BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Desa Girisa awalnya merupakan bagian dari Desa Bilato Kabupaten

23  11  Download (0)

Teks penuh

(1)

26 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Desa Girisa awalnya merupakan bagian dari Desa Bilato Kabupaten Gorontalo seiring terbentuknya Kabupaten Boalemo yang merupakan pemekaran Kabupaten Gorontalo sehinnga kemudian masyarakat makin nampak dan tingkat laju pertumbuhan penduduk semakin pesat, padasaatitu Desa Girisa masih berstastus dusun, oleh masyarakat telah sepakat mangadakan rembukan ( musyawarah ) untuk membahas pembentukan desa, tepat pada tangal 12 Februari 2003 terjadilah pembentukan desa dari status lama dusun girisa menjadi Desa Girisa pada waktu itu. Masyartakat untuk di jadikan sebagai pejabat Kepala Desa dari tahun 2003-2004 tokoh masyarakat yang bernama Wilson Taliki.

Melihat kondisi kedua dari daerah yakni Kabupaten Gorontalo yang sangatj elas batas wilayahnya, yakni yang di batasi oleh sungai paguyaman maka sangat tepat hasil rembukan seluruh masyarakat desa memilih berkiblat kekecamatan, karena Kecamatan Paguyaman merupakan bagian dari kabupaten boalemo, pada tahun 2003-2004 di saatDesa Girisa terbentuk mulailah masyarakat berlahan-lahan melakukan pembangunan intra stuktur yakni mendirikan Kantor Desa yang sumber dana dari swadaya masyarakat dangotong royong serta pihak pemda dan para aktivis-aktivis lainya sehingga pembangunan Kantor Desamencapai 60% sehingga bisa digunakan untuk pelayanan terhadap masyarakat.

(2)

27

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan yang di capai oleh Pemerintah Desa dan masyarakat, tidak lama berselangpadatahun 2006, Desa Girisa melakukan pemilihan Kepala Desa yang baru, pemilihan di lakukan secara demokrasi, dan pada saat penentuan suara Bapak Faisal Miyodu, S.Sos yang mendapatkan suara yang terbanyak, karena Bapak Faisal telah terpilih menjadi Kepala Desa yang menjadi panutan dan mengayomi masyarakatnya, dan sampai sekarang Bapak Faisal Miyodu adalah Kepala Desa Girisa.

Sebelum habis masa jabatan oleh Bapak Faisal Miyodu, S.Sos, kini Desa Girisa telah mempunyai Kepala Desa persiapan yang baru yaitu Bapak Suwardi Hairi yang akan mengatikan masa jabatan Kepala Desa Girisa yaitu Bapak Faisal Miyodu, yang telah di sepakati oleh masyarakat Desa Girisa. Kini sebelum memasuki Tahun 2014 masa jabatan telah berpindah tangan Kepada Bapak Suwardi Hairi sebagai Kepala Desa Girisa yang di pilih secara demokrasi oleh masyarakat Desa Girisa dan sekarang Kapala Desa Girisa telah di pimpin oleh Kepala Desa yang baru yaitu Bapak Suwardi Hairi selama masa jabatan kurang waktu 5 Tahun. .

4.1.2 Keadaan Geografis Desa Girisa

Desa Girisa adalah salah satu desa yang bersada di Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo yang memiliki letak geografis sebagai berikut :

• Luaswilayah 3. 363 km2

• Luas lahan pertanian sawah teririgasi 30 ha • Luaslahan pemukiman 43 ha

(3)

28

• Ketinggian diatas permukaan laut ( rata-rata )102 m

Adapun batas-batasan dari Desa Girisa adalah sebagai berikut : • Sebelah Utara berbatasan dengan Desa KaryaMurni

• Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Bilato

• Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Laut Telut Tomini • Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Olibu’u

4.1.3 Keadaan Ekonomi Dan Sosial Budaya 4.1.3.1 Keadaan Ekonomi

Jumlah penduduk yang berada di Desa Girisa, secara keseluruhan sebanyak 1.784 jiwa dengan rincian laki-laki sebanyak 891 jiwa dan perempuan sebanyak 893 jiwa. Pada umumnya masyarakat Desa Girisa bermata pencaharian sebagai nelayan andon, selain itu terdapat beberapa jenis perkerjaan atau mata pencaharian yang di jadikan untuk memenuhi kebutuhan perekonomian keluarga, dengan kepala keluarga 250 KK

Hal ini dapat di lihat pada tabel berikut : TABEL 4.I

KeadaanPendudukMenurut Mata Pencaharian

No Mata Pencaharian Jumlah

1 Nelayan 109 Orang

2 Perternak 20 Orang

3 Pedagang 38 Orang

4 Penjahit 2 Orang

(4)

29

6 BuruhBangunan 5 Orang

7 PNS 41 Orang

SumberData : Kantor DesaGirisaTahun 2013

Berdasarkan tabel di atas, dapat di lihat bahwa penduduk Desa Girisa sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan.

4.1.3.2 Keadaan Sosial Dan Budaya

Secara umum tingkat pendidikan di Desa Girisa dapat di nilai cukup baik. Meskipun sebagian besar masyarakatnya bertamatan Sekolah Dasar ( SD ), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama ( SLTP ) dan kemudian di susul Sekolah Lanjutan Tingat Atas ( SLTA ). Untuk lebih jelasnya mengenai keadaan tingkat pendidikan masyarakat Desa Girisa.

Hal ini dapat di lihat pada tabel berikut : TABEL 4.2

KeadaanPendudukMenurut Tingkat Pendidikkan

No Tingkat Pendidikan Jumlah

1 BelumSekolah 233 Orang

2 TidakTamat SD 132 Orang

3 Tamat SD 174 Orang

4 Tamat SLTP 45 Orang

5 Tamat SLTA 34 Orang

6 TamatPerguruanTinggi 8 Orang SumberData : Kantor GirisaTahun 2013

(5)

30

Berdasarkan pada tabel di atas, dapat di lihat tingkat pendidikan terbanyak adalah tidak tamatan Sekolah Dasar ( SD ) yaitu dengan jumlah 132 Orang, kemudian tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama ( SLTP ) sebanyak 45 Orang, dan di susul dengan tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ( SLTA ) dengan jumlah 34 Orang, sedangkan untuk tamatan Perguruan Tinggi sebanyak 8 Orang, umumnya mereka ini keadaan ekonominya cukup tinggi sehingga dapat menyelesaikan sekolah sampai pada Tingkat Perguruan Tinggi. Sedangkan yang tidak lulus Sekolah dasar ( SD ) sebanyak 132 Orang. Mereka pada umumnya pernah mengeyam pendidikan dan ada pula yang tidak mengenyam bangku pendidikan. Hal ini menyebabkan masyarakat Girisa kebanyakan bermata pencaharian sebagai nelayan andon.

4.1.3.3 Agama

Masyarakat Desa Girisa dengan jumlah penduduk 980 jiwa, semuanya bermayoritas beragama Islam, tidak ada masyarakat migran atau masyarakat yang memeluk agama lain, selain Agama Islam. Masyarakat Desa Girisa hidup harmonis dan tentram, karena mereka sangat menjaga tali silaturahmi dengan masyarakat yang lain, Desa Girisa mempunyai 2 tempat beribadah yang di pergunakan oleh masyarakat dalam pengajian dan menanamkan nilai-nilai agama. 4.2 PembahasanHasilPenelitian

Padababsebelumnyatelah di jelaskanbahwauntukmemperoleh data dalampenelitianini,

(6)

31

penelititelahmenyediakanpedomanwawancarakepadabeberaparesponden yang akandimintai data yang sesuaidengantujuandaripenelitianini. Wawancaramerupakansalahsatubentukdalamupayapeneliti agar mendapatkan data yang akuratdariKepalaDesaGirisa dan masyarakat nelayan andon yang berada di Desa Girisa Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo.

Dari hasilpenelitian yang adadilapangan, adabeberapaindikator-indikator yang perlu di analisisdan di kajiterkaitdengan : 1) Nelayan Andon, 2) Faktor-Faktor Yang Di Hadapi Nelayan Andon.

4.2.1 Nelayan Andon

Masyarakat girisa dalam mencari hasil laut, mereka tidak menetap dalam mencari hasil laut, akan tetapi mereka mencari ikan dengan cara berpindah-pindah, hal ini sudah bertahun-tahun mereka lakukan demi memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya. Dalam keseharian menjadi nelayan andon tidak semuanya perkerjaan nelayan tidak mengalami tantangan, maka dari itu penulis akan membahas tentang aktivitas nelayan andon yang berada di Desa Girisa Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo, dalam mencari nafkah untuk keluarganya dari hasil melaut.

Laut merupakan bagian kehidupan para nelayan andon yang berada di Desa Girisa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka banyak menjadi nelayan, hal ini karena mereka bertempat tingal di pesisir pantai, sehingganya banyak aktivitas mereka lakukan di atas laut, karena laut merupakan sumber mata pencaharian masyarakat nelayan andon untuk memenuhi perekonomian keluarga.

(7)

32

( hasil wawancara dengan Bapak Eman. Masyarakat yang ada di Desa Girisa dalam memenuhi kebutuhan perekonomian dari hasil laut, kong torang di sini hanya nelayan andon, jadi torang mo cari hasil laut berpindah-pindah dan tidak menetap pada satu daerah saja. Jadi nelayan andon ini banya resiko apa lagi torang tidak ada izin dari pihak tertentu, kemauan jadi nelayan andon bukan torang pe mau, tapi torang disini banya yang tidak sekolah, mau tidak mau torang harus trima kalau torang jadi nelayan selagi apa yang torang dapa itu halal bagi torang pe keluarga. Wawancara pada tangal 22 November 2013 “ informan Bapak Eman “ )

“ maksud dari Bapak Eman, mengatakan bahwa mereka masyarakat yang berada di Desa Girisa dalam memenuhi kebutuhan perekonomian dari hasil laut, dan mereka di sini hanyalah nelayan andon, jadi dalam mencari hasil laut berpindah-pindah dan tidak menetap pada satu daerah saja. Jadi banyak nelayan andon mangalami resiko dalam mencari hasil laut, dan mereka belum ada izin dari pihak tertentu, bukan kemauan mereka sendiri untuk menjadi nelayan, hal ini juga karena mereka tidak sekolah, mau tidak mau mereka menerima keadaan, selagi apa yang mereka dapatkan halal bagi keluarganya. ”

(8)

33

Nelayan andon merupakan profesi masyarakat yang berada di Desa Girisa dalam memenuhi kebutuhan perekonomian untuk keluarganya. Dalam mencari hasil laut masyarakat yang berada di Desa Girisa, hanyalah sebagai nelayan andon yang tidak menetap, mereka mencari hasil laut berpindah-pindah, hal ini telah merekan jalani selama menjadi nelayan andon. Menjadi nelayan andon merupakan perkerjaan yang sudah mendarah daging bagi kehidupan masyarakat nelayan andon yang berada di Desa Girisa, hal ini di sebabkan karena masyarakatnya tingal di pesisir laut.

Nelayan andon adalah salah satu di antara nelayan yang berada di Desa Girisa Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo. Dalam mencari hasil laut berpindah-pindah dan tidak menetap pada wilayah perairan yang berada di daerahnya sendiri. Sebagian besar masyarakat yang berada di Desa Girisa bermata pencaharian sebagai nelayan, perkerjaan menjadi seorang nelayan sudah mereka dapatkan dari orang tua mereka, sehingga masyarakat yang berada di Desa Girisa dalam memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya dari hasil laut yang mereka dapatkan.

Sebagian besar masyarakat nelayan andon yang berada di Desa Girisa, mereka adalah masyarakat yang tidak mengenal bangku pendidikan, hal ini di sebabkan, karena pemikiran orang tua mereka dulu yang menyepelehkan dunia pendidikan, karena mereka berangapan jika mereka akan sekolah nantinya meraka akan menjadi apa, sedangkan sudah banyak orang yang sukses , hal itulah yang menyebabkan mereka tidak mengenal bangku pendidikan dan jikapun ada tidak

(9)

34

sampai lulus Sekolah Dasar ( SD ), sehingganya mereka lebih memilih untuk menjadi seorang nelayan.

Perkerjaan menjadi nelayan andon adalah sebuah perkerjaan yang tidak mudah, selain menghadapi kerasnya diatas lauttan dalam mencari nafkah. Akan tetapi lebih mengarah kepada masyarakat nelayan andon yang berada di Desa Girisa itu sendiri, mereka tidak mendapatkan izin dari pihak yang mengatur tentang perundang-undangan kepada mereka dalam mencari hasil laut. Nelayan andon yang berada di Desa Girisa dalam mencari hasil laut, mereka tidak menetap pada wilayah perairan pada satu daerah saja, akan tetapi mereka harus berpindah-pindah dalam mencari hasil laut sedangkan mereka belum mempunyai izin dari pihak yang mengeluarkan surat izin bagi nelayan andon dalam mencari hasil laut yang berpindah-pindah.

Masyarakat nelayan andon yang berada di Desa Girisa, bukanlah kemauan mereka sendiri untuk menjadi seorang nelayan, akan tetapi mereka harus menerima kuadrat mereka menjadi seorang nelayan. Bagi mereka selama perkerjaan itu halal untuk menafkahi keluraganya dari cucuran keringkat dan selama itu halal bagi keluarganya. Mereka menyadari bahwa perkerjaan menjadi nelayan andon, tidaklah semulus apa yang mereka ketahui, hal ini disebabkan kerena tidak semua wilayah perairan yang ada di daerah lain bisa menerima mereka dalam mencari hasil laut dengan cara yang berpindah-pindah. Jika mereka harus bertahan untuk mencari hasil laut di daerah wilayah perairan mereka sendiri, tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan, karena nelayan andon mencari hasil laut seperti ikan tuna.

(10)

35

Nelayan andon yang berada di Desa Girisa, tidak pernah lepas dari persoalan sosial, seperti yang di alami mereka menjadi nelayan andon, tradisi nelayan andon yang berpindah-pindah ke beberapa perairan kedaerah-daerah lain, tak jarang mereka di tunding sebagai pelangar wilayah perairan lain, mereka menyadari hal itu, akan tetapi kebutuhan perekonomian dan keadaanlah yang memaksa mereka untuk mencari hasil laut ke wilayah perairan daerah lain, demi memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya.

( Hasil wawancara dengan Bapak Damin, masyarakat disini ba tangkap ikan di laut, biasa jaga pake perahu pelang ( perahu sedang), kalau dulu kamari torang jaga pake perahu masih mengunakan dayung dan kalau torang turun ka laut 3 sampe 4 hari baru ikan yang torang dapa kamari mo jual sama penampung ikan. Wawancara pada tangal 23 November 2013 “ informan Bapak Damin )

“ Maksud dari Bapak Damin, jika pada saat akan menangkap ikan di laut, mereka biasanya memakai perahu pelang atau perahu sedang, jika dulunya mereka hanya mengunakan perahu dayung dan mereka pada saat turun ke laut 3 samai 4 hari dan ikan-ikan mereka dapatkan di jual kepada penampung ikan ”

(11)

36

Perahu adalah salah satu alat yang mendukung para nelayan andon dalam mencari hasil laut, awalnya dulu masyarakat nelayan andon yang berada di Desa Girisa, dalam mencari hasil laut masih mengunakan perahu tradisional yang sangat sederhana, yang masih mengunakan dayung sebagai tenaga pengerak perahu, walaupun begitu nelayan andon tidak pernah kesulitan mendapatkan ikan dengan jumlah besar. Seiring dengan perkembangan teknologi baru, hal ini sangat di sambut antusias oleh para nelayan andon yang berada di Desa Girisa Kabupaten Boalemo.

Nelayan andon yang masih mengunakan perahu tradisional, kini mereka beralih keperahu yang sedikit lebih modern dari sebelumnya. Perahu dayung kini mulai di tingalkan dan di ganti dengan perahu bertenaga mesin tempel, mesin yang di gunakan masih bertenaga bensin. Dalam satu perahu maksimal di tempeli dua mesin dengan tempuh jarak maksimal 50 km dari bibir pantai dengan daya angkut ikan 3 ton.

Oleh karena itu, nelayan andon yang berada di Desa Girisa dalam mencari hasil laut, biasanya mereka 3 sampai 4 hari melaut, sehingga pendapatannya melipah. Masyarakat nelayan andon jika pada saat melaut mereka sudah mempersiapkan kebutuhan mereka pada saat melaut, sehingga keperluan mereka pada saat melaut terpenuhi agar mereka dalam mencari hasil laut tidak ada hambatan yang mereka lalui dalam hal ini kebutuhan fisiknya selama melaut. Dari hasil melaut selama 3-4 hari, ikan-ikan tersebut harus di jual kepada penampung ikan, akan tetapi kadang ikan mereka sisahkan untuk keluarganya.

(12)

37

Menjadi seorang nelayan andon adalah perkerjaan yang mempertaruhkan nyawanya di atas laut demi menghidupi keluarganya, demi mendapatkan hasil tangkapan ikan yang banyak sehingga bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, menjadi nelayan andon tidak selamanya pendapatannya stabil, kadang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Penghasilan nelayan andon tergantung dari banyak dan sedikit ikan yang mereka dapatkan. Liku-liku kehidupan dalam menjalani profesi sebagai nelayan andon, ini ternyata tidak sampai di situ saja, jika hasil melaut yang mereka dapatkan sedikit, maka akan mempengaruhi pada hasil jual nanti kepada penampung ikan, sehingganya pandapatan seorang nelayan tidak selamanya stabil, hal itu di pengaruhi oleh hasil laut yang mereka dapatkan. 4.2.2 Faktor-Faktor Yang Di Hadapi Nelayan Andon

4.2.2.1 Faktor Alam

( hasil wawancara dengan Bapak Asgar, kendala yang di alami itu pada saat musim darat, itu biasa torang tako mo turun ka laut soalnya depe resiko besar, kong tidak ada hasil yang torang dapa kamari, hanya kerugian selama melaut dan kebutuhan yang di sana, jadi torang biasa pulang kampung kalau musim daratan. Wawancara pada tangal 22 November 2013 “ informan Bapak Asgar )

( maksud dari Bapak Asgar, kendala yang banyak di alami oleh para nelayan pada saat musim daratan, hal itu biasanya para nelayan takut untuk melaut, karena resikonya besar, apa lagi mereka hanya nelayan andon, jadi lebih baik mereka pulang kampung tampa membawa hasil

(13)

38

laut, mala mereka mengeluarkan biayaya selama mereka di sana, karena mereka takut untuk melaut pada saat musim daratan. )

Fenomena alam dan cuaca menjadi menghalang bagi masyarakan nelayan andon dalam mencari hasil laut, akibat dari perubahan musim menjadikan nelayan andon yang berada di Desa Girisa waspada. Seperti saat ini, ketika musim baratan ( angin Barat ) datang, para nelayan andon tidak dapat mencari hasil laut atau mereka hanya beristrihat melaut. Hal ini menjadi pertimbangan bagi para nelayan andon, karena musim baratan akan berdampak pada hasil tangkapan yang menurun. Cuaca diperairan yang sulit diprediksiserta hembusan angin kencang membuat gelombang sangat berbahasa dalam mencari hasil laut.

(14)

39

Dampak lain yang di rasakan oleh para nelayan andon, ikan-ikan yang biasa menjadi buruan nelayan ikut menghindar ombak besar. Banyak nelayan andon yang memilih pulang kampung saat musim baratan seperti ini, meski sebagian besar para nelayan andon yang berada di Desa Girisa berpikir dua kali akan keselamatan ketika mereka akan turun melaut. Para nelayan andon tersebut sebagian besar dari Desa Girisa Provinsi Gorontalo, yang datang mengadu nasib di wilayah daerah (Desa Borgo Kecamatan Belang)

Masyarakat nelayan andon yang berada di Desa Girisa , mereka memilih untuk pulang secara bergelombang dengan mengunakan kapal-kapal penangkap ikan miliknya, kadang mereka tidak mendapatkan hasil lauat, mala mereka rugi besar, bagaimana tidak, untuk setiap kali melaut nelayan andon rata-rata mereka mengunakan kapal, yang tidak sedikit mengeluarkan uang untuk keperluan di gunakan berbagai kebutuhan ketika turun melaut dan serta BBM dalam mencari hasil laut.

( hasil wawancara dengan Bapak Yunus, pada saat cuaca buruk, ada pula masyarakat nelayan andon yang lain masih bertahan dan nekat untuk mencari hasil laut, karna cuaca buruk ikan-ikan naik dari harga sebelumnya, misalnya ikan tuna deng cakalang naik dari harga sebelumnya biasanya per kilo Cuma Rp. 12.000 dorang mo jual per kilo Rp. 16. 000 per kilo. sehingga banya masyarakat yang memilih untuk tidak pulang kampung, tapi dorang mo pulang kalau dorang dapa hasil laut, dan untuk selanjutnya mereka akan pulang, apa lagi

(15)

40

pada saat akhir tahun di kenal dengan musim ujan. Wawancara pada tangal 27November 2013 “ informan Bapak Yunus )

“ maksud dari Bapak Yunus, pada saat cuaca buruk ada juga para nelayan andon bertahan untuk mencari hasil laut, karena pada saat cuaca buruk ikan-ikan naik dari harga sebelumnya, misalnya ikan tuna dan cakalang, biasanya di jual Rp. 12.000 per kilo, kini mereka akan melego harga jual per kilogram Rp. 16.000, dan selanjutkan mereka akan pulang kampung jika mereka mendapatkan hasil laut dan salah satu faktor lainya musim penghujan di akhir tahun. ”

Para nelayan andon pada saat cuaca buruk, ada beberapa nelayan yang bertahan untuk tetap melaut, hal ini mereka lakukan karena pada saat cuaca buruk,

(16)

41

menjadi kesempatan besar bagi mereka yang tetap bertahan dan tidak memilih pulang kampung. Karena pada saat cuaca buruk ikan sulit di dapatkan, sehingga harganya naik, misalnya jika sebelumnya per kilogram di jual Rp. 20.000, kini naik menjadi Rp. 30.000. Demikian pula harga ikan tuna atau cakalang. Naik dari Rp 12.000 menjadi Rp. 16.000 per kilogramnya. Hanya saja kisaran harga besar itu di sertai catatan jika stok ikan tersedia.

Para nelayan andon sendiri memutuskan tidak melaut paling tidak sejak lima hari, penyebabnya lebih karena faktor keaman yang sewaktu-waktu akan membahayakan diri mereka. Karena muncul gelombang tinggi dan angin kencang sehingga berpotensi membahayakan keselamatan mereka. Nelayan andon sangat berbeda dengan nelayan tradisional, karena nelayan andon dalam mencari ikan dengan kapal-kapal berukuran besar, kondisi seperti ini akan di perkirakan akan terus berlangsung sampai beberapa bulan mendatang. Paling tidak sampai bulan maret mendatang seiring berlalunya musim daratan.

Ombak yang tidak stabil menjadi faktor lainnya bagi nelayan andon dalam mencari hasil laut, oleh sebab itu masyarakat nelayan andon yang berada di Desa Girisa sementara akan berhenti melaut. Hal ini sangat membahayakan para nelayan andon dalam mencari hasil lautseperti nelayan andon yang berada di Desa Girisa yang biasanya mencari hasil laut memilih pulang sembari menunggu cuaca stabil.

Kondisi seperti itu memang sering terjadi pada musim penghujung akhir tahun seperti pada bulan Desamber ini. Pengaruh cuaca akibat musim penghujan seperti sekarang menjadi faktor utama bagi masyarakat nelayan andon untuk

(17)

42

melaut. Terlebih saat ini bulan pada posisi terang. Sehingga berpengaruh pada tingginya gelombang air laut, di perkirakan kondisi seperti ini akan berlanjut hingga beberapa pekan mendatang. Jika cuaca sudah bagus, otomatis nelayan akan segera kembali ke laut.

Jika keadaan cuaca tidak membaik maka sebagian nelayan andon tak melaut, mereka takut karena sedang angin kencang yang melanda perairan di mana mereka mencari hasil laut, hal ini akan berdampak pada harga ikan mulai naik. Ikan-ikan yang naik hanya pada saat cuaca buruk seperti ini, jika keadaan cuaca akan membaik maka harga ikan akan kembali normal, sampai para nelayan andon akan kembali ke laut.

Ikan-ikan yang mereka dapatkan dari hasil melaut akan di jual kepada penampung, kemudian penampung akan menjualnya kepada masyarakat yang biasanya menjual ikan-ikan di pasaran maupun masyarakat yang kesehariannya menjual ikan yang dibeli kepada penampung, dan di jualnya kembali kepada konsumen di jajahkan dengan mengendarai motor maupun sepeda, hal ini sudah menjadi sebagian hidup dari nelayan, karena ikan yang mereka dapatkan bukan sekedar di komsumsi dengan jumlah banyak, tapi untuk di jual demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

4.2.2.2 Faktor Ekonomi

( Hasil wawancara dengan Bapak Ago, masyarakat yang ada di Desa Girisa hanya berkarja sebagai nelayan, jadi aktivitas itu paling banya di atas laut. Jika turun ka laut biasanya torang harus ada modal, kalau tidak ada modal jadi torang ba utang sama pemilik modal, nanti

(18)

43

baku hitung pas torang pulang dari melaut. Wawancara pada tangal 29 November 2013 “ Informan Bapak Ago “ )

“ Maksud dari Bapak Ago, masyarakat yang berada di Desa Girisa, berkarja sebagai nelayan, jika pada saat melaut mereka harus mempunyai modal, jika tidak mempunyai modal biasa mereka akan meminjam modal kepada pemilik modal, dan pada saat kembali kedarat mereka akan melunasi hutang kepada pemilik modal “

Nelayan merupakan kelompok masyarakat yang mata pencahariannya sebagian besar bersumber dari aktivitas melaut , sehingganya Indonesia dapat di katakan merupakan wilayah lautan. Lautan banyak memiliki potensi ekonomi lautnya yang sangat besar dan beragam diantaranya ikan adalah merupakan

(19)

44

sumber perekonomian keluarga nelayan. Dengan melimpahnya sumber daya ikan, maka seharusnya pendapatan nelayan andon yang berada di Desa Girisa, sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya. Namun realita yang ada di masyarakat nelayan andon tidaklah demikian.

Kemiskinan masih banyak melanda kehidupan nelayan andon. Dari dua sisi ekonomi hasil tangkap nelayan masih jauh untuk memadai kebutuhan hidupnya, bagi keluarganya dan bagi dirinya sendiri. Hal ini disebabkan karena minimnya modal yang dimiliki masyarakat nelayan andon yang berada di Desa Girisa, sehingganya masyarakat nelayan andon jika pada saat melaut meminjam modal kepada pemilik modal, untuk kebutuhan dirinya di atas lautan atau untuk keluarganya yang di tingalkan .

Kondisi seperti ini membuat sebagian masyarakat nelayan andon yang berada di Desa Girisa harus menghutang kepada pemilik modal. Jika pada saat nelayan andon kembali kedaratan maka hutang akan di bayar dengan hasil dari melaut kepada pemilik modal. Pendapatan seorang nelayan tidak menentu karena pendapatan nelayan tergantung pada hasil melaut yang mereka dapatkan selama turun kelaut.

Pendapatan nelayan sangat tergatung dari hasil ikan mereka dapatkan, sehingga itu pendapatan seorang nelayan tidak menentu, jika pada saat mereka mendapatkan hasil ikan yang berjumlah besar, maka pendapatanya juga besar, kadang jika hasil tangkapan berjumlah besar, maka nelayan bisa mendapatkan uang sekitar Rp 3.000.000,00 – Rp 5.000.000,00, tergantung dari hasil melaut, pendapatan seperti itu tidak mereka dapatkan.

(20)

45

Pendapatnelayanandon yang berjumlahRp 3.000.000,00 – Rp 5.000.000, tidaksemuanya di terimaolehnelayanandon, halini di sebabkankarenamerekadalammencarihasillautbersama-sama. Akan tetapidenganhasilmelaut di lakukansecaraindividumakapendapatannyatidakdi bagiduadenganparanelayanandon yang lain. Pendapatan yang di bagidua, jikadilakukandenganberkelompokolehnelayanandon yang lain. merekalakukansecarakelompok, olehsebabitumakapendapatnyaharus di bagiduadengannelatanandon yang lain.

Banyak masyarakat nelayan andon yang tidak memiliki modal usaha dalam melakukan aktivitas melaut. Sehingga terdapat nelayan-nelayan yang tidak mungkin hidup yang layak dari penghasilan kerjanya, akibatnya mereka harus meminjam modal kepada pemilik modal, hal ini menyebabkan nelayan andon harus terlilit hutang kepada pemilik modal, apa bila mereka tidak mempunyai modal usaha pada saat akan melaut.

Modal usaha sangat di perlukan nelayan andon dalam mencari hasil laut, akan tetapi tidak semua nelayan andon memiliki modal usaha sendiri, di tengah-tengah kesulitan seperti ini membuat masyarakat nelayan miskin, pada hal lingkungan alam yang mengandung cukup banyak sumber daya yang dapat di manfaatkan oleh masyarakat nelayan dalam mencari nafkah dari hasil laut untuk memperbaiki taraf hidupnya

Kemiskinan ini di sebabkan karena kebudayaan masyarakat yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, pengalaman, teknologi, jiwa usaha dan dorongan sosial yang di perlukan untuk mengali kekayaan alam di lingkungannya dan

(21)

46

mengunakanny untuk kepaerluan masyarakat nelayan andon yang berada di Desa Girisa.

4.2.2.3 Relasi Keluarga Nelayan

( Hasil Wawancara dengan Bapak Eton, supaya keluarga tidak serba kekurangan di dalam memenuhi kebutuhan keluarga, maka saya dengan istri saya berkerja sama untuk bisa dapat menutupi kekurangan, karna hasil laut tidak dapat menjamin torang pe hidup, mo lia dari pendapatan yang tidak stabil. Wawancara pada tangal 30 November 2013 “ informan Bapak Eton “ )

“ Maksud dari Bapak Eton, peran keluarga sangat di butuhkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, karena hasil pendapatan melaut tidak selama baik, sehingga perlu kerja sama dengan angota keluarga, agar bisa menutupi kekurangan perekonomian keluarga, peran dari seorang istri sangat dibutuhkan.”

Peranan angota keluarga nelayan andon dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan harus dihadapi bersama-sama oleh keluarga atau rumah tangga, bagaimana mereka yang ada di dalamnya harus berusaha maksimal dan berkerja sama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehingga kelangsungan hidupnya terpilihara. Setiap angota rumah tangga bisa memasuki beragam perkerjaan yang dapat diaskes sehingga memperoleh penghasilan.

Fungsi untuk menjaga kelangsungan hidup bersama adalah sebuah strategi nelayan andon yang berada di Desa Girisa yang digunakan oleh nelayan andon untuk menghadapi ketidak pastian penghasilan dari hasil melauta adalah sebuah

(22)

47

mengkombinasikan perkerjaan. Kegiatan penangkapan ikan selalu di kombinasikan dengan perkerjaan lain dan dilakukan secara bergantian.

Melalui jaringan sosial antara nelayan dan keluarganya akan lebih efektif dan efisien untuk mencapai atau memperoleh askes terhadap sumber daya yang tersedia di lingkunganya. Jaringan sosial sangat berfungsi sebagai salah satu strategi adaptasi dalam konteks mengatasi kesulitan ekonomi keluarga nelayan andon yang berada di Desa Girisa untuk memenuhi hidup sehari-hari.

Hasil dari perkerjaan menjadi seorang nelayan yang menggantungkan hasil laut tentunya tidak bisa di prediksi oleh rumah tangga nelayan andon yang berada di Desa Girisa, untuk memberikan pemasukan yang cukup bagi rumah tangganya. Melihat hal tersebut umumnya para nelayan menjalankan strategi-strategi dalam mengatasi kemiskinan yang terus membayangi kehidupan rumah tangga nelayan andon yang meliputi peran angota keluarganya.

Kesulitan yang terjadi akibat penghasilan yang tidak stabil dan di karenakan hasil laut yang tidak menentu, tentunya berakibat pada kesulitan rumah tangga nelayan andon Desa Girisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan semakin menyulitkan mereka dalam mengatasi kemiskinan dalam rumah tangga nelayan andon, atau rumah tangga nelayan berusaha mengoptimalkan peran tenaga kerja angota keluarga dalam mengatasi masala kemiskinan dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup, yang salah satunya dapat dilihat dari peran istri.

Peran istri harus dituntut untuk dapat membantu menafkahi kebutuhan perekonomian keluarganya yang secara tidak langsung penghasilan dari keluarga

(23)

48

bisa sedikit mengurangi beban suami untuk mencari nafkah. Bentuk kegiatan yang dilakukan salah satu angota keluarga yakni istri nelayan andon yang berada di Desa Girisa, untuk membantu berkerja paruh waktu dan membuka warung kecil-kecilan di lahan rumah sendiri. Hal ini tentunya merupakan salah satu usaha yang sering dilakukan oleh anggota keluarga nelayan untuk bisa membantu memenuhi perekonomian keluarga yang serba kekurangan, agar dapat mengatasi kesulitan keluarga nelayan andon yang berada di Desa Girisa Kecamatan Paguyaman Kabupaten Bualemo.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :