adalah berada di dalam areal hutan hak/milik.
Pada pemeriksaan setempat yang dilakukan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Palopo dilaksanakan tanpa pemberitahuan kepada Penuntut Umum dan tidak mengindahkan keberatan Penuntut Umum agar bersama-sama dilakukan pemeriksaan setempat dengan ahli pemetaan yang idependen. Kemudian atas dasar pemeriksaan setempat ini, Majelis Hakim PN Palopo dalam Putusan Nomor: 333/Pid.Sus/2015/PN.Plp menyimpulkan bahwa “terdapat perbedaan obyek terjadinya penebangan pohon,” yang kemudian membebaskan Terdakwa dengan mengesampingkan fakta-fakta hukum yang lain. Pertimbangan Majelis Hakim PN Palopo tersebut kemudian diambil alih oleh Majelis Hakim Mahkamah Agung pada tingkat Kasasi dalam Putusan Nomor: 1764 K/PID.SUS.LH/2016.
Pada kedua putusan diatas, majelis hakim pada pengadilan tingkat pertama dalam upaya untuk membuktikan kesalahan para terdakwa terhadap dakwaan melakukan tindak pidana bidang kehutanan dilakukan melalui mekanisme pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming). Sebagaimana diketahui bahwa pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) secara normatif diatur dalam ranah hukum acara perdata saja, sebagaimana disebutkan pada Pasal 153 HIR (Herzeine Inlandsch Reglement).
Berdasarkan uraian diatas, persoalan mendasar dalam pemeriksaan setempat adalah dasar yuridis mengenai pengaturan dan mekanisme pemeriksaan setempat yang tidak diatur dalam KUHAP, sehingga pemeriksaan setempat dalam praktek sebagaimana diuraikan dalam beberapa putusan tersebut hanya berdasarkan subjektifitas majelis hakim. Sehingga hal ini perlu dianalisis dalam rangka memberikan kontribusi terhadap pembaharuan hukum acara pidana Indonesia yang akan datang.
Dengan demikian, maka Rumusan Masalah yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:
4
1. Bagaimanakah konsep pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) dihubungkan dengan pembuktian dalam hukum acara pidana ?
2. Apakah penggunaan pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) pada penanggulangan tindak pidana kehutanan dalam pandangan yurisprudensi dapat diterima sebagai upaya dalam rangka pembaharuan hukum acara pidana Indonesia ? PEMBAHASAN
Secara konsepsional, inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaedah-kaedah yang mantap dan mengejewantah serta sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara, dan mempertahankan perdamaian pergaulan hidup.9 Menurut Joseph Goldstein sebagaimana dikutip oleh Barda Nawawi Arief menyatakan bahwa upaya penegakan hukum pidana dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:
1) Total Enforcement (penegakan hukum sepenuhnya, yakni ruang lingkup penegakan hukum pidana substantif (substantive law of crime). Penegakan hukum pidana secara total ini tidak mungkin dilakukan, sebab para penegak hukum dibatasi secara ketat oleh hukum acara pidana.
2) Full Enforcement (penegakan hukum secara penuh). Penegak hukum diharapkan menegakkan hukum secara maksimal, akan tetapi oleh Goldstein harapan itu dianggap not a realistic expectation, sebab adanya keterbatasan-keterbatasan dalam bentuk waktu, personil, alat-alat investigasi, dana, yang kesemuanya mengakibatkan keharusan dilakukan discretions.
3) Actual Enforcement. Merupakan area yang dapat ditegakkan oleh hukum pidana, melihat pada kenyataannya bahwa peristiwa tersebut melibatkan banyak orang dalam hal ini para pengusaha maupun masyarakat.10
Selanjutnya, menurut Sudikno Mertokusumo, dalam menegakkan hukum ada 3 (tiga) unsur yang harus diperhatikan, yaitu: kepastian hukum (rechtssicherheit), kemanfaatan (zweckmassigkeit), dan keadilan (gerechttigkeit).11 Hal ini juga dikemukakan oleh Gustav Radbruch yang menyatakan bahwa:
“Hukum memiliki tiga aspek, yakni keadilan, finalitas, dan kepastian. Aspek keadilan menunjuk pada “kesamaan hak di depan hukum”. Aspek finalitas menunjuk pada tujuan keadilan, yaitu memajukan kebaikan dalam hidup manusia. Aspek ini menentukan isi hukum. Sedangkan kepastian menunjuk pada jaminan bahwa hukum (yang berisi keadilan dan norma-norma yang memajukan kebaikan), benar-benar berfungsi sebagai peraturan yang ditaati. Dapat dikatakan, dua aspek yang disebut pertama merupakan kerangka ideal dari hukum. Sedangkan aspek ketiga (kepastian) merupakan kerangka operasional hukum.”12
Kalau dalam menegakkan hukum hanya diperhatikan kepastian hukum saja, maka unsur- unsur lainnya dikorbankan. Dalam menegakkan hukum harus ada kompromi antara ketiga unsur tersebut.13 Penegakan hukum merupakan usaha untuk mewujudkan ide-ide dan
9 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2005), hlm. 5.
10 Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 3.
11 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum; Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Liberty, 1991), hlm. 145.
12 Bernard L. Tanya, Yoan N. Simanjuntak, dan Markus Y. Hage, Teori Hukum; Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Cet. Ke-4, (Yogyakarta: Genta Publishing, 2013), hlm. 118.
13 Sudikno Mertokusumo, Op. Cit, hlm. 146.
5
konsep-konsep hukum yang diharapakan rakyat menjadi kenyataan, dimana penegakan hukum merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal.14
Kemudian, berkaitan dengan pembuktian, dalam hukum acara pidana pembuktian bertujuan untuk mencari kebenaran materiil, yaitu kebenaran sejati atau yang sesungguhnya.
Hakim dalam mencari kebenaran materiil, peristiwanya harus terbukti (beyond reasonable doubt).15
Kekuatan pembuktian dalam hukum acara pidana terletak didalam Pasal 183 KUHAP yang berbunyi: “hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada sesorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.”
Mengenai teori dalam sistem pembuktian, Andi Hamzah menyatakan sebagai berikut:16 1) Sistem atau teori berdasarkan berdasarkan Undang-undang secara positif (positive
wetteljik bewijstheorie). Menurut Simons, teori ini dimaksudkan untuk menyingkirkan semua pertimbangan subjektif hakim dan mengikat hakim secara ketat menurut peraturan pembuktian yang keras.17
2) Sistem atau teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim melulu (conviction intime), merupakan suatu pembuktian dimana proses-proses menentukan salah atau tidaknya terdakwa semata-mata ditentukan oleh penilaian keyakinan hakim. Seorang hakim tidak terikat oleh macam-macam alat bukti yang ada.18
3) Sistem atau teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atas alasan yang logis (laconviction raisonne), merupakan suatu pembuktian yang memberikan pembatasan keyakinan seorang hakim haruslah berdasarkan alasan yang jelas. Hakim wajib menguraikan dan menjelaskan atas setiap alasa-alasan apa yang mendasari keyakinannya atas kesalahan seorang terdakwa.19
4) Sistem atau teori pembuktian berdasarkan Undang-undang secara negatif (negatief wettellijk bewijs theotrie), merupakan suatu percampuran antara pembuktian conviction raisonnee dengan sistem pembuktian menurut undang-udanng secara psoitif. Rumusan dari sistem pembuktian ini adalah salah atau tidaknya seorang terdakwa ditentukan keyakinan hakim yang didasarkan kepada cara dan dengan alat- alat bukti yang sah menurut undang-undang.20 Teori pembuktian berdasarkan Undang-undang secara negatif (negatief wettellijk bewijs theorie) inilah yang menurut Wirjono Prodjodikoro harus dipertahankan dalam KUHAP.21
1. Pemeriksaan Setempat Terhadap Tindak Pidana Kehutanan Serta Kaitannnya Dengan Pembuktian Dalam Hukum Acara Pidana Indonesia
Tentang Pemeriksaan Setempat (Gerechtelijke Plaatsopneming)
Pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) merupakan tindakan hukum yang erat kaitannya dengan pembuktian. Hal ini dikarenakan, pemeriksaan setempat digunakan untuk menguatkan atau memperjelas fakta atau peristiwa maupun objek barang terperkara.
14 Dellyana Shany, Konsep Penegakkan Hukum, (Yogyakarta: Liberty, 1986), hlm. 37.
15 Andi Sofyan, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Rangkang Education, 2013), hlm.
241.
16 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Ed. 2, Cet. 4, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hlm. 251- 257.
17 Andi Sofyan, Op. Cit, hlm. 245.
18 Tolib Effendi, Dasar-Dasar Hukum Acara Pidana (Perkembangan dan Pembaharuan di Indonesia), (Malang: Setara Press, 2014), hlm. 171.
19 Ibid.
20 Ibid.
21 Wirjono Prodjodikoro dalam Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana..., Op. Cit, hlm. 257.
6
Pengaturan mengenai pemeriksaan setempat tidak dapat ditemukan dalam ranah hukum acara pidana. Pengaturan pemeriksaan setempat tersebut hanya dapat ditemukan dalam ranah hukum acara perdata. Pemeriksaan setempat hanya diatur secara yuridis normatif dalam HIR (Herzeine Inlandsch Reglement), RBg (Rechtsreglement Buitengewesten), dan Rv (Reglement op de Rechtsvordering).
Berdasarkan pemaparan diatas untuk mengetahui lebih rinci mengenai pemeriksaan setempat, maka pemeriksaan setempat dapat ditinjau dari beberapa aspek, antara lain:
pengertian dan dasar hukum pemeriksaan setempat, tujuan pemeriksaan setempat, dan pelaksanaan pemeriksaan setempat.
a. Dasar Hukum dan Pengertian Pemeriksaan Setempat
Dasar hukum pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) dalam hukum acara perdata terdapat pada Pasal 153 HIR, Pasal 180 RBg (Rechtsreglement Buitengewesten), serta Pasal 211-Pasal 214 Rv (Reglement op de Rechtsvordering).22 Berdasarkan Pasal 153 Ayat (1) HIR menyebutkan bahwa:
“Jika dipandang perlu atau berguna, maka Ketua dapat mengangkat seorang atau dua orang Komisaris dari Majelis dengan dibantu oleh Panitera untuk mengadakan peninjauan dan pemeriksaan setempat, yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh Hakim”.
Selanjutnya, pengaturan pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) pada Pasal 153 Ayat (1) dan (2) HIR tersebut pada dasarnya sama dengan pengaturan pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) pada Pasal 180 Ayat (1) dan (2) RBg. Sedangkan Pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) pada Rv diatur dalam bab II, bagian 7 dengan titel mengenai pemeriksaan di tempat dan penyaksiannya.
Titel tersebut terdiri dari 4 buah Pasal, yakni Pasal 211-214.
Berdasarkan Pasal 153 HIR, Pasal 180 RBg serta Pasal 211-Pasal 214 Rv tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) adalah pemeriksaan sidang pengadilan yang dilakukan di tempat objek barang terperkara terletak, guna melihat keadaan atau memeriksa secara langsung objek barang terperkara.
b. Tujuan Pemeriksaan Setempat
Tujuan pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming), antara lain:
1) Mengetahui dengan jelas dan pasti mengenai letak, luas, dan batas objek barang terperkara.
2) Mengetahui dengan jelas dan pasti mengenai kuantitas dan kualitas objek barang terperkara. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila objek barang terperkara tersebut merupakan barang yang di ukur jumlah dan kualitasnya.23
c. Pelaksanaan Pemeriksaan Setempat
Pelaksanaan pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) dilakukan oleh salah satu hakim atau majelis hakim dengan dibantu oleh seorang panitera yang akan bertindak membuat berita acara, serta dihadiri pula para pihak yang berperkara dengan mendatangi tempat objek barang terperkara.
Pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) merupakan sidang resmi pengadilan dimana tempat persidangannya bukan berada di ruang sidang pengadilan tetapi
22 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perata, Cet. Ke-VI, (Jakarta: Sinar Garfika, 2008), hlm. 779-781.
23 Ibid, hlm. 781. Lihat juga Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 7 Tahun 2001 tentang Pemeriksaan Setempat.
7
berada di tempat objek barang terperkara. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka secara formil pemeriksaan setempat (gerechtelijke plaatsopneming) harus di hadiri para pihak yang berperkara.
2. Sistem Pembuktian Dalam Hukum Acara Pidana Indonesia
Hukum pembuktian merupakan sebagian dari hukum acara pidana yang mengatur macam-macam alat bukti yang sah menurut hukum, sistem yang dianut dalam pembuktian, syarat-syarat dan tata cara yang mengajukan bukti tersebut serta kewenangan hakim untuk menerima, menolak dan menilai suatu pembuktian. Adapun sumber-sumber hukum pembuktian adalah: a. Undang-undang b. Doktrin atau ajaran c. Yurisprudensi.24
Pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada Terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang dan boleh dipergunakan hakim membuktikan kesalahan yang didakwakan.25
Selanjutnya, ada beberapa sistem atau teori pembuktian, yaitu:
a. Teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim semata (Conviction In Time).
Sistem ini menganut ajaran bahwa bersalah tidaknya terdakwa terhadap perbuatan yang didakwakan, sepenuhnya tergantung pada penilaian “keyakinan” hakim semata-mata. Jadi bersalah tidaknya terdakwa atau dipidana tidaknya terdakwa sepenuhnya tergantung pada keyakinan hakim.
b. Teori pembuktian berdasar keyakinan hakim atas alasan yang logis (conviction in raisone).
Sistem pembuktian Convition In Raisone masih juga mengutamakan penilaian keyakinan hakim sebagai dasar satu-satunya alasan untuk menghukum terdakwa.
Akan tetapi keyakinan hakim disini harus disertai pertimbangan hakim yang nyata dan logis serta diterima oleh akal pikiran yang sehat.
Hakim memegang peranan penting dalam menentukan bersalah atau tidaknya terdakwa, tetapi faktor keyakinan hakim dibatasi dengan dukungan-dukungan dan alasan yang jelas. Hakim berkewajiban menguraikan, menjelaskan, alasan-alasan yang mendasari keyakinannya dengan alasan yang dapat diterima secara akal dan bersifat yuridis.26
c. Teori pembuktian menurut Undang-Undang secara positif (Positief Wettelijk Bewijstheorie).
Sistem ini ditempatkan berhadap-hadapan dengan sistem pembuktian conviction in time. Hal tersebut dikarenakan sistem conviction in time menganut ajaran bahwa bersalah tidaknya terdakwa, didasarkan kepada ada tidaknya alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang yang dapat dipakai membuktikan kesalahan terdakwa.
Dengan kata lain, sistem ini menempatkan keyakinan hakim tidak berarti, dengan suatu prinsip yang berpedoman pada alat bukti yang ditentukan oleh undang-undang. Hakim tidak lagi berpedoman pada hati nuraninya. Sehingga sejak pertama hakim mengesampingkan faktor keyakinan semata-mata dan berdiri tegak
24 Hari Sasangka dan Lili Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana Untuk Mahasiswa dan Praktisi, (Bandung: Mandar Maju, 2003), hlm. 10.
25 M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP; Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali, Ed. 2, Cet. 15, (Jakarta: Sinar Grafika, 2016), hlm. 273.
26 Syaiful Bakhri, Hukum Pembuktian Dalam Praktik Peradilan Pidana, (Yogyakarta: Total Media, 2009), hlm. 40-41.
8
dengan nilai pembuktian objektif tanpa memperhatikan subjektifitas dalam persidangan.27
d. Teori pembuktian menurut undang-undang secara negatif (Negatief Wettelijk Bewijstheorie)
Sistem pembuktian negatief wettelijk terletak antara dua sistem yang berhadap- hadapan, yaitu antara sistem pembuktian positif wettelijk dan sistem pembuktian conviction intime. Sistem pembuktian negatief wettelijk artinya hakim hanya boleh menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan, apabila ia yakin dan keyakinannya tersebut didasarkan kepada alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.
Meskipun kesalahan terdakwa telah terbukti menurut cara dan dengan alat-alat bukti sah menurut undang-undang. Namun apabila hakim tidak yakin akan kesalahan terdakwa,maka ia dapat saja membebaskan terdakwa. Sebaliknya meskipun hakim yakin akan kesalahan terdakwa, tetapi keyakinannya tidak didasarkan atas alat-alat bukti sah menurut undang-undang, maka hakim harus menyatakan kesalahan terdakwa tidak terbukti. Sistem inilah yang dipakai dalam sistem pembuktian peradilan pidana di Indonesia.28
3. Pemeriksaan Setempat Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Kehutanan Dan Korelasinya Dengan Pembuktian Dalam Hukum Acara Pidana
Tidak pidana Kehutanan secara umum disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (UU P3H) Pasal 1 angka 3 sebagai perusakan hutan, yakni proses, cara, atau perbuatan merusak hutan melalui kegiatan pembalakan liar, penggunaan kawasan hutan tanpa izin atau penggunaan izin yang bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian izin didalam kawasan hutan yang telah ditetapkan, yang telah ditunjuk ataupun yang sedang diproses penetapannya oleh Pemerintah.
Pembalakan liar sendiri menurut Pasal 1 angka 4 UU P3H mengandung arti semua kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu secara tidak sah yang terorganisasi. Pembalakan liar juga sering disebut sebagai Illegal logging (berdasarkan terminologi bahasa berasal dari dua suku kata, yaitu “illegal” yang berarti praktek tidak sah dan “logging” yang berarti pembalakan atau penebangan kayu), yang berarti praktek pemanenan kayu yang tidak sah, yang dimulai dari mulai dari kegiatan perencanaan, perijinan, permodalan, aktifitas pemanenan hingga pasca pemanenan yang meliputi pengangkutan, tata niaga, pengolahan hingga penyelundupan.
Karenanya illegal logging memiliki ruang lingkup luas yang mencakup kegiatan illegal processing dan illegal trade.29
27 Ibid, hlm. 41-42.
28 Adnan Paslyadja, Hukum Pembuktian, (Jakarta: Pusat Diklat Kejaksaan Agung Republik Indonesia, 1997), hlm. 16-22.
29 Illegal Logging dapat juga diartikan sebagai sebuah praktek eksploitasi hasil hutan berupa kayu dari kawasan hutan negara melalui aktifitas penebangan pohon atau pemanfaatan dan peredaran kayu atau olahannya yang berasal dari hasil tebangan secara tidak sah (lihat Riza Suarga, Pemberantasan Illegal Logging; Optimisme Di Tengah Praktek Premanisme Global, (Jakarta: Wana Aksara, 2005), hlm. 6-7). Kemudian menurut Haryadi Kartodihardjo, aktifitas illegal logging merupakan penebangan kayu secara tidak sah dengan melanggar peraturan perundang-undangan, yaitu berupa pencurian kayu di dalam kawasan hutan negara atau hutan hak (milik) dan atau pemegang ijin melakukan penebangan lebih dari jatah yang telah ditetapkan di dalam perizinan (ICEL, Penegakan Hukum Illegal Logging; Permasalahan dan Solusinya, (Jakarta: Kemitraan Partnership, 2000), hlm. 5). Definisi lain juga menyebutkan bahwa illegal logging adalah semua praktek atau kegiatan kehutanan yang berkaitan dengan pemanenan, pengolahan dan perdagangan kayu yang tidak sesuai dengan hukum Indonesia. Pada dasarnya ada dua jenis illegal logging. Pertama, yang dilakukan oleh operator sah yang melanggar ketentuan- ketentuan dalam izin yang dimilikinya. Kedua, melibatkan pencuri kayu, di mana pohon-pohon ditebang oleh
9
Kemudian, yang dimaksud dengan penggunaan kawasan hutan secara tidak sah adalah kegiatan terorganisasi yang dilakukan didalam kawasan hutan untuk perkebunan dan/atau pertambangan tanpa izin Menteri.
Selanjutnya, kaitannya dengan pembuktian terhadap tindak pidana kehutanan, bahwa makna penting pembuktian sebagaimana dikemukakan oleh Eddy OS. Hiariej adalah:
“mencari kebenaran atas suatu peristiwa dalam konteks hukum dengan mencari suatu peristiwa hukum yang mempunyai sebab akibat. Karenanya dalam acara pidana merupakan inti persidangan perkara pidana, karena yang dicari dalam hukum pidana adalah kebenaran materiil dan dimulainya sejak penyidikan untuk mencari pembuktian sehingga membuat jelas dan terang suatu tindak pidana serta menemukan tersangkanya.
Sehingga pembuktian adalah suatu ketentuan yang membatasi sidang pengadilan dalam usaha mencari dan mempertahankan kebenaran.”30
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa pemeriksaan setempat tidak ditemukan didalam KUHAP. Tentang alat bukti dan kekuatan pembuktiannya dapat diketahui melalui ketentuan Pasal 184 ayat (1) KUHAP telah menentukan secara limitatif alat bukti yang sah menurut undang-undang. Diluar alat bukti itu tidak dibenarkan dipergunakan untuk membuktikan kesalahn terdakwa.31 Alat bukti yang sah berdasarkan Pasal 184 ayat (1) KUHAP adalah: a) keterangan saksi; b) keterangan ahli; c) surat; d) petunjuk; dan e) keterangan terdakwa.
Pemeriksaan setempat dalam proses persidangan perkara pidana, lebih spesifik lagi persidangan perkara tindak pidana kehutanan tidak dikenal baik didalam KUHAP maupun didalam UU No. 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (UU P3H). Hakim dalam perkara tersebut bersifat aktif dalam mencari kebenaran materiil dengan melakukan penemuan hukum.
4. Pemeriksaan Setempat Dalam Pembuktian Tindak Pidana Kehutanan Dan Korelasinya Dengan Pembaharuan Hukum Acara Pidana Indonesia
a. Pemeriksaan Setempat Terhadap Tindak Pidana Kehutanan Dalam Pandangan Yurisprudensi
Pemeriksaan setempat terhadap tindak pidana kehutanan yang akan dibahas ialah sebagaimana yang telah diperiksa, diadili dan diputus oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam Putusan Nomor: 1598 K/Pid.Sus/2014, tanggal 29 Oktober 2014 dan Putusan Nomor: 1764 K/PID.SUS.LH/2016, tanggal 18 September 2017.
1) KASUS I
Kasus I merupakan kajian terhadap putusan yang telah diperiksa, diadili, dan diputus oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam Putusan Nomor: 1598 K/Pid.Sus/2014, pada kasus penggunaan kawasan hutan untuk kegiatan perkebunan tanpa izin menteri. Dalam putusan Mahkamah Agung tersebut menolak Permohonan Kasasi Terdakwa H. Rahmad bin H. Budiman, sehingga Putusan Pengadilan Tinggi Bengkulu Nomor: 28/Pid/2014/PT.BKL yang menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Bintuhan Nomor: 10/Pid.Sus/PN.BHN tetap berlaku.
orang yang sama sekali tidak mempunyai hak legal untuk menebang pohon. Lihat juga Forest Watch Indonesia dan Washington D.C., Keadaan Hutan Indonesia, (Bogor: Global Forest Watch, 2005), hlm. 37.
30 Eddy OS. Hiariej, Teori dan Hukum Pembuktian, (Jakarta: Erlangga, 2012), hlm. 7.
31 Syaiful Bakhri, Op. Cit, hlm. 46.
10
Dalam persidangan pada pengadilan tingkat pertama (PN Bintuhan), Jaksa diperintahkan untuk diadakannya Pemeriksaan Setempat yang kemudian disetujui oleh Tim Penasehat Hukum Terdakwa dan dicatatkan dalam berita acara persidangan. Akan tetapi kemudian perintah tersebut diabaikan oleh Jaksa Penuntut Umum dan oleh Majelis Hakim a quo sendiri dengan alasan, Jaksa pada waktu yang telah ditentukan tidak dapat melakukan pemeriksaan setempat dikarenakan ada tugas lain, pun Majelis Hakim a quo juga telah menilai bahwa Jaksa Penuntut Umum “Tidak Serius” dalam menangani perkara ini.
2) KASUS II
Kasus II merupakan kasus “perbantuan pengrusakan hutan” yang melibatkan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Luwu H. Basir, S.Sos, MP bin Paguling, dimana Terdakwa menerbitkan Surat Rekomendasi untuk pemanfaatan kayu milik masyarakat Desa Mappetajang seluas 700 Ha kepada saksi Sinar bekerja sama dengan PT.Panply.
Berdasarkan keterangan ahli S. Alham Assegaf, S.Hut setelah dilakukan lacak balak/pemeriksaan, perbuatan Terdakwa tidak memiliki mekanisme perizinan pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan alam dari kepala Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Selatan ataupun dari Terdakwa dimana sesuai Peraturan Menteri Kehutanan No.: P.14/Menhut-II/2011 jo. Peraturan Menteri Kehutanan No.:
P.20/Menhut-II/2013, tentang izin pemanfaatan kayu, di mana hanya berupa Surat Rekomendasi dari Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Luwu (dalam hal ini adalah Terdakwa) kepada Kepala Desa Mappetajang yaitu saksi Sinar, oleh karena Terdakwa menganggap lokasi dimaksud adalah berada di dalam areal hutan hak/milik.
Berdasarkan data administrasi berupa dokumen Surat Keterangan sahnya kayu bulat (SKSKB) sebanyak 58 set dengan jumlah 1.174 batang = 308,89 m3 diterbitkan oleh Pejabat SKSKB dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Luwu, diketahui terdapat kayu hasil penebangan dari lokasi yang diperiksa/lacak balak dijual/dikirim ke PT. Panply yang beralamat di Bua, Kabupaten Luwu.
Kemudian, dari hasil pemeriksaan lacak balak lokasi yang dilakukan penebangan tersebut berada di dalam kawasan hutan Negara (Hutan Produksi tetap), berdasarkan peraturan pemerintah No.12 Tahun 2014 tentang jenis dan tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku pada kementerian kehutanan, dan dengan adanya kegiatan tersebut maka telah menyalahi aturan oleh karena tanpa proses perijinan, dan juga dapat merusak lingkungan hutan, di mana struktur tanah dilokasi tersebut mudah longsor akibat kemiringan yang cukup curam.
Pada pemeriksaan setempat yang dilakukan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Palopo dilaksanakan tanpa pemberitahuan kepada Penuntut Umum dan tidak mengindahkan keberatan Penuntut Umum agar bersama-sama dilakukan pemeriksaan setempat dengan ahli pemetaan yang idependen. Kemudian atas dasar pemeriksaan setempat ini, Majelis Hakim PN Palopo dalam Putusan Nomor:
333/Pid.Sus/2015/PN.Plp menyimpulkan bahwa “terdapat perbedaan obyek terjadinya penebangan pohon,” yang kemudian membebaskan Terdakwa dengan mengesampingkan fakta-fakta hukum yang lain. Majelis Hakim PN Palopo tersebut kemudian diambil alih oleh Majelis Hakim Mahkamah Agung pada tingkat Kasasi dalam Putusan Nomor: 1764 K/PID.SUS.LH/2016.
11
b. Pemeriksaan Setempat dan Korelasinya Dengan Pembaharuan Hukum Acara Pidana Indonesia
Pemeriksaan setempat (Gerechtelijk Plaatsopneming) sebagaimana yang telah diterapkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam Putusan Nomor: 1598 K/Pid.Sus/2014, tanggal 29 Oktober 2014 dan Putusan Nomor: 1764 K/PID.SUS.LH/2016, tanggal 18 September 2017 merupakan bentuk dari penemuan hukum oleh hakim yang tujuannya untuk mencapai kebenaran materiil dan tidak ada keraguan sedikitpun (beyond reasonable doubt).
Kaitannya dengan pembuktian dalam hukum acara pidana sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya telah ditentukan dan diatur secara limitatif mengenai alat bukti pada Pasal 184 ayat (1) KUHAP, sehingga pemeriksaan setempat tidak diatur dalam pembuktian pada KUHAP.
Begitu pula didalam R-KUHAP mengenai alat bukti secara limitatif juga diatur dalam Pasal 175 ayat (1), bahwa alat bukti yang sah mencakup: a) barang bukti; b) surat- surat; c) bukti elektronik; d) keterangan seorang ahli; e) keterangan seorang saksi; f) keterangan terdakwa; dan g) pengamatan hakim. Dalam R-KUHAP pun pemeriksaan setempat oleh hakim tidak disebutkan, padahal menurut Penulis, pemeriksaan setempat diperlukan dalam upaya untuk pembuktian terhadap tindak pidana yang terjadi apabila pembuktian sulit untuk dilakukan diruang sidang pengadilan, dalam hal ini tindak pidana yang dilakukan didalam kawasan hutan.
Selanjutnya, dalam perspektif pembaharuan hukum acara pidana kiranya konsep pemeriksaan setempat (gerechtelijk plaatsopneming) perlu diformulasikan dalam R- KUHAP mengingat begitu semakin berkembangnya modus operandi kejahatan, maka pembuktian terhadap kejahatan tersebut perlu diakomodir dalam R-KUHAP. Dalam hal ini kejahatan kehutanan yang jelas akan memerlukan pemeriksaan setempat untuk pembuktian lebih lanjut.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa “pembaharuan hukum pidana pada hakikatnya mengandung makna, suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi hukum pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosiopolitik, sosiofilosofis, dan sosiokultural masyarakat Indonesia yang melandasi kebijakan sosial, kebijakan kriminal, dan kebijakan penegakan hukum di Indonesia.”32
Urgensi pengaturan pemeriksaan setempat dalam R-KUHAP yang akan datang yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosiopolitik, sosiofilosofis, dan sosiokultural masyarakat Indonesia serta berkembanganya modus operandi kejahatan (terutama kejahatan kehutanan). Sehingga pemeriksaan setempat dianggap perlu diatur dalam KUHAP yng akan datang dikarenakan untuk menghindari ketidakpastian hukum.
Dalam praktek sebagaimana diuraikan dalam kedua putusan a quo, tidak mencerminkan adanya kesamaan dalam penerapan konsep pemeriksaan setempat. Dalam dalam Putusan Nomor: 1598 K/Pid.Sus/2014, tanggal 29 Oktober 2014, Jaksa membatalkan secara sepihak pemeriksaan setempat yang telah disepakati oleh Majelis Hakim dan Penasehat Hukum Terdakwa. Hal ini membawa dampak yuridis yakni mengenai apakah konsekuensi jika Jaksa membatalkan pemeriksaan setempat yang telah disepakati bersama, karena tidak ada acuan baku bagi para pihak. Hal ini jelas akan merugikan Terdakwa, yang pada akhirnya akan melanggar hak asasi Terdakwa.
Begitu pula dalam Putusan Nomor: 1764 K/PID.SUS.LH/2016, tanggal 18 September 2017, pemeriksaan setempat dilaksanakan oleh Hakim dan Penasehat Hukum Terdakwa tanpa pemberitahuan kepada Jaksa/Penuntut Umum. Sebagaimana diketahui
32 Barda Nawawi Arief, Op. Cit, hlm. 29.
12
bahwa beban pembuktian terletak pada Penuntut Umum. Pun juga pemeriksaan setempat tidak dilakukan bersama-sama dengan ahli yang kompeten dibidang pemetaan. Hal ini juga berdampak yuridis pada mekanisme pelaksanaan pemeriksaan setempat, pihak-pihak dalam pelaksanaan pemeriksaan setempat, serta hak dan kewajiban para pihak dalam melaksanakan pemeriksaan setempat.
Berdasarkan uraian tersebut, maka menurut Penulis konsep tentang pemeriksaan setempat perlu diakomodir didalam KUHAP yang akan datang dalam rangka untuk pembuktian terhadap perkara yang sulit untuk dibuktikan di ruang sidang pengadilan (terutama perkara tindak pidana kehutanan). Dengan demikian, maka kedua putusan tersebut dapat diterima sebagai bahan pertimbangan dalam rangka pembaharuan hukum acara pidana.
PENUTUP
Kesimpulan
1) Konsep tentang pemeriksaan setempat secara normatif terdapat dalam ranah hukum acara perdata. Pemeriksaan setempat tidak ditemukan didalam KUHAP. Mengenai alat bukti dan kekuatan pembuktiannya dapat diketahui melalui ketentuan Pasal 184 ayat (1) KUHAP telah menentukan secara limitatif alat bukti yang sah menurut undang-undang, yaitu: a) keterangan saksi; b) keterangan ahli; c) surat; d) petunjuk;
dan e) keterangan terdakwa.
2) Pemeriksaan setempat dalam proses persidangan perkara pidana telah dipraktekkan dalam Putusan Nomor: 1598 K/Pid.Sus/2014 Putusan Nomor: 1764 K/PID.SUS.LH/2016. Pemeriksaan setempat dalam kedua putusan tersebut dapat diterima sebagai upaya dalam rangka pembaharuan hukum acara pidana yang akan datang.
Saran
1) Perlunya pengembangan studi lanjutan mengenai berbagai penelitian terhadap konsep pemeriksaan setempat terhadap pembuktian dalam perkara pidana guna menjadi dasar bagi hakim untuk memperoleh keyakinan (beyond reasonable doubt) dalam memutus perkara pidana.
2) Secara yuridis, konsep tentang pemeriksaan setempat perlu diakomodir dalam R- KUHAP yang akan datang untuk menghindari ketidakpastian hukum dalam proses pemeriksaan setempat sebagaimana diperlihatkan dalam Putusan Nomor: 1598 K/Pid.Sus/2014 dan Putusan Nomor: 1764 K/PID.SUS.LH/2016.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Adnan Paslyadja, 1997, Hukum Pembuktian, Jakarta: Pusat Diklat Kejaksaan Agung Republik Indonesia.
Andi Hamzah, 2010, Hukum Acara Pidana Indonesia, Ed. 2, Cet. 4, Jakarta: Sinar Grafika.
Andi Sofyan, 2013, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar, Yogyakarta: Rangkang Education.
Barda Nawawi Arief, 2008, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan, Jakarta: Kencana.
13
Barda Nawawi Arief,, 2011, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana; Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru, Cet. Ke-III, Jakarta: Kencana.
Bernard L. Tanya, Yoan N. Simanjuntak, dan Markus Y. Hage, 2013, Hukum; Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Cet. Ke-4, Yogyakarta: Genta Publishing.
Chairul Huda, 2013, Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Kepada Tiada Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan, Cet. Ke-V, Jakarta:
Kencana.
Dellyana Shany, 1986, Konsep Penegakkan Hukum, Yogyakarta: Liberty.
Eddy OS. Hiariej, 2012, Teori dan Hukum Pembuktian, Jakarta: Erlangga.
Forest Watch Indonesia dan Washington D.C., 2005, Keadaan Hutan Indonesia, Bogor: Global Forest Watch.
Hari Sasangka dan Lili Rosita, 2003, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana Untuk Mahasiswa dan Praktisi, Bandung: Mandar Maju.
ICEL, 2000, Penegakan Hukum Illegal Logging; Permasalahan dan Solusinya, Jakarta:
Kemitraan Partnership.
M. Yahya Harahap, 2008, Hukum Acara Perata, Cet. Ke-VI, Jakarta: Sinar Garfika.
M. Yahya Harahap, 2016, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP; Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali, Ed. 2, Cet. 15, Jakarta: Sinar Grafika.
Riza Suarga, 2005, Pemberantasan Illegal Logging; Optimisme Di Tengah Praktek Premanisme Global, Jakarta: Wana Aksara.
Roeslan Saleh, 1983, Stelsel Pidana Indonesia, Jakarta: Aksara Baru.
Roeslan Saleh, 1992, Perkembangan Pokok-Pokok Pemikiran Dalam Konsep KUHP, Pekanbaru: IUR Press.
Roeslan Saleh, 1996, Pembinaan Cita Hukum dan Asas-Asas Hukum Nasional, Jakarta: Karya Dunia Fikir.
Satjipto Rahardjo, 2006, Ilmu Hukum, Cet. Ke-4, Bandung: Citra Aditya Bakti.
Soerjono Soekanto, 2005, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta:
Rajawali Pers.
Sudikno Mertokusumo, 1991, Mengenal Hukum; Suatu Pengantar, Yogyakarta: Liberty.
Sudikno Mertokusumo, 2013, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti.
Syaiful Bakhri, 2009, Hukum Pembuktian Dalam Praktik Peradilan Pidana, Yogyakarta: Total Media.
Tolib Effendi, 2014, Dasar-Dasar Hukum Acara Pidana (Perkembangan dan Pembaharuan di Indonesia), Malang: Setara Press.
Putusan Pengadilan:
Putusan Mahkamah Agung Nomor: 1598 K/Pid.Sus/2014 perihal Kasasi perkara H. Rahmad bin H. Budiman, 29 Oktober 2014.
Putusan Mahkamah Agung Nomor: 1764 K/PID.SUS.LH/2016 perihal Kasasi perkara H. Basir, S.Sos, MP bin Paguling, 18 September 2017.
14
BIOGRAFI PENULIS
ROLI PEBRIANTO, S.H., M.H, lahir di Lito. B, pada 11 Februari 1994.
Penulis bertempat tinggal di Dusun Lito Jam, Desa Lito, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Penulis menempuh pendidikan mulai dari SDN Lito Tarewan (Lulus Tahun 2006), SMPN 2 Moyo Hulu (Lulus Tahun 2009), SMAN 1 Moyo Hulu (Lulus Tahun 2012), S1 pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta (Lulus Tahun 2016), dan S2 pada Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta (Lulus Tahun 2019).
Saat ini, Penulis aktif sebagai Staf di Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Universitas Samawa (LKBH UNSA) Jalan By Pass Sering, Sumbawa Besar-Nusa Tenggara Barat. Selain itu, Penulis juga aktif menulis di blog pribadi Penulis yaitu: rolipebrianto11.blogspot.com.