4. Sarana MCK
4.4.3 Proses pengadaan infrastruktur pada kasus 3
Permukiman kumuh pada kasus 3 berlokasi di Jalan Kertapura Gang Segina VI, Banjar Pekandelan, Desa Pemecutan Kelod. Seperti yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya, lahan ini merupakan lahan milik banjar yang berdasarkan kesepakatan antara pihak-pihak banjar, kemudian disewakan kepada pendatang. Proses pengadaan infrastruktur pada permukiman kumuh kasus ketiga ini hampir sama dengan permukiman kumuh kasus pertama yang melewati beberapa tahapan mulai dari awal perkembangan permukiman, proses
Pada awal perkembangan permukiman tahun 1995, infrastruktur awal yang disediakan oleh pemilik lahan, dalam hal ini pihak banjar, adalah jaringan jalan. Jalan awal masih berupa jalan tanah yang berada di tengah-tengah sepanjang permukiman. Infrastruktur lain seperti air bersih, sarana MCK, serta saluran-saluran pembuangan pada masing-masing hunian, dibuat oleh warga permukiman itu sendiri. Sumber air bersih menggunakan sumur gali dan sumur bor yang digunakan secara pribadi maupun secara komunal. Demikian pula halnya dengan sarana MCK. Secara keseluruhan infrastruktur pada permukiman ini dibuat secara swadaya oleh warga permukiman dengan sedikit bantuan dari pihak pemilik lahan (banjar).
Proses berikutnya yaitu perencanaan, dalam hal ini adalah perencanaan program sanitasi berbasis masyarakat (Sanimas) dari Pemerintah Kota Denpasar.
Pada awalnya pemerintah menawarkan program ini ke desa-desa, salah satunya adalah Desa Pemecutan Klod, dengan sasaran dari program ini adalah kawasan permukiman padat penduduk di perkotaan. Pihak Banjar Pekandelan kemudian mengajukan ke desa agar permukiman yang ada di wilayahnya lah yang diberikan bantuan program Sanimas ini. Berdasarkan atas beberapa pertimbangan, program Sanimas ini akan diadakan pada permukiman padat penduduk di Gang Segina VI, Banjar Pekandelan, Desa Pemecutan Klod.
Pelaksanaan Sanimas di lingkungan Segina VI dimulai pada tahun 2005.
Dana pembangunan sebesar Rp 260 juta merupakan bantuan dari Pemerintah Kota Denpasar, Bremen Overseas Research and Development Agency (BORDA) melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM) Bali Fokus, dan swadaya
masyarakat. Pada saat itu warga setempat melakukan urunan sebesar Rp.
45.000/KK.
Masalah yang dihadapi pada saat perencanaan program ini adalah tidak adanya lahan kosong yang dapat digunakan sebagai tempat untuk ditanami bangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Lahan yang bisa digunakan hanyalah badan jalan. Pihak yang bertugas kemudian mengajukan surat permohonan menggunakan badan jalan sebagai lokasi IPAL kepada Dinas PU setempat. Berdasarkan beberapa pertimbangan, kemudian permohonan tersebut disetujui oleh Dinas PU dengan beberapa ketentuan.
Sanimas di lingkungan ini mulai dibangun pada september 2005. Proses pembangunannya berjalan lancar tanpa menemukan hambatan yang berarti. Pada proses pelaksanaannya dilakukan oleh pihak-pihak yang ditugaskan oleh Bali Fokus yang dalam hal ini sebagai pelaksana teknis di lapangan. Januari 2006 fasilitas Sanimas sudah dapat beroperasi dan digunakan oleh masyarakat setempat. Hingga kini fasilitas Sanimas melayani 196 KK dengan total jumlah warga sebanyak 448 jiwa.
Tahapan berikutnya adalah proses pengelolaan yang melibatkan pihak pemerintah dan lembaga-lembaga terkait yaitu BORDA (Bali Fokus) sebagai pihak yang memonitoring dan mengevaluasi kondisi dari fasilitas Sanimas ini.
Penerapan Sanimas mengharuskan adanya peran serta warga pada program itu.
Selain urunan saat pembangunan, masyarakat juga diwajibkan membayar iuran sebesar Rp 5.000/KK setiap bulannya untuk biaya perbaikan dan pemeliharaannya. Pengelolaan Sanimas ini juga dilaksanakan oleh kelompok
swadaya masyarakat (KSM) Segina Asri, kelompok yang dibentuk untuk pengelolaan Sanimas di Segina VI. Kelompok ini bertanggung jawab mengelola dana iuran dan menggunakannya untuk pemeliharaan. Kegiatan yang dilakukan secara rutin dan berkala adalah penyedotan pada IPAL yang tertanam di badan jalan tersebut, agar pada saat musim hujan yang berkepanjangan, air tidak masuk kembali melalui kloset pada hunian masing-masing.
Sejak diresmikannya fasilitas Sanimas oleh Pemerintah Kota Denpasar, fasilitas ini mampu memecahkan persoalan sanitasi yang terjadi pada permukiman ini. Menurut salah seorang warga yaitu Bapak Andi (2013) mengatakan sebagai berikut:
“....dulu kalau hujan deras, air dari septic tank bisa meluap ke dalam rumah melalui saluran toilet. Sekarang sudah nggak lagi. Ini manfaat yang nyata dirasakan masyarakat di sini....”
Sedangkan menurut kepala lingkungan di permukiman ini yaitu Bapak Gusti (2013) mengatakan:
”....adik bisa liat sekarang, air yang mengalir di got hanya air hujan. Air limbah dari rumah tangga sudah tidak disalurkan di got ini lagi....”
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, terlihat bahwa warga permukiman sangat puas dengan kinerja dari pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam menangani permasalahan yang ada pada permukiman padat penduduk di perkotaan.
1) Pemilik lahan (banjar)
Pemilik lahan dalam hal ini adalah pihak banjar yang menyewakan lahan milik banjar kepada warga pendatang. Pihak Banjar memiliki peran penting dalam proses pengadaan infrastruktur di permukiman ini. Pada awal lahan ini disewakan,
pemilik lahan/pihak banjar menyediakan jaringan jalan yang masih berupa jalan tanah beserta saluran drainase.
Pada tahun 1996 pihak banjar/pemilik lahan untuk pertama kalinya mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah. Bantuan yang diajukan yakni bantuan untuk memperbaiki jaringan jalan pada permukiman yang awalnya merupakan jalan tanah. Tahun 2005, pada saat Pemerintah Kota Denpasar sedang gencar-gencarnya menjalankan program Sanimas, pihak banjar mengajukan agar wilayahnya memperoleh bantuan tersebut yang kemudian disetujui oleh pihak pemerintah dengan beberapa pertimbangan sebelumnya. Beberapa alasan wilayah permukiman ini diajukan untuk memperoleh bantuan adalah, wilayah ini merupakan permukiman yang padat penduduk, terdapat beberapa masalah dalam hal sanitasi serta saluran pembuangan rumah tangga, sehingga kondisi di ingkungan ini terkesan kumuh. Melihat permasalahan tersebut, pihak banjar bersama warga permukiman antusias agar program ini dapat berjalan dengan baik dan dapat mengatasi permasalahan yang ada.
2) Penyewa lahan/warga permukiman
Penyewa lahan/warga permukiman berperan dalam pengadaan jaringan infrastruktur yang bersifat mikro pada hunian masing-masing. Infrastruktur tersebut misalnya; pengadaan sumber air bersih yang dibuat menggunakan sumur bor serta sumur gali yang digunakan secara komunal maupun pribadi; pengadaan sarana MCK pada masing-masing hunian/kontrakan; serta pengadaan saluran pembuangan limbah rumah tangga yang nantinya disalurkan menuju saluran drainase/got pada saat itu.
Keterbatasan kemampuan dalam hal finansial dan pengetahuan, maka pengadaan sarana dan prasarana permukiman dilakukan seadanya dengan kondisi yang tidak baik, sehingga berdampak pada warga itu sendiri dan bagi lingkungan permukiman.
3) Pemerintah (Pemerintah Kota Denpasar, Dinas PU)
Pihak pemerintah yaitu Pemerintah Kota Denpasar juga memiliki peran yang sangat penting dalam proses pengadaaan jaringan infrastruktur di permukiman ini. Tahun 1996 pemerintah Dinas PU memberikan bantuan berupa perbaikan jalan yang awalnya hanya berupa jalan tanah selebar 4 meter dan panjang ±200 meter beserta saluran drainase.
Pada tahun 2005, Pemerintah Kota Denpasar mengadakan program Sanimas yang bekerja sama dengan Dinas PU, BORDA/LSM Bali Fokus.
Permukiman di Banjar Pekandelan, Desa Pemecutan Klod merupakan salah satu permukiman yang memperoleh bantuan program Sanimas ini. Bantuan ini tidak semata-mata diberikan begitu saja, namun berdasarkan pada beberapa pertimbangan dan ketentuan yang sudah ditetapkan.
4) Bremen Overseas Research and Development Agency (BORDA)/
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bali Fokus
BORDA merupakan lembaga nirlaba yang berasal dari Jerman yang banyak membantu dalam bidang sanitasi penanganan air limbah domestik di wilayah padat hunian perkotaan. BORDA dalam proses pengadaan infrastruktur ini bekerja sama dengan pihak pemerintah pada program sanimas yang merupakan kegiatan pengolahan air limbah berbasis masyarakat. BORDA melalui LSM Bali Fokus berperan penting dalam proses pengerjaan fasilitas Sanimas secara teknis.
Pihak ini juga secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi terhadap fasilitas Sanimas di permukiman ini.
4.5 Faktor-faktor Pengaruh Kondisi dan Pengadaan Infrastruktur