RISALAH
PANSUS RUU TENT ANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD, DAN DPRD Tahun Sidang Masa Persidangan Rapatke Jenis Rapat Deng an Sifat Rapat Hari, tanggal Pukul Tempat Ketua Sekretaris Acara Hadir FRAKSIPDIPERJUANGAN : 2002-2003 : IV : Ke-9
: Rapat Kerja ke-4 : Menteri Dalam Negeri RI : Terbuka
: Kamis, 22 Mei 2003 : 14.25 s/d 16.10 WIS
: Ruang Rapat Pansus B, Lt. 3 Gedung Nusantara 11
: M. Yahya Zaini, SH : Ors. lskandar N. Basri
: Membahas DIM Persandingan : 35 dari 50 Anggota 1. SUKOWALUJO MINTORAHARDJO 2. I MADE URIP 3. WILLIAM H. TUTUHARIMA 4. HERIAKHMADI 5. SOEWARNO 6. ZONED MOESNI 7. STERRA PIETERSZ 8. DIDISUPRIYANTO 9. SADJARWO SUKARDIMAN 10. RUTJI GUNUNG MULJONO 11. WOWO IBRAHIM 12. HOBBES SINAGA 13. SUPARLAN 14. JULIUS USMAN 15. OETOYO FRAKSIPARTAIGOLKAR 1. M. YAHYAZAINI, SH 2. DRS.T.M. NURLIF 3. DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG 4. ORA. HJ. ROSNANIAR
5. HJ. EVITAASMALDA
6. DRS.H. HAJRIYANTO Y. THOHARI, MA 7. DRS. A.H. MUJIB ROHMAT
8. PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA 9. DRS. IMMANUEL E. BLEGUR
10. DRS.H. FACHRI ANDI LELUASA 11. DRS. IDRUS MARHAM
12. ALEXHESEGEM
ANGGOTA FRAKSI PPP 1. HM. THAHIR SAIMIMA, SH 2. HM. SJAIFUL RACHMAN, SH 3. NY. HJ. AISYAH AMINY, SH 4. DRS. HM. ABDUH PADDARE 5. PROF. DR. IR. AM. SAEFUDDIN 6. Dr. H. ZAIN BADJEBER
FRAKSI KEBANGKITAN BANGSA 1. CHATIBUL UMAM WIRANU 2. DRS. ALI MASYKUR MUSA, M.Si 3. H. ANDI NAJMI FUAIDI, SH 4. ORA. IDA FAUZIAH
5. H. MUHYIDDIN SUWONDO, MA 6. G. SETO HARIANTO
FRAKSI REFORMASI 1. IR. A.M. LUTHFI
2. PROF. DR. MOH. ASKIN, SH 3. ORA. Hj. NURDIATI AKMA 4. H. TB. SOENMANDJAJA, SD
FRAKSI TNl/POLRI 1. AMIR TOHAR, S.IP
2. PIETER L.D. WATTIMENA, S.IP. 3. KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc. 4. Drg. MOERYONO ALADIN, S.IP, MM
FRAKSI BULAN BINTANG H.M. ZUBAIR SAKRY FRAKSIKKI DRS. S. MASSARDY KAPHAT FRAKSI POU DRS. H. ASNAWI LATIEF PEMERINTAH
KETUA RAPAT (M. Y AfiYA ZAINI, SH):
Asalamu Alaikum Wr. Wb. Selamat siang salam sejahtra kita sekalian berdasarkan catatan dari sekertariat telah hadir 27 Orang termasuk yang izin 15 dari 50 Anggota dan tinggal satu fraksi yang sedang dalam perjalanan kelihtannya sudah menandatanganan absensi. Oleh karena itu skorsing saya cabut dan rapat saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.
Pak Menteri berserta staf, dan seluruh jajaran para Anggota Pansus, Bapak lbu dan saudara-saudara, pada siang ini kita sebenarnya sudah berketetapan melalui kesepakatan kemarin agar rapat dimulai jam 14.00 WIB. Tapi kenyataanya Pak Menteri sudah hadir yang lain belum oleh karena itu kami mohon Pak Menteri tidak memarahi yang belum hadir pak. Mudah-mudahan pada hari berikutnya kita bisa konsisten sampai kesepakatan jam 14.00. Memang di akui bagi teman-teman yang merangkap bagi Anggota badan sekarang ini pada rapat Bamus, pada rapat Baleg dan komisi. Oleh karena itu kami harap agar setiap fraksi setidak-tidaknya ada yang mewakili pada waktunya.
Kemudian disusul oleh teman-teman yang lain. Bapak ibu dan saudara-sauadara, sekarang kita memasuki DIM no. 72 setelah kita kemarin menyelesaikan DIM no. 71. Namun sebelum kita membahas DIM sebagaimana biasa kita terlebih dahulu harus menyetujui laporan singkat yang telah kita hasilkan rapat kemarin. Oleh karena itu, kami minta persetujuan dari fraksi-fraksi maupun pemerintah, apakah laporan singkat yang telah disiapkan dimeja masing-masing dapat kita setujui, terima kasih. DIM no. 72 huruf D. sebenarnya disini hanya dari F. PDIP, Huruf D. mendahulukan kepentingan Negara diatas kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan. Disini F.PDIP memberikan sedikit saja tambahan yaitu mendahulukan kepentingan Negara diatas kepentiangan partai, golongan/ kelompok Daerah etnis dan pribadi. Oleh karena itu karena fraksi-fraksi lain tidak memberikan usulan perubahan kami mintakan penjelasan dari F. PDIP mengenai DIM No. 72 ini karena itu kami persilakan.
F.PDIP (ZONED MOESNI):
Terima kasih jadi mengingat akhir-akhir ini banyak kepentingan Bangsa dan Negara ini, Kalau kita tidak munafik yaitu kalah dengan kepentingan partai. Kita tekankan kami maksudkan agar ini semuanya nantinya kita berjiwa besar bahwa demi kepentingan bangsa dan negara kepentingan partai dan seterusnya itu ditinggalkan terlebih dahulu demikian pak ketua, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih dari F.PDIP, Sebelum fraksi- fraksi barang kali kami ingin mendapatkan penjelasan dari Pemerintah apakah partai, Kemudian daerah etnis itu termasuk bagian dari kelompok golongan atau tidak. Kalau misalnya termasuk sudah barang tentu tercakup didalamnya tidak perlu di rinci seperti F.PDIP. Tapi kalau memang belum tentu rincian itu menjadi penting. Oleh karena itu kami ingin
memdapatkan penjelasan terlebih dahulu dari Pemerintah, Sebelum fraksi-fraksi memberikan tanggapan, Kami persilakan.
PEMERINTAH:
Terima kasih Pimpinan Pansus. Yang terhormat Pimpinan dan Anggota Pansus yang saya hormati. Sebelumnya saya minta maaf saya tidak menggunakan pakaian agak resmi karena memang sedikit ada edaran selama 10 hari pakai pakaian yang tradisi begini kebetulan dapat kiriman dari penjahitnya. Jadi terpaksa dipakai termasuk rapat kabinet pakai seperti ini, sayangnya anggota pansus tidak mendapat kiriman. Terhadap usulan F.PDIP, Pemerintah berpendapat bahwa kepentingan partai, daerah, dan etnis itu sudah termaksud dalam wilayah atau midiyah kelompok dan golongan dalam pengertian sosial daerah dan etnis itu, masuk dikategorikan komonitas sosial. Jadi bicara komonitas sosial, berarti bicara daerahnya dan bicara etnis yang dilahirkan komonitas sosial tadi antara lain karena perbedaan daerah dan etnis. Dalam bahasa politik komonitas sosial diartik.an juga dengan kelompok atau golongan di mana didalamnya termasuk daerah dan atau etnis itu sendiri. Namun demikian nanti kalau misalnya ada ahli bahasa dan seterusnya karena inikan termasuk juga tambahan kepentingan pribadi dan seterusnya.
Jadi kitakan antara kepengen menegaskan dan menghangatkan tetapi dengan rumusan sesuatu sudah menyangkup semuanya itu. Nanti seandainya Tim Perumus akan mencoba untuk apakah cukup dengan kata-kata yang tercantum dalam RUU seperti rancangan Pemerintah, apa perlu ditegaskan ditambahi sampai partai daerah dan etnis, nanti saya serahkan pada forum ini. Namun demikian, memang yang dimaksud rancangan ini oleh Pemerintah adalah pengertian kelompok dan golongan sudah didalamnya mengandung pengertian partai daerah dan ethnis itu sendiri, Demikian dan terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, Pak Menteri, Saya kira dari Pemerintah sudah memberikan penjelasan bahwa perincian yang dimaksud oleh PDIP sudah termasuk dalam ruang lingkup yang memang sudah terbiasa kita sebut. Namun demikian kami ingin memberikan kesempatan kepada fraksi-fraksi untuk menanggapi masalah ini apakah memang substansinya perlu di akomodir dan kita bahas atau kita rumuskan di dalam Tim Peru mus digilir saja dari kiri dulu.
FTNl/POLRI (AMIR TOHAR, S.IP):
Assalamu Alaikum Wr. Wb. Terima kasih Bapak Pimpinan, Bapak Menteri berserta staf yang kami hormati. Pada perinsipnya kalau dari F.TNl/Polri ini ayat d. lni rumusan yang sudah ada ini tetap pak. Karena sesuai dengan penjelasan dari Pemerintah bahwa hal ini sudah mencakup tentang pengertian yang ada didalam usulan dari F.PDIP, yah itu yang ada kaitanya dengan daerah etnis. Sehingga lebih efesien kalau kita menggunakan bahasa yang sederhana,
tetapi sudah mencakup isinya dan tetap seperti rumusan sudah ada. Karena ini sudah ada pengertian secara umum yang tadi sudah dijelasakan oleh Pemerintah sekian dari kami.
KETUA RAPAT:
Terima kasih dari TNl/polri. F.KKI (DRS. S. MASSARDY KAPHAT):
Terima kasih setelah tadi mendengar penjelasan dari Pemerntah kami kira apa yang diusulkan oleh rekan PDIP ini, F.PDIP sudah termasuk dalam kelompok dan golongan. Oleh karena itu kami berpendapat bahwa rumusan atau rancangan yang diusulkan oleh oleh Pemerintah ini, kami dapat menerima terima kasih .
KETUA RAPAT:
Terima kasih, berikutnya dari PBB,, kami persilakan. F.PBB (H.M. ZUBAIR SAKRY):
Asalamu Alaikum Wr.Wb, Terima kasih saudara Pimpinan Bapak Menteri berserta staf. Saya melihat bahwa yang diusulkan oleh Pemerintah ini sudah bersifat umum jenjangnya sudah tertip dari yang terkecil kepada yang lebih besar umum. Oleh karena siapa saja dia mesti berpribadi, dan kedua umum juga kelompok siapa saja mesti berkelompok di adalah kelompok keluarga suku kelompok, Masyarakat dan dia juga termasuk golongan secara umum. Jadi dalam arti luas, sehingga kalau boleh saja ada induvidu tidak masuk partai, tetapi tidak ada indufidu yang mungkin keluar dari pada satu golongan. Kalau diam masyarakat itu mussologi dari rumusnya itu, saya kira alasan inilah partaipun sesungguhnya sudah masuk golongan. Jadi saya kira apa yang dirumuskan oleh pemerintah ini sudah tepat, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasi Pak Zubair ada tambahan alasan ini, inikan Anggota MPR tidak seluruhnya bagian dari partai terutama dari Dewan Perwakilan Daerah tambahan alasan dari Pak Zubair, Berikutnya dari FKB, Kami persilakan.
F.KB (G. SETO HARIANTO):
Terima kasih Ketua. Saudara-saudara sekalian, khususnya Pak Menteri dan jajaran. Jadi menurut hemat saya naskah RUU ini sudah tepat, karena pertama saya mendukung jug!a penjelasan dari Pemerintah. Bahwa daerah dan etnis disini juga termasuk kelompok dan golongan itu. Cuma masuk dalam pengertian golongan, golongan dari daerah dan golongan kelompok etnis. Memang menarik adalah usulan tentang memasukan kata-kata partai. Kalau kita kembali kepada Undang-undang No. 31 tahun 2002 tentang Partai Politik, maka saya kira tujuan partai itu tidak ada yang menegaskan untuk kepentingan kelompok atau golongan. Partai tujuannya itu untuk kepentingan bangsa dan
negara, jadi ketika kita memperjuang.kan kepentingan partai sebetulnya dan seharusnya adalah kepentingan Negara juga. Sehingga tidak perlu lagi bahwa nantinya ada partai yang tidak memperjuangkan kepentingan Negara. Yah partai itu diskualifikasi, karena dia melanggar Undang-undang No. 31 tahun 2002, Jadi menurut saya sekali lagi rumusan badan naskah ini sudah tepat, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, Pak Seto berikutnya dari F. Reformasi. F.REFORMASI (IR. A.M. LUTHFI):
Terima kasih, .Assalamu Alaikum Wr. Wb., yang sudah dirumuskan oleh Pemerintah itu sudah tepat efesien karena juga sudah termasuk dalamnya atau yang diusulkan ol,eh kawan-kawan dari F.PDIP terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, Pak Lutfi, Terakhir dari Golkar kami persilakan. F.PG (DRS. T.M. NURLIF):
Terima kasih, Saudara Pimpinan, Pak Menteri dan Bapak lbu sekalian, Pandangan kami tentang kelompok dan golongan sebenarnya yang dimasukan PDIP itu didalamnya sudah tercangkup demologis dan geografis gitu dan kalau memang itu sudah masuk dan kita sudah sepakat apa yang diusulkan oleh Pemerintah. Saya kira maksud dari pada PDIP sudah terkafer didalamnya saya kira cukup dari usulan Pemerintah, Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, dari fraksi-fraksi terlihat memang mengambil posisi tetap dengan berbagai macam penjelasan tadi dan menyetujui konsep rancang undang-undang. Oleh karena itu kami kembalikan kepada F.PDIP, apakah posisi dari pada usulan ini sudah termasuk atau masih dalam kaitan ingin tetap mempertahankan DIM nya, Kami persilakan kepada F.PDIP.
F.PDIP (ZONED MOESNI):
Terima kasih setelah kami mendengarkan penjelasan dari Pemerintah, kemudian dari rekan-rekan fraksi yang lain, kami bisa menerimanya dan untuk itu seandainya bisa dicatat didalam mungkin penjelasan atau mungkin nanti didalam perumusannya terctat disanah. Kami ingin menjelaskan karena ini ada latar belakangnya pada saat kami mencoba melakukan dengar pendapat. Di
ingatkan kaum tua, bahwa kejadian setelah kemerdekaan beberapa saat bapak-bapak pada waktu itu kepentingan partai-partai saling tarik-menarik itu menjaga untuk hari kemudian agar lebih jelasnya. Bahwa termaksuk di jelaskan disebutkan dengan riil bahwa kepentingan partai jangan sampai mengalahkan kepentingan yang lebih besar ini semua sudah kami utarakan seandainya memang ini penjelasan ini sudah masuk nantinya toh didalam perumusan yakini
penjelasan keterangan yang lain kami bisa menerima. Kalau memang ini yang dikehendaki bersama kami akan menarik usulan kami dengan catatan seandainya bisa tolong itu dimasukkan dalam penjelasan, Demikian Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Terima kasi dari PDIP. Jadi kami mohon persetujuan dari PDIP bisa memahami dan menerima usulan Pemerintah dan fraksi-fraksi yang lain. Namun mengharapkan agar supaya ruang lingkup yang rinci itu dimasukan didalam penjelasan, saya kira bisa diterima. Berikutnya DIM No. 77 ayat 3 Pasal 13 sidang MPR sah apabila di hadiri sekurang-kurangnya 3 14 ( ZA) dari jumlah Anggota MPR untuk memutus usul DPR untuk memberhentikan Presiden dan atau Wakil Presiden. Disini ada usul perubahan dari fraksi PDIP kemudian juga ada penyempurnaan rumusan dari FKB, karena itu kami mohon penjelasan terlebih dahulu dari FPDIP.
F.KB (G. SETO HARIANTO):
Karena ini persoalan-persoalan persidangan bukan persoalan forum. Karena itu kita ingin menyempurnakan persoalan sidang dulu soal memutuskan itu di jelaskan. Sehingga di lbalik selengkapnya berbunyi dalam hal memutus usul DPR untuk memberhentikan Presiden dan atau Wakil Presiden sekurangkurangnya 3/4 dari jumlah Anggota MPR. Jadi sidang MPR sah apabila begitu, kita bicara sidangnya sah apabilla bukan bicara kourumnya karena itu kita sempurnakan saja kalimatnya terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih dari segi subtansi sama cuman perumusanya yang berbeda walaupun kalau dibaca kelihatanya namun demikian sebelum ke PDIP kembali disini ada keterangan dari KKI ini. Perlu di jelaskan alasan penentuan angka saya kira ini Undang-Undang Dasar, apakah masih perlu di UUD 45 apakah masih perlu diberikan tambahan keterangan Pak Kaphat perlu dijelaskan alasan penentuan angka, penentuan teks tual didalam Undang-undang Dasar 45. Kepada Fraksi PDIP kami berikan kesempatan.
F.TNl/POLRI (AMIR TOHAR, S.IP):
Terima kasih Bapak Ketua. Pada penns1pnya kalau dari PDIP, Kami menanggapi dari PKB kalau subtansi saya kira sama kemudian disini lebih jelas lagi didalam rumusan sudah ada dari Pemerintah ini sidang MPR sah apabila di hadiri. Berarti jelas bahwa yang hadir itu adalah % dari jumlah Anggota MPR, Kalau yang di usulkan oleh PKB ini kata-kata di hadiri tidak ada tetapi di.
PEMERINTAH:
Terima kasih Pimpinan Pansus, yang terhormat Pimpinan dan Anggota Pansus. Sebenarnya kontruksi dari rumusan ini atau kontrusi berpikir adalah korumnya artinya sah .. Hanya satu persidangan, ada 3 kategori disini memang
yang dihadiri oleh 3/4. Untuk kepentingan apa yang minimal sekurang-kurangnya yang dihadiri dengan 50% atau 2/3 sekurang-kurangnya itu untuk apa dan yang boleh 50% lebih satu itu untuk apa. Jadi lebih pada subtansi pada sahnya satu persidangan. Jadi kalau kami kaitkan dengan usulanya misalnya F.PDIP, Pemerintah masa perlu menyantumkan rumusan tersebut. Karena memang mengacu pada Pasal 7. Biaya 7 dan rumusan yang diusulkan oleh fraksi FKB sama maknanya dengan rumusan dalam RUU ini oleh karena itu sebenarnya apa yang di inginkan oleh FKB itu sebenarnya juga terjawab sudah hanya menyusun kontruksi kalimatnya yang di situ. Sidang MPR sah apabila, dalam hal memutus usul DPR untuk memberhentikan Presiden dan atau Wakil Presiden sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah anggota. Jadi inikan subyeknya, subyek keputusan kalau usulan FKB itu. Pada hal subyeknya adalah subyek korumnya. Dengan demikian sebenarnya apa yang telah disiapkan rancangannya oleh Pemerintah ini karena memang subtansi subjeknya adalah sahnya suatu persidangan. Maka yang di kedepankan kalimat-kalimat mengenai sahnya suatu sidang dalam hal apa itu begitu. Jadi bU!kan subyek keputusan, demikian Pimpinan Pansus, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Saya kira memang demikian jadi kontruksinya memang korum ini sampai dengan DIM No. 79, baru nanti ada proses pengambilan keputusannya, sahnya pengambilan keputusan. Namun demikian setelah kita mendengarkan penjelasan dari fraksi-fraksi maupun dari Pemerintah, kami ingin mengembalikan pada FKB di mana secara subtansi sebenarnya tidak ada perbedaan, saya persilakan.
F,KB (G. SETO HARIANTO):
Terima kasih. Jadi memang semula ini maksud dari F. KB memperjelas pemilahannya. Jadi kita ingin mengusulkan Sidang MPR sah apabila, a. dalam hal memutus usul DPR ini-ini jadi begitu kontruksinya tetapi nampaknya ini usul penyempurnaan ini tidak sempurna karena itu tarik ajalah, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Karena itu DIM ini kita setujui. Berikutnya DIM 78, d. sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Anggota MPR untuk mengubah dan menetapkan Undang-undang Dasar. Dari FPDIP ada perbedaan atau saya kira sama, dari F.KB tidak sempurna, dari F. KKll penjelasanya sudah kita jelaskan bahwa persentasinya ini adalah ketentuan Undang-undang Dasar. Karena itu DIM 78 kita setujui. Berikutnya 79, juga masih hal korum, c. sekurang-kurangnya 50% ditambah satu dari jumlah Anggota MPR untuk selain sidang -sidang sebagaimana di maksud pada huruf a dan b. selain mengubah Undang-undang Dasar dan mengutus impeachment maka korumnya adalah 50% plus 1 disini ada 2 juga fraksi bahkan 3, ada 3 fraksi disini yang mengusulkan perubahan pertama dari F.PDIP. FPDIP kelihatanya hanya menulis kembali seperti biasa, dari FKB sama saya kira sudah dijelaskan posisinya, yang ke tiga dari TNl/POLRI dan nanti dari F,DU, tapi tidak ada orangnya, kami berikan kesempatan kepada TNl/POLRI
untuk memberikan kesempatan mengenai usulan perobahan, kami persilakan. F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc):
Terima kasih Pimpinan, kepada yang terhormat Mendagri, sebenarnya apa yang disampaikan oleh F. TNl/POLRI, hanya menambahkan kata-kata seluruh untuk lebih tegas begitu dari seluruh jumlah anggota. Jadi permasalahannya kita tau bahwa MPR ini terdiri dari Anggota DPR dan Anggota DPD, karena kal;au kita itung-itungan persentase keatas 50% plus 1 dan sebagainya andaikata tanpa Anggota DPD saja yang 124 itu jumlahnya itu bisa sah begitu. Maka saya menegaskan kaitanya dengan pasal sebelumnya bahwa MPR terdiri dari Anggota DPR dan Anggota DPD maka disini saya tambahkan seluruh jumlah Anggota MPR demikian Pimpinan, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Sebelum fraksi-fraksi lain dan Pemerintah kami ingin menanyakan supaya lebih jelas pak, apa perbedaannya dengan yang diatasnya apakah 50% itu bisa tercapai tanpa DPD apa itu maksudnya.
F.REFORMASI (IR. A.M. LUTHFI):
Sebelum tanggapan saya bertanya apakah TNl/Polri berpendirian kalau seluruh DPD tidak setuju tapi 50% plus 1 lebih dari DPR setuju kan golkan.
KETUA RAPAT:
Maksudnya pak itu tidak dikehendaki demikian menurut, harus mencakup 2 unsur, maksudnya begitu pak, apakah tercermin dari pengertian seluruh jumlah Anggota, silakan yang diatas tidak ada seluruh kira-kira begitu, maksudnya kita tanggap, seal rumusan nanti belakangan.
F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc):
Memang maksudnya. Semangatnya adalah tetapi tidak ingin kita hanya bermain pada 3/4 jumlah korum 50% plus 1 keputusan, tetapi tanpa melihat, bahwa kalau itu dijumlah antara Anggota DPR dan DPD bisa-bisa keputusan itu tanpa harus dihadiri seluruh Anggota DPD sudah sah. Jadi kami ingin setiap keputusan itu ada dari unsur DPD dan DPR demikian. Tapi redaksinya mungkin saya rasakan ini mungkin belum cukup lama penyempurnaan dari semua. Jadi kalau kita itung-itungan 550 katakanlah DPD 124, 30 kali empat 124 yaitu 50% plus 1 kalau tidak menghitung keharusan Anggota DPD sudah memenuhi syarat, terima kasih. KETUA RAPAT:
Saya kira agak mendasar ini dalam pengertian bahwa yang dimaksud disini harus mencakup 2 unsur kira-kira begitu dari DPR maupun Anggota DPD. Oleh karena itu kami mintakan tanggapan dari fraksi-fraksi terlebih dahulu sebelum Pemerintah.
F.PG (DRS. T.M. NURLIF):
Terima kasih saudara Pimpinan. Kalau saya tidak salah dengan kawan-kawan itupun juga di pah 1, Pak Lutfi , pak Hobes pah 1. Semangat di pah 1 dulu sebenarnya tidak pernah mengatakan bahwa sidang MPR itu baru sah jika dihadiri oleh DPD dan DPR itu, sidang MPR itu. Nah, pemahaman kita artinya tanpa hadir DPD pun kalau sudah ada jumlah 50% atau 2/3 seperti tadi sudah dianggap sah sidang itu. Oleh karena itu mungkin kata seluruhnya kalau konkordan yang diatas mungkin tidak perlu kira seperti itu, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Kalau seluruh anggota DPD membaikot rapat gitu kira-kira rapat jalan terus, berikutnya dari Reformasi dulu.
F.REFORMASI (IR. A.M. LUTHFI):
Menurut kami persis yang dikemukan oleh saudara Nurlif sesama Anggota Sadan Pekerja.
KETUA RAPAT:
Berikutnya kepada F.KB. F.KB (G. SETO HARIANTO):
Saya kira memang perlu hati-hati. Kalau kita kembali pada Pasal 2 Undang-undang Dasar dinyatakan bahwa MPR terdiri atas Anggota DPR dan Anggota DPD. Jadi ketika Anggota DPR yang hadir bukan MPR. Jadi MPR itu adalah anggota DPR dan anggota DPD. Jadi sidang MPR harus arus ada anggota DPD meskipun satu. Tetapi itu tidak berarti, bahwa saya mendukung usulan TNl/Polri karena usulan TNl/Polri ini tidak punya makna. Seluruh atau tidak ada sama saja karena kaitanya bukan pada disini, tapi pada Pasal 2. Kita sepakat yang namanya MPR itu terdiri Anggota DPR dan Anggota DPD. Jadi kalau salah satu unsur itu tidak ada sama sekali iyah bukan MPR namanya itu adalah DPR, itu adalah DPD. Jadi karena itu menurut saya tidak perlu di tambah seluruhpun persoalan karena alasan tadi, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Berikutnya F.PBB. F.PBB (H.M. ZUBAIR BAKRY):
Saya kembali kepada DIM 77 ayat 3 ini Sidang MPR seluruhnya baru terbagi kepada maksud dari pada sidang di adakan yaitu memberhentikan Presiden, berubah Undang-undang Dasar, kemudian sekurang-kurangnya 50% untuk selain dari sidang-sidang sebagai mana di maksud pada huruf A dan B. Subtansinya 50% ini, sebab saya sudah tau, bahwah Anggota DPR itu dari seluruhan Anggota MPR sudah 3/4 kalau mendekati itu lebih jadi tidak menjadi faktor. Jadi mungkin yang dimaksud dalam DIM ini hal-hal yang tidak terlalu prensipil, selain dari pada itu masalah bersikap Presiden Undang-undang dasar itu. Hal-hal yang prinsip secara subtansi, jadi saya kira apa yang di usulkan oleh
Pemerintah, saya kira sudah tepat. Umpamanya cuma saya kwatir penafsirannya lebih jauh apakah diberikan penjelasan dan itu akan memikat lagi. Jadi secara normatif, apa yang diusulkan oleh Pemerintah sudah tepat, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, berikutnya dari F.KKI. F.KKI (DRS. S. MASSARDY KAPHAT):
Terima kasih dari kami kita dapat memahami apa yang menjadi usul TNl/Polri ini. Sebab yang dimaksud seluruhnya ini adalah mencakup kehadiran Anggota DPR dan Anggota DPD. Oleh karena itu merupakan antisipasi, jangan sampai terjadi hal-hal umpamanya nanti dikorum itu, yang hadir itu hanya DPR saja. Jadikan ini perlu ada dua unsur itu DPR dan DPD, jadi untuk itu, yah kami dalam hal ini ya bisa memahami apa yang di usulkan oleh TNl/Polri, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Khapat, berikutnya dari .F.PPP. F.PPP (DR. H. ZAIN BADJEBER):
Saya kira F.PPP tidak ada dalam catatan masalah ini, artinya yang sudah dirumuskan oleh Pemerintah sudah seperti itulah. Kalau ditanya memang tadi kebetulan kami juga dari pah 1. Di dalam perumusan ini, sama sekali pah 1 tidak pernah membicarakan, apakah 50%, 2/3 itu harus ada unsur dari kedua lembaga dimaksud. Oleh karena pada waktu itu, kita tidak membicarakan pertemuan 2 lembaga, tapi pertemuan dari pada Anggota-anggota Lembaga yang melebur di dalam satu Lembaga. Sehingga nanti persyaratan-persyaratan yang kita buat bisa saja kita artikan seperti itu, tetapi karena kita masih ada yang menyusun, saya kira sebaiknya tidak kita pelesetkan, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak zain, yang sudah percaya diri meninggalkan calonya, berikutnyadari F.PDIP.
F.PDIP (HOBBES SINAGA):
Kalau dari F.PDPIP, pertama saya lihat penambahan dari kata seluruh, dari seluruh jumlah Anggota MPR itu cukup bagus lebih mempertegas. Kemudian mengenai sekurang-kurangnya 50% itu saya kira karena ini adalah korum untuk sidang atau rapat MPR. Diluar yang ab, saya kira ini cukup memadai ini 50% ini, dan saya kira di sini juga tidak perlu dicantumkan misalnya 50% harus memenuhi unsur Anggota MPR dan Anggota DPD. Jadi saya kira anggota DPR dan Anggota DPD begitu, jadi saya kira ini sudah bagus ini artinya tambahan dari TNl/Polri sudah bagus, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Demikian pendapat atau pandangan fraksi-fraksi memang kalau dari gragasi ougensi persoalanya ini gransinya yang ke 3 diluar impechtmen sama mengubah Undang-undang Dasar 45. Kira-kira diantaranya melantik Presiden atau juga membuat keputusan lain yang terkait dengan tugas-tugas wewenang dari MPR, namun demikian kami, ingin memberikan kesempatan kepada Pemerintah memberikan tanggapan atas pandangan fraksi-fraksi dan dari pengusul dalam hal ini adalah F.TNl/Polri, kami persilakan Pemerintah.
PEMERINTAH:
Terima kasih, Pimpinan Pansus, yang terhormat Pimpinan dan Anggota Pansus. Memang Anggota Majelis ini terdiri dari Anggota DPR dan Anggota DPD komposisi itu memang tidak lalu dengan serta merta setiap Anggota DPR dan setiap Anggota DPD. Di dalam persidangan itu membawakan terkormen DPRnya dan terkormen DPDnya karena nanti disana terbagi didalam komisi atau apapun jadi tentu tidak lalu didalam majelis yang terhormat itu terjadi di kotomi. Memang kontruksi di unsur pimpinanya ada yang mewakili dari DPR dan mewakili dari DPD. Tetapi Anggotanya adalah semuanya sama sehingga pengertian jumlah Anggota MPR, yah semuanya itu.
Memang di dalam Undang-undang Dasar 45 Pasal 7 ayat (7) dan (11) itu menggunakan istilah dari jumlah tetapi kalau berbicara Pasal 37 ayat 1 ,3 masih menggunakan istilah dari jumlah tetapi ayat (4( nya itu bicara seluruh Anggota. Kata-kata jumlahnya tidak ada, diperubahan Undang-undang Dasar 45, kalau ini grazasinya pada tingkatan ke 3. Karena tidak berbicara tentang perubahan Undang-undang Dasar, karena kalau masuk perubahan Undang-undang Dasar harusmya mengubah pasal itu juga termasuk merubah Undang-undang Dasar. Tetapi dia masuk di 2/3 jadi sebenarnya kalau bisa konsukwen karena kebetulan di Undang-undang Dasar nya sendiri juga ada yang menggunakan cuma dari jumlah ada yang juga ada kata seluruh anggota.
Jadi dengan demikian kalau kehawatiran dari apakah sidang itu harus dihadiri oleh betul-betul ada warna atau dari komponen DPR dan DPD ini nanti menjadi juga problemkan pe:rsoalan. Sebab nanti berbicara kwalitas berapa persen anggota DPD yang hadir, padahal sebenarnya dalam persidangan model seperti ini tidak lagi, ini dari DPD atau dari DPR jumlahnya anggota itu memang mengapa didalam Undang-undang Dasar di katakan cuma anggota DPD tidak boleh lebih dari 1/3 itu. Perhitungannya tentu sudah diperhitungkan sedemikian rupa atau jangan sampai itu menjadi alat kekuatan untuk kalau ada perubahan-perubahan yang sangat sepenikan artinya DPR ini yang mewakili partai-partai mewakili konstituen itu sudah bisa dijamin seandainya dengan kekuatan yang ada itu sendiri mampu menjaga apa-apa yang memang menjadi kesepakatan bangsa ini. Saya kira kontruksi berpikimya, kontruksinya komposisinya seperti itu sehingga kalau ini akan ditambah dengan kata seluruh karena didalam UUD 45 nya sendiri
juga hanya dari jumlah. Dari jumlah hanya satu di dalam Pasal 37 ayat (4) itu dikatakan.
Jadi perubahan UUD utusan untuk mengubah pasal-pasal UUD juga dilakukan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 50% di tambah 1 Anggota dari seluruh. Jadi ini bukan persidangan, ini mengambilan keputusannya, memenuhi kata seluruh itu disini saja, yang lain itu dari jumiah. Tetapi begitu akan memutuskan perubahan Undang-undang Dasar maka harus mendapat persetujuan sekurang-kurangnya 50% ditambah 1 Anggota dari seluruh anggota MPR. lni penjelasan dari Pemerintah dan kalau memang usulan dari fraksi TNl/Polri ini akan kita kontruksikan misalnya di penjelasan dimana tempat posisinya, sejak dari awal sudah kita katakan yang di maksud dari jumlah itu adalah seluruh anggota, itu juga bisa kalau di anggap masih kl.lrang jelas, demikian Pimpinan Pansus, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, dari Pemerintah saya kira memang kalau kita mendengarkan penjelasan Pemerintah tadi ada satu rumusan di dalam Pasal 37 yang menggunakan kata seluruh, sedangkan yang lain dari jumlah dari jumlah. Dari jumlah ini tentu juga apakah ada maknah bahwa karena disitu juga 50% di situ dimaksudkan kalau pengesahan Undang-undang itu 50% itu seluruhnya tercermin dua-duanya. lni pengertian tersendiri mungkin nanti bisa menimbulkan perbedaan di antara kita. Tapi di sini bukan pengesahan tapi korum, korum itu mestinya lebih mudah dari pada pengesahan atau sebaliknya. Namun demikian, kami ingin memberikan kesempatan kepada Fraksi TNl/Polri di mana Pemerintah tadi ada semacam usulan kalau seandainya rumusan ini bisa di masukkan di dalam penjelasan tinggal melihat dimana posisinya apakah di korum atau di pengesahan, atau didalam kontruksi yang mana, kami persilakan, kita kembalikan kepada F.TNl/Polri.
F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc):
Terima kasih, Pimpinan dan Mendagri telah mendengar berbagai tanggapan meskipun kata seluruh Uada makna kata rekan seto, tetapi pada intinya subsansi yang saya maksudkan adalah bahwa jangan sampai ada arogansi tanda petik dari DPR dengan jumlah yang sudah memenuhi syarat untuk apapun. Pada hal kita bicara MPR inginnya adalah terdiri dari Anggota DPR dan DPD. Nah kalau dalam korum dikatakan tidak perlu terlalu ketat dalam pengambilan keputusan yang akan ada di DIM depan ini juga menjadi sebuah problem. Karena bisa saja terjadi sebuah arogansi dari Anggota MPR yang terdiri dari Anggota MPR buat apa ditunggu-tugu kita saja sudah korum. Nah inikan sekarang si semangatnya adalah mungkin sudah kita ketahui bersama. Tetapi kedepan, kan katanya kita merubah Undang-undang Dasar-pun tidak hanya bisa mempercayakan kepada semangat dan mental pada penyelenggara negara. Makanya kita rinci perubahan Undang-undang Dasar itu, namun demikian sayapun tidak ngotot kalau Pemerintah mengatakan bisa dipenjelasan.
Saya sependapat saja untuk diberikan di penjelasan kata-kata itu bahwa bukan berarti saya menafikan hasil kesepakatan pah 1, tetapi kita ingin perbedaan DPD yang tadinya F.UD yang nyata-nyata di politik menujukan 135 F.UD. Pada kenyataannya begitu di MPR SUM membuat F.UD tinggal 65 kan begitu. Jadi kedepan DPD ini memang harus benar-benar kita berdayakan atau kita fungsikan secara benar untuk tidak terjadi hal-hal yang katakanlah bukan terlalu extrim menyerderhanakan DPD. Karena memang porsinya maka, tapi saya sependapat usulan pemerintah yang sangat sempatik, untuk diberikan pada penjelasan yang iintinya bahwa tidak terjadi arogansi jumlah Anggota MPR yang hanya terdiri Anggota DPR, demikian pimpinan terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih dari TNl/Polri, ada sedikit akomodasi untuk melihat kembali posisi DIM ini dengan mengharapkan dimasukan di dalam penjelasan, tapi ini kita sepakati.
PEMERINTAH:
Minta izin saya menambahkan sebenarnya RUU yang disiapkan Pemerintah ini pasal 14 ayat 2 itu berbicara mengenai putusan-putusan yang diambil. Kalau tadi hanya berbicra korum di Pasal 14 ayat (2) itu merujuk apa salah satunya dari Pasal 7 ayat (4). Tadi di s~ni memang kita sebutkan utusan sebagai dimaksud dalam pasal yang sebelumnya dengan ditetapkan dengan persetujuan 50% di tambah satu dari seluruh jjumlah anggota MPR. Karena ini tidak di persoalkan dalam DIM. Maka perlu saya jelaskan sebenarnya padahal kita berbicara putusan ada rumusan dari seluruh jumlah anggota MPR. Jadi seperti apa yang dimaksud dari F.TNl/Polri, demikiari terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pemerintah, saya kira memang demikian. Jadi kalau dalam hal korum akan lebih mudah, kira-kira begitu. Tapi dalam hal keputusan khususnya terkait dengan Pasal 37 ayat (4) dalam hal pengambilan keputusan untuk mengubah atau menetapkan Undang-undang Dasar memang ada tambahan disitu 50% plus 1. Dan seluruh barangkali seluruh itulah muncul pengertian 2 unsur tadi itu. Karena ittu berbeda dengan yang lain-lain pengertian yang sampai sekarang baru kita temukan didalam rumusan Pasal 37 yang juga dimasukan oleh Pemerintah dalam DIM no. 82. Namun demikian sebelum ini kita ambil keputusan kita akan kembalikan kepada fraksi-fraksi lain mengenai posisi ini. Tadi kita ingin mengarahkan kedalam penjelasan tetapi kalau subtansinya memang agak berbeda begitu, sehingga mempengaruhi makna atau kehendak dari rumusan ini tentu sangat tergantung kepada pandangan-pandangan fraksi-fraksi, saya persilakan Pak Seto dulu.
F.KB (G. SETO HARIANTO):
kata-juga hanya dari jumlah. Dari jumlah hanya satu di dalam Pasal 37 ayat (4) itu dikatakan.
Jadi perubahan UUD utusan untuk mengubah pasal-pasal UUD juga dilakukan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 50% di tambah 1 Anggota dari seluruh. Jadi ini bukan persidangan, ini mengambilan keputusannya, memenuhi kata seluruh itu disini saja, yang lain itu dari jumiah. Tetapi begitu akan memutuskan perubahan Undang-undang Dasar maka harus mendapat persetujuan sekurang-kurangnya 50% ditambah 1 Anggota dari seluruh anggota MPR. lni penjelasan dari Pemerintah dan kalau memang usulan dari fraksi TNl/Polri ini akan kita kontruksikan misalnya di penjelasan dimana tempat posisinya, sejak dari awal sudah kita katakan yang di maksud dari jumlah itu adalah seluruh anggota, itu juga bisa kalau di anggap masih kl.lrang jelas, demikian Pimpinan Pansus, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, dari Pemerintah saya kira memang kalau kita mendengarkan penjelasan Pemerintah tadi ada satu rumusan di dalam Pasal 37 yang menggunakan kata seluruh, sedangkan yang lain dari jumlah dari jumlah. Dari jumlah ini tentu juga apakah ada maknah bahwa karena disitu juga 50% di situ dimaksudkan kalau pengesahan Undang-undang itu 50% itu seluruhnya tercermin dua-duanya. lni pengertian tersendiri mungkin nanti bisa menimbulkan perbedaan di antara kita. Tapi di sini bukan pengesahan tapi korum, korum itu mestinya lebih mudah dari pada pengesahan atau sebaliknya. Namun demikian, kami ingin memberikan kesempatan kepada Fraksi TNl/Polri di mana Pemerintah tadi ada semacam usulan kalau seandainya rumusan ini bisa di masukkan di dalam penjelasan tinggal melihat dimana posisinya apakah di korum atau di pengesahan, atau didalam kontruksi yang mana, kami persilakan, kita kembalikan kepada F.TNl/Polri.
F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc):
Terima kasih, Pimpinan dan Mendagri telah mendengar berbagai tanggapan meskipun kata seluruh Uada makna kata rekan seto, tetapi pada intinya subsansi yang saya maksudkan adalah bahwa jangan sampai ada arogansi tanda petik dari DPR dengan jumlah yang sudah memenuhi syarat untuk apapun. Pada hal kita bicara MPR inginnya adalah terdiri dari Anggota DPR dan DPD. Nah kalau dalam korum dikatakan tidak perlu terlalu ketat dalam pengambilan keputusan yang akan ada di DIM depan ini juga menjadi sebuah problem. Karena bisa saja terjadi sebuah arogansi dari Anggota MPR yang terdiri dari Anggota MPR buat apa ditunggu-tugu kita saja sudah korum. Nah inikan sekarang si semangatnya adalah mungkin sudah kita ketahui bersama. Tetapi kedepan, kan katanya kita merubah Undang-undang Dasar-pun tidak hanya bisa mempercayakan kepada semangat dan mental pada penyelenggara negara. Makanya kita rinci perubahan Undang-undang Dasar itu, namun demikian sayapun tidak ngotot kalau Pemerintah mengatakan bisa dipenjelasan.
kata ini menurut hemat saya, kita harus hati-hati kalau kita mau merifer pada Pasal 37 ayat (4) itu. Tidak ada kata-kata jumlah di sanah, dari seluruh anggota MPR itu artinya unsurnya harus ada. Ttapi ketika bicara seluruh jumlah atau dari jumlah seluruh jumlah itu 550 ditambah 1,2,4, katakanlah sekian dari jumlah juga sekian juga. Jadi kalau kita bicara angka itu, maka saya katakan kata-kata seluruh ini tidak bermakna, karena ada kata-kata jumlah. Dari seluruh jumlah atau dari jumlah, ya segitu itu, tidak membicarakan unsur 37 ayat (4) seluruh anggota tidak. Bicara jumlah itu unsurnya di penuhi, jadi ini menurut saya harus kita pisahkan begitu. Kalau di dalam DIM 79 ini memang kita bersepakat memberikan makna Pasal 2. Bahwa MPR itu harus semua unsur menurut saya harus dibikin subtansi baru. Satu ayat baru dan apakah kita sepakat karena tadi kita dengar teman-teman tidak memberikan itu. Bahwa MPR itu terdiri atas itu, tidak berarti harus dua-duanya hadir, kecuali kita sepakat mari kita tuliskan begitu. Tapi kalau tidak yah sudah karena yang diharuskan seluruh unsur hanya 37 ayat (4) karena tidak ada kata-kata jumlah seluruh anggota, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Seto, semakiin memperjelas maksud dari korum dan pengambilan keputusan dan Pasal 37 ayat (4). Apakah fraksi lain memberikan tambahan penjelasan, dari Reformasi, dari F.PDIP ada kalau tidak ada. Saya kira, karena teman-teman banyak disini juga anggota badan pekerja yang maksudnya demikian. Jadi membedakan antara korum di DIM 79, dengan pengambilan keputusan di Pasal 37 dengan juga rumusan yang berbeda tentunya juga pengertiannya berbeda. Jadi maksud dari1 pada F.TNl/Polri sudah mengingatkan kita bahwa memang esensial subtansinya. Tetapi mungkin tempatnya yang kita carikan sesuai dengan rumusan yang sudah diatur dalam Undang-undang Dasar 45 yaitu di DIM no. 82.
F.REFORMASI (IR. A.M. LUTHFI):
Kalau perkara korum itu sudah jelas sepakat kita semua ini tidak ada kaitan dengan arogan tidak arogan. Sebab memang kalau tidak datang yah itu memang iyah tidak datang,. barang kali begitu. Nah ini yang menjadi masalah soal pengambilan keputusan. Apakah kita menentukan didalam pengambilan keputusan yang 50% plus 1 itu harus terdiri dari 2 unsur di BP tidak pernah dibicarakan itu. Bahwa harus 2 unsur itu tetap mereka yang DPR dan DPD itu sudah menyatu jadi Anggota MPR. Kemudian hasil keputusan itu diambil menurut ketentuan Anggota MPR itu. Ada dari DPD ada yang dari DPR, jadi kalau dikatakan harus terdiri dari 2 unsur itu apakah satu cukup mewakili yang 124 atau 40 itu tidak menjadi soal. Jadi saya kira sebaiknya tidak ada itu pengertian diarahkan harus ada 2 itu nanti jadi masalah itu, nanti jadi masalah itu nantinya, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Saya kira tadi sudah jelas dan dipertambah tambah diperjelas oleh Pak Lutfi, mengenai pengertian korum 50% plus 1 dari jumlah Anggota MPR. Karena
itu kami sekali lagi ingin mendapatkan klarifikasi terakhir saya kira dari TNl/Polri, ternyata memang agak subtansinya berbeda yang dimaksud korum disini dengan pengambilan keputusan. Namun demikian karena memang sudah mengingatkan kita hal ini juga menjadi penting ketika kita akan membahas DIM 82 oleh subtansi yang dikehendaki oleh TNl/Polri. Barang kali akan diberi relefan kalau kita nanti membahas DIM 82 tadi, apa demikian Pak Kohirin.
F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc):
Saya sependapat itu di bahas di DIM 82 yang subtansinya seperti yang saya sampaikan pada DIM yang ini. Saya manut bahwa ini adalah korum tidak terlalu di perketat, tetapi pada pengambilan keputusan, mohon ada sebuah bagaimana kita meninjau ke depan untuk keputusan MPR ini benar-benar keputusan MPR bukan hanya tanda petik oleh orang-orang Anggota MPR dengan alasan sudah mengenai korum.
KETUA RAPAT:
Terima kasih atas kearifan kebijaksanaan TNl/Polri, maka kita bisa menyetujui DIM no. 79. Berikutnya DIM no. 80 ayat (4) Pasal 13 tata cara penyelenggaraan sidang-sidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1 ), ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam Peraturan Tata Tertib MPR. Disini dari F.PDIP, bukan hanya sekedar menulis tetapi memang urut-urutanya beruba. Kemudian dari fraksi lain itu tidak ada, oleh karena itu kami ingin memberikan kesempatan kepada fraksi F.PDIP untuk memberikan penjelasan mengenai usul perubahan, saya persilakan.
F.PDIP (HOBBES SINAGA):
Jadi kalau usul dari F.PDIP ini selain urutanya yang berubah atau yang disesuaikan nanti juga di sini tata cara penyelenggaraan sidang dan rapat. Sedangkan yang di usul dari Pemerintah adalah tata cara penyelenggaraan sidang-sidang. Jadi kita membedakan sidang dan rapat, karena memang nanti harus kita pikirkan ini. Sebenarnya unutk MPR ini nanti sidang apa namanya, kan kita belum sampai kesana. Tapi nanti mungkin di dalam hal ini nanti akan ada sidang ada rapat. Jadi disini kita menambahakan supaya lengkap. Jadi tatacara penyelenggaraan sidang dan rapat sebagaimana yang dimaksud ayat (2) dan ayat (3) dan peraturan tata tertip, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Hobes sudah memperdiksi, bahwa kita belum mempunyai nama yang jelas mengenai sidang-sidang dan rapat-rapat MPR. Kami ingin memberikan kesempatan kepada fraksi-fraksi saya kira mengenai masalah ini sebelum Pemerintah kembali dari sebelah kanan dulu F. PG kami persilakan.
F.REFORMASI (IR. A.M. LUTHFI):
Baik terima kasih, mungkin nanti itu tidak ada sidang istimewa, tidak ada sidang tahunan, tidak sidang apa namanya, cuman sidang saja. Prediksi kami
rapat tidak akan ada, yang ada itu sidang-sidang MPR, tapi ini sama-sama prediksi, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Lutfi, berikutnya dari F.KB, kami persilakan. F.KB (G. SETO HARIANTO):
Terima kasih, pada hemat kami dalam RUU ini yang di maksud sidang-sidang yang ditulis dengan huruf kecil ini mengandung pengertian umum. Sehingga sidang ini bisa juga namanya rapat, bisa juga pertemuan konsultasi, namanyapun nanti bisa saja ada pertemuan konsultasi antara pimpinan MPR, atau pimpinan fraksi di MPR atau apapun. Jadi kalau kita ganti dengan usulan F.PDIP sidang huruf besar dan rapat huruf besar dan rapat huruf besar justru membatasi. Jadi nanti kalau pertemuan bagaimana tidak boleh ada istilah pertemuan dipakai. Jadi menurut saya penggunaan kata dalam RUU sidang-sidang huruf kecil ini sudah mewakili pengertian umum yang nantinya silakan didalam Tata Tertib di MPR diatur lebih lanjut, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Seto, berikutnya dari F.PBB. F.PBB (H.M. ZUBAIR SAKRY):
Dalam DIM 80 ini, apa yang di usulkan oleh Pemerintah sudah tepat, sebab sudah cocok dengan bunyi Undang-undang Dasar MPR bersidang sedikitnya 1 kali dalam 5 tahun. Jadi bersidangnya itu berapa kali, sehingga huruf kecil sidang-sidang yaitu berapa kali, adapun nanti kalau karena disini anjurkan di atur dalam Peraturan Tata TMPR itu internal MPR. Apakah dia mau perkenalkan rapat nanti itu sudah urusan Tata Tertib urusan MPR. Tapi kita disini membicarakan masalah Undang-undang yang harus mengacu kepada Undang Undang Dasar itu, saya kira demikian.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, Pak zubair kita kembali ke Golkar, pada istilah baru misalnya nanti BP namanya sidang BP atau rapat BP atau rapat Pah 1 , Pah 2 gitu.
F.PG (DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG):
Nanpaknya sesudah teman dari FKB ini berbicara tadi Saudara Seto ada impirasi saya. Saya pikir memang itulah pengertian sidang disini yang mencakup rapat-rapat pertemuan dan itu semuanya diatur dengan pertemuan tata tertib. Saya pikir memang tidak perlu, kalau ada teman mau memperpanjang, mau menambahi dengan yang lain silakan saja, cuman cara pandang kami mirip seperti itu. Pengertian sidang disini sudah mencakup pengertian rapat-rapat atau pertemuan baik formal maupun informal yang dilakukan selama masa persidangan MPR barang kali itu saja Pak Ketua, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, Pak Aritonang, berikutnya dari FKKI. F.KKI (DRS. S. MASARDY KAPHAT):
Terima kasih, jadi dari usulan yang telah disampaikan oleh Pemerintah ini, saya kira sudah cukup pak, sebab nanti apakah nanti sidang-sidang rapat dan sebagainya akan diatur dalam tata tertib. Jadi untuk itu saya kira ini sudah cukup rumusan ini, terima kasih.
KETUA RAPAT
Berikutnya yang terakhir dari TNl/Polri, kami persilakan. F.TNl/POLRI (AMIR TOHAR, S.IP):
Mengacu kepada Undang-undang Dasar 45 sesuai dengan amandemen yang ke 4 dimana Pasal 2 ayat (2) sudah jelas, bahwa MPR bersidang sekali dalam 5 tahun. Jadi kata-kata bersidang ini sudah mencakup hal-hal yang mungkin juga nantinya ada rapat dan sebagainya yang akan diatur didalam tata tertib, demikian terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, TNl/Polri, memang apa yang diusulkan oleh F.PDIP, itu konsisten dengan DIM 74 mengenai sub judul dari F.PDIP sejak awal memang membagi tidak sekedar sidang tapii juga ada rapat sehingga judulpun diatas berubah. Disini pengertiannya apa yang dimaksud sidang-sidang disini termaksud juga atau belum termaksuk rapat dalam pengertian yang diinginkan oleh F.PDIP. Namun demikian kami ingin memberikan kesempatan kepada Pemerintah untuk menanggapi usul dari fraksi-fraksi khususnya dari F.PDIP, kami persilakan.
PEMERINTAH:
Terima kasih, Pimpinan Pansus, usulan dari fraksi PDIP khususnya yang menambahkan kata rapat dengan huruf r besar dan sidangnya juga s nya besar didalam Undang-undang Dasar 45 didalam Pasal 7 b, yang berbicara soal persidangan dan di dalam Bab II pasal MPR memang selalu menggunakan istilah sidang. Kecuali pada ayat (7) Pasal 7 b yang terakhir memang dikatakan keputusan MPR atas usul pemberhentian Presiden dan Wakil Presiden harus diambil dalam rapat Paripurna Majelis. Kemudian ini harus disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Anggota yang hadir setelah Presiden dan atau Wakil Presiden di berikesempatan menyampaikan penjelasan dalam Rapat Paripurna Majelis. Jadi sebenarnya rapat-rapat apakah rapat paripurna, rapat panitia ADHOC atau apa saja itu bagian dari persidangan.
Jadi sebenarnya dengan menyebutkan sidang itu sudah bermakna didalamnya ada rapat-rapat seperti hanya DPR ini kalau ada masa persidangan.
Didalam masa persidangan itu mulai dari rapat kerja, rapat dengar pendapat umum semuanya tanpa disebutkan bahwa masa persidangan yang terdiri dari ini tidak jadi sebenarnya dengan menyebutkan apa yang telah dicantumkan dalam RUU ini sudah cukup memberi maknah penyelenggaraan sidang-sidang berarti di dalamnya termuat ada rapat-rapat apapun disana namanya, demikian penjelasan Pemerintah.
KETUA RAPAT:
Terima kasih dari Pemerintah telah memberikan pengertian sama dengan sebagian serta fraksi dimana tadi rapat termasuk bagian dari sidang walaupun memang ada keganjilan Undang-undang Dasar 45. Tadinya disebutkan Pemerintah 1 ayat ada istilah rapat paripurna yah ini yang tau betul dari F.PP. Kenapa ada perbedaan dan penyebutan sejarah khusus apakah waktu itu, apa namanya ahli bahasa itu lagi tidak ada staf yang lain agak teliti dalam hal diatur dengan Undang-undang agak teliti dalam soal itu kelihatan berkurang namun demikian kita akan kembalikan ke F.PDIP dulu. Kemudian nanti kami minta pendapat sekali lagi dari fraksi-fraksi mengenai masalah ini, saya persilakan Pak Hobbes.
F.PDIP (HOBBES SINAGA):
Saya kira begini mungkin ini tidak terlalu mungkin sementara ini menganggap ini terlalu penting karena di DIM 74 itu. ltukan suatu hal mungkin nanti catatan kita masuk di panja itu. Jadi barangkali ini perlu didalami ini masalah ini, justru sebenarnya pikiran kita itu muncul karena ada kelalaian, ada keteledoran itu di Undang-undang Dasar itu. Terus terang saja itu Pasal 7 b, ini terus terang saja, ceritanya inikan diputuskan sampai jam 4 pagi di Bandung dan itu menjadi masalah besar waktu itu karena tidak diketok, sudah ngantuk semua, kita harus berangkat dari Bandung, muncul disitu apakah tadinya itu sidang paripurna atau rapat paripurna sudah, malah sudah sampai ke Jakarta.
Jadi kita pasalkan, karena tidak: di ketok waktu itu, ini kejeliannya semua tau ini jam 4 pagi sudah teler semualah pada waktu itu. Jadi menurut saya karena memang itulah nanti bisa jadi persoalan kata-kata ini sidang dengan kata rapat. Oleh sebab itu mengapa tidak didalam Undang-undang ini kita kafer dulu, kalimat ini karena nanti waktu kita bicara kebelakang nanti kita akan lihat kapan mempergunakan kata sidang, kapan kita pergunakan kata rapat. Saya kira itu dan terus terang saja tidak semua lagi ini harus diatur dalam tata tertib. Tata tertib itu nantii jangan mengatur hal-hal yang sangat penting yang teknis saja. Jadi saya kira kami bukan mengotot karena ini baikllah ini hati-hati kita simpan dulu nanti ini pada waktu kita membicarakan misalnya DIM 74 dan DIM yang lain itu, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Saya kira kalau kita lihat keseluruhan memang kita harus membuat simulasih ini dalam pengertian sidang yang mana rapat yang mana. Karena memang secara eksplisit ada di dalam Undang Undang Dasar, kecuali kalau tidak
ada. Kalau tidak ada bisa saja kita masukan dalam penjelasan sehingga semuanya sidang tapi dalam tata tertib di sebut rapat itukan biasa dalam DPR kan begitu. Tetapi disini muncul bicara eksplisit dan tekstual ada rapat Paripurna Majelis, sehingga kita belum bisa memberikan gambaran kapan dan dimana rapat itu dan dimana sidang itu. Ada usul dari F.PDIP sebagai pengusul perubahan ini, bagaimana kalau ini nanti di bahas di Panja terkait dengan DIM 74. Sehingga nanti kelihatan isinya apakah menyetujui sidang-sidang atau akan di tulis secara terpisah sidang dan rapat, usulan cukup bisa diterima, namun demikian masih ada dari fraksi-fraksi, saya persilakan.
F.PG (DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG):
Boleh saja kita bawa ke Panja dan sebenarnya memang cuman sudah di bukakan sama Pak Hobes. Kalau bicara inpechmen memang yang berkepentingan dari sudut beliau ini. Karena itu memang khusus satu-satunya saya menulis artikel di kompas tentang suasana kebatinan menyangkut tentang ini. Menyangkut tentang Pasal 7 inpechmen saya masih ingat, tapi memang tidak pantas untuk di kemukakan ini. Karena itu suasana kebatinan, ini batin yang berbicara, ini bahasa kita di Jogja Pak menteri inikan bahasa batin sebenarnya. Tapi sudah dibukakan oleh beliau baiklah mungkin tapi pengertian itu memang untuk mempertegas bahwa keputusan itu pada rapat Paripurna MPR.
Jadi mempertegas bukan di rapat lain tapi dalam kontek pada masa persidangan sidang umum kan. Pengertiannya begitu sebagai apa saja referensi mungkin untuk menarik kita kembali kalaupun kemudian kita generasil semua bagian dari pada persidangan itukan tidak akan bertolak belakang hemat saya. Tapi okelah nanti mungkin kita masukan saja sebag:ian dari pada yang kita perdalam di panja itu saja itu saja pak ketua sekian terima kasih.
KETUA RAPAT:
Saya kira kita akan lebih baik kalau mengarahkan ini terkait dengan DIM 74, karena sama mengenai istilah rapat dan sidang Pemerintah sebenarnya ingin memberikan klasifikasi saja secara keseluruhan. Kemudian pengertian berikutnya di dalam tata tertib kan begitu. Kalau kita setujui kita bahas ini terkait dengan DIM 7 4 nanti di Panja, apa bisa setujui pak. Kami ingin menawarkan kepada Pemerintah apa disetujui nanti kita bahas terkait dengan DIM 74, karena F.PDIP sama ada usulan sama dengan ini, saya persilakan.
PEMERINTAH:
Kami mengikuti saja nanti diputuskan di perdalam di Panja hanya memang penggunaan huruf besar pada kata sidang huruf s nya dan rapat atau huruf r pengertiannya apa dulu ini. Karena satu kata ada digunakan huruf kapital besar itu ada maknanya ini. Jadi di klasifikasikan dulu kata-katanya memang sidang dan rapat cuman s nya ini besar atau r nya besar inikan juga perlu. Jadi bekal untuk kita masuk dalam Panja, jadi kita berangkat kesana pemahaman mengenai s dan r itu masih belum sama begitu, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pemerintah saya kira memang ini apakah ada maksud-maksud khusus dari Pak Hobes ini, apakah sekedar penegasan kira begitu subtansinya yang penting kita kembalikan ke F.PDIP.
F.PDIP (HOBBES SINAGA):
Saya kira memang, saya kira bukan salah ketik ada maksudnya karena untuk membedakan ada sidang ada rapat gitu. Apakah nanti rapat paripurna apa namanya tapi saya kira itu memang ada kesengajaan untuk pakai huruf besar disini sidang dan rapat untuk membedakan bahwa ada sidang ada rapat. Jadi kalau dari pemerintah sidang itu itukan dengan huruf kecil dan nyambung itu bisa saja memang diartikan nanti didalam sidang-sidang itu ada rapat. Tapi kita memprediksi bahkan ada nanti perbedaan antara sidang dengan rapat itu sebabnya barang kali memang ini harus kita bicarakan lebih dalamlah, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih dari F.PDIP, saya kira nanti ahli bahasa mana yang tepat dengan perbedaan yang jelas itu apa termasuk kategori nama atau tidak. Tapi maksudnya tetap ada pembedaan antara sidang dan rapat, saya kira kita setujui untuk dibawa ke Panja dengan catatan penulisan huruf besar, kecil nanti diserahkan ke Timus.
PEMERINTAH:
Ada penjelasan sedikit tim bahasa. KETUA RAPAT:
Silakan dari unsur ahli bahasa. AHLI BAHASA:
Terima kasih, dari segi bahasa sebetulnya tidak ada perbedaan yang hakiki antara sidang dan rapat. Perbedaan itu muncul karena ada kecendrungan untuk membedakan saja. Artinya di masyarakat seolah-olah rakyat itu tidak bisa bersidang gitu. Jadi pengertian-pengertian seperti itu sebetulnya pemaknaan dari orang dari kita. Lalu persoalan besar kecil, sebetulnya juga itu tidak menyelesaikan masalah sidang itu. Ditulis dengan kapital dan atau kecil yang jelas itu harus kecil memang sidang baru bisa ditulis dengan besar jika itu memang sudah menjadi judul karena sidang apa itu. Ada kelanjutannya kalau sidang itu sendirian cukup kecil begitu juga rapat, itu penjelasan dari segi bahasanya, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Saya kira sidang ini juga dimana-mana dipakai dimasyarakat maupun di lembaga-lembaga. Ditempatnya Pak Hobbes biasanya ada sidang Gereja, bisa juga dipakai tapi intinya adalah sebenarnya bukan itu tapi apakah penulisannya
benar atau tidak kalau dibedakan kira-kira begitu. ltu biasa terkait dengan penamaan atau penyebutan yang ada dibelakangnya. Namun demikian nanti kita akan bahas mengenai apakah perlu kecil atau besar tapi esensinya saya sudah memahami bahwa yang penting adalah dibedakan antara sidang dengan rapat, karena itu DIM 80 ini kita bawa ke Panja terkait dengan pembahasan DIM 74.
(KETOK SATU KALI)
Berikutnya DIM nomor 90 Pasal 17 ini sebenarnya ada beberapa fraksi yang mengajukan usul perubahan. Pasal 17 "Masa bakti Anggota DPR adalah 5 tahun dan berakhir bersamaan pada saat Anggota DPR yang baru mengucap sumpah/janji" dari F.PDllP mengganti istilah bakti dengan kerja, jadi masa kerja.
Kemudian ada tambahan-tambahan lain yang ada di dalamnya, kemudian dari F.PG hanya mengganti masa bakti menjadi masa jabatan sedangkan selebihnya sama. Dari F.PPP sudah tidak ada orangnya karena calonnya takut kalah kelihatannya Pak Zain kembali lagi ke timnya khawatir Baleg tidak ada yang memimpin. Kemudian ada usulan sudah kata masa bakti ditambah garis miring dan atau tugas dari fraksi-fraksi yang lain Udak ada usulan, karena itu kami mintakan penjelasan dari F.PDIP terlebih dahulu.
F.PDIP (DIDI SUPRIYANTO):
Terima kasih Ketua, Assalamu'alaikum Wr. Wb.
lni meneruskan Pak Hobbes ini, jadi alasan kami kenapa diganti dengan kata masa kerja bukan masa bakti, karena ini kaitannya kepada kita ini di DPR masih dapat pensiun. Jadi kalau masa bakti itu seperti Anggota MPR yang setelah selelsai tidak perlu pakai ada pensiun lagi, tidak ada hak lain-lain lagi. Sedangkan kita ini seperti masih mempunyai beberapa hak. Nah sehingga kita pakai disitu masa kerja bukan masa bakti, itu alasan yang paling fundamental saya kira itu, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Artinya dengan kerja itu hak gaji tetap artinya pembaktian terus, artinya kalau masa bakti selama-lamanya karena terkait dengan haknya tadi, baik berikutnya kepada F.PG saya persilahkan.
F.PG (DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG):
Sebenarnya ini hanya persoalan bahasa sebaiknya nanti kita pada ahli bahasa tapi bagi kami itu sebenarnya dikaitakan dengan kedudukan DPR sebagai pejabat negara dan itu adalah sebuah jabatan sebenarnya. Karena itu kami mengusulkan masa jabatan selama 5 tahun itu di dalamnya ada kerja, ada kerja bakti, ada kerja yang lain termasl.lk yang begitulah. Jadi itu pada prinsipnya tapi baiknya nanti barangkali pada ujungnya akan minta ahli bahasa, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Memang iyah, kalau Presiden apa masa jabatan juga yah lebih terhormat kalau ada jabatannya. Kalau masa kerja itu banyak yang bekerja tetapi jangan sampai karena masa jabatan lalu DPR-nya tidak bekerja ini bahaya juga ini Pak Aritonang. Berikutnya kami mintakan kepada fraksi-frkasi dulu sebelum pemerintah mengenai masalah ini istilah yang tepat atau layak, atau pantas, atau langsung dikembalikan kepada ahli bahasa kami ingin minta persetujuan kalau ada ingin dapat menanggapi Pak Seto yah.
F.KB (G. SETO HARIANTO):
Ya saya kira ini bukan persoalan bahasa, sekedar bahasa tetapi memang secara filosifis mengandung makna. Saya lebih sepakat dengan kata-kata bakti karena bakti itu mengandung unsur kerelaan berkorban tidak semata-mata ngejar pensiun bahwa nantinya ada pensiun itu seal lain. Tetapi kalau menurut saya kalau masa kerja, kerja itu seoilah-olah sudah ada tuntutan harus ada gajinya. Tapi sebagai anggota DPR kita ini memang suatu kehormatan untuk mengabdi. Karena itu berbakti, karena itu menurut saya filosofis saja kalau dari bahasa mungkin ini saya lebih setuju menggunakan istiiah masa bakti, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Berikutnya apa masih ada dari fraksi yang lain yang ingin menggunakan ini F.PBB, pak.
F.PBB (H.M. ZUBAIR SAKRY):
Yang memang kita dalam persoalan bahasa ini nuansa-nuansa perasaan kita dalam pengertian-pengertian yang bisa berbeda-beda. Bekerja dan berbakti itu memang ada suatu perbedaan rasa itu berbakti kepada ibu, bapak sesuatu yang mengarai sesuatu objek sedangkan pekerja itu umum hari-hari orang bekerja. Jadi ada objek yang dituju kalau masalah berbakti kepada nusa dan bangsa itu bisa sampai kesana. Tapi kalau bekerja sampai untuk dan lain-lain di masa yang lain. Jadi saya melihat bahwa jadi masa bakti disini lebih murni mengandung suatu makna berserta Seto tadi masalah mana filosofis, jadi saya cendrung memakai kata masa bakti.
KETUA RAPAT:
Terima kasih dari F.PBB, berikutnya dari F.KKI. F.KKI (DRS. S. MASSARDY KAPHAT):
Terima kasih, jadi setelah membaca atau mendengar dari teman-teman tadi saya juga sependapat ini. Jadi terhormat ini dengan masa bakti sebagaimana yang disampaikan oleh Pemerintah ini. Jadi kalau masa kerja saya kira sama saja DPR ini buruh ini, masa bakti ini lebih tepat saya kira, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih dari TNl/POLRI,
F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc):
Sesuai dengan lagu saja pak, padamu negeri kami mengabdi bagimu kami berbakti, saya kira masa bakti lebih adil luhur, ditinjau dari bahasa karena menyangkut pengabdian seorang pejiabat tertinggi negara di negeri ini demikian pimpinan.
KETUA RAPAT:
Terima kasih dari TNl/Polri, saya kira kita sudah mendengar tadi fraksi-fraksi baik pengusul maupun yang memberikan tanggapan, namun demikian kami mgm tetab memberikan kesempatan kepada Pemerintah untuk menanggapi, saya persilakan pemerintah.
PEMERINTAH:
Terima kasih Pimpinan Pansus, yang terhormat Pimpinan dan Anggota Pansus, memang yang dirumuskan oleh Pemerintahan dengan menggunakan kata segudang bakti ini memang kami mencoba untuk menempatkan pada posisi yang terhormat. Apa yang di kerjakan, dilakukan ini kita bicarakan perkerjaan apa yang di kerjakan itu memang mengandung nilai subtansi yang sangat dalam, artinya memang kiita harus penuh dengan kesetiaan penuh dengan pengorbanan, penuh dengan pengabdian kepada bangsa dan negara. Sebenarnya apa yang dilakukan dikerjakan tidak kenal dan tidak pandang waktu, walaupun memang waktu dibatasi artinya sidang dari jam sekian sampai sekian begitu. Ada masa sidang, ada masa reses, tetapi toh sebenarnya di dalamnya mengandung subtansi satu pengorbanan kepada kepentingan bangsa dan negara, dari pada kata tugas yang cendrung seolah-olah bernada insoplis tugas jabatan. Kesan sangat borokratis itu jjabatan atau hanya sekedar kata masa kerja itu. Maknanya kan seperti kegiatan yang rutin dilakukan memang undang-undang yang lama itu menyebutnya dalam masa ke anggotaan.
Jadi kami memang sengaja mencoba untuk diangkat keatas menjadi masa bakti, dia memang disini memang pengertianya memang semacam ini Pak Kohirin. Kalau di militer atau terutama di TNI itukan selalu berbicara kejuangan. Kejuangan itu harus berani kerja dulu uangnya belakangan. Jadi belum-belum jangan hanya uang kerja, kerja itu cape. Jadi ini nilai-nilai di situlah kita ingin menempatkan posisi yang honorple yang terhormat itu memang masa bakti. Bahwa nanti setelah bakti ada pensiunnya dan kalau pensiunya terlambat nanya-nanya itu sudah selesai masa baktinya. Jadi kita coba menempatkan posisi yang terhormat anggota ini, ada posisi apa yang dilakukan dikerjakan selama itu adalah namanya masa bakti.
Namun kalau ini akan di dalami nanti kita lihat pada subjek, predikat diberi makna atau nama apakan ini kan berpengaruh kepada masalah praet atau kebanggaan atau yah tadi yang saya sebut mengenai kita posisikan bahwa ini juga bakti begitu, suatu kebaktian, suatu pengabdian, suatu pengorbanan, suatu kesetiaan, ya tentu tidak semuanya 100%. Tetapi paling tidak yang selalu aktif untuk apa saja Dewan DPR inikan tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah, tidak mengenal tempat selalu. Walaupun mungkin ada yang jarang hadir atau tidak pernah tetapi masuk masa bakti. Waktu baktinya memang jarang hadir itu saja, namun demikian kami ingin mencoba menempatkan yang terhormat anggota ini pada periode tertentu apa namanya masa bakti. Jadi kalau yang diberi posisi predikat bakti, masa bakti misalnya tidak mau, ya pemerintah tidak memaksa begitu. Tapi tadi ada beberapa teman fraksi juga bisa ini tinggal ingin pakai bakti, kerja, jabatan atau tugas itu. Tadi kami sudah menyampaikan pemahaman tugas seolah-olah intrutif pemahaman jabatan seperti birogratis, pemahaman kerja sepertinya pekerjaan biasa kami tempatkan pada derajat lebih tinggi yaitu masa bakti demikian pimpinan pansus terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih pemerintah sudah memberikan satu penghormatan kepada kita dengan suatu istilah bakti harapnya memang ini kepada Timus sebenarnya kalau boleh, walaupun dari fraksi partai Golkar dalam DIM no. 91 menggunakan kata menjabat, jadi saya kira setuju kalau ini dibawa ke Timus. Berikutnya DIM no. 94 ayat (2) Tata Cara Pengucapan Sumpah garis miring janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPR. Di sini dari Fraksi Partai Golkar hanya susunan urut-uratanya berubah, kemudian dari F.PPP, ada tambahan dan KKI juga sama, KKI cuman ada perubahan susunan dari ayat (2) menjadi ayat 5, karena FPPP tidak ada sudah kembali ke Baleg, sekaligus memantau calon ketua umumnya tadi saya kira sama. Karena itu kita setujui DIM no. 94 ini, berikutnya DIM 101, ayat (5) tata cara pemilihan pimpinan DPR sebagai dimaksud pada ayat (1) dalam peraturan Tata Tertib DPR dari F.PDIP hanya urutan ayat saja dari Golkar juga sama oleh karena itu kita tetapkan saja ini ada usul perubahan DIM 101 tetap setuju. Berikutnya DIM 106, 104 Pasal 21 pimpinan DPR sebagaimana di maksud dalam Pasal 20 ayat (1) berhenti dari jabatanya karena, a. meninggal dunia.
Kemudian disini dari F. PDIP susunan dan rumusan berubah dan juga ada penyesuaian dari fraksi yang lain tidak ada karena itu kami mintakan penjelasan dari fraksi PDIP. Keterangan ini susunan rumusan berubah dari segi penulisan sebenarnya ada perbedaan dapat berhenti atau diberhentikan, saya minta penjelasan dari Pak Didi Supriyanto.
F.PDIP (HOBBES SINAGA):
Jadi memang ini harus bedakan berhenti ada apa berhenti itukan kalau orang meninggal itu memang dapat berhenti. Tapi kalau misalnya karena itu sudah proses alami di panggil oleh Tuhan Maha Kuasa. Tapi misalnya
diberhentikan itu karena disini nanti di bawah inikan ada juga diberhentikan ada beberapa hal yang kita ajukan di sini, sehingga seseorang itu diberhentikan bukan karena berhenti dengan sendirinya. Jadi kata berhenti di berhentikan ini memang kita usulkan karena ada dua hal dimana seseorang itu bisa berhenti, berhenti secara alami karena meninggal dunia atau begitu, kemudian atau di berhentikan, terima kasih pak.
KETUA RAPAT:
Terima kasih dari F.PDIP, kami mintakan tanggapan dari fraksi-fraksi kita mulai dari sebelah kiri, Pak Kohirin, TNl/Polri.
F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc):
Terima kasih Pimpinan yang terhormat, Mendagri atas usulan F.PDIP saya menyampaikan, namun demikian pertama saya akan soroti tentang dijadikan satunya berhenti dan diberhentikan. Saya masih sependapat usulan Pemerintah Pasal 21 itu dibagi dua bagian yaitu ayat (1) menyangkut berhenti dan ayat (2) nya di berhentikan. Sehingga saya lebih sependapat dipisah seperti hanya konsep pemerintah. Jadi itu dulu pimpinan, apakah menyangkut subtansi juga, saya lebih sependapat pemerintah ayat (1) nya menyangkut berhenti dan ayat (2) nya menyangkut di berhentikan itu saja terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih TNl/Polri, berikutnya F.KKI. F.KKI (DRS. S. MASSARDY KAPHAT}:
Terima kasih jadi dari kami F.KKI, masih sependapat usulan dari pemerintah baik di bagi dua sebab itu sudah diatur juga diberhentikan itu di ayat (2) nya DIM 110. Jadi oleh karena itu saya kira apa yang di usulkan ini sudah cukup terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, berikutnya dari F.PBB. F.PBB (H.M. ZUBAIR SAKRY):
Kalau di kaitkan dengan ayat (1) dan ayat (2) itu a. meninggal dunia b. dan lain-lain, tapi kalau b ini yang sedikitnya agak kecampur kepada ayat (2). Karena adanya diberhentikan, berhenti karena jadi barangkali ini hanya masalah tempat saja kalau mau tepatnya, bahwa nanti DIM 107 ini di pindah tempat saja, terima kasih pimpinan.
KETUA RAPAT: