66 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Daerah Penelitian
1. Letak, Batas , dan Luas Daerah Penelitian
Kecamatan Sanden merupakan salah satu dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Bantul. Berdasarkan letak astronomis Kecamatan Sanden terletak antara 418000 mT - 423000 mT dan 9116000 mU – 9121000 mU. Jarak linier Kecamatan Sanden dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Bantul 12 km. Kecamatan Sanden sendiri merupakan salah satu kecamatan yang berada di daerah Bantul Selatan, yang memiliki batas administratif:
Sebelah utara : Kecamatan Pandak
Sebelah barat : Kecamatan Srandakan
Sebelah selatan : Samudra Indonesia
Sebelah timur : Kecamatan Kretek
Data Monografi Kecamatan Sanden menyatakan luas Kecamatan Sanden 23,16 km2 (4,57% dari total luas Kabupaten Bantul). Kecamatan Sanden dalam menjalankan pemerintahannya dibagi menjadi empat desa yaitu: Desa Gadingsari (8,12 km2), Desa Gadingharjo (3,08 km2), Desa Srigading (7,58 km2) dan Desa Murtigading (4,38 km2). Desa Murtigading adalah ibukota Kecamatan Sanden.
Kecamatan Sanden terdiri dari 62 pedukuhan dan 272 Rukun Tetangga (RT). Sebaran pedukuhan dan RT antar desa satu dengan desa lain tidak sama. Desa Gadingsari yang merupakan desa terluas
67 mempunyai jumlah RT paling banyak. Sementara itu, jumlah pedukuhan terbanyak dimiliki Desa Srigading. Secara rinci, Desa Gadingsari terbagi menjadi 18 Pedukuhan dan 92 RT, Desa Gadingharjo menjadi 6 pedukuhan dan 24 RT, Desa Srigading menjadi 20 Pedukuhan dan 81 RT, dan Desa Murtigading tersebar dalam 18 pedukuhan dan 75 RT. (Peda administrasi Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul pada halaman 68)
69 2. Kondisi Fisik Wilayah
a. Topografi
Kecamatan Sanden merupakan daerah dataran rendah yang sebagian wilayahnya berbatasan langsung dengan pesisir, secara geografis Kecamatan Sanden terletak pada ketinggian 0-15 meter diatas permukaan laut (mdpal).
b. Tata Penggunaan Lahan
Kecamatan Sanden memiliki luas wilayah sebesar 23,16 km2 (4,57% dari total luas kabupaten Bantul) yang terbagi menjadi beberapa penggunaan lahan meliputi lahan sawah, lahan bukan sawah, dan lahan non pertanian.
Tabel 4. Penggunaan Lahan di Kecamatan Sanden Tahun 2015
No Penggunaan Lahan Luas (ha) %
1. Lahan Sawah 988 42,6
2. Lahan Bukan Sawah 173 7,5
a. Tegal/Kebun 130 5,63 b. Ditanami Pohon/ Hutan Rakyat 35 1,52 c. Lainnya (Tambak, Kolam, Empang, Hutan Negara, dll) 8 0,35 3. Lahan Non-Pertanian ( Pemukiman, Perkantoran, Jalan, Sungai, dll) 1155 49,9 Total 2316 100
Sumber : Badan Pusat Statistik Bantul 2015
Tabel 4. menunjukkan persentase penggunaan lahan di Kecamatan Sanden Tahun 2015 terbagi atas 3 penggunaan lahan yaitu lahan sawah, lahan bukan sawah dan lahan non-pertanian. Penggunaan lahan tertinggi adalah lahan non-pertanian yaitu 49,9% sedangkan untuk persentase terendah penggunaan lahan di Kecamatan Sanden
70 adalah lahan bukan sawah yaitu 7,5%. Penggunaan lahan tertinggi dari lahan bukan sawah adalah tegal/kebun yaitu 5,63% sedangkan untuk persentase terendah penggunaan lahan bukan sawah adalah penggunaan lahan lain-lain (tambak, kolam empang, hutan Negara dll) yaitu 0,35%
c. Kondisi Klimatologis
Iklim merupakan kebiasaan alam yang digerakkan oleh gabungan beberapa unsur, yaitu curah hujan, radiasi matahari, temperatur, kelembaban, awan, presifikasi, evaporasi, tekanan udara, dan angin (Ance Gunarsih, 2006:2). Menurut Abdoel Djamali, (2000:53) dilihat dari unsur unsur iklim tersebut curah hujan dan suhu merupakan unsur iklim yang penting di Indonesia.
Curah hujan disuatu tempat dapat mempengaruhi aktivitas penduduk di wilayah tersebut, dalam hal ini aktivitas ekonomi (kegiatan perekonomian) dan sosial.
Tabel 5. menunjukkan bahwa pada tahun 2015 curah hujan tertinggi pada bulan April yaitu 498 mm, rata-rata curah hujan tahunan adalah 148,17 mm/tahun dan rata-rata hari hujan adalah 6,67.
Faktor iklim dan cuaca memegang peranan penting dalam produksi tanaman pangan khususnya di wilayah tipikal rural/pedesaan yang sebagian besar aktivitas ekonomi berhubungan dengan alam (bertani). Kondisi iklim yang kurang menentu dan kurangnya
71 pemahaman karakteristik iklim dapat mengakibatkan mutu hasil pertanian kurang memuaskan bahkan gagal.
Karakteristik klimatologis sebagai faktor penentu dari jenis tanaman pangan yang dapat hidup. wilayah di Kecamatan Sanden berupa daerah dataran rendah (0-15 mdpl) yang sebagian wilayahnya berbatasan langsung dengan wilayah pesisir. Kecamatan Sanden beriklim tropis dengan cuaca panas sebagai ciri khasnya (Statistik Daerah Kecamatan Sanden Tahun 2016:7). Tanaman pangan yang cocok untuk ditanami di wilayah Kecamatan Sanden contohnya: padi, jagung, tembakau, bawang merah, kedelai,ubi, cabai, buah naga dan lain-lain. Umumnya pada musim penghujan penduduk menanam tanaman padi dan tanaman bawang merah pada musim kemarau. Tabel 5. Jumlah Curah Hujan (mm) dan Hari Hujan Menurut Bulan di Kecamatan Sanden Tahun 2012-2015
No Bulan 2012 2013 2014 2015 CH HH CH HH CH HH CH HH 1. Jan 336 23 611 26 494 21 482 17 2. Feb 147 16 335 22 233 18 108 5 3. Mar 214 20 276 13 95 9 366 18 4. Apr 342 8 59 11 189 13 498 15 5. Mei 239 9 128 6 59 5 68 8 6. Jun 0 2 145 10 13 4 0 0 7. Jul 0 1 143 8 62 5 0 0 8. Agust 0 0 0 0 0 0 0 0 9. Sept 0 0 0 0 0 0 0 0 10 Okt 133 3 49 6 0 0 0 0 11. Nov 101 13 295 18 237 14 27 8 12. Des 170 27 543 14 268 13 229 9 Jumlah total 1.680 122 2.584 134 1.650 102 1.778 80 Rata-rata 140,17 10.17 215,33 11,17 137,5 8,5 148,17 6,67 Keterangan : CH = Curah Hujan (mm)
HH = Hari Hujan
72 d. Kondisi Geologis
Jenis batuan yang terdapat di Kabupaten Bantul secara umum terdiri dari 3 jenis batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen dan batuan endapan. Berdasarkan sifat batuannya di Kabupaten Bantul terdapat 6 formasi geologi yaitu Formasi Yogyakarta, Formasi Semilir-Nglanggran, Formasi Sentolo, Formasi Wonosari, Formasi Sambipitu, dan Formasi gumuk Pasir.
Kecamatan Sanden sendiri secara geologis berada pada Formasi Sentolo dengan jenis tanah Grumusol.Tanah Grumusol berasal dari batuan induk batu gamping berlapis, napal dan tuff. Tanah grumusol adalah tanah yang terbentuk dari material halus berlempung. Jenis tanah ini berwarna kelabu hitam dam bersifat subur. Seperti halnya faktor iklim, faktor tanah juga mempengaruhi hasil pertanian dan jenis tanaman yang dibudidayakan. Tanaman yang dapat tumbuh pada tanah grumusol contohnya padi, jagung, kedelai, tebu, tembakau dan jati.
3. Kondisi Demografis
a. Jumlah dan Kepadatan Penduduk 1) Kepadatan Penduduk Kasar (KPK)
Kepadatan penduduk kasar adalah banyaknya penduduk persatuan luas (km2), dalam Kepadatan penduduk Kasar (KPK) hal seperti mata pencaharian penduduk tidak ikut menjadi pertimbangan (Ida Bagoes Kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk persatuan unit wilayah atau perbandingan antara jumlah penduduk disuatu
73 wilayah dengan luas wilayah tersebut (Ida bagoes Mantra, 2013:74). Lebih lanjut Ida Bagoes Mantra menggolongkan kepadatan penduduk menjadi 3 yaitu Kepadatan Penduduk Kasar (KPK), Kepadatan Penduduk Fisiologis (KPF) dan Kepadatan Penduduk Agraris (KPA) (Mantra, 2013:74). KPK di kecamatan Sanden dapat diketahui dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
KPK = Jumlah penduduk wilayah (Jiwa) Luas Wilayah (Km2)
Diketahui : Jumlah penduduk Kecamatan Sanden = 30.114 jiwa Luas Wilayah = 23,16 km2
KPK = 30.114 jiwa 23,16 km2
= 1300,25 Jiwa/km2, dibulatkan menjadi 1300 Jiwa/km2 Hasil perhitungan kepadatan penduduk kasar di Kecamatan Sanden menunjukkan angka 1300, berarti setiap satu kilometer persegi wilayah di Kecamatan Sanden di huni oleh 1300 jiwa. Tabel 6. Kepadatan Penduduk Kasar (KPK) Berdasarkan Desa di Kecamatan Sanden Tahun 2015
No Desa Luas Area (km2) Jumlah Penduduk (Jiwa) KPK (Jiwa/km2) 1. Gadingsari 8,12 9.443 1.163 2. Gadingharjo 3,08 3.490 1.133 3. Srigading 7,58 9.281 1.224 4. Murtigading 4,38 7.900 1.804 Jumlah 23,16 30.114 1300
Sumber : Kecamatan Sanden dalam Angka Tahun 2016
Tabel 6 menunjukkan bahwa walaupun jumlah penduduk terkonsentrasi di Desa Gadingsari tetapi kepadatan penduduk paling tinggi berada di Desa Murtigading. Predikat sebagai daerah
74 pusat pemerintahan di Kecamatan Sanden menjadikan Desa Murtigading desa terpadat dengan kepadatan 1804 Jiwa/km2 , sedangkan desa yang mempunyai kepadatan penduduk paling rendah adalah Desa Gadingharjo yaitu 1.133 jiwa/km2.
2) Kepadatan Penduduk Fisiologis (KPF)
Kepadatan Penduduk Fisiologis (KPF) adalah perbandingan antara jumlah penduduk per luas wilayah pertanian (Ida Bagoes Mantra 2013:75). Kepadatan Penduduk Fisiologis (KPF) di Kecamatan Sanden dapat diketahui dengan menggunakan rumus berikut:
KPF = Jumlah penduduk wilayah (Jiwa) Luas Wilayah Pertanian (km2)
Diketahui : Jumlah penduduk Kecamatan Sanden = 30.114 jiwa Luas wilayah pertanian = 11,61 km2
KPF = 30.114 jiwa 11,61 km2
= 2.593,79 Jiwa/km2, dibulatkan menjadi 2.594 Jiwa/km2 Hasil perhitungan kepadatan penduduk fisiologis di Kecamatan Sanden menunjukkan angka 2.594, berarti setiap satu kilometer persegi lahan pertanian di Kecamatan Sanden di huni oleh 2.594 jiwa.
Tabel 7 menunjukkan bahwa Kepadatan penduduk Fisiologis paling tinggi berada di Desa Murtigading dengan kepadatan 4.413 jiwa/km2, sedangkan desa yang mempunyai kepadatan penduduk
75 Fisiologis paling rendah adalah Desa Srigading yaitu 1.964 jiwa/km2.
Tabel 7. Kepadatan Penduduk Fisiologis (KPF) Berdasarkan Desa di Kecamatan Sanden Tahun 2015
No Desa Luas Wilayah Pertanian (km2) Jumlah Penduduk (Jiwa) KPF (Jiwa/km2) 1. Gadingsari 3,3276 9.443 2.838 2. Gadingharjo 1,7665 3.490 1.976 3. Srigading 4,7256 9.281 1.964 4. Murtigading 1,7903 7.900 4.413 Jumlah 11,61 30.114 2.594
Sumber : Kecamatan Sanden dalam Angka Tahun 2016 3) Kepadatan Penduduk Agraris (KPA)
Kepadatan penduduk agraris ialah jumlah penduduk petani tiap-tiap kilometer tanah pertanian (Ida Bagoes Mantra, 2013:76). Rumus untuk menghitung kepadatan penduduk agraris di Kecamatan Sanden adalah sebagai berikut:
KPA = Jumlah penduduk petani (Jiwa) Luas tanah pertanian (km2) Diketahui :
Jumlah penduduk petani Kecamatan Sanden = 5047jiwa Luas tanah pertanian = 11,61 km2
KPA = 5047 jiwa 11,61 km2
=434,71 jiwa/km2, dibulatkan menjadi 435 jiwa/km2
Hasil perhitungan kepadatan penduduk agraris di Kecamatan Sanden menunjukkan angka 435, berarti setiap satu kilometer
76 persegi lahan pertanian di Kecamatan Sanden di huni oleh 435 jiwa.
b. Komposisi Penduduk
Ida Bagoes Mantra (2013: 28-29) menyatakan bahwa karakteristik suatu wilayah dilihat dari komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat digolongkan menjadi 3 macam, yaitu: 1) Ekspansif, jika sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur muda. Wilayah yang memiliki karakteristik penduduk ekspansif memiliki angka kelahiran yang tinggi dan angka kematian yang rendah sehingga daerah ini mengalami pertumbuhan penduduk yang cepat.
2) Konstruktif, jika penduduk yang berada dalam kelompok termuda
jumlahnya sedikit. Wilayah yang memiliki karakteristik penduduk
konstruktif memiliki tingkat kelahiran yang lebih rendah dari tingkat
kematian. Penurunan tingkat kelahiran yang tajam menyebabkan pertumbuhan penduduk mengalami penurunan.
3) Stasioner, jika banyaknya penduduk dalam tiap kelompok umur
hampir sama kecuali pada kelompok umur tertentu. Wilayah yang memiliki karakteristik penduduk stasioner memiliki tingkat kelahiran yang hampir sama dengan tingkat kematian. Pertumbuhan penduduk cenderung tetap.
77 Gambar 3. Piramida Penduduk Kecamatan Sanden Tahun 2015
Piramida penduduk menurut umur dan jenis kelamin di Kecamatan Sanden, menunjukkan bahwa Kecamatan Sanden memiliki karakteristik penduduk konstuktif, dimana kelompok umur muda memiliki jumlah terkecil kemudian meningkat di kelompok umur menengah dan kembali menurun di kelompok umur tua (65+). Piramida Penduduk Kecamatan Sanden menjelaskan bahwa struktur penduduk di Kecamatan Sanden memiliki kecenderungan struktur penduduk tua. jumlah penduduk yang berusia <14 tahun lebih kecil (kurang dari 35%) daripada kelompok yang berusia > 65 (sekitar 15%).
c. Jumlah Penduduk Lanjut Usia
Jumlah penduduk lanjut usia di kecamatan Sanden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini.
78 Tabel 8. Jumlah Penduduk Lanjut Usia Berdasarkan Jenis Kelamin di Kecamatan Sanden Tahun 2015
No Desa Jenis Kelamin (Jiwa) Jumlah
(Jiwa) % L % P % 1. Gadingsari 777 30,76 1.055 32,58 1.832 31,78 2. Gadingharjo 286 11,32 376 11,61 662 11,48 3. Srigading 792 31,36 964 29,77 1.756 30,47 4. Murtigading 671 26,56 843 26,04 1.514 26,27 Jumlah 2.526 100 3.238 100 5.764 100
Sumber: Kecamatan Sanden dalam Angka Tahun 2016
Tabel 8. menunjukkan bahwa persentase jumlah penduduk lansia paling banyak berada di Desa Gadingsari yaitu sebesar 31,78% sedangkan persentase jumlah penduduk lansia terendah berada di Desa Gadingharjo yaitu sebesar 11,48%. Jumlah penduduk lansia perempuan di Kecamatan Sanden lebih besar dibandingkan jumlah penduduk lansia laki-laki, hal tersebut salah satunya disebabkan oleh harapan hidup perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.
d. Sex Ratio
Perbandingan antara jumlah penduduk pria dan penduduk wanita (sex ratio) di Kecamatan Sanden adalah sebagai berikut :
Diketahui : Jumlah penduduk laki-laki 14.766 jiwa (Tahun 2015) Jumlah penduduk perempuan 15.348 jiwa (Tahun 2015)
Sex Ratio = Jumlah penduduk laki-laki x 100
Jumlah penduduk perempuan
`` = 14.766 x 100
15.348
79
Sex ratio merupakan perbandingan jumlah penduduk laki-laki
per 100 penduduk perempuan pada suatu daerah dan dalam periode/waktu tertentu. Hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2015 setiap 100 penduduk perempuan di Kecamatan Sanden terdapat 96 penduduk laki-laki.
Perbandingan antara jumlah penduduk pria dan penduduk wanita (sex ratio) di Kecamatan Sanden pada tiap desa dapat dilihat dalam Tabel 9 berikut ini :
Tabel 9. Jumlah Penduduk dan Sex Ratio Berdasarkan Desa di Kecamatan Sanden Tahun 2015
No Desa L P Jumlah penduduk (Jiwa) Sex Ratio 1. Gadingsari 4.584 4.859 9.443 94 2. Gadingharjo 1.732 1.758 3.490 99 3. Srigading 4.566 4.715 9.281 97 4. Murtigading 3.884 4.016 7.900 97 Jumlah 14.766 15.348 30.114 96 Keterangan : L = Laki-laki P = Perempuan
Sumber : Kecamatan Sanden dalam Angka Tahun 2016
Tabel 9 menunjukkan sex ratio di Kecamatan Sanden tertinggi berada di Desa Gadingharjo yaitu sebesar 99, sedangkan sex ratio terendah berada pada Desa Gadingsari yaitu sebesar 94. Persebaran penduduk Kecamatan Sanden terkonsentrasi di Desa Gadingsari sebesar 31,36%, diikuti Desa Srigading sebesar 30,82%, Desa Murtigading sebesar 26,23% dan Desa Gadingharjo 11,59%.
e. Angka Ketergantungan (Dependency Ratio)
Angka ketergantungan merupakan perbandingan jumlah penduduk belum atau tidak produktif dengan penduduk umur
80 produktif. Kelompok umur 0-14 tahun dianggap sebagai kelompok penduduk belum produktif secara ekonomis, kelompok penduduk umur 15-64 tahun sebagai kelompok umur produktif dan kelompok umur 65 tahun keatas sebagai kelompo penduduk tidak lagi produktif (Ida Bagoes Mantra, 2013:73)
Penduduk usia produktif (15-64 tahun) di Kecamatan Sanden berjumlah 19.481 jiwa dan jumlah penduduk usia belum produktif (0-14 tahun) dan tidak produktif (> 65 tahun) berjumlah 10.633 jiwa. Angka ketergantungan (DR) diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
DR = Penduduk usia tidak produktif x 100 Penduduk usia produktif
DR = 10.633 x 100 19.481
DR = 54,58 / dibulatkan menjadi 55
Perhitungan diatas menunjukkan angka ketergantungan sebesar 55, artinya setiap 100 penduduk usia produktif di Kecamatan Sanden harus menanggung beban 55 penduduk usia tidak produktif . Tabel 10. Jumlah Penduduk dan Dependency Ratio Berdasarkan Desa di Kecamatan Sanden Tahun 2015
No Desa Penduduk Belum + Tidak Produktif Penduduk Produktif Jumlah penduduk (Jiwa) DR 1. Gadingsari 3.404 6.039 9.443 56 2. Gadingharjo 1.236 2.254 3.490 55 3. Srigading 3.123 6.158 9.281 51 4. Murtigading 2.870 5.030 7.900 57 Jumlah 10.633 19.481 30.114 55
81 Tabel 10 menunjukkan bahwa angka ketergantungan/
Dependency Ratio (DR) paling tinggi berada di Desa Murtigading
dengan Angka ketergantungan 57, sedangkan desa yang mempunyai angka ketergantungan paling rendah adalah Desa Srigading yaitu 51. 4. Kondisi Sosial
Rasa kekeluargaan, gotong-royong, kebersamaan dan kepedulian masyarakat di Kecamatan Sanden masih tinggi, hal tersebut dapat dilihat dari beberapa kegiatan sosial yang dilakukan penduduk. Tabel 11 merupakan daftar kegiatan sosial yang dilakukan oleh penduduk di Kecamatan Sanden, khususnya di daerah penelitian Desa Gadingharjo dan Desa Murtigading.
Tabel 11 menunjukkan bahwa aktivitas sosial yang dilakukan oleh masing-masing Desa di Kecamatan Sanden masih berjalan. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya jumlah aktivitas sosial dan frekuensinya. Aktivitas sosial yang tinggi pada masing-masing desa Kecamatan Sanden menjadi ciri khas masyarakat Kecamatan Sanden untuk saling tolong-menolong dalam aktivitas sosial kemasyarakatan.
Aktivitas sosial dan organisasi kemasyarakatan yang masih diikuti oleh kelompok penduduk lansia pada tingkat Desa adalah arisan, PKK, posyandu lansia, pengajian/yasinan, kerja bakti, gotong royong, kumpulan RT, melayat, menjenguk warga yang sakit, senam. Selain sebagai pererat hubungan sosial diantara masyarakat kegiatan sosial ini
82 juga berguna untuk membina rohani dan jasmani lansia di Kecamatan Sanden.
Tabel 11. Kegiatan Sosial di Kecamatan Sanden.
No Jenis Kegiatan Lokasi Frekuensi Penanggung Jawab 1. Arisan Semua Kelurahan 2 kali setiap bulan RT 2. PKK Semua Kelurahan 1 bulan sekali RT 3. Posyandu lansia Semua
Kelurahan
1 bulan sekali RT 4. Karang taruna Semua
Kelurahan
1 bulan sekali Dukuh 5. Pengajian/Yasinan Semua
Kelurahan
1 bulan 4 kali Dukuh
6. Kerja bakti Semua
Kelurahan
1 bulan sekali Dukuh 7. Gotong-royong mempersiapkan perayaan/pesta Semua Kelurahan Insidental Tokoh Masyarakat 8 Kumpulan RT Semua Kelurahan 1 bulan sekali RT 9 Melayat Semua Kelurahan Insidental Tokoh Masyarakat 10 Menjenguk warga yang
sakit
Semua Kelurahan
Insidental Tokoh Masyarakat 11. Forsida (Forum Ibu-ibu
Muda)
Semua Kelurahan
1 bulan sekali Dukuh
12 Senam Semua
Kelurahan
1 bulan 4 kali RT Sumber : Data Primer Tahun 2015
5. Kondisi Ekonomi
Penduduk Kecamatan Sanden mempunyai aktivitas ekonomi yang beragam. Keberagaman aktivitas ekonomi tersebut menjadi salah satu karakteristik penduduk daerah perkotaan Mata pencaharian merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurut data demografi Kecamatan Sanden, mata pencaharian penduduk sangat beragam baik sektor industri, jasa maupun sektor pertanian.
83 Tabel 12. Mata Pencaharian Penduduk Kecamatan Sanden Tahun 2015
No Mata Pencaharian Jumlah Jiwa
% 1. Mengurus Rumah Tangga 3402 11,28
2. Pelajar/Mahasiswa 960 3,18
3. Pensiunan 5595 18,56
4. Belum Bekerja 673 2,23
5. Aparatur Sipil Negara 1231 4,08
6. TNI 56 0,18
7. POLRI 100 0,33
8. Pejabat Negara 2 0,01
9. Buruh/ Tukang Berkeahlian Khusus 2109 7 10. Sektor Pertanian 5047 16,75 11. Sector Peternakan 1179 3,92 12. Sektor Perikanan 1527 5,06 13. Karyawan BUMN/BUMD 38 0,13 14. Karyawan Swasta 2418 8,02 15. Wirawasta 4593 15,24 16. Tenaga Medis 70 0,23 17. Pekerjaan Lainnya 1144 3,80 Jumlah 30.144 100
Sumber: Data Demografi Kecamatan Sanden Tahun 2016
Tabel 12 di atas mengambarkan mata pencaharian penduduk Kecamatan Sanden yang beragam, mata pencaharian yang paling banyak ditekuni oleh masyarakat di Kecamatan Sanden adalah dalam bidang pertanian (16,75%).
B. Deskripsi dan Pembahasan Hasil Penelitian
1. Karakteristik Demografi, Ekonomi dan Sosial Responden
Kemajuan dalam bidang teknologi kesehatan memberikan dampak pada peningkatan harapan hidup manusia khususnya di Indonesia. Peningkatan harapan hidup manusia membuat populasi lansia semakin bertambah.salah satu dampak dari pertumbuhan wilayah yang berbeda-beda menjadikan penggolongan daerah menjadi daerah bertipe perkotaan dan
84 daerah bertipe perdesaan. Perbedaan daerah tempat tingga tersebut tentu berdampak pula pada karakteristik lansia di daerah bertipe perkotaan dan daerah perdesaan.Dengan melihat kakteristik responden, diharapkan dapat menggambarkan keadaan lansia yang tinggal di daerah yang memiliki tipikal perkotaan maupun perdesaan dengan keadaan yang sebenarnya. Karakteristik responden meliputi, karakteristik demografis,karakteristik sosial dan karakteristik ekonomi
a. Karakteristik Demografi 1) Usia/Umur
Keadaan fisik merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi aktivitas ekonomi dan sosial yang dilakukan lansia. Semakin bertambahnya umur biasanya keadaan fisik lansia juga ikut menurun. Karakteristik lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo dapat dilihat dari tabel 13.
Dilihat karakteristik responden berdasarkan umur, penduduk lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo didominasi oleh kelompok umur lansia muda (60-69 tahun). Penduduk lansia muda memiliki kemungkinan lebih besar untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial dibandingkan dengan kelompok lansia menengah dan lansia tua. Rata-rata umur lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo sama yaitu 71 tahun. Dilihat dari jenis kelamin, rerata umur lansia laki-laki di Desa Murtigading lebih tinggi jika dibandingkan dengan Desa Gadingharjo,
85 sebaliknya rerata umur lansia perempuan di Desa Gadingharjo lebih tinggi daripada di Desa Murtigading.
Tabel 13. Proporsi Umur dan Jenis Kelamin Responden
Keterangan : (*) = dengan pembulatan Sumber : Data Primer, 2016
Proporsi lansia kelompok umur menengah di Desa Murtigading lebih besar jika dibandingkan dengan Desa Gadingharjo yaitu sebesar 38,8%, sebaliknya pada kelompok lansia tua proporsi lansia di Desa Gadingharjo lebih besar jika dibandingkan dengan Desa Murtigading yaitu sebesar 20,68%. Harapan hidup perempuan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan laki laki menyebabkan terjadinya kesenjangan antara proporsi laki-laki dan perempuan, tampaknya hal tersebut juga terjadi di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo. Proporsi lansia perempuan lebih besar jika di bandingkan dengan lansia laki-laki. Secara umum, lansia kelompok umur tua proporsinya paling rendah jika dibandingkan dengan kelompok lansia muda dan menengah, hal tersebut dikarenakan semakin bertambahnya umur N
o
Kelomp ok Umur
Desa Murtigading Desa Gadingharjo Jumlah
L P ∑ L P ∑ L P ∑ 1 60-69 50 46,51 47,76 50 47,37 48,27 47,06 46,77 47.91 2 70-79 37,5 39,54 38,81 30 31,58 31,03 35,29 37,1 36,46 3 >80 12,5 13,95 13,43 20 21,05 20,68 17,65 16,13 15,63 4 Jumlah % 100 100 100 100 100 100 100 100 100 5 N 24 43 67 10 19 29 34 62 96 6 Rata-rata (tahun) * 72 70 71 71 71 71 72 70 71
86 seseorang maka kemampuan fungsi tubuh akan menurun dan kerentanan akan penyakit akan meningkat.
2) Status Perkawinan
Status perkawinan merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi status tinggal lansia yang selanjutnya akan memberikan pengaruh terhadap kondisi kesejahteraan lansia. Status perkawinan dibedakan menjadi 4 macam yaitu; belum kawin, kawin, janda dan duda. Karakteristik lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo menurut status perkawinan dapat dilihat dalam Tabel 14 dibawah ini.
Tabel 14. Proporsi Status Perkawinan Responden N
o
Status perkawi nan
Desa Murtigading Desa Gadingharjo Jumlah
L P ∑ L P ∑ L P ∑ 1 Belum Kawin - 4,65 2,98 - - - - 3,23 2,08 2 Kawin 79,17 44,19 56,72 80 31,58 48,27 79,41 40,32 54,17 3 Janda - 51,16 32,84 - 68,42 44,83 - 56,45 36,46 4 Duda 20,83 - 7,46 20 - 6,90 20,59 - 7,29 5 Jumlah % 100 100 100 100 100 100 100 100 100 6 N 24 43 67 10 19 29 34 62 96
Sumber : Data Primer, 2016
Tabel 14 menunjukkan bahwa secara umum proporsi lansia tertinggi di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo adalah kawin. Proporsi status kawin di Desa Murtigading lebih tinggi yaitu sebesar 56,72%. Proporsi duda di Desa Murtigading lebih besar daripada di Desa Gadingharjo yaitu sebesar 7,46% sebaliknya, Desa Gadingharjo memiliki proporsi janda lebih besar daripada Desa Murtigading yaitu sebesar 44,83%. Status perkawinan janda/duda di
87 Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo menunjukkan proporsi janda lebih besar daripada proporsi duda. Kondisi tersebut terjadi karena umumnya usia suami/lansia laki-laki waktu menikah lebih besar daripada usia istri/lansia perempuan dan harapan hidup lansia perempuan lebih tinggi jika dibandingkan dengan lansia laki-laki sehingga peluang lansia laki-laki meninggal terlebih dahulu lebih besar. Di Desa Murtigading terdapat lansia dengan status belum kawin. Jika dilihat menurut jenis kelamin lansia berstatus belum kawin ini adalah perempuan. Dilihat dari jenis kelamin di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo proporsi tertinggi dari status perkawinan laki-laki adalah kawin dan proporsi tertinggi lansia perempuan adalah janda. Kondisi tersebut terjadi karena duda berusia tua lebih lumrah/mudah untuk menikah lagi daripada janda tua.
3) Status dalam Rumah Tangga
Status rumah tangga dibedakan menjadi 3 macam yaitu; kepala rumah tangga, anggota rumah tangga suami, dan anggota rumah tangga anak. Kepala rumah tangga memiliki tanggung jawab yang paling besar jika dibandingkan dengan status dalam rumah tangga lain, hal tersebut berkenaan dengan tugas dan kepala keluarga seperti pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan/peraturan dalam rumah tangga. Karakteristik lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo menurut status rumah tangga dapat dilihat dalam Tabel 15.
88 Tabel 15 menunjukkan bahwa proporsi lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo sebagian besar berstatus sebagai kepala rumah tangga. Hal tersebut dibuktikan dengan proporsi kepala rumah tangga lebih tinggi jika dibandingkan dengan status lainnyaa yaitu sebesar 73,14% di Desa Murtigading dan 75,86% di Desa Gadingharjo. Besarnya proporsi lansia berstatus kepala rumah tangga tersebut membuktikan anggapan bahwa lansia hanya berfungsi sebagai pelengkap/pajangan dan beban di rumah tangga adalah tidak benar. Lansia masih diberikan tanggung jawab dalam memimpin rumah tangga dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Tabel 15. Proporsi Status Lansia dalam Rumah Tangga Responden N
o
Status dalam Rumah Tangga
Desa Murtigading Desa Gadingharjo Jumlah
L P ∑ L P ∑ L P ∑ 1 Kepala Rumah Tangga 100 58,14 73,14 100 63,16 75,86 100 59,68 73,96 2 Anggota Rumah Tangga Suami - 39,53 25,37 - 36,84 24,14 - 38,71 25 3 Anggota Rumah Tangga Anak - 2,33 1,49 - - - - 1,61 1,04 4 Jumlah % 100 100 100 100 100 100 100 100 100 5 N 24 43 67 10 19 29 34 62 96
Sumber : Data Primer, 2016
Dilihat dari jenis kelamin proporsi lansia laki-laki yang menjadi kepala rumah tangga lebih besar jika dibandingkan dengan lansia perempuan. Proporsi lansia laki-laki baik di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo sebesar 100% artinya semua
89 laki-laki berstatus menjadi kepala rumah tangga. Di Indonesia umumnya tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga diserahkan kepala laki-laki. Proporsi lansia perempuan kepala rumah tangga yaitu sebesar 63,16% di Desa Gadingharjo, proporsi tersebut lebih tinggi jika dibandingkan pada Desa Murtigading yaitu sebesar 58,14%. Kondisi tersebut umumnya disebabkan karena pasangan/lansia laki-laki sudah meninggal sehingga posisi kepala rumah tangga digantikan oleh lansia perempuan. Berbeda dengan lansia perempuan berstatus anggota rumah tangga suami, di Desa Murtigading lansia perempuan anggota rumah tangga suami memiliki proporsi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan Desa Gadingharjo. Proporsi lansia perempuan anggota rumah tangga lansia di Desa Murtigading adalah 25,37%.
4) Jumlah Anak
Jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh responden lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo antara 0-8 anak. Jumlah anak merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi jumlah bantuan anak yang selanjutnya mempengaruhi kesejahteraan hidup lansia. Karakteristik lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo menurut jumlah anak dapat dilihat pada Tabel 16 berikut.
90 Tabel 16. Jumlah Anak Responden
No Jumlah Anak (Jiwa)
Desa Gadingharjo Desa Murtigading
F % F %
1 0-2 15 22,39 11 37,93
2 3-5 42 62,69 13 44,83
3 6-8 10 14,92 5 17,24
Jumlah 67 100 29 100
Sumber : Data Primer Tahun 2016
Tabel 16 menunjukkan bahwa proporsi jumlah anak lansia di Desa Murtigading (62,69%) dan Desa Gadingharjo (44,83%) tertinggi pada jumlah 3-5 anak. Kesenjangan presentase yang cukup jauh tersebut menunjukkan bahwa jumlah anak pada Desa Murtigading lebih besar daripada Desa Gadingharjo. Besarnya jumlah anak yang dilahirkan tersebut wajar karena zaman dahuu program kontrasepsi belum segencar sekarang, disamping itu terdapatnya kepercayaan yang melekat dimasyarakat dahulu tentang “banyak anak banyak rejeki”.
b. Karakteristik Ekonomi 1) Pendapatan Non-kerja
Pendapatan non-kerja ialah pendapatan yang diterima atau dihasilkan bukan dari aktivitas ekonomi (bekerja). Pendapatan non-kerja. Pendapatan non-kerja yang dimaksut dalam penelitian ini ialah seperti uang pensiun, menyewakan lahan/rumah, selanjutnya pendapatan non-kerja akan dilihat berdasarkan besaran kebutuhan hidup layak (KHL) Kabupaten Bantul 2016 yaitu sebesar Rp.1.163.770.
91 Tabel 17. Pendapatan Non-kerja Responden
No Pendapatan Non-kerja F (Jiiwa) % F (Jiiwa) % 1. Tidak ada 42 62,7 21 72,4 2. Ada, Dibawah standar KHL* 7 10,4 2 6,9
3. Ada, Diatas standar KHL*
18 26,9 6 20,7
Jumlah 67 100 29 100
Keterangan ; (*) = standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) Kabupaten Bantul 2016 sebesar Rp. 1.163.770,-
Sumber : Data Primer, 2016
Karakteristik responden berdasarkan keterdapatan pendapatan non-kerja di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo tidak ada perbedaan yang berarti, namun dapat dilihat bahwa proporsi lansia yang memiliki pendapatan non-kerja pada kedua wilayah tersebut lebih kecil daripada lansia yang tidak memiliki pendapatan non-kerja.
Tabel 17. menunjukkan bahwa proporsi tertinggi besaran pendapatan non-kerja lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo adalah diatas standar KHL Kabupaten Bantul. Besaran proporsi pendapatan non-kerja diatas KHL 26,9% di Desa Murtigading dan 20,6% di Desa Gadingharjo. Rata rata pendapatan non-kerja lansia di Desa Murtigading lebih tinggi yaitu Rp.2.149.400,- dan Rp. 1.868.750,- di Desa Gadingharjo.
92 Tabel 18. Sumber Pendapatan Non-kerja
No Sumber
Pendapatan Non-kerja
Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiiwa) % F (Jiiwa) % 1. Uang Pensiun 14 56 3 37,5 2. Menyewakan Lahan/Rumah 8 32 5 62,5 3. Uang Pensiun + Menyewakan Lahan/Rumah 3 12 - - Jumlah 25 100 8 100
Sumber : Data Primer Tahun 2016
Tabel 18 menunjukkan bahwa uang pensiun merupakan sumber pendapatan non kerja paling tinggi di Desa Murtigading dengan proporsi sebesar 56%, sedangkan di Desa Gadingharjo sumber pendapatan non-kerja berasal dari menyewakan rumah/lahan dengan proporsi sebesar 62,5%.
2) Santunan
Santunan ialah bantuan yang diberikan kepada responden baik berupa uang maupun barang karena memiliki hubungan keluarga/kerabat. Agar informasi tentang santunan lansia semakin lengkap, maka turut serta ditanyakan tentang frekuensi dan bentuk santunan yang diberikan kepada lansia. Karakteristik lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo menurut keterdapatan santunan dapat dilihat pada Tabel 19 berikut.
Tabel 19 menunjukkan bahwa secara umum lansia yang mendapatkan santunan di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo memiliki proporsi lebih tinggi daripada lansia yang tidak mendapatkan santunan. Tingginya proporsi lansia yang menerima
93 santunan menunjukkan rasa keperdulian dari anak/sanak keluarga terhadap lansia masih besar pada kedua wilayah. Dalam penelitian ini terdapat 26,87% di Desa Murtigading dan 34,48% di Desa Gadingharjo yang tidak mendapatkan santunan, hal tersebut dikarenakan kehidupan lansia secara ekonomi cukup mapan adapula yang disebabkan kondisi ekonomi rumah tangga anak kurang bagus sehingga tidak ingin merepotkan anaknya.
Tabel 19. Santunan Berdasarkan Status perkawinan Responden
No Santunan Desa Murtigading Desa Gadingharjo
BK Kw Jn Du ∑ BK Kw Jn Du ∑ 1. Mendapatkan santunan 1,49 38,81 25,37 7,46 73,13 - 31,03 27,59 6,9 65,52 2. Tidak mendapatkan santunan 1,49 17,92 7,46 - 26,87 - 17,24 17,24 - 34,48 Jumlah % 2,98 56,73 32,83 7,46 100 - 48,27 44,83 6,9 100 N 2 38 22 5 67 - 14 13 2 29
Keterangan : BK = belum kawin, Kw = kawin, Jn = janda, Du= Duda Sumber : Data Primer, 2016
Proporsi lansia yang mendapatkan santunan di Desa Murtigading lebih besar yaitu sebesar 73,13% dibandingkan dengan Desa Gadingharjo yaitu sebesar 65,52%. Dilihat dari jenis status perkawinan, lansia yang paling banyak mendapatkan santunan di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo adalah kawin. Proporsi lansia duda di kedua wilayah, baik di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo tidak mendapatkan santunan adalah 0%, hal ini menunjukkan bahwa seluruh responden lansia duda mendapatkan santunan semua.
94 Tabel 20 menunjukkan keterdapatan santunan dilihat dari kelompok umur, bahwa lansia yang mendapatkan santunan di Desa Murtigading adalah kelompok lansia menengah (70-79 tahun) sedangkan di Desa Gadingharjo adalah lansia muda (60-69 tahun). Tabel 20. Santunan Berdasarkan Kelompok Umur Responden N
o
Keterdapatan Santunan
Desa Murtigading Desa Gadingharjo
LMu LMe LTua ∑ LMu LMe LTua ∑
1. Mendapatkan santunan 25,37 32,84 13,43 71,64 37,93 13,79 13,79 65,52 2. Tidak mendapatkan santunan 22,39 5,97 - 28,36 10,35 17,24 6,9 34,48 Jumlah % 47,76 38,81 13,43 100 48,28 31,03 20,69 100 N 32 26 9 67 14 9 6 29
Sumber: Data Primer, 2016
Tabel 21. Frekuensi Santunan Responden
No Frekuensi Santunan Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiiwa) % F (Jiwa) % 1 Rutin 34 50,75 17 58,62 2 Tidak Rutin/Insidental 14 20,89 2 6,9 3 Tidak mendapat santunan 19 28,36 10 34,48 Jumlah 67 100 29 100
Sumber : Data primer Tahun 2016
Tabel 21 menunjukkan proporsi tertinggi frekuensi santunan yaitu 50,75% di Desa Murtigading dan 58,62% di Desa Gadingharjo adalah rutin. Hal tersebut menjelaskan bahwa santunan dari keluarga atau kerabat dekat merupakan sumber pendapatan tetap lansia.
Tabel 22 menunjukkan perbedaan proporsi tertinggi bentuk santunan yaitu 46,27% di Desa Murtigading adalah berupa uang dan 27,59% di Desa Gadingharjo adalah berupa uang+barang. Biasanya
95 santunan non-uang/barang yang diberikan oleh keluarga/ kerabat kepada lansia berupa sembako (makanan mentah) yang nantinya akan diolah/dimasak oleh lansia untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya. Bahkan terdapat lansia yang setiap hari mendapat kiriman makanan (nasi, sayur, dan lauk-pauk) dari anak-anak. Tabel 22. Bentuk Santunan Responden
No Bentuk Santunan Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiiwa) % F (Jiiwa) % 1 Uang 31 46,27 7 24,14 2 Non-Uang/Barang 3 4,48 4 13,79 3 Uang + Non-uang/Barang 14 20,89 8 27,59 4 Tidak mendapatkan santunan 19 28,36 10 34,48 Jumlah 48 100 19 100
Sumber : Data Primer Tahun 2016
c. Karakteristik Sosial 1) Jenjang Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi kualitas penduduk suatu Negara. Pendidikan merupakan modal dasar dalam pengembangan kemampuan intelektual individu. Melalui pendidikan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik akan meningkat, hal tersebut diwujudkan dalam kemampuan seseorang dalam menghadapi dan memecahkan suatu masalah. Selain itu tingkat pendidikan yang dimiliki juga dapat mempengaruhi jenis pekerjaan yang akan ditekuni. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin tinggi pula kesempatan untuk memperoleh jenis pekerjaan yang lebih baik dan
96 tingkat kemungkinan bergantung kepada orang lain, keluarga atau masyarakat disekitarnya menurun.
Tabel 23. Proporsi Jenjang Pendidikan Responden No Jenjang
pendidikan
Desa Murtigading Desa Gadingharjo
L P ∑ L P ∑ 1. Tidak Sekolah /Belum Tamat SD 12,5 44,19 32,84 10 84,22 58,62 2. SD 20,83 9,3 13,43 50 - 17,24 3. SMP 29,17 11,63 17,91 10 5,26 6,9 4. SMA 4,17 25,58 17,91 20 5,26 10,34 5. PT/ Akademi 33,33 9,3 17,91 10 5,26 6,9 Jumlah % 100 100 100 100 100 100 N 24 43 67 10 19 29
Sumber : Data Primer, 2016
Tabel 23 menunjukkan bahwa proporsi tertinggi menurut karakteristik jenjang pendidikan lansia yaitu 32,84% di Desa Murtigading dan 58,62% di Desa Gadingharjo adalah tidak sekolah/belum tamat SD. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo merupakan lansia yang lahir pada tahun 40-50 an, dimana pada masa itu pendidikan merupakan hal mewah yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Jika dilihat dari jenis kelamin terdapat perbedaan antara tingkat pendidikan perempuan dan laki-laki. Proporsi lansia perempuan paling tinggi adalah tidak sekolah/belum tamat SD yaitu sebesar 44,19% di Desa Murtigading dan 58,62% di Desa Gadingharjo, sedangkan proporsi tertinggi lansia laki-laki yaitu sebesar 33,33% di Desa Murtigading adalah berpendidikan
97 PT/Akademi dan 50% pada Desa Gadingharjo adalah berpendidikan SD.
Ketimpangan tingkat pendidikan antara laki-laki dan perempuan tersebut karena terdapat deskriminasi gender di dunia pendidikan. Laki-laki pada saat itu lebih mudah untuk mendapatkan akses pendidikan dengan pertimbangan bahwa laki-laki nantinya akan menjadi tulang punggung keluarga dan meneruskan keturunan. Orang dahulu menganggap perempuan tidak perlu memiliki pendidikan yang tinggi karena tugasnya hanya membantu dan melayani suami saat sudah menikah dan membangun rumah tangga. Berbeda dengan zaman sekarang, yang menganggap pendidikan merupakan suatu keharusan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.
Proporsi lansia berpendidikan PT/Akademi di Desa Murtigading lebih tinggi daripada di Desa Gadingharjo hal tersebut menunjukkan bahwa secara umum tingkat pendidikan di Desa Murtigading lebih tinggi daripada di Desa Gadingharjo. Tingkat pendidikan mempengaruhi pola pikir seseorang dalam menyikapi masalah dan keterbukan seseorang terhadap suatu informasi baru. 2) Status Kesehatan
Kesehatan merupakan modal bagi seseorang dalam melakukan aktivitas, baik aktivitas fisik, sosial maupun ekonomi, sehingga ada pepetah yang berbunyi “men sana in corpora sano” yang
98 mengandung makna di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Status kesehatan lansia tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan hidup sewaktu muda. Kebiasaan hidup yang buruk seperti merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, kurang olahraga akan lebih rentan dan cepat terkena penyakit degeneratif.
Status kesehatan dalam penelitian ini merupakan kondisi kesehatan responden lansia seperti keluhan kesehatan lansia dari berbagai macam penyakit dalam kurun waktu satu bulan sebelum wawancara dilakukan. Agar informasi kondisi kesehatan lansia semakin lengkap, maka turut serta ditanyakan tentang ganguan kesehatan, penyakit menahun, kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, upaya pengobatan, dan sumber biaya pengobatan. Karakteristik lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo menurut status kesehatan dapat dilihat pada Tabel 24 berikut.
Tabel 24. Status Kesehatan Responden N
o
Status Kesehatan
Desa Murtigading Desa Gadingharjo
Lmu Lme LT ∑ Lmu Lme LT ∑
1 Sehat 50 42,31 22,22 43,28 35,71 44,44 50 41,38 2 Sakit 50 57,69 77,78 56,72 64,28 55,56 50 58,62
Jumlah % 100 100 100 100 100 100 100 100
N 32 26 9 67 14 9 6 29
Keterangan : LMu = Lansia Muda (60-69 tahun) LMe = Lansia Menengah ( 70-79 tahun) LT = Lansia Tua ( >80 tahun)
Sumber : Data Primer, 2016
Tabel 24 menunjukkan bahwa proporsi tertinggi berdasarkan karakteristik status kesehatan lansia yaitu sebesar 56,71% dan
99 58,62% adalah sakit. Walaupun tidak banyak perbedaan, proporsi lansia sehat di Desa Murtigading lebih tinggi dibandingkan dengan Desa Gadingharjo, hal tersebut menunjukkan bahwa status kesehatan di Desa Murtigading lebih baik.
Terdapat perbedaan status kesehatan lansia jika dilihat berdasarkan kelompok umur lansia, di Desa Murtigading lansia sehat didominasi oleh kelompok umur lansia muda, sebaliknya di Desa Gadingharjo lansia sehat di dominasi oleh kelompok umur tua. Tabel 25. Kemampuan Melakukan Aktivitas Sehari-hari Responden No Kemampuan Melakukan
Aktivitas Sehari-hari
Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiiwa) % F (Jiiwa) %
1. Dilakukan sendiri 65 97,01 25 86,21
2. Memerlukan bantuan orang lain
2 2,99 3 10,34
3. Tergantung orang lain 0 0 1 3,45
Jumlah 67 100 29 100
Sumber : Data primer tahun 2016
status kesehatan sakit dalam penelitian ini tidak berarti lansia tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Seperti pada Tabel 25, tabel tersebut menunjukkan bahwa mayoritas lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo dalam melakukan aktivitas sehari-hari dilakukan sendiri. Berdasarkan proporsi kemampuan aktivitas sehari-hari lansia yang dilakukan sendiri, Desa Murtigading memiliki proporsi lebih tinggi yaitu sebesar 97,01% sedangkan pada Desa Gadingharjo yaitu sebesar 86,21%. Kondisi tersebut menunjuukkan bahwa tingkat kemandirian lansia di Desa Murtigading lebih tinggi daripada lansia Desa Gadingharjo.
100 Status kondisi sakit yang menghambat aktivitas lansia adalah jika lansia menderita penyakit yang memerlukan perawatan di rumah sakit atau lansia yang memiliki tingkat disabilitas hanya sebatas berbaring ditempat tidur sehingga sepenuhnya tergantung dengan keluarga/ orang lain.
Tabel 26. Gangguan Kesehatan Responden No Gangguan
Kesehatan
Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiiwa) % F (Jiiwa) % 1. Tidak Ada 15 22,39 3 10,34 2. Gangguan penglihatan/Pendeng aran 7 10,45 6 20,69
3. Nyeri pada pinggang dan punggung
11 16,42 7 24,14
4. Mudah lelah 10 14,92 4 13,80
5. Perasaan dingin dan kesemutan
7 10,45 6 20,69
6. Lain-lain 17 25,37 3 10,344
Jumlah 67 100 29 100
Sumber : Data primer tahun 2016
Tabel 26 menunjukkan karakteristik lansia menurut gangguan kesehatan yang diderita. Terdapat perbedaan jenis gangguan kesehatan yang di derita antara lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo. Proporsi tertinggi gangguan kesehatan lansia di Desa Murtigading yaitu sebesar 25,37% adalah lain-lain (sering pusing, masuk angin, batuk, sesak nafas), sedangkan proporsi tertinggi di Desa Gadingharjo yaitu sebesar 24,14% adalah nyeri pada pinggang dan punggung.
Proporsi terendah jenis gangguan kesehatan lansia di Desa Murtigading yaitu sebesar 10,45% adalah gangguan penglihatan/pendengaran dan perasaan dingin/kesemutan,
101 sedangkan di Desa Gadingharjo yaitu sebesar 13,80% adalah mudah lelah. Beragamnya jenis gangguan kesehatan yang dialami oleh lansia menunjukkan bahwa semakin bertambahnya umur maka keadaan fisik seseorang menurun dan kerentanan terhadap penyakit meningkat.
Tabel 27. Upaya Kesehatan yang Dilakukan Responden
No Upaya Kesehatan Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiiwa) % F (Jiiwa) % 1. Diobati sendiri 18 26,87 9 34,48 2. Ke puskesmas 34 50,75 7 24,14 3. Ke dokter pribadi 6 8,95 6 17,24 4. Kerumah sakit 9 13,43 6 20,69 5. Lain-lain - - - - Jumlah 67 100 29 100
Sumber : Data Primer, 2016
Tabel 27 menunjukkan proporsi tertinggi upaya kesehatan yang dilakukan lansia di Desa Murtigading adalah ke puskesmas yaitu sebesar 50,75%, sedangkan di Desa Gadingharjo yaitu sebesar 31,03% adalah diobati sendiri (meminum obat tradisonal/jamu, beli obat di warung/ apotik) dan ke puskesmas. Uraian Tabel 27 menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan pada Desa Murtigading lebih tinggi daripada di Desa Gadingharjo.
Tabel 28 menunjukkan proporsi kepemilikan penyakit menahun dan upaya pengobatan lansia di. Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo. Desa Gadingharjo memiliki tingkat kerentanan terhadap penyakit menahun lebih tinggi daripada Desa Murtigading, hal tersebut dibuktikan dengan proporsi tidak ada penyakit menahun yang lebih rendah (55,17%).
102 Tabel 28. Kepemilikan Penyakit Menahun dan Upaya Pengobatan Responden
No Kepemilikan Penyakit dan Upaya Pengobatan
Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiiwa) % F (Jiiwa) %
1. Tidak ada penyakit menahun
41 61,19 16 55,17
2. Ada dan berobat sendiri 2 2,99 3 10,35 3. Ada dan berobat jalan 23 34,33 9 31,03
4. Ada dan rawat inap 1 1,49 1 3,45
5. Lain-lain 0 0 0 0
Jumlah 67 100 29 100
Sumber : Data Primer, 2016
Pemilihan upaya kesehatan penyakit menahun lansia tergantung tingkat bahaya penyakit, penyakit menahun ringan seperti pusing/migrain, biasanya diobati sendiri dengan membeli obat di apotik, sedangkan penyakit menahun yang sifatnya harus melakukan kontrol dokter seperti diabetes dan darah tinggi menggunakan cara berobat jalan. Upaya pengobatan rawat inap dilakukan lansia jika penyakit menahun dalam kondisi parah dan perlu penanganan intensif dokter/tenaga medis seperti hernia dan asam lambung.
Tabel 29. Sumber Dana untuk Berobat Responden No Sumber Dana
Berobat
Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiiwa) % F (Jiiwa) % 1. Biaya sendiri 12 17,91 11 37,93 2. Bantuan pemerintah 40 59,70 9 31,03 3. Asuransi 10 14,93 2 6,90 4. Anak 5 7,46 7 24,14 Jumlah 67 100 29 100
Sumber : Data Primer, 2016
Tabel 29 menunjukkan sumber dana untuk berobat lansia. Proporsi tertinggi di Desa Murtigading adalah bantuan pemerintah yaitu sebesar 59,70%, sedangkan proporsi tertinggi di Desa
103 Gadingharjo yaitu sebesar 37,93% adalah biaya sendiri. Lebih tingginya proporsi bantuan pemerintah di Desa Murtigading menunjukkan bahwa kesadaran dan pengetahuan akan penggunaan produk jaminan kesehatan dari pemerintah seperti BPJS, Jamkesmas lebih tinggi daripada di Desa Gadingharjo.
Proporsi terendah sumber biaya berobat lansia di Desa Murtigading yaitu sebesar 7,46% berasal dari anak, sedangkan di Desa Gadingharjo sebesar 6,90% dari asuransi kesehatan. Ketergantungan terhadap anak dalam hal pembiayaan pengobatan di Desa Gadingharjo lebih besar daripada di Desa Murtigading, hal tersebut dibuktikan dengan proporsi sumber biaya dari anak lebih besar (24,14%).
3) Status Tinggal
Status tinggal lansia dapat memperlihatkan bagaimana kemandirian lansia maupun dukungan keluarga/lingkungan terhadap lansia itu sendiri. Tinggal bersama dapat memberikan rasa aman dan nyaman, selain itu juga memberikan jaminan akan adanya perawatan terhadap lansia jika hal tersebut dibutuhkan.
Status tinggal dibedakan menjadi 8 macam yaitu; tinggal sendiri, tinggal dengan pasangan, tinggal dengan anak, tinggal dengan pasangan + anak, tinggal dengan pasangan + anak/cucu, tinggal dengan anggota keluarga lain dan tinggal dengan anak+cucu. Karakteristik lansia di Desa Murtigading dan Desa
104 Gadingharjo menurut status tinggal dapat dilihat dalam tabel 30 dibawah ini.
Tabel 30. Status Tinggal Responden
No Status Tinggal Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiiwa) % F (Jiiwa) %
1. Tinggal Sendiri 6 8,96 5 17,24
2. Tinggal dengan Pasangan
9 13,43 2 6,90
3. Tinggal dengan Anak 11 16,42 - - 4 Tinggal dengan Pasangan + Anak 8 11,94 4 13,79 5 Tinggal dengan Pasangan +Anak /Cucu 22 32,83 12 41,38 6 Tinggal dengan Anggota Keluarga Lain 1 1,49 - - 7 Tinggal dengan Anak+Cucu 10 14,93 2 6,90
8 Tinggal dengan Cucu - - 4 13,79
Jumlah 67 100 29 100
Sumber : Data primer tahun 2016
Tabel 30 menunjukkan proporsi tertinggi status tinggal lansia di Desa Murtigading yaitu sebesar 32,83% dan di Desa Gadingharjo yaitu sebesar 41,38% adalah tinggal dengan pasangan + anak+cucu (3 generasi). Proporsi terendah status tinggal responden lansia di Desa Murtigading yaitu sebesar 1,49% adalah tinggal dengan anggota keluarga lain, sedangkan di Desa Gadingharjo yaitu sebesar 6,9% adalah tinggal dengan pasangan dan tinggal dengan anak+cucu.
Status tingal lansia merupakan salah satu indikator yang dapat mempengaruhi kesejahteraan lansia dikemudian hari, dengan tinggal bersama dengan kerabat/anak tentunya kesejahteraan lansia
105 akan lebih terjamin. Disamping itu, tinggal bersama dapat menurunkan tingkat kecemasan/stress, mencegah lansia dari rasa kesepian dan rasa tidak diperhatikan.
2. Aktivitas Penduduk Lansia
Penduduk lansia khususnya di Indonesia masih memiliki peran penting baik dalam aktivitas ekonomi maupun sosial. Hal tersebut didukung oleh kenyataan bahwa sebagian besar lansia masih aktif dalam aktivitas ekonomi, dan bahkan terdapat lansia yang masih menjadi penyokong utama ekonomi rumah tangga. Selain ikut serta dalam aktivitas ekonomi penduduk lansia juga memiliki peran dalam aktivitas sosial di masyarakat.
a. Aktivitas Ekonomi
Aktivitas ekonomi dalam penelitian ini adalah bekerja, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh lansia dengan tujuan memperoleh penghasilan/keuntungan selama paling sedikit satu jam dalam seminggu. Pada penelitian ini ditanyakan pula tentang bidang pekerjaan, status pekerjaan, jam kerja, alasan bekerja, pendapatan bekerja dan kebermanfaatan pendapatan. Turut dipaparkan analisis tabulasi silang antara variabel bebas (karakteristik demografi, sosial, ekonomi) terpilih dengan aktivitas ekonomi di masyarakat lansia dengan tujuan untuk melengkapi informasi dan agar tergambarkan kondisi karakteristik lansia kaitannya dengan aktivitas ekonomi di masyarakat.
106 1) Jenis kegitan seminggu yang lalu
Desa Murtigading memiliki proporsi lansia bekerja lebih tinggi yaitu sebesar 38,81% daripada di Desa Gadingharjo yang hanya sebesar 28,28%.
Berdasarkan jenis kelamin secara umum mayoritas lansia yang bekerja baik di Desa Murtigading maupun di Desa Gadingharjo adalah perempuan. Keikutsertaan lansia perempuan dalam bekerja mengindikasikan pendapatan yang dihasilkan oleh kepala rumah tangga masih kurang atau karena keadaan harus mencukupi kebutuhan sendiri karena lansia perempuan berstatus menjadi kepala rumah tangga. Proporsi lansia bekerja perempuan di Desa Gadingharjo yaitu sebesar 66,67% lebih tinggi daripada di Desa Murtigading yang hanya sebesar 53,85%, sebaliknya lansia jenis kelamin laki-laki bekerja di Desa Murtigading lebih banyak yaitu sebesar 46,15% dibandingkan dengan Desa Gadingharjo 35,71%.
Tabel 33. Proporsi Status Bekerja Berdasarkan Kelompok Umur Responden
No Status Bekerja
Desa Murtigading Desa Gadingharjo Bekerja Tidak
bekerja
Total Bekerja Tidak bekerja Total 1. Lansia muda 73,08 31.71 47,76 42,86 53,33 48,28 2. Lansia menengah 26,92 46,34 38,81 28,57 33,33 31,03 3. Lansia tua - 21,95 13,43 28,57 13,34 20,69 N% 100 100 100 100 100 100 N 26 41 67 14 15 29
107 Tabel 33 menunjukkan bahwa lansia yang bekerja di Desa Murtigading berasal dari kelompok lansia muda dan menengah, lansia bekerja di Desa Murtigading (73,08%) dan Desa Gadingharjo (42,86%%) adalah lansia muda. Dominasi kelompok lansia muda tersebut wajar, karena umumnya kelompok lansia muda memiliki tenaga/fisik yang lebih kuat.
Proporsi status bekerja berdasarkan status kesehatan lansia. Lansia yang masih bekerja di Desa Murtigading didominasi oleh lansia sehat, hal tersebut ditunjukkan oleh proporsi lansia sehat yang masih bekerja lebih tinggi tinggi yaitu sebesar 53,85% daripada lansia sakit yang masih bekerja, sebaliknya di Desa Gadingharjo lansia yang masih bekerja didominasi oleh lansia sakit, hal tersebut ditunjukkan oleh proporsi lansia sakit yang masih bekerja lebih tinggi tinggi yaitu sebesar 57,14% dibandingkan dengan lansia sehat yang masih bekerja.
Lansia sakit yang masih bekerja umumnya adalah lansia yang memiliki keluhan kesehatan/penyakit ringan dan tidak menghambat aktivitas sehari-hari sehingga aktivitas bekerja masih dapat dilakukan oleh lansia.
Tabel 35. Menunjukkan proporsi tertinggi bidang pekerjaan di Desa Murtigading yaitu sebesar 17,9% adalah bidang perdagangan sedangkan proporsi tertinggi Desa Gadingharjo yaitu sebesar 27,59% adalah pertanian.
108 Tabel 35. Jenis Pekerjaan Responden
No Jenis Pekerjaan Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiwa) % F (Jiwa) % 1. Tidak bekerja/pensiun 41 61,20 - 51,72 2. Petani 5 7,47 8 27,59 3. Pedagang 12 17,91 - - 4. Pegawai/buruh 3 4,48 4 13,79 5. Pemulung 1 1,49 - - 6. Seniman 1 1,49 - - 7 Penarik becak 1 1,49 - - 8 Jasa reparasi sepatu 1 1,49 - - 9 Pembuat roti 1 1,49 - - 10 Penjahit 1 1,49 - - 11 Peternak - - 2 6,90 Jumlah 67 100 29 100
Sumber : Data primer, 2016
Uraian Tabel 35 menjelaskan bahwa lansia di kedua desa memiliki jenis mata pencaharian yang berbeda-beda sebagai hasil dari adaptasi lingkungannya. Desa Gadingharjo yang memiliki proporsi luas lahan pertanian yang lebih besar daripada Desa Murtigading maka sebagian besar responden lansia memiliki pekerjaan dibidang pertanian, sebaliknya Desa Murtigading merupakan wilayah yang paling padat penduduknya sehingga membuka peluang bagi lansia untuk berdagang (membuka warung/makanan).
109 Tabel 36. Status Pekerjaan Responden
No Status Pekerjaan Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiwa) % F (Jiwa) % 1. Tidak bekerja/pensiun 41 61,2 15 51,7 2. Buruh/karyawan/ pegawai 2 3 - - 3. Berusaha sendiri 19 28,4 4 13,8 4. Berusaha sendiri/ dibantu anggota keluarga 1 1,5 1 3,4 5. Berusaha sendiridibantu pekerja tidak tetap
2 3 4 13,8
6. Pekerja lepas non-pertanian 1 1,5 - - 7. Pekerja lepas pertanian 1 1,5 5 17,5 Jumlah 67 100 29 100
Sumber : Data primer, 2016
Tabel 36 menunjukkan proporsi status pekerjaan lansia tertinggi di Desa Murtigading yaitu sebesar 28,4% berusaha sendiri sedangkan di Desa Gadingharjo yaitu sebesar 13,8% adalah berusaha sendiri dan berusaha sendiri dibantu pekerja tidak tetap. Status berusaha sendiri di Desa Murtigading umumnya didominasi oleh pekerjaan sektor formal yang tidak memerlukan modal yang besar, sedangkan di Desa Gadingharjo status berusaha sendiri ataupun berusaha sendiri dengan dibantu pekerja tetap umumnya didominasi oleh pekerjaan di sektor informal seperti bertani, karena sebagian besar lansia memiliki lahan pertanian yang di garap sendiri
110 ataupun dengan bantuan pekerja tidak tetap saat masa tanam dan masa panen berlangsung.
Tabel 37. Alasan Bekerja Responden
No Alasan Bekerja Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiwa) % F (Jiwa) % 1. Tidak bekerja/pensiun 41 61,2 15 51,7 2. Masih ada tanggungan 3 4,5 1 3,4 3. Mengisi waktu luang 10 14,9 4 13,8 4. Pendapatan rumah tangga kurang 9 13,4 6 20,7 5. Meneruskan pekerjaan terdahulu 4 6 3 10,3 Jumlah 67 100 29 100
Sumber : Data primer, 2016
Tabel 37 menunjukkan berbagai alasan mengapa lansia masih terlibat dalam aktivitas ekonomi. Terdapat perbedaan proporsi tertinggi alasan bekerja di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo, di Desa Murtigading alasan utama lansia masih bekerja yaitu mengisi waktu luang (14,9%). Keadaan ekonomi lansia bekerja untuk mengisi waktu luang cenderung baik dan sebagian besar merupakan pensiunan. Mereka menganggap bekerja bertujuan untuk mempertahankan aktivitas rutin sebelum pensiun. Alasan bekerja lansia di Desa Gadingharjo adalah pendapatan rumah tangga kurang (20,7%). Pendapatan rumah tangga kurang akan berpengaruh kepada pencukupan kebutuhan hidup. Pendapatan lansia dapat mencerminkan keadaan ekonomi rumah tangga lansia. Keadaan
111 ekonomi lansia pada kelompok ini cenderung kurang baik, hal ini menjadi salah satu faktor pendorong lansia untuk tetap bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup.
Proporsi terendah alasan lansia bekerja yaitu sebesar 4,5% dan 3,4% adalah masih ada tanggungan, tanggungan yang dimiliki lansia biasanya adalah anak yang belum bekerja/sedang mencari kerja. Sebagian besar lansia yang masih memiliki tanggungan adalah lansia muda.
2) Curahan Jam bekerja
Curahan Jam kerja dalam penelitian ini akan dilihat berdasarkan jumlah jam kerja mengacu pada UU No.13 tahun 2003. Berdasarkan Undang-undang nomor 13 tahun 2013 tentang jumlah jam kerja, jumlah jam kerja yang telah disepakati adalah 40 jam/minggu. Karakteristik lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo menurut curahan jam kerja dapat dilihat pada Tabel 38 Tabel 38. Curahan Jam Kerja Responden
No Curahan Jam Kerja
Desa Murtigading Desa Gadingharjo F (Jiwa) % F (Jiwa) % 1. Tidak bekerja/pensiun 41 61,2 15 51,7 2. < 40 jam/minggu 11 16,4 13 44,8 3. > 40 jam/minggu 15 22,4 1 3,4 Jumlah 67 100 29 100
Sumber : Data primer, 2016
Tabel 38 menunjukkan bahwa proporsi tertinggi curahan jam kerja lansia di Desa Murtigading yaitu sebesar 22,4% adalah > 40
112 jam/minggu sebaliknya proporsi tertinggi curahan jam kerja lansia di Desa Gadingharjo yaitu sebesar 44,8% adalah < 40 jam/minggu. Perbedaan jumlah jam kerja tersebut salah satunya dipengaruhi oleh jenis pekerjaan yang dilakukan oleh lansia. Mayoritas pekerjaan yang ditekuni oleh lansia di Desa Murtigading adalah bidang perdagangan (membuka warung) sedangkan mayoritas responden lansia di Desa Gadingharjo adalah petani. Biasanya lansia yang bekerja pada bidang perdangan memiliki curahan jam kerja lebih tinggi yaitu sekitar 8-10 jam sehari sedangkan lansia yang bekerja sebagai petani memiliki jam kerja rata-rata sekitar 4-6 jam/hari. Uraian Tabel 38 menunjukkan bahwa Desa Murtigading memiliki curahan jam kerja lebih tinggi dibandingkan dengan Desa Gadingharjo.
Tabel 39. Curahan Jam Kerja Berdasarkan Umur Responden N
o
Curahan Jam Kerja
Desa Murtigading Desa Gadingharjo
LMu LMe LT ∑ LMu LMe LT ∑
1. Tidak bekerja 40,62 73,08 100 61,19 57,14 55,56 33,33 51,72 2. < 40 jam/minggu 21,88 15,38 - 16,42 42,86 44,44 50 44,83 3. > 40 jam/minggu 37,5 11,54 - 22,39 - - 16,67 3,45 N% 100 100 100 100 100 100 100 100 N 32 26 9 67 14 9 6 29
Sumber : Data Primer, 2016
Tabel 39 menunjukkan proporsi curahan jam kerja berdasarkan kelompok umur di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo. Pada Desa Murtigading proporsi tertinggi curahan jam kerja kategori
113 lansia muda yaitu sebesar 37,5% adalah > 40 jam/minggu, kelompok lansia menengah yaitu sebesar 15,38% adalah < 40 jam/minggu.
Proporsi tertinggi curahan jam kerja lansia di Desa Gadingharjo kategori lansia muda yaitu sebesar 42,86%, lansia menengah 44,44% dan lansia tua 50% adalah < 40 jam/minggu. Terdapat perbedaan pada kategori curahan kerja < 40 jam/minggu, di Desa Murtigading lansia yang memiliki curahan kerja < 40 jam/minggu adalah lansia kategori muda dan menengah.
Tabel 40. Curahan Jam Kerja Berdasarkan Jenis Kelamin Responden
N o
Curahan Jam Kerja
Desa Murtigading Desa Gadingharjo Laki-laki Perempuan Total Laki-laki perempuan Total 1. Tidak bekerja 50 67,44 61,19 50 52,63 51,72 2. < 40 jam/minggu 12,5 18,61 16,42 40 47,37 44,83 3. > 40 jam/minggu 37,5 13,95 22,39 10 - 3,45 N% 100 100 100 100 100 100 N 24 43 67 10 19 29
Sumber: Data primer, 2016
Tabel 40 menunjukkan proporsi curahan jam kerja lansia berdasarkan jenis kelamin di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo. Di Desa Murtigading proporsi tertinggi curahan jam kerja laki-laki yaitu sebesar 37,5% adalah > 40 jam/minggu sedangkan perempuan yaitu sebesar 18,61% adalah < 40 jam/minggu. Proporsi tertinggi curahan jam kerja di Desa
114 Gadingharjo lansia laki-laki yaitu sebesar 40% dan perempuan 47,37% adalah < 40 jam/minggu.
Secara umum baik di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo, lansia perempuan memiliki proporsi lebih tinggi di curahan jam kerja < 40 jam/minggu sebaliknya lansia laki-laki memiliki proporsi lebih tinggi pada curahan jam kerja < 40 jam/minggu. Hal tersebut dikarenakan perempuan mempuyai tugas ganda, disamping melakukan aktivitas ekonomi lansia perempuan juga melakukan aktivitas rumah tangga sehingga curahan jam dalam aktivitas ekonomi menjadi berkurang.
Tabel 41. Curahan Jam Kerja Berdasarkan Status Kesehatan Responden N o Curahan Jam Kerja
Desa Murtigading Desa Gadingharjo Sehat Sakit Total Sehat Sakit Total 1. Tidak beker Ja 51,72 68,42 61,19 50 52,94 51,72 2. < 40 jam/ming gu 24,14 10,53 16,42 41,67 47,06 44,83 3. > 40 jam/ming gu 24,14 21,05 22,39 8,33 0 3,45 N% 100 100 100 100 100 100 N 29 38 67 12 17 29
Sumber: Data primer, 2016
Tabel 41. menunjukkan proporsi curahan jam kerja berdasarkan status kesehatan lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo, di Desa Murtigading proporsi curahan jam kerja lansia sehat < 40 jam/minggu dan > 40 jam/minggu sama/seimbang yaitu
115 sebesar 24,14%, sedangkan proporsi tertinggi curahan jam kerja lansia sakit yaitu sebesar 21,05% adalah > 40 jam/minggu. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi sakit tidak membuat lansia Desa Murtigading mengurangi curahan jam kerja dalam aktivitas ekonomi. Proporsi tertinggi curahan jam kerja lansia sehat di Desa Gadingharjo yaitu sebesar 41,67% dan lansia sakit yaitu sebesar 47,06% adalah < 40 jam/minggu.
Dilihat berdasarkan perbandingan antara lansia sehat dan lansia sakit pada curahan jam kerja lansia di Desa Murtigading dan Desa Gadingharjo. Lansia sehat di Desa Murtigading memiliki proporsi yang lebih besar daripada lansia sakit.hal ini berarti pada curahan jam kerja < 40 jam/minggu maupun curahan jam kerja > 40 jam/minggu didominasi oleh lansia sehat. Pada curahan jam kerja < 40 jam/minggu di Desa Gadingharjo, lansia sakit memiliki perbandingan yang lebih tinggi daripada lansia sehat dan memiliki perbandingan yang lebih rendah dalam curahan jam kerja > 40 jam/minggu. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada curahan jam kerja < 40 jam/minggu didominasi oleh lansia sakit sebaliknya pada curahan jam kerja > 40 jam/minggu didominasi oleh lansia sehat. 3) Pendapatan bekerja
Pendapatan kerja yang diterima oleh lansia dalam penelitian ini akan dilihat berdasarkan upah minimum regional Kabupaten Bantul tahun 2016 (Rp.1.297.700,-).