LAPORAN STUDI KASUS
PADA PENERIMA MANFAAT An. N
DENGAN HALUSINASI PENDENGARAN
DI PSMP ANTASENA KABUPATEN MAGELANG
Disusun untuk memenuhi tugas Praktek Lapangan Mata kuliah Kelompok Khusus
DISUSUN OLEH :
Jeny Ayu Ratri Semara Agni (P1337420715013)
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
BAB I
LANDASAN TEORI
A. Pengertian
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan sensori persepsi yang dialami oleh pasien gangguan jiwa, PM merasakan sensasi berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penghiduan tanpa stimulus nyata. (Keliat, 2012). Halusinasi pendengaran paling sering terjadi ketika PM mendengar suara-suara, Suara tersebut dianggap terpisah dari pikiran PM sendiri. Isi suara-suara tersebut mengancam dan menghina, sering kali suara tersebut memerintah PM untuk melakukan tindakan yang akan melukai PM atau orang lain (Copel, 2007 dalam Nyumirah, 2013). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa halusinasi pendengaran adalah persepsi atau tanggapan dari pancaidera (Mendengar) terhadap stimulus yang tidak nyata yang mempengaruhi perilaku individu.
Halusinasi adalah terganggunya persepsi sensori seseorang, dimana tidak terdapat stimulus. (Varcarolis, 2006).
Halusinasi pendengaran adalah individu mendengar suara yang menertawakan, mengejek atau mengancam padahal sebenarnya tidak ada suara disekitarnya, suara-suara tersebut dapat berupa manusia, hewan, mesin, barang, kejadian alamiah dan mistik.
1. Faktor Predisposisi · Faktor Genetic
Telah diketahui bahwa secara genetic halusinasi diturunkan melalui kromosom tertentu. Namun demikian, kromosom yang keberapa yang menjadi faktor penentu gangguan ini, sampai sekarang masih dalam tahap penelitian.
· Faktor Neurobiology
Pada halusinasi ditemukan adanya korteks prefrontal dan korteks limbaks yang tidak berkembang penuh serta menjadi penurunan volume dan fungsi otak yang abnormal.
· Study Neurotransmitter
Halusinasi diduga juga disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan neurotransmiter, dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotonin.
· Teori Virus
Paparan virus influenza pada trimester ketiga kehamilan dapat menjadi faktor predisposisi halusinasi.
· Psikologi
Kondisi psikologi menjadi faktor predisposisi antara lain yang diperlukan oleh ibu yang over protektif, dingin dan tidak berperasaan, sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.
2. Faktor Presipitasi
· Berlebihan proses informasi pada sistem syaraf yang menerima dan memproses informasi di talamus dan frontal otak.
· Mekanisme penghantaran listrik disyaraf terganggu.
· Gejala pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkunga, sikap dan perilaku seperti pada tanda dan gejala.
3. Mekanisme Koping : Regresi, menjadi masalah beraktifitas sehari-hari. 4. Tanda dan Gejala : Cenderung menarik diri, sering didapatkan individu
duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu orang.
Cenderung mempunyai rasa takut, gelisah dan kadang menangis. Kadang tersenyum dan bicara sendiri.
Tiba-tiba marah dan menyerang orang lain.
Melakukan kegiatan karena ada sesuatu yang menakutkan.
Menurut individu, individu mengatakan ia merasa takut melihat temanya yang sudah meninggal, mengancam akan membunuh. Halusinasi berkembang melalui 4 tahap, yaitu:
PM mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, kesepian yang memuncak yang tidak dapat diselesaikan.
PM mulai melamun dan memikirkan tentang hal-hal yang menyenangkan, cara ini hanya akan menolong sementara waktu, PM masih dapat mengontrol kesadaran dan dapat mengontrol pikiranya, namun intensitas presepsi meningkat.
2. Fase kedua atau Condemning (Ansietas Berat)
Kecemasan meningkat yang berhubungan dengan pengalaman interpersonal dan eksternal, pelamun, berfikir sendiri jadi pedoman.
Mulai diserahkan oleh bisikan yang tidak jelas.
PM tidak ingin orang lain tahu dan ia tetap dapat mengontrol. 3. Fase ketiga atau Controling (Ansietas Berat)
Bisikan suara : isi halusinasi makin menonjol, menguasai dan mengontrol PM.
PM menjadi terbiasa dan menjadi tidak percaya dengan halusinasinya.
4. Fase keempat atau Conguering (Panik)
Halusinasi berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarah
PM menjadi takut, tidak berdaya hilang kontrol dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan.
C. Pohon masalah
Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan. Akibat
Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran. Core problem
Isolasi diri : manarik diri Penyebab
D. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
i. Resiko menciderai diri dan orang lain. Data Obyektif :
Mudah tersinggung, jengkel dan marah. Sikap bermusuhan.
Menolak makan. Data Subyekyif :
PM mengatakan benci dan kesal pada seseorang
PM suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal
ii. Perubahan persepsi sensori : halusinasi dengar. Data Obyektif :
- Bicara, senyum/ tertawa sendiri.
- Menarik diri dan menghindar dari orang lain..
- Curiga, bermusuhan, merusak diri, orang lain dan lingkungan.
- Ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung. - Berbicara dan tertawa sendiri
- Bersikap seperti mendengar atau melihat sesuatu. - Berhenti berbicara di tengah kalimat seperti mendengar
sesuatu.
- Duduk menyendiri - Dissorientasi. Data Subyektif
- Pasien mengatakan : Mendengar suara – suara, melihat gambaran tanpa adanya stimulasi yang nyata, mencium bau tanpa stimulasi.
iii. Perubahan isolasi sosial : menarik diri. Data Obyektif :
- Tidak memeprdulikan lingkungan. - Kegiatan menurun, mobilitas kurang.
- PM tampak diam, melamun dan menyendiri. - Menghindar dari orang lain
- Kontak mata kurang Data Subyektif
- PM mengatakan lebih suka sendiri daripada berhubungan dengan orang lain.
E. Komplikasi
Halusinasi dapat menjadi suatu alasan mengapa PM melakukan tindakan perilaku kekerasan karena suara-suara yang memberinya perintah sehingga rentan melakukan perilaku yang tidak adaptif. Perilaku kekerasan yang timbul pada PM skizofrenia diawali dengan adanya perasaan tidak berharga, takut dan ditolak oleh lingkungan sehingga individu akan menyingkir dari hubungan interpersonal dengan orang lain (Stuart, 2009).
Komplikasi yang dapat terjadi pada PM dengan masalah utama gangguan sensori persepsi: halusinasi, antara lain: resiko prilaku kekerasan, harga diri rendah dan isolasi sosial.
F. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pengkajian Keperawatan
Menurut Stuart (2009). Bahwa faktor-faktor terjadinya halusinasi meliputi:
Faktor predisposisi
Faktor predisposisi atau faktor yang mendukung terjadinya halusinasi menurut Stuart (2007) adalah :
a. Faktor biologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang berakhir dengan gangguan orientasi realita.
c. Faktor sosial budaya
Stress yang menumpuk awitan schizophrenia dan gangguan psikotik lain, tetapi tidak diyakini sebagai penyebab utama gangguan.
Faktor presipitasi
Faktor presipitasi atau faktor pencetus halusinasi menurut Stuart (2009) adalah:
a. Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan respon neurobiologis maladaptif adalah gangguan dalam komunikasi dan putaran umpan balik otak dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak, yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus b. Lingkungan
Ambang toleransi terhadap stres yang ditentukan secara biologis berinteraksi dengan stresor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan prilaku.
c. Stres sosial / budaya
Stres dan kecemasan akan meningkat apabila terjadi penurunan stabilitas keluarga, terpisahnya dengan orang terpenting atau disingkirkan dari kelompok.
d. Faktor psikologik
Intensitas kecemasan yang ekstrem dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah dapat menimbulkan perkembangan gangguan sensori persepsi halusinasi.
e. Mekanisme koping
energi untuk aktivitas sehari-hari. Proyeksi, sebagai upaya untuk menejlaskan kerancuan persepsi dan menarik diri.
f. Sumber koping
Menurut Stuart (2009) sumber koping individual harus dikaji dengan pemahaman tentang pengaruh gangguan otak pada perilaku. Orang tua harus secara aktif mendidik anak–anak dan dewasa muda tentang keterampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dari pengamatan. Disumber keluarga dapat pengetahuan tentang penyakit, finensial yang cukup, faktor ketersediaan waktu dan tenaga serta kemampuan untuk memberikan dukungan secara berkesinambungan.
g. Perilaku halusinasi
Menurut Towsend (2009), batasan karakteristik halusinasi yaitu bicara teratawa sendiri, bersikap seperti memdengar sesuatu, berhenti bicara ditengah – tengah kalimat untuk mendengar sesuatu, disorientasi, pembicaraan kacau dan merusak diri sendiri, orang lain serta lingkungan.
G. Diagnosa Keperawatan
Menurut NANDA (2009-2011) diagnosa keperawatan utama pada PM dengan prilaku halusinasi adalah Gangguan sensori persepsi: Halusinasi (pendengaran, penglihatan, pengecapan, perabaan dan penciuman). Sedangkan diagnosa keperawatan terkait lainnya adalah Isolasi social dan Resiko menciderai diri sendiri, lingkungan dan orang lain.
H. Tindakan Keperawatan
Tindakan keperawatan yang diberikan pada PM tidak hanya berfokus pada masalah halusinasi sebagai diagnose penyerta lain. Hal ini dikarenakan tindakan yang dilakukan saling berkontribusi terhadap tujuan akhir yang akan dicapai. Rencana tindakan keperawatan pada PM dengan diagnose gangguan persepsi sensori halusinasi meliputi pemberian tindakan keperawatan berupa terapi generalis individu yaitu (Kanine, E., 2012) :
a. Melatih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, b. Patuh minum obat secara teratur.
d. Menyusun jadwal kegiatan dan dengan aktifitas
e. Terapi kelompok terkait terapi aktifitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi.
Rencana tindakan pada keluarga (Keliat, dkk. 2014) adalah a. Diskusikan masalah yang dihadap keluarga dalam merawat pasien
b. Berikan penjelasan meliputi : pengertian halusinasi, proses terjadinya halusinasi, jenis halusinasi yang dialami, tanda dan gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi.
c. Jelaskan dan latih cara merawat anggota keluarga yang mengalami halusinasi : menghardik, minum obat, bercakap-cakap, melakukan aktivitas.
d. Diskusikan cara menciptakan lingkungan yang dapat mencegah terjadinya halusinasi.
e. Diskusikan tanda dan gejala kekambuhan
f. Diskusikan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk follow up anggota keluarga dengan halusinasi. I. Penatalaksanaan Medis
Halusinasi merupakan salah satu gejala yang paling sering terjadi pada gangguan Skizofrenia. Dimana Skizofrenia merupakan jenis psikosis, adapun tindakan penatalaksanaan dilakukan dengan berbagai terapi yaitu dengan:
a. Psikofarmakologis
Obat sangat penting dalam pengobatan skizofrenia, karena obat dapat membantu pasien skizofrenia untuk meminimalkan gejala perilaku kekerasan, halusinasi, dan harga diri rendah. Sehingga pasien skizofrenia harus patuh minum obat secara teratur dan mau mengikuti perawatan (Pardede, Keliat, Wardani, 2013) 1) Haloperidol (HLD)
Obat yang dianggap sangat efektif dalam pengelolaan hiperaktivitas, gelisah, agresif, waham, dan halusinasi.
2) Chlorpromazine (CPZ)
Obat yang digunakan untuk gangguan psikosis yang terkait skizofrenia dan gangguan perilaku yang tidak terkontrol
Obat yang digunakan untuk mengobati semua jenis parkinson dan pengendalian gejala ekstrapiramidal akibat terapi obat. Dosis
a) Haloperidol 3x5 mg (tiap 8 jam) intra muscular.
b) Clorpromazin 25-50 mg diberikan intra muscular setiap 6-8 jam sampai keadaan akut teratasi.
Dalam keadaan agitasi dan hiperaktif diberikan tablet: a) Haloperidol 2x1,5 – 2,5 mg per hari.
b) Klorpromazin 2x100 mg per hari c) Triheksifenidil 2x2 mg per hari
Dalam keadaan fase kronis diberikan tablet: d) Haloperidol 2x0,5 – 1 mg perhari e) Klorpromazin 1x50 mg sehari (malam) f) Triheksifenidil 1-2x2 mg sehari
g) Psikosomatik
Terapi kejang listrik (Electro Compulsive Therapy), yaitu suatu terapi fisik atau suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal secara artifisial dengan melewatkan aliran listrik melalui elektroda yang dipasang pada satu atau dua temples pada pelipis. Jumlah tindakan yang dilakukan merupakan rangkaian yang bervariasi pada setiap pasien tergantung pada masalah pasien dan respon terapeutik sesuai hasil pengkajian selama tindakan. Pada pasien Skizofrenia biasanya diberikan 30 kali. ECT biasanya diberikan 3 kali seminggu walaupun biasanya diberikan jarang atau lebih sering.
h) Psikoterapi
Membutuhkan waktu yang relatif lama, juga merupakan bagian penting dalam proses terapeutik. Upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang, menciptakan lingkungan terapeutik, memotivasi PM untuk dapat mengungkapkan perasaan secara verbal, bersikap ramah, sopan, dan jujur terhadap PM.
Implementasi disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Pada situasi nyata sering pelaksanaan jauh berbeda dengan rencana, hal ini terjadi karena perawat belum terbiasa menggunakan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan keperawatan (Dalami, 2009). Sebelum melaksanakan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan PM sesuai dengan kondisinya (here and now). Perawat juga menilai diri sendiri, apakah kemampuan interpersonal, intelektual, tekhnikal sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan, dinilai kembali apakah aman bagi PM. Setelah semuanya tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan.
Adapun pelaksanaan tindakan keperawatan jiwa dilakukan berdasarkan Strategi Pelaksanaan (SP) yang sesuai dengan masing-masing masalah utama.
SP PM terbagi menjadi SP 1 (membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi halusinasi “jenis, isi, waktu, frekuensi, situasi, perasaan dan respon halusinasi”, mengajarkan cara menghardik, memasukan cara menghardik ke dalam jadwal;
SP 2 (mengevaluasi SP 1, mengajarkan cara minum obat secara teratur, memasukan ke dalam jadwal)
SP 3 (mengevaluasi SP 1 dan SP 2, menganjurkan PM untuk mencari teman bicara); SP 4 (mengevaluasi SP 1, SP 2, dan SP 3, melakukan kegiatan terjadwal).
K. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan yang diharapkan pada pasien dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran
BAB II TINJAUAN KASUS
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
Tanggal pengkajian : Tanggal 09 April 2018 1. Identitas Pasien
a. Nama : An. N b. Umur : 14 tahun c. Suku : Jawa d. Agama : Islam e. Jenis Kelamin : Laki – laki f. Pendidikan : SMP
g. Alamat : Bawang, Wonosobo B. Alasan Masuk
PM datang pertama kali pada 23 Januari 2018. PM dibawa oleh kepolisian daerah Wonosobo dan bapak lurah ke PSMP Antasena ini dengan alasan bahwa An. N adalah anak yang nakal, dan suka mencuri uang tetangga. C. Riwayat Sekarang
beberapa bimbingan sehingga sudah berkelakuan lebih baik dan sedikit sopan. PM mengatakan tidak pernah sakit selama diPSMS Antasena.
D. Riwayat Dahulu
Sebelum masuk ke PSMS Antasena, PM mengatakan An. N tinggal bersama Ibunya saja karena saudara perempuan dari PM sudah meinkah, Ayah dan saudara laki-laki nya adalah Tani dan bekerja diluar jawa. Pencurian yang dilakukan An.N sudah 2x karena permasalahan ekonomi untuk pencurian yang terakhir ada warga memergoki PM sedang mencuri sehingga PM juga di kucilkan oleh sebagian masyarakat, dan Ayahnya pun tak segan-segan memarahi dan selalu membentak PM sehingga PM merasa terpuruk dan merasa dirinya sudah tidak berguna lagi. Disamping faktor ekonomi PM mengatakan ada faktor ghaib yang mendorong PM untuk melakukan pencurian. Dikarenakan bisikan bisikan faktor ghaib tersebut.
E. Riwayat Keluarga
PM tidak mempunyai riwayat penyakit kesehatan apapun di keluarga. F. Faktor Predisposisi
1. PM dikucilkan di masyarakat dikarenakan kasus pencurian yang dilakukan di lingkungan masyarakat.
2. PM dimarahi dan dibentak – bentak oleh orangtuanya terutama Ayahnya sehingga PM merasa dirinya tidak berguna.
3. PM mengatakan mempunyai faktor Ghaib seperti bisikan-bisikan (biasanya terdengar pada saat malam jumat jam 12 malam) yang mendorongnya untuk mencuri
G. Pemeriksaan Fisik 1. Tanda-tanda Vital
TD : 110 / 80 mmHg S : 36,50C
N : 80x / menit RR : 22x / menit 2. TB : 145 cm
BB : 43 kg 3. Keadaan Umum
b. Leher : Tidak terdapat pembesran kelenjar tiroid
c. Kulit : turgor kulit baik tidak terdapat gatal-gatal (scabies)
d. Ekstremitas : Kekuatan Ekstremitas kanan dan kiri atas dan bawah baik.
4. Konsep Diri a. Citra Tubuh
An. N menyukai seluruh bagian dari tubuhnya, penampilannya sedikit kurang rapi.
b. Identitas Diri
An. N seorang anak berusia 14 tahun , PM adalah seseorang yang sedikit pendiam dan jarang bergaul dengan teman 1 panti
c. Peran Diri
An. N mengatakan dirinya anak ke 6 dari 6 saudara dan mengetahui bahwa ia adalah adik yang belum bisa menjadi kebanggan
d. Ideal Diri
An.N mengatakan ingin sekali melupakan pengalaman yang lalu yang buruk.An.N mengakatakan rindu dengan rumah dan ingin sekali cepat pulang.
e. Harga Diri
An.N merasa dirinya tidak berguna namun PM cukup mempunyai semangat untuk berubah dan merubah diri menjadi lebih baik untuk dirinya, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
5. Hubungan Sosial a. Orang yang berarti
An.N memiliki seorang yang sangat berarti yaitu Ibunya b. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat
An.N sudah cukup aktif dikegiatan masyarakat, tapi karena PM sedang berada diPSMP Antasena PM tidak mengikuti kegiatan kelompok dimasyarakat.
c. Hambatan dalam hubungan
An.N mengatakan memiliki sedikit hambatan karena Ayahnya sering memarahi PM.
H. Status Mental 1. Penampilan :
An. N mandi rutin, mandi selalu menggunakan sabun mandi, tidak pernah mengeringkan tubuhnya setelah mandi. PM berpakaian dengan cukup rapi
Saat menjawab pertanyaan An.N menjawab dengan baik ketika mulai ditanyai mengenai masalah pribadi dan tampak tidak ada yang ditutup-tutup dengan nada normal saat berbincang biasa.
3. Aktifitas Motorik :
An.N suka ikut bergabung dengan teman temanya untuk menonton tv, ikut serta dalam setiap kegiatan keterampilan atau jadwal di PSMS Antasena. ADL PM dapat dilakukan secara mandiri .
4. Alam Perasaan
An.N mengatakan sudah nyaman berada di lingkungan PSMP Antasena karena disana PM mendapatkan banyak pelajaran yang berharga serta mendapatkan cukup teman.
5. Afek
Afek stabil, terlihat saat An.N bercerita seperti tidak ada yang ditutupi dan jarang menunduk untuk diajak berbicara.
6. Interaksi selama wawancara
Kontak mata focus An. N baik saat dilakukan wawancara 7. Proses Pikir
Saat An.N ditanya PM langsung menjawabnya pertanyaan dengan sangat baik.
8. Isi piker
Saat dikaji An.N mengatakan bahwa ia melakukan pencurian karena ada yang membisikinya tapi sesuatu yang tidak terlihat
9. Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran An. N Baik (Composmentis) 10. Memori
Memori An.N baik dan memori jangka pendek baik PM masih ingat kapan dirinya masuk ke PSMP, serta menceritakan hal –hal yang pernah dialminya selama di PSMP Antasena.
11. Kemampuan Penilaian
PM dapat menilai mana perilaku yang baik dan mana yang buruk, PM masih belum bisa mengambil keputusan sendiri.
12. Daya tilik diri
Cukup baik, PM merasa kalau dirinya berguna untuk lingkungan selagi dirinya berkelakuan atau melakukan hal-hal yang positif.
I. Kebutuhan Persiapan Pulang 1. Makan
PM mengakatakan Dalam sehari makan 3 kali sehari dan habis 1 porsi.
Baik dan teratur, Bab/Bak PM mandiri 3. Mandi
An.N mengatakan mandi teratur 3 x sehari. 4. Berpakaian / berhias seringkali diejek atau dibuli.
Penampilan An.N sudah cukup rapi. 5. Istirahat Tidur
Istirahat tidur An.N secara umum tidak ada gangguan. PM mengatakan bahwa tidurnya selama ini nyenyak.
6. Penggonan Obat
An.N tidak mengkonsumsi obat obatan medis maupun obat terlarang lainya. Namun PM menggunakan obat topical untuk gatal yang di derita pada bulan Januari lalu.
7. Pemeliharaan Kesehatan
Kesehatan An.N cukup baik, PM mengatakan pernah mengalami gatal-gatal pada bulan Januari lalu.
8. Aktivitas dalam rumah
Jika di dalam asrama aktifitas An.N yaitu menonton televisi/ mendengarkan temannya yang suka main gitar.
9. Aktifitas luar rumah
An.N dapat berinteraksi dengan lingkungan diluar asrama , ikut serta dalam setiap kegiatan keterampilan PSMP Antasena.
J. Mekanisme Koping
1. An.N mampu berkomunikasi baik dengan orang lain
2. An.N cukup mampu mengatasi masalah ringan seperti perawatan diri karena malas untuk melakukan perawatan diri dan penampilan.
K. Spiritual
1. Nilai dan Keyakinan
An.N beragama Islam. Selama di PSMP Antasena An.N selalu mengikuti sholat berjamaah di masjid
2. Kegiatan Ibadah
An.N rutin mengikuti sholat berjamaah di masjid bergabung dengan teman teman yang lainya.
L. Analisa Data
No
. Data Etiologi Problem
1. Data Subjektif : An.N mengatakan jika mendengar bisikan-bisikan
Halusinasi
tersebut paling sering pada malam jumat jam 12 malam
Data Objektif : PM tampak gelisah saat menceritakan faktor ghaib tersebut. 1. Gangguan persepsi sensori
berhubungan dengan Halusinasi pendengaran
11 April 2018
N. Intervensi Kperawatan ( Rencana Keperawatan )
No
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
1. 11 April
halusinasi jika bisikan-bisikan
hubungan saling percaya dengan perawat
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah Halusinasi dapat teratasi dengan kriteria hasil :
a. Menunjukan rasa senang
duduk interaksi yang jelas tentang Halusinasi dan pemberian SP 1-4 (Menghardik, Obat jika perlu,
d. Beri reinforcemen positif setelah PM mampu melakukan SP yang pertama e. Ingatkan PM untuk
selalu melakukan SP jika
Halusinasinya
gelisah Beri reinforcementpositif jika berhasil mengontrol
halusinasi.
O. Implementasi Keperawatan
No
. Hari danTanggal Implementasi Keperawatan Respon Paraf
1. TUK 1
a. Memberikan salam saat berinteraksi
b. Memperkenalkan nama
c. Menanyakan perasaan dan masalah yang dihadap PM.
DO : An.N tampaak tersenyum DS : An.N menjawab salam dari
perawat
DO : An.N tampak tersenyum DS : An.N memperkenalkan
namanya
DO : An.N tampak tidak takut untuk berkenalan
DS: An.N mengungkapkan dan menceritakan masalah yang dihadapinya
(Melakukan SP diwaktu istirahat saat pada kegiatan spiritual dimesjid)
DO: An.N tampak memperhatikan dengan baik DS : An.N mengatakan sudah
mendengar bisikan bisikan sejak SD dan bisikan itu datang pada saat 12 malam
DO : An.N tampak ingin mengetahui cara mengontrol bisikan
3. Memberi reinforcemen positif setelah PM mampu mengontrol halusinasi
4. Mengingatkan PM untuk selalu melakukan SP jika bisikan-bisikan itu muncul
(menghardik)
DO : An.N tampak masih belum memahami tentang SP yang diberikan
DS : An.N mengatakan akan mempelajari kembali untuk SP yang sudah diberikan DO : An.N tampak mengerti tentang apa yang sudah diingatkan DS : An.N mengatakan akan melakukan SP yang sudah diajarkan
TUK 3
1. Memotivasi PM untuk bisa mengontol halusinasi
2. Bekerjasama dengan pengelola atau pengasuh untuk memotivasi PM agar PM dapat mengontrol Halusinasinya
DO : An.N tampak paham
DS : An.N mengatakan akan melakukan SP jika bisikan itu muncul
DO : An.N tampak mengerti DS : An. N mengatakan akan menaati perkataan dari pengelola asrama
TUK 4
Memberi reinforcement positif jika berhasil mengontrol halusinasi.
DO : An.N tampak tampil lebih senang tidak gelisah
P. Catatan Perkembangan ( Evaluasi )
S: An.N mengatakan sudah mendengar bisikan bisikan sejak SD dan bisikan itu datang pada saat 12 malam.
O: PM tampak gelisah saat menceritaan tentang halusinasinya. Tanda-tanda Vital:
TD : 110 / 80 mmHg S : 36,50C
N : 80x / menit RR : 22x / menit A : Masalah Belum Teratasi
P : Lanjutkan Intervensi
1. Mengingatkan PM untuk melakukan SP yang pertama jika bisikan-bisikan itu muncul
Gangguan
S : An.N mengatakan masih mendengarkan bisikan pada malam jumat jika ingin tidur
O : PM masih tampak gelisah (walaupun sudah mengikuti kegiatan berbasis spiritual)
A : Masalah Belum Teratasi P : Lanjutkan Intervensi
1. Mengingatkan PM untuk melakukan SP yang pertama, ketiga, dan keempat saat bisikan-bisikan itu muncul kembali