BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Data
Statistik deskriptif bertujuan untuk memberikan deskripsi atau gambaran dari suatu variabel. Nilai mean digunakan untuk menjelaskan statistik deskriptif dari penelitian. Nilai mean adalah nilai rata – rata keseluruhan responden terhadap variabel yang diteliti.
Moral Awareness
Tabel 4.1
Statistik Deskriptif untuk Variabel Moral Awareness
No Item pernyataan N Mean Std.
Deviation
1. Terdapat aspek etika dalam perdagangan
barang bajakan 120 4,71 0,854
2. Perdagangan barang bajakan jelas tidak
melibatkan masalah etika atau moral (R) 120 2,70 0,856
3. Perdagangan barang bajakan bisa
digambarkan sebagai masalah moral 120 4,68 0,852
4.
Saya sadar bahwa dengan membeli barang bajakan dapat merugikan pencipta atau pengarang
120 5,37 0,634
5.
Saya sadar bahwa dengan membeli barang bajakan secara tidak langsung merupakan sebuah tindakan kriminal
120 4,37 0,733
Rata-rata Moral Awareness 120 4,37 0,786
Pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa jawaban responden pada variabel moral awareness memiliki nilai rata – rata keseluruhan sebesar 4,37. Hal ini berarti bahwa rata – rata konsumen memiliki tingkat kesadaran etika yang tinggi mengenai isu barang bajakan yang ada di lingkungan mahasiswa. Hal tersebut dapat ditunjukkan bahwa konsumen memiliki kesadaran etika yang tinggi mengenai perdagangan barang bajakan dan dapat digambarkan sebagai masalah moral, konsumen dapat menyadari bahwa dengan membeli barang bajakan, maka akan merugikan pencipta atau pengarang serta konsumen sadar bahwa membeli barang bajakan merupakan suatu tindakan kriminal. Standar deviasi pada variabel moral awareness adalah sebesar 0,786 yang artinya jawaban responden cukup bervariasi.
Moral Judgement
Tabel 4.2
Statistik Deskriptif untuk Variabel Moral Judgement
No Item pernyataan N Mean Std.
Deviation
1.
Saya menganggap dengan membeli barang bajakan dapat diterima secara moral (R)
120 2,73 0,799
2. Membeli barang bajakan merupakan
kesalahan moral 120 4,82 0,710
3. Menurut saya tindakan membeli barang
bajakan salah 120 4,84 0,722
4.
Dengan beredarnya barang bajakan, pemasukan pemerintah dari bea masuk import berkurang
120 5,33 0,537
Rata-rata Moral Judgement 120 4,43 0,692
Pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa jawaban responden pada variabel moral judgement memiliki nilai rata – rata keseluruhan sebesar 4,43. Hal ini berarti bahwa rata – rata konsumen memiliki tingkat penilaian yang tinggi mengenai barang bajakan. Hal tersebut dapat ditunjukkan bahwa konsumen menganggap perilaku membeli barang bajakan dinilai salah secara etika dan dapat mengurangi pemasukan pemerintah dari bea masuk import. Standar deviasi pada variabel moral judgement adalah sebesar 0,692 yang artinya jawaban responden cukup bervariasi.
Moral Emotions
Tabel 4.3
Statistik Deskriptif untuk Variabel Moral Emotions
No Item pernyataan N Mean Std.
Deviation
1. Saya merasa bersalah dengan membeli
barang bajakan 120 5,14 0,725
2. Saya akan merasa kesal, jika saya
membeli barang bajakan 120 5,17 0,813
3. Saya merasa bersyukur dengan membeli
barang bajakan 120 3,03 0,814
Rata-rata Moral Emotions 120 4,45 0,784
Sumber : Hasil Pengolahan Data SPSS (Lampiran)
Pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa jawaban responden pada variabel moral emotions memiliki nilai rata – rata keseluruhan sebesar 4,45. Hal ini berarti bahwa rata – rata perasaan yang dihasilkan konsumen pada saat melihat isu barang bajakan tinggi. Hal tersebut dapat ditunjukkan bahwa konsumen cenderung memiliki perasaan bersalah, kesal dan bersyukur ketika dihadapkan pada etika
barang bajakan. Standar deviasi pada variabel moral emotions adalah sebesar 0,784 yang artinya jawaban responden cukup bervariasi.
Perceived Price
Tabel 4.4
Statistik Deskriptif untuk Variabel Perceived Price
No Item pernyataan N Mean Std.
Deviation
1. Menurut pendapat saya harga merupakan faktor yang penting dalam keputusan
membeli barang bajakan
120 4,53 1,061
2. Menurut pendapat saya harga barang
bajakan masuk akal bagi pembeli 120 4,52 1,045
3. Harga barang bajakan lebih murah
dibandingkan harga barang asli 120 4,68 1,116
4. Saya dapat menghemat lebih banyak uang
dengan membeli barang bajakan 120 5,07 0,932
Rata-rata Perceived Price 120 4,70 1,039
Sumber : Hasil Pengolahan Data SPSS (Lampiran)
Pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa jawaban responden pada variabel perceived price memiliki nilai rata – rata keseluruhan sebesar 4,70. Hal ini berarti bahwa rata – rata konsumen merasa harga yang ditawarkan oleh penjual terjangkau oleh konsumen. Hal tersebut dapat ditunjukkan bahwa konsumen menganggap harga merupakan faktor yang penting dalam pengambilan keputusan, karena harga barang bajakan lebih murah dibandingkan dengan barang asli, masuk akal bagi konsumen serta dengan membeli barang bajakan, konsumen dapat menghemat lebih banyak uang. Standar deviasi pada variabel perceived price adalah sebesar 1,039 yang artinya jawaban responden cukup bervariasi.
Purchase Intention
Tabel 4.5
Statistik Deskriptif untuk Variabel Purchase Intention
No Item pernyataan N Mean Std.
Deviation
1. Saya memiliki niat untuk membeli barang
bajakan 120 2,49 0,953
2. Saya memiliki minat yang tinggi untuk
membeli barang bajakan 120 1,68 0,778
3. Saya akan membeli barang bajakan
120 1,74 0,692
4. Saya mungkin akan membeli barang
bajakan 120 2,52 0,869
Rata-rata Purchase Intention 120 2,11 0,823
Sumber : Hasil Pengolahan Data SPSS (Lampiran)
Pada tabel 4.5 menunjukkan bahwa jawaban responden pada variabel purchase intention memiliki nilai rata – rata keseluruhan sebesar 2,11. Hal ini berarti bahwa rata – rata konsumen memiliki niat beli yang rendah terhadap barang bajakan. Hal tersebut dapat ditunjukkan bahwa konsumen cenderung tidak memiliki niat beli yang tinggi pada barang bajakan dan memiliki kemungkinan yang rendah untuk membeli barang bajakan. Standar deviasi pada variabel niat beli adalah 0,823 yang artinya jawaban responden cukup bervariasi.
4.2 Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan:
2. Tingkat signifikasi dari setiap hubungan (level of significance) yang ditetapkan sebesar 0,95% yang berarti bahwa batas toleransi tingkat kesalahan (α) adalah sebesar 5%.
3. Alat analisa yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah alat analisis statistik Structural Equation Modelling (SEM). Alat analisis SEM digunakan karena model penelitian ini mengandung variabel intervening, yaitu moral judgement dan moral emotions.
Untuk menentukan hipotesis didukung atau tidak dengan membandingkan besarnya 𝜌 – value dengan 𝛼 sebesar 0,05. Dasar pengambilan keputusan hipotesis adalah sebagai berikut:
a. Jika 𝜌 – value ≤ 0,05 maka Ho ditolak, Hipotesis di dukung
b. Jika 𝜌 – value > 0,05 maka Ho gagal ditolak, Hipotesis tidak di dukung Hasil pengujian hipotesis dapat dilihat pada Tabel 4.6 Berikut ini:
Tabel 4.6
Hasil Pengujian Hipotesis
Hipotesis Coefficient
β P-value Keputusan
H1: Moral awareness berpengaruh positif
terhadap moral judgement 0,050 0,021 H1 didukung
H2: Moral judgement berpengaruh negatif
terhadap purchase intention -0,026 0,006 H2 didukung
H3: Moral emotions berpengaruh negatif
terhadap purchase intention -0,107 0,014 H3 didukung
H4: Moral emotions berpengaruh positif
Hipotesis Coefficient
β P-value Keputusan
H5: Moral awareness berpengaruh positif
terhadap moral emotions 0,087 0,006 H5 didukung
H6: Perceived price berpengaruh negatif
terhadap purchase intention -0,097 0,011 H6 didukung
Sumber : Hasil Pengolahan Data AMOS (Lampiran)
Hipotesis 1
Hipotesis pertama menguji moral awareness berpengaruh positif terhadap moral judgement. Berikut adalah bunyi hipotesis null (Ho) dan hipotesis alternative (Ha) adalah sebagai berikut:
Ho1 : Moral awareness tidak berpengaruh positif terhadap moral judgement H1 : Moral awareness berpengaruh positif terhadap moral judgement
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai p-value sebesar 0,021 (≤ 0,05) dan nilai coefficient β bernilai positif sebesar 0,050. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil tersebut adalah Ho1 ditolak, yang artinya moral awareness berpengaruh positif terhadap moral judgement.
Hipotesis 2
Hipotesis kedua menguji moral judgement berpengaruh negatif terhadap purchase intention. Berikut adalah bunyi hipotesis null (Ho) dan hipotesis alternative (Ha) adalah sebagai berikut:
Ho2 : Moral judgement tidak berpengaruh negatif terhadap purchase intention H2 : Moral judgement berpengaruh negatif terhadap purchase intention
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai p-value sebesar 0,006 (≤ 0,05) dan nilai coefficient β bernilai negatif sebesar -0,026. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil tersebut adalah Ho2 ditolak, yang artinya moral judgement berpengaruh negatif terhadap purchase intention.
Hipotesis 3
Hipotesis ketiga menguji moral emotions berpengaruh negatif terhadap purchase intention. Berikut adalah bunyi hipotesis null (Ho) dan hipotesis alternative (Ha) adalah sebagai berikut:
Ho3 : Moral emotions tidak berpengaruh negatif terhadap purchase intention H3 : Moral emotions berpengaruh negatif terhadap purchase intention
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai p-value sebesar 0,014 (≤ 0,05) dan nilai coefficient β bernilai negatif sebesar -0,107. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil tersebut adalah Ho3 ditolak, yang artinya moral emotions berpengaruh negatif terhadap purchase intention.
Hipotesis 4
Hipotesis keempat menguji moral emotions berpengaruh positif terhadap moral judgement. Berikut adalah bunyi hipotesis null (Ho) dan hipotesis alternative (Ha) adalah sebagai berikut:
Ho4 : Moral emotions tidak berpengaruh positif terhadap moral judgement H4 : Moral emotions berpengaruh positif terhadap moral judgement
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai p-value sebesar 0,006 (≤ 0,05) dan nilai coefficient β bernilai positif sebesar 0,047. Kesimpulan yang dapat
diambil dari hasil tersebut adalah Ho4 ditolak, yang artinya moral emotions berpengaruh positif terhadap moral judgement.
Hipotesis 5
Hipotesis kelima menguji moral awareness berpengaruh positif terhadap moral emotions. Berikut adalah bunyi hipotesis null (Ho) dan hipotesis alternative (Ha) adalah sebagai berikut:
Ho5 : Moral awareness tidak berpengaruh positif terhadap moral emotions H5 : Moral awareness berpengaruh positif terhadap moral emotions
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai p-value sebesar 0,006 (≤ 0,05) dan nilai coefficient β bernilai positif sebesar 0,087. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil tersebut adalah Ho5 ditolak, yang artinya moral awareness berpengaruh positif terhadap moral emotions.
Hipotesis 6
Hipotesis ketiga menguji perceived price berpengaruh negatif terhadap purchase intention. Berikut adalah bunyi hipotesis null (Ho) dan hipotesis alternative (Ha) adalah sebagai berikut:
Ho6 : Peceived price tidak berpengaruh negatif terhadap purchase intention H6 : Perceived price berpengaruh negatif terhadap purchase intention
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai p-value sebesar 0,011 (≤ 0,05) dan nilai coefficient β bernilai negatif sebesar -0,097. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil tersebut adalah Ho6 ditolak, yang artinya perceived price berpengaruh negatif terhadap purchase intention.
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
Hipotesis 1: Moral Awareness berpengaruh positif terhadap Moral
Judgement
Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa moral awareness berpengaruh positif signifikan terhadap moral judgement (coefficient β= 0,050 dan p-value = 0,021). Semakin tinggi moral awareness konsumen, maka semakin tinggi moral judgement konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen memiliki kesadaran etika yang tinggi pada barang bajakan, sehingga konsumen menganggap perilaku membeli barang bajakan dinilai salah secara etika. Dari hasil penelitian ini didapat bahwa konsumen memiliki pengetahuan yang tinggi mengenai etika yang telibat pada barang bajakan, karena konsumen paham dan sadar mengenai aspek etika dan moral yang terlibat pada barang bajakan (Reynolds, 2006). Konsumen menyadari berbagai macam isu – isu etika yang terlibat dalam barang bajakan, karena konsumen menyadari bahwa dengan membeli barang bajakan secara tidak langsung merupakan sebuah tindakan kriminal (Martinez dan Jaeger, 2016). Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa konsumen sadar dengan membeli barang bajakan, maka dapat merugikan pencipta atau pengarang (mean = 5,37). Hasil penelitian ini mendukung dan sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Martinez dan Jaeger (2016) sebelumnya.
Hipotesis 2: Moral Judgement berpengaruh negatif terhadap Purchase
Intention
Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan bahwa moral judgement berpengaruh negatif signifikan terhadap purchase intention (coefficient β= - 0,026
dan p-value = 0,006). Semakin tinggi moral judgement konsumen, maka semakin rendah niat beli konsumen terhadap buku literatur (text book) bajakan dan atau software bajakan. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya penilaian konsumen mengenai etika yang terlibat pada barang bajakan akan mempengaruhi minimnya niat beli konsumen terhadap buku literatur (text book) bajakan dan atau software bajakan. Hal tersebut dibuktikan bahwa kosumen dapat menilai dengan baik, karena dengan beredarnya barang bajakan, maka pemasukan pemerintah dari bea masuk import berkurang (mean = 5,33). Hal ini terjadi karena, ketika individu sedang dihadapkan pada dilema etika, maka seorang individu akan mengandalkan penilaian kognitif untuk memutuskan apakah individu harus terlibat atau tidak dalam perilaku pembelian pada barang bajakan, sehingga mempengaruhi niat beli seseorang (Tan, 2002). Penelitian ini didukung oleh beberapa peneliti yang mengatakan bahwa mahasiswa percaya membeli barang bajakan dinilai salah secara etika, sehingga tidak memiliki niat untuk membeli barang bajakan (Ha dan Lennon, (2006), Moores & Chang (2006), Wagner dan Sanders (2001)). Hasil penelitian ini mendukung dan sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Martinez dan Jaeger (2016) sebelumnya.
Hipotesis 3: Moral Emotions berpengaruh negatif terhadap Purchase
Intention
Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan bahwa moral emotions berpengaruh negatif signifikan terhadap purchase intention (coefficient β= - 0,107 dan p-value = 0,014). Semakin tinggi moral emotions konsumen, maka semakin rendah niat beli konsumen pada buku literatur (text book) bajakan dan atau
software bajakan. Hal ini menunjukkan bahwa perasaan konsumen yang dihasilkan dari isu etika pada barang bajakan akan mempengaruhi minimnya niat beli konsumen terhadap buku literatur (text book) bajakan dan atau software bajakan. Hal ini terjadi karena konsumen mempunyai perasaan campur aduk saat membeli barang bajakan. Konsumen yang memahami isu etika dalam barang bajakan, mungkin akan cenderung merasa kesal ketika ingin membeli barang bajakan (Kim et al., 2009). Emosi seperti rasa kesal muncul ketika konsumen mengetahui bahwa barang bajakan merupakan masalah etika. Ketika konsumen sedang dihadapkan pada masalah etika, maka konsumen akan melihat bahwa dengan membeli barang bajakan dapat merugikan pemerintah serta pencipta atau pengarang (Fernandes, 2013). Dengan mengetahui etika tersebut, maka akan mendorong perasaan konsumen menjadi kesal dan bersalah, ketika mengetahui bahwa barang bajakan melibatkan masalah etika. Hasil penelitian ini mendukung dan sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Martinez dan Jaeger (2016) sebelumnya.
Hipotesis 4: Moral Emotions berpengaruh positif terhadap Moral Judgement
Hasil pengujian hipotesis keempat menunjukkan bahwa moral emotions berpengaruh positif signifikan terhadap moral judgement (coefficient β= 0,047 dan p-value = 0,006). Semakin tinggi moral emotions konsumen, maka semakin tinggi moral judgement konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen cenderung merasa bersalah apabila dihadapkan pada suatu etika khususnya barang bajakan, karena konsumen mengetahui bahwa barang bajakan dinilai salah secara etika. Konsumen menganggap perilaku membeli barang bajakan dinilai salah
secara etika. Konsumen akan cenderung mempunyai perasaan bersalah, karena individu mengetahui bahwa membeli barang bajakan akan menciptakan rasa bersalah (Kim et al., 2009). Hasil evaluasi diri seseorang pada barang bajakan akan menghasilkan emosi seperti rasa bersalah, apabila seseorang membeli barang bajakan. Oleh sebab itu, emosi seperti rasa bersalah muncul ketika konsumen memahami etika yang terlibat pada barang bajakan, sehingga konsumen cenderung merasa bersalah, karena konsumen menganggap perilaku membeli barang bajakan dinilai salah secara etika. Hasil penelitian ini mendukung dan sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Martinez dan Jaeger (2016) sebelumnya.
Hipotesis 5: Moral Awareness berpengaruh positif terhadap Moral Emotions
Hasil pengujian hipotesis kelima menunjukkan bahwa moral awareness berpengaruh positif signifikan terhadap moral emotions (coefficient β= 0,087 dan p-value = 0,006). Semakin tinggi moral awareness konsumen, maka semakin tinggi moral emotions konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa ketika konsumen sadar bahwa barang bajakan merupakan masalah etika, maka konsumen akan merasa malu jika tindakan membeli barang bajakan diketahui oleh orang lain (Penz dan Stöttinger, 2005). Dalam hal ini konsumen memiliki tingkat kesadaran yang tinggi mengenai aspek etika dan moral yang terlibat pada barang bajakan, karena semakin konsumen memiliki moral awareness yang tinggi, maka semakin konsumen menunjukkan perasaan kesal dan bersalah. Di sisi lain, jika konsumen memiliki tingkat kesadaran etika yang rendah, maka konsumen akan menunjukkan perasaan bersyukur. Hal ini terjadi karena konsumen lebih
mengutamakan kebutuhan utamanya dari pada etika itu sendiri, Oleh sebab itu, hal ini menunjukkan bahwa sampai sejauh mana konsumen menghubungkan perasaannya dengan pembelian pada barang bajakan melalui kesadaran etika (Penz dan Stöttinger, 2005). Hasil penelitian ini mendukung dan sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Martinez dan Jaeger (2016) sebelumnya.
Hipotesis 6: Perceived Price berpengaruh negatif terhadap Purchase
Intention
Hasil pengujian hipotesis keenam menunjukkan bahwa perceived price berpengaruh negatif signifikan terhadap purchase intention (coefficient β= - 0,097 dan p-value = 0,011). Semakin rendah perceived price, maka semakin tinggi niat beli konsumen terhadap barang bajakan. Hal ini menunjukkan bahwa harga barang bajakan yang ditawarkan oleh penjual sangat terjangkau, sehingga niat beli konsumen terhadap barang bajakan tinggi. Konsumen merasa bahwa harga adalah faktor utama yang dapat memicu niat beli seseorang terhadap barang bajakan (Wee et al., 1995). Dalam hal ini buku literatur (text book) bajakan dan atau software bajakan merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa, oleh sebab itu barang bajakan menjadi salah satu pilihan, karena harga yang lebih murah (Wee et al., 1995). Hal tersebut terbukti bahwa dengan membeli barang bajakan, maka konsumen dapat menghemat lebih banyak uang serta harga yang ditawarkan pun lebih murah dan masuk akal bagi pembeli, sehingga banyak konsumen mempunyai niat beli yang tinggi dalam membeli buku literatur (text book) bajakan dan atau software bajakan. Hasil penelitian ini mendukung dan
sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Angkouw dan Rumokoy (2016) sebelumnya.