• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masifnya Ekspansi Industrial dan Akuisis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Masifnya Ekspansi Industrial dan Akuisis"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

Masifnya Ekspansi Industrial dan Akuisisi Wilayah Hijau sebagai Urgensi Harmonisasi RUU Masyarakat Adat

Artikel Magang Politik

Muchamad Imam Fitriantoro/1406542073/Ilmu Politik

Pada hari Rabu, 30 Agustus 2017 telah berlangsung rapat badan legislasi dan pembahasan mengenai harmonisasi RUU tentang masyarakat hukum adat oleh DPR RI yang merupakan tahapan dari rapat badan legislasi sebelumnya yakni pada hari Rabu, 23 Agustus 2017. Secara esensial rapat badan legislasi tersebut membahas tentang isu-isu krusial terkait perlindungan masyarakat adat yang berpusar pada dimensi sosial, HAM, dan ekologis yang seringkali tertimpa dampak negatif oleh aktivitas pembangunan. Atas inisiatif Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN), desakan pembahasan isu tersebut mulai muncul semenjak masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Terlebih setelah ditetapkannya keputusan Mahkamah Konstitusi nomor 35 yang menguatkan posisi masyarakat adat lewat hutan adat bukan hutan negara. Namun pembahasan mengenai isu tersebut sempat berhenti pada 30 September 2014.1

Mengapa pembahasan mengenai isu masyarakat adat menjadi isu yang krusial? Bagaimanakah ekspansi aktivitas pembangunan dalam hal ini industri bersinggungan dengan hak masyarakat adat di Indonesia? Dan apa sajakah urgensi yang melatarbelakangi pembahasan isu tersebut dalam ranah legislasi DPR RI?

A. Krisis Global sebagai Dorongan Ekspansi Industrial Energi Alternatif

Kecemasan global akan krisis pangan dan energi 3 f dan 2 c (food, feed, fuel, and climate change) menjadi justifikasi okupasi wilayah hijau secara masif. Pada interval waktu Oktober 2007 hingga Oktober 2008, harga pangan melonjak ke tingkat yang tidak pernah terbayangkan. Harga beras mencapai 300% di atas harga rata-rata sejak 2003 dan harga gandum serta jagung

1 Indra Nugraha. 2013. “Aman Desak RUU Masyarakat Adat Segera Disahkan”. Diakses dari

(2)

juga berlipat ganda. Selain itu tahun 2008 adalah puncak harga minyak global tertinggi yakni mencapai angka 148 USD, tiga kali lipat dari tiga tahun sebelumnya yang mencapai 50 USD.2

Inilah motivasi di balik upaya-upaya peningkatan produksi sumber daya alternatif seperti kelapa sawit, jarak, jagung, tebu, kedelai, dan sebagainya.

Menurut Borras, krisis energi global tersebut melahirkan biofuel complex yang dipicu oleh kenaikan harga produksi minyak fosil secara berkelanjutan dan juga ambisi untuk mengurangi ketergantungan pada negara-negara penghasil minyak bumi berbahan fosil di Timur Tengah. Kondisi inilah, kemudian, masuk ke dalam wacana ekonomi politik global yang pada akhirnya hanya menjadi peluang oportinistik para pencari keuntungan untuk memperluas sektor agribisnis penyuplai bahan bakar dan energi alternatif atau yang seringkali disebut sebagai biofuel. Di samping lebih ramah lingkungan, biofuel juga mempunyai tingkat sustainabilitas yang relatif lebih tinggi. Tumbuhnya industri biofuel secara sporadis menjadi isu strategis beberapa tahun terakhir ini. Pada tahun 2010 saja diperkirakan terdapat kurang lebih 500 juta hektar lahan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan global akan energi alternatif tersebut. Padahal sepertiga dari wilayah tersebut merupakan lahan budidaya penduduk pedesaan yang pada umumnya dikelola secara kolektif.3

Maka tidak mengherankan apabila banyak konflik baik horizontal maupun vertikal. Absennya peran negara untuk menangani kasus kekerasan struktural seperti penggusuran, pemaksaan, perampasan, penyingkiran hak kepemilikan tanah masyarakat, dan penutupan akses terhadap sumber daya alam disertai dengan kekerasan fisik aparatur bersenjata menunjukkan bahwa negara telah abai terhadap dimensi sosial pembanungan. Padahal pembangunan ekonomi tidaklah semata-mata mengenai ekonomi. Sebagaimana yang dialami oleh banyak masyarakat adat di Indonesia.

Merujuk pada hasil penelitian Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) pada tahun 2013 bahwa dari total keseluruhan 369 konflik agraria yang terjadi dengan luasan wilayah 1.281.660.09 hektar dan melibatkan 136.874 Kepala Keluarga (KK) hampir separuh di antaranya (49%) disebabkan oleh ekspansi sektor perkebunan yang mencapai 180 konflik.4 Jumlah tersebut

(3)

meningkat pada tahun 2016. Secara nasional menurut Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis (HuMa), keempat provinsi se-Kalimantan menyumbang 36 persen konflik agraria di Indonesia.5 Secara ekologis, ekspansi areal perkebunan dan industri

agribisnis menjadi salah satu faktor penyumbang tingginya laju deforestasi di dunia. WWF (World Wide Fund for Nature) dalam Living Forest Report mengungkapkan bahwa dari terdapat sebelas wilayah di dunia yang berkontribusi terhadap lebih dari 80% deforestasi secara global hingga tahun 2030 di mana 10 di antara wilayah tersebut berada di wilayah tropis termasuk Indonesia.

B. Ekspansi Areal Perkebunan Kelapa Sawit dan Marjinalisasi Masyarakat Adat di Kalimantan

Fakta menunjukkan bahwa wilayah Indonesia menjadi salah satu objek ekspansi perkebunan sawit yang berkontribusi sebanyak 85 persen dari seluruh perkebunan kelapa sawit dunia.6 Bahkan perkebunan sawit menjadi salah satu sumber pemasukan devisa negara sebanyak

14%. Ekspansi secara masif areal perkebunan sawit di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan dibukanya lahan-lahan baru di wilayah timur Indonesia seperti Maluku, Papua, dan Sulawesi.7 Setelah wilayah Sumatera, Kalimantan menjadi wilayah dengan

potensi terbesar ekspansi dan okupasi lahan dimana semenjak tahun 2009 luas perkebunan kelapa sawit di wilayah tersebut terus mengalami peningkatan dengan laju pertumbuan pertahun hingga 6,72 %.8

Kasus marjinalisasi masyarakat adat dialami oleh Masyarakat Adat Dayak Benuaq Kampung Muara Tae di Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit seperti PT Sumber Mas, PT London Sumatra, PT Munte Waniq Jaya Perkasa, dan PT Burneo Surya Mining Jaya saling menguasai wilayah Kampung Muara Tae seluas 12.000 hektar. Perusahaan-perusahaan tersebut merambah lahan 5 Sapariah Saturi. “Tersebar di 98 Kabupaten, Konflik Agraria Didominasi Sektor Perkebunan dan Kehutanan”. Diakses dari http://www.mongabay.co.id/2013/02/16/tersebar-di-98-kabupaten-konflik-agraria-didominasi-sektor-perkebunan-dan-kehutanan/ pada hari Senin, 27 November 2017 pukul 20.00 WIB

6 Sarah Lake dan Octavia Payne.“Kini Perusahaan Dapat Melihat dimana Deforestasi Terjadi di Rantai Pasokan Kelapa Sawitnya Sebelum Deforestasi Terjadi Lagi”. Diakses dari http://blog.globalforestwatch.org/supplychain/agriculture/kini-perusahaan-dapat-menghentikan-deforestasi-di-rantai-pasokan-kelapa-sawitnya-dengan-perangkat-risiko-baru.html pada hari Senin, 27 November 2017 pukul 20.09 WIB 7 Anonim. Kaleidoskop Perkebunan 2014: Tugas Menyelesaikan Warisan Konflik di Sektor Perkebunan. Tandan Sawit: Edisi No. 8 Desember 2014. Hlm. 18

(4)

tanpa dasar kesepakatan dan selalu ditolak oleh masyarakat setempat. Perusahaan melakukan aksi-aksi opresif seperti penindasan, pemaksaan, intimidasi adu domba dan bahkan kriminalisasi terhadap masyarakat setempat. Apabila terdapat penolakan dan perlawanan dari warga setempat dalam proses penggusuran, aparat Brimob dan TNI selalu dihadirkan untuk ‘mengamankan’ proses tersebut. Masyarakat kerapkali dipersulit bahkan ditolak untuk mengakses lowongan pekerjaan yang disediakan oleh perusahaan dan lebih memilih mendatangkan pekerja dari luar. Wilayah yang menjadi tempat mereka berburu dan bercocok tanam telah lenyap. Secara ekologis, kualitas air sungai telah menurun akibat penebangan secara masif membuat air sungai berlumpur ketika musim penghujan. Untuk mendapatkan air bersih, masyarakat harus membeli air isi ulang dengan harga 5000 per galon.9

Hal yang sama juga dialami oleh Masyarakat Adat Iban Semunying Jaya di Kecamatan Seluas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Perampasan lahan masyarakat seluas 12.000 hektar dilakukan oleh PT Ledo Lestari, salah satu anak perusahaan Duta Palma Group. Perusahaan melakukan pembakaran dan penggusuran rumah serta tempat ibadah bersama dengan aparatur bersenjata negara seperti Brimob dan TNI. Pada awalnya perusahaan sempat berjanji akan memberikan ganti rugi dengan membangun rumah permanen yang jauh lebih baik, menyediakan air bersih, listrik, pengembalian lahan, dan pembangunan gereja. Namun tanpa berkomunikasi lebih lanjut perusahaan langsung meminta penduduk setempat untuk mengeluarkan harta bendanya diikuti dengan penghancuran rumah-rumah serta tempat ibadah mereka. Sebagian dari mereka dipekerjakan oleh perusahaan tersebut namun hanya sebagai buruh kasar atau upahan biasa. Jabatan-jabatan strategis perusahaan banyak ditempati oleh warga pendatang. Bahkan pendapatan harian mereka juga menurun di mana ketika sebelum perusahaan hadir, mereka mampu mendapatkan rata-rata 95.000 per hari dengan menyadap karet dan sebagainya. Namun setelah dipekerjakan oleh perusahaan sebagai buruh kasar, penghasilan mereka hanya pada kisaran Rp. 45.000,00 hingga Rp. 65.000,00.10

Di Provinsi Kalimantan Tengah konflik agraria diikuit dengan laju deforestasi yang tinggi di mana dalam rentang waktu 10 tahun rata-rata alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit mencapai 65.349 hektar dan meluas pada tahun 2014 hingga 11,12 % dari total perkebunan

9 Eko Cahyono dkk. 2016. Inquiri Nasional Komnas Ham: Hak Masyarakat Adat atas Wilayahnya di Kawasan Hutan. Jakarta Pusat: Komnas HAM RI. Hlm. 45-46

(5)

sawit nasional. Menurut BPS pada tahun yang sama, Kabupaten Kotawaringin menjadi penyumbang perkebunan kelapa sawit terluas yakni mencapai 45% dari total luas perkebunan di Kalimantan Tengah. Terdapat kurang lebih 70 kasus konflik agraria di mana 90% diantaranya dipicu oleh ekspansi perkebunan sawit. Selain disebabkan oleh tumpang tindihnya otoritas antarinstansi pemerintahan, konflik juga disebabkan oleh buruknya sistem administrasi klaim kepemilikan tanah. Sebagai contoh, konflik yang melibatkan antara PT Bangkit Giat Usaha Mandiri dan masyarakat Desa Tumbang Kalang. Pada mulanya Kepala Desa setempat melaporkan perusahaan tersebut atas tuduhan pelanggaran Hak Guna Usaha, penyerobotan lahan tanpa ganti rugi yang setimpal dan pengabaian terhadap kebun plasma masyarakat. Hal ini berujung pada aksi protes masyarakat setempat. Namun, perusahaan justru melakukan intimidasi berupa upaya untuk menabrak para peserta protes dengan kendaraan bermotor.11

C.Ekspansi Idustrial dalam Mega Proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate) dan Marjinalisasi Masyarakat Adat Merauke di Papua

Wilayah merauke mempunyai lahan yang luas, yaitu 4,69 juta hektar, yang sekitar 93 persennya dikategorikan oleh negara sebagai lahan yang tidak produktif atau lahan “tidur”.12 Di bawah slogan ‘memberi makanan Indonesia, memberi makan dunia’ pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, proyek MIFEE diresmikan pada tanggal 11 Agustus 2011 oleh Menteri Pertanian, Suswono, bersama dengan Bupati Merauke, John Gluba Gebze. Sebelumnya proyek ini pernah diinisasi Bupate Merauke berkaitan dengan pertanian dalam skala luas atau yang dikenal sebagai MIRE (Merauke Itegrated Rice Estate) pada tahun 2007. Kemudian inisasi ini diperkuat lagi dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28, Tahun 2008 yang secara eksplisit menetapkan Kabupaten Merauke sebagai pusat proyek yang terbagi menjadi enam daerah.13

Namun, karena krisis ekonomi yang melanda pada tahun 2008-2009 upaya tersebut sempat mengalami pembatalan. Kemudian di tahun 2010, pemerintah kembali mengeluarkan PP No.18, Tahun 2010 yang secara khusus menyasar MIFEE sebagai salah satu proyek sebagai kontributor

11 Imam Syafi’i. “Konflik Agraria di Indonesia: Catatan Reflektif Konflik Perkebunan Sawit di Kotawaringin Timur”. Dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya, Vol. 12 No. 13. 2016. Hlm. 427- 430

12 Muntaza. “Satu Abad Perubahan Sakralitas alam Maind-Anim”, dalam jurnal Sosiologi Reflektif Volume 8, No. , Oktober 2013. Hlm 190

(6)

pajak yang besar bagi negara.14 Peraturan tersebut juga memperbolehkan, termasuk asing, penguasaan lahan di Papua dengan luas yang lebih besar dari pada kawasan lainnya yakni 2 kali lipat dari 10.000 ha.

Apabila dilihat melalui kacamata perekonomian nasional memang proyek ini sangat menggiurkan. Proyek raksasa ini dibentuk untuk meningkatkan jumlah produksi pangan dan energi, baik domestik maupun pasar global, seperti padi sebanyak 1.95 juta ton, jagung sebanyak 2.02 juta ton, kedelai sebanyak 167 ribu ton, kapas sebanyak 64 ribu ton, gula sebanyak 2,5 juta ton, dan minyak sawit sebanyak 937 ribu ton. Bahkan berdasarkan kalkulasi pemerintah proyek ini diperkirakan akan menyerap tenaga kerja, baik transmigran maupun masyarakat asli papua, dengan lowongan pekerjaan sektor pertanian sebanyak 44.900 dan jumlah total tenaga kerja sebanyak 4,8 juta orang.15

Negara lebih berfokus pada kepentingan para investor. Hal ini dapat dilihat dari adanya perbedaan rencana alokasi lahan antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten. Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Papua alokasikan lahan hanya seluas 552.316 ha. Berbeda dengan yang dikehendaki oleh Pemerintah Pusat dan Pemda Merauke yang menampakkan kesan ambisius yakni seluas 1,283 juta ha. Namun nyatanya kawasan ini diperluas hingga 2,5 jut ha yang melampaui hutan alam dan lahan gambut yang berada di tanah ulayat masyarakat adat Malind-Anim. Lebih parahnya lagi, mereka tidak diberitahukan untuk keperluan proses penilaian dan penyusunan RTRW tersebut. Padahal dalam UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dikatakan bahwa setiap warga berhak untuk mengetahui rencana tata ruang.16 Tidak hanya terkait RTRW ini, pada awalnya sebagian besar masyarakat tidak mengetahui apa yang disebut dengan MIFEE.

Seperti yang di alami oleh masyarakat Marga Aluend dari Kampung Sanggase, Okaba. Mereka mengatakan tidak pernah diberikan informasi berkaitan dengan perusahaan Medco Group yang telah mengakuisisi tanah mereka. Selain itu mereka juga mengatakan tidak ada

14 Andre Barahamin. “Hikayat Beras Pemangsa Sagu: Etnosida terhadap Malind-Anim melalui Mega Proyek MIFEE”, diakses dari http://indoprogress.com/2015/10/hikayat-beras-pemangsa-sagu-etnosida-terhadap-malind-anim-melalui-mega-proyek-mifee/ pada hari Sabtu 9 Desember 2017 pukul 10.00 WIB

15 Takeshi Ito, Noer Fauzi Rachman, dan Laksmi A. Savitri. “Power to Make Land Dispossesion Acceptable: Policy Discourse Analysis of The Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE), Papua, Indonesia”, dalam Jurnal of Peasant Studies Volume 41 Nomor 1 2014. Hlm. 31

(7)

kesepakatan sewa atas lahan seluas 2.800 ha.17 Hal ini dapat dipahami bahwa pemerintah dan

perusahaan telah melakukan pembungkaman terhadap hak-hak masyarakat untuk melancarkan usaha perampasan tanah demi proyek yang mengatasnamakan pada pembanungan tersebut.

Bahkan, menurut beberapa penelusuran, proyek ini juga berkaitan dengan ambisi elit-elit politik Merauke untuk memecah wilayahnya dan berdiri sebagai provinsi baru, yakni Provinsi Papua Selatan yang disertai hubungan negatif dengan para investor.18 Para investor mendesak para elit tersebut melalui negosiasi dan loby-loby politik dengan menjanjikan kentungan tertentu untuk mendapatkan kemudahan akses terhadap lahan di wilayah mereka.

Seperti yang terjadi di banyak wilayah di Kalimantan, untuk menciptakan iklim investasi, negara bersama dengan investor telah melakukan kekerasan struktural yakni penggusuran, pemaksaan, perampasan, penyingkiran hak kepemilikan tanah masyarakat, dan penutupan akses terhadap sumber daya alam disertai dengan kekerasan fisik aparatur bersenjata. Maka tidak mengherankan apabila tindakan berujung aksi perlawanan dari masyarakat setempat. Lebih parahnya lagi masyarakat yang melakukan perlawanan/penolakan dituduh sebagai kelompok subversif, pembangkang politik, dan bagian dari gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sebagaimana yang dilakukan oleh PT Mayora kepada masyarakat di Kampung Yowid. Selain dituduh beraliansi dengan gerakan separatis OPM oleh polisi dan TNI, mereka juga dituduh menyimpan senjata di rumah adat setempat. Akibatnya penduduk pun ketakutan dan melarikan diri dari tempat tinggal mereka. Beberapa petinggi desa merasa tidak ada pilihan lain untuk menandatangi dokumen persetujuan penyerahan tanah mereka.19

Selain intimidasi, investor juga melakukan aksi penipuan dan pemberdayaan, seperti yang dialami oleh masyarakat adat di Desa Zanegi, salah satu desa pertama yang terkena dampak MIFEE. Salah satu perusahaan, Medco Group (kerabat dekat dari Medco Energi Internasional dan beraliansi kuat engan Mitsubishi Corporation dari Jepang) menyuap penduduk setempat dengan uang sebesar Rp. 300 juta dan sebuah “sertifikat penghargaan”. Pada awalnya mereka merasa hal ini sebagai pratanda hubungan yang baik. Namun, sebenarnya mereka telah

17 Y.L. Franky. “Mega Proyek MIFEE: Suku Malind Anim dan Pelanggaran HAM” dalamLembaga Studi dan Advokasi Masyarakat. Hlm. 2

18 Ito, Rachman, dan Savitri. Op.Cit.. Hlm. 32

19 Anonim. “Satu Lagi dari Mayora: Warga Kampung Yowid Terpaksa Tanda Tangan” dalam

(8)

menandatangani sebuah pengalihan hak atas tanah mereka. Di samping itu dijumpai juga praktik di mana perusahaan membawa kepala suku, yakni kepala suku Kampung Selor dan Kampung Onggari, ke tengah Kota Merauke kemudian diinapkan di sebuah hotel lalu diberikan sejumlah uang untuk membeli alkohol dan pelayanan prostitusi. Maka, perusahaan dengan begitu mudahnya diminta untuk menandatangani sebuah surat persetujuan.20

Ekspansi perusahaan tersebut juga dilakukan dengan membeli tanah adat dengan harga yang sangat murah. Seperti yang terjadi pada warga di Kampung Boepe. Tanah adat seluas 1.000 ha mendapat ‘penghargaan’, atau yang oleh perusahaan sebut sebagai “tali asih”, sebesar Rp. 100.000.000,- atau setara Rp. 10,- per meter persegi.21 Kehadiran proyek tersebut juga telah mengusik hak kepemilikan penuh masyarakat atas pohon produksi mereka. Sebagaimana yang dialami Masyarakat Boven Digoel. Mereka mengaku sebagian pohon produksi mereka ditimbun dan di bakar. Sekalipun mendapatkan ganti rugi, itu pun hanya sebesar Rp. 10.000 per kubik dan pohon sagu Rp. 10.000 per pohon. Harga yang menurut mereka jauh lebih rendah dari harga pasar di pasar kayu setempat.22

Perusahaan menggunakan aparat represif negara untuk melancarkan proses operasi perusahaan. Seperti yang dialami oleh Imanuel Ndiken, seorang pemuda 22 tahun yang dituduh menimbulkan masalah operasional PT Selaras Inti Semesta (SIS) anak dari perusahaan Medco Group. Ia mengalami gangguan penglihatan dan sempat kehilangan kesadaran setelah dipukuli oleh beberapa oknum tentara. Padahal ia hanya menuntut gajinya agar dibayar tepat waktu dan disertai kuitansi penerimaan gaji; hal yang tidak pernah dilakukan oleh PT tersebut.23 Selain itu,

pada 30 Juli 2010 terdapat kasus pembunuhan terhadap jurnalis lokal Merauke yang melaporkan proses investasi secara kritis. Mulanya ia diduga telah melakukan bunuh diri, namun setelah ditelusuri sebelum terbunuh terdapat aksi teror terhadapnya melalui SMS.24

20 Ibid.

21 Anonim. “Suku Malind di Merauke Terancam Kelaparan Akibat Perkebunan Kelapa Sawit”, diakses dari http://www.nabire.net/suku-malind-di-merauke-terancam-kelaparan-akibat-perkebunan-kelapa-sawit/ pada hari Sabtu 9 Desember 2017 pukul 23.00 WIB.

22 Anonim. “Pernyataan Masyarakat Boven Digoel” dalam Awas MIFEE ! Tracking The Merauke Integrated Food and Energy Estate. Diakses dari https://awasmifee.potager.org/?page_id=134 pada hari Sabtu 9 Desember 2017 pukul 23.16 WIB.

23 Zakaria, dkk. Op.Cit. Hlm 68

(9)

Masyarakat yang kehilangan mata pencahariannya terpaksa menjadi “buruh kasar” dengan upah borongan di bawah standar hidup. Bahkan mereka terdiskriminasi dan dikalahkan penduduk pekerja yang baru datang dalam jumlah besar. Sebelum perusahaan menjarah wilayah, terdapat sebagian dari mereka yang bekerja sebagai penjual karet dengan pendapatan tiap bulan mencapai kisaran Rp. 2.500.000 atau Rp. 3.000.000. Sekalipun mendapatkan pekerjaan, mereka dipersulit dengan prosedur pelamaran kerja. Sebagaimana dengan PT. Megakarya Jaya Raya (MJR) yang mempersulit prosedur pelamaran kerja di mana masyarakat papua diharuskan melewati beberapa tahapan dan syarat-syarat seperti surat dari Kepala Kampung dan Ketua Marga. Pendapatan mereka pun juga kecil yakni sekitar Rp. 1.500.000 per bulan, upah yang jauh di bawah upah minimum regional (UMR) Papua.25

Bagaimana pun juga MIFEE telah mengubah aktivitas penguasaan dan penggunaan lahan bagi masyarakat setempat. Setidaknya terdapat 21 distrik di Merauke yang dihuni oleh Suku Malind-Anim dan hampir keseluruhannya menjadi korban serius proyek MIFEE. Sebelum kehadiran proyek tersebut, masyarakat setempat dapat dengan mudah mendapatkan bahan makanan pokok mereka. Namun, perluasan secara masif lahan produksi menyebabkan ketersediaan tanaman pangan dan hewan buruan semakin berkurang. Inilah, kemudian, berpengaruh terhadap keterpenuhan gizi masyarakat generasi muda Malind-Anim. Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke, kondisi juga semakin memperihatikan ketika terjadi kenaikan jumlah kematian ibu dan anak secara pesat yakni 15 persen per tahun 2013. Hilangnya hutan juga seringkali berujung pada konflik horizontal.26

Selain menyebabkan semakin terbatasnya bahan pangan, tergusurnya wilayah hutan juga menyebabkan batas-batas wilayah kultural kekuasaaan masyarakat adat juga menghilang. Upaya kultural untuk meredam konflik antarsuku pun juga semakin sulit karena tempat-tempat yang mereka anggap sebagai tempat saktra telah berubah menjadi lahan tanaman produksi agribisnis. Mereka juga akan semakin tersingkiran secara demografis akibat 4 juta lebih pekerja yang akan ditransmigrasikan ke Merauke. Padahal jumlah masyarakat adat Malind-Anim hanya sekitar 52.000 jiwa yakni 38 persen dari total penduduk Merauke yang pada tahun 2010 mencapai

25 Anonim. “Suara Buruh Papua, Perusahaan Masuk Pendapatan Menurun” dalam Awas MIFEE ! Tracking The Merauke Integrated Food and Energy Estate”, diakses dari https://awasmifee.potager.org/?page_id=134 pada hari Minggu 11 Desember 2016 pukul 20.00

(10)

195.712 ribu jiwa.27 Ironisnya, di samping mereka yang mendapatkan pekerjaan sebagai pekerja kasar, ada juga sebagian yang tidak mendapatkan pekerjaan. Kondisi yang sangat memprihatinkan di mana mereka didiskriminasi, dimiskinkan, dikerdilkan, dan diasingkan dari tanah penghidupan mereka sendiri.

D. Kesimpulan dan Saran

Menurut penulis eksploitasi lahan secara massif oleh jaringan korporasi baik di Kalimantan maupun Merauke dapat disebut sebagai suatu bentuk wajah baru imperialisme. Tidak hanya melibatkan aktor-aktor asing, sebagaimana dengan imperialisme klasik, imperialisme dalam wajah barunya juga melibatkan aktor-aktor nasional dan lokal melalui hubungan persekongkolan. Hal ini semakin membenarkan asumsi bahwa kapitalisme yang semakin dikuatkan oleh globalisasi telah menciptakan suatu ironi yang disebut oleh Anthony Giddens sebagai sebuah “penjarahan global” (Global Pillage).28 Peristiwa-peristiwa di atas relevan dengan apa yang disebut oleh seorang antropolog tersohor, David Harvey, sebagai “akumulasi dengan perampasan/penjarahan” (accumulation by dispossession) yang ditempuh dengan pengusiran paksa masyarakat tradisional, penekanan terhadap hak-hak masyarakat, dan penyerobotan lahan dari berbagai bentuk hak kepemilikan (kolektif dan negara) menjadi kepemilikan privat yang mutlak.29 Persoalannya bukanlah bagaimana memanfaatkan lahan “tidur” masyarakat tradisional sebagai lumbung pangan nasional dan global, melainkan persoalan tentang hutan alam yang dengan segala sumber dayanya yang menjadi “dapur” bagi mereka. Oleh karena itu perlu kerangka hukum sebagai pelindung hak-hak mereka yakni salah satunya dengan legislasi UU mengenai masyarakat adat secara cepat, tepat, dan komprehensif.

Daftar Pustaka

Buku:

Anonim. 2013. Kuasa Taipan Kelapa Sawit di Indonesial. Jagaraksa: Transformasi Untuk

27 Franky. Op. Cit. Hlm. 1-2

28 Anthony Giddens. 2001. Runaway World : Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita. Jakarta Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 11

(11)

Keadilan Indonesia.

Cahyono, Eko dkk. 2016. Inquiri Nasional Komnas Ham: Hak Masyarakat Adat atas Wilayahnya

di Kawasan Hutan. Jakarta Pusat: Komnas HAM RI.

Franky, Y.L. “Mega Proyek MIFEE: Suku Malind Anim dan Pelanggaran HAM” dalam Lembaga

Studi dan Advokasi Masyarakat.

Giddens, Anthony. 2001. Runaway World : Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita. Jakarta Gramedia Pustaka Utama.

Harvey, David. 2005. A Brief History of Neoliberalism. New York: Oxford University Press. Zakaria, R. Yando, dkk. 2011. MIFEE: Tak Terjangkau Angan Malind. Jakarta: Yayasan

PUSAKA. Jurnal:

Syafi’I, Imam. “Konflik Agraria di Indonesia: Catatan Reflektif Konflik Perkebunan Sawit di Kotawaringin Timur”. Dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya, Vol. 12 No. 13. 2016. Muntaza. “Satu Abad Perubahan Sakralitas alam Maind-Anim”, dalam jurnal Sosiologi Reflektif

Volume 8, No. , Oktober 2013.

Ito, Takeshi, Rachman, Noer Fauzi, dan Savitri, Laksmi A.. “Power to Make Land Dispossesion Acceptable: Policy Discourse Analysis of The Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE), Papua, Indonesia”, dalam Jurnal of Peasant Studies Volume 41 Nomor 1 2014.

Website:

Anonim. “Satu Lagi dari Mayora: Warga Kampung Yowid Terpaksa Tanda Tangan” dalam

Awas MIFEE ! Tracking The Merauke Integrated Food and Energy Estate, diakses dari https://awasmifee.potager.org/?page_id=134 pada hari Sabtu 9 Desember 2017 pukul 14.33 WIB

Anonim. “Suku Malind di Merauke Terancam Kelaparan Akibat Perkebunan Kelapa Sawit”, diakses dari http://www.nabire.net/suku-malind-di-merauke-terancam-kelaparan-akibat-perkebunan-kelapa-sawit/ pada hari Sabtu 9 Desember 2017 pukul 23.00 WIB.

(12)

Integrated Food and Energy Estate. Diakses dari https://awasmifee.potager.org/? page_id=134 pada hari Sabtu 9 Desember 2017 pukul 23.16 WIB.

Anonim. “Repression connected to MIFEE” dalam Awas MIFEE ! Tracking The Merauke Integrated Food and Energy Estate” https://awasmifee.potager.org/?page_id=69 Sabtu 16 Desember 2017 pukul 14.41

Anonim. “Suara Buruh Papua, Perusahaan Masuk Pendapatan Menurun” dalam Awas MIFEE ! Tracking The Merauke Integrated Food and Energy Estate”, diakses dari https://awasmifee.potager.org/?page_id=134 pada hari Minggu 11 Desember 2016 pukul 20.00

Anonim. “Ekspansi Kelapa Sawit di Pulau Kalimantan”. Diakses dari

http://fwi.or.id/publikasi/ekspansi-kelapa-sawit-di-pulau-kalimantan/2/ pada hari Sabtu, 2 Desember 2017 pukul 09.45 WIB

Barahamin, Andre. “Hikayat Beras Pemangsa Sagu: Etnosida terhadap Malind-Anim melalui Mega Proyek MIFEE”, diakses dari http://indoprogress.com/2015/10/hikayat-beras-pemangsa-sagu-etnosida-terhadap-malind-anim-melalui-mega-proyek-mifee/ pada hari Sabtu 9 Desember 2017 pukul 10.00 WIB.

Bayunanda, Aditya. “Lebih dari 80% Deforestasi Terkonsentrasi pada 11 Wilayah di Dunia.” Diakses dari http://www.wwf.or.id/en/news_facts/?uNewsID=38842 pada Senin, 29 November 2017 pukul 20.00 WIB

Lake, Sarah dan Payne, Octavia.“Kini Perusahaan Dapat Melihat dimana Deforestasi Terjadi di Rantai Pasokan Kelapa Sawitnya Sebelum Deforestasi Terjadi Lagi”. Diakses dari

http://blog.globalforestwatch.org/supplychain/agriculture/kini-perusahaan-dapat- menghentikan-deforestasi-di-rantai-pasokan-kelapa-sawitnya-dengan-perangkat-risiko-baru.html pada hari Senin, 27 November 2017 pukul 20.09 WIB

Nugraha, Indra. 2013. “Aman Desak RUU Masyarakat Adat Segera Disahkan”. Diakses dari http://www.mongabay.co.id/2013/11/30/aman-desak-ruu-masyarakat-adat-segera-disahkan/ pada hari Minggu, 26 November 2017 pukul 20.03 WIB.

(13)

Referensi

Dokumen terkait

Dari permasalahan tersebut di angkat lah topik tugas akhir ini yang berjudul “ANALISIS PENETRASI TEST PADA TRANSAKSI PEMBAYARAN NEAR FIELD COMMUNICATION MOBILE” tugas akhir

Pada variabel motivasi kerja , dari semua indicator yang ada terdapat nilai loading faktor yang paling tinggi dari indicator yang digunakan adalah sebesar 0.81 dengan

Jangka waktu pembatasan kegiatan usaha hingga pencabutan izin usaha dalam ketentuan asuransi diatur dalam Pasal 42 ayat (1) juncto Pasal 42 ayat (4) Peraturan

1. Usia perkembangan anak. Bentuk konseling pada anak apakah dilakukan secara individu atau kelompok. Tujuan konseling saat itu untuk anak. Berdasarkan faktor-faktor tersebut

[r]

APLIKASI SISTEM KOMPUTERISASI AKUNTANSI PADA PERMATA ALUMINIUM DENGAN MENGGUNAKAN

Menurut hasil FGD, akar permasalahan yang menyebabkan mengapa kemampuan menulis mahasiswa yang terbatas mempengaruhi lamanya masa studi adalah pertama karena kriteria

Hal ini terjadi apabila LDR meningkat berarti terjadi peningkatan total kredit dengan persentase lebih besar dibandingkan dengan persentase peningkatan dari Dana