Geometri menjadi salah satu ilmu matematika yang diterapkan dalam dunia ar-sitektur; juga merupakan salah satu cabang ilmu yang berkaitan dengan bentuk, komposisi, dan proporsi. Akan sangat baik jika kita melihat arsitektur tidak hanya keberadaannya pada masa sekarang, namun berbalik ke belakang dan mendal-ami hakekat berarsitektur sejak jaman primitif – ketika kata arsitektur bukanlah bermakna sebagai sebuah ilmu bangunan melainkan sebagai sebuah kebutuhan bertinggal yang tidak diberi nama.
Arsitektur tradisional menjadi saksi bahwa arsitektur menjadi salah satu ilmu ter-tua di dunia, yaitu dengan melihat dari adanya kebutuhan bertinggal/bernaung sehingga memunculkan sebuah tempat/wadah bertinggal. Dari titik kebutuhan itu, arsitektur mulai muncul dan lambat laun berkembang menjadi ilmu. Kebu-tuhan bertinggal adalah kebuKebu-tuhan primer, sehingga memunculkan sebuah wa-dah yang mampu menjawab prasyarat untuk berlindung sehari-harinya. Manusia tradisional membuat wadah yang mampu melindungi mereka dari cuaca dan iklim sehingga dapat berkegiatan setiap saat tanpa terganggu oleh alam. Jawaban akan kebutuhan primer ini kemudian berkembang lagi saat manusia sudah mulai mengenal keindahan, dan keindahan berasal dari kebudayaan yang dianut.
- (Mangun-wijaya, 1995). Keindahan adalah sesuatu yang subyektif. Kebudayaan manusia inilah yang memberikan tolok ukur keindahan pada kelompoknya masing-masing (orang Dayak dan orang Bugis mungkin memiliki pemahaman indah yang ber-beda), memberikan sebuah pemahaman keindahan yang diajarkan turun temu-run sehingga membentuk pola pikir ’indah’ yang tertentu. Keindahan arsitektur bangunan tradisional adalah salah satu yang berasal dari kebudayaan tersebut. Arsitektur menjadi salah satu aspek terpenting dalam perkembangan kebuday-aan dan adat daerah tertentu, menjadi sebuah simbol keindahan kebudaykebuday-aan- kebudayaan-nya. Keindahan arsitektur tradisional sebuah daerah adalah sebuah penerapan geometri secara tidak sadar. Berbagai kepercayaan mengajarkan keseimban-gan, dualisme, orientasi, dsb. dan diinterpretasikan secara arsitektur pada pro-porsi dan komposisi bangunannya. Arsitektur dengan propro-porsi dan komposisi tertentu pada suatu daerah akan dianggap indah berdasarkan kebudayaan yang dianutnya. Ini adalah sebuah penilaian subyektif. Salah satu contoh ialah bentuk atap yang berbentuk limas atau prisma memiliki proporsi simetris. Atap meru-pakan salah satu prinsip berbudaya yang mengakar pada sebuah suku bangsa, merupakan salah satu analogi dari penyambung antara kehidupan duniawi dan surgawi. Dewa-dewi atau tuhan dipercaya berada di tempat tinggi, tempat tinggi biasanya merujuk pada gunung, yaitu sebuah tempat yang tinggi. Jika dilihat dari bentuknya, dapat dilihat bahwa bentuk atap merupakan adaptasi dari bentuk gunung.
Gambar di bawah ini ialah salah satu rumah adat suku di Indonesia, yaitu suku Dayak. Jika dilihat dari bentuknya, mungkin beberapa orang akan menganggap rumah tersebut aneh dan tidak indah. Namun, orang Dayak menilai Rumah Pan-jang sebagai salah satu bentuk keindahan. Rumah PanPan-jang tidak didiami oleh satu keluarga saja, melainkan oleh beberapa keluarga dan memiliki nilai guna
Novelisa Sondang D.
Citra menunjuk pada tingkat kebudayaan sedangkan guna lebih menuding pada segi ketrampilan/kemampuan (Mangunwijaya, 1995: 31). Dan setiap keindahan yang terkandung dalam sebuah obyek hendaklah mendukung nilai gunanya.
kemudian berujung pada geometri sebagai salah satu pangkal analisisnya. Keindahan dan kegunaan yang kita bicarakan bukan hanya merujuk pada benda buatan manusia saja, namun berlaku pula pada alam.
ikan, bahkan sikap perangai dan ulah kelakuan lumba-lumba atau
-(Mangunwijaya 1995: 6-7)
Hal yang dipaparkan oleh Romo Mangun di atas adalah bukti keindahan alam yang berlaku untuk alam, ada sebuah keteraturan (order) dan keindahan yang tercermin di baliknya. Dan keindahan tersebut memiliki sebuah jalur budaya yang mungkin tidak dapat dimengerti seluruhnya oleh manusia. Sebuah prin-sip geometri yang secara terintegrasi menjadi bagian dalam kehidupan alam, geometri alam hanya dapat dianalisis namun tidak dapat diciptakan oleh manu-sia.
Gambar 1. Rumah Panjang, rumah adat suku Dayak. Sumber: http://citizenimages.kompas.com
Arsitektur selalu saja berkaitan dengan perihal ’indah’ dan ’tidak indah’, dan tan-pa disadari perihal inilah yang berkaitan dengan geometri. Salah satu sub judul
Disebutkan pula bahwa proporsi memi-liki kaitan erat dengan geometri, walaupun prosedur non-geometri juga memung-kinkan adanya proporsi. Geometri proporsi menyangkut simetri yang mengontrol aksis pencerminan, rotasi, stretching, dll. Simetri pencerminan merupakan salah satu pola simetris terpenting dalam arsitektur, khususnya pada ornamen arsitek-tur.
Saya percaya akan paradigma ‘simetris adalah indah’; tidak ada yang salah dalam pola pikir tersebut. Dan lebih jauh lagi, saya mempercayai bahwa para-digma tersebut muncul karena latar belakang budaya.
Bahkan arsitektur tradisional Indonesia juga menerapkan pola simetrikal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang diterapkan pada bangunan Romawi, sime-tris dengan pencerminan; seimbang antara kiri dan kanan; bahkan terdapat pula prinsip orientasi yang berakar pada makro dan mikro kosmos.
Pemaparan di atas menunjukkan bahwa geometri adalah sebuah pembebasan berarsitektur. Mengapa? Jawabannya adalah karena penilaian keindahan hany-alah hasil dari kebudayaan, bukan sebuah guideline atau pakem yang harus diikuti dan dipercayai. Saya tidak mengesampingkan nilai budaya, namun kata ‘hanyalah’ adalah penekanan pada kepercayaan saya pada budaya itu send-iri. Saya adalah manusia yang berbudaya, dan karena budaya tersebut saya
Gambar 2. Sayap kupu-kupu yang indah, tulang daun simetris dan tanduk
Sumber:
geometri yang terintegrasi di dalamnya. Geometri adalah Ekspresi Diri
Ekspresi merupakan sebuah aktivitas yang tidak terbatasi, dan dapat dilakukan oleh setiap makhluk, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan. Ekspresi yang produk ungkapannya adalah cerminan budaya masing-masing individu, memi-liki nilai guna dan nilai citra yang mampu dipertanggungjawabkan. Produk dari ekspresi diri tidaklah memiliki batasan-batasan yang harus dipatuhi, namun jus-tru menuntut tolok ukur keindahan itu sendiri.
Geometri yang diterapkan dalam ilmu arsitektur menjadi relevan dengan ke-beradaan pengertian keindahan berlatar belakang kebudayaan, dan geome-merancang sesuatu, arsitektural maupun non-arsitektural, manusia berpikir ten-tang nilai guna dan nilai keindahan. Ketika mengacu pada nilai keindahan, maka pemahaman geometri akan terpikir secara tidak sadar. Ilmu komposisi dan pro-porsi akan terintegrasi dalam proses tersebut. Pada titik ini saya lalu berpikir bah-wa sebenarnya geometri mulai menjadi salah satu bagian dari budaya itu sendiri. Setiap orang yang melalui proses merancang tersebut akan menghasilkan produk berbeda-beda, walaupun diberikan pemicu yang sama. Keragaman yang muncul pada masing-masing produk merupakan salah satu contoh kecil pada ‘kebebasan berekspresi’. Kebebasan inilah yang kemudian merujuk pada se-buah pemahaman bahwa geometri tidak mengikat kebebasan berekspresi dalam arsitektur. Tidak perlu mempertanyakan adanya paham gaya atau style karena keberadaan gaya atau style bukanlah sesuatu yang muncul dengan tujuan me-mang untuk menjadi sebuah gaya atau style. Tidak ada produk baroque yang sama persis satu dengan yang lain, begitu pula dengan produk art deco maupun produk klasik. Gaya atau style muncul karena kemiripan penerapan budaya pada
Pada akhirnya, maka kita akan kembali pada hakekat berarsitektur. Romo Man-gun dalam bukunya Wastu Citra menulis demikian: “Berarsitektur ialah berba-hasa dengan ruang dan gatra, dengan garis dan bidang, dengan bahan dan suasana, seudah sewajarnyalah kita berarsitektur secara budayawan, dengan nurani dan tanggung jawab penggunaan bahasa arsitektural yang baik”. Arsi-tektur yang indah adalah arsiArsi-tektur yang mempedulikan nilai gunanya, dengan nilai keindahan sebagai tingkat spiritual di dalamnya. Bukanlah sebagai produk yang hanya dipandangi sebagai “patung”, namun sebagai sesuatu yang dapat diselami makna maupun tiga dimensi-annya (atau bahkan hingga dimensi ke-empat). Geometri tidak pernah mengikat kita untuk mengekspresikan keindahan, justru memberikan kebebasan berbahasa dengan ruang, garis, bidang,
Referensi
Chi-Mangunwijaya, Y. B. (1995).
. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ellen, Roy.
-tives.
html, diakses 3 Juni 2007.
http://www.intbau. org/ essay10.htm diakses 3 Juni 2007.
A Geometry of Nature.