• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ANALISIS DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II ANALISIS DATA"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

ANALISIS DATA

Bab Analisis data mendeskripsikan bentuk, dan makna Istilah-Istilah

Sesaji dalam Tradisi Julen Giling Tebu Pabrik Gula Tasikmadu Kabupaten

Karanganyar. Rincian lebih lanjut dapat dilihat dalam pembahasan berikut ini.

A. Bentuk

Bentuk dapat dibedakan menjadi 3, yaitu: (1) monomorfemis, (2)

Polimorfemis, dan (3) Frasa. Bentuk-bentuk yang dimaksud dapat dilihat dalam

pembahasan berikut ini.

1. Bentuk Monomorfemis

(1) ampo [ampo]

Gambar 6 : Ampo

Istilah ampo merupakan kata dasar berkategori nomina.

Ampo ini berasal dari tanah liat yang diserut menggunakan alat tajam seperti pisau, diserut berbentuk gulungan kecil dan panjang

kemudian dikeringkan di bawah terik matahari. Ampo ini berwarna

hitam, ada yang kecokelat-cokelatan. (wawancara Toegiyo tanggal

(2)

(2) ampyang [ampyaŋ]

Gambar 7 : Ampyang

Istilah ampyang merupakan kata dasar berkategori nomina.

Ampyang merupakan makanan khas Jawa Tengah banyak dijumpai di Surakarta maupun Yogyakarta. Makanan ini berbahan gula Jawa,

kacang, jahe, dan garam. Teksturnya agak bergelombang dikarenakan

atasnya lumuran kacang, rasanya yang manis gurih berasal dari gula

Jawa dan garam sedikit pedas dari jahe. (wawancara Toegiyo tanggal

20 April 2015)

(3) arak [ara?]

Gambar 8 : Arak

Istilah arak merupakan kata dasar berkategori nomina. Arak

(3)

dengan ragi dan air. Hasil fermentasi mengandung alkohol.(wawancara

Toegiyo tanggal 20 April 2015)

(4) candu [candu]

Gambar 9 : Candu

Istilah candu merupakan kata dasar berkategori nomina.

Candu adalah getah kering pahit berwarna cokelat kekuning-kuningan yang diambil dari buah papaver somniferum, dapat mengurangi rasa

nyeri dan merangsang rasa kantuk, dan dapat menimbulkan rasa

ketagihan bagi yang sering menggunakannya.(Rizal Ari

Andani(2015:42)

(5) criping [cripIη]

(4)

Istilah criping merupakan kata dasar berkategori nomina.

Makanan terbuat dari beras ketan yang dikukus dicampur dengan

bumbu dibentuk bulat gepeng atau pipih, kemudian dikeringkan,

setelah kering digoreng dengan minyak goreng biasanya criping ada

yang tengahnya diberi warna untuk mempercantik dan memberi rasa

manis. (wawancara Toegiyo tanggal 20 April 2015)

(6) dhele [dhəle]

Gambar 11 : Dhele

Istilah dhele merupakan kata dasar berkategori nomina.

Dhele adalah tumbuhan kacang-kacangan, berbuah kecil-kecil, berwarna hitam atau kuning keputih-putihan, daunnya agak kasar dan

berbulu halus, biasa ditanam di sawah, dan digunakan untuk bahan

(5)

(7) jadah [jadah]

Gambar 12 : Jadah

Istilah jadah merupakan kata dasar berkategori nomina. Jadah

adalah makanan khas Jawa yang tebuat dari beras ketan yang

dicampuri santan, dan garam. Makanan ini biasannya dipakai untuk

makanan ringan di tempat hajatan orang Jawa kebanyakan di

kampung, jadah rasanya gurih. (wawancara Toegiyo tanggal 20 April

2015)

(8) jenang [jənaη]

Gambar 13 : Jenang

Istilah jenang merupakan kata dasar berkategori nomina. Jenang

merupakan makanan yang berbahan dari tepung beras yang dimasak

(6)

(9) joli [jɔli]

Gambar 14 : Joli

Istilah joli merupakan kata dasar berkategori nomina. Joli adalah

miniatur rumah yang terbuat dari bambu, kertas bermotif dengan

proses dari bahan bambu dirangkai sebuah miniatur rumah kemudian

diletakkan di atas dua bambu untuk tempat pemikulnya. (wawancara

Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(10) kencur [kəncUr]

Gambar 15 : Kencur

Istilah kencur merupakan kata dasar berkategori nomina. Kencur

adalah tanaman yang mempunyai akar batang yang tertanam di dalam

tanah, berwarna putih, dan biasa dipakai untuk bahan rempah-rempah

dan ramuan obat, berguna buat sambal urap, sayur sambal tumpang.

(7)

(11) kendhi [kənDi]

Gambar 16 : Kendhi

Istilah kendhi merupakan kata dasar berkategori nomina. Kendhi

adalah tempat air bercerat yang terbuat dari tanah yang dibuat dengan

keahlian tangan untuk membentuknya, banyak berbagai model kendhi

di zaman sekarang. (wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(12) kopi [kɔpi]

Gambar 17: Kopi

Istilah kopi merupakan kata dasar berkategori nomina. Kopi

adalah minuman yang berwarna hitam ada yang kecokelat-cokelatan.

Enak diminum ketika air masih panas. (wawancara Toegiyo tanggal

(8)

(13) kunci [kunci]

Gambar 18: Kunci

Istilah kunci merupakan kata dasar berkategori nomina. Kunci

adalah tanaman umbi-umbian, berwarna putih kekuningan, yang dapat

digunakan untuk bumbu sayur bening kesannya terasa segar. Seperti

sayur loncom bening. (wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(14) kunir [kunIr]

Gambar 19 : Kunir

Istilah kunir merupakan kata dasar berkategori nomina. Kunir

adalah tumbuhan, suku Zingiberaceae, marga Curcuma, banyak

digunakan dalam masakan, misalnya sebagai bumbu penyedap,

pemberi warna kuning, seperti sayur Kare, Gule, Rendang, pengawet

makanan, dan digunakan sebagai obat sakit perut.(Rizal Ari Andani

(9)

(15) lempeng [lɛmpɛη]

Gambar 20: Lempeng

Istilah lempeng merupakan kata dasar berkategori nomina.

Makanan yang terbuat dari singkong, ketela yang digiling kemudian

dicetak berbentuk criping tetapi tipis. (wawancara Toegiyo tanggal 26

Mei 2016)

(16) lenga [ləηɔ]

Gambar 21 : Lenga

Istilah lenga merupakan kata dasar berkategori nomina. Lenga

adalah jenis BBM (bahan bakar minyak) yang berwarna bening.

Biasanya dipakai untuk bahan pada kompor tradisional yang ada

(10)

(17) lombok [lↄmbↄʔ]

Gambar 22 : Lombok

Istilah lombok merupakan kata dasar berkategori nomina.

Lombok adalah tanaman perdu yang buahnya berbentuk bulat panjang dengan ujung meruncing, apabila sudah tua berwarna merah

kecokelat-cokelatan atau hijau tua, dan berisi banyak biji yang pedas

rasanya.(Rizal Ari Andani 2015/49)

(18) menyan [məñan]

Gambar 23 : Menyan

Istilah menyan merupakan kata dasar berkategori nomina.

Menyan adalah dupa dari tumbuhan styrax benzoin, berwarna putih, berbentuk kristal, dan harum baunya ketika dibakar.(Rizal Ari Andani

(11)

(19) miri [miri]

Gambar 24 : Miri

Istilah miri merupakan kata dasar berkategori nomina. Miri

adalah pohon yang buahnya berkulit keras, berbentuk bulat, berwarna

putih, isinya banyak mengandung minyak, dan biasa digunakan untuk

bumbu. Seperti sayur sambel goreng, sayur lodeh, semur, sayur

rendang. (wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(20) nanas [nanas]

Gambar 25 : Nanas

Istilah nanas merupakan kata dasar berkategori nomina. Nanas

adalah buah yang berwarna kuning yang kulitnya bergelombang dan

ada duri kecil-kecil. Rasanya manis-manis asam. (wawancara Toegiyo

(12)

(21) rante [rante]

Gambar 26 : Rante

Istilah rante merupakan kata dasar berkategori nomina. Rante

adalah benda yang yang biasanya digunakan untuk menyambungkan

gigi satu dengan gigi yang lainnya sehingga akan tersambung dan

akan bergerak. Di dalam tradisi julen ini adalah miniatur rantai.

(wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(22) slindur [slindUr]

Gambar 27 : Slindur

Istilah slindur merupakan kata dasar berkategori nomina.

(13)

Yang warnanya beranekaragam. Biasanya dipasang di bagian pȇrȇt.

(wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(23) srondeng [srondɛη]

Gambar 28 : Srondeng

Istilah srondeng merupakan kata dasar berkategori nomina.

Srondeng ini merupakan makanan yang berasal dari campuran dari berbagai bahan seperti serutan kelapa kacang tholo kemudian dimasak

dikasih bumbu agar lebih enak rasannya. (wawancara Toegiyo tanggal

26 Mei 2016)

(24) suruh [surUh]

Gambar 29 : Suruh

Istilah suruh merupakan kata dasar berkategori nomina. Suruh

adalah tumbuhan merambat di pohon lain, daunnya berasa agak pedas,

(14)

makanan yang mencandu, penguat gigi, dan sebagainya. (wawancara

Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(25) takir [takIr]

Gambar 30 : Takir

Istilah takir merupakan kata dasar berkategori nomina. Takir

adalah wadah atau tempat makanan dari daun pisang dan sebagainya

yang disemat dengan lidi pada kedua sisinya. (wawancara Toegiyo

tanggal 26 Mei 2016)

(26) tepas [tepas]

Gambar 31 : Tepas

Istilah tepas merupakan kata dasar berkategori nomina. Tepas

adalah alat elektronik yang berfungsi memberikan efek segar karena

(15)

yang tradisional yang dibuat dari serutan bambu dianyam. (wawancara

Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(27) trasi [trasi]

Gambar 32 : Trasi

Istilah trasi merupakan kata dasar berkategori nomina. Trasi

adalah bumbu penyedap masakan yang dibuat dari ikan kecil-kecil

atau udang yang dilumatkan halus-halus, berwarna cokelat gelap atau

cokelat, dan berbau amis menyengat. (wawancara Toegiyo tanggal 26

Mei 2016)

(28) uyah [uyah]

Gambar 33 : Uyah

Istilah uyah merupakan kata dasar berkategori nomina. Uyah

(16)

dapat larut dalam air, asin rasanya, berbentuk kristal, dan berwarna

putih. (wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(29) wajik [wajI?]

Gambar 34 : Wajik

Istilah wajik merupakan kata dasar berkategori nomina. Wajik

adalah makanan khas Jawa yang tebuat dari beras ketan yang

dicampuri dengan gula Jawa sehingga hasilnya makanan ini berwarna

kemerah-merahan. Makanan ini biasanya dipakai untuk makanan

ringan di tempat hajatan orang Jawa kebanyakan di kampung. Wajik

rasanya manis karena dicampur dengan gula Jawa. (wawancara

Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(30) wedhak [wəDa?]

(17)

Istilah wedhak merupakan kata dasar berkategori nomina.

Wedhak adalah semacam alat kosmetik yang berwarna putih berbentuk serbuk dan padat. (wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei

2016)

2. Bentuk Polimorfemis

(31) cok bakal [cɔ? bakal]

Gambar 36 : Cok Bakal

Cok bakal adalah takir yang berisi dari bunga mawar, telur ayam, nasi dan ayam panggang. Cok bakal masuk ke dalam

polimorfermis dari kategori kata majemuk yang muncul arti baru

dapat dianalisis seperti berikut dari kata Cok bakal kata cok ‘pacokan‘ yang berjenis verba dan bakal ‘ bakal ’ berjenis nomina. Agar kata cok dapat berdiri maka kata cok harus bergabung dengan

kata atau imbuhan. Sementara, kata bakal merupakan kata yang

secara gramatik dapat berdiri sendiri dalam pertuturan biasa dan

memiliki sifat bebas. Pada istilah cok bakal kata cok bergabung

dengan kata bakal sehingga terbentuk kata majemuk cok bakal. Kata

(18)

yaitu sesaji yang dipersembahkan leluhur terdiri dari bunga mawar,

telur ayam, nasi, dan ayam poreng. Jadi, kata cok bakal merupakan

kata majemuk yang salah satu unsurnya berupa pokok

kata(wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(32) gedhang ayu [gəDaη ayu]

Gambar 37 : Gedhang Ayu

Kata gedhang ayu merupakan kata majemuk berjenis nomina

yang terdiri dari kata gedhang ‘pisang’ yang berjenis nomina dan ayu ‘cantik’ yang berjenis adjektiva. Kata gedhang merupakan pokok kata

yang secara gramatik tidak dapat berdiri sendiri ketika berada dalam

tuturan biasa dan tidak memiliki sifat bebas. Agar kata gedhang dapat

menimbulkan makna baru maka kata gedhang harus bergabung

dengan kata atau imbuhan. Sementara, kata ayu merupakan kata yang

secara gramatik dapat berdiri sendiri dalam pertuturan biasa dan

memiliki sifat bebas. Pada istilah gedhang ayu, kata gedhang

bergabung dengan kata ayu, sehingga terbentuk kata majemuk

gedhang ayu. Kata gedhang ayu memiliki makna yang berbeda dari unsur pembentuknya, yaitu sejenis tanaman obat. Jadi, kata gedhang

(19)

kata dan masuk ke dalam kategori polimorfermis. (wawancara

Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(33) jajan pasar [ jajan pasar]

Gambar 38: Jajan Pasar

Jajan pasar adalah terdiri dari berupa bermacam-macam panganan `makanan` yang dibeli dari pasar. Jajan pasar masuk ke dalam polimorfermis dari kategori kata majemuk yang muncul arti

baru dapat dianalisis seperti berikut dari kata Jajan pasar kata Jajan

yang berjenis verba dan pasar yang berjenis nomina. Agar kata Jajan

dapat menimbulkan makna maka harus bergabung dengan kata atau

imbuhan yaitu pasar. Kata Jajan pasar memiliki makna yang berbeda

dari unsur pembentuknya, yaitu jajan `makanan ringan` + pasar

`pasar`. Jajan pasar berupa bermacam-macam panganan `makanan` yang dibeli dari pasar. Jadi, kata Jajan pasar merupakan kata

majemuk yang salah satu unsurnya berupa pokok kata. (Bausastra,

(20)

(34) kembar mayang [kəmbar mayaη]

Gambar 39 : Kembar Mayang

Kembar mayang adalah janur yang dibentuk sedemikian rupa kemudian dihiasi beberapa tanaman seperti akar, daun, batang dan

bunga. kembar mayang masuk ke dalam polimorfermis dari kategori

kata majemuk yang muncul arti baru dapat dianalisis seperti berikut

dari kata kembar mayang kata kembar yang berjenis nomina dan

mayang yang berjenis nomina. Agar kata kembar dapat berdiri maka kata kembar harus bergabung dengan kata atau imbuhan. Sementara,

kata mayang merupakan kata yang secara gramatik dapat berdiri

sendiri dalam pertuturan biasa dan memiliki sifat bebas. Pada istilah

kembar mayang kata kembar bergabung dengan kata mayang sehingga terbentuk kata majemuk kembar mayang. Kata kembar mayang

memiliki makna yang berbeda dari unsur pembentuknya, yaitu janur

yang dibentuk sedemikian rupa kemudian dihiasi beberapa tanaman

seperti akar, daun, batang dan bunga Jadi, kata kembar mayang

merupakan kata majemuk yang salah satu unsurnya berupa pokok

(21)

(35) klasa bangka [klɔsɔ bɔηkɔ]

Gambar 40 : Klasa Bangka

Klasa bangka merupakan sebuah benda yang berbentuk tikar

yang ukurannya lebih kecil dari tikar biasannya kurang lebih

berukuran setengah meter klasa bangka yang bearasal dari bahan

seperti dari pandan yang berubah warna menjadi

kecokelat-cokelatan. Klasa bangka masuk ke dalam polimorfemis dari kategori

kata majemuk yang mempunyai arti baru dapat dianalisis seperti

berikut klasa bangka dari kata klasa ‘tikar’ yang berjenis nomina dan

bangka ‘tegang’ yang berjenis adjektiva. Agar kata klasa dapat berdiri maka kata klasa harus bergabung dengan kata atau imbuhan.

Sementara, kata bangka merupakan kata yang secara gramatik dapat

berdiri sendiri dalam pertuturan biasa dan memiliki sifat bebas. Pada

istilah klasa bangka kata klasa bergabung dengan kata bangka

sehingga terbentuk kata majemuk klasa bangka. Kata klasa bangka

memiliki makna yang berbeda dari unsur pembentuknya, yaitu sejenis

tikar dari pandan dengan ukuran kecil. Jadi, kata klasa bangka

merupakan kata majemuk yang salah satu unsurnya berupa pokok

(22)

(36) ngantenan [ηantenan]

Gambar 41: Ngantenan

kata ngantenan merupakan proses morfologi berjenis nomina

yang terdiri dari bentuk afiksasi. kata nganten mendapat nasal (ng)

sufiks -an sehingga kata nganten menjadi ngantenan yang berarti

sebuah pasangan temanten. (wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei

2016)

(37) panjang ilang [panjaη ilaη]

Gambar 42 : Panjang Ilang

panjang ilang adalah keranjang yang terbuat dari janur. panjang ilang masuk ke dalam polimorfermis dari kategori kata majemuk yang muncul arti baru dapat dianalisis seperti berikut dari

(23)

kata panjang ilang kata panjang ‘panjang‘ yang berjenis nomina dan

ilang berasal dari kata dasar ilang ‘hilang’. Agar menjadi makna baru

kata panjang harus bergabung dengan kata ilang. sehingga terbentuk

kata majemuk panjang ilang. Kata panjang ilang memiliki makna

yang berbeda dari unsur pembentuknya, yaitu keranjang yang terbuat

dari janur. Jadi, kata panjang ilang merupakan kata majemuk yang

salah satu unsurnya berupa pokok kata. (wawancara Toegiyo tanggal

26 Mei 2016)

(38) pengilon [pəηilɔn]

Gambar 43 : Pengilon

Istilah pengilon masuk kedalam polimorefermis karena proses

morfologi. Kata pengilon berasal dari ngilo dari kata dasar ilo

berawalan pa dan akhiran an. Pengilon adalah benda yang berwarna

bening berfungsi sebagai alat pantulan diri sendiri ketika berkaca atau

benda yang berada didekat kaca akan terlihat kembarannya.

(24)

(39) sega asahan [səgɔ asahan]

Gambar 44 : Sega Asahan

Sega asahan adalah nasi dengan lauk sambal goreng, mie, dan krupuk. sega asahan masuk ke dalam polimorfermis dari kategori

kata majemuk yang muncul arti baru dapat dianalisis seperti berikut

dari kata sega asahan kata Sega ‘nasi‘ yang berjenis nomina dan

sega asahan berasal dari kata dasar sah ‘sah’. Agar kata Sega dapat memberikan makna baru kata Sega harus bergabung dengan kata atau

imbuhan. Sementara, kata asahan merupakan kata yang secara

gramatik dapat berdiri sendiri dalam pertuturan biasa dan memiliki

sifat bebas. Pada istilah sega asahan kata Sega bergabung dengan

kata asahan sehingga terbentuk kata majemuk sega asahan. Kata

sega asahan memiliki makna yang berbeda dari unsur pembentuknya, yaitu nasi dengan lauk sambal goreng, bakmi, dan krupuk. Jadi, kata

sega asahan merupakan kata majemuk yang salah satu unsurnya berupa pokok kata. (wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(25)

(40) sega golong [səgͻ gͻlͻŋ]

Gambar 45 : Sega Golong

Sega golong adalah nasi yang dicetak bulat. Ukurannya kurang lebih sebesar bola tenis ada juga yang berukuran seperti kelereng.

Sega golong masuk ke dalam polimorfermis dari kategori kata majemuk yang muncul arti baru dapat dianalisis seperti berikut dari

kata Sega golong kata Sega ‘nasi‘ yang berjenis nomina dan golong ‘bersatu’ berasal dari kata gemolong yang berjenis adjektiva. Agar kata sega dapat bermakna baru maka kata sega harus bergabung

dengan kata atau imbuhan. Sementara, kata golong merupakan kata

yang secara gramatik dapat berdiri sendiri dalam pertuturan biasa dan

memiliki sifat bebas. Pada istilah sega golong kata Sega bergabung

dengan kata golong sehingga terbentuk kata majemuk Sega golong.

Kata Sega golong memiliki makna yang berbeda dari unsur

pembentuknya, yaitu sebuah makanan yang dibentuk bulatan. Jadi,

kata Sega golong merupakan kata majemuk yang salah satu unsurnya

(26)

(41) sega suci [səgɔ suci] atau sega gurih

Gambar 46 : Sega Suci

Sega suci adalah nasi yang berwarna putih yang dikasih santan sehingga rasannya gurih orang Jawa menamai dengan nama nasi sega

uduk. Sega suci masuk ke dalam polimorfermis dari kategori kata

majemuk yang muncul arti baru dapat dianalisis seperti berikut dari

kata Sega suci kata Sega ‘nasi‘ yang berjenis nomina dan suci ‘bersih’. Agar kata Sega dapat bermakna baru maka kata Sega harus bergabung dengan kata atau imbuhan. Sementara, kata suci

merupakan kata yang secara gramatik dapat berdiri sendiri dalam

pertuturan biasa dan memiliki sifat bebas. Pada istilah Sega suci kata

Sega bergabung dengan kata suci sehingga terbentuk kata majemuk Sega suci. Kata Sega suci memiliki makna yang berbeda dari unsur pembentuknya, yaitu sebuah makanan yang dikasih santan biar terasa

gurih. Jadi, kata Sega suci merupakan kata majemuk yang salah satu

(27)

(42) takir ponthang [takIr ponTaη]

Gambar 47 : Takir Ponthang

takir ponthang adalah sebuah sebuah benda yang terbuat dari daun pisang dibentuk kotak berlubang berfungsi sebagai tempat

letaknya berbagai macam sesaji antara lain nasi kuning, irisan telur

dadar, jeroan ayam kampung, srondeng. takir ponthang masuk ke

dalam polimorfermis dari kategori kata majemuk yang muncul arti

baru dapat dianalisis seperti berikut dari kata takir ponthang kata

takir ‘takir‘ yang berjenis nomina dan ponthang ‘ponthang’. Agar kata takir ponthang dapat bermakna baru maka kata takir harus

bergabung dengan kata atau imbuhan. Sementara, kata ponthang

merupakan kata yang secara gramatik dapat berdiri sendiri dalam

pertuturan biasa dan memiliki sifat bebas. Pada istilah takir ponthang

kata takir bergabung dengan kata ponthang sehingga terbentuk kata

majemuk takir ponthang. Kata takir ponthang memiliki makna yang

berbeda dari unsur pembentuknya, yaitu sebuah sebuah benda yang

terbuat dari daun pisang dibentuk kotak berlubang berfungsi sebagai

tempat letaknya berbagai macam sesaji antara lain nasi kuning, irisan

(28)

benda yang terbuat dari daun pisang dibentuk kotak berlubang

berfungsi sebagai tempat letaknya berbagai macam sesaji antara lain

nasi kuning, irisan telur dadar, jeroan ayam kampung, srondeng

merupakan kata majemuk yang salah satu unsurnya berupa pokok

kata. (wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

3. Bentuk Frasa

(43) endhas kebo [ənDas kəbo]

Gambar 48 : Endhas Kebo

endhas kebo adalahh sejenis lembu/sapi yang berwarna hitam dan ada yang kecokelat–cokelatan biasanya sebagai alat tradisional

di sawah untuk membajak tanah. Endhas kebo dalam sesaji selamatan

giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. endhas kebo merupakan

frasa, karena kata endhas kebo secara gramatik dapat disisipi sufiks

{-e}, endhase kebo berjenis frasa nomina. Hal itu dapat dibuktikan melalui sekema berikut:

endhas (UPI) + kebo (M) endhas kebo

(29)

Berdasarkan skema di atas, unsur pusat dari frasa endhas kebo,

yaitu kata endhas ‘kepala‘ yang berjenis nomina lalu diikuti oleh

modifikator berjenis nomina, yaitu kata kebo ‘kerbau‘ sehinga frasa

endhas kebo berjenis frasa nomina. (wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(44) jenang katul [jənaη katUl]

Gambar 49 : Jenang Katul

Jenang katul adalah makanan yang terbuat dari kulit padi yang teksturnya lembut ketika penggilingan padi. Jenang katul dalam

sesaji selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Jenang katul

merupakan frasa, karena kata jenang katul secara gramatik dapat

disisipi sufiks {-e}, menjadi jenang katul. Jenang katul berjenis frasa

nomina. Hal itu dapat dibuktikan melalui sekema berikut:

jenang (UPI) + katul (M) jenang katul

N + N → FN

Berdasarkan skema di atas, unsur pusat dari frasa jenang katul,

yaitu kata jenang ‘jenang’ yang berjenis nomina lalu diikuti oleh

(30)

katul berjenis frasa nomina. (wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(45) kacang tholo [ kacaη Tolo]

Gambar 50: Kacang Tholo

Kacang tholo adalah jenis tanaman kacang-kacangan yang

berwarna kemerah-merahan berukuran kecil. Kacang tholo dalam

sesaji selamatan giling tebu pabrik gula Kecamatan Tasikmadu.

Kacang tholo merupakan frasa, karena kata kacang tholo secara gramatik dapat disisipi sufiks {-e}, menjadi kacange tholo. Kacange

tholo berjenis frasa nomina. Hal itu dapat dibuktikan melalui sekema berikut:

kacang (UPI) + tholo (M) kacang tholo

N + N → FN

Berdasarkan skema di atas, unsur pusat dari frasa kacang tholo, yaitu

kata kacang yang berjenis nomina lalu diikuti oleh modifikator

berjenis nomina, yaitu kata tholo sehinga frasa kacang tholo berjenis

(31)

(46) ketan ireng [kətan irəη]

Gambar 51 : Ketang Ireng

Ketan ireng adalah jenis beras yang berwarna hitam keungu-unguan. Ketan ireng dalam sesaji selamatan giling tebu PG

Kecamatan Tasikmadu. Ketan ireng merupakan frasa, karena kata

ketan ireng secara gramatik dapat disisipi sufiks {-e}, ketane ireng berjenis frasa nomina. Hal itu dapat dibuktikan melalui sekema

berikut:

ketan (UPI) + ireng (M) → ketan ireng

N + Adj → FN

Berdasarkan skema di atas, unsur pusat dari frasa ketan ireng,

yaitu kata ketan ‘jenis beras’ yang berjenis nomina lalu diikuti oleh

modifikator berjenis adjektiva, yaitu kata ireng ‘ hitam‘ sehinga frasa

ketan ireng berjenis frasa nomina. (wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016)

(32)

(47) sega thiwul [səgɔ TiwUL]

Gambar 52 : Sega Thiwul

Sega thiwul adalah makanan yang terbuat dari singkong dijemur kemudian ditumbuk, dihaluskan kasih air kemudian dimasak

sampai matang, setelah matang sega thiwul berwarna merah

kecokelat-cokelatan. Sega thiwul dalam sesaji selamatan giling tebu

PG Kecamatan Tasikmadu. Sega thiwul merupakan frasa, karena kata

sega thiwul secara gramatik dapat disisipi sufiks {-e}, segane thiwul. Sega thiwul berjenis frasa nomina. Hal itu dapat dibuktikan melalui sekema berikut:

sega (UPI) + thiwul (M) sega thiwul

N + N → FN

Berdasarkan skema di atas, unsur pusat dari frasa sega thiwul,

yaitu kata sega ‘nasi’ yang berjenis nomina lalu diikuti oleh

modifikator berjenis nomina, yaitu kata thiwul sehinga frasa sega

thiwul berjenis frasa nomina. (wawancara Toegiyo tanggal 26 Mei 2016

(33)

(48) sekar setaman [səkar sətaman] atau kembang setaman

Gambar 53: Sekar Setaman

Sekar setaman terdiri dari bunga melati putih, kantil dan mawar yang diletakan pada wadah yang berisi air atau wadah yang

sudah dihias dijukuan untuk tempat sekar setaman. dalam sesaji

selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Sekar setaman

merupakan frasa, karena kata sekar setaman secara gramatik dapat

disisipi sufiks {-e}, sekar setamane berjenis frasa nomina. Hal itu

dapat dibuktikan melalui sekema berikut:

sekar (UPI) + setaman (M) → sekar setaman

N + N → FN

Berdasarkan skema di atas, unsur pusat dari frasa sekar setaman,

yaitu kata sekar ‘bunga’ yang berjenis nomina lalu diikuti oleh

modifikator berjenis nomina, yaitu kata setaman ’setaman’ sehinga

frasa sekar setaman berjenis frasa nomina. (wawancara Toegiyo

(34)

(49) tebu wulung [təbu wulUη]

Gambar 54 : Tebu wulung

Tebu wulung adalah sejenis tebu yang kualitasnya sangat baik berwarna keungu-unguan. Tebu wulung dalam sesaji selamatan

giling tebu pabrik gula Kecamatan Tasikmadu. Tebu wulung

merupakan frasa, karena kata tebu wulung secara gramatik dapat

disisipi sufiks {-e}, tebu wulunge berjenis frasa nomina. Hal itu dapat

dibuktikan melalui sekema berikut:

tebu (UPI) + wulung (M) → tebu wulung

N + Adj → FN

Berdasarkan skema di atas, unsur pusat dari frasa tebu wulung,

yaitu kata tebu ‘tebu’ yang berjenis nomina lalu diikuti oleh

modifikator berjenis adjektiva, yaitu kata wulung ‘hitam semu biru’

sehinga frasa tebu wulung berjenis frasa nomina. (wawancara Toegiyo

(35)

B. Makna

Makna dalam penelitian ini dapat dibagi menjadi 3, yaitu: (1) makna

leksikal,(2) makna gramatikal dan (3) makna kultural. Makna-makna yang

dimaksud dapat dilihat dalam pembahasan berikut ini.

1. Makna Leksikal

A. Istilah sesaji berbentuk monomorfemis

(1) ampo [ampo]

Makna leksikal ampo ini berasal dari tanah liat yang diserut

menggunakan alat yang tajam seperti pisau, ampo ini kemudian diserut

berbentuk gulungan kecil dan panjang, kemudian dikeringkan di bawah

terik matahari. Ampo berwarna hitam, ada yang kecokelat-cokelatan.

(2) ampyang [ampyaŋ]

Makna leksikal ampyang adalah makanan yang berbahan gula

Jawa atau gula aren, garam, dan kacang berwarna merah

kecokelat-cokelatan. Gula aren atau gula Jawa dan garam direbus sampai

mengental disisi lain kacang disangrai, setelah itu dicampur gula yang

sudah mengental tadi dicetak sesuai selera. Ampyang ini rasanya

manis-manis gurih yang mempunyai bentuk lonjong dan bulat.

(3) arak [ara?]

Makna leksikal arak adalah limbah sisa fermentasi makanan

tape yang berwujud cairan atau hasil produksi dari tebu yang berwujud

(36)

(4) candu [candu]

Makna leksikal candu adalah getah kering pahit berwarna cokelat

kekuning-kuningan yang diambil dari buah Papaver somniferum.

Candu dapat mengurangi rasa nyeri, merangsang rasa kantuk, dan menimbulkan rasa ketagihan bagi yang sering menggunakannya. Di

pasar, candu dijual dengan kemasan yang terbuat dari timah sehingga

mirip seperti kemasan balon tiup namun berukuran lebih panjang.

(5) criping [cripIη]

Makna leksikal criping atau rengginang adalah makanan

terbuat dari beras yang dikukus dicampur dengan bumbu dibentuk bulat

gepeng atau pipih di tengah rengginang atau criping diberi semacam

pewarna makanan. Rengginang berwarna putih kecokelatan dan

biasanya di tengah diberi warna merah sebagai pemanis penampilannya.

(6) dhele [dhəle]

Makna leksikal dhele adalah tumbuhan kacang-kacangan,

berbuah kecil-kecil, berwarna hitam atau kuning keputih-putihan,

daunnya agak kasar dan berbulu halus, biasa ditanam di sawah, dan

digunakan untuk bahan makanan seperti tahu dan tempe. Dalam tradisi

ini dalam keadaan mentah di tempatkan di cok bakal.

(7) jadah [jadah]

Makna leksikal jadah adalah makanan yang terbuat dari beras

ketan dicampuri kelapa setelah itu dimasak sampai matang kemudian

(37)

makanan ini sering kali terdapat di hajatan orang kampung sebagai

makanan sampingan para tamu.

(8) jenang [jənaη]

Makna leksikal jenang adalah makanan yang terbuat dari

tepung beras yang dicampur dengan santan diaduk sampai beras

menjadi lembut, kemudian dituangi juruh, jadilah jenang yang rasanya

gurih-gurih manis.

(9) Joli [jɔli]

Makna leksikal joli adalah miniatur rumah yang terbuat dari

bambu, kertas bermotif dengan proses dari potongan-potongan bambu

yang susuai ukuran kemudian dirangkai sebuah miniatur rumah

kemudian diletakkan di atas dua bambu untuk tempat pemikulnya.

(10) kencur [kəncUr]

Makna leksikal kencur adalah tanaman yang mempunyai akar batang yang tertanam di dalam tanah, berwarna putih, dan biasa dipakai

untuk bahan rempah-rempah dan ramuan obat serta jamu.

(11) kendhi [kənDi]

Makna leksikal kendhi adalah tempat air yang terbuat dari tanah

liat. Kendhi masuk ke dalam sebuah kerajinan gerabah yang

mempunyai warna beranekaragam ada yang hitam dan

(38)

(12) kopi [kɔpi]

Makna leksikal kopi adalah minuman yang berwarna hitam

ada yang kecokelat-cokelatan. Enak diminum ketika air masih panas

berasal dari pohon kopi dan ada juga dari kotoran hewan yaitu luwak.

(13) kunci [kunci]

Makna leksikal kunci adalah tanaman umbi-umbian, berwarna

putih kekuningan, yang dapat digunakan untuk bumbu sayur bening

kesannya terasa segar. Seperti sayur loncom bening.

(14) kunir [kunIr]

Makna leksikal kunci adalah tumbuhan, suku Zingiberaceae,

marga Curcuma, banyak digunakan dalam masakan, misalnya sebagai

bumbu penyedap, pemberi warna kuning, pengawet makanan, dan

digunakan sebagai obat atau jamu.

(15) lempeng [lɛmpɛη]

Makna leksikal lempeng adalah Makanan yang terbuat dari

singkong, ketela yang digiling kemudian dicetak berbentuk criping

tetapi tipis. Carannya dikupas singkong atau ketelannya kemudian

direndam, digiling dan yang terakhir dicetak, dijemur, terus digoreng.

(16) lenga [ləηɔ]

Makna leksikal lenga adalah jenis BBM (bahan bakar

minyak) yang berwarna bening disebut juga minyak tanah. Biasanya

(39)

(17) lombok [lɔmbɔ?]

Makna leksikal lombok adalah tanaman perdu yang buahnya

berbentuk bulat panjang dengan ujung meruncing, apabila sudah tua

berwarna merah kecokelat-cokelatan atau hijau tua, berisi banyak biji,

dan memiliki rasa pedas.

(18) menyan [məñan]

Makna leksikal menyan adalah dupa dari tumbuhan styrax

benzoin, berwarna putih, berbentuk kristal, dan harum baunya ketika dibakar dengan arang di atas anglo.

(19) miri [miri]

Makna leksikal miri adalah pohon yang buahnya berkulit keras, bijinya berbentuk bulat, berwarna putih, isinya banyak mengandung minyak, dan biasa digunakan untuk bumbu.

(20) nanas [nanas]

Makna leksikal Nanas adalah buah yang berwarna kuning

yang kulitnya bergelombang dan ada duri kecil – kecil. Rasanya manis

-manis asam.

(21) rante [rante]

Makna leksikal Rante adalah benda yang yang biasanya

digunakan untuk menyambungkan gigi satu dengan gigi yang lainnya

sehingga akan tersambung dan akan bergerak. Di dalam tradisi julen

(40)

(22) slindur [slindUr]

Makna leksikal Slindur adalah macan kain kecil yang

bermotif seperti selendang. Yang warnanya beranekaragam. Biasanya

dipasang di bagian pȇrȇt.

(23) srondeng [srondɛη]

Makna leksikal srondeng ini merupakan makanan yang

berasal dari campuran dari berbagai bahan seperti serutan kelapa,

dibumbuhi dengan tumbar, gula Jawa, dan kacang tholo kemudian

dimasak dikasih bumbu agar lebih enak rasannya .

(24) suruh [surUh]

Makna leksikal suruh adalah tumbuhan merambat di pohon

lain, daunnya berasa agak pedas, biasa dikunyah bersama dengan

pinang, kapur, gambir sebagai makanan yang mencandu, penguat gigi, dan sebagainya.

(25) takir [takIr]

Makna leksikal takir adalah wadah atau tempat makanan dari

daun pisang dan sebagainya yang disemat dengan lidi pada kedua

sisinya.

(26) tepas [tepas]

Makna leksikal tepas adalah benda yang berbahan dari

bambu yang dianyam, bentuknya ada yang bulat, persegi panjang ada

(41)

(27) trasi [trasi]

Makna leksikal trasi adalah bumbu penyedap masakan yang

dibuat dari ikan kecil-kecil atau udang yang dilumatkan halus-halus,

berwarna cokelat gelap atau cokelat, dan berbau amis menyengat.

(28) uyah [uyah]

Makna leksikal uyah adalah senyawa kristalin NaCl yang

merupakan klorida dan sodium, dapat larut dalam air, rasanya asin,

berbentuk kristal, berwarna putih, dan digunakan sebagai bumbu

masakan.

(29) wajik [wajI?]

Makna leksikal wajik adalah makanan yang terbuat dari

beras ketan yang dicampur dengan gula Jawa, santan, manis jangan.

Proses pembuatan ketan dikukus 2 kali kemudian gula Jawa

direbus dengan santan ditambahi pandan, kayu manis kalau sudah

mngental ketan dimasukan diaduk sampai kelihatan kalis atau atau

tidak lengket. Makanan wajik ini berwarna kemerah-merahan, rasanya

manis.

(30) wedhak [wəDa?]

Makna leksikal wedhak adalah semacam alat kosmetik yang

(42)

2. Makna gramatikal

a. Istilah sesaji berbentuk polimorfemis

(31) cok bakal [cɔ? bakal]

Makna gramatikal cok bakal bakal terdiri dari kata cok `cok`

+ bakal `bakal`. adalah sesaji yang persembahkan pada leluhur terdiri dari bunga mawar, telur ayam, nasi dan ayam goreng dimasukan ke

dalam takir berjumlah 170 buah.

(32) gedhang ayu [gəDaη ayu]

Makna gramatikal gedhang ayu terdiri dari kata gedhang

`pisang` + ayu `cantik`. adalah pisang yang teksturnya bersih,

panjang, warnya kuning mulus dan rasanya sangat manis sekali.

(33) jajan pasar [jajan pasar]

Makna gramatikal jajan pasar terdiri dari kata jajan

`makanan ringan` + pasar `pasar`. merupakan bermacam-macam panganan `makanan` dan buah-buahan yang dibeli dari pasar. Jajan pasar yaiku pepanganan tukon pasar (Bausastra, 2001: 292). Pada intinya jajan pasar itu makanan ringan yang biasanya dijual di pasar.

Dahulu jajan pasar berupa kacang-kacangan dan buah-buahn dari

hasil kebun. Namun pada perkembangannya jajan pasar bisa berupa

makanan ringan dalam plastik atau lebih dikenal dengan istilah snack

sehingga lebih praktis.

(34) kembar mayang [kəmbar mayaη]

Makna gramatikal kembar mayang terdiri dari kata kembar

(43)

rupa kemudian dihiasi beberapa tanaman seperti akar, daun, batang

dan bunga sering kita temui diadat pernikahan Jawa.

(35) klasa bangka [klɔsɔ bɔηkɔ]

Makna gramatikal klasa bangka terdiri dari kata klasa `tikar`

+ bangka `tegang`.adalah benda berukuran kecil kurang lebih setengah meter, bentuknya seperti sebuah tikar berukuran kecil yang

berbahan dari daun pandan, warnannya kecoklat-coklatan.

(36) ngantenan [ηantenan]

Makna gramatikal ngantenan terdiri dari unsur nasal (ng) +

manten (N) + an ‘adalah boneka yang berukuran kecil meyerupai

sepasang pengantin/kekasih.

(37) panjang ilang [panjaη ilaη]

Makna gramatikal panjang ilang terdiri dari kata panjang

`panjang` + ilang `hilang`. adalah sebuah keranjang yang terbuat dari anyaman janur sebagai wadah sesaji.

(38) pengilon [pəηilɔn]

Makna gramatikal pengilon terdiri dari unsur pa + ngilo (ilo)

(N) + an adalah benda yang berwarna bening berfungsi sebagai alat

pantulan diri sendiri ketika berkaca atau benda yang berada didekat

kaca akan terlihat kembarannya.

(39) sega asahan [səgɔ asahan]

Makna gramatikal sega asahan terdiri dari kata sega `nasi` +

asahan `asahan`.adalah nasi dengan lauk sambal goreng, bakmi, dan

(44)

(40) sega golong [səgɔ gɔlɔη]

Makna gramatikal sega golong terdiri dair kata sega `nasi` +

golong `golong/bulat adalah nasi yang sudah matang kemudian yang dicetak bulat. Ukurannya kurang lebih sebesar bola tenis ada juga

yang berukuran seperti kelereng.

(41) sega suci [səgɔ suci]

Makna gramatikal Sega suci terdiri dair kata sega `nasi` +

suci `bersih’ adalah nasi yang berwarna putih dikukus setelah dikukus yang dikasih santan jadi satu kemudian dikukus lagi sampai matang

sehingga rasannya gurih orang Jawa menamai dengan nama sega

uduk.

(42) takir ponthang [takIr ponTaη]

Makna gramatikal takir ponthang terdiri dair kata takir

`takir` + ponthang` ponthang adalah sebuah benda yang terbuat dari daun pisang dibentuk kotak berlubang berfungsi sebagai tempat

letaknya berbagai macam sesaji antara lain nasi kuning, irisan telur

dadar, jeroan ayam kampung, srondeng.

b. Istilah Sesaji berbentuk frasa

(43) endhas kebo [ənDas kəbo]

Makna gramatikal endhas kebo terdiri dari kata endhas

`kepala` + kebo `kerbau’ adalah sejenis lembu/sapi yang berwarna hitam dan ada yang kecoklat-coklatan biasanya sebagai alat

(45)

(44) jenang katul [jənaη katUl]

Makna gramatikal jenang katul terdiri dari kata jenang

`bubur` + katul `katul’ adalah makanan yang berasal dari kulit padi yang sudah lepas dari isinya ditambahi gula Jawa secukupnya dan

garam kemudian dimasak sampai menjadi jenang. Bisannya berwarna

kemerah-merahan.

(45) kacang tholo [kacaη Tolo]

Makna gramatikal kacang tholo terdiri dari kata kacang

`kacang` + tholo ‘tholo’ adalah tumbuhan kacang-kacangan, berbuah kecil-kecil, berwarna kemerah-merahan, biasa ditanam di sawah, dan

digunakan untuk bahan makanan campuran.

(46) ketan ireng [kətan irəη]

Makna gramatikal ketan ireng terdiri dari kata ketan `ketan’

+ ireng ‘hitam’ adalah jenis beras yang berwarna hitam keungu-unguan.

(47) sega thiwul [səgɔ TiwUL]

Makna gramatikal sega thiwul terdiri dari kata sega`nasi’ +

thiwul‘thiwul’ adalah makanan yang terbuat dari singkong dijemur kemudian ditumbuk, dihaluskan kasih air kemudian dimasak sampai

matang, setelah matang sega thiwul berwarna merah

(46)

(48) sekar setaman [səkar sətaman] atau kembang setaman

Makna gramatikal sekar setaman terdiri dari kata sekar `bunga’ + setaman ‘satu taman’ terdiri dari bunga melati putih, kantil dan mawar yang diletakan pada wadah yang berisi air.

(49) tebu wulung [təbu wulUη]

Makna gramatikal tebu wulung terdiri dari kata tebu`tebu’ +

wulung‘semu keungu-unguan’ adalah sejenis tebu yang kualitasnya sangat baik berwarna keungu-unguan.

3. Makna Kultural

A. Istilah Sesaji berbentuk Monimorfermis

(1) ampo [ampo]

Ampo adalah ini berasal dari tanah liat yang diserut menggunakan alat tajam seperti pisau, ampo ini kemudian diserut

berbentuk gulungan kecil dan panjang. Ampo ini merupakan salah satu

sesaji dalam tradisi julen yang mempunyai maksud yaitu orang

berasal dari tanah kembali lagi dari tanah maka dari itu kita menyadari

bahwasanya kita ini berasal dari hal sederhana yaitu tanah sehingga

kita sebagai manusia hidarilah sifat sombong dengan jabatan, harta,

maupun dengan kepinterannya, karena kesombongan sifat ini bakal

memberikan kerugian pada diri kita, dan sombong dengan

kemewahan, harta maupun kepinteran akan hilang ketika kita akan

(47)

Yang dapat membantu kita hanyalah ‘tumindhak becik marang

sepadha, lan sembahyanga kanthi kencheng’ berbuatlah kebaikan terhadap sesama manusia, dan beribadahlah dengan kuat. Maka dari

itu ingatlah bahwasannya kita berasal dari hal yang sederhana yaitu

tanah. Atau tanah berada di bawah dalam arti kita selalu merendahkan

diri kita

(2) ampyang [ampyaŋ]

Ampyang merupakan bagian isi sesaji tradisi selamatan julen giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu yang selalu ada di dalam tradisi

ini. ampyang merupakan sebuah makanan yang berasal dari bahan

gula Jawa yang dicampuri dengan kacang tanah sehingga rasanya

manis-manis renyah yang berasal dari kacang tanah tersebut. Dari rasa

yang manis tersebut kesannya orang yang makan terkesan enak dan

senang maka dari falsafah dari ampyang yaitu berbuat baik kepada

sesama manusia, baik dari tindakannya, ucapanya, sehingga ketika ada

suatu tindakan hati orang lain menjadi senang dan nyaman.

Diharapkan para karyawan pabrik dan masyarakat sekitar hidup dalam

keadaan rukun, tenteram dan nyaman.

(3) arak [ara?]

Arak merupakan bagian sesaji tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Arak/ciu/qomr merupakan minuman

yang diharamkan oleh agama Islam. Maka dari itu makanlah, carilah

(48)

(4) candu [candu]

Candu merupakan bagian isi tradisi julen selamatan giling

tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Candu dibakar bersama merang,

umpling, menyan, parem, dan tike. Berhubung sekarang candu sulit untuk ditemukan, maka sudah jarang digunakan sebagai pelengkap

sesaji. Bahan dasar candu yang terbuat dari tembakau telah terbukti

secara ilmiah dapat mengusir hal-hal yang buruk.

(5) criping [cripIη] atau rengginang

Criping merupakam bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Criping bentuknya

bundar gepeng, pipih menyamaikan bunga, sehingga criping sebagai

kekembaning wong urip ‘bunganya orang hidup’ maksudnya dalam kehidupan manusia mempunyai banyak permohonan tidak hanya satu

melainkan bermacam- macam.

Arti luasnya dunia ini mempunyai banyak kekayaan, kekayaan di laut

maupun di darat misalkannya di darat yaitu kita diberi anugrah

tanaman tebu yang setahun bisa memanenya, hal tersebut merupakan

suatu karunia sang Illahi sehingga dapat dimanfaatkannya dengan

baik.

(6) Dhele [dhəle]

Dhele merupakan bagian isi sesaji selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Termasuk palawija yaitu pala gumantung ‘buah bergantung’. Dahulu kala ketika upacara tanggal 1 Sura,

(49)

dengan mengumpulkan berbagai macam hasil bumi, baik itu pala

kependhem ‘buah terpendam’, pala gumantung ‘buah tergantung’, dan pala kesimpar ‘buah menjalar’. Hal itu dilakukan sebagai wujud terimakasih kepada bumi. Maka dari itu, dhele ini merupakan wujud

dari rasa syukur manusia kepada Tuhan karena telah dikaruniai hasil

bumi.( Iman, 23 april 2015)

(7) jadah [ jadah]

Jadah merupakan bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Jadah sebenarnya terbentuk

dari bahasa arab yaitu hajat yang artinya keperluan. Dalam hal ini

jadah mempunyai makna keinginannya sudah tepenuhi dalam arti semua perlengkapan sesaji sudah terpenuhi sehingga acara tradisi ini

bisa untuk dilaksanakan, dan memohon supaya hajat acara ini diberi

berjalan dengan baik, kelancaran tanpa suatu halangan apapun.

Namun selain makna di atas jadah itu juga mempunyai maksud lain

yaitu jadah itukan warnanya putih arti putih menggambarkan ibu

sehingga yang paling utama sebagai orang anak berbaktilah,

sayangilah ibumu.

(8) jenang [jənaη]

Jenang merupakan bagian isi dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Jenang berwarna putih diberi

juruh diatasnya menyimbolkan bahwasanya manusia tidak suci lagi sudah melanggar norma yang telah dibuatnya.

(50)

Makna lain jenang yaitu menggambarkan keberanian menentang para

penjajah atau pembangkang pada saat itu penjajah kolonial Belanda

yang dicontohkan oleh Raden Mas Said.

(9) Joli [jɔli]

Joli dalam tradisi julen adalah pabrik ini disimbolkan rumah yang diharapkan bisa mengayomi memberikan kenteteraman

penghuni rumah dan kenyamanan ini juga selaras pada pabrik

memberikan kenyaman pada para karyawan untuk melakukan

perkerjaan tidak ada suatu ganguan, dan berderet menyimbolkan

sebuah keserasian.

(10) pengilon [pəηilɔn]

pengilon merupakan salah satu sesaji tradisi julen selamatan PG Kecamatan Tasikmadu. pengilon sebuah benda yang dapat

mengatahui muka kita maupun badan kita ketika berkaca. Sehingga

sesuatu yang ada di wajah kita baik kotoran ketika kita berkaca

mengetahui kemudian bagaimana carannya untuk menutup atau

menghilangkan kotoran tersebut. Dalam arti kaca ini sebagai simbol

interospeksi diri kita dalam menjalani kehidupan ini. Ketika

melakukan keburukan maupun kebaikan dengan simbol pengilon ini

kita dapat menjadi alat pengingat tindakan kita sehingga mencoba

untuk bertindak lebih baik lagi.

(11) kencur [kəncUr]

Kencur merupakan bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu yang ada di dalam

(51)

takir ‘wadah yang dibuat dari daun pisang’. Kencur adalah sejenis tumbuhan yang beraroma yang khas. Oleh masyarakat Jawa, kencur

dimanfaatkan sebagai jamu dan bumbu pada makanan. Kencur

berwarna putih yang berarti suci dan kebaikan. Kencur juga memiliki

banyak manfaat terutama untuk obat atau jamu. Dengan disertakannya

kencur dalam sesaji tradisi julen ini diharapkan pemilik pabrik serta karyawan akan mendapatkan banyak kebaikan dan anugerah dari

Tuhan. Selain itu, diharapkan agar tanaman tebunya kelak dapat

memberikan manfaat kepadanya dan orang lain yang ada di

sekitarnya.

Kencur merupakan salah satu jenis empon-empon ‘tanaman obat’. Empon-empon merupakan perlambang dari lelakone manungsa

‘perjalanan hidup manusia’ (Iman, 23 April 2015). Kencur ini

menunjukkan apabila dalam hidup manusia harus berbuat baik.

Manusia harus saling tolong-menolong dan mau menjadi obat bagi rasa

sakit dan penderitaan yang dialami orang lain.

(12) kendhi [kənDi]

Kendhi merupakan bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Kendhi merupakan wadah

yang menjaga air agar tidak tumpah dan hilang. Kendhi dapat

diartikan sebagai wadah yang menjaga agar rejeki tidak hilang.

(13) kopi [ kɔpi]

Kopi merupakan bagian sesaji tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Bahwasanya kopi ini salah satu dari

(52)

tiga minum yang dipersembahkan kepada penunggu pabrik. Kopi

merupakan salah satu minuman khas Indonesia yang kebanyakan

diminum oleh masyarakat Indonesia.

Kopi berwarna hitam memberikan pelajaran bahwasannya hitam ini dicondongkan ke dalam hal–hal yang negatif maka dari itu

hindarilah perbuatan tercela. Janganlah mempunyai stempel hitam di

dalam hidup hal kecil dapat berakibat buruk

(14) Kunci [kunci]

Kunci merupakan bagian isi sesaji tradisi julen giling tebu selamatan PG Tasikmadu. Kunci memiliki aroma khas yang

fungsinya sebagai penyedap rasa pada masakan sayur bening. Bening

diasumsikan berpikirlah yang jernih-jernih bening tidak ada rasa

syu,udhon sehinga pikiran yang bening terhadap sesama diharapkan pintu rejeki akan terbuka. Kunci merupakan salah satu jenis

empon-empon ‘tanaman obat’. Empon-empon-empon merupakan perlambang dari lelakone manungsa (perjalanan hidup manusia). Kunci memiliki makna kurangana cicirmu ‘kurangilah perhitunganmu’. Artinya,

dalam hidup jangan terlalu perhitungan kepada orang lain.

(15) kunir [kunIr]

Kunir merupakan bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Kunir memiliki

warna kuning dan aroma yang khas. Oleh masyarakat Jawa, kunir

dimanfaatkan sebagai jamu dan pewarna alami kuning pada makanan.

(53)

Empon-empon merupakan perlambang dari lelakone manungsa ‘perjalanan hidup manusia’. Kunir berwara kuning, sebagai simbol

pengingat agar pemilik pabrik senantiasa gemi. Gemi artinya

senantiasa hidup berhemat dan menghindari sifat boros.

Warna kuning pada kunir juga terkait dengan nafsu empat

perkara, yaitu nafsu sufi’ah atau dengki atau iri hati. Setiap manusia

yang hidup memiliki nafsu sufi’ah. Dalam proses menuju manunggal

lawan Hyang widhi ‘bersatu dengan Tuhan’ atau kesempurnaan, manusia harus bisa menekan timbulnya nafsu tersebut agar tidak

berlebihan dan tetap selaras dengan tiga nafsu yang lain. (Sontodipura,

18 April 2016 )

(16) lempeng [lɛmpɛη]

Lempeng merupakan bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Lempeng

memberikan kita pelajaran hidup. Berjalanlah dengan tegak tidak

membungkuk dalam arti kita dalam menjalani hidup selalu dalam

keadaan yang tegak, tegar selalu sabar.

(17) lenga [ləηɔ]

Lenga merupakan bagian isi dari tradisi julen selamatan giling PG Kecamatan Tasikmadu. Lenga adalah jenis bahan bakar

minyak yang biasanya digunakan oleh orang–orang desa yang

kebanyakan masih menggunakan kompor sumbu. Lenga sebagai salah

(54)

semula diberi lenga untuk membawa gerbang kereta yang berisi tebu

ke dalam pabrik.

Dalam arti hidup yang sah-sah saja atau sewajarnya saja tidak usah

melanggar aturan di tunjukan kepada semua kalangan baik pemimpin

pabrik maupun karyawan .

(18) lombok [lɔmbɔ?]

Lombok merupakan bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Lombok berfungsi

sebagai penyedap masakan juga sebagai pencipta rasa pedas pada

masakan. (Sontodipura, 18 April 2016). Cabai yang digunakan

sebagai sesaji tradisi julen umumnya yaitu cabai rawit yang sudah

matang sempurna (berwarna merah merona). Namun apabila tidak

dapat menemukan cabai yang matang sempurna, diperbolehkan juga

menggunakan cabai yang setengah matang atau berwarna oranye.

Lombok yang mempunyai rasa pedas dan warna merah dari api. Warna merah pada lombok terkait dengan nafsu yaitu nafsu amarah.

Setiap manusia yang hidup pasti memiliki nafsu amarah). Dalam

proses menuju manunggal lawan Hyang widhi ‘bersatu dengan Tuhan’ atau kesempurnaan, manusia harus bisa menekan timbulnya

nafsu tersebut agar tidak timbul secara berlebihan dan tetap selaras

dengan tiga nafsu yang lain.

(19) menyan [məñan]

Menyan merupakan bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Selain merupakan

(55)

bagian dari sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG

Kecamatan Tasikmadu. Menyan juga dibakar bersama candu, merang,

umpling, parem, dan tike. Setelah dibakar, lalu kemudian juru kunci berdoa di depan kepala kereta atau lokomotif kereta diistilahkan

diang, secara magis, diang dilakukan untuk membuka tirai yang menghubungkan alam halus dengan alam kasar (Iman, 23 April

2015). Membuka tirai pembatas kedua alam dilakukan untuk

nyambati ‘meminta pertolongan’ danyang penunggu Pabrik . Di dalam sesaji tradisi julen, menyan ini termasuk sekar arum gandha arum ‘bunga wangi bau-bauan wangi’. Sama seperti diang, dengan

menggunakan bunga dan bau-bauan harum, maka petani berharap bisa

nyambati (meminta pertolongan) dhanyang (Iman , 23 April 2015).

Dengan perantara menyan diharapkan pelaksanaan upacara dapat

berjalan lancar dan permohonannya dapat dikabulkan oleh Tuhan.

Namun, tidak jarang asap menyan mobat-mabit ke kanan dan ke kiri

karena diterpa angin. Hal itu diumpamakan sebagai hidup manusia

yang seringkali terombang-ambing oleh cobaan. Namun begitu, asap

menyan akan terus bergerak ke atas, itu disimbolkan sebagai harapan atau doa manusia hanya tertuju kepada Tuhan.

(20) miri [miri]

Miri merupakan bagian isi sesaji dari tradisi selamatan julen giling tebu PGTasikmadu. Miri digunakan sebagai sebagai penyedap

(56)

‘tanaman obat’. Empon-empon merupakan perlambang dari lelakone

manungsa ‘perjalanan hidup manusia’ (Sontodipura, 18 April 2016). Dalam istilah miri terkandung nasihat aja miring-miring, kudu anteng ‘jangan miring, harus tenang’. Maksudnya, hidup manusia hendaknya

selalu lurus di jalan kebaikan, tidak terombang-ambing oleh keadaan.

Istilah miri juga mengandung nasihat aja meri ‘jangan iri’.

Maksudnya, kita tak boleh iri pada apa yang dimiliki oleh orang lain

(Iman, 23 april 2015).

(21) nanas [nanas]

Nanas merupakan bagian sesaji tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Dalam hal ini kata nas merujuk

kepada pelaksana tradisi, karyawan, dan masyarakat sekitar. Kata nas

ini berasal dari bahasa Arab yang artinya manusia. Jadi lebih

dicondongkan kepelakunya.

(22) rante [rante]

Rante merupakan bagian isi sesaji dari julen selamatan giling PG Kecamatan Tasikmadu. Rante disimbolkan sebagai pengikat,

dalam arti antara atasan dengan bawahan terjalinlah ikatan atau

hubungan yang baik yaitu antara pemimpin perusahaan dengan

karyawan.

(23) slindur [slindUr]

Slindur merupakan bagian sesaji tradisi julen selamatan giling PG Kecamatan Tasikmadu. Slindur ini menyimbolkan ayah

(57)

dan ibu dalam arti orang tua pengatin mengantarkan pengantinnya

berubah status menjadi suami istri dengan dilambangkan kain slindur.

Dalam tradisi julen ini tebu yang dijadikan sebagai sepasang temanten

dengan dilaksanakan tradisi julen ini status tebu tersebut berubah

status sebagai tebu pertama yang dijadikan sepasang temanten.

(24) srundeng [srundɛη]

srundeng merupakan bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Srundeng

merupakan simbol gandheng renteng maksudnya renteng-renteng urip ‘kesejajaran dalam hidup’ antara lahir dan batin harus sejajar. lebih

luasnya kita ini ditakdirkan hidup tidak di dunia tetapi kita hidup ada

kelanjutannya yaitu di alam akhirat nanti sehingga antara dunia dan

akhirat kita harus berjalan dengan seimbang. Contoh ketika kita

menjadi kepala keluarga persoalan atau kebutuhan dunia kita harus

bisa mencukupi kebutuhan keluarga dengan bekerja keras dan tak lupa

sebagai kepala keluarga harus menanamkan atau memimpin

dikeluarganya ilmu-ilmu agama sehingga ada suatu keselarasan antar

dunia dan akhirat.

(25) suruh [surUh]

Suruh merupakan bagian isi sesaji dari tradisi tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Suruh memiliki

makna untuk kesusu arepe weruh ‘cepat-cepat ingin tahu’. Orang

Jawa juga mengenal istilah suruh temu rose ‘suruh yang rosnya bertemu’. Kedua hal diatas saling terkait. Maksudnya, manusia ingin

(58)

secepatnya bertemu dengan rosnya. Ros di sini dapat diartikan sebagai rasa sing sejatine ‘rasa yang sejati’. Rasa sejati dapat dikatakan sebagai kesempurnaan manusia ketika telah menyatu dengan Tuhan

(Sontadipura, 18 april 2016).

Pembuatan sesaji tradisi julen ditujukan untuk dhanyang pabrik. Di

dalam suruh tersimpan permohonan supaya dikawruh ‘diberi tahu’

siapa sosok dhanyang pabrik, karena suatu desa memiliki dhanyang

yang berbeda dengan desa yang lainnya (Iman , 23 April 2015).

Misalnya, dhanyang pabrik gula ini yang bernama R. Ay Gadhung

Mlati. (Iman, 23 April 2015).

(26) Takir [takIr]

Takir berfungsi sebagai wadah isi sesaji tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Takir merupakan wadah

berbentuk persegi empat yang terbuat dari daun pisang yang kedua

sisinya dijepit dengan biting ‘tusuk lidi’. Biting adalah potongan lidi

sepanjang sekitar lima centimeter yang kedua ujungnya diruncingi.

Takir disimbolkan sebagai tatage pikir ‘kukuhnya pikiran’. Takir juga disimbolkan sebagai manusia itu sendiri, yaitu kiblat papat lima

pancer ‘lima kiblat satu pusat’. Artinya, diri manusia itu bersama keempat saudara yang dilahirkan dari rahim ibu yang sama, yaitu:

kakang kawah ‘air ketuban’, adhi ari-ari ‘plasenta’, getih ‘darah’, dan puser ’tali pusar’. Selain itu kiblat papat lima pancer juga diartikan sebagai diri manusia beserta empat nafsu yang menyertai, yaitu: mutmainah, amarah, sufi’ah, dan aluamah. Selain itu, takir juga

(59)

disimbolkan sebagai rasa ikhlas kita. Maksudnya, ikhlas ketika

memberikan sesuatu kepada siapa pun dan apa pun. Biting yang ada di

kedua ujung takir menyimbolkan lelakone manungsa ‘jalan hidup manusia’, yaitu: baik-buruk, susah-senang, benar-salah, dan

sebagainya (Sontodipura, 18 April 2016).

(27) tepas [tepas]

Tepas merupakan bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Tepas dalam tradisi

ini bermaksud ketika kipas ini dipakai otomatis memunculkan sebuah

angin yang apabila dirasakan terasa sejuk dan segar diharapkan

suasana batin maupun fisik para karyawan dan keluargannya tetap

diberi keadaana badan yang sejuk hilang rasa capeknya, badan dalam

keadaan segar sehingga dalam bekerja tetap keadaan segar. (Iman 23

april 2015)

(28) trasi [trasi]

Trasi merupakan bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Trasi mentah

memiliki bau yang amis menyengat seperti bangkai ikan. Trasi

digunakan sebagai bumbu masakan, yaitu sebagai penyedap rasa.

Trasi ini merupakan simbol yang menjelaskan apabila penggilingan tebu/pemroduksian tebu itu merupakan pekerjaan yang berat dan

penuh perjuangan. Karena itu, banyak orang lebih memilih pekerjaan

lain daripada pemroduksian tebu. Namun, ketika kita menuai hasil

(60)

Trasi yang berasal dari segara ‘lautan’ merupakan wujud permohonan dan rasa terimakasih kepada yang menjaga lautan yaitu Kanjeng Ratu

Kidul. Rasa terimakasih ini diucapkan karena pulau jawa ini wilayahnya sehingga harus ada timbal-baliknya. (Iman 23 April

2015).

(29) uyah [uyah]

Uyah merupakan bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu pabrik gula Kecamatan Tasikmadu. Uyah atau

garam berbentuk butiran kristal putih yang berfungsi untuk memberi

rasa asin pada masakan. Uyah berwarna putih bersih. Warna putih

terkait dengan nafsu empat perkara, yaitu nafsu mutmainnah atau baik

atau penyayang (Sontadipura, 18 April 2016 ). Setiap manusia yang

hidup pasti memiliki nafsu mutmainnah. Dalam proses menuju

manunggal lawan Hyang widhi ‘bersatu dengan Tuhan’ atau kesempurnaan, manusia harus bisa menekan timbulnya nafsu tersebut

agar tidak berlebihan dan tetap selaras dengan tiga nafsu yang lain.

(Sontodipura, 18 April 2016).

(30) wajik [ wajI?]

Wajik merupakn bagian isi sesaji dari tradisi julen selamatan giling tebu PG Kecamatan Tasikmadu. Wajik berwarna merah

menggambar darah dari ayah maka dari itu hendaklah menghormati

Gambar

Gambar 22 : Lombok
Gambar 31 : Tepas
Gambar 32 : Trasi
Gambar 45 : Sega Golong

Referensi

Dokumen terkait

DPRD Kota Tangerang mendorong pelaku UMKM dapat membangkitkan kem- bali gairah perekonomian ditengah pandemi Covid-19 dengan lebih kreatif dan in- ovatif menciptakan produk

Nilai kekerasan mi yang dihasilkan paling mendekati standar mi terigu diperoleh dari perlakuan penggunaan tepung dari ubi kayu umur panen 8 bulan dengan perbandingan tepung ubi

Pabrik kimia yang menggunakan Metil Etil Keton sebagai solvent , bahan.. pencampur dan lain sebagainya di dunia ini berkembang pesat

Dalam bukunya yang berjudul Die Sache, Oppenheimer menyatakan bahwa negara adalah alat dari golongan yang kuat untuk melaksanakan suatu tertib masyarakat, golongan yang kuat

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa tingkat efisiensi peralatan produksi yang digunakan berkisar antara 86,34% hingga 98,85% dengan rata-rata performance2. Efficiency secara

Lahan sawah merupakan lingkungan biofisik paling optimal bagi tanaman padi, selain sebagai penyedia bahan pangan utama bagi penduduk Indonesia. Walaupun tidak semasiv di

3) Siswa dalam kelompok awal saling bergantian menyampaikan materi yang telah dipelajari. Dimulai dari siswa yang memiliki materi bagian-bagian rangka sedangkan siswa yang