BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Sentra Produksi Pisang di Lampung.
Tanjung Karang merupakan Ibukota sekaligus pusat pemerintahan provinsi Lampung, sebagai salah satu provinsi sentra produksi utama penghasil buah-buahan di Sumatera, lokasi yang sangat strategis memberikan keuntungan komparative karena relatif dekat dengan Jakarta (jarak ± 225 km dengan waktu tempuh 8 – 12 jam) sebagai pasar bagi sebagian besar hasil pertanian khususnya buah seperti pisang, nenas, pepaya, rambutan, durian dan lain-lain.
Pengembangan buah-buahan di provinsi Lampung didasarkan antara lain pada beberapa kriteria yaitu merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi, memiliki peluang pasar besar, baik untuk dalam dan luar negeri, potensi produksi tinggi dengan penerapan teknologi budidaya yang baik dan benar. Komoditas yang dikembangkan antara lain durian, pisang, jeruk, dan rambutan. Data tahun 2003 menunjukkan produksi buah- buahan di provinsi ini mencapai 603.429 ton dengan luas panen mencapai 29.651 hektar.
Sedangkan untuk produksi pisang di Lampung mencapai 319.081 ton atau 52,8% dari total produksi buah-buahan dengan luas panen 7.587 hektar.
Dengan topografi dan agroklimat yang mendukung usaha budidaya, maka pisang dapat tumbuh dengan baik di Lampung, pola pertanaman campuran dan tumpangsari masih mendominasi pola budidaya dengan perbanyakan tanaman berasal dari anakan yang mencapai hampir 100%. Sentra produksi tersebar di bagian selatan, timur sampai tengah. Sentra utama terdapat di 3 (tiga) kabupaten yaitu Kabupaten Lampung Selatan,
Tanggamus, Lampung Tengah, dan Lampung Timur dengan potensi pengembangan yang berbeda-beda. Panen raya terjadi antara bulan Oktober sampai Februari sedangkan panen biasa terjadi antara bulan Maret sampai September. Varietas yang banyak dihasilkan adalah ambon sebesar 25 – 27%, kepok sebesar 25%, nangka sebesar 20%, pisang raja sebesar 10 – 20%, pisang Lampung antara 10 – 15% dan pisang tanduk sebesar 5%.
Dengan pola pasar yang ada, maka kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan perlu disesuaikan untuk memenuhi permintaan pasar.
Sale Pisang pisang pisang
Mutu baik
Pengecer, Swalayan
Pengecer, Pasar lokal
Swalayan
Pengecer, Pasar lokal
Industri sale JABAR
Grosir, pengempos, distributor
Sewu Segar Nusantara (SSN)
Pembuatan Sale KTB
Industri Kripik
Pedagang pengumpul
Perusahaan Pemasaran KTB
KTB
Sale / Kripik Pisang Pisang Pisang
Mutu baik
Pisang Pisang Pisang Pisang
(Prospektif permintaan besar)
Gambar 4.1 Jalur Pemasaran Pisang di Lampung (Sumber : M. Winarno, Winny DW, Irland, 2000)
4.2 Profil Pedagang Grosir Pisang Pasar Cengkareng.
Objek penelitian ini adalah pedagang grosir pisang pasar Cengkareng, Jakarta Barat. Usaha ini merupakan mata pencaharian pokok bagi pedagang dengan modal sendiri antara 30 – 50 juta rupiah, sedangkan pada saat permintaan meningkat diperlukan modal lebih dari 75 juta rupiah.
Perdagangan dilakukan berdasarkan pengalaman usaha yang telah dilakukan puluhan tahun dengan dasar saling mempercayai antara petani, pedagang pengumpul, pedagang grosir, pedagang pengecer dan pembeli partai besar seperti untuk supermarket, toko buah, katering atau pesanan khusus.
Varietas yang diperdagangkan antara lain adalah ambon antara 20 – 30%, kepok antara 15 – 20%, nangka antara 10 – 15%, tanduk antara 10 – 15%, pisang lampung antara 10 – 15% dan pisang raja sebesar 20%. Pisang yang diperdagangkan berbentuk tandanan sebagai upaya untuk memperpanjang masa simpan dan mempermudah
penanganan.
Pedagang grosir pisang Pasar Cengkareng memasok 6 – 8% kebutuhan pisang Kota Jakarta dan sekitarnya. Sedangkan segmentasi konsumen : Kelas menengah-bawah antara 80 – 90% dan menengah-atas antara 10 – 20%.
4.3 Alur Proses Pisang di Grosir.
Pisang yang sebagian besar berasal Lampung (60 – 70%), Sumatera Selatan (20 – 30%), Sumatera Utara (5 – 10%), Jambi dan Riau (Dit. Tanaman Buah, 2003).
Pasar Cengkareng merupakan salah satu pasar utama untuk pasokan pisang di Kota Jakarta dan sekitarnya. Kios untuk komoditas pisang berjumlah 50 unit dengan jumlah pedagang kecil 45 orang sedangkan untuk grosir berjumlah hanya 5 orang. Padagang di – pasar ini menyewa tempat Rp. 600.000,- sampai Rp. 1.000.000,- per bulan.
Proses transaksi berjalan menurut dua sistem yaitu pembayaran tunai dan pembayaran tunda. Pembayaran tunai ialah pembayaran langsung setelah transaksi sesuai
dengan jumlah yang ada sedangkan pembayaran tunda ialah pembayaran dilakukan jika pisang telah laku terjual dalam jumlah tertentu atau menurut waktu yang telah disepakati.
Kedua sistem pembayan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan menuntut kompensasi. Untuk pembayaran tunai biasanya harga sedikit lebih rendah (insentif) dibandingkan dengan pembayaran tunda.
Setiap truk yang masuk ke pasar akan dibongkar dengan memanfaatkan tenaga bongkar muat yang dibagi menurut hari aktive, biaya bongkar berkisar antara Rp.
30.000,- - Rp. 40.000,- per truk. Kapasitas truk antara 5 - 7 ton. Setelah itu pisang dipisahkan menurut varietas / jenis pisang kemudian ditimbang untuk mengetahui berat pisang pertandan dan berat muatan truk tersebut. Hasil penimbangan ini digunakan sebagai dasar pembayaran pisang ke pedagang yang telah mengirim pisang ke grosir tersebut. Pada saat penelitian ini dilakukan (bulan Oktober – Desember 2004), harga untuk pisang ambon adalah Rp. 900,-/kg, pisang kepok Rp. 600,-/kg, pisang nangka Rp.
550,-, muli Rp. 600,-/kg, raja Rp. 900,- sampai Rp. 1.000,-/kg, pisang tanduk Rp. 700,- /buah.
Setelah selesai penimbangan pisang ditempatkan diruang pengumpul untuk dilakukan pemeraman selama 12 jam untuk pisang segar (ambon, raja dan lampung),
sedangkan untuk pisang olahan (nangka, tanduk, muli) selama 24 jam. Untuk pisang segar selanjutnya dimaksukkan ke ruang pendingin untuk mempertahankan tingkat kesegaran dan daya simpan, sedangkan untuk pisang olahan diletakkan diruang pamer.
Waktu transaksi terbanyak terjadi antara jam 03.00 – 07.00 WIB.
4.4 Alur Informasi pada SCM pisang.
Alur informasi pada SCM pisang ke dan dari pasar grosir Cengkareng antara lain adalah peramalan kebutuhan, penentuan jenis/varietas dan harga komoditas, mutu, jumlah dan waktu pasokan. Alur dan jenis informasi pada pasar grosir Cengkareng dapat digambarkan sebagai berikut :
- Petani : menerima informasi dari pedagang pengumpul besar (grosir), pedagang pengumpul kecil, dan pencari seperti harga dari jenis pisang, waktu dan jumlah permintaan.
- Pencari : menerima informasi dari pedagang pengumpul besar (grosir) dan pedagang pengumpul kecil seperti informasi tentang harga dari jenis pisang, kualitas / mutu, waktu dan jumlah permintaan.
- Pedagang pengumpul Kecil / Kabupaten : menerima informasi dari pedagang pengumpul besar (grosir dan pedagang antar pulau), seperti harga dari jenis pisang, kualitas/mutu, waktu dan jumlah permintaan, daerah sentra produksi yang sedang panen, pesaing dan kondisi pasar pada umumnya.
- Pedagang pengumpul besar : merupakan sumber informasi dalam SCM pisang.
Memberikan informasi perkembangan dan kondisi pasar kepada semua pemangku amanat ( stakeholder) seperti harga jual dan beli dari jenis pisang, kebutuhan terhadap jenis pisang tertentu, kualitas / mutu pisang yang dibutuhkan, waktu dan jumlah permintaan, daerah sentra produksi yang sedang panen, pesaing, prediksi permintaan dan kondisi pasar pada umumnya.
Sedangkan informasi yang diterima berasal dari supermarket, toko buah dan pengecer. Informasi yang diterima berupa tingkat permintaan, harga jual, jenis dan mutu pisang, pesaing, daerah/kawasan penjualan dan pinjaman (kredit).
- Pengecer kecil (Kios, Asongan, Toko/ kedai Buah) : menerima informasi dari pedagang pengumpul besar (grosir) berupa informasi tentang harga, jenis, kualitas/mutu, dan tingkat permintaan, ketersediaan pisang, pinjaman modal, konsumen, dan daerah / kawasan perdagangan.
- Processing : menerima informasi dari pedagang pengumpul besar (grosir) berupa informasi tentang harga, jenis, kualitas/mutu, dan ketersediaan pisang.
- Supplier (Supermarket, Toko Buah Besar dan Hyperstore) : menerima informasi dari pedagang pengumpul besar (grosir) berupa informasi tentang harga, jenis, kualitas/mutu, dan tingkat permintaan, ketersediaan pisang, pinjaman modal, konsumen, dan daerah / kawasan perdagangan. Sedangkan informasi yang diberikan berupa harga, jenis, kualitas/mutu, dan tingkat permintaan.
- Konsumen : menerima informasi tentang harga, jenis, dan kualitas/mutu.
PEDAGANG PENGUMPUL BESAR
PETANI
pul kecil
PETANI PETANI PETANI PETANI
Pencari Pencari Wholesaler
(Pasar Pisang Cengkareng)
Street vendor Processing (price sensitive buyers)
Chain Store supplier C O N S U M E R S
Pedagang pengum
Gambar 4.2. Aliran Informasi
Sumber : Direktorat Tanaman Buah. Ditjen. BPH. Deptan.
4.5 Data Responden.
Analisis pengolahan data dalam penelitian ini akan dipresentasikan dalam bentuk tabel. Data berasal dari kuesioner yang dibagi menjadi 3 bagian yaitu pertanyaan tentang responden, pertanyaan tentang supply chain pisang dan pertanyaan tentang Data dan informasi pada SCM pisang. Data yang didapat dikompilasi menurut kelompok pertanyaan dan diolah berdasarkan jumlah responden yang memilih, bobot terhadap pertanyaan tersebut dan nilai terhadap pertanyaan tersebut, baru kemudian dihitung dan dibuat persentase terhadap pertanyaan tersebut.
4.5.1 Populasi dan Waktu Pengambilan Data.
Data yang didapat dari penyebaran kuesioner berisikan tentang identitas responden, pendidikan, usaha pokok. Jumlah responden yang diwawancarai dan di berikan kuesioner dihitung berdasarkan rumus Slovin (Umar, 2000) didapatkan hasil dengan populasi (N) sebesar 5, dan estimasi ketidaktelitian (e) sebesar 5 %, maka sampel yang akan diambil sebanyak 4 sampel. Waktu wawancara antara bulan Oktober sampai Desember 2004 bertempat di kios-kios grosir pisang.
4.5.2 Data Supply Chain.
Data supply chain merupakan data yang berkaitan dengan pasokan pisang secara langsung. Data tersebut adalah pengiriman (waktu dan cara), transaksi, harga, penanganan pisang, dan kerugian usaha. Dibawah ini disajikan data tersebut.
Tabel 4.1 Informasi pada Kegiatan Pengiriman Pisang.
N0. Kegiatan/Jenis
Jumlah responden
yang memilih
Bobot Skor
Total Skor (Rs*Bs)
Persen- tase
(%) 1 Waktu Pengiriman 4 4 16 36.4
2 Cara Pengiriman 2 3 6 13.6
3 Alat Pengangkutan 3 2 6 13.6 4 Biaya Pengangkutan 4 4 16 36.4
Total 44 100.0
Dari data ini didapatkan bahwa dalam pengiriman pisang waktu dan biaya pengangkutan (transportasi) sangat penting dalam SCM pisang dengan total skor 16 atau 36,4%, kemudian diikuti oleh cara pengiriman dan alat pengangkutan dengan total skor 6 atau 13,6%.
Tabel 4.2 Informasi pada Kegiatan Transaksi
N0. Kegiatan/Jenis
Jumlah responden
yang memilih
Bobot Skor
Total Skor (Rs*Bs)
Persen- tase
(%) 1 Jumlah Transaksi 3 3 9 36.0 2 Waktu Pembayaran 4 4 16 64.0
Total 25 100.0
Dari data ini didapatkan bahwa waktu pembayaran sangat penting dalam SCM pisang dengan total skor 16 atau 64,0%, kemudian diikuti oleh jumlah transaksi dengan total skor 9 atau 36,0%.
Tabel 4.3 Informasi yang Berkaitan dengan Harga Pisang
N0. Tingkat Pengaruh
Jumlah responden
yang memilih
Bobot Skor
Total Skor (Rs*Bs)
Persen- tase
(%)
1 Harga Jual 4 4 16 57.1
2 Harga Beli 2 3 6 21.4
3 Cara Pembayaran 3 2 6 21.4
Total 28 100.0
Dari data ini didapatkan bahwa harga pisang sangat penting karena terkait dengan tingkat keuntungan, total skor harga jual adalah sebesar 16 atau 57,1 %, kemudian diikuti oleh harga beli dan cara pembayaran dengan total skor masing-masing 6 atau 21,4%.
Tabel 4.4 Informasi pada Kegiatan Penanganan Pisang.
N0. Kegiatan/Jenis
Jumlah responden
yang memilih
Bobot Skor
Total Skor (Rs*Bs)
Persen- tase
(%)
1 Penimbangan 4 4 16 29.1
2 Pemilahan 3 3 9 16.4
3 Penyortiran 3 2 6 10.9
4 Pemeraman 4 4 16 29.1
5 Pendinginan 2 4 8 14.5
Total 55 100.0
Dari data ini didapatkan bahwa penimbangan dan pemeraman sangat penting dalam penanganan pisang dengan total skor masing-masing 16 atau 29,1%, kemudian diikuti oleh pemilahan dengan total skor 9 atau 16,4%, diikuti perlakuan pendinginan dengan total skor 8 atau 14,5% dan penyortiran dengan total skor 6 atau 10,9%.
Tabel 4.5 Informasi Kerugian Usaha
N0. Kegiatan/Jenis
Jumlah responden
yang memilih
Bobot Skor
Total Skor (Rs*Bs)
Persen- tase
(%)
1 Pengangkutan 4 4 16 55.2
2 Pembongkaran 2 2 4 13.8
2 Waktu Tunggu 3 3 9 31.0
Total 29 100.0
Dari data ini didapatkan bahwa kerugian usaha yang sangat penting untuk diperhatikan adalah pada tahap pengangkutan dengan total skor 16 atau 55,2%, kemudian diikuti oleh waktu tunggu sebelum terjadi transaksi jual beli dengan total skor 9 atau 31,0% dan pembongkaran dengan total skor 4 atau 13,8%.
4.5.3 Informasi/ Data.
Data/informasi merupakan bentuk data yang berkaitan dengan informasi yang penting dalam SCM pisang. Data tersebut terdiri dari modal usaha, jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan, informasi dari pengumpul, informasi tentang konsumen, kehilangan hasil dan masalah yang banyak ditemui oleh pedagang grosir. Dibawah ini disajikan data tersebut.
Tabel 4.6 Informasi Modal Usaha
N0. Kegiatan/Jenis
Jumlah responden
yang memilih
Bobot Skor
Total Skor (Rs*Bs)
Persen- tase
(%)
1 Jumlah Modal 4 4 16 59.3
2 Asal Modal 3 3 9 33.3
3 Bunga modal 1 2 2 7.4
Total 27 100.0
Dari data ini didapatkan bahwa jumlah modal sangat penting dalam menjalankan usaha dengan total skor 16 atau 59,3%, kemudian diikuti oleh asal modal dengan total skor 9 atau 33,3%, diikuti bunga modal dengan total skor 2 atau 7,4%.
Tabel 4.7 Informasi Tenaga Kerja
N0. Tingkat Pengaruh
Jumlah responden
yang memilih
Bobot Skor
Total Skor (Rs*Bs)
Persen- tase
(%) 1 Jumlah Tenaga Kerja 2 3 6 33.3
2 Tingkat Upah 3 4 12 66.7
Total 18 100.0
Dari data ini didapatkan bahwa pada komponen tenaga kerja yang penting adalah tingkat upah tenaga kerja dengan total skor 12 atau 66,7%, diikuti oleh jumlah tenaga kerja dengan total skor 6 atau 33,3%.
Tabel 4.8 Informasi dari Pengumpul Pisang
N0. Kegiatan/Jenis
Jumlah responden
yang memilih
Bobot Skor
Total Skor (Rs*Bs)
Persen- tase
(%)
1 Harga Jual 4 4 16 28.6
2 Jenis Pisang 3 2 6 10.7
3 Mutu Pisang 4 4 16 28.6
4 Waktu Pengiriman 3 3 9 16.1
5 Komoditas Lain 3 3 9 16.1
Total 56 100.0
Dari data ini didapatkan bahwa informasi dari pengumpul yang sangat penting dibutuhkan adalah harga jual dan mutu pisang dengan total skor masing-masing 16 atau 28,6%, kemudian waktu pengiriman dan panen komoditas lain sebagai pesaing pisang
dengan total skor masing-masing 9 atau 16,1%, dan jenis pisang dengan total skor 6 atau 10,7%.
Tabel 4.9 Informasi tentang Konsumen
N0. Kegiatan/Jenis
Jumlah responden
yang memilih
Bobot Skor
Total Skor (Rs*Bs)
Persen- tase
(%)
1 Individu 2 3 6 11.5
2 Ped. Eceran 4 4 16 30.8
3 Supermarket 3 3 9 17.3
4 Toko Buah 3 3 9 17.3
5 Katering / Resto 4 3 12 23.1
Total 52 100.0
Dari data ini didapatkan bahwa informasi tentang konsumen yang penting adalah konsumen dari kelompok pedagang eceran dengan total skor 16 atau 30,8%, diikuti oleh katering / restoran / rumah makan dengan total skor 12 atau 23,1%, kemudian Toko buah dan supermarket dengan total skor 9 atau 17,3% dan individu dengan total skor 6 atau 11,5%.
Tabel 4.10 Informasi tentang Kehilangan Hasil
N0. Kegiatan/Jenis
Jumlah responden
yang memilih
Bobot Skor
Total Skor (Rs*Bs)
Persen- tase
(%)
1 Jumlah Buah 4 4 16 64.0
2 Waktu tunggu 3 3 9 36.0
Total 25 100.0
Dari data ini didapatkan bahwa kehilangan hasil (buah pisang) yang sangat penting berasal dari jumlah buah (stock) dengan total skor 16 atau 64,0%, kemudian waktu tunggu hingga buah pisang terjual dengan total skor 9 atau 36,0%.
Tabel 4.11 Informasi tentang Masalah yang Banyak Ditemui
N0. Kegiatan/Jenis
Jumlah responden
yang memilih
Bobot Skor
Total Skor (Rs*Bs)
Persen- tase
(%)
1 Tingkat penjualan 4 4 16 28.6
2 Waktu Tunggu 3 3 9 16.1
3 Pembayaran dari konsumen 4 4 16 28.6 4 Keterlambatan Pengiriman 3 3 9 16.1
5 Umur Panen Pisang 2 3 6 10.7
Total 56 100.0
Dari data ini didapatkan bahwa masalah yang banyak ditemui adalah tingkat penjualan dan pembayaran dari konsumen dengan total skor masing-masing 16 atau 28,6%, kemudian diikuti oleh keterlambatan pengiriman dan waktu tunggu dengan total skor masing-masing 9 atau 16,1%, diikuti oleh umur panen pisang dengan total skor 6 atau 10,7%.
4.6 Pembahasan.
Data di atas diolah menurut metode PARETO sehingga didapatkan hasil kompilasi sebagai berikut :
Pada kegiatan pengiriman pisang informasi sangat penting yang diperlukan adalah waktu pengiriman dan biaya pengakutan karena waktu pengiriman sangat berpengaruh pada harga jual dan mutu produk, sedangkan data / informasi yang sangat penting
mengenai harga adalah mengenai harga jual yang sangat terkait dengan tingkat keuntungan.
Tabel 4.12 Kompilasi Informasi yang Sangat Penting pada SCM Pisang
N0. Jenis Kegiatan Total Skor Persentase 1 Waktu pengiriman 16 36,4 2 Biaya pengangkutan 16 36,4
3 Harga jual 16 57,1
4 Waktu pembayaran 16 64,0
5 Penimbangan 16 29,1
6 Pemeraman 16 29,1
7 Pengangkutan 16 55,2
Pada kegiatan transaksi yang sangat penting dan berperan strategis pada kegiatan SCM adalah jumlah transaksi, sedangkan dalam penanganan pisang titik kegiatan yang menentukan adalah penimbangan dan pemeraman, sedangkan yang mempengaruhi kerugian usaha adalah pengangkutan.
Tabel 4.13 Kompilasi Informasi yang Sangat Penting bagi Pedagang Grosir
N0. Jenis Kegiatan
Total
Skor Persentase
1 Jumlah modal 16 59,3
2 Tingkat upah 12 66,7
3 Harga jual 16 28,6
4 Mutu pisang 16 28,6
5 Pedagang eceran 16 30,8 6 Jumlah buah (stock) 16 64,0 7 Tingkat penjualan 16 28,6 8 Pembayaran konsumen 16 28,6
Informasi / data yang sangat penting dan dibutuhkan oleh pedagang grosir pisang mengenai modal usaha adalah jumlah modal, sedangkan pada tenaga kerja yang berperan
sangat penting adalah data dan informasi mengenai tingkat upah tenaga kerja. Sedangkan informasi dari pengumpul, data dan informasi yang sangat penting berperan adalah mengenai harga jual dan mutu pisang. informasi dan data yang sangat penting mengenai konsumen adalah data dan informasi terhadap pedagang eceran karena waktu pembayaran yang tunai atau tenggang waktu sehari memberikan kontribusi keuntungan yang baik disamping jumlah pedagang eceran dan jumlah transaksi yang banyak.
Kehilangan hasil yang sering dialami berasal dari jumlah buah yang ada (stock) karena sifat pisang yang mudah rusak (tidak tahan simpan), maka kerugian yang banyak dialami berasal dari stock buah pisang yang dimiliki. Masalah yang banyak ditemui berasal dari pengangkutan dan waktu tunggu.
Data dan informasi pada kegiatan / jenis aktivitas yang sangat penting banyak ditemui dalam perdagangan ini adalah tingkat penjualan dan pembayaran dari konsumen karena tingkat penjualan sangat berpengaruh pada pendapatan pedagang sedangkan pembayaran konsumen berperan penting dalam hal waktu dan cara pembayarannya yang mempengaruhi operasional perdagangan secara keseluruhan.
Dari pengolahan data di atas dibuat matrik berdasarkan analisa SWOT sehingga data dan informasi yang diolah tersebut dikelompokkan kedalam matrik SWOT yang selanjutnya diolah berdasarkan bobot dan rating.
a. Kekuatan
- Harga jual yang bersaing dengan pedagang lain
- Pembayaran kepada pemasok berdasarkan penimbangan buah pisang
- Hubungan usaha yang saling membutuhkan antara pedagang eceran dan pedagang grosir
Data di atas diolah berdasarkan kuesioner yang didapat sebagai berikut :
Tabel 4. 14. Analisa Faktor Kekuatan
N0. Kegiatan/Jenis Bobot Rating Skor pembobotan
1 Harga jual 0.75 4 3.0
2 Penimbangan 0.1 2 0.2
3 Pedagang eceran 0.15 3 0.5
Total 1 3.7
Keterangan : Nilai rating 4,0 = sangat menonjol, 3,0 = menonjol, 2,0 = tidak menonjol, dan 1,0 = sangat tidak menonjol
Hasil perhitungan dari tabel di atas, menunjukkan bahwa harga jual memiliki bobot yang paling besar yaitu 3,0 dibandingkan pedagang eceran 0,5 dan kegiatan penimbangan sebesar 0,2. Sedangkan total faktor kekuatan sebesar 3,7.
b. Kelemahan
- Jumlah modal yang dimiliki - Mutu pisang yang dijual - Kegiatan pengangkutan
Data di atas diolah berdasarkan kuesioner yang didapat sebagai berikut :
Tabel 4. 15. Analisa Faktor Kelemahan
N0. Kegiatan/Jenis Bobot Rating Skor pembobotan
1 Jumlah modal 0.6 3 1.8
2 Mutu pisang 0.15 2 0.3
3 Kegiatan pengangkutan 0.25 3 0.8
Total 1 2.9
Keterangan : Nilai rating 4,0 = sangat menonjol, 3,0 = menonjol, 2,0 = tidak menonjol, dan 1,0 = sangat tidak menonjol
Hasil perhitungan dari tabel di atas, menunjukkan bahwa pada analisa kelemahan jumlah modal memiliki bobot yang paling besar yaitu 1,8 dibandingkan kegiatan pengangkutan sebesar 0,8 dan mutu pisang sebesar 0,3. Sedangkan total faktor kelemahan sebesar 2,9.
c. Peluang.
- Waktu pembayaran dari konsumen yang mempengaruhi operasional usaha - Tingkat upah tenaga kerja yang lebih murah
- Kegiatan pemeraman yang menentukan daya simpan dan mutu pisang yang dijual
Data di atas diolah berdasarkan kuesioner yang didapat sebagai berikut :
Tabel 4. 16. Analisa Faktor Peluang
N0. Kegiatan/Jenis Bobot Rating Skor pembobotan 1 Waktu pembayaran 0.5 4 2.0 2 Tingkat upah 0.25 2 0.5 3 Kegiatan pemeraman 0.25 2 0.5
Total 1 3.0
Keterangan : Nilai rating 4,0 = sangat menonjol, 3,0 = menonjol, 2,0 = tidak menonjol, dan 1,0 = sangat tidak menonjol
Hasil perhitungan dari tabel di atas, menunjukkan pada anlisa faktor peluang bahwa waktu pembayaran memiliki bobot yang paling besar yaitu 2,0 dibandingkan kegiatan pemeraman sebesar 0,5 dan tingkat upah sebesar 0,5. Sedangkan total faktor peluang sebesar 3,0.
d. Ancaman
- Waktu pengiriman pisang dari pemasok ke grosir
- Besarnya biaya pengakutan (transportasi) yang dibayarkan.
- Jumlah buah yang dimiliki oleh grosir
- Tingkat penjualan yang dapat dicapai.
- Pembayaran dari konsumen terhadap buah pisang yang dibeli.
Data di atas diolah berdasarkan kuesioner yang didapat sebagai berikut :
Tabel 4. 17. Analisa Faktor Ancaman
N0. Kegiatan/Jenis Bobot Rating Skor pembobotan 1 Waktu pengiriman 0.15 3 0.5 2 Biaya pengangkutan 0.2 2 0.4
3 Jumlah buah 0.25 3 0.8
4 Tingkat penjualan 0.25 4 1.0 5 Pembayaran konsumen 0.15 2 0.3
Total 1 2.9
Keterangan : Nilai rating 4,0 = sangat menonjol, 3,0 = menonjol, 2,0 = tidak menonjol, dan 1,0 = sangat tidak menonjol
Hasil perhitungan dari tabel di atas, menunjukkan bahwa dari analisis ancaman, maka tingkat penjualan memiliki bobot yang paling besar yaitu 1,0 dibandingkan jumlah buah sebesar 0,8, kemudian waktu pengiriman dengan skor pembobotan sebesar 0,5, biaya pengangkutan sebesar 0,4 dan pembayaran konsumen sebesar 0,3. Sedangkan total faktor ancaman sebesar 2,9.
Berdasarkan total skor yang didapat dari hasil pembobotan menunjukkan bahwa lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan) bobot skornya lebih tinggi dibandingkan lingkungan eksternal (peluang dan ancaman). Hal ini menunjukkan bahwa dukungan informasi pada SCM pisang masih mempunyai potensi untuk ditingkatkan dalam rangka peningkatan kegunaan (manfaat) dan nilai tambah (value added).
Setelah melakukan analisis terhadap faktor internal dan eksternal, diperoleh beberapa asumsi sebagai berikut :
a. Harga jual yang ditetapkan oleh pedagang grosir dapat memberikan tingkat keuntungan bagi konsumen.
b. Jumlah modal yang dimiliki oleh pedagang grosir belum mencukupi untuk dapat membiayai perdagangan pisang secara baik.
c. Kegiatan pengangkutan memerlukan waktu yang panjang d. Pedagang eceran yang aktive melakukan perdagangan keliling.
Dari data dan informasi di atas dilakukan pengolahan data lanjutan untuk dapat mengetahui tingkat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.
Setelah diketahui strategi S-O, S-T, W-O dan W-T, maka tahapan berikutnya adalah menetapkan faktor kunci keberhasilan (FKK) dengan menetapkan urutan prioritas terhadap informasi yang ada. Informasi yang ada tersebut diharapkan memiliki kegunaan dan nilai tambah yang tinggi untuk mendukung kegiatan SCM pisang. Untuk itu informasi di atas dianalisis dengan menetapkan faktor kunci keberhasilan terhadap strategi yang diambil tersebut. Dibawah ini disajikan kaitan antara strategi SWOT dengan kegunaan (manfaat) dan peningkatan nilai tambah dari informasi tersebut.
Hasil matrik di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Faktor Kunci Keberhasilan informasi pada SCM pisang berdasarkan kegunaan (manfaat) dan nilai tambah adalah : 1. Memberikan informasi tentang harga jual pisang secara berkesinambungan.
2. Menggunakan teknologi pemeraman yang lebih baik.
3. Memberikan informasi tentang tentang volume dan waktu kebutuhan pisang 4. Memberikan informasi tentang standar mutu pisang yang diinginkan kepada
pemasok
5. Memberikan informasi mengenai jadwal pengiriman dan tingkat harga beli pisang yang menguntungkan.
6. Memberikan informasi tentang mutu pisang yang dijual
7. Memberikan informasi mengenai waktu pembayaran ke pemasok 8. Memberikan informasi mengenai insentif kepada pengecer berbentuk
potongan harga atau lainnya
Tabel 4. 18 Matriks Strategi SWOT pada SCM Pisang.
Kekuatan (Strengths) 1. Harga jual yang bersaing.
2. Proses penimbangan yang lebih cepat
3. Pedagang eceran yang aktive
2. Mutu pisang yang rendah 3. Kegiatan pengangkutan
memerlukan waktu yang panjang.
Peluang (Opportunities) Strategi S-O : Strategi W-O : 1. Waktu pembayaran
yang lebih singkat 2. Tingkat upah yang
lebih murah
3. Kegiatan pemeraman yang lebih baik.
1. Memberikan informasi tentang harga jual pisang secara berkesinambungan.
2. Penggunaan teknologi pemeraman yang lebih baik
1. Memberikan informasi
mengenai waktu pembayaran ke pemasok.
2. Memberikan informasi tentang standar mutu pisang yang diinginkan kepada pemasok.
Ancaman (Threats) Strategi S-T : Strategi W-T :
2. Biaya pengakutan yang mahal
3. Banyaknya jumlah buah digudang
4. Tingkat penjualan yang rendah
5. Banyaknya pembayaran tunda.
1. Memberikan informasi tentang volume dan waktu kebutuhan pisang.
2. Memberikan informasi mengenai insentif kepada pengecer berbentuk potongan harga atau lainnya.
1. Memberikan informasi
mengenai jadwal pengiriman pisang dan
tingkat harga beli yang menguntungkan.
2. Memberikan informasi tentang mutu pisang yang dijual.
Kelemahan (Weaknesses) 1. Jumlah modal belum
mencukupi Internal
Eksternal
1. Waktu pengiriman yang lambat.
Tabel 4. 19 Penetapan Faktor Kunci Keberhasilan Informasi pada SCM Pisang
Keterkaitan dengan No. S T R A T E G I
Kegunaan
Nilai tambah
Skor FKK
Urutan FKK
Strategi S-O
1 Memberikan informasi tentang harga jual pisang secara
berkesinambungan. 4 4 4 3 4 4 23 1
2 Menggunakan teknologi pemeraman yang lebih baik 4 3 3 4 3 4 21 2
Strategi W-O
1 Memberikan informasi mengenai waktu pembayaran
ke pemasok 4 2 2 4 3 2 17 7
2 Memberikan informasi tentang standar mutu pisang
yang diinginkan dari pemasok 3 4 2 3 3 4 19 4
Strategi S-T
1 Memberikan informasi tentang volume dan waktu
kebutuhan pisang 4 4 3 3 4 2 20 3
2 Memberikan informasi mengenai insentif kepada
pengecer berbentuk potongan harga atau lainnya 4 2 2 3 2 3 16 8
Strategi W-T
1 Memberikan informasi mengenai jadwal pengiriman
pisang dan tingkat harga beli yang menguntungkan 4 3 2 3 4 2 18 5 2 Memberikan informasi tentang mutu pisang yang dijual 3 4 2 2 2 4 17 6