BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. masalah dari penelitian ini. Sub bab yang akan dibahas pada bab ini adalah,

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan diuraikan mengenai hasil dan pembahasan dari data- data yang diperoleh di lapangan. Data tersebut telah disesuaikan dengan rumusan masalah dari penelitian ini. Sub bab yang akan dibahas pada bab ini adalah, gambaran umum Kecamatan Denpasar Barat, kondisi infrastruktur permukiman kumuh di Kecamatan Denpasar Barat, proses pengadaan infrastruktur dan pihak- pihak yang terkait didalamnya, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi infrastruktur tersebut.

4.1 Gambaran Umum Kecamatan Denpasar Barat

Kecamatan Denpasar Barat berada pada bagian barat wilayah Kota Denpasar yang merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kotamadya Denpasar, dengan luas wilayah 2.413 Ha.

4.1.1 Kondisi geografis Kecamatan Denpasar Barat

Kecamatan Denpasar Barat terletak pada 08036’24”-08041’59” lintang selatan dan 115010’23”-115014’14” bujur timur. Adapun batas-batas Kecamatan Denpasar Barat adalah sebagai berikut:

1) Utara : Kecamatan Denpasar Utara dan Kecamatan Mengwi 2) Barat : Kecamatan Kuta Utara

3) Selatan : Kecamatan Kuta dan Denpasar Selatan

4) Timur : Kecamatan Denpasar Timur dan Denpasar Utara

(2)

Gambar 4.1 Peta orientasi Kecamatan Denpasar Barat

Sumber : Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Denpasar Barat tahun 2010

(3)

Gambar 4.2 Peta administrasi Kecamatan Denpasar Barat

Sumber : Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Denpasar Barat tahun 2010

(4)

Bentuk lahan di Kecamatan Denpasar Barat berupa relief datar dan dataran fluvial dengan ketinggian tempat antara 0-25 m dpl. Seluruh wilayah Kota Denpasar beriklim tropis sehingga hanya dikenal dua musim, yaitu musim hujan bulan Oktober-April dan musim kemarau bulan April-Oktober. Jumlah curah hujan tahun 2005 sekitar 1819 mm, dengan curah hujan bulanan berkisar antara 3-425 mm dan rata-rata 151,6 mm. Temperatur rata-rata pada tahun 2005 berkisar antara 25,4 º C-28,7 º C.

Berdasarkan aspek geologi dan tata lingkungan, kawasan ini cukup aman dari bahaya erosi yang relatif kecil karena wilayahnya relatif datar. Namun karena kawasan memiliki cekungan terutama di Kawasan Pemecutan Kelod, maka aliran drainase menumpuk pada kawasan tersebut, sehingga selalu mengalami genangan bila terjadi hujan. Jenis tanah kawasan terdiri dari latosol coklat kekuningan yang penyebarannya menempati hampir seluruh kawasan.

Sistem Sungai yang terdapat di Kecamatan Denpasar Barat merupakan bagian dari sungai di wilayah Kota Denpasar dan wilayah Kabupaten Badung.

Sungai-sungai di Kecamatan Denpasar Barat terdiri atas:

a) Sistem Tukad Mati dengan anak-anak sungainya mencakup Tukad Tebe, Pangkung Kedompang, Tukad Lebak Muding, Pangkung Subak Srogsogan, Pangkung Danu.

b) Sistem Tukad Badung dengan anak sungainya mencakup Tukad Jurang, Tukad Langon, Tukad Medih, Tukad Rarangan.

Berdasarkan peta hidrogeologi Bali, wilayah Kecamatan Denpasar Barat

memiliki kandungan air tanah yang mepunyai kandungan setempat 10 lt/det.

(5)

Keterdapatan mata air di Kecamatan Denpasar Barat ditemukan di daerah aliran sungai pada bagian hulu dan tengah Tukad Badung dan bagian hulu Tukad Mati dengan debit yang relatif kecil namun mempunyai kontribusi yang nyata terhadap kontinuitas aliran sungai yang mewadahi. Manfaat mata air tersebut terutama adalah untuk fungsi sebagai pebejian (pemandian), dan pemasok air minum yang langsung dimanfaatkan oleh lingkungan pemukiman serta untuk pengambilan air suci di campuhan Tukad Badung dengan Tukad Ayung.

4.1.2 Kondisi demografi Kecamatan Denpasar Barat

Kecamatan Denpasar Barat terdiri dari 3 kelurahan dan 8 desa yaitu, Kelurahan Padang Sambian, Kelurahan Pemecutan, Kelurahan Dauh Puri, Desa Pemecutan Klod, Desa Padang Sambian Kaja, Desa Padang Sambian Klod, Desa Dauh Puri Kangin, Desa Dauh Puri Klod, Desa Dauh Puri Kauh, Desa Tegal Kerta, dan Desa Tegal Harum. Kecamatan Denpasar Barat juga terbagi atas 98 banjar adat yang tersebar pada masing-masing desa ataupun kelurahan, serta terdiri dari 111 banjar/dusun/lingkungan.

Tabel 4.1 Jumlah dusun/lingkungan di Kecamatan Denpasar Barat

No Desa/

Kelurahan

Luas (Ha)

Jumlah Dusun/Lingkungan

1 Desa Padang Sambian Klod 412 12

2 Desa Pemecutan Klod 450 15

3 Desa Dauh Puri Kauh 190 7

4 Desa Dauh Puri Klod 188 11

5 Kelurahan Dauh Puri 60 8

6 Desa Dauh Puri Kangin 59 5

7 Kelurahan Pemecutan 186 15

8 Desa Tegal Harum 50 8

9 Desa Tegal Kertha 35 8

10 Kelurahan Padang Sambian 374 13

11 Desa Padang Sambian Kaja 409 9

(6)

Berdasarkan registrasi penduduk Kecamatan Denpasar Barat tahun 2011, jumlah penduduk di Kecamatan Denpasar Barat adalah 234.182 jiwa, terdiri dari 119.846 jiwa laki-laki dan 114.336 jiwa perempuan. Kepadatan penduduk di Kecamatan Denpasar Barat pada tahun 2011 adalah 9.705 jiwa/km². Pertumbuhan penduduk cukup tinggi terutama disebabkan oleh mutasi penduduk dari luar Kota Denpasar sebagai kensekuensi dari ditetapkannya kawasan Denpasar Barat sebagai pusat pengembangan permukiman dan perumahan. Pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Denpasar, Kecamatan Denpasar Barat ditetapkan antara lain sebagai Kawasan Perdagangan Regional, Kawasan Pengembangan Permukiman (1.358,86 Ha) dan Kawasan Terbuka Hijau (Profil Kecamatan Denpasar Barat, 2011).

Tabel 4.2 Jumlah penduduk di Kecamatan Denpasar Barat tahun 2011

No. Desa/ Kelurahan

Luas Wilayah

(km²)

Rumah Tangga

Jumlah Penduduk

Kepadatan Penduduk

per km² 1 Kelurahan Padang Sambian 3,70 10 131 36 404 9 838,92

2 Kelurahan Pemecutan 1,86 5 954 21 536 11 578,49

3 Kelurahan Dauh Puri 0,60 2 712 9 255 15 425,00

4 Desa Pemecutan Klod 4,42 14 777 46 494 10 519,00

5 Desa Padang Sambian Kaja 4,09 5 970 20 923 5 115,65 6 Desa Padang Sambian Klod 4,12 6 994 24 365 5 913,83

7 Desa Dauh Puri Kangin 0,59 1 061 3 671 6 222,03

8 Desa Dauh Puri Kauh 1,90 7 363 22 097 11 630,00

9 Desa Dauh Puri Klod 1,88 4 868 15 445 8 215,43

10 Desa Tegal Kerta 0,35 5 686 20 412 58 320,00

11 Desa Tegal Harum 0,62 3 534 13 580 21 903,23

TOTAL : 24,13 69 050 234 182 9 705,01

Sumber : Denpasar Barat dalam Angka 2012

Berdasarkan RDTR Kecamatan Denpasar Barat tahun 2010, laju

pertumbuhan penduduk Kota Denpasar adalah 1.94%/thn, sedangkan laju

pertumbuhan penduduk Kecamatan Denpasar Barat lebih kecil dari rata-rata Kota

(7)

Denpasar yaitu 1,86%/thn. Desa/kelurahan yang paling tinggi laju pertumbuhannya adalah Kelurahan Dauh Puri, Desa Padang Sambian kelod, Desa Tegal Harum dan Desa Tegal Kertha. Selanjutnya berdasarkan hasil proyeksi, maka jumlah penduduk Kota Denpasar tahun 2030 adalah 710.212 jiwa dan untuk Kecamatan Denpasar Barat dipekirakan adalah 131.927 jiwa.

Gambar 4.3 Peta pemanfaatan ruang Kecamatan Denpasar Barat tahun 2010 Sumber : Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Denpasar Barat

tahun 2010

(8)

4.1.3 Kondisi infrastruktur Kecamatan Denpasar Barat

Secara garis besar kondisi infrastruktur di Kecamatan Denpasar Barat dibagi menjadi beberapa aspek yaitu jaringan transportasi, jaringan air bersih, jaringan drainase, pengelolaan limbah, serta persampahan. Berikut adalah jabaran dari masing-masing aspek infrastruktur tersebut:

1. Transportasi

Sistem transportasi di Kecamatan Denpasar Barat merupakan bagian dari sistem transportasi Kota Denpasar, Kawasan Metropolitan Sarbagita dan Provinsi Bali. Dengan demikian di wilayah Kecamatan Denpasar Barat terdapat jaringan jalan nasional, jaringan jalan provinsi dan jaringan jalan kota.

Perkembangan panjang jalan dan kondisi jalan di Kecamatan Denpasar

Barat cukup pesat, hal ini disebabkan antara lain dengan dibukanya land

consolidation di wilayah Kecamatan Denpasar Barat. Seluruh desa/kelurahan

serta dusun/banjar di Kecamatan Denpasar Barat sudah dapat dijangkau oleh

kendaraan dengan kondisi jalan yang cukup baik.

(9)

Gambar 4.4 Jaringan jalan Kecamatan Denpasar Barat tahun 2010 Sumber : RDTR Kecamatan Denpasar Barat tahun 2010

(10)

2. Jaringan air bersih

Jaringan air bersih di Kota Denpasar dilayani Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Denpasar dan sebagian PDAM Badung. Tingkat pelayanan PDAM Denpasar tahun 2006 mencapai 44% atau 266.620 jiwa yang meliputi 53.324 Sambungan Rumah dari total 61.887 sambungan. Sisanya masih menggunakan sumur pompa dan sumur.

Sumber air baku PDAM Denpasar berasal dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) dan sumur dalam. IPA dilayani oleh IPA Ayung-3 dengan kapasitas 550 lt/dt dan IPA Waribang kapasitas 150 lt/dt. Sumur dalam dilayani 14 buah sumur bor PDAM. Kapasitas total jaringan PDAM Denpasar adalah 1.115 lt/dt.

Kota Depasar sebagai kota yang sangat berkembang, kota Inti dari Kawasan Metropolitan Sarbagita, dan Kota Pariwisata Internasional akan membutuhkan tingkat pelayanan air bersih yang mencukupi di masa datang, sesuai proyeksi peningkatan jumlah penduduk, serta untuk mengakomodasi kebutuhan penduduk pendatang dan wisatawan yang ada di Kota Denpasar.

Dengan demikian perlu diantisipasi kebutuhan air bersih sampai tahun 2026.

Untuk memperkirakan kebutuhan air bersih penduduk di Kota Denpasar pada akhir tahun perencanaan dihitung berdasarkan standar dan asumsi kebutuhan air bersih di kawasan perkotaan dan modifikasi, yaitu:

a) Standar kebutuhan air bersih perkotaan untuk kebutuhan domestik adalah 150 liter/orang/hari.

b) Kebutuhan air untuk kegiatan perdagangan dan jasa/perkantoran

diasumsikan sebesar 10% dari kebutuhan domestik.

(11)

c) Kebutuhan air untuk kegiatan kepariwisataan diasumsikan sebesar 20%

dari kebutuhan domestik.

d) Kebutuhan air untuk fasilitas sosial diasumsikan sebesar 10% dari kebutuhan domestik.

e) Faktor kehilangan air bersih akibat kebocoran yaitu 20% dari total keseluruhan.

3. Jaringan drainase

Sistem drainase di Kecamatan Denpasar Barat terdiri dari 2 sistem pembuangan utama (primer) yaitu :

a. Sistem I (sistem saluran pembuangan Tukad Badung)

Sistem pembuangan I yaitu sistem Tukad Badung dengan Saluran Induk Tukad Badung, batas-batas sistem ini adalah sebelah utara adalah batas Kota

Denpasar, sebelah selatan Tukad Klandis dan Pantai Suwung, sebelah timur JI.

Nangka dan Tukad Klandis, sebelah Barat Jl. Cokroaminoto dan JI. Imam Bonjol.

Sistem I (Tukad Badung) ini terdiri dari beberapa sub sistem yaitu:

1) Sub sistem Tukad Klandis, dengan daerah layanan meliputi Desa Sumerta Kaja, Kelurahan Dangin Puri Kangin, Kelurahan Dangin Puri Kauh, Kelurahan Dangin Puri Kaja.

2) Sub sistem Tukad Jurang, dengan daerah layanan meliputi Kelurahan

Peguyangan (sebelah Barat Jalan Ahmad Yani), Desa Ubung Kaja,

Kelurahan Dangin Puri Kaja, Desa Pemecutan Kaja.

(12)

3) Sub sistem, Tukad Medih, dengan daerah layanan meliputi Desa Peguyangan Kaja, Kelurahan Peguyangan, Kelurahan Tonja, Kelurahan Dangin Puri kaja, Jalan Gatot Subroto dan sekitarnya.

4) Sub sistem Tukad Badung Hilir, dengan daerah layanan meliputi Desa Pemecutan, Desa Pemecutan Kelod, Desa Pemogan, Desa Dauh Puri Kelod, Desa Dauh Puri.

b. Sistem III (sistem saluran pembuangan Tukad Mati)

Sistem pembuangan III adalah sistem Tukad Mati dengan saluran induk Tukad Mati dengan sub sistem Tukad Teba, Tukad Mati Hulu dan Tukad Mati

Hilir. Batas sistem ini adalah sebelah utara Jalan Cokroaminoto, sebelah selatan Pantai Suwung, sebelah timur Jalan Cokroaminoto dan Jalan Imam Bonjol, sebelah barat adalah batas Kota Denpasar. Sistem III Tukad Mati tediri dari:

1) Sub sistem Tukad Teba dengan daerah layanan Kawasan perumahan Monang Maning dan sekitarnya, Kelurahan Pemecutan, Desa Ubung.

2) Sub sistem saluran Tukad Padang Sambian, dengan daerah layanan Desa Padang Sambian dan sekitarnya.

3) Sub sistem saluran Jalan Imam Bonjol, dengan daerah layanan Jalan Imam Bonjol dan sekitarnya.

4) Sub sistem saluran Padang Sambian Kelod yang melayani daerah Padang Sambian Kelod dan sekitarnya.

4. Pengolahan limbah

Pengelolaan air limbah rumah tangga saat ini masih berupa penanganan

individual dengan membangun septic tank. Beberapa kegiatan dengan skala besar

(13)

seperti perkantoran, pusat-pusat perdagangan, kawasan perhotelan, rumah sakit sudah menggunakan sistem pengolahan terpusat di lingkungannya sendiri.

Pengelolaan air limbah saat ini sedang dalam tahap konstruksi untuk melayani sebagian wilayah Denpasar (5.326 RT) dan sebagian wilayah Sanur (1.821 RT) melalui Proyek Denpasar Sawage Development Project (DSDP) dengan mengembangkan jaringan air limbah terpusat, dengan lokasi pengolahan di Pemogan seluas 10 Ha.

Pada skala lingkungan atau kolektif, introduksi pengelolaan sanitasi lingkungan (program Sanimas) yang melayani 150-an rumah tangga telah diperkenalkan oleh lembaga non pemerintahan di Banjar Pekandelan, Banjar Balun, serta menyusul di Tegal Kerta.

5. Pengelolaan persampahan

Sumber utama timbulan sampah di kawasan perencanaan yaitu sampah domestik (rumah tangga) dan sampah non domestik meliputi sampah institusional (sekolah, kantor dll.), sampah komersial (pasar, toko, dll.), sampah aktivitas perkotaan (penyapuan jalan, lapangan, dll), sampah klinik, sampah industri, sampah konstruksi, dan lain sebagainya. Sistem penanganan/pengelolaan sampah Kota Denpasar pada umumnya melalui urutan kegiatan sebagai berikut:

a) Pengumpulan

b) Tahap pengangkutan

c) Tahap pembuangan-open dumping

Pemerintah Kota Denpasar beserta Pemerintah Kabupaten/Kota Sarbagita

(14)

Kebersihan Sarbagita (BPKS), yang saat ini tengah dalam persiapan konstruksi Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu (IPST) dengan memakai lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung seluas 10 Ha.

4.2 Kebijakan Terkait Infrastruktur Perkotaan

Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 27 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar Tahun 2011-2031, menyebutkan mengenai kebijakan infrastruktur perkotaan dan ketentuan umum zonasi sistem jaringan infrastruktur perkotaan.

4.2.1 Infrastruktur perkotaan

Pada kebijakan mengenai infrastruktur perkotaan yang akan dipaparkan adalah tentang sistem jaringan jalan, sistem jaringan air minum kota, sistem pengelolaan air limbah kota, sistem persampahan kota, dan sistem drainase kota.

a. Sistem jaringan jalan

Sistem jaringan jalan dan pengembangannya, sebagaimana disebutkan dalam pasal 18 terdiri atas, jalan bebas hambatan, jalan arteri primer, jalan kolektor primer, jalan lokal primer, dan jalan sistem sekunder. Ruang untuk jaringan jalan merupakan ruang yang digunakan untuk ruang pengawasan jalan (ruwasja), ruang milik jalan (rumija) dan ruang manfaat jalan (rumaja) sesuai kriteria dan ketentuan sistem jaringan jalan. Sistem jaringan jalan dikembangkan melalui peningkatan kualitas dan peningkatan kuantitas jaringan jalan.

Peningkatan kualitas jaringan jalan yang dimaksud adalah, (1) pemeliharaan dan

peningkatan kualitas pelayanan jaringan jalan termasuk jembatan dan

(15)

perlengkapannya yang telah ada terdiri dari status jalan nasional, jalan provinsi, dan jalan kota, penegasan fungsi jaringan jalan antara fungsi primer dan fungsi sekunder; dan (2) perkerasan seluruh jaringan jalan sesuai standar berdasarkan status dan fungsinya. Sedangkan peningkatan kuantitas jaringan jalan terdiri atas:

(1) rencana pengembangan jaringan jalan baru untuk memperlancar arus lalu lintas regional dan kawasan perkotaan sarbagita; (2) rencana pengembangan jaringan jalan baru di dalam wilayah Kota Denpasar; dan (3) rencana pengembangan jaringan jalan baru untuk membuka kawasan baru atau jalan penghubung antar lingkungan di dalam wilayah desa/kelurahan.

b. Sistem jaringan air minum kota

Pada pasal 29 mengenai sistem jaringan air minum kota, menyebutkan

bahwa sistem jaringan air minum kota terdiri dari (1) pengembangan kapasitas

terpasang pada sistem penyediaan air minum kota; dan (2) pemerataan jaringan

distribusi ke pelanggan. Pengembangan kapasitas terpasang pada sistem

penyediaan air minum kota, dilaksanakan melalui: (a) peningkatan pelayanan

instalasi pengolahan air (IPA) yang telah ada terdiri atas IPA Ayung 1, 2 dan 3

dan IPA Waribang 1 dan 2 yang dikelola PDAM Kota Denpasar; (b) penyediaan

air baku estuary dam tahap I seluas 35 Ha, dan pengembangan waduk muara

(estuary dam) tahap II seluas 105 Ha Pemogan; dan (c) pengembangan kerjasama

sistem penyediaan air minum (SPAM) Sarbagitaku, melalui integrasi IPA yang

telah ada dengan pengembangan IPA baru terdiri atas IPA Ayung di Blusung dan

Kesiman, IPA Penet di Tabanan dan IPA Petanu di Gianyar.

(16)

Pemerataan jaringan distribusi ke pelanggan dilaksanakan melalui: (a) pemeliharaan peningkatan pelayanan jaringan distribusi yang telah ada; (b) kerjasama dengan PDAM Gianyar, PDAM Badung dan pihak ketiga untuk melayani kawasan-kawasan yang tidak terjangkau jaringan distribusi PDAM Kota Denpasar; dan (c) pengembangan jaringan distribusi baru pada seluruh wilayah kota; dan (d) penyebaran hidrant-hidrant umum pada seluruh wilayah kota.

c. Sistem pengelolaan air limbah kota

Pada Pasal 30, sistem pengelolaan air limbah kota terdiri atas: (1) sistem pengelolaan air limbah perpipaan terpusat skala kota melalui jaringan pengumpul dan diolah serta dibuang secara terpusat; (b) sistem pembuangan air limbah setempat secara individual maupun berkelompok skala kecil; dan (3) penanganan air limbah industri ditangani secara kolektif pada lingkup kawasan peruntukan industri.

Pengembangan sistem pembuangan air limbah perpipaan terpusat (off site), dilakukan melalui pendayagunaan dan pemeliharaan Instalasi Pengolahan

Air Limbah (IPAL) Suwung Denpasar Selatan melayani sebagian Kawasan Pusat

Kota Denpasar, sebagian Kawasan Denpasar Selatan dan Kawasan Sanur, serta

sebagian Kawasan Kuta (wilayah Kabupaten Badung) pada tahap I dan perluasan

pada kawasan lainnya pada tahap II, dan tahap III. Pada kawasan-kawasan yang

tidak terlayani jaringan air limbah perpipaan terpusat skala kota, dikembangkan

jaringan air limbah komunal setempat (on-site) dalam bentuk program sanitasi

masyarakat (Sanimas) dan bentuk lainnya yang dapat dikelola masyarakat atau

kerjasama dengan pihak lain.

(17)

d. Sistem persampahan kota

Sistem persampahan kota yang disebutkan pada Pasal 31 terdiri atas: (1) jenis sampah yang dikelola; (2) penyelenggaraan sistem pengelolaan sampah; dan (3) penanganan sampah. Jenis sampah yang dikelola terdiri atas: sampah rumah tangga (tidak termasuk tinja); sampah sejenis sampah rumah tangga; dan sampah spesifik. Penyelenggaraan sistem pengelolaan sampah terdiri atas: (a) pengurangan sampah untuk sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga meliputi pembatasan timbulan sampah (reduce), pendauran ulang sampah (recycle), pemanfaatan kembali sampah (reuse), perubahan pola pikir (reimagine), dan perubahan disain pengelolaan (redesign); (b) penanganan

sampah untuk sampah rumah tangga dan sejenis dikelola melalui pemilahan, pegumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir; dan (c) pengelolaan sampah spesifik termasuk sampah limbah B3, diatur dengan Peraturan Walikota.

Penanganan sampah dilaksanakan melalui: (1) sampah rumah tangga,

sampah pasar, sampah rumah makan/restoran dan sampah hotel dikumpulkan oleh

penghuninya atau petugas sampah, setelah melalui tahapan pengurangan sampah,

kemudian diangkut ke transfer depo atau ke Tempat Pembuangan Sementara

(TPS); (2) sampah jalanan dan sampah lainnya dikumpulkan pada tepi jalan

kemudian diangkut dengan sarana pengangkut sampah ke transfer depo; (3)

sebelum ke TPA sampah dari transper depo dan TPS dapat dibawa ke tempat

pengomposan dengan pemilahan sampah terlebih dahulu; (4) sampah di transfer

depo dan TPS diangkut dengan truk sampah ke tempat pemrosesan akhir (TPA)

(18)

di IPST Suwung; dan (5) pengelolaan sampah dikelola oleh dinas terkait, desa pakraman, masyarakat atau swasta.

e. Sistem drainase kota

Sistem drainase kota yang disebutkan pada pasal 32 terdiri atas: (1) sistem jaringan drainase primer; (2) sistem jaringan drainase sekunder; dan (3) sistem jaringan drainase tersier. Sistem jaringan drainase primer terdiri atas sistem pengendalian banjir kota dan wilayah yang lebih luas, dilaksanakan sesuai dengan master plan sistem pengendalian banjir berdasarkan kerjasama antar daerah; dan saluran pembuangan utama (sistem saluran pembuangan Tukad Badung, sistem saluran pembuangan Tukad Ayung, sistem saluran pembuangan Tukad Mati, sistem saluran pembuangan Niti Mandala-Suwung, dan sistem saluran pembuangan Pemogan).

Sistem jaringan drainase sekunder berupa saluran pembuangan air hujan terintegrasi dari lingkungan perumahan sampai saluran drainase makro (saluran primer) dilengkapi bangunan pengontrol genangan, pembuatan konstruksi baru (turap/senderan irigasi), rehabilitasi/perkuatan saluran alam, operasi dan pemeliharaan. Sistem jaringan drainase tersier terdiri atas saluran sekunder dan tersier yang meliputi parit, saluran-saluran di tepi jalan utama dan saluran-saluran kecil pada kawasan perumahan.

Pengembangan dan peningkatan sistem jaringan drainase, dilakukan

dengan cara: (a) normalisasi aliran sungai-sungai utama dengan membuat

sodetan/saluran diversi dilengkapi bangunan pelimpah samping dan pintu-pintu di

bagian hilir, serta penyaringan/penangkapan sampah; (b) perbaikan dimensi

(19)

penampang bangunan-bangunan pelengkap seperti jembatan dan gorong-gorong;

(c) kawasan permukiman baru yang dikelola secara pribadi maupun massal, wajib menyiapkan sistem drainase dan sumur resapan; (d) penerapan persyaratan koefisien dasar hijau (KDH) dan pembuatan sumur resapan pada setiap persil pemanfaatan ruang terbangun, sebelum disalurkan kepada drainase kota; (e) menyediakan jalan inspeksi sebagai ruang gerak pengelolaan saluran; dan (f) Pengembangan retarding basin (kolam penampung) pada sistem saluran pembuangan Tukad Mati, long storage (wadah penyimpan) pada sistem saluran pembuangan Niti Mandala-Suwung dan Pemogan sesuai masterplan drainase kota.

4.2.2 Ketentuan umum peraturan zonasi infrastruktur kota

Pada kebijakan mengenai Ketentuan Umum Peraturan Zonasi akan dipaparkan Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Sistem Jaringan Transportasi Darat, Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Sistem Penyediaan Air Minum Kota, Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Sistem Pengelolaan Air Limbah Kota, Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Sistem Persampahan Kota, serta Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Sistem Drainase Kota.

a. Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan jalan

Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan jalan pada pasal 71,

terdiri atas: (1) pemanfaatan ruang di sepanjang sisi setiap fungsi jaringan jalan

ditentukan berdasarkan arahan rencana pola ruang; (2) penetapan lebar minimal

ruang manfaat jalan (rumaja), ruang milik jalan (rumija) dan ruang pengawasan

(20)

ruas jaringan jalan; (3) pengaturan persimpangan tidak sebidang pada kawasan padat lalu lintas, setelah melalui kajian ekonomi, teknis dan budaya; (4) kewajiban melakukan Analisis Dampak Lalu Lintas (Andal Lalin) sebagai persyaratan izin mendirikan bangunan bagi pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan yang berpotensi mengganggu arus lalu lintas; (5) ketentuan umum sempadan jalan ditentukan berdasarkan atas lebar badan jalan, telajakan, dan lebar halaman depan bangunan yaitu sama dengan setengan lebar ruang milik jalan ditambah lebar telajakan dan lebar halaman depan; dan (6) pelarangan kegiatan dan pemanfaatan ruang pada rumaja, rumija dan ruwasja yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan.

b. Ketentuan umum peraturan zonasi sistem penyediaan air minum kota Ketentuan peraturan zonasi untuk sistem penyediaan air minum kota pada pasal 76, terdiri atas: lokasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) tidak berdekatan dengan lokasi pengolahan air limbah dan TPA; lokasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) berdekatan dengan sumber air baku atau berada pada posisi yang cukup optimal untuk terintegrasi dengan jaringan induk air minum antar sistem; dan adanya lahan cadangan pengembangan di sekitarnya.

c. Ketentuan umum peraturan zonasi sistem pengelolaan air limbah kota

Pada Pasal 77 ketentuan peraturan zonasi untuk sistem pengelolaan air

limbah kota, terdiri atas: lokasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berada di

luar radius kawasan tempat suci; pengembangan jaringan tidak melewati dan/atau

memotong kawasan tempat suci/pura; pembuangan efluen air limbah ke media

lingkungan hidup tidak melampaui standar baku mutu air limbah; dan penataan

(21)

lokasi, aktivitas dan teknik pengolahan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Pemogan; Pengembangan sistem jaringan perpipaan komunal setempat pada beberapa kawasan yang tidak terjangkau sistem perpipaan kota; pemantapan pengolahan limbah individu pada kawasan perumahan yang tersebar.

d. Ketentuan umum peraturan zonasi sistem persampahan kota

Pada Pasal 78 Ketentuan peraturan zonasi untuk sistem persampahan kota, terdiri atas: Ketentuan umum peraturan zonasi Tempat Pemrosesan Sampah Sementara (TPS); Ketentuan umum peraturan zonasi Tempat Pemrosesan Sampah Akhir (TPA); dan Ketentuan umum peraturan zonasi pengangkutan sampah.

Ketentuan umum peraturan zonasi TPS terdiri atas: (1) tersedia fasilitas pemilahan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam penanganan sampah serta peningkatan efektivitas program 3R (reuse, reduce, recycle); (2) mudah dijangkau oleh angkutan sampah; (3) tidak berada pada lahan RTH atau sempadan badan air; (4) memperhatikan aspek lingkungan dan estetika; (5) memperhitungkan volume sampah dan jangkauan pelayanan; dan (6) mencegah perembesan air lindi ke dalam air tanah, mata air dan badan air.

e. Ketentuan umum peraturan zonasi sistem drainase kota

Pada Pasal 79 Ketentuan peraturan zonasi untuk sistem drainase kota,

terdiri atas: (1) pelarangan kegiatan yang mengganggu fungsi pengaliran dan

keamanan lingkungan pada zona sempadan sungai; (2) integrasi sistem jaringan

drainase, untuk menghindari genangan pada beberapa kawasan kota; (3)

pengembangan jaringan drainase pada seluruh jaringan jalan dan terintegrasi

(22)

dengan jaringan pengumpul; dan (4) pelarangan dan penerapan sanksi denda bagi kegiatan pembuangan sampah langsung ke sungai.

4.3 Kondisi Eksisting Infrastruktur Permukiman Kumuh

Berdasarkan Keputusan Walikota Denpasar tanggal 23 juli 2012 No.

188.45/509/HK/2012 tentang Penetapan Lokasi Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh di Kota Denpasar, jumlah titik permukiman kumuh yang ada di Kecamatan Denpasar Barat adalah 9 titik. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, titik permukiman kumuh yang akan diteliti nantinya sebanyak 3 titik yang berlokasi di Banjar Jematang, Desa Dauh Puri Kauh; Banjar Pekandelan, Desa Pemecutan Klod; serta Banjar Buana Asri, Desa Tegal Kertha.

Infrastruktur yang akan dijabarkan adalah jaringan jalan, jaringan air bersih,

pengelolaan dan pembuangan limbah (limbah rumah tangga baik limbah padat

maupun limbah cair, limbah yang berasal dari air hujan (drainase), serta limbah

sampah), serta sarana mandi cuci kakus (MCK).

(23)

Gambar 4.5 Tiga titik permukiman kumuh lokasi penelitian Kasus 1

Permukiman Kumuh di Br. Jematang, Desa Dauh Puri Kauh

Kasus 2

Permukiman kumuh di Br. Buana Asri, Desa Tegal Kertha

Kasus 3

Permukiman kumuh di Br.

Pekandelan, Desa Pemecutan Kelod

DESA TEGAL KERTHA

(24)

4.3.1 Permukiman kumuh Banjar Jematang (kasus 1)

Banjar Jematang merupakan salah satu Banjar Adat yang terdapat di Desa Dauh Puri Kauh. Penduduk di lingkungan Jematang terdiri dari 40% penduduk asli dan 60% merupakan penduduk pendatang (Dinas Tata Kota dan Bangunan Kota Denpasar, 2007). Permukiman kumuh di lingkungan Jematang terletak di Jalan Nusa Kambangan Gang Dahlia yang muncul sekitar tahun 1990-an. Lahan permukiman merupakan lahan warisan milik warga asli lingkungan Jematang yang telah dibagi, kemudian disewakan kepada pendatang (pihak pertama), dan kemudian pihak pertama menyewakan kembali kepada pihak kedua.

Bertambahnya jumlah penghuni terkait dengan beberapa hal seperti (1) penambahan jumlah penghuni akibat mengajak teman-teman satu profesi dan berasal dari daerah yang sama, (2) jumlah anggota keluarga bertambah akibat datangnya kerabat dari kampung asal dan (3) informasi lokasi permukiman dari teman sehingga pada akhirnya tinggal pada lokasi yang sama. Kondisi inilah yang menyebabkan sebagian besar penghuni pada permukiman ini mayoritas berasal dari etnis yang sama yaitu etnis Jawa.

Gambar 4.6 Peta lokasi permukiman kumuh di Banjar Jematang U

(25)

1. Jaringan jalan

Jaringan jalan pada permukiman ini berkembang seiring dengan perkembangan jumlah hunian pada wilayah tersebut. Pada awalnya jalan yang terdapat pada permukiman kumuh di lokasi ini adalah jalan yang berada di timur permukiman saat ini. Seiring dengan banyaknya kaum pendatang yang menyewa lahan di lokasi ini, jaringan jalan juga semakin berkembang. Jalan-jalan lingkungan dengan lebar yang minim disediakan oleh pemilik lahan untuk menghubungkan antara hunian satu dengan lainnya.

Gambar 4.7 Perkembangan jaringan jalan pada permukiman kumuh di Banjar Jematang Permukiman

Penduduk asli Permukiman

pendatang

Permukiman Permukiman

Permukiman

Jalan lingkungan pada permukiman (makro)

Jalan permukiman (mikro) U

Lahan kosong

Lahan kosong

Jalan awal Jalan

lingkungan

(26)

Terdapat 3 jenis jalan pada permukiman kumuh di Banjar Jematang ini, antara lain:

a) Jalan lingkungan (makro)

Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang ada pada barat permukiman dekat dengan sungai. Jalan ini memiliki lebar ±4meter dengan material berupa aspal yang langsung menuju jalan pulau biak dan jalan nusa kambangan.

Gambar 4.8 Jalan lingkungan pada permukiman kumuh Banjar Jematang

b) Jalan permukiman (gang)

Menurut salah satu pemilik lahan dari permukiman ini, jalan permukiman di bagian timur permukiman pada awalnya berupa jalan tanah dengan lebar ±2meter hanya cukup dilalui oleh kendaraan roda dua. Pada tahun 1998 pemerintah mulai melirik kondisi di permukiman ini dengan memperbaiki serta memperlebar jalan sehingga, kondisi jalan menjadi lebih baik yang berupa jalan aspal dengan lebar ±4 meter hingga saat ini.

Gambar 4.9 Jalan permukiman/gang pada permukiman kumuh Banjar Jematang 4 m 4 m

(27)

c) Jalan kecil/gang (mikro)

Jalan kecil/gang merupakan jalan yang menghubungkan antara rumah satu dengan lainnya dalam satu wilayah permukiman. Selain merupakan jalan umum yang bisa dilalui oleh warga, jalan ini juga dimanfaatkan sebagai ruang yang mendukung aktivitas penghuni permukiman, misalnya sebagai dapur, tempat mencuci peralatan dapur, tempat meletakkan barang-barang yang tidak digunakan, tempat parkir kendaraan pribadi, bahkan ada yang digunakan sebagai tempat melaksanakan usaha-usaha rumah tangga.

Kondisi jalan permukiman pada permukiman kumuh di Jematang ini sangat beragam. Terdapat jalan yang sudah menggunakan perkerasan seperti paving dan semen, serta terdapat juga jalan yang masih berupa jalan tanah. Lebar jalan berkisar antara 0,8 meter hingga 1,5 meter.

Perkerasan jalan permukiman juga merupakan bantuan dari pemerintah pada tahun 1998.

Gambar 4.10 Kondisi jalan-jalan kecil pada permukiman kumuh Banjar Jematang

(28)

2. Air bersih

Sumber air bersih pada permukiman kumuh di Banjar Jematang berasal dari pompa air, sumur bor, serta sumur gali. Hingga saat ini belum terdapat air bersih yang bersumber dari PAM. Sebagian besar sumber air bersih yang ada di permukiman ini dimanfaatkan secara komunal. Berikut merupakan gambaran dari persebaran lokasi titik-titik sumber air bersih yang berupa pompa air, sumur bor, serta sumur gali.

Gambar 4.11 Kondisi sumber air bersih pada permukiman kumuh di Banjar Jematang

Berdasarkan hasil observasi di lapangan terdapat 4 pompa air pada permukiman yang merupakan bantuan dari pemerintah. Kondisi pompa air pada

: Pompa : Sumur gali : Sumur bor : Tangki air U

(29)

permukiman ini sudah tidak dapat digunakan lagi. Hal ini disebabkan oleh usia pompa air yang sudah cukup tua yaitu 31 tahun dihitung sejak tahun 1982, serta tidak adanya kesadaran masyarakat dalam merawat ataupun memperbaiki pompa air tersebut.

Sumber air bersih lainnya adalah sumur gali yang masih berfungsi dengan baik. Air bersih yang diperoleh dari sumur ini dimanfaatkan warga permukiman untuk mencuci pakaian, perabotan rumah tangga, dan MCK. Selain itu juga terdapat 13 sumur bor yang letaknya tersebar di wilayah permukiman kumuh ini.

Pada beberapa kasus, air yang diperoleh dari sumur bor ditampung terlebih dahulu dalam tangki air yang kemudian dialirkan menuju kran pada dapur tiap-tiap hunian ataupun pada kamar mandi umum.

Gambar 4.12 Sumur pompa

Terdapat beberapa tipe pemanfaatan sumber air bersih pada permukiman kumuh di lokasi ini, antara lain:

a. Tipe 1, yaitu sumber air bersih yang berupa pompa air yang dapat digunakan oleh seluruh warga permukiman (komunal).

Mesin pompa

Air tanah dipompa menuju ke atas dan disimpan di tangki air yang ada diatas Air dari tangki

kemudian dialirkan menuju kran

Kran air yang mengalirkan air tanah sehingga dapat digunakan

(30)

b. Tipe 2, yaitu sumber air bersih berupa sumur bor yang juga digunakan bersama, namun hanya dalam lingkup penghuni kost pada satu lahan kontrakan.

c. Tipe 3, sumber air bersih yang digunakan secara pribadi oleh satu keluarga pada satu hunian (kontrakan).

Gambar 4.13 Sistem jaringan air bersih pada permukiman kumuh kasus 1

Sumber air bersih tipe kedua merupakan sumber air bersih yang berupa sumur bor dan sumur gali yang dimaanfaatkan bersama oleh penghuni kost pada satu kontrakan. Sumur bor ini terletak pada satu titik yang yaitu di kamar mandi yang dapat dijangkau oleh penghuni kost. Air dari sumur bor akan dialirkan menuju kran air yang dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci.

1

Tipe 1

2 3

Tipe 2 Tipe 3

U

(31)

Gambar 4.14 Sistem jaringan air bersih tipe 2

Sumber air bersih tipe yang ketiga juga berasal dari sumur bor. Sumur bor ini dibuat oleh pengontrak itu sendiri yang kemudian digunakan secara pribadi oleh satu keluarga. Air yang diperoleh akan dialirkan menuju ruang-ruang yang membutuhkan seperti dapur dan kamar mandi.

Gambar 4.15 Sumber air bersih tipe 3

3. Pengelolaan limbah

Dalam penelitian ini pengelolaan limbah yang dimaksud adalah pengelolaan limbah yaitu saluran drainase, limbah rumah tangga, serta pengelolaan sampah. Berikut akan dijabarkan berdasarkan jenis limbah yang akan dikelola:

Sumur bor Kran air

U

Sumur bor yang digunakan untuk 3 kontrakan

Kran air

Kontrakan 1 Kontrakan

2 Kontrakan

3 U

(32)

a. Jaringan drainase

Saluran drainase yang terdapat di tengah-tengah permukiman di sepanjang jalan permukiman memiliki lebar ±20cm dan kedalaman ±30cm, dengan kondisi yang terbuka sehingga sampah pun dengan mudahnya dibuang ke saluran tersebut secara tidak bertanggung jawab oleh penghuni permukiman itu sendiri. Hal ini mengakibatkan pada saat hujan turun aliran air menjadi macet sehingga terjadi banjir. Sementara saluran drainase pada jalan lingkungan memiliki lebar ± 40cm dan beberapa terlihat dengan kondisi yang tertutup. Seluruh saluran drainase ini dialirkan melalui pipa-pipa menuju sungai yang ada pada utara dan barat permukiman.

Gambar 4.16 Kondisi saluran drainase pada permukiman kumuh kasus 1 U

(33)

b. Limbah rumah tangga

Limbah rumah tangga pada umumnya dibagi menjadi 2 yaitu limbah padat dan limbah cair. Pada permukiman kumuh di lokasi ini, sistem pembuangan limbah padat dan cair yang berasal dari kamar mandi dialirkan menuju septictank yang terdapat pada masing-masing kamar mandi umum. Limbah cair buangan dari dapur dialirkan melalui pipa-pipa yang menuju saluran air hujan (got). Selain itu juga terdapat beberapa kamar mandi yang membuang limbah cair bekas mencuci ataupun mandi menuju saluran air hujan (got). Saluran ini nantinya akan menuju ke sungai yang merupakan pembuangan terakhir. Hal ini mengakibatkan tercemarnya air sungai akibat limbah-limbah tersebut, sehingga air sungai nampak kotor, tercemar dan berwarna coklat kehitaman. Berbeda dengan kondisi yang ada di lapangan, menurut Kepala Dusun Jematang, kondisi sungai di permukiman kumuh pada saat ini justru sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Gambar 4.17 Kondisi pembuangan limbah di permukiman kumuh kasus 1

ditampung di SEPTICTANK

Limbah dari kamar mandi

dialirkan menuju got bermuara ke sungai

(34)

Secara mikro pembuangan limbah pada hunian di permukiman kumuh ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) Pada hunian yang disewakan (kost), hanya terdapat 1 ruang servis yang digunakan secara komunal.

2) Air limbah yang berasal dari kamar mandi dan dapur dialirkan menuju saluran yang terdapat di depan kamar mandi berupa got kecil.

3) Air limbah ini nantinya akan dialirkan kembali menuju saluran drainase pada jalan utama, dan kemudian bermuara ke sungai.

Gambar 4.18 Saluran pembuangan limbah pada hunian 1

4) Untuk hunian yang memiliki fasilitas kamar mandi ataupun dapur pribadi, limbah dialirkan melalui pipa saluran menuju saluran pembuangan pada ruas jalan yang terdapat got pada ruas jalan tersebut, kemudian dialirkan menuju saluran pada jalan utama yang nantinya bermuara ke sungai.

SUNGAI

Lubang saluran pembuangan limbah kamar mandi, dapur,

dan air hujan Limbah menuju

saluran pembuangan pada jalan besar yang kemudian menuju sungai

U

(35)

Gambar 4.19 Saluran pembuangan limbah pada hunian 2

c. Persampahan

Pengelolaan sampah pada lingkungan permukiman ini sebagian dilakukan secara swadaya dan sebagian dikelola oleh pihak swasta. Secara swadaya, sampah yang dihasilkan pada tiap-tiap rumah tangga dikumpulkan untuk kemudian dibakar, serta ada juga yang langsung dibawa ke tempat pembuangan sementara (TPS) yang berlokasi di Jalan Pulau Biak dekat permukiman. Beberapa dari masyarakat permukiman kumuh di lokasi ini membayar petugas dari pihak swasta untuk mengangkut sampah-sampah mereka dan dibawa ke TPS. Namun masih banyak terlihat masyarakat yang memanfaatkan sungai yang ada dekat permukiman sebagai tempat membuang sampah secara tidak bertanggung jawab.

Hal ini mengakibatkan kondisi sungai maupun lingkungan sekitar permukiman menjadi kotor dan menimbulkan polusi udara.

Menuju saluran pembuangan/got di jalan besar

Menuju sungai

U

(36)

Gambar 4.20 Kondisi persampahan di permukiman kumuh kasus 1

4. Sarana mandi cuci kakus (MCK)

Berdasarkan observasi lapangan, fasilitas kamar mandi yang tersedia di permukiman kumuh Banjar Jematang ini berjumlah 31 buah. Sebagian besar kamar mandi yang ada merupakan kamar mandi umum yang disediakan pada satu kontrakan oleh pemilik kontrakan untuk penyewa kamar pada kontrakan tersebut.

Kondisi sampah yang dibuang di area sekitar sungai

Sampah yang dibuang di got, sehingga dapat menyumbat aliran air pada

saluran ini

Lahan kosong dipinggir jalan utama yang dimanfaatkan sebagai tempat mengumpulkan sampah

U

(37)

Kondisi fisik dari kamar mandi terlihat kurang baik, dengan lantai yang becek dan kotor akibat dari tidak adanya saluran pembuangan yang baik. Air bersih pada kamar mandi bersumber dari sumur pompa yang letaknya dekat dengan kamar mandi tersebut.

Gambar 4.21 Kondisi kamar mandi pada permukiman kumuh kasus 1

Terdapat tiga tipe sarana MCK di permukiman kumuh ini yaitu kamar mandi umum/komunal, kamar mandi khusus untuk penghuni kost, serta kamar mandi pribadi. Kamar mandi umum dibangun oleh pemerintah yang lokasinya tersebar di empat titik di permukiman ini. Pada masing-masing titik terdapat 2

Kamar mandi umum Kamar mandi khusus penghuni kost

Kamar mandi pribadi U

(38)

buah kamar mandi. Kamar mandi ini juga sudah dilengkapi dengan tangki septik, sehingga dapat berfungsi secara maksimal. Kamar mandi tipe kedua merupakan kamar mandi yang disediakan oleh pemilik kost hanya untuk penghuni kost miliknya. Kamar mandi ini tidak dilengkapi tangki septik, sehingga hanya dapat digunakan untuk mandi, buang air kecil, dan mencuci. Begitu pula dengan kamar mandi tipe ketiga yang merupakan kamar mandi pribadi tidak dilengkapi dengan tangki septik, sehingga warga menggunakan kamar mandi umum terdekat untuk buang air besar. Warga hanya perlu membayar Rp. 10.000,-/bulan untuk masing- masing orang untuk operasional kamar mandi umum tersebut.

4.3.2 Permukiman kumuh Banjar Buana Asri (kasus 2)

Permukiman kumuh yang kedua berlokasi di Jalan Resimuka Barat Gang

VII, Banjar Buana Asri, Desa Tegal Kertha. Pada awalnya lahan pada

permukiman kumuh ini merupakan lahan sawah dan tegalan milik dari 2 orang

bersaudara yang merupakan penduduk asli Desa Tegal Kertha. Lahan ini

kemudian disewakan kepada warga pendatang dan mulai berkembang pada tahun

1995. Permukiman kumuh ini terletak berkembang pada satu ruas gang yang

dibatasi oleh jalur sirkulasi di tengah-tengah permukiman. Hingga saat ini sudah

terdapat ±130 rumah pada permukiman ini yang terdiri dari rumah kontrakan yang

digunakan secara pribadi, maupun rumah kontrakan yang kemudian disewakan

kembali berupa kamar kost.

(39)

Gambar 4.22 Peta lokasi permukiman kumuh Banjar Buana Asri

1. Jaringan jalan

Kondisi jaringan jalan pada permukiman kumuh di Banjar Buana Asri, Desa Tegal Kertha terlihat cukup tertata, dengan material jalan berupa paving.

Pada awalnya hanya terdapat jalan utama permukiman yaitu Jalan Resimuka Barat yang merupakan jalan lingkungan, kemudian seiring berkembangnya permukiman di lingkungan tersebut, maka muncullah jalan-jalan kecil/gang menuju permukiman-permukiman baru tersebut. Jalan lingkungan merupakan jalan umum (Jalan Resimuka Barat) yang dapat diakses oleh seluruh warga permukiman kumuh maupun permukiman disekitarnya. Jalan lingkungan ini adalah akses utama untuk menuju Gang VII yang merupakan jalan utama pada permukiman kumuh. Jalan lingkungan memiliki lebar ±3 meter dengan material aspal.

U

(40)

Gambar 4.23 Kondisi jaringan jalan pada permukiman kumuh kasus 2

Jalan permukiman/gang pada permukiman kumuh ini awalnya disediakan oleh pemilik lahan dengan kondisi seadanya yang berupa jalan tanah, kemudian jalan tersebut diperbaiki (dipaving) secara swadaya oleh penyewa lahan pada permukiman tersebut. Jalan permukiman (gang) memiliki lebar 3 meter dari arah

2 m 3 m

Jalan lingkungan selebar 2-3 meter merupakan jalan utama (makro) yang terletak di tengah-tengah permukiman

Jalan-jalan kecil/gang (mikro) yang merupakan akses menuju kamar kost yang disewakan.

U

Jalan khusus untuk penghuni pada kost

Jalan lingkungan (jalan resimuka barat) pada permukiman kumuh

(41)

timur dan mengecil ke arah barat dengan lebar 2 meter, hanya cukup untuk kendaraan roda dua. Jalan pada bagian barat permukiman merupakan jalan buntu yang langsung menuju sungai. Secara mikro, terdapat jalan kecil dengan lebar ±1 meter dan menggunakan perkerasan berupa semen yang merupakan akses bagi penghuni kost. Jalan ini dilengkapi dengan saluran drainase dengan lebar 10-15cm dan kedalaman 5-10cm yang ada pada 1 sisi jalan. Saluran ini langsung terhubung dengan saluran drainase yang ada pada jalan utama permukiman ini.

2. Air bersih

Sumber air bersih pada permukiman kumuh di lokasi ini menggunakan

sumur bor dan sumur gali. Pada rumah kost sumber air bersih berasal dari sumur

bor yang digunakan secara bersama-sama oleh pemilik kontrakan dan penghuni

kost. Sumur bor ini dibuat oleh pemilik kontrakan yang dalam hal ini adalah

pemilik lahan, untuk kemudian dimanfaatkan oleh penghuni kost. Pada 2 hunian

(kost) yang digunakan sebagai sampel, sumur bor terletak di bagian barat hunian

dengan tangki air yang berada di atas kamar mandi umum pada kost tersebut.

(42)

Gambar 4.24 Kondisi sumber air bersih pada permukiman kumuh kasus 2

Gambar 4.25 Kondisi sumber air bersih pada permukiman kumuh kasus 2

Mesin pompa Tangki air

(sumur bor)

Sumur bor (kiri);

tangki air yang digunakan untuk menampung air dari sumur bor (kanan)

Sumur gali yang merupakan sumber air bersih pada rumah yang dihuni oleh pihak penyewa pertama

U Jalan Utama Permukima n

Sumur gali

U Jalan utama permukiman

(43)

Pada hunian dalam bentuk kontrakan, sumber air bersih yang digunakan adalah sumur gali. Sumur ini dibuat oleh warga yang menyewa lahan bersangkutan. Air bersih diangkut secara manual menuju kamar mandi dan dapur untuk kemudian dimanfaatkan untuk mencuci piring dan pakaian maupun untuk mandi. Air bersih yang berasal dari sumur bor maupun sumur gali tidak dimanfaatkan untuk konsumsi oleh warga permukiman, melainkan hanya untuk aktivitas mencuci dan mandi.

3. Pengelolaan limbah

Seperti pada kasus pertama, limbah yang dimaksud disini adalah drainase, limbah rumah tangga, serta persampahan, yang akan dijabarkan berdasarkan jenis- jenis limbah tersebut.

a. Jaringan drainase

Permukiman kumuh di lingkungan Buana Asri ini merupakan daerah yang

rawan banjir. Hal ini disebabkan oleh kondisi lahan yang menurun dari arah timur

ke barat. Kondisi jaringan drainase pada permukiman ini juga kurang baik,

dengan lebar got hanya 20cm pada kanan dan kiri jalan. Menurut kepala

lingkungan di permukiman kumuh ini yaitu Nyoman Diartika, masalah yang

paling sering terjadi di permukiman ini adalah masalah saluran drainase. Jika

terjadi hujan di daerah ini, air hujan yang berasal dari jalan utama (Jalan

Resimuka Barat) akan turun ke saluran drainase di permukiman. Besarnya volume

air hujan dibandingkan dengan saluran drainase permukiman yang memiliki lebar

hanya 20 cm dan kedalaman ±30 cm mengakibatkan saluran ini tidak dapat

(44)

menampung air hujan dan dialirkan dengan baik, sehingga air hujan akan meluap dan pada akhirnya akan terjadi banjir di permukiman ini.

Gambar 4.26 Kondisi saluran drainase pada permukiman kumuh kasus 2

Saluran drainase di lokasi permukiman ini dibuat di bagian kanan dan kiri jalan utama pada permukiman dengan kondisi yang terbuka. Air yang mengalir pada saluran ini berasal dari saluran drainase diluar permukiman dan juga berasal dari saluran drainase di jalan kecil yang ada pada kanan dan kiri jalan utama permukiman. Setelah terkumpul pada saluran drainase utama di permukiman, air hujan kemudian dialirkan langsung menuju sungai yang ada di barat permukiman.

Gambar 4.27 Aliran air pada saluran drainase pada permukiman kumuh kasus 2 U

Saluran drainase (got) pada jalan utama permukiman Saluran drainase (got) pada jalan

kecil di permukiman Saluran drainase (got) pada jalan

utama bagian barat

Saluran drainase (got) kecil

Saluran drainase (got) utama

Saluran pembuangan menuju ke sungai

Sungai di ujung barat permukiman

(45)

b. Limbah rumah tangga

Pada permukiman kumuh kasus kedua ini, tidak terdapat saluran pembuangan limbah yang khusus. Secara umum limbah dialirkan pada saluran drainase (got) yang merupakan saluran pembuangan air hujan. Limbah rumah tangga yang berasal dari dapur pada masing-masing hunian terlebih dahulu dialirkan pada saluran drainase (got) kecil di depan hunian, kemudian dari saluran kecil tersebut akan dialirkan menuju saluran drainase (got) utama di pinggir jalan, dan bermuara ke sungai. Setiap kamar mandi memiliki septictank masing-masing yang berfungsi untuk menampung limbah padat yang berasal dari kamar mandi tersebut.

Gambar 4.28 Saluran pembuangan limbah pada permukiman kumuh kasus 2

Saluran pembuangan kecil menuju ke sungai

Saluran pembuangan kecil

Saluran drainase/got Jalan

utama permukiman

U

Septictank

Septictank yang terletak pada jalan kecil yang merupakan

akses bagi penghuni kost

Saluran pembuangan utama

(46)

Bagi hunian yang langsung menghadap ke jalan utama, limbah rumah tangga yang dihasilkan langsung dialirkan menuju saluran drainase (got) utama.

Posisi dapur dan kamar mandi juga berdekatan dengan jalan utama dan saluran pembuangan yang ada di sepanjang jalan tersebut. Hal ini dapat mempermudah warga permukiman membuat saluran dari dapur ataupun kamar mandi yang langsung menuju saluran pembuangan utama. Dari saluran pembuangan utama ini nantinya akan bermuara ke sungai yang ada di ujung barat permukiman. Kondisi ini menyebabkan air sungai menjadi tercemar oleh limbah-limbah tersebut.

Gambar 4.29 Saluran pembuangan limbah pada permukiman kumuh kasus 2

Septictank yang ada dibawah kamar mandi

Limbah dapur dialirkan langsung ke saluran pembuangan utama pada jalan

depan hunian

Saluran pembuangan utama menuju sungai

Jalan utama permukiman

U

SUNGAI

(47)

c. Persampahan

Kondisi persampahan di lingkungan permukiman kumuh di Banjar Buana Asri tidak terlalu bermasalah. Pada setiap hunian sudah menyediakan tempat sampahnya sendiri yang diletakkan di depan rumah masing-masing di pinggir jalan lingkungan. Sampah yang sudah terkumpul ini nantinya akan dipungut oleh petugas menuju TPS, warga cukup membayar ke desa setiap bulannya. TPS yang dimanfaatkan oleh permukiman ini adalah Depo Monang Maning yang terletak di Desa Monang Maning, ±2km dari permukiman bersangkutan.

Gambar 4.30 Depo Monang Maning yang dimanfaatkan oleh permukiman kumuh kasus 2

Selain itu terdapat juga warga yang membuang sampahnya di lahan

kosong ataupun langsung ke sungai yang ada di dekat permukiman tersebut. Hal

ini menyebabkan kondisi lingkungan sekitar permukiman dan sungai menjadi

kotor serta polusi udara.

(48)

Gambar 4.31 Saluran pembuangan limbah pada permukiman kumuh kasus 2

4. Sarana mandi cuci kakus (MCK)

Terdapat 2 jenis sarana MCK pada permukiman kumuh di Banjar Buana Asri ini. Jenis yang pertama adalah kamar mandi komunal yang ada pada 1 blok hunian berupa kontrakan/kost. Kamar mandi ini disediakan oleh pemilik lahan khusus untuk penghuni kost pada 1 blok hunian tersebut. Kamar mandi ini biasanya memfasilitasi 5 hingga 6 kamar kost (5-6 KK). Berdasarkan observasi di lapangan, dengan bentuk blok hunian yang memanjang ke samping, kamar mandi biasanya diletakkan pada ujung belakang hunian, dalam hal ini pada bagian utara hunian/kost. Sumber air bersih yang digunakan untuk kegiatan MCK berasal dari sumur bor yang letaknya dekat dengan kamar mandi. Tangki air untuk

Sungai dan lahan kosong yang dimanfaatkan sebagai tempat membuang

sampah secara komunal.

Tempat sampah yang ada pada masing- masing hunian.

(49)

menampung air sementara diletakkan diatas kamar mandi ataupun diatas bak kontrol pada hunian.

Gambar 4.32 Sarana MCK pada permukiman kumuh kasus 2

Sarana MCK jenis kedua adalah sarana MCK pribadi yaitu, sarana MCK pada 1 blok hunian yang berupa rumah kontrakan yang dihuni oleh 1 keluarga.

Sarana MCK dalam hal ini hanya memfasilitasi 1 hunian. Sumber air bersih yang digunakan untuk kegiatan MCK bersasal dari sumur gali pada hunian tersebut.

Jalan utama permukiman

U

Jalan utama permukiman

U

Sumur gali yang menjadi sumber air bersih untuk kegiatan MCK

(50)

4.3.3 Permukiman kumuh Banjar Pekandelan (kasus 3)

Berdasarkan Keputusan Walikota, permukiman kumuh di Banjar Pekandelan, Desa Pemecutan Klod terletak di Jalan Kertapura Gang Segina VI.

Pada awalnya lahan permukiman ini merupakan lahan milik banjar yang disewakan kepada pendatang. Lahan ini disewakan dengan tujuan memperoleh keuntungan, sehingga uang hasil dari sewaan tersebut dapat dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial yang diadakan oleh banjar. Jumlah KK pada lingkungan permukiman ini adalah 196 KK dengan total jumlah warga sebanyak 448 jiwa.

Gambar 4.34 Peta lokasi permukiman kumuh Banjar Pekandelan

1. Jaringan jalan

Terdapat 3 tipe jalan pada permukiman ini, yaitu jalan lingkungan dan jalan permukiman/gang, serta jalan kecil pada 1 blok hunian (kost). Jalan lingkungan yaitu Jalan Kertapura adalah jalan umum yang menjadi akses utama

U

(51)

menuju Gang Segina VI, dimana gang ini merupakan jalan pada permukiman kumuh. Jalan lingkungan memiliki lebar ±4 meter dengan material berupa aspal.

Tipe jalan yang kedua adalah jalan permukiman (Gang Segina VI), dengan kondisi jaringan jalan permukiman/gang ini awalnya masih berupa jalan tanah, namun sejak tahun 1996 permukiman ini memperoleh bantuan berupa perbaikan jalan dari pemerintah yang diusulkan oleh pihak banjar. Untuk saat ini kondisi jalan lingkungan berupa perkerasan semen dengan lebar ±4 meter, sementara ke arah timur lebar jalan ±3 meter. Jalan pada bagian ujung timur permukiman bisa dilalui untuk menuju gang yang ada di sebelah selatan, namun bukan merupakan permukiman dengan kondisi yang kumuh. Jalan ini juga terlihat sudah rusak dengan adanya bopeng-bopeng pada sebagian jalan.

Gambar 4.35 Kondisi jaringan jalan pada permukiman kumuh kasus 3

Jalan permukiman selebar 3-4 meter merupakan jalan utama (makro) yang terletak di tengah-tengah

permukiman 4 m

3 m

3 m 3 m

Jalan menuju permukiman lain (kiri), jalan buntu (kanan)

U

(52)

Tipe jalan ketiga adalah jalan kecil yang ada pada 1 blok hunian dalam bentuk kost. Jalan ini dibangun oleh pemilik kontrakan (penyewa lahan pihak pertama) yang merupakan akses bagi penghuni kost dengan lebar ±1,5 meter.

Kondisi jalan sudah berupa perkerasan yang menggunakan material semen. Selain digunakan sebagai akses keluar masuk, jalan ini juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk melakukan aktifitas lainnya seperti mencuci, menjemur pakaian, serta meletakkan peralatan rumah tangga. Kamar kost yang disewakan terdiri dari 2 deret kamar menghadap ke utara dan selatan yang berhadapan langsung dengan jalan kecil yang ada di depannya.

Gambar 4.36 Kondisi jaringan jalan kecil pada permukiman kumuh kasus 3

Jalan umum yang ada pada hunian dalam bentuk kost

Jalan utama permukiman (3 m)

U

Sebagian badan jalan yang dimanfaatkan oleh penghuni kost

(53)

2. Air bersih

Sumber air bersih di lokasi permukiman ini menggunakan sumur bor, sumur gali, serta ada bebrapa yang sudah menggunakan PAM. Berbeda dengan kasus permukiman kumuh sebelumnya, sumber air bersih yang digunakan pada masing-masing hunian tidak berdasarkan pada tipe hunian namun tergantung pada kemampuan dari masing-masing keluarga. Berdasarkan fungsinya, sumber air bersih yang digunakan dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu, sumber air bersih yang digunakan secara komunal serta sumber air bersih yang digunakan secara pribadi.

Gambar 4.37 Kondisi jaringan air bersih pada permukiman kumuh kasus 3

Berdasarkan pada sampel hunian yang diteliti, sumber air bersih yang digunakan secara komunal berasal dari sumur gali. Sumur ini dibangun oleh

Sumur gali

Pipa saluran air bersih menuju kamar mandi KM/WC

Tempat cuci Sumur gali

Jalan utama permukiman

U

Sumur Ember untuk menampung air

(54)

pemilik kontrakan (penyewa lahan pihak pertama) yang disediakan khusus untuk penghuni kost dalam 1 blok hunian tersebut. Terdapat 2 sumur gali pada hunian ini, dimana masing-masing sumur memfasilitasi kebutuhan 1 deret kamar. Air bersih untuk kamar mandi pada hunian ini juga berasal dari sumur. Air ini didistribusikan melalui saluran berupa pipa yang dibuat secara manual oleh pemilik kontrakan. Pada awalnya air yang ditimba ditampung terlebih dahulu dalam ember pada ujung pipa, kemudian air akan mengalir melalui pipa dengan kemiringan tertentu menuju penampungan yang ada dikamar mandi.

Selain menggunakan sumur gali sebagai air bersih secara komunal, pada beberapa hunian juga menggunakan sumur bor, terutama pada 1 blok hunian yang berupa kost. Sumur bor ini diadakan oleh pemilik kontrakan sebagai penyewa lahan pihak kedua. Sumur bor juga khusus digunakan bagi penghuni kost pada 1 blok hunian tersebut.

Gambar 4.38 Kondisi jaringan air bersih (sumur bor) pada permukiman kumuh kasus 3

Berbeda dengan permukiman kumuh pada kasus sebelumnya, pada permukiman kumuh di lokasi ini sudah terdapat beberapa hunian yang menggunakan PAM sebagai sumber air bersih. Hunian yang digunakan sampel merupakan rumah dari kepala permukiman.

Tangki air Mesin pompa

(55)

Gambar 4.39 Kondisi jaringan air bersih (PAM) pada permukiman kumuh kasus 3

3. Pengelolaan limbah

Limbah dibagi menjadi 3 jenis yaitu limbah yang berasal dari air hujan berupa saluran drainase, limbah rumah tangga, serta limbah sampah.

a. Jaringan drainase

Jaringan drainase pada permukiman di lokasi ini memiliki kondisi dan fungsi yang cukup baik. Saluran drainase dibuat memanjang di pinggir jalan dari jalan besar hingga masuk ke jalan permukiman. Lebar saluran ini ±20 cm dengan kondisi sebagian terbuka pada bagian barat dan sebagian lagi ditutup menggunakan semen.

Menurut Kepala di lingkungan permukiman ini, saluran drainase berfungsi dengan baik dikarenakan sudah terdapat Sanimas (sanitasi berbasis masyarakat) di permukiman ini, sehingga tidak ada lagi warga yang membuang air limbah baik dari dapur maupun kamar mandi ke saluran drainase. Saluran drainase disini hanya difungsikan sebagai saluran air hujan yang nantinya akan bermuara ke sungai yang letaknya agak jauh dengan permukiman.

Meter Air Distribusi air bersih

Jalan utama permukiman U

Kamar mandi (atas) dan tempat cuci (bawah) yang merupakan area yang difasilitasi oleh PAM sebagai sumber air bersih

(56)

Gambar 4.40 Kondisi saluran drainase pada permukiman kumuh kasus 3

b. Limbah rumah tangga

Sistem pembuangan limbah di permukiman kumuh ini sudah menggunakan Sanimas. Sanimas adalah program untuk menyediakan prasarana air limbah bagi masyarakat di daerah kumuh padat perkotaan. Sanimas merupakan bantuan dari pemerintah pada tahun 1996. Sanimas merupakan kerjasama antara Dinas Pekerjaan Umum (PU), Bremen Overseas Research and Development Agency (BORDA), Badan Lingkungan Hidup (BLH), serta kelompok swadaya

masyarakat. Dengan adanya sanimas ini kondisi pembuangan air limbah menjadi tertata sehingga tidak dapat mengurangi polusi di sekitar lingkungan permukiman kumuh ini.

U

Sungai Permukiman

kumuh (kasus 3) Sungai

Saluran drainase di sepanjang jalan utama permukiman dari barat hingga timur permukiman

Saluran drainase bermuara ke sungai yang letaknya jauh dari permukiman

(57)

Dalam satu hunian terdapat beberapa bak kontrol dengan jumlah yang berbeda-beda pada tiap hunian tergantung jumlah pembuangan yang ada pada hunian tersebut. Pada bak kontrol ini terdapat pipa-pipa saluran yang terhubung antara hunian satu dengan yang lainnya. Limbah rumah tangga ini nantinya akan dialirkan menuju saluran komunal yang ada di tepi jalan.

Pada gambar berikut akan ditunjukkan bagaimana keterkaitan antara sistem pembuangan limbah secara mikro yaitu pada satu hunian yang menuju sistem pembuangan limbah secara makro atau komunal.

Gambar 4.41 Saluran pembuangan limbah hunian pada permukiman kumuh kasus 3

Pada contoh hunian yang digunakan sebagai sampel, terdapat 7 buah bak kontrol yang letaknya tersebar pada area servis di rumah ini. Area servis tersebut misalnya, tempat cuci, dapur, kamar mandi, serta tempat selip. Menurut kepala keluarga rumah ini, yang juga merupakan salah satu panitia program pengadaan

Bak kontrol komunal Bak kontrol

Septic tank komunal

Jalan utama permukiman

Saluran pembuangan U

(58)

Sanimas di lingkungan ini, menyebutkan bahwa bak kontrol memang diletakkan di dekat area-area yang menghasilkan limbah seperti area servis. Limbah rumah tangga yang dialirkan melalui saluran pembuangan pada masing-masing hunian ini, kemudian akan dialirkan menuju saluran pembuangan komunal yang ada di sepanjang jalan utama dan bermuara pada septictank komunal di ujung jalan permukiman untuk selanjutnya diolah kembali.

Gambar 4.42 Kondisi bak kontrol pada saluran pembuangan limbah

Limbah rumah tangga yang dihasilkan oleh tiap-tiap hunian akan dialirkan melalui saluran yang ada di pinggir jalan. Limbah tersebut nantinya akan diolah sedemikian rupa, hingga air limbah ini dapat dibuang ke got tanpa menimbulkan polusi. Dalam saluran pengolahan limbah ini diberi pemisah berupa sekat-sekat sebanyak 13 buah yang berfungsi untuk membantu proses pengolahan limbah tersebut. Terdapat juga 13 buah bak kontrol yang dapat dilihat dari atas permukaan jalan. Setelah melalui proses pengolahan tersebut, air limbah yang

Bak kontrol 1 Bak kontrol 2 Bak kontrol 3

Bak kontrol 4 Bak kontrol besar

di pinggir jalan

(59)

sudah bersih akan ditampung pada septictank komunal yang ada di ujung jalan, dan kemudian air tersebut akan dialirkan menuju got.

Gambar 4.43 Bak kontrol komunal pada saluran pembuangan limbah (sanimas)

c. Persampahan

Pada permukiman ini, sampah dipungut oleh petugas yang dibayar oleh warga melalui dusun atau banjar. Terdapat juga bak sampah umum yang terdapat di ujung jalan dekat dengan jalan besar. Selain itu terdapat juga beberapa titik yang digunakan oleh warga sebagai tempat membuang sampah secara tidak bertanggung jawab yang menyebabkan kondisi lingkungan permukiman ini terlihat kotor.

Septictank komunal 13 buah bak kontrol

pengolahan limbah U

(60)

Gambar 4.44 Kondisi persampahan di permukiman kumuh kasus 3

4. Sarana MCK

Berdasarkan penggunaannya, sarana MCK dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu, kamar mandi komunal serta kamar mandi pribadi. Seperti pada kasus permukiman kumuh lainnya, kamar mandi komunal terdapat pada 1 blok hunian yang disewakan kembali oleh penyewa lahan dalam bentuk kamar kost. Pada sampel hunian yang diteliti, dalam 1 blok hunian terdapat 3 kamar mandi yang disediakan oleh penyewa lahan (pemilik kontrakan) untuk penghuni kost pada hunian tersebut. Air bersih yang digunakan berasal dari sumur gali yang ada pada

Tumpukan sampah di pinggir got

Bak sampah umum Tumpukan sampah di ujung timur permukiman

U Tempat sampah

di depan masing-masing hunian

Got yang dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :