• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2004

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2004"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

EFEK TOKSIKO-PATOLOGIK BEBERAPA TANAMAN BERACUN PADA MENCIT DALAM UPAYA MENCARI

ZAT PENGGANTI RACUN STRYCHNINE UNTUK PEMBERANTASAN PENYAKIT RABIES PADA ANJING

(The Toxicopathological Effects of Some Poisonous Plants in Mice- in Terms of Searching a Substitute for Strychnine to Eradicate Rabies in Dogs)

YUNINGSIH1,R.DAMAYANTI1dan LABA UDARNO2

1Balai Penelitian Veteriner PO Box 151 Bogor 16114

2Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor

ABSTRACT

Strychnine has been known as poisonous substance to kill wild dogs in terms of eradication program for rabies. However the substance is quite expensive and must be imported. In this study attempt to substitute strychnine was conducted by using 13 extracted poisonous plants which given to the mice 0.5–1 ml/

mice/treatment group orally (5 mice/treatment group). The plants were as follows: lelatang (Acalypha indica) leaf, karet (Ficus elastica) seed, kapok (Ceiba petandra) seed oil, jarak (Ricinus communis) seed oil, tembakau (Nicotiana tabacum) leaf, Strychnous nux vomica leaf, tuba (Derris eliptica) root or stem, tikusan (Clausena exavata) leaf, gadung tuber, ceremai stem, kipahit (Pierasma javanica) stem, kemalakian (Croton tiglium) seed and picung (Pangium edule) seed or fruit. Each of the plant were extracted by using specific solvents depending on the toxic substance, ie: aquadest, ethanol, petroleum ether and chloroform. The results showed that picung killed 5 mice (100%) within 1-2 minutes, kemalakian killed 5 mice (100%) within 3−5 minutes, lelatang killed 3 mice (60%) within 30−60 minutes, karet killed 1 mice (20%) within 20 minutes and kapok killed 2 mice (40%) within 60 and 120 minutes. The rest of the plants did not cause any death. The poisonous plants had consistent gross findings: congestion and hemorrhage in the lung, heart and liver and most area of the mucosal stomach was very thin and transparant due to villus atrophy. Histopathologically the lesions were attributed to the gross findings. It was concluded that the most poisonous plant were kemalakian (Croton tiglium) and picung (Pangium edule).

Key words: Poisonous plant, toxico-pathology, mice

ABSTRAK

Racun strychnine (sintetik) dikenal sebagai zat racun untuk membunuh anjing liar dalam rangka pemberantasan rabies. Tetapi zat tersebut harganya cukup mahal dan sulit diperoleh karena harus diimpor.

Maka dalam penelitian ini diupayakan untuk mencari bahan pengganti zat tersebut dan dipelajari efek toksiko-patologinya terhadap hewan percobaan. Dalam studi ini dipakai 13 jenis tanaman beracun dan sejumlah mencit yang terdiri dari 5 ekor/kelompok perlakuan, masing-masing diberi satu macam ekstrak tanaman toksik dengan dosis 0,5–1,0 ml/ ekor secara per oral. Tanaman tersebut yaitu: daun lelatang (Acalypha indica), biji karet (Ficus elastica), biji kapok (Ceiba petandra), biji jarak (Ricinus communis), daun tembakau (Nicotiana tabacum), daun Strychnuos nux vomica, akar/batang tuba (Derris eliptica), daun tikusan (Clauseva exavata), umbi gadung, kulit batang ceremai, batang kipahit (Pierasma javanica), biji kemalakian (Croton tiglium) dan biji picung (Pangium edule). Masing-masing jenis tanaman diekstraksi dengan berbagai macam pelarut (air, etanol, petroleum ether dan chloroform), sesuai dengan sifat aktif racunnya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ekstrak biji picung dapat mematikan 5 ekor (100%) dalam 1−2 menit, ekstrak biji kemalakian mematikan 5 ekor (100%) dalam 3−5 menit, ekstrak daun lelatang dapat mematikan 3 ekor (60%) dalam 30−60 menit, ekstrak biji karet mematikan 1 ekor (20%) dalam 20 menit, ekstrak biji kapok mematikan 2 ekor (40%) dalam 15 dan 20 menit dan ekstrak daun tikusan mematikan 2 ekor (40%) dalam 60 dan 120 menit. Selain tanaman tersebut berarti tidak menimbulkan kematian pada mencit. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tanaman yang paling toksik yaitu ekstrak biji kemalakian (Croton tiglium) dan ekstrak biji picung (Pangium edule). Secara patologi anatomis (PA) ekstrak

(2)

tanaman beracun tersebut menyebabkan pembendungan dan perdarahan umum pada paru-paru, jantung dan hati dan sebagian besar dari area mukosa lambung hanya berupa selaput tipis yang berwarna transparan karena mengalami atrofi. Lesi histopatologis (HP) sangat menunjang hasil PA nya.

Kata kunci: Tanaman beracun, efek toksiko-patologik, mencit

PENDAHULUAN

Penyakit rabies (penyakit anjing gila) sudah lama dikenal masyarakat, tetapi masih sulit memberantasnya karena sebagian masyarakat belum menyadari atau belum mengetahui kewajiban melakukan vaksinasi rabies terhadap anjingnya. Disamping itu masih banyak anjing liar yang berpeluang untuk menderita penyakit rabies.

Laporan Dinas Propinsi 1999 menyebutkan bahwa Jawa Barat, terutama daerah Cianjur dan Sukabumi merupakan daerah dengan kasus rabies cukup tinggi apabila dibandingkan dengan daerah lainnya. Sementara ini pemberantasan rabies pada anjing liar dilakukan dengan pemberian racun strychnine sintetik. Jenis racun ini sangat sulit diperoleh karena harus diimpor dan harganya cukup tinggi. Selain itu akhir-akhir ini berdasarkan informasi dari lapangan menunjukkan bahwa racun strychnine yang sekarang dipergunakan menunjukkan reaksi kematian yang lebih lambat.dibandingkan dengan pemakaian sebelumnya sehingga diduga ada resistensi.

Beberapa tanaman yang paling toksik di antaranya adalah tanaman tuba (Derris eliptica) yang mengandung racun rotenone, tanaman Stryhcnos nux vomica yang mengandung racun alkaloid strychnine, tanaman jarak (Ricinus communis) yang mengandung ricinolein (ricin oil) (OSWELER et al, 1976), tanaman kapok (Ceiba petandra) yang mengandung cyclopropenoid fatty acid (CPFA) dalam bentuk minyak biji kapok (HAMMONDS et al., 1971) dan tanaman karet (Ficus elastica) dalam bijinya yang mengandung racun sianida (HEYNE, 1987).

Berdasarkan hasil penelitian inventarisasi tanaman beracun di daerah Jawa Timur (GINTING dan YUNINGSIH, 1981), ditemukan sejenis tanaman gulma, yaitu tanaman lelatang (Acalypha indica) yang mengandung sianida, yang dapat mengakibatkan keracunan bagi ternak. Kemudian jenis tanaman lain yang mengandung sianida cukup tinggi yaitu sejenis pohon besar yang dikenal dengan nama daerah

yaitu tanaman picung (Pangium edule) (HEYNE, 1987; VALKENBURG dan BUNYAPRAPHATSARA, 2001).

Sianida merupakan senyawa racun yang paling toksik dibandingkan dengan jenis racun lainnya. Menurut OSWEILER, et al.(1976) dan CLARK dan CLARK (1977) menyatakan bahwa sianida pada dosis yang sangat kecil (2,5 ppm) dapat mematikan semua jenis spesies hewan.

Berdasarkan hasil inventarisasi tanaman beracun di Jawa Timur juga diketemukan sejenis tanaman perdu yang dikenal dengan nama daerah yaitu tanaman kemalakian (Croton tiglium), bijinya mengandung minyak yang dikenal dengan nama minyak croton.

Minyak croton ini cukup toksik dan menyebabkan kerusakan pada lambung (VON

OETTINGEN, 1954) dan mempunyai rasa pedas sehingga menyebabkan pembengkakan (HEYNE, 1987). Kemudian minyak croton ini mempunyai sifat purgative yang sangat cepat, karena hanya dengan mengkonsumsi satu buah dari bentuk bijinya dapat menyebabkan purgative (DUKE, 1983).

Pada penelitian ini dilakukan upaya untuk mencari bahan pengganti strychnin dengan jalan mengetahui toksisitas beberapa tanaman beracun terhadap hewan percobaan. Hasil studi ini diharapkan dapat memberi gambaran sejauh mana tanaman tersebut dapat direkomendasikan untuk eliminasi anjing liar dalam rangka pemberantasan rabies.

MATERI DAN METODE

Sebagai bahan percobaan adalah berupa 13 macam tanaman toksik yang dicoba secara oral (cekok) pada mencit. Masing-masing tanaman diekstraksi dengan pelarut yang sesuai dengan kelarutan bahan aktif racunnya. Sebelum diekstraksi tanaman tersebut untuk bahan cekok atau sebelum perlakuan pemberian cekok dilakukan pemeriksaan terhadap racun nitrat, nitrit (Nitrat Kit), sianida (picrate paper test), alkaloid (nikotin dan strychnin) dengan metode menurut STAHR (1977), ricinolein

(3)

menurut NASIRULAH et al. (1982), cyclopropenoid fatty acid (CPFA) metoda Halphen test dan insektisida (rotenone), yaitu ekstraksi pestisida menurut metoda CASSANOVA,1996) dan metode TLC.

Hasil ekstrak masing-masing tanaman dicoba pada 5 ekor mencit yang rata-rata mempunyai berat badan kurang lebih 30 g.

Percobaan tanaman beracun ini dilakukan 2 tahap

Cara pembuatan ekstrak (bahan cekok) dan pemeriksaan toksikologi tanaman beracun 1. Tanaman Lelatang (Acalypha indica).

Pembuatan larutan ekstrak: 10 g daun segar (bagian pucuk muda) diekstraksi dengan air sebanyak 10 ml (konsentrasi 100%). Pemeriksaan daun terhadap racun sianida.

2. Biji karet (Ficus elastica). Pembuatan ekstrak: 10 gram biji karet yang telah dikupas dan masih segar diekstraksi (digerus pada mortar) dengan 10 ml air disaring.(konsentrasi100%). Pemeriksaan biji karet terhadap racun sianida.

3. Minyak biji kapok (Ceiba petandra).

Pembuatan larutan ekstrak: biji kapok dihomogeniser (blender), kemudian diekstraksi dengan petroleum eter. Hasil filtratnya diuapkan dengan evaporator, residu berupa minyak yang siap untuk dicekok pada mencit (konsentrasi 100%).

Pemeriksaan minyak biji kapok terhadap racun CPFA.

4. Minyak biji jarak (Ricinus communis).

Pembuatan larutan ekstrak: biji jarak diblender, kemudian diekstraksi dengan petroleum eter sambil dipanaskan (hangat). Hasil filtratnya diuapkan, tinggal residu yang berupa minyak (konsentrasi 100%) Pemeriksaan minyak biji jarak terhadap racun ricinolein.

5. Daun tembakau (Nicotiana tabacum).

Pembuatan larutan ekstrak: daun tembakau yang kering diekstraksi dengan metoda alkaloid, kemudian filtrat hasil ekstraksi diuapkan dan tinggal residu berupa larutan pekat (ter), kemudian diencerkan 1 : 1

dengan minyak kelapa dan larutan siap untuk cekok pada mencit (konsentrasi 50%). Pemeriksaan residu pekat terhadap alkaloid nikotin (metoda TLC).

6. Daun Strychnos nux vomica. Pembuatan larutan ekstrak: daun segar diekstraksi menurut metode alkaloid dan residu hasil ekstrak berupa larutan pekat (ter), kemudian diencerkan dengan minyak kelapa = 1 : 1 (konsentrasi 50%) dan siap untuk cekok pada mencit. Pemeriksaan larutan pekat terhadap alkaloid strychnine dan brucine (metoda TLC).

7. Batang/akar tanaman tuba (Derris eliptica). Pembuatan larutan ekstrak:10 g batang tuba segar diekstraksi dengan 10 ml air (konsentrasi 100%). Pemeriksaan larutan ekstrak terhadap nitrat dan insektisida rotenone.

8. Daun tikusan (Clausena exavata).

Pembuatan larutan ekstrak: 10 gram daun segar diekstraksi dengan 10 ml air (konsentrasi 100%). Pemeriksaan larutan ekstrak terhadap racun nitrat.

9. Umbi gadung. Pembuatan larutan ekstrak:

10 g digerus dan tambahkan 10 ml air, homogenkan kemudian saring (konsentrasi 100%). Pemeriksaan larutan ekstrak terhadap racun sianida dan nitrat.

10. Kulit batang ceremai. Pembuatan larutan ekstrak: 10 g kulit batang ceremai digerus dan tambahkan 10 ml air, homogenkan, kemudian saring (konsentrasi 100%).

Pemeriksaan larutan ekstrak terhadap racun nitrat.

11. Batang tanaman kipahit (Pierasma javanica). Pembuatan larutan ekstrak: 10 g batang digerus dan tambahkan 10 ml air, homogenkan dan saring (konsentrasi 100%). Pemeriksaan larutan ekstrak terhadap racun nitrat dan nitrit.

12. Biji kemalakian (Croton tiglium).

Pembuatan larutan ekstrak air: biji yang telah dikupas kemudian dihaluskan dan timbang 10 g dan homogenkan dengan 10 ml.air dan saring (konsentrasi 100%).

Pembuatan larutan ekstrak petroleum ether: biji yang telah dihaluskan diekstraksi dengan petroleum ether dengan

(4)

pengocokan (alat shaker) selama 3 jam, kemudian saring. Hasil saringan diuapkan dengan evaporator dan residu (sisa) berupa minyak. (konsentrasi 100%). Pembuatan larutan ekstrak etanol: biji yang telah dihaluskan diekstraksi dengan etanol dengan pengocokan (alat shaker) selama 3 jam, kemudian saring. Hasil saringan diuapkan dengan evaporator dan residu kental seperti minyak (konsetrasi 100%).

Pemeriksaan larutan ekstrak terhadap racun nitrat.

13. Buah/biji picung (Pangium edule).

Pembuatan larutan ekstrak air: daging biji dikeluarkan dari biji picung yang muda, kemudian diblender. Hasilnya ditimbang 10 g dan homogenkan dengan 10 ml air dan saring (konsentrasi 100%).

Pemeriksaan larutan ekstrak terhadap racun sianida.

Pengamatan waktu kematian, patologi anatomi dan histopatologi

Setelah perlakuan pemberian ekstrak tanaman beracun maka waktu kematian dicatat.

Setelah mencit mati maka segera dilakukan nekropsi dan kelainan Patologi Anatomi (PA) dicatat. Potongan organ otak, jantung, paru- paru, lambung, hati dan ginjal difiksasi dalam larutan buffer neutral formalin (BNF) 10%.

Organ- organ tersebut kemudian dipotong 3-4 um dan diproses untuk pewarnaan H E sesuai prosedur standar. Pengamatan preparat histopatologi dilakukan secara mikroskopis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pohon picung (Pangium edule) banyak ditemukan di daerah hutan-hutan yang tidak jauh dari pantai seperti daerah Pelabuhan Ratu (Sukabumi), Pamengpeuk (Garut) dan Pandeglang (Banten). Dapat dibudidayakan dalam jangka waktu 7−10 tahun baru berbuah.

Perlu diidentifikasi zat aktifnya dan dalam penelitian ini sudah diidentifikasi bahan aktifnya adalah sianida, karena dengan diketahui zat aktifnya maka bisa diketahui sifat-sifatnya untuk mempertimbangkan dalam penyimpanan, pemeliharaan sebelum pemakaian (aplikasi). Berdasarkan pengamatan

hasil perlakuan keseluruhan percobaan pemberian (oral) ke-13 macam tanaman beracun terhadap mencit menunjukkan bahwa yang tercepat menyebabkan kematian terhadap 5 ekor mencit (100%) adalah pemberian biji picung (Pangium edule), yaitu kematian dalam waktu 1−2 menit. Biji picung yang dicoba perlakuan adalah biji picung muda, karena mengandung sianida lebih tinggi dari biji tua.

Sesuai menurut HEYNE, (1987) yang menyatakan bahwa biji picung mengandung sianida yang tinggi luar biasa, dibandingkan dengan tanaman lain yang mengandung sianida. Setelah dilakukan pemeriksaan picung terhadap sianida diperoleh 1500−2000 mg/kg (ppm) dan ternyata menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Sementara itu, menurut OSWEILER et al. (1976), menyatakan bahwa racun sianida pada dosis 2,5 mg/kg (ppm) dapat mematikan untuk semua jenis spesies hewan.

Tanaman kemalakian masih jarang diketemukan di lapangan. Mudah dibudidayakan karena mudah tumbuh di daerah yang mempunyai curah hujan tinggi, sehingga selama musim hujan berlangsung semakin banyak bunga tumbuh dan menjadi buah.

Kalau musim kemarau banyak bunga dan buahnya berjatuhan. Telah dicoba budidaya tanaman ini di Balitvet kebetulan pada musim hujan yang bibitnya diperoleh dari Balitro.

Ternyata dalam waktu kurang dari 1 tahun (10 bulan) sudah berbuah. Perlu diidentifikasi zat aktifnya, tetapi dalam penelitian ini belum bisa diidentifikasi karena senyawa toksik dalam tanaman (minyaknya) mengandung phorbol diester (phorbol 12-tiglate 13-decanoate) masih sulit diperoleh (tidak ada dalam katalog), kemudian mengandung senyawa lain, yang cukup tinggi kandungannya yaitu 3,4%

toxic resin, 37% oleic acid, 19% linoleic acid.

Kemudian hasil pengamatan perlakuan biji kemalakian terhadap mencit menyebabkan kematian 5 ekor (100%) dalam waktu 3−5 menit setelah pemberian ekstrak petroleum, sedangkan pemberian ekstrak etanol dalam waktu 5−7 menit dan pemberian ekstrak air dalam waktu 5−10 menit. Sesuai menurut DUKE (1983) yang menyatakan bahwa biji kemalakian ini mempunyai sifat purgative yang sangat cepat dengan mengkonsumsi hanya 1 butir biji kemalakian. Kemudian biji kemalakian ini mempunyai rasa panas, pedas

(5)

dan menyebabkan pembengkakan (HEYNE, 1987) dan sesuai dengan hasil pengamatan PA yang menunjukkan kerusakan pada lambung,

yaitu berwarna putih akibat terjadi reaksi panas yang berasal dari biji croton.

Gambar 1.Tanaman kemalakian (Croton tiglium)

Gambar2. Buah picung (Pangium edule)

(6)

Hasil pengamatan daun lelatang (Acalypha indica) yang mengandung sianida jauh dibawah level dalam biji picung, yaitu sekitar 400-800 ppm. Dengan adanya kandungan sianida cukup tinggi ini, maka dicoba 4 ulangan dengan berlainan waktu sampling daun. Disini dilakukan sampling musim kemarau dan musim hujan, karena setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata sampling musim kemarau kandungan sianidanya lebih tinggi daripada sampling musim hujan. Setelah dilakukan pengamatan waktu kematian mencit dalam 4 ulangan tersebut waktunya berlainan, yaitu masing- masing: 10-20 menit (kematian 2 ekor), 45 menit (1 ekor), 30- 60 menit (3 ekor) dan 1-2 jam (2 ekor). Kalau dilihat disini hasilnya jauh berlainan karena disamping kandungan sianida yang berlainan juga dipengaruhi ketidak stabilan sianida dalam daun lelatang, sedangkan kandungan sianida dalam biji picung disamping lebih tinggi juga jauh lebih stabil (telah dicoba perlakuan penyimpanan antara ekstrak biji picung dan ekstrak daun lelatang).

Begitu juga kandungan sianida dalam biji karet hampir sama dengan kandungan dalam daun lelatang. Maka dicoba 2 ulangan dari biji yang sudah lama dan baru sampling, tetapi hanya 1 ekor yang mati (20%) dalam waktu 20 menit.pada ulangan pertama, sedangkan pada ulangan kedua menunjukkan tidak terjadi kematian.

Seleh pemberian minyak biji kapok pada mencit tidak menunjukkan adanya kematian.

Kemudian dicoba ulangan kedua dengan perlakuan pemanasan minyak biji kapok sebelum pemberian cekok dan ternyata menyebabkan kematian 2 ekor (40%) dalam 15-20 menit. Maka membuktikan bahwa racun CPFA dalam minyak biji kapok ini akan aktif reaksinya bila dilakukan pemanasan, hal ini sesuai dengan metode analisisnya harus dipanaskan.

Hasil pengamatan daun tikusan (ciri khas berbau tikus) menyebabkan kematian 2 ekor (40%) dalam 1−2 jam. Sementara itu, biji jarak, batang/akar tuba, daun tembakau, daun strychnos nux vomica, umbi gadung, kulit buah ceremai dan kipahit menunjukkan tidak menyebabkan kematian pada mencit.

Kandungan racun nitrat dalam akar tuba cukup tinggi sekitar 2000 mg/kg, dan mengandung rotenone (insektisida), kemudian

batang kipahit: 4000 mg/kg nitrat dan kulit buah ceremai: 2000 mg/kg nitrat. Sementara itu, racun nitrat dalam level 2000 mg/kg dalam daun segar dapat menyebabkan keracunan pada ruminansia (HOUSTON et al., 1973). Kemudian beberapa literatur bahwa yang paling toksik bukan nitrat tetapi bentuk nitrit (10 X lebih toksik dari nitrat), yaitu hasil reaksi reduksi nitrat dalam rumen. Maka dicoba larutan ekstrak yang mengandung nitrit yaitu dengan cara perlakuan penyimpanan 1 hari dari larutan ekstrak yang mengandung nitrat tinggi (lebih dari 1000 ppm). Disini dicoba larutan ekstrak air batang kipahit yang mengandung nitrat cukup tinggi yaitu 4000 ppm dan setelah perlakuan penyimpanan (suhu kamar, terbuka), ternyata hasil pemeriksaan ekstrak tersebut terhadap nitrit adalah 500 ppm. Kemudian larutan ekstrak secara langsung (nitrit tidak stabil, cepat hilang) dicoba pada mencit, tetapi tidak menunjukkan adanya kematian.

Gambaran PA yang paling umum yaitu ditemukan pembendungan dan perdarahan pada paru-paru, jantung dan hati. Sementara itu, perubahan yang paling mencolok yaitu sebagian area lambung berubah menjadi putih dan apabila dibuka, lapisan mukosanya hanya berupa lapisan yang sangat tipis (sangat kontras dengan area lambung yang berwarna coklat muda dengan lapisan mukosa cukup tebal).

Secara histopatologis, perdarahan dan pembendungan ditemukan pada daerah interstitialis paru-paru, jantung, hati dan ginjal.

Gambar 3 dan 4 masing masing menunjukkan lesi histopatologi yang berupa perdarahan pada organ paru-paru dan jantung. Sesuai gambaran PA maka lambung secara HP juga mengalami atropi vili di bagian lapisan mukosa sehingga semua vili menjadi gundul dan hanya menyisakan lapisan terbawah yaitu lapisan muskularis saja (Gambar 3). Jadi dari sini dapat diketahui bahwa zat toksik (terutama dari tanaman kemalakian dan picung) tersebut dapat menyebabkan iritasi lambung sangat hebat sehingga makanan tidak dapat diserap karena sebagian besar vili mukosa telah rusak.

Menurut GOPINATH et al. (1987), bahwa hewan percobaan yang diberi zat toksik secara oral biasanya efek utama yang paling sering muncul yaitu kerusakan mikosa lambung dan usus.

(7)

Gambar 3. Perdarahan pada paru-paru mencit yang mati setelah pemberian ekstrak biji picung (Pangium edule), pewarnaan H dan E, 6.3 x 10

Gambar 4. Atrofi villi (tanda panah) pada mukosa lambung mencit yang mati setelah pemberian ekstrak biji picung (Pangium edule), pewarnaan H dan E, 2.5x 10.

Lebih jauh GOPINATH et al. (1987) menambahkan bahwa zat toksik (tergantung derajat ketoksikannya) biasanya dapat dibagi atas 3 fase, yaitu:

a. Menimbulkan perdarahan semua lapisan mukosa saluran percernaan.

b. Menimbulkan perdarahan dan lesi lapisan sub mukosa saluran pencernaan.

c. Menimbulkan lesi mukosa dan sub mukosa (lesi dapat berupa perforasi, ulserasi, atropi) saluran pencernaan.

Dalam penelitian ini tanaman picung dan kemalakian dapat menimbulkan efek tersebut diatas yang paling parah (atropi) dan diasumsikan pula bahwa kondisi hewan yang

(8)

dipuasakan akan memperparah kondisi karena lambung dalam keadaan asam.

Hasil pengamatan waktu kematian mecit terhadap perlakuan 13 macam ekstrak tanaman secara oral Tabel 1.

Tabel 1. Hasil pengamatan lama waktu kematian dan jumlah yang mati (%) setelah pemberian (oral) ekstrak tanaman toksik terhadap 5 ekor mencit

Nama tanaman toksik

Bahan yang diekstraksi

Jenis racun yang diketemukan

Konsentrasi Dosis (ml)

Waktu kematian (menit), jumlah

mati (%) Lelatang (Acalypha

indica) Daun (ekstrak

air) Sianida 100% (10

g/10ml) 1,0 30−60 (60%) Pohon karet, (Ficus

elastica) Biji (ekstrak air) Sianida 100%

(10g/10ml) 1,0 20 (20%) Pohon kapok (Ceiba

petandra)

Biji (ekstrak petroleum)

Cyclopropenoid fatty acid (berupa minyak)

100% 1,0 15−20 (40%)

Jarak (Ricinus communis)

Biji (ekstrak petroleum)

Ricinolein 100% 1,0 -

Pohon tuba (Derris

eliptica) Batang/akar

(ekstrak air) Nitrat, rotenone 100% (10g/10

ml) 1,0 -

Tembakau (Nicotiana tabacum)

Daun (ekstrak

chloroform) Nicotine

(alkaloid) 50% dalam

minyak kelapa 1,0 -

Pohon Strychnos nux vomica

Daun (ekstrak chloroform)

Strychnine, brucine (alkaloid)

50% 1,0 -

Pohon Tikusan

(Clausena exavata) Daun (ekstrak

air) - 100% (10 g/10

ml) 1,0 60−120

(40%) Gadung Umbi (ekstrak

air)

- 50% (10g/20ml) 1,0 -

Pohon buah Ceremai

Kulit batang Nitrat 100%

(10g/10ml)

1,0 -

Kipahit (Pierasma javanica)

Daun (ekstrak air)

Nitrat 100%

(10g/10ml)

1,0 -

Pohon Kamalakian (Croton tiglium)

Biji (ekstrak air) - 50% (10g/20 ml)

1,0 7−10 (100%)

Petroleum 100% 1,0 3−5 (100%)

Etanol 100% 1,0 5−10 (100%)

Pohon Picung (Pangium edule)

Biji Sianida 100% 1ml 1−2 (100%)

(9)

Gambar 5. Perdarahan pada ginjal mencit yang mati setelah pemberian ektrak tanaman kemalakian (croton)

KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan hasil percobaan ke 13 macam ekstrak tanaman toksik tersebut terhadap mencit, maka tanaman yang paling toksik adalah tanaman yang paling cepat mematikan pada mencit yaitu ekstrak biji dari tanaman Kemalakian (Croton tiglium).dan ekstrak biji dari pohon Picung (Pangium edule).

DAFTAR PUSTAKA

CASSANOVA, J.A. 1996. Use of Solid-Phase Extraction Disk For Analysis of Moderately Polar and Non Polar Pesticides in High- Moisture Foods. 79(4): 936−940.

GINTING dan YUNINGSIH. 1981. Tanam-tanaman beracun di daerah Jawa Timur (Laporan) GOPINATH,C.D.E.PRENTICE danD.J.LEWIS. 1987.

Atlas of Experimental Toxicological Pathology. MTP Press, USA.

HAMMONDS, T.W., J.A. CORNELLIUS dan L.TANU

1971. Use the Halphen Reaction of Cyclopropenoid Content of Lipids. Analyst.

Vol. 96, pp. 659−664.

HEYNE, K. 1987. Tumbuhan berguna di Indonesia.

Badan Litbang Kehutanan Jakarta.

HOUSTON, W.R.,L.D. SABATKA dan D.N.HYDER. 1973. Nitrate-Nitrogen Accumulation in range plants after massive N Fertilization on Short Grass Plains. J. Range Manag. 26(1): 54−57.

NASIRULLAH, M.N. KRISHNAMURTHY, K.S.

PASHUPATHY, K.V. NAGARAJA dan O.P.

KAPUR. 1982. Evaluation of the Turbidity and Thin Layer Chromatographic Tests for Detection of Castor oil. JAOCS. 59(8):

337−339.

OSWEILER, G, D., T.L. CARSON, W.B. BUCK and G.A.VAN GELDER.1976. Strycnine. Clinical and Diagnostic Veterinery Toxicology.

Kendall/ Hunt. Pub.Co.Pp. 345-348.

STAHL, E. 1969. Alakaloids. Thin Layer Chromatography. A Laboratory Handbook.

N.Y. pp. 421−471.

STAHR, H.M. 1977. Alkaloids. Analytical Toxicology Methods Manual. IOWA. pp.

178−181.

VALKENBURG,J.L.,C.H.dan BUNYAPRAPHATSARA. 2001. Plant Resources of South−East Asia.

Medicinal and poisonous plants 2. No. 12(2) Backhuys Pub., Leiden. pp. 400−402.

VON OETTINGEN, W.F. 1954. Poisoning. A Guide to clinical diagnosis and treatment. Paul B Hoeber, Inc. pp. 205, 288, 319, 326.

Referensi

Dokumen terkait

mana yang harus dibuka berdasarkan hasil training yang telah disimulasikan menggunakan Neural Network , input merupakan arus gangguan hubung singkat yang terjadi pada

Jadi pengaplikasian manajemen irigasi adalah adalah serangkaian proses untuk menyediakan air, mengelola air, menyalurkan air pada lahan- lahan pertanian, dan membuang

• Secara umum baik, tanpa atau disertai demam ringan (subfebril) • Kadang ada hepatomegali yang tidak atau ada sedikit nyeri tekan.. • Amebiasis

Salah satu keyakinan masih dapat tumbuh kemungkinan ISAT akan menaikkan harga dan mengurangi bonus-bonus yang dilakukan pada saat ini.. Rencana itu sudah berlangsung sejak dua

Dari permasalahan dan hasil penelitian yang telah diuraikan, saran yang dapat penulis berikan kepada karyawan bar adalah SOP sebaiknya dilaksanakan sesuai dengan

Setelah mempelajari bab ini siswa diharapkan dapat menjelaskan pengertian beriman kepada hari akhir, menyebutkan ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan hari akhir dan menceritakan

Pengembangan model spasial lahan pertanian pangan berkelanjutan sejauh ini dilakukan dengan menggunakan data spasial, yang mempertimbangkan a) unsur aktual sawah, b)