Prosiding
LOKAKARYA DAN SEMINAR
“Mencari Model Pemberdayaan dan Peremajaan Perkebunan
untuk Sawit Indonesia yang Berkelanjutan”
Hotel Polonia Medan, 27-28 Mei 2016
USU Press
Art Design, Publishing & Printing
Gedung F, Pusat Sistem Informasi (PSI) Kampus USU Jl. Universitas No. 9
Medan 20155, Indonesia
Telp. 061-8213737; Fax 061-8213737 usupress.usu.ac.id
© USU Press 2016
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang; dilarang memperbanyak menyalin, merekam sebagian atau seluruh bagian buku ini dalam bahasa atau bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.
ISBN 979 458 880 6
Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Lokakarya dan Seminar : Mencari Model Pemberdayaan dan Peremajaan Perkebunan untuk Sawit Indonesia yang Berkelanjutan – Medan: USU Press, 2016.
xxi, 206 p.: ilus.; 29 cm ISBN: 979-458-880-6
I. Pemberdayaan Perkebunan Sawit I. Judul
xv
SUSUNAN ACARA
LOKAKARYA & SEMINAR
Mencari Model Pemberdayaan dan Peremajaan Perkebunan untuk Sawit Indonesia yang Berkelanjutan
Hotel Polonia, 27-28 Mei 2016
Hari/Tanggal Waktu Kegiatan
Jumat,
27 Mei 2016 14.00 – 16.30 Registrasi peserta dan pengisian form keanggotaan CSPO
Kata sambutan
1. Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (Bayu Krisnamurthi)
2. Ketua DMSI (Derom Bangun) 3. Rektor USU (Runtung Sitepu)
Koordinator CSPO: Sosialisasi konsorsium CSPO (The
Consortium for Studies on Palm Oil) dan website CSPO
Diskusi Roadmap Pembacaan Roadmap Penutup
Sabtu,
28 Mei 2016 08.00 – 08.15 Pendaftaran peserta
08.15 – 08.30
Pembukaan oleh MC Lagu Indonesia Raya Doa
08.30 – 08.45 Laporan Ketua Panitia
08.45 – 09.45
Pembacaan Surat Keputusan tentang kepengurusan PERHEPI Komda Medan Periode 2016-2019 oleh Sekretaris PERHEPI Pusat Feryanto sekaligus Pengukuhan pengurus PERHEPI Komda Medan oleh Ketua Umum PERHEPI Pusat (Bayu Krisnamurthi)
09.45 – 10.10
1. Sambutan Ketua PERHEPI Komda Medan (Mhd. Asaad)
2. Arahan Ketua PERHEPI Pusat (Bayu Krisnamurthi) 3. Sambutan Rektor USU (Runtung Sitepu)
4. Arahan dan sekaligus pembukaan acara seminaroleh Gubernur Propinsi Sumatera Utara (Tengku Erry Nuradi)
10.10 – 10.30 Coffee Break
10.30 – 13.00 Presentase Keynote Speakers
1. Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (Bayu Krisnamurthi)
2. Kepala Sekretariat ISPO (Herdradjat Natawidjaya) 3. Kepala Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Utara
(Herawati)
4. Kepala BAPPEDA Propinsi Sumatera Utara (Arsyad) 5. Direktur Utama Bank SUMUT (Edie Rizliyanto)
xvi
Hari/Tanggal Waktu Kegiatan
6. Plasma Head Asian Agri (Pengarapen Gurusinga) 7. Ketua Asosiasi Amanah (Sunarno)
8. Ketua KUD Jaya Makmur (Rustamari) 13.00 – 13.30 Lunch Break
13.30 – 15.00 Diskusi kelompok
15.00 – 16.30 Perumusan hasil diskusi kelompok dan Presentase Kelas pararel (Coffee Break)
16.30 – 17.00 Pembacaan hasil diskusi 17.00 Penutupan
xvii
JADWAL PRESENTASI KELAS PARALEL
KELEMBAGAAN
WAKTU NAMA PEMAKALAH JUDUL PAPER
15:00 - 15:15
Achmad Amiruddin dan Muhammad Ishak Najamuddin
Pola Kemitraan PT. Mandar Subur Sejahterah pada Koperasi Plasma dalam Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit
15:15 - 15:30
Rosnita, Roza Yulida, Novia Dewi, Arifudin, dan Yulia Andriani
Dampak Kemandirian Penyuluh terhadap Keberdayaan Petani Kelapa Sawit Pola Swadaya di Provinsi Riau
15:30 - 15:45 Ernawati HD Upaya Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit Melalui Penguatan Kelembagaan Petani
15:45 - 16:00
Ami Sukma Utami, Nofialdi, Rini Hakimin, dan Dwi Evaliza
Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Swadaya di Lahan Ulayat Minangkabau
16:00 - 16:15
Roza Yulida, Rosnita, Yulia Andriani, dan Syukuri
Perilaku Petani dalam Pembukaan Lahan Kelapa Sawit di Desa Tanjung Leban Kecamatan Kubu Kabupaten Rokan Hilir
16:15 - 16:30 Yulia Andriani, Rosnita, dan Roza Yulida
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Penyuluh Perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Riau
16:30 - 16:45
Yudi Setiadi Damanik, Diana Chalil, Riantri Barus, dan Apriandi Saragih
Komparasi Kelayakan Finansial Usaha Perkebunan Sawit Rakyat dengan Sistem Integrasi Sawit-Sapi dengan Usaha Perkebunan Sawit Tanpa Sistem Integrasi
FINANSIAL
15:00 - 15:15 Amzul Rifin Analisis Efisiensi Perusahaan Crude Palm Oil (CPO) di Indonesia 15:15 - 15:30
Dr. Ir. Ira Wahyuni Syarfi, MS, Rafnel Azari, SP, Msi, dan Ami Sukma Utami, SP, MSc
Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit Pola PIR_TRANS di Kabupaten Dharmasraya Propinsi Sumatera Barat
15:30 - 15:45 Muhammad Buchari Sibuea
Analisis Pemasaran Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Perkebunan Rakyat di Kabupaten Labuhan Batu Selatan
15:45 - 16:00
Helmi Ali, Syafruddin Karimi, Rudi
Febriamansyah dan Rina Oktaviani
Merancang Model Kinerja Ekspor dan Daya Saing Berkelanjutan Industri Minyak Sawit dan Produk Turunannya ke Pasar Internasional: Sebuah analisis Struktural Equation Model
16:00 - 16:15 Rahmanta Ginting Analisis Determinan Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Provinsi Sumatera Utara
16:15 - 16:30 Tuty Ningsih
Kajian Perbandingan Biaya Pengolahan pada Claybath Berdasarkan Media Pemisah CaCO3 dan Campuran CaCO3 dengan Abu Tandan
Kosong Kelapa Sawit
TEKNIS
15:00 - 15:15
Deni Arifiyanto, Muhammad Basyuni, dan Indra Syahputra
Identifikasi Dini Tipe Buah Kelapa Sawit (Elaeisguineensis) Menggunakan Teknik Kromatografi Lapis Tipis
xviii
15:15 - 15:30 Sumartono
Hubungan Negara Pasar Hubungan Negara-Pasar dan Masyarakat dalam Perpektif Ekonomi Politik: Pengalaman Pemberdayaan Peternak Sapi Madura dan Kemungkinan Penerapan untuk Pemberdayaan Petani Kelapa Sawit
15:30 - 15:45
Lollie, M. Basyuni, Eva S. Bayu, Arnen
Pasaribu, dan Ana Simbolon
Identifikasi Awal Pola Keragaman Molekuler Bahan Tanaman Klon Kelapa Sawit Berdasarkan RAPD
15:45 - 16:00 Sri Fajar Ayu, Iman Arman
Kajian Adopsi Teknologi Pengendalian Hama Kumbang Tanduk (Oryctes Rhinoceros) pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guinnensis Jacq) di Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara
16:00 - 16:15 Ma’ruf Tafsin dan Nevy Diana Hanafi
Potensi dan Tantangan Perkebunan Kelapa Sawit Sebagai Produsen Daging Sapi Nasional
16:15 - 16:30
Hamidah Hanum, Lisnawita, Fauzi, dan Bambang Wibowo
Pengelolaan Hara N, P, K, Mg Bibit Sawit Main Nursery pada Ultisol Melalui Aplikasi Pupuk Anorganik dan Organik
xix
DAFTAR ISI
PROFIL BADAN PENGELOLAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT ... iii
PERHIMPUNAN EKONOMI PERTANIAN INDONESIA(Indonesian Society of Agricultural Economics/ISAE) ... v
SUSUNAN KEPENGURUSAN PERHEPI KOMDA MEDAN PERIODE 2016-2019 ... vii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA... ix
CSPO (Consortium for Studies on Palm Oil) ... xi
SUSUNAN ACARA ... xv
JADWAL PRESENTASI KELAS PARALEL ... xvii
DAFTAR ISI ... xix
I. KEYNOTE SPEAKERS’ PRESENTATION 1. STANDARISASI ISPO SEBAGAI PENUNJANG INDUSTRI KELAPA SAWIT YANG BERKELANJUTAN ... 3
Sekretariat Komisi ISPO 2. PEMBERDAYAAN PETANI & PEREMAJAAN KELAPA SAWIT DI SUMATERA UTARA ... 12
Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara 3. PROSPEK TANTANGAN DAN KUNCI KEBERHASILAN KEMITRAAN ASIAN AGRI ... 30
Pengarapean Gurusinga 4. ASOSIASI PETANI SAWIT SWADAYA ... 37
5. KOPERASI UNIT DESA (KUD) JAYA MAKMUR ... 45
II. PARALLEL PRESENTATION Kelembagaan 1. POLA KEMITRAAN PT. MANDAR SUBUR SEJAHTERA PADA KOPERASI PLASMA DALAM PENGELOLAAN KEBUN KELAPA SAWIT ... 61
Achmad Amiruddin, Muhammad Ishak Najamuddin Institut Pertanian Bogor Universitas Hasanuddin Makassar 2. DAMPAK KEMANDIRIAN PENYULUH TERHADAP KEBERDAYAAN PETANI KELAPA SAWIT POLA SWADAYA DI PROVINSI RIAU ... 69
Rosnita, Roza Yulida, Novia Dewi, Arifudin, dan Yulia Andriani
Jurusan Agribisnis Faperta Universitas Riau (UR)
3. UPAYA PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT MELALUI PENGUATAN KELEMBAGAAN PETANI ... 81 Ernawati HDxx
4. PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT SWADAYA DI LAHAN ULAYAT MINANGKABAU ... 91
Ami Sukma Utami, Nofialdi, Rini Hakimi, Dwi Evaliza
Staf Pengajar pada Program Studi Agribisnis, Universitas Andalas, Padang
5. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI PENYULUH PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI PROVINSI RIAU
... 102
Yulia Andriani, Rosnita, Roza Yulida
Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Riau
6. KOMPARASI KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERKEBUNAN SAWIT RAKYAT DENGAN SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DENGAN USAHA PERKEBUNAN SAWIT TANPA SISTEM INTEGRASI ... 114 Yudi Setiadi Damanik, Diana Chalil, Riantri Barus, Apriandi Saragih
Program Studi Magister Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara
Finansial
1. ANALISIS EFISIENSI PERUSAHAAN CRUDE PALM OIL (CPO) DI INDONESIA
.... 122
Amzul Rifin
Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB
2. KEBERLANJUTAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT POLA PIR_TRANS
DI KABUPATEN DHARMASRAYA PROPINSI SUMATERA BARAT
... 125
Dr. Ir. Ira Wahyuni Syarfi, MS; Rafnel Azari, SP, MSi; Ami Sukma Utami, SP, MSc;
Ferdhinal Aspul, SP, MSi
Jurusan Sosial ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas
3. ANALISIS PEMASARAN TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT PERKEBUNAN RAKYAT DI KABUPATEN LABUHAN BATU SELATAN
... 135
Muhammad Buchari Sibuea
Program Studi Agribisnis UMSU Medan
4. MERANCANG MODEL KINERJA EKSPOR DAN DAYA SAING BERKELANJUTAN INDUSTRI MINYAK SAWIT INDONESIA DAN PRODUK TURUNANNYA KE PASAR INTERNASIONAL:Sebuah analisis Struktural Equation Model
... 146
Helmi Ali, Syafruddin Karimi, Rudi Febriamansyah dan Rina Oktaviani
5. KAJIAN PERBANDINGAN BIAYA PENGOLAHAN PADA Claybath BERDASARKAN MEDIA PEMISAH CaCO3 DAN CAMPURAN CaCO3 DENGAN ABU TKKS
... 163
Tuty Ningsih, SP.,MP
Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP) Medan
Teknis
1. HUBUNGAN NEGARA PASAR HUBUNGAN NEGARA-PASAR DAN MASYARAKAT DALAM PERPEKTIF EKONOMI POLITIK: PENGALAMAN PEMBERDAYAAN PETERNAK SAPI MADURA DAN KEMUNGKINAN PENERAPAN UNTUK PEMBERDAYAAN PETANI KELAPA SAWIT
Sumartono ... 176
xxi 2. IDENTIFIKASI AWAL POLA KERAGAMAN MOLEKULER BAHAN TANAMAN
KLON KELAPA SAWIT BERDASARKAN RAPD
... 181
Lollie Agustina P. Putri
, M. Basyuni, Eva S. Bayu, Arnen Pasaribu dan Ana Simbolon
Dosen pada Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian USU
Dosen pada Fakultas Kehutanan, USU
Mahasiswa Program Magister (S2) Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU
Mahasiswa Program Studi S1 Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU
3. KAJIAN ADOPSI TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA KUMBANG TANDUK (Oryctes Rhinoceros) PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guinnensis Jacq)
DI KECAMATAN TALAWI KABUPATEN BATU BARA
... 185
Sri Fajar Ayu, Iman Arman
Staf Pengajar Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Staf Pengajar Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Medan
4. POTENSI DAN TANTANGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT SEBAGAI PRODUSEN DAGING SAPI NASIONAL ... 194
Ma’ruf Tafsin, Nevy Diana Hanafi
Staf Pengajar Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara
5. PENGELOLAAN HARA N,P, K, Mg BIBIT SAWIT MAIN NURSERY PADA ULTISOL MELALUI APLIKASI PUPUK ANORGANIK DAN ORGANIK ... 201
Hamidah Hanum, Lisnawita, Fauzi dan Bambang Wibowo
Staf pengajar Fakultas Pertanian USU Mahasiswa Fakultas Pertanian USU
163
KAJIAN PERBANDINGAN BIAYA PENGOLAHAN
PADA Claybath BERDASARKAN MEDIA PEMISAH CaCO
3DAN CAMPURAN CaCO
3DENGAN ABU TKKS
Tuty Ningsih, SP.,MP
Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP) Medan
ABSTRAK
Kalsium Carbonat ( ) merupakan salah satu bahan pemisah antara inti dengan cangkangdi
Claybath. Tinggi harga bahan baku ( )tersebut, membuat para pemilik pabrik pengolahan kelapa sawit berupaya untuk mencari bahan alternatif pembantu ( ) dalam proses pengolahan untuk mengurangi biaya pengolahan. Abu tanda kosong kelapa sawit (TTKS) adalah salah satu bahan alternatif yang digunakan dikarenakan bahan baku tersebut mudah ditemukan dan harganya relatif murah. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa bahan pemisahan menggunakan CaC (60 %) dan abu tandan kosong (40%)membutuhkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan CaC 100 %. Penggunaan CaC 100 % lebih murah dari pada menggunakan CaC (60 %) dan abu tandan kosong (40%)dengan selisih biaya bahan Rp. 5.310.000,00/bulan dan selisih harga pokok pengolahan adalah Rp. 2,17/kg. Mutu kernel yang dihasilkan memiliki perbedaan pada tingkat losses yang dihasilkan. Pada penggunaan CaC 100 %losses kernel sebesar 3,6%, sedangkan CaC (60 %) dan abu tandan kosong (40%) kosong losses kernel sebesar 1,24%.
Kata kunci : Biaya pengolahan, Claybath, CaCO3, Abu tandan kosong, Mutu kernel.
PENDAHULUAN Latar Belakang
Pengolahan buah kelapa sawit yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan akan bahan pendukung pengolahan juga terus meningkat. Peningkatan kuantitas dan kualitas harus tetap konsisten guna mendapatkan hasil mutu olah terbaik yaitu melalui proses pemisahan antara inti dengan cangkang kelapa sawit dimesin pengolahan Claybath.
Kualitas dan kuantitas produksi kernel dapat ditentukan pada proses perebusan dan pada stasiun :Nut Grading Scren, Nut Cracker,Ripple Mill, LTDS I & II,Hydro Cyclone,Claybath,Kernel Silodan
Kernel Bin. Untuk mendapatkan produksi kernel yang baik, biasanya perusahaan menggunakan Kalsium
Carbonat( ) sebagai bahan pemisah antara inti dengan cangkangdi Claybath. Tinggi harga bahan baku ( )tersebut, membuat para pemilik pabrik pengolahan kelapa sawit berupaya untuk mencari bahan alternatif pembantu ( ) dalam proses pengolahan. Adapun tujuannya adalah mengefesiensikan harga pokok biaya pengolahan menjadi lebih wajar dan murah sehingga dapat bersaing dengan pabrik kelapa sawit lainnya.
Bahan alternatif dalam penelitian ini adalahabu tandan kosong (bunch ash)yang digunakan sebagai bahan pembantu larutan CaCO3.Pemilihan abu dikarenakan bahan bakunya mudah ditemukan
dan harganya murah. Abu tandan kosong berasal dari bakaran tandan kosong yang merupakan hasil samping dari pengolahan kelapa sawit.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti ingin membahas tentang efesiensi biaya, harga pokok penjualan dan mutu kernel yang dihasilkan dari CaCO3100% danCaCO3dicampur dengan abu tandan
kosong. Efisiensi biaya pengolahan dilakukan dengan membandingan efektifitas hasil output produksi pengolahan.
164
Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana perbandingan efesiensi biaya penggunaan CaCO3 dan CaCO3 dengan campuran abu
tandan kosong di Claybath.
b. Bagaimana perbandingan harga pokok pengolahan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 sebanyak
100 % dengan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 yang di campur dengan abu TKKS.
c. Bagaimana hasil mutu kernel yang dihasilkan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 sebanyak 100 %
dengan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 yang di campur dengan abu TKKS.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebagai berikut :
a. Mengetahui perbandingan efisiensi biayapenggunaan CaCO3 dan CaCO3 dengan campuran abu
tandan kosong di Claybath.
b. Mengetahui harga pokok biaya pengolahan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 sebanyak 100 %
dengan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 yang di campur dengan abu TKKS.
c. Mengetahui hasil mutu kernel yang dihasilkan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 sebanyak 100 %
dengan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 yang di campur dengan abu TKKS.
Batasan Masalah
Penelitian ini hanya membahas tentang perbandingan biaya pengolahan pada Claybath berdasarkan penggunaan media pemisah 100% dan campuran dengan abu tandan kosong kelapa sawit.
1. Variabel penelitian adalah :
a. Variabel tetap adalah stasiun mesin claybath. b. Variabel berubah yaitu :
- Media pemisah 100%
- Media pemisah campuran (60%) + abu tandan kosong (40%).
2. Keuntungan penjualan output yang dihasilkan berdasarkan penggunaan media pemisah yang berbeda yaitu CaCO3 100% dengan CaCO3 (60%) + abu tandan kosong (40%).
3. Hanya mengidentifikasi efesiensi biaya harga pokok pengolahan berdasarkan penggunaan media pemisah CaCO3 setelah dilakukan penambahan abu tandan kosong kelapa sawit.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu informasi yang bermanfaat bagi pengusaha atau pemilik Pabrik pengolahan minyak kelapa sawit dalam penggunaan abu tandan kosong terhadap efisiensi biaya dan efektifitas proses pengolahan pada mesin claybath.Dan referensi bagi mahasiswa maupun pembaca.
TINJAUAN PUSTAKA Landasan Teori
Claybath adalah alat pemisahan inti dengan cangkang, proses pemisahan ini secara basah yang
menggunakan lolos mesh 400. Claybath berfungsi sebagai larutan pemisah antara kernel dan cangkang berdasarkan berat jenis. Berat jenis kernel basah adalah 1,07 dan berat jenis cangkang adalah 1,15-1,20. Maka, untuk memisahkan kernel dan cangkang tersebut dibuat larutan dengan berat jenis 1,12. Bagian yang ringan akan mengapung dan bagian yang berat akan tenggelam. Inti yang merupakan fraksi ringan akan dibawa ke kernel silo untuk disimpan dengan suhu tertentu.
Proses ini dilakukan dengan sebuah bak yang berbentuk kerucut yang dilengkapi dengan pompa untuk mensirkulasikan cairan tanah liat. Gerak cairan karena adanya sirkulasi akan membawa kernel menuju ayakan getar untuk dibersihkan dan selanjutnya dikirim ke silo pengering. Sementara cangkang yang tenggelam kemudian terdorong keluar melalui pipa pengeluaran yang dipasang pada bagian bawah.
165 Selanjutnya, cangkang tersebut dimasukkan ke silo cangkang utuk dijadikan bahan bakar
boiler.Claybath terdiri dari satu buah bak yang dilengkapi oleh dua buah saringan untuk inti dan
cangkang, serta dilengkapi oleh pompa sentrifugal dan impeller (mixer) yang digerakkan oleh electromotor. Claybath digunakan karena berat jenis tempurung tipis, ini sering sekali hampir mendekati berat jenis biji, jadi masih diperlukan proses pemisahan lanjutan.
Gambar 1.1. Claybath
Penelitian Terdahulu
Riki Hadi Winata (2012), Efektifitas penggunaan caco3 dengan abu tandan kosong sebagai media
pemisah inti dan cangkang pada claybath terhadap efesiensi biaya penggunaan caco3. Variable penelitian
efektifitas dan efesiensi penggunaan media pemisah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemisahan yang dilakukan dengan menggunakan media bahan pemisah CaCO3 100% membutuhkan biaya yang
lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan media pemisah CaCO3 yang telah ditambahkan dengan
abu tandan kosong dan dapat dilihat selisih biaya penggunaan bahan pemisah CaCO3 sebesar Rp.
6.973.680/ bulan dan selisih harga pokok bahan pemisah Rp. 2883/ ton.
Guntama (2012), Perbandingan penggunaan CaCO3 dan Abu tandan kosong sebagai pemisahan
inti dan cangkang di Claybath terhadap kehilangan inti. Variable penelitian adalah penggunaan abu tandan kosong 10%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan abu tandan kosong dengan komposisi 10 % terhadap input yang masuk menghasilkan output lossis 1,24 %. Dikarenakan abu tandan kosong dapat meningkat kan berat jenis dan mempertahankan tingkat kejenuhan larutan.
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Pabrik Kelapa Sawit Lubuk Besar PT. Tidar Kerinci Agung Kab.Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat. Waktu pelaksanaan penelitiaan pada bulan April sampai Juli 2014.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan secara sistematis, yakni mencari informasi dan pengetahuan dari berbagai media dan stakeholder. Penelitian ini bersifat improvement yang merupakan sebuah studi untuk mengadakan perbaikan terhadap suatu keadaan terdahulu.
Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder, yaitu data penggunaan kalsium karbonat ( ), data penggunaan abu tandan kosong biaya kalsium karbonat ( ),
Umpan masuk dari LTDS II
Dari pompa centrifugal Air + calcium carbonat
Cangkang (under flow)
Cangkang
Kernel
166
kuantitas bahan,biaya maintenance, biaya listrik, biaya tenaga kerja dan biaya-biaya yang berhubungan dengan proses pengolahan.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode literatur dengan mencari sumber dan teori-teori yang berhubungan dengan penelitian dan metode observasi langsung di lapangan dan Laboratorium. Secara sistematisflow pengambilan data sebagai berikut :
Gambar 1.4.Flow pengambilan Data
Metode Analisa Data
Pengambilan data dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekunder pada proses pemisahan kernel di claybath, kemudian menghitung perbandingan biaya antara kedua bahan pemisah tersebut, yaitu antara ( ) 100 % dan ( ) yang ditambah dengan abu tandan kosong (bunch ash), perhitungan kajian ini menggunakan prinsip menyamakan data awal atau bahan baku utama yaitu TBS, yang bertujuan agar dapat mempermudah mendapatkan kajian perbandingan biaya bahan pemisah yang digunakan.
Hasil akhir claybath adalah losses dan kadar kotoran inti pada inti yang telah dipisahkan dengan cangkang. Kemudian dilakukan pengukuran berat jenis dari larutan ( ) 100 % dan ( ) ditambah abu tandan kosong. Hasil campuran ( ) dan abu tandan kosongberupa lumpur yang digunakan dalam proses pelarutan dan proses pemisahan di claybath.
Pengambilan Sampel dilakukan sebanyak sembilan kali pada setiap variasi komposisi dengan waktu 1 jam/sampel. Kemudian dari ke sembilan sampel tersebut dihitung rata-rata efektifitas dan efesiensi setiap komposisi bahan pemisah.
Penggunaan media pemisah dilakukan secara bergantian.Pertama penggunaan CaCO3 100%,
kemudian dilakukan pengambilan dan pengukuran sampel. Untuk penggantian bahan pemisah kondisi mesin Claybath dalam keadaan bersih.Penggunaan CaCO3 100% yang pertama dibuang dan mesin
Claybath dicuci supaya sisa dari CaCO3 100% tidak melekat didalam bagian Claybath. Kemudian
dimasukkan bahan pemisah dengan perbandingan CaCO3 (60%) dan abu tandan kosong (40%). Begitu
Harga pokok pengolahan stasiun
Claybath menggunakan CaCO3 dan
CaCO3 + abu tandan kosong
Biaya tenaga kerja Biaya maintenance Biaya listrik
Jumlah + biaya bahan CaCO3 dan CaCO3 +
abu tandan kosong
Mutu inti yang dihasilkan
Produksi (Output)
Media pemisah CaCO
3167 seterusnya sampai pengambilan sampel yang terakhir. Perbandingan dilakukan dengan kapasitas dan jam olah pabrik yang sama yaitu ( CaCO3 100% kapasitas 60 ton dan CaCO3 + abu tandan kosong
kapasitas 60 ton /jam ) dan kapasitas olah TBS 29.019.360 kg.
Sistem kajian menggunakan perbandingan bahan baku TBS supaya perhitungan efektifitas dan efesiensi bahan pemisah dapat dilakukan dengan baik. Hasil perhitungan penggunaan perbandingan bahan pemisah dapat dilihat pada lampiran.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Pembelian CaC di PKS Lubuk Besar PT. Tidar Kerinci Agung harga CaC adalah Rp. 1.075,00/kg. Harga abu tandan kosong Rp. 800/kg.
CaC 100 % dan CaC (60 %) + abu tandan kosong (40 %) dimasukkan ke claybath dan diaduk dengan putaran 1420 rpm sesuai dengan standar operasional prosedur, kemudian massa jenisnya diukur menggunakan hydrometer. Pengambilan data dilakukan sebanyak sembilan kali dengan variasi komposisi media pemisah yang berbeda. Waktu pengambilan sampel 1 jam/sampel. Kemudian dari ke sembilan sampel tersebut di hitung rata-rata efektifitas dan efesiensi setiap komposisi bahan pemisah. Keterangan :
1. Pemakaian CaCO3 padabulan Mei = 800 kg/hari
2. Pemakaian air = 50 % daritangkipengaduk
3. Penggantianbahanpemisah = 1 kali / hari
4. Harga 1 kg CaCO3 = Rp. 1.075,00/kg
5. Kapasitas input rata-rata = 4 ton/ jam.
Tabel 11. Pemakaian 100 % Berdasarkan Berat Jenis / Jam.
Waktu
Penambahan Berat Kernel Kadar (Kalsium Karbonat) Jenis Losses Kotoran
Jumlah Berat (gr/m3) (%) (%) (sak) (kg) 08.00 12 600 1,13 3,60 0,40 09.00 - - 1,13 3,20 0,60 10.00 - - 1,12 3,02 0,50 11.00 - - 1,11 4,42 0,24 12.00 - - 1,12 3,21 0,11 13.00 - - 1,12 3,05 0,30 14.00 - - 1,11 3,93 0,70 15.00 - - 1,11 3,45 0,90 16.00 2 100 1,13 3,50 0,70
Data observasi yang dilakukan dalam penggunaan 100% tercapai secara efektif, namun
losses inti masih tinggi. Dikarenakan tingkat kejenuhan dari larutan 100 % tidak selalu dalam keadaan tepat pencampurannya.
Keterangan :
1. Pemakaian pada bulan mei : 600 kg/hari
2. Pemakaian air : 50% daritangkipengaduk 3. Penggantianbahanpemisah :1 kali/hari
4. Harga 1 kg :Rp 1.075,00/kg
168
Tabel 12. Pemakaian dan Bunch Ash Berdasarkan Berat Jenis/Jamnya.
Waktu Penambahan Berat jenis Kernel Kadar kotoran dan Abu Tandan
Kosong (gr/m3) Losses (kg) Bunch Ash (%) (%) (kg) 07.00 400 240 1,18 1,01 3,00 08.00 - - 1,19 1,14 3,03 09.00 - - 1,18 1,18 3,11 10.00 - - 1,19 1,19 3,02 11.00 - - 1,19 1,18 3,12 12.00 - - 1,18 1,2 3,16 13.00 - - 1,17 1,86 3,05 14.00 - - 1,15 1,26 2,88 15.00 100 125 1,14 1,17 2,96
Data hasil observasi yangdilakukan tercapai secara efektif. Perbandingannya dengan standar mutu inti perusahaan, namun masih terdapat losses kernel. Hal ini terjadi karena pengontrolan tingkat kejenuhan dari larutan dan abu tandan kosong kelapa sawit tidak selalu dalam keadaan tepat pencampurannya.
Tabel 13. Biaya Pemakaian Bahan Kalsium Karbonat ( ) 60 %+ Abu Tandan Kosong (Bunch Ash) 40 % di Claybath
Keterangan CaCO3 Bunch Ash Total
Biaya/jam (Rp) 32.250 19.600 51.850
Biaya/hari(Rp) 645.000 392.000 1.037.000
Biaya/bulan(Rp) 9.350.000 1.760.000 31.110.000
Tabel 14.Daftar harga dan jenis spearpart di mesin Claybath
Jenis Spearpart Jumlah Jumlah Harga (Rp)
Mesh 600/400 1 psg 2.150.000
Bearing 2310 1 psg 1.028.400
Pully taper 1 psg 750.000
Vanbelt 1psg 170.974
Mechanical seal pump 1 psg 2.958.000
Kainmajun 100 kg 11.699
Electric 3 phase 1 psg 16.500
169 Tabel 15. Perbandingan Biaya Penggunaan bahan pemisah 100 % dan 60 %+ Abu tandan
kosong (Bunch Ash) 40 %.
Uraian CaCO3 100%
Campuran
CaCO3 Abu tandan
kosong
Pemakaian / bulan (kg) 24.000 18.000 14.700
HargaPembelian
1.075 1.075 800
BahanPemisah(Rp/Kg)
Biaya / bulan (Rp/bulan) 25.800.000 31.110.000
Harga Pokok Bahan Pemisah (Rp/kg) 10,76 12,46
Tabel 16. Perbandingan kualitas Hasil Bahan Pemisah Penggunaan 100% dan 60 %+ Abu tandan kosong (Bunch Ash) 40 %
Kualitas CaCO3 CaCO3 + Bunch Ash
Beratjenis Rata-rata
(gr/satuan volume) 1,13 1,17
Kernel Losses rata-rata (%) 3,6 1,24
Kadar Kotoran Rata-rata(%) 0,12 3,38
Output(kg) 2.396,40 2.398,70
Tabel 17.Perbandingan Harga Pokok Pengolahan Mesin Claybath
Uraian CaCO3 100%
CaCO3 +Abu tandan kosong
(Rp) (Rp)
Biaya penggunaan bahan 25.800.000,00 31.110.000,00
Biaya tenaga kerja 8.509.336,00 8.509.336,00
Biaya maintenance 1.771.393,25 1.771.339,25
Biaya listrik 11.857.664,00 11.857.664,00
Total biaya 47.938.393,25 53.248.339,25
Harga pokok biaya pengolahan (Rp/Kg) 20,02 22,19
Pembahasan
Berdasarkan tabel 17 dapat disimpulkan bahwa perbedaan variasi media pemisah mempengaruhi presentase out put dan harga pokok biaya pengolahan. Hasil menunjukkan bahwa harga pokok pengolahan CaCO3 100% Rp. 20,02/kg, sedangkan CaC03 + abu tandan kosong Rp. 22,19/kg.
Perbandingan harga pokok pengolahan yang selisih Rp.2,17/Kg, dikarenakan penggunaan media pemisah CaCO3 100% tidak adanya penambahan campuran bahan pemisah untuk mengolah kernel dan
cangkang 2400 ton/bulan (24000 kg) dengan harga Rp. 1.075/kg. Sedangkan CaCO3 pemakaian 18000
Kg + abu tandan kosong 14700 Kg untuk mengolah kernel dan cangkang 2400 ton/bulan sebanyak 32700 Kg CaCO3 + abu tandan kosong dengan harga CaCO3 Rp.1.075/Kg dan Abu tandan kosong Rp.
800/Kg.
Sedangkan berdasarkan biaya tenaga kerja, biaya maintenance, biaya listrik tidak ada perbandingan. Hal ini dikarenakan tempat, kapasitas, jam olah pabrik dan umur alat Claybath sama yaitu1 tahun 3 bulan.
170
Gambar 5. Perbandingan Harga Pokok Penggunaan Bahan Pemisahcac03 100% dan cac03+Abu TandanKosong Di Claybath.
Perbedaan penggunaan media pemisah sangat berpengaruh terhadap efektifitas dan efesiensi harga pokok biaya pengolahan. Gambar 5 menunjukkan bahwa sampel dengan media pemisah CaCO3 100%
menghasilkan lossis 3,6 % dan harga pokok biaya pengolahan Rp.20,02/kg. Sedangkan sampel kedua dengan perbandingan media pemisah CaCO3 (60 %) + abu tandan kosong (40 %) menghasilkan lossis
1,24 % dan harga pokok biaya pengolahan Rp.22,19/kg.
Losses yang tinggi 3,6 % dengan penggunaan CaCO3 dikarenakan keadaan larutan yang tidak
selalu dalam keadaan normal 1,13 gr/satuan volume. Serta akibat pertambahan zat tersuspensi yang berasal dari pecahan biji yang memiliki berat yang berbeda dengan CaCO3, akibatnya pemisahan kernel
dan cangkang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Dan harga pokok pengolahan Rp.20.02 dikarenakan pemakaian CaCO3 untuk mengolah kernel dan cangkang 2400 ton/ bulan(24000 Kg) dan dengan harga
Rp.1.075/Kg.
Hasil penelitian pemakaian CaCO3 (60 %) + abu tandan kosong (40%) didapat kan Lossis 1,24%
dikarenakan unsur kimia dari abu tandan kosong untuk mempertahankan berat jenis larutan serta menambah berat jenis larutan menjadi 1,17 gr/satuan volume. Dengan berat jenis yang tetap maksimal antara 1,17-1,20 gr/satuan volume pemisahan kernel dan cangkang menghasilkan lossis yang rendah.
Tingginya harga pokok pengolahan pemakaian CaCO3 (60 %) + abu tandan kosong (40 %)
dikarenakan pemakaian jumlah bahan pemisah untuk mengolah 2400 ton/bulan kernel dan cangkang sebanyak 32700 Kg. Dimana CaCO3 (60 %) 18.000 Kg dengan harga bahan Rp.1.075/Kg dan abu
tandan kosong (40 %) 14700 Kg dengan harga bahan Rp.1.075/Kg. Maka harga pokok pengolahan pemakaian bahan pemisah antara CaCO3 (60 %) + abu tandan kosong (40%) mengalami selisih
perbedaan Rp.2,17/Kg dikarenakan jumlah pemakaian bahan setiap bulan serta harga bahan pemisah tersebut. biaya pengg unaan bahan biaya tenag a kerja biaya maint enanc e biaya listrik total biaya harga pokok biaya peng olaha n caco3+ abu tandan
kosong Rp31,1 Rp8,50 Rp1,77 Rp11,8 Rp53,2 Rp22 CaCO3 100% Rp25,8 Rp8,50 Rp1,77 Rp11,8 Rp47,9 Rp20 Rp-Rp10,000,000 Rp20,000,000 Rp30,000,000 Rp40,000,000 Rp50,000,000 Rp60,000,000 h a rg a (R p )
Perbandingan Harga Pokok Bahan
Pemisah
171
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Bahan pemisahan menggunakan CaC 60 % dan Abu tandan kosong 40 %membutuhkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan CaC 100 %.
2. Penggunakan CaC 100 % lebih murah dari pada menggunakan CaC 60 % + Abu tandan kosong 40 % dengan selisih biaya bahan Rp. 5.310.000,00/bulan dan selisih harga pokok pengolahan sebesar Rp. 2,17/kg
3. Mutu kernel yang dihasilkan memiliki perbedaan pada tingkat losses yang dihasilkan. Pada penggunaan CaC 100 % kernel losses sebesar 3,6%, sedangkan CaC 60 % + Abu tandan kosong 40 %losses kernel sebesar 1,24%. Akibat pertambahan zat tersuspensi yang berasal dari pecahan biji yang memiliki berat yang berbedasehingga larutan berat jenis tidak sesuai dengan yang diinginkan.
Saran
1. Pengontrolan dan pengawasan terhadap berat jenis lumpur ( 1,13-1,14cc/gr) sehingga output yang dihasilkan tetap sesuai dengan standart mutu khususnya sesuai yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan.
2. Diharapkan peneliti lebih lanjut untuk membahas proses pengaruh mutu hasil dan Output terhadap investasi modal mesin Claybath. Sehingga penelitian ini menjadi lebih sempurna dan lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2013,Hasil Mutu Inti Kernel,Pabrik pengolahan PT. Tidar Kerinci Agung, Sumatera Barat. Carter, William K. and Milton F. Usry, 2002, Cost Accounting, Buku 1, Edisi 13, Salemba Empat,
Jakarta.
Guntama, 2012,Perbandingan Penggunaan CaCO3 Dan Abu Tandan Kosong Sebagai Pemisahan Inti
Dan Cangkang Di Claybath Terhadap Kehilangan Inti, Tugas akhir, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian
Agrobisnis Perkebunan, Medan
Henry Simamora,2002, Akuntansi Manajemen, Salemba Empat, Jakarta. Mulyadi, 2005, Akuntansi Biaya, edisi ke-6STIE YKPN, Yogyakarta.
Naibaho, Ponten M, 1998., Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan. Winata Hadi Riki, 2012, Efektifitas penggunaan CaCO3 Dengan Abu Tandan Kosong Sebagai Media
Pemisah Inti Dan Cangkang Pada Claybath Terhadap Efesiensi Biaya Penggunaan CaCO3, Tugas akhir, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan, Medan.
172
Lampiran 1
A. Perhitungankonsumsi (pemakaian) bahanbaku 100 % Jam olahpabrikadalah : TBS Olah = 29.019.360 kg Kapasitas = 48.678 kg/jam Jam olahpabrik = = .. . / = 597 Jam/bulan Maka, untuk jam olahpabrik/ hari =
= =19,87jam/hari=20 jam/hari Perhitungan 1.Penggunaan bahan a.Pemakaian /jam = / = = 40 kg/jam b.Pemakaian /hari = = . = 800 kg/hari
c.Pemakaian /bulan = Penggunaan /hari x 30 hari = 800 kg x 30 hari
= 24.000 kg/bulan
2. Biaya pemakaian bahan
a.Biaya penggunaan /jam di claybath = pemakaian /jam x harga/kg = 40 kg/jam x Rp 1.075,00/kg =Rp 43.000/ jam
b.Biaya penggunaan / hari x harga/kg = pemakaian /hari x harga /kg = 800kg/hari x Rp. 1.075,00/kg = Rp860.000/hari
c. Biaya penggunaan / bulan di claybath = pemakaian / bulan x harga/kg = 24.000 kg/bulan x Rp 1.075,00 /kg = Rp 25.800.000/bulan
173 B. PerhitunganKonsumsi (pemakaian) bahanbakuKalsiumKarbonat ( ) (60 %)dengan abutandan
kosong (Bunch Ash)(40 %) Jam olahpabrikadalah : TBS Olah = 29.019.360 kg Kapasitas =48.678 kg/jam Jam OlahPabrik = = . . . = 597jam Makauntuk jam olahpabrik/hari = = = 19,87jam/hari= 20 jam/hari. 1. Pemakaian bahan a. Pemakaian /jam = / = / / = 30 kg/jam b. Pemakaian / hari = / = / = 600 kg/hari c. Pemakaian / bulan
= penggunaan / harix 30 hari = 600 kg x 30 hari
= 18000 kg/ bulan
2. BiayaPemakaianbahan
a. Biayapenggunaan /jam di Claybath = pemakaian /jam x harga/kg =30 kg/jam x Rp 1.075,00/ kg = Rp 32.250 /jam
b. Biaya penggunaan / hari di Claybath = pemakaian CaCo3/bulanxharga/kg = 600 kg x Rp 1.075,00/kg
= Rp645.000/hari
c. Biaya penggunaan /bulan di Claybath = pemakaian /bulan x harga/kg = 18000 kg/jam x Rp 1.075,00/kg = Rp 19.350.000/bulan.
3. Biayabahantambahanabutandankosong (bunch ash) a. Pemakaian Bunch Ash/jam
= /
174
= 24,5 kg/jam
b. Pemakaian Bunch Ash/hari =
=. .
=490 kg/hari
c. Pemakaian Bunch Ash/bulan
=Penggunaan Bunch Ash/hari x 30 hari = 490 kg/hari x 30 hari
= 14700 kg/bulan
4. Biaya pemakaian bahan Bunch Ash/jam
a. Biaya penggunaan Bunch Ash/jam di claybath =Pemakaian Bunch Ash/jam x harga/kg = 24,5 kg/jam x Rp 800,00/kg
=Rp19.600/jam
b. Biaya Penggunaan Bunch Ash/hari di claybath = Pemakaian Bunch Ash/bulan x harga/kg = 490 kg/hari x Rp 800,00/kg
= Rp 392.000/hari
c. Biaya penggunaan Bunch Ash/bulan di claybath = pemakaian Bunch Ash/bulan x harga/kg = 14.700 kg/bulan x Rp. 800,00/kg =Rp11.760.000/bulan
5. Biaya tenaga kerja, biaya listrik dan maintenance.
Proses pengolahan di stasiun kernel yaitu Claybath dilakukan dengan 1 operator dalam 1 shift kerja, sedangkan perawatan dan penggantian alat 4 bulan/ sekali. Karena alat Clayabath dalam kondisi baru 1 tahun 3 bulan.
a. Biaya tenaga kerja
Biaya operator/ hari = Gaji karyawan/bulan (Rp) X 3 shift = Rp. 2.203.216/ bulan X 3 Shift = Rp. 6.609.650,00
Biaya lembur dan extra = Rp.633.228 Total gaji dan lembur = Rp. 8.509.336 b. Biaya listrik
Biaya listrik / jam = Total biaya/KWH X 20 jam = Rp. 22803 x 20 jam
= Rp. 456.064,00 Total biaya listrik/ bulan = Rp. 11.857.664,00 c. Biaya maintenance
Biaya perawatan dan penggantian alat selama 4 bulan/ sekali. Biaya perawatan/bulan =
= . . .
175
PERHITUNGAN HARGA POKOK PEMAKAIAN BAHAN
RumusHargaPokok=
( )
1. Perhitungan biaya penggunaan bahan 100 %
Biaya Bahan = ( )
HP = . . . /
. , /
HP =Rp10,76/kg
2. Perhitungan biaya penggunaan bahan + Bunch Ash Biaya bahan + Bunch Ash =
( )
HP = . . . /
, /
HP =Rp 12,46/kg
3. Perhitungan harga pokok biaya pengolahan 100 % HP=
( )
HP= . . . , /
, /
HP= Rp. 20,02/kg
2. Perhitungan harga pokok biaya pengolahan + Bunch HP=
( )
HP= . . . , /
, /