1
MEMBANGUN KUALITAS
PEMBELAJARAN DAN PELATIHAN
MELALUI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
Prof. Richardus Eko Indrajit
Sekretaris Badan Standar Nasional Pendidikan
Anggota Badan Nasional Ser�fikasi Profesi
Anggota Dewan Pendidikan TInggi
[email protected]
GLOBALISASI MENCIPTAKAN BERBAGAI KOMUNITAS PEMANGKU KEPENTINGAN YANG MENGARAH
PADA AKTIVITAS KOMUNIKASI, KOLABORASI, DAN KOMPETISI
PERIKANAN PERKEBUNAN PERHUTANAN PETERNAKAN PERTANIAN
PARIWISATA KERAJINAN TEKSTIL MANUFAKTUR
INDONESIA MERUPAKAN NEGARA KEPULAUAN TERBESAR DI DUNIA YANG MEMILIKI KEKAYAAN
ALAM DAN HARTA TAK BENDA YANG TAK TERNILAI HARGANYA
pendidikan perdagangan transportasi pertambangan
kuliner kesenian jasaboga perhotelan flora fauna
dan ragam industri lainnya
KEUANGAN KESEHATAN JASA‐JASA
KREATIF
MELALUI MP3EI DIPUTUSKAN PERLUNYA KEGIATAN EKONOMI INDONESIA DIFOKUSKAN PADA 22
DOMAIN INDUSTRI UTAMA PADA 6 KORIDOR
SUMATERA
JAWA
KALIMANTAN
SULAWESI
BALI‐Nusa
Tenggara
PAPUA‐
Kep.Maluku
1
2
3
4
5
6
SALAH SATU PILAR KUNCI KEBERHASILAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN (MP3EI) TERLETAK PADA
TERSEDIANYA SDM YANG KOMPETEN DAN BERKUALITAS
SUMBER DAYA
MANUSIA YANG
KOMPETEN DI
BIDANGNYA
MASING‐MASING INDUSTRI HARUS BERUSAHA MEMPERSIAPKAN SDM YANG KOMPETEN SESUAI
&
&
&
&&
KEBERADAAN SDM YANG KOMPETEN AKAN MAMPU MEMBERIKAN KEUNGGULAN KOMPETITIF BAGI
BANGSA DI TENGAH LINGKUNGAN PERSAINGAN GLOBAL
KOMPETEN
berar� “memiliki kualifikasi untuk melakukan proses pekerjaan tertentu”
PENGETAHUAN
+
KETERAMPILAN
+
SIKAP KERJA
Pendidikan Pela�han
Belajar Mandiri
Pengalaman
TERDAPAT CUKUP BANYAK CARA BAGI SEORANG INDIVIDU DALAM MENGASAH DAN
MENINGKATKAN KOMPETENSI DIRINYA DARI MASA KE MASA
SERTIFIKAT KELULUSAN
PENDIDIKAN FORMAL SEBAGAI
PENGAKUAN KETUNTASAN STUDI
BERDASARKAN STANDAR
KOMPETENSI LULUSAN PADA
BIDANG ILMU YANG DIPELAJARI
DAN DITEKUNINYA
SERTIFIKAT
KOMPETENSI
KERJA
NASIONAL DARI
BNSP
SEBAGAI PENGAKUAN
KEPEMILIKAN KOMPETENSI
SESUAI
STANDAR INDUSTRI
DAN
DIAKUI SECARA
NASIONAL
MAUPUN
INTERNASIONAL
SERTIFIKAT KOMPETENSI
IJASAH
SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DAN SISTEM SERTIFIKASI NASIONAL MEMBERIKAN JALAN UNTUK
MENINGKATKAN KUALITAS KOMPETENSI SDM NUSANTARA
SATUAN
PENDIDIKAN
formal – non formal ‐ informal
LEMBAGA
SERTIFIKASI
PROFESI
SERTIFIKAT KOMPETENSI
IJASAH
PERLU ADANYA INFRASTRUKTUR INSTITUSI YANG MEMUNGKINKAN DIPADUKANNYA MODEL
PENDIDIKAN BERTUJUAN KOMPETENSI SISWA DIDIK
Pengembangan Kompetensi Terpadu
BELAJAR BISA DILAKUKAN MELALUI BERBAGAI CARA DAN PENDEKATAN
PERUBAHAN
LUARAN
PAST
NOW
KOMPETENSI
SESEORANG UNTUK DAPAT
MELAKUKAN TINDAKAN CERDAS, PENUH
TANGGUNG JAWAB SEBAGAI SYARAT UNTUK
DIANGGAP
MAMPU
OLEH MASYARAKAT
DALAM MELAKSANAKAN TUGAS‐TUGAS DI
BIDANG PEKERJAAN TERTENTU
KEMAMPUAN
MINIMAL
PENGUASAAN PENGETAHUAN,
KETRAMPILAN DAN SIKAP
SESUAI
SASARAN
KURIKULUM
PROGRAM STUDINYA
Penilian oleh
Perguruan Tinggi
ABOUT
COMPETENCY
Defini�on #1
A skill performed to a specific standard under specific condi�ons
Defini�on #2
COMPETENCE‐BASED
MOVEMENT
Mendekatkan dunia
pendidikan �nggi
dengan
dunia nyata
(dunia kerja) yang
akan dihadapi
mahasiswa setelah
lulus
Fokus pada
outcome
(outcome‐based
educa�on)
Outcomes
pendidikan
dinyatakan dalam
‘
observable
competencies
’
Pendekatan pada
COMPETENCE
FEATURES
Focuses on outcome
performance
Integrates a broad range of
related knowledge and skills
objec�ves
Contextualized – related to a
prac�cal task in the field
Drawn from mul�ple domains,
including affec�ve and moral
dimensions
Include professional behaviours
relevant to the task
Indicates a level of expected
ability
COMPETENCE‐BASED
EDUCATION
1.
Problem
, task, se�ng
2.
Iden�fy
essen�al
competencies for
prac�ce
3.
Determine competency
components
:
objec�ves and performance levels
4.
Iden�fy
learning
ac�vi�es and strategies
5.
Develop
assessment
tools and standards
SEKILAS KBK
KBK dan Otonomi Kampus
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/ 2000 dan Nomor 045/U/2002 mengamanatkan
penyusunan kurikulum pendidikan �nggi yang berbasis kompetensi untuk se�ap program studi oleh kalangan perguruan �nggi yang bersangkutan
Definisi Kompetensi
Dalam Kepmendidnas No.045/U/2002 kompetensi diar�kan sebagai “seperangkat �ndakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas‐tugas di bidang pekerjaan tertentu”
Alasan Perubahan
TUJUAN PENDIDIKAN
Pendidikan memang dimaksudkan untuk
menumbuhkembangkan kompetensi
sasaran didik untuk mampu
berkarya
di
bidang yang relevan.
Orang hidup perlu
berkarya
, dan untuk
berkarya harus memiliki sesuatu
kompetensi
Pendidikan harus menghasilkan kemampuan
ber�ndak yang benar & cerdas; �ndakan yang
produk�f
, yang
efek�f
, yang mampu
memecahkan
masalah
nyata dalam kehidupan
MENGENAI KOMPETENSI
Kompetensi dapat pula diar�kan
sebagai ciri‐ciri pengetahuan,
keterampilan dan kepribadian yang
diperlukan untuk mencapai
performansi
(kinerja) yang �nggi
Dalam ilmu pendidikan dikenal adanya
3 (�ga) kawasan tujuan pendidikan
yang perlu dicapai melalui kegiatan
belajar/ pendidikan, yaitu:
cogni�ve
,
psycho‐motoric
dan
affec�ve
Pendidikan yang baik adalah yang
mencakup ke�ga kawasan tujuan itu,
yang menjamin dikuasainya
TUGAS PERGURUAN TINGGI
Pendidikan �dak sekedar
mengajarkan dan mempelajari
pengetahuan, tetapi juga
keterampilan dan aspek‐aspek
kepribadian lain
Pendidikan �dak untuk sekedar
menjadi tahu, tetapi untuk menjadi
mampu ber�ndak cerdas
Agar bisa mendapat tempat yang
terhormat di masyarakat, PT harus
berusaha keras agar mampu
membekali mahasiswanya dengan
kompetensi‐kompetensi yang
KOMPETENSI INTI
Menurut SK Mendiknas 045/U/2002,
kompetensi in� ditentukan secara
nasional oleh organisasi profesi,
perguruan �nggi dan masyarakat
pengguna
Analisis kebutuhan lulusan di tempat
kerja:
B
Catatan pribadi
B
Observasi
B
Analisis pekerjaan
B
Cri�cal Incident Technique
B
Expert Judgement
B
Standard
‐ Masalah yang dihadapi bangsa
Indonesia
‐ Kondisi makro sosial, poli�k dan
ekonomi
DESAIN KURIKULUM
Kurikulum pendidikan �nggi harus
relevan
dengan kehidupan nyata yang penuh
dengan
masalah
,
kendala
, dan
tantangan
Pendidikan harus
membekali
mahasiswa
untuk
mampu mengatasi
semua itu
Model kurikulum ini harus
dirancang
sendiri oleh kalangan perguruan �nggi,
dan pelaksanaan kurikulumnya
diadopsi
oleh dosen‐dosen yang bersangkutan
Selama ini barangkali yang banyak
dibekalkan adalah
pengetahuan
(ilmu,
teori, teknologi, filosofi, dsb) dan kurang
aspek yang lain
Dan karena itu
belum mampu
menumbuhkan kemampuan mahasiswa
dalam
ber�ndak
atau kompetensi
UNESCO PILLARS
Learning to
KNOW
Belajar untuk
megnetahui
Learning to
DO
Belajar untuk
dapat
melakukan
Learning to
BE
Belajar untuk
memerankan
Learning to
LIVE TOGETHER
#
Merupakan ”Rambu‐rambu
untuk menjamin mutu dan
kemampuan sesuai dengan
program studi yang
ditempuh“
Seperangkat rencana dan
pengaturan berdasarkan
standar pendidikan tentang
kemampuan dan sikap serta
pengalaman belajar, dan
penilaian yang berbasis
pada potensi dan kondisi
peserta didik
#
“Adalah kurikulum
yang disusun
berdasarkan atas
elemen‐elemen
kompetensi yang
harus dicapai oleh
mahasiswa sebagai
peserta didik...”
i
#
B
Menyatakan kompetensi
secara jelas dari proses
pembelajaran;
B
Proses pembelajaran
memberi bekal kepada
tercapainya kompetensi dan
berfokus pada mahasiswa;
B
Lebih mengutamakan
kesatuan penguasaan ranah
kogni�f, psikomotorik dan
afek�f;
B
Proses penilaian hasil belajar
lebih ditekankan pada
kemampuan untuk
mendemonstrasikan kogni�f,
psikomotorik dan afek�f
KURIKULUM
PROGRAM STUDI
1. Dasar untuk mencapai kompetensi
lulusan;
2. Acuan baku minimal mutu
penyelenggaraan Prodi;
3. Berlaku secara nasional dan
internasional;
4. Lentur dan akomoda�f terhadap
perubahan;
5. Kesepakatan bersama antar PT,
masyarakat profesi dan pengguna
1. Nama program studi;
2. Ciri khas kompetensi utama sebagai pembeda
antara program studi satu dengan lainnya;
3. Fasilitas utama yang diperlukan untuk
penyelenggaraan program studi;
4. Persyaratan akademis dosen;
5. Substansi kajian kompetensi utama yang
dikelompokkan menurut elemen kompetensi;
6. Proses belajar mengajar dan bahan kajian untuk
mencapai elemen‐elemen kompetensi;
7. Sistem evaluasi berdasarkan kompetensi;
Penguasaan Ilmu dan Keterampilan
jenis/substansi pengetahuan dan keterampilan yg diperlukan
Landasan Kepribadian
sifat‐sifat umum yang telah berhasil dikembangkan pada diri seseorang, seper� teli�, rapi, rajin, disiplin, cermat, sikap mental, minat, dsb.
Kemauan Berkarya
kemampuan yang dikuasai dengan sangat �nggi, dapat diandalkan, profesional
ELEMEN
KOMPETENSI
1
2
3
Sikap dan Perilaku dalam Berkarya
Sifat perilaku yang mendukung dalam berkarya, seper� produk�f, efisien, efek�f, jujur, dsb.
4
Pemahaman Kaidah Kehidupan Bermasyarakat
kemampuan kerja‐sama dan pendekatan pada orang lain; dapat menerima keragaman dalam kehidupan bermasyarakat
MPK
KELOMPOK
MATA KULIAH
JENIS
KOMPEENSI
KOMPETENSI
UTAMA
METODOLOGI
PENYUSUNAN KURIKULUM
IDENTIFIKASI PERAN‐PERAN OKUPASI
mengiden�fikasi peran‐peran apa yang harus dilakukan oleh seorang
sarjana yang bekerja pada jabatan di situ
PENGELOMPOKKAN KOMPETENSI
menganalisa masing‐masing peranan: ar�nya agar seseorang dapat memerankan peranan
itu dengan baik dia harus memiliki kompetensi atau menguasai kemampuan apa saja
PENENTUAN MATA KULIAH
mengelompokkan hasil analisa berdasar sifat yang saling berkaitan, dan se�ap
kelompok kemudian diberi nama sebagai mata ajaran atau mata kuliah
PENERAPAN PENGAJARAN BERBASIS KOMPETENSI
mengajarkan mata kuliah tersebut melalui proses pengajaran
yang mendukung proses pengembangan kompetensi mahasiswa
IDENTIFIKASI LAPANGAN KERJA
mengiden�fikasi lapangan kerja atau jenis‐jenis pekerjaan dan jabatan yang memiliki relevansi yang
logis dengan masing‐masing program studi
KOMPETENSI
DAN KURIKULUM
KOMPETENSI
Tujuan Kurikuler
Profil Lulusan
Isi / Bahan Kajian
Metoda Pembelajaran
RE‐DESAIN
KURIKULUM
Evaluasi Hasil Belajar
Metoda Pembelajaran
Distribusi kedlm SKS
Distribusi kedlm SMT
Distribusi kedlm MK
Bahan Ajar Konvensional
Bahan Ajar Kompetensi
Kompetensi Lulusan
Profil Lulusan
Matakuliah Konvensional
Analisis SWOT
Kemampuan Institusi
Tracer Study
Need Assessment
Kurikulum
Konvensional
FORMAT
KURIKULUM
1.
KATA PENGANTAR
2.
DAFTAR ISI
A.
VISI PROGRAM STUDI
B.
MISI PROGRAM STUDI
C.
TUJUAN PROGRAM STUDI
D.
PROFIL LULUSAN
E.
KOMPETENSI LULUSAN
F.
STRUKTUR KURIKULUM
1.
Pemetaan matakuliah sesuai KEPMEN 232/U/2000 dan
KEPMEN 045/U/2002
2.
Pemetaan strategi pembelajaran matakuliah
3.
Pemetaan semester penyajian matakuliah
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
sebuah paradigma baru dalam merencanakan dan mengimplementasikannya
KBK atau Kurikulum Berbasis Kompetensi yang diperkenalkan p a d a t a h u n 2 0 0 4 m e r u p a k a n pengganti paradigma pendidikan dalam hal pengembangan kurikulum yang berbasis isi atau konten. Salah satu sasaran perubahan ini adalah untuk menjembatani agar lulusan pendidikan tinggi dapat langsung diserap pasar kerja (industri) karena telah dianggap kompeten untuk bekerja.
Namun kenyataannya tidaklah demikian. Masih tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi mengisyaratkan ada yang salah dalam hal pemahaman dan penerapannya.
Presentasi ini dikembangkan secara khusus untuk mencoba melihat paradigma pendidikan bertujuan kompetensi ini dari sisi yang berbeda, yaitu dari kacamata kebutuhan atau “demand” dari dunia kerja – sebagai pelengkap sekaligus pembanding dari berbagai pemahaman dan penjabaran mengenai kompetensi yang selama ini secara intensif disosialisasikan dan juga dikembangkan dari perspektif penyedia atau “supply”.
Selamat menikmati …..
Ins�tut Perbanas
W
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
Manajemen Perbankan
SKKNI
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia disusun oleh industri dan kementrian teknis melalui serangkaian p r o s e s p e n d e f i n i s i a n k e b u t u h a n h i n g g a penyelenggaraan konvensi yang dihadiri oleh seluruh a s o s i a s i p e m a n g k u kepentingan dan pihak-pihak terkait dan dijadikan sebagai a c u a n o l e h L e m b a g a Sertifikasi Profesi.
Pada dasarnya, terdapat b a n y a k s e k a l i s t a n d a r kompetensi kerja yang telah dikembangkan oleh industri, b a i k d a l a m l i n g k u n g a n nasional, regional, maupun internasional yang dapat diadopsi oleh siapapun yang membutuhkannya.
I n t i n y a a d a l a h b a h w a kompetensi harus dapat didefinisikan secara jelas agar dapat disusun strategi p e n c a p a i a n n y a s e s u a i dengan keinginan.
Teknologi Informasi
Contohnya adalah standar kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi seorang IT Auditor (dikeluarkan oleh I S A C A d a n I T G I ) , a t a u I T P r o j e c t M a n a g e r (diperkenalkan oleh PMI dan GWU), atau IT Architect (dikembangkan oleh IASA dan TOGAF), atau Software Engineer (dibuat oleh SEI dan CMU), dan lain sebagainya.
Update
HARUS ADA STAND
AR YANG DIACU
Manajemen Perbankan
SKKNI
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia disusun oleh industri dan kementrian teknis melalui serangkaian p r o s e s p e n d e f i n i s i a n k e b u t u h a n h i n g g a penyelenggaraan konvensi yang dihadiri oleh seluruh a s o s i a s i p e m a n g k u kepentingan dan pihak-pihak terkait dan dijadikan sebagai a c u a n o l e h L e m b a g a Sertifikasi Profesi.
Pada dasarnya, terdapat b a n y a k s e k a l i s t a n d a r kompetensi kerja yang telah dikembangkan oleh industri, b a i k d a l a m l i n g k u n g a n nasional, regional, maupun internasional yang dapat diadopsi oleh siapapun yang membutuhkannya.
I n t i n y a a d a l a h b a h w a kompetensi harus dapat didefinisikan secara jelas agar dapat disusun strategi p e n c a p a i a n n y a s e s u a i dengan keinginan.
Teknologi Informasi
Contohnya adalah standar kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi seorang IT Auditor (dikeluarkan oleh I S A C A d a n I T G I ) , a t a u I T P r o j e c t M a n a g e r (diperkenalkan oleh PMI dan GWU), atau IT Architect (dikembangkan oleh IASA dan TOGAF), atau Software Engineer (dibuat oleh SEI dan CMU), dan lain sebagainya.
Prinsip 1
HARUS MEMAHAMI ANATOMI KOMPETENSI
Kompetensi Kerja
Elemen Kompetensi
Bagian terkecil atau atom dari kompetensi disebut atau diistilahkan sebagai “elemen kompetensi”, yaitu sebuah pernyataan kapabilitas yang menggunakan kata kerja performatif agar dapat dengan mudah diukur tingkat pencapaiannya.
Indikator Unjuk Kerja
Adalah suatu ukuran yang dipergunakan untuk memastikan ketercapaian kompetensi seorang individu. Indikator ini harus didefinisikan sedemikian rupa sehingga selain mudah dilakukan pengukurannya, juga menggambarkan tingkat kehandalan pencapaian kompetensi seseorang (akurasi dan presisi). Jika kurang akurasi maka dibutuhkan latihan; sementara jika kurang presisi dibutuhkan ‘jam terbang’ yang lebih.
Prinsip 2
Dalam Taksonomi Bloom telah diperkenalkan daftar kata kerja performatif yang dapat dipergunakan untuk mendefinisikan elemen kompetensi yang ingin dicapai dan dapat dipergunakan oleh siapa saja yang membutuhkannya.
Kluster dan Okupasi
HARUS MEMIMIKKAN DUNIA KERJA
Lingkungan Kerja
Suasana Kelas
Interaksi antara peserta didik dengan dosennya harus sedapat mungkin membawa suasana pada terciptanya sebuah lingkungan yang menyamai dunia kerja dimana di dalamnya terdapat interaksi intensif, diskursus berkualitas, komunikasi kontekstual, dan lain sebagainya.
Model Pembelajaran
Dalam konteks ini, metode mengajar belajar konvensional biasanya sudah ditinggalkan – diganti dengan menitikberatkan pada kesempatan siswa untuk mempelajari studi kasus, membangun kerjasama tim, mengikuti kompetisi/simulasi bisnis, memaparkan ide-ide inovatif, mengembangkan ilmu secara mandiri, melaksanakan pembelajaran jarak jauh (e-learning), dan lain sebagainya.
Prinsip 3
Ruang dan suasana kelas maupun laboratorium harus d i k e m b a n g k a n s e d e m i k i a n r u p a s e h i n g g a merepresentasikan lingkungan kerja, sehingga peserta didik dapat memperoleh gambaran apa yang terjadi di dunia nyata. Hal paling mudah dilaksanakan adalah dengan merubahan tatanan kelas, dari yang bersifat teatrikal konvensional menjadi berbagai bentuk seperti yang kerap ditemui di kantor-kantor komersial seperti lingkaran, U-shape, berhadap-hadapan, dan lain-lain.
Tenaga Pendidik
HAR
US MELATIH SISWA HINGGA KOMPETEN
Latihan… Latihan…
Prinsip
Setiap individu memiliki kemampuan belajar, memahami, mencerna, menyerap, dan mempraktekkan yang berbeda-beda – sehingga merupakan tantangan bagi dosen untuk membuat masing-masing dari mereka menjadi kompeten dengan tingkat kecepatan yang berbeda-beda.
Teknik Pembelajaran
Di sinilah seorang dosen benar-benar dituntut untuk menjadi seorang fasilitator sekaligus pelatih (coach) yang baik, karena harus membuat suatu suasana mengajar-belajar yang mengarah pada tercapainya kompetensi siswa. Dalam hal ini, seorang dosen dapat menghadirkan pihak-pihak lain yang dapat membantu tercapainya kompetensi siswa sesuai dengan bidang yang ditekuni.
Prinsip 4
Untuk menjadikan seseorang menjadi individu yang komepten, yang bersangkutan harus secara aktif melakukan latihan berkali-kali sampai memenuhi indikator unjuk kerja yang ditetapkan – tanpa mengenal usia, waktu, dan biaya.
Di sinilah terdapat paradigma “mahasiswa tidak bisa menunggu” apa yang akan disampaikan dosen, melainkan yang bersangkutan harus secara aktif melakukannya agar bisa mencapai tahapan yang dikatakan sebagai “kompeten” dengan berbagai cara.
Spektrum Nilai
HAR
US MENGGUNAKAN PENDEKATAN TERPADU
Makna Kompetensi
Alur Pembelajaran
Bayangkan jika seorang instruktur harus mengajarkan siswa-siswanya agar pandai berenang atau pandai naik sepeda. Pencapaian kompetensi akan sangat lambat dan cenderung mustahil jika dilakukan secara bertahap melalui proses yang bersifat teoritis dahulu baru praktek (sekuensial). Proses baru akan berhasil apabila dilakukan metoda pelatihan yang terintegrasi dimana secara perlahan-lahan instruktur mengajak siswanya untuk langsung masuk ke kolam renang atau mengendarai sepeda untuk belajar melalui perpaduan antara pengetahuan, pengalaman (experience), keterampilan dan eksperimen. Contoh lain adalah jika ingin menanamkan kompetensi kepemimpinan dalam diri seorang peserta didik, maka yang bersangkutan harus pernah mendapatkan kesempatan memimpin sekelompok komunitas secara nyata.
Manajemen Mata Kuliah
Dalam konteks ketuntasan pencapaian kompetensi di perguruan tinggi, dapat dilakukan berbagai metode klusterisasi mata kuliah, dimana ada pencapaian kompetensi per-mata kuliah atau per-kelompok mata kuliah atau sub mata kuliah atau bahkan per-pertemuan tatap muka.Prinsip 5
Terjemahan bebas kompetensi adalah “kemampuan seorang individu dalam melakukan suatu tugas pekerjaan tertentu dengan baik”.
HARUS ADA MEKANISME UJI KOMPETENSI
Uji Kompetensi
Bentuk Evaluasi
Setiap peserta uji harus melakukan suatu “performance” atau memperlihatkan keterampilannya dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu di hadapan “asesor”.
Asesor yang dimaksud di sini seharusnya bukanlah dosen atau instruktur yang mengajari atau melatih peserta didik yang bersangkutan karena akan terjadi “conflict of interest” melainkan harus dari pihak independen yang menguasai atau tahu benar mengenai kompetensi yang diujikan.
Pada akhirnya, asesor akan memberikan hasil evaluasinya kepada dosen atau perguruan tinggi yang b e r s a n g k u t a n u n t u k d i t e t a p k a n a p a k a h y a n g bersangkutan telah dinilai memiliki kompetensi yang diujikan atau tidak.
Manajemen Ujian
Agak sulit menjalankan uji kompetensi dimaksud secara masif, karena setiap peserta didik harus diuji secara individu oleh asesor. Oleh karena itulah perlu dilakukan manajemen ujian yang efektif namun efisien bagi seluruh pihak sehingga dapat tercapai terlaksananya proses evaluasi yang diinginkan.
Prinsip 6
Uji kompetensi adalah suatu proses evaluasi pencapaian kompetensi oleh seorang individu dengan melihat apakah yang bersangkutan telah mampu mencapai indikator unjuk kinerja yang telah ditetapkan per masing-masing elemen kompetensi yang diujikan.
HARUS AD
A PENGAKUAN KOMPETENSI
Sertifikat Kompetensi
Ijazah vs. Sertifikat
Karena ijazah pada hakekatnya merupakan tanda kelulusan, maka sifatnya adalah berlaku seumur hidup. Sementara untuk sertifikat bersifat sementara, karena kompetensi seseorang dapat pudar atau tidak relevan lagi akibat terjadinya perubahan atau dinamika kebutuhan industri – sehingga dokumen ini memiliki usia berlaku (misalnya 2, 3, atau 5 tahun). Untuk memperlihatkan bahwa yang bersangkutan tetap kompeten, maka dapat dilakukan proses re-sertifikasi, uji kompetensi, atau mengikuti program-program pemeliharaan kompetensi yang dirancang khusus oleh berbagai pihak yang berkepentingan.
Peran Pemerintah dan Industri
Standar Nasional Pendidikan disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) untuk menjamin setiap satuan pendidikan memiliki kriteria minimum pencapaian mutu dalam 8 (delapan) aspek, yaitu: kompetensi lulusan, isi/konten, tenaga kependidikan, proses, sarana prasarana, pengelolaan, dan penilaian. Sementara standar kompetensi kerja dikembangkan oleh industri yang bersangkutan dengan kementrian terkait, dan uji sertifikasinya dilakukan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui LSP-LSP yang dibentuknya.
Prinsip 7
Seperti yang tertulis dalam UU Sistem Pendidikan Nasional, pengakuan telah tuntasnya seorang peserta didik belajar dapat dinyatakan melalui penerbitan dua jenis dokumen, yaitu: ijazah dan/atau sertifikat kompetensi.
HARUS ADA SKEMA SERTIFIKASI
Skema Sertifikasi
Dinamika Kompetensi
Karena sifatnya yang dinamis, setiap perguruan tinggi yang ingin menerapkan KBK harus memiliki skema sertifikasi yang baku diterapkan di industri. Untuk Indonesia dapat mengacu pada skema sertifikasi yang telah dikembangkan oleh BNSP dimana perguruan tinggi berkesempatan menjadi Lembaga Sertifikasi Profesi Tingkat Satu (LSP-1) sejauh memenuhi sejumlah persyaratan yang berlaku, yaitu memiliki 5S: Standar, Skema, Sarana Prasarana, Sumber Daya, dan Surveilans.
Tantangan dan Peluang
Dengan demikian paka lulusan perguruan tinggi tidak saja dibekali dengan ijazah, namun juga sejumlah sertifikat kompetensi sebagai bukti bahwa peserta didik telah menempuh program pembelajaran dimaksud dan telah kompeten di bidang yang digelutinya.
Disamping itu, alumni tersebut akan selalu kembali ke kampus apabila perguruan tinggi yang bersangkutan memiliki infrastruktur dan superstruktur untuk pemeliharaan dan pengembangan kompetensi yang bersifat dinamis tersebut, sehingga cita-cita “link and match” antara perguruan tinggi dengan dunia industri dapat tercapai.
Prinsip 8
NATIONAL$INDUSTRY$ GLOBALISATION$
AGENDA$ COMPETITION$PHENOMENA$ INTERNATIONAL$AGREEMENT$ WORKFORCE$MARKET$
NATIONAL$
REFORM$ EMPOWEREMENT$STRATEGY$ REGULATION$POLICY$AND$ ECONOMY,$SOCIAL,$and$POLITICS$
SKKNI$
External)Forces) Internal)Forces)
LSP$LSP$ LSP$
TUK$ TUK$ TUK$ TUK$
TRAINING$
CENTER$ LEARNING$CENTER$
HARUS ADA PANDUAN MANAJEMEN MUTU
Model Kemendiknas
Prinsip 9
Model Kemenaker
BSNP
menetapkan
SK-KD
Kemendiknas
menetapkan
Anatomi
Format
BNSP
menetapkan
PANDUAN
5S
Kemenaker
menetapkan
Kompetensi
Kerja
1
PEDOMAN BNSP 103 Rev 1-2010
1 dari 22
PEDOMAN BNSP 217-2009
1 dari 8 Pedoman BNSP 301-Rev 1-2009
1 / 16
Badan Nasional Sertifikasi Profesi - BNSP
Draft Final
Pedoman Penyusunan Materi Uji Kompetensi 1 / 22
EKOSISTEM
KKNI
BSNP BNSP
PENGABDIAN*MASYARAKAT S3*(DOKTOR) S3T*(DOKTOR*TERAPAN) Sp2*(SPESIALIS72) 9 PROFESI
! S2*(MAGISTER) S2T*(MAGISTER*TERAPAN) Sp1*(SPESIALIS71) 8 AHLI
PENELITIAN*DAN*PENGEMBANGAN PROFESI 7 OKUPASI
! S1*(SARJANA) D4/S1T*(AHLI*UTAMA/SARJANA*TERAPAN) 6
PENDIDIKAN*DAN*PENGAJARAN D3*(AHLI*MADYA) 5 TEKNISI/ANALIS KEAHLIAN*KHUSUS
Standar*Kompetensi*Lulusan D2*(AHLI*MUDA) 4
Standar*Isi D1*(AHLI*PRATAMA) 3
Standar*Proses SMU SMK ! 2 OPERATOR
Standar*Sarana*Prasarana SD&SMP SD7SMP * 1 Standar*Pendidik*dan*Tenaga*Kependidikan ! !
Standar*Biaya PROGRAM*PENDIDIKAN PROGRAM*PENDIDIKAN PROGRAM*PENDIDIKAN PENGEMBANGAN*KARIR
Standar*Penilaian BERBASIS*AKADEMIK BERBASIS*VOKASI BERBASIS*PROFESI BERBASIS*PELATIHAN*KERJA Standar*Pengelolaan
ASOSIASI ASOSIASI ASOSIASI ASOSIASI ASOSIASI
STAKEHOLDER BERBASIS BERBASIS BERBASIS BERBASIS BERBASIS
PENDIDIKAN PENYELENGGARA SATUAN PROGRAM INDUSTRI PROFESI
PENDIDIKAN PENDIDIKAN STUDI !
ASOSIASI ASOSIASI FORUM!PELAKU LEMBAGA!RISET!DAN ORGANISASI!MASYARAKAT BERBASIS BERBASIS PROSES!!PENDIDIKAN PENGEMBANGAN!INDEPENDEN BIDANG!PENDIDIKAN OKUPASI KEAHLIAN!KHUSUS
*S
FORMAL*(SEKTOR*KEPENDIDIKAN) NON7FORMAL*dan*INFORMAL*(SEKTOR*KETENAGAKEJAAN)
**K
BADAN*AKREDITASI*NASIONAL LEMBAGA*AKREDITASI*MANDIRI
SATUAN*PENDIDIKAN KORPORASI*7*PERUSAHAAN*7*INDUSTRI
KOMPETENSI*LULUSAN*(IJASAH*7*GELAR*AKADEMIK) KOMPETENSI*KERJA*(SERTIFIKAT*7*GELAR*PROFESI)
AUDIT*INTERNAL AUDIT*EKSTERNAL
Sistem*Pendidikan*Nasional Sistem*Sertifikasi*Nasional
STAKEHOLDER INDUSTRI
KEMENTRIAN*PENDIDIKAN*DAN*KEBUDAYAAN KEMENTRIAN*TENAGA*KERJA*DAN*TRANSMIGRASI
TERIMA KASIH
Diskusi‐Tanya Jawab
W
WWWWW..EEKKOOIINNDDRRAAJJIITT..CCOOMM PPRROOFF.. RRIICCHHAARRDDUUSS EEKKOO IINNDDRRAAJJIITT IINNDDRRAAJJIITT@@PPOOSSTT..HHAARRVVAARRDD..EEDDUU