Hari Ini: Hari Yang Baik untuk Bermaaf-maafan Oleh: Saortua Marbun
Tepat sekali, hari ini adalah hari yang baik untuk saling memaafkan. Yesus Kristus mengajarkan bahwa untuk melakukan perdamaian dengan sesama tidak perlu mencari hari yang baik. Saling bermaaf-maafan itu amatlah baik bila dilakukan setiap hari. Itu sebabnya setiap hari bisa disebut sebagai hari yang baik bila kita hendak melakukan perbuatan yang baik. Dengan kata lain, meminta maaf dan memberi maaf haruslah menjadi sebuah gaya hidup orang-orang yang beriman.
Yesus Kristus bersabda, "apabila kalian sedang berdiri di hadapan mezbah Bait Allah untuk mempersembahkan kurban kepada Allah, dan tiba-tiba teringat bahwa ada seorang teman yang merasa sakit hati terhadap kalian, tinggalkanlah kurban itu di sisi mezbah dan pergilah minta maaf kepadanya dan berbaik lagi dengan dia. Setelah itu barulah kembali untuk mempersembahkan kurban kepada Allah." (Matius 5:23-24 FAYH)
Sedikitnya ada tiga hal yang perlu ditekankan dari pesan Yesus ini, pertama setiap orang perlu memiliki kepekaan hati. Saat sembahyang adalah saat yang paling indah ketika hati menjadi sangat peka terhadap suara nurani. Saat "berdiri di hadapan mezbah Bait Allah untuk mempersembahkan kurban kepada Allah, dan tiba-tiba teringat bahwa ada seorang teman yang merasa sakit hati terhadap kalian". Indah sekali ketika hati bisa menyadari bisikan suci dari Tuhan melalui hati nurani. Sebuah bisikan yang datang dari dalam bathin. Sesaat setelah mata dipejamkan, dan bibir mengucapkan Nama Tuhan, saat itu telinga nurani terbuka pada suara-Nya. Berbahagialah orang yang dapat menangkap suara-Nya.
Hal kedua, Yesus berkata, "tinggalkanlah kurban itu di sisi mezbah dan pergilah minta maaf kepadanya dan berbaik lagi dengan dia". Menunda sembahyang dan berbaikan, meminta maaf. Mengapa Yesus berkata demikian? "Berdamai" menjadi kewajiban, menjadi syarat mutlak bagi si penyembah agar persembahannya berkenan dan diterima oleh Tuhan. Seperti kata Pemazmur, "Ia (Tuhan) tidak akan mendengarkan seruanku seandainya aku tidak mengakui dosa-dosaku". (Mazmur 66:18). Persiapan sembahyang menjadi tidak lengkap tanpa berbaikan dengan sesama. Ketiga, "Setelah itu -- setelah berdamai, berbaikan -- barulah kembali untuk mempersembahkan kurban kepada Allah." Prinsipnya adalah, keharmonisan secara horizontal menjadi syarat bagi keharmonisan secara vertikal. Berdamai dengan sesama menjadi syarat mutlak agar ibadah kita diterima oleh Tuhan.
Bila dikaitkan dengan proses pesta demokrasi, pilpres kemarin; pesan Yesus Kristus ini tampaknya berlaku universal dan patut diperhatikan oleh kedua kubu kontestan. Fakta bahwa ada pihak-pihak yang diduga melakukan kampanye dengan konten-konten yang tidak benar adalah tindakan yang dapat melukai atau menyakiti hati sesama. Siapa pun yang terlibat dalam kampanye yang demikian dan merasa bahwa tidak ada yang salah. Merasa bahwa hal itu ‘lumrah’. Sadarilah bahwa hati nurani anda mungkin sudah tumpul. Bagaimana mungkin anda bisa merasa nyaman saat menghadap Tuhan? Oleh karena itu, hari ini adalah hari yang baik untuk saling bermaaf-maafan, berbaikan. Pilpres sudah usai, kampanye selesai, tetapi kebersamaan dan persaudaraan kita sebagai bangsa harus dilanjutkan. Semoga ibadah kita berkenan kepada Tuhan. Tuhan memberkati.