• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI DISONANSI KOGNITIF and TEORI PELAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TEORI DISONANSI KOGNITIF and TEORI PELAN"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

TEORI DISONANSI KOGNITIF

&

TEORI PELANGGARAN HARAPAN

Mata Kuliah : Teori Komunikasi

Dr. Sumardi Dahlan, Ir., M.Si

Disusun Oleh : Kelompok 5 (Lima) - 2 PIK 3

Ari Chandren Mohan (14130170)

Intan Purnamasari (14130167)

Denny Effendy (14130258)

Dian Rosa Rina (14130166)

UNIVERSITAS BUNDA MULIA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Kita Panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas Berkat, Rahmat dan Kuasa-Nya maka tugas Makalah

dengan Thema : “Teori Disonansi Kognitif & Teori Pelanggaran Harapan” dalam Mata Kuliah Teori Komunikasi ini dapat

terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.

Dewasa ini minat seseorang untuk dapat mempelajari dan

mendalami Ilmu Komunikasi semakin luas. Bukan saja dikalangan Mahasiswa tetapi juga dikalangan anggota masyarakat umum lainnya, apakah itu lewat sebuah seminar, diskusi ataupun pelatihan

khusus mengenai Komunikasi itu sendiri.

Namun, ketika seorang Komunikator dan Komunikan yang

menjalin Komunikasi, tak jarang pula ditemukannya sebuah rasa ketidaknyamanan diantara keduanya. Hal ini tentunya mungkin saja terjadi, karena didukung oleh Teori – Teori yang telah ada, seperti

Teori Disonansi Kognitif dan Teori Pelanggaran Harapan yang akan kita bahas didalam Makalah ini.

Oleh karena hal tersebut, Team Penulis bertujuan untuk memberikan pemahaman serta penalaran yang baik tentang Teori Komunikasi Disonansi Kognitif dan Teori Pelanggaran Harapan.

Semoga Makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua. Atas dukungan dan perhatiannya Kami Ucapkan Terima Kasih

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR I

DAFTAR ISI II

BAB I : PENDAHULUAN 1

a. Latar Belakang Komunikasi 03

b. Tujuan Komunikasi dalam Kehidupan 04

c. Manfaat Komunikasi dalam kehidupan Manusia 05

BAB II : MATERI & PEMBAHASAN

a. Teori Disonansi Kognitif 07

b. Teori Pelanggaran Harapan 24

BAB III : KESIMPULAN & SARAN

a. Kesimpulan 44

b. Saran 47

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya untuk dapat berinteraksi dengan sesamanya. Ia ingin mengetahui bagaimana keadaan

lingkungan sekitarnya, bahkan juga ingin mengetahui apa yang sedang terjadi didalam diri pribadinya. Rasa ingin tahu inilah

memaksa manusia untuk perlu melakukan Komunikasi dan Interaksi. Komunikasi yang merupakan sebagai salah satu kegiatan yang dilakukan dalam keseharian yang dilaksanakan oleh masing -

masing individu sangat berhubungan erat dengan perilaku, watak ataupun karakter individu itu sendiri. Tak jarang pula didalam

kesahariannya seorang Komunikator dan Komunikan yang menjalin Interaksi timbul Perbedaan perilaku perindividu masing - masing didalam melakukan komunikasi tersebut, atau juga berhubungan

dengan orang lain yang merupakan situasi dimana berkaitan dengan psikologis (psikis / kejiwaan) individu itu sendiri.

Dalam hidup bermasyarakat, orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain niscaya akan terisolasi dari

masyarakatnya. Pengaruh keterisolasian ini akan menimbulkan depresi mental yang pada akhirnya membawa orang kehilangan keseimbangan jiwa. Oleh sebab itu menurut Dr.Everett Kleinjan dari East West Center Hawaii, komunikasi sudah merupakan bagian

(5)

dilakukan dan dibutuhkan oleh semua manusia. Sepanjang manusia ingin hidup, ia perlu berkomunikasi untuk melangsungkan hidupnya.

Banyak pakar meniai bahwa komunikasi adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Profesor Wilbur Schramm menyebutnya bahwa

komunikasi dan masyarakat adalah dua kata kembar yang tidak dapat dipisahkan antara satu sama yang lainnya. Sebab komunikasi

tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan Komunikasi.

Atas dasar tersebut, maka timbulah beberapa Teori dan

statement – statement yang dicetuskan oleh beberapa para ahli dibidang Komunikasi, maupun yang berasal dari cabang Ilmu lainnya

yang mencakup paham Komunikasi. Seperti Teori Disonansi Kognitif yang salah satu statementnya dicetuskan oleh Leon Festinger yang merupakan seorang ahli psikologi (psikolog), ataupaun Teori Pelanggaran Harapan yang dicetuskan oleh Judee Burgoon.

Tujuan utama dari dikuatkannya Teori – Teori Komunikasi

yang ada ialah untuk kita yang bertindak sebagai Komunikator ataupun Komunikan agar dapat memahami, menjalani dan mengaplikasikan Komunikasi tersebut dengan baik dan benar serta

juga mengatasi segala permasalahan - permasalahan yang ada pada jalinan Komunikasi sendiri, seperti rasa ketidaknyamanan yang

(6)

A. Latar Belakang Komunikasi

Komunikasi merupakan konsep atau pengertian yang Multi

Makna. Komunikasi adalah “suatu proses dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi tersebut agar terhubung dengan

lingkungan orang lain atau sekumpulan orang banyak”.

Pada umumnya Komunikasi dilakukan secara lisan atau

Verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa Verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, Komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak –

gerik badan (Body Language / Gesture Tubuh), menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum untuk memberi arti menyapa atau

merespon seseorang, menggelengkan kepala untuk memberi arti ketidak mengertian pada suatu pembicaraan, mengangkat bahu untuk menyatakan tidak tahu dalam sebuah pertanyaan. Cara seperti

ini disebut juga dengan Komunikasi bahasa Non Verbal.

Komunikasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses

penyampaian Informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepihak lain. Dengan adanya Komunikasi didalam kehidupan bermasyarakat, maka sebuah Informasi lebih mudah diperoleh dan

lebih cepat berkembang luas. Hal ini juga didukung oleh beberapa faktor media atau perangkat komunikasi yang semakin hari semakin

(7)

B. Tujuan Komunikasi dalam Kehidupan

Didalam kehidupan keseharian manusia, baik dia muda, tua

ataupun seseorang yang bisa dikatakan sudah lanjut usia pasti memiliki tujuan dalam hidupnya untuk bisa menentukan mana yang terbaik buat dirinya sendiri dan orang – orang yang berada

disekitarnya, misalnya Keluarga dimasa yang akan datang.

Disini terlihat jelas, bahwa Komunikasi dengan

kepribadiannya sendiri (Intrapersonal Communication) dan dengan orang – orang yang berada disekitarnya (Intrapersonal Communication) sangat berperan penting dalam menentukan hasil

terbaik pula dari tujuan yang telah direncanakannya tersebut.

Begitu juga dengan Komunikasi, setiap orang yang

melakukan interaksi atau komunikasi dengan orang lain atau sekumpulan orang pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu didalamnya. Apakah itu berpengaruh positif bagi keduanya atau

bahkan juga pengaruh negatif.

Sifat manusia untuk menyampaikan keinginannya dan untuk

mengetahui hasrat orang lain, merupakan awal keterampilan manusia berkomunikasi agar bisa terwujudnya sebuah interaksi tersebut. Namun bukanlah sebuah hal yang mudah untuk kita bisa

mengaplikasikan maksud dan tujuan kita terhadap lawan bicara tanpa kita dibekali teknik – teknik berkomunikasi yang baik dan benar

(8)

Singkat kata, Dewasa ini bisa dikatakan Keberhasilan dan Kegagalan seseorang dalam mencapai tujuan hidup dan sesuatu

yang diinginkannya termasuk didalam dunia karier / pekerjaan, pendidikan serta kehidupan sosial, banyak ditentukan dalam kemampuannya menjalin komunikasi dengan lingkungan sekitar.

C. Manfaat Komunikasi dalam Kehidupan Manusia

Dalam kehidupan sehari - hari, komunikasi yang baik sangat penting untuk berinteraksi antar personal maupun antar masyarakat agar terjadi keserasian dan mencegah konflik dalam lingkungan

masyarakat. Misalnya Dalam hubungan bilateral antar negara diperlukan juga komunikasi yang baik agar hubungan tersebut dapat

berjalan dengan baik dan lancar. Contohnya : Manfaat komunikasi adalah dalam hubungan kerjasama antar Negara, seperti yang baru – baru ini terjadi didalam pencarian pesawat Malaysia Airlines (MAS)

MH370 yang hilang beberapa pekan lalu. Ikut sertanya beberapa Negara seperti Australia, Amerika, China serta Malaysia sendiri

merupakan dampak positif yang timbul dari manfaat Komunikasi. Sebaliknya, Miss Communication (terjadinya kesalahan dalam salah satu proses komunikasi) akan menyebabkan tidak

tercapainya tujuan atau misi yang hendak di capai. Seperti yang terjadi dalam hubungan Indonesia dengan Australia, dimana pihak Australia menganggap pernyataan Indonesia mengenai “Negara

(9)

Gudang Teroris”. Hal ini menyebabkan dampak yang kurang baik

dalam hubungan kedua negara tersebut. Dari kedua contoh di atas

dapat kita simpulkan bahwa komunikasi sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan. Contoh lain dalam pendidikan seperti hubungan dosen dengan mahasiswa, dengan adanya

komunikasi,maka kegiatan belajar - mengajar akan berlangsung dengan baik dan lancar.

Intinya, manfaat Komunikasi di dalam Kehidupan bermasyarkat Manusia sangat berguna bagi kelangsungan hidupnya didalam dunia bersosialisasi, berpendapat / berargumen, beradaptasi

(10)

BAB II

MATERI & PEMBAHASAN

A. Teori Disonansi Kognitif

Teori Disonansi Kognitif pertama kali diperkenalkan oleh

Leon Festinger pada tahun 1957 dan berkembang pesat sebagai sebuah pendekatan dalam memahami area umum dalam Komunikasi dan pengaruh sosial. Ada terdapat beberapa Teori

dalam menjelaskan konsistensi atau keseimbangan, diantarnya adalah Teori Ketidakseimbangan Kognitif (cognitive imbalance

theory) oleh Heider pada tahun 1946, Teori Asimetri (asymetry theory) oleh Newcomb pada tahun 1953, dan Teori Ketidakselarasan

(incongruence) oleh Osgood dan Tannembaum pada tahun 1952. Namun Shaw & Contanzo pada tahun 1985 mengatakan bahwa Teori Disonansi Kognitif memiliki dua perbedaan hal penting

yang terdapat didalam proses Teori ini, yaitu :

1. Tujuannya, yang dimaksudkan untuk memahami hubungan

tingkah laku (behavior) dan Kognitif (cognitive) secara umum, tidak hanya merupakan sebuah teori dari tingkah laku sosial. 2. Pengaruhnya, dalam sebuah penelitian Psikologi yang dilakukan

oleh pakar psikolog, suatu hubungan sosial telah menjadi suatu hal yang sangat besar dibandingkan teori konsistensi lainnya,

(11)

Menurut Festinger (1957) disonansi kognitif adalah ketidaksesuaian yang terjadi antara dua elemen kognitif yang tidak

konsisten yang menyebabkan ketidaknyamanan Psikologis serta memotivasi orang untuk berbuat sesuatu agar disonansi itu dapat dikurangi. Istilah disonansi / disonan berkaitan dengan istilah

konsonan dimana keduanya mengacu pada hubungan yang ada antara dua buah elemen.

Elemen - elemen yang dimaksud adalah elemen kognitif yaitu Hubungan antara elemen kognitif yang konsonan berarti adanya suatu kesesuaian antara elemen kognitif manusia (Festinger,

1957 dalam Breckler, Olson, & Wiggins, 2006). Sementara hubungan yang disonan seperti yang juga diungkapkan oleh Festinger (1957) :

“These two elements are in a dissonant relation if,

considering these two alone, the observe of one element would

follow from the other”

Kedua elemen yang dimaksud oleh Festinger (1957) ialah :

1. Hubungan tidak relevan (irrelevant), yaitu tidak adanya kaitan

antara dua elemen Kognitif. Misalnya : pengetahuan bahwa merokok buruk bagi kesehatan dengan pengetahuan bahwa Indonesia tidak pernah turun salju. Dapat kita lihat, bahwa dua

hal ini tidak memiliki kaitan antara satu sama lain. Yang mana pengetahuan merokok itu buruk ditujukan untuk para perokok,

(12)

2. Hubungan relevan (relevant), yaitu hubungan yang berkaitan antara satu dengan yang lain, sehingga salah satu elemen

mempunyai dampak terhadap elemen yang lainnya. Hubungan initerdiri dari dua macam, yaitu :

1. Disonan, jika dari kedua elemen Kognitif, satu elemen diikuti

penyangkalan (observe) dari yang elemen lainnya. Contoh : seseorang yang mengetahui bahwa bila terkena hujan akan

basah mengalami disonan ketika pada suatu hari ia mendapati dirinya tidak basah saat ia terkena hujan.

2. Konsonan, terjadi ketika dua elemen bersifat relevan dan

tidak disonan, dimana satu Kognisi diikuti secara selaras. Contoh : seseorang yang mengetahui bahwa bila terkena

hujan akan basah dan memang selalu basah bila terkena hujan.

Contoh hubungan yang disonan antara elemen kognitif menurut Festinger (1957) yaitu jika seseorang tahu bahwa ia sedang

terlilit hutang dan dia membeli sebuah mobil baru, maka akan terjadilah sesuatu yang disebut dengan hubungan yang disonan antara kedua elemen kognitif tersebut, yaitu antara terlilit hutang

yang lebih banyak dan adanya hasrat untuk memiliki mobil baru. Festinger juga menyatakan bahwa hubungan yang konsonan

(13)

yang tidak enak atau tidak nyaman pada individu. Perasaan tidak nyaman yang terbentuk akibat hubungan yang disonan tersebut

memotivasi individu untuk melakukan sesuatu agar disonansi itu dapat dikurangi sehingga mereka akan merasa nyaman kembali (1957, dalam Breckler, Olson, & Wiggins, 2006).

Setiap hubungan yang disonan tentu saja tidak sama besarnya, dimana Festinger (dalam Breckler, Olson, & Wiggins,

2006) menyatakan bahwa tingkat kepentingan dari elemen - elemen Kognitif mempengaruhi besarnya disonansi yang terjadi. Semakin penting atau semakin bernilainya suatu elemen kognitif akan

mempengaruhi besarnya hubungan yang disonan antara elemen tersebut. Breckler, Olson, & Wiggins (2006) juga menyatakan bahwa

disonansi antara elemen - elemen kognitif yang penting akan menyebabkan perasaan negatif yang lebih besar dibandingkan disonansi yang terjadi pada elemen - elemen yang kurang penting.

Sebagai salah satu contoh ilustrasinya yaitu, ketika kita melukai perasaan sahabat, teman ataupun kekasih akan lebih

menimbulkan disonansi yang lebih besar dibanding ketika melukai perasaan orang asing yang baru kita kenal ataupun yang belum sama sekali kita ketahui siapa orang tersebut.

Komunikasi memang merupakan suatu kebutuhan dasar manusia. Sejak lahir dan selama Manusia menjalani proses

(14)

berbagai konteks kehidupan manusia, mulai dari kegiatan yang bersifat individual, di antara dua orang atau lebih, kelompok,

keluarga, organisasi dalam konteks publik secara lokal, nasional, regional dan global atau melalui media massa.

Begitu pula dengan Teori Disonansi Kognitif ini, prakata dan

statement real yang dicetuskan para ahli seperti Festinger, dapat terjadi dengan siapa saja yang melakukan Interaksi dan menjalin

Komunikasi, baik itu secara interpersonal maupun intrapersonal. Tanpa memperhatikan ruang Komunikasi yang ada, hanya perlu memahami sikap, perilaku, karakter, sifat dan watak diri sendiri

ataupun orang lain yang menjadi lawan bicara kita.

Karena Teori Disonansi Kognitif menjadi salah satu

penjelasan yang paling luas yang diterima terhadap perubahan tingkah laku dan banyak perilaku sosial lainnya. Teori ini telah di genralisir pada lebih dari seribu penelitian dan memiliki kemungkinan

menjadi bagian yang terintegrasi dari teori psikologi sosial untuk bertahun – tahun, seperti yang dikatakan oleh Cooper & Croyle pada

(15)

PENGERTIAN SECARA TEORITIS

Leon Festinger yang merupakan seorang pakar Psikolog, pada

tahun 1957 menyatakan bahwa Kognitif menunjuk pada setiap

bentuk pengetahuan, opini, keyakinan ataupun perasaan mengenai diri seseorang atau lingkungan dimana seseorang itu berada. Elemen – elemen Kognitif ini berhubungan dengan hal –

hal nyata atau pengalaman sehari – hari dilingkungan dan hal – hal yang terdapat dalam dunia psikologis (psikis) seseorang.

Wibowo dalam sebuah buku karangan Sarwono, S.W. pada

tahun 2009, mendefinisikan Disonansi Kognitif sebagai keadaan

tidak nyaman akibat adanya ketidaksesuaian antara dua sikap atau lebih serta antara sikap dan tingkah laku.

Roger brown pada tahun 1965 mengatakan, dasar dari teori ini

adalah mengikuti sebuah prinsip yang cukup sederhana, yaitu : ”Keadaan Disonansi Kognitif dikatakan sebagai keadaan

ketidaknyaman Psikologis atau ketegangan yang memotivasi usaha - usaha untuk mencapai konsonansi”. Disonansi sendiri menurut beliau adalah sebutan untuk menyampaikan

ketidakseimbangan dan Konsonansi merupakan sebutan untuk menyatakan keseimbangan yang terjadi. Brown menyatakan

(16)

KONSEP TEORI DISONANSI KOGNITIF

Ketika Teoretikus Disonansi berusaha untuk melakukan prediksi seberapa banyak ketidaknyaman atau disonansi yang

dialami seseorang, mereka mengakui adanya konsep tingkat disonansi. Tingkat disonansi (magnitude of dissonance) merujuk kepada jumlah kuantitatif disonansi yang dialami oleh seseorang.

Tingkat disonansi akan menentukan tindakan yang akan diambil seseorang dan kognisi yang mungkin ia gunakan untuk mengurangi disonansi tersebut. Teori CDT (Cognitive Dissonant Theory) dapat

dikatakan juga sebagai sisi untuk membedakan antara situasi yang menghasilkan lebih banyak disonansi dan situasi yang menghasilkan

lebih sedikit konsonansi.

Kembali kepada Festinger (1957), beliau pernah mengemukakan, bahwa jia Dua orang Individu yang memiliki situasi yang sama memiliki kemungkinan berada dalam suatu kondisi yang

disonan. Aronson (dalam Shaw & Contanzo, 1985) menyatakan

bahwa perbedaan individu berperan dalam proses disonansi kognitif.

Perbedaan ini terjadi dalam kemampuan subyek dalam mentoleransi disonansi, cara yang dipilih subyek untuk mengurangi kondisi disonan, dan cara subyek memandang suatu masalah sebagai

(17)

ASUMSI TEORITIS DISONANSI KOGNITIF

Teori Disonansi Kognitif memiliki sejumlah Asumsi,

anggapan, presepsi ataupun statement dasar, diantaranya adalah : 1. Manusia memiliki hasrat akan adanya konsistensi pada

keyakinan, sikap, dan perilakunya. Teori ini menekankan pada sebuah model mengenai sifat dasar dari diri manusia yang mementigkan adanya stabilitas dan konsistensi.

2. Disonansi diciptakan oleh Inkonsistensi biologis. Teori ini

merujuk pada fakta – fakta yang tidak harus konsisten secara psikologis (kejiwaan / mental) satu individu dengan individu

lainnya untuk menimbulkan Disonansi Kognitif.

3. Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan suatu tindakan dengan dampak - dampak yang

tidak dapat diukur didalamnya. Teori memang ini menekankan seseorang yang berada dalam kondisi Disonansi memberikan

keadaan yang tidak nyaman, sehingga ia akan melakukan tindakan untuk keluar dari ketidaknyamanan tersebut.

4. Disonansi akan mendorong usaha untuk memperoleh Konsonansi dan usaha untuk mengurangi suatu kondisi Disonansi. Teori ini beranggapan bahwa rangsangan Disonansi

(18)

PENYEBAB TERJADINYA DISONANSI KOGNITIF

Pada tahun yang sama, 1957, Festinger juga menyebutkan adanya dua situasi umum yang menyebabkan munculnya Disonansi.

Yaitu ketika terjadi peristiwa atau informasi baru dan ketika sebuah

opini atau keputusan harus dibuat, dimana Kognisi dan tindakan

yang dilakukan berbeda dengan opini atau pengetahuan yang

mengarahkan ke tindakan lain. Lebih lanjutnya Festinger menyebutkan empat sumber Disonansi dari situasi tersebut, yaitu : 1. Inkonsistensi Logika (logical incosistency), yaitu mengenai

Logika Berpikir kita yang mengingkari Logika Berfikir orang lain. Misalnya, seseorang yang percaya bahwa manusia dapat

mencapai bulan dan juga ada yang percaya bahwa manusia tidak dapat membuat alat yang dapat membantu keluar dari

atmosphere bumi, possible - impossible.

2. Nilai Budaya (cultural mores), yaitu bahwa Kognisi yang dimiliki

seseorang disuatu budaya kemungkinan akan berbeda dibudaya lainnya. Misalnya orang Indonesia yang mengetahui bahwa

bersendawa setelah makan merupakan hal yang sangat tidak sopan dan merupakan hal yang menjijikkan bagi orang yang berada disekitarnya, disonan dengan kenyataan bahwa hal

tersebut tidak wajar pada Etika makan dibudaya Jepang, yang memiliki arti bahwa itu mensyukuri atas berkat makanan yang

(19)

3. Opini Umum (Opinion Generality), yaitu disonansi mungkin

muncul karena sebuah pendapat yang berbeda dengan yang

menjadi pendapat umum. Misalnya pada saat Pemilihan Umum seorang anggota partai Demokrat yang dianggap publik pasti akan mendukung kandidat dari partai yang sama, ternyata lebih

memilih kandidat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang merupakan rival dari partainya sendiri.

4. Pengalaman Masa Lalu (past experience), yaitu Disonansi akan muncul bila sebuah Kognisi tidak konsisten dengan pengalaman

masa lalunya. Misalnya seseorang mahasiswa yang terlambat masuk kelas tidak diizini oleh Dosen untuk typing (mengisi

absensi), akan mengalami disonan ketika pada suatu hari ada seorang lain yang terlambat masuk kelas namun ternyata diizini Dosen untuk mengisi absensi, agar tidak menjadi Alfa.

Keempat hal tersebutlah yang hingga saat ini masih sering mendominasi untuk terjadinya Disonansi Kognitif, yang mana pada

(20)

IMPLIKASI TEORI DISONANSI KOGNITIF

Didalam buku karangan Shaw & Constanzo pada tahun

1982, Leon Festinger juga mengatakan bahwa Teori Disonansi Kognitif memiliki Implikasi penting didalam menghadapi banyak

situasi spesifik. Festinger menjabarkan Implikasi – Implikasi tersebut dalam seseorang mengambil Keputusan (decisions), Forced Compliance, Pencarian Informasi (Exposure to Information), dan Dukungan Sosial (Social Support). Dari situasi - situasi tersebut

dapat diketahui besarnya kekuatan sebuah Disonansi. 1. Keputusan (Decisions)

Keputusan (Decisions) termasuk kedalam Implikasi dari Disonansi Kognitif yang menyatakan bahwa Disonansi Kognitif merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan dari sebuah

Keputusan (Decisions). Hal tersebut didasari oleh kenyataan bahwa seorang individual harus berhadapan dengan sebuah situasi konflik

sebelum sebuah keputusan dapat dibuat.

Pada umumnya, elemen Disonan adalah aspek Negatif dari alternatif yang dipilih dengan aspek positif yang ditolak. Disonansi

akan semakin kuat jika Keputusan (Decisions) semakin penting dan jika ketertarikan dari alternatif yang tidak dipilih semakin besar.

Contoh dari munculnya disonansi dalam sebuah Keputusan (Decisions) yang diambil adalah seorang perokok berat yang

(21)

dari alternatif yang dipilih) dengan hal positif yang akan ia dapat bila tidak merokok, yaitu kesehatan yang baik (alternatif yang ditolak).

2. Forced Compliance

Forced Compliance merupakan suatu permintaan dari luar

diri seseorang yang dipaksakan kepada seorang individu. Aplikasi dari Teori disonansi pada Forced Compliance terbatas pada

permintaan publik (Compliance) tanpa disertai oleh perubahan pendapat pribadi yang ada.

Sumber Disonansi adalah kesadaran seseorang dari tingkah

laku yang diharuskan publik yang tidak konsisten dengan pendapat pribadi. Forced Compliance ini mempengaruhi individu, misalnya

seorang perokok berat yang membuat keputusan (decisions) untuk tidak merokok, alhasil dia berhasil mengubahnya (berhenti merokok). Atau dalam hal nya dapat dikatakan sebagai jalan untuk merubah

perilaku atau ucapan yang tampak terlihat merubah sebuah opini dan keyakinan mereka dengan tetap memegang keyakinan sebelumnya

(merokok sembunyi – sembunyi atau takut akan bahaya dan dampak dari merokok), atau justru membuat mereka mencari dukungan sosial yang mendukung pendapat, opini dan statement yang mereka

(22)

3. Pencarian Informasi (Exposure to Information)

Festinger memberikan sebuah hipotesis, bahwa pencarian

Informasi secara aktif akan berkorelasi dengan kekuatan sebuah Disonansi. Disonansi tersebut menyebabkan pencarian sebuah Informasi menjadi lebih selektif dan terperinci, yaitu seorang individu

akan lebih mencari Informasi yang menyebabkan konsonan dan menghindari informasi yang menyebabkan disonansi.

Contohnya didalam hal hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370, yang hingga sekarang keberadaan dan posisinya masih dipertanyakan, walaupun kabar terakhir yang ada mengatakan

kapal terjatuh diseputaran Samudera Hindia. Namun, sampai dimana kebenaran dan kenyataannya masih belum dapat dipastikan secara

tepat. Maka itu dibutuhkanlah pencarian melalui selektif data lebih terperinci dan lain sebagainya, hingga diperolehnya sebuah Informasi yang akurat, terpercaya dan sesuai kenyataan.

4. Dukungan Sosial (Social Support)

Didalam halnya Dukungan Sosial (social support) berperan dalam mengurangi kondisi Disonan, seperti apa yang dikatakan oleh Festinger pada tahun yang sama (1957). Disonansi Kognitif akan

(23)

PRESEPSI DISONANSI KOGNITIF

Teori Disonansi Kognitif berkaitan dengan proses pemilihan

terpaan (selective exposure), pemilihan perhatian (selective attention), pemilihan interpretasi (selective interpretation), dan

pemilihan retensi (selective retention), karena teori ini memprediksi bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan disonansi. Proses perseptual ini merupakan dasar dari sebuah penghindaran yang ditujukan.

1. Terpaan Selektif (Selective Exposure)

Mencari informasi yang konsisten yang belum ada,

membantu untuk mengurangi disonansi. Teori Disonansi Kognitif memprediksikan bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan disonansi dan mencari informasi yang konsisten

dengan sikap serta prilaku mereka.

2. Pemilihan Perhatian (Selective Attention)

Merujuk pada dengan melihat informasi secara konsisten begitu konsisten itu timbul. Orang memperhatikan informasi dalam

lingkungannya yang sesuai dengan sikap dan keyakinannya sementara tidak menghiraukan informasi yang tidak konsisten.

3. Interpretasi Selektif (Selective Interpretation)

(24)

selektif, kebanyakan orang menginterpretasikan sikap teman dekatnya sesuai dengan sikap mereka sendiri daripada yang

sebenarnya terjadi (Bescheid&Walster,1978).

4. Retensi Selektif (Selective Retention)

Merujuk pada mengingat dan mempelajari informasi yang konsisten dengan kemampuannya yang lebih besar dibandingkan

yang kita akan lakukan terhadap informasi yang konsisten dengan kemampuan yang lebih besar dibandingkan yang kita lakukan terhadap informasi yang tidak konsisten.

UPAYA MENGATASI DISONANSI KOGNITIF

Adanya Disonansi yang terjadi didalam sebuah Interaksi maupun jalinan Komunikasi, dapat lebih meningkatkan tekanan

untuk mengurangi atau bahkan mengeleminasi Disonansi yang terjadi tersebut. Semakin besar suatu Disonansi Kognitif yang terjadi, maka intensitas perilaku yang dikeluarkan untuk mengurangi

Disonansi tersebut akan semakin meningkat serta perilaku penghindaran yang dapat meningkatkan Disonansi juga akan

semakin sering dilakukan (Festinger, 1957).

(25)

1. Mengubah Elemen Kognitif Tingkah Laku

Ketika disonansi terjadi antara elemen kognisi lingkungan

dengan elemen tingkah laku, disonansi dapat dihilangkan dengan cara mengubah elemen kognisi tingkah laku agar konsonan dengan elemen lingkungan. Sebagai contoh adalah orang yang merokok dan

dia tau bahwa rokok dapat menyebabkan kanker paru-paru, akan berhenti merokok untuk menghilangkan disonansi kognitif yang dia

rasakan. Cara ini paling sering dilakukan, tetapi tidak selalu dapat dilakukan karena mengubah tingkah laku yang sudah menjadi kebiasaan tidaklah mudah.

2. Mengubah Elemen Kognitif Lingkungan

Mengubah elemen kognitif lingkungan agar konsonan dengan elemen kognitif tingkah laku dapat dilakukan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan disonansi kognitif yang

terjadi. Hal ini tentu saja lebih sulit dibandingkan mengubah elemen tingkah laku karena individu harus punya kontrol yang cukup

terhadap lingkungannya.

3. Menambah Elemen Kognitif yang Baru

Disonansi kognitif juga dapat dikurangi dengan cara menambah elemen kognitif yang baru agar konsonan dengan

(26)

menurunkan tingkatan dari pentingnya disonansi tersebut. Contohnya, orang yang merokok dan tau efek negatif dari merokok

akan mengurangi disonansi kognitif yang terjadi dengan cara mencari informasi terkait perilaku merokok yang dapat menurunkan disonansi kognitif secara keseluruhan, seperti informasi bahwa

konsumsi minuman keras lebih mematikan dari pada perilaku merokok. Lewat cara ini berarti individu juga secara aktif menghindari

informasi yang dapat meningkatkan disonansi kognitif yang mereka alami.

Menurut Breckler, Olson, & Wiggins, (2006) cara mereduksi atau mengatasi disonansi kognitif tersebut juga dapat dilakukan

lewat Rasionalisasi, yaitu meyakinkan diri sendiri bahwa perilaku yang dilakukan saat ini atau di masa lampau semuanya masuk akal dan dapat diterima oleh orang lain.

Sedangkan menurut Simon, Greenberg, & Brehm (1995, dalam Baron & Byrne, 2000) mengurangi atau mengantisipasi

Disonansi kognitif dapat dilakukan dengan cara Trivialization atau secara mental meminimalisir tingkat kepentingan dari sikap atau perilaku yang tidak konsisten, yang juga dapat dilakukan sebagai

(27)

B. Teori Pelanggaran Harapan

Judee Burgoon (1978, 1983, 1985) dan Steven Jones

(Burgoon & Jones 1976) pertama kali merancang Teori Pelanggaran Harapan, atau yang pada umumnya lebih dikenal sebagai Teori Pelanggaran Harapan Nonverbal (Nonverbal Expectancy Violation

Theory / NEV Theory) yang mana bertujuan Untuk menjelaskan konsekuensi dari perubahan jarak dan ruang pribadi selama interaksi

komunikasi antar pribadi.

Nonverbal Expectancy Violation (NEV) Theory adalah salah satu teori pertama tentang komunikasi nonverbal yang

dikembangkan oleh sarjana komunikasi. NEV Theory secara terus menerus ditinjau kembali dan diperluas. Dewasa ini teori NEV

digunakan untuk menjelaskan suatu cakupan luas dari hasil komunikasi yang dihubungkan dengan pelanggaran harapan tentang perilaku komunikasi nonverbal (Infante, 2003: 177).

Judee K. Burgoon adalah Profesor Komunikasi dari Universitas Arizona AS dan merupakan salah seorang teoritikus

wanita yang paling tekun dalam meneliti berbagai dimensi komunikasi nonverbal sepanjang dasawarsa 1970-an hingga 1990-an. Pemikirannya yang tersebar dalam ratusan artikel yang dimuat

dalam jurnal dan buku - buku komunikasi memberikan pengaruh yang besar dalam membentuk pemahaman kita tentang berbagai

(28)

Ada kisah unik dibalik ketertarikan Burgoon pada bidang komunikasi nonverbal. Ceritanya ketika masih kuliah di tingkat

sarjana di Universitas West Virginia Amerika Serikat, Burgoon termasuk mahasiswi yang sangat cerdas tapi kurang menyukai topik - topik mata kuliah yang berkaitan dengan komunikasi nonverbal.

Celakanya dalam mata kuliah seminar yang diikutinya salah seorang dosen justru memintanya untuk mengupas topik tentang komunikasi

nonverbal. Merasa tidak punya pilihan akhirnya dengan segala kesungguhan (dan juga keterpaksaan) Burgoon membaca semua literatur yang ada.

Hasilnya ternyata luar biasa, la tidak saja berhasil menyelesaikan tugas tersebut dengan bobot akademis yang tinggi

tetapi juga membekaskan minat yang mendalam untuk melakukan penelitian komunikasi nonverbal lebih lanjut khususnya tentang penggunaan ruang dan jarak dalam berkomunikasi.

Studi tentang penggunaan ruang dan jarak dalam berkomunikasi atau lebih populer disebut Proksemik sebenarnya

telah dikembangkan oleh Edward T. Hall sejak tahun 1960-an. Dalam teorinya, Hall membedakan empat macam jarak yang menurutnya mengambarkan ragam jarak komunikasi yang

diperbolehkan dalam kultur Amerika yakni jarak intim (0 – 18 inci), jarak pribadi (18 inci – 4 kaki), jarak sosial (4 -10 kaki), dan jarak

(29)

Terkait dengan keempat macam jarak tersebut kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan seperti berikut; Apa yang akan terjadi

ketika seseorang menunjukkan tingkah laku nonverbal yang mengejutkan atau diluardugaan? atau bagaimana persepsi seseorang terhadap tingkah laku nonverbal yang mengejutkan

tersebut bila dikaitkan dengan dayatarik antarpribadi?. Berawal dari pertanyaan semacam itulah kemudian Burgoon meneliti perilaku

komunikasi nonverbal masyarakat Amerika yang menghantarkannya pada penemuan sebuah teori yang kemudian dikenal sebagai Nonverbal Expectancy Violation Theory (NEV Theory).

Teori tersebut untuk pertama kalinya diuraikan secara panjang lebar dalam tulisan Burgoon bertajuk A Communication

Model of Personal Space Violations : Explication and An Initial Test yang diterbitkan dalam Jurnal Human Communication Research volume 4 tahun 1978

ESENSI TEORI

Teori ini bertolak dari keyakinan bahwa kita memiliki harapan

- harapan tertentu tentang bagaimana orang lain sepatutnya berperilaku atau bertindak ketika berinteraksi ataupun menjalin

komunikasi dengan kita. Kepatutan tindakan tersebut pada prinsipnya diukur berdasarkan norma-norma sosial yang berlaku

(30)

mempengaruhi bukan saja cara interaksi kita dengan mereka tapi juga bagaimana penilaian kita terhadap mereka serta bagaimana

kelanjutan hubungan kita dengan mereka

Bertolak dari pernyataan diatas kemudian Teori ini berasumsi bahwa setiap orang memiliki harapan - harapan tertentu

pada perilaku Nonverbal orang lain. Jika harapan tersebut dilanggar maka orang akan bereaksi dengan memberikan penilaian positif atau

negatif sesuai karakteristik pelaku pelanggaran tersebut.

Sebuah contoh kecil mungkin akan memperjelas pemahaman anda tentang asumsi teori ini. Anggaplah anda seorang

gadis jujur yang sedang ditaksir oleh dua orang pemuda. Anda tidak bingung karena jelas anda hanya menyukai salah seorang diantara

mereka. Apa yang terjadi ketika pemuda yang anda senangi tersebut menemui anda dan berdiri terlalu dekat sehingga melanggar jarak komunikasi antarpribadi yang diterima secara normatif? Besar

kemungkinan anda akan menilainya secara positif. Itulah tanda perhatian yang tulus atau itulah perilaku pria sejati ujar anda. Namun

bagaimana halnya bila yang melakukan tindakan tersebut pria yang bukan anda senangi? Tentunya Anda akan bereaksi secara negatif. Anda akan mengatakan bahwa orang itu tidak tahu sopan santun atau mungkin dalam hati anda akan berujar “Dasar lu, kagak tahu diri

(31)

Jadi kita menilai suatu pelanggaran didasarkan pada bagaimana perasaan kita pada orang tersebut. Bila kita menyukai

orang tersebut maka besar kemungkinan kita akan menerima pelanggaran tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan menilainya secara positif. Sebaliknya bila sumber pelanggaran dipersepsi tidak

menarik atau kita tidak menyukainya maka kita akan menilai pelanggaran tersebut sebagai sesuatu yang negatif.

Menurut NEV Theory, beberapa faktor saling berhubungan untuk mempengaruhi bagaimana kita bereaksi terhadap pelanggaran dari jenis perilaku nonverbal yang kita harapkan untuk menghadapi

situasi tertentu . Ada tiga konstruk pokok dari teori ini yakni ; Harapan (Expectancies), Valensi Pelanggaran (Violations Valence),

dan Valensi Ganjaran Komunikator (Communicator Reward Valence) (Griffin, 2004: 88).

1. Expectancies (Harapan)

Faktor Teori Pelanggaran Harapan (NEV Theory) yang pertama adalah mengenai bagaimana cara kita untuk

mempertimbangkan harapan yang kita empuhnya. Melalui norma - norma sosial kita membentuk ”harapan” tentang bagaimana orang

lain (perlu) bertindak secara nonverbal (dan secara lisan) ketika kita

saling berinteraksi dengan mereka. Harapan merujuk pada pola - pola komunikasi yang diantisipasi oleh individu berdasarkan pijakan

(32)

khas, maka suatu pelanggaran pengharapan telah terjadi. Apapun “yang diluar kebiasaan” menyebabkan kita untuk mengambil reaksi

khusus (menyangkut) perilaku itu. Sebagai contoh, kita akan berekasi (dan mungkin dengan sangat gelisah / tidak nyaman) jika seorang asing meminta berdiri sangat dekat dengan kita. Dengan

cara yang sama, kita akan bereaksi lain jika orang yang penting dengan kita berdiri sangat jauh sekali dari kita pada suatu pesta.

Dengan kata lain kita memiliki harapan terhadap tingkah laku nonverbal apa yang pantas dilakukan orang lain terhadap diri kita. Jika perilaku nonverbal seseorang, ketika berkomunikasi dengan

kita, sesuai atau kurang lebih sama dengan pengharapan kita, maka kita akan merasa nyaman baik secara fisik maupun psikologis.

Persoalannya adalah tidak selamanya tingkah laku orang lain sama dengan apa yang kita harapkan. Bila hal ini terjadi, maka akan terjadi gangguan psikologis maupun Kognitif dalam diri kita baik yang

sifatnya positif ataupun negatif. Suatu pelanggaran dari harapan nonverbal kita dapat mengganggu ketenangan; hal tersebut dapat

menyebabkan bangkitnya suasana emosional (Infante, 2003: 177) Kita mempelajari harapan dari sejumlah sumber (Floyd, Ramirez & Burgoon, 1999). Pertama, budaya di mana kita tinggal

membentuk harapan kita tentang beragam jenis perilaku komunikasi, termasuk komunikasi nonverbal. Pada budaya yang menganut “contact culture” kontak mata lebih banyak terjadi, sentuhan lebih

(33)

yang menganut “noncontact culture”. Konteks di mana interaksi berlangsung juga berdampak pada harapan tentang perilaku orang

lain. Sebagian besar dari kontak mata dari orang lain secara atraktif mungkin dilihat sebagai undangan jika konteks dari interaksi berlangsung dalam pertemuan klub sosial, sedangkan perilaku

nonverbal yang sama mungkin dilihat sebagai ancaman jika perilaku tersebut diperlihatkan pada penumpang yang berjumlah sedikit di

dalam kereta bawah tanah yang datang terlambat pada malam hari. Tergantung pada konteks, “belaian boleh menyampaikan simpati, kenyamanan, kekuasaan, kasih sayang, atraksi, ataupun hawa nafsu” (Burgoon, Coker & Coker 1986).

Makna tergantung pada situasi dan hubungan diantara

individu-individu. Pengalaman pribadi kita juga mempengaruhi harapan. Kondisi interaksi kita yang berulang akan mengharapkan terjadinya perilaku tertentu. Jika kawan sekamar kita yang biasanya

periang tiba - tiba berhenti tersenyum ketika kita masuk kamar, kita menghadapi suatu situasi yang jelas berbeda dengan harapan. NEV Theory menyatakan bahwa harapan “meliputi penilaian tentang

perilaku yang mungkin, layak, sesuai, dan khas untuk suasana tertentu, sesuai tujuan, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari partisipan” (Bur-goon & Hale, 1988, hal. 60).

(34)

2. Violation Valence (Valensi Pelanggaran)

Ketika harapan nonverbal kita dilanggar oleh orang lain, kita

kemudian melakukan penafsiran sekaligus menilai apakah pelanggaran tersebut positif ataukah negatif. Penafsiran dan evaluasi kita tentang perilaku pelanggaran harapan nonverbal yang biasa

disebut Violation Valenceatau, Valensi Pelanggaran adalah elemen kedua yang penting dari NEV Theory.

NEV Theory berasumsi bahwa perilaku nonverbal adalah penuh arti dan kita mempunyai sikap tentang perilaku nonverbal yang diharapkan. Kita bersepakat tentang beberapa hal dan tidak

setuju tentang beberapa hal yang lain. Valensi adalah istilah yang digunakan untuk menguraikan evaluasi tentang perilaku. Perilaku

tertentu jelas - jelas divalensi secara negatif, seperti perlakuan tidak sopan atau isyarat yang menghina (seseorang, “menghempaskan

burungmu atau memelototkan matanya pada kamu), contoh tersebut

memiliki nilai ambiguitas, yang mana satu kata memiki banyak arti atau pemahaman.

Perilaku lain divalensi secara positif (seseorang memberi isyarat “v” untuk kemenangan karena perbuatan tertentu atau

menga-cungkan ibu jari untuk jaket penghangat baru milikmu).

Sebagai contoh, bayangkan kamu berada di suatu pesta dan seorang asing yang baru diperkenalkan tanpa diduga - duga

(35)

menginterpretasikan perilaku tersebut sebagai kasih sayang, suatu undangan untuk menjadi teman, atau sebagai suatu isyarat

kekuasaan. NEV Theory berargumen bahwa jika perilaku yang diberikan lebih positif dibanding dengan apa yang diharapkan, hasilnya adalah pelanggaran harapan yang positif. Dan sebaliknya,

jika perilaku yang diberikan lebih negatif dibanding dengan apa yang diharapkan, menghasilkan suatu pelanggaran harapan yang negatif.

(Infante, 2003: 178).

Hal ini disebut juga sebagai Violation Valence atau Valensi Pelanggaran. Violation Valence dikatakan positif bila kita menyukai

tindakan pelanggaran tersebut, dan sebaliknya dikatakan negatif jika kita tidak menyukai pelanggaran tersebut

3. Communicator Reward Valence (Valensi Ganjaran

Komunikator)

Valensi Ganjaran Komunikator adalah unsur yang ketiga, yang mempengaruhi reaksi kita disaat berinteraksi. Sifat alami

hubungan antara komunikator mempengaruhi bagaimana mereka (terutama penerima) merasakan tentang pelanggaran harapan. Jika kita “menyukai” sumber dari pelanggaran (atau jika pelanggar adalah

seseorang yang memiliki status yang tinggi, kredibilitas yang tinggi, atau secara fisik menarik), kita boleh menghargai perlakuan yang unik tersebut. Bagaimanapun, jika kita ” tidak menyukai” sumber, kita

(36)

menepati norma - norma sosial, kita memandang pelanggaran secara negatif. (Infante, 2003: 178).

Dengan kata lain jika kita menyukai orang yang melanggar tersebut, kita tidak akan terfokus pada pelanggaran yang dibuatnya, justru kita cenderung berharap agar orang tersebut tidak mematuhi

norma - norma yang berlaku. Sebaliknya bila orang yang melanggar tersebut adalah orang yang tidak kita sukai, maka kita akan terfokus

pada pelanggaran atau kesalahannya dan berharap orang tersebut mematuhi atau tidak melanggar norma-norma sosial yang berlaku.

Valensi Ganjaran Komunikator adalah keseluruhan sifat-sifat

positif maupun negatif yang dimiliki oleh komunikator termasuk kemampuan komunikator dalam memberikan keuntungan / ganjaran

atau kerugian kepada kita di masa datang. Status sosial, jabatan, keahlian tertentu atau penampilan fisik yang menarik dari komunikator dianggap sebagai sumber ganjaran yang potensial.

Orang-orang yang masuk dalam kategori ini dalam istilah Burgoon disebut High-Reward Person. Sementara kebodohan atau kejelekan

rupa misalnya, dinilai sebagai yang sumber tidak potensial dalam memberikan keuntungan berkomunikasi dan mereka yang berada dalam posisi ini disebut dengan istilah Low-Reward Person. Dalam

konstruk Communicator Reward Valence juga tercakup hasil dari kalkulasi atau udit mental tentang apa keuntungan atau kerugian dari

(37)

NEV Theory mengusulkan sebagai fakta bahwa hal tersebut tidak hanya sesuatu pelanggaran perilaku nonverbal dan reaksi

kepada nya. Sebagai gantinya, NEV Theory berargumen bahwa siapa yang melakukan berbagai hal pelanggaran masi harus dikelompokkan dalam rangka menentukan apakah suatu

pelanggaran akan dilihat sebagai negatif atau positif. Tidak sama dengan model interaksi nonverbal lainnya seperti teori penimbulan

pertentangan / discrepancy arousal theory (Lepoire & Burgoon, 1994), NEV Theory meramalkan bahkan suatu “pelanggaran yang

ekstrim dari suatu harapan” boleh jadi dipandang secara positif jika

itu dilakukan oleh komunikator yang mendapat penghargaan tinggi (Burgoon & Hale, 1988, hal.63). (Infante, 2003: 179)

Di samping tiga konstruk pokok sebagaimana diuraikan di atas, Burgoon juga mengajukan sebelas proposisi yang menjadi

landasan teoritisnya (Burgooon, 1978: 129-142). Proposisi - proposisi ini tidak mengalami perubahan sejak penabalan teori ini

pada tahun 1978. Berikut adalah kesebelas proposisi tersebut : 1. Manusia memiliki dua kebutuhan yang saling berlomba untuk

dipenuhi, yakni kebutuhan untuk berkumpul atau bersama sama

dengan orang lain dan kebutuhan untuk menyendiri (personal space). Kedua kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi secara

(38)

2. Hasrat untuk bergabung dengan orang lain digerakkan atau diperbesar oleh hadirnya ganjaran dalam konteks komunikasi.

Ganjaran tersebut dapat bersifat biologis maupun sosial.

3. Semakin tinggi derajat suatu situasi atau seseorang dianggap menguntungkan (rewarding), semakin besar kecenderungan

orang untuk mendekati seseorang atau situasi tersebut. Sebaliknya semakin tinggi seseorang atau suatu situasi

dipandang tidak memberikan manfaat semakin besar kecenderungan orang untuk menghindari seseorang atau situasi tersebut.

4. Manusia memiki kemampuan untuk merasakan gradasi dalam jarak Pola interaksi manusia, termasuk ruang pribadi atau pola

jarak, bersifat normatif.

5. Manusia dapat mengembangkan suatu pola tingkah laku yang berbeda dari norma - norma social.

6. Dalam konteks komunikasi manapun, norma-norma adalah fungsi dari faktor (1) karakteristik orang yang berinteraksi, (2)

bentuk dari interaksi itu sendiri dan (3) lingkungan sekitar saat komunikasi berlangsung.

7. Manusia mengembangkan harapan-harapan tertentu pada perilaku komunikasi orang lain. Konsekuensinya tiap orang memiliki kemampuan untuk membedakan atau setidaknya

(39)

komunikasi orang lain yang menyimpang atau sejalan dengan norma - norma sosial.

8. Penyimpangan dari harapan - harapan yang muncul akan membangkitkan tanggapan tertentu.

9. Orang - orang yang berinterkasi membuat evaluasi terhadap

orang lain.

10. Penilaian - penilaian yang dilakukan dipengaruhi oleh persepsi

terhadap sumber, bila sumber dihormati atau dianggap dapat memberikan ganjaran maka pesan komunikasinya akan dianggap penting pula demikian sebaliknya (Venus: 2004: 484)

11. Communicator Reward Valence atau Penghargaan yang diharapkan seseorang didalam hidupnya

Proposisi pertama sebagaimana dinyatakan diatas menurut Neuliep (2000) dirujuk dari konsep - konsep dasar ilmu Antropologi,

sosiologi dan Psikologi yang meyakini bahwa manusia adalah mahluk sosial yang memiliki naluri biologis untuk berdekatan atau

hidup bersama orang lain. Sebaliknya manusia tidak bisa mentoleransi kedekatan fisik yang berlebihan karena manusia memiliki kebutuhan terhadap ruang pribadi dan privasi.

Meski proposisi pertama ini tampaknya berlaku universal, namun kapan dan bagaimana derajat kebutuhan orang untuk

(40)

Proposisi kedua mengindikasikan bahwa hubungan kita

dengan orang lain dipicu oleh ganjaran dalam konteks komunikasi. Dalam hal ini ganjaran tersebut dapat bersifat biologis (makanan, seks, atau rasa aman) atau sosial (rasa memiliki, harga diri atau

status). Kebutuhan biologis dapat dipastikan berlaku universal, namun kebutuhan sosial umumnya dipelajari dari lingkungan dan

akan berbeda dari satu budaya ke budaya lain.

Proposisi ketiga pada dasarnya menegaskan proposisi kedua dengan menambahkan bahwa manusia cenderung tertarik

pada situasi yang mendatangkan ganjaran dan menghindari situsiasi komunikasi yang mengakibatkan kerugian. Proposisi ini juga

tampaknya bersifat universal, namun perlu dicatat bahwa apa yang dianggap sebagai situasi yang menguntungkan atau merugikan akan dipahami secara berlainan dalam budaya yang berbeda.

Proposisi keempat manusia memiliki kemampuan untuk merasakan berbagai bentuk perbedaan dalam penggunaan jarak

berkomunikasi. Atas dasar ini tiap individu dapat mengatakan kapan sesorang berbicara terlalu dekat atau terlalu jauh dengan dirinya.

Proposisi kelima terkait dengan penepatan perilaku

nonverbal yang bersifat normatif Perilaku normatif disini diartikan sebagai perilaku yang umumnya diterima secara sosial dan memiliki

(41)

Proposisi keenam menegaskan bahwa meskipun tiap-tiap individu mengikuti aturan - aturan komunikasi verbal dan nonverbal

yang normatif, tiap orang juga pada prinsipnya dapat mengembangkan gaya interaksi yang bersifat personal yang khas bagi dirinya sendiri.

Proposisi ketujuh menyatakan bahwa norma - norma komunikasi pada dasarnya merupakan fungsi dari karakteristik

pelaku komunikasi (seperti jenis kelamin dan usia), karakteristik interaksi (misalnya derajat keakraban pelaku komunikasi dan status sosial masing - masing), serta karakteristik lingkungan yang meliputi

seluruh aspek yang terkait dengan penataan tempat terjadinya peristiwa komunikasi.

Proposisi kedelapan berhubungan dengan unsur kunci teori ini yaitu konsep Ekspektasi. Dalam hal ini Burgon berpendapat bahwa selama proses komunikasi berlangsung pelaku komunikasi

mengembangkan harapan - harapan tertentu pada perilaku nonverbal orang lain. Siapapun yang menjadi mitra komunikasi kita

diharapkan dan diantisipasi berperilaku secara patut sesuai situasi yang dihadapi. Harapan-harapan nonverbal tersebut didasarkan pada norma-norma hudaya yang secara sosial berlaku pada suatu

budaya tertentu. Namun demikian, pada kasus-kasus tertentu boleh jadi orang berharap munculnya perilaku yang berbeda yang keluar

(42)

Proposisi kesembilan terkait dengan unsur kunci NEV theory lainnya yakni Pelanggaran Harapan (Expectancy Violations).

Sebagaimana dijelaskan di muka, ketika pengharapan nonverbal seseorang dilanggar, orang tersebut akan bereaksi dengan cara menafsirkan dan mengevaluasi apakah pelanggaran tersebut

menguntungkan atau merugikan. Reaksi yang muncul dapat berupa perilaku komunikasi yang bersifat adaptif atau defensif.

Proposisi kesepuluh berkenaan dengan penilaian-penilaian yang dibuat oleh seseorang terhadap perilaku nonverbal orang lain.

Proposisi kesebelas memperjelas bagaimana tindakan

evaluatif tersebut dibuat. Dalam hal ini ditegaskan bahwa faktor yang paling menentukan apakah suatu pelanggaran harapan nonverbal

akan dinilai positif atau negatif adalah derajat kemampuan komunikator untuk memberikan reward pada mitra komunikasinya atau dalam istilah teori ini disebut Communicator Reward Valence.

Burgoon dan Joseph Walther ( 1990) menguji berbagai

touch-behaviors, proxemics, dan postures untuk menentukan mana yang diharapkan atau tak diharapkan di dalam komunikasi antarpribadi dan bagaimana harapan dipengaruhi oleh status

sumber, daya pikat, dan gender. Beberapa penemuan menunjukkan bahwa jabatan tangan paling diharapkan sedangkan lengan di bahu

(43)

diharapkan dan perawakan yang tegang paling sedikit diharapkan. (Infante, 2003: 179)

Suatu studi dengan memanipulasikan nilai penghargaan dari komunikator dan valensi dan ekstrimitas dari perilaku pelanggaran dilakukan untuk menyelidiki interaksi antara siswa dan professor

(Lannutti Laliker & Hall, 2001).

PENERAPAN DAN KETERKAITAN TEORI

Pada awalnya teori Burgoon ini hanya diterapkan dalam

konteks pelanggaran penggunaan ruang dan jarak dalam berkomunikasi (Spatial violations), namun sejak pertengahan tahun 1980-an Burgoon menyadari bahwa perilaku penggunaan ruang dan

jarak sebenarnya hanyalah bagian dari sistem isyarat nonlinguistik dalam komunikasi nonverbal. Berdasarkan pertimbangan ini

kemudian Burgoon mulai menerapkan teori ini pada aspek - aspek komunikasi nonverbal lainnya seperti ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan sampai pada isyarat gestural lainnya. Dengan perluasan ini

maka keberlakukan dan pemanfaatan teori ini menjadi semakin luas. Kini teori ini telah hadir di tengah - tengah komunitas

ilmuwan komunikasi selama lebih dari dua puluh tahun. Banyak diantara peminat studi komunikasi yang menerapkan teori ini dalam

(44)

komunikasi antarbudaya terasa sangat kurang sekali. Padahal teori ini merupakan salah satu terobosan untuk dapat memahami dan

mengidentifikasi pola - pola perilaku komunikasi berbagai kultur budaya / masyarakat. Dengan memahami teori ini, lanjut Neulip, kita akan lebih mengetahui faktor - faktor apa sebenarnya yang dapat

melancarkan transaksi komunikasi kita dengan orang lain yang berbeda budaya.

Dalam hal keterkaitan teoritis, dapat dikatakan setidaknya ada tiga teori yang secara langsung atau tidak berkaitan dengan Teori Pelanggaran Harapan Nonverbal. Keempat teori tersebut

adalah Proxemics Theory, Anxiety / Uncertainty Management (AUM) Theory, dan Social Exchange Theory (SET).

1. Proxemics Theory

Proxemics Theory merupakan akar dari perumusan asumsi - asumsi dalam teori pelanggaran harapan nonverbal. Bertolak dari

konsep penggunaan ruang dan jarak dalam proksemikalah awal perjalanan teori ini dimulai, karena itu jelas kedua teori ini tidak dapat

dipisahkan.

2. Anxiety / Uncertainty Management (AUM) Theory

Dalam menjelaskan hubungan antara NEV Theory dengan Anxiety/Uncertainty Management (AUM) Theory, Ting Tomey dan

(45)

terutama tampak dalam hal penggunaan konsep ekspektasi dalam proses interaksi, konsep ketidaknyamanan dalam komunikasi yang

ambigu atau tindakan-tindakan mengevaluasi suatu perilaku komunikasi.

3. Social Exchange Theory

Sementara dengan Social Exchange Theory keterkaitan teori

ini dapat dilihat dalam hal penggunaan konsep ganjaran dan kerugian. Dalam hal ini kedua teori ini berpendapat bahwa orang yang dipandang dapat memberikan ganjaran lebih (High-Reward

Person) akan menciptakan situasi komunikasi yang lebih favourable (nyaman). Demikian berlaku sebaliknya bagi individu dalam kategori

Low-Reward Person.

EVALUASI DAN PERKEMBANGAN TEORI

Burgoon (Liltlejohn, 1996; Griffin,2000) secara konsisten

mengembangkan teori ini sejak penabalannya pada tahun 1978. Beberapa perbaikan yang dengan mudah dapat diidentifikasi

diantaranya mencakup penyederhanaan empat konstruk teori ini yang semula meliputi Harapan (Expectancies), Pelanggaran Harapan (Expectancy- Violations), dan Valensi Komunikator (Communicator Valence) dan Valensi Pelanggaran (Violation

(46)

Harapan (Expectancies), dan Pelanggaran Harapan (Expectancy Violations), serta menggabungkan Valensi Komunikator dan Valensi

Pelanggaran menjadi satu konstruk Valensi Ganjaran Komunikator (Communicator Reward Valence).

Dalam hal keterandalan teori, James W. Neuliep (2000)

menyatakan bahwa tidak sedikit temuan - temuan penelitian yang mendukung teori Pelanggaran Harapan Nonverbal ini. Demikian pula

penelitian yang dilakukan Kernahan, Bartholow dan Battencourt (Wise, 2000) yang berjudul Effects of Category-Based Expectancy on Affect-Related Evaluation yang diterbitkan dalam Journal of Basic

and Applied Social Psychology edisi 22/2000 juga mendukung keberlakuan teori Pelanggaran Harapan Nonverbal dalam konteks

komunikasi antarbudaya.

Meski banyak dukungan diberikan oleh ilmuwan komunikasi terhadap keberlakuan teori Pelanggaran Harapan Nonverbal, namun

teori ini tidak terbebas dari kritikan. Salah satunya disampaikan Griffin (2000) yang menyatakan bahwa teori ini tidak sepenuhnya

memperhitungkan mengenai hubungan timbal balik di antara pelaku komunikasi dalam suatu proses interaksi. Tampak jelas bahwa penilaian terhadap pelanggaran nonverbal dilakukan hanya oleh

(47)

BAB III

KESIMPULAN & SARAN

A. Kesimpulan

Dewasa ini minat seseorang untuk dapat mempelajari dan mendalami Ilmu Komunikasi semakin luas. Bukan saja dikalangan

Mahasiswa tetapi juga dikalangan anggota masyarakat umum lainnya, apakah itu lewat sebuah seminar, diskusi ataupun pelatihan

khusus mengenai Komunikasi itu sendiri.

Dalam kehidupan sehari - hari, komunikasi yang baik sangat penting untuk berinteraksi antar personal maupun antar masyarakat

agar terjadi keserasian dan mencegah konflik dalam lingkungan masyarakat.

Sebaliknya, Miss Communication (terjadinya kesalahan dalam salah satu proses komunikasi) akan menyebabkan tidak tercapainya tujuan atau misi yang hendak di capai.

Namun, ketika seorang Komunikator dan Komunikan yang menjalin Komunikasi, tak jarang pula ditemukannya sebuah rasa

ketidaknyamanan diantara keduanya. Hal ini tentunya mungkin saja terjadi, karena didukung oleh Teori – Teori yang telah ada, seperti

Teori Disonansi Kognitif dan Teori Pelanggaran Harapan yang akan kita bahas didalam Makalah ini.

Teori Disonansi Kognitif pertama kali diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1957 dan berkembang pesat sebagai

(48)

Komunikasi dan pengaruh sosial. Ada terdapat beberapa Teori dalam menjelaskan konsistensi atau keseimbangan, diantarnya

adalah Teori Ketidakseimbangan Kognitif (cognitive imbalance theory) oleh Heider pada tahun 1946, Teori Asimetri (asymetry theory) oleh Newcomb pada tahun 1953, dan Teori Ketidakselarasan

(incongruence) oleh Osgood dan Tannembaum pada tahun 1952. Menurut Festinger (1957) disonansi kognitif adalah

ketidaksesuaian yang terjadi antara dua elemen kognitif yang tidak konsisten yang menyebabkan ketidaknyamanan Psikologis serta memotivasi orang untuk berbuat sesuatu agar disonansi itu dapat

dikurangi. Istilah disonansi / disonan berkaitan dengan istilah konsonan dimana keduanya mengacu pada hubungan yang ada

antara dua buah elemen. Kedua elemen yang dimaksud oleh Festinger adalah (1) hubungan yang Relevant (Relevant), dan (2) hubungan yang tidak Relevant (Irrelevant)

Komunikasi memang merupakan suatu kebutuhan dasar manusia. Sejak lahir dan selama Manusia menjalani proses

kehidupannya, Manusia akan selalu terlibat dalam tindakan - tindakan Komunikasi. Tindakan komunikasi dapat terjadi dalam berbagai konteks kehidupan manusia, mulai dari kegiatan yang

bersifat individual, di antara dua orang atau lebih, kelompok, keluarga, organisasi dalam konteks publik secara lokal, nasional,

(49)

Begitu pula dengan Teori Disonansi Kognitif ini, prakata dan statement real yang dicetuskan para ahli seperti Festinger, dapat

terjadi dengan siapa saja yang melakukan Interaksi dan menjalin Komunikasi, baik itu secara interpersonal maupun intrapersonal. Tanpa memperhatikan ruang Komunikasi yang ada, hanya perlu

memahami sikap, perilaku, karakter, sifat dan watak diri sendiri ataupun orang lain yang menjadi lawan bicara kita.

Karena Teori Disonansi Kognitif menjadi salah satu penjelasan yang paling luas yang diterima terhadap perubahan tingkah laku dan banyak perilaku sosial lainnya. Teori ini telah di

genralisir pada lebih dari seribu penelitian dan memiliki kemungkinan menjadi bagian yang terintegrasi dari teori psikologi sosial untuk

bertahun – tahun, seperti yang dikatakan oleh Cooper & Croyle pada tahun 1984 dan dalam Vaughan & Hogg tahun 2005.

Sementara, Judee Burgoon dan Steven Jones pertama kali

merancang Teori Pelanggaran Harapan, atau yang pada umumnya lebih dikenal sebagai Teori Pelanggaran Harapan Nonverbal

(Nonverbal Expectancy Violation Theory / NEV Theory) yang mana bertujuan Untuk menjelaskan konsekuensi dari perubahan jarak dan ruang pribadi selama interaksi komunikasi antar pribadi.

Nonverbal Expectancy Violation (NEV) Theory adalah salah satu teori pertama tentang komunikasi nonverbal yang

(50)

digunakan untuk menjelaskan suatu cakupan luas dari hasil komunikasi yang dihubungkan dengan pelanggaran harapan tentang

perilaku komunikasi nonverbal.

NEV Theory, menyimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang saling berhubungan untuk mempengaruhi bagaimana kita

bereaksi terhadap pelanggaran dari jenis perilaku nonverbal yang kita harapkan untuk menghadapi situasi tertentu . Ada tiga konstruk

pokok dari teori ini yakni : Harapan (Expectancies), Valensi Pelanggaran (Violations Valence), dan Valensi Ganjaran Komunikator (Communicator Reward Valence).

B. Saran

Didalam artian Teori Disonansi Kognitif dan Teori

Pelanggaran Harapan, merupakan suatu hal yang harus dijaga dan harus dihindari sewaktu seseorang menjalin Komunikasi dengan orang lain. Atas dasar tersebut, seseorang yang bertindak sebagai

pelaku Komunikasi harus menjaga tutur kata, tutur bahasa, sikap dan sifat yang juga menjadi bagian daripada Komunikasi itu sendiri.

Bagaimanapun didalam berlangsungnya sebuah Komunikasi antara Komunikator dan Komunikan harus ada keselarasan dan kesinambungan, sebab diantara keduanya harus merasa nyaman

ketika menjalin sebuah Interaksi tersebut.

(51)

DAFTAR PUSTAKA

- West, Richard dan Turner, Lynn H. 2008. Pengantar Teori

Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: PT. Salemba Humanika. Bab 7.

- Severin, Werner J., Teori Komunikasi “Sejarah, Metode Dan Terapan Dalam Media Massa”, terj. Sugeng Hariyanto, Jakarta :

Kencana, 2005.

- Sarwono, Sarlito. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Himanika

- Berhm. S.S. & Kassin, S.M. 1990. Social Psychology. Boston: Houghton Mifflin Company, 1990.

- Griffin Emory A., 2003, A First Look at Communication Theory, Singapore : McGraw-Hill

- Littlejohn, S.W. (1996). Theories of Human Communication, Fifth edition. Belmont CA: Wadsworth.

- Venus, Antar, (2004). Nonverbal Expectancy Violation Theory, Jurnal Komunikasi dan Informasi, Volume 3, Nomor 2, 0ktober

2004

- Hafied Cangara, 2011. Pengantar Ilmu Komunikasi. PT Rajawali Grafindo Persada. Jakarta

- Deddy Mulyana, 2006. Ilmu Komunikasi sebagai suatu Pengantar. PT Remaja Rosdakarya. Bandung

(52)

- Komala, Lukiati. 2009. Ilmu Komunikasi: Perspektif, Proses, dan Konteks. Bandung: Widya Padjadjaran

- Rohim,Syaiful.2009. Teori Komunikasi: Perspektif,Ragam, & Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta

- West, Richard & Lynn H. Turner. 2007. Introducing

Communication Theory. Third Edition. Singapore: The McGrow Hill companies

- Larry Gonick, Kartun (non) Komunikasi, guna dan salah guna informasi dalam dunia modern. Kepustakaan Populer Gramedia, Juli 2007. (diterjemahkan dari Guide to (non) Communication

HarperClollins Publisher, Inc copyright 1993. ISBN 978-979-9100-75-7

- Wiryanto,Dr. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jilid I. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia

- Rochmawati, Lusa. 2009. Faktor mempengaruhi Komunikasi

- Fang, Irving. 1997. A History of Mass Communication, Six Information Revolutions. USA: Focal Press

- Nasution, Zulkarimein. 1989. Teknologi Komunikasi dalam Perspektif. Jilid 1. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

- S. Sunarjo, Djoenaesih. 1991. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jilid 1. Yogyakarta: Liberty

(53)

- Effendi, Onong Uchjana. (1993). Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT.Citra Aditya bakri

- Prajarto, Nunung. (2002). Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Komunikasi, Akar Sejarah dan Buah Tradisi Keilmuan. Yogyakarta

- Bouman, P.J. 1965. Ilmu Masyarakat Umum. PT pembangunan. Jakarta

- Severin, Werner J, Tankard, James W. 2005. Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. Kencana. Jakarta

- Devito, Joseph,. A. 1997. Komunikasi Antarmanusia Edisi Kelima,. Penerjemah, Agus Maulana. Jakarta, Profesional Books

- Fisher, B Aubrey, 1986. Teori-Teori Komunikasi. Penerjemah Soejono Trimo. ML. Bandung. Remaja Rosdakarya

Website Linked :

- id.wikipedia.org/wiki/Teori_disonansi_kognitif (20 / 03 / 2014)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian sebelumnya berjudul Disonansi Kognitif Konsumen Pelumas Pertamina Di Kelurahan Komperta Plaju yang dilakukan oieh Muhammad Daniel (2008) Nim 21.2004.153 M.

Sedangkan pemilih dengan disonansi kognitif rendah memiliki kemungkinan untuk melakukan golput kembali di pemilu selanjutnya karena kurangnya hal yang dijadikan

Mental-kognitif yang menggambarkan cara berfikir bathiniyyah (mental) remaja adalah suatu konsep penting yang akan menetukan sikap dan tingkahlaku remaja

Mental-kognitif yang menggambarkan cara berfikir bathiniyyah (mental) remaja adalah suatu konsep penting yang akan menetukan sikap dan tingkahlaku remaja dalam

Dengan analisis pembentukan disonansi kognitif Mahasiswa STIENU Jepara yang telah dilakukan maka dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk menentukan keputusan bagai

Pada prosesnya, disonansi pasca pembelian adalah usaha yang dilakukan oleh konsumen untuk memanggil kembali saat membuat keputusan penting dalam proses membeli, dimana

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang membentuk Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance) Konsumen Pemilik Ponsel Nokia berkamera pada Mahasiswa

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang yang telah dijelaskan, untuk mengetahui lebih dalam mengenai pengaruh disonansi kognitif remaja terhadap motivasi memilih teman