BAB I PENDAHULUAN. Salah satu sektor industri yang berkembang pesat di Indonesia saat ini adalah

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Salah satu sektor industri yang berkembang pesat di Indonesia saat ini adalah pada sektor industri hiburan. Berbagai tempat-tempat hiburan di daerah perkotaan terus bertambah, mulai dari tempat hiburan yang hanya dinikmati oleh golongan-golongan tertentu, hingga tempat hiburan yang dapat dinikmati semua golongan-golongan. Setiap tempat hiburan memiliki daya tarik tersendiri dan memiliki penikmatnya masing-masing. Kemajuan teknologi merupakan salah satu faktor pendukung berkembangnya tempat-tempat hiburan di daerah perkotaan dan salah satu tempat hiburan yang sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi adalah tempat karaoke.

Memang sampai saat ini tidak ada data yang benar-benar valid kapan dan di mana karaoke pertama kali didirikan di Indonesia. Namun, berdasarkan data yang ada karaoke pada awalnya dianggap sebagai hiburan yang mahal dan dipandang sebagai hiburan malam yang berkonotasi negatif oleh sebagian masyarakat Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu, pandangan negatif ini semakin lama semakin menipis, bahkan telah hilang sama sekali pada masa sekarang. Menjamurnya karaoke-karaoke yang mengklasifikasikan dirinya sebagai karaoke keluarga di kota-kota besar, bahkan sudah pula masuk ke kota-kota kabupaten. Ini merupakan sebuah bukti yang jelas

(2)

bahwa karaoke sudah dianggap sebagai sebuah bentuk hiburan yang dibutuhkan dan diinginkan oleh masyarakat Indonesia (http://id.88db.com/id/Knowledge/Knowledge_Detail. page /Club-Asosiasi-Komunitas/?kid=22781).

Karaoke berasal dari bahasa Jepang yaitu kara dari kata karappo yang berarti kosong dan oke dari kata okesutura atau orkestra. Karaoke berarti sebuah musik orkestra yang kosong atau tidak dilengkapi dengan suara vokal. Meski awalnya hanya sekedar hiburan untuk melepas kepenatan, kini karaoke telah menjelma menjadi salah satu bagian yang dianggap mempunyai andil dalam perkembangan dunia musik. Bagaimana tidak, dengan karaoke setiap orang tanpa harus mempunyai suara bagus bisa langsung merasakan menjadi penyanyi sungguhan karena mereka menyanyi diiringi musik yang sama dengan yang dinyanyikan oleh penyanyi aslinya (http://soranalala.multiply .com/journal/item/5).

Oleh karena konotasi karaoke di Indonesia sudah demikian identiknya dengan hiburan malam, maka ditambahlah kata keluarga setelah kata karaoke sebagai upaya penekanan bahwa hiburan yang disediakan adalah hiburan yang baik untuk keluarga atau hiburan untuk orang yang baik-baik (http://leisure .id.finroll.com/karoke/13-karaoke/3101-contentproducer.html). Karaoke keluarga adalah tempat hiburan keluarga di mana pengunjung dapat bernyanyi bersama keluarga, teman-teman, teman kerja, relasi kerja dalam suasana kekeluargaan dan bersih serta jauh dari kesan maksiat. Saat ini Happy Puppy Karaoke Keluarga di Kota Medan merupakan salah satu tempat hiburan yang banyak dipilih oleh sebagian masyarakat Kota Medan

(3)

sebagai tempat mereka menghabiskan sebagian waktu mereka untuk bernyanyi, tidak terkecuali mahasiswa yang sedang belajar di perguruan tinggi.

Segudang aktivitas yang dilalui mahasiswa memaksa mereka untuk menetralisasikan kepenatan mereka dengan berkaraoke sebagai pelampiasannya. Disadari ataupun tidak, karaoke telah mengubah gaya hidup mereka. Idealnya gaya hidup mahasiswa itu seharusnya adalah baca buku, diskusi, maupun demonstrasi, akan tetapi kenyataannya sekarang karaoke telah dijadikan mahasiswa itu juga sebagai gaya hidup mereka. Bahkan, yang lebih mengherankannya lagi mereka sampai lupa waktu bila berada di tempat karaoke. Inilah yang membuat penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gaya hidup mahasiswa di Happy Puppy Karaoke Keluarga di Kota Medan.

Bedanya penelitian penulis dengan penelitian-penelitian yang sebelumnya yang meneliti tentang gaya hidup adalah dalam penelitian penulis, penulis ingin menggambarkan bagaimana gaya hidup mahasiswa di Happy Puppy Karaoke Keluarga di Kota Medan, sedangkan Liyansyah (2009) dalam skripsinya yang berjudul Dugem: Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif tentang Kegiatan Dugem di Retrospective), ia ingin mengkaji mengapa dugem dianggap sebagai sesuatu yang penting oleh para clubbers hingga menjadikannya sebagai gaya hidup, dan Rafika (2010) dalam skripsinya yang berjudul Musik R&B (Kajian tentang Gaya Hidup Pemain Musik R&B di Kota Medan), ia lebih ingin melihat bagaimana keberadaan musik R&B di Kota Medan, sedangkan gaya hidup pemain musik R&B

(4)

di Kota Medan sangat sedikit ia singgung dalam skripsinya yang mana ia menyatakan bahwa gaya hidup pemain musik R&B lebih meniru gaya hidup kebarat-baratan.

Kedewasaan manusia tidak terlepas dan dipisahkan dari latar belakang sosial budaya tempat seseorang dibesarkan, karena kebudayaan adalah pedoman bertingkah laku, cara seseorang membawa diri, dan menjadi bagian masyarakatnya. Kebudayaan diciptakan manusia dan menciptakan manusia yang selalu berhadapan dengan berbagai kemungkinan perubahan yang terjadi karena kemajuan teknologi. Walaupun setiap masyarakat dan kebudayaan berbeda dalam cara mempersiapkan seseorang atau anggotanya, untuk menghadapinya, namun kesamaannya adalah memberikan kematangan, kemandirian, pengetahuan, ketegasan untuk mengadakan pemilihan terhadap hal-hal yang dihadapi (Hans J. Daeng:2000).

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi permasalahan adalah bagaimana gaya hidup mahasiswa di Happy Puppy Karaoke Keluarga ?

Permasalahan ini akan diuraikan ke dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian yaitu :

1. Bagaimana pandangan mahasiswa tentang karaoke ? 2. Apa kegiatan yang dilakukan mahasiswa saat karaoke ? 3. Apa manfaat yang diperoleh mahasiswa dengan karaoke ?

(5)

1.3. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Jalan Teuku Umar Medan Ruko Airlangga City Point, tepatnya di Happy Puppy Karaoke Keluarga. Alasan penulis memilih lokasi ini adalah berdasarkan hasil observasi awal yang menunjukkan bahwa di Happy Puppy Karaoke Keluarga ini lebih sering dikunjungi oleh mahasiswa. Para pengunjung yang datang ke Happy Puppy Karaoke Keluarga harus reservation terlebih dahulu, lalu resepsionis akan menanyakan “atas nama siapa”, “pekerjaannya apa”, “pilih ruangan yang mana”, dan melalui resepsionis penulis memperoleh informasi bahwa kebanyakan pengunjung yang datang pekerjaannya sebagai mahasiswa.

Di sini penulis juga melakukan wawancara dengan beberapa orang yang datang berkunjung ke Happy Puppy Karaoke Keluarga. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, penulis juga memperoleh data bahwa kebanyakan pekerjaannya sebagai mahasiswa dan ini dibuktikan melalui Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) yang dapat menjelaskan bahwa mereka terdaftar di sebuah universitas atau perguruan tinggi. Selain itu, jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dari pusat kota dan tarif yang dikenakanpun masih terjangkau kantong mahasiswa.

1.4. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian membutuhkan tujuan agar penelitian yang dilakukan nantinya dapat berjalan dengan baik, adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

(6)

1. Untuk mengetahui pandangan mahasiswa tentang karaoke.

2. Untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan mahasiswa saat karaoke. 3. Untuk mengetahui manfaat yang diperoleh mahasiswa dengan

karaoke.

1.5. Manfaat Penelitian

Suatu penelitian selain memiliki tujuan sebagai dasar dalam proses kegiatannya juga dapat memberikan manfaat, adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh mengenai gaya hidup mahasiswa pada saat ini.

2. Dapat dijadikan bahan bacaan bagi mahasiswa yang hendak melakukan penelitian yang terkait dengan masalah yang penulis teliti.

1.6. Tinjauan Pustaka

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh tindakan manusia adalah kebudayaan, karena hanya sangat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tidak perlu dibiasakan dengan belajar yaitu hanya beberapa tindakan

(7)

naluri, beberapa refleks, beberapa tindakan akibat proses fisiologi, atau kelakuan apabila ia sedang membabi buta. Bahkan, berbagai tindakan manusia yang merupakan kemampuan naluri yang terbawa oleh makhluk manusia dalam gennya bersama kelahirannya (seperti misalnya makan, minum, atau berjalan dengan kedua kakinya), juga dirombak olehnya menjadi tindakan berkebudayaan (Koentjaraningrat, 2002:180).

Suatu golongan sosial merupakan suatu kesatuan manusia yang ditandai oleh suatu ciri tertentu, bahkan seringkali ciri itu juga dikenakan kepada mereka oleh pihak luar kalangan mereka sendiri. Walaupun demikian, suatu kesatuan manusia yang kita sebut golongan sosial itu mempunyai ikatan identitas sosial. Hal ini dapat disebabkan karena kesadaran identitas itu tumbuh sebagai respon atau reaksi terhadap caranya pihak luar memandang golongan sosial tadi, atau mungkin juga karena golongan itu memang terikat oleh suatu sistem nilai, sistem norma, dan adat istiadat tertentu (Koentjaraningrat, 2002:150-151).

Golongan sosial dapat terjadi karena manusia-manusia yang diklaskan kedalamnya mempunyai suatu gaya hidup yang khas, dan karena berdasarkan hal itu mereka dipandang oleh orang lain sebagai manusia yang menduduki suatu lapisan tertentu dalam masyarakat. Lapisan itu dapat dianggap lebih tinggi atau lebih rendah tergantung dari sudut orang yang memandang tadi. Karena warganya mempunyai gaya hidup khas yang sama, maka suatu lapisan atau klas sosial tentu dapat juga dianggap mempunyai suatu sistem norma yang sama, dan karena itu juga suatu rasa identitas golongan (Koentjaraningrat, 2002:153).

(8)

Menurut Winarno (1980:85), gaya hidup dapat diasumsikan sebagai cara-cara bertindak yang sering disebut mekanisme penyesuaian yakni cara-cara itu menjadi cara-cara bertindak yang bersifat kebiasaan. Cara-cara itu pada kenyataannya didasarkan pada pengalaman-pengalaman seseorang dalam kehidupannya. Dengan kata lain, gaya hidup seseorang itu merupakan gambaran dari watak, status, perilaku, dan peranannya dalam masyarakat.

Berbeda dengan Kartodirdjo (1987:53), gaya hidup merupakan suatu produk dari stratifikasi sosial sehingga faktor status, kedudukan, dan kekayaan dapat membentuk struktur gaya hidup. Gaya hidup ini pada hakekatnya akan membentuk suatu eksklusifme yang tidak lain bertujuan hendak membedakan status antara golongan yang satu dengan golongan yang lainnya dalam suatu stratifikasi sosial.

Robert Redfield, seorang antropolog yang pernah melihat tentang gaya hidup petani desa sebagaimana dikutip oleh Danandjaja (1994:47) menyatakan bahwa gaya hidup petani desa sebenarnya adalah semacam human type atau tipe manusia yang dapat dikenal dengan segera, agak tersebar di mana-mana, bersifat tahan lama, dan timbul sebagai akibat peradaban (civilization). Gaya hidup semacam ini mungkin dikembangkan sebagai akibat adanya adaptasi dari sifat masyarakat folk dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup baru yang diakibatkan oleh timbulnya kota.

Selain itu, Robert Redfield sebagaimana dikutip oleh Menno (1994:44-45) juga mengemukakan bahwa komunitas kota lebih berorientasi kepada hal-hal yang bersifat material dan rasional, sehingga hubungan-hubungan menjadi impersonal dan sekunder, bukan lagi relation oriented seperti yang terdapat dalam komunitas

(9)

pedesaan yang mengandalkan hubungan-hubungan yang emosional dan primer, di mana orang saling mengenal secara pribadi dan dalam hampir semua aspek kehidupan. Di kota orang saling mengenal hanya dalam hubungan dengan aspek-aspek tertentu saja yang berdasarkan perhatian dan kepentingan. Akibat banyaknya dan bervariasinya tuntutan dalam bertingkah laku dan bertindak sebagai anggota masyarakat yang berorientasi kepada sasaran (goal) dan pencapaian (achievement), maka gaya hidup masyarakat kota lebih diarahkan kepada penampilan fisik dan kualitas fisik sehingga tampak civilized.

Salah satu faktor utama yang mendorong munculnya gaya hidup adalah pola konsumsi. Pola konsumsi masyarakat perkotaan telah menjadikan barang-barang ataupun jasa sebagai identitas mereka. Barang dan jasa dikonsumsi bukan dikarenakan kebutuhan mereka, melainkan hanya sebatas memenuhi keinginan dan penunjuk identitas sosial mereka. Pola konsumsi masyarakat perkotaan ini telah mengubah nilai suatu produk yang awalnya memiliki nilai fungsional menjadi memiliki nilai simbolis. Proses konsumsi simbolis merupakan tanda penting dari pembentukan gaya hidup, di mana nilai-nilai simbolis dari suatu produk dan praktek telah mendapat penekanan yang besar dibandingkan dengan nilai-nilai fungsional. Hal ini paling tidak dapat dijelaskan dengan tiga cara. Pertama, kelas sosial telah membedakan proses konsumsi, di mana setiap kelas menunjukkan proses identifikasi yang berbeda. Secara umum memang memperlihatkan bahwa pilihan-pilihan dilakukan sesuai dengan kelas, di mana integrasi ke dalam satu tatanan umum tidak terbentuk sepenuhnya. Nilai simbolis dalam konsumsi tampak diinterpretasikan

(10)

secara berbeda oleh kelompok yang berbeda. Kedua, barang yang dikonsumsi kemudian menjadi wakil dari kehadiran. Hal ini berhubungan dengan aspek-aspek psikologis, di mana konsumsi suatu produk berkaitan dengan perasaan atau rasa percaya diri yang menunjukkan bahwa itu bukan hanya sekedar aksesoris, akan tetapi barang-barang merupakan isi dari kehadiran seseorang karena dengan cara itu ia berkomunikasi (Goffman, 1951). Ketiga, berdasarkan proses konsumsi dapat dilihat bahwa konsumsi citra (image) di satu pihak telah menjadi proses konsumsi yang penting, di mana citra yang dipancarkan oleh suatu produk dan praktek (seperti pakaian atau makanan) merupakan alat ekspresi diri bagi kelompok. Bagi golongan kelas menengah atas citra yang melekat pada suatu produk merupakan instrumen modernitas yang mampu menegaskan keberadaannya dan identitasnya. Proses identifikasi yang terwujud melalui proses konsumsi merupakan proses aktif di dalam konsumsi citra yang menyebabkan intensifikasi kesadaran kelas (Irwan Abdullah, 2006:33-34).

Dalam mengkonsumsi atau dalam memilih produk mana yang akan dikonsumsi, konsumen sebenarnya memiliki kebebasan penuh untuk memilihnya, walaupun kebebasan itu sendiri dalam beberapa kasus agak rancu atau apa yang oleh Zukin dan Maguire (2004:177) disebut sebagai “Democratized desire”. Democratized desire adalah demokrasi yang didikte, konsumen seolah-olah memiliki kebebasan memilih padahal pilihan-pilihan tersebut diatur sepenuhnya oleh produsen, misalnya melalui iklan, sehingga kegiatan konsumsi cenderung lebih sebagai keharusan daripada sebuah pilihan. Kebebasan mengkonsumsi seharusnya adalah setiap manusia

(11)

dapat mengkonsumsi apapun yang ia suka, asal ia mempunyai akses untuk itu, namun pemilihan ini juga tidak sepenuhnya atas kemauan konsumen tersebut, tetapi juga bisa dipengaruhi oleh norma di masyarakat tempat ia tinggal. Ungkapan “you are what you drive” adalah gambaran bahwa produk apapun yang kita konsumsi akan menunjukkan “siapa” diri kita atau “posisi” kita di masyarakat, oleh karena itu dalam pemilihan produk yang akan dikonsumsi seseorang cenderung akan memperhatikan nilai atau makna dalam produk itu (Sopingi, 1995). Hal hampir senada juga diungkapkan oleh David Chaney (1996) yang menyatakan bahwa dalam dunia modern gaya hidup kita membantu mendefinisikan sikap, nilai-nilai, dan kekayaan, serta posisi sosial kita.

Pada akhir abad ke-20 perkembangan teknologi khususnya dalam bidang komunikasi berlangsung dengan sangat pesat. Munculnya radio, televisi, dan internet menyebabkan batas ruang antara satu negara dengan negara lainnya menjadi tidak ada (Piliang, 1998:81). Keadaan ini membuat transfer kebudayaan menjadi sangat cepat. Salah satu akibat dari perpindahan budaya dari satu wilayah ke wilayah yang lainnya ialah munculnya berbagai gaya hidup yang dipengaruhi oleh kegiatan konsumsi terhadap barang, jasa, dan aktivitas-aktivitas waktu luang. Kegiatan konsumsi tersebut memunculkan apa yang disebut budaya konsumen, di mana proses konsumsi dilihat sebagai perilaku manusia yang mengubah benda-benda untuk tujuan mereka sendiri (Lury, 1998:3). Oleh Lury budaya konsumen diartikan sebagai “bentuk budaya materi” yakni budaya pemanfaatan benda-benda dalam masyarakat Eropa-Amerika kontemporer. Kini, apa yang dinikmati oleh masyarakat Eropa-Eropa-Amerika

(12)

kontemporer tersebut yang notabene adalah negara kaya ditiru oleh masyarakat dunia lain, termasuk kita.

Budaya konsumen dicirikan dengan peningkatan gaya hidup (life style). Justru menurut Lury (1998), proses pembentukan gaya hiduplah yang merupakan hal terbaik yang mendefinisikan budaya konsumen. Dalam budaya konsumen kontemporer, istilah itu bermakna individualitas, pernyataan diri, dan kesadaran diri. Dalam hal ini, tubuh, pakaian, waktu senggang, pilihan makanan dan minuman, rumah, mobil, pilihan liburan, dan lain-lain menjadi indikator cita rasa individualitas dan gaya hidup seseorang. Gaya hidup merupakan ciri sebuah dunia modern. Orang tidak lagi berkomunikasi secara verbal dengan kata-kata, melainkan dengan bentuk komunikasi yang baru yang tidak mengharuskan setiap individu harus saling mengenal untuk mengetahui siapa mereka. Bentuk komunikasi inilah yang sepertinya akhir-akhir ini menjadi trend sebagai ciri masyarakat modern itu tadi.

Selera dalam pemilihan barang-barang konsumsi menjadi sedemikian penting karena ini akan berkaitan dengan siapa saja seseorang itu akan diterima bergaul, karena terdapat kecenderungan bahwa individu hanya akan “diterima” oleh orang dengan kelas sosial yang sama. Fenomena ini tentu paling ketara ada di lingkungan masyarakat golongan kelas menengah atas yaitu mereka yang sudah terpenuhi kebutuhan primernya. Sebenarnya gejala seperti ini walaupun sedikit juga terjadi di golongan bawah, namun gejala tersebut sukar diamati karena kadarnya sangat kecil (Fernando, 2006:114-115).

(13)

Sekarang ini adalah era di mana orang membeli barang bukan karena nilai kemanfaatannya namun karena gaya hidup, demi sebuah citra yang diarahkan dan dibentuk oleh iklan dan mode lewat televisi, tayangan sinetron, acara infotainment, ajang kompetisi para calon bintang, gaya hidup selebriti, dan sebagainya. Yang ditawarkan iklan bukanlah nilai guna suatu barang, akan tetapi citra dan gaya bagi pemakainya. Tidak penting apakah barang itu berguna atau tidak, diperlukan atau tidak oleh konsumen. Karena itu yang kita konsumsi adalah makna yang dilekatkan pada barang itu sehingga kita tidak pernah mampu memenuhi kebutuhan kita. Seakan-akan terpuaskan padahal kekurangan, seakan-akan makmur padahal miskin (Baudrillard, 2004).

Dalam perilaku konsumen secara samar orang membedakan pengertian kelas sosial dengan pengertian status sosial. Lebih lanjut dijelaskan Max Weber bahwa kelas sosial mengacu kepada pendapatan atau daya beli, sementara status sosial lebih mengarah pada prinsip-prinsip konsumsi yang berkaitan dengan gaya hidup.Banyak definisi yang disodorkan mengenai gaya hidup. Gaya hidup adalah frame of reference yang dipakai seseorang dalam bertingkah laku dan konsekuensinya akan membentuk pola perilaku tertentu. Terutama bagaimana ia ingin dipersepsikan oleh orang lain, sehingga gaya hidup sangat berkaitan dengan bagaimana ia membentuk image di mata orang lain berkaitan dengan status sosial yang diproyeksikannya.

Untuk merefleksikan image inilah dibutuhkan simbol-simbol status tertentu yang sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku konsumsinya.Perilaku konsumsi yang didorong oleh orientasi diri memiliki tiga kategori yaitu prinsip, status, dan

(14)

action. Bagi orang yang orientasi dirinya bertumpu pada prinsip, dalam mengambil keputusan pembelian berdasarkan keyakinannya, sehingga keputusannya untuk membeli bukan hanya karena ikut-ikutan atau sekedar untuk mengejar gengsi. Bisa dikatakan tipe ini lebih rasional. Sedangkan yang bertumpu pada status, keputusannya dalam mengkonsumsi didominasi oleh apa kata orang. Produk-produk branded menjadi pilihannya. Bagi yang gaya hidupnya bertumpu kepada action, keputusan dalam berkonsumsi didasari oleh keinginannya untuk beraktivitas sosial maupun fisik, mendapatkan selingan atau menghadapi resiko. Sehingga demikian dapatlah dikatakan bahwagaya hidup berkaitan dengan bagaimana seseorang memanfaatkan resources yang dimilikinya untuk merefleksikan dirinya berdasarkan nilai, orientasi, minat, pendapat yang berkaitan dengan status sosialnya (http://www.jakartaconsulting.com/art-01-35.htm).

Weber mengemukakan bahwa persamaan kehormatan status terutama dinyatakan melalui persamaan gaya hidup (style of life). Di bidang pergaulan, gaya hidup ini dapat berwujud pembatasan terhadap pergaulan erat dengan orang yang statusnya lebih rendah. Selain adanya pembatasan dalam pergaulan, menurut Weber kelompok status ditandai pula oleh adanya berbagai hak istimewa dan monopoli atas barang dan kesempatan ideal maupun material, kelompok status dibeda-bedakan atas dasar gaya hidup yang tercermin dalam gaya konsumsi. Weber mengemukakan bahwa kelompok status merupakan pendukung adat yang menciptakan dan melestarikan semua adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat (Kamanto Sunarto, 1993:93).

(15)

Gaya hidup bisa merupakan identitas kelompok. Gaya hidup setiap kelompok akan mempunyai ciri-ciri unit tersendiri. Gaya hidup secara luas diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia disekitarnya (pendapat). Gaya hidup pada prinsipnya adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya. Ada orang yang senang mencari hiburan bersama teman-temannya, ada yang senang menyendiri, ada yang berpergian bersama keluarga, berbelanja, melakukan aktivitas yang dinamis, dan ada pula yang memiliki waktu luang dan uang berlebih untuk kegiatan sosial keagamaan. Gaya hidup dapat mempengaruhi perilaku seseorang dan akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang (http://frommarketing.blogspot.com/2009/08/definisi-gayahidup.html).

Status sosial seseorang atau sekelompok warga terungkap dari gaya hidupnya. Gaya hidup merupakan tindakan dan interaksi sosial yang dilembagakan. Gaya hidup tertentu menjadi lambang suatu status sosial. Artinya, gaya hidup tersebut sudah menjadi ciri yang melekat pada status sosial tertentu (M. Sitorus, 2000:101). Munculnya kelas-kelas sosial dalam masyarakat perkotaan ditandai dengan adanya perbedaan-perbedaan gaya hidup dan cara hidup (style of life dan way of life), baik dalam hal pengalaman, pengetahuan, sikap, dan perilaku maupun pandangan mengenai dunia sekitarnya (M. Sitorus, 2003:93).

Menurut Parsudi Suparlan (1996), setiap makhluk sosial memiliki kemampuan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan

(16)

pengalamannya. Dan itu dijadikan kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong suatu perilaku. Pernyataan yang dilontarkan oleh Suparlan tadi tentunya dapat digunakan sebagai acuan untuk melihat perilaku tiap-tiap individu ketika melakukan interaksi yang efektif. Semua itu ditujukan untuk mewujudkan sikap, pikiran, dan perasaan sehingga dapat tergambarkan perilaku yang khas pada masyarakat tersebut.

1.7. Metode Penelitian

1.7.1. Tipe Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Suatu penelitian yang bermaksud memberikan gambaran secara terperinci mengenai gaya hidup mahasiswa di Happy Puppy Karaoke Keluarga.

1.7.2. Teknik Pengumpulan Data

Dalam mendeskripsikan mengenai gaya hidup mahasiswa di Happy Puppy Karaoke Keluarga, maka dilakukanlah penelitian lapangan sebagai suatu upaya untuk memperoleh data primer. Selain itu, juga diperlukan berbagai sumber kepustakaan sebagai suatu upaya untuk memperoleh data sekunder. Dalam penelitian kualitatif,

(17)

untuk memperoleh data primer penulis menggunakan metode observasi dan wawancara.

Observasi adalah suatu tindakan untuk meneliti sesuatu gejala (tingkah laku, peristiwa, artefak) dengan cara mengamati. Metode observasi dilakukan guna mengetahui situasi dalam konteks ruang dan waktu pada daerah penelitian. Menurut penulis, data yang diperoleh dari hasil wawancara saja tidaklah cukup untuk menjelaskan fenomena yang terjadi, oleh karena itu diperlukannya suatu aktivitas dengan langsung mendatangi tempat penelitian dan melakukan pengamatan. Pengamatan akan dilakukan pada setiap aktivitas atau peristiwa yang dianggap perlu atau yang berhubungan dengan tujuan penelitian. Observasi akan dilengkapi dengan kamera foto untuk mempublikasikan hal-hal yang dianggap penting dalam penelitian. Metode observasi yang digunakan adalah observasi partisipasi, di mana peneliti terlibat langsung dengan kegiatan karaoke yang dilakukan mahasiswa yaitu bernyanyi, berjoget, dan lain-lain. Namun, ada kalanya peneliti juga menggunakan observasi tanpa partisipasi, di mana peneliti tidak terlibat langsung, akan tetapi hanya sebatas sebagai pengamat saja yaitu mengamati apa-apa saja yang mahasiswa lakukan pada saat karaoke.

Wawancara mendalam yang merupakan metode selanjutnya ditujukan terhadap informan di lokasi penelitian. Informan di sini adalah para mahasiswa yang melakukan kegiatan karaoke di Happy Puppy Karaoke Keluarga minimal satu kali dalam sebulan. Penggunaan metode ini adalah untuk mendapatkan data sesuai dengan permasalahan-permasalahan yang menjadi tujuan dari penelitian. Selanjutnya

(18)

penggunaan metode ini akan disertai dengan alat bantu berupa tape recorder, interview guide, dan catatan tertulis.

Teknik wawancara ini dilakukan dengan cara bertatap muka langsung dengan informan dengan berpedoman pada interview guide yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk mendapatkan data yang konkrit yang lebih rinci dan mendalam. Perlengkapan yang digunakan pada saat wawancara adalah catatan tertulis untuk mencatat bagian-bagian yang penting dari hasil wawancara. Selain itu, tape recorder juga digunakan untuk merekam proses wawancara dalam rangka antisipasi terhadap keabsahan data yang diperoleh pada saat melakukan wawancara.

Studi kepustakaan sebagai teknik pengumpulan data selanjutnya dimaksudkan sebagai suatu sarana pendukung untuk mencari dan mengumpulkan data dari beberapa buku dan hasil penelitian para ahli lain yang berhubungan dengan masalah penelitian guna lebih menambah pengertian dan wawasan penulis demi kesempurnaan akhir penelitian ini.

1.8. Teknik Analisis Data

Bahwasanya dalam penelitian ini penulis berusaha untuk bersikap objektif terhadap data yang diperoleh di lapangan. Data ini diperlakukan sebagaimana adanya, tanpa dikurangi, ditambahi, ataupun diubah, sehingga tidak akan mempengaruhi keaslian data-data tersebut.

(19)

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Analisis data dimulai dengan mengumpulkan seluruh data yang diperoleh ketika melakukan pengamatan dan wawancara beserta dari sumber-sumber lainnya. Kemudian data yang terkumpul dibaca dan dipelajari untuk mengetahui apakah data yang terkumpul sudah sesuai dengan yang diharapkan ataupun kalau masih ada data yang kurang dapat dilakukan wawancara selanjutnya.

Langkah berikutnya adalah menyusun data-data dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorisasikan. Berbagai kategori tersebut dilihat kaitannya satu dengan yang lain dan harus saling berhubungan. Dengan cara ini diharapkan akan ditemukan jawaban yang akan menjelaskan permasalahan-permasalahan yang diteliti, sehingga menghasilkan sebuah laporan yang tersusun secara sistematis.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :