• Tidak ada hasil yang ditemukan

STATUS TERKINI MENGENAI PEMANFAATAN PLTN DI DUNIA DAN PROSPEK PEMBANGUNANNYA DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STATUS TERKINI MENGENAI PEMANFAATAN PLTN DI DUNIA DAN PROSPEK PEMBANGUNANNYA DI INDONESIA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

STATUS TERKINI MENGENAI PEMANFAATAN PLTN DI DUNIA DAN

PROSPEK PEMBANGUNANNYA DI INDONESIA

Eri Hiswara1

1 Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional, Jalan Lebak Bulus Raya No.49, Jakarta Selatan 12070

email: [email protected]

ABSTRAK

STATUS TERKINI MENGENAI PEMANFAATAN PLTN DI DUNIA DAN PROSPEK PEMBANGUNANNYA DI INDONESIA. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) telah mulai digunakan sejak tahun 1950an dan saat ini digunakan di 30 negara di dunia dengan jumlah 448 PLTN yang beroperasi di akhir tahun 2017 dan memiliki kapasitas pembangkitan listrik global sebesar 392 GW(e). Sebagian besar PLTN yang beroperasi tersebut berada di negara-negara industri. Meskipun beberapa negara mulai mengurangi kebergantungannya pada listrik yang dihasilkan oleh PLTN, kenyataannya sampai akhir Desember 2017 tercatat ada sebanyak 59 PLTN yang tengah dibangun. Berbeda dengan yang telah beroperasi, PLTN yang tengah dibangun sebagian besar berada di negara-negara Asia yang sedang berkembang. Dari sebanyak 30 negara yang mengoperasikan PLTN saat ini, 13 negara masih tengah membangun unit baru dan 9 negara diantaranya bahkan memiliki rencana untuk membangun unit baru. Dengan adanya 2 negara yang baru pertama kali membangun, dan beberapa negara lain yang tertarik untuk membangunnya, PLTN diperkirakan masih akan tetap menjadi sebagai sumber daya pembangkit listrik yang menarik. Di Indonesia, dengan sangat kuatnya kebergantungan keputusan pembangunan sumber daya energi pada politik massa, prospek pembangunan PLTN ini masih menjadi tanda tanya besar dan tampaknya akan sulit untuk diwujudkan kecuali ada terobosan yang sangat kuat dari pemerintah atau tekanan kebutuhan energi yang sangat besar yang memaksa PLTN harus digunakan.

Kata kunci: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), status terkini, prospek pembangunan ABSTRACT

CURRENT STATUS OF THE UTILIZATION OF NUCLEAR POWER PLANT AND ITS PROSPECT TO BE BUILT IN NDONESIA Nuclear Power Plants (NPPs) hav been in use

since the late 1950s and is currently used in 30 countries worldwide with 448 NPPs operating by the end of 2017 and has a global electricity generation capacity of 392 GW (e). Most of the operating nuclear power plants are in industrialized countries. Although some countries are beginning to reduce their dependence on electricity generated by nuclear power plants, the fact is that by the end of December 2016 there were still 59 NPPs under construction. In contrast to those already in operation, NPPs that are being built are largely in developing Asian countries. Of the 30 countries currently operating NPPs, 13 countries are still building new units and nine of them even have plans for builidng new unit(s). With the two newly built countries, and several other countries interested in building them, NPP is expected to remain as an attractive power generation resource. In Indonesia, with the very strong dependence of decision to build energy resources on mass politics, the prospect of building NPP is still a big question mark and it seems to be difficult to realize unless there is a very strong breakthrough from the government or the enormous energy demand pressure that forces the NPP to be used.

Keyword: Nuclear Power Plants (NPPs), current status, building prospect

PENDAHULUAN

Selama bertahun-tahun, kebutuhan manusia akan energi, terutama energi listrik, dapat dipenuhi oleh sumber daya yang berasal dari minyak bumi. Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir ini telah timbul kesadaran bahwa minyak bumi tidak lagi dapat diandalkan sebagai sumber daya pembangkit listrik karena pemakaiannya yang berlimpah-limpah di masa lalu menyebabkan cadangannya menjadi menipis, dan diperkirakan akan

(2)

telah mencoba mencari berbagai alternatif sumber energi yang lain untuk dapat menggantikan peran minyak bumi, atau paling tidak untuk mengurangi beban penggunaannya.

Dalam pada itu disadari pula bahwa kebutuhan akan energi akan terus berlanjut, dan juga akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya hasrat akan hidup yang lebih baik dan dengan bertambahnya jumlah manusia di dunia ini. Dengan demikian, pertumbuhan konsumsi energi dunia di abad 21 ini tidak dapat dihindari.

Dalam rangka keadilan, energi yang merupakan kebutuhan hidup dasar seyogyanya harus dapat dinikmati oleh seluruh penduduk dunia. Untuk itu maka harga energi ini sedapat mungkin harus dapat terjangkau oleh seluruh warga dunia. Kesadaran akan terjadinya perubahan lingkungan mengakibatkan pasokan energi ini juga harus dapat tanpa merusak kelestarian lingkungan dan tanpa mempengaruhi iklim global, seraya di saat yang sama juga menjaga agar ketersediaan pasokan tersebut dapat berkelanjutan.

Berbagai upaya telah banyak dilakukan untuk mencari alternatif pengganti minyak bumi sebagai sumber energi. Salah satu sumber alternatif tersebut adalah nuklir. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) telah mulai digunakan sejak tahun 1950an dan saat ini digunakan di 30 negara di dunia dengan jumlah 448 PLTN yang beroperasi di akhir tahun 2017 dan memiliki kapasitas pembangkitan listrik global sebesar 392 GW(e) [1]. Kapasitas ini meningkat sekitar 1,2 GW(e) dibanding tahun 2016.

Makalah ini secara singkat akan menguraikan perkembangan pemanfaatan PLTN di dunia dalam 25 tahun terakhir, proyeksi pengembangannya di tahun-tahun mendatang, dan prospek pembangunannya di Indonesia. Tujuan penulisan makalah adalah untuk memberikan gambaran mengenai perlunya kehadiran suatu PLTN di Indonesia untuk mendukung pertumbuhan investasi dan ekonomi masyarakat.

TEORI

Status terkini PLTN di Dunia

Sampai akhir Desember 2017, tercatat ada sebanyak 448 PLTN yang beroperasi di seluruh dunia, dengan kapasitas total 392 GW(e) [1]. Dari keseluruhan PLTN tersebut, 81,9% merupakan reaktor berpendingin dan moderator air ringan, 10,9% reaktor berpendingin dan moderator air berat, 3,3% merupakan reaktor berpendingin air dengan moderator grafit, 3,1% merupakan reaktor berpendingin gas, dan sisanya reaktor cepat berpendingin metal cair. Hampir 89% listrik yang dibangkitkan nuklir dihasilkan oleh 370 reaktor air ringan (LWR).

Dengan kapasitas total 391 GW(e) pada akhir tahun 2016, PLTN di seluruh dunia membangkitkan listrik sekitar 2476 TW.jam. Jumlah listrik yang dihasilkan ini setara dengan 11% dari produksi total listrik yang dibangkitkan pada tahun 2016 [2].

Gambar 1 memperlihatkan distribusi geografis dari 448 PLTN yang beroperasi di 30 negara hingga akhir Desember 2016 [1]. Seperti terlihat, sebagian besar PLTN tersebut berada di negara-negara industri.

Pada tahun 2017, 4 PLTN yang seluruhnya dari jenis PWR dikoneksikan ke jaringan, yaitu 4 PLTN di Cina dan 1 PLTN di Pakistan. Namun demikian, 5 PLTN ditutup secara permanen (Kori-1 di Republik Korea, Oskarhamm-1 di Swedia, Santa Maria de Garoña di Spanyol, Monju di Jepang dan Gundremmingen-B di Jerman).

Dari keseluruhan 448 PLTN yang operasional, 47% telah beroperasi selama 30 hingga 40 tahun, dan 14% lebih dari 40 tahun. Program operasi jangka panjang dan manajemen penuaan tengah diterapkan untuk meningkatkan jumlah PLTN yang dapat terus beroperasi. Di AS, misalnya, 86 dari 99 PLTN telah diperbaharui izin operasinya hingga 60 tahun, dan NRC juga pada Juli 2017 telah mengeluarkan pedoman untuk memperbaharui izin operasi PLTN hingga 80 tahun.

Jika beberapa negara industri mulai mempertimbangkan untuk menutup PLTN-nya, banyak negara di belahan dunia lain yang justru mulai membangunnya. Sampai 31 Desember 2017 sebanyak 57 PLTN tenga dibangun di berbagai belahan dunia. Gambar 2 memperlihatkan distribusi regional PLTN yang tengah dibangun sampai tahun 2017 [1].

(3)

Gambar 1. Status PLTN yang beroperasi hingga 2017 berdasar kawasan.

Seperti terlihat pada Gambar 2, sebagian besar PLTN yang tengah dibangun berada di kawasan Asia Timur Jauh, disusul oleh Eropa Tengah dan Timur, Asia Timur Tengah dan Selatan, Amerika Utara, Amerika Latin dan Eropa Barat.

Cina merupakan negara yang tengah membangun paling banyak (18 PLTN) saat ini, diikuti oleh Russia dan India (masing-masing 7), Unit Emirat Arab dan Republik Korea (masing-masing 4), Belarus, Jepang, Pakistan, Slowakia, Ukraina dan AS (masing-masing 2), dan 5 negara lain masing-masing satu.

Gambar 2. PLTN yang tengah dibangun.

Belarus merupakan negara Eropa Barat yang baru pertama kali membangun namun sekaligus dua unit dan direncanakan akan komisioning pada tahun 2019 dan 2020. Negara Eropa Barat lainnya yang tengah membangun PLTN masing-masing satu unit saat ini adalah Perancis dan Finlandia..

Proyeksi PLTN di Dunia Afrika 0,4% Amerika Latin 1,6% Amerika Utara 25,4% Asia Timur Jauh dan Selatan 6,0% Asia Timur Tengah dan Selatan 6,0% Eropa Tengah dan Timur 15,7% Eropa Barat 25,5% Eropa Barat 3.3% Amerika Latin 3.3% Amerika Utara 6.7% Asia Timur Jauh 45.0% Asia Timur Tengah dan Selatan 20.0% Eropa Tengah dan Timur 21.7%

(4)

Berdasar pernyataan yang disampaikan oleh negara-negara anggota pada saat peneyelenggaran Konferensi Umum IAEA ke 60 tahun 2016, dan pada berbagai forum publik sampai Juli 2017, posisi negara-negara pemilik PLTN terhadap masa depan PLTN di negara mereka diberikan pada Tabel 1 [3].

Tabel 1. Posisi negara yang mengoperasikan PLTN.

Kategori Negara

Unit baru sedang dibangun Argentina, Brazil, Cina, Finlandia, Perancis, India, Jepang, Republik Korea, Pakistan, Russia, Slovakia, Ukraina, AS

Unit baru sedang dibangun dengan rencana penambahan

Cina, Finlandia, India, Jepang, Republik Korea, Russia, Pakistan, AS

Tidak ada unit sedang dibangun namun diusulkan untuk membangun baru

Armenia, Kanada, Republik Ceko, Hongaria, Iran, Romania, Afrika Selatan, Inggris Tegas tidak akan membangun unit baru Belgia, Spanyol, Swiss

Tegas akan menutup unit yang ada Jerman

Dari sebanyak 30 negara yang mengoperasikan PLTN saat ini, 13 negara masih tengah membangun unit baru dan 9 negara diantaranya bahkan memiliki rencana untuk membangun unit baru.

Di Bangladesh, konstruksi terkait keselamatan untuk Unit 1 PLTN Rooppur akan dimulai pada 30 November, dengan dua unit PLTN Rooppur diharapkan dapat komisioning pada tahun 2023 dan 2024. Di Turki, Unit 1 PLTN Akkuyu diharapkan komisioning pada tahun 2023, sementara Mesir telah menyelesaikan negosiasi dengan Rosatom dari Federasi Rusia tentang empat persetujuan pokok untuk membangun empat unit PLTN di El Dabaa yang direncanakan untuk terwujud antara 2023 dan 2026. Rosatom juga tengah melakukan negosiasi dengan Jordania dan diharapkan pada tahun 2018 ini keputusan tentang investasi final telah dapat dicapai.

Berdasar pernyataan yang disampaikan pada Konferensi Umum IAEA tahun 2016 dan pada forum publik sampai Juli 2017, beberapa negara yang tidak atau belum memiliki PLTN memiliki posisi seperti yang diberikan pada Tabel 2 [3].

Tabel 2. Posisi negara yang tidak memiliki PLTN.

Status negara Jumlah negara

Konstruksi PLTN pertama telah dimulai 2

PLTN pertama tengah dipesan 2

Keputusan dibuat, persiapan infrastruktur 5

Persiapan aktif tanpa keputusan final 7

Mempertimbangkan program PLTN 12

Menyatakan ketertarikan pada PLTN 20

Landasan Legal Rencana Pembangunan PLTN di Indonesia

Rencana pembangunan PLTN yang pertama di Indonesia telah lama digaungkan, bahkan sejak pertengahan tahun 1960an ketika pemerintah mulai membangun kompleks penelitian nuklir di Serpong dengan bantuan Uni Soviet saat itu. Wacana rencana ini lenyap seiring dengan jatuhnya pemerintahan Presiden Soekarno menyusul pemberontakan PKI yang gagal total.

Pada tahun 1991-1996 kegiatan studi kelayakan pembangunan PLTN di Indonesia dari berbagai aspek dilakukan oleh BATAN bekerjasama dengan konsultan Newjec Inc. [4]. Kegiatan ini berlangsung menyusul menurunnya produksi minyak Indonesia pada beberapa

(5)

tahun sebelumnya sehingga perlu dicari alternatif sumber energi yang lain untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia. Hasil studi menunjukkan bahwa tapak Lemah Abang di Jepara merupakan calon tapak terbaik untuk pembangunan PLTN ini. Namun karena adanya krisis moneter pada tahun 1997, yang diikuti dengan krisis politik, rencana ini kembali gagal terwujud.

Harapan kembali muncul setelah permintaan atas listrik meningkat tajam pada pertengahan tahun 2000an, sementara cadangan sumber daya energi yang ada tidak dapat mencukupi kebutuhan listrik nasional hingga tahun 2025. Untuk mengantisipasi hal ini pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional [5].

Dalam Perpres Nomor 5 Tahun 2006 dinyatakan antara lain bahwa nuklir merupakan salah satu bentuk dari energi baru, yaitu energi yang dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal dari energi terbarukan maupun energi tak terbarukan. Selain itu dinyatakan pula bahwa sasaran Kebijakan Energi Nasional antara lain adalah terwujudnya bauran energi optimal pada tahun 2025, dengan kontribusi energi baru dan energi terbarukan lainnya, khususnya biomassa, nuklir, tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin menjadi lebih dari 5%.

Namun demikian, seiring dengan bergantinya pemerintahan, Perpres Nomor 5 Tahun 2006 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi, dan diganti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional [6].

Pada PP Nomor 79 Tahun 2014 dinyatakan antara lain bahwa pemanfaatan energi nuklir harus mempertimbangan keamanan pasokan energi nasional dalam skala besar, mengurangi emisi karbon dan tetap mendahulukan potensi energi baru dan energi terbarukan sesuai nilai keekonomiannya, serta mempertimbangkannya sebagai pilihan terakhir dengan memperhatikan faktor keselamatan secara ketat.

Sebagai pelaksanaan lebih lanjut UU Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, pemerintah menerbitkan PP Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) [7]. Pada RUEN ini nuklir dibahas pada satu kebijakan utama dan dua kebijakan pendukung.

Pada kebijakan utama prioritas pengembangan energi, nuklir ditetapkan pada strategi 6 yang berbunyi bahwa ’pengembangan energi nuklir yang dimanfaatkan dengan mempertimbangan keamanan pasokan energi nasional dalam skala besar, mengurangi emisi karbon dan tetap mendahulukan potensi energi baru dan energi terbarukan sesuai nilai keekonomiannya, serta mempertimbangkannya sebagai pilihan terakhir dengan memperhatikan faktor keselamatan secara ketat’.

Untuk melaksanakan hal ini dilakukan beberapa kegiatan sebagai berikut:

1. meneliti pengembangan teknologi PLTN disertai aspek-aspek keekonomian dan keselamatan;

2. mendorong penguasaan teknologi PLTN sejalan dengan perkembangan terkini kemajuan teknologi PLTN di dunia;

3. membangun kerjasama internasional terkait studi pengembangan PLTN;

4. melakukan analisis multi kriteria terhadap implementasi PLTN mencakup kepentingan mendesak, skala besar, jaminan pasokan, keseimbangan pasokan energi, pengurangan emisi karbon, faktor keselamatan, dan skala keekonomian dengan melibatkan berbagai pandangan dari berbagai stakeholder;

5. menyusun peta jalan (roadmap) implementasi PLTN sebagai pilihan terakhir dalam prioritas pengembangan energi nasional.

Pada kebijakan pendukung lingkungan hidup dan keselamatan, nuklir ditetapkan pada strategi 4 yang berbunyi ’setiap pengusahaan instalasi nuklir wajib memperhatikan keselamatan dan risiko kecelakaan serta menanggung seluruh ganti rugi kepada pihak ketiga yang mengalami kerugian akibat kecelakaan nuklir.

Untuk melaksanakan strategi ini ditetapkan program penguatan kapasitas nasional di bidang keselamatan penggunaan tenaga nuklir, dengan beberapa kegiatan berikut:

1. Menerapkan standar internasional keselamatan PLTN

2. Menyusun pra studi kelayakan (kajian akademik) untuk memutuskan perencanaan pembangunan PLTN

3. Melaksanakan secara konsisten Perpres Nomor 74 Tahun 2012 tentang Pertanggungjawaban Kerugian Nuklir.

(6)

penguatan bidang penelitian, pengembangan dan penerapan energi’, kegiatan yang dilakukan adalah peningkatan penelitian dan pengembangan serta penguasaan dan penerapan teknologi energi, dan menyiapkan penguasaan teknologi PLTN.

METODOLOGI

Pembahasan pada makalah ini dilakukan dengan metode deskriptif melalui studi literatur. Literatur yang diacu meliputi baik dokumen resmi organisasi internasional, ketentuan perundang-udangan nasional, makalah ilmiah, mau pun komentar atau berita yang dimuat dalam media nasional terpercaya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Proyeksi Pengembangan PLTN di Dunia

Setiap tahun IAEA menerbitkan proyeksi kapasitas pembangkitan dari PLTN yang dibagi atas dua proyeksi, yaitu proyeksi rendah dan proyeksi tinggi [2]. Proyeksi rendah mengasumsikan bahwa keadaan saat ini akan terus berlanjut dengan beberapa perubahan dalam kebijakan yang akan mempengaruhi penggunaan PLTN. Proyeksi tinggi, sementara itu, mengasumsikan bahwa laju pertumbuhan ekonomi dan permintaan listrik akan berlanjut, terutama pertumbuhan di negara-negara Timur Jauh. PLTN juga diperkirakan akan diterima di banyak negara sebagai pilihan untuk mitigasi perubahan iklim yang hemat biaya [8].

Dengan proyeksi rendah, IAEA memperkirakan kapasitas nuklir menurun dari 392 GWe pada akhir 2016 menjadi 345 GWe pada tahun 2030, penurunan lebih lanjut menjadi 332 GWe pada 2040, sebelum pulih ke tingkat saat ini pada tahun 2050.

Sekitar 320 GWe kapasitas tenaga nuklir baru akan terpasang pada 2050 untuk menggantikan hilangnya kapasitas akibat penghentian operasi beberapa reaktor, meskipun penggantian tersebut tidak berada di kawasan yang sama. Selain itu, pangsa nuklir dari pembangkit listrik global juga menurun dari tingkat saat ini sekitar 11% menjadi 6% pada tahun 2050.

Pada proyeksi tinggi, kapasitas pembangkit nuklir global diperkirakan meningkat menjadi 554 GWe pada tahun 2030, 717 GWe pada tahun 2040 dan 874 GWe pada tahun 2050. Pangsa nuklir dari pembangkit listrik global akan meningkat dari tingkat saat ini sekitar 11% menjadi 13,7% pada tahun 2050. Pertumbuhan terbesar diharapkan di Asia Tengah dan Timur, di mana kapasitas meningkat sekitar 3,5 kali pada tahun 2050.

Dibandingkan dengan proyeksi 2016 yang memperhitungkan pangsa nuklir hingga 2030 [9], proyeksi 2017 memperhitungkan bahwa pangsa nuklir akan berkurang 45 GW(e) hingga 2030 baik pada proyeksi rendah maupun tinggi. Pengurangan ini disebabkan antara lain karena adanya PLTN yang akan berhenti beroperasi, berkurangnya daya saing PLTN terhadap pembangkit listrik yang lain, dan berubahnya kebijakan nuklir nasional suatu negara menyusul terjadinya kecelakaan di PLTN Fukushima pada tahun 2011 yang lalu.

IAEA juga telah memproyeksikan pangsa PLTN berdasar kawasan. Gambar 3 memperlihatkan pangsa PLTN tersebut hingga tahun 2050, untuk proyeksi rendah maupun tinggi [3].

Gambar 3. Proyeksi pangsa PLTN berdasar kawasan.

Seperti terlihat pada Gambar 3, proyeksi pangsa PLTN diberikan atas proyeksi rendah dan tinggi. Secara konsisten, pangsa PLTN di kawasan Asia Tengah dan Timur

(7)

diproyeksikan akan terus meningkat baik untuk proyeksi rendah maupun tinggi. Hal ini berbeda dengan pangsa di Eropa Utara, Barat dan Selatan yang terus menurun, sementara di Amerika Utara akan sedikit meningkat pada tahun 2030, namun akan turun kembali pada tahun 2040 dan 2050.

Untuk kawasan Asia Tenggara, diperkirakan tidak ada pangsa PLTN hingga 2030, namun dengan proyeksi rendah diperkirakan PLTN mulai berperan pada tahun 2040 dengan kapasitas 1 GW(e), sementara proyeksi tinggi memperkirakan PLTN akan operasional dengan kapasitas 9 GW(e). Pada tahun 2050, pangsa PLTN diperkirakan meningkat menjadi 3 GW(e) pada proyeksi rendah dan 14 GW(e) pada proyeksi tinggi.

Selain IAEA, beberapa organisasi internasional juga telah menerbitkan proyeksi pembangkitan kapasitas PLTN menurut perhitungan mereka masing-masing. Dalam visinya yang disebut sebagai ‘Harmony’, World Nuclear Association (WNA) sebagai organisasi internasional yang beranggotakan para pelaku industri nuklir global memiliki tujuan agar 25% listrik dunia dipasok oleh PLTN dengan kapasitas 1000 GW pada tahun 2050 [10].

Tujuan ‘Harmony’ dikembangkan dengan dasar keinginan yang kuat untuk menghindari konsekuensi perubahan iklim yang sangat merusak dengan cara memaksimalkan semua sumber energi yang rendah karbon, dengan nuklir sebagai salah satu sumber energi yang penting.

Pentingnya PLTN dalam memenuhi kebutuhan energi seraya meminimalkan karbon dioksida dan pencemar udara lainnya juga dinyatakan pada edisi tahunan OECD IEA World Energy Outlook tahun 2017. Dengan skenario penambahan suhu global maksimal 2°C sampai akhir abad 21 (2D scenario), OECD IEA memprediksi pangsa PLTN akan menjadi sekitar 18% pada tahun 2050 [11]. Hal ini berarti akan ada penambahan kapasitas terpasang global dari tingkat 396 GW saat ini menjadi 930 GW pada tahun 2050.

Beberapa proyeksi lain terkait dengan pangsa PLTN pada pembangkitan listrik global yang dibuat oleh organisasi internasional lain dapat disebutkan sebagai berikut [12]:

a. International Energy Outlook (IEO)-2017 yang diterbitkan oleh US Energy Information

Administration memprediksi peningkatan pangsa dunia dari PLTN sebesar 1,6% setiap

tahun hingga 2040

b. The Asia/World Energy Outlook 2016 dari Institute of Energy Economics di Jepang (IEEJ) memperkirakan kapasitas pembangkitan listrik dari PLTN secara global akan meningkat dari 399 GW(e) pada tahun 2014 menjadi 612 GW(e) pada tahun 2040. Peningkatan pangsa PLTN ini akan membantu negara-negara di Asia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi, keamanan energi dan proteksi lingkungan di masa mendatang c. World Energy Council (WEC) pada tahun 2016 menerbitkan skenario bahwa permintaan

listrik global akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2060. Dengan dunia mencari sumber energi yang rendah karbon, pangsa PLTN akan menjadi 17%, atau sekitar 7817 TWh pada tahun 2060.

d. Energy Outlook 2017 yang diterbitkan BP meramalkan bahwa kebutuhan listrik tahun 2035 meningkat menjadi 47% dibanding tingkat 42% pada tahun 2015, dengan PLTN tumbuh sekitar 2,3% per tahun.

Beberapa proyeksi dan skenario yang dibuat oleh berbagai organisasi internasional di atas menunjukkan bahwa PLTN diperkirakan akan terus berkembang dan memainkan peran penting, terutama dengan adanya kebutuhan proteksi lingkungan dari pencemaran udara akibat pengoperasian pembangkit listrik.

Prospek Pembangunan PLTN di Indonesia

Meskipun rencana pemanfaatan nuklir untuk pembangkitan listrik di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1960an, sampai saat ini rencana tersebut belum terlaksana. Indonesia dan Thailand merupakan dua negara yang dipandang telah memiliki rencana yang matang untuk pembangunan PLTN pertamanya, namun komitmen yang kuat untuk membangunnya belum ada [11].

Munculnya isu ketahanan energi pada pertengahan tahun 2000an dan komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat itu untuk berperan dalam pengurangan pemanasan global mendorong pemerintah untuk melirik nuklir sebagai salah satu sumber energi yang dapat mengurangi perubahan iklim.

Pada masa-masa inilah terbit Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 yang cukup berpihak kepada PLTN. Kunjungan Dirjen IAEA Dr. M. ElBaradei pada Desember 2006 juga ikut mendukung dalam pengambilan kebijakan yang mengarah pada persiapan yang lebih

(8)

Namun demikian, para aktivis anti nuklir tidak tinggal diam melihat perkembangan ini. Gerakan penolakan yang sebelumnya berjalan dengan diam kini digelorakan di semua kesempatan yang ada. Penolakan ini tidak hanya semata karena kekhawatiran terhadap kecelakaan, namun juga lebih disebabkan oleh ketidakpercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah menerapkan kebijakan yang lebih bersifat patrimonial dibanding kelembagaan [13].

Tingginya resistensi masyarakat menyebabkan pemerintah berpikir ulang dan akhirnya menunda rencana pembangunan PLTN tersebut. Penyebab lain yang barangkali lebih kuat adalah alasan politis, karena Presiden SBY yang akan menghadapi pemilihan periode keduanya tidak ingin kehilangan suara dari para pendukungnya. Pada akhir masa pemerintahannya, Presiden SBY mencabut Perpres Nomor 5 Tahun 2006 dan menggantinya dengan PP Nomor 79 Tahun 2014 yang kembali menempatkan nuklir sebagai pilihan terakhir sebagai sumber energi.

Kebijakan ‘meminggirkan’ PLTN sebagai salah satu sumber energi yang potensial tampak jelas pada dokumen ‘Outlook Energi Indonesia 2016’ yang diterbitkan oleh Dewan Energi Nasional (DEN) [14]. Dokumen ini sama sekali tidak menyebut kata ‘nuklir’ dalam batang tubuhnya. Ketidakberpihakan DEN pada PLTN juga dinyatakan secara gamblang oleh salah seorang anggotanya yang menyatakan bahwa rencana pembangunan PLTN di Indonesia harus dihentikan [15].

Namun demikian, pemerintah dari sisi lain tampaknya tidak ingin terlihat sama sekali tidak mengindahkan nuklir sebagai sumber energi. Untuk itu maka pada PP Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional klausul tentang nuklir dimasukkan kembali sebagai salah satu kebijakan utama prioritas pengembangan energi. Dalam redaksionalnya, kata kunci yang digunakan hampir sama persis dengan susunan kata pada PP Nomor 79 Tahun 2014.

Tingginya resistensi masyarakat terhadap nuklir sebagai bahan bakar energi diakui secara langsung oleh Wakil Menteri ESDM [16]. Namun, alasan lain Wakil Menteri ESDM bahwa harga jual listrik dari PLTN (US$9,7-13,6 sen per kWh) di atas harga Biaya Pokok Produksi (BPP) nasional (US$7,39 sen per kWh) dapat diperdebatkan karena tampaknya harga jual listrik PLTN masih kompetitif dibandingkan dengan harga jual listrik dari sumber energi lain yang digunakan di Indonesia yang tingkat pencemaran lingkungannya relatif tinggi. Jika harga jual listrik PLTN dibandingkan dengan harga jual listrik dari sumber dengan karbon rendah lainnya, maka harga jual listrik PLTN masih salah satu yang terbaik. Gambar 4 memperlihatkan perbandingan levelized cost of electricity (LCOE) pada tingkat diskon 7% dari nuklir dibanding sumber lain yang emisi karbonnya cukup rendah [10]. LCOE merupakan konsep yang digunakan untuk membandingkan biaya energi yang berasal dari berbagai sumber energi, dan merupakan perbandingan antara biaya total selama masa pakai (dalam USD) dengan produksi energi selama masa pakai tersebut (kW.h). Biaya total selama masa pakai merupakan penjumlahan biaya modal dengan biaya pemeliharaan selama masa pakai [17].

Gambar 4. Perbandingan levelized cost of electricity (LCOE) pada tingkat diskon 7% sumber nuklir dibanding sumber lain dengan emisi karbon rendah.

Dengan demikian, ketidakpercayaan diri pemerintah yang utama untuk merealisasikan program pembangunan PLTN pertama di Indonesia adalah politik massa dalam bentuk tingginya resistensi yang ada. Kenyataannya, resistensi tidak hanya berasal dari organisasi non-pemerintah seperti WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) dan Greenpeace

(9)

Indonesia, namun juga dari masyarakat lokal yang berhimpun dalam Masyarakat Reksa Bumi (MAREM) dan beberapa politisi yang ada di DPR [18].

Dengan kuatnya politik massa yang anti, apakah mungkin pembangunan PLTN di Indonesia dapat terwujud? Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab, namun yang jelas pimpinan dan staf BATAN dari satu generasi ke generasi berikutnya secara konsisten mampu memelihara api hasrat untuk melihat berdirinya PLTN di Indonesia. Selain itu, diyakini masih ada ilmuwan, pemimpin daerah dan juga politisi yang secara diam-diam mendukungnya.

Salah satu alternatif yang coba dilakukan oleh BATAN adalah dengan mencari tapak prospektif lain disamping tapak Lemah Abang di Semenanjung Muria. Beberapa calon tapak di luar tapak Lemah Abang yang telah dilakukan studi kelayakannya adalah di Banten (pulau Panjang dan Bojonegara) dan di Bangka Belitung (Tanjung Berdaun dan Tanjung Berani) [4]. Pemerintah daerah provinsi Kalimantan Timur bahkan telah meminta izin kepada pemerintah pusat untuk membangun PLTN dengan menggandeng investor asing [19].

Pandangan lain adalah perlunya konsistensi pemerintah dalam menyatukan dukungan politik dari berbagai kalangan begitu kebijakan pembangunan PLTN ditetapkan, dan juga konsistensi dalam menerapkan kebijakan tersebut [13]. Namun demikian pertanyaan mendasar belum terjawab, yaitu apakah pemerintah berani menetapkan kebijakan yang mendukung pembangunan PLTN pertama di Indonesia di tengah kuatnya penolakan secara sosial dan politik.

Untuk ini barangkali butuh suatu terobosan yang sangat kuat agar pemerintah dapat menetapkan kebijakan yang pro nuklir, dan yakin bahwa PLTN sangat diperlukan untuk penganekaragaman sumber daya energi. Dasar penetapan bisa berupa mandat kepercayaan hampir 100% dari masyarakat saat pemilu sehingga memiliki keberanian untuk menetapkan kebijakan tersebut, kebutuhan energi yang sangat besar dan melonjak, terganggunya pasokan sumber daya yang digunakan saat ini dalam jangka waktu yang cukup lama, atau barangkali oleh sebab lain yang bisa muncul secara tiba-tiba.

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa PLTN masih cukup banyak di dunia, dan proyeksi pemanfaatannya di tahun-tahun mendatang masih cukup terbuka. Untuk kasus Indonesia, PLTN dapat mungkin terbangun jika pemerintah memiliki terobosan dan keyakinan yang kuat akan perlunya kontribusi PLTN dalam penganekaragaman sumber daya energi yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

1. IAEA, GC(61)/INF/2, “Nuclear Technology Review 2018”, August (2018).

2. IAEA, Reference Data Series No.1, 2017 Edition, “Energy, Electricity and Nuclear Power Estimates for the Period up to 2050”, IAEA, Vienna (2017).

3. IAEA, GOV/INF/2017/12-GC(61)/INF/8, “International Status and Prospects for Nuclear Power 2017, Report by the Director General”, 28 July 2017.

4. BATAN, Rencana Pembangunan PLTN di Indonesia, http://www.batan.go.id/

index.php/id/infonuklir/nuklir-indonesia-infonuklir/program-pltn/1810-rencana-pembangunan-pltn-di-indonesia. Diakses tanggal 3 Mei 2018

5. Peraturan Presiden, “Kebijakan Energi Nasional”, Perpres No. 5 Tahun 2006, Presiden RI (2006).

6. Peraturan Pemerintah, “Kebijakan Energi Nasional”, PP No. 79 Tahun 2014, Pemerintah RI (2014).

7. Peraturan Presiden, “Rencana Umum Energi Nasional”, Perpres No. 22 Tahun 2017, Presiden RI (2017).

8. IAEA, “Climate Change and Nuclear Power 2016”, IAEA, Vienna (2016).

9. IAEA, Reference Data Series No.1, 2016 Edition, “Energy, Electricity and Nuclear Power Estimates for the Period up to 2050”, IAEA, Vienna (2016).

10. World Nuclear Association, “Harmony, the global nuclear industry’s vision for the future of electricity”, 2017, http://world-nuclear.org/getmedia/602d07d5-b28d-4ebd-93e5-cd337e0ce82a/Harmony_ed2_lowres.pdf.aspx. Diakses tanggal 8 Mei 2018

11. IEA/NEA, “Technology Roadmap Nuclear Energy, 2015 Edition”, (2015).

12. World Energy Needs and Nuclear Power, http://www.world-nuclear.org/information-library/current-and-future-generation/world-energy-needs-and-nuclear-power.aspx.

(10)

13. HARIYADI. “Agenda-Setting Pembangunan PLTN dan Pencapaian Ketahanan Listrik (Studi di Jepara dan Pangkal Pinang)”. Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, Vol.7 No.2, Hal. 27-142 (2016).

14. Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional. “Outlook Energi Indonesia 2016”. DEN, Jakarta (2016) ISSN 2527-3000.

15. http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2016/01/10/210120/den-rencana-pembangunan-pltn-di-indonesia-harus-dihentikan. Diakses tanggal 4 Mei 2018

16. Mungkinkah PLTN dibangun di RI? https://finance.detik.com/energi/d-3713069/ mungkinkah-pltn-dibangun-di-ri. Diakses tanggal 3 Mei 2018.

17. The levelized cost of electricity: Definition and example, https://thegrid.rexel.com/en- us/knowledge/energy-efficiency/w/wiki/92/the-levelized-cost-of-electricity-definition-and-example. Diakses tanggal 28 September 2018.

18. Sulfikar Amir, 2010. The State and the Reactor: Nuclear Politics in Post-Suharto Indonesia. Indonesia Volume 89, Hal.101-147 (2010).

19. Pembangkit Listrik Nuklir, Kaltim tunggu ‘lampu hijau’, http://industri.bisnis.com/read/ 20170714/44/671605/pembangkit-listrik-nuklir-kaltim-tunggu-lampu-hijau. Diakses tang-gal 7 Mei 2018.

Gambar

Gambar 1. Status PLTN yang beroperasi hingga 2017 berdasar kawasan.
Gambar 3. Proyeksi pangsa PLTN berdasar kawasan.
Gambar 4.  Perbandingan  levelized cost of electricity (LCOE) pada tingkat diskon 7%

Referensi

Dokumen terkait

Guna dalam meningkatkan motivasi, lingkungan kerja dan pelatihan dalam menunjang kinerja pegawai diharapkan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta memperhatikan lagi

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini merupakan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari subjek penelitian. Data

Penulis menganalisis data melalui penelitian yang dilakukan pada GEPREK BENSU Pematangsiantar, maka dari penelitian tersebut didapatkan hasil pengolahan data adalah

Kadar kolesterol darah yang tinggi merupakan problema yang serius karena merupakan salah satu faktor risiko yang paling utama untuk terjadinya penyakit jantung koroner di

Hasil akhir yang diharapkan adalah model system perangkat lunak yang dapat berfungsi sebagai sistem pendukung keputusan dalam memberikan alokasi ruang yang sesuai untuk

Perubahan musim yang tidak menentu memunculkan berbagai macam penyakit yang menyerang tubuh manusia. Penyakit yang sering terjadi saat ini seperti flu, batuk, pusing kepala,

Dengan membandingkan kedua produk MA itu (PERMA No. 55/PK/Pid/1996) lagi-lagi terlihat tidak konsistennya sikap MA dalam melakukan pembinaan sistem hukum

Keberadaan lembaga bantuan hukum sebagai bagian dari sebuah sistem hukum memiliki andil yang positif bagi pemenuhan akan rasa keadilan masyarakat, melalui