14
BAB II
SEJARAH SINGKAT PENGOBATAN ALTERNATIF
PADEPOKAN SEMAR MESEM
A. Pengertian Pengobatan Alternatif
Seiring perkembangan jaman, tekhnologi kedokteran semakin maju namun, dengan kemajuan tekhnologi tersebut tidak menyurutkan minat sebagian masyarakat untuk memanfaatkan keberadaan para penyembuh tradisional. Penyembuh tradisional atau alternatif berbeda dengan penyembuh modern. Penyembuh modern adalah dokter, tenaga medis yang pengetahuannya berdasarkan ilmu modern dan tekhnologi. Penyembuh tradisional atau alternative adalah penyembuh yang ilmunya hanya berdasarkan pengetahuan tradisional.1
Sistem medis alternatif merupakan istilah sistem medis diluar sistem medis non-Barat yang kemudian disebut sebagai sistem medis primitif, non-Barat, tradisional, rakyat (folk medicine), pribumi, dan non ilmiah. Sistem medis ini dikenal dengan dengan upaya pengobatan tradisional diluar ilmu kedokteran dan keperawatan. Pengobatan alternatif dapat berkembang karena sistem medis modern dianggap memiliki keterbatasan sehingga sebagian masyarakat menganggap bahwa medis alternatif lebih baik dan biayanya murah.2
Pengobatan Alternatif berasal dari dua suku kata yaitu Pengobatan dan Alternatif. Pengobatan dalan Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti proses, perbuatan atau cara mengobati. Sedangkan Alternatif adalah pilihan diantara dua
1
Nova Maulana., Buku Ajar Sosiologi & Antropologi Kesehatan, (Yogyakarta: Nuha Medika,2014), hlm. 49.
2
atau beberapa. Jadi, Pengobatan Alternatif adalah metode cara mengobati diantara dua pilihan atau beberapa (non medis). Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) tahun 1978 pengobatan ini merupakan usaha yang dilakukan untuk mencapai kesembuhan, pemeliharaan dan peningkatan taraf kesehatan masyarakat yang berlandaskan cara berpikir atau ilmu diluar pengobatan modern.3
Menurut World Health Organization (WHO) Pengobatan tradisional adalah ilmu dan seni pengobatan berdasarkan himpunan dari pengetahuan dan pengalaman praktek baik yang dapat diterangkan secara ilmiah ataupun tidak, dalam melakukan diagnosis, prevensi dan pengobatan terhadap ketidak seimbangan fisik, mental ataupun sosial.4 Pengobatan alternatif merupakan pengobatan pengganti yang berbeda dengan pengobatan modern atau pengobatan barat yang dikenal sebagai hasil perkembangan ilmu pengetahuan. Jika pengobatan modern menggunakan peralatan-peralatan seperti mikroskop, rontgen atau alat bedah lainnya yang ditemukan pada abad 19, berbeda dengan pengobatan alternatif yang didasarkan pada anggapan bahwa suatu penyakit disebabkan oleh gangguan-gangguan roh-roh jahat yang mengganggu seseorang.5
3
Lifawati., Praktik Pengobatan Tradisional Bibi Pada Masyarakat Desa Pagergunung Kecamatan Wanayasa Kabupaten Banjarnegara, (Semarang : Skripsi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang, 2015 ), hlm. 7.
4
Bisikan gaib Ratna., Sosiologi dan Antropologi Kesehatan Dalam Perspektif Ilmu Keperawatan, (Yogyakarta: Pustaka Rihama, 2010), hlm. 134.
5
http://www.yabina.org/TanyaJawab/07/Nop_07.htm (diakses pada tanggal 4 Agustus 2016).
Pengobatan modern menganggap manusia lebih bersifat materialistik seperti darah, daging, organ, tulang, otot sehingga dalam penyembuhannya juga menggunakan obat materialistik. Sebagian masyarakat menganggap bahwa penyakit juga disebabkan oleh masalah kejiwaan atau gangguan spiritual. Berdasarkan hal tersebut banyak masyarakat yang masih percaya terhadap pengobatan tradisional atau pengobatan alternatif yang dianggap mampu menyembuhkan penyakit yang belum tentu dapat disembuhkan dengan pengobatan modern, banyak diminati karena lebih murah, bahkan ada pasien yang dapat membayar seikhlasnya. Pengobatan ini dipilih apabila pengobatan medis dirasa sudah tidak sanggup lagi menyembuhkan suatu penyakit.6
Di Indonesia terdapat empat jenis pengobatan tradisional. Pertama adalah pengobatan tradisional dengan ramuan obat seperti jamu, ramuan obat Cina dan ramuan obat India. Kedua adalah pengobatan tradisional spiritual atau kebatinan, pengobatan tradisional berdasarkan kepercayaan, atas dasar keagamaan dan berdasarkan getaran magnetis. Ketiga adalah pengobatan tradisional dengan memakai peralatan, Akupuntur pengobatan tradisional Cina dengan metode tusuk jarum, pengobatan pijat urut, pengobatan patah tulang pengobatan dengan menggunakan benda tumpul seperti batu giok. Keempat adalah pengobatan tradisional yang telah mendapat pengarahan dan pengaturan pemerintahan yaitu dukun beranak atau dukun bayi dan tukang gigi tradisional.7
6
Ibid.
7
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya masyarakat terhadap pengobatan alternatif. Beberapa faktor tersebut adalah pengobatan alternatif merupakan bagian dari sosial budaya masyarakat, tingkat pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan latar belakang budaya masyarakat menguntungkan pengobatan tersebut, terbatasnya akses dan keterjangkauan pelayanan kesehatan modern, keterbatasan dan kegagalan pengobatan modern dalam mengatasi beberapa penyakit tertentu, meningkatnya minat masyarakat terhadap pemanfaatan bahan-bahan yang berasal dari alam, meningkatnya minat profesi kesehatan mempelajari pengobatan tradisional atau alternatif, meningkatnya modernisasi pengobatan tradisional atau alternative, meningkatnya publiksasi dan promosi pengobatan tradisional atau alternatif, meningkatnya globalisasi pelayanan kesehatan tradisional, meningkatnya minat mendirikan sarana dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan tradisional.8
Penyembuh tradisional atau alternatif mendapatkan pengetahuan untuk menyembuhkan orang berdasarkan pengalaman hidup yang berakar pada lingkungan sosial, budaya, dan keagamaan yang berkembang dan merupakan kearifan lokal masyarakat. Pengetahuan tradisional adalah pengetahuan yang berdasarkan logika dan kepercayaan masyarakat, sedangkan pengetahuan modern berdasarkan rasionalitas ilmu. Dengan pengetahuan tradisional, penyembuh dapat melakukan praktik penyembuhan penyakit. Seperti penyakit demam, diare, batuk, hingga seperti tumor atau kanker. Penyembuh tradisional biasa dikenal dengan berbagai istilah wong pinter, dukun, tabib, ahli kebatinan, ustadz, dan kiai ini
8
selain melakukan praktik pengobatan penyakit fisik juga kerap melakukan praktik pengobatan penyakit non fisik seperti kerasukan setan, mengusir gangguan dari roh halus, konsultasi waktu yang tepat untuk melaksanakan hajat, memulai usaha, membangun rumah, menempati rumah, membangun jembatan, sering dimintai doa atau wejangan untuk melancarkan karir, menemukan barang yang hilang, dan meminta kelancaran jodoh.9 Pengobatan Alternatif yang akan dibahas pada skripsi ini adalah pengobatan alternatif di Padepokan Semar Mesem secara kedukunan yang berada didaerah Pucangsawit Jebres.
B.
Pengertian dan Ruang Lingkup Perdukunan
1. Pengertian Perdukunan
Praktek perdukunan dalam masyarakat Jawa bukanlah hal yang biasa. Banyak sekali praktek-praktek perdukunan yang dibuka baik di desa maupun di kota. Demi mencapai keinginan, sebagian masyarakat Jawa sangat bergantung kepada dukun dalam berbagai permasalahan seperti proses melahirkan, ingin mendapatkan kekayaan atau keberuntungan, menyembuhkan penyakit, menyucikan diri dari pengaruh jin jahat atau menolak bala atau guna-guna, keinginan untuk naik pangkat atau naik jabatan. Demikian dapat dikatakan bahwa dukun mempunyai kedudukan penting bagi masyarakat khususnya masayarakat Jawa. Dukun dianggap sebagai profesi yang dikaitkan dengan ilmu klenik, takhayul dan mempunyai kedudukan setara dengan kepala suku dan pendeta.10
9
Ibid.
10
Dukun dikenal oleh manusia sejak zaman nenek moyang dan dikenal dalam tradisi semua agama. Dalam berbagai ritual dalam suatu komunitas pasti dukun selalu hadir dalam komunitas tersebut dan memimpin jalannya suatu ritual adat. Dalam konsepsi umum dukun adalah orang yang memiliki ilmu sakti, bisa meramal, mampu melihat masa depan, dan sebagainya. Dukun diambil dari kata duduk yang tekun. dukun disini tidak hanya diartikan sebagai orang yang duduk dan tekun namun, orang yang dapat dikatakan sebagai dukun adalah orang yang mendalami suatu ilmu olah batin. Dalam melakukan hal itu, ia banyak menghabiskan waktunya dengan bersemedi (duduk tekun).11
Dalam bahasa Arab, dukun disebut dengan istilah “kahin”, yaitu orang yang bisa meramal sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Sebagian lain mendefinisikan kahin sebagai orang yang bisa menebak isi hati orang lain.12 Berdasarkan definisi tersebut, maka dukun atau kahin kerap diidentikkan sebagai tukang ramal.13
Dukun sendiri memiliki beberapa pengertian. Ariyono Suyono didalam Kamus Antropologi menyebutkan bahwa dukun mempunyai tiga pengertian. Pertama, dukun merupakan seorang individu yang mempunyai keahlian yang bersangkutan dengan pelaksanaan adat atau keagamaan. Kedua, dukun adalah
11
Rizem Aizid., Islam Abangan dan Kehidupannya, (Yogyakarta: DIPTA, 2015), hlm. 201.
12
Syukriadi Sambas dan Tata Sukayat., Quantum Doa; Membangun Keyakinan Agar Doa Tak Terhijab dan Mudah Dikabulkan, (Jakarta: Hikmah, 2007), hlm. 102
13
Adil Fahmi., Malam Pengantin, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005), hlm. 50.
orang yang ahli dalam menyembuhkan penyakit yang disebabkan karena roh dan kekuatan-kekuatan gaib. Ketiga, seseorang disebut dukun karena ia mempunyai keahlian dalam hal ilmu gaib.14
Dukun dianggap memiliki ngelmu. Orang yang memiliki ngelmu dianggap mempunyai kekuatan atau kelebihan lain yang tidak dimiliki oleh orang lain. Tidaklah heran apabila tidak sedikit orang-orang yang datang kepada dukun untuk menanyakan sesuatu yang mencemaskan sehingga dukun ini akan memberikan penjelasan, arahan, nasihat, mencarikan jalan keluar yang biasanya disertai dengan syarat-syarat tertentu. Dalam menjalankan aktivitasnya ia mengucapkan mantra-mantra dimana ia mengutarakan kehendaknya (gadhah pikajeng). Sebaliknya, orang yang melakukan suatu upacara religi menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan, kepada para Dewa, atau kepada makhluk-makhluk gain yang lain, dan berdoa agar permintaannya bisa terkabul (nyenyuwun).15
2. Ciri dan Macam Dukun
Dukun sangat identik dengan orang yang memiliki kelebihan dibanding dengan manusia pada umumnya. Kemampuan tersebut berhubungan dengan hal-hal gaib. Menurut Koentjaraningrat berdasarkan fungsinya ilmu gaib digolongkan dalam empat kategori. Kategori pertama adalah ilmu gaib produktif, dimana ilmu gaib ini seringkali digunakan dalam upacara-upacara umum seperti upacara bersih
14
Ariyono Suyono., Kamus Antropologi (Jakarta: Akademika Pressindo, 1985), hlm. 100.
15
Koentjaraningrat., Kebudayaan Jawa, (Jakarta: PN Balai Pustraka), hlm. 423.
dusun, upacara-upacara yang berkenaan dengan pertanian, perdagangan, atau mereka kerap kali juga diminta untuk mendatangkan hujan, mencegah bencana yang diduga akan datang dan bahkan untuk mencarikan benda-benda atau orang-orang yang hilang. Ilmu gaib produktif biasanya bersifat baik, ilmu gaib seperti itu dapat juga dianggap termasuk ilmu gaib putih atau ngelmi pethak. Ilmu gaib produktif biasanya dilakukan demi kesejahteraan diri seseorang, kesejahteraan sekelompok orang, atau kesejahteraan suatu masyarakat secara keseluruhan, dan karena itu dapat juga disebut ilmu gaib umum. Para dukun yang menggunakan ilmu ini biasanya adalah dukun siwer (ahli mencegah musibah), dukun susuk (spesialis yang mengobati dengan menusukkan jarum emas dibawah kulit), dukun japa (dukun yang mengandalkan mantra-mantra) dan juga dukun jampi (dukun yang menggunakan tumbuh-tumbuhan dan berbagai obat asli).16
Ilmu gaib kedua adalah ilmu gaib protektif, ilmu gaib ini biasanya dilakukan dalam upacara-upacara untuk menghalau wabah penyakit, membasmi hama. Dalam prakteknya ilmu gaib ini sering menggunakan mantra-mantra atau kepercayaan pada benda-benda kramat dan suci dalam upacaranya. Ilmu gaib protektif ini sama dengan ilmu gaib produktif. Keduanya bersifat baik sehingga digolongkan dalam ngelmi pethak. Dukun yang menggunakan ilmu ini adalah dukun prewangan dan dukun tiban (dukun yang kekuatannya sementara, kekuatannya didapatkan karena kerasukan roh).17
16
Koentjaraningrat., Op.cit., hlm. 414.
17
Ilmu gaib ketiga adalah ilmu gaib destruktif atau agresif. Ilmu gaib ini adalah ilmu gaib yang fungsinya untuk merugikan, menyerang, menyakiti atau bahkan membunuh orang. Ilmu gaib ini bersifat jahat atau negatif. Ilmu ini disebut dengan ilmu sihir atau guna-guna. Karena bersifat jahat atau negatif dan digolongkan kedalam ilmu hitam (ngelmi cemeng). Dukun yang menggunakam ilmu ini adalah dukun sihir dan dukun tenung.18
Ada pula dukun yang mempunyai keahlian meramal dan menghitung (petung) yaitu menghitung hari-hari yaang baik seperti menghitung hari dalm penentuan tanggal pernikahan, dalam melakukan penanaman padi di sawah, selametan dalam hal membangun rumah. Dukun ini disebut dengan dukun petangan.19
Menurut Rizem Aizid profesi dukun dikenal dalam tradisi Jawa diantaranya adalah Dukun bayi, yaitu orang yang membantu jalannya persalinan. Dukun yang berprofesi sebagai dukun bayi ini adalah seorang wanita. Dukun bayi ini juga biasa disebut dengan dukun beranak. Dukun pijat, adalah orang yang ahli dalam memijat. Dukun pijat ini biasanya dimintai tolong untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tulang ataupun otot yang kaku, kesleo atau bahkan memijat pasien patah tulang atau retak tulang. Dukun pijat ini juga dapat disebut dengan dukun patah tulang. Dukun Perewangan, dukun ini mempunyai keahlian dalam mengundang roh manusia yang sudah meninggal untuk kembali kedalam tubuhnya. Dukun Petangan, yaitu dukun yang berprofesi
18 Ibid . 19 Ibid.
sebagai peramal yaitu menghitung waktu serta tanggal yang baik dengan memperhatikan pasaran Jawa, dukun ini biasanya berpedoman pada buku primbon Jawa. Dukun calak, dukun ini adalah dukun yang mempunyai keahlian dalam hal menyunat atau mengkhitan. Dukun paes adalah dukun yang mempunyai keahlian dalam merias pengantin, biasanya dukun paes ini juga mempersiapkan ubo rampe dalam upacara pernikahan. Dukun santri, adalah dukun yang menggunakan ayat-ayat atau mantra-mantra dalam bahasa Arab untuk menyembuhkan penyakit biasanya disebut dengan Kiai atau Ustadz. Dukun susuk, dukun yang melakukan penyembuhan dan pengobatan dengan menggunakan sebuah mata uang yang disisipkan dibawah kulit si penderita. Dukun japa atau jampi, yaitu orang yang menggunakan mantra atau jamu kepada pasien untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dukun sihir atau tenung yaitu dukun yang menguasai ilmu hitam dan biasanya membantu orang yang mempunyai tujuan tidak baik atau jahat. Dukun ini bekerja dengan cara menyantet atau guna-guna. Dari penjelasan macam macam dukun diatas dapat disimpulkan bahwa dukun adalah orang yang memiliki suatu keahlian, baik mengenai hal-hal gaib maupun nyata.20
Untuk menjadi dukun seseorang tidak perlu belajar secara formal. Dalam memiliki kekuatannya untuk menjadi dukun biasanya seseorang mendapatkannya secara turun menurun, berguru kepada senior dan.ada pula yang melakukan nglakoni atau meditasi untuk memperdalam ilmu agar dapat menambah ilmu kesaktian yang mereka miliki atau dapatkan.21
20
Rizem Aizid., Op.cit., hlm. 202.
21
Kemampuan atau kesaktian yang dimiliki oleh dukun juga diperoleh dengan melakukan laku atau bertapa yang disiplin. Maka tidak heran apabila dukun sering melakukan puasa, tapa, atau semedi. Cara-cara inilah yang membuat orang-orang percaya bahwa dukun mendapatkan kekuatan supranatural dengan cara-cara tersebut. Seorang dukun biasanya merangkap menjadi dua atau tiga dukun contohnya seorang dukun bisa menjadi dukun perewangan merangkap menjadi dukun petangan dan dukun susuk.22
C. Latar Belakang Pengobatan Alternatif di Padepokan Semar Mesem 1. Pengobatan Alternatif di Padepokan Semar Mesem
Padepokan Semar Mesem didirikan oleh Sumardi pada tahun 1979 di Pucang Sawit, Surakarta, Jawa Tengah dan digunakan sebagai klinik pengobatan alternatif. Sumardi lahir di Sukoharjo 21 Pebruari tahun 1954. Lahir dari orang tua yang bermata pencaharian sebagai petani menjadikan Sumardi hidup sederhana dan seadanya. Pendidikannya hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Walaupun demikian Sumardi merupakan generasi ketiga dalam menjalankan praktik pengobatan yang diwarisi dari Eyang dan Ayahnya pada tahun 1971. Wiro Karso adalah Kakek Sumardi yang pada tahun 1940-an merupakan seorang buruh tani di desa Jati Bedug 5 kilometer dari Kota Wonogiri yang hidup serba kekurangan, hidupnya tidak mampu dan jauh dari kata layak. Dengan kepercayaan kebatinan Jawa yang dianut yaitu Guru Sejati Sukma Sejati, Mbah Wiro melakukan suatu laku yaitu semedi atau tapa. Laku tersebut ia lakukan secara terus menerus hingga datanglah bisikan gaib dari Allah melalui Kiai Semar yang
22
dipercaya sebagai tuhannya gaib dalam aliran kepercayaan Guru Sejati Sukma Sejati. Bisikan gaib tersebut berisi perintah untuk membantu orang yang kesusahan. Laku dan tapa yang dilakukan membuat Mbah Wira mempunyai kekuatan supranatural dan kemampuan untuk menyembuhkan orang. Kekuatan dan ilmu tersebutlah yang diturunkan kepada anak dan cucunya.23
Pada tahun 1972, ketika berumur 18 tahun Sumardi mendapatkan bisikan gaib pertama dari Eyang Semar yang mendatanginya dalam wujud suara melalui mimpi hingga tiga kali. Isi bisikan gaib tersebut mengharuskan Sumardi untuk melakukan beberapa laku. Laku tersebut adalah Tapa mega , Tapa Nafsu, Tapa Ngere, dan Tapa Ngedan.24
a. Tapa Mega
Tapa Mega adalah melakukan puasa selama 24 jam penuh dan mengharuskan Sumardi untuk merokok tanpa henti dari mulai terbitnya matahari hingga tenggelamnya matahari lagi. Rokok tersebut tidak boleh mati, tidak boleh berhenti, dan tidak boleh terputus. Apabila Sumardi menghisap rokok, dan rokok tersebut akan habis maka Sumardi harus menyalakan rokok yang baru. Dalam melakukan laku tersebut Sumardi menghabiskan hingga 37 bungkus rokok.
b. Tapa Nafsu
Tapa nafsu atau laku Tumurun widodari sewu (turunnya seribu bidadari). Laku tumurun widodari sewu adalah laku yang mengharuskan Sumardi untuk menahan nafsu selama 41 hari disebuah tempat prostitusi. Laku tersebut dilakukan
23
Wawancara dengan Sumardi, 7 Maret 2016
24
pada malam hari di daerah Silir, Solo. Selama 41 hari tersebut Sumardi harus hidup diperkumpulan para Pekerja Seks Komersil (PSK). Laku tersebut bertujuan untuk menguji kuat tidaknya Sumardi untuk menahan nafsu untuk tidak mendekati hingga berhubungan badan dengan Pekerja Seks Komersil (PSK).25 c. Tapa Ngere
Tapa Ngere adalah laku yang mengharuskan Sumardi menjadi gelandangan selama 41 hari. Sumardi melakukan laku tersebut di daerah Alun-Alun Kidul Surakarta. Untuk makan dan minumpun Sumardi diharuskan untuk makan dari sisa orang yang sudah dibuang. Untuk tidur juga tidak memakai alas. Hidup Sumardi seperti wong kere (orang miskin) ketika melakukan laku tersebut.26
d. Tapa Ngedan
Tapa ngedan adalah laku yang mengharuskan Sumardi untuk hidup dan bertingkah laku seperti orang gila pada umumnya. Sumardi melakukan laku ini dengan berjalan kaki dari Jogja ke Solo dengan menggunakan kaos lengan panjang, celana panjang warna hitam dan memakai caping yang diambilnya dari orang-orangan sawah didaerah Ceper. Sumardi melakukan perjalanan tanpa menggunakan alas kaki. Pakaian dan sepatu yang sebelumnya digunakan Sumardi dibungkus dengan menggunakan klarah diikat dan dipikul dengan menggunakan pring. Panas terik, Hujan Angin dilalui Sumardi dengan berjalan kaki. Sesekali apabila merasa letih, Sumardi beristirahat dipinggir jalan, makan dan minum juga
25
Wawancara dengan Sumardi, 7 Maret 2016
26
mengais sampah mencari sisa makanan dan minuman orang. Laku ini dilakukan kurang lebih selama 41 hari dan dapat berhenti apabila ada orang yang menyebut Sumardi sebagai orang gila. Laku-laku tersebut agar dapat membantu orang banyak dalam hal pengobatan atau membantu dalam hal lainnya.27
Tahun 1972 Setelah melakukan beberapa laku tersebut Sumardi mendapatkan bisikan gaib kedua dari Eyang Semar yang berisi perintah untuk menolong dan membantu menyembuhkan orang. Dari bisikan gaib tersebut maka pada tahun 1979 Sumardi mendirikan Padepokan Semar Mesem sebagai klinik pengobatan alternatif.28
Selain laku-laku yang telah dijelaskan sebelumnya, Sumardi juga kerap melakukan tapa. Tapa mempunyai arti memisahkan diri dari kehidupan masyarakat, sehingga individu dapat berkonsentrasi sepenuhnya menenggelamkan diri dalam peribadatan berhubungan dengan yang Gaib.29 Pertapa adalah orang yang bertapa. Dengan bertapa dan berhubungan dengan yang gaib, biasanya pertapa mendapat ilmu dan menguasai ilmu gaib sebagai bakal atau dasar dalam menjalani kehidupannya. Tapa adalah suatu usaha yang bertujuan untuk mencapai derajat yang lebih tinggi dalam mencapai ilmu gaib, sebagai awal dari segala
27
Wawancara dengan Sumardi, 7 Maret 2016
28
Wawancara dengan Sumardi, 7 Maret 2016
29
https://tgoehblog.wordpress.com/pengertian-pertapaan-tapa-atau-bersemedi/ (diakses pada tanggal 4 Agustus 2016)
sesuatu yang mulia, biasanya dilakukan ditempat sepi, sunyi, jauh dari kerumunan dan dilakukan dalam kurun waktu tertentu.30
Tapa dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu tapa dari kekuatan fisik dan tapa dari kelakuan mental. Tapa fisik adalah tapa yang bertujuan untuk menghancurkan hawa dan nafsu, keinginan atau kecenderungan pikiran serta perasaan. Tapa mental adalah tapa yang bertujuan untuk membina kemampuan konsentrasi pertapa memusatkan segala pikiran kepada satu titik yang ia renungkan dan tujukan yaitu ilmu gaib itu sendiri. Tapa bertujuan untuk mencari kesaktian, mendapatkan wangsit atau bisikan gaib, dan meminta bisikan ghaib.31 Sumardi melakukan tapa ditempat-tempat yang sepi dan mistis dibeberapa tempat di pulau Jawa antara lain di Gunung Lawu Kahyangan Pringgodani, Alas Krendo Wahana, Gua Langse Jogja, dan Gunung Keruk.32
Dalam bertapa, Sumardi hanya dibolehkan untuk makan pupus daun dan meminum embun. Tidak hanya bertapa diatas batu, didalam gua, atau dibawah pohon besar, Sumardi juga kerap kungkum (berendam) disungai. Selain bertemu dengan Eyang Semar, dalam semedi atau tapanya Sumardi juga bertemu dengan Kanjeng Ibu Ratu Kidul atau dikenal sebagai Nyi Roro Kidul, Ratu Jin yang dipercaya sebagai penenang segara (laut) Jawa seisinya. Kanjeng Ratu Kidul datang dan memberikan petuah dalam semedinya untuk membantu orang-orang yang meminta bantuan kepada Sumardi. Untuk membalas apa yang diberikan
30 Ibid 31 Ibid 32
Ratu Kidul kepada pulau Jawa dan kepada dirinya. Sumardi selaku penasehat spiritual Keraton Solo setiap bulan Sura melakukan Datang Asok Glondhong Pengareng-areng yaitu memberikan sesaji kepada Kanjeng Ibu Ratu Kidul sebagai rasa terima kasih dengan melarungkan sesaji di Pantai Selatan Pulau Jawa, seperti Pantai Parang Tritis dan Pantai Parang Kusumo. Dengan bersemedi atau bertapa, sumardi mengaku banyak mendapatkan wangsit atau bisikan gaib. Wangsit itu datang hanya berupa suara tidak ada wujud yang berbicara seperti bisikan gaib, aku Sumardi.33 Tapa-tapa tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menambah spiritualitas dan meningkatkan kekuatan gaib demi membantu dan menyembuhkan orang lain.34
Kekuatan gaib secara antropologi dikenal dengan istilah magis. Menurut R. Firth magis dimaksudkan sebagai suatu ritus dari doa-doa dan mantera-mantera yang diucapkan, yang menegaskan hasrat seseorang kepada alam atas dasar kepercayan pada daya menguasai manusia untuk maksud yang nyata.35 Magis ini terdapat apabila manusia dengan pengalamannya hendak mempengaruhi alam untuk menggenggam sendiri nasibnya dan sebagian nasib orang lain, jika tidak seluruhnya.36
33
Wawancara dengan Sumardi.,7 Maret 2016.
34
Wawancara dengan Sumardi.,7 Maret 2016.
35
Harsojo., Pengantar Antropologi Indonesia, (Bandung: Putra Abordin, 1999), hlm. 229.
36
H. TH. Fischer, Pengantar Antropologi Kebudayaan Indonesia., (Surabaya: PT Pembangunan, 1980), hlm. 142.
2. Lambang Semar Mesem
Padepokan Semar Mesem didirikan pada tahun 1979 selain sebagai klinik pengobatan alternatif juga merupakan suatu wadah aliran kebatinan Guru Sejati Sukma Sejati yang dianut oleh Sumardi. Guru Sejati Sukmo Sejati adalah guruku yo sukmaku, sukmaku yo guruku. Guruku adalah sukmaku, sukmaku adalah guruku. Suatu aliran kepercayaan yang mempercayai guru sejati yaitu guru yang ada didalam diri seseorang masing-masing37
Guru sejati adalah guru yang bersifat gaib, tidak berwujud fisik, keberadaannya misterius. Guru sejati merupakan figur gaib yang akan menunjukan hidup manusia ke jalan lurus sebagai pandam, pandom, dan panduming dumadi. 38 Guru sejati juga disebut an-nafs an-natiqah atau an-nafs-muthmainah, dalam terminologi Arab yang berarti penasihat spiritual bagi jiwa.39 Dalam jiwa manusia harus didampingi oleh guru sejati karena tanpa didampingi guru sejati, maka manusia akan dikalahkan oleh nafsu yang berasal dari jasad, raga atau organ tubuh manusia.
Demi bertemu guru sejati seseorang harus memenuhi syarat utama. Syarat tersebut dilakukan dengan laku prihatin, yakni selalu mengolah rasa, mesu budi, maladi hening, mengolah batin dengan cara membersihkan hati dari hawa nafsu, dan menjaga kesucian jiwa dan raga. Orang yang dapat bertemu dengan guru sejati adalah orang yang terpilih. Figur guru sejati dalam kosmologi Jawa
37
Wawancara dengan Sumardi.,7 Maret 2016.
38
Suwardi Endraswara., Guru Sejati (Yogyakarta, Narasi, 2014), hlm. 2.
39
adalah Pancer. Pancer merupakan sentral kehidupan manusia yang dilingkupi oleh saudara sejati yang sering menggoda. Sedulur papat keblat lima pancer atau keblat papat lima pancer, sedulur papat sebagai perlambangan empat unsur badan manusia yang mengiringi seseorang sejak lahir didunia. Ketika seseorang lahir didahului oleh keluarnya air ketuban, kemudian bayi lahir disertai darah dan daging kemudian disusul ari-ari atau plasenta. Sedulur papat terdiri dari unsur kawah atau ketuban sebagai kakak, darah dan daging sebagai dulur kembar, dan ari-ari sebagai adik. Jika keempat unsur itu disatukan maka jadilah jasad, yang kemudian dihidupkan oleh roh sebagai unsur kelima yakni pancer.40
Guru sejati dibayangkan sebagai figur yang dapat membimbing pribadi orang, menemukan kebahagiaan hidup orang Jawa. Sukma sejati yang berada didalam pribadi orang Jawa diyakini sebagai guru sejati. Sukma sejati itulah yang menghidupkan laku-laku spiritualitas orang Jawa. Sukma sejati adalah figur abstrak yang ada didalam diri manusia. Sukma sejati dipandang sebagai menara agung dalam diri manusia. Apabila orang Jawa mampu berdialog dan menaklukan sukma, maka akan muncul guru sejati sebagai pembimbing dirinya.41
Lambang Aliran Kepercayaan Guru Sejati Sukma Sejati adalah Semar, salah satu tokoh Punakawan dalam pewayangan. Dalam cerita pewayangan Mahabharata sang guru sejati merupakan seorang guru yang memiliki kelebihan
40
Ibid., hlm. 12.
41
luar biasa dibanding guru-guru lainnya, memberikan ilmu kepada muridnya dengan ikhlas, mengajar Pandawa dan Korawa.42
Sama halnya dengan aliran kepercayaan Guru Sejati Sukma Sejati. Pengobatam Alternatif Semar Mesem juga menggunakan Lambang atau Simbol Kiai Semar sebagai identitas diri. Secara fisik sosok Semar ini tidak begitu baik, tidak gagah, dan berbadan gemuk, namun Semar merupakan penjelmaan dari Hyang Ismaya yaitu Dewa yang paling berkuasa di Pulau Jawa yang juga merupakan kakak Dewa utama Bathara Guru atau Syiwa.43 Tokoh Semar sebagai sang pamomong, Semar merupakan simbol seluruh rakyat nusantara, simbol pamomong nusantara. Semar adalah seorang Batara atau Dewa yang bernama asli Sang Hyang Ismaya putra dari Sang Hyang Tunggal, Semar sebagai pengasuh dan penasehat Pandawa, Semar merupakan sosok panutan, sederhana, dan bijaksana. Semar dapat diartikan guru sejati sukma sejati yang ada dalam diri seseorang. Guru sejati sendiri merupakan hakekat tertinggi dalam raga manusia. Maka hakekat guru sejati tersebut digambarkan oleh Semar yang memiliki kekuatan Sabda Pendita Ratu, yang mempunyai ludah api. Apa yang diucapkan adalah kehendak dari Tuhan.44
42
Ibid., hlm. 213.
43
Frans Magnis Suseno., Loc.cit.
44
Gambar 1
Lambang Semar Mesem Foto : Koleksi pribadi penulis
3. Tujuan Pengobatan Alternatif di Padepokan Semar Mesem
Tujuan pengobatan alternatif di Padepokan Semar Mesem adalah selalu memberikan kesejahteraan warga atau pasien yang datang ke Padepokan Semar Mesem. Kesejahteraan disini adalah memberi bantuan apabila ada orang atau pasien yang datang untuk meminta sembuh dari penyakit (medis atau non medis) sehingga Sumardi akan memberitahukan petunjuk apa saja yang harus dilakukan atau yang harus dihindari.45
Pengobatan Alternatif seperti di Padepokan Semar Mesem banyak didatangi pasien karena alasan ekonomi dan efisiensi waktu. Dengan datang ke pengobatan alternatif masyarakat tidak membuang banyak waktu dan tidak membuang banyak biaya. Pasien cukup datang dan mengutarakan maksud kedatangannya, misalnya mengeluh sakit dan meminta disembuhkan, mengutarakan rencana pernikahan anak dan meminta ditunjukan hari baik untuk
45
pelaksanaan upacara dan perhelatan supaya kegiatan berlangsung lancar, memintra petunjuk dan doa untuk menemukan kembali barang yang hilang. Atau meminta srono untuk meminta kelancaran jodoh dan memperlancar karir atau usaha. Dengan mengutarakan maksud maka Sumardi akan memberikn arahan atau perintah yang harus dilakukan atau yang harus dihindari oleh pasien yang datang. Pasien biasanya akan menuruti dan melaksanakan petunjuk yang harus dilakukan. Setelah itu hanya menunggu hasilnya. Sebagian masyarakat yang datang kepada Sumardi adalah orang yang berasal dari keluarga kurang mampu. Dimana mereka tidak dapat membayar pengobatan medis seperti dokter atau rumah sakit.46
46