10
BUATAN GURU MGMP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
A. Tes Hasil Belajar 1. Pengertian Tes
Secara harfiah, kata “tes” berasal dari bahasa Perancis kuno; testum dengan arti: “Piring untuk menyisihkan logam-logam mulia” maksudnya dengan menggunakan alat berupa piring itu akan dapat diperoleh jenis-jenis logam mulia yang nilainya sangat tinggi.1
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tes adalah ujian secara tertulis, lesan, atau wawancara untuk mengetahui pengetahuan, kemampuan, bakat, dan kepribadian seorang individu.2 Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan uraian di atas, yaitu istilah tes, testing, tester, testee yang masing-masing mempunyai pengertian yang berbeda. Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian; testing berarti saat dilaksanakannya atau peristiwa berlangsungnya pengukuran dan penilaian; adapun tester artinya orang yang melaksanakan tes atau pembuat tes atau eksperimentor, yaitu orang yang sedang melakukan percobaan. Sedangkan testee adalah pihak yang sedang dikenai tes atau pihak yang sedang dikenai percobaan.
Dalam buku Educational Psychology, tes diartikan sebagai usaha untuk menilai hasil-hasil yang dicapai seorang anak dalam mempelajari mata pelajaran-pelajaran yang diajarkan di Sekolah.3
Menurut Zainal Arifin, tes adalah suatu teknik atau cara dalam rangka melaksanakan kegiatan evaluasi, yang di dalamnya terdapat berbagai item
1 Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2005), hlm.66.
2
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002) hlm.1186.
3
atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh anak didik, kemudian pekerjaan dan jawaban itu menghasilkan nilai tentang perilaku anak didik tersebut.4
Sedangkan pengertian tes menurut Wayan Nurkancana adalah: “Suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan”.5
Selanjutnya Muchtar Bukhori juga mendefinisikan tes sebagai berikut: “Tes adalah suatu percobaan yang kita adakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil-hasil pada pelajaran tertentu pada seseorang murid atau kelompok murid”.6
Adapun menurut Ign Masidjo, pengertian tes adalah sebagai berikut: “Tes adalah suatu alat pengukur yang berupa serangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara sengaja dalam suatu situasi yang distandarsasikan, dan yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan dan hasil belajar individu atau kelompok”.7
Doughlas Brown dalam kitab Ushusu Ta’allumi al-Lughati wa Ta’liimihaa (terj.) Abdul ar-Rajhi dan Ali Ahmad Syu’ban, mengartikan tes sebagai berikut:
ﺭﺎﺒﺘﺧﻻﺍﻭ
:
ﻦﻴﻌﻣ ﻝﺎﳎ ﰱ ﻢﻬﻓﺭﺎﻌﻣﻭ ﺩﺍﺮﻓﻻﺍ ﺱﺎﻴﻘﻟ ﺔﻘﻳﺮﻃ
.
“Tes dalam pengertian yang singkat adalah cara untuk mengukur pengetahuan individu (testee) dalam bidang tertentu”.8
4
Zainal Arifin, Evaluasi Intruksional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1990), hlm. 22.
5
Wayan Nurkancana dan Sumartana, Evaluasi Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hlm. 25.
6
Mukhtar Buchori, Teknik- teknik Evaluasi dalam Pendidikan, (Bandung: Jemmars, 1980), hlm. 119.
7
Ign. Masidjo, Penilaian Pencapaian Belajar Siswa di Sekolah, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), hlm. 39.
8
Doughlas Brown, Ushusu Ta’allumi al-Lughati wa Ta’liimihaa (terj.) Abdul ar-Rajhi dan Ali Ahmad Syu’ban, (Arab: Darun an-Nahdlah, tt.). hlm. 266.
Kemudian menurut William dan Stephen dalam bukunya Education Measurement and Testing mendefinisikan “The test is the stimulus to which the response is made.9Artinya tes adalah suatu rangsangan yang membuat orang untuk menanggapinya (merespon).
Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa tes merupakan suatu alat pengumpul informasi melalui serentetan pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat sesuai dengan prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan.
2. Macam-macam Tes
Tes yang merupakan salah satu teknik dalam evaluasi memiliki berbagai macam dan bentuk. Secara umum tes dibedakan:
a. Berdasarkan obyek atau variabel yang akan diukur
Berdasarkan obyek yang akan dievaluasi tes terdiri atas; tes kepribadian (Personality Test) dan tes hasil belajar (Achievement Test). 1) Tes Kepribadian (Personality Test)
Tes kepribadian yaitu tes yang digunakan untuk mengungkap kepribadian seseorang yang diukur bisa self-consept, kreativitas, disiplin, kemampuan khusus dan sebagainya.10
Sedangkan yang termasuk dalam jenis tes ini dan banyak digunakan dalam pendidikan antara lain; a) Pengukuran sikap untuk mengetahui sikap siswa terhadap hasil-hasil tertentu, b) Pengukuran minat adalah untuk menggali minat seseorang terhadap sesuatu, c) Pengukuran bakat adalah untuk mengetahui bakat-bakat khusus yang dimiliki oleh siswa, d) Tes intelegensi adalah untuk mengadakan estimasi atau perkiraan terhadap tingkat intelektual
9
William Wiersma dan Stephen G. Jurs, Educational Measurenment and Testing, (United States of Amerika: University Toledo, 1990), hlm. 9.
10
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), hlm.127.
seseorang dengan cara memberikan berbagai tugas kepada orang yang akan diukur intelegensinya.11
2) Tes Hasil Belajar (Achievement Test)
Tes hasil belajar adalah tes yang berisi pertanyaan-pertanyaan dan atau persoalan yang harus dijawab dan dipecahkan oleh individu yang dites (testee). Bila isi pertanyaan-pertanyaan atau persoalan-persoalan tersebut merupakan sesuatu hal yang telah dipelajari siswa (testee).12
Tes prestasi pada umumnya mengukur penguasaan dan kemampuan para peserta didik secara individual dalam cakupan dan ilmu pengetahuan yang telah ditentukan oleh guru yang itu semua dilakukan oleh mereka selama waktu tertentu dan terjadi dalam proses belajar mengajar.13
Tes hasil belajar dimaksudkan untuk mengukur sejauhmana para siswa telah menguasai atau mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.
b. Berdasarkan Kegunaannya
Ada beberapa fungsi atau kegunaan tes, pengukuran, dan evaluasi dalam pendidikan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut, yaitu: 1) Tes Penempatan (Placement Test)
Tes jenis ini disajikan pada awal tahun pelajaran untuk mengukur kesiapan siswa dan mengetahui tingkat pengetahuan yang telah dicapai sehubungan dengan pelajaran yang akan disajikan.14 2) Tes Formatif (Formative Test)
Tes Formatif adalah tes yang dilakukan pada saat proses belajar mengajar sedang berlangsung, digunakan untuk mencari
11 Slameto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm. 28. 12
Mudjijo, Tes Hasil Belajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm.28.
13
Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan (Kompetensi dan Prakteknya), (Jakarta: PT.Bumi Aksara, 2003) hlm. 139.
14
umpan balik guna memperbaiki proses belajar mengajar bagi guru dan murid.15
Tes jenis ini disajikan di tengah program pengajaran untuk memantau (memonitor) kemajuan belajar siswa demi memberikan umpan balik, baik kepada siswa maupun kepada guru.
3) Tes Sumatif
Tes Sumatif adalah tes yang diberikan pada akhir suatu masa belajar yang bertujuan untuk menyatakan mutu penguasaan bahan pelajaran oleh siswa atau untuk memberikan nilai.16 Tes jenis ini bertujuan mengukur keberhasilan belajar siswa secara menyeluruh. 4) Tes Diagnostik
Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengukur kekuatan dan kelemahan seseorang dalam rangka memperbaiki penguasaan atau kemampuan dalam suatu program pendidikan tertentu.17
c. Berdasarkan Tingkatnya
Ditinjau dari tingkatnya, tes dapat digolongkan menjadi tes buatan guru dan tes standar.
1) Tes Buatan Guru
Tes Buatan Guru adalah suatu tes yang disusun sendiri oleh guru yang akan mempergunakan tes tersebut. Tes ini biasa diberikan untuk ulangan harian (formatif), ulangan umum (sumatif), dan ujian sekolah (EBTA).18 Karena belum diuji cobakan taraf kesukaran item, taraf pembeda item, taraf distraktor, taraf validitas tes, dan taraf reliabilitas tesnya maka belum begitu meyakinkan. Hasil tes buatan guru banyak dipakai untuk mengetahui antara lain kedudukan
15
Harjanto, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 284.
16 Norman F. Gronlund, Menyusun Tes Hasil Belajar, (terj.) Bistok Sirait, (Semarang: IKIP
Press, 1985), hlm. 9.
17
Hisyam Zaini dkk, Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga, 2002), hlm. 159.
18
prestasi belajar siswa di kelasnya dan mengetahui kemajuannya dan sebagainya.
2) Tes Standar
Tes Standar adalah tes yang disusun oleh satu tim ahli atau disusun oleh lembaga yang khusus menyelenggarakan secara profesional.19 Tes tersebut telah mengalami proses standarisasi yakni proses validasi dan keandalan sehingga tes tersebut benar-benar valid dan andal untuk suatu tujuan tertentu. Tes ini dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama, dapat diterapkan kepada beberapa obyek mencakup wilayah yang luas.
d. Berdasarkan Bentuknya
Dilihat dari jawaban siswa yang dituntut dalam menjawab atau memecahkan persoalan yang dihadapinya, maka tes hasil belajar dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1) Tes Tertulis
Tes Tertulis adalah tes yang diberikan kepada sekelompok murid, yang pertanyaan maupun jawabannya disajikan secara tertulis dengan menggunakan kertas dan alat tulis.20 Secara umum tes tertulis dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:
a) Tes Objektif
Tes Objektif adalah Tes yang hanya mempunyai satu jawaban yang dapat dianggap terbaik. Siswa yang diuji diminta untuk menunjukkan jawaban yang terbaik itu dengan cara memberikan jawaban atau dengan memilih jawaban.21
Disebut tes objektif karena penilaiannya objektif, yaitu apabila jawaban benar diberi skor 1 (satu) dan salah diberi skor
19
Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 51.
20
W. S. Winkel, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1983), hlm. 106
21
Saefuddin Azwar, Tes Prestasi (Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi
0 (nol). Tes objektif sering pula disebut tes dikotomi, yaitu penilaian 0-1 (dichotomously scored item).22
Tes Objektif terdiri dari beberapa bentuk, yakni: (1) Completion Type Test, terdiri atas:
(a). Completion test (tes melengkapi)
Tes ini berupa suatu pernyataan yang belum lengkap, dimana siswa diminta untuk melengkapi pernyataan tersebut dengan satu kalimat atau angka.
(b). Fill-in (mengisi titik dalam kalimat yang dikosongkan).23 (2) Selection Type Test (tes yang menjawabnya dengan
mengadakan pilihan) yang terdiri atas: z Multiple Choice ( pilihan berganda)24
Pada bentuk pilihan ganda biasanya siswa dihadapkan pada suatu pertanyaan atau pernyataan yang berisi permasalahan dan sejumlah alternatif jawaban serta siswa harus memilih satu jawaban yang paling benar atau tepat. Dilihat dari strukturnya, bentuk soal pilihan berganda terdiri atas : 1) Stem, yaitu pertanyaan atau pernyataan yang berisi permasalahan yang akan ditanyakan. 2) Option, yaitu sejumlah pilihan atau alternatif jawaban. 3) Kunci, yaitu jawaban yang benar atau paling tepat. 4) Distraktor atau pengecoh yaitu jawaban- jawaban lain selain kunci jawaban.25
z True False (benar-salah)26
22
Sumarna Surapranata, Panduan Penulisan Tes Tertulis (Implementasi Kurikulum 2004), (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 67.
23
Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 35.
24
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 315
25
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Rosdakarya), hlm. 48.
26
Sumadi Suryabrata, Pengembangan Tes Hasil Belajar, (Jakarta: Rajawali Press, 1987), hlm. 40.
Jenis ini terdiri dari pernyataan deklaratif yang benar atau palsu(salah).
z Matching (menjodohkan)
Matching adalah tipe pertanyaan yang terdiri atas dari dua kolom, setiap pertanyaan pada kolom pertama harus dijodohkan dengan urutan pada kolom kedua.27Dalam tes bentuk penjodohan, siswa dituntut untuk menjodohkan, mencocokkan, menyesuaikan, atau menghubungkan antara dua pernyataan yang disediakan. Pernyataan biasanya diletakkan dalam dua lajur, ljur kanan dan lajur kiri. Lajur kiri biasanya berupa pernyataan sedang lajur kanan berupa jawaban.28
b) Tes Subyektif
Tes Subyektif adalah tes yang memungkinkan testee menjawab pertanyaan secara bebas, jauh lebih bebas daripada jawaban yang dituntut oleh soal-soal obyektif.29 Tes subyektif secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu tes essai terbatas dan tes essai bebas.
2) Tes Lisan
Tes Lisan adalah tes dimana tes tersebut dikerjakan atau direspon oleh subyek yang teruji secara lisan.30
3) Tes Perbuatan
Tes Perbuatan adalah bentuk tes yang menuntut jawaban siswa dalam bentuk perilaku, tindakan, atau perbuatan. Siswa bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan, dan ditanyakan.31Alat yang dapat digunakan tes ini adalah berupa observasi atau pengamatan
27
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algasindo Offset, 1995), hlm. 123.
28 Burhan Nurgiyantoro, Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan sastra, (Yogyakarta:
BPFE, 1987), hlm. 85.
29
Muchtar Buchori, op.cit., hlm. 77.
30
Mohammad Ali, Strategi Penelitian Pendidikan, (Bandung: Angkasa, 1993), hlm. 82.
31
terhadap tingkah laku tersebut yang hasilnya kemudian diserahkan pada guru.
3. Ciri-ciri Tes Hasil Belajar yang Baik
Tes Hasil Belajar adalah tes yang berisi pertanyaan-pertanyaan dan atau persoalan yang harus dijawab dan dipecahkan oleh individu yang dites (testee).32 Disini tes hasil belajar bermaksud mengukur sejauhmana para siswa telah menguasai atau mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditentukan.
Suatu tes dikatakan baik bilamana tes tersebut memiliki ciri sebagai alat ukur yang baik. Setidak-tidaknya ada empat karakteristik yang harus dimiliki oleh tes hasil belajar, sehingga tes tersebut dapat dinyatakan sebagai tes yang baik, yaitu:
a. Memiliki validitas yang cukup tinggi
Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut dengan secara tepat, secara benar, secara sahih, atau secara absah dapat mengukur apa yang seharusnya dapat diukur.33Untuk Menetapkan apakah tes tersebut valid atau tidak dapat dilakukan penganalisaan secara rasional maupun secara empiris.
b. Memiliki Reliabilitas yang baik
Reliabilitas adalah ketepatan dalam menilai apa yang dinilai.34Tes Hasil Belajar dapat dikatakan reliabel manakala hasil pengukuran menunjukkan kesamaan hasil pada saat yang berlainan terhadap siswa yang sama.
c. Memiliki nilai yang objektif
Suatu tes mengandung obyektivitas bila dua atau lebih pengamat yang kompeten masing-masing dapat mengetahui bahwa tes performance siswa memenuhi atau tidak kriteria yang dirumuskan
32
Mudjijo, op. cit., hlm. 28.
33
Anas Sudijono, op. cit., hlm.75.
34
Martinis Yamin, Pengembangan Kompetensi Pembelajaran, (Jakarta: UI-Press, 204), hlm. 155.
dalam tujuan pengajaran.35 Atau sebuah tes dikatakan obyektif apabila tidak ada faktor subyektif yang mempengaruhi. Adapun kualitas obyektif suatu tes dapat dibedakan menjadi tiga angkatan, yaitu: 1. Tinggi jika tes tersebut menunjukkan tingkat kesamaan yang tinggi, 2. sedang, jika terdapat pandangan subyektif dalam penilaiannya, dan 3. fleksibel.
d. Memiliki nilai kepraktisan dan Ekonomis.
Tes mempunyai praktibilitas tinggi, apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah dilaksanakan, mudah diperiksa, dan dilengkapi petunjuk yang jelas.36 Bersifat ekonomis mengandung pengertian bahwa tes tidak memakan waktu yang panjang dan tidak memerlukan biaya serta biaya yang banyak.
GAMBAR I.
BAGAN PEMBAGIAN TES37
35 Oemar Hamalik, Perencanan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2002), hlm. 216.
36
Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2001), hlm. 175.
37
Chabib Thoha, op. cit., hlm. 25 Macam-macam tes
Personality Test Achievement Test
Obyektif - Sikap-sikap - Minat - Bakat - Inteligensi - Penempatan - Formatif - Diagnostik - Sumatif - Tes Standar - Tes – non standar Tes Tertulis Tes Lisan Tes
Tindakan - Acuan Kelompok - Acuan Patokan - Acuan “Nilai” Tingkatnya Tingkatnya
Fungsinya Standar yang digunakan
- Berpedoman
- Bebas - Berpedoman
- Bebas
Fill in
Completion True-False Multiple Choice Matching
Subyektif
Bebas Terbatas
Variasi hubungan Analisis Kasus Variasi Berganda
B. Validitas Tes
1. Pengertian Validitas
Suatu tes hasil belajar dapat dikatakan baik jika memiliki ciri atau memiliki sifat valid atau sahih atau memiliki validitas. Kata “valid” sering diartikan dengan; tepat, benar, sahih, absah; jadi kata validitas dapat diartikan dengan ketepatan, kebenaran, kesahihan atau keabsahan.38
Menurut Saefuddin Azwar validitas adalah berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.39
Menurut Muhammad Abdul Khalik Muhammad dalam kitabnya Ikhtibaarootun al-Lughah, mendefinisikan validitas adalah sebagai berikut:
ﻕﺪﺼﻟﺍ
:
ﻯﺬـﹼﻟﺍ ﺀﻲﺸﻟﺍ ﺭﺎﺒﺘﺧﻻﺍ ﺲﻴﻘﻳ ﻯﺪﻣ ﻱﺍ ﱃﺍ ﲎﻌﻳ ﺭﺎﺒﺘﺧﻻﺍ ﻕﺪﺻ ﹼﻥﺍ
ﻪﻠﺟﺍ ﻦﻣ ﻊﺿﻭ
.
40“Validitas tes adalah sejauhmana tes tersebut dapat mengukur apa-apa yang hendak diukur”.
Sedangkan williem wiersma, dalam bukunya yang berjudul "Educational Measurenment and Testing" menyebutkan bahwa : Validity is the extent to which a test measures what it is intended to measure.41 Validitas adalah sejauh mana suatu tes dapat mengukur apa yang seharusnya dapat diukur.
Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa suatu tes dapat dikatakan valid yaitu apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya dapat diukur.
Jadi suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas apabila alat tersebut dapat menjalankan fungsi ukurnya, atau
38 Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi…op. cit., hlm. 93. 39
Saefuddin Azwar, Reliabilitas dan Validitas, (Yoyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm.5.
40
Muhammad Abdul Khalik Muhammad, Ikhtibaarootun al-Lughoh, (Jami’ah Malik Su’ud: 1989), hlm. 48.
41
memberikan hasil ukur, yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut.
2. Macam-macam Validitas
Secara umum validitas terbagi menjadi dua macam yakni; validitas rasional (logical validity) dan validitas empirik (empirical validity). Adapun penjelasannya sebagai berikut:
a) Validitas rasional (logical validity)
Validitas rasional adalah validitas yang diperoleh atas dasar hasil pemikiran. Validitas yang diperoleh dengan berpikir secara logis.42 Dengan demikian maka suatu tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas rasional, apabila setelah dilakukan penganalisaan secara rasional ternyata bahwa tes hasil belajar itu memang dengan tepat telah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur.
Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas rasional ataukah belum, dapat dilakukan penelusuran dari dua segi, yaitu dari segi isinya (content validity) dan dari konstruksinya (construct validity).
1) Validitas Isi (content validity)
Validitas isi (content validity) sering pula dinamakan validitas kurikulum yang mengandung arti bahwa suatu alat ukur dipandang valid apabila sesuai dengan isi kurikulum yang hendak diukur.43 Tes kemajuan belajar tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apa yang sudah diketahui oleh peserta didik setelah sekian lama mengikuti pelajaran tertentu dalam suatu sekolah. Untuk mencapai maksud itu tes tidak boleh keluar dari
42
Anas Sudijono, loc. Cit., hlm. 164.
43
Sumarna Surapranata, Analisis, Validitas, Reliabilitas, dan Interpretasi Hasil Tes
persoalan yang masih dipandang penting dan berkaitan dengan isi dari mata pelajaran atau kurikulum yang bersangkutan.44
2) Validitas Konstruksi
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam tujuan instruksional khusus.45 Dengan kata lain sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila soal-soalnya mengukur setiap aspek berpikir seperti yang diuraikan dalam standar kompetensi dasar, maupun indikator yang terdapat dalam kurikulum.
b) Validitas empirik (empirical validity)
Adapun yang dimaksud dengan validitas empirik (empirical validity) adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil analisis yang bersifat empirik. Dengan kata lain, validitas empirik adalah validitas yang bersumber pada atau diperoleh atas dasar pengamatan di lapangan.46 Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas empirik ataukah belum, dapat dilakukan penelusuran dari dua segi, yaitu dari segi daya ketepatan meramalnya (predictive validity) dan daya ketepatan bandingannya (concurent validity).
c) Validitas prediksi
Dalam validitas ini yang diutamakan bukan isi tes, melainkan kriterianya, apakah alat penilaian tersebut dapat digunakan untuk meramalkan suatu ciri perilaku tertentu, atau kriteria tertentu yang diinginkan.47 Dengan kata lain validitas ini mengandung ciri adanya relevansi dan keajegan atau ketetapan (reliability).
44 Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta: Andi Offset, 2004), hlm. 127. 45
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), hlm.67.
46
Anas Sujiono, op. cit., hlm.167.
47
d) Validitas konkuren
Apabila skor tes dan skor kriterianya dapat diperdalam waktu yang sama, maka korelasi antara kedua skor tersebut merupakan koefisien validitas konkuren.48
Validitas konkuren merupakan indikasi yang layak ditegakkan apabila tes tidak digunakan sebagai suatu prediktor dana merupakan validitas yang sangat penting dalam situasi diagnostik.
3. Validitas Butir Soal dan Teknik Pengujiannya
Sebutir item dapat dikatakan telah memiliki validitas yang tinggi atau dapat dinyatakan valid, jika skor-skor pada butir item yang bersangkutan memiliki kesesuaian atau kesejajaran arah dengan skor totalnya. Skor total di sini berkedudukan sebagai variabel terikat (dependent variable), sedangkan skor item berkedudukan sebagai variabel bebasnya (independent variable).
Sebutir item dapat dinyatakan valid, apabila skor item dengan skor totalnya mempunyai korelasi positif yang signifikan, karena sebagai teknik analisisnya dapat menggunakan teknik korelasi.
Menurut teori yang ada, apabila variabel I berupa data diskrit murni atau data dikotomik, sedangkan variabel II berupa data kontinu, maka teknik korelasi yang tepat untuk digunakan dalam mencari variabel I dengan variabel II itu adalah teknik korelasi point biserial, di mana indeks korelasi diberi dengan lambang
r
pbi.49
48
Saefuddin Azwar, op. . cit., cit., hlm. 52.
49
GAMBAR 1.1
BAGAN TENTANG VALIDITAS TES DAN VALIDITAS ITEM50
C. Reliabilitas Tes
1. Pengertian Reliabilitas
Suatu tes yang reliabel memberikan suatu ukuran yang konsisten tentang kemampuan siswa untuk mempertanyakan prestasi mengenai suatu tujuan. Reliabilitas menunjukkan nilai-nilai yang konsisten. Suatu instrumen yang mempunyai tingkat reliabilitas yang tinggi dapat dipercaya untuk dijadikan dasar pengambilan kesimpulan dan keputusan.
Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. Reliabilitas sering diartikan dengan keterandalan. Reliabilitas adalah ketatapan atau ketelitian suatu alat evaluasi. Suatu tes atau alat evaluasi dikatakan andal jika ia dapat dipercaya, konsisten, atau stabil dan produktif.51 Jadi, yang dipentingkan di sini adalah ketelitiannya, sejauhmana tes atau alat tersebut dapat dipercaya kebenarannya.
Adapun Anne Anastasi dalam bukunya "Psychological Testing", menjelaskan bahwa: "Reliability refers to the consistently of scores
50
Ibid, hlm. 191.
51
Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan teknik Evaluasi pengajaran, op. Cit., hlm.139. Validitas Validitas Tes Validitas Item Validitas Validity = Validitas Logika = Validitas Rasional = Validitas Ideal = Validitas das sollen
Empirical Validity = Validitas Empiris = Validitas Lapangan = Validitas Das Sein
Content Validity = Validitas isi = Validitas Kurikuler Construct Validity = Validitas Konstrksi = Validitas Susunan Predictive Validity = Validitas Lamaran Concurrent Validity = Validitas Bandingan = Validitas Pengalaman = Validitas Sama Saat = Validitas Ada Sekarang
obtained by the same persons when they are reexamined with the same test on different occasions".52
Reliabilitas adalah keajegan atau ketetapan nilai yang diperoleh dari individu-individu yang sama ketika mereka diuji dengan tes yang sama pada waktu berbeda.
Menurut Muhammad Abdul Malik Muhammad dalam kitabnya Ikhtibaarootun al-Lughah, mendefinisikan reliabilitas tes adalah sebagai berikut:
ﺕﺎﺒﹼﺜﻟﺍ
:
ﻥﻮـﻜﻳ ﻥﺍ ﻪـﺑ ﺪﺼﻗ ﺎﻣ ﺍﺫﺍ ﺭﺎﺒﺘﺧﻻﺍ ﰱ ﺏﺬﺑﺬﺘﻟﺍ ﻡﺪﻋ ﺕﺎﺒﹼﺜﻟﺎﺑ ﺪﺼﻘﻳ
ﺱﺎﻴﻘﳌﺍ ﺔﺑﺎﺜﲟ
.
53“Reliabilitas tes adalah tidak adanya perubahan-perubahan dalam tes yang dilaksanakan dengan menggunakan tes yang serupa”.
Dari beberapa definisi di atas, maka hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subyek yang diukur memang belum berubah. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Reliabilitas
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi reliabilitas adalah sebagai berikut:
a. Luas tidaknya sampling yang diambil
Makin luas suatu sampling, berarti tes semakin andal. b. Perbedaan bakat dan kemampuan murid yang dites
Makin variabel kemampuan peserta tes, berarti makin tinggi keandalan koefisien tes. Tes yang diberikan kepada beberapa tingkat kelas yang berbeda lebih tinggi keandalannya daripada yang hanya diberikan kepada beberapa kelas yang karena tinggi kelas yang berbeda akan menghasilkan achievement yang lebih luas.
52
Anne Anastasi, Psychological Testing, (New York: Mac Millan Publishing, Inc. 1976), hlm. 199.
53
c. Suasana dan kondisi testing
Suasana ketika berlangsung testing, seperti tenang, gaduh, banyak gangguan, pengetes yang marah-marah dapat mengganggu pengerjaan tes, sehingga dengan demikian mempengaruhi pula hasil dan keandalan tes.54
3. Reliabilitas Tes dan Teknik Pengujiannya
Dalam rangka menentukan apakah tes hasil belajar bentuk obyektif yang disusun oleh tester telah memiliki keajegan mengukur ataukah belum, dapat dilakukan dengan menggunakan tiga teknik yang dapat digunakan untuk menguji tingkat reliabilitas butir tes, yaitu:
a. Pendekatan test-retest (metode tes ulang)
Metode ini digunakan untuk menguji dengan menggunakan alat penilaian terhadap subyek yang sama, dilakukan dua kali dalam waktu yang berlainan, kemudian dikorelasikan.55 Koefisien korelasi yang diperoleh menunjukkan tingkat konsistensi instrumen yang sekaligus juga merupakan nilai koefisien korelasi. Hasil uji teknik ini dapat dipercaya bila instrumen tersebut mengukur variabel yang relatif konstan.
Adapun langkah yang dapat ditempuh pada uji reliabilitas ini adalah sebagai berikut:
1) Menyusun sebuah tes yang akan diukur reliabilitasnya 2) Mengujikan tes yang tersusun tersebut (tahap I) 3) Menghitung skor hasil tes tahap I
4) Mengujikan ulang tes yang tersusun tersebut (tahap II) 5) Menghitung skor hasil tes ulang (tahap II)
54
Ngalim Purwanto, op. cit., hlm. 141.
55
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999), hlm. 17.
6) Menghitung reliabilitas tes tersebut dengan jalan mengkorelasikan skor tes I dengan skor tes II dengan rumus Korelasi Product Moment Person.56.
b. Pendekatan equivalent-form reliability (bentuk paralel)
Pendekatan ini dipakai dengan dua bentuk tes yang sama yang dilaksanakan oleh satu kelompok pada waktu yang sama. Bentuk-bentuk tes itu sama dalam arti, bahwa tes itu disusun untuk mengukur kemampuan yang sama.57 Cara ini dapat digunakan untuk mengetahui koefisien stabilitas tes dengan asumsi bahwa sistem yang diukur dengan tes tersebut tidak akan berubah dengan hanya digunakan dengan dua bentuk tes. Adapun langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:
1) Menyusun dua buah tes yang ekuivalen
2) Menyusun kedua tes tersebut (dalam waktu yang bersamaan atau beriringan)
3) Memberikan skor hasil tes yang telah diujikan, disusun dengan memisahkan antara tes A dengan tes B
4) Mencari koefisien stabilitas kedua tes (A dan B) dengan jalan mencari korelasinya melalui rumus Korelasi Product Moment.58 c. Pendekatan split-half
Metode ini dipakai untuk digunakan dalam rangka menentukan reliabilitas dengan jalan melakukan pengukuran terhadap satu kelompok subyek, dimana pengukuran itu dilakukan dengan hanya menggunakan satu jenis alat pengukur, sedang pelaksanaan pengukuran itu hanya dilakukan sebanyak satu kali saja. Dengan kata lain metode ini dilakukan dengan satu kelompok subyek, satu jenis
56
Chabib Thoha, loc. Cit., hlm. 120.
57
Norman F. Gronlund, Constructing Achievment Test (Semarang: IKIP Press, 1981), hlm. 242.
58
alat pengukur dan satu kali pengukuran; atau satu kelompok testee, satu jenis tes, dan satu kali testing.59
Adapun langkah secara umum yang ditempuh untuk mencari reliabilitas tes adalah:60
1) Menyusun sebuah tes setidaknya jumlah nomornya genap, sehingga bila dibelah jumlahnya sama
2) Mengujikan tes tersebut pada satu sampel
3) Menghitung skor masing-masing peserta didik dalam dua kelompok skor, dapat dikelompokkan skor ganjil dan genap, dapat pula dikelompokkan skor belahan atas dan skor belahan bawah. 4) Mencari reliabilitas setengah tes dengan jalan mengkorelasikan
kedua skor tersebut dengan rumus Product Moment atau mencari deviasi pada belahan ganjil genap
5) Mencari reliabilitas satu tes penuh dengan menggunakan rumus Spearman Brown, rumus Flanagan dan rumus. Rulon.
d. Internal konsistensi (internal consistency)
Untuk mengukur koefisien konsistensi dapat digunakan pendekatan yang tidak membelah tes menjadi dua. Hal ini disebabkan oleh dua kemungkinan; 1) jumlah item ganjil, sehingga tidak dapat dibelah menjadi dua, 2) komposisi antara item-item ganjil dan genap tidak homogen, sehingga bila dibelah cenderung tidak memiliki korelasi yang positif.61
Internal konsisten yang didasarkan pada homogenitas atau korelasi antar skor jawaban pada setiap butir tes. Jika korelasi rerata antar butir soal tinggi maka reliabilitasnya juga tinggi. Jika korelasi rerata mendekati nol. Maka internal konsistensi nol pula dan reliabilitasnya rendah. Terdapat beberapa teknik dan persamaan yang digunakan untuk mencari reliabilitas dengan internal konsistensi ini
59
Anas Sudijono, loc. Cit., hlm. 214.
60
Chabib Thoha, loc. Cit., hlm. 124.
61
yaitu; 1) koefisien alpha, 2) Richardson 20, 3) Kuder-Richardson 21, dan 4) teknik Hoyt.62
Adapun dalam penelitian ini langkah pengujian reliabilitas menggunakan rumus KR 20, yaitu:
1) Membuat tabel analisis butir tanpa harus dikelompokkan nomor ganjil dan genap
2) Menghitung proporsi yang menjawab benar dan proporsi yang menjawab salah pada masing-masing butir dalam tabel analisis butir
3) Mengalikan proporsi yang menjawab benar dan proporsi yang menjawab salah
4) Mencari varian (standar deviasi kuadrat) dari skor total 5) Menghitung tes dengan rumus KR20.63
Tabel 1.2
Metode untuk Menentukan Reliabilitas64
Bentuk Reliabel Prosedur untuk Memperoleh
Test – retest methods (stabilitas): Product Moment dan Korelasi Intra Kelas
Sajikan tes yang sama sebanyak dua kali kepada peserta tes yang sama dalam waktu berbeda dan tentukan korelasi Paralel Ekuivalen:
Produk momen dan korelasi intra kelas
Sajikan dua tes yang sama kepada peserta tes yang sama dalam waktu yang relatif tidak lama (misalnya dua minggu), korelasikan kedua skor tersebut untuk mencari Reliabilitas
Split-Half methods (belah dua) Persamaan Split-Half dan Spearman –Brown
Sajikan satu kali tes lalu di belah dua, gunakan persamaan untuk mengkorelasikan kedua belahan
Internal Consistency z Koefisien alpha
Berikan sekali tes gunakan persamaan Berikan sekali tes, gunakan persamaan
62
Sumarna Surapranata, op. Cit., hlm. 113.
63
Chabib Thoha, op. Cit., hlm. 134.
64
z Kuder-Richardson (KR-20) z Kuder-Richardson (KR-21)
Berikan sekali tes, gunakan persamaan
D. Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP N 2 Bawang Banjarnegara 1. Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari Al-Qur'an dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman.65
Sebagai mata pelajaran yang mencakup perwujudan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT. Standar kompetensi mata pelajaran pendidikan Agama Islam berisi sekumpulan kemampuan yang harus dikuasai siswa selama menempuh pendidikan di SMP. Adapun Ruang lingkup bahan pelajaran PAI yang ada di SMPN 2 keseluruhannya Berfokus pada: Al-Qur'an atau Hadits, keimanan, Akhlak, Fiqh atau ibadah, dan Tarikh.66
Kemampuan-kemampuan yang tercantum dalam komponen kemampuan dasar ini merupakan penjabaran yang harus dicapai di SMP khususnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yaitu:
a. Mampu membaca al Qur’an surat-surat pilihan sesuai dengan tajwidnya, mengartikan, dan menyalinnya, serta mampu membaca, mengartikan, dan menyalin hadits-hadits pilihan.
b. Beriman kepada Allah SWT, dan lima rukun iman yang lain dengan mengetahui fungsinya serta refleksi dalam sikap, perilaku, dan akhlak peserta didik dalam dimensi vertikal dan horisontal.
65
Departemen Pendidikan Nasional, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan
Agama Islam SMP dan MTS, (Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas, 2003), hlm. 7.
66
Depdiknas, Standar kompetensi Mata Pelajaran PAI SMA dan MA, (Jakarta: Depdiknas, 2003), hlm. 5.
c. Mampu beribadah dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan syari’at Islam baik ibadah wajib dan ibadah sunnah maupun muamalah.
d. Mampu berakhlak mulia dengan meneladeni sikap-sikap dan kepribadian Rosululloh SAW serta Khulafaur Rosyidin.
e. Mampu mengambil manfaat dan sejarah peradaban Islam.67
Dengan munculnya berbagai perubahan yang sangat cepat pada hampir semua aspek dan perkembangan paradigma baru dalam kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat Islam secara nasional, yaitu kurikulum yang ditandai dengan ciri-ciri, antara lain:
a. Lebih menitikberatkan pencapaian target kompetensi (attainment targets) dari pada penguasaan materi.
b. Lebih mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia.
c. Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.68
Kedudukan pendidikan Agama Islam dan kurikulum sangat penting dan strategis dalam pelaksanaan pendidikan disetiap jenjang dan jenis pendidikan.
2. Tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam
Dalam UU No. 25 tahun 2000, menyebutkan bahwa pendidikan agama Islam di sekolah umum bertujuan untuk meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan dan pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga
67
Departemen Pendidikan Nasional, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan
Agama Islam SMP dan MTS, op. cit., hlm. 11.
68
menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakutan serta pembinaan akhlak mulia dan budi pekerti luhur.69
Pendidikan Agama Islam di SMP bertujuan untuk menambahkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi.70
Dengan demikian pendidikan agama Islam bertujuan untuk membentuk perilaku dan kepribadian individu sesuai dengan prinsip-prinsip dan konsep Islam dalam mewujudkan nilai-nilai moral dan agama sebagai landasan pencapaian tujuan pendidikan nasional.
3. Materi Pendidikan Agama Islam
Adapun materi Pendidikan Agama Islam dalam ujian sekolah kelas III adalah keseluruhan dari materi kelas I sampai dengan kelas III.
4. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Dalam proses belajar di kelas guru menggunakan metode-metode dan pendekatan-pendekatan agama yang lebih tepat guna dan berhasil guna, tepat pada sasaran pembentukan nilai-nilai moral. Metode atau yang digunakan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam misalnya: Metode antisipatif, metode dialog kreatif, metode studi kasus, metode pelatihan, metode merenung, metode lawalatan, metode kontemplasi, metode taubat, dan metode problem solving.
Pembelajaran PAI diharapkan mampu mewujudkan ukhuwah Islamiyah dalam arti luas, yaitu ukhuwah fi ubudiyah, ukhuwah fi
69
A. Qodri Azizi, Pendidikan Untuk Membangun Etika Sosial (Mendidik Anak Sukses Masa
Depan: pandai dan bermanfaat), (Semarang: Aneka Ilmu, 2003), hlm. 75.
70
Depdiknas, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP dan MTS
insaniyah, ukhuwah fi wathaniyah wa nasab dan ukhuwah fi din al-Islam. Ini dikarenakan agama Islam bukan hanya mengajarkan tentang agama Islam, tetapi juga untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (membangun etika sosial).71
5. Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Adapun pendekatan pembelajaran yang digunakan sebagai proses belajar dalam pendidikan Agama Islam adalah:72
a. Pendekatan keimanan, yaitu memberi peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan pemahaman adanya Tuhan sebagai sumber kehidupan makhluknya.
b. Pengamalan, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktekkan dan merasakan hasil-hasil pengamalan ibadah dan akhlak dalam menghadapi tugas dan masalah dalam kehidupan.
c. Pembiasan, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membiasakan sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. d. Rasional, Usaha untuk melakukan perubahan atau pemantapan
struktur kognitif anak didik (akal dan pikiran), dalam memahami dan menghayati ajaran Islam.
e. Emosional, yaitu upaya menggugah perasaan peserta didik dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya. f. Fungsional, Menyajikan ajaran Islam dengan menitik beratkan pada
aspek kemanfaatan agama Islam dalam kehidupan.
g. Keteladanan, yaitu menjadikan figur guru agama dan non agama maupun orang tua peserta didik, sebagai cermin manusia yang berkepribadian.
Konsep keterpaduan Pembelajaran Agama Islam adalah konsep yang komprehensif yang meliputi: (Keterpaduan proses, materi dan
71
Departemen Agama, Pedoman Umum Pendidikan Agama Islam Madrasah, (Jakarta: Departemen Agama, 2003), hlm.3-4.
72
penyelenggaraan) sebagai salah satu upaya pembelajaran pendidikan agama Islam yang harus di selenggarakan dan dikelola.
6. Evaluasi Pendidikan Agama Islam
Adapun yang dimaksud dengan evaluasi Pendidikan Agama ialah : Suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan di dalam pendidikan agama. Evaluasi adalah alat untuk mengukur sampai dimana penguasaan murid terhadap pendidikan yang telah diberikan.73
Di dalam pendidikan agama sebagai suatu sistem "evaluasi" bukanlah sekedar pekerjaan sambal sulam, tetapi evaluasi merupakan salah satu komponen, disamping materi atau bahan, kegiatan belajar mengajar, alat pelajaran, sumber dan metode, yang semua komponen saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.
Evaluasi atau penilaian dilakukan untuk mengukur sejauhmana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai. Penilaian dilakukan terhadap hasil belajar siswa berupa kompetensi sebagaimana yang tercantum dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran PAI. Evaluasi dalam pendidikan Islam merupakan cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental psikologi dan spiritual-religius, karena hasil pendidikan Islam bukan saja sosok pribadi yang tidak hanya bersikap religius, melainkan juga berilmu dan berketrampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakatnya.
Evaluasi atau penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Penilaian siswa merupakan bagian integral dari kegiatan di SMP, dimaksudkan untuk memperoleh keterangan tentang kegiatan dan
73
kemajuan belajar siswa. Arah penilaiannya dilakukan dengan melibatkan aspek kognitif (seluruh materi pembelajaran baik al-Qur’an, keimanan, fiqh, ibadah, akhlak dan tarikh), aspek afektif mencakup tingkah laku, minat, perasaan emosi, dan motivasi dari siswa dalam belajar PAI dan aspek psikomotorik (tahapan dalam mengamalkan ajaran Islam). Ketiga aspek ini harus seimbang dalam penilaian agar diperoleh gambaran utuh tentang keunggulan atau kelemahan siswa.74 Adapun kriteria atau hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian antara lain:75
a. Penilaian dapat dilakukan melalui tes dan non tes.
b. Penilaian harus mencakup tiga aspek kemampuan, yaitu pengetahuan, ketrampilan dan sikap.
c. Menggunakan berbagai cara penilaian pada waktu kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.
d. Pemilihan alat dan jenis penilaian berdasarkan rumusan tujuan pembelajaran.
e. Mengacu kepada tujuan dan fungsi penilaian.
f. Alat penilaian harus mendorong kemampuan penalaran dan kreatifitas. g. Mengacu kepada prinsip diferensi, yakni memberikan peluang kepada
siswa untuk menunjukkan apa yang diketahui, dipahami, dan mampu dilakukan.
h. Tidak bersifat diskriminasi, yakni memberikan peluang yang adil kepada semua siswa.
E. Tes Buatan Guru MGMP Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Tes Buatan Guru
Tes Buatan Guru adalah tes yang disusun sendiri oleh guru yang akan mempergunakan tes tersebut.76
74
Departemen Agama, Pedoman Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum, (Jakarta: Departem en Agama, 2004), hlm. 75.
75
Ibid, hlm. 97-98.
76
Menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan mendefinisikan tes buatan guru adalah tes yang disusun sendiri oleh guru dengan sedikit atau tanpa bantuan orang lain atau tenaga ahli dan jarang mengunakan butir-butir tes yang sudah diujicobakan, dianalisis dan direvisi.77
2. Tujuan dan pelaksanaan MGMP
MGMP adalah organisasi non struktural di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Struktur organisasinya berjenjang dari tingkat propinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Sekolah. Masa bakti Pengurus adalah selama 2 tahun yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan anggota.
Adapun MGMP bertujuan untuk:
a. Menumbuhkan kegairahan guru untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi program kegiatan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan keyakinan diri sebagai guru.
b. Menyetarakan kemampuan dan kemahiran guru dalam melaksanakan kegiatan belajar sehingga dapat menunjang usaha peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan.
c. Mendiskusikan permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan mencari cara penyelesaian yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, guru, kondisi sekolah dan lingkungan.
d. Membantu guru memperoleh informasi teknis edukatif yang berkaitan dengan keilmuan dan IPTEK, kegiatan pelaksanaan kurikulum, metodologi, sistem evaluasi sesuai dengan mata pelajaran yang bersangkutan.
77
e. Saling berbagi informasi dan pengalaman dalam rangka menyesuaikan perkembangan ilmu dan teknologi.78
Pelaksanaan kegiatan MGMP yaitu mengadakan konsultasi dengan pengawas, kepala kantor Departemen Dikbud Kabupaten, dan Kepala Bidang Pendidikan Menengah umum. Dan jenis kegiatannya antara lain: a. Kegiatan musyawarah guru mata pelajaran adalah mengembangkan
kemampuan dan ketrampilan guru untuk meningkatkan keberhasilan kegiatan belajar mengajarnya dengan melakukan usaha-usaha, antara lain:
1) Penguasaan kurikulum.
2) Penyusunan program semesteran.
3) Penyusunan program satuan pelajaran termasuk penguasaan dan pengembanan metode penggunaan media pelajaran, dan teknik evaluasi.
4) Materi atau bahan pelajaran.
b. Kegiatan yang termasuk memperluas wawasan, antara lain: 1) Mengadakan ceramah atau diskusi.
2) Mengadakan seminar.
3) Usaha meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. c. Kegiatan penunjang, antara lain:
1) Mengadakan pelatihan.
2) Program pengamatan wisata ke obyek-obyek yang relevan. 3) Memanfaatkan media cetak dalam media elektronika.79
3. Kegunaan Tes Buatan Guru
a. Untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu.
78 Buku Pedoman Penyelenggaraan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Seluruh Indonesia,
(Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Proyek Pengadaan Sarana dan Peningkatan Mutu Pendidikan Menengah Umum, 1993), hlm. 5.
79
b. Untuk menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai c. Untuk memperoleh suatu nilai.80
F. Analisis Item Tes
Analisis item adalah suatu kegiatan dengan proses mengumpulkan, meringkas, dan menggunakan informasi tentang tiap butir soal tes, terutama informasi tentang jawaban siswa terhadap butir soal.81
G. Kegunaan Analisis Item Tes
Analisis item tes merupakan suatu prosedur yang sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun. Kegunaan analisis item tes menurut suke silverius adalah sebagai berikut:
1. Menentukan apakah butir soal berfungsi baik seperti yang dimaksudkan oleh pembuat tes.
2. Umpan balik bagi siswa mengenai penampilannya dan merupakan dasar bagi diskusi kelas.
3. Umpan Balik bagi guru tentang kesulitan belajar. 4. Perbaikan bidang-bidang kurikulum tertentu. 5. Perbaikan butir soal.
6. Meningkatkan ketrampilan penulisan soal.82
H. Analisis Butir Soal
Analisis item tes merupakan suatu prosedur yang sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun. Analisis butir soal bukanlah merupakan ciri suatu tes yang baik, melainkan suatu kegiatan yang dapat membantu meningkatkan kebaikan suatu
80
Ibid, hlm. 149.
81
Suke Silverius, op. cit., hlm. 166.
82
tes. Tujuan utama analisis butir soal adalah untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes itu sendiri secara keseluruhan, sebab validitas dan reliabilitas suatu tes tergantung kepada ciri-ciri butir soalnya.
Untuk mengetahui apakah masing-masing butir tes itu mempunyai kualitas yang baik, maka dapat dilakukan analisis secara kuantitatif yang meliputi, yaitu: tingkat kesukaran, daya beda dan efektifitas fungsi distraktor. 1. Tingkat Kesukaran
Asumsi yang digunakan untuk memperoleh kualitas soal yang baik, disamping memenuhi validitas dan reliabilitas adalah adanya keseimbangan dari tingkat kesulitan soal tersebut. Keseimbangan yang dimaksudkan adalah adanya soal-soal yang termasuk mudah, sedang, dan sukar secara proporsional. Tingkat kesukaran soal dipandang dari kesanggupan atau kemampuan siswa dalam menjawabnya, bukan dilihat dari sudut guru sebagai pembuat soal.83
Secara tentatif dapat dikatakan bahwa salah satu ciri butir soal yang baik adalah bahwa tes tersebut tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah untuk kelompok tertentu yang akan dites.84 Cara yang dapat ditempuh untuk mengetahui apakah item tes hasil belajar itu sudah memiliki tingkat kesukaran yang memadai ataukah belum, dapat diketahui dari besar kecilnya indeks kesukaran item (difficulty indeks).
Indeks kesukaran item adalah bilangan atau angka yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu item soal. Besarnya indeks kesukaran adalah antara 0,00 sampai dengan 1,00. Artinya suatu soal yang indeks kesukarannya 0,00 menunjukkan bahwa soal itu terlalu sukar, sebaliknya suatu soal yang indeks kesukarannya 1,00 menunjukkan bahwa soal tersebut terlalu mudah. Dalam istilah evaluasi, indeks kesukaran diberi simbol "p" singkatan dari proporsi. Untuk mencari bilangan indeks kesukaran (p), digunakan rumus sebagai berikut:
a. Soal yang memiliki p < 0.30 adalah soal yang sukar.
83
Nana Sudjana, op. cit., Hlm. 135.
84
b. Soal yang memiliki 0,30 ≤ p ≤ 0,70 adalah soal yang sedang. c. Soal yang memiliki p > 0,70 adalah soal yang mudah.85
2. Daya Pembeda
Daya pembeda item tes hasil belajar penting sekali untuk diketahui, karena salah satu dasar yang dipegang untuk menyusun butir-butir item tes adalah anggapan bahwa kemampuan antara testee yang satu dengan yang lain itu berbeda-beda, dan bahwa butir –butir tes itu haruslah mampu memberikan hasil tes yang mencerminkan adanya perbedaan-perbedaan kemampuan yang terdapat di kalangan testee tersebut.
Indeks daya pembeda dihitung atas dasar pembagian kelompok menjadi dua bagian, yaitu kelompok atas yang merupakan peserta tes yang berkemampuan tinggi dengan kelompok bawah, yaitu kelompok peserta tes yang berkemampuan rendah. Indeks daya pembeda didefinisikan sebagai selisih antara proporsi jawaban benar pada kelompok atas dengan proporsi jawaban benar pada kelompok bawah. Pembagian kelompok ini dapat dilakukan dengan metode yang paling banyak dipakai adalah dengan menentukan 27% kelompok atas dan 27% kelompok bawah.86
Daya pembeda item dapat diketahui dengan melihat besar kecilnya angka indeks diskriminasi. Indeks diskriminasi item pada umumnya diberi lambang "D" (discriminatory power). Sebagaimana indeks kesukaran, indeks diskriminasi ini berkisar antara 0,00 sampai dengan 1,00. Dalam indeks diskriminasi tanda negatif digunakan jika suatu soal terbalik menunjukkan kualitas testee, yaitu anak pandai disebut bodoh dan anak bodoh disebut pandai.
Dengan demikian, interpretasi indeks daya beda yang digunakan adalah sebagai berikut:87
D : 0,00 – 0,20 = jelek
85
Sumarna Surapranata, op. cit., Hlm. 19.
86
Anas Sudijono, op. cit., Hlm. 387.
87
D : 0.20 – 0,40 = cukup D : 0,40 – 0,70 = baik D : 0,70 – 1,00 = baik sekali D : negatif (-) = tidak baik. 3. Efektifitas Fungsi Distraktor
Pada setiap item tes objektif bentuk multiple choice selalu digunakan beberapa alternatif jawaban yang mengandung dua unsur sekaligus, yaitu jawaban tepat dan jawaban yang salah.
Option atau alternatif jawaban yang salah dikenal dengan distraktor (pengecoh). Tujuan utama dari pasangan pengecoh pada setiap butir item itu adalah agar dari sekian banyak testee yang mengikuti tes hasil belajar tertarik atau terangsang untuk memilihnya, sebab mereka menyangka bahwa pengecoh yang mereka pilih itu merupakan jawaban yang betul. Jadi mereka terkecoh menganggap bahwa pengecoh yang terpasang pada item itu sebagai kunci jawaban item, padahal bukan.
Pengecoh berfungsi sebagai pengidentifikasi peserta tes yang berkemampuan tinggi. Pengecoh dikatakan berfungsi efektif apabila banyak dipilih oleh testee yang berasal dari kelompok bawah, sebaliknya apabila pengecoh itu banyak dipilih oleh testee yang berasal dari kelompok atas, maka pengecoh itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Suatu pengecoh dapat dikatakan baik jika paling sedikit dipilih oleh 5% dari seluruh peserta tes. Apabila pengecoh itu lebih banyak dipilih oleh peserta tes dari kelompok atas dibandingkan kelompok bawah, maka termasuk pengecoh yang menyesatkan.
Salah satu tujuan analisis soal adalah untuk mengetahui tentang distribusi jawaban subyek dalam alternatif jawaban yang tersedia. Melalui distribusi jawaban penyebaran ini dapat diketahui:88
a. Banyaknya peserta tes yang jawabannya betul
88
b. Pengecoh yang bagi peserta tes terlalu menyolok kesalahannya sehingga tidak ada yang memilih.
c. Pengecoh yang menyesatkan.
d. Pengecoh yang mempunyai daya tarik bagi peserta tes yang kurang pandai.