• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KETIDAKADILAN GENDER DALAM BUKU PENDIDIKAN AGAMA DAN BUDI PEKERTI (Studi Komparasi Buku Pendidikan Agama Islam dan Kristen kelas XI Tingkat SMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "ANALISIS KETIDAKADILAN GENDER DALAM BUKU PENDIDIKAN AGAMA DAN BUDI PEKERTI (Studi Komparasi Buku Pendidikan Agama Islam dan Kristen kelas XI Tingkat SMA"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

i

ANALISIS KETIDAKADILAN GENDER DALAM

BUKU PENDIDIKAN AGAMA DAN BUDI PEKERTI

(Studi Komparasi Buku Pendidikan Agama Islam dan

Kristen kelas XI Tingkat SMA)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam

Oleh

Sakbani

111-14-203

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITU AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA

(2)
(3)

iii

ANALISIS KETIDAKADILAN GENDER DALAM

BUKU PENDIDIKAN AGAMA DAN BUDI PEKERTI

(Studi Komparasi Buku Pendidikan Agama Islam dan

Kristen kelas XI Tingkat SMA)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam

Oleh

Sakbani

111-14-203

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITU AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA

(4)
(5)
(6)
(7)

vii

MOTTO

Sesuatu yang tidak berguna adalah sesuatu yang tidak kita yakini

-Muhammad Abdillah bin Malik Al Andalusi-

اَهُّيَأَٰٓ َي

َنيِذَّلٱ

ِب َءَٰٓاَدَهُش ِ َّ ِلِلّ َنيِم َّوَق ْاوُنوُك ْاوُنَماَء

ِط ۡسِقۡلٱ

َنَش ۡمُكَّنَمِر ۡجَي َلََو

َ

ۡوَق ُ ا

ْْۚاوُلِد ۡعَت َّلََأ َٰٓ ىَلَع

ْاوُلِد ۡعٱ

َو ىَوۡقَّتلِل ُبَرۡقَأ َوُه

ْاوُقَّتٱ

ََّْۚلِلّٱ

َّ ِإ

ََّلِلّٱ

اَمِب ُُۢريِبَخ

َ وُلَم ۡعَت

٨

Artinya

(8)

viii

PERSEMBAHAN

Karya tulis ini Kupersembahkan untuk:

1. Bapak Nur Aziz dan Ibu Saidah tercinta yang telah mendidik membimbing, mencurahkan kasih sayang serta doanya. Terima kasih atas segala pengorbanan dan kerja keras bapak ibu dalam membesarkanku, sejak dalam kandungan hingga kini tumbuh dewasa.

2. Kakak-kakakku, mbak Siti Aisiyah, mbak Mutoh, mbak Musyawarah, mbak Rochimah, serta mas Mustaqim yang selalu mendorong dan membantuku untuk menyelesaikan studi.

3. Ibu Dra. Djamiatul Islamiyah, M. Ag yang senantiasa sabar memberikan koreksi dan pengarahan hingga terselesaikanya penulisan skripsi ini.

4. Bapak guru SMA N 3 Salatiga yang telah mendukung dan memberikan fasilitas dalam bentuk buku-buku “Pendidikan Agama dan Budi Pekerti”. 5. Sahabatku-sahabatku yang senantiasa memberikan masukan, saran, kritik, dan

motivasi untuk terus berkarya.

6. Teman-temanku seperjuangan serta Dewan Ustadz Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Salatiga yang telah memberikan semangat dan dukungan terhadap studi yang saya jalani.

7. Teman-teman posko 3 KKN IAIN Salatiga tahun 2018 yang telah memberikan semangat dan motivasi.

(9)

ix

KATA PENGANTAR

ِم ۡسِب

َِّلِلّٱ

ِن َم ۡحَّرلٱ

ِميِحَّرلٱ

Puji syukur kehadirat Alloh SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Analisis Ketidakadilan Gender Dalam Buku Pendidikan Agama Dan Budi Pekerti (Studi Komparasi Buku Pendidikan Agama Islam dan Kristen Kelas X Tingkat SMA)“. Sholawa serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada insan mulia nan agung Nabi Muahmmad SAW, keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Penyusun menyadari bahwa kemampuan yang penulis miliki masih terbatas, sehingga dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kelemahan. Arahan dan bimbingan dari berbagai pihak sangat membantu terselesaikanya skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku rektor IAIN salatiga.

2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. 3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. selaku ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam. 4. Ibu Dra. Djamiatul Islamiyah, M.Ag. selaku dosen pembimbing skripsi

5. Bapak dan ibu dosen serta karyawan IAIN salatiga yang telah memberikan ilmu kepada penulis.

6. Bapak, ibu, dan saudara-saudara tercinta yang telah memberikan motivasi dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Teman-teman seperjuangan yang senantiasa mendukung, membantu, mendoakan serta menemani belajar di kampus.

(10)

x

Demikian ucapan terima kasih ini penulis sampaikan, semoga Allo SWT senantiasa memberikan balasan yang belipat ganda kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tulisan ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Dengam keterbatasan wawasan dan kemampuan penulis, karya ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan karya ini.

Salatiga, 5 Septembar 2018 Penulis

Sakbani

(11)

xi

ABSTRAK

SAKBANI, 2018. Analisis Ketidakadilan Gender dalam Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti ( Studi Komparasi Buku Pendidikan Agama Islam dan Kristen Kelas XI di SMA). Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Pembimbing: Dra. Djamiatul Islamiyah, M. Ag.

Kata Kunci: Ketidakadilan Gender, Buku PAI, Buku PAK

Pendidikan agama bertujuan untuk mewujudkan manusia yang utuh dan berkepribadian unggul, salah satunya diwujudkan dengan sikap meniadakan ketidakadilan gender. Gender sendiri telah menjadi suatu permaslahan yang cukup pelik dalam dunia pendidikan. Muatan ketidakadilan gender dimungkinkan dapat ditemukan pada buku teks Pendidikan Agama dan Budi Pekerti.

Konsep gender adalah perbedaan sosial yang berpangkal pada perbedaan jenis kelamin, dimana perbedaan sosial itu dibakukan dalam tradisi dan sistem budaya masyarakat. Ketidakadilan gender adalah suatu sistem atau struktur yang menempatkan laki-laki ataupun perempuan pada posisi yang tidak semestinya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap konten ketidakadilan gender dalam buku pendidikan agama dan budi pekerti, kemudian melakukan komparasi terhadap kedua buku tersebut

Penelitian dengan judul Analisis Ketidakadilan Gender dalam Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (Studi Komparasi Buku Pendidikan Agama Islam dan Kristen Kelas XI di SMA) adalah penelitian jenis kepustakaan atau

library research, data yang dipakai berupa data primer serta sekunder. Teknik pengumpulan datanya berupa pemilahan berbagai dokumentasi dari sumber primer dan sekunder, sedangkan metode analisis datanya berupa metode analisis isi atau content analysis.

(12)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL LUAR ... i

LEMBAR BERLOGO IAIN ... ii

HALAMAN SAMPUL DALAM ... .... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv

PENGESAHAN KELULUSAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN ... vi

MOTO ... vii

PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

ABSTRAK ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... ... 6

1. Manfaat teoritis ... 7

2. Manfaat praktis... 7

(13)

xiii

F. Definisi Operasional... 10

G. Sistematika Penulisan ... 14

BAB II KERANGKA TEORI A. Landasan Teori 1. Konsep sek dan gender... 16

2. Konsep ketidakadilan gender ... 18

3. Upaya menuju kesetaraan dan keadilan gender ... 23

B. Gender dalam Perspektif Islam ... 24

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Sumber Data ... 30

B. Langkah-Langkah Penelitian ... 31

C. Teknik Pengumpulan Data ... 31

D. Teknik Analisis Data ... 32

BAB IV PAPARAN DATA DAN ANALISIS A. Identitas Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ... 34

B. Identitas Buku Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti ... 35

C. Latar Belakang dan Tujuan Penyusunan Buku ... 36

D. Konten Materi ... 41

E. Paparan Data 1. Temuan muatan ketidakadilan gender a. Temuan muatan ketidakadilan gender dalam buku pai ... 61

b. Temuan muatan ketidakadilan gender dalam buku pak ... 68

(14)

xiv

BAB V PENUTUP

A. Simpulan ... 81 B. Saran ... 82 DAFTAR PUSTAKA

(15)

xv

DAFTAR TABEL

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lampiran 1 Surat Tugas Pembimbing Skripsi 2. Lampiran 2 Daftar Nilai SKK

(18)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Wacana tentang gender telah menjadi sebuah diskursus yang hangat dalam beberapa dekade dewasa ini. Diskursus gender merupakan pokok masalah yang universal, dalam arti tidak hanya menjadi wacana bagi kelompok atau golongan tertentu saja yang tersekat oleh batas geografis maupun ideologis, melainkan menjadi sebuah topik global yang melintas ruang dan waktu.

Kaitanya dengan relasi antara laki-laki dan perempuan, kesadaran akan reformasi pola hubungan antar keduanya kearah yang lebih adil dan bernuansa kesetaraan terus berlanjut serta tetap menjadi wacana yang menarik untuk diperbincangkan (Nasution, 2002: 2). Sebab secara historis terungkap adanya dominasi laki-laki terhadap perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.

Berawal dari sinilah kemudian timbul asumsi-asumsi tentang ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kaum hawa tidak pantas memegang kekuasaan sebagaimana kaum adam dikarenakan perbedaan secara biologis serta kemampuan keduanya, meskipun perbedaan itu sebenarnya tidak serta merta menjadikan perbedaan peran, potensi bahkan kesempatan dalam beragam aspek kehidupan.

(19)

2

melestarikan sebuah kondisi dimana perempuan dipersepsikan tidak setara dengan laki-laki (Umar, 1998 :97). Persepsi yang timpang ini lambat laun mengakar kuat serta membudaya dalam komunitas umat manusia.

Budaya suatu masyakat atau negara akan disosialisakan serta diwariskan, agar generasi selanjutnya memiliki cara berfikir, berperasaan dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dianut (Muthali’in, 2001: 5). Selanjutnya, nilai-nilai budaya gender yang telah termanifestasi kedalam cara berfikir, bersikap dan berperasaan yang tertanam dalam budaya nasional secara otomatis akan disosialisasikan ke tengah-tangah masyarakat. Salah satu institusi budaya yang melakukan sosialisasi secara masif adalah lembaga pendidikan. Melalui rancang bangun kurikulum yang terwujud dalam berbagai buku ajar, dapat dibaca dan dicermati ada tidaknya ketidakadilan gender. Barangkal hal itu terjadi tanpa adanya kesengajaan. Namun jika tidak ada yang memberi evaluasi, maka bukan tidak mungkin konstruk pemikiran bias gender akan terus lestari dari satu generasi ke generasi berikutnya.

(20)

3

mendorong pendidikan, keadilan sosial, perlindungan lingkungan, sistem religius, politik dan sosial yang toleran, menerima nilai-nilai humanis dan hak asasi manusia.( Remiswal, 2013: 20). Setidaknya ada tiga isu dalam transformasi dan tuntutan global yaitu isu demokrasi, hak asasi manusia dan gender. Pendidikan tidak hanya sekedar proses pembelajaran tetapi merupakan salah satu “narasumber” bagi segala pengetahuan karenanya ia

instrument aktif transfer nilai termasuk nilai yang berkaitan dengan ketiga isu tersebut. (Muthali’in, 2001: 1). Maka sangat wajar jika pendidikan menjadi

sebuah instrument sosialisasi kebudayaan yang berlangsung secara formal, termasuk di sekolah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya menjawab isu tersebut melalui kebijakan perubahan kurikulum dan tinggal bagaimana implementasi dalam bahan ajar terutama isu gender meskipun pada kenyataannya masih membawa dampak bias gender dalam masyarakat yang berakibat pada kurang optimalnya pembangunan sumber daya manusia yang unggul di segala bidang tanpa memandang jenis kelamin. (Muawanah, 2009 :53).

(21)

4

hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan. Keadilan gender adalah suatu perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Perbedaan biologis tidak bisa dijadikan dasar untuk terjadinya diskriminasi mengenai hak sosial, budaya, hukum dan politik terhadap satu jenis kelamin tertentu. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender, ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dan dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.

Dalam memenuhi kesetaraan dan keadilan gender diatas, maka pendidikan perlu memenuhi dasar pendidikan yakni menghantarkan setiap individu atau rakyat mendapatkan pendidikan sehingga bisa disebut pendidikan kerakyatan. Adapun ciri-ciri kesetaraan gender yang harus ada dalam pendidikan menurut penulis adalah sebagai berikut:

1. Menerapkan perlakuan dan kesempatan yang sama dalam pendidikan pada setiap jenis kelamin dan tingkat ekonomi, sosial, atau perbedaan lainnya yang ada pada anak didik.

(22)

5

3. Pendidikan harus menyentuh kebutuhan dan relevan dengan tuntutan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

4. Setiap anak didik dalam pendidikannya sebisa mungkin diarahkan agar mendapatkan kualitas sesuai dengan taraf kemampuan dan minatnya.

Ketidakadilan gender dapat dilihat dalam buku bacaan wajib di sekolah, yang sebagian besar mentransfer nilai atau norma gender yang berlaku dalam kebudayaan masyarakat. Artinya, sistem nilai gender akan berpengaruh pada kehidupan sistem sosial di sekolah. (Muawanah, 2009: 54). Ketidakadilan gender yang terdapat dalam buku teks atau bahan ajar dapat ditemukan dalam berbagai mata pelajaran di sekolah, termasuk mata pelajaran agama. Pendidikan agama yang merupakan instrumen transfer nilai-nilai agama sesuai dengan doktrin yang termaktub dalam kitab suci haruslah menanamkan nilai keadilan, demokrasi dan menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan.

Berangkat dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk menganalisis muatan ketidakadilan gender pada pendidikan Agama Islam dan Kristen. Analisis dilakukan berdasarkan buku teks siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Kristen kurikulum 2013 kelas XI tingkat SMA.

Dengan demikian penulis mengangkat “Analisis Ketidakadilan Gender Dalam

(23)

6

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan paparan latar belakang diatas, maka pertanyaan penelitian tersebut, sebagai berikut:

a. Bagaimana konsep gender dan ketidakadilan gender?

b. Bagaimana komparasi ketidakadilan gender antara buku “Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti” dengan buku “Pendidikan Agama Kristen

dan Budi Pekerti “ kelas XI tingkat SMA?.

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Mendeskripsikan konsep gender dan ketidakadilan gender.

b. Mengetahui komparasi ketidakadilan gender antara buku “Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dengan buku “Pendidikan Agama Kristen

dan Budi Pekerti “ kelas XI tingkat SMA.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian berjudul “Analisis Ketidakadilan Gender dalam Buku Teks Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (Studi Komparasi Buku Pendidikan Agama Islam dan Kristen Kelas XI Tingkat SMA) ini akan memberikan beberapa kegunaan diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Secara Teoritis-Akademis

(24)

7

yang jelas dalam materi buku ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti serta Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti yang mampu mengakomodasi konsep keadilan gender demi menjaga dan memelihara keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa melalui pendidikan agama.

b. Secara Praktis.

Temuan penelitian ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan sumber masukan khususnya:

1. Bagi Tenaga Pendidik.

Penelitian ini akan menjadi paradigma baru bagi para pendidik supaya lebih sadar bahwa semua anak mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan guna mengembangkan potensi yang dimiliki sejak lahir tanpa adanya diskriminasi dengan dasar apapun seperti perbedaan jenis kelamin, dan latar belakang sosial anak

2. Bagi Pemerintah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah khususnya terkait kebijakan pengadaan buku ajar yang muatanya lebih berbasis pada keadilan atau kesetaraan gender pada di tingkat SMA /MA.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

(25)

8

tujuan Verifikasi sehingga dapat memperkaya temuan-temuan penelitian baru.

E. Kajian Pustaka.

Berdasarkan penelusuran peneliti tentang fokus penelitian yang akan dilakukan, peneliti menemukan beberapa penelitian yang masih memiliki keterkaitan dengan judul “ Ketidakadilan Gender dalam Buku Pendidikan

Agama” yang bersifat literatur atau kepustakaan (library research) yang membahas mengenai ketidakadilan gender, baik berasal dari jurnal pendidikan, skripsi maupun tesis. Adapun penelitian terdahulu yang penulis temukan sebagai berikut:

Hidayat dalam judul Bias gender dalam buku Bahasa Arab untuk tingkat madrasah Tsanawiyah. Penelitian ini menemukan adanya muatan bias gender dalam penjelasan buku teks tersebut.

(26)

9

dan bahan ajar yang banyak digunakan dalam pembelajaran. Sementara buku teks pelajaran pendidikan Agama Islam adalah buku yang dijadikan pegangan siswa pada jenjang tertentu sebagai media pembelajaran (instruksional) yang berkaitan dengan studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang mencakup beberapa standar kompetensi atau kompetensi Inti dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan. 3) Dalam buku teks pendidikan agama Islam untuk kelas XII MA/SMA/SMK/MAK masih ditemukan adanya bias-bias gender, baik dari segi gambar ilustrasi yang ditampilkan, dalil-dalil yang digunakan, dan pada konten isi materi. namun demikian masih dalam taraf kewajaran sehingga menurut penulis kedua buku ini masih layak dan tepat digunakan siswa sebagai buku pegangan.

(27)

10

yang ditampilkan dengan frekuensi yang lebih banyak dan pembagian peran publik yang lebih banyak bagi laki-laki serta domestik bagi perempuan.

Dari beberapa penelitian yang telah dipaparkan diatas, jika ditelaah secara cermat, maka akan ditemukan beberapa persamaan, diantaranya dalam metodologi penelitian yang digunakan oleh Zeni dan Nurfadhlina, keduanya menggunakan metode kualitatif dengan model library research. Selain itu kedunya juga berusaha membedah bagaimana muatan gender yang terdapat pada buku ajar PAI. Disisi lain nampak perbedaan dari fokus kajian yang diteliti, dimana Zeni berfokus pada kesetaraan gender, sedangkan Nurfadhlina meneliti bias gender sebagai fokus kajianya.

Perbedaan penelitian yang disebutkan diatas dengan penelitian penulis, yaitu terletak pada objek yang dikaji, dimana penelitian terdahulu secara garis besar masih membahas bias gender dalam buku Pendidikan Agama Islam, dengan objek kajian buku Teks siswa kelas X, sedangkan penulis mengkaji ketidakadilan gender. Kemudiaan, titik fokus yang diteliti berkonteks islam, sedangkan penulis tidak hanya untuk konteks islam saja. Dengan demikian masih ada ruang bagi peneliti untuk membahas isu lain yakni ketidakadilan gender secara lebih spesifik dan terfokus pada komparasi buku Pendidikan Agama Islam dan Kristen kelas XI.

F. Definisi Operasional.

(28)

11

menjelaskan istilah-istilah di dalam judul penelitian ini. Istilah-istilah yang harus penulis jelaskan, yaitu sebagai berikut:

1. Gender.

Kata gender belum masuk dalam perbendaharaan KBBI, tetapi istilah tersebut sudah lazim digunakan, khususnya di kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dengan istilah “gender”. Gender diartikan sebagai interpretasi mental kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan, serta untuk menunjukan pembagian kerja yang dianggap tetap bagi keduanya (Maslikah dkk, 2012 : 2). Sementara pengertian gender secara etimologis berasal dari kata gender yang berarti

jenis kelamin (Shadily, 2001: 272.). Sedangkan menurut Fatima gender

adalah “the term referred to the grammatical categories that indexed sex

in the structure of human languages and refer to the construction of the

categories ‘masculine’ and ‘feminine’ in society”. (Sadiqi, 2003: 20). Atau

dengan kata lain gender adalah istilah yang secara tata bahasa mengacu

pada penunjukan jenis kelamin dalam struktur bahasa manusia dan

penunjukkan pada sifat laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Dari

beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa gender merupakan

perbedaan jenis kelamin yang bukan disebabkan oleh perbedaan biologis

dan bukan kodrat Tuhan, melainkan diciptakan baik oleh laki-laki maupun

(29)

12

2. Ketidakadilan Gender.

Faqih mendefinisikan bahwa ketidakadilan gender adalah suatu sistem atau struktur yang menempatkan laki-laki ataupun perempuan pada posisi yang tidak semestinya (Faqih dalam Maslikah, 2012: 22).

3. Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam merupkan upaya dalam memberikan bimbingan agama islam atau ajaran islam dan nilai-nilainya agar menjadi pandangan dan sikap hidup seseorang. Pada pengertian ini terwujud dua hal yakni (1) segenap kegiatan yang dilakukan seseorang untuk membantu peserta didik dalam menanamkan atau menumbuh kembangkan agama islam dan nilai-nilainya untuk dijadikan sebagai pandangan hidup yang diwujudkan dalam sikap dan dikembangkan dalam ketrampilan hidupnya sehari-hari, (2) segenap fenomena peristiwa perjumpaan antara dua orang atu lebih yang dampaknya ialah tertanamnya ajaran islam dan nilai-nilainya pada salah satu atau beberapa pihak (Muhaimin, 2005:7-8).

4. Pendidikan Agama Kristen.

(30)

13

kristen bersumber dari Alkitab, yang diharapkan dapat memperteguh iman siswa kepada Tuhan, memiliki budi pekerti luhur, menghormati sesama manusia dan ciptaan Tuhan yang lain (Supit, dkk, 2014 : vii).

Sedangkan hakikat Pendidikan Agama Kristen menurut hasil lokakarya strategi PAK di Indonesia pada tahun 1999 adalah suatu usaha yang dilakukan secara terncana dan berkelanjutan dalam rangka mengembangkan kemampuan siswa agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah dalam diri Tuhan yesus kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya (Supit, dkk, 2014 :vii).

5. Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

(31)

14

Selanjutnya mengenai pendidikan agama dalam PP no 55 tahun 2007 telah dijelaskan bahwa pendidikan agama merupakan pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian dan ketrampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaranya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran atau kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.

G. Sistematika Penulisan.

Untuk dapat melakukan pembahasan yang sistematis, maka peneliti menggunakan sistematika sebagai berikut:

Bagian awal berisi sampul, halaman judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan, pernyataan keaslian, motto, persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar lampiran dan abstrak yang memuat tentang uraian singkat yang dibahas dalam skripsi.

(32)

15

praktis serta uraian tentang metodologi penelitian, kajian pustaka, definisi operasional dan sistematika pembahasan.

Bab kedua berisi tentang pengertian gender dan ketidakadilan gender.

Bab ketiga berisi tentang gambaran umum buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tingkat SMA yang terdiri dari identitas buku, latar belakang dan tujuan penyusunan buku, serta konten materi.

Bab keempat berisi paparan data dan analisis terkait muatan ketidakadilan gender dari buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti yang meliputi agama Islam dan Kristen.

(33)

BAB II

KERANGKA TEORI

A. Konsep Seks dan Gender.

Banyak orang awam yang sering mencampur adukkan antara konsep seks dengan gender sebagai sesuatu yang sama, padahal keduanya sangat jauh berbeda. Pemahaman dan pembedaan terhadap kedua konsep tersebut sangat diperlukan dalam melakukan analisis guna memahami problem-problem ketidakadilan gender yang sering menimpa kaum perempuan.

Kata seks berasal dari bahasa Inggris sex, yang berarti jenis kelamin (Shadily, 1983: 211). Pengertian jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu, misal laki-laki yang memiliki jangkung dan mereproduksi sperma. Sedangan perempuan adalah jenis manusia yang memiliki alat repoduksi seperti rahim, dan saluran melahirkan. Alat-alat tersebut secara biologis melekat pada manusia jenia sperempuan dan laki-laki selamanya. Artinya secara biologis alat-alat tersebut tidak dapat dipertukarkan.

(34)

sebagai sosok yang kuat, rasional dan perkasa. Ciri-ciri tersebut merupakan sifat yang dapat dipertukarkan, artinya ada laki-laki yang lemah lembut, serta ada pula perempuan yang bersifat perkasa. Secara garis besar konsep gender adalah menyangkut semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat laki-laki dan perempuan, yang dapat berubah dari waktu-kewaktu serta berbeda dari tempat-ketempat lainya.

Gender membangun sifat biologis, dari yang tadinya bersifat alami, kemudian melebih-lebihkanya, dan pada akhirnya menempatkanya pada posisi yang tidak relevan. Semisal, sama sekali tidak ada alasan biologis yang dapat menjelaskan mengapa para perempuan harus berlenggok dan para lelaki harus membusungkan dada, mengapa perempuan harus memakai kutek di kakinya sementara laki-laki tidak. Masyarakat beranggapan bahwa jika gender diwariskan melalui praktek pengasuhan anak, maka hal tersebut bersifat sosial, sedangkan kelamin atau seks diwariskan atau langsung diturunkan secara biologis.

Berikut adalah tabel perbedaan antara gender dan seks (Maslikhah dkk, 2012: 21).

Tabel 2.1

Seks Gender

Bersifat kodrat Tidak dapat berubah Berlaku sepanjang zaman Tidak dapat ditukar Ciptaan Tuhan

Tidak bersifat kodrat Dapat berubah

Tergantung waktu dan budaya Dapat ditukar

(35)

B. Ketidakadilan Gender.

Perbedaan gender sering menimbulkan masalah ketidakadilan gender (gender inequalities) baik bagi kaum laki-laki dan perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur dimana keduanya sama-sama menjadi korban dari sistem tersebut (Faqih dalam Maslikhah dkk, hal 12). Adapun berbagai macam manifestasi ketidakadilan tersebut adalah terjadinya marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam pengambilan keputusan politik, pembentukan stereotype atau pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden), serta sosialisasi ideologi nilai peran gender. Dari berbagai manifestasi ketidakadilan, masing-masing tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainya saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Misalnya, jika kita mau menyoroti masalah marginalisasi ekonomi kaum perempuan hal ini terjadi karena ada stereotype tertentu atas diri kaum perempuan dan hal ini dapat memicu adanya subordinasi, kekerasan terhadap perempuan, yang akhirnya menjadi sebuah keyakinan, ideologi dan visi kaum perempuan sendiri.

(36)

penempatan perempuan pada marginalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan terhadap perempuan dan beban kerja majemuk yang tidak proposional (Faqih, dalam Maslikah: 12).

1. Marginalisasi Perempuan.

Marginalisasi secara umum berarti proses penyingkiran. Menurut seorang ahli sosiologi Inggris, Alison scoot terdapat beragam bentuk marginalisasi, diantaranya; (1) proses pengucilan, perempuan dikucilkan dari kerja upahan, atau jenis kerja tertentu, (2) proses pergeseran perempuan kepinggiran (margins) dari pasar tenaga kerja, yaitu berupa kecenderungan bekerja pada jenis pekerjaan yang memiliki hidup yang tidak stabil, upahnya rendah, dinilai tidak atau kurang terampil, (3) proses feminisasi atau segregasi, pemusatan perempuan pada jenis pekerjaan tertentu (feminisasi pekerjaan), atau pemisahan yang semata-mata dilakukan oleh perempuan saja atau laki-laki saja, (4) proses ketimpangan ekonomi yang mulai meningkat yang merujuk diantaranya perbedaan upah (Saptari dan Holzner dalam Maslikah dkk, 2012: 13).

(37)

2. Subordinasi dalam Gender.

Munculnya anggapan bahwa perempuan itu irrasional ataupun emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, sehingga memunculkan sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Subordinasi pada perempuan khususnya secara meluas terjadi dalam lapisan masyarakat, di Jawa misalnya perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena pada akhirnya akan ke dapur juga potensi perempuan sering dinilai tidak fair oleh sebagian besar masyarakat. Sehingga sangat sulit bagi perempuan untuk menembus posisi strategis dalam komunitas terutama yang berhubungan dengan peran pengambilan keputusan. Jika ada perempuan yang mampu menempati posisi tersebut tentu dia telah melalui kompetisi yang sangat ketat dan perjuangan yang sangat panjang. Hal in terutama terjadi di masyarakat bawah dan kalangan yang kurang berpendidikan.

Lain halnya kalau yang mengalami hal tersebut adalah laki-laki. Disamping itu agama sering dijadikan tameng dan pengukuhan dari pandangan-pandangan semacam itu, sehingga perempuan selalu menjadi manusia kelas dua.

3. Stereotype dalam Gender.

(38)

gender. Misalkan mengapa pada sebuah kasus pemerkosaan selalu yang diduga pertama kali dari pihak perempuan yang berdandan atau berpakaian minim (misalnya) yang dapat memancing syahwat laki-laki yang melihatnya. Berawal dari sini, mendorong laki-laki berbuat asusila terhadap perempuan yang berpakaian minim tersebut. Tanpa analisa yang lebih jauh, selalu saja perempuan yang menjadi korban sekaligus pemicu terjadinya pemerkosaan, perempuan selalu menanggung kerugian yang lebih besar dibandingkan laki-laki.

4. Kekerasan dalam Gender.

Kekerasan (violence) adalah serangan atau invasi terhadap fisik ataupun integritas mental psikologis (Faqih dalam Maslikah dkk, 2012: 13). Kekerasan terhadap manusia pada dasarnya berasal dari banyak sumber, salah satu diantaranya adalah kekerasan terhadap satu jenis kelamin tertentu yang disebabkan oleh anggapan yang bias gender, misalnya adanya anggapan bahwa laki-laki pemegang supremasi dan dominasi terhadap berbagai sektor kehidupan, sehingga dianggap wajar jika perempuan menerima perlakuan tersebut. Kekerasan terhadap perempuan diantaranya, pemerkosaan, pemukulan, penganiyaan, dan pembunuhan.

5. Beban Kerja Majemuk dalam Gender.

(39)

dengan pekerjaan yang beragam, memiliki waktu yang tidak terbatas dan dengan beban yang cukup berat (misalnya; memasak, menyuci, menyetrika, mengepel, mengasuh anak-anak dan lain-lainya). Pekerjaan domestik yang berat tersebut dilakukan bersamaan dengan fungsi reproduksi, haid, hamil, melahirkan dan menyusui. Hal itu masih ditambah dengan beban kerja ekonomi sebagai penyangga utama dalam mencari nafkah.

Sementara laki-laki dengan peran publiknya menurut kebiasaan masyarakat, tidak bertanggung jawab terhadap beban domestik tersebut yang hanya layak dikerjakan oleh perempuan. pembagian kerja secara dikotomis, publik-domestik, menyebabkan beban kerja perempuan terlalu berat dan banyak, dianggap pekerjaan rendah dan tidak memperoleh imbalan materiil yang seimbang dengan beban kerjanya.

6. Kesenjangan Gender

Kesenjangan gender sudah “mendarah daging” dalam kehidupan

(40)

C. Upaya Menuju Kesetaraan dan Keadilan Gender

Perbedaan gender dengan pemilihan sifat, peran dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Pada kenyataanya perbedaan gender telah memicu ketidakadilan gender, bukan saja pada perempuan namun juga laki-laki (Maslikhah dkk, 2012: 26). Studi gender pada dasarnya bertujuan untuk mengurangi dan menghilangkan ketidakadilan gender. Keadilan gender biasanya merujuk pada aplikasi keadilan sosial dalam hal pemberian kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan. keadilan disini tidak berarti bahwa laki-laki dan perempuan harus sama dalam segala hal, namun yang dimaksud dengan keadilan gender disini adalah pemberian kesempatan dan akses tidak tergantung pada perbedaan jenis kelamin.

Banyak tokoh yang mengritik adanya ketidakadilan gender tersebut. Mereka berjuang untuk menyuarakan keadilan gender dimana antara laki-laki dan perempuan memiliki dan menikmati status yang sama. Upaya-upaya yang dapat ditempuh untuk mewujudkan keadilan gender diantaranya sebagai berikut:

1. Menerima dan memandang secara wajar perbedaan yang ada pada laki-laki dan perempuan.

(41)

3. Meneliti kemampuan dan bakat masing-masing untuk terlibat dalam pembangunan masyarakat, memberikan solusi-solusi dan mempersiapkan masa depanya.

4. Memperjuangkan terus menerus hak asasi manusia di dalamnya termasuk urusan gender.

5. Mengupayakan perkembangan dan penegakan demokrasi dan pemerintahan yang baik dalam semua institusi masyarakat dan melibatkan perempuan dalam semua level.

6. Pendidikan merupakan kunci bagi keadilan gender, karena pendidikan merupakan tempat untuk menstransfer norma-norma, pengetahuan dan kemampuan mereka (Maslikah dkk, 2012 :27).

Beberapa macam upaya perwujudan keadilan gender diatas, setidaknya bisa dijadikan sebagai sebuah renungan oleh semua kalangan masyarakat untuk segera diimplementasikan kedalam suatu tatanan kehidupan nyata demi percepatan tujuan kehidupan yang berkeadilan.

D. Gender Perspektif Islam

Islam memandang bahwa perempuan mempunyai hak yang sejajar dengan laki-laki sebagaimana pernyataan seorang pakar feminim asal Maroko Fatima Sadiqi, dia mengatakan Within this context, women’s honor and status

were, on the one hand, closely related to the male members of their family and by extension their tribe, and on the other the chief factor determining the familial and tribal status. This gender thinking did not vanish with the

(42)

(to Khadåjah) raised him in status into a respected circle. Later on, his

marriages to a number of wives bestowed “honor and status” on them as

Ummu al-mu’minån (mother of the believers) and underpinned the honor and political alliances of the families and tribes from which his wives came. (Sadiqi, 2003: 31). Dengan kata lain, bahwa dalam kontek tersebut kemuliaan dan status perempuan adalah sama dengan laki-laki, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Islam begitu memperhatikan masalah gender, sebagaimana kita bisa memperhatikan dalam kehidupan Rasul Muhammad SAW bersama istri beliau yang pertama yakni Siti Khadijah. Bahkan istri beliau yang bernama Siti Aisyah mendapat gelar Ummul Mukminin, suatu gelar yang begitu menjunjung harkat kaum perempuan.

Sementara Fatima Mernissi, yang juga sama-sama pejuang hak-hak kaum perempuan dari Maroko menegaskan bahwa Islam pada prinsipnya memandang persamaan potensi antara laki-laki dan perempuan, ketidaksamaan yang muncul dikemudian hari, bukanlah bersumber dari satu ideologi yang membenarkan sifat inferioritas perempuan, melainkan akibat dari lembaga-lembaga sosial tertentu yang dibentuk untuk membatasi kekuatanya dimana termasuk didalamnya pemisahan dan subordinasi legal dalam struktur keluarga (Mernissi dalam Maslikah, 2102: 61).

(43)

ۡذِإَو

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar (Q.S. al-Baqarah, 2:30–31).

Amina Wadud menjelaskan ayat diatas dengan mengatakan The part

of the statement “on the earth” not only emphasizes that being on earth is

fundamental to the Islamic conception of human destiny, it also defies any implication that the human sojourn on the earth is a type of punishment, or

“fall” of an originally sinful creature. The second and more important aspect

of this statement is the intent implied, “I will create a ‘khalifah’.” This shows

that the characteristic of khilafah (trusteeship or agency) is fundamental and essential to being human. That is why the term khalifah is foundational to an ethics of human dignity. On a more pragmatic level, I have explored the significance of this aspect of human dignity in the context of civil society,

where I use the term khalifah to refer to “citizen.” Here, my first task is to review some fundamental and perhaps universal implications of what it means

(44)

emphasize khilafah in its particular relation to gender and the dignity of women. (Wadud, 2006: 51). Secara garis besar Wadud menjelaskan bahwa kata

Khalifah adalah makna suatu agen yang mendasar dalam kehidupan manusia. Lebih lanjut ia memaparkan terkait signifikansi antara aspek martabat manusia dengan masyarakat yang beradab. Intinya kata Khalifah secara khusus berkaitan dengan gender dan harkat perempuan. Dengan demikian jelaslah bahwa ayat yang terkadang digunakan untuk melegitimasi kaum laki-laki ini, sejatinya mengajarkan konsep keadilan gender.

َّ ِإ

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu´, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Qs. Al-Ahzab: 35).

(45)

Artinya

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha

Perkasa lagi Maha Bijaksana”.( Qs. At Taubah: 71).

اَهُّيَأَٰٓ َي

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.(QS. An-Nisa’: 1).

Nasaruddin Umar memberikan analisis secara kritis terhadap ayat yang menjelaskan tentang asal usul penciptaan manusia ini. Dengan menggunakan analisis linguistik, dia memaparkan bahwa kata nafs yang terulang sebanyak 295 kali dalam Al-Qur’an, dengan seluruh derivasinya, tidak satupun yang dengan tegas menunjukan kepada pengertian Adam. Menurutnya kalau dikatakan bahwa nafs wahidah adalah Adam, berarti Adam juga menjadi asal usul kejadian hewan dan tumbuh-tumbuhan sebagaimana dijelaskan pada surat As-Syura ayat: 11. Lebih lanjut dia mengutarakan kata nafs wahidah

(46)

pertama dari tanah juga tidak bermasalah dalam tinjuan kesetaraan gender karena keduanya dinyatakan bersumber dari unsur dan mekanisme yang sama. Ayat yang dikemukakan diatas memberikan informasi bahwa penciptaan manusia sejak awal tidak menunjukkan adanya perbedaan subtansi antara laki-laki dan perempuan. Ini mengisyaratkan bahwa Al-Quran mempunyai pandangan yang positif terhadap keadilan gender (Umar, 1999: 241). Sebagai pedoman umat Islam, tentunya ayat-ayat Al-Quran diatas, tidak hanya dibaca saja, melainkan harus diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat muslim sehari-hari, agar manusia bisa merasakan nikmat-nikmat yang Alloh turunkan melalui wahyu-Nya.

(47)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian dalam skripsi ini merupakan jenis penelitian kepustakaan atau lazim disebut dengan library research. Penelitian ini dilakukan dengan mencari beragam sumber informasi yang ada pada perpustakaan seperti buku, koran, majalah, jurnal dan lain sebagainya. Penulis mengambil data yang bersumber dari beragam buku ilmiah yang berkaitan dengan tema skripsi ini.

A. Sumber Data.

Peneliti menggunakan sumber data dari beragam karya tulis dengan topik yang relevan dengan judul penelitian yang diangkat. Dalam sumber data ini terbagi menjadi data primer dan data sekunder. Adapun perincian smber data yang penulis gunakan adalah sebagai berikut

1. Sumber Data Primer.

Sumber data primer berkaitan langsung dengan objek penelitian dalam skripsi ini. Buku-buku itu antara lain

a. Buku teks siswa PAI dan Budi Pekerti tingkat SMA kelas XI, kurikulum 2013.

(48)

2. Sumber Data Sekunder.

Sumber data sekunder adalah data yang mendukung dan melengkapi sumber-sumber data primer. Sumber data sekunder yang menjadi rujukan peneliti diantaranya sebagai berikut

1) Buku ”Menelisik Gender dalam Konstruksi Sosial“, karya Tim PSGK STAIN Salatiga.

2) Buku “Gender and Self in Islam” karya Etin Anwar.

3) Buku “Inside the Gender Jihad Women’s Reform in Islam” karya

Amina Wadud.

B. Langkah-Langkah Penelitian.

Peneliti memulai penelitian dengan menentukan latar belakang masalah yang akan diteliti, kemudian membatasinya dalam sebuah rumusan masalah. Lalu, peneliti mengumpulkan data dengan metode

library research, mereduksi data dan menyajikannya dalam bentuk deskriptif dan tabel. Kemudian peneliti menganalisa, mengkategorikannya kedalam unsur-unsur yang hendak diteliti kemudian membuat sebuah analisa temuan dan kesimpulan.

C. Teknik Pengumpulan Data.

(49)

dokumentasi berbagai sumber primer maupun sekunder. (Bungin, 2007 :121).

Menurut Louis Gottschalk kata dokumen seringkali digunakan para pakar dalam dua pengertian, yaitu; pertama, sebuah sumber tertulis bagi informasi sejarah sebagai kebalikan daripada kesaksian lisan. kedua, digunakan bagi surat-surat resmi dan surat-surat negara. Lebih lanjut, Gottschalk menyatakan bahwa dokumen dalam pengertiannya yang lebih luas berupa setiap proses pembuktian yang didasarkan atas jenis sumber apapun baik itu yang berupa tulisan, lisan, gambaran atau arkeologis (Gottschalk, 1986: 46). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan kalimat dan foto atau gambar yang terdapat dalam buku teks pendidikan agama Islam dan Kristen sebagai objek kajian yang diteliti.

D. Teknik Analisis Data.

(50)
(51)

BAB IV

PAPARAN DATA DAN ANALISIS MUATAN KETIDAKADILAN GENDER

Pada bagian ini penulis ingin fokus pada analisis data ketidakadilan gender dalam Buku Pendidikan Agama Islam dan Kristen. Penulis mengawali analisis dengan memaparkan data-data yang ditemukan dan tentunya relevan dengan tema yang diangkat dalam karya tulis ini.

A. Identitas Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA merupakan pelajaran yang diperuntukkan bagi siswa tingkat menengah atas (SMA), yang disusun langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia. Penyusunan buku ini mengacu pada kurikulum 2013 yang telah disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik yaitu kompetensi inti dan kompetensi dasar yang telah disusun oleh Kemendikbud.

Pada setiap awal materi pelajaran terdapat kolom peta konsep yang menggambarkan secara umum materi yang akan dibahas dan sasaran sikap mulia yang hendak dicapai setelah terselenggaranya pembelajaran tersebut. Adapun materi yang dikembangkan dalam buku “Pendidikan Agama Islam

dan Budi Pekerti” ini meliputi 1) Akidah, 2) Akhlak dan Budi Pekerti, 3) Fiqih, 4) Sejarah Peradaban Islam, 5) Alquran dan Hadist.

(52)

Judul Buku : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Jenjang kelas : SMA/MA/SMK/MAK.

Penyusun : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun terbit : 2014.

Kota terbit : Jakarta.

Adapun tampilan bagian depan atau cover dari bukunya sebagai berikut Gambar 3.1

B. Identitas Buku Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti.

Buku “Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti” untuk SMA

merupakan pelajaran yang diperuntukkan bagi siswa tingkat menengah atas (SMA), yang disusun langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) Republik Indonesia. Penyusunan buku ini mengacu pada kurikulum 2013 yang telah disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik yaitu kompetensi inti dan kompetensi dasar yang telah disusun oleh kemendikbud.

Pada awal maupun akhir materi dalam buku “Pendidikan Agama

(53)

Tuhan, serta kisah-kisah inspiratif. Materi yang disajikan antara lain adalah ayat-ayat Alkitab, dan nilai-nilai kehidupan umat kristiani sehari-hari.

Berikut gambaran identitas buku tersebut

Judul Buku : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Jenjang kelas : SMA/MA/SMK/MAK.

Penyusun : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun terbit : 2014.

Kota terbit : Jakarta

Adapun tampilan bagian depan atau cover dari bukunya sebagai berikut Gambar 3.2

C. Latar Belakang dan Tujuan Penyusunan Buku

1. Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

Pada penyusunan buku pelajaran pasti memiliki latar belakang atau alasan tertentu disampaikan oleh penyusun. Latar belakang dan tujuan dalam buku pendidikan agama Islam dan budi pekerti ini dapat dilihat dari kata pengantar yang disampaiakan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan Muhammad Nuh.

(54)

Misi utama (innama) pengutusan Nabi adalah untuk menyempurnakan keluhuran akhlak. Ini dibukikan bahwa didalam ayat al-Qur’an ini digunakan struktur gramatikal yang menunjukan sifat eksklusif misi pengutusan Nabi. Sejalan dengan itu, dijelaskan al-Qur’an bahwa beliau diutus hanyalah untuk menebarkan kasih sayang kepada semesta alam. Dalam struktur agama Islam, pendidikan akhlak adalah yang terpenting. Penguatan akidah adalah dasar. Sementara ibadah adalah sarana, sedangkan tujuan akhirnya adalah pengembangan akhlak mulia. Nabi saw. Bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imanya adalah yang paling baik akhlaknya.” Nabi saw. juga bersabda, “Orang yang paling baik islamnya adalah yang paling baik akhlaknya.” Dengan kata lain, hanya akhlak mulia yang dipenuhi dengan sifat kasih sayang sajalah yang bisa menjadi bukti kekuatan akidah dan kebaikan ibadah.

Karena itu, pelajaran agama Islam diorientasikan kepada akhlak yang mulia dan diorientasikan kepada pembentukan anak didik yang penuh kasih sayang. Bukan hanya penuh kasih sayang kepada sesama muslim, melainkan kepada semua manusia, bahkan kepada segenap unsur alam semesta. Hal ini selaras dengan Kurikulum 2013 yang dirancang untuk mengembangkan kompetensi yang utuh antara pengetahuan, ketrampilan, dan sikap. Peserta didik tidak hanya diharapkan bertambah pengetahuan dan wawasanya, tetapi juga meningkat kecakapan dan ketrampilanya serta semakin mulia karakter dan kepribadianya.

Buku Pelajaran Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XI ini ditulis dengan semangat itu. Pembelajaranya dibagi-bagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang harus dilakukan siswa dalam usaha memahami pengetahuan agamanya. Tetapi tidak berhenti dengan pengetahuan agama sebagai hasil akhir. Pemahaman tersebut harus diaktualisasikan dalam tindakan nyata dan sikap keseharian yang sesuai dengan tuntunan agamanya, baik dalam bentuk ibadah ritual, maupun ibadah sosial. Untuk itu, sebagai buku agama yang mengacu pada kurikulum berbasis kompetensi, rencana pembelajaranya dinyatakan dalam bentuk aktivitas-aktivitas. Urutan pembelajaran dirancang dalam kegiatan-kegiatan keagaman yang harus dilakukan oleh siswa. Dengan demikian, maeri buku ini bukan untuk dibaca, didengar, maupun dihafal baik oleh siswa maupun guru, melainkan untuk menuntun apa yang harus dilakukan siswa bersama guru dan teman-teman sekelasnya dalam memahami dan menjalankan ajaran agamanya.

(55)

tersedia dan terbentang luas disekitarnya. Peran guru dalam meningkatkan dan menyesuaikan daya serap siswa dengan ketersediaan kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan alam.

Implementasi terbatas kurikulum 2013 pada tahun ajaran 2103/2014 telah mendapat tanggapan yang sangat positif dan masukan yang sangat berharga. Pengalaman tersebut dipergunakan semaksimal mungkin dalam menyiapkan buku untuk implementasi menyeluruh pada tahun ajaran 2014/2015 dan seterusnya. Walaupun demikian, sebagai edisi pertama, buku ini sangat terbuka dan perlu terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Untuk itu kami mengundan para pembaca memberikan kritik, saran dan masukan untuk perbaikan dan penyempurnaan pada edisi berikutnya. Atas konstribusi tersebut kami ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat memberikan yang terbaik bagi kemajuan dunia pendidikan dalam rangka memepersiapkan generasi seratus tahun Indonesia merdeka (2045).

Melihat dari pernyataan diatas yang disampaikan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan, dapat diketahui bahwa latar belakang penyusunan buku pendidikan agama dan budi pekerti ini adalah untuk menyempurnakan keluhuran akhlak siswa. Hal ini selaras dengan kurikulum 2013 yang telah dirancang untuk megembngakna kopetensi utuh antara kognitif, afektif dan psikomotorik. Selain itu dengan adanya buk pendidikan agama islam dan budi pekerti diharapkan peserta didik juga bertambah peetahunaya, wawasan agamanya, menajamkan skill serta semakin mulia karakter dan kepribadianya.

(56)

memberikan konstribusi yang terbaik bagi kemajuan dunia pendidikan dalam rangka mempersiapkan generasi seratus tahun Indonesia merdeka.

2. Buku Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti.

Pada penyusunan buku pelajaran pasti memiliki latar belakang atau alasan tertentu disampaikan oleh penyusun. Latar belakang dan tujuan dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ini dapat dilihat dari kata pengantar yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh.

Berikut kutipan kata pengantar tersebut.

Rumusan kompetensi telah diterima secara universal mencakup tiga ranah, yaitu sikap, ketrampilan, dan pengetahuan. Pembelajaran pengetahuan dipergunakan untuk menghasilkan ketrampilan dan membentuk sikap. Sejalan dengan itu, tujuan pendidikan nasional telah dirumuskan untuk mengembangkan kompetensi peserta didik dalam tiga ranah tersebut. Tujuan ini juga menegaskan agar sikap spiritual, menjadi insan beriman dan bertakwa, dan sikap sosial, menjadi insan berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab, tumbuh berimbang.

Keseimbangan ini perlu tercermin dalam pembelajaran agama. Melalui pembelajaran pengetahuan agama akan terbentuk ketrampilan beragama dan terwujud sikap beragama siswa. Sikap beragama yang diharapkan adalah sikap beragama yang utuh dan berimbang, mencakup hubungan manusia dengan penciptanya dan hubungan manusia dengan sekitarnya. Untuk memastikan keseimbangan ini, pelajaran agama perlu diberi penekanan khusus terkait dengan akhlak mulia atau budi pekerti.

Buku pendidikan agama kristen dan budi pekerti kelas XI ini ditulis dengan semangat itu. Pembelajaranya dibagi-bagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang harus dilakukan siswa dalam usaha memahami pengetahuan agamanya. Tetapi tidak berhenti dengan pengetahuan agama sebagai hasil akhir. Pemahaman tersebut harus diaktualisasikan dalam tindakan nyata dan sikap keseharian yang sesuai dengan tuntunan agamanya, baik dalam bentuk ibadah ritual, maupun ibadah sosial.

(57)

harus dilakukan siswa bersama guru dan teman-teman sekelasnya untuk memahami dan menjalankan ajaran agamanya. Bukan buku yang materinya ditulis untuk dibaca, didengar, ataupun dihafal oleh siswa maupun guru.

Buku ini menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan siswa untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013, siswa diajak menjadi berani untuk mencari sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru dalam meningkatkan dan menyesuaikan daya serap siswa dengan ketersediaan kegiatan pada buku ini sangat penting. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan alam.

Implementasi terbatas kurikulum 2013 pada tahun ajaran 2103/2014 telah mendapat tanggapan yang sangat positif dan masukan yang sangat berharga. Pengalaman tersebut dipergunakan semaksimal mungkin dalam menyiapkan buku untuk implementasi menyeluruh pada tahun ajaran 2014/2015 dan seterusnya. Walaupun demikian, sebagai edisi pertama, buku ini sangat terbuka dan perlu terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Untuk itu kami mengundan para pembaca memberikan kritik, saran dan masukan untuk perbaikan dan penyempurnaan pada edisi berikutnya. Atas konstribusi tersebut kami ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat memberikan yang terbaik bagi kemajuan dunia pendidikan dalam rangka memepersiapkan generasi seratus tahun Indonesia merdeka (2045).

Berdasarkan kutipan kata pengantar diatas, dapat diketahui bahwa latar belakang penyusunan buku “pendidikan agama kristen dan Budi pekerti”

ini sejalan dengan kurikulum 2013 yang dirancang agar peserta didik mampu mengenali potensi sekaligus mengembangkan sikapnya terkait dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Selain itu peserta didik juga diharapkan bertambah wawasanya dalam bidang kajian keagamaan, terampil beragamanya, serta dapat mewujudkan sikap beragama yang utuh dan berimbang dalam hubungan manusia dengan penciptanya, sesama manusia, dan lingkunganya.

(58)

tuntunan agama kristen, baik dalam bentuk ibadah ritual maupun sosial. sehingga dapat memberikan berkonstribusi yang optimal bagi kemajuan dunia pendidikan dalam rangka mempersiapkan generasi seratus tahun Indonesia merdeka.

D. Konten Materi

1. Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XI.

Buku “Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti” ini terdiri dari

11 bab tema pelajaran, setiap babnya terdiri dari 3-7 sub bahasan yang mencakup renungan, pengamatan, materi dan latihan soal untuk peserta didik. Kemudian di setiap bab dilengkapi dengan peta konsep, rangkuman materi untuk memudahkan siswa dalam memahami inti dari materi pelajaran. Kandungan materi pelajaran yang tersaji dalam buku ini meliputi: 1) Al-Qur’an dan Hadis, 2) Aqidah, 3) Akhlak dan Budi pekerti, 4) Fiqh, 5) Sejarah Peradaban Islam.

Penyajian dalam buku ini terdapat beberapa rubrik yang dijadikan fokus aktivitas siswa dalam memberikan penekanan-penekanan pada aktivitas mandiri kepada peserta didik yaitu dengan fitur-fitur seperti peta konsep, mari renungkan, mari mengamati, aktivitas siswa, kisah inspiratif terkait materi, rangkuman, dan evaluasi. Deskripsi mengenai konten materi yang terdapat dalam buku pendidikan agama islam dan budi pekerti ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

(59)

1) Berisi peta konsep Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, mari mengamati gambar-gambar yang terkait dengan mapel, dan aktivitas siswa yang berisi tanggapan atas pengamatan tersebut.

2) Berisi penjelasan materi tentang kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum Al-Quran.

3) Berisi tentang hikmah beriman kepada kitab-kitab suci, serta kisah inspiratif yang terkait dengan materi.

4) Berisi rangkuman materi yang menjelaskan poin-poin utama dari materi yang telah dipaparkan dan evaluasi berupa soal latihan yang diberikan kepada peserta didik sebagai uji pemahaman materi. b. Bab II, materi yang diberikan adalah akhlak dan budi pekerti dengan

tema” Hidup Nyaman dengan Perilaku Jujur”. Berikut ini materi yang

dituangkan ke dalam beberapa bagian, yaitu meliputi:

1) Berisi peta konsep tentang “hidup nyaman dengan perilaku jujur”, dan mengamati gambar yang terkait dengan materi pelajaran. 2) Berisi pemaparan tentang kejujuran yang disertai dengan dalil

Al-Quran dan Hadist, serta gambar-gambar kegiatan sehari-hari yang terkait dengan kejujuran.

(60)

4) Berisi tentang rangkuman materi yang menjelaskan inti utama dari materi yang telah dipaparkan, serta evaluasi dimana ada lembar soal yang harus dikerjakan oleh peserta didik.

c. Bab III, pembahasan yang disajikan pada pelajaran ketiga ini berkaitan dengan fiqh yang bertemakan “kepedulian Umat Islam terhadap

Jenazah”, dan penyajian materi dipaparkan dalam beberapa bagian, antara lain:

1) Berisi peta konsep tentang tatacara merawat jenazah, dan mari mengamati gambar-gambar yang berkaitan dengan materi pelajaran.

2) Berisi penjelasan tentang tata cara merawat jenazah, takziah sampai berziarah kubur, yang dilengkapi dengan bacaan atau doa-doa dan gambar yang terkait dengan materi.

3) Berisi tentang penerapan perilaku mulia seorang muslim terhadap jenazah serta keluarga yang ditinggalkanya dan kisah inspiratif yang terkait dengan materi.

4) Berisi rangkuman materi yang menjelaskan poin penting dari materi yang telah dipaparkan dan evaluasi berupa soal latihan yang diberikan kepada peserta didik.

d. Bab IV, pembahasan pada pelajaran keempat ini adalah materi tentang fiqh dengan tema” Sampaikan dariku Walau Satu Ayat”. Pemaparan

(61)

1) Berisi peta konsep tentang khutbah, tabligh, serta dakwah, dan mari mengamati gambar-gambar yang terkait dengan materi. 2) Berisi mutiara khazanah islam yang merupakan penjabaran dari

pokok materi, seperti pentingnya dakwah, khutbah serta tabligh, dan ketentuan-ketentuan dari ketiganya yang dilengkapi dengan dalil naqli baik dari Al-Qur’an maupun Hadist.

3) Berisi refleksi akhlak mulia, rangkuman yang merupakan penjelasan poin penting dari materi serta evaluasi yang berupa latihan soal.

e. Bab V, pembahasan yang disajikan dalam pembelajaran kelima ini adalah materi tentang sejarah peradaban islam dengan tema”Masa

kejayaan Islam yang dinantikan Kembali”. Pembahasan dalam bab ini

disajikan dalam beberapa bagian, antar lain:

1) Berisi peta konsep tentang tema, dan mari renungkan tentang masjid Cordova di Spanyol.

2) Berisi mutiara khazanah islam yang merupakan pemaparan materi, yaitu periodesasi sejarah Islam, masa kejayaan islam, serta tokoh-tokoh pada masa kejayaan islam disertai kisah isnpiratif dengan judul miqdad bin amr (ahli filsafat yang dicintai Alloh dan Rasul-Nya).

(62)

berupa latihan soal bagi peserta didik sebagai uji pemahaman siswa terhadap materi.

f. Bab VI, pembahasan yang disajikan pada pembelajaran keenam ini adalah materi Al-Qur’an Hadist dengna tema” membangun bangsa melalui perilaku taat, kompetisi dalam kebaikan, dan etos kerja”.

Pembahasan pada bab ini terbagi ke dalam beberapa bagian, yaitu sebgaai berikut:

1) Berisi peta konsep tentang tema, mari renungkan tentang gambar suasana lomba cerdas cermat SMA.

2) Berisi mutiara khazanah islam yang merupakan uraian materi pokok, seperti membaca ayat Al-Qur’an tentang pentingnya taat aturan, kompetisi dalam kebaikan, serta etos kerja (An-Nisa’/4:59, Al-Maidah/5:48, At-Taubah/9:105, serta hukum bacaan tajwidnya. 3) Berisi refleksi akhlak mulia, rangkuman yang berupa penjelasan

poin penting dari materi yang telah disajikan, dan evaluasi berupa latihan soal sebagai uji pemahaman siswa.

g. Bab VII, pembahasan dalam pembelajaran ketujuh merupakan materi

aqidah yang bertema”Rasul-Rasul itu kekasih Alloh SWT”.

Pembahasan pada bab ini terbagi kedalam beberapa bagian, antara lain: 1) Berisi peta konsep tentang tema, mari renungkan tentang gambar

masjid Al-Aqsha di palestina.

(63)

Rasul-Rasul Alloh, tugas-tugas Rasul, serta hikmah beriman kepada Rasul.

3) Berisi refleksi akhlak mulia, rangkuman yang merupakan penjelasan poin penting dari materi yang telah diuraikan, dan evaluasi yang berupa sola latihan bagi peserta didik.

h. Bab VIII, pembahasan yang disajikan pada materi kedelapan ini adalah materi akhlak dengan tema ”Hormati dan Sayangi Orang Tua dan Gurumu”. Penyajian pada bab ini terbagi kedalam beberapa bagian,

diantaranya:

1) Berisi peta konsep tentang tema, mari mengamati gambar yang terkait dengan tema.

2) Berisi mutiara khazanah islam yang merupakan penjabaran dari pokok materi, kisah tentang berbaktinya Uwais Al Qarni pada Ibunya.

3) Berisi refleksi akhlak mulia, rangkuman yang menjelaskan poin-poin penting dari materi yang tekah dipaparkan, serta evaluasi berupa latiha soal bagi siswa untuk menguji pemahaman siswa. i. Bab IX, pembahasan yang disajikan dalam pelajaran kesembilan ini

adalah materi Fiqh, dengan tema “Prinsip dan Praktik Ekonomi Islam”.

Penyajian pada bab ini terbagi kedalam beberapa bagian, diantaranya: 1) Berisi peta konsep tentang prinsip dan praktik ekonomi islam, mari

(64)

2) Berisi Mutiara Khazanah Islam yang merupakan penjabaran dari pokok materi, seperti pengertian muamalah, macam-macam muamalah, dan perbankan.

3) Berisi rangkuman yang merupakan penjelasan poin penting dari materi yang telah dipaparkan, dan evaluasi berupa latihan soal untuk menguji pemahaman siswa terhadap materi.

j. Bab X, pembahasan yang disajikan pada pelajaran kesepuluh ini adalah materi Sejarah Peradaban Islam dengan tema “Bangun dan Bangkitlah

Wahai Pejuang Islam”. pembahasan disajikan dalam beberapa bagian, diantaranya:

1) Berisi peta konsep tentang tema, mari mengamati tentang gambar bangunan masjid di Madinah.

2) Berisi mutiara khazanah islam yang merupakan penjabaran dari pokok materi, seperti islam Masa Modern (1800-sekarang), Tokoh-Tokoh Pembaharuan Dunia Islam lengkap dengan gambarnya. 3) Berisi refleksi akhlak mulia, rangkuman yang merupakan

pemaparan poin penting dari semua materi, dan evaluasi berupa latihan soal untuk uji pemahaman siswa terhadap materi.

k. Bab XI, pembahasan yang disajikan dalam pelajaran kesebelas ini adalah materi Al-Qur’an dan Hadist dengan tema “Toleransi sebagai alat pemersatu Bangsa”. Penyajian pada bab ini terbagi kedalam

(65)

1) Berisi peta konsep tentang toleransi, mari renungkan tentang gambar tawuran, suasana idul fitri saling bersalaman, serta siswa sedang berdiskusi saling menghargai.

2) Berisi mutiara khazanah islam yang merupakan uraian dari pokok materi, seperti mari membaca Q.S Yunus/10: 40-41, Q.S Al Maidah/5: 32, memahami hukum tajwidnya, memahami pesan-pesan mulia dari ayat tersebut yang disertai dengan Hadist terkait, serta mengamalkan dan membiasakan akhlak mulia dengan bersikap toleran dan menghindari dari perilaku tindak kekerasan. 3) Berisi refleksi akhlak mulia, rangkuman materi, serta evaluasi

untuk uji pemahaman siswa terkait materi.

2. Buku Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas XI.

Buku pendidikan agama kristen dan budi pekerti kelas XI terdiri 14 bab. Dalam masing-masing babnya terdiri dari 3-4 sub bahasan dan memuat beberapa kegiatan siswa. Buku ini mengambil ayat-ayat dari Alkitab yang sesuai dengan masing-masing tema dalam setiap bab sebagai bahan pembelajaran. Penjabaran buku pendidikan agama kristen dan budi pekerti kelas XI, yakni sebagai berikut:

a. Bab I, pembahasan pada pelajaran pertama mengambil tema “Tuhan Pedoman Kehidupan Keluargaku” dengan menggunakan Alkitab

sebagai sumber pembelajaran, yaitu Kejadian/2 :24, korintus/11 :3, dan Yohanes/2: 1-11, yang memuat beberapa sub bahasan, diantaranya:

Gambar

Tabel 2.1 Seks
Gambar 3.1
Gambar 3.2
Gambar 1.3 Sumber:
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan asam benzoat dan asam propionat pada edible film protein whey memberikan pengaruh yang berbeda nyata (p<0.05) terhadap

menfatwakan sah menikah dengan anak di bawah umur yang ditetapkan Undang-Undang. Alasan mereka adalah masalah umur ini tidak disebutkan dalam al-Quran maupun al-Hadis. Jawaban

Bahan kimia yang ada dalam cat tembok di anataranya adalah kalsium karbonat (CaCo), titanium dioksida (TiO), PVAC (Poly Vinly Acrylic), kaolin, pigmen, dan air.. Kalsium karbonat

Beradasarkan tabel 5 bahwa terdapat hubungan antara perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan (Nilai P value 0.001 dan nilai r -0,0362), terdapat hubungan

Itulah sebabnya, Depdiknas, (2003b:13) menjelaskan bahwa indikator dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar. Berdasarkan penjelasan di atas dapat

Di kalangan masyarakat luas juga berlaku pendapat umum bahwa semakin berpendidikan maka makin baik status sosial seseorang dan penghormatan masyarakat terhadap

adalah suatu analisis yang bertujuan untuk menemukan satu titik dalam unit atau rupiah, yang menunjukkan biaya sama dengan pendapatan. Sedangkan menurut Herjanto

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan