• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hery Widyanto, Suhendri Saputra, Suryati

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Hery Widyanto, Suhendri Saputra, Suryati"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

RHINOCEROS LINN.) MENGGUNAKAN PERANGKAP

FEROMON PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (ELAEIS

GUINEENSIS JACQ.) DI LAHAN GAMBUT PROVINSI RIAU

CONTROL OF HORN BEETLE (ORYCTES RHINOCEROS LINN.) USING FEROMON

TRAPS FOR OIL PALM (ELAEIS GUINEENSIS JACQ.) ON PEATLAND IN RIAU

Hery Widyanto, Suhendri Saputra, Suryati

Balai Pengkajian Teknologi (BPTP) Riau. Jl. Kaharuddin Nasution Km. 10 No. 341, Pekanbaru 10210

Abstrak. Oryctes rhinoceros L (Coleoptera: Scarabidae) atau kumbang tanduk merupakan salah satu hama penting pada tanaman kelapa sawit. Hama ini dapat menurunkan produksi tandan buah segar (TBS) pada tahun pertama menghasilkan hingga 69%, bahkan menyebabkan tanaman muda mati mencapai 25%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari model dan tinggi serta lamanya waktu aplikasi pemasangan perangkap feromon yang efektif. Uuntuk mengendalikan kumbang tanduk. Penelitian dilaksanakan di Desa Lubuk Ogong, Kecamatan Bandar Sei Kijang, Kabupaten Pelalawan, Riau dari bulan April 2014 sampai Juli 2014. Penelitian meliputi 4 perlakuan dengan 3 ulangan, perlakuan yang diuji yaitu: (a) perangkap dengan 4 sisi penahan dan tidak dicat, (b) perangkap dengan 4 sisi penahan dan dicat kuning, (c) perangkap dengan 2 sisi penahan dan tidak dicat, dan (d) perangkap dengan 2 sisi penahan dan dicat kuning. Perlakuan tinggi pemasangan perangkap dilakukan pada ketinggian 4,5 m; 3 m; dan 1,5 meter dari permukaan tanah dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kumbang yang terbanyak terperangkap didapatkan pada perlakuan A yaitu sebesar 4,3 ekor/bln, kemudian pada B, D dan C sebesar 3,5 ekor/bln; 3,5 ekor/bln; dan 3,2 ekor/bln. Model perangkap A dan B lebih baik dalam memerangkap kumbang tanduk dibandingkan dengan perangkap C dan D (rata-rata 3,9 ekor/bln berbanding 3,35 ekor/bln) dikarenakan memiliki empat sisi penahan yang dapat menahan datangnya kumbang tanduk dari segala arah. Perangkap dengan tinggi 4,5 meter memerangkap kumbang tanduk terbanyak rata-rata 1,5 ekor/bln, diikuti dengan tinggi 1,5 meter dan 3 meter masing-masing 1 dan 0,5 ekor/bln. Hal ini dikarenakan pada ketinggian tersebut faktor lingkungan seperti kecepatan angin dan suhu udara sesuai untuk mempercepat penyebaran dan penguapan feromon yang dapat merangsang kumbang tanduk untuk datang. Kemampuan perangkap feromon pada bulan ketiga (Juni 2014) menurun secara signifikan yaitu 1 ekor/bln jika dibandingkan pada bulan pertama dan kedua (April dan Mei 2014) yang sebanyak 3,75 dan 3,5 ekor/bln. Penurunan ini disebabkan senyawa kimia dari feromon yang mulai berkurang karena adanya penguapan dan berangsur-angsur habis. Hasil ini menunjukkan model perangkap feromon yang memiliki 4 sisi penahan dan dipasang pada ketinggian 4,5 meter

(2)

paling efektif untuk memerangkap hama kumbang tanduk dan lamanya waktu yang efektif untuk pemasangan perangkap feromon adalah 3 bulan. Kata kunci: Kumbang tanduk, feromon, kelapa sawit.

Abstract. Oryctes rhinoceros L (Coleoptera: Scarabidae) or horn beetle is

one of the important oil palm pest. These pest can reduce 69% of fresh fruit bunches (FFB) yield in the first year, even causing 25% death of young plants. The purpose of this research are to study the model, height position, and length of time of pheromone trapping application by which effective in controlling horn beetle prevalence. The experiment was conducted in the village of Lubuk Ogong, Sub District Bandar Sei Kijang, District of Pelalawan, Riau from April 2014 to July 2014. Research trap models includes 4 treatments with 3 replications, treatments were tested, namely: (a) trap with 4 sides retaining and not painted, (b) trap with 4 sides retaining and yellow painting, (c) a trap with 2 side retaining and not in paint, and (d) trap with 2 side retaining and painted with yellow. High treatment trapping conducted at a high of 4.5 m; 3 m; and 1.5 meters from the ground with 4 replications. The results showed that the highest number of beetles found in A treatment was 4.3 beetles/month, then the B, D and C at 3.5 beetles/month ; 3.5 beetles/month and 3.2 beetles/month. Models A and B traps were better than the models C and D in trapping the horn beetle (average value of 3.9 beetles/month versus 3.35 beetles/month) due to having four side barriers that can withstand the arrival of beetle horns from all directions. Traps with 4.5 meter high horn beetle trapeds the highest average of 1.5 beetles/month, followed by 3 meters high and 1.5 respectively 1 and 0.5 beetles/month. This was because with that high, environmental factors such as wind speed and air temperature were deployment well and evaporation pheromone could stimulate the horn beetle to come. The ability of pheromone traps in the third month (June 2014) significantly decreased by 1 beetle/month compared to the first and second months (April and May 2014) that was about 3.75 and 3.5 beetle/month. The decrease was due to pheromone chemical compounds which began to decrease because of evaporation and depleted gradually. These results indicated that pheromone trap models which have 4 sides retaining and mounted at a height of 4.5 meters was the most effective for trapping beetle horns and the effective length of time for pheromone trapping was 3 months.

Keywords: Horn beetle, pheromone, palm oil.

PENDAHULUAN

Perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia meningkat pesat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir dari lahan seluas 1.126.677 ha pada tahun 1990 menjadi 4.158.077 ha pada tahun 2000, kemudian meningkat menjadi 7.824.623 ha pada tahun

(3)

2010 (Ditjenbun, 2010). Dari total luas lahan kelapa sawit di atas, provinsi Riau memiliki luas lahan kelapa sawit terbesar di Indonesia, yaitu sekitar 2.103.175 ha dengan produksi CPO sebesar 6,2 juta ton (Disbun Prov Riau, 2011 dalam Syahza, 2012). Total produksi CPO tersebut di atas, menjadikan kelapa sawit merupakan komoditas non migas yang memiliki nilai ekspor tertinggi di Provinsi Riau, yaitu sekitar 66,6 % dari nilai total ekspor non migas Riau periode Januari – September 2012 (BPS Provinsi Riau, 2012).

Tantangan dari peningkatan luas perkebunan kelapa sawit selain keterbatasan lahan yang tersedia juga adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), khususnya hama. Meningkatnya pemakaian lahan secara besar-besaran untuk penanaman kelapa sawit di Indonesia menambah jumlah lahan monokultur yang menguntungkan bagi perkembangan hama. Hal tersebut terjadi karena pakan terus menerus tersedia sehingga menunjang keberlangsungan hidup hama (Siahaan, 2014). Kelapa sawit dapat diserang oleh berbagai hama dan penyakit tanaman sejak di pembibitan hingga di kebun pertanaman. Salah satu hama utama pada kelapa sawit adalah hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros).

Oryctes rhinoceros L (Coleoptera: Scarabidae) atau kumbang tanduk merupakan salah satu hama penting pada kelapa sawit dan dikenal sebagai hama pengerek pucuk kelapa sawit. Daud (2007) menyatakan bahwa serangan hama ini dapat menyebabkan kematian tanaman apabila menyerang titik tumbuh kelapa sawit. Hama kumbang tanduk ini menyerang tanaman kelapa sawit yang ditanam di lapangan sampai umur 2,5 tahun dengan merusak titik tumbuh sehingga terjadi kerusakan pada daun muda (Darmadi, 2008 dalam Herman, 2012). Kumbang tanduk pada umumnya menyerang tanaman kelapa sawit muda dan menurunkan produksi tandan buah segar (TBS) pada tahun pertama menghasilkan hingga 69%, bahkan menyebabkan 25% tanaman muda mati (PPKS, 2008).

Pengendalian kumbang tanduk dengan menggunakan perangkap feromon sebagai insektisida alami, ramah lingkungan, dan lebih murah dibandingkan dengan pengendalian secara konvensional. Feromon merupakan bahan yang mengantarkan serangga pada pasangan seksualnya, sekaligus mangsa, tanaman inang, dan tempat berkembang biaknya. Komponen utama feromon sintetis ini adalah etil-4 metil oktanoat. Penggunaan feromon cukup murah karena biayanya hanya 20% dari biaya penggunaan insektisida (PPKS, 2008). Penggunaan perangkap feromon di perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu alternatif yang sangat baik untuk mengendalikan kumbang tanduk.

Tujuan penelitian adalah mempelajari model bentuk dan tinggi pemasangan perangkap feromon yang efektif serta lamanya waktu aplikasi perangkap feromon di perkebunan kelapa sawit yang efektif dalam memerangkap kumbang tanduk.

(4)

BAHAN DAN METODE

Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Lubuk Ogong, Kecamatan Bandar Sei. Kijang, Kabupaten Pelalawan, Riau dari bulan April 2014 sampai Juli 2014. Penelitian dilakukan pada lahan petani menggunakan lahan petani yang ditanami kelapa sawit.

Perlakuan Model Perangkap

Perlakuan model perangkap yang diuji meliputi: (a) model perangkap yang memiliki 4 sisi penahan dan tidak dicat, (b) model perangkap yang memiliki 4 sisi penahan dan dicat kuning, (c) model perangkap yang memiliki 2 sisi penahan dan tidak di cat, dan (d) model perangkap yang memiliki 2 sisi penahan dan dicat kuning (Gambar 1).

Gambar 1. Model perangkap kumbang tanduk yang diuji pada tanaman kelapa sawit. Penelitian dilakukan sebanyak 3 (tiga) ulangan, dimana setiap ulangan diuji cobakan pada lahan seluas masing-masing 3 ha yang telah ditanami kelapa sawit. Tata letak perlakuan dalam setiap ulangan dapat dilihat pada Gambar 2. Pemasangan

(a) (b)

(5)

perangkap dilakukan dengan cara digantungkan pada tiang yang lebih tinggi dari tajuk tanaman kelapa sawit (Gambar 3).

Perlakuan Tinggi Perangkap

Perlakuan tinggi perangkap dilakukan sebanyak 3 (tiga) perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan tinggi perangkap yang diuji yaitu: pemasangan perangkap feromon dengan tinggi 4,5; 3; dan 1,5 meter dari permukaan tanah. Pengamatan dilakukan setiap satu minggu sekali dengan cara menghitung jumlah kumbang yang terperangkap. Seluruh kumbang yang terperangkap kemudian dimusnahkan agar tidak kembali menyerang tanaman kelapa sawit di sekitarnya.

(6)

Gambar 3. Pemasangan perangkap feromon pada ketinggian 4,5 meter.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perlakuan Model Perangkap

Hasil pengamatan kumbang tanduk yang terperangkap dapat dilihat pada Gambar 4. Dari pengamatan selama 2 bulan (April s.d. Mei 2014) menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata diantara keempat perlakuan yang diuji, jumlah kumbang terperangkap yang terbanyak didapatkan pada perlakuan model perangkap A yaitu sebesar 4,3 ekor/bln, kemudian secara berturut-turut jumlah kumbang yang terperangkap pada perangkap model B, D dan C sebesar 3,5; 3,5 dan 3,2 ekor/bln.

(7)

Model perangkap A dan B yang memiliki empat sisi penahan (lempengan seng) lebih baik dalam memerangkap hama kumbang tanduk dibandingkan dengan perangkap C dan D yang memiliki dua sisi penahan (dengan nilai rata-rata 3,9 berbanding 3,35), hal ini dikarenakan model perangkap yang memiliki empat sisi penahan dapat menahan datangnya kumbang tanduk dari segala arah yang menuju ke dalam perangkap sehingga kumbang yang datang akan membentur lempengan seng dan masuk ke dalam ember penampung, sedangkan perangkap yang hanya memiliki dua sisi penghalang hanya dapat menahan kumbang yang datang dari dua arah yaitu depan dan belakang sisi penghalang. Pemberian warna pada perangkap tidak berpengaruh pada banyaknya kumbang yang terperangkap, hal ini dapat dilihat pada perangkap yang memiliki bentuk yang sama (A dengan B dan C dengan D), pada perangkap A yang tidak di beri warna jumlah kumbang yang terperangkap lebih besar daripada perangkap B yang diberi warna kuning (4,3 berbanding 3,5) sedangkan pada bentuk perangkap yang kedua menunjukkan hasil yang sebaliknya dimana perangkap C yang tidak di beri warna, jumlah kumbang yang terperangkap lebih sedikit dari perangkap D yang diberi warna (3,2 berbanding 3,5). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Santi, et al., (2008) yang menyatakan bahwa warna perangkap tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil tangkapan dan sex ratio O. rhinoceros. Selain itu, sifat dari kumbang yang aktif pada saat senja sampai malam hari menyebabkan tidak ada pengaruhnya pemberian warna terhadap jumlah kumbang yang terperangkap, dimana pada saat itu pantulan dari cahaya matahari sudah tidak efektif dalam memancing kumbang tanduk untuk mendekat. Siahaan (2014) mengatakan kumbang O. rhinoceros terbang dari tempat persembunyiannya menjelang senja sampai agak malam (sampai dengan pkl. 21.00 WIB), dan jarang dijumpai pada waktu larut malam.

Perlakuan Tinggi Perangkap

Perlakuan tinggi perangkap dilakukan pada bulan Juni 2014. Hasil pengamatan menunjukkan pada perangkap dengan tinggi 4,5 meter dapat memerangkap kumbang tanduk terbanyak rata-rata 1,5 ekor/bln, kemudian diikuti berturut-turut pemasangan perangkap dengan tinggi 1,5 dan 3 meter masing-masing 1 dan 0,5 ekor kumbang tanduk per bulan Gambar 5.

(8)

Gambar 5. Jumlah kumbang yang terperangkap pada setiap perlakuan tinggi perangkap.

Pemasangan perangkap pada ketinggian 4,5 meter lebih baik dibandingkan pada ketinggian 1,5 dan 3 meter dikarenakan pada ketinggian tersebut didukung oleh faktor lingkungan yang lebih sesuai seperti angin dan suhu udara. Kecepatan angin yang sesuai dan temperatur yang tinggi lebih mempercepat penguapan feromon untuk menyebar sehingga lebih cepat untuk merangsang kumbang tanduk untuk mencari asal sumber feromon tersebut. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Herman (2012) yang menyatakan hasil pengamatan pada tinggi perangkap 4 meter dapat memerangkap O. rhinoceros terbanyak dibandingkan dengan tinggi perangkap 2 dan 3 meter, faktor lingkungan pada tinggi perangkap 4 sebaran bau feromon lebih cepat diterima oleh O. rhinoceros karena dibantu oleh angin dan temperatur yang tinggi dapat mempercepat terjadinya penguapan feromon serta cepat tersebar, sehingga merangsang O. rhinoceros untuk mencari asal sumber bau tersebut.

Efektifitas feromon dalam mengendalikan hama kumbang tanduk berdasarkan lamanya waktu pemasangan perangkap dapat dilihat pada Gambar 6. di bawah ini.

(9)

Gambar 6. Jumlah kumbang yang terperangkap pada setiap bulan pengamatan.

Jumlah kumbang yang dapat terperangkap oleh feromon semakin lama semakin berkurang. Pada bulan April yang merupakan bulan pertama pemasangan perangkap feromon dapat memerangkap dengan jumlah tertinggi yaitu 3,75 ekor/bln kemudian diikuti pengamatan pada bulan Mei, Juni, dan Juli masing-masing sebesar 3,5; 1; dan 0,083 ekor/bln. Penurunan jumlah kumbang yang terperangkap dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu dikarenakan populasi kumbang tanduk itu sendiri di areal perkebunan yang sudah berkurang, sering terjadinya hujan pada malam hari yang mengurangi aktivitas kumbang yang memang aktif pada malam hari dan senyawa kimia dari feromon yang mulai berkurang karena adanya penguapan. Penurunan jumlah kumbang yang terperangkap secara signifikan terjadi pada bulan Juni yang merupakan bulan ketiga pengamatan yang mengindikasikan efektifitas aplikasi feromon di lapangan mulai berkurang memasuki pada bulan ke tiga aplikasi, hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Rahutomo (2008) bahwa senyawa kimia Etil-4 metil oktanoat (feromon agregasi) mampu bertahan selama 3 bulan di lapangan, jika disimpan terlalu lama akan habis menguap.

KESIMPULAN

Pemasangan perangkap feromon dengan model perangkap A yang memiliki empat sisi penghalang dan tidak diberi warna kuning memiliki kemampuan memerangkap hama kumbang tanduk tertinggi. Pemasangan perangkap feromon pada ketinggian 4,5 meter lebih baik dalam memerangkap kumbang tanduk (O. rhinoceros) di areal kebun kelapa

(10)

sawit. Efektifitas aplikasi perangkap feromon di lapangan dalam memerangkap kumbang tanduk (O. rhinoceros) mulai berkurang memasuki bulan ke tiga setelah aplikasi dikarenakan senyawa kimia dari feromon yang semakin berkurang karena adanya penguapan.

DAFTAR PUSTAKA

BPS Provinsi Riau. 2012. Berita Resmi Statistik : Berita Resmi Statistik Provinsi Riau No. 58/12/14/Th. XIII. diakses 3 Desember 2012 .

Daud, I.T. 2007. Sebaran Serangan Hama Kumbang Kelapa Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scarabaeidae) di Kecamatan Mattirobulu Kabupaten Pinrang. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVIII Komda Sul-Sel: 306-318.

Ditjenbun. 2010. http: // ditjenbun.deptan.go.id. diakses 3 Desember 2012

Herman, J.H. Laoh, dan D. Salbiah. 2012. Uji Tingkat Ketinggian Perangkap Feromon untuk Mengendalikan Kumbang Tanduk Oryctes rhinoceros L. (Coleoptera: Scarabaeidae) pada Tanaman Kelapa Sawit. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Riau.

Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2008. Teknologi Pengendalian Hama dan Penyakit pada Kelapa Sawit: Siap Pakai dan Ramah Lingkungan. Diunduh dari http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr271058.pdf. diakses 14 Juli 2014. Rahutomo, S. 2008. Feromonas Ampuh Basmi Hama Kumbang Sawit. Indonesia,

mapiptek. E-megazin, edisi 17 April 2008. Jakarta. Diakses 6 Agustus 2014. Santi, I. S. dan B. Sumaryo. 2008. Pengaruh Warna Perangkap Feromon Terhadap Hasil

Tangkapan Imago Oryctes rhinoceros Di Perkebunan Kelapa Sawit. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. Vol.14 No. 2:76-79.

Siahaan, I.R.T.U dan Syahnen. 2014. Mengapa O. rhinoceros menjadi Hama pada Tanaman Kelapa Sawit. ditjenbun.pertanian.go.id/.../berita-294-. diakses 6 Agustus 2014.

Syahza, A. 2012. Potensi Pengembangan Industri Kelapa sawit: Hasil penelitian MP3EI tahun 2012 di Wilayah Riau. Pusat Pengkajian Koperasi dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Universitas Riau.

Gambar

Gambar 1. Model perangkap kumbang tanduk yang diuji pada tanaman kelapa sawit.
Gambar 2. Layout pemasangan perlakuan perangkap pada setiap ulangan.
Gambar 3. Pemasangan perangkap feromon pada ketinggian 4,5 meter.
Gambar 5. Jumlah kumbang yang terperangkap pada setiap perlakuan tinggi perangkap.
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pemberian bakteri penambat nitrogen berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan tanaman kedelai yang ditanam pada media tanah kapur dan bio arang (biochar) yang dilihat

Data pada Tabel 1 sampai Tabel 4 menunjukkan bahwa pemberian Gandasil D berpengaruh signifikan terhadap tinggi tajuk, banyaknya anakan, jumlah daun dan bobot tajuk,

Pemberian bakteri penambat nitrogen berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan tanaman kedelai yang ditanam pada media tanah kapur dan bio arang (biochar) yang dilihat

sebagai metafor tidak berdiri sendiri-sendiri, pada karya karya seni lukis harmoni digunakan pada bentuk-bentuk tertentu yang semuanya memiliki kekuatan warna.” 8 Harmoni

HASIL DAN PEMBAHASAI\ Pemberian konsentrasi 2,4-D dan BA pada medium MS berpengaruh baik terhadap diameter kalus, warna kalus, berat segar kalus dan persentase

Bentuk dan ukuran penutup merupakan karakter yang sangat perlu diperhatikan dalam membedakan dua atau lebih jenis yang cenderung memiliki bentuk dan warna kantung yang mirip..

Kecerdasan emosional (emotional intelligence) perawat sangat berpengaruh dan menunjang dalam pemberian asuhan keperawatan Hal ini dapat dilihat dari penelitian yang

Komposisi tepung kompo- sit (pati ganyong–terigu) tidak berpengaruh terhadap mutu organoleptik kekenyalan, bentuk, warna dan aroma pada pasta gan- yong fusilli