• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 3 Kondisi vegetasi di Padang.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gambar 3 Kondisi vegetasi di Padang."

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

5.1 Kondisi Vegatasi Hutan Kerangas 5.1.1 Hutan kerangas khusus (Padang)

Padang merupakan hutan kerangas yang terbuka akibat terjadinya kebakaran yang sangat besar dan sangat sulit untuk kembali lagi menjadi hutan. Tumbuhan yang hidup di lokasi tersebut didominasi oleh jenis tumbuhan bawah yang hanya memiliki tinggi kurang dari 2 m (Gambar 3). Menurut Whitten et al (1984) Padang merupakan vegetasi yang didominasi oleh semak, dimana biasanya pohon paling tinggi hanya mencapai 5 m namun kadang-kadang ada juga yang mencapai hingga 25 m. Fakhrurrozi (2001) juga menjelaskan bahwa Padang atau

padangen merupakan ekosistem hutan yang khas yang umumnya ditumbuhi oleh

rerumputan, vegetasi herba, semak dan pepohonan kecil yang tidak rapat atau merata. Hal ini menyebabkan sinar matahari dapat secara penuh menyinari lantai hutan.

Gambar 3 Kondisi vegetasi di Padang. 5.1.2 Hutan kerangas primer (Rimba)

Rimba merupakan ekosistem alami yang tidak atau belum dibuka untuk pertanian. Rimba tumbuh di atas tana darat dengan jenis tanah podsol (tana

teraja) yang letaknya relatif lebih tinggi atau di lingkungan lembab atau basah

(tana amau) (Fahrurrozi 2001).

Rimba disebut juga sebagai hutan primer. Hal ini menyebabkan kondisi vegetasi di Rimba rapat. Umumnya lokasi Rimba didominasi oleh pohon yang berdiameter kecil yaitu kurang dari 20 meter. Menurut Mansur (2006), pohon yang tumbuh di hutan kerangas memiliki tajuk yang rendah (tingginya kurang dari

(2)

10 m), seragam, ukuran batang dan daun kecil, serta cabang dan ranting tumbuh rapat pada setiap pohon. Namun demikian sinar matahari masih dapat masuk ke dalam hutan. Selain itu hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kondisi di dalam Rimba terdapat banyak jalan yang dapat dilalui oleh sepeda motor. Biasanya jalan tersebut digunakan masyarakat untuk masuk ke dalam kawasan hutan (Gambar 4). Hal ini menyebabkan sinar matahari masih dapat masuk ke dalam hutan.

Gambar 4 Kondisi vegetasi di Rimba. 5.1.3 Hutan kerangas sekunder (Bebak)

Hutan kerangas sekunder (Bebak) merupakan hutan yang tumbuh diatas lahan milik masyarakat setempat. Bebak tersebut adalah lahan bekas ladang yang telah ditingggalkan oleh masyarakat dengan kurun waktu yang cukup lama yaitu sekitar 10 atau 20 tahun dan sedang mengalami suksesi menuju proses klimaks (Fakhrurrozi 2001). Hal ini menyebabkan kondisi vegetasi di Bebak lebih jarang dan lebih terbuka dibandingkan dengan vegetasi di Rimba (Gambar 5).

Gambar 5 Kondisi vegetasi di Bebak. 5.2 Keanekaragaman Nepenthes

Hasil analisis vegetasi di tiga lokasi menunjukkan bahwa jumlah spesies

Nepenthes yang ditemukan yaitu empat spesies yang berbeda. Spesies tersebut

(3)

reinwardtiana Miq. dan Nepenthes rafflesiana Jack. Spesies Nepenthes paling

banyak ditemukan yaitu di Rimba dan Bebak dengan jumlah 3 spesies sedangkan jumlah spesies yang paling sedikit ditemukan di Padang yaitu 1 spesies (Tabel 4). Tabel 4 Spesies-spesies Nepenthes yang ditemukan di lokasi penelitian

No Spesies Lokasi

Padang Bebak Rimba

1 Nepenthes ampullaria - √ -

2 Nepenthes gracilis √ √ √

3 Nepenthes rafflesiana - √ √

4 Nepenthes reinwardtiana - - √

Seluruh spesies yang ditemukan merupakan spesies murni (non-hybrid). Clarke (1997) menjelaskan bahwa Nepenthes merupakan tumbuhan berumah dua, dimana bunga jantan dan betina tidak berada dalam satu individu yang sama. Hal ini menyebabkan dapat terjadi persilangan secara alam (natural hybrid) antar spesies Nepenthes. Namun pada lokasi penelitian tidak ditemukan spesies

Nepenthes silangan alam (natural hybrid). Hal ini disebabkan karena lokasi

ditemukan antar spesies relatif jauh sehingga persilangan antar spesies sulit terjadi. Selain itu menurut Mansur (2006), umumnya waktu berbunga untuk satu spesies Nepenthes berbeda-beda, sehingga peluang terjadinya proses penyerbukaan silang sangat kecil.

Clarke (2000) diacu dalam Saputri (2009) mengungkapkan bahwa seluruh spesies hibrid alami Nepenthes yang diamati bersifat fertil, walaupun belum diketahui apakah tingkat fertilisasi semua spesies hibrid alami tersebut sama atau berbeda dengan tetuanya. Hal ini menyebabkan spesies Nepenthes hasil hibrid alami sering sekali gagal bertahan dan mencapai jumlah populasi yang besar dan mandiri.

5.2.1 Nepenthes di Padang

Nepenthes yang ditemukan di Padang hanya satu spesies yaitu Nepenthes gracilis. Namun demikian jumlah populasi Nepenthes gracilis di Padang sangat

banyak yaitu mencapai 803 individu/ha. Rendahnya keanekaragaman spesies

Nepenthes yang ditemukan di Padang disebabkan oleh kondisi vegetasinya yang

(4)

naungan untuk dapat bertahan hidup dan hanya spesies-spesies tertentu saja yang dapat bertahan pada kondisi dengan sinar matahari yang penuh. Salah satu spesies

Nepenthes yang memerlukan sinar matahari yang banyak untuk bertahan hidup

yaitu Nepenthes gracilis (Untung et al. 2006). Menurut Hidayat et al. (2003)

Nepenthes gracilis akan tumbuh lebih baik dan sempurna pada kondisi sinar

matahari yang penuh, tetapi pada tanah yang cukup lembab. Mansur (2006) juga menambahkan bahwa Nepenthes gracilis akan tumbuh cepat jika berada pada tempat terbuka dan menjalar di pasir kwarsa hutan kerangas.

Nepenthes gracilis dapat tumbuh di berbagai kondisi habitat. Hal ini dapat

diketahui dengan ditemukannya Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak yang kondisi vegetasinya rapat dan ternaungi. Menurut Mansur (2006) Nepenthes

gracilis merupakan spesies yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap

lingkungan lebih tinggi daripada spesies Nepenthes lain. Oleh karena itu

Nepenthes gracilis memiliki wilayah sebaran yang cukup luas.

Nepenthes gracilis yang ditemukan di Rimba dan Bebak memiliki lebar

kantong yang relatif kecil yaitu 0,66-0,92 cm, tinggi kantong 5,73-6,67 cm dan berwarna polos (Gambar 6), sedangkan Nepenthes gracilis yang ditemukan di Padang memiliki ukuran dan warna yang beranekaragam (Gambar 7). Hal ini disebabkan oleh jumlah individu yang ditemukan di Padang lebih banyak.

Gambar 6 Nepenthes gracilis di Bebak.

(5)

Perbedaan ukuran kantong dan warna kantong pada Nepenthes gracilis yang ditemukan di Rimba, Bebak dan Padang disebabkan oleh kondisi vegetasi tempat tumbuh. Pada kondisi dengan kerapatan yang tinggi Nepenthes gracilis tumbuh dengan ukuran yang kecil dan warna kantong yang polos (Mansur 2006). Selain itu produksi jumlah kantong Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak lebih sedikit dibandingkan dengan di Padang. Jumlah individu Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak hanya 2 individu/ha sedangkan di Padang ditemukan 803 individu/ha. Hal ini disebabkan karena kondisi vegetasi di Rimba dan Bebak lebih rapat daripada di Padang. Kondisi tersebut menyebabkan lokasi di Rimba dan Bebak menghasilkan serasah yang lebih banyak. Menurut Nasoetion (1990) diacu dalam Raharjo (2006) serasah merupakan lapisan teratas dari permukaan tanah yang mungkin terdiri dari lapisan tipis sisa tumbuhan. Serasah tersebut mampu menutupi tanah dan menjadi pupuk alami sehingga menjadikan tanah di Rimba dan Bebak lebih subur dibandingkan dengan di Padang.

Nepenthes akan mengembangkan dan menghasilkan kantong lebih banyak

pada kondisi tanah yang miskin hara sebagai alat untuk memenuhi kekurangan suplai nutrisi dari tanah. Nepenthes tidak seperti tumbuhan pada umumnya yang akan tumbuh baik pada kondisi tanah yang subur. Hal tersebut merupakan upaya adaptasi Nepenthes untuk bertahan hidup. Menurut Mansur (2006), hidup di tanah yang miskin hara menjadikan Nepenthes mengembangkan kantongnya sebagai alat untuk memenuhi kekurangan suplai nutrisi dari tanah.

5.2.2 Nepenthes di Rimba

Hasil analisis vegetasi di Rimba diperoleh 3 spesies Nepenthes yaitu

Nepenthes reinwardtiana, Nepenthes gracilis dan Nepenthes rafflesiana. Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes gracilis hanya ditemukan di jalur 1 pada

plot pertama.. Kondisi plot tersebut terbuka dan terletak di samping jalan, sehingga menyebabkan sinar matahari dapat menembus lantai hutan (Gambar 8). Kondisi tersebut sangat mendukung Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes

gracilis untuk tumbuh dan menghasilkan kantong. Menurut Adam et al. (1991) Nepenthes reinwardtiana umumnya tumbuh di semak-semak pinggir jalan yang

terbuka, tanah yang gundul, di lereng yang curam atau di tempat pembuangan minyak. Mansur (2007) juga menambahkan bahwa Nepenthes reinwardtiana dan

(6)

Nepenthes gracilis dapat tumbuh pada tempat-tempat terbuka atau agak

terlindung. Namun demikian jumlah kantong yang dihasilkan sedikit yaitu dua kantong untuk setiap spesies Nepenthes.

Gambar 8 Kondisi habitat Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes gracilis di Rimba.

Nepenthes rafflesiana ditemukan di jalur 5 pada plot ke-10, jalur 6 pada

plot ke-6, 7 dan 8, serta jalur 7 pada plot ke-3. Jumlah individu Nepenthes

rafflesiana yang ditemukan di Rimba yaitu 31 individu/ha. Nepenthes rafflesiana

ditemukan umumnya tidak menghasilkan kantong. Dari keseluruhan Nepenthes

rafflesiana yang ditemukan hanya satu individu yang menghasilkan kantong. Hal

ini disebabkan karena Nepenthes rafflesiana yang ditemukan di Rimba berada pada kondisi yang ternaungi. Menurut Untung et al. (2006), pembentukan kantong dipengaruhi oleh cahaya matahari. Kondisi vegetasi Rimba yang rapat menyebabkan sinar matahari yang masuk ke dalam hutan terbatas. Meskipun ada beberapa Nepenthes yang tidak menyukai cahaya matahari secara langsung namun kekurangan cahaya matahari akan berpengaruh terhadap pertumbuhan. Nepenthes yang kekurangan cahaya matahari umumnya menghasilkan jumlah kantong yang sedikit bahkan hingga tidak menghasilkan kantong.

5.2.3 Nepenthes di Bebak

Spesies Nepenthes yang ditemukan di Bebak yaitu Nepenthes rafflesiana

Nepenthes ampullaria, dan Nepenthes gracilis. Nepenthes rafflesiana yang

ditemukan di Bebak lebih banyak dibandingkan dengan di Rimba yaitu 37 individu/ha. Hal ini disebabkan karena kondisi vegetasi di Bebak lebih terbuka sehingga sinar yang masuk lebih banyak. Selain itu di Bebak juga terdapat suatu genangan air (Amau) (Gambar 9). Menurut Handayani dan Syamsudin (1998)

(7)

Nepenthes rafflesiana menyukai tempat-tempat yang terbuka, daerah semak

belukar atau hutan-hutan payau. Clarke (2001) menambahkan bahwa Nepenthes

rafflesiana lebih menyukai habitat berupa semak belukar yang terbuka, tempat

yang basah, rawa, tanah berpasir dan hutan kerangas.

Gambar 9 Genangan air (Amau) di Bebak.

Nepenthes rafflesiana yang menghasilkan kantong hanya 5 individu.

Selain itu kantong yang ditemukan umumnya masih tertutup. Hal ini menunjukkan bahwa kantong yang dihasilkan tersebut masih tergolong muda. Menurut Mansur (2006), cairan yang terdapat dalam kantong yang masih tertutup dapat digunakan sebagai obat mata, batuk dan mengobati kulit yang terbakar.

Jumlah Nepenthes ampullaria yang ditemukan di Bebak yaitu 82 individu/ha. Umumnya Nepenthes ampullaria ditemukan di sekitar genangan air (Amau). Menurut Handayani (2001), Nepenthes ampullaria lebih menyukai tempat yang lembab atau basah dengan vegetasi semak belukar atau hutan sekunder. Adam dan Wilcock (1990) diacu dalam Adam dan Hafiza (2007) juga menjelaskan bahwa Nepenthes ampullaria tumbuh di hutan sekunder atau di pinggir rawa. Hal ini menyebabkan Nepenthes ampullaria tidak ditemukan di Rimba dan Padang.

5.3 Kunci Identifikasi Spesies Nepenthes

Kunci identifikasi atau disebut juga kunci determinasi yaitu suatu alat yang diciptakan untuk membandingkan suatu tumbuhan dengan tumbuhan lain (Anonim 2006). Hal ini bertujuan untuk mempermudah mengenal suatu spesies tumbuhan. Berikut ini merupakan kunci yang digunakan dalam mengidentifikasi spesies Nepenthes yang ditemukan di lokasi penelitian secara visual :

(8)

1.a Batang berbentuk segitiga...2 b Batang berbentuk silinder...3 2.a Bagian dalam kantong terdapat dua spot mata...N. reinwardtiana b Bagian dalam kantong tidak terdapat spot mata... N. gracilis 3.a Tutup kantong panjang, sempit dan posisi berlawanan arah...N.ampullaria b Tutup kantong tidak panjang menyempit, agak lebar...N. rafflesiana 5..4 Deskripsi Spesies Nepenthes

5.4.1 Nepenthes ampullaria Jack.

Nepenthes ampullaria memiliki batang terestrial yang memanjat. Menurut

Cheek dan Jebb (2001), batang Nepenthes ampullaria dapat memanjat hingga mencapai 15 meter. Bentuk batang silinder, diameter batang 0,7-1 cm, batang muda berwarna hijau dan berbulu merah (Gambar 10A) sedangkan batang tua berwarna coklat. Daun berbentuk lanset hingga spatula (melebar pada bagian ujung daun), tebal, bagian bawah daun berbulu kasar, pertulangan daun longitudinal jelas, ujung daun runcing atau meruncing, panjang daun 24,2-28 cm, lebar daun 5,34-8,27 cm dan panjang sulur 5,03-8,62 cm (Gambar 10B). Tangkai daun pendek dan terkadang tidak ada.

Gambar 10 Batang Nepenthes ampullaria (A), Daun Nepenthes ampullaria (B). Kantong Nepenthes ampullaria umumnya tumbuh bergerombol dan muncul dari roset daun diatas permukaan tanah. Namun ada pula kantong yang tumbuh menggantung pada batang-batang yang tumbuh tegak. Menurut Clarke (2001) Nepenthes ampullaria merupakan spesies Nepenthes yang paling menarik dan mudah diidentifikasi. Hal ini disebabkan karena Nepenthes ampullaria

(9)

mampu memproduksi kantong dalam jumlah banyak di lantai hutan. Kantong

Nepenthes ampullaria yang ditemukan di lokasi penelitian terdiri dari kantong

bawah dan kantong roset. Menurut Mansur (2006), Nepenthes memiliki tiga tipe kantong yaitu kantong bawah, kantong roset dan kantong atas.

Kantong bawah yaitu kantong yang keluar dari daun yang letaknya tidak jauh dari permukaan tanah dan biasanya menyentuh permukaan tanah (Gambar 11). Kantong bawah umumnya memiliki ukuran daun dan panjang sulur yang lebih besar dibandingkan dengan kantong roset.Selain itu pada kantong bawah, ujung sulurnya berada di depan bawah kantong, serta memiliki dua sayap yang fungsinya seperti tangga untuk membantu serangga tanah naik hingga ke mulut kantong (Mansur 2006).

Gambar 11 Kantong bawah Nepenthes ampullaria.

Kantong roset yaitu kantong yang keluar dari ujung daun roset, biasanya memiliki ukuran daun, sulur yang relatif pendek, tumbuh menggerombol di atas permukaan tanah (Gambar 12). Kantong roset yang ditemukan di lokasi penelitian umumnya tumbuh menjalar di atas permukaan tanah dengan jumlah yang cukup banyak. Menurut Handayani (2001) kantong roset Nepenthes ampullaria tersusun secara rapat bertumpuk-tumpuk dan berbentuk bulat kecil seperti teko.

Kantong atas adalah kantong berbentuk corong, pinggang, atau silinder dan tidak memiliki sayap (Mansur 2006). Pada lokasi penelitian tidak ditemukan kantong atas Nepenthes ampullaria. Menurut Cheek dan Jebb (2001), Nepenthes

ampullaria umumnya tidak mengembangkan kantong atas (Upper pithcer). Clarke

(2001) juga menambahkan bahwa Nepenthes ampullaria jarang memproduksi kantong atas.

(10)

Gambar 12 Kantong roset Nepenthes ampullaria.

Ukuran kantong bawah dan kantong roset Nepenthes ampullaria yang ditemukan relatif sama yaitu lebar kantong 1,77-5,03 cm dan tinggi kantong 5,03-8,62 cm. Kantong bawah dan kantong roset Nepenthes ampullaria berbentuk tempayan atau mirip kendi.

Mulut kantong Nepenthes ampullaria berbentuk oval dengan bibir yang melebar menghadap ke arah dalam. Tutup kantong berbetuk lonjong dan berwarna senada dengan kantong. Menurut Cheek dan Jebb (2001) Nepenthes ampullaria memiliki bentuk tutup kantong yang tidak ditemukan di spesies Nepenthes lain yaitu linear oblong (Gambar 13). Selain itu, Nepenthes ampullaria juga memiliki posisi tutup kantong unik dan tidak dimiliki oleh spesies Nepenthes lain. Posisi tutup kantong Nepenthes ampullaria berlawanan dengan mulut kantong sehingga memudahkan air hujan masuk ke dalam kantong. Hal tersebut juga disebabkan karena ukuran tutup kantong yang lebih kecil dibandingkan ukuran mulut kantong.

Gambar 13 Mulut dan tutup kantong Nepenthes ampullaria.

Warna mulut dan kantong bervariasi diantaranya yaitu hijau polos dimana bibir dan kantong berwarna hijau, bibir berwarna hijau dengan warna kantong

(11)

hijau bercorak merah, bibir berwarna merah dengan warna kantong hijau bercorak merah serta bibir dan kantong berwarna merah tua. Namun Nepenthes ampullaria yang ditemukan di lapangan yaitu kantong dan bibir kantong berwarna hijau (Gambar 14A) dan kantong hijau bercorak merah dengan bibir berwarna hijau (Gambar 14B).

Bunga Nepenthes ampullaria tidak ditemukan di lokasi penelitian. Menurut Handayani (2001) Nepenthes ampullaria memiliki bunga majemuk malai dan setiap anak malai terdiri atas 10 bunga. Bunga betina lebih pendek daripada jantan, bagian tanaman yang masih muda sering ditutupi oleh bulu-bulu halus yang pendek dan berwarna coklat (Mansur 2006).

Gambar 14 Kantong Nepenthes ampullaria berwarna hijau dengan corak merah (A), hijau polos (B).

5.4.2 Nepenthes gracilis Korth.

Nepenthes gracilis memiliki batang terestrial yang memanjat. Bentuk

batang segitiga dan berwarna hijau atau coklat kemerah-merahan (Gambar 15A), panjang batang 1-2 meter, diameter batang 0,5-1 cm. Menurut Clarke (2001) panjang batang Nepenthes gracilis mampu mencapai sekitar 7 m. Daun berbentuk lanset, tidak bertangkai, ujung daun meruncing, pangkal daun melebar memeluk batang, panjang daun 1-15,50 cm, lebar 1-5,5 cm, panjang sulur 1-23 cm, dan pertulangan longitudinal daun jelas. Umumnya daun Nepenthes gracilis memiliki warna hijau. Namun jika berada dalam kondisi yang sangat terbuka dan terkena sinar matahari secara langsung maka warna daun berubah menjadi kekuningan dan terdapat bercak-bercak berwarna merah tua atau coklat (Gambar 15B).

(12)

Gambar 15 Batang Nepenthes gracilis (A), daun Nepenthes gracilis (B). Kantong Nepenthes gracilis yang ditemukan terdiri dari kantong bawah dan kantong roset. Kantong bawah dan roset Nepenthes gracilis berbentuk silindris pada bagian atas kantong dan berbentuk oval pada bawah (Gambar 16). Kantong atas Nepenthes gracilis berbentuk pinggang dan umumnya tidak memiliki sayap. Pada lokasi penelitian tidak ditemukan kantong atas. Vegetasi yang tumbuh di Padang didominasi oleh rerumputan. Hal ini menyebabkan

Nepenthes gracilis di Padang tumbuh menjalar di atas permukaan tanah.

Gambar 16 Bentuk kantong Nepenthes gracilis.

Ukuran kantong Nepenthes gracilis yang ditemukan di Padang berbeda dengan yang ditemukan di Rimba dan Bebak. Lebar kantong Nepenthes gracilis yang ditemukan di Rimba dan Bebak relatif sama yaitu katong pada bagian atas 0,95-1,17 cm dan lebar kantong pada bagian bawah yaitu 1,09-1,4 cm. Lebar kantong Nepenthes gracilis yang ditemukan di Padang lebih beragam karena jumlah populasi yang ditemukan lebih banyak daripada di Rimba dan Bebak. Lebar kantong pada bagian atas 0,5-2,3 cm, sedangkan lebar kantong pada bagian bawah yaitu 0,80-2,93 cm. Selain itu tinggi kantong Nepenthes gracilis di Rimba, Bebak dan di Padang berbeda. Tinggi kantong Nepenthes gracilis di Rimba dan

(13)

Bebak relatif sama yaitu sekitar 5,73-6,67 cm, sedangkan tinggi kantong

Nepenthes gracilis di Padang yaitu 0,34-13,43 cm.

Warna kantong Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak hijau kemerah-merahan, sedangkan warna kantong Nepenthes gracilis di Padang lebih bervariasi diantarnya yaitu hijau polos, hijau kekuningan, merah, dan coklat kemerah-merahan. Mulut kantong berbentuk bulat dan menyempit ke arah pangkal tutup (Handayani 2001). Tutup kantong Nepenthes gracilis berbentuk bulat dan berwarna senada dengan kantongnya (Gambar 17).

Gambar 17 Tutup kantong Nepenthes gracilis.

Bunga Nepenthes gracilis pada lokasi Rimba dan Bebak tidak ditemukan,

sedangkan di lokasi Padang ditemukan beberapa bunga. Bunga Nepenthes akan terbentuk jika berada pada kondisi yang terbuka dengan sinar matahari yang penuh. Bunga yang ditemukan di lokasi Padang berwarna coklat tua dan umumnya telah merekah (Gambar 18). Bunga Nepenthes gracilis berbentuk tandan, panjangnya kurang dari 25 cm, bunga pada betina terkadang lebih panjang daripada bunga pada jantan (Mansur 2006). Menurut Handayani (2001) masing-masing anak tandan memiliki 2 bunga dengan panjang tangkai sekitar 0,6-1,2 cm.

Nepenthes gracilis memiliki buah berbentuk kotak. Biji seperti benang halus

dengan panjang sekitar 0,7-1,5 cm (Handayani 2001).

(14)

5.4.3 Nepenthes rafflesiana Jack.

  Nepenthes rafflesiana memiliki batang terestrial yang memanjat. Bentuk

batang silinder, diameter batang 0,63-1 cm dan berwarna coklat. Nepenthes

rafflesiana yang ditemukan di lokasi penelitian seluruhnya hidup secara terestrial

yaitu hidup menjalar diatas permukaan tanah. Hal ini menyebabkan tidak dapat diketahui pasti panjang batang dari Nepenthes rafflesiana. Namun menurut Cheek dan Jebb (2001) panjang batang dari Nepenthes rafflesiana dapat mencapai 2-6 m. Daun bertangkai cukup panjang yaitu sekitar 15 cm, tebal, berbentuk lanset, permukaan bawah daun berbulu halus dan berwarna hijau (Gambar 19).

Nepenthes rafflesiana memiliki panjang daun 24,5-29,4 cm, lebar daun 5-8,5 cm

dan panjang sulur sekitar 24,5-25,7 cm.

Gambar 19 Daun Nepenthes rafflesiana.

Kantong Nepenthes rafflesiana yang ditemukan di lokasi penelitian hanya

kantong bawah. Kantong bawah Nepenthes rafflesiana berbentuk oval. Lebar kantong 1,20-3,37 cm dan tinggi kantong 8,27-12,12 cm. Nepenthes rafflesiana memiliki warna kantong yang bervariasi diantaranya yaitu warna dasar putih atau hijau dengan perpaduan corak berwarna merah, coklat hingga ungu. Namun di lokasi penelitian warna kantong Nepenthes rafflesiana yang ditemukan seluruhnya berwarna dasar putih dan hijau dengan perpaduan corak berwarna merah (Gambar 20).

Kantong atas Nepenthes rafflesiana tidak ditemukan di lokasi penelitian. Kantong atas Nepenthes rafflesiana berbentuk seperti corong atau mirip terompet. Menurut Handyani dan Syamsuddin (1998) kantong atas Nepenthes rafflesiana berbentuk terompet, tidak memiliki sayap maupun renda dan hanya memiliki

(15)

sepasang garis yang menonjol di sepanjang sisi depan kantong. Nepenthes

rafflesiana merupakan spesies yang memiliki ukuran kantong cukup besar,

kantong bawah dapat menampung air hingga satu liter (Mansur 2006). Warna kantong atas terdiri dari hijau polos atau hijau dengan bercak coklat atau merah.

Gambar 20 Nepentes rafflesiana di Bebak (A), di Rimba (B).

Mulut kantong Nepenthes rafflesiana berbentuk bulat telur dengan posisi agak miring kearah depan (Handayani & Syamsudin 1998). Tutup kantong berbetuk bulat telur dan berwarna senada dengan warna kantong. Di lokasi penelitian ditemukan kantong yang masih tertutup (Gambar 21).

Gambar 21 Kantong Nepenthes rafflesiana yang masih tertutup.

Bunga Nepenthes rafflesiana tidak ditemukan di lokasi penelitian. Menurut Mansur (2006), Nepenthes rafflesiana memiliki bunga berbentuk tandan dengan panjang kurang dari 50 cm dan berwarna merah marun. Buah Nepenthes

rafflesiana berbentuk silinder dan memiliki banyak biji dengan ukuran 1-2 cm

(Handayani & Syamsudin 1998).

(16)

5.4.4 Nepenthes reinwardtiana Miq.

Nepenthes reinwardtiana memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Nepenthes gracilis. Namun Nepenthes reinwardtiana memiliki ukuran kantong

yang lebih besar. Selain itu Nepenthes reinwardtiana memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh spesies Nepenthes lain sehingga memudahkan dalam identifikasi spesies. Ciri khas tersebut yaitu terdapat dua spot mata di dalam kantong (Gambar 22).

Gambar 22 Dua spot mata di dalam kantong Nepenthes reinwardtiana. Batang Nepenthes reinwardtiana termasuk dalam kategori terestrial yang

memanjat. Menurut Clarke (2001) panjang batang Nepenthes reinwardtiana dapat mencapai hingga 10 meter. Bentuk batang segitiga, diameter batang 0,6-0,8 cm dan panjang batang 1-3 m. Daun tidak bertangkai, berbentuk lanset dan berwarna hijau. Panjang daun 15,7 -20 cm, lebar daun 1,5-3,7 cm dan panjang sulur 2,4-13,4 cm.

Tipe kantong Nepenthes reinwardtiana yang ditemukan di lokasi penelitian yaitu kantong bawah. Kantong bawah Nepenthes reinwardtiana bagian atas berbentuk silinder sedangkan bagian bawah membulat. Menurut Dariana (2009) kantong bawah Nepenthes reinwardtiana berbentuk pinggang dimana di bagian bawah membulat dan bagian tengah mengecil. Lebar kantong bagian atas 1,4-2,6 cm, lebar kantong bagian bawah 2,28-2,68 cm dan tinggi kantong 15,8-18,3 cm. Warna kantong merah dengan bercak hijau kekuning-kuningan (Gambar 23). Kantong atas Nepenthes reinwardtiana tidak ditemukan di lokasi penelitian. Kantong atas Nepenthes reinwardtiana hampir sama dengan kantong bawah, tetapi kantong atas tidak memiliki sayap dan umumnya berwarna hijau. Tutup

(17)

kantong berbentuk oval dan berwarna senada dengan warna kantong (Mansur 2006).

Gambar 23 Nepenthes reinwardtiana di Rimba.

Mansur (2006) menjelaskan bahwa Nepenthes reinwardtiana memiliki bunga berbentuk tandan, panjang kurang dari 35 cm dan tanpa daun penumpu. Bunga betina umumnya lebih pendek daripada bunga jantan. Nepenthes

reinwardtiana memiliki mulut kantong berbentuk oval di bagian depan dan

meninggi di bagian belakang, bergerigi rapat dan agak jelas, dan berwarna hijau atau merah (Dariana 2009).

5.5 Pola Sebaran Nepenthes

Pola sebaran setiap spesies Nepenthes digunakan Indeks Dispersi (ID). Berdasarkan hasil analisis diperoleh seluruh nilai ID > 1 (Tabel 5). Hal ini menunjukkan bahwa seluruh Nepenthes memiliki pola sebaran mengelompok. Menurut Ludwig dan Reynolds (1988) pola sebaran suatu spesies tumbuhan akan mengelompok jika nilai ID > 1. Penyebaran berkelompok dengan bermacam derajat merupakan pola yang paling umum dalam populasi dan hampir merupakan aturan apabila dipandang dari sudut individu (Heddy & Kurniati 1994). Hal ini disebabkan karena individu memiliki kecenderungan untuk berkumpul dan mencari kondisi lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Pengelompokan tersebut dilakukan karena adanya interaksi yang saling menguntungkan diantara individu tersebut (Istomo 1994). Namun disisi lain penyebaran bergerombol dapat meningkatkan kompetisi di dalam populasi untuk memperoleh unsur hara, ruang dan cahaya.

(18)

Tabel 5 Nilai Indeks Dispersi (ID) spesies Nepenthes

No Lokasi Nama

Spsesies Indeks Dispersi (ID) Pola Penyebaran

1 Rimba Nepenthes reinwardtiana 2,00 Mengelompok

Nepenthes rafflesiana 9,80 Mengelompok

Nepenthes gracilis 2,00 Mengelompok

2 Bebak Nepenthes ampullaria 26,00 Mengelompok

Nepenthes rafflesiana 18,44 Mengelompok

Nepenthes gracilis 2,00 Mengelompok

3 Padang Nepenthes gracilis 3,80 Mengelompok

Hasil perhitungan indeks dispersi juga sesuai dengan hasil pengamatan di lapangan. Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes gracilis yang ditemukan di Rimba tumbuh mengelompok pada lokasi yang berbatasan dengan jalan sehingga cahaya matahari dapat menembus lantai hutan. Nepenthes rafflesiana di Rimba dan Bebak tumbuh mengelompok di lokasi yang ternaungi namun masih mendapatkan cahaya matahari (Gambar 24).

Gambar 24 Nepenthes rafflesiana yang tumbuh mengelompok pada tempat yang sedikit ternaungi namun masih mendapatkan sinar matahari.

Nepenthes ampullaria ditemukan tumbuh mengelompok di sekitar

genangan air dengan tanah yang lembab atau basah (Gambar 25). Menurut Adam

et al. (2011) Nepenthes lebih suka tumbuh secara mengelompok dengan

kepadatan yang tinggi di habitat yang terbuka seperti hutan sekunder, hutan kerangas, di celah hutan primer, pegunungan yang terbuka dan hutan lumut yang berada di area pegunungan atas. Hal tersebut menunjukkan bahwa Nepenthes akan tumbuh mengelompok pada kondisi habitat yang sesuai dengan kebutuhannya.

(19)

Gambar 25 Nepenthes ampullaria yang tumbuh mengelompok di sekitar genangan air.

Ludwig dan Reynolds (1988) diacu dalam Kissinger (2002) menjelaskan bahwa pola penyebaran yang mengelompok terjadi akibat dari individu yang akan mengelompok pada habitat yang lebih sesuai dengan tuntutan hidupnya. Pengelompokan juga terjadi akibat kondisi lingkungan yang heterogen, sehingga menjadi faktor pembatas untuk individu dapat bertahan hidup. Menurut Ewusie (1990) derajat pengelompokan suatu individu sangat bergantung pada sifat khas tempat hidupnya (habitat), cuaca dan faktor fisik, jenis pola reproduksi dan tingkat kesukaan berkelompok.

Hasil penelitian juga sesuai dengan kesimpulan Barbour et al. (1987) diacu dalam Djufri (2002) yang menyatakan bahwa pola distribusi suatu spesies tumbuhan cenderung mengelompok. Hal tersebut tidak hanya disebabkan oleh faktor lingkungan dan kompetisi, juga dipengaruhi oleh perkembangbiakannya. Tumbuhan yang bereproduksi dengan biji, dan biji tersebut jatuh dekat dengan induknya atau dengan rimpang yang menghasilkan anakan vegetatif masih dekat dengan induknya.

Individu yang mengelompok umumnya memiliki angka kematian yang lebih rendah selama periode kurang baik atau waktu diserang organisme lain dibandingkan dengan individu yang terisolasi (Heddy & Kurniati 1994). Hal ini disebabkan oleh daerah yang terbuka ke arah lingkungan semakin kecil. Menurut Ewuise (1990) individu yang mengelompok mungkin mampu mengubah iklim mikro secara menguntungkan. Individu yang tumbuh mengelompok mampu

(20)

bertahan menguran Di kerentanan tempat tu kelestarian tersebut h ditemukan 5.6 Asosia Be sebagian b tidak nyat disajikan umumnya digunakan Jum Nepenthes memiliki berasal da Elaeocarp Nepenthes dengan nil Gambar 2 terhadap p ngi kehilang sisi lain p n yang cuk umbuh indiv n individu t anya dapat n pada lokas asi Nepenth erdasarkan besar tumbu ta. Hasil per dalam Lam a lebih kecil n yaitu tabel mlah tumbu s yaitu 97 asosiasi ya ari famili aceae (Gam s dengan m lai 27,21. 6 Famili tu di Rimb M Rhizop C Sa Elaeo Fa mili pengaruh an air secar penyebaran kup tinggi te vidu yang tersebut ak tumbuh me si lain. hes dengan hasil perhit uhan yang h rhitungan a mpiran 2 sa l dengan ni l taraf uji 5% uhan lain y spesies. D ang nyata d Myrtacaeae mbar 26). N melapisan (S umbuhan lai ba. 0 Myrtaceae phoraceae Clusiaceae apotaceae ocarpacea kegiatan a ra lebih efek n individu erhadap kel mengelom an terancam engelompok tumbuhan tungan tabe hidup di sek asosiasi Nep ampai 8. Ni ilai Chi-squ % dengan n yang ditemu Dari 97 spe dengan Nep e, Rhizoph Nilai Chi-sq Syzygium cy in yang mem 1 J angin yang ktif. yang men lestarian ind mpok tersebu m. Hal ini d k pada habi n di Sekitar el continge kitar Nepen penthes deng ilai Chi-squ uare tabel. N nilai 3,84. ukan di Rim esies terseb penthes. Sp horaceae, C quare terbes ymosum La miliki asosi 2 3 Jumlah Indiv g berlebiha ngelompok dividu terse ut rusak d disebabkan itat tersebut rnya ensi dapat d thes memili gan tumbuh uare hitung Nilai chi-sq mba dan tu but hanya pesies terse Clusiaceae, sar dihasilk amk) dari f iasi nyata de 3 4 vidu an dan m juga mem ebut. Jika h dan hilang karena ind t dan tidak diketahui b iki asosiasi han di sekit g yang dipe quare tabel umbuh di se 10 spesies ebut diantar Sapotaceae kan dari aso famili Mryt engan Nepe 5 ampu miliki abitat maka dividu dapat bahwa yang arnya eroleh yang ekitar yang ranya e dan osiasi aceae enthes

(21)

As dan Padan di Bebak d yang nyat (7 spesies Nepenthes tinggi di (Gynotroc Gambar 2 Ne sekitarnya (Artocarpu tersebut m yaitu My diperoleh dari famili Se menunjuk terbanyak karena ada yang tingg Juml ah Indi vi du sosiasi yang ng umumny dan tumbuh a dengan N s). Rincian s di Bebak d iperoleh d ches axillari 7 Famili tu di Bebak epenthes ya a hanya 3 us nitida Tr merupakan j yrtaceae, Po dari asosia i Moraceae. luruh hasil kkan bahwa yang mem a beberapa gi terhadap 0 1 2 3 4 5 6 7 8 g terjadi an a juga tidak h sekitar Ne Nepenthes. S n famili tu dapat diliha ari asosias is Blume) y umbuhan lai k. ang memil 3 spesies rec.), sapu p jenis rerum oaceae dan asi antara N . perhitunga a Famili M miliki asosia anggota dar p lahan huta ntara Nepen k nyata. Dar epenthes, ha Spesies tese umbuhan ya at pada Gam si antara yaitu 100 ya in yang mem liki asosia yaitu keru padang (Ba mputan yang n Moraceae Nepenthes d an tabel ko ytaceae me asi nyata d ri famili My an kerangas Fam nthes denga ri 78 spesies anya 21 spe ebut didomi ang memil mbar 27. Nil Nepenthes ang berasal d miliki asosi si nyata d upit padang eckea frutes g berasal da e. Nilai C dengan kubi ontingensi d erupakan fa dengan Nep yrtaceae me s yang misk mili an tumbuha s tumbuhan esies yang m nasi oleh f liki asosias lai Chi-squa s dengan dari famili R iasi nyata de dengan tum g (Panicum scens Linn. ari famili y Chi-square ing yaitu 65 di tiga loka amili denga enthes. Hal emiliki kem kin hara. P an lain di B n yang ditem memiliki aso famili Myrt si nyata de are hitung p kemanisan Rhizophora engan Nepe mbuhan lai m sp.), ku ). Ketiga sp ang berbea hitung tert 5,99 dan be asi yang ber an anggota l ini diseba ampuan ada Penelitian B Bebak mukan osiasi aceae engan paling n aik aceae. enthes in di ubing pesies -beda tinggi erasal rbeda yang abkan aptasi Brunig

(22)

(1979) yang dilakukan di hutan kerangas Serawak juga memperoleh anggota famili Myrtaceae yang relatif banyak.

Hasil tabel kontingensi juga didukung oleh hasil perhitungan Indeks Jaccard yang juga relatif kecil. Indeks asosiasi Jaccard (JI) yang diperoleh menunjukkan bahwa lebih dari 70 % Nepenthes memiliki asosiasi yang sangat rendah atau lemah dengan tumbuhan lain yang berada di sekitarnya (Tabel 6). Asosiasi lemah tersebut menunjukkan bahwa Nepenthes tidak memiliki kecenderungan untuk berinteraksi dan berhubungan dengan tumbuhan lain yang berada di sekitarnya. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya asosiasi lemah antara Nepenthes dengan tumbuhan lain yaitu toleransi yang sempit dalam pembagian ruang hidup terutama dalam memperoleh sinar matahari yang cukup. Tabel 6 Persentase indeks asosiasi Nepenthes

Lokasi Spesies Nepenthes

Indeks Asosiasi <0,22

(sangat rendah)

0,23-0,48

(rendah) 0,49-0,74 (tinggi) (sangat 0,75-1 tinggi)

Rimba Nepenthes reinwardtiana 99% 1% 0% 0%

Nepenthes gracilis 99% 1% 0% 0%

Nepenthes rafflesiana 97% 3% 0% 0%

Bebak Nepenthes ampullaria 94% 6% 0% 0%

Nepenthes rafflesiana 94% 1% 4% 1%

Nepenthes gracilis 99% 1% 0% 0%

Padang Nepenthes gracilis 74% 7% 11% 7%

Indeks jaccard yang diperoleh di Rimba seluruhnya menunjukkan hasil sangat kecil yaitu sekitar 0-0,375 (Lampiran 2, 3, dan 4). Nilai Indeks Jaccard tertinggi juga diperoleh dari spesies melapisan (Syzygium cymosum Lamk) yang berasal dari famili Mrytaceae dengan nilai sebesar 0,38. Namun demikian asosiasi yang terjadi antara Nepenthes dan melapisan masih tergolong rendah. Menurut Kurniawan et al. (2008) asosiasi antara spesies tergolong tinggi jika nilai indeks asosisasinya lebih besar dari 0,48.

Nilai Indeks Jaccard yang diperoleh di Bebak umumnya kecil (Lampiran 5, 6 dan 7). Namun demikian ada 4 spesies tumbuhan lain yang memiliki asosisasi yang kuat yaitu benansi (Planchonella oxyedra Dubard.), kemanisan aik (Gynotroches axillaris Blume), ladi (Pternandra coerulescens Jack) dan meleman (Psychotria malayana F.Villar ex Vidal). Nilai Indeks Jaccard tertinggi diperoleh

(23)

dari spesies kemanisan aik (Gynotroches axillaris Blume) yaitu 1. Menurut Ludwig dan Reynolds (1998) tingkat asosasi maksimum jika nilai indeks asosianya mendekati 1.

Asosiasi yang kuat atau maksimum menunjukkan bahwa kehadiran suatu spesies tertentu akan diikuti dan dihadiri oleh spesies lain. Menurut Ferianita (2008) dua spesies yang berbeda atau lebih akan membentuk komunitas tipe asosiasi interspesies. Hal ini dimungkinkan karena spesies tersebut dapat hidup dalam lingkungan yang sama, memiliki distribusi geografi yang sama, memiliki bentuk pertumbuhan yang berbeda sehingga memperkecil kompetisi, dan spesies tersebut saling berinteraksi yang saling menguntungkan salah satu atau keduanya. Namun demikian nilai Indeks Jaccard yang tinggi yang terjadi di Bebak tersebut tidak dapat dijadikan sebagai indikator bahwa kehadiran Nepenthes khususnya

Nepenthes rafflesiana akan diikuti dan dihadiri oleh tumbuhan kemanisan aik

(Gynotroches axillaris). Hal ini disebabkan karena di Rimba juga ditemukan

Gynotroches axillaris, namun nilai Indeks Jaccard yang diperoleh sangat kecil

yaitu 0-0,17.

Asosiasi yang kuat antara Nepenthes rafflesiana dan Gynotroches axillaris terjadi karena spesies tersebut sering ditemukan di lokasi Bebak. Menurut Van Steenis (1958) spesies Gynotroches axillaris dapat tumbuh di tempat berawa-rawa, terutama di sepanjang anak sungai di hutan hujan, hutan lereng perawan yang sebagian terbuka, dan umumnya ditemukan di hutan sekunder dari dataran rendah hingga ketinggian 2250 mdpl. Pada lokasi Bebak terdapat genangan air (amau). Hal ini menyebabkan spesies Gynotroches axillaris tumbuh banyak di lokasi Bebak. Populasi spesies tersebut yang cukup banyak menyebabkan

Nepenthes rafflesiana merambat pada spesies tersebut. Menurut Dariana (2009) Nepenthes memiliki sifat seperti anggur, dimana Nepenthes akan merambat pada

tumbuhan lain yang berada di sekitarnya.

Spesies tumbuhan lain yang memiliki tingkat asosiasi yang kuat dengan

Nepenthes di Padang yaitu kerupit padang (Panicum sp), Eriocaulon sp., kucai

padang (Fimbristylis sp.) dan sapu padang (Baeckea frutescens). Nilai indeks jaccard yang diperoleh di Padang berkisar antara 0,01-0,86 (Lampiran 8). Nilai Indeks Jaccard tertinggi diperoleh dari spesies kucai padang (Fimbristylis sp.)

(24)

yaitu sebesar 0,86. Spesies tersebut berasal dari famili Cyperaceae. Seluruh spesies yang memiliki asosiasi kuat dengan Nepenthes merupakan spesies yang masuk golongan rerumputan. Seluruh spesies tersebut tumbuh sangat banyak dan menyebar di seluruh lokasi Padang. Hal ini menyebabkan Nepenthes gracilis yang ditemukan di lokasi Padang umumnya tumbuh secara terestrial (tumbuh di atas permukaan tanah) dan merambat diantara spesies rerumputan tersebut.

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa Nepenthes menempel dan merambat pada 19 spesies tumbuhan disekitarnya yaitu pelawan kiring (Tristaniopsis obovata (Benn.) P.G. Wilson & J.T. Waterhouse), perai (Vaccinium

bancanum Miq.), arang-arang (Syzygium napiforme (Koord.& Valeton) Merr.&

Perry), kemanisan aik (Gynotroches axillaris Blume), kerupit padang (Panicum sp.), dan sapu padang (Baeckea frutescens Linn.). Hal ini menunjukkan bahwa

Nepenthes dapat tumbuh dan menempel pada pohon apa saja. Menurut Arief

(1994) dalam Dariana (2009) Nepenthes dapat hidup dan tumbuh pada pohon apa saja yang terpenting pohon tersebut memiliki lapisan lumut atau serasah daun. Lapisan lumut atau serasah tersebut dapat menyimpan air sehingga kelembaban dapat terjaga.

Nepenthes yang berasosaisi nyata dan memiliki tingkat asosasi yang kuat

dengan tumbuhan lain umumnya berasal dari famili Myrtaceae, Rhizophoraceae dan Cyperaceae. Menurut Dariana (2009) pada kulit pohon pada famili Myrtaceae, Sapotaceae dan Anacardiaceae banyak menempel lumut. Hal ini disebabkan oleh kulit pohon dari famili-famili tersebut sering mengelupas sehingga memungkinkan banyak tumbuh lumut.

Referensi

Dokumen terkait

Melalui temuan dan analisis data di atas dapat dilihat bahwa adanya pembongkaran representasi kulit hitam dalam aspek kepemimpinan dan heroisme. Namun pembongkaran itu

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana esensi penggunaan jenis perjanjian kerjasama pada usaha waralaba dengan melihat ciri-ciri dari perjanjian waralaba

Bagian atas terdiri dari sumbu mendatar atau sumbu kedua (S2). Pada S2 diletakkan plat berbentuk lingkaran dan dilengkapi skala untuk pembacaan skala lingkaran. Pada

Merendam sampel ayam broiler dengan berbagai konsentrasi ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) varietas putih yang telah diencerkan dengan aquades selama 30 menit..

The findings obtained in the present study confirmed the concept according to which stronger inflammation of the periodontium (ii 8.74x109/l; ii 7.01x109/l),

Teori keagenan menjelaskan bahwa seorang auditor dengan kualitas audit yang tinggi akan memiliki kemampuan dalam mendeteksi adanya praktik manajemen laba yang dilakukan

Pada pengujian ini saya mencari bagian ruangan mana yang memiliki respon perubahan suhu dan kelembaban paling cepat untuk mencapai suhu dan kelembaban yang diharapkan oleh

[r]