• Tidak ada hasil yang ditemukan

LOKAKARYA DAN SEMINAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LOKAKARYA DAN SEMINAR"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding

LOKAKARYA DAN SEMINAR

“Mencari Model Pemberdayaan dan Peremajaan Perkebunan

untuk Sawit Indonesia yang Berkelanjutan”

Hotel Polonia Medan, 27-28 Mei 2016

(2)

USU Press

Art Design, Publishing & Printing

Gedung F, Pusat Sistem Informasi (PSI) Kampus USU Jl. Universitas No. 9

Medan 20155, Indonesia

Telp. 061-8213737; Fax 061-8213737 usupress.usu.ac.id

© USU Press 2016

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang; dilarang memperbanyak menyalin, merekam sebagian atau seluruh bagian buku ini dalam bahasa atau bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

ISBN 979 458 880 6

Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Lokakarya dan Seminar : Mencari Model Pemberdayaan dan Peremajaan Perkebunan untuk Sawit Indonesia yang Berkelanjutan – Medan: USU Press, 2016.

xxi, 206 p.: ilus.; 29 cm ISBN: 979-458-880-6

I. Pemberdayaan Perkebunan Sawit I. Judul

(3)

xv

SUSUNAN ACARA

LOKAKARYA & SEMINAR

Mencari Model Pemberdayaan dan Peremajaan Perkebunan untuk Sawit Indonesia yang Berkelanjutan

Hotel Polonia, 27-28 Mei 2016

Hari/Tanggal Waktu Kegiatan

Jumat,

27 Mei 2016 14.00 – 16.30 Registrasi peserta dan pengisian form keanggotaan CSPO

Kata sambutan

1. Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (Bayu Krisnamurthi)

2. Ketua DMSI (Derom Bangun) 3. Rektor USU (Runtung Sitepu)

Koordinator CSPO: Sosialisasi konsorsium CSPO (The

Consortium for Studies on Palm Oil) dan website CSPO

Diskusi Roadmap Pembacaan Roadmap Penutup

Sabtu,

28 Mei 2016 08.00 – 08.15 Pendaftaran peserta

08.15 – 08.30

Pembukaan oleh MC Lagu Indonesia Raya Doa

08.30 – 08.45 Laporan Ketua Panitia

08.45 – 09.45

Pembacaan Surat Keputusan tentang kepengurusan PERHEPI Komda Medan Periode 2016-2019 oleh Sekretaris PERHEPI Pusat Feryanto sekaligus Pengukuhan pengurus PERHEPI Komda Medan oleh Ketua Umum PERHEPI Pusat (Bayu Krisnamurthi)

09.45 – 10.10

1. Sambutan Ketua PERHEPI Komda Medan (Mhd. Asaad)

2. Arahan Ketua PERHEPI Pusat (Bayu Krisnamurthi) 3. Sambutan Rektor USU (Runtung Sitepu)

4. Arahan dan sekaligus pembukaan acara seminaroleh Gubernur Propinsi Sumatera Utara (Tengku Erry Nuradi)

10.10 – 10.30 Coffee Break

10.30 – 13.00 Presentase Keynote Speakers

1. Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (Bayu Krisnamurthi)

2. Kepala Sekretariat ISPO (Herdradjat Natawidjaya) 3. Kepala Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Utara

(Herawati)

4. Kepala BAPPEDA Propinsi Sumatera Utara (Arsyad) 5. Direktur Utama Bank SUMUT (Edie Rizliyanto)

(4)

xvi

Hari/Tanggal Waktu Kegiatan

6. Plasma Head Asian Agri (Pengarapen Gurusinga) 7. Ketua Asosiasi Amanah (Sunarno)

8. Ketua KUD Jaya Makmur (Rustamari) 13.00 – 13.30 Lunch Break

13.30 – 15.00 Diskusi kelompok

15.00 – 16.30 Perumusan hasil diskusi kelompok dan Presentase Kelas pararel (Coffee Break)

16.30 – 17.00 Pembacaan hasil diskusi 17.00 Penutupan

(5)

xvii

JADWAL PRESENTASI KELAS PARALEL

KELEMBAGAAN

WAKTU NAMA PEMAKALAH JUDUL PAPER

15:00 - 15:15

Achmad Amiruddin dan Muhammad Ishak Najamuddin

Pola Kemitraan PT. Mandar Subur Sejahterah pada Koperasi Plasma dalam Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit

15:15 - 15:30

Rosnita, Roza Yulida, Novia Dewi, Arifudin, dan Yulia Andriani

Dampak Kemandirian Penyuluh terhadap Keberdayaan Petani Kelapa Sawit Pola Swadaya di Provinsi Riau

15:30 - 15:45 Ernawati HD Upaya Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit Melalui Penguatan Kelembagaan Petani

15:45 - 16:00

Ami Sukma Utami, Nofialdi, Rini Hakimin, dan Dwi Evaliza

Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Swadaya di Lahan Ulayat Minangkabau

16:00 - 16:15

Roza Yulida, Rosnita, Yulia Andriani, dan Syukuri

Perilaku Petani dalam Pembukaan Lahan Kelapa Sawit di Desa Tanjung Leban Kecamatan Kubu Kabupaten Rokan Hilir

16:15 - 16:30 Yulia Andriani, Rosnita, dan Roza Yulida

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Penyuluh Perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Riau

16:30 - 16:45

Yudi Setiadi Damanik, Diana Chalil, Riantri Barus, dan Apriandi Saragih

Komparasi Kelayakan Finansial Usaha Perkebunan Sawit Rakyat dengan Sistem Integrasi Sawit-Sapi dengan Usaha Perkebunan Sawit Tanpa Sistem Integrasi

FINANSIAL

15:00 - 15:15 Amzul Rifin Analisis Efisiensi Perusahaan Crude Palm Oil (CPO) di Indonesia 15:15 - 15:30

Dr. Ir. Ira Wahyuni Syarfi, MS, Rafnel Azari, SP, Msi, dan Ami Sukma Utami, SP, MSc

Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit Pola PIR_TRANS di Kabupaten Dharmasraya Propinsi Sumatera Barat

15:30 - 15:45 Muhammad Buchari Sibuea

Analisis Pemasaran Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Perkebunan Rakyat di Kabupaten Labuhan Batu Selatan

15:45 - 16:00

Helmi Ali, Syafruddin Karimi, Rudi

Febriamansyah dan Rina Oktaviani

Merancang Model Kinerja Ekspor dan Daya Saing Berkelanjutan Industri Minyak Sawit dan Produk Turunannya ke Pasar Internasional: Sebuah analisis Struktural Equation Model

16:00 - 16:15 Rahmanta Ginting Analisis Determinan Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Provinsi Sumatera Utara

16:15 - 16:30 Tuty Ningsih

Kajian Perbandingan Biaya Pengolahan pada Claybath Berdasarkan Media Pemisah CaCO3 dan Campuran CaCO3 dengan Abu Tandan

Kosong Kelapa Sawit

TEKNIS

15:00 - 15:15

Deni Arifiyanto, Muhammad Basyuni, dan Indra Syahputra

Identifikasi Dini Tipe Buah Kelapa Sawit (Elaeisguineensis) Menggunakan Teknik Kromatografi Lapis Tipis

(6)

xviii

15:15 - 15:30 Sumartono

Hubungan Negara Pasar Hubungan Negara-Pasar dan Masyarakat dalam Perpektif Ekonomi Politik: Pengalaman Pemberdayaan Peternak Sapi Madura dan Kemungkinan Penerapan untuk Pemberdayaan Petani Kelapa Sawit

15:30 - 15:45

Lollie, M. Basyuni, Eva S. Bayu, Arnen

Pasaribu, dan Ana Simbolon

Identifikasi Awal Pola Keragaman Molekuler Bahan Tanaman Klon Kelapa Sawit Berdasarkan RAPD

15:45 - 16:00 Sri Fajar Ayu, Iman Arman

Kajian Adopsi Teknologi Pengendalian Hama Kumbang Tanduk (Oryctes Rhinoceros) pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guinnensis Jacq) di Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara

16:00 - 16:15 Ma’ruf Tafsin dan Nevy Diana Hanafi

Potensi dan Tantangan Perkebunan Kelapa Sawit Sebagai Produsen Daging Sapi Nasional

16:15 - 16:30

Hamidah Hanum, Lisnawita, Fauzi, dan Bambang Wibowo

Pengelolaan Hara N, P, K, Mg Bibit Sawit Main Nursery pada Ultisol Melalui Aplikasi Pupuk Anorganik dan Organik

(7)

xix

DAFTAR ISI

PROFIL BADAN PENGELOLAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT ... iii

PERHIMPUNAN EKONOMI PERTANIAN INDONESIA(Indonesian Society of Agricultural Economics/ISAE) ... v

SUSUNAN KEPENGURUSAN PERHEPI KOMDA MEDAN PERIODE 2016-2019 ... vii

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA... ix

CSPO (Consortium for Studies on Palm Oil) ... xi

SUSUNAN ACARA ... xv

JADWAL PRESENTASI KELAS PARALEL ... xvii

DAFTAR ISI ... xix

I. KEYNOTE SPEAKERS’ PRESENTATION 1. STANDARISASI ISPO SEBAGAI PENUNJANG INDUSTRI KELAPA SAWIT YANG BERKELANJUTAN ... 3

Sekretariat Komisi ISPO 2. PEMBERDAYAAN PETANI & PEREMAJAAN KELAPA SAWIT DI SUMATERA UTARA ... 12

Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara 3. PROSPEK TANTANGAN DAN KUNCI KEBERHASILAN KEMITRAAN ASIAN AGRI ... 30

Pengarapean Gurusinga 4. ASOSIASI PETANI SAWIT SWADAYA ... 37

5. KOPERASI UNIT DESA (KUD) JAYA MAKMUR ... 45

II. PARALLEL PRESENTATION Kelembagaan 1. POLA KEMITRAAN PT. MANDAR SUBUR SEJAHTERA PADA KOPERASI PLASMA DALAM PENGELOLAAN KEBUN KELAPA SAWIT ... 61

Achmad Amiruddin, Muhammad Ishak Najamuddin Institut Pertanian Bogor Universitas Hasanuddin Makassar 2. DAMPAK KEMANDIRIAN PENYULUH TERHADAP KEBERDAYAAN PETANI KELAPA SAWIT POLA SWADAYA DI PROVINSI RIAU ... 69

Rosnita, Roza Yulida, Novia Dewi, Arifudin, dan Yulia Andriani

Jurusan Agribisnis Faperta Universitas Riau (UR)

3. UPAYA PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT MELALUI PENGUATAN KELEMBAGAAN PETANI ... 81 Ernawati HD

(8)

xx

4. PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT SWADAYA DI LAHAN ULAYAT MINANGKABAU ... 91

Ami Sukma Utami, Nofialdi, Rini Hakimi, Dwi Evaliza

Staf Pengajar pada Program Studi Agribisnis, Universitas Andalas, Padang

5. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI PENYULUH PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI PROVINSI RIAU

... 102

Yulia Andriani, Rosnita, Roza Yulida

Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Riau

6. KOMPARASI KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERKEBUNAN SAWIT RAKYAT DENGAN SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DENGAN USAHA PERKEBUNAN SAWIT TANPA SISTEM INTEGRASI ... 114 Yudi Setiadi Damanik, Diana Chalil, Riantri Barus, Apriandi Saragih

Program Studi Magister Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara

Finansial

1. ANALISIS EFISIENSI PERUSAHAAN CRUDE PALM OIL (CPO) DI INDONESIA

.... 122

Amzul Rifin

Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB

2. KEBERLANJUTAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT POLA PIR_TRANS

DI KABUPATEN DHARMASRAYA PROPINSI SUMATERA BARAT

... 125

Dr. Ir. Ira Wahyuni Syarfi, MS; Rafnel Azari, SP, MSi; Ami Sukma Utami, SP, MSc;

Ferdhinal Aspul, SP, MSi

Jurusan Sosial ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas

3. ANALISIS PEMASARAN TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT PERKEBUNAN RAKYAT DI KABUPATEN LABUHAN BATU SELATAN

... 135

Muhammad Buchari Sibuea

Program Studi Agribisnis UMSU Medan

4. MERANCANG MODEL KINERJA EKSPOR DAN DAYA SAING BERKELANJUTAN INDUSTRI MINYAK SAWIT INDONESIA DAN PRODUK TURUNANNYA KE PASAR INTERNASIONAL:Sebuah analisis Struktural Equation Model

... 146

Helmi Ali, Syafruddin Karimi, Rudi Febriamansyah dan Rina Oktaviani

5. KAJIAN PERBANDINGAN BIAYA PENGOLAHAN PADA Claybath BERDASARKAN MEDIA PEMISAH CaCO3 DAN CAMPURAN CaCO3 DENGAN ABU TKKS

... 163

Tuty Ningsih, SP.,MP

Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP) Medan

Teknis

1. HUBUNGAN NEGARA PASAR HUBUNGAN NEGARA-PASAR DAN MASYARAKAT DALAM PERPEKTIF EKONOMI POLITIK: PENGALAMAN PEMBERDAYAAN PETERNAK SAPI MADURA DAN KEMUNGKINAN PENERAPAN UNTUK PEMBERDAYAAN PETANI KELAPA SAWIT

Sumartono ... 176

(9)

xxi 2. IDENTIFIKASI AWAL POLA KERAGAMAN MOLEKULER BAHAN TANAMAN

KLON KELAPA SAWIT BERDASARKAN RAPD

... 181

Lollie Agustina P. Putri

, M. Basyuni, Eva S. Bayu, Arnen Pasaribu dan Ana Simbolon

Dosen pada Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian USU

Dosen pada Fakultas Kehutanan, USU

Mahasiswa Program Magister (S2) Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU

Mahasiswa Program Studi S1 Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU

3. KAJIAN ADOPSI TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA KUMBANG TANDUK (Oryctes Rhinoceros) PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guinnensis Jacq)

DI KECAMATAN TALAWI KABUPATEN BATU BARA

... 185

Sri Fajar Ayu, Iman Arman

Staf Pengajar Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Staf Pengajar Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Medan

4. POTENSI DAN TANTANGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT SEBAGAI PRODUSEN DAGING SAPI NASIONAL ... 194

Ma’ruf Tafsin, Nevy Diana Hanafi

Staf Pengajar Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera

Utara

5. PENGELOLAAN HARA N,P, K, Mg BIBIT SAWIT MAIN NURSERY PADA ULTISOL MELALUI APLIKASI PUPUK ANORGANIK DAN ORGANIK ... 201

Hamidah Hanum, Lisnawita, Fauzi dan Bambang Wibowo

Staf pengajar Fakultas Pertanian USU Mahasiswa Fakultas Pertanian USU

(10)

163

KAJIAN PERBANDINGAN BIAYA PENGOLAHAN

PADA Claybath BERDASARKAN MEDIA PEMISAH CaCO

3

DAN CAMPURAN CaCO

3

DENGAN ABU TKKS

Tuty Ningsih, SP.,MP

[email protected]

Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP) Medan

ABSTRAK

Kalsium Carbonat ( ) merupakan salah satu bahan pemisah antara inti dengan cangkangdi

Claybath. Tinggi harga bahan baku ( )tersebut, membuat para pemilik pabrik pengolahan kelapa sawit berupaya untuk mencari bahan alternatif pembantu ( ) dalam proses pengolahan untuk mengurangi biaya pengolahan. Abu tanda kosong kelapa sawit (TTKS) adalah salah satu bahan alternatif yang digunakan dikarenakan bahan baku tersebut mudah ditemukan dan harganya relatif murah. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa bahan pemisahan menggunakan CaC (60 %) dan abu tandan kosong (40%)membutuhkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan CaC 100 %. Penggunaan CaC 100 % lebih murah dari pada menggunakan CaC (60 %) dan abu tandan kosong (40%)dengan selisih biaya bahan Rp. 5.310.000,00/bulan dan selisih harga pokok pengolahan adalah Rp. 2,17/kg. Mutu kernel yang dihasilkan memiliki perbedaan pada tingkat losses yang dihasilkan. Pada penggunaan CaC 100 %losses kernel sebesar 3,6%, sedangkan CaC (60 %) dan abu tandan kosong (40%) kosong losses kernel sebesar 1,24%.

Kata kunci : Biaya pengolahan, Claybath, CaCO3, Abu tandan kosong, Mutu kernel.

PENDAHULUAN Latar Belakang

Pengolahan buah kelapa sawit yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan akan bahan pendukung pengolahan juga terus meningkat. Peningkatan kuantitas dan kualitas harus tetap konsisten guna mendapatkan hasil mutu olah terbaik yaitu melalui proses pemisahan antara inti dengan cangkang kelapa sawit dimesin pengolahan Claybath.

Kualitas dan kuantitas produksi kernel dapat ditentukan pada proses perebusan dan pada stasiun :Nut Grading Scren, Nut Cracker,Ripple Mill, LTDS I & II,Hydro Cyclone,Claybath,Kernel Silodan

Kernel Bin. Untuk mendapatkan produksi kernel yang baik, biasanya perusahaan menggunakan Kalsium

Carbonat( ) sebagai bahan pemisah antara inti dengan cangkangdi Claybath. Tinggi harga bahan baku ( )tersebut, membuat para pemilik pabrik pengolahan kelapa sawit berupaya untuk mencari bahan alternatif pembantu ( ) dalam proses pengolahan. Adapun tujuannya adalah mengefesiensikan harga pokok biaya pengolahan menjadi lebih wajar dan murah sehingga dapat bersaing dengan pabrik kelapa sawit lainnya.

Bahan alternatif dalam penelitian ini adalahabu tandan kosong (bunch ash)yang digunakan sebagai bahan pembantu larutan CaCO3.Pemilihan abu dikarenakan bahan bakunya mudah ditemukan

dan harganya murah. Abu tandan kosong berasal dari bakaran tandan kosong yang merupakan hasil samping dari pengolahan kelapa sawit.

Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti ingin membahas tentang efesiensi biaya, harga pokok penjualan dan mutu kernel yang dihasilkan dari CaCO3100% danCaCO3dicampur dengan abu tandan

kosong. Efisiensi biaya pengolahan dilakukan dengan membandingan efektifitas hasil output produksi pengolahan.

(11)

164

Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut :

a. Bagaimana perbandingan efesiensi biaya penggunaan CaCO3 dan CaCO3 dengan campuran abu

tandan kosong di Claybath.

b. Bagaimana perbandingan harga pokok pengolahan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 sebanyak

100 % dengan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 yang di campur dengan abu TKKS.

c. Bagaimana hasil mutu kernel yang dihasilkan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 sebanyak 100 %

dengan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 yang di campur dengan abu TKKS.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebagai berikut :

a. Mengetahui perbandingan efisiensi biayapenggunaan CaCO3 dan CaCO3 dengan campuran abu

tandan kosong di Claybath.

b. Mengetahui harga pokok biaya pengolahan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 sebanyak 100 %

dengan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 yang di campur dengan abu TKKS.

c. Mengetahui hasil mutu kernel yang dihasilkan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 sebanyak 100 %

dengan penggunaan kalsium karbonat CaCO3 yang di campur dengan abu TKKS.

Batasan Masalah

Penelitian ini hanya membahas tentang perbandingan biaya pengolahan pada Claybath berdasarkan penggunaan media pemisah 100% dan campuran dengan abu tandan kosong kelapa sawit.

1. Variabel penelitian adalah :

a. Variabel tetap adalah stasiun mesin claybath. b. Variabel berubah yaitu :

- Media pemisah 100%

- Media pemisah campuran (60%) + abu tandan kosong (40%).

2. Keuntungan penjualan output yang dihasilkan berdasarkan penggunaan media pemisah yang berbeda yaitu CaCO3 100% dengan CaCO3 (60%) + abu tandan kosong (40%).

3. Hanya mengidentifikasi efesiensi biaya harga pokok pengolahan berdasarkan penggunaan media pemisah CaCO3 setelah dilakukan penambahan abu tandan kosong kelapa sawit.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu informasi yang bermanfaat bagi pengusaha atau pemilik Pabrik pengolahan minyak kelapa sawit dalam penggunaan abu tandan kosong terhadap efisiensi biaya dan efektifitas proses pengolahan pada mesin claybath.Dan referensi bagi mahasiswa maupun pembaca.

TINJAUAN PUSTAKA Landasan Teori

Claybath adalah alat pemisahan inti dengan cangkang, proses pemisahan ini secara basah yang

menggunakan lolos mesh 400. Claybath berfungsi sebagai larutan pemisah antara kernel dan cangkang berdasarkan berat jenis. Berat jenis kernel basah adalah 1,07 dan berat jenis cangkang adalah 1,15-1,20. Maka, untuk memisahkan kernel dan cangkang tersebut dibuat larutan dengan berat jenis 1,12. Bagian yang ringan akan mengapung dan bagian yang berat akan tenggelam. Inti yang merupakan fraksi ringan akan dibawa ke kernel silo untuk disimpan dengan suhu tertentu.

Proses ini dilakukan dengan sebuah bak yang berbentuk kerucut yang dilengkapi dengan pompa untuk mensirkulasikan cairan tanah liat. Gerak cairan karena adanya sirkulasi akan membawa kernel menuju ayakan getar untuk dibersihkan dan selanjutnya dikirim ke silo pengering. Sementara cangkang yang tenggelam kemudian terdorong keluar melalui pipa pengeluaran yang dipasang pada bagian bawah.

(12)

165 Selanjutnya, cangkang tersebut dimasukkan ke silo cangkang utuk dijadikan bahan bakar

boiler.Claybath terdiri dari satu buah bak yang dilengkapi oleh dua buah saringan untuk inti dan

cangkang, serta dilengkapi oleh pompa sentrifugal dan impeller (mixer) yang digerakkan oleh electromotor. Claybath digunakan karena berat jenis tempurung tipis, ini sering sekali hampir mendekati berat jenis biji, jadi masih diperlukan proses pemisahan lanjutan.

Gambar 1.1. Claybath

Penelitian Terdahulu

Riki Hadi Winata (2012), Efektifitas penggunaan caco3 dengan abu tandan kosong sebagai media

pemisah inti dan cangkang pada claybath terhadap efesiensi biaya penggunaan caco3. Variable penelitian

efektifitas dan efesiensi penggunaan media pemisah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemisahan yang dilakukan dengan menggunakan media bahan pemisah CaCO3 100% membutuhkan biaya yang

lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan media pemisah CaCO3 yang telah ditambahkan dengan

abu tandan kosong dan dapat dilihat selisih biaya penggunaan bahan pemisah CaCO3 sebesar Rp.

6.973.680/ bulan dan selisih harga pokok bahan pemisah Rp. 2883/ ton.

Guntama (2012), Perbandingan penggunaan CaCO3 dan Abu tandan kosong sebagai pemisahan

inti dan cangkang di Claybath terhadap kehilangan inti. Variable penelitian adalah penggunaan abu tandan kosong 10%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan abu tandan kosong dengan komposisi 10 % terhadap input yang masuk menghasilkan output lossis 1,24 %. Dikarenakan abu tandan kosong dapat meningkat kan berat jenis dan mempertahankan tingkat kejenuhan larutan.

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Pabrik Kelapa Sawit Lubuk Besar PT. Tidar Kerinci Agung Kab.Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat. Waktu pelaksanaan penelitiaan pada bulan April sampai Juli 2014.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan secara sistematis, yakni mencari informasi dan pengetahuan dari berbagai media dan stakeholder. Penelitian ini bersifat improvement yang merupakan sebuah studi untuk mengadakan perbaikan terhadap suatu keadaan terdahulu.

Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder, yaitu data penggunaan kalsium karbonat ( ), data penggunaan abu tandan kosong biaya kalsium karbonat ( ),

Umpan masuk dari LTDS II

Dari pompa centrifugal Air + calcium carbonat

Cangkang (under flow)

Cangkang

Kernel

(13)

166

kuantitas bahan,biaya maintenance, biaya listrik, biaya tenaga kerja dan biaya-biaya yang berhubungan dengan proses pengolahan.

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode literatur dengan mencari sumber dan teori-teori yang berhubungan dengan penelitian dan metode observasi langsung di lapangan dan Laboratorium. Secara sistematisflow pengambilan data sebagai berikut :

Gambar 1.4.Flow pengambilan Data

Metode Analisa Data

Pengambilan data dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekunder pada proses pemisahan kernel di claybath, kemudian menghitung perbandingan biaya antara kedua bahan pemisah tersebut, yaitu antara ( ) 100 % dan ( ) yang ditambah dengan abu tandan kosong (bunch ash), perhitungan kajian ini menggunakan prinsip menyamakan data awal atau bahan baku utama yaitu TBS, yang bertujuan agar dapat mempermudah mendapatkan kajian perbandingan biaya bahan pemisah yang digunakan.

Hasil akhir claybath adalah losses dan kadar kotoran inti pada inti yang telah dipisahkan dengan cangkang. Kemudian dilakukan pengukuran berat jenis dari larutan ( ) 100 % dan ( ) ditambah abu tandan kosong. Hasil campuran ( ) dan abu tandan kosongberupa lumpur yang digunakan dalam proses pelarutan dan proses pemisahan di claybath.

Pengambilan Sampel dilakukan sebanyak sembilan kali pada setiap variasi komposisi dengan waktu 1 jam/sampel. Kemudian dari ke sembilan sampel tersebut dihitung rata-rata efektifitas dan efesiensi setiap komposisi bahan pemisah.

Penggunaan media pemisah dilakukan secara bergantian.Pertama penggunaan CaCO3 100%,

kemudian dilakukan pengambilan dan pengukuran sampel. Untuk penggantian bahan pemisah kondisi mesin Claybath dalam keadaan bersih.Penggunaan CaCO3 100% yang pertama dibuang dan mesin

Claybath dicuci supaya sisa dari CaCO3 100% tidak melekat didalam bagian Claybath. Kemudian

dimasukkan bahan pemisah dengan perbandingan CaCO3 (60%) dan abu tandan kosong (40%). Begitu

Harga pokok pengolahan stasiun

Claybath menggunakan CaCO3 dan

CaCO3 + abu tandan kosong

Biaya tenaga kerja Biaya maintenance Biaya listrik

Jumlah + biaya bahan CaCO3 dan CaCO3 +

abu tandan kosong

Mutu inti yang dihasilkan

Produksi (Output)

Media pemisah CaCO

3

(14)

167 seterusnya sampai pengambilan sampel yang terakhir. Perbandingan dilakukan dengan kapasitas dan jam olah pabrik yang sama yaitu ( CaCO3 100% kapasitas 60 ton dan CaCO3 + abu tandan kosong

kapasitas 60 ton /jam ) dan kapasitas olah TBS 29.019.360 kg.

Sistem kajian menggunakan perbandingan bahan baku TBS supaya perhitungan efektifitas dan efesiensi bahan pemisah dapat dilakukan dengan baik. Hasil perhitungan penggunaan perbandingan bahan pemisah dapat dilihat pada lampiran.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Pembelian CaC di PKS Lubuk Besar PT. Tidar Kerinci Agung harga CaC adalah Rp. 1.075,00/kg. Harga abu tandan kosong Rp. 800/kg.

CaC 100 % dan CaC (60 %) + abu tandan kosong (40 %) dimasukkan ke claybath dan diaduk dengan putaran 1420 rpm sesuai dengan standar operasional prosedur, kemudian massa jenisnya diukur menggunakan hydrometer. Pengambilan data dilakukan sebanyak sembilan kali dengan variasi komposisi media pemisah yang berbeda. Waktu pengambilan sampel 1 jam/sampel. Kemudian dari ke sembilan sampel tersebut di hitung rata-rata efektifitas dan efesiensi setiap komposisi bahan pemisah. Keterangan :

1. Pemakaian CaCO3 padabulan Mei = 800 kg/hari

2. Pemakaian air = 50 % daritangkipengaduk

3. Penggantianbahanpemisah = 1 kali / hari

4. Harga 1 kg CaCO3 = Rp. 1.075,00/kg

5. Kapasitas input rata-rata = 4 ton/ jam.

Tabel 11. Pemakaian 100 % Berdasarkan Berat Jenis / Jam.

Waktu

Penambahan Berat Kernel Kadar (Kalsium Karbonat) Jenis Losses Kotoran

Jumlah Berat (gr/m3) (%) (%) (sak) (kg) 08.00 12 600 1,13 3,60 0,40 09.00 - - 1,13 3,20 0,60 10.00 - - 1,12 3,02 0,50 11.00 - - 1,11 4,42 0,24 12.00 - - 1,12 3,21 0,11 13.00 - - 1,12 3,05 0,30 14.00 - - 1,11 3,93 0,70 15.00 - - 1,11 3,45 0,90 16.00 2 100 1,13 3,50 0,70

Data observasi yang dilakukan dalam penggunaan 100% tercapai secara efektif, namun

losses inti masih tinggi. Dikarenakan tingkat kejenuhan dari larutan 100 % tidak selalu dalam keadaan tepat pencampurannya.

Keterangan :

1. Pemakaian pada bulan mei : 600 kg/hari

2. Pemakaian air : 50% daritangkipengaduk 3. Penggantianbahanpemisah :1 kali/hari

4. Harga 1 kg :Rp 1.075,00/kg

(15)

168

Tabel 12. Pemakaian dan Bunch Ash Berdasarkan Berat Jenis/Jamnya.

Waktu Penambahan Berat jenis Kernel Kadar kotoran dan Abu Tandan

Kosong (gr/m3) Losses (kg) Bunch Ash (%) (%) (kg) 07.00 400 240 1,18 1,01 3,00 08.00 - - 1,19 1,14 3,03 09.00 - - 1,18 1,18 3,11 10.00 - - 1,19 1,19 3,02 11.00 - - 1,19 1,18 3,12 12.00 - - 1,18 1,2 3,16 13.00 - - 1,17 1,86 3,05 14.00 - - 1,15 1,26 2,88 15.00 100 125 1,14 1,17 2,96

Data hasil observasi yangdilakukan tercapai secara efektif. Perbandingannya dengan standar mutu inti perusahaan, namun masih terdapat losses kernel. Hal ini terjadi karena pengontrolan tingkat kejenuhan dari larutan dan abu tandan kosong kelapa sawit tidak selalu dalam keadaan tepat pencampurannya.

Tabel 13. Biaya Pemakaian Bahan Kalsium Karbonat ( ) 60 %+ Abu Tandan Kosong (Bunch Ash) 40 % di Claybath

Keterangan CaCO3 Bunch Ash Total

Biaya/jam (Rp) 32.250 19.600 51.850

Biaya/hari(Rp) 645.000 392.000 1.037.000

Biaya/bulan(Rp) 9.350.000 1.760.000 31.110.000

Tabel 14.Daftar harga dan jenis spearpart di mesin Claybath

Jenis Spearpart Jumlah Jumlah Harga (Rp)

Mesh 600/400 1 psg 2.150.000

Bearing 2310 1 psg 1.028.400

Pully taper 1 psg 750.000

Vanbelt 1psg 170.974

Mechanical seal pump 1 psg 2.958.000

Kainmajun 100 kg 11.699

Electric 3 phase 1 psg 16.500

(16)

169 Tabel 15. Perbandingan Biaya Penggunaan bahan pemisah 100 % dan 60 %+ Abu tandan

kosong (Bunch Ash) 40 %.

Uraian CaCO3 100%

Campuran

CaCO3 Abu tandan

kosong

Pemakaian / bulan (kg) 24.000 18.000 14.700

HargaPembelian

1.075 1.075 800

BahanPemisah(Rp/Kg)

Biaya / bulan (Rp/bulan) 25.800.000 31.110.000

Harga Pokok Bahan Pemisah (Rp/kg) 10,76 12,46

Tabel 16. Perbandingan kualitas Hasil Bahan Pemisah Penggunaan 100% dan 60 %+ Abu tandan kosong (Bunch Ash) 40 %

Kualitas CaCO3 CaCO3 + Bunch Ash

Beratjenis Rata-rata

(gr/satuan volume) 1,13 1,17

Kernel Losses rata-rata (%) 3,6 1,24

Kadar Kotoran Rata-rata(%) 0,12 3,38

Output(kg) 2.396,40 2.398,70

Tabel 17.Perbandingan Harga Pokok Pengolahan Mesin Claybath

Uraian CaCO3 100%

CaCO3 +Abu tandan kosong

(Rp) (Rp)

Biaya penggunaan bahan 25.800.000,00 31.110.000,00

Biaya tenaga kerja 8.509.336,00 8.509.336,00

Biaya maintenance 1.771.393,25 1.771.339,25

Biaya listrik 11.857.664,00 11.857.664,00

Total biaya 47.938.393,25 53.248.339,25

Harga pokok biaya pengolahan (Rp/Kg) 20,02 22,19

Pembahasan

Berdasarkan tabel 17 dapat disimpulkan bahwa perbedaan variasi media pemisah mempengaruhi presentase out put dan harga pokok biaya pengolahan. Hasil menunjukkan bahwa harga pokok pengolahan CaCO3 100% Rp. 20,02/kg, sedangkan CaC03 + abu tandan kosong Rp. 22,19/kg.

Perbandingan harga pokok pengolahan yang selisih Rp.2,17/Kg, dikarenakan penggunaan media pemisah CaCO3 100% tidak adanya penambahan campuran bahan pemisah untuk mengolah kernel dan

cangkang 2400 ton/bulan (24000 kg) dengan harga Rp. 1.075/kg. Sedangkan CaCO3 pemakaian 18000

Kg + abu tandan kosong 14700 Kg untuk mengolah kernel dan cangkang 2400 ton/bulan sebanyak 32700 Kg CaCO3 + abu tandan kosong dengan harga CaCO3 Rp.1.075/Kg dan Abu tandan kosong Rp.

800/Kg.

Sedangkan berdasarkan biaya tenaga kerja, biaya maintenance, biaya listrik tidak ada perbandingan. Hal ini dikarenakan tempat, kapasitas, jam olah pabrik dan umur alat Claybath sama yaitu1 tahun 3 bulan.

(17)

170

Gambar 5. Perbandingan Harga Pokok Penggunaan Bahan Pemisahcac03 100% dan cac03+Abu TandanKosong Di Claybath.

Perbedaan penggunaan media pemisah sangat berpengaruh terhadap efektifitas dan efesiensi harga pokok biaya pengolahan. Gambar 5 menunjukkan bahwa sampel dengan media pemisah CaCO3 100%

menghasilkan lossis 3,6 % dan harga pokok biaya pengolahan Rp.20,02/kg. Sedangkan sampel kedua dengan perbandingan media pemisah CaCO3 (60 %) + abu tandan kosong (40 %) menghasilkan lossis

1,24 % dan harga pokok biaya pengolahan Rp.22,19/kg.

Losses yang tinggi 3,6 % dengan penggunaan CaCO3 dikarenakan keadaan larutan yang tidak

selalu dalam keadaan normal 1,13 gr/satuan volume. Serta akibat pertambahan zat tersuspensi yang berasal dari pecahan biji yang memiliki berat yang berbeda dengan CaCO3, akibatnya pemisahan kernel

dan cangkang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Dan harga pokok pengolahan Rp.20.02 dikarenakan pemakaian CaCO3 untuk mengolah kernel dan cangkang 2400 ton/ bulan(24000 Kg) dan dengan harga

Rp.1.075/Kg.

Hasil penelitian pemakaian CaCO3 (60 %) + abu tandan kosong (40%) didapat kan Lossis 1,24%

dikarenakan unsur kimia dari abu tandan kosong untuk mempertahankan berat jenis larutan serta menambah berat jenis larutan menjadi 1,17 gr/satuan volume. Dengan berat jenis yang tetap maksimal antara 1,17-1,20 gr/satuan volume pemisahan kernel dan cangkang menghasilkan lossis yang rendah.

Tingginya harga pokok pengolahan pemakaian CaCO3 (60 %) + abu tandan kosong (40 %)

dikarenakan pemakaian jumlah bahan pemisah untuk mengolah 2400 ton/bulan kernel dan cangkang sebanyak 32700 Kg. Dimana CaCO3 (60 %) 18.000 Kg dengan harga bahan Rp.1.075/Kg dan abu

tandan kosong (40 %) 14700 Kg dengan harga bahan Rp.1.075/Kg. Maka harga pokok pengolahan pemakaian bahan pemisah antara CaCO3 (60 %) + abu tandan kosong (40%) mengalami selisih

perbedaan Rp.2,17/Kg dikarenakan jumlah pemakaian bahan setiap bulan serta harga bahan pemisah tersebut. biaya pengg unaan bahan biaya tenag a kerja biaya maint enanc e biaya listrik total biaya harga pokok biaya peng olaha n caco3+ abu tandan

kosong Rp31,1 Rp8,50 Rp1,77 Rp11,8 Rp53,2 Rp22 CaCO3 100% Rp25,8 Rp8,50 Rp1,77 Rp11,8 Rp47,9 Rp20 Rp-Rp10,000,000 Rp20,000,000 Rp30,000,000 Rp40,000,000 Rp50,000,000 Rp60,000,000 h a rg a (R p )

Perbandingan Harga Pokok Bahan

Pemisah

(18)

171

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Bahan pemisahan menggunakan CaC 60 % dan Abu tandan kosong 40 %membutuhkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan CaC 100 %.

2. Penggunakan CaC 100 % lebih murah dari pada menggunakan CaC 60 % + Abu tandan kosong 40 % dengan selisih biaya bahan Rp. 5.310.000,00/bulan dan selisih harga pokok pengolahan sebesar Rp. 2,17/kg

3. Mutu kernel yang dihasilkan memiliki perbedaan pada tingkat losses yang dihasilkan. Pada penggunaan CaC 100 % kernel losses sebesar 3,6%, sedangkan CaC 60 % + Abu tandan kosong 40 %losses kernel sebesar 1,24%. Akibat pertambahan zat tersuspensi yang berasal dari pecahan biji yang memiliki berat yang berbedasehingga larutan berat jenis tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Saran

1. Pengontrolan dan pengawasan terhadap berat jenis lumpur ( 1,13-1,14cc/gr) sehingga output yang dihasilkan tetap sesuai dengan standart mutu khususnya sesuai yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan.

2. Diharapkan peneliti lebih lanjut untuk membahas proses pengaruh mutu hasil dan Output terhadap investasi modal mesin Claybath. Sehingga penelitian ini menjadi lebih sempurna dan lengkap.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013,Hasil Mutu Inti Kernel,Pabrik pengolahan PT. Tidar Kerinci Agung, Sumatera Barat. Carter, William K. and Milton F. Usry, 2002, Cost Accounting, Buku 1, Edisi 13, Salemba Empat,

Jakarta.

Guntama, 2012,Perbandingan Penggunaan CaCO3 Dan Abu Tandan Kosong Sebagai Pemisahan Inti

Dan Cangkang Di Claybath Terhadap Kehilangan Inti, Tugas akhir, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian

Agrobisnis Perkebunan, Medan

Henry Simamora,2002, Akuntansi Manajemen, Salemba Empat, Jakarta. Mulyadi, 2005, Akuntansi Biaya, edisi ke-6STIE YKPN, Yogyakarta.

Naibaho, Ponten M, 1998., Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan. Winata Hadi Riki, 2012, Efektifitas penggunaan CaCO3 Dengan Abu Tandan Kosong Sebagai Media

Pemisah Inti Dan Cangkang Pada Claybath Terhadap Efesiensi Biaya Penggunaan CaCO3, Tugas akhir, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan, Medan.

(19)

172

Lampiran 1

A. Perhitungankonsumsi (pemakaian) bahanbaku 100 % Jam olahpabrikadalah : TBS Olah = 29.019.360 kg Kapasitas = 48.678 kg/jam Jam olahpabrik = = .. . / = 597 Jam/bulan Maka, untuk jam olahpabrik/ hari =

= =19,87jam/hari=20 jam/hari Perhitungan 1.Penggunaan bahan a.Pemakaian /jam = / = = 40 kg/jam b.Pemakaian /hari = = . = 800 kg/hari

c.Pemakaian /bulan = Penggunaan /hari x 30 hari = 800 kg x 30 hari

= 24.000 kg/bulan

2. Biaya pemakaian bahan

a.Biaya penggunaan /jam di claybath = pemakaian /jam x harga/kg = 40 kg/jam x Rp 1.075,00/kg =Rp 43.000/ jam

b.Biaya penggunaan / hari x harga/kg = pemakaian /hari x harga /kg = 800kg/hari x Rp. 1.075,00/kg = Rp860.000/hari

c. Biaya penggunaan / bulan di claybath = pemakaian / bulan x harga/kg = 24.000 kg/bulan x Rp 1.075,00 /kg = Rp 25.800.000/bulan

(20)

173 B. PerhitunganKonsumsi (pemakaian) bahanbakuKalsiumKarbonat ( ) (60 %)dengan abutandan

kosong (Bunch Ash)(40 %) Jam olahpabrikadalah : TBS Olah = 29.019.360 kg Kapasitas =48.678 kg/jam Jam OlahPabrik = = . . . = 597jam Makauntuk jam olahpabrik/hari = = = 19,87jam/hari= 20 jam/hari. 1. Pemakaian bahan a. Pemakaian /jam = / = / / = 30 kg/jam b. Pemakaian / hari = / = / = 600 kg/hari c. Pemakaian / bulan

= penggunaan / harix 30 hari = 600 kg x 30 hari

= 18000 kg/ bulan

2. BiayaPemakaianbahan

a. Biayapenggunaan /jam di Claybath = pemakaian /jam x harga/kg =30 kg/jam x Rp 1.075,00/ kg = Rp 32.250 /jam

b. Biaya penggunaan / hari di Claybath = pemakaian CaCo3/bulanxharga/kg = 600 kg x Rp 1.075,00/kg

= Rp645.000/hari

c. Biaya penggunaan /bulan di Claybath = pemakaian /bulan x harga/kg = 18000 kg/jam x Rp 1.075,00/kg = Rp 19.350.000/bulan.

3. Biayabahantambahanabutandankosong (bunch ash) a. Pemakaian Bunch Ash/jam

= /

(21)

174

= 24,5 kg/jam

b. Pemakaian Bunch Ash/hari =

=. .

=490 kg/hari

c. Pemakaian Bunch Ash/bulan

=Penggunaan Bunch Ash/hari x 30 hari = 490 kg/hari x 30 hari

= 14700 kg/bulan

4. Biaya pemakaian bahan Bunch Ash/jam

a. Biaya penggunaan Bunch Ash/jam di claybath =Pemakaian Bunch Ash/jam x harga/kg = 24,5 kg/jam x Rp 800,00/kg

=Rp19.600/jam

b. Biaya Penggunaan Bunch Ash/hari di claybath = Pemakaian Bunch Ash/bulan x harga/kg = 490 kg/hari x Rp 800,00/kg

= Rp 392.000/hari

c. Biaya penggunaan Bunch Ash/bulan di claybath = pemakaian Bunch Ash/bulan x harga/kg = 14.700 kg/bulan x Rp. 800,00/kg =Rp11.760.000/bulan

5. Biaya tenaga kerja, biaya listrik dan maintenance.

Proses pengolahan di stasiun kernel yaitu Claybath dilakukan dengan 1 operator dalam 1 shift kerja, sedangkan perawatan dan penggantian alat 4 bulan/ sekali. Karena alat Clayabath dalam kondisi baru 1 tahun 3 bulan.

a. Biaya tenaga kerja

Biaya operator/ hari = Gaji karyawan/bulan (Rp) X 3 shift = Rp. 2.203.216/ bulan X 3 Shift = Rp. 6.609.650,00

Biaya lembur dan extra = Rp.633.228 Total gaji dan lembur = Rp. 8.509.336 b. Biaya listrik

Biaya listrik / jam = Total biaya/KWH X 20 jam = Rp. 22803 x 20 jam

= Rp. 456.064,00 Total biaya listrik/ bulan = Rp. 11.857.664,00 c. Biaya maintenance

Biaya perawatan dan penggantian alat selama 4 bulan/ sekali. Biaya perawatan/bulan =

= . . .

(22)

175

PERHITUNGAN HARGA POKOK PEMAKAIAN BAHAN

RumusHargaPokok=

( )

1. Perhitungan biaya penggunaan bahan 100 %

Biaya Bahan = ( )

HP = . . . /

. , /

HP =Rp10,76/kg

2. Perhitungan biaya penggunaan bahan + Bunch Ash Biaya bahan + Bunch Ash =

( )

HP = . . . /

, /

HP =Rp 12,46/kg

3. Perhitungan harga pokok biaya pengolahan 100 % HP=

( )

HP= . . . , /

, /

HP= Rp. 20,02/kg

2. Perhitungan harga pokok biaya pengolahan + Bunch HP=

( )

HP= . . . , /

, /

Gambar

Gambar 1.1. Claybath
Gambar 1.4.Flow pengambilan Data
Tabel 11. Pemakaian 100 % Berdasarkan Berat Jenis / Jam.
Tabel 14.Daftar harga dan jenis spearpart di mesin Claybath
+3

Referensi

Dokumen terkait

Perusahaan yang memproduksi massa, menghitung harga pokok produksinya dengan mengumpulkan biaya produksi untuk setiap proses selama jangka waktu tertentu cara

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data data sekunder, Data sekunder diperoleh dengan cara mengumpulkan data dari pihak-pihak lain diantaranya adalah

Penelitian ini menggunakan data sekunder, informasi data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh dengan cara mengumpulkan laporan tahunan perusahaan

Berdasarkan kedua jenis data tersebut baik primer dan sekunder, keduanya dilakukan secara beriringan dimana penulis terlebih dahulu mengumpulkan data sekunder

17 3.2.2 Pengumpulan Data Sekunder Pengambilan dengan menggunakan data sekunder adalah dengan cara pengambilan data langsung mengenai proyek yang dibutuhkan dalam penelitian ini,

Data Pengeluaran Bahan Baku Paku Note : satu kotak paku dapat menghasilkan 200 sapu ijuk Cara menghitung biaya pengeluaran bahan baku paku yaitu produksi x harga beli lakop... Data

Tabel 1 Jenis dan Cara Pengambilan Data N o Data Cara Pengambilan Data Berat badan 1 Primer dan sekunder 2 Tinggi badan Primer Umur 3 Primer dan sekunder Jenis kelamin 4

22 3.6 Teknik Pengambilan Data Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengambilan data dengan cara dokumentasi, yaitu salah satu cara yang digunakan untuk mengumpulkan data