• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - IRA RETNANING DYAH BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - IRA RETNANING DYAH BAB II"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep ketuban pecah dini.

1. Pengertian

Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum terdapat

tanda persalinan mulai dan ditunggu satu jam sebelum tejadi inpartu.

(Manuaba. 1998 ).

Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum ada

tanda-tanda persalinan. ( Saeffudin. 1994 ).

Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air lewat vagina

setelah kehamilan berusia 22 minggu ( Winkjo Sastro, 1999 ).

Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan ketuban pecah dini

adalah pecahnya selaput ketuban sebelum adanya tanda – tanda persalinan

2. Manifestasi Klinis

Menurut Saifuddin ( 1994 ) Manifestasi Klinis dari ketuban pecah dini

adalah :

a) Keluar air ketuban warna putih keruh, jernih, kuning, hijau, atau

kecoklatan sedikit-sedikit atau sekaligus banyak

b) Dapat di sertai demam bila ada infeksi.

c) Janin mudah diraba.

(2)

e) Inspeksio : tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada

dan air ketuban sudah kering.

3. Etiologi

Etiologi ketuban pecah dini belum diketahui tetapi di lihat dari factor

predisposisinya yaitu Infeksigenetalia, serviks inkompeten, gameli,

hidramnion, kehamilan pretem, disporpsi sevalopelvik. (Saefuddin,1994)

4. Komplikasi

Komplikasi ketuban pecah dini menurut saefuddin adalah :

a) Infeksi

b) Partus pretem

c) Prolaps tali pusat

d) Distosia ( partus kering )

B. Pengertian Partus Tak Maju

1. Pengertian

Partus tak maju adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat, yang

tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, menurunnya kepala

dan putar paksa selama 2 jam terakhir ( mochtar, 1998 )

2. Etiologi

Menurut Winkjo sastro ( 1999 ) etiologi partus tak maju adalah

adanya distalia servikalis dan kelainan his yaitu inersia dan coor – dinate

(3)

3. Penanganan

Penanganan pada partus tak maju menurut wiknjo sastro ( 1999 )

adalah wanita inpartu yang bersangkutan harus diawali dengan seksama.

Tekanan darah diukur tiap 4 jam sering dalam kala II. Pada inersia uteri

periksa keadaan serviks. Presentasi posisi janin turunnya kepala dalam

panggul dan keadaan panggul. Apabila ada disporposi sevalo pelvik

sebaliknya lakukan sectio caesaria jika tidak ada CPD berikan oksitosin

dengan cara 5 satuan okcitelin dimasukan kedalam larutan glukosa 5 % dan

berikan secara infus intra vena dengan kecepatan kira – kira 12 tetes / menit,

perlahan – lahan dapat menaikkan sampai kira – kira 50 tetes / menit, maksud

pemberian oksitosin adalah untuk memperbaiki his, sehingga his dapat

membuka sebaliknya jika oksitosin diberikan maksimal 50 tetes / menit kalau

ternyata tidak ada kemajuan, pemberian dihentikan dan dilakukan sectio

caesaria.

C. Konsep Sectio Caesaria

1. Pengertian

a) Sectio caesaria adalah seuatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan

melalui insisi pada perut dan dinding rahim. ( Saefuddin, 2000 )

b) Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat

sayatan pada dinding depan perut atau vagina (Mochtar, 1998)

c) Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan

(4)

Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan sectio caesaria adalah

satu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan dan membuka dinding

perut dan dinding rahim.

2. Anatomi dan Fisiologi

(5)

b. Fisiologi

1) Uterus

Uterus adalah organ muskuler yang berongga, berdinding tebal

dan terletak di antara kandung kemih disebelah anteriornya dan rectum

disebelah posteriornya. Uterus terdiri atas dua bagian yaitu korpus atau

badan dan serviks atau leher. Serviks terbentuk oleh bagian sepertiga

bawah uterus, dan separuh serviks menjulur kedalam vagina.

Uterus mempunyai panjang kurang lebih 7,5 cm dan lebar 5,5

cm dan kedalaman 2,5 cm. dinding uterus sangat tebal, yaitu sekitar 1,2

cm sehingga kavum uteri berukuran sangat kecil.

Struktur yang menjulur ke lateral dari uterus bagian atas adalah

tuba falopi atau saluran telur. Tempat masuk tuba tersebut disebut

kornu ( tanduk ) uterus. Bagian uterus yang berada diatas kornu disebut

fundus, sementara titik temu serviks dengan korpus uteri dinamakan

isthmus uteri.

Bagian serviks yang berongga disebut kanalis servisis. Muara

kanalis servisis kedalam vagina disebut ostium eksterna dan muara

kanalis tersebut pada daerah isthmus uteri disebut ostium interna.

2) Struktur

(a) Lapisan

Korpus uteri dilapisi oleh endometrium yang menciptakan

jaringan epitel yang mengandung kelenjar dan stroma.

(6)

kemudian dilepaskasn pada setiap siklus haid dan lapisan basal

yang konstan.

(b) Lapisan Otot

Lapisan media dinding uterus merupakan lapisan muskuler

dan disebut miometrium. Dalam lapisan ini tersusun

serabut-serabut otot yang terdiri atas tunika muskulatir longitudinalis

eksterna, obliqua media dan sirkulatis interna yang diselingi

dengan sedikit jaringan fibrosa.

(c) Fungsi

Fungsi uterus adalah untuk :

(1) Menyediakan tempat yang sesuai bagi ovum yang sudah

dibuahi agar ovum tersebut dapat menanamkan diri.

(2) Memberikan perlindungan dan nutrisi kepada embrio / janin

sampai tercapai maturitas.

(3) Mendorong keluar janin pada plasenta pada persalinan.

(4) Mengendalikan pendarahan dari tempat peletakan plasenta

melalui kontraksi otot-otot yang saling berjalin.

Pada rahim wanita yang belum pernah menikah ( bersalin )

panjang uterus terdiri dari :

(1) Fundus Uteri ( dasar rahim )

Bagian uterus yang terlaetak antara kedua pangkal saluran

(7)

(2) Korpus Uteri

Bagian uterus yang terbesar pada kehamilan, bagian ini

berfungsi sebagai tempat janin berkembang. Rongga yang

terdapat pada korpus uteri disebut kavum uteri atau rongga

kehamilan.

(3) Seviks Uteri

Ujung serviks yang menuju puncak bagian disebut porlio

hubungan antara kovum uteri dan kanalis servikalis disebut

ostium uteri intervium.

(4) Dinding Uterus terdiri dari :

i. Endometrium epitel, kelenjar, jaringan ( pembuluh darah ).

Lapisan dalam uterus yang mempunyai arti penting dalam

siklus haid. Seorang wanita pada masa reproduksi pada

kehamilan endometrium akan menebal. Pembuluh darah

bertambah banyak dan hal ini diperlukan untuk

membersihkan makanan pada janin.

ii. Miometrium ( lapisan otot polos ).

Tersusun sedemikian rupa sehingga dapat mendorong

isinya keluar pada waktu persalinan sesudah plasenta lahir

akan mengalami pengelian sampai seukuran normal

sebelumnya.

iii.Lapisan Serosa ( petiteneum viserai )

(8)

i) ligament coordinate kiri dan kanan menahan uterus

supaya tidak turun.

ii) ligament sakro uterium kiri dan kanan menahan uterus

supaya tidak banyak gerak.

iii)Ligament patundum kiri dan kanan menahan uterus

agar tetap berada ditempat.

iv) Ligamentum latum kiri dan kanan ligamentum yang

meliputi tuba.

v) Ligamentum infudibulo pelvium, ligament yang

menahan tuba fallopi. Fungsi uterus yaitu menahan

ovum yang telah dibuahi selama perkembangan.

(d) Tuba Falopii

Tuba Falopii juga dikenal dengan istilah Oviduct ( saluran

telur ) dan kadang-kadang disebut tuba uterina. Saluran ini

terdapat pada setiap sisi uterus dan membentang dari kornu uteri

ke arah dinding lateral pelvis, tuba falopii di bungkus oleh

peritoneum yang membentuk ligamentum latum. Panjang tuba

folopii sekitar 10 cm, tetapi tidak berjalan lurus. tuba berjalan

melengkung dan berputar ke arah posterior. Ujung distalnya

terbuka kedalam kavum peritonei dan dapat bergerak bebas pada

ujung tersebut terdapat fimbria dan fimbria ini memeluk ovarium

pada saat ovulasi. Lumen tuba folopii sangat sempit, khususnya

(9)

(e) Struktur

Tuba follopii dilapisi oleh epitel bersilla yang tersusun

dalam banyak lipatan sehngga memperlambat perjalanan ovum

kedalam uterus. Sebagaian sel tuba

Mensekresi cairan serosa yang membeikan nutrisi pada

ovum. Di luar lapisan epitel yang dipisahkan oleh lapisan halus

jaringan ikat terdapat dua buah selubung otot, yaitu tunika

muskularis longitudinalis eksterna dan sirkularis interna.

Peritoneum yang membentuk ligamentum latum membungkus

tuba.

(f) Fungsi

Tuba fallopii merupakan saluran tempat lewatnya sperma

untuk bertemu dengan ovum dan pada tempat pertemuan ini terjadi

fertilisasi (pembuahan ). Tuba juga mendorong ovum ke dalam

uterus dengan gerakan muskulernya yang dibantu oleh silia dan

cairan.

(g) Ovarium

Ovarium adalah kelenjar kelamin ( gonad ) atau kelenjar

sexs wanita. Ada dua buah ovarium yang masing-masing terdapat

pada setiap sisi dan berada dalam kavum abdomen dibelakang

ligamentum latum dekat ujung fimbria tuba falopii. Ovarium /

(10)

permukaan yang tidak teratur dan berukuran sekitar 3 cm kali 1,5

cm.

Kedua ovarium melekat pada uterus lewat ligamentum

latum ovarii yang berjalan dari permukaan posterior uterus didekat

kornu uteri. Dukungan tambahan diperoleh dari ligamentum infun

dibulopelvik yang membentang ke dinding lateral pelvis.

Salah satu permukaan ovarium bersentuhan dengan

permukaan posterior ligamentum latum. Titik temu ini disebut

mesovarium.

(h) Struktur

Ovarium terdiri dari medulla dan korteks. Medulla yaitu

bagian internal yang mangandung pembuluh limfe dan darah yang

disangga oleh jaringan ikat, sedangkan korteks yaitu bagian

eksternal yang mengandung folikel-folikel ovarium atau sel-sel

telur yang terbenam dalam stroma.

(i) Fungsi

Fungsi ovarium adalah :

(1) Produksi, penyimpanan serta pematangan folikel-folikel

ovarium dan pelepasan ovum.

(2) Produksi hormon ovarium, yaitu estrogen dan progesteron. (

(11)

3. Etiologi

Menurut Mohctar ( 1998 ), etiologi dari sectio caesaria adalah :

a. Plasenta previa sentralis dan lateralis ( posterior )

b. Disproporsi sefalo-pelvik : ketidakseimbangan antara ukuran kepala dan

panggul.

c. Ruptura uteri mengancam

d. Partus tak maju ( obstructed labor )

e. Distosia serviks

f. Pre-eklamsi dan hipertensi.

4. Komplikasi

Beberapa komplikasi persalinan dengan sectio caesaria menurut

Mochtar ( 1998 ) yaitu :

a. Infeksi puerperal ( Nifas )

1) Ringan : dengan kenaikan suhu beberapa hari saja

2) Sedang : dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi

dan perut sedikit kembung.

3) Berat : dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik.

Penanganannya adalah dengan memberikan cairan, elektrolit dan

anti biotika yang adekuat dan tepat.

b. Pendarahan disebabkan karena :

1) Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka.

2) Atonia uteri

(12)

c. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila

reperitonialisis terlalu tinggi.

d. Kemungkinan ruptura uteri spontan pada kehamilan mendatang.

5. Jenis-jenis sectio caesaria

Menurut mochtar ( 1998 ) jenis-jenis sectio caesaria dibagi menjadi :

a. Berdasarkan abdomen ( sectio Caesaria abdominalis )

1) Sectio caesaria klasik ( Korporal )

Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus

uteri kira-kira sepanjang 10 cm .

Kelebihan

(a) Mengeluarkan janin lebih cepat

(b) Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik

(c) Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal.

Kekurangan

(a) Infeksi mudah menyebar secara intra abdomen karena tidak ada

refeli fonealisasi yang baik

(b) Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri

spontan.

2) Sectio caesaria ismika ( Profunda )

Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada

segmen bawah rahim ( low cervical transversal ) kira-kira 10 cm.

Kelebihan

(13)

(b) Penutupan luka dengan reperi toneliasasi yang baik

(c) Tumpang tindih dari peritereal flap baik sekali untuk menahan

penyebaran isi uterus kerngga periotoneum

(d) Pendarahan kurang.

(e) Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptura uteria

spontan kurang / lebih kecil.

Kekurangan

(a) Luka dapat melebar ke kiri, kanan dan bawah, sehingga dapat

menyebabkan uteria putus sehingga mengakibatkan pendarahan

yang banyak.

(b) Keluhan pada kandung kemih postoperative tinggi.

(c) Vagina ( sectio Caesaria Vaginalis )

Menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesaria dapat

dilakukan sebagai berikut :

(a) Sayatan memanjang ( Longitudinal ) menurut kroning .

(b) Sayatan melintang ( Transversal ) menurut Kerr.

(c) Sayatan huruf T ( T-Incision )

b. Menurut istilah

1) Sectio caesaria primer ( efektif )

Bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal.

2) Sectio caesaria Ulang ( Repeat Caesarea Sectio )

(14)

3) Sectio Caesaria Histerektomi ( Caesarea Sectio Hysterectomy )

Suatu operasi dimana setelah janin dilahirkan dengan Sectio caesaria.

4) Operasi pollo ( pollo operation )

Suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri ( tentunya

janin sudah mati ).

D. Konsep Nifas

1. Pengertian

a. Nifas adalah masa dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika

alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. (Winknjosastro,

2002 )

b. Nifas adalah masa nifas mulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah

kira-kira 6 minggu .( mansjoer, 2000 )

Dapat disimpulkan bahwa nifas adalah suatu masa pulihnya kembali alat-alat

kandungan setelah melahirkan seperti pada keadaan sebelum hamil yang

lamanya 6-8 minggu.

2. Periode Nifas Menurut Mochtar ( 1998 )

a. Puerperium dini : Merupakan kepulihan ibu dan pada periode ini boleh

berdiri dan jalan-jalan.

b. Intermedial :Merupakan kepulihan yang menyeluruh alat-alat genital yang

lamanya 6-8 minggu.

c. Remote puerperium : Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat

sempurna terutama bila selama hamil dan saat persalinan mengalami

(15)

3. Tujuan perawatan nifas menurut mochtar ( 1998 )

a. Untuk mendapatkan kesehatan emosi

b. Untuk mencegah terjadinya infeksi dan komplikasi

c. Untuk memperlancar pembentukan air susu ibu.

4. Perubahan-perubahan fisiologis pada masa nifas menurut (Mochtar 1998) dan

Farrer ( 1999 ) perubahan-perubahan fisiologis pada masa nifas antara lain :

a. Uterus

Pada akhir kala II persalinan, fundus uteri berada setinggi

umbilicus atau berada pada garis tengah, kira-kira 2 cm dibawah

umbilicus dan ukuran uteri kurang lebih sama dengan umur kehamilan 16

minggu ( kira-kira sama dengan buah jeruk ). Uterus mempunyai panjang

kira-kira 14 cm, lebar 12 cm dan tebal 10 cm serta berat kira-kira 1000

gram. Setelah 12 jam setelah persalinan fundus berada kurang lebih 1 cm

diatas umbilicus.

b. Lochia adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina

dalam masa nifas.

Jenis-jenis Lochea yaitu :

1) Lochea tubra(cruenta) : berisi darah segar dan sisa selaput ketuban,

sel-sel desi dua. Selama 2 hari pasca persalinan

2) Lochia sanguinolenta : berwarna merah kuning berisi darah dan lendir,

hari 3-7 pasca persalinan.

3) Lochia serosa : berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari

(16)

4) Lochia alba : cairan putih, setelah 2 minggu.

5) Lochia putulenta : terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau

busuk.

6) Lochiostatis : lochia tidak lancar keluarnya

c. Serviks

Setelah persalinan, bentuk serviks agak menganga seperti corong

berwarna merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang

terdapat perlukaan-perlukaan kecil.

d. Vulva dan Vagina

Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat

besar selama proses melahirkan bayi. Setelah 3 minggu Vulva dan vagina

kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugene dalam vagina secara

berangsur-angsur akan muncul kembali sememtara labia menjadi lebih

menonjol.

Orifisium vagina biasanya tetap sedikit membuka setelah wanita tersebut

melahirkan anak.

e. Perineum

Setelah melahirkan, perineum tetap sedikit membuka karena sebelumnya

teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada postnatal

hari ke-5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya

sekalipun tetap lebih kendur dari ada keadaan sebelum melahirkan (

(17)

f. Payudara

Payudara mencapai maturitas yang penuh selama masa nifas kecuali jika

laktasi di supresi. Payudara akan menjadi lebih besar lebih kencang dan

mula-mula lebih nyeri tekan sebagian reaksi terhadap perubahan status

hormonal serta dimulainya laktasi.

g. Traktus urinarius

Urine dalam jumlah besar dan sering akan dihasilkan dalam waktuu 12-36

jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon

estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penuruan yang

mencolok. Keadaan ini menyebabkan diuresis. Ureter yang berdilatasi

akan kembali normal dalam tempo 6 minggu.

h. Sistem gastrointestinal

Walaupun kadar progesteron menurun setelah melahirkan namum asupan

makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari, gerak

tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum

melahirkan diberikan enemoa.

i. Sistem kardiovaskuler

Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurut kadar estrogen,

volume darah kembali kepada keadaan tidak hamil.meskipun kadar

estrogen mengalami penurunan yang sangat besar selama masa nifas,

(18)

5. Perubahan Psikologis

Perubahan pada status hormonal menyebabkan ibu yang berada

dalam masa nifas menjadi sensitif terhadap factor-faktor yang dalam keadaan

hormal mampu diatasinya. Selain perubahan hormonal, cadangan fisiknya

sering sudah terkuras oleh tuntunan kehamilan serta persalinan misalnya

kurang tidur, lingkungan yang asing kecemasan akan bayi dan suami atau

anak-anaknya yang lain.

Sebagian ibu merasa tidak berdaya dalam waktu yang singkat, namun

perasaan ini umumnya akan menghilang setelah kepercayaan pada diri

mereka dan bayinya tumbuh. Apabila depresi atau isnomonia bertahan lebih

dari 1 atau 2 hari, harus dirujuk kebagian psikiatri untuk menyingkirkan

kemungkinan psikosis nifas.

E. Patofisiologi

Menurut Prawirohardjo ( 1999 ) dan Mochtar ( 1998 ) kesulitan dalam

kemajuan pembukaan serviks dapat disebabkan oleh kelainan his dan distosia

servikalis. Jenis – jenis kelainan his antara lain :inersia uteri, his lebih lemah,

lebih singkat dan lebih jarang dibandingkan dengan his yang normal sedangkan

pada incoordinate uteri action, tidak ada koordinasi antar kontraksi bagian atas,

tengah dan bawah pada uterus.

His yang tidak normal dan tidak ada koordinasi menyebabkan his tidak

efisien dalam mengadakan pembukaan sehingga persalinan tidak dapat maju.

Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam Obstetri berkaitan dengan

(19)

infeksi ibu. Dari penyebab ketuban pecah dini itu sendiri belum diketahui

kemungkinan lain yang dapat menyebabkan KPD, berkurangnya kekuatan

membran atau meningkatnya tahanan intra uterin oleh kedua factor tersebut.

Dalam penanganan KPD dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu secara konservatif

( rawat RS dengan pemberian anti biotic ) dan secara aktif ( kehamilan > 37

Minggu dilakukan induksi partus atau dapat juga vakum ekstraksi setelah

LP(periode laten)dan diberikan antibiotik).Apabila induksi atau VE gagal maka

dilakukan SC.

F. Penatalaksanaan

1. Penata laksanaan secara umum

Menurut saefudin ( 2000 )

a. Konservatif

1)Rawat dirumah sakit

2)Berikan antibiotik ( ampi 4 x 50 mg / eritromisin bila tidak tahan ampi )

dan metronidozol 2 x 500 mg selama 7 hari jika umur kehamilan < 32

minggu, dirawat selama air ketuban tidak keluar lagi.

3)Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, tes

busa negativ beri dexametason, observasi tanda – tanda infeksi dan

kesejahteraan janin, terminasi pada kehamilan 37 minggu.

4)Jika usia kehamilan 32 – 37 minggu, ada infeksi beri antibiotik dan

(20)

b. Aktif

1) Kehamilan lebih dari 37 minggu, induksi dengan oksitosin bila gagal

Sc dapat pula diberikan misoprostal 50 mg intra Vagina tiap 6 jam

maksimal 4 kali.

2) Bila ada tanda – tanda infeksi berikan antibiotik dosis tinggi, dan

(21)

2. Penatalaksanaan keperawatan

(22)

b. Fokus Intervensi Keperawatan

Menurut Doengoes (2000), Bobak (2000)

1) Nyeri (akut) berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan,

pembedahan (Doengoes, 2000).

Tujuan : Nyeri dapat berkurang

KH : Mengungkapkan berkurangnya nyeri, pasien tampak rileks,

mampu tidur / istirahat

Intervensi :

(a) Tentukan karakteristik dan lokasi nyeri

(b) Evaluasi tekanan darah dan nasi

(c) Lakukan latihan nafas dalam

(d) Ubah posisi pasien senyaman mungkin, anjurkan ambulasi dini

(e) Memberikan lingkungan yang tenang

(f) Kolaborasi pemberian analgesik

2) Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (Doengoes, 2000)

Tujuan : Tidak ada infeksi

KH : Luka bekas dari drainase purulen, balutan insisi bersih, luka

bebas dari infeksi, tidak febris

Intervensi :

(a) Monitor TTV

(b) Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat

(23)

(d) Inspeksi insisi terhadap proses penyembuhan perhatikan adanya

tanda-tanda infeksi

(e) Kolaborasi pemberian antibiotik

c. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan trauma mekanis, efek-efek

anastesi (Bobak, 2000)

Tujuan

Intervensi : Tidak terjadi perubahan eliminasi urine,

mengosongkan vesika urinatia setiap berkemih

KH : Pasien dapat berkemih tanpa bantuan dalam 6-8 jam

setelah kelahiran, mengosongkan kandung kemih

setiap berkemih

Intervensi :

(a)Kaji masukan cairan dan pengeluaran urine

(b)Palpasi kandung kemih

(c)Anjurkan minum 6-8 gelas / hari

(d)Kaji tanda-tanda infeksi kandung kemih

(e)Perhatikan dan catat jumlah frekuensi berkemih per hari

(f)Kolaborasi : pemberian infus intra vena selama 24 jam pertama setelah

pembedahan

d. Konstipasi berhubungan dengan penurunan mofilitas usus (Doengoes,

2000)

Tujuan : Tidak ada konstipasi

(24)

Intervensi

(a) Auskultasi terhadap adanya bising usus pada keempat kuadran setiap

4 jam post partum SC

(b) Palpasi abdomen, perhatikan distensi / ketidaknyamanan

(c) Tingkatkan ambulasi dini sesuai toleransi

(d) Berikan informasi diit tentang pentingnya peningkatan cairan,

makanan besar

(e) Anjurkan untuk makan buah-buahan dan sayuran

(f) Kolaborasi pemberian pelunak feses, suposirotia.

e. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman pada konsep diri

(Doengoes, 2000)

Tujuan : Ansietas dapat teratasi

KH : Mengungkapkan kesadaran akan ansietas, mengidentifikasi cara

untuk menghilangkan / menurunkan ansietas, klien terlihat rileks,

dapat tidur / istirahat dengan baik

Intervensi :

(a) Dorong partisipasi pasangan

(b) Tentukan tingkat ansietas klien dan sumber masalah

(c) Beri informasi tentang penyebab kecemasan

(d) Bantu klien / pasangan dalam mengidentifikasi mekanisme koping

(25)

f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan trauma jaringan, nyeri (Bobak,

2000)

Tujuan : Tidak terjadi intoleransi aktivitas

KH : - Klien menunjukan peningkatan toleransi aktivitas dan

menurunnya kelemahan dan kelelahan

- Klien miring pada hari pertama, duduk pada hari kedua dan

berdiri pada hari ketiga setelah operasi

Intervensi :

(a) Kaji TTV terhadap faktor penyebab / penunjang

(b) Anjurkan mobilisasi secara bertahap

(c) Ajarkan klien metode menghemat energi untuk aktivitas (istirahat

cukup)

(d) Atur posisi senyaman mungkin

(e) Pertahankan masukan 2000 – 3000 ml/hari

(f) Kolaborasi pemberian multivitamin dan analgesik

g. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan ASI belum lancar

(Bobak,2000)

Tujuan : Menyusui dapat efektif

KH : Ps dapat mengungkapkan pemahaman tentang proses / situasi

menyusui, mendemonstrasikan tekhnik dari menyusui,

menunjukan keputusan menyusui pada bayi

Intervensi :

(26)

(b) Berikan informasi perawatan putting dan payudara

(c) Demonstrasikan cara perawatan putting dan payudara

(d) Berikan informasi teknik-teknik menyusui

(e) Perhatikan posisi bayi selama menyusui dan lama menyusui

h. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (Doengoes,2000)

Tujuan : Menunjukan peningkatan berat badan

KH : - Menunjukan pemahaman kebutuhan diet individu

- Menunjukan peningkatan berat badan sesuai tujuan dalam

nilai laboratorium normal

Intervensi :

(a) Observasi penurunan otot umum, kehilangan otot subkutan

(b) Timbang berat badan

(c) Catat masukan oral bila atau saat boleh makan lagi, tawarkan makan

yang disukai pasien

(d) Berikan pemasukan cairan sedikitnya 2500 ml / hari

(e) Kolaborasi dengan tim gizi tentang diet pasien sesuai indikasi

i. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber

informasi(Doengoes,2000)

Tujuan : Dapat menyatakan pemahaman kondisi

KH : Mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala sehubungan

dengan prosedur pembedahan dan tindakan untuk

(27)

Intervensi :

(a) Datang aktivitas pertama dengan periode istirahat yang sering dan

meningkatkan aktivitas / latihan sesuai toleransi

(b) Indentifikasi keterbatasan individu

(c) Kaji anjuran untuk memulai kortus seksual

(d) Identifikasi kebutuhan diet

Referensi

Dokumen terkait

Karakteristik substrat maupun sedimennya pada Kawasan Pantai Ujong Pancu sendiri memiliki karateristik sedimen yang didominasi oleh pasir halus dimana pada

Peran dan Fungsi Tenaga Kesehatan Pada Home Care.. Kondisi

Kepuasan responden di Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo Semarang kategori tinggi adalah 38 responden ( 38 % ) dan kategori sedang 62 responden ( 62 % ), dengan

Sesuai dengan kriteria diterima atau ditolaknya hipotesis maka dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa menerima hipotesis yang diajukan terbukti atau dengan kata lain variabel

Kedudukan Dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah Perumusan Isu Strategis Analisis lingkungan internal Analisis lingkungan eksternal Perumusan Tujuan, Sasaran, Strategi,

Jurusita Pajak menginventarisasi aset-aset Penanggung Pajakyang akan dilelang, meneliti dengan melihat data tunggakanbeserta pelunasan (SSP/STTS/SSB/bukti Pbk) atau

yang mengungkapkan bahwa konflik ditempat kerja yang berkepanjangan, pemberian beban kerja yang terlalu berlebihan terhadap karyawan dapat menimbulkan stress yaitu kondisi

Latar belakang : Efusi pleura adalah akumulasi abnormal cairan dalam rongga pleura yang disebabkan oleh transudasi yang berlebihan atau eksudasi dari permukaan pleura dan