Mutiara di lereng gunung Perjalanan kengadas
Tepatnya jam 5 pagi aku dan beberapa anggota tim merah sudah di depan gerbang kampus, hari itu kami mempunyai niat yang sangat-sangat luar biasa menurut aku sich hihihihi..., lho mengapa tidak?..., alasannya ya karena hari sabtu biasanya males-malesan di kost, tidur-tiduran sambil nonton film, atau gak ke toko baju buat ngeliat fashion yang lagi ngetren sekarang. , ehh malah ngaur kemana-mana, okey sekarang kita mulai dengan ocehan yang di keluarkan dari mulut ku sendiri, sekilas
pertanyaan untuk memulai pembicaraan di pagi itu, mana yang lain? (nanya ke semua temen yang ada di situ) .. berapa orang angota tim merah?, kok Cuma sedikit yang ikut, atau memang pada belum datang?, janjinya jam 5 onetime., tunggu sebentar lagi, ada beberapa temen yang masih otw bentar lagi kita berangkat (kata salah satu temenku)
Waktu terus menunjukkan pergantian jam dan kami hanya berjumlah 6 orang, padahal jumlah dari semua anggota 13 orang, ntah kemana yang lain yang pasti kami pagi itu hanya berjumlah 10 orang di tambah dari kakak panitia 3 orang dan PJ kak farida 1 orang. Karena merasa udah lama nunggu yang lain belum datang-datang juga kami memutuskan untuk mulai jalan ke tempat tujuan, dan sebelum gerak kami mengawali dengan membaca doa agar tujuan tidak sia-sia dan pergi-pulang selamat. Amin.., Perjalanan panjang yang ditempuh selama 3 jam pun kami lalui dengan semangat luar biasa, walaupun medan yang di tempuh sangat berbahaya tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan yaitu desa ngadas, desa yang terletak di lereng gunung Bromo, tengger, dan semeru yang merupakan pintu masuk para
wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Desa ngadas
sangat minim dengan segala hal, di sana tidak ada pasar, puskesmas, dan hanya ada satu sekolah dasar, satu sekolah menengah pertama
sedangkan sekolah menengah atas tidak ada. Selain itu di ngadas juga terbatas listrik, jaringan telepon.
Kondisi kelas
Ketika mengajar di kelas satu sekolah dasar desa ngadas aku
menggunakan media kertas origami (kertas lipat). Kesan pertama ketika masuk dikelas itu, sempat kaget bahkan membuat hati ku sedih, karena melihat kondisi sekolah yang sangat jauh perbedaannya dengan sekolah-sekolah yang ada di kota. Sekolah ini terbatas kelas dan bangunan,
sehingga didalam satu ruangan kelas harus di sekat dengan triplek untuk dibagi dengan kelas yang lain. Menurutku dengan jumlah siswa yang cukup banyak pasti kondisi kelas yang seperti ini sangat tidak kondusif untuk belajar. Dari ruang kelas sekarang dari fasilitas yang kurang, guru yang kurang semua ini pasti sangat menjadi penghambat dalam proses belajar mengajar. Tapi hal ini tidak melunturkan semangat siswa-siswa didik ku untuk tetap belajar. Mereka tetap semangat belajar walupun dengan kondisi kelas yang tidak kondusif. Bagiku mereka seperti mutiara yang ada dilereng gunung, mereka sangat berharga semangat mereka untuk tetap belajar dan menganggap guru seperti malaikat yang berarti membuat ku banyak belajar dari mereka. Hanya untuk datang kesekolah dan belajar mereka rela berjalan sejauh 5 KM dengan medan yang sangat sulit untuk ditempuh dan melelahkan karena turun naik tanjakan lereng gunung. Ketika berada di antara anak-anak didik tersebut aku merasa kalah dengan semangat mereka yang luar biasa jika dibandingkan dengan semangat aku untuk kuliah selama ini. Because, alasan ku datang
kekampus hanya untuk menuhi kewajiban aja, dengerin dosen ceramah, tanpa ada rasa termotivasi kadang-kadang aku gak masuk kuliah
alasannya capek. Tapi mereka begitu semangat tanpa ada rasa capek mereka tetap tersenyum, gembira, untuk belajar.
Pelajaran di mulai
Ketika sudah berada di dalam kelas aku mencoba untuk memulai
pembicaraan dengan siswa-siswa kelas satu, dimulai dengan perkenalan nama, dari mana dan asal. Tapi sulit sekali bagi mereka untuk bisa
dapat berekspresi dalam hal imajinasi seminsal membuat bentuk burung, kapal, pesawat, bunga atau bentuk bola dari kertas lipat tersebut. Setelah panjang lebar penjelasan yang aku berikan, tapi mereka gak ngerti mau di bikin apa kertas itu dan sejuta pertanyaan pun keluar dari mulut mereka dengan polos “bu ini kertas apa?, untuk apa bu?, saya belum pernah melihatnya?.. kok ada banyak warna bu? bla..bla..bla..dan masih banyak lagi pertanyaan lain dari mereka. Aku pun mulai memikirkan cara
bagaimana kertas lipat ini tetap berfungsi dalam proses pembelajaran hari itu dan siswa tetap bisa berimajinasi.
(kata ku)... okey sekarang ibu mau kalian semua boleh mengambil kertas lipat dengan warna yang kalian suka... “semua siswa mengambil kertas dengan warna yang mereka sukai”. Aku pun mulai berjalan dari bangku satu ke bangku yang lain untuk menanyakan alasan siswa didik ku mengambil warna yang mereka sukai.. ada banyak alasan yang mereka sebutkan hingga membuatku tertawa, dari dwike anak prempuan yang menjadi penerjemah bahasa .. “dwike, iya bu, Ibu mau nanya kenapa dwike suka warna kuning?” (dwike menjawab) iya bu, soalnya di rumahku banyak bunga yang berwarna kuning, baju sekolah olahraga ku juga warnanya kuning, tas dwike warnanya kuning, dan pita rambut juga berwarna kuning. Warna kuning seperti matahari bu, cerah bu, bagus untuk anak prempuan, dan aku suka warna kuning.
Dari hal warna anak didik ku sudah bisa berimajinasi dan menceritakan pengalaman mereka baik dari lingkungan maupun dari diri mereka sendiri. Setelah proses dari hal berimajinasi dengan warna selesai, aku menyuruh mereka untuk mencontohkan bentuk dari kertas yang aku lipat dan
menjadi bentuk sebuah kotak dadu dengan banyak warna, dan dengan sebentar saja mereka bisa mencontohkan. Aku sangat senang ketika melihat keseriusan mereka dalam hal belajar. Setelah kertas lipat berbentuk seperti dadu aku menyuruh mereka menjumlahkan banyak warna yang ada dan di tambah dengan permainan penjumlahan
matematika. Kebanyakan dari mereka sangat pintar dalam hal hitungan dan penjumlahan.
Secuil cerita mengenai cita-cita anak didikku, kebanyakan anak laki-laki hanya ingin menjadi petani sukses. Tapi tidak untuk dwike anak prempuan yang sangat cerdas itu, dia bercita-cita ingin menjadi seorang guru,
katanya biar bisa membantu anak-anak didesanya menjadi pintar dan guru didesanya banyak. Sangat polos sekali pemikirannya, aku kagum dan bangga dengan semua peserta didik ku yang ada didesa ngadas.
Menjadi seorang guru itu mudah, ketika sudah ada bahan dan fasilitas yang lengkap itu sangat mudah sekali dalam proses pembelajaran, tapi masalahnya jika di hadapkan dengan kondisi yang serba terbatas, disitulah akan merasakan jadi guru itu sangat sulit sekali itulah yang menjadi kesan yang sangat berarti menurutku. Guru bukan sekedar
mengajar materi tapi guru juga harus bisa menjadi motivator bagi peserta didik. banyak hal yang dapat ku pelajari dari mereka mutiara di lereng gunung, dalam kondisi apapun tidak melunturkan semangat mereka untuk tetap belajar.
Kondisi sekolah yang jauh dari kata sempurna ini membuat ku teringat akan sekolah yang ada dikota, jika di definisikan sekolah di kota seperti surga pendidikan di sana lengkap dengan semua fasilitas yang ada. Tidak untuk sekolah yang ada didesa ngadas, sekolah yang tersimpan mutiara berharga generasi bangsa tapi tidak mempunyai kesempatann untuk bisa berkembang dan menikmati indahnya dunia pendidikan yang lengkap dengan semua fasilitasnya. Aku bangga dengan mereka siswa-siswi sekolah dasar desa ngadas tetap semangat dan rajin datang kesekolah demi menuntut ilmu walaupun dengan jarak yang jauh dari rumah mereka.
Dari pengalaman aku mengajar di desa ngadas, banyak hal yang bisa ku pelajari mulai dari kondisi sekolah sampai ke kondisi lingkungan dan adat istiadat yang masih sangat kental didesa itu,. Semoga pengalaman ini menjadi cerita untuk ku ketika aku sukses kelak menjadi seorang guru. Amin...
Profil penulis: NAMA : RINA WATI,
T.T.L :midai, (kepri) 12 Desember 1994
Alamat asal : GN.SEBELAT KEC.MIDAI KAB. NATUNA (Kepulauan Riau)-KEPRI
Study: SDN 005 MIDAI, SMPN 1 MIDAI, SMAN 1 MIDAI, S1 PLB (FIP) UNIVERSITAS NEGERI MALANG.
HOBY: Nyanyi, berpetualang, tour alam,
Moto : bisa tidak bisa, tetap berusaha untuk bisa.