BAB II LANDASAN TEORI. yang saling mendukung antara yang satu dengan yang lain.

25 

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

II.1. Kesepian

II.1.1. Definisi Kesepian

Hampir semua orang, tak terkecuali remaja pernah merasa kesepian. Banyak sekali definisi mengenai kesepian yang dikemukakan oleh beberapa ahli, yang saling mendukung antara yang satu dengan yang lain.

Kesepian didefinisikan oleh Perlman dan Peplau (1982) sebagai suatu tanda peringatan bagi seseorang yang memiliki kekurangan dalam hubungan sosial. Dalam beberapa cara yang penting, kekurangan ini mungkin muncul karena kualitas ataupun kuantitas seseorang yang sedikit dalam melakukan hubungan sosial (Sears dkk, 1999).

Weiss (dalam Peplau dan Perlman, 1982) mengatakan kesepian tidak disebabkan kerena sendiri tetapi dikarenakan tidak memiliki seseorang yang berarti dalam suatu hubungan. Kesepian nampak sebagai respon dari ketidakhadiran suatu hubungan.

Kesepian juga berarti suatu keadaan mental dan emosional yang terutama dicirikan oleh adanya perasaan terasing dan kurangnya hubungan sosial yang ada (Bruno,2000).Menurut Brehm dan Kassin (1993) kesepian adalah perasaan kurang memiliki hubungan sosial yang diakibatkan ketidakpuasan dengan hubungan sosial yang ada (dalam Dayakisni & Hudaniah, 2003). Kesepian menurut Fieldman (1985) adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan tingkatan dari

(2)

keinginan untuk berhubungan dengan orang lain. Sementara itu menurut Baron dan Byrne (1994) adalah suatu perasaan ketika seseorang ingin membangun sebuah hubungan dengan orang tetapi dia tidak dapat melakukannya.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kesepian adalah suatu perasaan yang dialami oleh seseorang ketika individu tersebut ingin membangun sebuah hubungan dengan orang tetapi dia tidak dapat melakukannya.

II.1.2. Tipe-tipe Kesepian

Weiss (dalam De Jong Gierveld & Tilburg, 1999) mengemukakan bahwa di dalam perasaan kesepian terdapat 2 (dua) komponen yaitu kesepian emosional (emotional loneliness) dan kesepian sosial (social loneliness) yaitu :

1. Kesepian Emosional (emotional loneliness)

Merupakan kesepian yang diakibatkan oleh tidak adanya ikatan yang dekat atau intim (intimate attachment) dengan seseorang sehingga tidak dapat bergantung kepada siapa pun. Hubungan yang ada kurang memuaskan, atau merasa lingkungan sosial kurang memahaminya. 2. Kesepian Sosial (social loneliness)

Merupakan kesepian yang diakibatkan oleh tidak adanya teman, saudara atau orang lain dari jaringan sosial dimana aktivitas-aktivitas dan kepentingan-kepentingan bisa saling dibagi dan adanya suatu penolakan dari lingkungan sosial.

Berdasarkan teori diatas, akan membantu peneliti untuk lebih memahami tipe-tipe kesepian dan untuk mengungkap inti permasalahan dari penelitian ini.

(3)

Beberapa penyebab kesepian yang didasarkan oleh tipe kesepian yang dikemukakan oleh Weiss yaitu :

1. Kesepian secara emosional disebabkan adanya kekurangan dalam hubungan yang dijalin. Berikut ini alasan yang dikemukakan oleh Rubenstein dan Shaver (dalam Brehm, 2002) yaitu :

a. Merasa berbeda, merasa tidak dimengerti, tidak dibutuhkan dan tidak memiliki teman dekat yang cocok.

b. Adanya perubahan mengenai apa yang diharapkan dari suatu hubungan pertemanan. Di suatu waktu, hubungan sosial individu mungkin cukup memuaskan, sehingga tidak merasa kesepian. Hubungan ini berlanjut, hingga suatu saat individu merasa hubungan tersebut tidak memuaskan karena merubah apa yang diinginkan. Peplau et al (dalam Brehm, 2002) mengemukakan perubahan tersebut bersumber dari perubahan mood, bertambahnya usia dan perubahan situasi.

2. Kesepian secara sosial yaitu :

a. Dikarenakan individu dikeluarkan dari suatu kelompok, tidak dicintai oleh orang-orang disekitar (Beck et al, dalam Myers, 1999).

b. Individu akan merasa dirinya kesepian ketika mereka merasa ditolak oleh teman, diasingkan, diisolasi, dan tidak memiliki kontrol terhadap situasi (dalam Rice, 1996).

c. Harga diri seseorang

McWhirter et at., (dalam Brehm, 2002) menyatakan bahwa kesepian berhubungan dengan tingkat harga diri yang rendah. Orang yang

(4)

menyatakan dirinya kesepian, biasanya memandang diri mereka tidak layak dan tidak patut dicintai. Dan rendahnya tingkat harga diri ini, mengakibatkan orang-orang yang kesepian merasa tidak nyaman dengan situasi sosialnya (Vaux, dalam Brehm, 2002).

Berdasarkan pada penyebab kesepian di atas, peneliti juga akan menjadikan teori tersebut sebagai acuan atau pedoman untuk melakukan wawancara, agar dapat terungkap penyebab-penyebab kesepian pada remaja.

II.1.3. Dampak Perasaan Kesepian pada Remaja

Kesepian pada umumnya akan menimbulkan berbagai dampak pada orang yang mengalaminya, antara lain :

1. Tingkat perasaan kesepian yang mendalam akan berhubungan dengan berbagai masalah personal, seperti depresi, pemakaian alkohol dan obat-obatan, penyakit fisik dan bahkan resiko kematian (Taylor, Peplau & Sears, 2000)

2. Kesepian disertai oleh berbagai emosi negatif, seperti depresi, kekhawatiran, ketidakpuasan, menyalahkan diri sendiri (Anderson et al, dalam Baron & Byrne, 2000)

3. Orang yang mengalami kesepian dapat tenggelam dalam kepasifan yang menyedihkan, menangis, tidur, minum, makan, memakai obat penenang dan menonton televisi tanpa tujuan (Deaux, Dane & Wrigtsman, 1993).

(5)

II.1.4. Aspek-aspek Kesepian

Menurut Bruno (2000) yang menjadi aspek-aspek kesepian, yaitu: a) Isolasi

Suatu keadaan dimana seseorang merasa terasing dari tujuan-tujuan dan nilai-nilai dominan dalam masyarakat kemenangan, agresivitas, manipulasi merupakan faktor-faktor pemicu munculnya keterasingan.

b) Penolakan

Penolakan adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak diterima, diusir dan dihalau oleh lingkungannya. Seseorang yang kesepian akan merasa dirinya ditolak dan ditinggalkan walaupun berada ditengah-tengah keramaian.

c) Merasa disalah mengerti

Suatu keadaan dimana seseorang merasa seakan-akan dirinya disalahkan dan tidak berguna. Seseorang yang selalu merasa disalah mengerti dapat menimbulkan rasa rendah diri, rasa tidak percaya diri dan merasa tidak mampu untuk bertindak.

d) Merasa tidak dicintai

Adalah suati keadaan dimana seseorang tidak mendapatkan kasih sayang, tidak diperlukan secara lembut dan tidak dihormati, merasa tidak dicintai akan jauh dari persahabatan dan kerjasama. Suatu perhatian dalam analisis transaksi adalah suatu unit pengakuan. Unit ini adalah merupakan penghargaan atau bukti utama dari cinta

(6)

atau kasih sayang. Setiap orang membutuhkan perhatian supaya dapat berkembang disetiap tahapan umurnya. Perhatian yang diperoleh secara teratur adalah cara terbaik untuk mengatasi kesepian. Tanpa adanya perhatian seseorang dapat menjadi terasing secara emosional.

e) Tidak mempunyai sahabat

Tidak ada seseorang yang berada disampingnya, tidak ada hubungan, tidak dapat berbagi. Orang yang paling tidak berharga adalah orang yang tidak mempunyai sahabat.

f) Malas membuka diri

Suatu keadaan dimana seseorang malas menjalin keakraban, takut terluka, senantiasa merasa cemas dan takut jangan-jangan orang lain akan melukainya.

g) Bosan

Suatu perasaan seseorang yang merasa jenuh tidak menyenangkan tidak menarik, merasa lemah, orang-orang yang pembosan biasanya orang-orang yang tidak pernah menikmati keadaan-keadaan yang ada.

h) Gelisah

Suatu keadaan dimana seseorang merasa resah, tidak nyaman dan tentram didalam hati atau merasa selalu khawatir, tidak senang, dan perasaan galau dilanda kecemasan.

(7)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek kesepian merupakan suatu keadaan mental dan emosional seseorang yang berhubungan dengan perasaan kesepian, yang meliputi keterasingan, tidak diterima orang lain, merasa tidak dicintai, gelisah, bosan, tidak mempunyai sahabat, merasa disalah mengertikan.

II. 1.5. Penyebab Kesepian

Menurut Brehm (1992) ada empat hal yang menyebabkan seseorang mengalami kesepian, yaitu :

1. Ketidakadekuatan dalam hubungan yang dimiliki seseorang

Menurut Brehm (1992) hubungan seseorang yang tidak adekuat akan menyebabkan seseorang tidak puas akan hubungan yang dimiliki. Ada banyak alasan seseorang merasa tidak puas dengan hubungan yang tidak adekuat. Rubenstein dan Shaver (1982) menyimpulkan beberapa alasan yang banyak dikemukakan oleh orang yang kesepian, yaitu sebagai berikut :

a. Being unattached; tidak memiliki pasangan, tidak memiliki partner seksual, berpisah dengan pasangannya atau pacarnya.

b. Alienation; merasa berbeda, merasa tidak dimengerti, tidak dibutuhkan dan tidak memiliki teman dekat.

c. Being Alone; pulang ke rumah tanpa ada yang menyambut, selalu sendiri.

d. Forced isolation; dikurung di dalam rumah, dirawat inap di rumah sakit, tidak bisa kemana-mana.

(8)

e. Dislocation; jauh dari rumah (merantau), memulai pekerjaan atau sekolah baru, sering pindah rumah, sering melakukan perjalanan (dalam Brehm 1992).

2. Terjadi perubahan terhadap apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan

Menurut Brehm (1992) kesepian juga dapat muncul karena terjadi perubahan terhadap apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan. Pada saat tertentu hubungan sosial yang dimiliki seseorang cukup memuaskan. Sehingga orang tersebut tidak mengalami kesepian. Tetapi disaat lain hubungan tersebut tidak lagi memuaskan karena orang itu telah merubah apa yang diinginkannya dari hubungan tersebut. Menurut Peplau (dalam Brehm, 1992), perubahan itu dapat muncul dari beberapa sumber yaitu :

a. Perubahan mood seseorang. Jenis hubungan yang diinginkan seseorang ketika sedang senang berbeda dengan jenis hubungan yang diinginkan ketika sedang sedih. Bagi beberapa orang akan cenderung membutuhkan orangtuanya ketika sedang senang dan akan cenderung membutuhkan teman-temannya ketika sedang sedih.

b. Usia. Seiring dengan bertambahnya usia, perkembangan seseorang membawa berbagai perubahan yang akan mempengaruhi harapan atau keinginan orang itu terhadap suatu hubungan. Jenis persahabatan yang cukup memuaskan ketika seseorang berusia 15 tahun mungkin tidak akan memuaskan orang tersebut saat berusia 25 tahun.

(9)

c. Perubahan situasi. Banyak orang tidak mau menjalain hubungan emosional yang dekat dengan orang lain ketika mereka sedang membina karir. Namun, ketika karir sudah mapan orang tersebut akan dihadapkan pada kebutuhan yang besar akan suatu hubungan yang memiliki komitmen secara emosional.

Jadi, menurut Brehm (1992), pemikiran, harapan dan keinginan seseorang terhadap hubungan yang dimiliki dapat berubah. Jika hubungan yang dimiliki orang tersebut tidak ikut berubah sesuai dengan pemikiran, harapan dan keinginannya maka orang itu akan mengalami kesepian. 3. Self-esteem dan causal attribution

Kesepian berhubungan dengan self-esteem yang rendah. Orang yang memiliki self-esteem yang rendah cenderung merasa tidak nyaman pada situasi yang beresiko secara sosial (misalnya berbicara didepan umum dan berada di kerumunan orang yang tidak dikenal). Dalam keadaan seperti ini orang tersebut akan menghindari kontak-kontak sosial tertentu secara terus menerus akibatnya akan mengalami kesepian.

4. Perilaku interpersonal

Perilaku interpersonal seseorang yang kesepian akan menyelidiki orang itu untuk membangun suatu hubungan dengan orang lain. Dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami kesepian, orang yang mengalami kesepian akan menilai orang lain secara negatif, mereka tidak begitu menyukai orang lain, tidak mempercayai orang lain, menginterpretasikan tindakan dan intensi

(10)

(kecenderungan untuk berperilaku) orang lain secara negatif, dan cenderung memegang sikap-sikap yang bermusuhan.

Orang yang mengalami kesepian cenderung terhambat dalam keterampilan sosial, cenderung pasif bila dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami kesepian dan ragu-ragu dalam mengekspresikan pendapat di depan umum. Orang yang mengalami kesepian cenderung tidak responsif dan tidak sensitif secara sosial. Orang yang mengalami kesepian juga cenderung lambat dalam membangun keintiman dalam hubungan yang dimilikinya dengan orang lain. Perilaku ini akan membatasi kesempatan orang itu untuk bersama dengan orang lain dan memiliki kontribusi terhadap pola interaksi yang tidak memuaskan (Peplau & Perlman, Saks & Krupart, dalam Brehm, 1992).

II. 1.7. Perasaan Kesepian

Ketika mrngalami kesepian individu akan merasakan ketidakpuasan, kehilangan, dan distress. Namun, hal ini tidak berarti bahwa perasaan ini sama disetiap waktu. Faktanya, orang-orang yang berbeda bisa saja memiliki perasaan kesepian yang berbeda dalam situasi yang berbeda pula (Lopata dalam Brehm, 1992).

Berdasarkan survei mengenai kesepian yang dilakukan oleh Rubeinstein, Shaver & Peplau (dalam Brehm, 1992) diuraikan bahwa terdapat empat jenis perasaan yang dialami oleh orang yang kesepian, yaitu desperation, impation boredom, self-deprecation, dan depression. Pembagiannya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

(11)

Tabel 1

Empat Jenis Perasaan Ketika kesepian

Desperation

Impatient Boredom

Self-Deprecation Depression

Sedih Tidak sabar Tidak atraktif Sedih

Tidak berdaya Bosan Terpuruk Depresi

Takut Berada di tempat

lain

Bodoh Hampa

Tidak punya harapan

Kesulitan Malu Terisolasi

Merasa ditinggalkan Marah Merasa tidak aman Menyesali diri

Mudah diserang Tidak dapat berkonsentrasi Melankolis Berharap memiliki seseorang yang spesial

Sumber: Rubeninstein, Shaver & Peplau (dalam Brehm 2002 hal 399)

a. Desperation , yaitu perasaan yang sangat menyedihkan, mampu melakukan tindakan yang nekat, disertai dengan indikator perilaku yaitu putus asa, tidak

(12)

berdaya, takut, tidak punya harapan, merasa ditinggalkan serta mudah mendapat kecaman dari orang lain.

b. Impatient Boredom, yaitu rasa bosan yang tidak tertahankan, jenuh, tidak suka menunggu lama, dengan indikator perilaku seperti tidak sabar, ingin berada di tempat lain, kesulitan menghadapi suatu keadaan, sering marah, serta tidak dapat berkonsentrasi.

c. Self-Deprecation, yaitu perasaan dimana seseorang mengutuk serta menyalahkan diri sendiri, tidak mampu menyelesaikan masalahnya, dengan indikator perilaku seperti tidak atraktif, terpuruk, merasa bodoh, malu, serta merasa tidak aman.

d. Depression, menurut Davison (2004) merupakan tahapan emosi yang ditandai dengan kesedihan yang mendalam, perasaan bersalah, menarik diri dari orang lain, kurang tidur, dengan indikator perilaku dari Brehm (2002) yaitu, sedih, tertekan, terisolasi, hampa, menyesali diri, mengasingkan diri, serta berharap memiliki seseorang yang spesial.

II. 1.8. Karakteristik Orang yang Kesepian

Menurut Myers (1999) orang yang kesepian secara kronis kelihatan terjebak di dalam lingkaran setan kegagalan diri dalam kognisi sosial dan perilaku sosial. Orang yang kesepian memiliki penjelasan yang negatif terhadap depresi yang dialami, menyalahkan diri sendiri atas hubungan sosial yang buruk dan berbagai hal yang berada di luar kendali (Anderson & Snodgrass, dalam Myers, 1999). Lebih jauh lagi orang yang kesepian menerima orang lain dalam cara yang

(13)

negatif (Jones, Wittenberg & Reis, dalam Myers, 1999). Pandangan negatif ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang yang mengalami tersebut. Pandangan negatif ini akan menyebabkan orang yang mengalami loneliness kehilangan kepercayaan sosial dan menjadi pesimis terhadap orang lain, yang justru akan menghambatnya dalam mengurangi loneliness mereka. (Myers, 1999).

Orang yang loneliness cenderung menjadi self-conscious dan memiliki self esteem yang rendah (Cheek, Melcior & Vaux dalam Myers, 1999). Ketika berbicara dengan orang asing, orang yang kesepian lebih banyak membicarakan diri sendiri dan menaruh sedikit ketertarikan terhadap lawan bicaranya. Setelah pembicaraan selesai biasanya kenalan baru tersebut memberi kesan yang negatif terhadap orang yang kesepian tersebut (Jones dalam Myers, 1999).

Tidak ada orang yang dapat kebal terhadap kesepian, tetapi beberapa orang memiliki resiko yang tinggi untuk mengalami kesepian (Taylor, Peplau & Sears, 2000). Selanjutnya, menurut Brehm (1992) beberapa orang rentan terhadap kesepian dan beberapa orang yang lain tidak. Perbedaan ini berkaitan dengan usia, status pernikahan dan gender.

1. Usia

Orang yang berusia tua memiliki stereotipe tertentu di dalam masyarakat. Banyak orang yang menganggap semakin tua seseorang semakin merasa kesepian. Tetapi banyak penelitian yang telah membuktikan stereotipe ini keliru. Berdasarkan penelitian Ostrov & Offer (dalam Brehm, 1992) ditemukan bahwa orang yang paling kesepian justru berasal dari orang-orang yang berusia remaja dan dewasa awal. Fenomena ini kemudian diteliti lagi

(14)

oleh Perlman pada tahun 1990 (Taylor, Peplau & Sears, 2000) dan menemukan hasil yang sama bahwa kesepian lebih tinggi di antara remaja dan dewasa muda dan lebih rendah di antara orang-orang yang lebih tua.

Menurut Brehm (1992) orang-orang yang lebih muda menghadapi banyak transisi sosial yang besar, seperti meninggalkan rumah untuk pertama kali, merantau, memasuki dunia kuliah, atau memasuki dunia kerja full time untuk pertama kalinya, yang mana semuanya ini dapat menyebabkan kesepian. Sejalan dengan bertambahnya usia, kehidupan sosial mereka menjadi semakin stabil. Dengan bertambahnya usia seiring dengan meningkatnya keterampilan sosial seseorang dan mereka menjadi semakin realistik terhadap hubungan sosial yang mereka harapkan.

2. Status Perkawinan

Secara umum, orang yang tidak menikah lebih merasa kesepian bila dibandingkan dengan orang menikah (Freedman; Perlman & Peplau; dalam Brehm, 1992). Perbedaan ini diperhitungkan dengan membandingkan antara orang yang menikah dengan orang yang bercerai (Perlman & Peplau; Rubeinstein & Shaver dalam Brehm, 1992). Ketika kelompok orang yang menikah dan kelompok orang yang belum menikah dibandingkan, kedua kelompok ini menunjukkan level kesepian yang sama (Perlman & Peplau dalam Brehm, 1992). Berdasarkan penelitian ini Brehm menyimpulakan bahwa kesepian lebih merupakan reaksi terhadap kehilangan hubungan perkawinan (marital relationship) daripada ketidakhadiran dari pasangan suami/istri pada diri seseorang.

(15)

3. Gender

Menurut Borys dan Perlman (dalam Brehm, 1992) laki-laki lebih sulit menyatakan kesepian secara tegas bila dibandingkan dengan perempuan. Hal ini disebabkan oleh stereotipe peran gender yang berlaku dalam masyarakat. Berdasarkan stereotipe peran gender, pengekspresian emosi kurang sesuai bagi laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan (Borys & Perlman, dalam Deaux, Dane & Wrightsman, 1993).

4. Karakteristik Latar Belakang yang Lain

Rubeinsein & Shaver (dalam Brehm, 1992) menemukan satu karakteristik latar belakang seseorang yang kuat sebagai prediktor . Individu dengan orang tua yang bercerai akan lebih kesepian bila dibandingkan dengan individu dengan orang tua yang tidak bercerai. Semakin muda usia seseorang ketika orangtuanya bercerai semakin tinggi tingkat kesepian yang akan dialami orang tersebut ketika dewasa. Tetapi hal ini tidak berlaku pada individu dengan orangtua karena meninggal ketika kanak-kanak tidak lebih kesepian ketika dewasa bila dibandingkan dengan individu dengan orang tua berpisah semasa kanak-kanak atau remaja. Menurut Brehm (1992) proses perceraian meningkatkan potensi anak-anak dengan orangtua yang bercerai untuk mengalami kesepian ketika anak-anak tersebut dewasa.

(16)

II.2. Remaja

II.2.1. Definisi Remaja

Menurut Piaget (dalam Hurlock, 1998) secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa lainnya, dimulai pada saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir sampai ia menjadi matang secara hukum.

Menurut Monks (1996) batasan usia remaja adalah antara 12 tahun sampai 21 tahun. Monks membagi batasan usia remaja ini kedalam 3 fase, yaitu :

1. Fase remaja awal : usia 12 tahun sampai 15 tahun 2. Fase remaja pertengahan : usia 15 sampai 18 tahun 3. Fase remaja akhir : usia 18 tahun sampai 21 tahun

Sunarto & Hartono (2002), mengatakan bahwa pedoman umum untuk remaja di Indonesia digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah. Individu yang sudah menikah dianggap dan diperlakukan sebagai individu dewasa penuh sehingga tidak lagi digolongkan sebagai remaja.

II.2.2. Ciri-ciri Masa Remaja

Hurlock (1998) menyatakan masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri tersebut yaitu :

1. Masa remaja sebagai periode yang penting 2. Masa remaja sebagai periode peralihan 3. masa remaja sebagai periode perubahan

(17)

4. Masa remaja sebagai usia bermasalah 5. Masa remaja sebagai mencari identitas

6. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan 7. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik

8. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa

II.2.3. Tugas perkembangan pada Masa Remaja

Havighurst ( dalam Hurlock, 1998) menyatakan ada beberapa tugas perkembangan yang harus dilakukan individu sepanjang rentang kehidupannya, mulai dari masa bayi sampai masa tua. Tugas perkembangan pada masa remaja adalah salah satunya, tugas tersebut yaitu :

1. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita

2. Mencapai peran sosial pria dan wanita

3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif 4. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab 5. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya 6. Mempersiapkan karir ekonomi

7. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga

8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pehangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi

Jika tugas perkembangan di atas tidak dapat terpenuhi, maka akan menjadi faktor pemicu kesepian pada remaja. Pada teori tugas perkembangan pada masa

(18)

remaja di atas akan dijadikan sebagai acuan untuk melengkapi paradigma pada penelitian ini.

II.2.4. Faktor-faktor penyebab kesepian pada remaja

Hampir semua remaja pernah mengalami kesepian dan tidak semua perasaan kesepian itu disebabkan oleh hal yang sama. Terdapat faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab dari timbulnya kesepian itu. Rice (1996) mengemukakan beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kesepian pada diri remaja secara umum, yaitu :

A. Berpisah dan pengasingan dari orang tua B. Keluarga yang pecah / tidak rukun

C. Kemampuan kognitif yang baru mengarah kepada kesadaran diri D. Pencarian identitas diri

E. Perjuangan untuk mencapai tujuan bermakna F. Status kecil remaja dalam masyarakat

G. Individualisme yang kompetitif dan mengarah kepada perasaan gagal dan penolakan

H. Harapan yang berlebihan akan popularitas

I. Harga diri yang rendah, pesimistis yang kuat berkaitan dengan disukai dan diterima atau tidak oleh orang lain

J. Aspirasi pendidikan dan pekerjaan yang rendah, apatis dan tidak bertujuan yang mengarah kepada lingkaran kegagalan dan menarik diri.

(19)

Pada teori di atas, peneliti akan menjadikan acuan untuk melakukan wawancara dengan subjek yang ditentukan, agar dapat terungkap seberapa besar kesepian pada remaja yang mengalami putus pacaran.

II.3. HUBUNGAN PACARAN II.3.1. Definisi Pacaran

Terdapat beberapa istilah mengenai pacaran yang digunakan oleh beberapa peneliti yaitu steady dating (Duvall&Miller, 1985) atau courtship (Bird&Melville, 1994). Meskipun terdapat perbedaan istilah, Bird & Melville (1994) mendefinisikan hubungan pacaran yang terlepas dari istilah-istilah yang ada, yaitu :

’...single women and men go trough a formal process which they choose a marital partner”

Dari defenisi diatas dapat diketahui bahwa hubungan pacaran adalah suatu proses formal yang dilalui seorang wanita dan laki-laki lajang, dalam rangka memilih pasangan hidupnya. Bird dan Melville (1994) menyatakan bahwa hubungan pacaran adalah suatu proses formal yang dilalui oleh seorang pria dan wanita dalam rangka memilih pasangan hidup.

II.3.2. Tujuan dan Fungsi Pacaran

Pada saat individu memutuskan untuk menjalin hubungan pacaran, maka biasanya ia memiliki tujuan yang berbeda dengan individu lainnya. Berdasarkan Duvall dan Miller (1985), pacaran bertujuan untuk menemukan pasangan hidup dengan cara berusaha lebih banyak pasangan yang disukainya. Disamping itu,

(20)

pacaran bisa berfungsi sebagai sarana untuk lebih mengenal diri, misalnya dengan mencari tahu karakterstik pasangan yang diinginkan.

II.3.3. Pengakhiran Hubungan Pacaran

Tidak ada manusia yang sempurna. Begitu pula dalam hubungan pacaran. Setiap pasangan memiliki karakteristik masing – masing yang tidak selamanya sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini kemudian sering menimbulkan masalah dalam hubungan pacaran (Baron & Byrne, 1997). Disamping itu, Rusbult & Zembrodt (dalam Baron & Byrne, 1997) menekankan bahwa orang-orang akan memberi respon tertentu saat menjalin hubungan yang tidak bahagia, diantaranya adalah dengan mengakhiri hubungan.

Berakhirnya suatu hubungan intim seperti hubungan pacaran, merupakan suatu hal yang menyakitkan. Ketika pasangan menghadapi kegagalan dalam menjalin hubungan pacaran menurut Brehm (1992) hal ini akan menimbulkan distress dan reaksi emosi berupa kesedihan yang mendalam.

II.3.4. Respon Emosi Saat Hubungan Berakhir

Menurut Elizabeth Kubler-Ross yang diadaptasi oleh Soekarsono (2000) perasaan-perasaan yang tidak nyaman yang muncul dalam diri seseorang setelah mengalami perpisahan. Hal tersebut merupakan reaksi emosi yang biasanya dialami oleh orang yang kehilangan. Terdapat 5 tahapan reaksi yang biasanya dilalui ketika seseorang mengalami pengakhiran hubungan, yaitu :

(21)

Penyangkalan adalah tahap yang wajar dalam menghadapi krisis. Pada tahap ini individu belum sepenuhnya percaya bahwa hubungan dengan pasangannya telah berakhir.Ia menyangkal bahwa peristiwa tersebut terjadi pada dirinya. B. Merasa marah

Marah merupakan hal yang wajar dalam setiap perpisahan dengan pasangan. Pada tahap ini biasanya inidividu ingin mengamuk di depan sang mantan pasangan.

C. Putus asa

Pada tahap ini individu merasa sudah mampu mengatasi masalah.Individu mengatakan pada diri sendiri bahwa ia sudah berubah.

D. Depresi

Ia merasa dirinya tidak berarti, sadar bahwa ia telah gagal. Kesadaran akan kegagalan ini merupakan hal yang positif, karena ia mulai memahami realita yang terjadi. Pada tahap ini yang belum terselesaikan adalah luka emosi yang ditimbulkan.

E. Menerima realita yang terjadi

Setelah melewati tahap depresi itu, barulah individu sampai pada tahap terakhir, dimana ia menyadari bahwa perpisahan telah terjadi dan hubungan tidak dapat diperbaiki lagi. Pada kondisi ini individu sudah bisa menerima realita yang terjadi, baik dalam bentuk kayakinan dan perasaan.

(22)

II.4. Kesepian Pada Remaja yang Putus Pacaran

Masa remaja adalah suatu dunia yang agak terpisah dari dunia dewasa dan dunia anak-anak. Dunia remaja mempunyai ciri-ciri tersendiri. Disinilah terjadinya perubahan secara fisik maupun secara hormoral, dan hal-hal yang uniklah yang terjadi pada masa remaja.

Masa remaja merupakan masa tansisi, dimana mereka berpendapat posisi ini adalah sebagai keistimewaan dimana mereka mengalami sebuah perasaan yang berbeda, termasuk didalamnya hak untuk memilih pasangan hidup mereka (Grossberg, 1992).

Makna atau tujuan berpacaran adalah untuk mengetahui apakah kita bisa hidup harmonis dengan pasangan kita. Bagi para remaja, pacaran merupakan hal yang sangat penting dan sangat dibanggakan, oleh karena itu perasaan kesepian akan dengan mudah mendatangi para remaja jika mengalami putus pacaran (www.buddhistonline.com/dhammadesana/desana5.shtml).

Pada kalangan remaja, banyak hal-hal berlebihan yang dilihat ketika mereka sedang berpacaran. Bagi kalangan remaja, pasangan adalah segala– galanya, mereka akan melakukan apa saja untuk membuat pasangan bahagia, dan rela mengorbankan apa saja demi untuk membahagiakan pasangan. Terkadang perlakuan dalam berpacaran pada remaja, sangat terlihat berlebihan, sehingga akan sangat berat bagi mereka ketika kehilangan pasangan .

Kesepian dapat dialami oleh siapa saja, termasuk pada kalangan remaja. Salah satunya yaitu kesepian yang disebabkan karena putus pacaran. Permasalahan putus pacaran pada remaja, lebih fatal kemungkinannya,

(23)

dikarenakan remaja memiliki fikiran yang belum luas, sehingga mereka tidak berfikir untuk jauh kedepan.

(24)
(25)

Menyebabkan Dilihat dari

Bold : yang akan diteliti dalam penelitian ini

Remaja mempunyai tugas perkembangan, menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1998) antara lain yaitu mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya, mencapai peran sosial wanita, menerima keadaan fisiknya, mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya, mempersiapkan karir ekonomi dan keluarga dan sebagainya. Ketika remaja mengalami putus pacaran salah salah satu perasaan yang mendatangi diri mereka adalah perasaan kesepian, dimana perasaan kesepian tersebut menimbulkan berbagai dampak pada orang yang mengalaminya antara lain, tingkat perasaan kesepian yang mendalam akan berhubungan dengan berbagai masalah personal, seperti depresi, pemakaian alkohol dan obat-obatan, penyakit fisik dan bahkan resiko kematian (Taylor, Peplau & Sears, 2000). Kesepian disertai oleh berbagai emosi negatif seperti depresi, kekhawatiran, ketidakpuasan, menyalahkan diri sendiri (Anderson, dalam Baron & Byrne, 2000), dan orang yang mengalami kesepian dapat tenggelam dalam kepasifan yang menyedihkan, menangis, tidur, minum, makan, memakai obat penenang ( Deaux, Dane & Wrigtsman, 1993). Dalam menghadapi putus pacaran, terdapat perbedaan antara remaja yang mempunyai tipe kepribadian introvert dan ekstrovert. Pada remaja yang berkepribadian introvert, cenderung bereaksi diam mematung ketika sedang putus pacaran, sebaliknya remaja yang berkepribadian ekstrovert akan lebih histeris ketika menghadapi putus pacaran.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :