PERATURAN MAHKAMAH PEMILWA
NOMOR 3 TAHUN 2015
TENTANG
PEDOMAN BERACARA DALAM HASIL PEMILIHAN UMUM MAHASISWA GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR MAHASISWA
Diterbitkan oleh:
Mahkamah Pemilwa Universitas Ahmad Dahlan 2015
PERATURAN MAHKAMAH PEMILWA
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
NOMOR 3 TAHUN 2015
TENTANG
PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM MAHASISWA GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR MAHASISWA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
KETUA MAHKAMAH PEMILWA UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN,
a. bahwa Mahkamah Pemilwa sebagai satu–satunya pelaku kekuasaan kehakiman berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk memutus Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Mahasiswa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa;
b. bahwa untuk kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenang Mahkamah Pemilwa serta untuk memenuhi kebutuhan hukum acara dalam memeriksa, mengadili, dan memutus Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Mahasiswa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa, perlu membuat peraturan Mahkamah Pemilwa Nomor 3 Tahun 2015 tentang Pedoman Beracara dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Mahasiswa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana yang dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Mahkamah Pemilwa tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Mahasiswa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa; 1. Undang–undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional;
2. Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi;
3. Surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 165 tahun 1999 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi;
4. Kaidah Perguruan Tinggi Muhammadiyah Tahun 1999; 5. Statuta Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta tahun
2008;
6. Pasal 31 Ayat (a), (b) Anggaran Rumah Tangga KBM UAD;
7. UU KBM UAD No. 1 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum Mahasiswa;
8. UU KBM UAD No. 2 Tahun 2015 tentang Pemilihan Umum Mahasiswa;
9. UU KBM UAD No. 3 Tahun 2015 tentang Partai Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan;
10. UU KBM UAD No. 6 Tahun 2015 tentang Tata Urutan Perundangan KBM UAD;
11. Peraturan KPU Mahasiswa No. 1 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum Mahasiswa;
Rapat Kerja Hakim pada hari Selasa, tanggal 24 November 2015.
MEMUTUSKAN : Memperhatikan :
PERATURAN MAHKAMAH PEMILWA TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR MAHASISWA
BAB 1
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Mahkamah Pemilwa, selanjutnya disebut Mahkamah, adalah satu–satunya pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam UU KBM UAD No. 1 tentang Penyelenggaran Pemilihan Umum Mahasiswa Pasal 1 Ayat (4).
2. Pemilihan Umum Mahasiswa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa, selanjutnya disebut Pemilwa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa, adalah memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa di Universitas Ahmad Dahlan berdasarkan Asas Islam, Pancasila dan UU KBM UAD. 3. Partai Politik adalah partai politik yang ditetapkan sebagai peserta
pemilihan umum oleh KPUMF.
4. Gabungan Partai Politik, adalah gabungan dua partai atau lebih yang mengusulkan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa. 5. Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa adalah peserta
Pemilwa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa yang mengusulkan diri secara independen dan/atau diusung oleh partai politik atau gabungan partai politik yang telah memenuhi persyaratan.
6. Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Fakultas selanjutnya disingkat KPUMF adalah lembaga penyelenggaraan pemilihan yang bersifat tetap dan mandiri yang bertugas melaksanakan Pemilwa di tingkat fakultas yang bersifat independen.
7. Komisi Pengawas Pemilwa, selanjutnya disebut Kompaswa, adalah lembaga yang bersifat mandiri dan independen yang berwenang mengawasi penyelenggaran Pemilwa.
8. Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Mahasiswa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa, selanjutnya disebut PHPUM Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa, adalah perselisihan antara Peserta Pemilwa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa dan KPUMF mengenai penetapan perolehan hasil suara hasil Pemilwa Gubernur dan Wakil
Gubernur Mahasiswa yang dilakukan secara keseluruhan kampus Universitas Ahmad Dahlan oleh KPUMF yang mempengaruhi penetapan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa terpilih.
9. Hakim Mahkamah Pemilwa, selanjutnya disebut Hakim, adalah Hakim Mahkamah Pemilwa yang merupakan sebagian dan/atau seluruh Hakim yang ada dalam Mahkamah Pemilwa yang berkuasa penuh dalam Mahkamah Pemilwa dan Sidang Pleno.
10. Putusan Mahkamah Pemilwa, selanjutnya disebut Putusan Mahkamah, adalah putusan tentang PHPUM Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa. 11. Rapat Permusyawaratan Hakim selanjutnya disingkat RPH adalah rapat yang dilaksanakan untuk membahas atau memusyawarahkan dan memutus perkara PHPUM Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa yang dihadiri 5 kecuali sekurang–kurangnya 3 Hakim.
12. Sidang Pleno adalah sidang yang dilaksanakan untuk memeriksa, mengadili dan memutus perkara PHPUM Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa yang dihadiri 5 orang Hakim, kecuali dalam keadaan luar biasa dihadiri oleh paling kurang 3 orang Hakim.
13. Panitera Mahkamah Pemilwa, selanjutnya disebut Panitera, adalah panitera mahkamah.
14. Surat Kuasa Khusus adalah surat kuasa yang dibuat khusus untuk mewakili para pihak dalam persidangan PHPUM Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa yang ditanda tangani oleh pemberi kuasa dan penerima kuasa. 15. Tanda Terima Permohonan Pemohon, selanjutnya disingkat TTPP, adalah tanda terima yang memuat catatan antara lain tentang nama Pemohon dan kuasanya, pokok permohonan dan waktu penerimaan permohonan yang ditandatangani panitera dan pemohon atau kuasanya.
16. Tanda Terima Permohonan Pihak Terkait, selanjutnya disingkat TTPPT, adalah tanda terima yang memuat catatan antara lain tentang pihak terkait dan kuasaanya, pokok permohonan, dan waktu penerimaan permohonan yang ditandatangani oleh panitera dan pihak terkait atau kuasanya.
17. Tanda Terima Jawaban Termohon, selanjutnya disingkat TTJT, adalah tanda terima yang memuat catatan antara lain tentang nama termohon dan kuasanya, pokok jawaban termohon, dan waktu penerimaan jawaban
termohon yang ditandantangani oleh panitera dan termohon atau kuasannya.
18. Berita Acara Penerimaan Permohonan Pemohon, selanjutnya disingkat BAPPP, adalah dokumen tertulis yang memuat pernyataan antara lain bahwa permohonan yang diajukan oleh pemohon atau kuasannya telah dicatat dalam BAPPP serta informasi tentang nama pemohon dan kuasanya, pokok permohonan, waktu penerimaan permohonan dan kelengkapan permohonan diserta dengan daftar pemohonan pemohon (ditandatangani oleh panitera dan pemohon atau kuasanya).
19. Berita Acara Penerimaan Permohonan Pihak Terkait, selanjutnya disingkat BAPPPT, adalah dokumen tertulis yang memuat pernyataan anatara lain bahwa permohanan yang diajukan pihak terkait antara kuasanya dan keterangan pihat terkait telah dicatat dalam BPP, serta informasi tentang nama pihak yang terkait dan kuasanya, pokok permohonan, waktu penerimaan, serta informasi tentang pokok perkara yang memuat kepentingan pihak terkait terhadap permohonan yang diajukan oleh pemohon, dan kelengkapan permohonan, disertai dengan daftar permohonan pihak terkait (ditandatangani oleh panitera dan pemohon atau kuasanya).
20. Berita Acara Pernyataan Jawaban Termohon, selanjutnya disingkat BAPJT, adalah dokumen tertulis yang memuat pernyataan antara lain bahawa jawaban termohon yang diajukan termohon atau kuasanya telah dicatat dalam BPP, serta informasi tentang nama termohon dan kuasanya, pokok jawaban termohon, waktu penerimaan jawaban termohon dan kelengkapan jawaban termohon, disertai jawaban termohon (ditandatangani oleh panitera dan pemohon atau kuasanya).
21. Berita Acara Permohonan Telah Memenuhi Kelengkapan, selanjutnya disingkat BAPTMK, adalah dokumen tertulis yang memuat pernyataan antara lain bahwa permohonan yang diajukan oleh pemohon atau kuasanya telah memenuhi kelengkapan, serta informasi tentang nama Pemohon dan kuasanya, pokok permohonan, waktu penerimaan permohonan dan kelengkapan permohonan, disertai dengan daftar kelengkapan permohonan (ditandatangani oleh panitera dan pemohon atau kuasanya).
22. Berita Acara Permohonan Belum Memenuhi Kelengkapan, selanjutnya disingkat BAPBMK, adalah dokumen tertulis yang memuat pernyataan antara lain bahwa permohonan yang diajukan oleh pemohon atau kuasanya tidak lengkap, disertai dengan daftar ketidaklengkapan permohonan (ditandatangani oleh panitera dan pemohon atau kuasanya).
23. Berita Acara Penerimaan Perbaikan Kelengkapan Permohonan Pemohon, selanjutnya disingkat BAPPKPP, adalah dokumen tertulis yang memuat pernyataan antara lain bahwa permohonan atau kuasanya telah memperbaiki dan/atau melengkapi permohonan, serta informasi tentang waktu penerimaan perbaikan permohonan, disertai dengan daftar perbaikan kelengkapan permohonan pemohon (ditandatangani oleh panitera dan pemohon atau kuasanya).
24. Berita Acara Registrasi Perkara Pemilwa, selanjutnya disingkat BARPP, adalah dokumen tertulis yang memuat pernyataan anatara lain bahwa permohonan yang diajukan oleh pemohon atau kuasanya telah dicatat dalam BARPP, serta informasi tentang nomor perkara, nama pemohon dan kuasanya, pokok perkara, waktu penerimaan permohonan, disertai dengan daftar perkara Pemilwa diregistrasi (ditandatangani oleh panitera dan pemohon atau kuasanya).
25. Buku Penerimaan Permohonan, selanjutnya disingkat BPP, adalah buku yang memuat catatan antara lain tentang nama pemohon dan kuasanya/ nama pihak terkait dan kuasanya/nama termohon dan kuasanya, pokok permohonan pemohon/pihak terkait dan pokok jawaban termohon serta kelegkapan permohonan pemohon/pihak terkait dan jawaban termohon. 26. Buku Regitrasi Perkara Pemilwa, selanjutnya disingkat BRPP, adalah buku
yang memuat catatan antara lain tentang nomor perkara, nama pemohon, dan kuasanya, pokok perkara, waktu penerimaan permohonan dan kelengkapan permohonan.
27. Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tidak terbatas pada tulisan, suara gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), Surat elektronik, telegram, teleks, telecopy dan sejenisnya, huruf tanda, angka, kode akses, atau simbol yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.
28. Dokumen Elektronik adalah setiap informasi elektronik yang dibuat diteruskan dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya yang dapat dilihat ditampilkan dan/atau didengar melului komputer atau sistem elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, fctc atau sejenisnya huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti dapat dipahami oleh yang mampu memahaminya.
BAB II
PARA PIHAK, OBJEK DAN ALAT BUKTI
Bagian Kesatu Para Pihak
Pasal 2
(1) Pemohon adalah pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa yang mengajukan keberatan terhadap Keputusan KPUMF.
(2) Termohon adalah KPUMF sebagai penyelenggara Pemilwa.
(3) Pihak terkait dalam perkara PHPUM Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa adalah Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa yang memperoleh suara terbanyak berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon dan berkepentingan terhadap permohonan yang diajukan oleh Pemohon sebagaimana yang dimaksud pada Ayat (1).
(4) Pemohon, Termohon dan Pihak Terkait sebagaimana yang dimaksud pada Ayat (1), Ayat (2), dan Ayat (3) dapat diwakili dan/atau didampingi oleh kuasa Hukum yang mendapat Surat Kuasa Khusus dan/atau surat keterangan untuk itu.
(5) Pemberi keterangan dalam perkara PHPUM Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa adalah Kompaswa dan pihak lain yang dipandang perlu oleh Mahakamah.
Bagian Kedua Objek
Objek dalam perkara PHPUM Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa adalah penetapan perolehan suara hasil Pemilwa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa yang dilakukan secara keseluruhan di kampus Universitas Ahmad Dahlan oleh Termohon yang mempengaruhi penentuan:
a. Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa yang berhak mengikuti Pemilwa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa.
b. Terpilihnya Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa. Bagian Ketiga
Alat Bukti
Pasal 4
Alat bukti dalam perkara PHPUM Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa berupa: a. Surat atau tulisan;
b. Keterangan para pihak; c. Keterangan saksi; d. Informasi elektronik;
e. Dokumen elektronik dan/atau; f. Petunjuk.
Pasal 5
(1) Alat bukti surat atau tulisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a terdiri atas:
a. berita acara dan Salinan rekapitulasi perolehan suara Pemilwa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa yang ditandatangani oleh penyelenggaraan Pemilwa sesuai tandatangan:
i. Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Fakultas (KPUMF); ii. Panitia Pemungutan Suara (PPS);
b. dokumen tertulis lainnya.
(2) Bukti surat atau tulisan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) adalah alat bukti yang memiliki keterkaitan langsung dengan objek perkara PHPUM Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa yang dimohonkan ke Mahkamah.
(1) Saksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c adalah:
a. saksi yang ditugaskan secara resmi oleh peserta Pemilwa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa; dan
b. saksi berasal dari pemantau Pemilwa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa oleh Kompaswa.
(2) Mahkamah Pemilwa dapat memanggil saksi lain sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) untuk didengar keterangannya.
Pasal 7
Sebelum memberikan keterangan, saksi diambil sumpah atau janji sesuai dengan agama atau kepercayaan yang dianut, didampingi rohaniawan dan dipandu Hakim.
BAB III
TATA CARA PENGAJUAN PERMOHONAN
Bagian Kesatu
Pengajuan Permohonan Pemohon
Pasal 8
(1) Permohonan pembatalan penetapan perolehan suara hasil Pemilwa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 diajukan oleh Pemohon kepada Mahkamah paling lambat 2 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak Termohon mengumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilwa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa secara keseluruhan di kampus Universitas Ahmad Dahlan.
(2) Permohonan Pemohon dapat diajukan dengan ketentuan:
a. Fakultas dengan jumlah pemilih sampai dengan 200 (dua ratus) pemilih, pengajuan Permohonan dilakukan jika terdapat perbedaan perolehan suara paling banyak sebesar 8% (dua persen) antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon;
b. Fakultas dengan jumlah pemilih lebih dari 200 (dua ratus) sampai dengan 400 (empat ratus) pemilih, pengajuan Permohonan dilakukan jika terdapat perbedaan perolehan suara paling banyak sebesar 7% (dua persen) antara
Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon;
c. Fakultas dengan jumlah pemilih lebih dari 400 (dua ratus) sampai dengan 600 (empat ratus) pemilih, pengajuan Permohonan dilakukan jika terdapat perbedaan perolehan suara paling banyak sebesar 6% (dua persen) antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon;
d. Fakultas dengan jumlah pemilih lebih dari 600 (dua ratus) sampai dengan 800 (empat ratus) pemilih, pengajuan Permohonan dilakukan jika terdapat perbedaan perolehan suara paling banyak sebesar 5% (dua persen) antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon;
e. Fakultas dengan jumlah pemilih lebih dari 800 (empat ratus) pemilih, pengajuan Permohonan dilakukan jika terdapat perbedaan perolehan suara paling banyak sebesar 4% (dua persen) antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon;
Pasal 9
(1) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 sekurang–kurangnya memuat:
a. nama, nomor induk mahasiswa, program studi dan fakultas Pemohon serta Kuasa Hukum sebagai Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan yang aktif di Biro Akademik dan Admisi;
b. nomor telepon (rumah atau telepon seluler); dan c. alamat surat elektronik (e-mail).
d. identitas Termohon berupa: i. nama Termohon;
ii. nomor telepon Termohon (rumah atau telepon seluler); e. uraian permohonan pemohon yang jelas antara lain tentang:
i. kedudukan hukum (legal standing) Pemohon;
ii. kesalahan hasil penghitungan perolehan suara yang diumumkan oleh Termohon dan hasil penghitungan perolehan suara yang benar menurut Pemohon; dan
iii. permintaan untuk membatalkan hasil penghitungan perolehan suara yang diumumkan oleh Termohon dan menetapkan hasil perhitungan perolehan suara yang benar menurut Pemohon.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 disertai dengan alat bukti yang mendukung permohonan.
(3) Dalam hal alat bukti sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) berupa surat atau tulisan, Pemohon atau Kuasa Hukumnya menyampaikan alat bukti sebanyak 3 (tiga) rangkap dengan ketentuan sebagai berikut:
a. 1 (satu) rangkap dibubuhi materai sesuai dengan peraturan perundang– undangan; dan
b. 2 (dua) rangkap lainnya merupakan penggandaan dari alat bukti sebagaimana dimaksud pada Ayat (3) huruf a.
(4) Sistematika panduan penyusunan Permohonan Pemohon terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari PMP ini.
Pasal 10
Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia oleh Pemohon atau kuasa hukumnya sebanyak 10 (sepuluh) rangkap yang ditandatangani oleh Pemohon beserta kuasa hukumnya dengan disertai surat kuasa khusus dari Pemohon dengan dibubuhi materai sesuai dengan Peraturan perundang–undangan.
Pasal 11
(1) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 disertai dengan salinan permohonan dalam bentuk dokumen digital dengan aplikasi Word (.doc/.docx) yang disimpan dalam dua unit penyimpnan data.
(2) Dalam hal terdapat perbedaan materi permohonan yang disampaikan oleh pemohon antara dokumen tertulis sebagamana dimaksud dalam Pasal 8 dan dokumen digital sebagaimana dimaksud pada Ayat (1), Permohonan yang sah adalah dalam bentuk tertulis.
Pasal 12
(1) Panitera menerbitkan TTPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diterima oleh Mahkamah.
(2) Panitera menyampaikan TTPP sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) kepada Pemohon atau Kuasa Hukumnya.
(3) Panitera melakukan pendataan permohonan Pemohon setelah TTPP diterbitkan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1).
Pasal 13
Panitera mencatat permohonan Pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 Ayat (3) dalam BPP.
Pasal 14
(1) Panitera menerbitkan BAPPP setelah permohonan pemohon dicatat dalam BPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.
(2) Panitera menyampaikan BAPPP sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) kepada Pemohon atau Kuasa Hukumnya.
Bagian Kedua
Pengajuan Permohonan Pihak Terkait
Pasal 15
(1) Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa dapat menjadi Pihak terkait sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (3) dengan mengajukan permohonan disertai dengan uraian yang jelas tentang alasan mengajukan permohonan sebagai Pihak Terkait kepada Mahkamah paling lambat sebelum pelaksanaan sidang.
(2) Pihak Terkait sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) menyampaikan keterangan Pihak terkait dalam Sidang Pleno Pemeriksaan Persidangan. (3) Keterangan Pihak Terkait sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) telah diterima
oleh Mahkamah paling lambat sebelum pelaksanaan Sidang Pleno Pemeriksaan Persidangan.
Pasal 16
(1) Keterangan Pihak Terkait sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 Ayat (3) sekurang–kurangnya memuat:
a. nama, nomor induk mahasiswa, program studi dan fakultas Pihak Terkait serta Kuasa Hukum sebagai Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan yang aktif di Biro Akademik dan Admisi;
a. nomor telepon (rumah atau telepon seluler); dan b. alamat surat elektronik (e-mail).
b. uraian permintaan Pihak Terkait yang jelas antara lain tentang:
i. tanggapan Pihak Terkait terhadap dalil Pemohon mengenai penjelasan tentang kesalahan hasil perhitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon dan hasil perhitungan suara yang benar menurut Pemohon; ii. pernyataan Pihak Terkait untuk menolak permohonan Pemohon atau
setidak–tidaknya permohonan Pemohon tidak dapat diterima; dan iii. pernyataan Pihak Terkait untuk menguatkan hasil penghitungan suara
yang ditetapkan oleh Termohon;
(2) Keterangan Pihak Terkait sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 Ayat (3) Harus disertai alat bukti yang mendukung keterangan Pihak Terkait.
(3) Dalam hal alat bukti sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) berupa surat atau tulisan, Pemohon atau kuasa hukumnya menyampaikan alat bukti sebanyak 3 (tiga) rangkap dengan ketentuan sebagai berikut:
a. 1 (satu) rangkap dibubuhi materai sesuai dengan peraturan perundang– undangan; dan
b. 2 (dua) rangkap lainnya merupakan penggandaan dari alat bukti sebagaimana dimaksud pada Ayat (3) huruf a.
Pasal 17
Keterangan Pihak Terkait sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 Ayat (3) disampaikan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia oleh Pihak Terkait atau Kuasa Hukumnya sebanyak 10 (Sepuluh) rangkap yang ditandatangani oleh Pihak Terkait atau Kuasa Hukumnya dengan disertai surat Kuasa Khusus dari Pihak Terkait dengan dibubuhi materai sesuai dengan Peraturan perundang–undangan.
Pasal 18
(1) Keterangan Pihak Terkait sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 Ayat (3) disertai dengan salinan permohonan dalam bentuk dokumen digital dengan
aplikasi Microsoft Word (.doc/.docx) yang disimpan dalam dua unit penyimpanan data.
(2) Dalam hal terdapat perbedaan materi keterangan Pihak Terkait yang disampaikan oleh Pihak Terkait antara dokumen tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 Ayat (1) dan dokumen digital sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) Pihak Terkait yang sah adalah dalam bentuk tertulis.
Pasal 19
(1) Panitera menerbitkan TTPPT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 Ayat (1) dan keterangan Pihak Terkait sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 Ayat (3) diterima oleh Mahkamah.
(2) Panitera menyampaikan TTPPT sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) kepada Pihak Terkait atau Kuasa Hukumnya.
(3) Panitera melakukan pendataan dan pemeriksaan kelengkapan keterangan Pihak Terkait setelah TTPPT diterbitkan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1).
Pasal 20
Panitera mencatat permohonan Pihak Terkait dan Keterangan Pihak Terkait sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 Ayat (3) dalam Buku Penerimaan Permohonan (BPP)
Pasal 21
(1) Panitera menerbitkan Berita Acara Permintaan Permohonan Pihak Terkait (BAPPPT) setelah Permohonan Pihak Terkait dan Keterangan Pihak Terkait dicatat dalam Buku Pemeriksaan Permohonan (BPP) sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 20.
(2) Panitera menyampaikan BAPPPT sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) Kepada Pihak Terkait atau Kuasa Hukumnya.
BAB IV
REGISTRASI PERKARA, JAWABAN TERMOHON, DAN PERSIDANGAN
Bagian Kesatu
BAPTMK, BAPBMK, BAPPKPP, BRPP dan BARPP
Pasal 22
Panitera melakukan pemeriksaan kelengkapan permohonan Pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 Ayat (1) sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 11.
Pasal 23
(1) Dalam hal Permohonan pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 telah memenuhi kelengkapan, Panitera menerbitkan BAPTMK.
(2) Panitera menyampaikan BAPTMK sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) kepada Pemohon atau Kuasa Hukumnya.
Pasal 24
(1) Panitera mencatat Permohonan Pemohon dalam BRPP setelah BAPTMK diterbitkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 Ayat (1).
(2) Panitera menerbitkan BARPP setelah permohonan pemohon dicatat dalam BRPP sebagaimana dimaksud pada Ayat (1).
(3) Panitera menyampaikan BARPP sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) Kepada Pemohon atau Kuasa Hukumnya.
Pasal 25
(1) Dalam hal Permohonan Pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 belum memenuhi kelengkapan, Panitera menerbitkan BAPBMK.
(2) Panitera menyampaikan BAPBMK sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) kepada Pemohon atau Kuasa Hukumnya.
(3) Pemohon atau Kuasa Hukumnya memperbaiki dan/atau melengkapi Permohonan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) paling lambat 1 x 12 (satu kali dua belas) jam sejak diterimanya BAPBMK sebagaimana dimaksud pada Ayat (2).
Pasal 26
(1) Dalam hal Pemohon telah memperbaiki dan/atau melengkapi permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Ayat (3), Panitera menerbitkan BAPPKPP.
(2) Ketentuan tentang penyampaian BAPTMK sebagaimana diatur dalam Pasal 23 Ayat (2) dan pencatatan permohonan pemohon dalam BARPP, serta penerbitan dan penyampaian BARPP sebagaimana diatur dalam Pasal 24 berlaku secara sama untuk permohonan yang telah diperbaiki dan dilengkapi sebagaimana dimaksud pada Ayat (1).
Pasal 27
Panitera mengirimkan salinan permohonan Pemohon yang telah dicatat dalam BRPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 Ayat (1) dan Pasal 26 Ayat (2) kepada Pihak Terkait paling lambat 1 (satu) hari kerja sejak permohonan Pemohon dicatat dalam BRPP.
Bagian Kedua
Jawaban Termohon, TTJT dan BAPJT
Pasal 28
(1) Panitera mengirimkan salinan Permohonan Pemohon yang telah dicatat dalam BRPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 Ayat (1) dan Pasal 26 Ayat (2) kepada Termohon paling lambat 1 (satu) hari kerja sejak permohonan Pemohon dicatat Dalam BRPP disertai dengan permintaan jawaban Termohon.
(2) Jawaban Termohon sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) telah diterima oleh Mahkamah paling lambat sebelum pelaksanaan Sidang Pleno Pemeriksaan Persidangan.
Pasal 29
(1) Jawaban Termohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 sekurang– kurangnya memuat:
a. Nama, Nomor Induk Mahasiswa, Program Studi dan Fakultas Pihak Terkait serta Kuasa Hukum sebagai Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan yang aktif di Biro Akademik dan Admisi;
b. uraian jawaban Termohon yang jelas antara lain tentang:
i. tanggapan Termohon terhadap dalil Pemohon mengenai penjelasan tentang kesalahan hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon dan hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon;
ii. pernyataan Termohon untuk menolak permohonan Pemohon atau setidak–tidaknya permohonan Pemohon tidak dapat diterima; dan iii. pernyataan Termohon untuk menguatkan hasil penghitungan suara
yang ditetapkan oleh Termohon.
(2) Jawaban Termohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 disertai alat bukti yang mendukung jawaban Termohon.
(3) Dalam hal alat bukti sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) berupa surat atau tulisan, Termohon atau kuasa hukumnya menyampaikan alat bukti sebanyak 3 (tiga) rangkap dengan ketentuan sebagai berikut:
a. 1 (satu) rangkap dibubuhi materai sesuai dengan peraturan perundang– undangan; dan
b. 2 (dua) rangkap lainnya merupakan penggandaan dari alat bukti sebagaimana dimaksud pada Ayat (3) huruf a.
Pasal 30
Jawaban Termohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia oleh Termohon atau Kuasa Hukumnya sebanyak 10 (sepuluh) rangkap yang ditandatangani oleh Termohon atau Kuasa Hukumnya dengan disertai Surat Kuasa Khusus dari Termohon dengan dibubuhi materai sesuai dengan peraturan perundang–undangan.
Pasal 31
(1) Jawaban Termohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 disertai dengan salinan jawaban Termohon dalam bentuk dokumen digital dengan aplikasi Word (.doc/.docx) yang disimpan dalam dua unit penyimpanan data.
(2) Dalam hal terdapat perbedaan materi jawaban Termohon yang disampaikan oleh Termohon antara dokumen tertulis sebagamana dimaksud dalam Pasal 28 dan dokumen digital sebagaimana dimaksud pada Ayat (1), jawaban Termohon yang sah adalah dalam dokumen tertulis.
Pasal 32
(1) Panitera menerbitkan TTJT setelah jawaban Termohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 diterima oleh Mahkamah.
(2) Panitera menyampaikan TTJT sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) kepada Termohon atau Kuasa Hukumnya.
(3) Panitera melakukan pendataan dan pemeriksaan kelengkapan jawaban Termohon setelah TTJT diterbitkan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1).
Pasal 33
(1) Panitera mencatat jawaban Termohon yang telah didata dan diperiksa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 Ayat (3) dalam BPP.
(2) Panitera menerbitkan BAPJT setelah jawaban Termohon dicatat dalam BPP sebagaimana dimaksud Ayat (1).
(3) Panitera menyampaikan BAPJT sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) kepada Termohon atau Kuasa Hukumnya.
Bagian Ketiga Persidangan
Pasal 34
(1) Mahkamah menetapkan hari sidang pertama sejak permohonan Pemohon dicatat dalam BRPP.
(2) Sidang pertama sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dilaksanakan paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak permohonan dicatat dalam BRPP.
(3) Panitera menyampaikan surat panggilan sidang pertama sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) kepada Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait atau Kuasa Hukumnya paling lambat 1 (satu) hari kerja sejak hari sidang pertama ditetapkan. BAB V PEMERIKSAAN PERKARA Bagian Kesatu Pemeriksaan Pendahuluan Pasal 35
(1) Mahkamah melaksanakan pemeriksaan pendahuluan dalam sidang Pleno yang bersifat terbuka.
(2) Dalam sidang Pleno Pemeriksaan Pendahuluan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1), Mahkamah memeriksa kelengkapan dan kejelasan materi permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 25 Ayat (3), serta memberi nasihat kepada Pemohon atau Kuasa Hukumnya untuk memperbaiki dan/atau melengkapi permohoan apabila terdapat kekurangan.
(3) Perbaikan permohonan pemohon telah diterima oleh Mahkamah paling lambat 1 x 24 jam sejak selesainya Sidang Pleno Pemeriksaan pendahuluan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) atau sesuai dengan waktu yang ditetapkan oleh sidang pleno.
(4) Perbaikan permohonan pemohon sebagaimana dimaksud pada Ayat (3) dapat diperoleh Termohon dan Pihak Terkait di Kepaniteraan.
Bagian Kedua
Pemeriksaan Persidangan
Pasal 36
(1) Pemerikasaan persidangan dilakukan dalam sidang Pleno yang bersifat terbuka.
(2) Sidang Pleno Pemeriksaan Persidangan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dilakukan segera setelah selesainya Sidang Pleno Pemeriksaan Pendahuluan. (3) Sidang Pleno Pemeriksaan Persidangan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1)
dilakukan dengan tahapan sebagai berikut; a. jawaban Termohon;
b. keterangan Pihak Terkait;
c. pembuktian oleh Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait; dan d. kesimpulan oleh Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait.
(4) Dalam sidang Pleno Pemeriksaan Persidangan, Mahkamah dapat memanggil Kompaswa untuk didengar keterangannya terkait dengan permohonan yang sedang diperiksa.
Pasal 37
(1) Dalam hal dipandang perlu, Mahkamah dapat mengeluarkan Putusan Sela. (2) Putusan sela sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) adalah putusan yang
berkaitan dengan objek yang diperselisihkan yang hasilnya akan dipertimbangankan dalam putusan akhir.
Bagian Ketiga Pengambilan Putusan
Pasal 38
(1) Pengambilan putusan Mahkamah dilakukan dalam RPH yang bersifat tertutup setelah pemeriksaan persidangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipandang cukup.
(2) Pengambilan putusan Mahkamah sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dilakukan secara musyawarah mufakat setelah mendengarkan pendapat hukum Para Hakim.
(3) Dalam hal musyawarah sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) tidak tercapai, pengambilan putusan Mahkamah dilakukan berdasarkan suara terbanyak. (4) Dalam hal pengambilan Pengambilan Putusan Mahkamah sebagaimana
dimaksud pada Ayat (3) tidak dapat dilakukan berdasarkan suara terbanyak, Suara Ketua RPH menentukan.
BAB VI PUTUSAN
Pasal 39
(1) Putusan Mahkamah dijatuhkan dan diucapkan dalam Sidang Pleno yang bersifat terbuka paling lambat 6 (enam) hari kerja sejak permohonan Pemohon dicatat dalam BRPP.
(2) Amar Putusan Mahkamah sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) menyatakan: a. permohonan tidak dapat diterima apabila tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1), dan/atau Pasal 3, dan/atau Pasal 8, dan/atau Pasal 9, dan/atau Pasal 10, dan/atau Pasal 25 Ayat (3) peraturan ini;
b. permohonan ditolak apabila permohonan terbukti tidak beralasan; atau c. permohonan dikabulkan apabila permohonan terbukti beralasan.
(3) Putusan Mahkamah sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) disampaikan kepada:
a. Dewan Perwakilan Mahasiswa; b. Presiden;
c. Partai Politik atau gabungan partai politik yang mengajukan pasangan calon;
d. Pemohon; e. Termohon; dan f. Pihak Terkait.
(4) Putusan Mahkamah sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) merupakan putusan pada tingkat pertama dan terakhir yang bersifat final dan mengikat.
BAB VII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 40
(1) Hal–hal teknis yang tidak diatur dalam PMP ini akan ditentukan lebih lanjut dalam Sidang Pleno.
(2) Kesalahan dan atau ketidakjelasan yang tidak materil pada isi ayat per ayat dalam PMP ini yang merupakan akibat dari kesalahan dan atau kelalaian manusia (human error) bersifat teknis seperti typo, tidak terdapat ketukan spasi dalam memisahkan bagian kata, karakter atau simbol yang muncul tanpa dikehendaki berpotensi mengacaukan makna dari suku kata, dan sejenisnya, dapat diabaikan dengan klarifikasi penjelas secara lisan dan atau tertulis dari Hakim Ketua.
(3) Peraturan Mahkamah Pemilwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
LAMPIRAN I
PERATURAN MAHKAMAH PEMILWA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM HASIL PEMILIHAN UMUM MAHASISWA GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR MAHASISWA
PEDOMAN BERACARA DALAM HASIL PEMILIHAN UMUM MAHASISWA GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR MAHASISWA
- Kop surat logo (jika ada) -
Yogyakarta, …… Desember 2015 Permohonan Pembatalan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Fakultas …… Nomor …… tentang Penetapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Umum Mahasiswa Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Tahun 2015, tanggal ……
Yang Terhormat Ketua Mahkamah Pemilwa Universitas Ahmad Dahlan
Yang bertandatangan di bawah ini:
1. Nama : ……….……….………. NIM : ……….……….………. Prodi : ……….……….………. Fakultas : ……….……….………. nomor HP : ……….………. surel : ……….………. 2. Nama : ……….……….………. NIM : ……….……….………. Prodi : ……….……….………. Fakultas : ……….……….………. nomor HP : ……….………. surel : ……….……….
Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa dalam Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa di Fakultas …… Tahun 2015 Nomor Urut …… Berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor …… tanggal …… dalam hal ini memberi kuasa kepada:
1) ……….………., 2) ……….………., 3) ……….………. dst,
Kesemuanya adalah Kuasa Hukum yang terdaftar di BAA sebagai mahasiswa dengan NIM …… Prodi …… Fakultas ……, nomor HP ……, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa,
Selanjutnya disebut sebagai --- PEMOHON Hal :
terhadap
Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Fakultas ………, berkedudukan di Kampus …(huruf)...,
Selanjutnya disebut sebagai --- TERMOHON
Dalam hal ini mengajukan permohonan kepada Mahkamah Pemilwa perihal Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Mahasiswa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Fakultas ……, berdasarkan keputusan KPUM Fakultas …… Nomor …… tentang …… (misalnya: Penetapan Hasil Pemilihan Umum Mahasiswa Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Fakultas …… Tahun 2015) bertanggal …… yang diumumkan pada hari …… tanggal …… pukul …… WIB
I. Eksepsi
1. Kedudukan Hukum (legal standing) Pemohon
Pemohon menjelaskan bahwa Pemohon adalah Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Peserta Pemilihan dan Nomor Urut Pasangan Calon Peserta Pemilihan berdasarkan Keputusan Termohon. UU, Peraturan, dan Keputusan terkait yang relevan.
II. Pokok Permohonan
1. Ketentuan Pengajuan Permohonan (jumlah pemilih dan presentase) a. Bahwa berdasarkan Pasal 8 ayat (2) PMP 3/2015, Pemohon
mengajukan permohonan pembatalan Penetapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa oleh KPUM Fakultas ……, dengan ketentuan sebagai berikut.
Nomor Jumlah Pemilih
Perbedaan Perolehan Suara berdasarkan Penetapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan oleh
KPUMF 1 ≤ 200 8% 2 > 200 − 400 7% 3 > 400 − 600 6% 4 > 600 − 800 5% 5 > 800 4%
b. Bahwa Pemohon memperoleh sebanyak …… suara, sedangkan pasangan calon peraih suara terbanyak memperoleh sebanyak …… suara. Sehingga perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terdapat selisih sejumlah …… suara atau …… %. c. Dengan demikian, menurut Pemohon, Pemohon telah memenuhi
ketentuan Pasal 8 ayat (2) PMP 3/2015. 2. Kesalahan Hasil Penghitungan Suara
a. Bahwa berdasarkan penetapan hasil pemilihan umum mahasiswa fakultas …… oleh Termohon, perolehan masing-masing pasangan calon adalah sebagai berikut:
(penjelasan dalam bentuk daftar tabel atau grafik presentase)
b. Bahwa berdasarkan penghitungan suara menurut Pemohon, perolehan suara masing-masing pasangan calon adalah sebagai berikut:
(penjelasan dalam bentuk daftar tabel atau grafik presentase)
c. Bahwa menurut Pemohon selisih suara Pemohon tersebut disebabkan adanya:
1) Bahwa terjadinya pengurangan suara Pemohon yakni, … .
2) Bahwa terjadinya penambahan suara bagi pasangan calon lain yakni, … .
3) Bahwa terjadinya kolusi dan keberpihakan sebagian atau seluruh anggota KPUMF pada salah satu pasangan calon ……
4) Bahwa adanya pelanggaran …… 5) dst.
2. Petitum
Berdasarkan seluruh uraian sebagaimana tersebut di atas, Pemohon memohon kepada Mahkamah Pemilwa untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut:
2. Membatalkan Keputusan KPUM Fakultas ….. Nomor …… tentang … (misal: Penatapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Fakultas …… Tahun 2015, bertanggal …… 2015 pukul…) …;
3. Menetapkan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Fakultas …… Tahun 2015 dalam Keputusan KPUM Fakultas …… Nomor …… tentang (misal: Penatapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Fakultas …… Tahun 2015, bertanggal …… 2015 pukul…) … yang benar menurut Pemohon sebagai berikut.
(penjelasan dalam bentuk daftar tabel atau grafik presentase)
4. Memerintahkan kepada KPUM Fakultas …… untuk meIaksanakan putusan ini.
atau
Apabila Mahkamah Pemilwa berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-seadilnya (ex aequo et bono).
Hormat kami,
PEMOHON/KUASA HUKUM PEMOHON*
1. Nama NIM (tanda tangan)
2. Nama NIM (tanda tangan)
LAMPIRAN II
PERATURAN MAHKAMAH PEMILWA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM HASIL PEMILIHAN UMUM MAHASISWA GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR MAHASISWA
PEDOMAN BERACARA DALAM HASIL PEMILIHAN UMUM MAHASISWA GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR MAHASISWA
- Kop surat KPUMF -
Yogyakarta, …… Desember 2015 Jawaban Termohon terhadap Perkara Nomor …-…/PHPUM.GUB/XII/2015 yang dimohonkan oleh Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Fakultas … Nomor Urut ……
Yang Terhormat Ketua Mahkamah Pemilwa Universitas Ahmad Dahlan
Yang bertandatangan di bawah ini:
Nama : ……….……….……….
NIM : ……….……….……….
Prodi : ……….……….……….
Fakultas : ……….……….………. Jabatan : Ketua KPUM Fakultas .……….
nomor HP : ……….………. surel : ……….……….
bertindak untuk dan atas nama Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Fakultas …… Berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor …… tanggal ……, dalam hal ini memberi kuasa kepada:
4) ……….………., 5) ……….………., 6) ……….………. dst,
Kesemuanya adalah Kuasa Hukum yang terdaftar di BAA sebagai mahasiswa dengan NIM …… Prodi …… Fakultas ……, nomor HP ……, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa,
Selanjutnya disebut sebagai --- PEMOHON.
Dalam hal ini memberi Jawaban Termohon dalam Perkara Nomor …… yang diajukan oleh Pemohon, sebagai berikut.
I. Dalam Eksepsi
1. Kedudukan Hukum (legal standing) Pemohon
Menurut Termohon, Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan perselisishan hasil perolehan Hal :
suara hasil pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Fakultas …… sesuai dengan peraturan perundangan-undangan dengan alasan:
1) bahwa …… 2) bahwa …… 3) dst
2. Permohonan Pemohon Tidak Jelas (Obscuur Libel)
Menurut Pemohon, permohonan Pemohon tidak jelas dengan alasan: 1) bahwa ……
2) bahwa …… 3) dst
II. Dalam Pokok Permohonan
1. Ketentuan Pengajuan Permohonan (jumlah pemilih dan presentase) Bahwa terhadap dalil Pemohon mengenai jumlah pemilih di fakultas …… sebanyak pemilih, menurut Termohon jumlah pemilih yang benar adalah sebanyak …… pemilih sehingga perbedaan perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon adalah sebesar ……%. Dengan demikian menurut Termohon, permohonan Pemohon diajukan tidak memenuhi ketentuan Pasal 8 ayat (2) PMP 3/2015.
2. Jawaban Terhadap Kesalahan Hasil Penghitungan Suara
a. Bahwa terhadap dalil Pemohon mengenai selisih suara, menurut Termohon adalah sebagai berikut:
1) Bahwa terjadinya pengurangan suara Pemohon di fakultas atau TPS, yakni……
Adalah tidak benar berdasarkan bukti (……) dan saksi …..
2) Bahwa terjadinya penambahan suara bagi pasangan calon lain di fakultas atau TPS, yakni ……
Adalah tidak benar berdasarkan bukti (……) dan saksi …… 3) dst.
b. Bahwa terhadap dalil Pemohon mengenai kesalahan perolehan suara di fakultas atau TPS, menurut Termohon adalah keliru karena sesuai
dengan hasil penghitungan di fakultas atau TPS. Hal tersebut diperkuat dengan bukti surat/tulisan (……) serta keterangan saksi …… c. Dengan demikian menurut Termohon adanya kesalahan hasil penghitungan suara yang didalilkan oleh Pemohon adalah tidak beralasan menurut hukum.
III. Petitum
Berdasarkan seluruh uraian sebagaimana tersebut di atas, Termohon memohon kepada Mahkamah Pemilwa untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut:
Dalam Eksepsi
1. Mengabulkan eksepsi Termohon Dalam Pokok Permohonan
1. Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya;
2. Menyatakan benar dan tetap berlakunya Keputusan Komisi Pemilihan Umum Fakultas …… Nomor …… tentang Perolehan Suara Hasil Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Fakultas …… Tahun 2015, bertanggal …… 2015 pukul ……;
3. Menetapkan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Fakultas …… Tahun 2015 yang benar adalah sebagai berikut.
No. Nama Pasangan Calon Perolehan Suara Selisih 1. (Pasangan Terpilih) … suara
… suara 2. Pemohon (Pasangan No…) … suara
atau
Apabila Mahkamah Pemilwa berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-seadilnya (ex aequo et bono).
Hormat kami,
3. Nama NIM (tanda tangan)
4. Nama NIM (tanda tangan)
LAMPIRAN III
PERATURAN MAHKAMAH PEMILWA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM HASIL PEMILIHAN UMUM MAHASISWA GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR MAHASISWA
PEDOMAN BERACARA DALAM HASIL PEMILIHAN UMUM MAHASISWA GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR MAHASISWA
- Kop surat logo (jika ada) -
Yogyakarta, …… Desember 2015 Keterangan Pihak Terkait terhadap Perkara …-…/PHPUM.GUB/XII/2015 yang dimohonkan oleh Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Fakultas … Nomor Urut ……
Yang Terhormat Ketua Mahkamah Pemilwa Universitas Ahmad Dahlan
Yang bertandatangan di bawah ini:
1. Nama : ……….……….………... NIM : ……….……….………... Prodi : ……….……….………... Fakultas : ……….……….………... nomor HP : ……….………... surel : ……….………... 2. Nama : ……….……….………... NIM : ……….……….………... Prodi : ……….……….………... Fakultas : ……….……….………... nomor HP : ……….………... surel : ……….………... Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa dalam Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa di Fakultas …… Tahun 2015 Nomor Urut …… Berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor …… tanggal …… dalam hal ini memberi kuasa kepada:
1) ……….………., 2) ……….………., 3) ……….………. dst,
Kesemuanya adalah Kuasa Hukum yang terdaftar di BAA sebagai mahasiswa dengan NIM …… Prodi …… Fakultas ……, nomor HP ……, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa,
Selanjutnya disebut sebagai --- PIHAK TERKAIT. Hal :
Dalam hal ini memberi keterangan Pihak Terkait dalam Perkara Nomor ... yang diajukan oleh pemohon, sebagai berikut :
1. Dalam Eksepsi
a. Kedudukan Hukum (legal standing) Pemohon
Menurut Pihak Terkait, Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan perselisihan perolehan suara hasil pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa sesuai dengan peraturan perundng-undangn dengan alasan:
1) bahwa …… 2) bahwa …… 3) dst.
b. Permohonan Pemohon Tidak Jelas (Obscuur Libel)
Menurut Pihak Terkait, pemohonan Permohonan tidak jelas dengan alasan: 1) bahwa ...
2) bahwa ... 3) dst.
2. Dalam Pokok Permohonan
a. Ketentuan Pengajuan Permohonan (jumlah pemilih dan presentase) Bahwa terhadap dalil pemohon mengenai jumlah pemilih di Fakultas ... sebanyak ... pemilih, menurut Pihak Terkait jumlah pemilih yang benar adalah sebanyak ... pemilih sehingga perbedan perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak (Pihak Terkait) berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon adalah sebesar ... %. Dengan demikian menurut Pihak Terkait, permohonan Pemohon yang diajukan tidak memenuhi ketentuan pasal 8 ayat (2) PMP 3/2015.
b. Keterangan Terhadap Kesalahan Hasil Penghitungan Suara
1) Bahwa terhadap dalil Pemohon mengenai selisih suara, menurut Pihak Terkait adalah sebagai berikut:
a. bahwa terjadinya pengurangan suara Pemohon di fakultas atau TPS, yakni ……,
b. Bahwa terjadinya penambahan suara bagi pasangan calon lain di fakultas atau TPS, yakni ...
Adalah tidak benar berdasarkan bukti (...) dan saksi ... c. dst.
2) Bahwa terhadap dalil Pemohon mengenai kesalahan perolehan suara di fakultas atau TPS, menurut Pihak Terkait adalah keliru karena sesuai dengan hasil penghitungan di fakultas atau TPS. Hal tersebut diperkuat dengan bukti surat/tulisan (...) dan keterangan saksi ……
3) Dengan demikian menurut Pihak Terkait adanya kesalahan hasil penghitungan suara yang dililakukan oleh Pemohon adalah tidak berasan menurut hukum.
3. Petitum
Berdasarkan seluruh uraian sebagaimana tersebut di atas, Pihak Terkait memohon kepada Mahkamah Pemilwa untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut:
Dalam Eksepsi
1. Mengabulkan eksepsi Pihak Terkait Dalam Pokok Permohonan
1. Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya;
2. Menyatakan benar dan tetap berlaku Keputusan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Fakultas ….. Nomor …… tentang Penatapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa Fakultas …… Tahun 2015, bertanggal …… 2015 pukul…;
atau
Apabila Mahkamah Pemilwa berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-seadilnya (ex aequo et bono).
Hormat kami,
PIHAK TERKAIT/KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT*
1. Nama NIM (tanda tangan)
2. Nama NIM (tanda tangan)