• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan sosial emosi anak usia dini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perkembangan sosial emosi anak usia dini"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Karakteristik Perkembangan Sosial Emosional Anak usia Taman

Kanak-kanak

Nurma Fitrya Ningsih

1 Abstract

Character is the values typical-good (know the value of goodness, willing to do good, real good life, to the environment) is imprinted in and can be applied in behavior. Child character education is a form of guidance and development of potential children or learners to be well directed and able to be embedded into a person who has a good behavior in accordance with the values of morality and diversity. Therefore, character education for early childhood will color her personal development as a whole. With character education is expected to be able to create generations of good personality and uphold the principles of virtue and truth in every step of life.

Keywords: strategy, education, character, early childhood

Abstrak

Karakter ialah nilai-nilai yang khas-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik, terhadap lingkungan) yang terpatri dalam diri dan dapat diaplikasikan dalam perilaku. Pendidikan karakter anak adalah bentuk bimbingan dan pengembangan potensi anak atau peserta didik supaya dapat terarah dengan baik dan mampu tertanam menjadi pribadi yang mempunyai tingkah laku yang baik sesuai dengan nilai-nilai moralitas dan keberagaman. Oleh karena itu, pendidikan karakter bagi anak usia dini akan mewarnai perkembangan pribadinya secara keseluruhan. Dengan pendidikan karakter ini diharapkan akan dapat menciptakan generasi-generasi yang berkepribadian baik dan menjunjung asas-asas kebajikan dan kebenaran disetiap langkah kehidupan.

Kata Kunci: srategi, pendidikan, karakter, anak usia dini.

.

1

(2)

PENDAHULUAN

Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui apa pengertian anak usia dini, kedua untuk

mengetahui pengertian pendidikan karakter anak usia dini dan yang ketiga untuk mengetahui

strategi apa saja yang digunakan untuk mengembangkan karakter pada anak usia dini. Adapun

manfaat dari penelitian ini yaitu diharapkan dapat memberikan pengetahuan lebih tentang cara dan

strategi apa saja yang dapat digunakan untuk mengembangkan karakter pada anak usia dini, dan

untuk menambah pengetahuan dan berbagai sarana untuk menerapkan pengetahuan yang

diperoleh dibangku kuliah.

Artikel ini merupakan evaluasi program dengan menggunakan metode observasi.

Observasi merupakan suatu teknik yang digunakan oleh pendidik PAUD untuk mengevaluasi

perkembangan social dan emosi anak usia dini dengan cara mengamati perkembangan anak usia

dini sesuai dengan tingkat usia anak. Perkembangan karakteristik social dan emosional yang

diamati bisa melalui perilaku yang ditaqmpilkan oleh anak ketika melakukan suatu kegiatan

ataupun bisa juga perilaku yang ditampilkan oleh anak sebagai hasil dari suatu kegiatan yang telah

dilakukan.

Pada usia ini penyesuaian diri yang dilakukan oleh anak menjadi matang lagi.

Dibandingkan dengan usia-usia sebelumnya, anak lebih percaya diri, punyak banyak teman, bisa

bercakap-cakap dengan orang dewasa secara nyaman dan dipenuhi oleh perasaan semangat

serta antusiasme saat berhubungan dengan orang lain. Kematangan dalam penyesuaian tersebut

menjadikan anak mampu mengatur dirinya sendiri, membereskan peralatsannya sendiri,

(3)

Dari pendahuluan dapat di tarik rumusan masalahnya, pertama mengetahui Karakteristik

Perkembangan Sosial Anak Usia Dini, yang kedua mengetahui karakter perkembangan emosi

anak usia dini. Dan tujuan penulisan unntuk mengetahui karakter perkembangan social dan emosi.

PEMBAHASAN

Penelitian pada perkembangan ini terlebih dahulu harus dilakukan pengelompokan

terhadap anak usia dini, dengan tahapan dan rentang waktu berikut ini.

1. Tahap Usia 0 – 2 Tahun

a. 0-3 bulan.

b. 4-6 bulan.

c. 7-9 bulan.

d. 10-12 bulan.

e. 13-18 bulan.

f. 19-24 bulan.

Pengelompokan pada tahap usia 0-2 tahun dilakukan dalam rentang waktu 3

bulan. Hal itu dikarenakan perkembangan anak pada tahap ini berlangsung

sangat cepat.

2. Tahap Usia 2 – 4 Tahun

a. 2-3 tahun.

b. 3-4 tahun.

3. Tahap Usia 4-6 Tahun

a. 4-5 tahun.

a. 5-6 tahun.2

2

(4)

Secara umum, tahap perkembangan manusia menurut Crijns adalah sebagai berikut:

1. Umur 0-2 tahun, disebut masa bayi. Pada masa ini, si bayi sebagian besar

memanfaatkan hidupnya untuk tidur, memandang, mendengarkan, kemudian belajar

merangkak dan berbicara.

2. Umur 2-4 tahun, disebut masa kanak-kanak. Pada masa ini anak sudah mulai bisa

berjalan, menyebut beberapa nama

3. Umur 5-8 tahun, disebut masa dongeng. Pada masa ini anak mulai sadar akan dirinya

sebagai seseorang yang mempunyai kedudukan tersendiri seperti halnya orang lain.

4. Umur 9-13 tahun, disebut masa Robinson Crusoe (nama seorang petualang). Pada

masa ini mulai berkembang pemikiran kritis, nafsu, persaingan, minat-minat dan bakat.

5. Umur 13 tahun disebut masa pubertas pertama. Anak-anak ini mulai tertuju ke

dalam dirinya sendiri. Mereka mulai belajar bersolek, suka menyendiri, melamun dan

segan olah raga. Mereka gelisah, cepat tersinggung, suka marah-marah, keras

kepala, acuh tak acuh, dan senang bermusuhan. Terhadap jenis kelamin lain mereka

ingin sama-sama tahu, tetapi masih canggung.

6. Umur 14-18 tahun disebut masa puber. Pada masa ini mereka mulai sadar akan

pribadinya sebagai seorang yang bertanggung jawab. Mereka sadar akan hak-hak

segala kehidupan dalam lingkungannya.

7. Umur 19-21 tahun disebut masa adolesen. Mereka sudah mulai menemui

keseimbangan. Mereka sudah mempunyai rencana hidup tertentu dengan nilai-nilai

(5)

8. Umur 21 tahun ke atas disebut masa dewasa. Pada masa ini remaja mulai insyaf

bahwa pekerjaan manusia tidak mudah dan selalu ada cacatnya. Mereka mulai

berhati-hati.

Sedangkan pentahapan yang bersifat khusus, Jean Piaget membagi tingkat

perkembangan kognisi menjadi empat tahap, yaitu:

1. Periode sensorimotor (umur 0-2 tahun) Kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak

refleks. Reaksi intelektual hampir seluruhnya karena rangsangan langsung dari

alat-alat indra

2. Periode praoperasional (umur 2-6 tahun) Perkembangan bahasa anak ini sangat

pesat. Anak mulai menggunakan symbol-simbol untuk merepresentasi dunia

(lingkungan) secara kognitif.

3. Periode operasional konkret (umur 6-11 tahun) Mereka sudah bisa berpikir logis,

sistematis, dan memecahkan masalah yang bersifat konkret.

4. Periode operasional formal (umur 11-dewasa) Periode ini merupakan operasi mental

tingkat tinggi. Mereka sudah mampu berpikir logis terhadap masalah baik yang

konkret maupun yang abstrak dan dapat membentuk ide-ide dan masa depan secara

realistis.3

A. Karakteristik Perkembangan Sosial Anak Usia Dini

1. Tahapan Usia 0-2 tahun

3

(6)

Pada usia 0 – 3 bulan, anak menjalin hubungan dengan orang lain dengan

tangisannya, ekspresi wajah, dan gerak badannya, tidak dengan perkataannya. Itulah

sebabnya orangtua harus aktif belajar tentang arti tangisan, ekspresi wajah, dan bahasa

tubuh anak. Anak pun demikian, dia akan belajar arti ibu dan bapaknya mulai dari nada

suarannya, cara menyentuh, dan sikap.4

Pada usia 4-6 bulan, kemampuan menjalin hubungan pada bayi akan

berkembang seiring dengan kebutuhan untuk bertemu orang lain dengan lebih sering.

Pada usia ini, bayi akan lebih menyadari keberadaan orang lain termasuk orang asig di

sekitarnya. Bayi juga akan menggunakan senyuman, mata, dan suara untuk menarik

perhatian dan berhubungan dengan orang lain. Bayi pada usia ini tampak bersemangat

jika bertemu dengan orang lain yang membuatnya nyaman. Namun, bukan tidak

mungkin pula ia diam atau bahkan menangis jika melihat orang yang asing baginnya.5

Pada usia 7-9 bulan ia mampu untuk menunjukkan pada ibu dan bapaknya serta

orang lain jika ia merasa tak nyaman. Dengan demikian, dapatlah dikatakan, anak usia

dini mulai bisa diajak berbicara oleh orang lain di usia 7-9 bulan. Pada saat orang tua

berbicara dengannya, perhatikan jawaban anak melalui mimic wajah, gerakan tubuh,

dan suara yang diungkapkannya.6

Pada usia 10 – 12 bulan akan menjalin hubungan yang penuh antusias dengan

orangtuanya atau pengasuhnya, dan sebaliknya ia akan menjadi pribadi yang pendiam

dan pasif dalam berhubungan dengan orang yang asing baginya.7

4

(7)

Pada usia 13 – 18 bulan bayi akan berusaha untuk menampilkan sikap asertif,

yaitu sikap menyatakan keinginan dan kemauannya sendiri dengan lugas. Amukan

biasanya dijadikan sebagai ekspresi bagi bayi jika keinginan dan kemauannya tidak

terpenuhi.8

Pada usia 19-24 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan untuk

membantah apa yang sudah ditetapkan. Ia menginginkan agar kemampuannya dituruti

dan disetujui. Pada sisi lain, kepercayaan dirinya juga berkembang lebih pesat, walau ia

masih sering menangis jika tidak berhasil melakukan suatu kegiatan.9

2. Tahapan Usia 2-4 tahun

Pada usia 2-3 tahun, anak mulai menjalin hubungan pertemanan. Dalam

hubungan pertemanan tersebut, anak ingin disukai oleh teman-temannya. Anak ingin

bisa bermain dengan sebanyak mungkin teman. Anak mulai memahami bahwa fungsi

pertemanan adalah untuk berbagi, member dukungan, bergantian, dan berbagai

keterampilan soaial lainnya.10

Pada usia 3-4 tahun hubungan pertemanan anak mulai meningkat di usia ini

anak mulai mengenali mana yang benar dan mana yang tidak benar. Anak mulai

memahami tentang berbohong dan mengapa ia tidak boleh berbohong, serta memahami

tentang kesalahan. Perkembangan aspek motorik tersebut juga menjadikan anak dapat

bermain bersama dengan teman-temannya.11

8

Ibid., hlm. 21—22.

9

Novan Ardy Wiyani, Mengelola & Mengembangkan Kecerdasan Sosial & Emosi Anak Usia Dini,

(Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIAI, 2014), hlm. 33.

10

Ilman Saputra dan Alzena Masykouri, Membangun Sosial-Emosi Anak di Usia 2-4 Tahun,

(Jakarta: Dirjen PAUDNI, 2011), hlm. 8.

11

(8)

3. Tahapan Usia 4-6 tahun

Pola pertemanan dan hubungan anak sudah lebih stabil pada usian 4-5 tahun.

Hal itu disebabkan anak sudah memahami adanya aturan, bahkan tidak hanya ketika

bermain di limgkungan sekolah, tetapi juga dalam prilaku dirumah. Itulah sebabnya

anak ingin agar prilakunya dapat diterima oleh orangtuannya dan teman-temannya.12

Pada usia 6 tahun terjadi peningkatan perkembangan social pada anak usia

5-6 tahun. Factor penambhan usia menjadi penyebab, dengan pertambahan usia

tersebut anak menjadi lebih banyak bermain dan bercakap- cakap dengan anak

lainnya, khususnya dengan temannya. Hubungan anak bersama

teman-temannya yang semakin meningkat melalui kegiatan bermain, baik disekolah ataupun

di lingkungan rumah dapat menjadikan ia memahami dirinya sendiri untuk bersikap

kooperatif, toleran, menyesuaikan diri, dan mematuhi aturan yang berlaku dirumah,

sekolah, dan dilingkungan masyarakat.13

B. Karakteristik Perkembangan Emosi Anak Usia Dini

Sebagaimana telah diketahui bahwa di usia 0-3 bulan, bayi cenderung

berkomunikasi dengan tangisan untuk mendapatkan sesuatu perhatian dari orangtua

maupun pengasuhnya. Pada saat perhatian ia dapatkan, ia akan merespons dengan

menampilkan senyuman. Jadi, pada dasarnya senyuman muncul sebagai pola timbale

balik di mana bayi dan orang lain mendapat kesenangan dari hubungan social yang

dijalinnya.

Kemudian, senyum pada bayi berkembang dan menjadikannya dapat tertawa

pada usia 4-6 tahun. Tertawa terjadi ketika mendapat hal-hal yang di luar kebiasaanya,

(9)

merupakan respons terhadap kenyamanan dan kesenangan yang diberikan oleh orang

lain kepadanya saat bertemu dengan orang lain yang membuatnya nyaman.14

Pada usia 7-9 bulan, bayi mampu menunjukkan pada ibu dan bapaknya serta

orang lain. Kemarahan, kesedihan, dan ketakutan merupakan respons yang dimunculkan

oleh bayi atas ketidaknyamanan tersebut. Orang tua atau pengasuhnya dijadikan sebagai

pelindung mereka dari kesedihan dan ketakutannya. Hal itu menjadikan ikatan emosional

antara anak dan orangtua atau pengasuhnya semakin kuat.15

Pada usia 10-12 bulan, bayi akan menjalin hubungan yang penuh antusias

dengan orangtua atau pengasuhnya dan sebaliknya, ia akan menjadi pribadi yang

pendiam saat berhubungan dengan orang lain. Hal itu menjadikan anak terlihat sangat

manja dan selalu menempel pada ibu, bapak, ataupun pengasuhnya. Kemanjaan tersebut

menjadikan ia semakin bergantung dengan orangtua atau pengasuhnya.16

Pada usia 13-18 bulan, bayi sudah dapat bermain dengan teman-temannya

walaupun ia sibuk dengan mainannya sendiri. Selanjutnya, pada saat bermain ia mulai

melihat dan memperhatikan anak lainnya yang sedang bermain bersamanya. Kegiatan

bermain bersama tersebut kadang diresponsnya dengan emosi sekunder seperti

kesombongan dan malu-malu.17

Sementara itu pada usia 19-24 bulan, bayi mulai dapat memahami berbagai

emosi dan keadaan fisiologisnya, seperti kelelahan, tidur, sakit, tertekan, jijik, dan kasih

sayang.18 Berbagai emosi dan keadaan fisiologis tersebut dapat mempengaruhi

Aliah B. Purwakari Hasan, Psikologi Perkembangan Islami: Menyikap rentang Kehidupan Manusia dan Prakelahiran hingga Pascakematian, (Jakarta: Rajawali Press, 2006), hlm. 167.

18

(10)

kemampuan pengaturan emosi dirinya dan kehadiran orangtua sangat dibutuhkannua

untuk mengembangkan kemampuan tersebut.19

Pada usia 2-3 tahun, rasa simpati dan empati pada anak muncul. Hal ini

merupakan respons terhadap hubungan pertemanan yang di jalin dengan anak lain.

Keterampialan anak dalam membaca isyarat emosional orang lain. Memahami bahwa

orang lain berbeda dengan dirinya, dan mencoba memahami posisi dan perspektif orang

lain sangat menentukan dalam perkembangan rasa empati anak.20

Kemudian pada usia 3-4 tahun, kapasitas anak untuk mengatur perilaku

emosinya mulai meningkat. Peningkatan emosi tersebut disesuaikan denga aturan social

yang ada. Perbedaan tersebut muncul karena konsekuensi yang mereka terima

berbeda.21

Kemudian seiring dengan meningkatnya kemampuan kognitifnya (dimana pada

usia ini anak berada pada akhir dari tahap pra operasional), anak usia 5-6 tahun mulai

mengembangkan pengertian yang lebih dalam terhadap emosi yang lain.22

19

Novan Ardy Wiyani, Me gelola …, hlm. 39.

20

Ibid., hlm. 40.

21

Aliah B. Purwakari Hasan, Psikologi…, hlm. 168.

22

(11)

KESIMPULAN

Anak usia dini ialah anak yang berkisar antara usia 0-6 tahun yang memiliki pertumbuhan

dan perkembangan yang luar biasa sehingga memunculkan berbagai keunikan pada dirinya. Pada

tahap inilah, masa yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan yang nantinya diharapkan

dapat membentuk karakter dan kepribadiannya.

Beberapa karakter dasar yang dimiliki anak usia dengan rentang usia akan semakin

meningkat. Karena, perkembangan merupakan berbagai perubahan dalam aspek psikologis atau

(12)

Daftar Pustaka

Andriana Iswah, Memahami Pola Perkembangan Bahasa Anak Dalam Konteks Pendidikan,

Tadris: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 3. No. 1. 2008

Hasan Aliah B. Purwakari, Psikologi Perkembangan Islami: Menyikap rentang Kehidupan Manusia

dan Prakelahiran hingga Pascakematian. Jakarta: Rajawali Press, 2006

Ilman Saputra dan Alzena Masykouri, Membangun Sosial-Emosi Anak di Usia 2-4 Tahun. Jakarta:

Dirjen PAUDNI, 2011

Lampiran Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009 Tanggal 17 September 2009 tentang Standar

Pendidikan Anak Usia Dini.

Masykouri Alzena, Membangun Sosial Emosi Anak di Usia 0-2 Tahun. Jakarta: Dirjen PAUDNI,

2011.

Wiyani Novan Ardy, Mengelola & Mengembangkan Kecerdasan Sosial & Emosi Anak Usia Dini.

Referensi

Dokumen terkait

kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam mata pelajaran

Menciptakan sumber daya manusia yang berdaya saing, memiliki integritas dalam berbangsa dan bernegara, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berkompetensi tinggi

2.6.3 Relevansi Muatan Kurikulum SMK Program Keahlian Tata Busana dengan Kebutuhan Industri pada Praktik Kerja Industri .... Hasil Penelitian Terdahulu

Hubungan antara ukuran – ukuran tubuh ternak dengan bobot badan telah diketahui pada sapi potong, kambing lokal dan domba, untuk itu diharapkan dapat ditemukan juga pada

Scanned by CamScanner... Scanned

[r]

terhadap kesiapsiagaan, oleh karena itu sekolah dapat meningkatkan perannya dalam perubahan persepsi unsur komunitas untuk menjadi lebih baik dengan meningkatkan kontribusi guru

Misalnya, iri hati adalah sebuah emosi yang terjadi ketika Anda membenci seseorang karena memiliki sesuatu yang tidak Anda miliki tetapi sangat Anda inginkan,